Posts tagged “Cerita Dewasa

Ibu Kos, pembantu kos dan 4 temen arisan ibu kos yang haus sex adalah guru sexku

Cerita ini merupakan pengalaman nyata yang hampir 30 thn aku simpan, sekarang aku berusia 49thn, berkeluarga dgn. 2 anak (masing2 sdh kuliah), pengalaman ini tidak pernah kuceritakan ke istri dan siapapun. Tetapi karena sering membaca Cerita Dewasa, maka aku ingin menceritakannya kepada para pembaca setia Cerita Dewasa.

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1980 s.d 1986 ketika aku mulai kuliah di PT swasta di Jogjakarta. Saat itu aku Hendi (nama samaran) usia 19 thn, tinggi 168cm, berat 60Kg, postur atletis, kulit sawo matang, wajah oval berkumis, potongan rambut bross, teman2 selalu memiripkan aku dengan bintang film Beverly Hills Cop – Freddy Murphy (film layar lebar yang termasuk box office saat itu), setelah lulus SMA di kota Bandung (kami sekeluarga asli jawa timur, tetapi kami 6 bersaudara lahir dan besar di kota Bandung), hijrah ke Jogjakarta tanpa ada family sama sekali untuk mendapatkan sekolah PT swasta, karena tidak diterima di PT. Negeri (saat itu jalur Perintis 1 – 4), aku diterima disalah satu PT. Swasta terkenal di Jogja, jadi aku mencari tempat kos2an yang akhirnya dapat tempat kos dimana sebelumya rumah itu belum pernah menerima kos2an, didaerah Baciro.

Karena rumah tsb. nampak asri banyak tanaman hias, nyaman dan sejuk, aku tertarik untuk kos disitu walaupun tukang becak dan pemilik warung disudut simpang 3 mengatakan: “ itu kan rumah Bu Wahyu, selama ini tidak terima kos2an mas, dia hanya bersama pembantunya, Pak Wahyunya sedang tugas ke Amrik, sedangkan mbak Shinta (anak semata wayang) kuliah di Jakarta, tapi coba aja mas, kayaknya punya 4 kamar kosong dibelakang”

Aku beranikan diri mengebel rumah bu Wahyu, dan yang keluar adalah wanita setengah baya mengenakan kain jarik jogja, usia sekitar 35-40thn, nampak wajahnya bersih berlesung pipit, bertubuh sintal dan mungil, sehingga nampak menarik, ternyata dia adalah pembantunya bu Wahyu: “ disini ga terima kos mas, tapi coba saya tanyakan ke ibu sebentar” (dalam hatiku, wah.. pembatunya bersih juga dan semok bodynya…… he..he).

Beberapa menit kemudian keluarlah bu Wahyu, wah… wah…! aku terbengong kagum, ibu satu anak ini sangat ayu cantik, kulit putih mulus, rambut panjang sepinggang diikat, tinggi sekitar 160cm dan berat sekitar 55kg, dgn tubuh sintal (semok/ bahenol) mengenakan celana jeans ¾ ketat dan kaos puntung (tanpa lengan) ketat sehingga nampak buah dada yang super besar (menurut saya) kenceng/ padat ukuran sekitar 36B dan ketiaknya nampak bersih tidak berambut. Saat itu aku terbayang penyanyi dangdut/ bintang film cantik Shinta Bella, karena bu Wahyu mirip benar dan aku pikir dia adalah bintang film tsb. Nampak bahwa usianya sekitar 30-35thn (lebih muda dari pembantunya), tapi dalam hatiku berpikir heran, kok anaknya sudah kuliah..!?

Ntah alasan apa, bu Wahyu yang katanya tidak terima kos, langsung berkata: “ kebetulan dek ada kamar kosong dibelakang, tapi jangan bulanan yaa, tante maunya per 6 bulan”. Akhirnya aku setuju kos disitu, lagian senang banget suasananya asri, sejuk dan….. ibu kosnya cantik, bahenol… pembantunya juga he..he!

Ternyata hasil ngobrol2 dengan mbok Tini (pembantu yg ternyata usianya 37th), Tante Wahyu itu usianya sudah 46thn (lebih tua dari ibu saya yang 44th), bener2 aku kagum dengan Tante yang bisa merawat tubuh & wajah sehingga terlihat seperti masih usia 30 tahunan, dan Pak Wahyu (50th) tugas ke Amrik 3 thn, ini baru 6 bulan dan pernah pulang sekali saja (2 minggu). Kalau mbak Shinta kuliah di Jakarta sdh 1 thn dan kadang2 pulang sebulan sekali (2hr saja), krn dia selain kuliah juga nyambi kerja di TVRI.

Aku menempati kamar belakang yang terdepan, persis berbatasan dengan pintu ruang keluarga, tetapi pintu masuk kamar tetap diluar ruangan tsb. dan tembok kamarku persis bersebelahan dengan kamar Tante Wahyu. Di ruang keluarga nampak foto2 keluarga Tante yang memang hanya ber 3 : Tante, Om Wahyu dan Shinta yg nampak cakep banget dengan potongan rambut pendek (tomboy) dengan tubuh mirip Tante semok dan buah dadanya super..he..he..! Om Wahyu nampak tinggi ganteng berkumis tipis dan kelihatan jauh lebih tua dari Tante.

Saya perhatikan dan dari cerita2 Mbok Tini, Kegiatan rutin Tante adalah fitness 3 x seminggu, rutin ke salon luluran dan mandi susu, arisan/ kumpul2 seminggu sekali, dan shoping ke supermarket hampir setiap 2 hari sekali. Tante kalau pergi2 sendirian menggunakan mobil Mitsubishi Lancer, serta selalu berpakaian modis layaknya gadis2 SMA/ Mahasiswa dan berkacamata hitam, tentu banyak laki2 yang tertarik memandang wanita secantik tante dengan penampilan seperti itu, padahal usianya sudah 46th.

Hari2 kulalui biasa2 saja dimulai dengan kegiatan Posma (Pekan orientasi mahasiswa) dan dilanjutkan aktif kuliah menggunakan sepeda motor bebek Honda 70cc thn 73 plat D Bandung, sementara 3 kamar kosong disebelah kamarku belum ada penghuninya, sempat aku tanya ke Tante: “ Tante apa perlu aku carikan teman yg mau kos disini, aku carikan cewek yaa … biar Tante ada temen dan aku tambah segar..he..he..”, tapi Tante bilang: “ ga usah dulu Hen, Tante belum biasa dirumah ini banyak orang, lagian tante sudah senang ada teman kamu yg bisa temenin tante sehari-hari…!!!”.

Setelah 1 bulanan berjalan, aku melihat gelagat perilaku Tante berubah sangat perhatian terhadapku dan smakin hari semakin tidak biasa, seperti: sering menanyakan jam kuliah dan pulangku, dan membelikan makanan kecil maupun menyediakan makan malam, padahal aku kan cari makan diluar, jadinya aku sering ga keluar uang makan, ..yah..lumayan..gratis..he..he..! Mulai juga sering diajak mengantar tante dengan mobilnya (kalau aku kosong kuliah) ke Supermarket, fitness, salon di jalan Solo dan nonton film di bioskop Mataram serta kalau hari libur menemani ke tempat wisata Kaliurang. Aku sih senang2 aja, semuanya gratis, dan yg lebih senang jalan dengan tante cantik bahenol dan nampak masih muda, jadi seperti sepasang kekasih yang sedang pacaran aja..ha..ha.., habis tante sering merapatkan tubuhnya ketubuhku kalau sedang berjalan sambil melingkarkan tangannya di lenganku.

Akhirnya karena terbiasa ngobrol2 baik dirumah maupun saat jalan, tante banyak curhat ke aku, mengenai kehidupan sehari-harinya, bahwa dia kesepian sejak suami jauh di Amrik dan jarang pulang, bahkan sampai menceritakan hubungan sexnya dengan suaminya, dimana Tante belum pernah merasakan apa itu orgasme saat berhubungan intim dengan suami selama menikah 22thn, padahal tante libidonya sangat tinggi, jadi selalu ingin berhubungan intim terus. Sejak suami tugas Tante melampiaskam birahinya dengan masturbasi menggunakan Dildo (Penis karet ukuran orang bule, karena pesan dari luar) hampir setiap hari di kamar, dan Tante baru bisa merasakan namanya orgasme dengan Dildo tersebut, sehingga Tante selalu membayangkan bagaimana rasanya orgasme oleh Penis beneran saat berhubungan intim dengan laki-laki kayak apa sih… dan terpikir ingin cari Gigolo untuk merasakan orgasme sesungguhnya, tapi Tante takut tertular penyakit kelamin dan rahasia terbongkar, karena Gigolo adalah orang lain yang tidak dikenal. Aku lebih banyak tertegun mendengar curhatan tante, lagian aku kan ga punya pengalaman apa-apa, pacaran dan ciuman aja belum pernah apalagi berhubungan intim atau ngentot, jadi aku agak kaget dan malu2 merespon curhatan Tante. Aku lebih sering mengatakan ke Tante untuk sering komunikasi dengan suami via telephone dan tambah aktivitas sehari-hari

Suatu saat kami perjalanan ke wisata Kaliurang, sepanjang perjalanan tante mendesak aku mau untuk berhubungan intim dengan Tante, aku sangat kaget dan takut, meskipun ingin juga sih merasakannya kayak apa sih.., apalagi tante sudah pengalaman dan cantik bahenol seperti artis, kebayang juga sih pengen ngentot artis he..he!

“Hen…, tante terus terang sudah ga tahan dengan masturbasi terus setiap hari, tante pengen merasakan Kontol asli Hen…, Tante sudah lama ga di entot kontol beneran..”, aku kaget karena tante secara blak blakan menyebut “Kontol & Ngentot” bikin aku terangsang..! “Kamu belum pernah ya entotan, …..” Aku menggeleng pelan sambil menyetir mobil dan memandang kedepan “jangan takut ntar tante yang ajarin semuanya…kamu pokoknya diam aja ntar tante yang entot kamu, tante yakin kontolmu pasti bisa memuaskan tante … dan kamu juga pasti nanti menikmati”. Aku diam saja sambil menyetir mobil dan tante mengarahkan aku agar masuk ke villa.

Akhirnya kami ginep di villa tsb, saat baru sampai di Villa, Tante ntah bagaimana sudah memeluk aku dan di sofa langsung mengelus2 bagian kontolku meskipun masih bercelana. Aku kaget tapi diam saja, dan tante menciumi leher dan bibirku, aku merasakan terangsang, yg baru pertama kualami dan kontolku langsung menegang krn dielus2 dibagian luar celana oleh tante.

Tante begitu ganasnya membuka seluruh pakaianku yg akhirnya telanjang bulat dalam posisi telentang disofa dengan kontol mengacung ke atas cenut-cenut, sementara tante juga sdh ga tahan, dia telanjang bulat juga yg ntah kapan membuka pakaiannya.

Aku bengong dan kagum dengan tubuh telanjang tante yg mulus putih, teteknya yang super besar sangat kenceng dan padat bagaikan buah melon, perutnya rata, pinggangnya begitu berbentuk lekuk serta bokongnya besar/ bongsor, nampak pahanya begitu padat berisi dan sangat putih mulus membuat aku semakin terangsang, aku melirik keselangkangannya nampak menonjol ke depan dengan ditumbuhi rambut2 hitam kasar yang sangat lebat merambat ke atas bagian perut mendekati pusar semakin tipis dan sebagian rambutnya melebar ke kiri dan kanan mendekati pangkal paha, bener2 sexy banget membuat aku sangat terangsang. Aku tidak sadar tante sudah mengocok-ngocok kontolku dan langsung dijilatinya..aku heran kok tante ga jijik.. trus di kulum2nya kontolku serta di isap2nya, tante menjilati pelirku dan seluruh batang dan kepala kuya kontolku sehingga aku merem melek kenikmatan, sementara kedua tangan Tante sambil mengelus-elus kedua pahaku, “kontolmu panjang dan besar Hen, jembutnya masih tipis2 …sexy banget… tante baru lihat seperti ini hampir ½ batang kontolmu ditumbuhi jembut ouh.., ini jauh lebih besar dari kontolnya om…, huh…Hen keras banget kayak dildo Tante…tante suka banget..dan pasti bisa ketagihan nie…, Ooh..kamu bener2 masih perjaka yaa…tante lihat lubang kontolmu masih bulat sebesar ujung pensil…wah..tante beruntung Hen…!” Sementara tante jongkok disamping sofa sambil menghisiap-hisap kontolku, aku meremas-remas ke dua tetek tante yg kenyal dan padat sehingga tante mendesah-desah sambil kulum2 kontolku, aku juga semakin mengerang-ngerang kenikmatan yg belum pernah alami selama ini. Aku akhirnya merasakan ada sesuatu yang akan mendesak keluar dari kontolku dan terasa sampai saraf kepalaku sehingga aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara, padahal baru beberapa menit, Tante dengan begitu binalnya terus2an menaik turunkan mulutnya di sepanjang batang kontolku serta meng hisap-hisap kepala kuyaku! “Tante….tante… aku ga tahan tan…pengen keluar…. Oughhhh……Crot..crot..crot….crot… muncrat begitu banyak dan keras didalam mulut Tante, ough…ough…argh..argh… tante…tante…enak banget..ouhk…ouuhhh….”, Tante nampak senang sekali sambil ketawa2 dan cepat2 menjilati dan menelan semua sperma yang keluar dari lubang kontolku serta yang tercecer disepanjang batang kontolku dan spermaku dijilatinya dan telannya sampai bersih seperti menjilati ice cream. Kenikmatan bertambah saat Tante menghisap-hisapi kepala kuyaku dan menjilati sperma yang sudah keluar…ooohhh…ouuhhh…! Itulah pertama kali keperjakaanku direnggut oleh tante kosku, yang usianya sudah 46thn, atau 27 tahun lebih tua dariku yg layaknya sebagai ibuku. Aku benar2 lupa ingatan yang jelas saat itu merasakan suatu kenikmatan dunia yang tiada duanya sambil melayang di awan yang selama ini belum pernah kurasakan.

Tante ga berhenti disitu, setelah kontolku bersih dari sperma Tante tetap mengulum-ngulum kontolku yang akhirnya ga sampai 5 menit kontolku sudah tegang kembali dan aku terangsang lagi pengen rasanya mengeluarkan sperma lagi. Gila memang..tante bener2 pengalaman dan haus sex.. mungkin karena beberapa bulan ga pernah merasakan kontol beneran lagi. Setelah kontolku tegang kembali, tante langsung cepat2 duduk diatas kontolku berhadapan dengan ku dan memegang serta memasukkan kontolku ke memeknya yg rambutnya kasar dan sangat lebat, aku merasakan gesekan saat pertama kontolku masuk ke memeknya tante…..terasa hangat dan ada cairan licin didalam memeknya “ough…ough…nikmat banget..tant” dan akupun mulai mengerti rasanya ngentot itu ternyata nikmat banget bagaikan melayang di awan, makanya tante bener2 menginginkannya, krn sdh lama ga dientot suaminya, “ Hen..kamu tenang aja..ntar kamu akan merasakan kenikmatan yang lebih nikmat dari yang tadi..” Tante semakin mempercepat naik turun diatas kontolku sambil meracau ga karuan apa yang dikatakan…dan bertriak-triak mengerang kenikmatan, dan aku semakin merasakan gesekan memek Tante yang begitu cepat sehingga seluruh saraf tubuhku benar2 menegang dan terasa sangat nikmat dibanding saat kontolku dioral-oral tante tadi.

Beberapa menit kenudian tubuh tante menegang beberapa kali sambil mempercepat naik turun diatas kontolku serta triak-triak:” Hen…hen….Tante ga tahan..Hen..mau keluar…ooohh…oughh..ough…Hen…Hen..argh..argh…Uuuoohhhh Tante sudah….sudah…Argh… hen..hen Ouh…ouhg…ouhg…arrghh….aahhhshh..nikmatnya !” Aku merasakan nikmat dan kontolku semakin merasakan hangatnya cairan mani memek Tante yang keluar berulang-ulang, jadi kenikmatan yang tiada duanya….Aku sedikit heran juga kok kontolku tahan lama juga, mungkin karena tadi sudah keluar sekali. Tante berhenti sejenak sambil merem menikmati klimaxnya “aouuhhh….Hen… tante puas banget… bisa orgasme 2 kali nie..hebat kontolmu enak banget…kontolnya Om ga ada apa-apanya”, kemudian tante minta aku ganti posisi di atas, akupun berputar sekarang posisiku diatas menyodok-nyodokkan kontolku begitu cepat di memek tante… sampai berbunyi clok…clok..clok..begitu, karena memek tante sudah mengeluarkan cairan mani orgasme ber kali2…..sementara tante masih bisa mendesah-desah dan triak triak kecil kenikmatan setiap aku menyodokkan kontolku ke memeknya. Tante nampak masih menginginkan dientot lagi untuk mendapatkan multiorgasme yang selama ini didambakan.

Aku smakin cepet naik turunkan kontolku dan tante triak2 tdk terkontrol sambil bertriak2: ”..trus..trus..trus..hen..yg cepet jgn berhenti.. ough..ough..ough hen..argh..argh…huh..huh.. hen trus2 trus..hen entot tante yg keras henn….hen.. Ough..ough…hen..hen..hen..tante sudah pengen keluar lagi….ga tahan ga tahan..hen..jgn….stop..jgn..stop..jgn.pelan…trus….yang cepet…” aku smakin mempercepat sodokanku scepat cepatnya sampai tante terhentak-hentak! “ Hen… iya….iya..bgitu jangan berhenti…ough…ough…ough…arrrggghhhh….hen…tante….mau…keluar…lagi…….orgasme…..argh……argh…arg…ough…ough..hen..hen ouuuggghhh….ouh..ouh…Hennnn…..ough..ough…ough..ough nikmatnya Hen..tante puas banget…..! ouh….ouh…makasih hen…makasih hen…tante belum pernah orgasme gini kalo sama kontol Om..tante hanya bisa orgasme kalo dgn dildo…ooh…. Kamu hebat hen..tante sayang kamu..! Baru kali ini tante bisa merasakan rasanya orgasme karena sodokan kontol….malahan bisa multiorgasme yang selama ini Tante dambakan, makasih ya sayang..tante pengen terus tambah kalo gini”. Aku berhenti sejenak memberikan kesempatan tante menikmati fase klimax yg didapatnya, setelah beberapa detik kulanjutkan kembali aku menaik turunkan kontolku di memek tante yg dari tadi masih menancap.

Semakin cepat kusodokan beberapa menit kemudian aku merasakan ada desakan dari dalam kontolku yang akan keluar sehingga bisa meraih kenikmatan yang kata Tante lebih nikmat dari yang tadi, aku sdh tidak mendengarkan apa yg diomongin Tante, dan aku semakin cepat menyodok-nyodok memek Tante yang sudah klimax penuh cairan mani karena multiorgasme “ Akh..akh..akh..tante..tante…aku pengen keluar di memek tante…!” Tante langsung mengimbangi dengan gerakan memutar-mutarkan pantatnya dari bawah..sehingga setiap sodokan kontolku bisa masuk penuh ke dalam memeknya. “Ouh….ouh…hen…kamu belum keluar ya hen…sini tante bantu keluarin..” ….sekitar 2 menit kemudian aku ga tahan dan keluar..dengan keras..crot..crot..crot “ough…ough..tante…tante…aku keluar…..ough…ough…haaahhh…nikmat banget tant….”…… “truskan hendi keluarkan yang banyak…. Tante merasakan hangat spermamu di dalam memek Tante..ouhg…enaknya Hen…. Kontolmu…hebat… makasih ya hen….memek tante bisa mendapatkan semprotan sperma perjaka kontolmu…..yg bikin tante awet muda”

Akhirnya kami di villa itu nginep 1 malam, dan kami entotan sepanjang hari ga henti2…Tante Wahyu bener2 ketagihan kontolku dan aku hitung2 kami entotan selama 1 hari 1 malam sebanyak 18 kali…wuih..! Aku ga kepikiran juga…karena setiap aku ngecrot pasti di dalam memek tante…kok tante ga takut hamil yaa…mungkin tante sudah ada penangkalnya..anti hamil.

Selanjutnya sudah bisa diduga..hari2 dirumah kosku hanya entotan..dan entotan lagi dengan tante Wahyu..ga bosan2 nya. Aku sdh tidak bisa menghitung lagi berapa kali aku ngentot tante Wahyu..karena sudah menjadi makanan se hari2.. kecuali kalau Tante lagi mens. Tante selalu minta di entot setiap pagi sebelum dan sesudah aku pulang kuliah, malempun tante minta lagi, itupun bisa 2 s.d 3 kali. Dan itupun dilakukan di kamarnya atau di kamarku, ngumpet2 dari mbok Tini, meskipun aku merasa Mbok Tini pasti sudah tahu, tapi kami berdua cuek aja. Toh mbok Tini juga biasa aja dan cuek kok..!

Aku ga bisa bayangkan, aku setiap hari ngentot tante Wahyu yang usianya pantas menjadi ibuku…. , bahkan 2 tahun lebih tua dari usia ibuku, sudah bersuami dan punya anak sudah seusiaku, serta kalau nanti tante hamil bagaimana…., kan suaminya lagi di Amrik…itu ga pernah terpikir..! Tapi yang jelas sampai saat itu Tante ga pernah hamil tuh..! dan aku benar2 menikmati dengan senang..!

Kadang aku pulang kuliah, tante sudah tidur telanjang di kamarku…aku sudah langsung mengentotnya..rutin seperti tante Wahyu adalah istriku. Kalau malem aku lebih banyak tidur ditempat tidur tante, jadi otomatis tinggal ngentot aja… aku semakin ter gila2 ngentot juga dan ketagihan..kalau ga ngentot rasanya kepala pusing..! Dan kadang aku yang minta tambah berulang-ulang..Tantepun dengan senang hati melayaniku. Saat Tante menspun kalau aku yang minta ngentot, Tante tetap melayaniku dengan meng oral2 dan hisap2 kontolku sampai muncrat dan spermanya Tante telan habis.

Dampaknya aku ga pernah bayar uang kosku lagi (dulu aku hanya bayar 6 bulan pertama), berikutnya ga pernah bayar sama sekali, saat aku mau bayar kos 6 bulan kedua:” Hen…kamu apa2an sih…, Tante ikhlas ngentot sama kamu..Tante bener2 puas dan nikmat ngentot denganmu… Tante bersyukur bisa kenal kamu, jadi Tante bisa mendapatkan orgasme yang selama ini Tante idam2kan…. Kamu anggap rumah ini dan Tante adalah milikmu sendiri… yang setiap saat bisa kamu tiduri…!

Tante sangat berpengalaman, setiap hari aku diberi vitamin2 dan supplement: “ Hen ini harus kamu minum tiap hari yaa.. pagi – siang dan sebelum tidur..nah kalau mau ngentot tante kamu minum yang ini 1 tablet yaa.. jangan lupa lho….supaya kontolmu kuat dan tahan lama… .. kalau loyo..apa kamu ga kasihan sama tante..ntar tante sakit lho..!” Tante cerita bahwa Om Wahyu kalau disuruh minum tablet2 dari Tante ga pernah mau, makanya Tante gemes sama suaminya.

Suatu hari Om Wahyu pulang ke Jogja dari Amrik sekitar 2 minggu. Jadi Tante ga ada kesempatan entotan dengan aku. Akupun lama2 bete ga tahan pengen ngentot tante juga..! Ntah bagaimana..tiba2 suatu malam (om msh ada) skitar jam 01:00 dini hari tante ngetok kamarku dan langsung masuk dalam keadaan telanjang….. nampak wajahnya sayu tapi penuh napsu birahi…dan langsung merogoh kontolku langsung dikulum-kulumnya, aku ya langsung melayani tante tanpa terpikir ada Om Wahyu dikamarnya.. akhirnya kami entotan sepuasnya sampai 2 kali. Dan tante tercapai orgasmenya berkali-kali juga (multiorgasme): “ hen.. makasih yaa.. tadi Om ngentot tante..tapi peltu (nempel metu)..baru nyodok2 beberapa kali sudah ngecrot..pdhl tante belum terangsang..makanya Om langsung bobo2 dan tante minta kontolmu lah yg sudah pasti bisa kasih tante orgasme ber kali2”. Makanya saat aku nyodok memek tante terasa memek tante agak licin ada spermanya Om masih tertinggal di dalam, tapi aku cuek aja, yg penting masih bisa dgn rutin ngentot tante.

Minggu ke dua saat Om Wahyu masih ada, suatu sore yg sepi, aku baru pulang kuliah, mbok Tini tumben menyediakan es juice dan pisang goreng, biasanya kan tante Wahyu yg sediakan. Mbok Tini sambil senyum2 lagi, gelagatnya tidak seperti biasa, tapi tampak Mbok Tini cantik dan tubuhnya sintal, bikin aku terangsang juga nie he..he. Mbok kok sepi…. “ibu dan Bapak sedang pergi ke rumah familynya, kan besok Bapak sdh pulang Amrik lagi”. Wah…aku mbayangin besok sudah bisa secara rutin ngentot tante lagi he..he..! Tiba-tiba “Mas Hendi seneng kan kalau Bapak pulang Amrik lagi….!” Aku heran apa maksud Mbok Tini..! ”Iya.., jadi bisa ngentotin ibu kan…Mbok tahu lah..!”. Aku terkejut dan tdk berkutik dengan perkataan Mbok Tini tadi..aku hanya terdiam dan malu karena Mbok Tini ternyata sudah tahu. “Iya.. lah mas… Mbok tahu ibu sama mas hampir setiap hari entotan..mbok sih seneng aja..ibu jadi bisa tersalurkan birahinya..karena sebelum ada mas Hendi..ibu sering melamun dan di kamar sering masturbasi..mbok sering dengar suara2 birahi ibu, lagian ibu itu birahinya tinggi banget, Bapak ga bisa ngimbangi..kayaknya mas Hendi lah yg bisa ngimbangi..makanya ibu suka di entot mas..” Trus aku dengan perlahan ngomong ke Mbok Tini:” Jadi Mbok mau melaporkan ke Bapak yaa,,?”. Mbok Tini sambil senyum2…bilang..:”yah gak lah Mas… rugi..!”.. Aku bingung dengan perkataan Mbok Tini: “Lho kok rugi..emang ada untungnya untuk Mbok kalau ga dilaporkan?”. Mbok Tini senyum2 gelagat genit:” Kan Mbok juga pengen seperti ibu…Mbok ini sudah menjanda hampir 12 thn Mas…dan punya mbok sudah dianggurin lama..ga ada yang pake..he..he..!, makanya mas… Mbok pengen juga ngerasain kontol Mas Hendi.. Boleh kan?!, Tolong lah Mas.. itu yang dibilang untung tadi mas..makanya Mbok ga akan lapor ke Bapak deh.. asalkan Mas mau ngentot Mbok, lagian mbok belum pernah melahirkan, jadi memek mbok masih orisinil dibanding ibu!” Gila ini mbok…. Omongannya bikin merangsang aku. Aku jadi pengen ngerasain memek yg belum melahirkan, kalau tante kan sudah punya anak 1, itupun rasanya nikmat banget, apalagi yg masih seret kayak memek mbok, aku ngebayangai gitu.

Akhirnya kami berdua masuk kamarku dan aku melayani napsunya Mbok Tini yang menggebu-gebu kehausan kontol, kontolku dikulum-kulum dan diisap-isap si mbok, dan digigit2 gemes oleh Mbok Tini: “ Huwaduh..Mas Hendi..mbok bener2 gemes sama kontol mas…guede dan panjang banget…punya suami mbok aja hanya setengahnya…mbok pengen di entot sekarang mas..” Aku baru sodok2 sekitar 1 menit..si mbok sudah triak2 minta dicepetin dan mencapai klimax…. Mas..mas..trus..trus..cepet..cepet.. mas… mbok dah mau keluar…ough…ough…argk…argk…maaassss……mbok keluar..aahhh….. nikmat banget mas..” Tapi aku memang merasakan kenikmatan yang lebih memek simbok dibandingkan memek tante, memek mbok Tini masih sempit banget, td waktu pertama kontolku masuk ke memek si mbok, si mbok triak2 kesakitan;’ Akh..akh..mas..pelan2..memek mbok masih belum merekah masih sempit..” Tp setelah merekah, aku yg kenikmatan gesekan bibir memeknya bener2..lebih nikmat dari punya tante yang menurutku sudah enak..ternyata memek si mbok lebih nikmat, makanya akhirnya aku juga cepet orgasme sangking nikmatnya memek di mbok, inipun spermaku kukeluarkan didalam memek si Mbok:” mas…mas…….kalau mas ntar klimax keluarin didalam memek Mbok aja… Memek Mbok dah lama ga ngerasain semprotan sperma..pasti nikmat..!”

Akhirnya hari2 kulalui dengan secara rutin ngentot tante dan Mbok Tini. Kalau Tante ga ada dirumah, biasanya tante arisan bulanan, ke fitness dan salon, aku pasti ngentot mbok Tini, yg selalu stand by saat Tante pergi: “ mas…tante pergi lho..sekitar 2 jam lagi biasanya baru pulang”, bgitulah he..he.., aku langsung ngentot si mbok di dapur, di meja makan, di kamarnya, kamarku atau di di garasi, semauku saat ketemu mbok dimanapun. Aku merasakan bahwa memek mbok Tini memang enak dan nikmat banget.

Suatu saat aku sedang gentot mbok Tini di meja makan, tiba2 Tante datang lebih cepat dan saat itu aku sudah mencapai klimax, jadi pas tante masuk pas mbok triak2 klimax dan aku juga orgasme, jadi sama2 triak kenikmatan mencapai klimax, jadi tante denger dan langsung mergoki kami yang sedang entotan di meja makan. Tante tidak marah tapi cemberut dan diam sampai malam, dan 1 malam tidak minta di entot, akhirnya besok pagi aku minta maaf, akhirnya tante mengerti dgn alasanku bahwa aku sdh ga tahan sementara tante pergi, jadi aku ngentot mbok Tini.

Gila juga Tante..akhirnya setiap minta di entot, ngajak mbok Tini untuk threesome, akhirnya setiap ada kesempatan kami entotan threesome di sofa, kamar tante atau kamarku, kadang2 di kamar mbok Tini. Setiap Threesome, aku paling suka saat kontolku dijilati tante dan mbok Tini berebut, dan saat aku telentang si mbok naik turun diatas kontolku dengan memeknya ngentot kontolku sementara Tante jongkok di atas kepalaku dengan memeknya aku jilati (mereka bergantian posisinya), akhirnya terdengar suara triak2 nakal, genit dan birahi dari 2 wanita paruh baya merasakan kenikmatan kontolku dan jilatan lidahku di memek mereka.

Begitu juga saat Mbak Shinta pulang ke Jogja (biasanya hanya 2 hari), Tante sering jalan dengan Mbak Shinta, maka Mbok Tini saja yang rutin entotan denganku. Terpikir juga olehku pengen ngentot Mbak Shinta yang tomboy, tapi ayu cantik tinggi dan bokongnya huh…. Bongsor banget. Ga dapet Mbak Shinta ga apa2..toh sudah rutin ngentot ibunya he..he..serta bonus mbok tini!

Waktu berjalan hampir 1 tahun, kegiatan praktikum di kampus semakin padat dan aku lebih banyak di kampus, jadi ngentot tante & mbok lebih sering dilakukan malam hari saja. Tapi tante sudah mengeluh: “ Hen…Tante ga tahan..kamu jarang ngentot tante lagi…, kamu setuju ga 3 kamar tolong dicarikan temen2 kuliahmu, biar tante ada temen kalau kamu sibuk”. Begitu juga Mbok Tini: “ Mas Hendi ga kasihan sama tante apa..mbok juga nie…gara2 Mas Hendi..Mbok sudah ketagihan kontol Mas nie…tp Mas Hendi jarang dirumah..jadinya Mbok dan Tante sering gantian pakai dildonya Tante..”

Aku lama juga berpikir, kalau ada temen2ku disini kos, berarti ntar yg ngentotin tante dan mbok Tini jadi mereka, lha aku ntar ga dipake tante lagi….!…Tapi tante sudah mendesak-desak terus :” temen2mu bagaimana Hen..ada ga yg mau kos..!, jangan sampai tante ntar cari Gigolo lho Hen..” kasihan juga tante, dan aku ga rela kalau Tante harus di entotin Gigolo, trus mbok Tini ntar ikut2an.. ga rela aku! Lebih baik di entotin temen sendiri aja..!

Akhirnya aku dapat 3 temen kampus beda Fakultas. Mereka mau karena aku ceritakan bahwa ibu kos sama pembantunya siap untuk di entot setiap saat (aku tunjukkan photo Tante & Mbok Tini), wah..mereka bersedia secepatnya pindah Ke kos Tante Wahyu.

Akhirnya 3 temenku sudah kos dirumah Tante Wahyu, dan sudah bisa diduga setiap hari Tante digilir oleh mereka termasuk Mbok Tini juga minta bagian di entotin kami ber 4. Jadi Tante dan Mbok Tini setiap hari ga pernah kosong di entot, selalu ada saja yang siap mengentot Tante dan Mbok.

Laki-laki mana sih yang ga mau ngentot cewek gratis seperti Tante dan Mbok Tini, yang sexy, bahenol, genit, cantik. Temen2ku jelas seneng banget bisa ngentot gratis Tante yang bahenol cantik meskipun sudah 46thn, mereka ga peduli, yang penting mendapatkan nimat dunia dengan Cuma2 dan suka sama suka.

Gilanya, tante pernah suatu saat minta di entot oleh kami ber 4 secara bersamaan..kami ber 4 sempat kaget juga, akhirnya kami entot Tante bersama-sama (Fivesome) bahkan jadinya Sixsome bersama Mbok Tini, dan Tante secara rutin pengen melakukan Entotan rame2 (salome) spt itu, bisa Threesome, Foursome, Fivesome, Sixsome, tergantung siapa yang ada dirumah. Gila memang tante yang sudah usia 46 tahun masih haus sex dan tidak terkendali, sedangkan si Mbok Tini yang janda juga ikut2an salome.

Dan itu berlangsung terus sampai 2 tahun, sampai saat Om Wahyu kembali ke Jogjakarta lagi. Akhirnya dengan adanya Om Wahyu, kami ber 4 sangat jarang ngentot tante lagi, karena Tante dilibatkan aktif mengelola usahanya Om Wahyu yang lebih banyak ditempat usahanya, kasihan Tante pasti bête terus setiap hari, karena birahinya ga kesampaian seperti dulu lagi, kadang2 kami masih sempat ngentot tante salome, saat Om pulang malam. Yg masih bisa rutin dientot ya Mbok Tini, dengan bangganya menjadi primadona, padahal aku perhatikan memeknya lama kelamaan sudah dower..he..he.. kemasukan banyak kontol.! Tapi Tante tetap konsisten meminta aku ngentot rutin setiap 2 hari sekali saat pagi subuh, Om ga pernah tahu, kami ngentot di gudang belakang yang kebetulan ada sofa nganggur. Temen2ku dan Mbok Tini juga ga tahu.

Memasuki tahun ke 4, kami ber 4 sudah sibuk masing2 dan ke 3 temenku sudah jarang gentot Tante, apalagi Mbok Tini. Aku yg masih sering ngentot Tante dan Mbok Tini. Ternyata Tante & Mbok Tini tetap mengatakan kontolku yang enak dan Nikmat serta tahan lama.. hebat kan..!

Ke 3 temenku sudah bergantian pindah ke tempat kos lain, dan digantikan anak kos lain yg lebih junior. Aku tetap kos disitu karena Tante dan Mbok Tini tetap minta aku rutin ngentot mereka dan masih bertahan setiap ngentot pasti threesome, dan itu dilakukan saat Om Wahyu pergi.

Salah satu anak kos yang baru orangnya ganteng tinggi besar indo, Ricky namanya, Tante juga minta di entot dia, aku bener2 cemburu deh. Habis Tante saat ada Ompun berani juga datang kekamar si Ricky untuk entotan, pdhl Om lagi diruang TV. Tapi akhirnya si Ricky hanya sebentar dan pindah ke tempat kos lain, mungkin ga tahan melayani Tante.

Waktu berjalan memasuki tahun ke 5, aku tetap sibuk kuliah, praktikum dan menyusun skripsi, sementara ngentot tante dan Mbok Tini juga masih rutin meskipun ga stiap hari lagi, karena Om Wahyu sering ada dirumah. Terlihat kecantikan dan kemolekan tante berkurang, nampak wajahnya ga bersih lagi, tp kelihatan kuyu serta tidak bersemangat, tapi masih hot juga setiap entotan denganku. Dan setiap entotan justru nampak kegairahan dan kecantikannya lebih bersinar, jadi mungkin Tante memang sangat mendambakan entotan secara rutin dari laki2 yang bisa memberikan multiorgasme, sehingga wajahnya jadi bisa lebih berseri, namun karena keterbatasan ada Om Wahyu jadi ga kesampaian. Kasihan Tante Wahyu. Sementara aku juga semakin bosen pengen cari wanita lain, karena aku jadi ketagihan ngentot nie… walaupun masih ada Mbok Tini, yang juga kadang2 sdh ga bergairah lagi. Karena sdh tidak rutin lagi. Aku kepikiran pengen ngentot cewek lain selain Tante Wahyu dan Mbok Tini.

Saat aku lulus kuliah dan selesai wisuda, kedua orangtuaku datang ke Jogja dan aku kenalkan dengan Tante & Om Wahyu. Nampak biasa2 saja sih.. padahal Tante Wahyu yang usianya lebih tua dari ibuku, hampir setiap hari aku entot dengan suka sama suka. Ibu dan Bapakku jangan sampai tahu itu.

Sebagai salam perpisahan, Tante bikin kejutan: Aku diundang ke kumpulan arisan temen2 Tante Wahyu, mereka ber 5 (lima), ke 4 temen Tante usianya sekitar 40 – 45 thn. saat itu Tante sudah usia 50thn masih cantik tubuhnya berisi padat (mungkin karena rajin di entot dan nelan sperma, jadi awet muda), jadi Tante yg paling tua, tapi nampak jadi yang paling muda. Saat itu Om Wahyu sedang dinas ke Jakarta dan Tante tidak ikut.

Kejutan itu adalah di rumah salah satu Tante tsb. aku hanya cowok sendiri berusia 24thn bersama 5 Tante2 usia diatas 40 thn. Pengamatanku, nampak ke 4 tante2 tsb adalah Tante2 yang kesepian dan tidak pernah puas sex dengan suaminya.

Tante Wahyu menceritakan kepada 4 temannya bahwa aku adalah cowok yang sering dia ceritakan bisa memberikan kepuasan Sex Tante Wahyu dan selalu memberikan multiorgasme yang gak pernah didapat dari suaminya, sehingga Tante diusianya yg 50th nampak lebih muda dibanding ke 4 temannya.

Aku bak piala bergilir yang dipindah-pindahkan ke berganti-ganti tangan. Ke 4 temen tante Wahyu langsung mengerubuti aku serta mengelus-ngelus kontolku, akhirnya aku sudah telanjang bulat didepan hadapan mereka yang ntah kapan merekapun sudah pada telanjang bulat. Aku hanya berpikiran akhirnya keinginanku tercapai bisa ngentot cewek lain selain Tante Wahyu dan Mbok Tini.. he..he..!

Akhirnya aku tidur terlentang dikarpet ruang tamu dan tante bersama-sama 4 tante lainnya berebut menjilati kontolku serta di kulum-kulum serta di hisap2..bergantian dan berebutan, sehingga terdengar suara2 triakan2 genit dan nakal ke 5 tante arisan tsb. Aku merasakan lama2 bergairah dan terangsang dengan melihat 5 Tante2 cantik telanjang bulat dengan tetek2 yang besar2 padat dan memeknya ditumbuhi rambut2 kasar yang sangat lebat dan sangat berpengalaman menerima sodokan kontol ntah siapa saja selain suaminya.

Sebelum aku ikut Tante Wahyu ke rumah arisan tsb, tante memberikan pil biru ntah apa aku tidak tahu: “ Hen..ini diminum sekarang..biar kamu fit..” aku langsung meminumnya saat masih dirumah. Rupanya ini sudah direncanakan Tante Wahyu.

Aku heran karena kontolku sudah dikulum-kulum ber jam-jam dan tante2 itu memasukan memeknya ke kontolku naik turun diatas tubuhku bergantian 5 tante, aku belum mencapai klimax juga, sementara tante yang lain juga minta dijilati memeknya dgn lidahku.

Jadi ke 5 tante tsb. masing2 sudah orgasme ber kali2 (multiorgasme), tapi aku belum juga, padahal sdh hampir 5 jam. Akhirnya aku ga tahan juga dan cepat2 menarik Tante Wahyu kutelentangkan dan aku posisi diatas menyodok2 Tante Wahyu berulang-ulang dengan cepatnya…Tante Wahyu juga triak2 kenikmatan; “ Iya..iya..iya..trus..trus.. hen yang cpet..jangan stop..jangan stop hen…. Ough..ough..hen..hen..hen…trus..trus…argh…argh ..argh…” Ayo…ayo bu Wahyu..ayo bu Wahyu…trus …trus yang cepet hen..hen..yang cepet…Bu Wahyu sudah hamper orgasme lagi, begitu Tante 2lain memberi dukungan entotan kami ber2.! “Ough..ough..Tante..hendi dah mw kaluar tante…” Ok Hen Tante juga..aaahhhkk….aaaakkhh….aaarrrgghh…ough…ough….ooouuhhh… hen…hen…Tante sudah..tante sudah….kamu…ouh….! Rupanya Aku baru mau tant..belum keluar juga. Cepet2 tante mencabut kontolku dan menarik tante lain disuruh telentang…Bu retno..sini gantian…si hendi hampir nie belum keluar..kasihan dia..” Ok Bu wahyu…langsung bu retno telentang ngangkang dan aku langsung memasukkan kontolku ke memek Tante retno.. ough..ough…hen..hen nikmatnya trus trus hen yg cepet..tante kenikmatan nie..malah sudah pengen keluar..habis kontolmu enak banget..! Aku juga mau keluar Tant…aakkhh…aakkgghh.. tante…tante..tante..aku keluar argh..argh…” Tante juga Hen..kita keluar sama2….\: ough…ough…ough..ough..argh/…argh…arg..arg..aakkkhh…akkhhgg…” Crot..crot..crot..! Ouhhh…..ough..ough…spermamu terasa hangat di memek tante nikmatnya Hen..makasih ya,,Tante puas banget hari ini bisa orgasme sampai 5 kali, paling nikmat yg barusan…kontolmu kapan2 tante boleh pake lagi kan..?

1 bulan terakhir sebelum aku kembali ke Bandung, ke 4 tante bergantian mencari aku untuk ngajak ngentot dirumah mereka masing2…aku digilir mereka bergantian, dan yang paling ketagihan adalah Tante Retno yang usianya 40thn punya anak 2, suaminya kerja di Jakarta dan seminggu sekali pulang Jogja, hampir setiap hari aku pulang kuliah Tante Retno sudah nunggu di depan rumah kosku: “ Hen…bu Wahyu sudah kasih ijin kamu ikut dengan Tante kerumah…Tante dah ga tahan Hen..!”. Kalau 3 Tante lain selama sebulan masing2 hanya 3 x ngentot denganku. Sementara ngentot Tante Wahyu dan Mbok Tini kadang2 aja, Mbok Tini akhir2 ini cemberut terus..cemburu kalee…!

Itulah perpisahan terakhir dengan Tante Wahyu, Mbok Tini dan 4 Tante temen arisan Tante Wahyu. Setelah itu aku langsung bekerja diluar Jawa s.d sekarang dan tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Pengalaman sex bersama mereka membuat aku jadi ketagihan ngentot meskipun aku sudah berkeluarga, yang akhirnya aku berpetualang dengan banyak wanita: mahasiswi, karyawati, SPG, ibu rumah tangga & janda yang kenalan di mall/ via sms chat/YM/facebook/Indonesiancupid; wanita karier partner kerja; teman kantor, istri teman/ tetangga, istri bosku, pembantu dan bahkan adik iparku sendiri. Kalau dihitung-hitung sudah ada sekitar 37 cewek yang pernah aku entot atas dasar suka sama suka, aku tidak pernah ngentot sama pelacur/PSK.

Pernah suatu saat secara tidak sengaja bertemu Mbak Shinta di Jakarta saat aku pindah kerja di Jakarta, yang akhirnya bisa janji temu beberapa kali dan diakhiri dengan ngentot yang dulu pernah aku idamkan, saat itu dia sudah bersuami dgn 3 anak, sementara aku juga dgn 2 anak (usiaku saat itu 38thn dan Shinta 39thn, itupun dilanjutkan dgn pertemuan2 ngentot berikutnya selama 2 tahun, itu akan aku ceritakan next time bersama petualangan sexku lainnya, bye bye..!


Novi adik Iparku

Aku masih ingat pada waktu itu tanggal 2 Maret 2005, aku mengantarkan adik iparku mengikuti test di sebuah perusahaan di Surabaya . Pada saat adik iparku sebut saja Novi memasuki ruangan test di perusahaan tersebut, aku dengan setia menunggu di ruang lobi perusahaan tersebut. Satu setengah jam sudah aku menunggu selesainya Novi mengerjakan test tersebut hingga jam menunjukkan pukul 11 siang, Novi mulai keluar dari ruangan dan menuju lobi. Aku tanya apakah Novi bisa menjawab semua pertanyaan, dia menjawab, “Bisa Mas…”

“Kalau begitu mari kita pulang” pintaku. “E… sebelum pulang kita makan dulu, kamu kan lapar Novi.” Kemudian Novi menggangguk. Setelah beberapa saat Novi merasa badannya agak lemas, dia bilang, “Mas mungkin aku masuk angin nich, habis aku kecapekan belajar sih tadi malam.” Aku bingung harus berbuat apa, lantas aku tanya biasanya diapakan atau minum obat apa, lantas dia bilang, “Biasanya dikerokin Mas…” “Wah… gimana yach…” kataku. “Oke kalau begitu sekarang kita cari losmen yach untuk ngerokin kamu…” Novi hanya mengangguk saja.

Lantas aku dan Novi mencari losmen sambil membeli minyak kayu putih untuk kerokan. Kebetulan ada losmen sederhana, itulah yang kupilih. Setelah pesan kamar, aku dan Novi masuk ke kamar 11 di ruang atas. “Terus gimana cara Mas untuk ngerokin kamu Nov”, tanyaku. Tanpa malu-malu dia lantas tiduran di kasur, sebab si Novi sudah menganggapku seperti kakak kandungnya. Aku pun segera menghampirinya. “Sini dong, Mas kerokin…” Dan astaga si Novi buka bajunya, yang kelihatan BH-nya saja, jelas kelihatan putih dan payudaranya padat berisi. Lantas si Novi tengkurap dan aku mulai untuk menggosokkan minyak kayu puih ke punggungnya dan mulai mengeroki punggungnya.

Hanya beberapa kerokan saja… Novi bilang, “Entar Mas… BH-ku aku lepas sekalian yach… entar mengganggu Mas ngerokin aku.” Dan aku terbelalak.. . betapa besar payudaranya dan putingnya masih memerah, sebab dia kan masih perawan. Tanpa malu-malu aku lanjutkan untuk mengeroki punggungnya. Setelah selesai semua aku bilang, “Sudah Nov… sudah selesai.” Tanpa kusadari Novi membalikkan badannya dengan telentang. “Sekarang bagian dadaku Mas tolong dikerik sekalian.” Aku senang bukan main. Jelas buah dadanya yang ranum padat itu tersentuh tanganku. Aku berkali-kali berkata, “Maaf dik yach… aku nggak sengaja kok…” “Nggak apa-apa Mas… teruskan saja.”

Hampir selesai kerokan dadanya, aku sudah kehilangan akal sehatku. Aku pegang payudaranya, aku elus-elus. Si Novi hanya diam dan memejamkan matanya… lantas aku ciumi buah dadanya dan kumainkan pentilnya. Novi mendesis, “Mas… Mas… ahh…, ah ah ahh…” Terus aku kulum putingnya, tanganku pun nggak mau ketinggalan bergerilnya di vaginanya. Pertama dia mengibaskan tanganku dia bilang, “Jangan Mas… jangan Mas…” Tapi aku nggak peduli… terus saja aku masukkan tanganku ke CD-nya, ternyata vaginanya sudah basah sekali. Lantas tanpa diperintah oleh Novi aku buka rok dan CD-nya, dia hanya memejamkan matanya dan berkata pelan, “Yach Mas…” Kini Novi sudah telanjang bulat tak pakai apa-apa lagi, wah… putih mulus, bulunya masih jarang maklum dia baru umur 20 tahun tamat SMA. Lantas aku mulai menciumi vaginanya yang basah dan menjilati vaginanya sampai aku mainkan kelentitnya, dia mengerang keenakan, “Mas… ahh… uaa… uaa… Mas…”

Dan mendesis-desis kegirangan, tangan Novi sudah gatal ingin pegang penisku saja. Lantas aku berdiri, kubuka baju dan celanaku kemudian langsung saja Novi memegang penisku dan mengocok penisku. Aku suruh dia untuk mengulum, dia nggak mau, “Nggak Mas jijik… tuh, nggak ah… Novi nggak mau.” Lantas kupegang dan kuarahkan penisku ke mulutnya. “Jilatin saja coba…” pintaku. Lantas Novi menjilati penisku, lama-kelamaan dia mau untuk mengulum penisku, tapi pas pertama dia kulum penisku, dia mau muntah “Huk.. huk… aku mau muntah Mas, habis penisnya besar dan panjang… nggak muat tuh mulutku.” katanya. “Isep lagi saja Nov…” Lantas dia mulai mengulum lagi dan aku menggerayangi vaginanya yang basah. Lantas aku rentangkan badan Novi.

Rasanya penisku sudah nggak tahan ingin merenggut keperawanan Novi. “Novi… Mas masukkan yah.. penis Mas ke vaginamu”, kataku. Novi bilang, “Jangan Mas… aku kan masih perawan.” katanya. Aku turuti saja kemauannya, aku tidurin dia dan kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Dia merasakan ada benda tumpul menempel di vaginanya, “Mas… Mas… jangan…” Aku nggak peduli, terus kugesekkan penisku ke vaginanya, lama-kelamaan aku mencoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Slep… Novi menjerit, “Ahk… Mas… jangan…”

Aku tetap saja meneruskan makin kusodok dan slep… bles… Novi menggeliat-geliat dan meringis menahan sakitnya, “Mas… Mas… sakit tuh… Mas… jangan…” Lalu Novi menangis, “Mas… jangan dong…” Aku sudah nggak mempedulikan lagi, sudah telanjur masuk penisku itu.

Lantas aku mulai menggerakkan penisku maju mundur. “Ah… Mas… ah.. Mas…” Rupanya Novi sudah merasakan nikmat dan meringis-ringis kesenangan. “Mas…” Aku terus dengan cepatnya menggenjot penisku maju mundur. “Mas.. Mas…” Dan aku merasakan vagina Novi mengeluarkan cairan. Rupanya dia sudah klimaks, tapi aku belum. Aku mempercepat genjotanku. “Terus Mas… terus Mas… lebih cepat lagi…” pinta Novi. Tak lama aku merasakan penisku hampir mengeluarkan mani, aku cabut penisku (takut hamil sih) dan aku suruh untuk Novi mengisapnya. Novi mengulum lagi dan terus mengulum ke atas ke bawah. “Hem… hem… nikmat… Mas…” Aku bilang, “Terus Nov… aku mau keluar nich…” Novi mempercepat kulumnya dan… cret… cret… maniku muncrat ke mulut Novi . Novi segera mencabut penisku dari mulutnya dan maniku menyemprot ke pipi dan rambutnya. “Ah… ah… Novi… maafkan Mas… yach… aku khilaf Nov… maaf… yach!” “Nggak apa-apa Mas… semuanya sudah telanjur kok Mas…” Lantas Novi bersandar di pangkuanku. Kuciumi lagi Novi dengan penuh kesayangan hingga akhirnya aku dan Novi pulang dan setelah itu aku pun masih menanam cinta diam-diam dengan Novi kalau istriku pas tidak ada di rumah.


Adik istri

Saya, Andry (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria berumur 35 tahun dan telah berkeluarga, istri saya seumur dengan saya dan kami telah dikarunia 2 putra.

Istri saya adalah anak ke 2 dari empat saudara yang kebetulan semuanya wanita dan semuanya telah menikah serta dikarunia putra-putri yang relatif masih kecil, diantara saudara-saudara istri, saya cukup dekat dengan adik istri saya yang kurang lebih berumur 34 tahun namanya Siska (bukan nama sebenarnya).

Keakraban ini bermula dengan seringnya kami saling bertelepon dan makan siang bersama pada saat jam kantor (tentunya kami saling menjaga rahasia ini), dimana topik pembicaraan berkisar mengenai soal pekerjaan, rumah tangga dan juga kadangkala masalah seks masing-masing.

Perlu diketahui istri saya sangat kuno mengenai masalah seks, sedangkan Siska sangat menyukai variasi dalam hal berhubungan seks dan juga open minded kalau berbicara mengenai seks, juga kebetulan di keluarga istri saya dia yang paling cantik dan sensual, sebagai ilustrasi tingginya kurang lebih 165 cm, kulit putih mulus, hidung mancung, bibir agak sedikit kelihatan basah serta ukuran dada 34a.

Keakraban ini dimulai sejak tahun 1996 dan berlangsung cukup lama dan pada tahun 1997 sekitar Juni, pembicaraan kami lebih banyak mengarah kepada masalah rumah tangga, dimana dia cerita tentang suaminya yang jarang sekali memperlihatkan perhatian, tanggung jawab kepada dia dan anak-anak, bahkan dalam soal mencari nafkah pun Siska lebih banyak menghasilkan dari pada suaminya ditambah lagi sang suami terlalu banyak mulut alias cerewet dan bertingkah polah bak orang kaya saja.

Menurut saya kehidupan ekonomi keluarga Siska memang agak prihatin walaupun tidak dapat dikatakan kekurangan, tetapi boleh dikatakan Siskalah yang membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Disamping itu sang suami dengan lenggang keluyuran dengan teman-temannya baik pada hari biasa maupun hari minggu dan Siska pernah mengatakan kepada saya bahwa lebih baik suaminya pergi keluar daripada di rumah, karena kalau dia di rumah pusing sekali mendengarkan kecerewetannya.

Saya menasihati dia agar sabar dan tabah menghadapi masalah ini, karena saya seringkali juga menghadapi masalah yang kurang lebih sama dengannya hanya saja penekanannnya berbeda dengan kakaknya.

Istri saya seringkali ngambek yang tidak jelas sebabnya dan bilamana itu terjadi seringkali saya tidak di ajak berbicara lama sekali.

Akhirnya Siska juga menceritakan keluhannya tentang masalah seks dengan suaminya, dimana sang suami selalu minta jatah naik ranjang 2-3 kali dalam semingggu, tetapi Siska dapat dikatakan hampir tidak pernah merasakan apa yang namanya orgasme/climax sejak menikah sampai sekarang, karena sang suami lebih mementingkan kuantitas hubungan seks ketimbang kualitas.

Siska juga menambahkan sang suami sangat kaku dan tidak pernah mau belajar mengenai apa yang namanya foreplay, walaupun sudah sering saya pinjami xxx film, jadi prinsip suaminya langsung colok dan selesai dan hal itupun berlangsung tidak sampai 10 menit.

Siska lalu bertanya kepada saya, bagaimana hubungan saya dengan kakaknya dalam hal hubungan seks, saya katakan kakak kamu kuno sekali dan selalu ingin hubungan seks itu diselesaikan secepat mungkin, terbalik ya kata Siska.

Suatu hari Siska telepon saya memberitahukan bahwa dia harus pergi ke Bali ada penugasan dari kantornya, dia menanyakan kepada saya apakah ada rencana ke Bali juga, karena dia tahu kantor tempat saya bekerja punya juga proyek industri di Bali, pada awalnya saya agak tidak berminat untuk pergi ke Bali, soalnya memang tidak ada jadwal saya pergi ke sana. Namun dengan pertimbangan kasihan juga kalau dia seorang wanita pergi sendirian ditambah lagi kan dia adik istri saya jadi tidak akan ada apa-apa, akhirnya saya mengiyakan untuk pergi dengan Siska.

Pada hari yang ditentukan kita pergi ke Bali berangkat dari Jakarta 09.50, pada saat tiba di Bali kami langsung menuju Hotel Four Season di kawasan Jimbaran, hotel ini sangat bernuansa alam dan sangat romantis sekali lingkungannya, pada saat menuju reception desk saya langsung menanyakan reservasi atas nama saya dan petugas langsung memberikan saya 2 kunci bungalow, pada saat itu Siska bertanya kepada saya, oh dua ya kuncinya, saya bilang iya, soalnya saya takut lupa kalau berdekatan dengan wanita apalagi ini di hotel, dia menambahkan ngapain bayar mahal-mahal satu bungalow saja kan kita juga saudara pasti engga akan terjadi apa-apa kok, lalu akhirnya saya membatalkan kunci yang satu lagi, jadi kita berdua share 1 bungalow.

Saat menuju bungalow kami diantar dengan buggie car (kendaraan yang sering dipakai di lapangan golf) mengingat jarak antara reception dengan bungalow agak jauh, di dalam kendaraan ini saya melihat wajah Siska, ya ampun cantik sekali dan hati saya mulai bergejolak, sesekali dia melemparkan senyumnya kepada saya, pikiran saya, dasar suaminya tidak tahu di untung sudah dapat istri cantik dan penuh perhatian masih di sia-siakan.

Di dalam bungalow kami merapikan barang dan pakaian kami saya menyiapkan bahan meeting untuk besok sementara dia juga mempersiapkan bahan presentasi, pada saat saya ingin menggantungkan jas saya tanpa sengaja tangan saya menyentuh buah dadanya karena sama-sama ingin menggantungkan baju masing-masing, saya langsung bilang sorry ya Sis betul saya tidak sengaja, dia bilang udah engga apa-apa anggap aja kamu dapat rejeki…. wow wajahnya memerah tambah cantik dia.

Lalu kita nonton tv bareng filmya up close and personal, pada saat ada adegan ranjang saya bilang sama Siska wah kalo begini terus saya bisa enggak tahan nih, lalu saya berniat beranjak dari ranjang mau keluar kamar (kita nonton sambil setengah tiduran di ranjang), dia langsung bilang mau kemana sini aja, engga usah takut deh sambil menarik tangan saya lembut sekali seakan memohon agar tetap disisinya… selanjutnya kita cerita dan berandai-andai kalau dulu kita sudah saling ketemu… dan kalau kita berdua menikah dan sebagainya.. …

Saya memberanikan diri bicara, Sis kamu koq cantik dan anggun sih, Siska menyahut nah kan mulai keluar rayuan gombalnya, sungguh koq sih saya engga bohong, saya pegang tangannya sambil mengelusnya, oww geli banget, Andry come on nanti saya bisa lupa nih kalo kamu adalah suami kakak saya…. biarin aja kata saya.

Perlahan tapi pasti tangan saya mulai merayap ke pundaknya terus membelai rambutnya tanpa disangka dia juga mulai sedikit memeluk saya sambil membelai kepala dan rambut saya….. akhirnya saya kecup keningnya dia bilang Andry kamu sungguh gentle sekali…uh indahnya kalau dulu kita bisa menikah saya bilang abis kamunya sih udah punya pacar…..berlanjut saya kecup juga bibirnya yang sensual dia juga membalas kecupan saya dengan agresif sekali dan saya memakluminya karena saya yakin dia tidak pernah diperlakukan sehalus ini….kami berciuman cukup lama dan saya dengar nada nafasnya mulai tidak beraturan, tangan saya mulai merambat ke daerah sekitar buah dadanya…dia sedikit kaget dan menarik diri walaupun mulut kami masih terus saling bertempur… ..

Kali ini saya masukkan tangan saya langsung ke balik bhnya dia menggelinjang saya mainkan putingya yang sudah mulai mengeras dan perlahan saya buka kancing bajunya dengan tangan saya yang kanan, setelah terbuka saya lepas bhnya wow betapa indah buah dadanya ukurannya kurang lebih mirip dengan istri saya namun putingnya masih berwarna merah muda mungkin karena dia tidak pernah menyusui putranya, Siska terhenyak sesaat sambil ngomong, Andry koq jadi begini….

Sis saya suka ama kamu, terus dia menarik diri…saya tidak mau berhenti dan melepaskan kesempatan ini langsung saya samber lagi buah dadanya kali ini dengan menggunakan lidah saya sapu bersih buah dada beserta putingnya… .Siska hanya mendesah-desah sambil tangannya mengusap-ngusap kepala saya dan saya rasakan tubuhnya semakin menggelinjang kegelian dan keringat mulai mengucur dari badannya yang harum dan putih halus….

Lidah saya masih bermain diputingnya sambil menyedot-nyedot halus dia semakin menggelinjang dan langsung membuka baju saya pada saat itu saya juga membuka kancing roknya dan terlihat paha yang putih mulus nan merangsang, kita sekarang masing-masing tinggal ber cd saja, tangan dia mulai membelai pundak dan badan saya, sementara itu lidah saya mulai turun ke arah pangkah paha dia semakin menggelinjang, ow andry enak dan geli sekali …..

perlahan saya turunkan cdnya, dia bilang andry jangan bilang sama siapa-siapa ya terutama kakak saya….saya bilang emang saya gila kali, pake bilang-bilang kalo kita ………. setelah cdnya saya turunkan saya berusaha untuk menjilat kelentitnya yang berwarna merah menantang pada awalnya dia tidak mau, katanya saya belum pernah ……, nah sekarang saatnya kamu mulai mencoba lidah saya langsung menari-nari di kelentitnya dia meraung keras….oohhhhhhhh andry ………enaaaaaaaa aaakkkkkkkkkkk sekali…..saya …saya enggak pernah merasakan ini sebelumnya kamu pintar sekali sih……… ..terus saya jilat kelentit dan lubang vaginanya… ..tidak berapa lama kemudian dia menjerit…. .auuuuuuuuwwww saya keluar andry oooooooooooohhhhhhh hhenak sekali…..

Dia bangkit lalu menarik dengan keras cd saya ….langsung dia samber kontol saya dan dilumatnya secara hot dan agresif sekali…..oh nikmatnya… .terus terang istri saya tidak perah mau melakukan oral sex dengan saya……dia terus memainkan lidahnya dengan lincah sementara tangan saya memainkan puting dan kelentitnya. …tiba-tiba dia mengisap kontol saya keras sekali ternyata dia orgasme lagi…….. …dia lepaskan kontol saya, andry ayo dong masukin ke sini sambil menunjuk lobangnya …..perlahan saya tuntun kontol saya masuk ke memeknya…. ..dia terpejam saat kontol saya masuk ke dalam memeknya sambil dia tiduran dan mendesah-desah. …….ohhhhhhhh andry biasanya suami saya sudah selesai dan saya belum merasakan apa-apa, tapi kini saya udah dua kali keluar, kamu baru saja mulai…..waktu itu kami bercinta udah kurang lebih 30 menit sejak dari awal kita bercumbu…. ……… ……… ..

Sekarang saya angkat ke dua kakinya ke atas lalu ditekuk, sehingga penetrasi dapat lebih dalam lagi sambil saya sodok keluar masuk memeknya…. dia terpejam dan terus menggelinjang dan bertambah liar dan saya tidak pernah menyangka orang seperti Siska yang lemah lembut ternyata bisa liar di ranjang, dia menggelinjang terus tak keruan…… .uhhhhhhh andry saya keluar lagi…..saya angkat perlahan kontol saya dan kita berganti posisi duduk , terus dia yang kini mengontrol jalannya permainan ,…dia mendesah sambil terus menyebut ohh andry….ohhh andry dia naik turun makin lama makin kencang sambil sekali-kali menggoyangkan pantatnya… ….tangannya memegang pundak saya keras sekali..iiiiiiiiiii hhhhhhhhhhhh uuuuuuuuuhhhhhhhhhh hhhh andry saya keluar lagi ……..kamu koq kuat sekali…… .come on andry keluarin dong saya udah engga tahan nih,,,,,,,, biar aja kata saya…..saya mau bikin kamu keluar terus , kan kamu bilang sama saya , kamu engga pernah orgasme sama suami kamu sekarang saya bikin kamu orgasme terus……. .iya sih tapi ini betul-betul luar biasa andry,…… ……..ohhhhhhh hhhh betapa bahagianya saya kalau bisa setiap hari begini sama kamu……ayo jangan ngaco ah mana mungkin lagi, kata saya…

Saya bilang sekarang saya mau cobain doggy style, apa tuh katanya, ya ampun kamu engga tau, engga tuh katanya, lalu saya pandu dia untuk menungging dan perlahan saya masukkan kontol saya ke memeknya yang sudah banjir karena keluar terus, pada saat kontol saya sudah masuk sempurna mulailah saya tusuk keluar masuk dan goyangin makin lama makin kencang….. dia berteriak dan menggelinjang dan mengguncangkan tubuhnya…. ….andry. …….aaaaaaaam mmmmmmmmmpuuuuuu uuuuuuunnnn dehhhhhhhhhhhhhhhhh hhhh saya keluar lagi nih dan waktu itu saya juga udah mau keluar…… saya bilang nanti kalau saya keluar maunya di mulut Siska, ah jangan Siska belum pernah dan kayaknya jijik deh……… cobain dulu ya…..akhirnya dia mengangguk.. ……… .

Tiba saatnya saya sudah mau orgasme saya cabut kontol saya dan sembari dia jongkok saya arahkan kepala kontol saya ke mulutnya sambil tangan dia mengocok-ngocok kontol saya dengan sangat bernafsu…. ..sis…. ……… …..udah mau keluar langsung kontol saya dimasukkan ke dalam mulutnya engga lama lagi…..creetttttt tt creeeeeeeettttttttt ttt crettttttttttttttt creeeeeeeeetttttttt ttttt, penuhlah mulut dia dengan sperma saya sampai berceceran ke luar mulut dan jatuh di pipi dan buah dadanya.. dia terus menjilati kontol saya sampai semua sperma saya kering saya tanya gimana sis enak enggak rasanya dia bilang not bad……… ……… ……… ……… kita berdua tertidur sampai akhirnya kita bangun jam 21.30……. ……… ……… ………

Siska mengecup halus bibir saya…….. ..Andry, thanks a lot ………..saya benar-benar puas sama apa yang kamu berikan kepada saya, walaupun ini hanya sekali saja pernah terjadi dalam hidup saya……..


Akibat Dari Internet

Ini adalah kisah nyataku, Pertama aku ingin memperkenalkan diri dahulu, aku adalah seorang wanita berusia 27 tahun, namaku… katakan lisa, tempat tinggalku di semarang, dan sudah setahun menikah, tetapi entah kenapa belum mempunyai anak, walaupun hubungan sex kami (dengan suami) lakukan dengan rutin dan lancar, kehidupan sex kami biasa biasa saja, bahkan cenderung membosankan, karena menurutku kurang bervariasi, tapi aku tidak pernah berselingkuh dengan orang lain selama ini, karena suamiku sangat menyayangi aku bahkan cenderung memanjakanku. Tapi kesetiaanku ini berakhir sampai tanggal 19 Juni 1999 (hari Sabtu).

Hal ini dimulai dengan perkenalanku dengan dunia internet sejak sebulan yang lalu. Secara rinci aku tidak menjelaskan bagaimana aku belajar internet, tetapi sampai suatu waktu aku berkenalan dengan seorang cowok dalam acara chatting di web idola. Ketika ini aku sedang belajar tentang bagaimana untuk ber chatting di internet, temanku mengajari aku untuk masuk ke web idola, lalu masuk ke forum chattingnya. Ketika aku sudah masuk ke forum, ada yang mengirimi aku private message, ternyata seorang cowok yang berusia 30 tahun, berkeluarga, juga belum mempunyai anak, namanya…katakan andy, berasal dari jakarta, bekerja di sebuah perusahaan asing yang sedang mengerjakan sebuah proyek maintenance jalan KA (jakarta-surabaya), tetapi perusahaan itu mempunyai kantor cabang di cirebon dan semarang, hingga andy sering melakukan tugas meninjau kantor cabangnya, termasuk di semarang.

Setelah kami berkenalan lewat chatting, lalu dia juga kadang-kadang menelepon (dari jakarta)… mungkin pakai telepon kantor, tetapi kami belum pernah bertemu muka, sampai pada tgl 16 juni 1999 andy menelepon aku, dan mengatakan bahwa dia sedang berada di semarang untuk urusan kerja dan menawari aku untuk berkenalan dan bertemu muka.

Pertama kali aku ditawari begitu, aku agak bingung, karena hal seperti ini adalah sangat baru bagiku, sudah mengenal seseorang, tapi belum pernah bertemu, dan sekarang akan bertemu orang tsb. Tapi akhirnya aku menyetujui dan akhirnya kita membuat janji untuk bertemu pada hari sabtu pagi (karena kantor andy libur, hingga andy mempunyai waktu untuk bertemu). Kita menetapkan tempat bertemunya di lobby hotel graha santika (tempat andy menginap) jam 9 pagi. Pada hari dan jam yang sudah kita tentukan, aku datang kesana sendirian, karena suamiku masih bekerja di perusahaannya (perusahaan tempat suamiku bekerja tidak libur pada hari sabtu), tetapi sampai disana aku tidak menjumpai andy, akhirnya aku bertanya ke bagian reception, dan menanyakan apakah ada tamu bernama andy dari jakarta, setelah di check, ternyata ada, dan aku di beri tahu no kamarnya.

Akhirnya aku telepon ke kamarnya, dan andy mengangkat telepon, aku menanyakan apakah dia lupa dengan janji bertemunya, andy menjawab bahwa dia tidak lupa, tetapi karena semalam dia harus bekerja menemani tamu sampai larut malam, akhirnya dia terlambat bangun, bahkan sekarang belum mandi. Aku dapat memakluminya, tetapi aku bingung apakah aku harus menunggu di lobby sampai dia selesai mandi, dsb, atau harus bagaimana, akhirnya andy menawarkan bila aku tidak keberatan, aku dapat naik ke kamarnya dan menunggu di ruang tamu di kamarnya (ternyata kamarnya mempunyai ruang tamu sendiri, semacam suite room atau apa aku tidak menanyakan), aku agak bingung juga, tapi akhirnya aku menyetujui untuk naik ke kamarnya. Sesampai di depan kamarnya, aku pencet bel, lalu tidak lama kemudian andy membuka pintu.

Ternyata andy mempunyai wajah yang ganteng sekali, dan tubuhnya juga sangat macho, setelah kita berbasa basi di ruang tamu kamarnya, andy bilang permisi untuk mandi sebentar dan mempersilahkan aku untuk main komputernya (dia membawa komputer kecil…notebook..?), dia bahkan membantu aku untuk meng connect kan ke internet, lalu andy meninggalkanku untuk mandi. Setelah aku sendirian, aku mencoba untuk masuk ke web untuk chatting, tetapi entah kenapa kok tidak bisa masuk web tsb, setengah teriak aku menanyakan ke andy, dan andy menjawab mungkin web tsb lagi down, dan andy menyarankan untuk mencoba saja web yang lain, caranya lihat di historynya (aku tidak mengerti artinya..), tetapi karena aku tidak punya kerjaan, aku mencoba bagaimana caranya untuk membuka history nya (itupun dengan cara saling teriak dengan andy), sampai akhirnya aku dengan tidak sengaja membuka web, ini yang pertama aku membuka cerita seru, ternyata isinya adalah cerita-cerita sex dengan bahasa indonesia, lalu aku mencatat alamat webnya, dengan pertimbangan mungkin aku akan buka lagi di rumah.

Lalu aku mulai membaca cerita-cerita yang ditampilkan, terus terang aku mulai terangsang karena membaca cerita sex tsb, aku merasa celana dalam ku mulai lembab karena vaginaku mulai basah. Sampai akhirnya andy selesai mandi, dan keluar menemuiku. Pertama dia kaget melihat aku sedang membaca web cerita seru, akupun sangat malu melihat dia memergoki aku sedang membaca cerita seru, dan segera aku men disconnect komputernya ke internet dan menutup layar web cerita seru tsb, tetapi karena andy sudah terlanjur melihat aku membaca cerita seru, setelah beberapa waktu dia diam, akhirnya dia tertawa dan menanyakanku apakah aku pernah masuk ke web tsb, aku dengan malu-malu menjawab belum.

Andy bertanya lagi, bagaimana ceritanya..?, aku bingung menjawabnya.. sampai andy tertawa lagi.. kali ini sampai terpingkal pingkal… akhirnya aku juga ikut tertawa. Setelah suasananya agak mencair, kami mulai ngobrol lagi, tentu dengan topik internet, ternyata andy sangat menguasai internet, hingga aku dijelaskan banyak mengenai dunia internet, baru aku tahu bahwa internet tidak hanya digunakan untuk chatting dan kirim email saja, ternyata sangat banyak manfaatnya.

Bahkan andy menjelaskan bahwa di internet kita dapat membuka web… dewasa, misalnya cerita seru, dan web yang menampilkan gambar-gambar…. sex, aku agak penasaran dengan penjelasannya yang terakhir, dan rupanya andy mengetahui keingintahuan ku, lalu dia menawarkan untuk mencoba penjelasannya dengan membuka web-web dewasa tsb, rupanya komputer andy mempunyai satu bagian.. (favourite..?), yang isinya adalah alamat web web dewasa, hingga kita tidak perlu tiap kali menuliskan melalui keyboard, setelah andy membuka web porno tsb, aku sangat kaget, karena isinya adalah gambar sepasang cowok-cewek sedang berhubungan sex, terus terang aku baru pertama kali melihat gambar gambar semacam itu, hingga aku sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana…

Tapi sejujurnya aku mulai terangsang dengan melihat gambar tsb, tetapi kemudian andy mengganti web tsb dengan web lain yang isinya juga tentang orang berhubungan sex, tetapi yang ditampilkan adalah film (movie), ini juga pertama kali aku melihat film orang bermain sex, ternyata film film semacam itu juga sama dengan blue film (kata andy).. sejujurnya aku belum pernah melihat blue film, melihat cewek mencium bahkan mengulum penis sampai mengeluarkan sperma.., dan cowok menciumi vagina cewek….

Aku mulai merasa panas dingin melihatnya, mungkin aku mulai terangsang berat, dan entah bagaimana dan kapan mulainya ternyata andy sudah memelukku dan mulai meraba payudaraku, pertama aku ingin berontak, karena aku merasa ini tidak boleh, tetapi entah bagaimana aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku diam saja bahkan menikmati perlakuannya, sampai tangan andy mulai menjelajah turun ke vagina ku, aku merasa celana dalamku sangat basah, andy lalu mulai membuka pakaianku, entah bagaimana aku diam saja, hingga aku sekarang hanya memakai celana dalam dan BH, lalu aku di tarik masuk ke kamarnya dan aku ditidurkan di tempat tidurnya yang besar.

Di sini andy mulai menciumi bibirku, terasa sangat hangat, tangan andy tidak berhenti memainkan payudara dan vaginaku, hingga aku merasa sangat terangsang sekali, lalu andy mulai membuka BH dan celana dalamku, dan mulai menciumi puting payudaraku, aku sudah pasrah dengan perlakuannya, dan sudah setengah sadar dengan apa yang dia lakukan, karena aku sudah sangat terangsang sekali, sampai ketika dia mulai menciumi vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali (suamiku belum pernah menciumi vaginaku), aku merasa ada sesuatu yang akan meledak dari dalam vaginaku, sampai ketika aku membuka mata, ternyata andy sedang membuka pakaian nya sampai dia telanjang bulat, ternyata andy mempunyai penis yang besar sekali, mungkin sekitar 18 – 20 cm, dengan bulu yang lebat, lalu andy mendekatkan penis di mulutku, sambil dia melanjutkan menciumi vaginaku.

Aku mengerti dengan keinginannya, karena aku baru melihat di web porno tadi, ada yang saling menciumi penis dan vagina dengan posisi cewek diatas mengulum penis, dan cowok dibawah menciumi vagina. Walaupun aku belum pernah melakukan hal tsb, tetapi karena aku sangat terangsang dan juga setengah sadar, aku masuk kan penis andy kedalam mulutku, terasa sangat susah karena penis andy besar sekali, tetapi aku berusaha meniru cara mengulum penis (seperti di web), dan ternyata andy mulai terangsang dengan kulumanku, aku merasakan penisnya mulai mengeras.

Sampai suatu saat andy melepaskan penisnya dan membalikkan posisinya hingga penisnya tepat berada didepan vaginaku dan andy mulai menekan penisnya kedalam vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali, yang belum pernah aku rasakan dengan suamiku, ketika andy mulai mengocok penisnya (mungkin karena penisnya sangat besar), setelah beberapa waktu andy mengajak untuk berganti posisi (aku belum pernah berhubungan sex dengan berganti posisi, biasanya dengan suamiku aku hanya berhubungan secara biasa saja), andy menyuruh aku tengkurap setengah merangkak, dan dia lalu memasukkan penisnya dari belakang, ternyata posisi ini sangat merangsang aku, hingga dari vaginaku terasa ada yang meledak.. (inikah orgasme..?)..

Setelah sekian waktu andy belum juga mengeluarkan sperma, andy lalu mencabut penisnya lagi dan menyuruhku untuk duduk dan dia memasukkan penisnya dari bawah, posisi ini kurang enak buat aku, karena terasa sakit diperut, ada yang terasa menyodok perutku, untung posisi ini tidak berlangsung lama, karena andy akan mengeluarkan sperma, andy lalu mencabut penisnya dan mengocok penisnya sendiri didepan mukaku, sampai ketika dia memuncratkan spermanya, aku tidak sempat mengelak, hingga spermanya muncrat mengenai mukaku, bahkan ada yang masuk ke mulutku, terasa asin, aku bingung sekali ketika andy memintaku untuk menyedot penisnya, aku agak jijik, tetapi aku pikir sudah kepalang basah, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya menyedot penis yang sedang mengeluarkan sperma, lalu aku akhirnya menyedot penisnya, terasa ada sesuatu yang kental masuk kedalam mulutku, rasanya asin, dan ternyata aku menyedotnya terlalu keras, hingga andy mendesis-desis… entah keenakan atau kesakitan.., sampai akhirnya penisnya mengecil…

Setelah aku membuang spermanya dari mulutku ke tissue, aku terlentang sambil beristirahat, ternyata andy langsung mulai menciumi vaginaku lagi, sampai aku merasa orgasme lagi… ternyata rasanya enak sekali bila vagina diciumi, setelah selesai kami berdua masuk kamar mandi untuk membersihkan sperma dimukaku dan mencuci vaginaku, andy juga mencuci penisnya. Ini adalah pertama kali aku berselingkuh dalam perkawinanku, aku merasa berdosa terhadap suamiku, tetapi bagaimanapun telah terjadi, dan aku tidak ingin suamiku mengetahui rahasiaku.


Gairah Tetanggaku

Tante Ida, suaminya perwira di satuan **** (edited) dan kami bertetangga. Kamar tidurku pas di sebelah dapur mereka (kami tinggal di komplek, di rumah dinas karena ayah saya itu pegawai sipil AD). Jadi hal yang biasa, bangunan tadinya terpisah di satu kompleks lama-lama dibangun dan tergabung. Dinding pemisah di depan kamarku itu pakai batu karawang dan ditutup dengan lembar seng. Di depan dapur Tante Ida itu mereka buat tempat cuci baju sebenarnya. Tapi si tante suka mandi di situ. Nah, aku sudah lepaskan ujung seng pemisah, jadi bisa mengintip. Buah dadanya besar. Pernah sekali kuintip terus, dia tahu dan cuma bilang, “Ayo kamu ngapain?” katanya. Hari Sabtu aku suka main ke rumahnya, anaknya masih kecil-kecil. Aku suka ke sana karena banyak majalah dan koran dari kantor si oom. Dan si oom lagi tugas belajar 1 tahun untuk naik pangkat ke Bandung. Di situ ada ibunya Tante Ida tinggal di situ juga, dia sudah janda; anaknya Tante Ida 2 orang, waktu itu umurnya 2 3 tahunan. Ia menikah setamat SMA waktu itu.

Kira-kira jam 09.00 malam aku masih asyik bongkar majalah-majalah tua dan si tante memanggil dari kamar. “To, tolong dong Tante agak pegel, pijetin ya!” Biasa kami memang suka saling tolong, kadang ibu saya minta dikerokin sama Tante Ida atau Tante Ida minta dibuatkan kue, begitu deh tetangga yang baik. Aku sih tidak curiga walaupun sering aku intip. Lagi pula anak-anaknya masih pada bangun nonton video di kamarnya. Biasa film kartun. Aku rada enggan karena masih asyik baca, sebenarnya. Pintu kamar tidak ditutup, si oma masih di dapur sedang beberes, jadi tidak ada suasana yang mendukung untuk ngeres-ngeres. Aku masuk ke kamar masih sambil menenteng majalah, aku pikir sambil mijati (paling punggungnya, aku pikir) aku mau baca. Soalnya si Oma itu pelit, majalahnya tidak boleh dibawa pulang.

Waktu di kamar aku lihat Tante Ida pakai daster batik (itu lho yang murahan di Pasar Senen, 5 ribu ya satunya). “To, ini leher Tante kok kencang dan badan rasanya pegel linu, mau flu kali ya,” katanya. Kemudian dia duduk menghadap TV di kamar di ranjang besar (ukurannya king, kalau tidak salah) dan katanya, “Pakai itu saja To, krim Viva.” Aku ambil dan duduk di belakangnya, karena dia di tengah aku jadinya duduk juga ke tengah ranjang dan Tante ada di antara kakiku, majalah aku buka di samping kanan, aku separuh hati mau pijat karena sedang baca artikel menarik. Bisa dibayangi ya suasananya, masih ribet, ada anak-anak, ada ibunya, suara TV kencang. Pokoknya aku sih tidak ada intensi apa-apa.

Tante Ida membuka daster resleting belakangnya, dan aku tuang lotion ke telapak dan mulai memijat lehernya, sambil baca majalah. Terasa lehernya memang hangat lebih dari normal. Aku pijat pelan-pelan dan si tante mendesah keenakan (aku memang pintar mijat kayaknya). Sudah agak lama si tante bilang, “Tolong ke punggung bawah dong? dan sletingnya turuni lagi saja biar gampang.” Aku tarik sleting dan dasternya tersibak jauh ke kanan dan kiri. Aku agak surprised karena tidak ada tali BH (mestinya waktu mijat leherku sudah tahu ya karena di atas bahu tidak ada tali, dasar tidak niat jadi tidak konsen).

Aku tuang lagi lotion dan kusaputkan di punggungnya, “Uhh dingin,” kata Tante Ida sambil membungkuk ke depan lebih jauh. Aku pijati bahunya dan dasternya agak merosot dan dari kaca meja hias di sebelah pojok kanan TV aku melihat bukit susunya mulai tersembul separuh lebih dan pikiranku tiba-tiba agak mendesir, mulai deh ngeres. Majalah sudah tidak aku lihat lagi, penis terasa mulai keras dan aku sengaja memijatnya agak kugoyang-goyang bahunya dengan harapan dasternya merosot lagi. Eh, karena agak pas, tidak mau turun lagi. Wah bagaimana nih, aku agak maju duduknya tapi belum merapatkan barisan ke badan Tante Ida. Aku lanjutkan memijat ke arah lengan atas dan sengaja kudorong dasternya lagi dan kali ini berhasil, debar jantungku tambah kencang dan mulutku mulai kering. Dasternya turun lagi dan pinggir pentil buah dadanya sudah kelihatan. Tapi waktu kudorong lagi malah tidak mau turun, aku kecewa dan si tante juga diam saja. Ya sudah aku nikmati seadanya di kaca itu. Lalu aku pijat terus ke arah punggung dan aku ada ide, aku ulur tanganku memijat dengan keempat jariku mendekati meraba pangkal buah dadanya, lama aku memijat dan aku berusaha semakin ke depan keempat jariku (bisa dibayangi tidak). Ya, lumayan aku dapat juga tepi-tepi buah dadanya. Si tante diam saja sambil nonton TV, aku juga tidak berani melanjutkan macam-macam (takut ditampar pula).

Aku pijat makin turun ke pinggang dan dasternya susah menghalangi, jadi aku pijat dari luar (padahal kalau sekarang aku pasti berani ngomong, “Tante ini dasternya dibuka saja ya..” dasar masih tolol waktu itu). Dari pinggang aku terus ke pantatnya dan ketika itu penisku sudah keras kencang. Tiba-tiba si tante bergeser, pegal barangkali duduk diam terus, dan agak mundur, aku tidak sempat menghindar dan pantatnya kena penisku. Aku pakai celana pendek training dari kain kaos waktu itu. Dia kaget dan di kaca aku lihat dia agak mesem tapi masih diam. Aku juga terpana dan merasa salah. Tapi ya aku juga tidak geser menghindari, jadi aku biarkan saja. Terus si tante ambil selimut besar dan menutupi kakinya dan pahanya. Kemudian dia menyender agak ke belakang dan bisiknya, “Pijetin paha Tante dong!” Nah aku mau tidak mau karena dari belakang jadinya mesti merapatkan badan. Aku ulurkan tangan ke depan ke paha atasnya, agak bingung dan ketika aku lihat di kaca dia senyum, sambil merem matanya, buah dadanya masih kelihatan sisi atasnya dan pungungnya terasa hangat di dadaku dan mukaku dekat lehernya yang jenjang. Aku tak sengaja bernafas di lehernya dan telinganya dan dia menggelinjang geli. Ya, aku juga jadi berani dan kuulurkan tangan ke depan memijat paha atas dari bawah selimut. Eh, si daster rupanya sudah disingkap ke atas dan aku terpegang paha Tante Ida tanpa daster lagi.

Lututku sudah lemas dan nafasku sudah tidak teratur mendesah di lehernya yang jenjang. Aku pijat pelan-pelan dan tiba-tiba aku merasa tangan Tante Ida menjamah ke belakang dan menyentuh penisku. Aku seperti kena lisrik dan sempat agak menjerit, eh si tante bilang, “Ssst.. diam. Apa sih ini keras bener?” tanyanya sambil nanar menatap aku di kaca. Dan tangannya meraba makin ke tengah penis dan tiba-tiba dia membuka kancing celana (kalian tahu kan celana kain kaos itu, kancing “cepret”-nya cuma dua dan aku memang tidak pakai celana dalam lagi). Dan Tante Ida menggenggam batang penisku. “To, raba terus pahaku di atasnya, aku juga masukkan tanganku, astaga! tidak ada celana dalamnya.” Dan aku teruskan jari-jariku (sudah jadi berani dan otakku sudah kacau tidak peduli ada anak-anak di lantai bawah di depan kami itu, dan suara si oma di dapur masih klontang klonteng orang berberes). Lebih kaget lagi aku tidak menemukan rambut apa-apa di pangkal paha atas Tante Ida itu. Padahal waktu aku intip tempo hari seingatku lebat sekali tuh.

Kuraba-raba terus dan di kaca kelihatan Tante Ida mukanya seperti orang bingung keenakan (padahal aku belum masukkan ke lubangnya, masih bego aku, karena ini pengalaman pertamaku, eh aku waktu itu masih di SMP kelas 3). Tante Ida agak mengangkangkan pahanya dan aku terus mengusap-usap dan menangkupkan telapakku di bukit gundul itu, tidak tahu mesti apa (uih guoblook tenan kalau kata Basuki). Hangatnya bukan main, sementara tangan si tante masih mengurut-urut lembut batang penisku, aku duduk agak maju lagi. Auhh, enaknya bukan main deh dipegang sama wanita itu. Badan Tante Ida harum juga karena lotion dan ada semerbak jasmine. Kulit Tante Ida itu hitam manis. Akhirnya dia menyender total dan tanganya di penis dan buah zakarku, ujung penisku sudah kuyup sama seminal fluid yang keluar. Aku sudah kepingin benar menangkupkan tangan di buah dadanya tapi susah karena pasti bisa kelihatan anak-anaknya. Tiba-tiba aku ingin kencing dan agak sakit rasanya, aku bingung dan akhirnya aku bilang tante bahwa aku ingin kencing. “Ohh.. ya sudah kamu ke kamar mandi Tante situ!” Aku bangun dan ke kamar mandi dan sambil menyesel-nyesel takut nanti si tante berubah pikiran. Aku kencing dan.. astaga! itu kepala penis sudah benar-benar basah, kalau tidak karena kehalang kencing sudah orgasme mungkin tadi itu. Setelah kencing aku bersihkan si kepala jamur yang sudah merah tua sekali warnanya.

Waktu aku balik, si tante sudah kemulan sama selimut sambil duduk, aku duduk lagi di pinggir ranjang dan Tante Ida bilang, “Ayo To, pijetin lagi, kamu duduk lonjorkan kakimu!” Wah aku jadi semangat lagi, penisku sudah agak layu setengah ereksi. Kancing “cepret” celana pendekku aku tidak kancing lagi. Begitu duduk aku rapatkan lagi barisan (he he..he seperti baris berbaris saja). Aku kaget karena ternyata dasternya tidak ada, pantas Tante Ida kemulan selimut. Dan dia tidak duduk tapi berlutut bersimpuh agak nungging ke depan. Dia membisikkan, “To, biar Tante duduk di atas pangkuanmu.” Aku melonjorkan kaki rapat dan si tante mengangkang lalu duduk berlutut pantatnya persis di atas penisku, aku benar-benar setengah masih merasa apa ini mimpi basah saja. “Kamu pengen pegang susu Tante kan, ayo kamu raba.” Dan di dalam selimut itu aku bebas, tanganku merajalela. Duh enaknya memerah susu kenyal, dan putingnya terasa kasar di telapak tanganku, seketika mengeras dan si tante begitu aku meremas gemetar dan bibirnya terlihat di kaca digigitnya. Aku meremas-remas seperti tukang roti mengaduk adonan roti. Tangan Tante Ida juga tidak diam, dia menggenggam penisku dan digosok-gosokkan di bibir vaginanya. Aku merasa luar biasa hangat itu bukitnya. Dan tanganku kedua-duanya aktif sekali. Jariku memilin pulir-pulir dan melintir putingnya, besarnya ada sebesar jari kelingking (anaknya doyan ASI kali ya). Ukuran buah dadanya berapa ya, ada 38C barangkali.

Tiba-tiba dia duduk di pangkuanku dan, “Bless..” masuk kepala jamurku, aku terkejut karena tidak menyangka akan begitu, aku pikir cuma mau dimasturbasi saja. Benar tidak siap mental aku kehilangan perjakaku dengan keadaan seperti ini, aku selalu membayangkan sebelumnya lain. Aku bayangkan dengan teman sebaya. Dan luar biasa namanya otot vagina itu bisa ya seperti nyedot begitu dan seperti dijepit dengan apa ya.. susah jelaskan. Kami beraksi tanpa bicara banyak, dan sambil takut si ibunya datang atau anak-anak itu kan bisa tiba-tiba lari ke ibunya. Dan Tante Ida turun pelan-pelan, aku merasa agak sakit waktu turun itu, kulit kepalaku ikut tertarik terus (aku tidak dikhitan). Dan akhirnya Tante Ida sudah duduk rapat di atas pangkuanku. Dan ia mulai berputar-putar hanya pinggangnya saja, dan nanar mataku menikmati itu. Jadi penisku di dalam terus, Tante Ida tidak maju-mundur, ia cuma berputar searah jarum jam atau ke depan belakang, aku terus meremas-remas adonan daging dadanya. Dasar aku masih belum bisa, baru kira kira 4 – 5 menit aku sudah merasa gelombang orgasmeku mulai meluap dan aku tidak bisa ngomong cuma remasan di buah dada Tante Ida. Tanpa sadar aku jadi meremas kencang sekali. Tante Ida tahu dan dipercepatnya dan perahan ototnya tambah kencang, ia juga rupanya (aku tahu belakangan) mau mencapai orgasmenya.

Ia duduk di penisku masuk dalam sekali dan terasa bibir vaginanya di buah zakarku, ia memutar hebat dan aku orgasme terhebat dalam sejarah hidupku sampai waktu itu. Supaya tidak menjerit aku tekan mulutku di punggung Tante Ida. Dia juga rupanya sampai dan terengah-engah. Tiba-tiba si Ita anaknya yang besar melihat ke kami dan katanya, “Mama kenapa?” Kami seketika membeku diam dan untung si Ika nonton terus karena pas film kartunnya lagi asyik. Pelan-pelan Tante Ida mencabut sambil mengencangkan cengkraman ototnya, rupanya supaya spermaku jangan tumpah kemana-mana. Dan dia bangun sambil membawa selimutnya terus ke kamar mandi. Aku cepat bersila dan kututup dengan majalah. Wah baru aku nutupi dan Tante Ida masuk kamar mandi, Bu Etty si oma masuk kamar dan bilang,
“Eh, anak-anak ayo tidur sudah hampir jam 10.00 malam nih. Eh ada nak Toto juga, mana Ida?”
“Oh.. itu..” gelagapku, “Lagi ke kamar mandi.”
Untung si oma tidak curiga dia kira aku ikut nonton barangkali ya.
“Ayo Oma mau bobo!”
Pas film kartunnya habis dan mereka bilang,
“Selamat malam Kak..”
Begitu mereka pergi aku ikutan masuk kamar mandi, dan si tante masih jongkok sedang mencuci vaginanya. Aku dekap dari belakang dan si tante berdiri dan kegelian karena penisku mentul-mentul menyentuh bukit pantatnya. Aku belum lihat benar bagaimana badan si tante dan aku agak mundur.

Seketika penisku tegang lagi karena yang kulihat sekarang nyata bukan dari tempat mengintip. Dan tangan si tante memegang lagi batang penisku sambil menyiramnya untuk mencuci yang tadi. Aku gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa untuk anak seumurku. Buah dada Tante Ida menantang dan tegar, kelihatan pori-porinya meremang karena udara agak dingin di kamar mandi. Dan itu bukit vaginanya gundul sekali dan agak merekah merah terbuka bekas tadi. Aku tak tahu mesti apa selain meraba buah dadanya lagi kali ini dari depan. Tante Ida menarik aku dan mencium bibirku, aku menurut saja dan badan kami merapat. Tangannya terus mengurut-urut batang penisku. Dan aku meraba pantatnya yang sintal kencang. Buah zakarku pun diremas-remasnya pelan-pelan. Kemudian Tante Ida menaikkan kakinya sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi penisku. Lincir sekali dan panas terasa di batangku. Kali ini Tante Ida bergoyang maju-mundur dan pantatku juga ditekannya mengikuti irama. Aku ikut saja menggoyangkan sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya.

Beberapa saat kami bergoyang sama-sama, tapi pahanya Tante Ida pegal rupanya dan dicopotnya penisku, kemudian ia berbalik dan nungging pegangan ke bak mandi. “To dari belakang To,” dan tangannya diulurnya dari tengah selangkangannya, ditariknya penisku dan pelan-pelan digosoknya ke bibir vaginanya. Aduh panas banget deh itu bibir, terus aku desak maju dan “Bless..” kepala jamurku masuk bergesek-gesek lincir dengan dinding lubangnya. Tante Ida juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari perut itu. Aduh luar biasa deh, aku nanar dan tidak bisa mikir lagi. Pantatku maju-mundur penisku menggaruk-garuk lubang. Dari posisi ini aku bisa lihat jelas batang penisku basah kuyup dan bibir vagina Tante Ida ketarik keluar-masuk. Tanganku mengulur ke depan meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar, nafas Tante Ida mendengus desah. Akhirnya aku meledak-ledak lagi dan Tante Ida terbantar dia rupanya sudah duluan orgasme. Setelah itu kami mandi di pancuran sama-sama dan saling meraba-raba berpelukan dan aku puas sekali memerah susunya. Buah dadanya juga buat aku bagus sekali, aku puas sekali meremas-remas itu. Luar biasa wanita ini.

Kemudian kami lanjutkan lagi di ranjang. Dan aku cuma bisa rebah di bawah dan Tante Ida yang naik di atas. Pantatku diganjal dengan bantal dan terasa penisku lebih terulur, si tante meremas penisku yang lemas dan pelan-pelan diciumnya kepala penis dan akhirnya dimasukkan ke mulut dan aku melenguh-lenguh geli dan agak linu karena sudah dua kali main. Tak lama penisku tegang lagi dan tante naik menunggangiku sekali lagi menghadapi aku. Buah dadanya bergayut bebas dan liar, aku meremas-remas sambil menikmati kenyotan vaginanya yang kencang sekali. Tante Ida ini benar-benar kuda betina binal sekali. Diputarnya pinggulnya dan terasa sekali dinding otot daging vaginanya meremas-remas batang penisku. Pelan-pelan orgasmeku mulai bergelombang akan keluar tiba-tiba, dicabutnya vaginannya, aku menjerit, “Aduhh Tante terusinn dongg..” Dia tertawa dan diputarnya badannya dan dipegangnya penisku yang sudah panas sekali. Sekarang tante membelakangiku, dibimbingnya penisku masuk, ia turun dan “Bless..” aku bisa melihat bibir vaginanya merekah dibelah penisku. Dan ia mulai lagi bergoyang seperti penari jaipong, luar biasa tak tergambarkan, enak.

Tak lama aku meledak, dan si tante mengandaskan penisku semua masuk dan ia masih membuat gerakan memutar dengan pinggulnya dan kakinya lurus, ditekannya habis dan tante pun meledak-ledak melenguh keras, “To.. enak sekali To..” Benar-benar wanita luar biasa. Dia bilang dia suka sekali hubungan kelamin. Tapi suaminya sering tugas ke luar kota dan seperti sekarang ini setahun penuh belajar di **** (edited). Malam itu jam 24.00 lebih baru aku dilepas sama Tante Ida. Aku masih berkali-kali lagi sama dia selama suaminya sekolah itu. Dan ketika aku kemudian sama Ita anaknya, Adeline keponakan Tante Ida juga aku sempat enjoy sama-sama waktu Tante Ida ke luar kota sama suaminya.

Aku masih berkali-kali lagi sama dia selama suaminya sekolah itu. Dan ketika aku besar kemudian Ita anaknya juga pernah ngelmu sama aku (gantian setelah aku ngelmu sama seniornya). Adeline keponakan Tante Ida juga aku sempat enjoy. Ada lagi Mbak Icih pembantu di rumahnya yang molek juga. Pengalaman-pengalaman di situ sangat berkesan dan mendidik aku tentang hal sex.

Besoknya tengah hari, aku ke rumahnya lagi karena pagi-pagi tadi aku terbangun sudah tegang sekali terbawa ke impian segala pengalaman pertama itu. Aku mengharapkan bisa main lagi karena biasanya anak-anaknya suka dibawa jalan-jalan sama ibunya Tante Ida kalau hari Minggu. Rupanya sudah pada pergi karena sepi sekali, wah asyik aku pikir dan nafasku terasa sudah terengah-engah membayangkan apa yang akan aku alami. Kok sepi sekali, tidak kedengaran suara, ah mungkin si tante tidur, aku pikir. Aku pelan-pelan ke kamarnya, tidak ada. Kemana ya? Di kamar mandi aku lihat juga tidak ada. Aku ke paviliun kamar Bu Etty ibunya Tante Ida mungkin lagi beres-beres di situ, pikirku. Tanpa mengetuk aku masuk dan dari balik pintu aku lihat ada bayangannya sedang membungkuk membelakangi di dekat ranjang, segera aku masuk dan kupeluk dari belakang sambil meremas-remas buah dadanya. “Aiihh..” jeritnya. Astaga! rupanya Bu Etty, bukan Tante Ida sedang setengah telanjang baru mandi.

Aku ternganga dan tidak bisa bicara dan Bu Etty lemas karena kaget terduduk di ranjangnya. “Duhh nak Toto kenapa ngagetin Ibu..” dan dia terduduk di ranjangnya, handuk yang sekedar menutup tubuhnya tidak cukup panjang sehingga bagian atas handuk turun ke perutnya buah dadanya menggandul lepas bebas. Aku tambah menganga melihat itu dan penisku di dalam celana pendekku tidak tahu diri, dia masih tegak saja seperti tiang bendera tujuh belasan. Kami terdiam dan Bu Etty tak berusaha menutup buah dadanya yang masih sintal. Memang ibu dan anak ini dikaruniai tubuh yang amat seksi. Bu Etty umurnya kurasa sudah berumur tapi badannya amat terpelihara, ya seperti itu loh ibu-ibu yang rajin minum jamu-jamuan. Buah dadanya sama seperti Tante Ida biar agak sedikit turun, dan dia lebih tinggi dari Tante Ida, jadi anggun sekali.

“Mau ngapain nyari Tante Ida?” tanyanya tanpa sungkan.
Aku tergagap-gagap.
“Eh.. oh itu mm nyari majalah..”
“Lho kok meluk-meluk dan meremes-remes tetek orang,” sergahnya.
Aku tambah pucat dan tidak sadar atau terpikir bahwa Bu Etty kok tidak berusaha menutupi payudaranya itu yang kontal-kantil di depanku.
“Itu anu.. anu.. aku.. sa.. sa.. saya tidak sengaja..” gagapku.
“Mana bisa tidak sengaja orang kamu sudah ngeremes-remes, sakit tahu..” bentaknya lagi, “Sini kamu!” sergahnya.
“Tanganmu lancang sekali ya, coba sini mana tanganmu! aku mesti laporin sama ayah kamu.”
Aku sudah tambah hijau biru pucat pasi dan keringat dinginku deras mengalir di punggungku. Penisku yang tadi sudah tegang jadi mengkerut kecil sekecil-kecilnya lembek di dalam celanaku seperti kura-kura kena gertak kepalanya, masuk deh ke dalam batoknya. Malah ingin ngompol rasanya.

Kuulurkan tangan yang gemetar dingin dan dipegang oleh Bu Etty.
“Ya sudah,” katanya.
“Ini ayo remas-remas lagi, kan kamu pengen,” sambil menaruh kedua telapak tanganku di atas buah dadanya.
Aku tambah takut dan bingung, tidak percaya, dan kutarik tanganku kembali begitu menyentuh buah dadanya seperti kena panci panas. Bu Etty malah jadi tertawa kecil. “Nak To, jangan cemas tidak ngegigit kok buah dadaku,” derainya sambil tersenyum sekarang. “Aku kemarin malem lihat kok kamu jam berapa pulang dari sini, dan ya aku ngerti kok si Ida itu sama saja memang nafsunya besar sekali. Seperti aku juga,” ujarnya. “Ibu juga seminggu mesti sedikitnya 4 kali main,” katanya tanpa malu-malu. Aku hanya bisa mengangguk-angguk tidak tahu mesti menjawab apa. Tahu dong kalian kalau habis begitu kan perut masih mual enek, terkaget-kaget, duh untung aku tidak ngompol di depan dia deh. Mana dia ngomongnya blak-blakan begitu seperti bukan orang Indonesia saja. Aku merasa pening sakit kepala.

“Duh nak Toto kaget ya,” sambil berdiri ia menarik aku dan dipeluknya kepalaku ke buah dadanya. Baru aku agak tenang, dan tiba-tiba terasa tangan Bu Etty turun ke pinggangku dan “Sret..” sekali tarik celana kaosku sudah ditariknya separuh turun. “Hi.. hi.. hi.. lihat nak, mengkerut kecil tuh si buyung. Kasian deh kamu, sini Ibu hiburin dia,” sambil ditariknya kepala penisku yang tidur, ia membungkuk dan seketika handuknya terlepas total jatuh di kakinya dan bebaslah tubuhnya yang jangkung itu dari segala hambatan. Beda dengan Tante Ida, Bu Etty kulitnya kuning, turunan Sunda sih. Tante Ida mungkin dapat kulitnya hitam begitu dari bapaknya yang turunan Ambon barangkali.

Ia berjongkok di depanku, ditaruhnya penisku di tapak tangannya dan disaputkan ciumannya di penisku sepanjang batangnya, disaputkan dengan halus batangnya, disaputkan dengan halus, ketika si “Joni” dikasih angin begitu langsung mulai memanjang deh. Tangannya meremas-remas lembut sekali di buah zakarku dan aku juga masih shock karena belum pernah tahu ada soal cium mencium alat vital. Dengan jelas kemarin sama Tante Ida cuma dia kenyot sebentar saja, duh bodoh benar deh kalau ingat itu.
Didorongnya aku ke tempat tidurnya dan mulutnya sekarang mulai merekah dan lidahnya terasa kasap keluar menjilat-jilat batang penisku. Tak terkira nikmatnya dan aku cuma bisa mengeluh lenguh, “Aahh.. ahh..” Kubaringkan badan di tempat tidur Bu Etty dan si ibu pelan-pelan sambil terus menghisap kepala penisku. Bu Etty kemudian berputar dan akhirnya vaginanya di atas mulutku. Terbelalak aku melihat rimba lebat dan mulai merekah lubangnya yang merah seperti kerang mentah itu. Aku cuma mencium bau nafsu yang keluar dari situ dan kelihatan mulai basah lubangnya. Tiba-tiba Bu Etty menurunkan pinggangnya dan seketika vaginanya hanya tinggal 1 cm dari mulutku. Aku angkat kepalaku dan mencium sedikit bibir vaginanya. “Ahh..” lenguh Bu Etty. “Terus terus To..” wah langsung kusergap dan kukenyot kencang-kencang dan lidahku beputar-putar menjilat-jilat lubang dan tepian bibir vaginanya. Tidak mengerti sih mesti diapain.

Dan Bu Etty melepas penisku dan ia duduk di atas bibirku sambil menggosokkan berputar di atas mulutku, wah aku hampir tidak bisa bernafas. Paha atasnya terasa mengepit kepalaku dan terasa cairan dari lubangnya tambah banyak. “Ayo To, lidahnya jilatkan ke atas ke bawah sepanjang bibir vagina Ibu,” jelasnya. Wah tambah deh ilmuku. Kelak ilmuku ini ternyata digemari sekali oleh wanita-wanita yang pernah kutiduri, ya ini dapatnya waktu sama Bu Etty ini. Eh, ngomong-ngomong hati-hati ya kalau oral karena salah satu sumber penyebaran AIDS juga dari cara ini (hayo mau kamu kondomin gimana tuh).

Tiba-tiba kurasa tekanan pinggangnya tambah kencang kandas memepetkan vaginanya ke bibirku dan ia menjerit-jerit kecil, “Ahh.. ahh.. enakk.. hebat kamu To.. Ibu enakk sekalii..” rupanya ia orgasme dengan hebat sekali. “Hah.. hah.. hahh.. uhh..” ia terengah-engah dan bibir vaginanya menempel dan ia terbadai terduduk. Vaginanya masih menempel di mulutku dengan rapatnya. Kutelan cairan-cairan yang mengalir menetes dari dalam liangya. Dan kudorong sedikit pantatnya itu sambil lidahku menjilat di sekitar sisi luar bibir vaginanya terus ke arah pantatnya, aku jilat-jilat pelan. Terasa kasarnya lidahku membuat ia bergelinjang geli. “Ahh.. ahh.. Toto kamu kok.. pin.. ter.. sekalii..” Dan penisku sudah tegang keras bukan main yang tadi tersia-sia, disergapnya lagi dan dimasukkannya lagi ke dalam mulutnya dan disedotnya dengan kuat. Lidahnya melilit-lilit di sekitar kepala penis mengikuti lekak lekuk dan nikmatnya tak terbayangkan, sulit kuceritakan di sini. Aku mengejangkan kakiku dan pantatku sampai terangkat-angkat dari kasur sehingga penisku tambah panjang terisap-isap Bu Etty. Bu Etty mengambil bantal dan disedakkannya di bawah pantatku sehingga terasa sekali penisku seperti terdorong ke atas tambah panjang.

Bu Etty terus mengenyot dan kepalanya ikut maju-mundur sambil kedua tangannya meraba-raba zakarku. Sekali-kali dirabanya sekitar antara pantatku dan zakar. Kukunya yang panjang menggaruk-garuk halus dan gelinya bukan main, menambah nafsuku. Sampai merinding semua kulitku. Aku terengah-engah sudah tak sadar bagaimana tingkah kelakuanku. Bu Etty masih tetap nungging di atas kepalaku dan pemandangan vaginanya menambah nikmat. Kutarik lagi pantatnya dan kulumat-lumat dengan mulutku lagi. “Auhh aihh..” terdengar suara Bu Etty terhalang penisku dan seketika kulitnya meremang merinding karena geli dan nafsu.

Aku tiba-tiba merasa spermaku mulai bergelombang mau keluar, kulepas ciuman di vagina Bu Etty dan aku berderau parau, “Ahh.. Buu.. terus.. terus..” Tapi tiba-tiba Bu Etty melepaskan mulutnya dan dicekiknya batang penisku sampai sakit sekali dengan kukunya, “Aauu.. aduhh aduhh..” jeritku kesakitan. Aku terkejut sekali dan kecewa karena gelombang nikmatnya jadi hilang lenyap, terasa aku frustasi dan mau meledak marah rasanya. Bu Etty sambil bangkit duduk di sisiku sambil tertawa dan katanya, “Sudah ya nak Toto.. pakai bajunya gih..” Mulutku selebar Goa Gajah ternganga bingung. Sadis amat ini orang, kok begini Bu Etty, pikirku. Maksudnya apa?

Mataku merah dan rasanya berkunang-kunang, pusing rasanya kepalaku dan aku tidak tahu mesti ngapain. Nafsuku masih menggebu-gebu, nafasku terasa menderu. Akhirnya aku gelap mata dan kutubruk Bu Etty sampai terjatuh di atas ranjang dan kubuka pahanya dengan paksa. Terasa ia mencoba menutup pahanya melawan dan kucegah dengan kedua pahaku. Tangannya kutekan ke kiri dan kanan di atas keranjang dan ia meronta-ronta. Kutabrakkan penisku ke lubangnya, waduh susahnya, karena ia menggelinjang-gelinjang. Mulutku mengecup dan mengisap putingnya. Aduh gimana nih aku sudah nafsu sekali tapi penisku tidak masuk-masuk. Tiba-tiba kucoba gigit sedikit putingnya dan “Kres..” kucengkeramkan gigiku. “Auu..” jeritnya dan pinggangnya terdiam, langsung aku manfaatkan dan kepala penisku kudesakkan masuk ke lubangnya yang basah. Dan aku genjot kandas batang penisku sedalam-dalamnya biar Bu Etty tidak berontak-berontak lagi, takut lepas.

Ia masih mencoba meronta-ronta dan nikmatnya hentakan ronta-rontaan itu ke vaginanya di batangku. Kupaku dengan penisku dan aku tindih dengan badan juga, buah dadanya yang sintal lepas tertekan dadaku dan tanganku masih mencengkeram kedua tangan Bu Etty. Setelah dia agak diam, aku goyang hanya berputar-putar tanpa mencabut batangku lagi kencang-kencang, habis takut dia berontak lagi. Terasa buah zakarku gondal gandul bergesek-gesek menghantam menekan sisi bibir vaginanya yang tebal dan bulunya menggesek-gesek buah zakarku, geli sekali dan meledak-ledak spermaku dalam 2 menit di situ. Aku lupa diri, luar biasa nikmatnya karena tadi tidak jadi keluar waktu di “karaoke” sama Bu Etty dan badan kami kejang-kejang. Tiba-tiba Bu Etty membalik dan ia sudah di atas dan ia menggoyang-goyang pinggulnya dengan putaran kuat. Mataku terbeliak-beliak nikmat. Buah dadanya bergoyang-goyang liar dan kutangkap dengan kedua tanganku dan kuperah. Bu Etty juga mendesah-desah keras, akhirnya orgasme lagi, akhirnya terhempas ia ke atas tubuhku yang penuh keringat.

“Nak Toto enak ya,” katanya sambil tersenyum.
“Tadi kusengaja itu karena dengan gitu nikmatnya lebih tinggi lagi.”
“Duh Ibu pintar sekali sih, belajar dimana sih?
“Lho kan Ibu turunan orang Sunda juga nak Toto, kalau itu memang bakat alam soal ginian, makanya pada pinter kalau jaipong.”
“Oh itu tadi gerak jaipong ya Bu..”
“Iya dong..” katanya sambil mencubit pelan di buah zakarku yang sudah mengkerut keriput.

Penisku masih setengah berdiri dan kepalanya merah tua basah (with an apology to our Sundanese reader or is it a compliment? No offence meant ladies buddy, that was my best experience ever.. viva Sundanese). Kami lalu mandi bebersih bersama-sama saling menyabuni. Kemudian ya jadinya main juga sekali di kamar mandi sambil berdiri. Aku bereksperimen diajarkan sama si ibu, memasukkan penisku dari belakang. Bu Etty membungkuk dan goyang jaipongnya hanya di kepala penisku tanpa memasukkan seluruh batang. Beda kemarin sama Tante Ida, kami pakai gaya klasik maju-mundur penisku biar sambil Tante Ida nungging juga.

Kemudian aku diajarkan menjilati klitorisnya tanpa menyentuh bibir vaginanya, kakinya yang satu ditumpangkannya di tepi bak mandi sehingga terkuak bebas vaginanya di depan mukaku. Kulilitkan ujung lidahku di kepala klitorisnya dan ia menggelinjang, buah dadanya terpontal pantil menahan geli. Tanganku segera meraba ke atas dan berusaha kuperas-peras kedua buah dada itu. Tapi karena aku di bawah hanya dapat sedikit. Akhirnya Bu Etty agak membungkuk dan buah dadanya bergantung bebas. Gemas sekali aku dan kami bermain-main di dalam kamar mandi sampai hampir 1 jam.

Rupanya hari itu Tante Ida sekalian mau belanja, jadi ia pergi sama anak-anaknya, makanya Bu Etty yang di rumah. Sambil istirahat kami membuat minuman hangat dari termos di kamarnya dan duduk di ranjang di kamar Bu Etty. Kami tetap telanjang bulat.
“Bu, jadi tahu ya tadi malam aku main sama Tante Ida.”
“Iya dong nak, kan Ibu sudah pengalaman dan lumrah kok seperti Ibu bilang tadi kami memang wanita yang nafsunya kuat sekali.”
“Lalu, kata ibu tadi seminggu sedikitnya 4 kali, sama siapa biasanya Bu?” tanyaku sambil membaringkan badan memegang memilin-milin puting susunya.
“Oh.. Ibu sama teman-teman bertiga, ada semacam klub kecil,” katanya sambil tertawa renyah sambil ekspresi mukanya menahan geli dari pilinan jariku.
“Biasa kami nyari anak SMA, mahasiswa atau anak-anak muda dan kami bawa ke villa teman Ibu atau ke hotel juga.”
“Ibu makanya awet muda ya, itu kami selalu nyari perjaka-perjaka untuk diperawanin,” cekikiknya manja.
Tangannya juga iseng meraba-raba pantatku dan dari bawah pahaku ke belakang dijamahnya lagi buah zakarku.

“Ibu paling demen sama anak seumur kamu deh, nafsunya besar dan cepet sekali pulihnya, bentar-bentar sudah ngaceng lagi..” ujarnya.
Sambil terus meremas-remas buah zakarku dan batang penisku yang sudah mulai berdiri lagi. Didorongnya badanku sehingga aku rebah dan Bu Etty naik ke atas mengangkangkan pahanya dan ia berjongkok di atas penisku yang separuh tegang. “Diam ya nak To..” Pelan-pelan dipegangnya daging sosisku dan disaputkannya kepala penisku di tepi-tepi bibir vaginanya yang ada rambutnya. Aduh, nikmat sekali dan pelan diarahkannya ke lubang nikmat itu dan “Bless..” mulai masuk lagi, nikmat luar biasa walau penisku terasa agak perih digeber dua hari ini. Belum tegang penuh tapi vagina Bu Etty seperti bisa menarik masuk dan tekanan pinggulnya sedemikian rupa.

“Aku suka sekali di atas,” kata Bu Etty, “Karena bisa ngontrol gerakan dan garukan batang penis ke klitorisku,” katanya. “Sekarang diam, nak Toto rasakan merem deh.. merem..” Aku merem dan senut-senut terasa sekali dinding lubangnya berdenyut-denyut kencang. Bu Etty tidak ngapa-ngapain, hanya merem juga waktu kuintip. Aku merem lagi dan kuulurkan tanganku ke buah dadanya yang montok sekali itu. Duh.. seperti memegang melon. “Remes To.. remes!” keluhnya manja sekali dan penuh nafsu. Suaranya berdesah-desah, “Ahh.. ahh.. enakk.. putingnya To.. putingnya ibu atuh.. uhh..” Pinggulnya mulai berputar pelan-pelan sekali gaya penari jaipong dan kadang sambil jongkok ia menaik-turunkan pinggulnya. Hebatnya sedotan dari dalam vaginanya itu lho. Aku rasa kalau vacuum cleaner-nya rusak bisa tuh dipakai menyedot debu.

Buat aku ya enaknya buah dadanya tersaji di depan mataku dan tinggal ulurkan tangan saja. Aku meremas-remas buah melon yang kenyal itu.
“Bu, aku diajak ke tempat teman-teman Ibu dong..” ujarku tiba-tiba.
“Ha ha.. ha.. entar kamu apa kuat ngelayani kami-kami To?”
“Coba deh Bu..” bisikku sambil terus meremas buah dadanya.
“Gini deh, lain kali aku ajak kamu tapi aku tidak bilangin mereka kamu sudah pernah main ya.. biar lebih seru.. Kemarin sama nak Ida gimana enak?”
“Enak juga Bu, tapi kayaknya Ibu Etty lebih jago ya..” pujiku sambil mataku terbelalak-belalak karena genjotan pinggul Bu Etty tambah seru saja.

Keringatnya menetes-netes ke dadaku dan bau harum badannya tambah kuat karena hawa panas badannya. Harum sekali si ibu ini, pikirku sambil menikmati hentakan pinggulnya yang tambah cepat. Dan tiba-tiba Bu Etty kandas dan vaginanya merapat lagi dengan buah zakarku. Sekarang ia berputar-putar tanpa naik-turun. Terasa ujung penisku di dalam itu seperti diperas dengan kuat sekali dan.. “Srot.. srot..” aku meledak ledak tak terkendali lagi. Letih betul rasanya dan kami tertidur setelah itu.

Sorenya menjelang magrib aku terbangun dan Bu Etty masih telanjang bulat. Aku pelan-pelan bangun mau beranjak pulang mencari celanaku, tiba-tiba aku melihat ada orang di pintu mengintip dan ia tidak melihat aku di dekat kamar mandi. Rupanya Adelin keponakan Tante Ida yang kuliah di kota ini berkunjung. Aku kaget dan tidak tahu mesti apa. Wah kalau ketahuan tidak enak. Adelin cantik sekali anaknya dan seperti tantenya Ida dan Bu Etty, tubuhnya juga seksi sekali. Ah, untung dia melihat Bu Etty tidur dan dia pergi lagi. Sekarang bagaimana aku keluar nih. Pintu paviliun Bu Etty tidak pernah dibuka dan ada lemari di depannya. Ya sudah aku pakai baju kaos dan celanaku dulu deh. Pelan-pelan aku buka pintu kamar dan kuintip, wah si Adeline lagi sama Mbak Icih di dapur, aku mengendap-endap ke kamar tamu dan pura-pura duduk baca majalah.

“Lho ada kamu To,” ujar Adeline waktu masuk lagi dari dapur.
“Kamu ngapain? Aku nggak lihat kamu masuknya.”
“Aku mau baca majalah nih..” sahutku sekenanya.
“Ok, aku mau pergi dulu ya,” katanya sambil keluar.
“Tante Ida belum pulang ya?”
Adelin berputar dan ala mak pinggulnya seksi banget deh dan aku karena sudah ngeres melulu 2 hari ini langsung merasa desiran di penisku. Adeline pergi dan aku sendirian di ruang tamu menjelang petang dan aku jadi naik ke otak lagi.

Aku bangkit dan ngintip ke kamar Bu Etty. Wah masih tidur nyenyak habis di servis enak sih. Tiba-tiba ia bergulir miring membelakangi pintu dan aku, selimutnya tersingkap, wah pantatnya terlihat dan dari belakang bulu-bulu serta kemaluannya jadi kelihatan sudah deh si “Ujang” langsung bangun dan aku jadi bingung. Mestinya Tante Ida sebentar lagi pulang dan kalau aku main lagi takut ketahuan deh. Bu Etty bergeser lagi dan telungkup, kakinya terbuka dan aku bisa lihat jelas vaginanya. Lututku lemas dan nafasku menderu. Aku tidak kuat lagi, biarin ketahuan-ketahuan deh. Aku masuk dan kukunci pintu perlahan. Kubuka celana pendekku dan aku dekati pelan-pelan dari belakang. Kuendus-endus dulu sekitar vaginanya, wah ternyata masih basah, dan karena Bu Etty mengangkang sambil terlungkup aku bisa lihat jelas dalam cahaya senja yang masuk pas di garis pantatnya yang sintal dan besar itu. Aku berlutut dan pelan-pelan kudekatkan penisku. Pelan kuletakkan di mulut bibir vaginanya dan aku diam. Hmm, tidak bereaksi, kudorong pelan sekali mendesak bibir tebal itu. Masuk sedikit lagi, duh enaknya karena terasa hangat. Aku diam lagi menikmati dan kugerakkan sedikit halus sekali. Tiba-tiba Bu Etty bergerak lagi menggeser pantatnya dan “Bles..” malah masuk lagi, sekarang kepala penisku.. eh masih tidak bangun juga. Dengan halus sekali aku dorong lagi sedikit sekali, terasa berdenyut-denyut dinding vaginanya dan seperti “nggremet-grement”.

Duhh.. enak banget. Aku maju lagi. Tanganku bertelekan di ranjang tanpa kena tubuh Bu Etty, sudah rada pegel sih, tapi nafsuku sudah menderu-deru dan aku sudah tidak peduli apa-apa lagi habis enak sekali. Maju lagi sudah 3/4 batang masuk dan terasa ada aliran cairan ikut dari dalam. Tiba-tiba pintu terbuka dan Mbak Icih masuk dengan setumpuk pakaian baru disetrika. Dia tidak tahu rupanya karena kamarnya gelap bahwa ada orang di dalam. Aku panik dan sudah tidak bisa narik diri lagi. Mbak Icih menyalakan lampu dan dia terpana melihat kami. Dia lihat Bu Etty tidur, ya aku hanya bisa pucat dan diam karena kalau dicabut pasti bangun Bu Etty. Akhirnya aku hanya bisa meletakkan jariku di bibir bilang supaya Mbak Icih diam. Penisku langsung lemas dan Mbak Icih langsung keluar, untung dia tidak menjerit. Aku jadi hilang nafsu dan kutarik pelan-pelan batang yang sudah lembek itu dan aku cepetan pakai celana lagi.

Keluar dari kamar kulihat Mbak Icih terdiam di dekat dapur. Aku mau mendekat ke sana, tiba-tiba pintu depan terbuka dan Tante Ida pulang. Dalam hati aku bersyukur juga, kan tidak enak kalau pas lagi “ngegenjot” tadi. Rupanya waktu kukunci tidak benar masuknya karena pintunya belum tutup betul. Dasar kalau sudah nafsu begitu sudah tidak jalan otak dan rasa.

Aku panik dan Tante Ida melihat aku, hampir saja tidak terdengar.
“To cari majalah lagi?” tanyanya.
“Apa, apa.. Tante? Oh ya..”
“Kamu kenapa To, mana Ibu?” katanya sambil masuk ke dalam dan pantatnya disenggolkannya ke pantatku.
“Oh itu Ibu Etty tidur sore..” ujarku.
Aku masih bingung bagaimana dengan Mbak Icih. Tante Ida langsung ke dapur dan kudengar ia meminta Mbak Icih memanaskan makanan-makanan yang dibawanya. Hmm aman sedikit, kupikir dia sibuk.
“To, mau makan di sini?” tanya Tante Ida.
“Tidak deh.. aku disuruh jaga rumah kok Tante (he he..he jaga rumah malah setengah hari di rumah tetangga). Ayah dan ibu semua pada pergi ke Bogor pulangnya besok pagi-pagi.”
“Wah kamu sendiri ya,” kata Tante Ida sambil mengedipkan mata.
“I.. iya.. ya.. (wah tadi aku kunci rumah tidak ya)” jawabku sekenanya.
“Ya sudah, kamu mau pulang?”
“Iya iya..”
Aku masih bingung, sudah tidak tahu mesti apa tentang Mbak Icih.
“Nanti Tante ke sana deh lihat kamu,” katanya lagi sambil tersenyum berarti.
Aku lantaran bingung hanya bilang iya tanpa ekspresi.
“Kamu baik-baik saja To?” tanyanya lagi.
“Iya Tante.. pulang dulu ya.. itu majalah saya sudah rapikan lagi.”
Dan aku pulang sambil berdebar-debar apa yang akan terjadi nanti.

Pulang aku mandi, berusaha menenangkan diri. Dalam hati aku menyesel kenapa mengikuti nafsu saja, jadi kacau semua akhirnya, pikirku. Tapi ya sudah kupikir semua sudah terjadi, bagaimana nanti deh. Aku belum makan tapi sudah tidak kepinginan. Selesai mandi aku bereskan buku untuk besok, berusaha mengalihkan pikiran.

“Tok tok tok..” ada yang mengetuk pintu samping. Kemudian aku ke situ, Tante Ida pikirku. Waktu itu aku tidak jadi senang mikir sebenarnya karena aku sendirian bisa main lagi sama Tante Ida di rumahku. Kubuka pintu, ternyata Mbak Icih membawa nampan dan katanya, “Mas To, ini dari Tante Ida, beliau ada tamu luar kota mesti ditemenin ke stasiun jemput saudara, katanya gitu dan ini disuruh makan dan Mbak disuruh nemenin Mas To sampai selesai makan. Bu Etty dan anak-anak juga ikut semua.” Aku bengong dan kupandang Mbak Icih biasa-biasa saja. Aku ambil nampan dan kukatakan,
“Tidak usah ditemenin deh Mbak, aku bisa.”
“Ah jangan Mas To entar saya dimarahin, lagian di rumah tidak ada orang, saya rada takut sendirian.”
“Lho sudah dikunci belum rumahnya,” tanyaku.
“Sudah Mas.”
“Iya sudah masuk deh Mbak!”

Aku makan dan Mbak Icih duduk di dingklik nonton TV, biasa sinetron “blo’on” Indonesia. Tiba-tiba Mbak Icih cekikan pelan, aku lihat di TV pas ada iklan, Srimulat rupanya. Aku masih mikir soal ketangkap tadi. Akhirnya aku ngomong to the point.
“Mbak Icih jangan cerita siapa-siapa ya soal tadi di kamar Bu Etty.”
“Oh itu tidak apa-apa kok Mas To, di rumah situ mah bebas saja. Hanya saya ya kaget saja karena tadi saya kira tidak ada orang.”
“Maksud Mbak gimana, bingung aku.”
“Oh gini loh Mas To. Kalau laki perempuan kan lumrah suka gituan.”
Aku jadi tambah bengong saja, ini orang ngomong apa sih.
“Mbak Icih kan sudah pernah kawin..” lanjutnya sambil senyum-senyum.
Dan di dingklik itu ia duduk sambil cerita sedikit sembarangan, sehingga sarungnya tersingkap di tengah. Aku menangkap pemandangan itu kelihatan betisnya, eh.. ini orang mulus juga. Biasanya orang dari desa suka kurang terawat, aku sekarang jadi melihat secara sadar, wah ini orang boleh juga.

Aku tidak jelas umurnya berapa, tapi orangnya rapi dan feminin. Buah dadanya kulihat naik-turun di balik kaos lusuh pemberian majikannya, barangkali kira-kira separuh Bu Etty dan Tante Ida deh. Si “Ujang” di balik celanaku terasa mulai bergerak-gerak lagi. Waktu itu sudah jam 07.00-an rasanya. Selesai makan aku sikat gigi di kamar mandi dan kudengar Mbak Icih beres-beres dan cuci piring. Keluar dari situ, kulihat Mbak Icih masih nyuci dan kupandang dari belakang. Mak.. pantatnya molek di balik ketatnya sarungnya itu tampak jelas. Aku berdiri di sampingnya dan kami saling memandang dan seperti ada kontak hati saja. Suasananya terasa seperti ada listriknya antara kami, dan aku ulurkan tanganku meraba pantatnya dan naik ke pinggangnya. Kupeluk dari belakang dan kumasukkan tanganku ke depan di bawah kaosnya, terasa BH-nya yang kasar menutup buah dadanya. Aku remas-remas dari luar BH-nya, dan terasa pantat Mbak Icih mundur merapat ke penisku bergeser-geser. Kucium kuduknya dan ia menggelinjang.

“Entar dulu Mas To, piringnya pecah entar,” ujarnya perlahan.
“Taruh saja dulu,” jawabku.

Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak tanganku, kedua puting susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak Icih lemas dan bersandar ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang keras dan menusuk dari dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan tanganku dan kulepaskan sarungnya dan jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal celana dalamnya dari kain bekas terigu itu. Tangan kananku masuk dan telapak tanganku menangkup di atas vaginanya, tangan kiriku masih meremas-remas buah dadanya. Celana dalamnya longgar dan kudorong ke bawah sampai ke lututnya dan kutarik dengan jari kakiku sampai turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak Icih juga diulur ke belakang dan mencengkeram batang yang membara sambil ia mendesah kegelian. Kulihat lengan atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya dia. Aku turunkan celanaku dan kemudian kuangkat pahanya sebelah dan kubisikkan, “Mbak taruh di atas pinggir bak itu..”

Jadi sekarang vaginanya pas terbuka di depan penisku yang sudah mengacung ke atas.
“Ini cara apa Mas To,” keluhnya, “Masukin dong Mas masukin!” Aku hanya maju-mundur mengarukkan penisku di sekitar pantatnya dan lubang vaginanya. Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih berusaha menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah kencang desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya dari depan sambil berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. “Mass.. Mass.. Ayo dong.. masukin..!” keluhnya. Aku tarik BH-nya ke atas dan mulai kuraba dengan telapak tanganku kedua puting susunya yang segera saja mengeras sensitif sekali. Mbak Icih lemas dan bersandar ke aku dan ke tempat cuci piring. Penisku sudah tegang dengan keras dan menusuk dari dalam celanaku ke pantatnya. Kuturunkan tanganku dan kulepaskan sarungnya dan jatuhlah sarungnya ke kakinya tinggal celana dalamnya dari kain bekas terigu itu. Tangan kananku masuk dan telapak tanganku menangkup di atas vaginanya tangan kiriku masih meremas-remas buah dadanya. Celana dalamnya longgar dan kudorong ke bawah sampai ke lututnya dan kutarik dengan jari kakiku sampai turun ke pergelangan kakinya. Tangan Mbak Icih juga diulur ke belakang dan mencengkeram batang yang membara sambil ia mendesah kegelian, kulihat lengan atasnya merinding-rinding, keenakan rupanya dia. Aku turunkan celana dalamku dan kemudian kuangkat pahanya sebelah dan kubisikkan, “Mbak taruh di atas pinggir bak itu.” Jadi sekarang vaginanya pas terbuka di depan penisku yang sudah ngacung ke atas.

“Ini cara apa Mas To,” keluhnya, “Masukin dong Mas, masukin!” Aku hanya maju-mundur menggarukkan penisku di sekitar pantatnya dan nyundul-nyundul lubang vaginanya. Tanganku masih aktif meremas-remas terus buah dadanya. Mbak Icih berusaha menggapai batangku tapi aku menghindar dan Mbak Icih tambah kencang desahnya karena jariku sekarang memilin-milin bibir vaginanya di depan sambil berusaha mencari klitoris yang tadi diajari Bu Etty. “Mass.. Mass.. Ayo dong.. masukin..” Keluhnya mendesah-desah basah suaranya, menambah seru dan panas. Aku lepas t-shirt-ku dan kaos Mbak Icih, BH hitamnya yang sudah tersingkap kurengut dan telanjang bulatlah kami.

Aku terus sengaja hanya menciumi dan menggigiti telinganya, dan tiap kali merinding bulu tengkuknya, kelihatan pori-pori lengannya meremang dan ia menggelinjang geli. Penisku tergosok-gosok celah di antara bukit pantatnya tiap ia menggelinjang. Kupeluk terus dari belakang dan pahanya masih tetap di atas bak yang sebelah. Penis kugaruk-garukkan ke tepian lubangnya dan banjir cairan kental dari lubangnya tambah banyak, berkilap-kilap mengalir di sepanjang paha yang satu. Ia mencoba lagi menggapai penisku tapi aku mundur dan tetap kupelintir klitorisnya dan kugosok-gosok lembar dalam bibir vaginanya dengan ujung kuku. Mbak Icih tambah panik dan keluhannya seperti orang yang sudah mau menangis kepingin sekali. “Ahh Mas To, ayo dong masukinn Mass.. Mbak tidak kuat lagii..” kepalanya digoyang-goyangnya ke kanan ke kiri (katanya, orang ekstasi juga gitu ya).

P.S: Aku memang lagi iseng ingin eksperimen setelah dicakar, dicekik kepala penisku sama Bu Etty pertama kali, pas aku mau muncrat itu.. memang loh bener lebih enak, gayanya kalau tidak langsung digebrusin muncrat, dan kalau high dengan narkoba gitu ya. Amit-amit, aku tidak pernah mencoba sekali juga (habis menurutku goblok tuh yang main narkoba dan obat batuk hitam, apa urusannya, ya aku yang ngetik).

“Iya..” Mbak Icih membisikkanku dekat sekali telinganya dan mengembus ke lubang, kugigit juga sedikit anak telinganya. Kumasukkan sedikit dari bawah penisku ke mulut lubang vaginanya dan kupegang batang panisku dan kuputar-putar di gerbang itu tanpa aku dorong masuk. Mbak Icih berusaha memasukkan lebih dalam tapi kutarik kalau dia agak turun. “Mass.. jangan disiksa dong.. tusukkin tusukkinn..” jeritnya agak keras. Aku kaget juga, gila ini Mbak. Nafsunya sudah tidak terkendali lagi. Ya sudah aku masukkan setengah dan kugoyang pinggulku dan ia juga segera naik-turun. Tangan kiriku meremas-remas buah dadanya dan sambil memulir-mulir puting susunya yang sudah keras seperti kerikil. Erangan Mbak Icih menambah erotisnya, dan busyet.. empotan vaginanya bukan main, beda sekali dengan Bu Etty atau Tante Ida, agak kering tapi tetap enak sekali. Kepala penisku terasa digenggam beludru dengan mapan sekali. Berkunang-kunang rasanya mataku, kugigit lagi sedikit pundaknya sambil kuciumi terus kuduknya. Tangan Mbak Icih menjulur ke belakang dan meremas-remas bukit pantatku, sementara tanganku satu lagi juga tidak menganggur memoles-moles, kupetik-petik biji klitorisnya yang tambah nongol keluar. Gila ada sebesar kacang Garuda yang belum dikupas. Terasa keluar dari lubang sisi atas vaginanya, keras-keras empuk. Mbak Icih tambah menggerung-gerung, “Ahh.. ahh.. Mas Mass..” dan tiba-tiba ia turunkan kakinya dari bak dan menarik pantatku dan masuklah amblas sedalam-dalamnya penisku. Pantatnya menempel rapat sekali. Terasa lincir karena keringat kami yang sambil berdiri mengalir. Bau badan Mbak Icih itu seperti bunga melati, sama dengan orang Cendana suka melati dia ini). Bersih, biar dia orang dari kampung tapi sepertinya mengerti kebersihan badan.

Kupeluk buah dadanya dalam tangkupan telapak tanganku dan ia membungkuk berpegangan ke bak dan pantatnya, pinggulnya berputar-putar, rasanya penisku diulek-ulek dan tiap kali ia berputar tambah cepat dan gelombang-gelombang sinyal kenikmatan mulai terbentuk seperti tsunami bergelora, “Aahk..” ia menjerit cukup kencang sampai aku sempat sekilas kaget berpikir, wah kalau kedengaran tetangga bisa gawat, tapi langsung hilang karena orgasmeku sudah menjelang. “Plok.. plek.. plekk..” bunyi tubuh kami beradu bercampur keringat dan cairan bau di sekitar situ sudah mesum sekali bau sex, edan. Meletuplah Mbak Icih dan erangan-erangannya terus menerus. Tiba-tiba cengkeraman vaginanya begitu kuat sampai aku menjerit karena agak sakit dan dikendorkannya sedikit. Aku pun tidak kuat lagi menahan, “Mbak Icihh..” kukandaskan dalam-dalam batang penisku dan zakarku rapat-rapat dengan bibir vaginanya, dan akhrinya kami saking lemasnya jatuh terduduk di depan bak cuci piring itu. Terengah-engah dan berpelukan telanjang bulat. Spermaku bertebaran di lantai dapur. “Mbak Mbak.. enak sekalii.. Mbak Icih hebat bangett..” Mukanya agak merengut dan aku sengaja tidak memberi tadi tubuhnya. “Mas To, aduh saya sudah beneran mau gila tadi rasanya.. untung masih inget kalau tidak saya sudah teriak kencang-kencang,” katanya sekarang sambil tertawa mengingat keadaan tadi.

“Tapi enak kan ya Mbak, capek tidak Mbak?”
“Nggak Mas To..” sergahnya dengan cepat.
“Sudah, entar tidur di sini saja deh Mbak Icih,” bujukku dengan penuh rencana.
“Entar saya kasih tahu Bu Etty atau Tante Ida kalau mereka pulang, aku bilang takut sendirian di sini.”
“Hi hi hi, mana mereka percaya Mas To.. mereka juga tahu lah..paling entar Bu Etty bilang biar dia yang temenin.. hi hi hi.. ” cekikan Mbak Icih menggodaku.
“Atau Mbak dan Bu Etty yang tidur di sini Mas To..”
Eh ini orang jahil pisan.
“Tapi pasti dikasih deh..” ujarnya lagi.
“Saya mandi dulu ya Mas To. Apa mau sama-sama mandi,” godanya lagi.
“Sudah deh Mas To, istirahat dulu kan sudah 2 hari ini capek,” lho kok dia tahu saja ya, padahal kemarin kan dia tidak lihat. Aku belum tahu dan tidak curiga lebih lanjut sampai beberapa waktu akhirnya aku mengerti, itu cerita lain lagi yang seru juga.

Aku manggut saja, memang remuk rasanya badanku terasa juga, dan dengan gontai aku masuk ke kamar dan aku juga mandi. Penisku kelihatan merah tua sekali kepalanya dan sekitar kulit di kepala penis kelihatan agak seperti lecet tapi aku tidak merasa sakit malah “baal”, kebanyakan kali ya. Hmm, kemarin pagi aku masih perjaka, luar biasa nasibku dalam 2 hari aku main dengan 3 cewek hebat-hebat. Sambil mandi aku melamun kenapa tidak dari dulu ya, tapi ya sudah memang jalannya gitu barangkali, batinku.

Setelah mandi aku baring-baring tetap telanjang, tidak ada siap siapa. Maksudnya menunggu Mbak Icih mandi dan Ibu Etty cs balik, kan aku mesti menelepon mereka. Eh, baru 3 menit aku ketiduran, bangun-bangun aku kaget sekali karena sudah tengah malam. Aku bangun dan kulihat Mbak Icih masih nonton TV, hanya pakai sarung dikembenin t-shirtnya entah kemana. Bahunya kuning bersih dan pinggang dan pinggulnya seksi sekali dilihat dari belakang.

“Mbak sudah makan?”
“Sudah Mas To, dan tadi Bu Etty ke sini, saya sudah kasih tahu juga, Mas To takut sendiri.”
“Apa kata Bu Etty?” tanyaku ingin tahu.
“Kata Ibu ya sudah temenin saja. Dan mereka katanya mau tidur juga capek.”
“Mas To mau makan lagi apa? Mbak gorengin nasi mau, mesti makan telor Mas, buat nambah tenaga,” katanya sambil senyum nakal.
Aku rasanya lesu dan lemas badanku.
“Tidak usah Mbak Icih, aku mau tidur lagi.. tapi Mbak Icih tidurnya ditempat saya ya.. kan ranjangnya besar sekali.”

“Ah malu Mas To..”
“Duh Mbak, apanya lagi yang malu, kan tidak ada siapa-siapa.”
“Iya deh Mas To, entar Mbak mau nonton dulu ini sinetron ya..”
Sialan sinetron jelek dia mau nonton, mana ada sih sinetron kita yang bagus, bukan sekalian bikin film biru munafik deh.

Besoknya pagi-pagi telepon membangunkan aku, “Kringg..”
“Ya hallo,” sambutku.
“Oh Toto ini Tante Ida, kamu lagi sibuk tidak? Bisa ke rumah Tante sekarang?”
Kontan saja mendengar suaranya si buyung mulai menggeliat. Dasar ngeres dan sudah ngerti.
“Tentu Tante, aku ke sana sekarang ya,” jawabku dengan gembira ria.

Setiba di rumahnya, Tante Ida sudah cantik berpakaian rapi mau pergi. Aku agak kecewa dan ia melihat itu.
“To, aku perlu pergi ke kantor Oom mau ngambil gaji. Dan sebentar lagi Ibu Etty pulang arisan dan dia lupa bawa kunci. Mbak Icih lagi nganter anak-anak ke pesta temen sekolah Ita. Kamu tidak keberatan kan jagain sebentar, paling seperempat jam lagi pulang kok Bu Etty,” ujarnya sambil memeluk pundakku.
Susunya nyengsol-nyengsol menyentuh lenganku. Uhh, sudah ingin remas saja deh, dan si buyung sudah separuh naik. Sialan hanya mau diminta menunggu rumah, batinku. Tadinya aku ingin tidur siang. Capai, habis krida hari ini.
Ya deh Tante Ida, tapi entar aku minta oleh-oleh ya,” kataku sambil meraba pantatnya dan seketika Tante Ida menggelinjang geli dan ia memeluk erat.
“Iya..” desahnya basah di daun telingaku.
“Aduh gelinyaa..”
Si “Ujang” langsung naik. Kumasukkan tanganku dari bawah blusnya dan kuremas-remas bagian bawah buah dadanya. Biar minta bonus sedikit, dan penisku kutempelkan di paha atas si tante biar dia tahu aku sudah siap. Tante Ida melenguh dan, “To, aku mesti pergi, entar telat, kasirnya tutup nih,” dan ditariknya tanganku lembut dan dengan terengah-engah ikut nafsu juga. “To, Tante usahakan pulang secepatnya deh, kamu sabar ya,” lenguhnya berusaha melepaskan remasanku.

Tapi sambil kepingin diteruskan juga sepertinya. Akhirnya lepas juga sambil terengah-engah dan parasnya merona merah Tante Ida keluar, jalannya agak terhuyung-huyung. Aku jamin celana dalamnya sudah basah lembab tuh. Tinggal aku sendirian. Ya sudah aku ambil majalah lagi dan aku baring-baring baca di kursi malas di kamar tamu. “Ahh..” aku meronta-ronta dan kok keras amat si buyung dan terasa disedot-sedot orang. Wah rupanya aku ketiduran dan mimpi, kupikir. Waktu kubuka mata aku terkejut melihat wajah tak kukenal, dan astaga aku sudah telanjang bulat. Tanganku terikat ke atas di kursi malas dan penisku sedang dilumat-lumat. Aku tak tahu siapa satu lagi wanita, aku hanya melihat kepalanya dan punggungnya telanjang. Kakiku, kakiku, walah terikat juga ke kiri dan kanan kursi malas. Aku masih setengah mengantuk dan bingung, sakit kepalaku rasanya terbangun tiba-tiba. Akhirnya aku sadar betul dan ketika kupalingkan muka ke kanan ada Bu Etty dan dan dia sudah bulat-bulat juga telanjang. “Bu.. saya diapakan ini,” kataku sambil nyengir keenakan. “Diam saja dah kamu,” kata Bu Etty tersenyum Ia bertolak pinggang dan duh buah dadanya menantang betul. Tapi tanganku tidak bisa mencapainya. Ini siapa Bu semuanya, saya mau diapakan sih?” Buah zakarku terasa geli sekali digaruk-garuk kuku wanita yang menyedoti penisku.

Aku menggelinjang geli, dan Bu Etty meraba puting susuku. “Ahh.. enakk..” dan tersiksa betul rasanya tanganku tidak bisa aktif, sudah ingin betul meremas susu Bu Etty yang gundal gandul di dekat bahuku. “Ini temen-temen Ibu, To. Bu Endah dan Bu Inggit. Kita tadi ngeliat kamu ketiduran dan ya seperti Ibu bilang ini temen-temen ibu itu lho,” katanya sambil menggeserkan buah dadanya di dadaku. Putingnya ditekannya ke putingku. Enak, empuk, hangat, dan seketika aku tambah bingung, lha tapi kenapa saya diikat. “Ya, kata Bu Etty kan kemarin itu kamu ngikat Mbak Icih. Ha ha.. ha.. nah kami tadi iseng pengen ngerjain kamu nih To.”

Hisapan Bu Endah terasa tambah menghebat, lidahnya berputar-putar di sekitar kepala penisku dan aku sudah tidak kuat lagi mau meledak. Dan kuangkat pantatku agar masuk lebih dalam. “Ehh..” Bu Endah malah berdiri dan melepaskan mulutnya. Wah tergantung aku. Dengan terengah-engah aku bilang, “Bu tolong dong Bu sedot lagii.. sudah mau muncrat nihh.. Buu..” Bu Endah, Bu Etty dan Bu Ingit tertawa ramai-ramai, dan aku belum sempat memperhatikan seksama buah dada mereka kontal kantil terguncang-guncang karena mereka tertawa melihat aku yang seperti cacing kepanasan. Mataku masih sepet dan berkunang-kunang dari ketiduran tadi. Bu Ingit kemudian mendekat dan mengangkang. Pantatnya mengarah ke mukaku dan ia mulai turun sambil memegang batang penisku, digosok-gosoknya ke mulut liang vaginanya dan aku mendesah lagi, karena enak sekali dan aku sudah siap meledakkan orgasmeku. Bu Endah menggosokkan buah dadanya ke mulutku yang langsung kontan saja aku sergap, dan putingnya kuhisap dan lidahku berputar-putar di kacang keras itu.

Bu Endah merem melek dan kulit buah dadanya yang bening kelihatan garis-garis hijau biru halus dan meremang pori-porinya. Bu Ingit masih hanya memasukkan separuh kepala penisku dan senut-senut kempotan bibir mulut vaginanya hangat dan enak sekali. Aku rasanya mau gila karena kenapa dia tidak memasukkan semuanya, aku berusaha menaikkan pantatku tapi Bu Ingit selalu menjaga jaraknya. Kurang ajar, dalam hatiku dan aku rasanya mau menjerit tapi mulutku disumpal buah dada kenyal. Kuku tajam jari Bu Etty terasa mulai menggaruk di sekitar duburku dan buah zakarku, menambah kebinalan di dalam otakku yang sudah tak bisa berpikir lagi. Aku hanya terengah-engah dalam siksaan ketiga ibu-ibu sexy sintal ini. Bisa dibayangkan, tidak semua mereka telanjang bulat (aku juga) dan aku tidak bisa semauku. Keningku terlihat kencang mengejang dan urat-urat dahiku keluar semua. Aku menggeram, “Ahh.. Ayo Buu.. aku pengen, tolong dong.. masukkin Bu..” Bu Endah menarik buah dadanya dan ia berlutut dan diturunkannya vaginanya ke mulutku, aku tak berdaya dan bau harum aku rasakan keluar dan hawa panas hangat dari vaginanya yang lembab.

Aku ulurkan keluar lidahku dan kujilat-jilat, Bu Endah melenguh, “Uuhh sedapnya,” dan pantatnya maju-mundur menggeruskan vaginanya di atas mulutku. Terus di gerus-geruskan bibir vaginanya ke mulutku dan terasa cairan-cairan dari dalam vaginanya meleleh masukk. Lidahku aktif menjilati lubangnya dan klitorisnya yang sebesar kacang ijo. Bu Etty sih sebesar kacang merah nongol. Bu Ingit sementara hanya berputar di atas kepala penisku. Telapak tangannya bertopang di atas pahaku dan sambil meraba-raba dengan halus. Gilaa.. pahaku digarisnya dengan kukunya yang panjang, “Alamakk.. gelii Bu..”

Bu Etty menungging dan merangkak ke dekat pantatku dan mulutnya mulai menjilat-jilat daerah yang digaruk-garuknya tadi, sekarang dijilatnya dengan lidahnya yang hangat, dan buah zakarku dikulum-kulum seperti lagi makan cupacup dan dijilatnya pelan-pelan seperti orang makan biji salak. Akhirnya aku tidak kuat lagi dan pantatku kunaikkan, kakiku mengejang. Bu Inggit terkejut dan cepat ia membenamkan penisku dalam-dalam dan diputir-putirnya pantatnya sampai kandas dan seketika letupan orgasmeku membanjir deras di dalam vagina Bu Inggit dan Bu Inggit sendiri menggarukkan klitorisnya di batangku dengan cepat dan pantatnya yang sintal berputar-putar, sebentar kemudian ia pun menahan jeritannya, “Ahh..” kemudian diangkatnya naik-turun, aku melihat bibir vaginanya keluar-masuk merekah belah oleh batang penisku yang basah mengkilap. Bulu kemaluannya basah kuyup dan bersatu. “Uukhh.. Ahh..”

Bu Inggit kemudian bangkit dan “Plop,” bunyi waktu penisku masih setengah tegang lepas dari genggaman erat vaginanya. Spermaku meleleh sepanjang pahanya yang putih. Bu Etty masih di bawah situ mengecup buah zakarku dan tertetes-tetes di pipinya beberapa gumpalan spermaku. Kami terengah-engah semua dan aku merasa nikmat yang luar biassa. Sepanjang beberapa jam itu aku gantian ditunggangi oleh Bu Endah kemudian terakhir Bu Etty, karena dia nyonya rumah jadi terakhir. Aku sendiri di servis demikian merasa sesuatu pengalaman yang lain dari yang lain. Belum pernah aku dimanjakan oleh 3 wanita sekaligus begitu. Malam itu aku ketiduran di antara ketiganya dalam keadaan telanjang bulat.


Aku Dan Pacar Pembantuku

Ini adalah pengalamanku yang terjadi baru-baru ini, seperti pernah aku ceritakan, namaku Dania dan akrab dipanggil Nia, usia 24 tahun,167/52, rambut hitam panjang, kulit putih, dan aku bekerja disebuah bank swasta sebagai sekretaris.

Di kotaku ini, aku tinggal sendiri di rumah yang dibelikan oleh ayahku, aku hanya ditemanin oleh seorang pembantu.. Namanya “Nina”, usianya sepantaran aku, belum menikah katanya. Pembantuku ini rajin.. setiap pagi dia sudah beres-beres rumah, menyiapkan sarapan buatku, dan sebelum pergi ke pasar selalu memberikan daftar belanjaan untuk aku setujui.

Hingga suatu hari.. Minggu lalu.. Pembantuku ini memberitahuku.. Bahwa Kakaknya akan mengunjunginya.. Dan minta ijin agar dapat menginap 2 hari di rumah, aku tidak keberatan.. Walaupun pembantuku ini baru 4 bulan bekerja di rumahku.. Tetapi aku percaya kepadanya.

Hari Jumat, sepulang dari kantor.. Nina memperkenalkan Kakaknya itu, namanya Ucup (nama samaran) usianya 30 tahunan (kira-kira), berkulit hitam, kurus, dan maaf wajahnya rada kucel menurutku, karena mengaku sebagai Kakaknya, aku pun mengijinkan mereka berdua tidur dalam satu kamar.

Hari Sabtu pagi, bangun tidur aku langsung mengenakan daster untuk menutupi tubuhku yang bugil, maklum.. Karena kalau tidur aku tidak pernah mengenakan apa-apa, setelah menikmati sarapan pagi, akupun duduk disofa sembari membaca koran, menurut perkiraanku.. Si Nina pasti sudah pergi ke pasar.. Mungkin saja ditemani oleh Kakaknya. Sembari membaca koran aku menselonjorkan kedua kakiku ke atas meja. Saat itu aku tidak merasakan ada hal yang aneh.. Tetapi setelah lama membaca koran.. Akupun merasa ada sesuatu yang aneh.. Akupun menurunkan sedikit koranku.. Dan..

Tampak si Ucup berdiri di depanku.. Aku sedikit terkejut, tampak Ucup berdiri sembari memperhatikan diriku, dan hal ini membuat aku jadi penasaran.. Apalagi pandangan si Ucup ini selalu kebawah, maka akupun melirik kebawah.. Dan.. Yaa.. Ampunn.. Aku baru sadar kalau dasterku itu tersibak ke atas sehingga dari posisiku duduk aku dapat melihat bulu-bulu kemaluanku sendiri.. Apalagi dari posisi si Ucup yang berdiri dihadapanku itu.. Tentu dia dapat melihat dengan jelas kemaluanku.. Oohh..

Saat itu juga aku jadi salah tingkah.. disatu sisi aku harus menjaga sopan santun tapi disisi lain aku tidak keberatan kemaluanku dilihat oleh si Ucup.. Maklum aku seorang exibithionist, ada perasaan kepuasan tersendiri. Tetapi untuk menghilangkan kesan sengaja.. Akupun pura-pura tidak menyadari dan..

“Oh.. Ucup.. Bikin kaget aja” seruku.

Tampak si Ucup juga terkejut dengan teguranku itu, lalu..

“Anu.. Maaf Non.. Mau ngasih daftar belanjaan..” serunya gugup, tapi matanya tetap melirik kebawah, dan akupun sadar kalau sebelum ke pasar Nina pasti akan menyodorkan daftar belanjaan.

Lalu Ucup menyodorkan daftar belanjaan kepadaku, dan akupun sedikit mencondongkan tubuhku ke depan untuk menerimanya, dan saat itu juga.. Aku sedikit merenggangkan kedua pahaku, dan tetap membiarkan kedua pahaku merenggang sembari membaca daftar belanjaan itu.. Tentu sekarang si Ucup dapat melihat dengan jelas bentuk kemaluanku, terus terang timbul perasaan gairah pada diriku walaupun aku tidak bisa konsentrasi membaca daftar belanjaannya, apalagi ketika dari sudut mataku.. Aku melihat si Ucup melirik terus ke arah selangkanganku itu.. Oohh.. Terasa kaku kedua pahaku.. Tidak bisa kurapatkan.. Maunya kurenggangkan terus, kemudian..

“Mas.. Mas Ucup” terdengar Nina memanggil dari dalam.

Spontan aku bangkit berdiri.. Aku tidak mau Nina melihat kejadian ini.. Dan benar juga.. Tampak Nina muncul.

“Oh.. Maaf non, anu Mas Ucup sudah kasih daftar belanjaan sama Non?” seru Nina. Ucup mengangguk, dan tampak kekecewaan diwajahnya karena, lalu..”Sudah Nina.. Yaa.. Kamu belanjain aja semuanya,” seruku sembari mengembalikan daftar belanjaan kepadanya.

Seperti dugaanku.. Ternyata Nina mengajak Ucup untuk ke pasar, walaupun Ucup kelihatan segan untuk ikut.. Tapi mau tidak mau dia menemani juga Nina ke pasar.

Malam hari, aku pergi bersama kawan-kawanku.. Kami pergi ke cafe dan di sana kami minum-minum sembari mendengarkan live music, hari sudah larut ketika kami pulang.. Teman-temanku menyarankan agar aku jangan menyetir mobil sendiri.. Karena mereka tahu kalau saat itu aku rada-rada mabok, tetapi aku tidak peduli.. Walaupun dengan kepala rada-rada pusing.. Aku tiba juga dirumah dengan selamat.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi dan aku tidak tega membangunkan pembantuku untuk membuka garasi, maka aku sendiri membuka garasi dan memasukkan mobilku, setelah itu aku masuk lewat belakang.. Dan melewati kamar pembantuku, tampak lampu kamar pembantuku itu masih menyala terang dan jendelanya terbuka sedikit, hal ini membuat rasa ingin tahuku.. Apa sih yang mereka lakukan.

Lalu aku mengintai ke dalam dari jendela, dan.. Tampak pemandangan yang luar biasa.. Pembantuku Nina dan si Ucup (Kakaknya?) sedang bergumul.. Kedua-duanya telanjang bulat.. Gilaa.. Si Ucup ini Kakaknya atau suaminya.. Akupun tidak habis pikir, tetapi menyaksikan adegan persetubuhan mereka membuat gairahku meningkat.. Tampak tubuh si Ucup menindih tubuh Nina.. Dan tampak pula gerakan erotis pinggul si Ucup yang naik turun.. Diantara kedua paha Nina yang terbuka lebar. Cukup lama aku mengintip mereka.. Sampai akhirnya mereka berdua terkulai lemas.

Melihat hal itu.. Membuat gairah sex-ku meningkat.. Ingin rasanya ikut bergabung dengan mereka.. Apalagi pengaruh alkohol begitu keras pada diriku.. Tetapi akupun bisa mengontrol diriku.. Kemudian aku beranjak dari situ.. Dan masuk ke kamarku, di dalam kamar aku segera menanggalkan t’shirt dan celana jeansku, hingga hanya bra yang hanya bisa menampung 1/3 payudaraku yang 36A dan G-string berwarna pink yang masih melekat ditubuhku, kemudian aku keluar kamar dan menuju ke kamar mandi, setelah membersihkan make up dan cuci muka akupun melepas g-stringku dan berjongkok di atas kloset untuk kencing,

Tetapi satu hal yang aku lupa.. Aku tidak menutup pintu kamar mandi dan ketika aku sadar.. Aku melihat si Ucup sedang berdiri diambang pintu sembari memperhatikan aku yang sedang buang air kecil itu.. Tampak dia cengegesan melihat diriku.. Dan aku.. Aku diam saja.. Membiarkan si Ucup memperhatikan diriku, melihat aku diam saja.. Si Ucup mendekati diriku dan berjongkok dihadapanku.. Memperhatikan kemaluanku yang masih mengeluarkan air kencing itu.. Tiba-tiba si Ucup menjulurkan tangannya dan memegang kemaluanku.. Oohh.. Tubuh ku bergetar..

Tampak telapak tangan si Ucup segera basah oleh air kencingku.. Lalu si Ucup mengosok-gosokan telapak tangannya ke kemaluanku.. Oohh.. Aahh.. Uuuhh aku memejamkan mataku merasakan nikmat.. Apalagi ketika si Ucup menyodok-nyodokkan jarinya ke dalam liang vaginaku.. Aahh…

Setelah puas mengocok kemaluanku.. Si Ucup membantuku turun dari closet.. Setelah itu dengan garang ia melepas bra ku.. Hingga akhirnya aku telanjang bulat, aku membiarkan si Ucup melumat payudaraku dengan rakusnya.. Dan hal ini membuat aku semakin terangsang hebat..

Secara bergantian kedua payudaraku dilumatnya.. Kadang-kadang pentil payudaraku di gigit-gigit kecil olehnya.. Wooww.. Akupun tidak tinggal diam.. Tangan kiriku meremas-remas rambutnya sementara tangan kananku turun kebawah dan segera mencekal batang kemaluan si Ucup yang masih tertutup celana itu, saat itu aku berpikir.. Hebat juga si Ucup ini.. Setelah menyetubuhi si Nina.. Barangnya masih bisa bangun lagi..

Tampaknya si Ucup ini tahu benar kondisiku saat itu yang sedang mabok dan terangsang hebat, maka dia segera mengendong tubuhku yang telanjang dan dibawanya masuk ke dalam kamarku.. Lalu aku direbahkan di atas ranjangku.. Setelah itu si Ucup menekuk kedua pahaku ke atas dan segera mulutnya mengoral kemaluanku..

“Ahh.. Nggkk.. Oohh..” rintihku..

Beberapa kali tubuhku tersentak-sentak ketika lidah si Ucup menyodok-nyodok liang vaginaku.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Apalagi ketika sekali-kali lidah si Ucup bermain di duburku.. Oohh.. Geli.. Tapi nikmat..

Tubuhkupun mengeliat-ngeliat merasakan nikmatnya clitorisku di isap-isap oleh si Ucup, apalagi ketika jari tangan kanan si Ucup disodok-sodoknya ke dalam duburku..

“Oohh.. Nggkk.. Aahh..”

Aku mengelinjang hebat.. Permainan lidah dan jari-jari si Ucup ini benar-benar luar biasa.. Tiba-tiba si Ucup menghentikan aksinya, dia lalu duduk ditepi ranjangku sebelah kanan.. Lalu ia menjilati lutut kaki kananku.. Terasa geli ketika lidah si Ucup menari-nari di atas lulutku itu, dan jari tangan kanannya masih tetap tertancap di dalam duburku.. Gerakan jari tangan Ucup di dalam duburku dan jilatannya di lutut kananku membuat aku kembali mengelinjang-ngelinjang..

Tiba-tiba.. Nggk.. Aku mendesis ketika Ucup menarik jarinya dari dalam duburku.. Tampak Ucup membawa jari tangannya itu ke hidungnya.. Dan menghirup dalam-dalam, mungkin dia sedang menikmati aroma yang melekat dijari tengahnya itu.. Aku hanya memandang pasrah.. Lalu tampak Ucup tersenyum dan menjulurkan jari tengah tangannya itu ke bibirku, sekilas akupun mencium aroma itu.. Entah kenapa.. Aku semakin bergairah.. Segera aku membuka bibirku dan membiarkan si Ucup memasukkan jari tengahnya itu ke dalam mulutku.. Terasa rasa pahit tapi aku tidak peduli.. Kujilati jari tengah Ucup itu.. Bahkan kuisap-isap jarinya itu.. Tampak Ucup tersenyum melihat ulahku itu.

Setelah itu si Ucup berdiri dan melepas seluruh pakaiannya hingga bugil, tampak batang kemaluan Ucup yang tegang dan keras itu, akupun tidak mau menyia-nyiakan itu.. Segera aku duduk ditepian ranjang dan kujilati habis seluruh batang kemaluan si Ucup, masih tercium aroma kemaluan wanita dari batang kemaluan Ucup.. Mungkin ini karena tadi si Ucup baru bersetubuh dengan Nina.. Dan dia belum sempat mencucinya.. Aku tidak peduli.. Kuoral batang kemaluan si Ucup, kujilati sampai pangkal batang kemaluannya.. Sampai kebiji pelirnya..

“Ooh.. Iyaa.. Iyaa.. Teruss.. Non.. Teruss” desis si Ucup..

Aku semakin mengila.. Kurebahkan tubuh si Ucup di atas lantai.. Lalu aku merangkak di atas tubuhnya.. Kujilati lehernya.. Dadanya dan kupermainkan teteknya dengan lidahku.. Kemudian aku berjongkok di atas batang kemaluan si Ucup.. Dengan kedua tanganku kuarahkan batang kemaluan si Ucup keliang vaginaku.. Lalu kutekan.. Dan.. Bless.. Terbenamlah seluruh batang kemaluan si Ucup dalam vaginaku..

“Oohh.. Nikmat sekali..”

Kugerak-gerakkan pinggulku maju mundur.. Sementara si Ucup tidak tinggal diam.. Kedua tangannya segera meremas-remas kedua payudaraku.

“Oohh.. Nggkk.. Aahh.. Nikmat sekali..”

Kupeter pinggulku kekanan dan kekiri.. Hingga akhirnya aku mencapai klimaks..

“Oohh.. Uuuhh.. Nggkk..”

Aku menjerit kecil sembari menyemburkan cairan kenikmatanku.. Setelah itu aku pun lunglai di atas tubuh si Ucup, kemudian si Ucup membalikan tubuhku.. Hingga telentang di atas lantai.. si Ucup berdiri dan memperhatikan tubuh bugilku yang telentang di atas lantai.. Tampak olehku batang kemaluan si Ucup yang masih berdiri tegang dan keras itu.. Rupanya dia belum mencapai klimaks.. Akupun sadar bahwa aku tidak boleh egois. Lalu aku berdiri dan duduk di tepian ranjang.

“Kok belum keluar..?”seruku, si Ucup hanya tersipu malu.”Mau dimasukin lagi..?” seruku, si Ucup masih teripu malu.”Atau kamu mau anal sex?” seruku lagi.”Apa itu non?” tanyanya.”Iyaa.. Kamu masukin ke dalam lubang pantatku” seruku lagi.”Apa enggak sakit non..?” tanya si Ucup heran.

Akupun tersenyum, rupanya si Ucup ini belum pernah melakukan anal sex.

“Nggak kok.. Mau yaa..” ajakku.”Belum pernah sih.. Tapi boleh juga non” serunya.

Lalu aku mengambil lotion di atas meja riasku.. Terus kuolesi lotion itu keseluruh batang kemaluan si Ucup.. Terasa berdenyut-denyut batang kemaluan si Ucup.. Setelah itu akupun menungging dipinggiran ranjang membelakangi si Ucup.. Kuoleskan lotion disekitar dan bagian dalam duburku.. Lalu dengan kedua tanganku.. Aku membuka belahan pantatku sehingga si Ucup dapat melihat anusku yang merekah itu..

Lalu si Ucup menempelkan kepala batang kemaluannya ke duburku dan dengan hati-hati mendesaknya ke dalam.. Terasa seret tapi woww.. nikmat, apalagi ketika si Ucup mulai mengerak-gerakkan pinggulnya maju mundur.. Sampai-sampai tubuhku tergunjang-gunjang..

“Aahh.. Ooh.. Nggkk..”

Aku mengerang menahan mules dan nikmat.. Si Ucup memang perkasa.. Cukup lama juga dia mengenjot lubang pantatku hingga..

“Aakk..” Si Ucup mengerang.. Sembari menekan batang kemaluannya dalam-dalam dia menyemburkan air maninya..”Ooh.. Enak.. Enak.. Non..” desisnya.

Akupun hanya tersenyum saja.. Setelah itu kupersilahkan si Ucup keluar dari kamarku.. Dan aku.. Mau tidak mau aku kembali ke kamar mandi untuk mandi.. Dingin tapi segar…

Itulah pengalamanku.. Dan setelah kejadian itu aku pun menegur pembantuku si Nina itu.. Dimana akhirnya ia mengaku bahwa si Ucup itu bukan Kakaknya.. Tapi pacarnya, dan aku peringatkan si Nina.. Bahwa aku tidak mau melihat lagi pacarnya itu..


Sahabat karib juga berbagi seks lho

Siang itu sepulang sekolah, salah satu temen aq ikut ke rumah aq.
Biasalah, namanya sobatan cewek saat SMA, dia curhat mengenai sikap cowoknya
yang semena-mena. Gini salah gitu salah. Kalo tengkar dikit, sukanya ngancam
putus. lah yang terakhir ini mereka tengkar hebat lalu si cowoknya minta
putus sepihak. pake sms lagi. weeee!

“beeeteeeeeeeeee!” teriaknya.

sudah-sudah, dari dulu kan si richard emang gitu sifatnya. mending putus
sekarang daripada pas kalian dah merit. aq berusaha menghiburnya tetapi dia
tetap nangis. ya maklum, emang patah hati bisa sembuh hanya dengan dihibur ya?
brrr….

Aline, nama temen aq ini, lalu memuntahkan semua unek-unek yang ada didalam
hatinya. segala macam hal positif dan negatif keluar semua (perasaan banyak
negatifnya deh…hehehe). Aq dengerin terus sambil membelai-belai rambutnya,
dia menangis dan curhat di pahaku cukup lama sampai agak mati rasa.

ya sudah, at least u masih punya “cherry” kamu kan? hiburku. Dia memandangku
sebentar lalu tangisnya semakin keras. “huaaaa! ya itu, uda dipetik dia!”.
Aduh aduh…salah ngomong dah gue…emang betul deh kata pepatah, jika kamu
tidak yakin ucapanmu bisa membantu, mending diem saja.

setelah agak lama, kami berdua pun rebahan di ranjang. Dia sesenggukan tidur
diatas bahuku, sedang aq masih perlahan membelai rambutnya. Hatiku
ikutan pilu mendengar ceritanya. uh…emang cowok-cowok itu brengsek ya!!!

Aq lalu menarik wajahnya. “sudahlah lin, tabah. lu kalo sedih begini ya
percuma. si brengsek itu malah ketawa-ketawa sekarang, gandengan ama cewek
lain. lu yang rugi donk, dia enak-enak! OK? lets have fun together. gw kan
best friend elo? OK? OK? Tanyaku sambil tersenyum. Aline terdiam, lalu
memaksakan untuk tersenyum. Nah gitu donk…ujarku senang sambil mencium
keningnya.

Kupandangi wajahnya yang belepotan air mata. Hm…Aline lumayan cakep kok
wajahnya (walau masih cakepan aq hahaha). bodynya bagus, putih bersih.

Nah yang terjadi kemudian ini nih…yang aq sendiri ndak paham. It just
happened. ;)

Aq merasa begitu “bersatu” dengan aline saat itu dan rasanya dia juga
demikian. Kucium keningnya perlahan. Dia diam saja sambil terus
memandangiku. Jantungku tiba-tiba berdegub kencang, entah tegang ntah horny.
Pelan-pelan aku cium bibirnya. satu kali, dua kali. dia diem saja sambil
memandangku. Akihrnya ya begitu deh…kami berciuman bibir layaknya lelaki
dan wanita, penuh gairah. hehehehe…

ngga merasa aneh? hm…mungkin, ntahlah. yang pasti waktu itu aq menikmatinya.

setelah cukup lama berciuman, aku melepas seragam sma-nya dan bra pink yang
sedang dipakainya. Aku lalu mulai menghisap putingnya dengan lembut. “ah…”
desahnya perlahan. Sesekali aku ciumi lehernya yang putih. Aline diem saja
menikmati permainan gilaku ini. Sesekali aku urut meqi-nya yang masih tertutup
celana dalam pink, senada dengan bra-nya.

Pas lagi asyik-asyiknya ber-lesbi-ria, kudengar pintu pagar depan diketok
orang. Ah biarin aja.,,ntar juga bik Ida yang keluar. Tapi setelah ditunggu
lama juga ngga ada yang membuka pintu tuh. huh! lagi asik-asiknya. Aq lalu
pamitan sebentar ke Aline, mau turun kebawah. Dia tersenyum sambil mencium
pipiku. Siapa sih siang-siang begini datang? Aq lihat lewat jendela.

Oh mas Rizky si tukang galon itu. TIBA-TIBA TIMBUL IDE GILA KU!
Lin, kamu kalo maen ama Richard puas ndak? hayo jawab cepat! Dia agak kaget,
ya puas lah, kan enak. Hus! puas ama enak itu beda lho, sahutku cepat. Dia
berpikir sebentar. Ya…enak sih…, sahutnya ragu-ragu. LHA! brarti lu
ndak pernah terpuaskan toh? Dia mengangguk pelan sambil memandangku penuh
tanda-tanya. Sini…lu mau maen ngga ama dia? sahutku sambil menunjuk kearah
pagar depan, dimana Rizky sambil merokok menunggu. :p

Aline tiba-tiba memukulku! Lu gile! Dia kan…AKU TAHU! sahutku cepat. Tapi
kujamin dia bisa bikin lu hepi, paling ngga untuk beberapa jam kedepan, sekalian
pelampiasan richard toh? Dia memandangku ngga percaya! lah lu apa hubungannya
apa dia? jangan-jangan…Hiiiiiiiiiiiiiiiii! tiba-tiba dia cekikian sambil
mencubit lenganku. Aq tertawa. KAMU LIAR JUGA YA! udah berapa kali kamu dimakan
dia? Aq semakin lebar tertawa. Berapa kali ya? um…ngga ngitung tuh! hahaha…
Tapi tak jamin lu bakal ketagihan, kayak gua! hahaha kami berdua lalu tertawa.
NGGA AH! NGGA MAU! kalo kena penyakit gimana? kalo dia mulut ember gimana?

Lin, untuk 2 hal itu, aq jamin NO jawabannya. Udah aq buktiin sendiri. Ayo,
YES or NO! jangan kelamaan mikir! Dia nampak banget bimbang…antara kepengen
tahu juga malu. Ah masa tiba-tiba kita menyerahkan diri. Kan tengsin bok!
Ah gampang, sahutku. Udah lu nurut gw aja. Aq lalu menarik dia supaya bangun,
menyuruhnya melepas cd tetapi tetap memakai seragam sekolah, aq pun
demikian. Tanpa sempat dia berpikir lagi, aq menyeretnya ke lantai bawah.

skip-skip…

Taruh dimana non galonnya? ujarnya sopan. Iya, mulutnya sopan, tapi MATANYA
hahaha yang dilihat susu mulu :D Didalam donk. Sahutku. Bik Ida mana ya?
Tanyaku. Rizky kebingungan, lah kok tanya saya non? tadi yang suruh kirim juga
dia. Aq mengangguk. sesampainya didalam, aq lihat Aline sedang mengisi gelas
di dispenser. Aq lalu suruh Rizky mengganti galon yang kosong itu dengan yang
baru. Matanya rizky melolot melihat Aline yang sedang minum air, berpakaian
seragam SMA tanpa bra. Hahaha…

“Aduuh…mana tahaaaan!” ujarnya ringan sambil cengar-cengir ndak lucu,
seperti biasanya. Aline tersadar lalu menutup dadanya dengan tangan.
Saat Rizky mengganti galon, aq menarik aline dan bertanya, gimana menurutmu?
Aline tersenyum ya lumayan untuk ukuran dia, ditambah cukup kekar juga.

Udah nonik-nonik yang cantik. Ada lagi? ujarnya. Aq menggeleng sambil
menyerahkan uang galon. Dia memasukkan uang itu kedalam celana jeans
bututnya, lalu tiba-tiba menarik lenganku dan menciumi bibirku. Kami lalu
berciuman selama beberapa menit dengan penuh gairah. UH mas suka banget liat
nonik pake seragam sma, lebih mrangsang, ujarnya. Aq tersenyum sambil melirik
kearah Aline yang melotot tidak percaya. =p~

Rizky lalu membuka kancing seragamku dan langsung menyedot kedua puting
payudaraku. Aoh…ssshh…mas…desahku. Tangannya masuk kedalam rokku dan
langsung mengaduk-aduk vaginaku. Lho kok udah becek begini non? nunggu mas ya?
ujarnya pelan sambil terus menyedot putingku. Aq diam saja menikmati
permainannya ini.

Setelah cukup lama aq dicumbui, aq berbisik ke mas rizky, ayo mas, masukin aja.
Rizky mengangguk dan menghentikan cumbuannya. Dilorotnya celana jeans butut itu
dan celana dalamnya sehingga penisnya yang besar dan berwarna ckolat kehitaman
itu menyembul keluar. ouh…aq pengen banget tuh ketimun masuk kedalam mq aq.
Ayo mas, masukin…pintaku sambil nungging memegang sadaran kursi sofa ruang
tamu. Aline menutup matanya melihat penis Rizky tetapi tak lama kemudian
udah mulai curi-curi liat.

Rizky lalu memposisikan penisnya persis dibelahan mq-ku dan lalu langsung
memasukkannya tanpa basa-basi. “Aaach! sakit mas..pelan-pelan donk!” protesku.
Dia diam saja, sambil terus memompa penisnya yang besar itu didalam meqi ku.

“Ah…meki cina memang enak nona…sshh…ah…..”, erang rizky keenakan.
Lengannya yang kekar mencengkeram pinggangku dan menariknya maju mundur.
Aku pun menggoyang pinggangku seirama agar penisnya semakin dalam masuknya.
“ah..ash…mas…mas”…erangku penuh nikmat. Sebetulnya aq takut kalo
tiba-tiba bik Ida nongol, tapi kenikmatan ini seakan-akan mengalahkan segalanya.

Tak lama kemudian, aq merasakan orgasm akan segera datang. Segera aq cabut penis
Rizky, lalu aq rebah diatas sofa. Ayo mas, masukin sekarang! Rizky lalu menindihku
dan memasukkan kembali penisnya kedalam vaginaku. Kami pun berpelkukan dengan erat.
Aq suka orgasm sambil berpelukan dengan cowok! hihihihi… Akhirnya gelombang
puncak kenikmatan itu datang juga. Rizky memeluk erat tubuhku yang sedang
berkelojotan dengan hebat. Kurasakan vaginaku meremas, berkedutan dengan cepat
sementara penisnya Rizky dengan kokoh menancap didalamnya. Aq menciumi bibir
Rizky dengan liar sampai dia pun kelabakan. Bau rokok udah ngga menjadi masalah
lagi, yang penting enak! :”>

Setelah aq merasa tenang, kudorong badannya agar penisnya tercabut dari meqiku.
Aq lalu meraih seragam smaku dan kubersihkan keringatnya yang menempel dibadanku.
Lho saya belum lho nik? Protes Rizky. Aq tersenyum tak menjawab, hanya telunjukku
kuarahkan ke Aline. Aline yang dari tadi duduk dikursi dengan gelisah menonton
live sex show ini terkejut dan melolot! Rizky memandangku seakan tak percaya!!
Aq mengangguk! B-)

hahaha…mata rizky lalu berbinar-binar dan dengan segera dia mendekati Aline.
Penisnya yang besar sedang kokoh berdiri, membuat setiap wanita yang melihatnya
pasti terangsang!

Sambil memakai kembali seragamku, kulihat Aline sudah ditarik berdiri oleh Rizky
dan Aline memunggunggi Rizky. Tangan Rizky tak henti-hentinya meremasi dan
memilin2 puting susu Aline dari luar. Uh….seksinya kamu nik. Tak kalah ama non
Fefe, rayu Rizky sambil terus menciumi leher sobat karibku ini. Aline hanya
pasrah pada nafsu yang sudah sangat menguasai dirinya.

Rizky lalu melepas seragam aline dan menidurkan gadis chinese cantik itu keatas
sofa. Dengan segera dia menindihnya, menciuminya, menyedot putingnya sambil
memposisikan penisnya. Lalu dengan beberapa kali mencoba, akhirnya masuk juga
penis itu kedalam meqi Aline. “Aaah…maaaas!” teriak aline sambil sedikit
menarik badannya. Rupanya dia kesakitan, belum pernah mq-nya dipake oleh cowok
dengan penis sebesar Rizky itu. hehehe…teringat masa-masa pertama kali aq
digauli Rizky!

Rizky, seperti biasa, tidak memperdulikan protes cewek chinese yang ditidurinya.
Lengannya yang kekar mencengkeram leher aline sambil panggulnya maju-mundur
dengan cepat, menyetubuhi temanku ini dengan kasar. Aline cuman meringis sambil
mengerang perlahan..karena lama-kelamaan rasa nikmat sudah mulai menjalar.

“Ssh…ah….enaknya meqi kamu nik! lebih enak ketimnbang punya fefe!”, ujar
Rizky sambil menyeringai. “jarang dipake kaliatannya ya?”. Aq sewot lalu aku
pukul pantatnya Rizky yang sedang maju-mundur keenakan itu. Aline terus mengerang
dan setelah beberapa menit dinikmati oleh Rizky, tiba-tiba tubuhnya terasa
bergetar dan berkelojotan! hahaha…sebuah lengkingan yang tertahan keluar dari
mulutnya. Rizky sampai kewalahan menahan tubuh Aline yang sedang orgasm itu agar
tidak terguling dari sofa.

enak lin? tanyaku pelan sambil mencium keningnya. Aline mengangguk pelan, matanya
terpejam, dia menggigit bibirnya menahan sisa-sisa aliran kenikmatan yang masih
mengalir. Rizky menyeringai penuh kemenangan. Dua cewek chinese cakep telah dia
setubuhi siang ini dan keduanya takluk dibawah keperkasaan seksualitasnya.
cieeeee…

Rizky lalu mencabut penisnya dari mq Aline. Wah…meqi-nya bersemu merah, dan
terlihat berlubang. “Ah elo mas, tititmu kebesaran sampai mq temenku lubang
menganga negitu..” godaku pada rizky. Rizky tersenyum puas, bangga. Aline mencubit
lenganku.

Nah, sekarang kalian berdua musti sedot aku punya penis, seprti di film2 porno itu.
OK? Aq mengangguk. Kami berdua pun lalu bergantian menyedot penis besar Rizky,
menjilatinya dan mengulum testisnya untuk memberikan kepuasan buat Rizky.
Aline berbisik, “ih bauuu”, aq menyenggol lengannya dan terus menyedot batang
keperkasaan itu. Tak lama kemudian, Rizky tak kuat lagi menahan ejakulasi dan
crot.crot.crot..”Aaaaaaaaaaah sip enaknyaaa!”, erangnya! Spermanya menyemprot
ke wajah kami berdua. hihihihi…

Kapan-kapan lagi ya non? ujar rizky sambil pamitan keluar.
Aq diam saja sambil menutup pintu gerbang.

by the way, BIK IDA INI KEMANA SEH? dari tadi ngga pulang-pulang !!!!

Didalam kamar, aq memeluk Aline.

Gimana? puas kan kamu?
Aline mengangguk sambil memelukku. Enak banget. Baru kali ini aq merasakan
namanya orgasm. Huh! punya richard Keciiiil! Hahaha…aq tertawa. Begitulah
ucapan orang yang sedang sakit hati…

Kamu mau lagi? godaku. Aline tersenyum kecil sambil meringis.
Hi….ketagihan kan? hahaha…Dia lalu kesal dan mencubit lenganku.
Aq tahu toko galonnya. Kapan-kapan sepulang sekolah kita kesana, mau?
Aline mangangguk! Hahahaha..


Sari, Perawan..

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.

Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.

Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.
“Met pagi..” kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.
Kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.
“Kok semalam sampai larut sih..?” tanyaku.
“Kok tak juga diantar seperti biasanya..?” tanyaku lagi sebelum dia menjawab.
“Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.
“Semalam nggak terkejut ya melihatku..?” aku mencoba menyelidiki.
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.
“Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!” desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
“Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohhh.. aku mau keluar.. ohh..” desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
“Oohhh Sari… Uhh Sariii.., Saarrii… Nikmat sekali..!” desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
“Ehh.., ehhh..!” desis Sari menikmati cumbuanku.
“Ehh.., ehhh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.

Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
“Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!” pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda.


Lift Gila..

Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan karena dosennya beberapa kali tidak masuk akibat sibuk dengan kuliah S3-nya. Kuliah diadakan pada jam lima sore. Seperti biasa kalau kuliah tambahan pada jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun bagaimanapun saat itu langit sudah gelap hingga di kampus hampir tidak ada lagi mahasiswa yang nongkrong.

Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya berjarak empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih sendirian di WC kampus malam-malam begini, tapi aku segera menepis segala bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift (di tingkat lima). Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari belakang. Ternyata mereka adalah tiga orang mahasiswa yang juga sekelas denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk di sebelahku dan mengobrol sewaktu kuliah, namanya Adi, tubuhnya kurus tinggi dan berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar. Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful dan satunya lagi yang mukanya mirip Arab itu namanya Rois, tubuhnya lebih berisi dan kekar dibandingkan Adi dan Syaiful yang lebih mirip pemakai narkoba.

“Kok baru turun sekarang Ci?” sapa Adi berbasa-basi.

“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?” jawabku.

“Biasalah, ngerokok dulu bentar” jawabnya.

Lift terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku hingga jantungku jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan. Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan kecil dan dengan dikelilingi para pria seperti ini hingga rasa panas mulai menjalari tubuhku.

“Langsung pulang Ci?” tanya Syaiful yang berdiri di sebelah kiriku.

“Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala.

“Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?” si Adi menimpali.

“Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi.

“Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!” sahut Syaiful.

“Eh.. Buat apa?” tanyaku lagi.

Sebelum ada jawaban, aku telah dikagetkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diberi aba-aba, Rois yang berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku sampai terlepas dari tanganku karena terkejut.

“Heh.. Ngapain lu orang?” ujarku panik dengan sedikit rontaan.

“Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!” ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu.
“Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Rois.

Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk ke dalam rok miniku. Aku tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai menggosok-gosoknya dari luar.

“Eengghh.. Kurang ajar!” ujarku lemah. Aku sendiri sebenarnya menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan derajatku di depan mereka.

Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang telah terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Adi menciumi leher, telinga dan tengkukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat. Rois yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra. Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemudian kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku.

Sambil menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa kusadari, celana dalamku kini telah merosot hingga ke lutut, pantat dan kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Syaiful sudah memasuki vaginaku dan menggelitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu.

Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku merapat mengapit tangan Syaiful. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang sedang dijilati Adi, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding. Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi. Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya hingga menyebabkan benda itu semakin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku.

Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Rois memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku dan menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan keras di balik celana Adi terasa menekan pantatku. Secara refleks aku menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih terbungkus celana itu.

Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Rois jadi basah dan meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Adi, dia kelihatan senang sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan. Si Syaiful malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang. Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya sesuailah dengan badannya yang kerempeng itu.

Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Adi ke penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku.

“Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!” pintanya.

“Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Rois melepas cumbuannya.

“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Rois sambil membuka celananya.

Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya.

Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rois menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua penis tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rois memang paling besar di antara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaiful. Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.

“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis”

“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!”

“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!”

Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan.

“Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian.. Kalo gini terus gua juga bingung dong!” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku.

“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan?” kata Syaiful.

Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Syaiful dan yang kanan meraih milik Rois lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut.

“Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!” gerutu Syaiful pada Rois yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan.

“Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Adi protes karena merasa diabaikan olehku.

Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun penis Rois ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih penis Adi untuk menenangkannya. Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut.

Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rois kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.

Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang vaginaku. Penis Syaiful telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.

“Uhh.. Nakal yah lu!” kataku sambil menengok ke belakang.

“Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.

Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku.

“Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Adi seraya menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku.

Aku semakin bersemangat mengoral penis Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati ‘helm’nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokanku terhadap Rois juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift.

Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku..

“Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!”

Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rois memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku.

“Gak usah buru-buru..” demikian katanya.


Sesuatu Terjadi di Hotel

Pesawat Qantas yang membawa saya dan ratusan penumpang lainnya baru saja tinggal landas dari bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Sydney, Australia pukul 9 malam. Bunyi mesin menderu sangat kencang. Saya duduk di ekonomi kelas. Saya mendapat tugas dari pimpinan perusahaan tempat saya bekerja untuk meeting dengan head quarter yang berada di Sydney. Maklum dengan jabatan saya sebagai manajer, banyak hal yang harus dilakukan termasuk salah satunya meeting dengan head quarter menyangkut launching suatu produk baru.

Saya menengok ke sebelah saya, nampak seorang bule dengan rambutnya yang pirang. “Gila, mak, cakep banget.” kataku dalam hati. “Hei. How are you going?” kata saya sambil tersenyum. “Are you Indonesian?” tanyanya sambil tersenyum. Saya bilang “Yes”. “Hello, nama saya Jess. Nama kamu siapa?” tanyanya dalam bahasa Indonesia dengan sedikit Aussie accent sambil memandang saya dengan kebingungan. “You can speak Indonesia?” tanyaku. “Yah, saya bisa berbicara bahasa Indonesia.” katanya lagi.

“Oohh…nama saya Alex.” kata saya sambil benar-benar memujinya habis-habisan. “Bahasa Indonesia kamu bagus sekali.” kata saya. “Saya adalah seorang konsultan di sebuah perusahaan international di Jakarta. Saya sudah lama tinggal di Indonesia selama 5 tahun.” katanya. “Oooh begitu…”kata saya. Secara nggak sengaja saya melirik ke arah tubuhnya yang terbungkus kaos dengan tangan panjang. Kira-kira 36C ukuran buah dadanya. “Bener-bener padat dan berisi buah dadanya.” kata saya dalam hati. “Kalau kamu Alex,…” tanyanya. “Saya mendapat tugas dari pimpinan perusahaan dalam rangka bisnis dengan perusahaan head quarter yang berada di Sydney dalam rangka peluncuran produk baru. “Oooh begitu…” katanya.

Tiba-tiba terdengar suara dari kabin pesawat yang menyatakan bahwa makan malam sedang dibagikan. “Saya mendapat cuti 2 minggu dari perusahaan. Jadi saya ingin pulang kampung istilahnya. Keluarga saya tinggal di sebuah kota kecil, Dubbo kurang lebih 250 km sebelah barat dari Sydney. Jadi untuk sementara saya tinggal di hotel karena keluarga saya akan menjemput saya dalam waktu 2 hari. Kemudian saya tanya, “ Kalau kamu nggak keberatan, di hotel mana kamu tinggal?” “Saya akan tinggal di hotel …(Sambil menyebut sebuah hotel berbintang 5 dijantung kota Sydney.” “What the…?” kata saya sambil terbelalak. “Saya juga tinggal di hotel itu. Wah kok bisa sama yah. Lumayan bisa ada teman untuk mengobrol.” kata saya dengan sedikit terkejut. Kami terus ngobrol. Ternyata Jess itu orangnya benar-benar enak diajak ngobrol. Bahasa Indonesianya benar-benar bagus. Tidak ada bahasa slengnya. Terus sempat cerita pengalaman pribadinya ke saya orang yang baru dikenalnya bahwa dia pernah punya pacar orang Australia, tapi akhirnya putus. Karena si bulenya ketahuan berbuat serong selagi Jess lagi bekerja di Indonesia. Saya juga cerita kalau saya juga masih single karena saya konsentrasi untuk mengejar karir.

“Wah, sepertinya saya sudah mengantuk nih.” katanya sambil menguap. “Aduh, kok imut sekali yah. Kalo diliat –liat mirip siapa yah? Oh, yah dia itu mirip Catalina Cruz. Pornstar yang fotonya pernah dikirimin teman saya melalui email. “Kata saya dalam hati. “Selamat malam Alex.” kata Jess dan “Selamat malam juga. Have a sweet dream.” kata saya sambil tersenyum juga. “I will…”

Singkat cerita, pukul 07:00 pagi saya sudah mendarat di bandara Sydney International Airport. Semalam saya ketemu cewe bule yang duduk di sebelah saya. Mimpi apa tidak yah? Saya sempat bertanya-tanya. Setelah melalui bea cukai, saya keluar dari pintu bandara. Ternyata saya sudah ditunggui oleh rekanan kerja dari head quarter yang juga dari Indonesia. “Hello Alex” katanya sambil menyalami saya. “Lho kok anda tahu nama saya?” tanya saya sambil kebingungan. “Bos kamu mengirimi foto dan identitas kamu melalui email.” “Oh, pantesan” kata saya. “Dingin juga yah hari ini. Untung saya bawa mantel tebal.” kata saya mengiggil. “Nama saya, Ben.” Katanya

Dari airport perjalanan menuju hotel kurang lebih setengah jam. “Anda sudah pernah ke Australia?” tanya Ben membuka perjalanan. “Belum. Baru kali ini.” kata saya sambil kembali membayangkan cewe yang ditemui di pesawat terbang. “Lagi ngapaian dia di hotel yah?” tanya saya dalam hati. “Eh, kamu kok diam aja? Kamu kangen sama pacar kamu yah?” tanya Ben lagi. “Ah…enggak. Saya nggak punya pacar.” kata saya dengan malu-malu.

Tidak lama kemudian saya sudah tiba di hotel berbintang lima itu. Benar-benar mewah, megah. Saya sungguh beruntung tempat saya bekerja. Perusahaan benar-benar memberikan yang terbaik buat staffnya kalau ada urusan bisnis ke luar negeri. Koper saya langsung dibawa oleh staff hotel ke kamar saya. Sementara itu Ben pergi menghampiri meja resepsionis untuk check in. “Ini kuncinya. Saya tunggu di ruang lobbi. Kamu pergi mandi atau apalah.” kata Ben. “Jangan lupa jam 9.00 tepat kita harus sudah ada di ruang meeting.” katanya serius. “Orang bule nggak suka kalo terlambat walaupun cuma satu menit.” tambahnya lagi.

Di kamar, saya tidak bisa berkonsentrasi. Ngebayangin Jess. Kira-kira di nomor berapa yah kamarnya? Mungkin nggak kalau saya tanya ke resepsionis bisa diberitahu? …Akhirnya saya nekat juga turun kebawa untuk nanya ke resepsionis. Tapi hasilnya mengecewakan. Resepsionis tidak boleh memberitahukan nomor kamar seseorang karena itu adalah privacy dari seseorang.

Jam 8:50 pagi saya tiba di kantor pusat. Saya ogah-ogahan untuk meeting ini. Tapi apa boleh buat. Perusahaan sudah bayar mahal. Produk baru yang akan diluncurkan itu ternyata bener-bener belum pernah ada. Mereka ingin mencoba melaunching produknya di Jakarta minggu depan. Karena mereka melihat prospeknya yang begitu tinggi khususnya anak muda di Jakarta. Saya sih tersenyum-senyum saja begitu mengetahui produk tersebut. Saya benar-benar dibrainwash alias dicuci otak. Bagaimana cara kerja produk tersebut sampai perawatannya. Semuanya dijelaskan dengan jelas, tuntas. Satu jam terakhir digunakan untuk acara tanya jawab. Saya benar-benar malas bertanya.

Jam 6.00 sore, saya sudah tiba di kamar hotel saya. Kantor pusat belum memutuskan apakah perlu diadakan meeting sekali lagi atau tidak? Saya sih cuma bilang ke mereka bahwa saya benar-benar yakin kalau produk ini bakalan sukses di Jakarta dan saya paham bagaimana cara memasarkannya. Sekali lagi keputusan berada di tangan kantor pusat.

“Hello Alex” suara seseorang yang saya kenal mengagetkan saya. “Hei, Jess” saya dipeluknya seperti seorang teman dekat. Buah dadanya yang padat berisi membuat penis saya tampak sedikit tegang. “Kamar kamu dimana?” tanya saya. “Di sebelah kamu.” kata Jess. “Benar-benar kebetulan yang menyenangkan” kata saya dalam hati. “Ok yah, sampai ketemu lagi Lex” katanya sambil tersenyum dengan manisnya. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Tapi benar-benar Jess membuat saya betul-betul grogi dan gugup. Soalnya dia betul-betul cakep, tubuhnya sedang. Mustinya dia cocok jadi foto model daripada kerja jadi consultan di Indonesia. Tiba-tiba saya merasa penis saya agak sedikit tegang karena ketika saya menyalakan TV ada cewe bule cuma memakai bikini saja sedang membawakan sebuah acara kuis. Maklum tinggal di Negara Barat segalanya bebas. Pengen rasanya untuk bermasturbasi.

Tok..tok..tok… tiba-tiba pintu diketuk. “Who is there?” tanya saya. Ah, mungkin juga room attendant. “Ini saya Jess.” Langsung dalam tempo 2 detik saya sudah berada di depan pintu. “Hei, Jess. Ada apa?” tanya saya agak sedikit kebingungan. Jangan…jangan….

“Minta tolong yah, maukah kamu tidur satu kamar dengan saya malam ini? Soalnya saya agak kesepian. Bagaimana?” tanyanya dengan sedikit memelas. Pura-pura berpikir kemudian saya berkata “Ide yang bagus juga. Soalnya saya juga mungkin kesepian.”

Tidak sampai 1 menit saya sudah berada di kamarnya. Mantelnya yang berbulu sudah dilepasnya. Sementara itu dengan gerak yang cepat, tangannya sudah menyalahkan pemanas. Maklum udara di Sydney masih dingin sekitar 12 derajat celcius.

Tampak kaos berwarna pink dengan lengan pendek benar-benar membuatnya sungguh seksi dan sensual. “Kamu sudah makan belum? Soalnya sebelum saya pulang saya mampir dulu ke takeaway restaurant. Jadi kita bisa makan bersama-sama.” kata Jess sambil memasukkan makanan itu ke microwave. “Saya sudah makan tadi di restaurant ditraktir teman sekerja saya. “Perempuan yah, yang menaktrir kamu?” tanyanya dengan muka agak serius. “Teman saya Ben. Dia seorang cowo tulen.” kata saya sambil memandang ke arahnya. Aneh juga pertanyaannya.

10 menit kemudian, makan malam itu dilahapnya. “Kamu lapar yah?” kata saya membuat pertanyaan lagi. Dibilang seperti itu mukanya tampak kemerah-merahan karena kulitnya yang putih tampak jelas mukanya malu. Dalam hati saya, bule makannya cepat juga.

“Kamu sudah mandi belum?” tanya Jess lagi. “Belum.” kata saya. “Yo, mandi bersama saya.” kata Jess lagi sambil berlalu menuju kamar mandi. “Eeeh…iya boleh juga.” kata saya dengan muka yang melonggo. “Kamu sudah pernah melihat tubuh wanita yang telanjang bulat belum?” tanyanya lagi. “Eh, eeh…sudah tapi cuma di majalah. Tapi kalau yang sebenarnya belum pernah.” kata saya polos.

Dengan sekali tarik kaos pink itu sudah berada di lantai. Buah dadanya yang padat dan berisi menyembul dari BHnya yang berwarna putih. Penis saya nampak tegang sekali. Pengen sekali rasanya untuk memegang buah dadanya itu. Setelah itu dibukanya rok hitam. Kelihatan celana dalamnya yang berwarna putih yang sesuai dengan motif BHnya.

“Jess, kamu seksi sekali.” kata saya dengan memandang tubuhnya tanpa berkedip. “Terimah kasih atas pujiannya. Saya hampir setiap kali pergi ke gym. Saya benar-benar merawat tubuh saya.”jawabnya.

“Sekarang saya mau ajarkan kamu cara membuka BH. Siapa tahu nanti kalau kamu punya pacar, kamu bisa membuka BHnya.” kata Jess sambil berjalan mendekat saya. Saya tampak grogi dan gugup. “Di belakang BH itu ada pengaitnya. Coba kamu lihat pengaitnya dan lepaskan satu persatu.” katanya sambil berbalik badan. “Oh, ya sudah ketemu pengaitnya.” kata saya dengan tangan sedikit gemetar. “Sekarang tinggal lepaskan pengaitnya.” Satu persatu saya lepaskan pengaitnya. Ditarik BHnya dan sekaligus dibuka celana dalamnya.

Penis saya yang sudah tegang, tampak tegang sekali. Buah dadanya tampak padat berisi. Putingnya tidak terlalu besar agak kecoklat-coklatan. Sementara itu vaginanya yang tampak ditumbuhi bulu-bulu hitam yang halus. Tampangnya Jess merawat jembutnya dengan teratur. Kemudian Jess melangkah ke arah shower. Dengan sekali putar tampak mengalirlah air hangat dari shower itu. Tubuhnya yang halus, ranum, bening tampak mengkilap dialiri air hangat.

“Ayo sini jangan malu-malu.” katanya sambil menarik tangan saya. Mau tidak mau saya harus membuka baju saya. Untunglah dalam dua tahun terakhir saya berlatih gym, jadi dada saya tampak sedikit kekar. Satu persatu baju, celana panjang dan terakhir celana dalam saya. Penis saya tampak tegang sekali melihat tubuh wanita yang cantik dihadapan saya. Jess tampak sedikit terkejut melihat tubuh saya. Apalagi penis saya yang besar dan keras. “Wow, Lex. Besar sekali.” kata Jess. “Iiiyalah…karena dihadapan saya ada seorang wanita yang cantik dengan tubuh yang seksi.” kata saya. Terus terang selama hidup, saya belum pernah melihat tubuh wanita bugil dengan mata kepala sendiri. Kalau melihat di internet atau majalah cukup sering.

“Aduh gawat nih, kayanya saya ingin bermasturbasi nih.” kata saya dalam hati. “Enak sekali mandi air hangat.” kata saya. Tiba-tiba Jess mendekat “Mari saya sabuni badan kamu.” Perlahan-lahan tangannya yang mungil mulai bergerak dari atas kepala, leher, dada saya. Benar-benar saya dibuatnya mupeng dan terangsang habis. Kemudian dengan berjongkok diliriknya saya karena tangannya dia sudah berada di daerah penis saya. Jembut saya yang tumbuh cukup lebat disabuninya secara perlahan. Tangannya yang mungil tampak mengenggam penis saya yang tampak tegang. Cara menyabuninyapun seperti orang masturbasi naik turun. Saya benar-benar nahan untuk tidak muncrat sperma saya selagi dia jongkok. Kalau saja dia lebih lama sedikit, mungkin sperma saya sudah keluar ke arah mukanya.

“Eh, gimana kalau giliran kamu saya sabuni?” kata saya dengan sedikit ragu-ragu. “Ayo…kamu mau memegang tubuh saya yah…” katanya sambil tertawa. “Nggak juga…soalnya kamu sudah menyabuni saya. Sekarang saya menyabuni kamu.” jawab saya sambil mengambil spon yang masih berbusa. Tangan saya sedikit gemetar. “Ayo kamu balik badan. Saya sabuni punggung kamu dulu. Ok.” kata saya. Tubuhnya benar-benar halus sekali. Mulai dari leher saya perlahan-lahan menyabuni dia. Saya harus hati-hati jangan sampai saya terlalu dekat sekali dengan dia. Karena penis saya yang sudah tegang jangan sampai terlalu dekat ke arah pantatnya. Dari leher kemudian turun ke punggung. Saya benar-benar menikmati sekali. Bagian punggung sudah selesai. Tangan saya mulai turun ke arah pantatnya yang padat berisi. Sambil berjongkong saya mengintip dari lubang selangkangannya. Entah disengaja atau tidak dia tampak merenggangkan kakinya agak sedikit lebar. Saya memakai kesempatan ini untuk menyentuhnya secara perlahan dengan memakai spon. Dia agak sedikit mendesah. Saya tidak peduli. Kakinya yang panjang terus saya sabuni.

“Sekarang bagian belakang sudah selesai, mari saya sabuni bagian depan.” kata saya, sambil berdiri. Jess berbalik badan. Tingginya saya hampir sama dengan dia. Muka dengan muka berhadapan. Benar-benar cakap sekali ini cewe. Saya harus menjaga jarak agar penis saya tidak bersentuhan dengan vaginanya. Ingin sekali saya menciumnya.

Dengan sentuhan yang sangat lembut, pertama-tama saya sabuni lehernya. Dia tampak menikmati sekali. Saya tahunya karena dia tampak memejamkan matanya yang biru itu. Setelah dari leher, tangan saya mulai bergerak ke arah buah dadanya yang bener-bener padat, berisi, tidak terlalu besar, tapi benar-benar mantap. Putingnya berwarna coklat-coklatan. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Dalam hati, mimpi apa saya semalam. Rasanya ingin sekali saya meremas-remas dan menghisap putingnya dalam-dalam. “Lho kamu berhenti menyabuni saya?” katanya sambil membuka matanya. “Ooh, sorry saya cuma terpesona melihat buah dada kamu. Saya betul-betul terangsang melihatnya.” kata saya polos. Maklum belum pernah mandi bareng dengan wanita cantik.

Tiba-tiba tangannya menarik tangan kanan saya yang memegang spon. Kemudian diletakkannya di buah dadanya. “Ayo jangan ragu-ragu.” katanya. Mau tidak mau saya harus menyabuni buah dadanya yang padat berisi. Terus terang saya harus berjuang mati-matian untuk sperma saya tidak muncrat keluar. Dengan gerakan memutar perlahan-lahan saya menyabuni buah dadanya yang sebelah kiri yang bulat berisi. Sementara itu diangkat tangannyake atas. Sambil melirik ke arahnya, kemudian saya menyabuni putingnya. Jess tampak menarik nafasnya dalam-dalam. Dia sedikit terangsang. Saya tidak peduli. Setelah itu saya beralih kearah sebelah kanan. Dengan gerakan yang memutar yang sama, saya lakukan di buah dadanya yang sebelah kanan. Jess merengkuh. Diakui pula saya sering pula nonton film dewasa atau internet dimana saya tahu juga titik – titik rangsangan pada wanita. Setelah selesai saya menyabuni perutnya yang tampang langsing sekali. Sambil berjongkok, tangan saya tambah gemetar. Ketika mendekati daerah vaginanya. Bulu-bulu halusnya tampak terawat rapi. Bibir vaginanya yang tampak tidak terlalu besar menutup lubang vaginanya. Saya sabuni daerah vaginanya secara perlahan-lahan. Dia tampak menikmati.

Tiba-tiba saya teringat bagian sensitif dari seorang wanita yaitu bagian klitorisnya. Sambil menyabuninya sambil mencoba mencari klitorisnya. Maklumlah saya masih belum berpengalaman. Saya melirik ke Jess. Sepertinya dia coba menahan untuk tidak mengeluarkan suara mendesah karena terangsang. Tapi percuma saja. Akhirnya setelah saya puas ‘bermain-main’ di daerah vaginanya, saya turun ke pahanya sampai ke kakinya. Akhirnya setelah selesai, kita berdua mandi di shower. Diam seribu bahasa. Suasana agak sedikit kaku. Karena saya tidak tahu harus berbuat apa. Penis saya tampak tegang sekali. Benar-benar keras.

“Alex, saya sudah selesai mandinya. Ini handuk saya. Kalau mau pakai saja.” katanya. “Terima kasih.” katanya tersenyum. Saya tampak bingung. Bagaimana kalau dia mengajak saya berhubungan seks atau saya tampak tersiksa apa saya harus masturbasi atau tidak. Saya matikan air hangatnya kemudian saya keluar dari shower. Saya cium handuknya. Wangi sekali. Saya ambil baju, celana dalam dan celana yang masih tergeletak di lantai. Keluar dari kamar mandi, saya disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Jess berbaring bugil dengan kakinya dibuka lebar-lebar. Benar-benar menggoda sekali.

“Alex, sini mari berbaring dengan saya.” katanya sambil tersenyum. Saya seperti terhipnotis mengikuti apa yang diinginkannya. Tiba-tiba dia mengambil LCD remote control yang entah diambil darimana. Tampak di layar TV, seorang wanita bule yang sudah tidak asing lagi tampak bermasturbasi. Namanya Brianna Banks dengan dildonya. Jess tampak gelisah tidak karuan. Dia mulai meremas-remas buah dadanya. Sementara itu tangan yang satunya lagi mulai meraba vaginanya. Oooh…aaah…yeah…yeah…

Saya tampak bingung. Pemandangan di televisi dan pemandangan di sebelah saya membuat saya terangsang hebat. Akhirnya saya tidak tahan. Tangan saya yang sebelah kanan meremas-remas buah dadanya Jess. Sementara tangan kiri saya masturbasi. Tidak sampai 10 detik. Sperma saya muncrat keluar dengan cukup banyak. Saya lemas. Begitu pula dengan penis saya. “Lex, teruskan remas-remas buah dada saya.” kata Jess sambil terus mendesah-desah. “Tunggu sebentar, Jess. Saya mau ambil tissue dulu.” kata saya sambil berdiri. Tetesan sperma tampak membekas di ranjang. Saya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan ceceran sperma saya yang masih tersisa di penis.

Setelah itu saya kembali. Entah darimana dildo itu datangnya, Jess sedang bermasturbasi. Pemandangan di TV sudah berganti dengan adegan seks antara 2 orang wanita dan 1 orang pria. Saya sudah tidak bersemangat lagi menonton adegan di TV. Jess tampak melenguh, mendesah. Dildo kristal itu tampak mulai basah dengan cairan vaginanya.

Oooh…yeah…ooh…yeah… Tiba-tiba dia menjerit. Sepertinya dia mengalami orgasme.

Dihampirinya saya yang sedang terlentang. Saya agak sedikit kaget. “Sini, kemari. Alex.” katanya manja. Penis saya mulai tampak tegang kembali. Saya dicium dengan ganasnya. Lidah saya dikulumnya. Saya menikmati sekali. Sementara itu kedua saya mulai menggeranyi buah dadanya. Putingnya nampak keras sekali. Saya dorong Jess supaya dia berbaring. Sementara itu saya mulai menghisap putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kanan saya meremas-remas buah dadanya. “Oooh…yeah…oooh…yeah. It’s good.” kata Jess. Itulah untuk pertama kalinya dia berbahasa Inggris di depan saya. Saya kulum, saya hisap, saya jilat kedua putingnya. Benar-benar suatu kenikmatan tersendiri.

Setelah puas, saya turun ke arah vaginanya. Aroma vaginanya ternyata khas sekali. Bikin merangsang saya. Dengan insting saya, akhirnya saya berhasil menemukan titik ‘lemah’nya yaitu klitoris. Saya tekan kiri kanan dan atas bawah. Dia tampak makin bergairah merangsang. “Keep going…It’s good…Oooh…yeah…ooh…yeah…”jeritnya. Sambil saya mainkan klitorisnya, saya coba oral seks untuk pertama kalinya. Saya coba untuk mengingat-ngingat dimana letak sensasinya. Akhirnya saya buka bibir vaginanya dengan tangan saya. Tampak lubangnya sudah basah dengan lender dan kemerah-merahan. Saya tidak peduli. Saya mainkan lidah saya keluar masuk keluar masuk ke lubang vaginanya. Rasanya agak sedikit aneh. Maklum belum pernah oral seks dengan wanita. Secara sengaja saya arahkan penis saya kearah mulutnya. Jadi dengan gaya 69, saya hisap klitorisnya, sedangkan dia hisap penis saya. Penis saya dikulum, disedot. Naik turun.

Istilah kerennya deep throat. Saya benar-benar menikmati. Slrp…slrp…Untung saya sudah masturbasi kalau tidak bisa-bisa cuma sebentar dihisapnya. Saya benar-benar menikmati oral seks dengan Jess. Begitu pula saya. Semakin keras saya menghisap, menggigit pelan klitorisnya, semakin terangsang dan semakin bernafsu dia menghisap penis saya. Setelah saya puas, jari saya masukin ke lubang vaginanya yang sudah basah dengan lendir atau lubricant. Dengan kata lain sudah siap untuk dimasukin penis. Jari saya masukin keluar masuk keluar masuk. Dia tampak histeris, terangsang, menjerit dan mendesah makin hebat selagi dia menghisap penis saya. Oooh…aaah…oooh…aaah…

Kemudian dia mendorong saya. “Fuck me…fuck me baby…”jeritnya. “Jess, saya tidak ada kondom.” kata saya. “Kamu tidak perlu pakai kondom.” katanya. Saya disuruh berbaring dengan penis saya tegak berdiri. Sementara itu Jess memegang penis saya sambil berjongkok. Tangan kirinya memegang vaginanya yang dibuka lebar-lebar sedangkan tangan kanannya dipakai untuk memegang penis saya.

“Aaah…aaah…It’s so good baby.” desah Jess. Saya yang untuk pertama kalinya berhubungan seks benar-benar agak sedikit terkejut. Bagaimana kalau dia hamil? Pikiran itu saya buang jauh-jauh. Rasanya nikmat sekali. Penis saya yang bergesekan dengan lubang vaginanya yang sudah basah dengan lendir vaginanya membuat licin. Sementara itu saya berusaha meremas-remas buah dadanya yang berguncang-guncang naik turun. Aaah…aaah…aaah…Fuck me hard.” teriak Jess. Jess tampak berkeringat. Dia tampak mulai lelah. Saya benar-benar tahan untuk sperma saya tidak muncrat.

Saya benar-benar ingin menikmati hubungan seks yang pertama saya dengan orang bule. Akhirnya dicabut penis saya yang tampak basah dan licin karena cairan atau lendir vaginanya. Dia tampak berbaring disamping saya. Kemudian saya bangun. Giliran saya. Saya diatas dia dibawah. Namanya posisi missionary. Penis saya masukin kembali ke vaginanya. Blss…blss…Kali ini saya yang naik turun. Jess tampak meremas-remas buah dadanya yang penuh dengan keringat.

“I wanna come, Lex.” teriak Jess. “Tunggu, saya juga.” kata saya. Akhirnya kita berorgasme hampir bersamaan. “My cum…” teriak saya. Penis saya tampak berdenyut-denyut memuntahkan seluruh sperma di dalam vaginanya. Sementara itu Jess tampak mengerjang dan setelah itu lemas. Saya cium bibirnya. Akhirnya saya cabut penis saya. Keringat saya berbaur dengan keringatnya. Baru kali ini saya cium keringat orang bule. Saya lihat vaginanya yang tampak ceceran sperma. Kemudian saya ke kamar mandi untuk mengambil tissue.

“Alex, saya mau mandi dulu. Kamu tunggu disini.” kata Jess sambil tersenyum. Saya merasa puas dan bangga. Tiba-tiba Jess menoleh ke belakang saya. “Kamu masih perawan yah sebelum berhubungan dengan seks?” tanyanya. Muka saya agak merah. “Cukup bagus untuk kamu yang belum pernah berhubungan seks dengan wanita. Saya bisa mengalami orgasme.” katanya sambil berlalu.

Dalam keadaan yang masih telanjang, saya masih berbaring di ranjang. Saya lirik ke jam ternyata masih pukul 9:30 malam. Saya benar-benar capai sekali. Samar-samar saya melihat Jess selesai mandi sambil memakai pakaian dalamnya…

Keesokan harinya ketika saya bangun, matahari menerobos dengan kencangnya disela-sela penutup jendela. “Seperti mimpi rasanya semalam.” kata saya. “Jess..Jess..Jess dimana kamu?” kata saya. Saya berkeliling ke seluruh ruangan. Tidak ditemukan jejaknya.

Tiba-tiba mata saya tertuju kepada arah meja. Ada sebuah secarik kertas dengan tulisan:

“TERIMA KASIH UNTUK KENIKMATAN YANG ANDA BERIKAN SEMALAM.”

Jess


Teman suamiku – Teman tidurku

“Percayakah kau bahwa dalam kehidupan seseorang disadari atau tidak dia pasti pernah mempunyai suatu fantasi mengenai kehidupan seksualnya”, kata suamiku pada suatu saat ketika kami sedang bermesraan di tempat tidur.
“Aku tidak mengerti maksudmu?” jawabku.
“Begini.. apakah dia itu seorang pria atau seorang wanita, apakah dia dalam status sebagai seorang suami atau sebagai seorang istri, suatu ketika dia akan pernah mengkhayal atau setidak-tidaknya pernah mempunyai suatu ungkapan imajinasi mengenai keinginan seksualnya yang dia harapkan”, kata suamiku selanjutnya.
“Ooo.. maksudmu suatu khayalan mengenai keinginan seksual?”
“Ya..!”
“Mungkin saja ada..”

“Kalau begitu apabila boleh aku tahu, apa yang menjadi fantasimu?”
“Ah, aku tidak pernah merasa mempunyai fantasi mengenai itu”
“Nah, itulah masalahnya.. kau bukan tidak mempunyai fantasi tetapi tidak menyadari adanya fantasi tersebut. Seperti yang aku katakan tadi fantasi tersebut sebenarnya terdapat pada semua orang, perbedaannya hanyalah disadari atau tidak adanya fantasi tersebut oleh seseorang itu”
“Tetapi aku memang tidak pernah merasa atau memikirkan hal itu, apalagi mengkhayalkannya!”
“Boleh saja seseorang mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suatu fantasi seksual, akan tetapi hal ini bukan berarti dia tidak dapat berfantasi. Hanya saja ungkapan-ungkapan apa yang menjadi imajinasinya serta bagaimana dia mewujudkan fantasinya, antara satu orang dengan lainnya akan sangat berbeda. Hal ini tergantung dari pengaruh sifat pribadi, taraf tingkat hidupnya, serta latar belakang pengalaman dan pendidikannya serta lingkungan sosial di sekitarnya.”
“Misalnya apa..?”
“Ya, misalnya contoh yang paling umum bagi setiap orang, dia selalu mempunyai idola mengenai type lawan jenisnya”

“Ah, itu kan biasa, apalagi untuk anak-anak muda. Kalau sekarang sih bukan waktunya lagi”
“Tapi hal itu tidak terbatas pada saat remaja saja. Bisa saja secara tidak disadari hal itu terjadi sampai seseorang itu sudah dalam kehidupan perkawinan. Misalnya.. mungkin saja suatu saat seseorang mempunyai pikiran atau bayangan bagaimana kiranya kalau melakukan hubungan seks dengan orang yang menjadi idola kita, mungkin dia seorang bintang film atau penyanyi pop yang menjadi pujaan kita. Atau secara umum bagi wanita senang apabila suaminya memakai kumis, atau celana jeans. Demikian juga bagi pria, misalnya senang apabila istrinya berambut panjang atau memakai gaun warna tertentu”

“Ah kau tambah membingungkan saja.. hal itu kan memang wajar-wajar saja apabila seseorang mempunyai anggapan seperti itu”
“Memang betul sekali.. karena fantasi seksual itu memang suatu yang wajar. Adanya suatu fantasi seksual dalam diri seseorang menurut Dr Andrew Stanway, seorang pakar seksualogi dalam bukunya, “The Joy Of Sexual Fantasy” adalah merupakan suatu hal yang normal. Fantasi seksual menurut dia adalah merupakan suatu bagian yang kompleks dari pengalaman seseorang, akan tetapi memang oleh kebanyakan ahli masih mempertanyakan apakah fantasi tersebut merupakan bagian dari suatu mimpi atau merupakan bagian dari suatu pengalaman nyata. Fantasi seksual secara umum berfungsi untuk menyalurkan keinginan alam bawah sadar seksual seseorang menjadi suatu kenyataan dalam suatu bentuk yang dapat diterima. Fantasi seksual secara tidak langsung sebenarnya juga merupakan salah satu mekanisme pembangkit gairah seksual seseorang, karena fantasi seksual menyalurkan sejumlah besar informasi yang tersembunyi di antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang yang berhubungan dengan kegairahan seksnya. Oleh karena itu kadangkala fantasi seks tersebut dapat secara tiba-tiba melanda diri seseorang. Apabila hal tersebut terjadi maka secara tidak disadari seseorang akan mencari penyaluran sampai kepada batas-batas alam kesadarannya. Oleh karena itu pula sangatlah penting bagi kita untuk menyadari dan memahami adanya fantasi tersebut sehingga dapat menyalurkannya sampai kepada batas-batas alam kesadaran kita secara lebih terarah.. kalau tidak mungkin saja seseorang itu akhirnya bertindak yang aneh-aneh”

“Eh tiba-tiba kok kau jadi seorang ahli psikologi, dalam masalah seksualogi lagi, kapan kau belajarnya?”
“Kapan aku belajarnya itu tidak penting.. yang penting sekarang mau tidak kau mengatakan atau mengingat-ingat kira-kira apa yang menjadi fantasimu?”
“Begini saja.. sekarang kau saja dahulu yang mengatakan apakah kau juga mempunyai fantasi tersebut, kau ingin berhubungan seks dengan siapa? Nah ayo katakan!”
“Eh, jangan marah dulu, ya tentunya ada fantasiku itu tapi bukan seperti apa yang kau katakan!”
“Jadi seperti apa?”
“Kalau aku katakan apakah kau tidak terus marah?”
“Mengapa harus marah!”

“Baiklah.. memang selama ini aku merasakan adanya suatu fantasi seks yang membayang dalam diriku, akan tetapi fantasi seks yang kurasakan merupakan sebuah fantasi yang ganjil dan luar biasa”, kata suamiku. Kemudian dia diam sejenak.
“Ayo katakanlah.. aku akan mendengarkannya, apa yang kau maksud dengan ganjil dan luar biasa!” desakku agak penasaran.
“Yah karena fantasi yang kurasakan mungkin akan sangat sulit di pahami karena berkisar kepada masalah hubungan seks antara kau sebagai istriku dengan laki-laki lain sebagai pihak ketiga..”
“Aku tidak jelas akan maksudmu?”

“Begini secara jelasnya.. fantasi tersebut berupa suatu keinginan dalam diriku bahwa aku ingin sekali menyaksikan istriku melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain!”
“Apa..! Aku harus melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?!”
“Ya kira-kira begitu! Apakah hubungan itu dilakukan hanya oleh kau berduaan saja dengan laki-laki lain tersebut dan aku hanya ikut menyaksikannya, atau hubungan seks tersebut dilakukan bersama-sama secara bertiga, yaitu antara kamu dengan laki-laki lain itu dan aku sendiri secara bergantian, atau paling tidak aku ingin melakukan hubungan seks dengan kau sebagai istriku sambil disaksikan oleh laki-laki lain”
“Memang aneh kedengarannya.. dan siapakah laki-laki lain yang kau maksudkan itu?”
“Siapa saja.. asal sehat dan kau senang menerimanya”
“Ah, itu fantasi gila namanya!” jawabku agak terhenyak.
“Nah, katanya kau tidak akan marah tapi sekarang marah”, kata suamiku.
“Bagaimana tidak akan marah.. hal itu kan tidak mungkin.. bayangkan saja apa kata orang kalau mereka tahu aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain!”

“Ya jangan sampai orang tahu..”
“Oke, taruhlah orang tidak tahu, tapi kita kan terlibat dalam suatu lembaga yang disebut lembaga perkawinan.”
“Ya betul, memangnya kenapa?”
“Kau tahu tidak apa artinya itu? Yaitu dimana hubungan seks dengan orang lain di luar pasangan dalam perkawinan kita dianggap sebagai suatu penyelewengan, apalagi kalau itu dilakukan oleh seorang wanita yang berstatus sebagai istri, maka hal ini akan dianggap suatu kesalahan yang sangat besar sekali!”
“Justru itulah sekarang aku bertanya kepadamu, karena aku tahu hal itu sangat susah untuk diwujudkan kalau hanya aku saja yang berkeinginan, akan tetapi sebaliknya hal itu tentu juga sangat mudah dapat dilakukan apabila kita berdua sepakat. Nah, kalau kesepakatan ini ada, maka hal ini berarti juga tidak ada penyelewengan!”
“Tidak ada penyelewengan yang bagaimana maksudmu?!”
“Ya sebagaimana yang kau katakan tadi!”
“Aku tidak mengerti maksudmu?”

“Begini, kita harus lihat dahulu apa sih definisi dari suatu penyelewengan, yaitu suatu perbuatan yang menyimpang dari suatu tujuan atau maksud. Jadi penyelewengan dalam perkawinan artinya juga suatu perbuatan yang menyimpang dari suatu tujuan atau maksud dalam perkawinan. Karena dalam perkawinan itu terlibat kepentingan dari dua orang maka pengertian penyelewengan dalam perkawinan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan pengkhianatan, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pasangan hidupnya secara diam-diam tanpa diketahui apalagi disetujui oleh pasangan lainnya.”
“Jadi apa hubungannya dengan yang kau maksudkan tidak ada penyelewengan di sini?”
“Ya seperti yang aku katakan tadi, bahwa untuk melaksanakan fantasiku itu, aku telah sepakat dan bahkan telah memberikan izin kepadamu sebagai suami untuk melakukan hubungan seks dengan orang lain, jadi sudah barang tentu unsur penyelewengan tadi tidak berlaku lagi karena kita sama-sama menyetujui, bahkan dengan restu suami!”
“Nah, sekarang kau juga telah jadi pokrol bambu! Bikin argumentasi seenaknya saja! Masalahnya kan bukan sampai disitu saja, tapi ada konsekwensi yang lain, terutama untuk aku!”
“Misalnya apa?”

“Taruhlah aku mau melakukan hal itu, maka ada suatu konsekwensi yang akan aku tanggung, yaitu apabila terjadi sesuatu hal terhadap perkawinan kita dan terjadi perpecahan, maka kau akan dapat saja berkata kepada orang lain bahwa hal itu disebabkan karena kesalahan dariku. Kau dapat saja mengatakan aku telah menyeleweng berkali-kali dengan laki-laki lain dan orang lain tidak akan percaya bahwa kesemuanya itu sebenarnya kau yang mengaturnya. Demikian juga seandainya laki-laki lain yang kau beri kesempatan untuk berhubungan seks denganku pada suatu saat menceritakan pengalamannya tersebut kepada orang lain, maka akan hancurlah diriku, karena walaupun bagaimana orang lain tidak akan percaya bahwa kesemuanya itu justru atas permintaanmu sebagai suami, semua orang akan menuduhku sebagai seorang istri yang serong”

“Akan tetapi sungguh mati selama ini tidak pernah terlintas dalam benakku untuk berbuat seperti itu. Aku meminta istriku untuk melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain bukan bertujuan karena ingin memojokkanmu suatu waktu guna kepentinganku sendiri akan tetapi malahan sebaliknya yaitu agar kehidupan perkawinan kami tetap bergairah dan langgeng, karena aku akan mendapat kepuasan lahir dan batin hanya dari istriku yang sekarang. Sehingga istriku yang sekarang ini benar-benar merupakan teman hidup bagiku karena dia merupakan ibu dari anak-anakku, temanku berdiskusi dan menumpahkan perasaan serta sekaligus merupakan teman berkencan dalam menyalurkan hasrat seks!” kata suamiku agak terkejut.

Setelah diam sejenak selanjutnya dia berkata, “Mengenai kemungkinan laki-laki itu akan bercerita kepada orang lain memang ada, akan tetapi apabila memang hal itu terjadi, maka akan sangat mudah sekali ditangkal karena justru orang lain tidak akan percaya kepada cerita dia. Apalagi bila aku memberikan kesaksian bahwa kesemuanya itu hanyalah karangan dia semata-mata sehingga hal itu benar-benar merupakan suatu fitnah saja”
“Baiklah kalau begitu, yang penting kini aku juga ingin tahu mengapa sih kau mempunyai fantasi seperti itu?”
“Entahlah, aku sendiri tidak tahu mengapa mempunyai fantasi seperti itu. Tapi yang jelas aku merasakan adanya suatu rangsangan gairah birahi yang hebat apabila aku melihat ada seseorang laki-laki yang tertarik dan memperhatikan bagian tubuhmu yang secara tidak sengaja terbuka.”
“Misalnya..”

“Ya, misalnya ketika kita berlibur di pantai. Saat itu kau mengenakan pakaian renang. Dan aku tahu saat itu ada beberapa laki-laki memperhatikan bentuk tubuhmu. Mula-mula memang aku agak merasa cemburu, akan tetapi lama-kelamaan hal itu menimbulkan semacam suatu imajinasi dalam diriku. Apalagi apabila aku melihat kau bertelanjang bulat di kamar.”
“Lha, memangnya kenapa? Aku kan bertelanjang bulat di kamar sendiri dan yang lihat hanya kamu sendiri saja?”
“Justru itu yang merangsang imajinasiku.”
“Kalau begitu aku tidak akan berbuat itu lagi!” kataku.

“Eh, jangan salah sangka. Aku senang melihat itu semua. Malahan kalau kau mau, boleh saja kau berkeliaran dalam rumah dengan bertelanjang bulat seperti yang kau lakukan di kamar, karena terus terang hal itu membangkitkan rasa birahiku. Aku merasa nikmat memperhatikanmu berkeliaran di kamar dengan berpolos bugil. Dan dalam keadaan itu pula kadang-kadang aku berpikir apakah laki-laki lain juga akan bangkit birahinya apabila melihat keseluruhan bentuk tubuh istriku ini. Dan bagaimanakah seandainya tubuh istriku yang segar berisi itu dinikmati pula oleh laki-laki lain. Imajinasi itu akhirnya menimbulkan suatu kenikmatan seksual yang lain bagiku. Apalagi bila aku membayangkan bahwa ternyata laki-laki tersebut memang sangat terangsang oleh keindahan tubuh istriku dan berusaha untuk menikmatinya di tempat tidur. Imajinasiku itu selanjutnya terus berkembang yaitu apakah istriku ini kira-kira juga tertarik untuk merasakan hubungan seks dengan laki-laki lain dan bagaimanakah kiranya sikap istriku ketika melayani laki-laki lain tersebut. Apakah dia juga akan menjadi sangat lebih bergairah? Dan apakah dia akan mendapatkan kepuasan seks yang lebih besar lagi?” bisik suamiku.

Lalu ia menambahkan, “Kenikmatan seksual yang kurasakan akan menjadi lebih hebat lagi apabila aku terus membayangkan bagaimana istriku dengan tubuhnya yang dalam keadaan polos bugil bergumul dengan hebat dengan tubuh laki-laki tersebut yang juga berada dalam keadaan berpolos bugil. Terlebih lagi apabila aku membayangkan bahwa ternyata ukuran alat kejantanan laki-laki tersebut jauh lebih besar dari pada ukuran alat kejantananku sendiri, dan istriku benar-benar sangat tergiur akan kehebatan alat kejantanan itu, sehingga ketika laki-laki itu menindihkan tubuhnya ke tubuh istriku dan memasukkan alat kejantanannya ke liang istriku, aku menyaksikan istriku menjadi bergelinjang dengan hebat merasakan alat kejantanan tersebut tertanam dalam-dalam di liang senggamanya. Kemudian aku pun membayangkan bagaimana ketika laki-laki tersebut mulai mengayunkan tubuhnya di atas tubuh istriku dan istriku menjadi tambah hebat bergelinjang sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan turun-naiknya alat kejantanan laki-laki tersebut yang memberikan suatu kenikmatan lain daripada yang pernah dirasakannya dari alat kejantananku sendiri. Selanjutnya aku pun membayangkan bagaimana ekspresi istriku dan laki-laki itu ketika mencapai dan melepaskan puncak ejakulasi bersama dengan penuh kepuasan”, kata suamiku.

“Ah, sangat mengerikan sekali fantasimu.”
“Tapi ini kan baru fantasi.. apabila menjadi kenyataan mungkin tidak mengerikan lagi, tapi.. mengasyikan!” kata suamiku sambil tertawa.
“Tidak lucu ah!” kataku sambil memukul punggungnya.
“Eh, jangan jadi sewot! Diberi kesempatan enak malah marah. Jarang kan suami yang sebaik itu yang mengizinkan istrinya boleh main dengan laki-laki lain. Malahan bukan itu saja kadang-kadang aku juga sering membayangkan bagaimana rasanya apabila aku mempunyai seorang istri yang hiperseks atau seorang istri yang senang menyeleweng dengan laki-laki lain.”
“Apa maksudmu dengan itu..? Jadi kau tuduh aku ini pernah menyeleweng?!” jawabku agak tersinggung.

“Bukan itu maksudku, tapi itu adalah kelanjutan dari ungkapan imajinasi fantasi seksualku, seperti yang kukatakan tadi, aku kan ingin sekali melihat istriku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, sehingga hal itu menimbulkan semacam imajinasi lanjutan dalam diriku mengenai type istri yang bagaimana yang kira-kira kuinginkan, atau paling tidak, aku kira-kira ingin mempunyai seorang istri yang berpandangan sangat bebas mengenai masalah hubungan seks, tidak posesif dan memandang masalah hubungan seks dengan laki-laki lain atau sebaliknya bukan merupakan suatu masalah yang tabu melainkan sesuatu yang wajar dan dapat dinikmati bersama”, kata suamiku selanjutnya.

“Bilang saja terus terang kau yang mau melakukan hubungan seks dengan wanita lain! Kalau begitu carilah type istri sebagaimana yang kamu idamkan.. karena bagiku tidak mungkin melakukan hal tersebut! Kalau mau, kau lakukan sendiri saja! Jangan ajak-ajak orang!” kataku bertambah ketus.
“Nah, lagi-lagi marah. Ini kan semua baru gagasan. Siapa tahu kau mau?” balas suamiku.
“Mau apanya? Lagi pula sekiranya aku mau melakukan hal itu, aku lakukan saja sendiri secara diam-diam”, kataku dengan hati yang agak mendongkol.

“Bukan itu maksudku.. aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencari istri lain, akan tetapi justru kamulah yang aku inginkan menjadi type istri sebagaimana yang aku idamkan”, kata suamiku.
“Jadi aku harus menyeleweng dan melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, begitu maksudmu?”
“Ada benarnya dan ada tidaknya”, kata suamiku.
“Benar dan tidak bagaimana?”

“Benarnya memang aku ingin melihat kamu melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain, tidak benarnya adalah hal itu bukan berarti kamu harus menyeleweng, karena seperti yang aku katakan tadi kesemuanya itu berdasarkan persetujuan dan permintaanku sebagai suami, jadi unsur penyelewengan di sini sekali lagi aku katakan sama sekali tidak ada.. tapi apabila kau lakukan secara diam-diam maka itu baru namanya penyelewengan”, kata suamiku.
“Benar-benar kamu tidak menyesal apabila aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain?” kataku menegaskan.
“Malahan sebaliknya.. karena hal itu justru aku rasakan sebagai penambah semangat dan gairahku terhadapmu. Mungkin kau merasakan bagaimana keadaanku selama ini, aku merasa kehilangan gairah dalam bercinta dan merasa sangat lelah sekali. Hal ini disebabkan aku merasakan fantasi itu sedemikian membebani diriku”, kata suamiku.

Kini aku tahu bahwa masalah yang dihadapi suamiku selama ini adalah beban psikologis. Fantasi seksualnya telah membebani pikiran suamiku sedemikian hebatnya sehingga mempengaruhi kualitas hubungan seksual kami sebagai suami-istri. Memang aku merasakan akhir-akhir ini suamiku sering menjadi gelisah sendiri dan tidak tahu apa yang harus diperbuat dan merasa sangat letih sekali baik fisik maupun mental. Hal tersebut berpengaruh juga terhadap kualitas hubungan seks kami. Aku merasakan gairah suamiku menjadi agak menurun. Suamiku sering mengalami prematur ejakulasi dan telah mencapai puncak ejakulasi hanya dalam beberapa detik saja begitu dia melakukan penetrasi, bahkan kadang-kadang telah orgasme sebelum sempat melakukan persetubuhan sama sekali. Oleh karena itu suamiku mulai rajin mengkonsumsi vitamin dan makanan yang dapat meningkatkan potensi laki-laki, akan tetapi sejauh itu hal tersebut sama sekali tidak membantu.

Di lain keadaan hal ini membawa dampak juga terhadap diriku. Secara terus terang aku pun terkadang merasa kurang mendapat kepuasan dalam hubungan suami istri. Kuakui selama ini aku juga sering mengalami gejolak birahi yang tiba-tiba muncul, terutama di pagi hari apabila malamnya kami melakukan hubungan intim dan suamiku tidak dapat melakukannya secara sempurna. Hal ini dimaklumi oleh suamiku karena dia tahu bagaimana kualitas hubungan suami-istri kami belakangan ini. Oleh karena itu suamiku membeli sebuah alat vibrator. Suamiku mengatakan alat itu mungkin secara tidak langsung dapat membantu kami untuk mendapatkan kepuasan dalam hubungan suami istri. Pada mulanya aku memakai alat itu sebagai simulator sebelum kami berhubungan badan. Akan tetapi lama kelamaan secara diam-diam aku sering pergunakan alat tersebut sendirian di pagi hari untuk menyalurkan hasrat kewanitaanku yang aku rasakan semakin meluap-luap.

Rupanya fantasi seksual suamiku tersebut bukan hanya merupakan sekadar fantasi saja akan tetapi dia sangat bersikeras untuk dapat mewujudkannya menjadi suatu kenyataan. Selama ini suamiku terus membujukku agar aku mau membantunya dalam melaksanakan fantasinya. Apabila aku menolaknya atau tidak mau membicarakan hal tersebut, tidak jarang akhirnya kami terlibat dalam suatu pertengkaran yang hebat. Malahan bukan itu saja. Gairah seks-nya pun semakin bertambah turun. Hal ini lama-kelamaan membuatku menjadi agak khawatir juga, aku takut suamiku akan menderita impotensi. Aku berpikir bahwa aku harus membantu suamiku walaupun konsekuensi yang aku khawatirkan akan terjadi. Oleh karena itu aku mengalah dan berjanji akan membantunya sepanjang aku dapat melakukannya dan kutegaskan kepada suamiku bahwa aku mau melakukan hal itu hanya untuk sekali ini saja.

“Aku telah mengundang Syamsul untuk makan malam di sini malam ini”, kata suamiku di suatu hari sabtu. Aku agak terkesiap mendengar kata-kata suamiku itu. Aku berfirasat bahwa suamiku akan memintaku untuk mewujudkan niatnya bersama dia, karena Syamsul adalah salah seorang yang sering disebut-sebut oleh suamiku sebagai salah satu orang yang katanya cocok untuk diriku dalam melaksanakan fantasi seksual-nya dan kebetulan saat itu semua anak-anak sedang libur bersama kawan-kawannya ke luar kota sehingga tinggal aku dan suamiku saja yang berada di rumah.

Memang selama ini sudah ada beberapa nama kawan-kawan suamiku maupun kenalanku sendiri yang disodorkan kepadaku yang dianggap cocok untuk melakukan hubungan seks denganku, salah seorangnya adalah Syamsul. Akan tetapi sejauh ini aku masih belum menanggapi secara serius tawaran dari suamiku tersebut dan juga kebetulan kami tidak mempunyai kesempatan yang baik untuk itu. Syamsul adalah salah seorang kawan dekatnya dan aku pun kenal baik dengan dia. Secara terus terang memang kuakui juga penampilan Syamsul tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun lebih kekar dan atletis dari tubuh suamiku.

Aku berpikir tidak ada lagi gunanya aku berargumentasi dengan suamiku. Kehendaknya agar aku melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain sedemikian kuat. Hal itu sebenarnya membuatku agak tersinggung juga. Karena hal ini hanya biasa dilakukan oleh seorang wanita penghibur atau dengan kata lain seorang pelacur dan suamiku menghendaki aku melakukan hal seperti itu walaupun dengan alasan lain. Namun mengingat kehendak suamiku itu merupakan suatu akibat dari gejala psikologi, maka aku kesampingkan masakah harga diri itu. Aku hanya berpikir bagaimana aku dapat membantu suamiku mengatasi masalahnya. Selain itu aku pun mengharap bahwa dengan aku penuhinya fantasi seksualnya itu malam ini, maka suamiku tidak akan lagi mempunyai fantasi semacam itu karena secara psikologis keinginannya telah tercapai.

Ketika Syamsul datang, aku sedang merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi sebagaimana anjuran suamiku agar aku terlihat menarik. Dari cermin rias di kamar tidurku, kudapati gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Buah dadaku kelihatan menonjol membentuk dua buah bukit daging yang indah. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin akhirnya aku jadi agak tertarik juga memperhatikan penampilan keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku masih tetap ramping dan seimbang, tidak dipenuhi oleh lemak sebagaimana ibu-ibu rumah tangga lainnya yang seumurku. Buah dadaku yang subur juga kelihatan masih sangat kenyal dan padat berisi. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol penuh dengan daging yang lembut namun terasa kenyal. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih tanpa adanya cacat keriput di sana-sini membuat bentuk keseluruhan tubuhnya menjadi sangat sempurna.

Melihat penampilan keseluruhan bentuk tubuhku itu secara terus terang timbul naluri kewanitaanku bahwa aku bangga akan bentuk tubuhku. Oleh sebab itu aku berpikir pantas saja suamiku mempunyai imajinasi yang sedemikian terhadap laki-laki yang memandang tubuhku karena bentuk tubuhku ini memang menggiurkan selera kaum pria.

Setelah makan malam suamiku dan Syamsul duduk mengobrol di taman belakang rumahku dengan santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir yang dicampur dengan arak ginseng dari Cina. Tidak berapa lama aku pun ikut duduk minum bersama mereka. Malam itu benar-benar hanya tinggal kami bertiga saja di rumah. Kedua pembantuku yang biasa menginap, tadi siang telah kuberikan istirahat untuk pulang ke rumah masing-masing. Ketika hari telah menjelang larut malam dan udara mulai terasa dingin tiba-tiba suamiku berbisik kepadaku.

“Aku telah bicara dengan Syamsul mengenai rencana kita. Dia setuju dan malam ini dia akan menginap di sini! Tapi walaupun demikian kau tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hubungan seks dengannya apabila memang suasana hatimu memang belum berkenan, kuserahkan keputusan itu sepenuhnya kepadamu!” bisik suamiku selanjutnya. Mendengar bisikan suamiku itu aku diam saja. Aku tidak menunjukkan sikap yang menolak atau menerima. Aku merasa sudah berputus asa bahkan aku merasa benar-benar nekat menantang kemauan suamiku itu. Aku mau lihat bagaimana reaksinya nanti bila aku benar-benar bersetubuh dengan laki-laki lain. Apakah dia nanti tidak akan menyesal bahwa istrinya telah dinikmati orang lain? Atau setidak-tidaknya seluruh bagian tubuh istrinya yang sangat rahasia telah dilihat dan dinikmati oleh laki-laki lain. Apalagi bila dalam rahimku nanti akan tersebar benih laki-laki lain selain dari benih suamiku sendiri.

Tidak berapa lama kemudian aku masuk ke kamar dan siap untuk pergi tidur. Secara demonstratif aku memakai baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga buah dadaku terlihat membayang di balik baju tidur itu. Ketika aku keluar kamar, baik suamiku maupun Syamsul agak terhenyak untuk beberapa saat. Akan tetapi mereka segera dapat menguasai dirinya kembali dan suamiku langsung berkata kepadaku.
“Syamsul baru saja cerita bahwa dia telah mempelajari pijat refleksi Siatzu. Aku rasa kau harus coba! Apa benar dia bisa! Kau mau kan..?” tanya suamiku kepadaku.
“Boleh saja..!” jawabku sambil agak merapatkan leher baju tidurku sehingga siluet puting susuku kini tercetak dengan lebih jelas.
“Ah sebenarnya aku tidak terlalu mahir..!” kata Syamsul, “Tapi bila mau dicoba boleh saja. Nanti setelah pijat Siatzu, saya juga akan memberikan pijatan dengan tehnik kucing mandi”, katanya lagi.
“Oo ya.. tehnik apa itu?” aku bertanya agak heran.
“Susah diterangkan sekarang, nanti saja deh kalau pijat refleksinya sudah selesai.”
“Ayo..!” kata suamiku dengan wajah yang berseri-seri dan semangat yang tinggi suamiku mengajak kami segera masuk ke kamar tidur.

Dengan berpura-pura tenang aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur untuk siap dipijit. Sebenarnya aku tetap masih merasa risih tubuhku dijamah oleh seorang laki-laki lain apalagi aku dalam keadaan hanya memakai sehelai baju tidur nylon yang tipis dan tanpa BH. Akan tetapi kupikir aku harus berusaha tetap tenang agar keinginan suamiku dapat terwujud dengan baik.

Mula-mula Syamsul memijit sekitar bagian punggungku dengan lembut kemudian secara perlahan-lahan terus turun ke bawah menelusuri bagian pinggulku. Sementara itu aku terus berusaha sekuat tenaga menekan perasaan risih dan malu dengan melepaskan pikiranku dari kedua hal tersebut dan berusaha menikmati pijitan Syamsul itu yang sebenarnya lebih tepat dikatakan rabaan dan sentuhan di tubuhku. Rupanya usahaku itu berhasil dengan baik, akan tetapi lama-kelamaan secara tidak langsung aku jadi terbawa oleh semacam arus sensasional yang menjalar dalam tubuhku. Apalagi ketika tangan Syamsul tiba pada bagian belahan pantatku yang gempal lembut kemudian meremas-remas dengan halus pinggul serta daging pantatku yang hanya ditutupi oleh gaun tidur nylon yang tipis maka terasa adanya suatu gejolak hangat dalam diriku. Aku menjadi pasrah dan benar-benar mulai menikmati pijitannya itu.

Selanjutnya kurasakan tangan Syamsul mulai lebih berani lagi menyentuh tubuhku dengan sentuhan-sentuhan yang semakin lama semakin nakal. Bahkan dia kini berusaha membuka baju tidurku dan menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Aku hanya dapat memejamkan mata dan pasrah saja menahan perasaan malu bercampur gejolak dalam diriku ketika tubuhku ditelanjangi di hadapan suamiku sendiri. Kemudian dia menelentangi tubuhku dan menatap dengan penuh selera tubuhku yang telah berpolos bugil sepuas-puasnya. Aku benar-benar tidak dapat melukiskan betapa perasaanku saat itu. Seumur hidupku, aku belum pernah bertelanjang bulat di hadapan laki-laki lain apalagi dalam situasi seperti sekarang ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi rahasia tubuhku yang tidak diketahui Syamsul.

Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba kurasakan Syamsul mulai melumat bibirku dalam suatu adegan cium yang panjang dan berapi-api. Selanjutnya ketika bibir kami terlepas Syamsul berbisik kepadaku bahwa sekarang saatnya dia akan melakukan tehnik pijitan kucing mandi. Berbarengan dengan itu dia mulai menjilati seluruh tubuhku yang telanjang dengan lidahnya bagaikan seekor kucing yang sedang memandikan anaknya. Aku berpikir jadi inilah yang dia maksudkan dengan tehnik kucing mandi. Aku menjadi menggelinjang, entah karena apa. Tapi yang terang aku merasakan seluruh pembuluh darah di tubuhku menjadi bergetar dan aku terlambung dalam suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan selama ini. Apalagi sambil menjilati tubuhku dia juga meremas dan menghisap buah dadaku dengan lahap, menjilati liang kewanitaanku dengan rakusnya dan sementara itu suamiku hanya menonton saja dengan asyiknya seperti orang dungu.

Suamiku kelihatan benar-benar menikmati adegan tersebut. Tanpa berkedip dia menyaksikan bagaimana tubuh istrinya digarap dan dinikmati habis-habisan oleh laki-laki lain. Sebagai seorang wanita normal keadaan ini mau tidak mau akhirnya membuatku terbenam juga dalam suatu arus birahi yang hebat. Jilatan-jilatan Syamsul di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat menahan arus birahi yang belum pernah kurasakan selama ini.

Tidak berapa lama kemudian Syamsul berdiri di hadapanku melepaskan celananya sehingga dia juga kini berada dalam keadaan bertelanjang bulat. Saat itu pula aku dapat menyaksikan ukuran alat kejantanan Syamsul yang telah menjadi tegang ternyata memang jauh lebih besar dan panjang dari ukuran alat kejantanan suamiku. Bentuknya pun agak berlainan. Ukuran alat kejantanan Syamsul hampir sebesar lengan bayi dan bentuknya agak membengkok ke kiri.

Kemudian dia menyodorkan alat kejantanannya tersebut ke hadapan wajahku. Secara reflek aku segera menggenggam alat kejantanannya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku tidak pernah membayangkan selama ini bahwa aku akan pernah memegang alat kejantanan seorang laki-laki lain di hadapan suamiku. Oleh karena itu aku melirik kepada suamiku. Kulihat dia semakin bertambah asyik menikmati bagian dari adegan itu tanpa memikirkan perasaanku sebagai istrinya yang sedang digarap habis-habisan oleh seorang laki-laki lain. Dalam hatiku tiba-tiba muncul kembali perasaan geramku terhadap suamiku, sehingga dengan demonstratif kuraih alat kejantanan Syamsul itu ke dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya.

Aku merasa sudah kepalang basah maka aku akan nikmati alat kejantanan itu dengan sepuas-puasnya sebagaimana kehendak suamiku. Kuluman dan hisapanku itu membuat alat kejantanan Syamsul yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. Di lain keadaan dari alat kejantanan Syamsul yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang belum pernah kurasakan selama ini. Aroma itu menimbulkan suatu rasa sensasional dalam diriku dan liang kewanitaanku mulai terasa menjadi liar hingga secara tidak sadar membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap alat kejantanan itu lebih hebat lagi secara bertubi-tubi.

Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat Syamsul tidak tahan lagi. Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku pun kini semakin nekad dan pasrah untuk melayaninya. Aku segera membuka kedua belah pahaku lebar-lebar. Berbarengan dengan itu kurasakan alat kejantanannya kini menghimpit dengan tepat di liang surgaku dan selanjutnya secara perlahan-lahan langsung memasuki dengan mudah ke dalam liang kenikmatanku yang telah menganga lebar dan licin dengan cairan birahi.

Aku agak terlonjak sejenak ketika merasakan alat kejantanan Syamsul itu menerobos ke dalam liang kemaluanku dan menyentuh leher rahimku. Aku terlonjak bukan karena alat kejantanan itu merupakan alat kejantanan dari seorang laki-laki lain yang pertama yang kurasakan memasuki tubuhku selain alat kejantanan suamiku, akan tetapi lebih disebabkan aku merasakan alat kejantanan Syamsul memang terasa lebih istimewa daripada alat kejantanan suamiku, baik dalam ukuran maupun ketegangannya. Selama hidupku memang aku tidak pernah melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain selain suamiku sendiri dan keadaan ini membuatku berpikiran lain. Aku tidak menyangka ukuran alat kejantanan seorang laki-laki sangat berpengaruh sekali terhadap kenikmatan seks seorang wanita. Oleh karena itu secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang Syamsul erat-erat untuk selanjutnya aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh Syamsul.

Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat. Sementara itu aku pun kembali melirik ke arah suamiku. Kudapati suamiku agak ternganga menyaksikan bagaimana diriku disetubuhi oleh Syamsul. Melihat penampilan suamiku itu, timbul kembali geram di hatiku, maka secara lebih demonstratif lagi kulayani permainan Syamsul sehebat-hebatnya secara aktif bagaikan adegan dalam sebuah film biru. Keadaan ini tiba-tiba membuatku merasakan ada suatu kepuasan dalam diriku. Hal itu bukan saja disebabkan oleh kenikmatan seks yang sedang kualami bersama Syamsul, akan tetapi aku juga memperoleh suatu kepuasan lain yaitu aku telah dapat melampiaskan rasa kesalku terhadap suamiku. Suamiku menghendakiku berhubungan seks dengan laki-laki lain dan malam ini kulaksanakan sepuas-puasnya, sehingga malam ini aku bukan seperti aku yang dulu lagi. Diriku sudah tidak murni lagi karena dalam tubuhku telah hadir tubuh laki-laki lain selain suamiku.

Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba Syamsul menghentikan gerakannya dan mengeluarkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegar dari liang kenikmatanku. Kupikir dia telah mengalami ejakulasi dini. Pada mulanya aku agak kecewa juga karena aku sendiri belum merasakan apa-apa. Bahkan aku tidak merasakan adanya sperma yang tumpah dalam rahimku. Akan tetapi rupanya dugaanku salah, kulihat alat kejantanannya masih sangat tegar berdiri dengan kerasnya. Syamsul menghentikan persetubuhannya karena dia meminta suamiku menggantikannya untuk meneruskan hubungan seks tersebut. Kini dia yang akan menonton diriku disetubuhi oleh suamiku sendiri.

Suamiku dengan segera menggantikan Syamsul dan mulai menyetubuhi diriku dengan hebat. Kurasakan nafsu birahi suamiku sedemikian hebat dan bernyala-nyala sehingga sambil berteriak-teriak kecil dia menghunjamkan tubuhnya ke tubuhku. Akan tetapi apakah karena aku masih terpengaruh oleh pengalaman yang barusan kudapatkan bersama Syamsul, maka ketika suamiku menghunjamkan alat kejantanannya ke dalam liang kenikmatanku, kurasakan alat kejantanan suamiku itu kini terasa hambar. Kurasakan otot-otot liang senggamaku tidak lagi sedemikian tegangnya menjepit alat kejantanan itu sebagaimana ketika alat kejantanan Syamsul yang berukuran besar dan panjang itu menerobos sampai ke dasar liang senggamaku. Alat kejantanan suamiku kurasakan tidak sepenuhnya masuk ke dalam liang senggamaku dan terasa lebih lembek bahkan dapat kukatakan tidak begitu terasa lagi dalam liang senggamaku yang kini telah pernah diterobos oleh sesuatu benda yang lebih besar.

Di lain keadaan mungkin disebabkan pengaruh minuman alkohol yang terlalu banyak, atau mungkin juga suamiku telah berada dalam keadaan yang sedemikian rupa sangat tegangnya, sehingga hanya dalam beberapa kali saja dia mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku dan dalam waktu kurang dari satu menit, suamiku telah mencapai puncak ejakulasi dengan hebat. Malahan karena alat kejantanan suamiku tidak berada dalam liang kewanitaanku secara sempurna, dia telah menyemprotkan separuh spermanya agak di luar liang kewanitaanku dengan berkali-kali dan sangat banyak sekali sehingga seluruh permukaan kemaluan sampai ke sela pahaku basah kujub dengan cairan sperma suamiku. Selanjutnya suamiku langsung terjerembab tidak bertenaga lagi terhempas kelelahan di sampingku.

Sementara itu aku masih dalam keadaan liar. Bagaikan seekor kuda betina binal aku jadi bergelinjangan tidak karuan karena aku belum sempat mengalami puncak ejakulasi sama sekali semenjak disetubuhi oleh Syamsul. Oleh karena itu sambil mengerang-erang kecil aku raih alat kejantanan suamiku itu dan meremas-remasnya dengan kuat agar dapat segera tegang kembali. Akan tetapi setelah berkali-kali kulakukan usahaku itu tidak membawa hasil. Alat kejantanan suamiku malahan semakin layu sehingga akhirnya aku benar-benar kewalahan dan membiarkan dia tergolek tanpa daya di tempat tidur. Selanjutnya tanpa ampun suamiku tertidur dengan nyenyak dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.

Aku segera bangkit dari tempat tidur dalam keadaan tubuh yang masih bertelanjang bulat menuju kamar mandi yang memang menyatu dengan kamar tidurku untuk membersihkan cairan sperma suamiku yang melumuri tubuhku. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba Syamsul yang masih dalam keadaan bertelanjang bulat menyusul ke dalam kamar mandi. Dia langsung memelukku dari belakang sambil memagut serta menciumi leherku secara bertubi-tubi. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir bak mandi sehingga aku kini berada dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian Syamsul menyetubuhi diriku dari belakang dengan garangnya sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak ejakulasi terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, Syamsul menarik alat kejantanannya dari liang sengamaku, kemudian dengan sangat brutal dia segera menggarap lubang duburku. Aku jadi agak terpekik keras dan bergelinjang dengan hebat ketika alat kejantanannya itu tiba-tiba memasuki lubang duburku.

Tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata betapa perasaanku saat itu mendapatkan pengalaman yang belum pernah kurasakan sama sekali. Selama ini suamiku sendiri belum pernah menyetubuhi duburku sebagaimana yang dilakukan Syamsul sekarang ini. Ketika kami sedang asyik melakukan anal seks, tiba-tiba suamiku menyusul ke kamar mandi. Dia kelihatan tidak senang kami melakukan hubungan seks di kamar mandi. Dengan nada suara yang agak keras dia memerintahkanku untuk segera kembali ke kamar dan melakukan hubungan seks di sana, di hadapannya.

Dengan masih tetap berbugil aku kembali ke kamar tidur dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Sementara itu suamiku mengikuti merebahkan diri di tempat tidur tapi untuk selanjutnya dia tertidur kembali dengan nyenyaknya. Rupanya suamiku benar-benar kelelahan disebabkan oleh suatu tekanan ketegangan syaraf yang tinggi dan juga agak setengah mabuk karena mengkonsumsi alkohol terlalu banyak. Sedangkan aku justru sebaliknya. Seluruh tubuhku terasa menjadi tidak karuan, kurasakan liang kenikmatanku dan lubang duburku berdenyut agak aneh dalam suatu gerakan liar yang sangat sukar sekali kulukiskan dan belum pernah kualami selama ini. Aku kini tidak dapat tidur walaupun barusan aku telah mengalami orgasme di kamar mandi bersama Syamsul.

Dalam keadaan yang sedemikian tiba-tiba Syamsul muncul di hadapanku. Dia masih tetap bertelanjang bulat sebagaimana juga diriku. Dengan tatapan yang tajam dia menarikku dari tempat tidur dan mengajakku tidur bersamanya di kamar tamu di sebelah kamarku. Bagaikan didorong oleh suatu kekuatan hipnostisme yang besar, aku mengikuti Syamsul ke kamar sebelah. Kami berbaring di ranjang sambil berdekapan dalam keadaan tubuh masing-masing masih bertelanjang bulat bagaikan sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu. Memang saat itu aku merasa diriku seakan berada dalam suatu suasana yang mirip pada saat aku mengalami malam pengantinku yang pertama. Sambil mendekap diriku Syamsul terus-menerus menciumiku sehingga aku kembali merasakan suatu rangsangan birahi yang hebat. Dan tidak lama kemudian tubuh kami kami pun sudah bersatu kembali dalam suatu permainan persetubuhan yang dahsyat.

Tidak berapa lama kemudian Syamsul membalikkan tubuhku sehingga kini aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih alat kejantanannya dan memandunya ke arah liang senggamaku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh Syamsul dan mulai mengayunkan tubuhku turun naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu Syamsul dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin cepat aku menggerakkan tubuhku turun naik di atas tubuh Syamsul dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi terpekik kecil melepaskan puncak ejakulasi dengan hebat dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh Syamsul.

Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh Syamsul, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat. Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku ke atas sehingga liang kenikmatanku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya Syamsul mengacungkan alat kejantanannya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang kewanitaanku dan menghunjamkan kembali alat kejantanannya tersebut ke tubuhku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika alat kejantanan Syamsul mulai menerobos dengan buasnya ke dalam tubuhku dan membuat gerakan mundur maju dalam liang senggamaku. Aku pun kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun naiknya alat kejantanan Syamsul yang semakin lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku.

Kami bergumul bagaikan dua ekor binatang liar yang sedang bertarung, saling hempas dan saling bantai tubuh masing-masing dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan apa-apa lagi kecuali berlomba untuk menggali segala kenikmatan dari tubuh masing-masing. Nafas kami semakin memburu berdesah-desah dengan kencang yang kadang-kadang diselingi dengan pekikan kecil di luar kesadaran masing-masing. Tubuh bugil kami yang sedang bersatu padu itu pun basah dengan keringat. Aku merasakan betapa liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Syamsul yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya serta melumat seluruh otot-ototnya yang kekar dengan rakusnya.

Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras karena mencapai puncak orgasme berkali-kali, sementara itu Syamsul masih tetap tegar dan perkasa mengayunkan tubuhnya di atas tubuhku. Akan tetapi akhirnya kulihat Syamsul tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku sehingga seluruh cairan birahinya terhisap dalam tubuhku sampai titik penghabisan. Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, alat kejantanan Syamsul masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.

Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, Syamsul mulai bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Selanjutnya kubenamkan wajahku ke dadanya mengecup puting susunya sambil menjilati permukaan dada yang bidang dan penuh dengan bintik-bintik keringat. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu. Akan tetapi yang terang kurasakan keringat Syamsul saat itu membuat semacam rangsangan yang lain dalam diriku.

Syamsul agak memejamkan matanya menikmati sentuhan-sentuhan ujung lidahku itu, sementara itu tangannya dengan halus membelai-belai rambutku sebagaimana seorang suami yang sedang mencurahkan cinta kasihnya kepada istrinya. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat alat kejantanan Syamsul mulai kembali menegang tegak sehingga secara serta merta Syamsul segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar untuk kemudian mulai menyetubuhi diriku kembali.

Berlainan dengan suasana permulaan yang kualami tadi, dimana kami melakukan persetubuhan dalam suatu pertarungan yang dahsyat dan liar. Kali ini kami bersetubuh dalam suatu gerakan yang santai dalam suasana yang romantis dan penuh perasaan. Kami menikmati sepenuhnya sentuhan-sentuhan tubuh telanjang masing-masing dalam suasana kelembutan yang mesra bagaikan sepasang suami istri yang sedang melakukan kewajibannya. Aku pun dengan penuh perasaan dan dengan segala kepasrahan melayani Syamsul sebagaimana aku melayani suamiku selama ini. Keadaan ini berlangsung sangat lama sekali. Suasana ini berakhir dengan tibanya kembali puncak ejakulasi kami secara bersamaan. Kami kini benar-benar kelelahan dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap dengan nyenyak dalam suatu kepuasan yang dalam.

Semenjak pengalaman kami malam itu, suamiku tidak mempermasalahkan lagi soal fantasi seksualnya dan tidak pernah menyinggung lagi soal itu. Hubunganku dan suamiku pun tetap berlangsung seperti biasa-biasa saja seperti dahulu. Hanya memang sejak pengalaman kami malam itu kurasakan gairah suamiku berangsur-angsur normal. Bila kami melaksanakan kewajiban suami-istri, dia telah dapat melaksanakannya secara normal sebagaimana lazimnya walaupun secara kualitas kurasakan tidak sehebat sebagaimana yang kualami bersama Syamsul.

Kuakui malam itu Syamsul memang hebat. Walaupun telah beberapa waktu berlalu namun bayangan kejadian malam itu tidak pernah berlalu dalam benakku. Malam itu aku telah merasakan suatu kepuasan seksual yang luar biasa hebatnya yang belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Walaupun telah beberapa kali menyetubuhiku, Syamsul masih tetap saja kelihatan bugar. Alat kejantanannya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar masuk liang kewanitaanku dengan tegar hingga membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus-menerus mengalami puncak orgasme dengan berkali-kali namun alat kejantanan Syamsul masih tetap tegar bertahan. Memang secara terus terang kuakui bahwa selama melakukan hubungan seks dengan suamiku beberapa bulan belakangan itu, aku tidak pernah mengalami puncak orgasme sama sekali. Apalagi dalam waktu yang berkali-kali dan secara bertubi-tubi seperti malam itu. Sehingga secara terus terang setelah hubungan kami yang pertama di malam itu kami masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuan suamiku.

Awalnya di suatu pagi Syamsul berkunjung ke rumahku pada saat suamiku sudah berangkat ke tempat tugasnya. Secara terus terang saat itu dia minta tolong kepadaku untuk menyalurkan kebutuhan seksnya yang katanya sudah beberapa lama tidak dapat terpenuhi dari istrinya berhubung kesehatan istrinya yang sangat tidak mengizinkan. Mulanya aku ragu memenuhi permintaannya itu. Akan tetapi anehnya aku tidak kuasa untuk menolak permintaan tersebut. Sehingga kubiarkan saja dia melepaskan hasrat birahinya yang selama itu tidak tersalurkan dan kami melakukan hubungan cinta kilat di ruang tamu sambil berdiri. Hubungan itu rupanya membawa diriku ke dalam suatu alam kenikmatan lain tersendiri.

Ketika kami berhubungan seks secara terburu-buru di suatu ruangan terbuka kurasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat dan sangat menegangkan. Keadaan ini membawa hubunganku dan Syamsul semakin berlanjut. Demikianlah sehingga akhirnya aku dan Syamsul sering membuat suatu pertemuan sendiri di luar rumah. Melakukan hubungan seks yang liar di luar rumah, baik dari satu kamar cottage ke kamar cottage lainnya ataupun dari satu kamar hotel ke kamar hotel lainnya. Kami saling mengisi kebutuhan jasmani masing-masing dalam adegan-adegan sebagaimana yang pernah kami lakukan di kamar tidurku di malam itu, dan sudah barang tentu perbedaannya kali ini adegan-adegan tersebut kini kami lakukan tanpa dihadiri dan tanpa diketahui oleh suamiku. Sebagai wanita yang sehat dan normal, aku tidak menyangkal bahwa berkat anjuran suamiku malam itu aku telah mendapatkan makna lain dari kenikmatan hubungan seksual yang hakiki walaupun hal itu pada akhirnya kuperoleh dari teman suamiku, yang kini menjadi teman tidurku.


Gadis bernama Tessa

Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri, saya seorang mahasiswa sebuah universitas swasta di daerah Jakarta Barat yang terkenal banyak menghasilkan lulusan di bidang IT. Sebut saja saya Nick (nama samaran, tentu saja !!). Saya sendiri menganggap penampilan fisik saya tidaklah istimewa, biasa biasa saja, hanya saja banyak yang mengatakan kalau saya memiliki mata tajam seperti elang (beberapa teman menyebutnya mata bandit yang sedang mengincar korbannya, tak apalah :P) dengan tinggi yang rata-rata (176/71 kg). Sekarang ini saya bekerja part time di sebuah toko komputer kecil yang didirikan patungan dengan bekas teman teman SMA saya.

Cerita ini merupakan pengalaman saya bertemu dengan wanita yang memiliki tempat khusus di hati saya, sampai kapan pun juga. Bagi pembaca yang menyukai cerita ‘tembak langsung’ mungkin akan kecewa dengan cerita ini karena cukup panjang dan kurang ‘berapi-api’. Jadi bila anda merasa bosan, silakan melewatkan cerita ini, sedangkan yang ingin tetap membaca, saya ucapkan selamat membaca.

Suatu hari di bulan November, lewat tengah hari.

Hujan turun dengan derasnya dari pagi sehingga menyebabkan kemacetan di kota Jakarta yang memang biasanya macet menjadi semakin padat. Nick mengawasi keadaan sekeliling dari balik kaca jendela Feroza hijau toska berkilat yang setia menemaninya sejak SMA. Sia-sia, tirai hujan terlalu pekat ditambah lagi langit mendung sehingga tidak memungkinkan mata minus satunya melihat lebih jauh dari dua meter. Karena terburu-buru tadi kacamata Nick tertinggal di kantor. Hari ini Ia kebagian jatah untuk menanggapi complaint seorang customer di daerah Kebon Sirih.

Karena hujan tidak juga mereda, ditambah macetnya jalan dan perutnya yang mulai menjerit minta di isi maka ia mengarahkan mobilnya memasuki Wisma GKBI. Di dalam restoran Hoka-Hoka Bento yang sepi ia memandang berkeliling, lalu melangkahkan kaki menuju ke arah counter. Setelah memilih sepiring salad, sup miso, seporsi Ekkado dan segelas lemon tea, Nick menuju kasir untuk membayar pesanannya.

Ia mengantri di belakang seorang gadis berusia 20-an. Tanpa kacamata pun Nick bisa melihat betapa menariknya gadis itu. T-shirt Armani hitam ketat membungkus tubuhnya yang langsing, dipadu dengan celana jeans biru tua dan sepatu high heel bertali, menunjukkan mata kaki dan punggung kaki yang putih bersih. Kuku bersih tanpa kuteks menambah keindahan alami kakinya yang panjang dan ramping, tipe kesukaan Nick. Rambutnya yang hitam dijepit ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan rambut halus tenguknya.

Dari balik bahu gadis tersebut, tampak petugas kasir kebingungan mencari kembalian untuk secangkir kopi pesanan gadis tersebut yang dibayar dengan uang bergambar Bung Karno dan Bung Hatta.

Melihat kebingungan petugas kasir, Nick maju ke depan cash register.

“Sekalian saja masukkan dalam pesanan saya, mbak”.

Gadis itu memandang Nick dengan tatapan aneh, tapi akhirnya ia mengedikkan bahu dan berjalan ke arah luar pagar besi antrian.

Nick membayar pesanan-nya dan berjalan ke arah meja dekat jendela dimana gadis itu duduk.

“May I ??” tanyanya, mengisyaratkan kursi kosong di seberangnya.

Seabad rasanya Nick menunggu ketika gadis itu menatap matanya dalam-dalam, sebelum menggerakkan kepalanya ke arah kursi kosong sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan.

“Thanks for the coffee” katanya. Suaranya jernih, ada kesan sedih yang sulit dijelaskan di dalamnya.

“No big deal” senyum Nick. “Enjoy your coffee” sambungnya.

Di luar, hujan masih saja turun dengan deras. Nick menikmati makanannya dengan suapan-suapan kecil yang tidak terburu buru, sedangkan si gadis sesekali menghirup kopinya lalu melanjutkan lamunannya. Di antara suapannya Nick memperhatikan hujan di luar gedung. Beberapa orang pengojek payung menunggu di Pintu Utama. Pikirannya kembali beralih ke hujan di luar. Tetes air hujan jatuh menimbulkan bunyi ritmik yang aneh, tapi menyenangkan. Seperti nyanyian.

“Nyanyian hujan” gumam si gadis.

Hampir saja Nick tersedak karena tepat pada saat itu ia sedang mendengarkan irama aneh menyerupai nyanyian yang ditimbulkan tetes air hujan ke jalanan aspal.

“Aneh” Nick menatap gadis tersebut dengan pandangan bertanya. “Aku baru saja memikirkan hal yang sama”.

“Aku suka hujan. Mereka seperti bernyanyi untukku” kata si gadis, pandangan mereka bertemu.

Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke balik kepalanya untuk membetulkan jepit rambutnya. Gerakan ini membuat dadanya membusung, memperlihatkan siluet dua buah bukit yang tidak terlalu besar, namun berbentuk indah di balik bajunya. Ia melakukannya dengan bebas, seakan-akan tidak menyadari keberadaan Nick yang sedang memperhatikannya.

Nick baru sadar betapa menariknya wajah di hadapannya. Seraut wajah bertulang pipi tinggi, menimbulkan kesan anggun, dengan hidung mancung dan bibir yang merah basah. Dan matanya, belum pernah Nick begitu terpesona melihat mata seorang wanita seperti sekarang ini.

Mata gadis itu agak sipit dengan sedikit garis lengkung di ujungnya, menimbulkan kesan misterius. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang menyiratkan kematangan yang tidak biasanya ada pada gadis seumurnya. Pun begitu, ada keceriaan dan gairah hidup yang memancar dari sinar matanya, seakan-akan mengajak orang di sekitarnya untuk tersenyum seandainya saja tidak ada secercah sorot kesedihan di sana. Begitu kontradiktif, pikir Nick. Dan sangat menarik, tambahnya dalam hati.

“Nick” katanya sambil mengulurkan tangan. Dalam hati ia menyumpah mengapa sampai lupa memperkenalkan diri sebelumnya.

“Tessa” sambutnya lembut. Seperti ada aliran listrik ketika tangan mereka bertemu, sesuatu yang baru dua kali di alami Nick selama hubungannya dengan wanita-wanita dalam hidupnya.

Setelah perkenalan tersebut, percakapan pun berjalan lancar. Ternyata Tessa memiliki wawasan yang luas sehingga enak di ajak ngobrol, layaknya mereka teman lama saja. Nick mengagumi keluwesan Tessa dalam bergaul, jelas bukan golongan remaja tanggung yang masih mentah seperti kebanyakan gadis-gadis seumuran Tessa pada umumnya. Entah mengapa, Nick merasa tertarik sekali pada gadis ini. Padahal baru kali pertama mereka bertemu.

Hujan akhirnya berhenti. Tessa menatap ke luar restoran, kegiatan di jalan mulai hidup kembali setelah matahari bersinar mengusir sisa-sisa hujan tadi.

“I gotta go, thanks for the coffee” Tessa bangkit dari kursinya. Mengulurkan tangan kepada Nick. Setiap gerakan gadis itu begitu luwes, menimbulkan desir aneh di hati Nick

“Nice to meet you, Tessa. Have a nice day” sambut Nick.

Nick masih termenung sesaat ketika menyadari Ia lupa menanyakan nomor telepon Tessa. Gadis itu sudah hampir mencapai pintu ketika dengan setengah berlari Nick mengejarnya.

“Boleh aku meneleponmu kapan-kapan ?” tanyanya.

“Sure, you can call me anytime”. Tessa menuliskan 11 digit nomor teleponnya pada selembar struk pembayaran yang disodorkan NIck. Kemudian Ia meneruskan langkahnya setelah melemparkan senyum manisnya.

Perkenalan itu menjadi awal hubungan mereka yang penuh liku, dimana tawa, tangis dan air mata akan mewarnai hubungan mereka.

*******

Suatu Hari Sabtu, 3 bulan kemudian. 3:29 pm.

Nick termenung di tempat kos-nya. Hujan turun deras di luar. Membuat ritme aneh dengan suara tetes hujan yang menimpa atap genteng dan jalanan beraspal. Ia teringat pertemuannya dengan Tessa beberapa hari yang lalu. Sudah 2 minggu Ia tidak menghubungi Tessa karena ada pekerjaan yang membuatnya sangat sibuk di kantor. Hampir tanpa berpikir Ia menyambar HP Nokia 5510 silver yang tergeletak di atas meja. Setelah ragu sesaat, akhirnya dorongan hatinya yang menang.

“Halo ?” di ujung sambungan terdengar suara lemah menyahut. Suara yang tidak akan terlupakan oleh Nick.

“Tessa, remember me ??”.

“Nick, is that you ?” setelah beberapa detik Tessa terdiam, mencoba memeras memorinya yang masih kabur, mencari siapa pemilik suara bariton yang mengganggu acara tidur siangnya.

“Yupe. How are you girl ??”.

Terdengar suara tawa gadis itu, yang terdengar begitu sexy di telinga Nick, sebelum menjawab.

“Ngantuk. Kamu kan tahu jam segini termasuk dalam jam tidur siang-ku”.

“I know, sorry to wake you up dear. But I can’t help it, i wanna hear your voice.”

Sesaat mereka berdua terdiam.

“I miss you girl” bisik Nick lembut.

“oooh Nick, I miss you too” balas Tessa pelan.

Nick tercekat. Benarkah suara Tessa bergetar tadi ?

“Nick, mau main ke sini ?? kita ngobrol sambil minum kopi”.

“Takkan ada yang bisa menghalangiku menemuimu Tess. Give me an hour ok ?”.

Terdengar lagi tawa Tessa, “nggak usah mandi dulu Nick, langsung aja ke sini”.

“Hehehehehe….ketahuan yah. OK, wait for me then”.

Setelah menutup telepon Nick meraih tas ransel yang sudah menjadi trade mark-nya sejak SMA dulu. Isinya macam-macam mulai dari baju ganti, underwear, satu stel kemeja, dasi, perlengkapan mandi, pisau cukur beserta aftershavenya, Charger, sebuah kotak plastik berisi satu set obeng mikro, pinset, senter elastis, dan tang serbaguna. Dan tak lupa sebotol Drakkar yang sudah hampir habis. Sejak SMA Nick sering harus bepergian tanpa pulang ke rumah sehingga ia selalu membawa keperluan-nya dalam ransel tersebut. Apalagi sejak Ia bekerja part timer, bertambah lagi isi ranselnya dengan satu set peralatan untuk perbaikan kecil bila dibutuhkan pelanggan sewaktu-waktu. Dengan agak tergesa
Ia melompat masuk dalam mobilnya.

Nick memacu mobilnya secepat Ia bisa dalam hujan yang masih juga turun dengan deras. Kacamata minus satunya telah berganti dengan softlens berwarna hijau tua yang biasanya hanya dipakai bila ada acara pesta.

Sampai di rumah kontrakan Tessa, setengah berlari Nick membuka gerbang. Tidak dikunci, seperti biasa. Lalu Ia menuju pintu utama dan memencet bel. Pintu terbuka dan Tessa tersenyum menyambutnya.

“Ayo masuk, sudah kutungguin dari tadi”.

Nick mengikuti Tessa menuju kamar tidurnya. Dingin. Rupanya Tessa menyalakan AC-nya walaupun hari hujan seperti ini.

Tessa menutup pintu kamar dan berbalik menghadap Nick. Entah siapa yang mulai, tahu tahu mereka sudah berpelukan erat. Nick berbisik di telinga Tessa berulang-ulang.

“Oooooh Tess, I miss you. Miss you so much”.

Hanya gumaman terdengar dari Tessa. Nafas Nick yang hangat di telinganya membuat badannya terasa menggigil.

Nick merasakan kehangatan mengaliri dirinya. Ia dapat merasakan tubuh Tessa yang lembut di dalam pelukannya. Hidungnya menangkap aroma tubuh Tessa yang merangsang. Halusnya kulit pipi Tessa bertemu dengan bibirnya. Tahu-tahu Nick mendapati dirinya ereksi. Kemaluannya menekan perut Tessa. Pastilah Tessa merasakannya sebab Ia melepaskan diri dari pelukan Nick.

“Naughty boy, what’s on your mind eh ?” Tessa tersenyum menggoda kepada Nick.

“Sorry, aku gak tau kenapa. Tahu-tahu aja berdiri” ujar Nick dengan muka sedikit merah.

Bukan hanya kali ini Nick ereksi ketika sedang bersama Tessa. Pernah ketika sedang melantai pada suatu pesta yang mereka hadiri bersama Nick juga ereksi. Waktu itu Tessa tak henti-hentinya menggoda sampai Nick salah tingkah.

“It’s okay. Tess tahu koq kamu nggak pernah kurang ajar sama Tess” katanya. Lalu ia kembali memeluk Nick lembut dan menyandarkan kepalanya di dada Nick.

“Tess……” tahu tahu jemari lentik Tessa sudah berada di bibirnya.

“Sssshhhh, it’s okay Nick. I don’t mind” Ia lalu menarik leher Nick. Perlahan bibir mereka mendekat. Nick bisa merasakan bibir Tessa yang lembut bergetar ketika mereka berciuman dengan lembut. Lidah Tessa menyapu bibir Nick, memberikan sensasi yang luar biasa. Hangat, basah, perlahan lidah mereka saling mencari, membelit, bermain dalam mulut Nick. Terdengar keluhan Nick. Ia tak dapat menahan gejolak dalam dirinya lebih lama lagi.

“I want you, please don’t torture me any longer. I want you” desah Nick di antara ciuman mereka. Tessa mulai membuka kancing kemeja Nick satu per satu.

“I want you too, Nick. I’m yours” bisik Tessa di telinga Nick.

Kemeja Nick sudah terlepas, sekarang ia bertelanjang dada. Tangan Nick menyelinap ke balik T-shirt longgar yang dikenakan Tessa. Halusnya kulit punggung Tessa di tangannya. Dengan lembut Ia melepas T-shirt longgar tersebut. Tampak olehnya dua bukit putih yang tidak terlalu besar, tapi proporsional terbungkus half-cup bra berwarna pink. Dibelainya bahu Tessa yang telanjang, Ia bisa merasakan betapa Tessa menggigil taktala belaian tangannya mencapai belahan dada yang sangat indah tersebut. Nick mulai menjelajahi lehernya dengan kecupan-kecupan lembut diringi desah tertahan dari Tessa. Tangannya meraih kebelakang punggung dan dalam sekejap dada indah itu terbebas dari belitan bra. Dinginnya AC membuat sepasang puting kecoklatan itu berdiri tegak, menantang. Dikulumnya kedua puting itu bergantian, dihisapnya dengan lembut. Terdengar Tessa mengerang tak terkendali.

Sementara itu Nick merasa tiba-tiba kaki dan pahanya dingin. Rupanya Tessa sudah berhasil membuka celana Nick dan sekarang sedang mengelus kemaluan Nick yang meronta-ronta di balik celana dalam Bodymaster Nick. Tangannya menyusup masuk dan membelai, mengelus kejantanan Nick, lalu menyusur turun ke arah anus, melewati dua buah bola yang diremasnya lembut. Nick mendesah penuh kenikmatan di tengah kegiatannya membelai seluruh tubuh bagian atas Tessa yang kini telanjang. Dengan satu gerakan tiba-tiba Tessa mendorong Nick hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Lalu satu gerakan lagi, dan kejantanan Nick berdiri dengan gagahnya tanpa adanya penghalang.

Perlahan, Nick memeluk Tessa dan membalikkan tubuhnya sehingga kini Nick berada di atas. Nick menggeser tubuhnya turun, tangannya membelai perut Tessa yang rata, sesekali menggelitik pinggangya sehingga Tessa meronta lemah. Dikecupnya perut dan pinggang halus itu, dengan lembut di lepasnya celana pendek yang dikenakan Tessa sekaligus dengan celana dalamnya. Kini mereka berdua telanjang bulat. Nick bisa melihat rambut halus yang tumbuh di bawah pusar Tessa. Tangannya bergerak mengelus bukit berambut tersebut, lalu bergerak ke bawah, ke arah kedua bibir vagina yang bertemu membentuk tonjolan sebesar kacang tanah. Diusapnya tonjolan itu dengan gerakan memutar dan menekan. Tubuh Tessa mengejang, punggungnya terangkat dari kasur. Dari mulutnya keluar rintihan halus yang membuat Nick makin bersemangat. Dikecupnya kedua paha bagian dalam Tessa, lalu dilanjutkan ke arah liang kenkmatannya. Tangannya kembali ke arah ke dua bukit di dada Tessa, di remasnya perlahan, jemarinya bermain dengan puting yang sudah sangat tegang. Dari pusat tubuh Tessa tercium aroma khas feromone yang membuat Nick begitu terangsang. Dirasakannya vagina Tessa sudah basah. Dengan satu gerakan perlahan tanpa putus dijilatnya liang kenikmatan bagian bawah sampai ke clitoris yang sudah membesar.

“Nick, mmmmmmhhhhh……….. ohhhhhhhhh” tubuh Tessa menegang, pinggulnya berkontraksi dengan hebat. Ia mencapai orgasme pertamanya.

Nick terus membelai lembut sekujur tubuh Tessa sampai gelombang kenikmatannya mereda. Tessa lalu meraih bahu Nick, menariknya ke atas tubuhnya dan berbisik di kuping Nick.

“I want you inside of me Nick…” bisiknya lemah.

Nick berlutut di atas tubuh Tessa, siap untuk menyatukan tubuh mereka dalam gelombang kenikmatan. Tessa berbisik lagi.

“Pakai pelindung Nick, please..”.

Nick meraih dompetnya dan mengeluarkan sebungkus Durex Premium, lalu memakainya. Never leave home without it, pikir Nick lega karena masih ada sebungkus di dompetnya.

Dengan sangat perlahan Nick menindih Tessa, sebelah tangannya menopang sebagian berat badannya sendiri, dihayatinya sensasi yang nikmat ketika kejantanannya memasuki Tessa.

Pandangan mereka bertemu. Dilihatnya ekspresi wajah Tessa dalam ekstase, serasa waktu berhenti bagi mereka berdua. Nick merasakan lampu di kamar Tessa memancarkan sinar berpendar warna-warni. Suara rintihan Tessa menjadi musik indah di telinga Nick. Mereka bergerak menyatukan irama tanpa tergesa-gesa. Nick merasakan dirinya terbang tinggi…….., semakin tinggi seiring dengan nafas mereka yang memburu. Tessa pun merasakan kenikmatan yang sama. Semakin tinggi Ia melayang menuju puncak orgasmenya yang kedua. Mengerang dan merintih, Tessa bisa merasakan tubuh Nick mulai bergetar, demikian juga dengan tubuhnya. Mereka terbang semakin tinggi menembus gelombang kenikmatan, dan akhirnya menabrak awan yang mencurahkan hujan………

Tessa menjerit berbarengan dengan erangan Nick yang mencapai puncak pada saat yang hampir bersamaan.

Hening. Peluh membasahi tubuh mereka. Keduanya saling berpelukan, membelai tubuh masing-masing. Menikmati sisa-sisa orgasme yang melanda begitu hebat. Tidak perlu kata-kata. Setiap rabaan dan usapan sudah berbicara dengan sendirinya. Bersatunya tubuh dan emosi membuat mereka mengerti apa yang dirasakan masing-masing. Di luar, hujan masih turun, makin deras bahkan.

“Nick, kau ingat pertama kali kita bertemu dulu ?” Tessa memecah keheningan yang terasa indah tersebut.

“Ya, waktu itu hujan deras seperti sekarang. Aku bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa” jawab Nick. Ia menarik selimut menutupi tubuh mereka, kemudian mengecup kening Tessa lembut.

“Kau masih bisa mendengar nyanyian hujan, Nick ?”.

“How can I forget ?? setiap kali hujan aku selalu teringat padamu”.

“Always ?” tanya Tessa manja.

“Always”.

“Kamu menyesal kita jadi seperti ini Nick ??” tanya Tessa lagi.

“Tidak Tess. Sejujurnya pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku memang menginginkanmu. Hanya saja aku tidak berani bertindak, takut merusak persahabatan kita. I think I fall in love…….” Nick tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena jari Tessa sudah menutup bibirnya dengan lembut.

Don’t say something you might regret it later, Nick”. Suara Tessa tiba-tiba terdengar sedih.

“Tess sayang kamu, dan Tess juga tau kamu sayang Tess. Tapi untuk saat ini……let us be just friend. A good friend” ucap Tessa lagi.

“Tapi….” lagi-lagi kalimat Nick tergantung di udara, Tessa menciumnya dengan lembut, penuh perasaan. Seakan-akan Ia memberikan seluruh dirinya pada Nick melalui ciuman tersebut.

“Jangan bertanya-tanya lagi, Nick. Someday, I promise you, someday you will understand why”.

bisik Tessa di telinga Nick.

Jeritan Coffee Maker membuat mereka berdua tersentak. Tessa tertawa, suaranya sudah biasa lagi. “Itu kopi yang kujanjikan tadi. Right on time, I think” senyum Tessa nakal.

Nick tersenyum melihatnya. Tessa masih bertelanjang ketika melompat dari tempat tidur menuju ke coffee maker yang terletak di meja. Sungguh, dunia terlihat lebih cerah bagi Nick bila bersama dengannya.

Sabtu, tengah hari. Workshop X-Com.

Gubrakkkkkkk!!!!! dua rim kertas kuarto mendarat di atas meja. Nick yang sedang termenung, melotot marah pada orang yang menariknya kembali ke alam nyata. Jim, sang Purchasing Manajer dari X-Com, toko komputer tempat Nick mencari tambahan uang saku, berkacak pinggang di hadapannya.

“Thinking of her, eh??”

“None of your business, Jim.”

“Emang bukan sih, tapi Boss ngomel tuh ngeliat kerjaan elo belum beres. Wake up man, kita banyak kerjaan nih.”

Nick menghela napas sebelum kembali menekuni pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini. Sebenarnya tidak ada bos atau karyawan di XCom. Semua yang terlibat memiliki bagian dari toko tersebut, karena modal awalnya memang berasal dari mereka sendiri. Hanya saja Ken, yang tadi disebut Boss oleh Jim, ditunjuk secara tidak resmi menjadi semacam “organizer” di kantor tersebut. Jabatan Nick sendiri, bila mengikuti apa yang tercetak di kartu namanya, adalah Customer Service. Kartu nama itu sendiri menjadi semacam lelucon bagi mereka, karena pada prakteknya sehari-hari mereka saling menggantikan tugas temannya yang berhalangan, bahkan si Boss sendiri sering turun ke lapangan bila Jim atau Nick berhalangan. Sering Jim bercanda bila ingin mencetak ulang kartu nama yang sudah habis, bahwa Ia ingin ‘menaikkan’ jabatannya sendiri menjadi boss.

Nokia di saku Nick bergetar. Dengan cepat dilepasnya obeng yang tadi digunakan untuk memasang power supply pada casing yang baru setengah diperbaiki itu. Matanya mencari nama Tessa di Layar HP-nya. Andre HP, demikian tulisan yang berkedap-kedip di layar. Dengan sedikit kecewa di jawabnya panggilan itu.

“Kenapa Dre?”

“Nick, nanti malem loe mo ikutan anak-anak ke …. nggak?”. Andre menyebut sebuah Cafe yang terletak di daerah Kuningan, tempatnya biasa menghabiskan malam, dan uang, tentunya.

“Uhhmmm…… nggak deh. Gue lagi nggak mood.”

“Susan ikut loh, gue udah bilang kalo mo ngajakin elo, makanya dia ikut. Dia kan naksir elo Nick.”

Nick menghela napas sebal. Susan. Bukan Susan yang merusak konsentrasinya setiap kali Ia mulai bekerja. Bukan dia yang setiap malam dibayangkan Nick berbaring di sampingnya. Bukan. Susan hanyalah sebuah nama tak berarti baginya.

“Bilang sorry sama Susan. Gue nggak ikut,” ucap Nick.

“Yahh…… kalo elo berubah pikiran langsung aja deh susul kita di sana, ok??”

“Ok Dre. Bye.”

“Bye.”

Ditaruhnya kembali Nokia silver itu di sakunya. Nick ingin sekali menghubungi Tessa, tapi Ia ingat bahwa tadi pagi ketika menjemputnya, Tessa sudah berpesan supaya Nick tidak menelponnya hari ini, kecuali untuk hal yang sangat penting. Nick tidak berani menelpon Tessa bila sudah dipesan begitu. Pernah sekali, Nick nekat menelpon walaupun Tessa sudah bilang bahwa Ia tidak ingin dihubungi dan akibatnya Tessa marah besar. Nick masih ingat mereka bertengkar hebat dan tidak saling berbicara selama seminggu. Akhirnya Tessa berhasil membuat Nick berjanji untuk tidak menghubunginya bila Ia tidak ingin diganggu.

Ini membuat Nick penasaran. Setelah kurang lebih 3 bulan Ia mengenal Tessa masih banyak hal yang misterius tentang gadis itu. Dari sekian banyak yang diketahuinya tentang Tessa, ada sisi gelap yang belum terungkap olehnya. Ia tahu Tessa bekerja di sebuah kantor di kawasan Sudirman sebagai Junior Accountant setelah menyelesaikan S1-nya dalam waktu 3,5 tahun. Nick juga tahu tanggal ulang tahunnya, bahwa Tessa setahun lebih tua darinya, bahwa orang tua Tessa tinggal di Bandung setelah pensiun, dan Tessa tinggal sendiri di Jakarta sejak Ia kuliah, tapi ada saat tertentu dimana Nick merasa bahwa Ia sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai gadis itu. Seperti saat ini misalnya, ketika kerinduannya memuncak, justru Ia tidak tahu apa yang dikerjakan Tessa siang ini.

Frustasi karena ketidakberdayaannya melawan perasaan aneh dalam dirinya setiap kali Ia memikirkan Tessa, Nick membenamkan diri dalam pekerjaanya. Bahkan ajakan makan siang dari Ken dan teriakan Jim yang mengumumkan kalau dia akan pulang hanya di jawab dengan anggukan tak perduli. Ken tahu, kalau temannya itu sedang sibuk bekerja seperti itu, jangankan tidak makan siang, bahkan dua hari tidak makan pun Nick sanggup. Ia tahu pasti, karena Nick adalah sahabatnya sejak SMA.

Jam kukuk antik di dinding kantornya berbunyi 7 kali. Menyadarkan Nick dari keasyikannya bekerja. Tinggal sedikit lagi, pikirnya. Jim bisa menyelesaikan sisanya Senin nanti. Ia beranjak menuju ke ruangan sempit berukuran 2 x 3 meter yang hampir seluruh dindingnya tertutup oleh poster bergambar Rinoa Heartily. Kantor si boss. Nick tersenyum sendiri ketika melihat koleksi terbaru Ken yang bergambar Rinoa dalam keadaan telanjang, entah dapat dari mana. Temannya itu memang terobsesi oleh Rinoa. Pernah suatu ketika Ken mengaku kalau Ia membayangkan Rinoa ketika sedang bercinta. Gila, bercinta dengan tokoh kartun, pikir Nick geli. Kursi boss kosong, tapi Ia tahu itu bukan berarti Ken tidak ada di kantornya. Nick mencari ke kolong meja dan menemukan Ken sedang tertidur di tempat favoritnya itu. Memang temannya itu punya kebiasaan dan hobi yang nyentrik, tapi Nick tahu Ia bisa diandalkan sebagai teman. Setelah meninggalkan pesan di meja, Nick melangkah keluar. Pulang.

******

Sabtu, 21:10. Kamar kos Nick.

Nick membersihkan Gillette Mach 3 nya dengan cermat, lalu membasuh bekas cukuran di mukanya dengan aftershave. Ia merasa segar setelah mandi tadi. Tapi tetap saja ada ‘empty feeling’ di hatinya. Nick memeriksa HP nya. Tidak ada missed call. Tessa tidak meneleponnya. Perasaan sepi yang melanda dirinya sejak siang tadi mendadak hilang, digantikan oleh rasa marah dan kesal, Ia merasa dirinya tidak berarti bagi Tessa. Ia ingin Tessa mempercayainya, membagi semua suka dan duka yang dirasakannya, tapi Nick mendapat kesan setiap kali Ia mencoba setiap kali pula Tessa menarik dirinya menjauh, menjaga jarak. Memang resminya mereka hanya teman, tapi Nick tahu ada sesuatu yang lebih dari itu. Getar tubuh Tessa ketika Nick memeluknya, setiap ciuman penuh kepasrahan di mulutnya, desah penuh kepuasan Tessa di telinganya, Nick tidak percaya itu hanya sex semata. There must be something more than that between them, he know it for sure.

Frustasi, Nick membuka lemari bajunya dan mulai memilih baju yang akan Ia kenakan malam ini. Ia telah memutuskan untuk mengikuti ajakan Andre untuk bersenang-senag malam ini. Mungkin dengan sedikit refreshing Ia akan berhasil melupakan Tessa dari pikirannya, paling tidak untuk malam ini saja. Tak lupa digantinya kacamata minus yang sedang digunakannya dengan sepasang contact lens hijau miliknya. Kemudian ia menyelipkan sebungkus karet yang terendam larutan Nonoxynol 9 di dompetnya. Bukannya Ia merencanakan untuk berhubungan sex malam ini, hanya berjaga-jaga bila Ia sampai di ‘point of no return’, kalau menuruti istilah Jim.

Nick menyalakan mobilnya, sambil menunggu mesin mobilnya panas, Ia mencabut sebatang Mild Seven dari saku bajunya. Setelah asap rokok memasuki para-parunya Ia merasa sedikit lebih rileks. Semua kejadian yang dialaminya bersama Tessa selama 4 bulan terakhir ini berlangsung dalam kilas balik di ingatannya. Sejak Ia tidur bersama Tessa hidupnya berubah drastis, dari seorang workaholic yang ‘dingin’ tanpa perasaan menjadi seorang pencari kenikmatan yang seakan-akan tidak pernah terpuaskan. She’s good in bed, pikir Nick. Ia tahu Tessa bukan perawan ketika pertama kali tidur dengannya, tapi bukan masalah besar baginya. Ia tidak ingin menjadi munafik, berlagak seperti seorang suci padahal dirinya sendiri bergelimang dosa.

Tapi benarkah yang dicarinya hanya kenikmatan semata? Mengapa hatinya panas setiap kali ada pria yang memandang Tessa penuh nafsu? dan mengapa pula setiap kali mereka berjauhan serasa ada sebagian diri Nick yang hilang ? Nick tidak dapat menjawabnya.

Selama perjalanan Nick mencoba untuk benar-benar rileks, Ia berniat untuk tidak memikirkan Tessa malam ini. Tak lama kemudian mobil Nick memasuki tempat parkir sebuah gedung tempat Cafe yang disebutkan Andre siang tadi. Nick meraih Nokia-nya. Dicarinya nomor HP Andre, lalu Ia memijit tombol bergambar telepon hijau.

“Dre, gue udah di bawah nih. Elo tunggu di mana?”

“Langsung aja ke atas Nick, gue tunggu elo di tempat biasa.”

“OK, wait for me then.” Masih sempat di dengarnya Susan berteriak kegirangan di latar belakang sebelum hubungan terputus.

*****

Sabtu, 23:30. JJ Cafe.

Speaker berkekuatan 30.000 watt menggelegarkan Magic Carpet Ride versi remix dari Fatboy Slim. Irama house bercampur sedikit latino mengundang para pengunjung untuk menggerakkan badannya. Segera saja lantai disko yang tadinya tidak begitu ramai mendadak dipenuhi pria dan wanita yang bergoyang dengan panasnya. Nick mengamati Susan yang sedang bergoyang dengan asyik. Hmmmm, Ia harus mengakui malam itu Susan tampil sangat luar biasa.

Tank-top keperakan membungkus tubuh bagian atasnya dengan terpaksa, sekedar mencegah bagian dada yang membuat begitu banyak pria di lantai disko, yang entah disengaja atau tidak bergerak mendekati Susan, terekspose dengan bebas. Di bagian bawah, Susan mengenakan rok pendek ketat dari kulit. Entah rok tersebut dipakai terlalu ke bawah ataukah tank-top silver-nya yang dikenakan terlalu tinggi sehingga menunjukkan perut dan pinggang yang rata. Sesekali tangan Susan bergerak menggerai rambutnya yang sebahu, membuat dadanya yang sudah menonjol penuh itu meronta-ronta. Sepatu Bot setinggi betis, juga dari kulit, menonjolkan bentuk kakinya yang bagus sekaligus menambah kesan seksi dan sedikit nakal.

Nick sendiri hanya bergerak sekedarnya mengikuti irama yang menghentak lantai disko. Rupanya Susan tidak tahan melihat Nick begitu dingin. Ia bergerak semakin mendekat. Dengan ahlinya Ia mengangkat kedua lengannya yang bergerak mengikuti beat ke atas, seperti seorang penari ular Ia mulai menggeserkan tubuhnya menyentuh dada Nick. Sentuhan halus yang hanya sesekali mengenai tubuhnya itu membuat Nick terpancing untuk bergerak lebih panas. Susan menggerakkan bokongnya yang indah ke kiri kanan, sesekali dengan nakal di dorongnya pinggang ramping tersebut sehingga menyentuh kemaluan Nick. Boy, she’s really a teaser, pikirnya. Sebenarnya Susan bukanlah wanita tipe Nick. Ia lebih suka yang bertubuh tinggi langsing, dengan lekuk liku yang tidak terlalu menonjol.

Tapi apa dayanya, suasana lantai disko yang panas, setengah butir Inex yang tadi dimimumnya dengan dua gelas Long Island mulai menunjukkan pengaruhnya. Nick mulai mengikuti gerakan Susan, tubuh mereka bersentuhan berkali-kali di tengah gerakan-gerakan mereka yang semakin liar. Berpasang mata memandang mereka berdua dengan iri, terutama yang pria memandang ke Susan dengan pandangan penuh nafsu. Nick tidak memperdulikan semua itu. Mukanya terasa panas, jantung dan pelipisnya berdenyut keras, mulutnya terasa kering, pandangannya mengabur. Lampu spot-light warna warni dan lightning berpendaran membuat gerakan di sekelilingnya bagai film yang diputar dalam adegan lambat. Dilihatnya kepala Susan bergerak liar, tangannya membuat gerakan membelai buah dadanya sendiri. frame demi frame adegan tersebut terlihat dalam gerakan lambat di mata Nick. Kemudian tanpa peringatan tangan Susan meraih bahu Nick, setengah menariknya sehingga kini muka mereka berdekatan.

Ia bisa merasakan napas Susan yang hangat di pipinya, wangi Bvlgari lembut bercampur dengan aroma keringat membelai hidungnya. Halusnya kulit punggung Susan terasa bagai sutra di jemarinya. Dada Susan lembut menekan dadanya sendiri, mengalirkan kehangatan yang tak asing lagi di tubuhnya. Nick sedikit membungkuk, berbisik lembut di telinga Susan.

“Bad girl, are you trying to tease me??”

“Hmm…… I’m trying Nick, you know I want you,” bisik Susan.

“Guess you’ve made it, Sue.”

“Really??” tanya Susan penasaran. Tangan kirinya menghilang ke bawah, ke arah selangkangan Nick. Dibelainya dengan lembut tonjolan keras di balik celana Nick.

Kepala Nick terasa ringan. Musik yang keras menghentak terdengar timbul tenggelam di telinganya, serasa ada cahaya terang di otaknya. Dinikmatinya belaian tangan Susan. Ia sendiri mulai meraba punggung dan leher Susan, lalu berlanjut ke samping, ke arah payudara dan perut yang langsing menantang. Didengarnya Susan mendesah di antara musik hingar bingar. Pandangannya sayu, mulutnya setengah terbuka, merah, menantang….

“Jangan di sini, di tempatmu saja,” bisik Nick ketika Susan dengan setengah sadar berusaha membuka ikat pinggangnya.

“Uhhh….. Ok, sori gue gak sadar,” jawab Susan terengah-engah, jelas Ia sudah mabuk. Mabuk oleh minuman keras dan oleh nafsunya sendiri.

Sebenarnya Nick juga tidak lebih baik keadaannya, kejantannya terasa sakit karena tidak bisa berdiri dengan leluasa. Kepalanya makin ringan, berputaran, jantungnya masih berdenyut keras, tetapi Ia memaksakan kakinya kembali ke Bar di lantai atas untuk berpamitan dengan Andre yang berkumpul dengan teman-temannya yang lain di sebuah reserved table.

“Guys, gue cabut dulu, ada urusan nih. Biar Susan gue anterin pulang sekaligus, katanya dia kurang enak badan.”

“Elo bisa nyetir Nick?? Apa perlu gue anterin?” tawar Andre.

“It’s okay, gue cabut dulu ya, see ya all. Have fun,” salam Nick kepada mereka semua.

Terdengan sahutan dari sekelilingnya. Nick tidak tahu apakah mereka percaya dengan alasan “kurang enak badan” nya Susan, dan sejujurnya dia juga tidak perduli. Dengan langkah agak diseret, Ia bersama Susan melangkah menuju Lift. Saat itulah Ia melihatnya. Kira-kira 5 meter di depannya, menghadap ke arah lain, tampak sepasang pria wanita yang rupanya juga menunggu Lift.

Tidak mungkin salah, bahkan dalam keadaan setengah mabuk dan masih ‘high’ dengan penerangan secukupnya, Ia bisa mengenali seraut wajah yang kerap kali mengisi lamunannya. Wajah yang menemaninya dalam mimpi. Wajah yang bisa membuat hidupnya secerah mentari pagi, atau sebaliknya bisa membuat hatinya begitu sakit dan perih seperti saat sekarang ini.

Tessa tidak melihat Nick, tapi Nick bisa melihatnya dengan jelas. Seorang pria tegap berusia 30-an merangkulnya ketat, tangannya dengan kurang ajar menggerayangi payudara Tessa dari samping. Bibirnya mencuri-curi kesempatan untuk mencicipi mulusnya leher jenjang milik Tessa. Si empunya leher dan payudara itu sendiri kelihatannya menanggapi dengan agak dingin perlakuan tersebut. Pandangannya kosong, menerawang seakan-akan Ia tidak berada di sana.

Nick merasa hatinya tercabik-cabik. Wanita yang dicintainya sepenuh hati, yang dikiranya sedang sibuk menyelesaikan tugas kantornya, yang teleponnya ditunggu penuh harap oleh Nick seharian ini, ternyata sedang berada dalam pelukan pria lain. Kakinya mendadak lemas sehingga Ia terpaksa sedikit bersandar ke Susan bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Tessa menoleh ke arahnya, mulutnya mendadak terbuka kaget, matanya membelalak seakan-akan melihat hantu. Susan menariknya masuk ke dalam lift, diikuti oleh belasan orang lain, termasuk Tessa dan pasangannya.

Di dalam lift posisi mereka memungkinkan Nick dan Tessa saling berpandangan. Nick bisa melihat kelam mata Tessa dengan jelas. Ada seribu kesedihan di sana. Sejuta tangis tanpa air mata. Herannya, tidak ada kilat marah di mata Tessa. Ia bisa melihat bahu Tessa bergetar halus, sedangkan pasangannya yang tolol itu masih saja berusaha mencium daun telinga Tessa. Nick merasakan bibirnya bergerak tanpa sadar memanggil nama Tessa tanpa suara. Matanya panas terbakar cemburu dan amarah. Pelipisnya berdenyut dengan hebat sampai Nick bisa merasakan tarikan otot wajahnya sendiri. Ia sadar tidak adil untuk marah dan cemburu kepada Tessa karena bukankah Ia pun sedang merangkul Susan sekarang ini? Tapi rasa hatinya mengalahkan semua pertimbangan tersebut. Ia masih memandang Tessa lekat-lekat. Cantiknya Ia malam ini, pikir Nick pahit. Kenyataannya, Ia selalu nampak cantik di mata Nick, bahkan dalam keadaan seperti sekarang ini.

Tessa melihat ekspresi wajah Nick. Ada kemarahan di mata Nick. Sinar matanya membayangkan sakit hatinya, seperti juga hati Tessa yang serasa disayat-sayat pisau berkarat. Tidak Nick, kau tidak mengerti, jerit Tessa dalam hati. Hatiku pun sakit, sakit sekali. Tapi aku tidak mampu menceritakannya kepadamu Nick. Maafkan aku Nick. Tessa berhasil memaksakan seulas senyum getir.

Lift sampai di lantai dasar. Pintunya membuka, kerumunan orang berdesakan keluar. Nick dan Susan keluar terakhir, berusaha agar tidak terdorong masuk kembali oleh kelompok yang hendak memasuki lift. Sesampainya di luar lift, Nick mencari bayangan Tessa, tapi tak terlihat di manapun juga siluet punggung dan bahu yang kurus itu. Nick dan Susan melangkah ke lapangan parkir, menghampiri mobil Nick.

*****

00:47, Apartemen Susan.

“Oohhhhhh………… Nick. Yeah, feels so good.”

Nick sedang menciumi leher Susan. Tangannya meremas lembut payudara Susan yang kini tinggal mengenakan celana dalamnya. Nick sendiri telah kehilangan bajunya, dan sekarang tangan Susan sedang menyelesaikan pekerjaannya membuka ikat pinggang Nick yang tadi tertunda di lantai disko. Tiba-tiba bayangan Tessa yang digerayangi oleh partnernya melintas kembali. Nick merasa amarahnya mulai naik ke ubun-ubun. Dengan sedikit kasar di dorongnya Susan sehingga terbaring di ranjang. Ditendangnya celana panjangnya yang sudah melorot sampai ke paha, sekarang Nick tinggal bercelana dalam. Susan tak mau kalah. Dengan ahli dilepaskannya celana dalam Nick, dibelainya kejantanan Nick, diremasnya pelan. Nick semakin buas, Ia bergerak ke atas tubuh Susan. Bibir mereka bertemu, saling pagut, saling gigit, lidah mereka berbelitan, air ludah mereka bercampur menjadi satu. Setelah ciuman yang panas itu bibirnya turun ke arah dua bukit yang bergetar, menunggu bibir Nick mengambil alih tugas tangan yang kini berpindah ke pinggul Susan, berusaha melepas sisa penutup tubuh yang masih menempel.

“Mmmmmppphhhh….. ohhhhhh, don’t stop Nick, ahhhhhhh…….”

“I want you NOW Nick, ahhhhhhhhh……..”

“Pleaseee…….”

Nick tidak menanggapi rintihan Susan, kini setelah segitiga pengaman Susan terlepas, bibirnya berhenti menghisap puncak kedua bukit yang memerah tersebut. Dijilatnya kedua putik itu, membuat Susan lagi-lagi merintih. Kemudian diambilnya gelas red wine yang tadi disuguhkan Susan, dengan perlahan Nick menuangkan sisa isi gelas tersebut ke belahan dada yang membusung itu, dijilatnya dengan satu jilatan panjang dan basah. Susan menggelinjang kegelian, kemudian berteriak kecil ketika cairan merah tersebut mengalir ke perut dan pinggangnya karena dengan segera Nick mengejar dengan lidahnya, seakan-akan tidak rela kalau ada setetes cairan yang terlewat. Lidah Nick akhirnya sampai ke daerah kewanitaan Susan. Daerah bukit kemaluan yang menonjol itu bersih tanpa ada rambut. Nick mengambil bantal dan mengganjalnya di bawah pinggul Susan sehingga keindahan itu kini terbuka dengan jelasnya. Dengan tangannya Nick membuka paha Susan lebih lebar, diurutnya dengan lembut pangkal paha Susan. Kemudian mulailah lidahnya menari-nari. mencari klitoris yang sudah membengkak penuh. Tidak digubrisnya erangan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut Susan, dinikmatinya cairan kental dengan bau khas feromone bercampur red wine yang mengalir tanpa henti seiring dengan gerakan lidahnya yang kini menggelitik kedua bibir luar vagina Susan. Sesekali di sedotnya bibir tersebut, membuat Susan meronta-ronta liar penuh kepuasan.

“Nick, please, I can’t take it any longer. Get inside of me, please……… AAAAHhhhhhhhhhhhh,” tiba tiba kedua paha Susan menjepit kepala Nick dengan kuat, tangannya mengepal mencari pegangan di rambut Nick, pinggulnya terangkat tinggi, tubuhnya bergetar hebat menyambut gelombang orgasme yang menghantamnya dengan sejuta kenikmatan. Susan masih terengah-engah ketika didengarnya bungkus plastik tersobek, Nick sedang mengeluarkan karet pelindung dan mengenakannya.

“Jangan pakai Nick, I wanna feel you, the real you inside of me,” kata Susan lemah. Ia masih lemas setelah orgasmenya yang pertama, tapi rupanya Nick tidak akan memberinya kesempatan beristirahat.

Nick mengelus-ngelus sekujur tubuh Susan untuk meredakan gelombang kenikmatan yang tersisa. Ia membuang bungkusan kondom yang terbuka itu ke lantai. Kemudian dengan kasar Ia menaiki tubuh Susan, Ditariknya kedua tangan Susan, ditindihnya dengan tangannya sendiri di samping telinga Susan. Dijilatnya daun telinga Susan, dengan keras lidahnya bermain di situ, kemudian bergeser ke belakang telinga, lalu ke leher, turun ke bahu, kembali ke payudara Susan yang kini terguncang bebas. Dirasakannya kejantannya bersentuhan dengan kewanitaan Susan yang basah dan hangat. Dengan satu gerakan keras Ia mendorong dirinya memasuki Susan, bibirnya mencari bibir Susan, mencegahnya berteriak. Terasa oleh Nick betapa lidahnya di hisap kuat, lidah Susan menari di langit-langit mulutnya menimbulkan rasa geli yang nikmat. Ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, menerobos kewanitaan Susan berulang-ulang.

Pinggul Susan bergerak mengimbangi tusukan-tusukan Nick dengan otomatis. Ke kiri dan ke kanan, lalu memutar, kejantanan Nick serasa dipijat dan ditelan sekaligus. Rintihan Susan memancing gairah Nick naik semakin tinggi, dipercepatnya gerakan pinggulnya.

“ooohhh….. feels so good babe……. yeah……..”

Entah berapa lama Nick menyetubuhi Susan, menerima kenikmatan bersatunya kedua jenis kelamin itu. Susan pun merasakan hal yang sama, mulutnya menggumamkan nama Nick. Pinggulnya bergerak semakin liar. Ia bisa merasakan gelombang orgasmenya yang kedua mulai datang. Lebih nikmat dari yang pertama, seakan-akan ada sesuatu yang makin besar dalam dirinya, siap meledak sewaktu-waktu. Sementara itu Nick bergerak semakin cepat, mulutnya meracau.

“Uhhhh……. I’m cumming……, ohhhhhhhhhhhh.”

Seiring dengan itu Susan menjerit panjang, Ia dilanda orgasmenya yang kedua, lebih panjang, lebih nikmat, meledak dalam kontraksi otot-otot vaginanya yang membuat Nick mencapai orgasmenya dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Ooooohhhhhhhh!!!” tubuh Nick menegang, kemudian ambruk, lemas, disamping tubuh Susan.

Basah oleh keringat, tangan Susan membelai dada Nick. Gemetar. Matanya membasah oleh air mata. Nick masih terdiam, menikmati belaian Susan. Kemudian disadarinya isak tertahan dari tubuh telanjang di sampingnya.

“Elo nangis Sue???” tanyanya.

Tidak ada jawaban, hanya bahu Susan yang berguncang menahan agar tidak lebih banyak air mata yang keluar. Sepi. Hanya tangis pelan Susan, ditambah dengung AC 3/4 pk di pojok ruangan yang terdengar.

Nick menghela napas. Ia membelai-belai tubuh Susan untuk menenangkannya. Ditariknya selimut menutupi tubuh mereka berdua.

“Do you love her Nick???” tanya Susan tiba-tiba, memecah keheningan.

“Siapa?” Nick tersentak mendapat pertanyaan tiba-tiba tersebut.

“Wanita yang kita temui di lift tadi, namanya Tessa?? Jangan kaget,” tambah Susan ketika dirasakannya tubuh Nick menegang.

“Walaupun setengah mabuk tapi gue masih bisa ngeliat gimana elo orang berdua liat-liatan,” kata Susan. Perih hati Nick kembali meruyak, teringat pertemuannya dengan Tessa tadi.

“Do you??” kejar Susan lagi.

“Yes. I love her very much. Sometimes it hurts me coz i know i can’t live without her,” bisik Nick pelan.

“Apa elo selalu nidurin cewe yang nggak elo suka cuma sebagai pelampiasan kekecewaan elo aja Nick??” pertanyaan Susan itu menusuk hatinya, membongkar rasa bersalah yang membuncah di hatinya.

“Elo tau Nick, gue sayang elo udah dari dulu, gue rela tidur sama elo walaupun elo gak sayang gue. Tapi malem ini elo bener-bener nyakitin gue,” Susan mengusap air mata yang kembali mengalir di sudut matanya.

“Sori kalo gue agak kasar tadi,” ucap Nick.

“Bukan itu Nick, bukan fisik gue yang sakit. Tau nggak betapa sakitnya gue begitu tau elo bercinta sama orang lain, bukan gue, barusan,” kata Susan lagi.

“Tapi…” kata kata Nick dipotong di tengah jalan.

“Elo manggil-manggil namanya tanpa sadar tadi,” potong Susan perlahan.

Seperti disambar petir rasanya. Nick termenung mendengar ucapan Susan. Betapa Ia telah menyakiti hati gadis ini. Betapa jahatnya dia terhadap Susan. Nick bergerak untuk memeluk Susan, untuk menyatakan betapa menyesalnya dia atas perbuatannya. Tetapi Susan membalikkan tubuhnya, kini punggungnya yang telanjang menghadap Nick.

“Nick, don’t…..” cegah Susan. “Tinggalin gue sendirian Nick, gue butuh waktu buat mikir,” katanya lagi.

Nick bangkit perlahan. Ia memakai kembali pakaiannya, lalu duduk di pinggir ranjang. Tangannya meraih jemari Susan.

“Sue, gue jahat sekali sama elo. I’m sorry. Please, can we……” Nick tidak melanjutkan kalimatnya. Ia berpikir apakah terlalu kejam untuk meminta Susan tetap menjadi temannya, setelah apa yang Ia perbuat malam ini. “Gue pergi Sue,” Nick akhirnya berkata. Dikecupnya kening gadis itu lembut. Sempat dilihatnya Susan memejamkan mata, sia-sia mencegah dua butir air mata mengalir keluar. Ia menganguk.

“Don’t worry about me. Kunci pintunya Nick, trus balikin besok. biar gue pake kunci cadangan.”

Pelan-pelan, Nick melangkah ke luar dari kamar Susan. Sebotol wine masih berdiri di atas meja, di sampingnya ada sebotol Black Label yang masih setengah penuh, diambilnya botol itu. Ia ingin mabuk malam ini. Di kepalanya segala pikiran bercampur aduk. Perasaannya terhadap Tessa, kejadian tadi di cafe, persetubuhannya dengan Susan, kata-kata Susan tadi. Ia ingin melupakan semuanya sejenak. Nick melangkah keluar, ke tempat parkir.

I met him that day
hey, don’t you look at me like that !!
he’s not like you’re thinking
full of thoughts and ideas
he has the most fabulous eyes I’ve ever seen

I met him that day
what’s wrong with me back then ?
why my knees shakin ?
I barely could look him in the eyes
when he took my hands

I met him that day
starting our journey together
never been like this before
the days full of laugh
when sun dancing in the sky
or nights cryin’ on my pillow
wacthing the moon bleeding

I met him that day
never thought this moment came
what should I do now ?
don’t wanna lose him
yet I’m afraid to confess

I met him that day
destiny ?
or tragedy ?

(taken from Tessa’s diary, she gave me few page of her diary that night. The night she told me everything)

Part one : TESSA

Kepalaku sakit. Seperti otakku terlempar ke sana kemari setiap kali aku menggerakaan leher. Segelas Screwdriver yang kuminum tadi masih saja menunjukkan pengaruhnya. Aku memang tidak biasa minum, hanya saja malam ini aku merasa ingin mabuk. Malam yang melelahkan, dan menyakitkan. Aku memejamkan mataku, kejadian di lift tadi kembali melintas dalam pikiranku. Ooohhh, mengapa Tuhan sedemikian kejamnya sampai Nick harus melihat aku malam ini ? Begitu banyak cafe di Jakarta, mengapa kami bertemu di cafe yang sama ?? Begitu ramai orang di sana, mengapa ia harus melihatku ?

Di sampingku duduk seorang asing. seorang yang tidak kukenal sama sekali sampai malam tadi. Seorang yang telah menikmati tubuhku malam ini. Aku merasa kotor, ingin rasanya cepat sampai ke rumah sehingga aku bisa membersihkan diriku. Di luar masih gerimis rintik-rintik sisa hujan lebat semalam. Siapa gadis yang bersama Nick tadi ?? Kekasihnya kah ? Haruskah aku marah melihatnya berdua denganmu Nick ?? Suara-suara bergema di kepalaku. Tidak Tessa, sadarlah. Memangnya siapa dirimu ?? Suara lain mengiang, mengingatkan keadaan diriku.

“Sudah hampir sampai nih, yang mana tempatmu ?” terdengar suara orang asing itu.

Mobilnya berjalan perlahan mendekati tempat kontrakanku, hanya tinggal satu gang lagi. Tidak, jangan sampai dia mengetahui tempatku.

“Di sini saja, aku ingin membeli sesuatu dulu” kataku ketika mobilnya melewati warung Mbok Sum, janda beranak satu yang merupakan langgananku kalau kehabisan sesuatu.

“Di sini ?? Apakah aman ?” keningnya berkerut mendengar permintaanku.

“Tidak apa, warung itu adalah langgananku, dan aku sudah terbiasa dengan lingkunganku” aku berkeras.

“Baiklah” ia menyerah. “Dan terima kasih untuk malam tadi”.

Aku menganguk sekilas dan menyaksikan mobilnya meluncur pergi ditelan kegelapan malam.

Aku melewati warung Mbok Sum. Bisa kulihat ia tidur di bagian dalam warungnya. Terharu aku melihatnya. Betapa berat perjuangan perempuan tua itu mencari makan di Jakarta ini. Untunglah anaknya sudah mulai bekerja sebagai loper koran, bisa diharapkan untuk membantu ibunya. Aku tidak jadi membeli permen untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulutku. Biarlah, aku toh sudah hampir sampai, tinggal menyikat gigiku untuk itu.

Di remang malam pagar rumah kontrakanku sudah terlihat. Lalu tong sampah yang kepenuhan. Lalu, hey, tidak salahkan mataku ? Agak jauh di samping tong sampah, di bawah kerimbunan pohon akasia, sebuah mobil jip berwarna hijau parkir miring dengan satu roda di atas trotoar. Rupanya si empunya buru-buru, atau mabuk.

Aku mendekat dengan ragu-ragu. Sticker V-Kool di sisi pemgemudi itu serupa benar dengan milik seorang yang kukenal baik. Perasaanku semakin tak keruan ketika membungkuk untuk membaca nomor polisi mobil tersebut. B 24……

My God, ternyata benar dia !!! Apa yang dilakukannya pukul setengah 4 pagi di sini ?

Kuperiksa mobil tersebut. Kosong. Dengan risau kulihat sekelilingku, di bawah pohon, di kolong mobil, bahkan di selokan. Tapi tak kutemukan juga orangnya. Dengan setengah berlari aku menuju pintu pagar. Terkunci, tepat seperti ketika kutinggalkan tadi. Lalu kemana dia ? Cemas, lekas kubuka pintu pagarku. Dengan buru-buru kukunci kembali pintu pagar. Kucoba menelepon Nick dari cell-phone ku. Tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh tergeletak di depan pintu rumah. Aku ingin menjerit, ketika tiba-tiba nampak nyala hijau samar dari bagian saku tubuh itu diikuti lagu Mission Impossible, tepat ketika cellphoneku mendapatkan nada dering.

“Nick !!!” aku berlutut di samping tubuh lunglai itu. Wajah Nick tampak pucat, matanya terkatup rapat. Dalam keadaan tidak sadarpun aku bisa melihat jelas gurat-gurat kesedihan di wajahnya. Karena akukah ? Ingin menangis aku rasanya. Baju dan rambutnya basah kuyup. Botol minuman keras yang sudah hampir kosong tergeletak agak jauh dari kaki Nick, ada bekas muntah di situ. Dengan sebelah tangan berusaha membuka pintu, tanganku satunya menahan kepala itu dalam pangkuanku. Pintu terbuka dengan derit tajam. Kutepuk pelan pipinya, “Nick, come on. Wake up Nick, you scared me”. Lega hatiku ketika akhirnya mata itu membuka, merah dan berair.

“Uhh…. Tess…. kau bersamanya…….. aku….. menunggumu” gumamnya kacau.

“Shhhh…… Nick, ayo bangun. Kau bisa sakit di luar” kucoba menariknya bangun.

“Aku……dia bukan….apa-apa……cuma kamu Tess”

Berdarah hatiku mendengarnya. Tidak ada yang lebih jujur daripada perkataan orang mabuk ketika menyesali sesuatu.

“Aku tidak layak untuk itu Nick, ayo bangun. Kita bicarakan nanti”.

Sedikit kupaksa, akhirnya ia berusaha berdiri. Dengan susah payah kuseret tubuh kami berdua. Bisa kurasakan berat badan Nick yang bersandar pada lenganku.

******

Entah bagaimana, aku berhasil membawanya ke kamar mandi kamarku. Kubaringkan Nick di bathtub. Kunyalakan water heaterku dan kubuka keran airnya, lalu dengan penuh perjuangan aku berhasil membuka pakaian dan celananya. Kulitnya pucat karena kedinginan. Semoga tidak terkena pnemonia, pikirku. Dengan gayung, kusendok air yang mengalir dari keran. Air hangat yang kusiramkan ke tubuhnya mulai bekerja. Berangsur-angsur rona merah menjalari tubuhnya. Aku memandikan Nick malam itu, seperti seorang bayi yang tidak berdaya, penuh kepasrahan kepada ibunya. Tuhan, betapa aku mencintainya. Kulepaskan pakaianku, lalu masuk ke dalam bathtub. Berimpitan dalam bathtub itu, kubasuh tubuhku di bawah pandangan memuja Nick yang terlihat jelas di matanya. Ia tidak berkata sepatahpun. Matanya terus mengikuti setiap gerakanku.

Setelah selesai di kamar mandi, aku memapah Nick yang sudah lebih kuat sekarang ke kamarku. Kusuruh ia berbaring di ranjangku sementara aku menyiapkan kopi panas dan dua tangkup roti selai. Yah, aku tidak suka susu, jadi tidak ada susu di rumahku. Terpaksalah, tak ada susu kopi pun jadi. Sementara menunggu coffee maker-ku bekerja, aku duduk di pinggiran ranjang. Kubelai rambutnya, wajahnya, pipinya, merasakan setiap inci wajahnya, wajah yang terkadang membuat malamku penuh air mata. Nick tidur meringkuk di balik selimut, dengan tangan kananku dipeluk erat di dadanya, tangan kiriku yang bebas bermain di wajah dan rambutnya. Wish this could last forever. Aku ingin selalu menjaganya, berada di sampingnya bila dia membutuhkanku, menjadi tempatnya menumpahkan duka dan tangis. Entahlah, mungkinkah hal itu terjadi ?? Setelah apa yang terjadi malam tadi ?? Di luar hujan kembali deras. Bisa kudengar bunyi titik air menghantam genting. Untunglah aku pulang lebih cepat, kalau tidak mungkin Nick masih di luar, kehujanan dan kedinginan menungguku.

Kubangunkan Nick ketika kopi sudah matang, setengah kupaksa akhirnya ia mau juga menghabiskan roti dan kopi yang kusiapkan untuknya. Lucu melihatnya mengatupkan mulut rapat, kepalanya menggeleng kuat ketika aku berusaha memasukkan gigitan terakhir roti selai ke mulutnya. Tentu saja akhirnya aku yang menang, Nick tidak akan sampai hati membuatku menangis. Seorang gentlemen sejati, dan seorang anak kecil yang haus belaian sayang. Akhirnya kopi dan roti habis juga. Matanya tidak merah lagi, dan sorot matanya yang kukenal baik sudah kembali. Kami berpandangan dalam diam. Aku tahu, saat ini pasti akan tiba. Moment yang selalu membuatku bermimpi buruk. Tiba-tiba aku merasa kecil, mataku menghindar tatapannya. Aku tahu, ia ingin penjelasan atas kejadian semalam. And he deserve one. Perutku tiba-tiba sakit.

“Tess, you remember when we first met ??” tanyanya memecah kesunyian.

“Clearly. Hujan, Hoka-Hoka Bento, kopi, ekkaddo, salad dan sup miso” mau tak mau aku tersenyum membayangkan pertemuan kami yang pertama.

Ia menyeringai, “Kau lupa lemon tea. Tapi bukan itu yang kumaksud. Apakah kau pernah membayangkan kita jadi seperti ini sebelumnya Tess ?”.

“I mean, resminya kita teman, but there’s so much things involved here. I love you. You love me. Why can’t we be more than friends ??” sambungnya lagi. Kali ini tidak ada senyum di wajahnya. Berbahaya.

“Cause it’s better this way Nick” jawabku.

“So you can go out with other guy ? That stupid man on elevator whose trying to touch your breast ???” terdengar suaranya naik satu oktaf. Mata Nick mulai berkilat marah.

“Nick, don’t yel at me. If you keep that tones, get out of my sight. If you want explanation, keep your voices low” jawabku tenang. Perdebatan panjang penuh dengan bentakan adalah hal terakhir yang kuinginkan. Bila harus berakhir di sini, biarlah. Aku pasrah. Aku tak bisa lagi menutupi rahasia ini, tidak terhadapnya.

Hening sejenak. Tampak Nick berusaha menguasai dirinya. Lalu ia menganguk, “Okay. Cukup fair. But I have one condition”.

“Apa ?” tanyaku.

“Sini, selimutan bareng-bareng” katanya lucu.

Aku tersenyum. Nick memang unpredictable. Sesaat lalu ia marah-marah, sekarang sudah bisa bercanda. Aku menyusup ke dalam selimut, berbaring di sebelahnya. Dengan tangan kanan aku meraih tombol lampu ruangan. Sekarang penerangan yang ada hanyalah lampu tidur kecil dengan sinar kuningnya yang lembut.

“Okay, let’s get started” kataku.

“I don’t care about your past, Tess. Only from the time we’re together. Rasanya cukup fair kalau aku berhak tahu hidupmu. You change my life since that rainy day, 6 month ago, when first i met you.” katanya tenang.

“Okay Nick. Ready ?”

Ia menganguk, maka kuceritakan semuanya.

******

Why, you run away from me ?
I’m not gonna hurt you
let me reach your heart
here’s mine
keep it for me

why you’re crying ??
people look down at you ?
a buch of hypocrite !!
to hell with them !
ssshhh baby, don’t cry
I’m here now
share the pain with me

even a sinner need love
I’m sinner, too
you and i are the same
I’ll take care of your heart
never let it breaks
won’t let it loose
please ???
will you trust me ??

Part two : NICK.

Wanita itu melepaskan sackdress hitamnya perlahan, meninggalkan sebentuk garis hitam melintang di punggungnya yang putih. Tangannya menggapai ke belakang, melepas secarik kain yang menyangga dua bukit di dadanya. Tulang belikatnya bergetar menahan dinginnya AC. Kakinya yang panjang melangkah perlahan. Di depannya, seorang pria terbaring di atas ranjang. Telanjang. Matanya memandang penuh nafsu pemandangan yang tersaji di depannya. Napasnya terengah. Panas. Nafsunya bergolak. Sang naga menggeliat. Keras. Si gadis menunduk. Rambutnya sebahu, jatuh menyembunyikan wajahnya. Tangan si pria meraih sang gadis. Ditariknya tubuh langsing itu ke bawah himpitan tubuhnya sendiri. Butiran peluh berkilauan memantulkan cahaya lampu. Mulutnya mencari sumber air kehidupan di bukit penuh pesona tersebut. Kering. Tentu saja. Kehidupan belum lagi terbentuk di rahim sang gadis. Si pria dengan rakus menghisapnya, tak perduli rintihan pedih sang gadis. Kedua tangannya meluncur ke bawah, melucuti selubung hitam yang menutupi lembah berhutan kelam. Si pria terpana, ilusi membawanya terbang tinggi. Ia buta, bukan keindahan yang tampak. Kenikmatanlah yang terbayang. Matanya tertutup oleh nafsu, pikirannya kabur terselubung kabut birahi. Sang gadis tergolek pasrah di bawah tindihannya. Sang naga menari ganas, menyelusuri hutan dan lembah, terbang menghindar di angkasa. Ketika ditemukan apa yang dicarinya, ia terhenyak, sang naga menghujani hutan dan lembah tersebut dengan lava panasnya. Sang gadis menyibakkan rambutnya yang hitam, lembut bagai sutra. Wajahnya terlihat jelas sekarang………

“Tidaaaaaaakkkkk !!!!” Aku menjerit keras. Bayangan itu kembali menghantuiku. Mengejarku bagai hantu penasaran. Aku ingin melupakannya. Ingin menghapusnya dari memoriku. Tapi aku tidak bisa. Betapapun aku ingin melupakannya, aku tidak mampu. Aku terduduk di tempat tidur, nafasku memburu. Telepon berdering di samping tempat tidurku. Kuacuhkan. Akhirnya deringan mengganggu itu berhenti. Kucabut batang Mild Seven terakhir yang tersisa di bungkusnya. Dengan tangan masih gemetar kunyalakan Zippo-ku. Kunikmati hisapan demi hisapan taktala asap penuh racun itu memasuki paru-paruku. Pikiranku melayang kembali ke dua minggu yang lalu. Ke malam di mana Tessa menceritakan kisah hidupnya kepadaku. Tessa, hatiku hancur mengingat dirinya. Betapa berat beban yang harus ditanggungnya. Haruskah aku meninggalkannya ? Kalau begitu apa bedanya aku dengan orang-orang yang membayar untuk menikmati tubuhnya ? Tidak. Bukan salahnya menjadi seorang……..ahhh, tidak tega aku menyebutkannya. Orang mengutuk wanita seperti dirinya, tapi secara munafik juga mencari-cari kaumnya sebagai pelampias nafsu. Aku mencintainya, bukan hanya tubuhnya. Seutuhnya. Dengan segala kekurangannya. Dan ia mencintaiku, teramat sangat. Ia menangis malam itu, bukan untuk dirinya, untuk diriku. Menangisi hatiku yang hancur karena dirinya. Ia memberikan dirinya untukku. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya, jiwanya. Dan sekarang mimpi buruk itu terus mengejarku. Aku tidak rela laki-laki lain menikmati tubuh Tessa, tidak Tessa-ku. Aku harus berbuat sesuatu. Kuraih telepon di samping tempat tidurku.
Banyak hal yang harus kulakukan hari ini.

“Tidak, tidak Nick. Bukan begitu caranya. Lagipula kau pasti membutuhkannya” dari nada suaranya aku tahu Tessa tersinggung.
Bagaimanapun juga aku harus mencoba.

“Tess, bukan maksudku merendahkanmu. Tapi aku tidak ingin membayangkan kau……bersama laki-laki lain” aku mencoba membujuknya untuk menerima sejumlah uang yang kutransfer ke rekeningnya. Pendapatan rutinku tiap bulan.

“Apa perdulimu Nick??? Kau tahu aku seorang pela…..”

“Stop !!!! Aku tidak perduli siapa kau, aku hanya tahu aku mencintaimu, aku tidak rela orang lain menikmati tubuhmu. Biar aku membayarmu supaya kau tidak usah…” kata-kataku yang penuh amarah terhenti di tengah jalan ketika tamparan Tessa meledak di mukaku. Kulit mukaku pedih. Tapi tak ada artinya dibanding sakitnya hati ini. Serasa ada ribuan jarum menusuk perutku. Mata Tessa yang indah terbelalak, tangannya menutupi mulut yang mengeluarkan rintihan lirih. Aku masih terdiam mematung ketika ia mendapatkanku dalam pelukannya.

“Nick, ohh, Nick, i’m so sorry” bisiknya penuh penyesalan.

Masih kurasakan panas di mukaku. Belum reda perih di hatiku.

“Tess, jangan katakan aku tidak perduli. I love you, and i never regret it. Did you know how much it hurts me just to think you sleeping with another guy ?? I want you only for myself ” kataku pelan.

Kutatap matanya. Tuhan, akan kuberikan semua yang kumiliki agar mata itu bersinar lagi. Agar gadis mungilku tidak menderita lagi. Ia menganguk. Sebutir air mata jatuh menuruni hidungnya yang mancung.

“Baiklah Nick, aku menerimanya. Bukan sebagai bayaran atas diriku karena aku menyerahkan diri kepadamu bukan untuk uang. Untuk persahabatan kita”.

Hubunganku dengan Tessa memang aneh. Aku mencintainya. Sedangkan dari dirinya belum pernah sekalipun terucap kata yang satu itu. Ia pun berkeras hubungan kami hanyalah teman baik. Sesuai perjanjian yang kami buat, Tessa tidak lagi pergi bersama orang lain. Kini ia bekerja full time sebagai junior staff accounting di tempatnya yang lama. Aku memasukkan sejumlah uang ke rekeningnya sebagai ‘ganti’ pendapatannya yang hilang. Tak sebanding tentu saja. Namun aku bertekad untuk melepaskannya dari kehidupannya yang dulu. Dan ya, aku tidur bersamanya. Tapi bukan karena itu aku membutuhkannya. Aku membutuhkan dirinya karena ia selalu mengerti diriku. Persetan apa kata orang mengenai hubungan kami. Hanya satu kata itu yang kutunggu dari mulutnya. Sungguh penasaran aku dibuatnya. Setiap bagian tubuhku mengatakan kalau iapun mencintaiku. Mengapa begitu berat baginya untuk mengucapkan sepatah kata itu ?

*******

Aku terjaga dari tidurku. Udara pagi Megamendung yang dingin terasa menyegarkan setelah sehari-hari menghirup udara kota Jakarta yang penuh debu. Entah mengapa setiap kali pergi ke daerah gunung atau pantai, aku selalu bangun pagi. Sejak mengikuti kegiatan pecinta alam kala SMA, pagi hari di daerah yang masih alami selalu merupakan momen yang paling indah bagiku. Matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya, tertutup oleh awan mendung kelabu, embun yang bergayut di pucuk rumput, kabut tipis yang menggantung menyusur tanah. Semuanya terasa begitu sempurna. Di sampingku terbaring Tessa-ku. Rambutnya yang hitam sebahu berantakan di atas bantal. Matanya yang indah terpejam rapat. Wajahnya begitu damai dalam tidurnya. Tak ada yang akan menyangka dibalik wajah damai itu terdapat begitu banyak kepahitan. Kurendahkan tubuhku. Kekecup lembut keningnya. Ia menggeliat. Piyama yang dikenakannya tak mampu menutupi perut dan pinggangnya yang putih. Aku tak tahan melihatnya. Kugelitik pinggang putih itu. Ia menggeliat lagi. Tangannya menarik selimut menutupi daerah yang menjadi incaran tangan nakalku. Aku tertawa. Ia menggumam tak jelas.

“Anak nakal, sini masuk kalau berani” katanya mengantuk.

Tentu saja kuladeni tantangannya. Aku menyusup masuk ke dalam selimut itu. Tanganku bersiap melanjutkan serangan ke pinggangnya. Tapi ia lebih cepat. Tahu-tahu tubuhku sudah ditindihnya. Sia-sia kedua tanganku yang dipegangnya di bawah himpitan punggungku sendiri mencoba berontak. Dengan gemas digigitnya perutku sampai aku berteriak minta ampun, barulah dilepas gigitannya itu.

Kupeluk tubuh langsing itu. Kubenamkan kepalaku di lehernya. Kurasakan kehangatan tubuhnya, begitu mengundang. Aroma tubuhnya membelai hidungku.

“Tess….”

“Hmmm…?”

“You smells good ” aku berbisik di telinganya. Ia tersenyum. Masih senyum yang sama yang mempesonaku, yang membuat hari-hariku cerah. Kupuji diriku sendiri untuk membawanya ke sini, ke villa milik keluarga Ken yang dipinjamkan kepadaku. Tessa tampak begitu bahagia di sini. Tidak tampak sekalipun sinar matanya yang keruh selama kami berada di sini.

“Did i taste good too ???” tanyanya menggoda.

“Delicious ” jawabku tak kalah nakal. Aku teringat kembali adegan semalam. Bersatunya tubuh dan hati kami. Begitu indah. Saling memberikan kenikmatan kepada partnernya. Baru pada malam tadi Tessa memperbolehkanku melakukannya tanpa pelindung. Selama ini ia selalu memaksaku menggunakannya karena takut aku tertular penyakit. Terharu aku ketika ia mengatakannya kepadaku. Kupeluk ia lebih erat. Kami berdua terdiam, menikmati ‘rasa’ pelukan tersebut. Aneh juga, bagaimana aku bisa mendeskripsikan ‘rasa’ yang abstrak itu ?

“Love you girl” bisikku di telinganya.

Seperti biasa, ia hanya tersenyum, kemudian mencium bibirku lembut.

Tiba-tiba ia bangun.

“Nick, ke jacuzzi yuk. Tess ingin mencobanya”.

Aku menganguk menyetujui. Bersama-sama kami melangkah ke halaman. Ke sebuah gazebo yang di tengahnya terdapat kolam bulat berdiameter sekitar 1,5 meter. Kolam jacuzzi. Ken telah memberitahuku di mana letak pompa air dan heaternya sehingga aku bisa mengisi dan menghangatkan airnya sendiri tanpa harus memanggil penjaga villa yang tinggal di kampung sebelah. Aku sengaja menyuruhnya pulang pada hari kedatanganku, tidak ingin kehadirannya mengganggu saat kebersamaanku dengan Tessa. Kunyalakan sebatang Mild Seven sambil menunggu penuhnya kolam itu. Sebatang rokok itu kuhisap bergantian dengan Tessa.

Akhirnya air kolam penuh juga. Kutarik lengan Tessa mendekati kolam.

“Nick, Tess ganti baju renang dulu”

“Hmm…..cuma ada kita berdua di sini. Kenapa harus pakai baju segala?”

Mukanya sedikit merah mendengarkan ajakanku. Sebelum ia berubah pikiran kutarik dia masuk ke kolam. Ternyata cukup dalam juga. Kira-kira seleher Tessa kalau ia duduk. Kulepas pakaianku yang basah kuyup. Kulempar begitu saja ke rumput. Demikian juga nasib sama dialami sisa kain yang menempel di tubuhku. Kuraih Tessa. Dalam beberapa detik tubuh atasnya tidak mengenakan apa-apa lagi. Aku berhenti sejenak, mengagumi keindahan yang terpampang di depanku. Kubenamkan mukaku di kehangatan dua bukit kecil di dadanya. Tangannya lembut mengusap kepalaku. Kulepas celana piyama yang digunakannya. Sekarang kami berdua telanjang. Kupeluk dia erat, merasakan setiap inci kulit tubuhku menempel pada tubuhnya. Angin dingin bertiup, membuat pundaknya menggigil. Kutarik dia ke bawah. Terasa kehangatan air kolam melingkupi tubuhku. Semburan air hangat dari lubang-lubang di sekeliling kolam bagai pijatan erotis yang memanjakan tubuh kami berdua. Dalam posisi duduk berdampingan, tangan nakalku kembali menyelusuri tubuhnya. Membelai, mengusap, memijat, menggelitik bagian bagian yang sensitif. Air kolam merendam tubuhnya, menyisakan bagian leher ke atas di atas air.

Tangannya menarik leherku mendekat. Bibirnya bergerak mencari bibirku, antara bersentuhan dan tidak. Menggunakan lidahnya membasahi bibirku, memancing lidahku keluar ikut bermain dengan lidahnya. Di sela-sela ciuman itu masih sempat kubisikkan betapa aku mencintainya. Kudengar rintihan lirih dari tenggorokannya. Tanpa sadar tubuhnya sudah berada dalam pangkuanku. Kurasakan berat tubuhnya pada paha atasku. Kejantananku beradu dengan bukit berambut halus miliknya. Kakinya melingkari pingganggku, tangannya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak, mencari posisi yang tepat agar kejantananku bisa mencapai pasangannya. Tiba-tiba hujan turun. Mula-mula hanya tetes ringan di atas rumput dan atap gazebo, kemudian bertambah deras. Kejantananku memasuki dirinya pelan-pelan. Setiap gerakan tubuhnya memberikan kenikmatan yang tak terlukiskan. Matanya setengah terpejam, alisnya berkerut menahan nikmat yang juga kuberikan kepadanya. Mulutnya mengeluarkan suara-suara rendah dari tenggorokannya. Wajah dalam ekstase. berbeda dengan semalam, kali ini gerakanku dan Tessa tidak tergesa. Ke atas, ke bawah, memutar, semua kulakukan dengan gerakan lembut. Uap air naik menutupi pandanganku, membuat sekelilingku berwarna putih susu.

Entah berapa kali aku hampir sampai ke puncak, tetapi setiap kali aku hendak mencapai orgasme gerakan kami melambat, menunda puncak kenikmatan yang menghampiri diriku. Tanpa kata-kata. Hanya erangan dan rintihan yang menjadi komunikasi kami. Heran, darimana ia tahu apa yang kumaksud dalam setiap eranganku. Dan darimana aku tahu apa yang diinginkannya hanya dengan mendengar rintihannya. Tapi itulah yang terjadi. Kilatan petir membelah langit. Kututup mulutnya dengan mulutku. Kubawa kepalanya menyelam ke bawah air. Aku tahu ia takut mendengar suara halilintar. Di dalam air mulutku bisa merasakan kepasrahan dirinya. Suara deras hujan tiba-tiba tak terdengar lagi, digantikan bunyi gelegak air yang menyembur. Dalam air seakan waktu berhenti, paru-paru kami berbagi udara yang sama, tubuhnya bergetar. Aku tahu, ia menantikan gelombang kenikmatan melanda dirinya. Demikian juga denganku. Kubuka mataku dalam air yang menggelegak, aku ingin melihat wajahnya ketika orgasme mengahantamnya. Aku sudah tidak mampu bernafas, kuberikan semua persediaan udara dalam paru-paruku kepadanya. Matanya juga terbuka, tepat ketika diriku seakan-akan meledak oleh kenikmatan. Gelegar halilintar terdengar samar dalam air. Tubuhnya mengejang dalam pelukanku. Tubuh kami masih bergerak, memompa semua kenikmatan yang datang melanda.

Seperti ikan dilemparkan ke darat, kami berdua megap-megap ketika kepala kami keluar dari air. Mengisi paru-paru kami dengan udara segar yang membawa aroma hujan. Melayang tinggi, kesadaranku belum kembali sepenuhnya. Bunyi hujan putus-putus terdengar di telingaku. Kilat putih masih sambar menyambar dalam kepalaku. Lalu hening.

“That was…..incredible” kataku terbata-bata di telinganya. Tidak ada kata yang mampu melukiskan keadaan itu dengan tepat. “Thanks”.
Ia masih terdiam. Dadanya bergerak naik turun. Hanya matanya memandangku penuh cinta. Kasihku. Aku tahu aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Kami akan bersama selamanya.

Part three : Epiloque.

Dear Nick,

Tess baik-baik saja di sini. Hanya sedikit kedinginan. Bagaimana denganmu ?? Jangan lupa dengan kesehatanmu. Tess akan marah sekali kalau kau sampai sakit Nick. Makan yang teratur dan kurangi rokokmu. Nick, jaga dirimu baik-baik ya.

Kau masih marah kepadaku Nick ?? Perusahaan bersedia mensponsori pendidikanku di sini Nick. Tess pergi tanpa pamit karena aku tahu bila aku bertemu denganmu mungkin sekali pikiranku akan berubah. Maafkan Tess ya Nick.

Ingat ketika kita berdua di Villa ?? It was great Nick. One the best time in my life. Kemudian ketika pulang dari villa kau bertanya apakah aku bersedia hidup denganmu selamanya. Oh Nick, bahagianya hatiku. Betapa inginnya bibir ini menjawab ya. Tess yakin kau akan membahagiakanku Nick. Tess mencintaimu, sayangku.

Kau menangis Nick ?? Jangan menangis, cintaku. Tess pun sedih harus meninggalkanmu. Tapi bukankah kaupun ingin agar Tess meninggalkan kehidupan lama Tess ?? Ini jalan keluarnya Nick. Terima kasih atas segala dukunganmu. Doakan aku berhasil Nick.

Kadang Tess berpikir, apakah kita berdua bisa bersama selalu. Tapi aku terlalu menyayangimu untuk itu. Ketika kau mengenalkan Tess pada orang tuamu mereka belum tahu siapa aku Nick. Relakah mereka membiarkanmu bersamaku ? Tess tidak ingin hubunganmu dan orang tuamu terganggu karena aku. Bagaimana bila suatu saat nanti, bila kita bersama lalu bertemu dengan orang yang pernah bersama Tess ??? Tidak Nick. Saat ini jalan hidup kita bersisian, tapi takkan pernah bertemu. Mungkin nanti Nick, suatu saat bila memang kita ditakdirkan bersama, kita akan bertemu lagi.

Aku pergi Nick, you will always in my heart. Lanjutkanlah hidupmu. Jangan lupakan Tess, sayangku…….

(penggalan e-mail dari Tessa yang kuterima tak lama setelah ia pergi. Au revoir Tess. You’ll never leave my heart)

Matahariku telah pergi. Hidupku kembali gelap. Sebagian diriku ikut hilang bersamanya. Semoga dia bahagia, dimanapun ia berada.

I don’t want to get off my bed
day by day seems the same
boring
don’t know what to do

my head aching
why my mind can’t stop shaking
dark voices seduce me
damnmit !!! get the hell out of me

images floating around
can’t tell you which is real
that ?? no, maybe this
which one ?

so dark and wide
where should I go ??

TAMAT


Ibu Rani Dosenku

Aku mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, dan sudah saatnya melaksanakan tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan. Beruntung, aku kebagian seorang dosen yang asyik dan kebetulan adalah seorang ibu. Rani namanya, di awal umur tigapuluh, luar biasa cantik dan cerdas. Cukup sulit untuk menggambarkan kejelitaan sang ibu. Bersuami seorang dosen pula yang kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yang sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Rani.

“Dasar lu… enak amat kebagian ibu yang cantik jelita…” Kalau sudah begitu aku hanya tersenyum kecil, toh bisa apa sih pikirku.

Proses asistensi dengan Ibu Rani sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku juga disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau yang diam-diam kukagumi. Makanya dibanding teman-temanku termasuk rajin berasistensi dan progres gambarku lumayan pesat. Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab satu sama lain. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yang kutahu sangat disukainya. Sambil tersenyum dia berucap,

“Kamu mencoba merayu Ibu, Rez?”

Aku ingat wajahku waktu itu langsung bersemu merah dan untuk menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini. Tapi tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. Setelah kejadian itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan pandangan yang entah apa artinya, beliau makin sering curhat tentang berbagai hal. Asistensi jadi ngelantur ke bermacam subyek, dari masalah di kantor dosen hingga anak tunggalnya yang baru saja mengeluarkan kata pertamanya. Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh di benakku karena hormat kepada beliau.

Hingga… pada saat kejadian. Suatu malam aku asistensi sedikit larut malam dan beliau memang masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yang pertama terlihat adalah mata beliau yang indah itu sedikit merah dan sembab.

“Wah, saat yang buruk nih”, pikirku.

Tapi dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir aku memberanikan diri bertanya,

“Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?”

Kelam menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum manisnya.

“Ah biasalah Rez, masalah.”
Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak dan membereskan segala kertasku. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai pintu, barulah…
“Kaum Pria memang selalu egois ya Reza?”
Aku berbalik dan setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya hati-hati.
“Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya perempuan memang selalu berkata begitu, tapi saya tidak sependapat karena certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tidak bisa digolongkan dalam suatu stereotype tertentu.”

Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkimpoiannya yang selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yang bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tidak ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yang konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh kasarnya perlakuan Pak Indra (suami beliau) di rumah terhadap Bu Rani (fakta yang sedikit membuatku terhenyak, ugh betapa palsunya manusia sebab selama ini di depan kami beliau terlihat sebagai sosok yang care dan gentle).

Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega, serta membawa perasaan aneh bagiku, membuat aku merasa penting dan dekat dengan beliau. Kami memutuskan untuk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati gubahan karya Chopin yang mengalun lembut lewat stereo. Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang.

“Kamu pasti sudah punya pacar ya Reza?”
“Eh eh eh”, aku gelagapan.
Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya.
“Nggak kok Bu… belum ada… mana laku aku, Bu…” balasku sambil tersenyum lebar.
“Huuu, bohong!” teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku.
“Cowok kayak kamu pasti playboy deh… ngaku aja!”
Aku tidak bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku yang lain yang mencubit.

Larut malam telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yang eksotik.

“Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Rez?” ajaknya.
“Loh apa kata Bapak entar Bu?” tanyaku.
“Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian.”
Hm… benakku ragu namun senyum manis yang menghiasi bibir beliau membuat bibirku berucap mengiyakan. Aku mendapati diriku ditarik-tarik manja oleh beliau ke arah ruang tamu di rumah tersebut akan tetapi benakku tak habis berpikir, “Duh ada apa ini?”

Sesampainya di dalam, “Sst… pelan-pelan ya… Detty pasti lagi lelap.” Kami beringsut masuk ke dalam kamar anaknya dan aku hanya melihat ketika beliau mengecup kening putrinya yang manis itu pelan. Kami berdua bergandengan memasuki ruang keluarga dan duduk bersantai lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice. “Aduh, apa yang harus aku lakukan”, pikirku.

Entah setan mana yang merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali di karpet yang tebal itu, aku merengkuh tubuhnya dalam sekali gerakan dan merangkulnya dalam pangkuanku.

Beliau hanya terdiam sejenak dan berucap, “Kita berdua telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?” A

ku tak menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yang jatuh tergerai dan membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku, dan kubisikkan di telinganya, “Reza sangat sayang dan hormat pada Ibu, oleh karenanya Reza tak akan berbuat macam-macam.”

Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku untuk mengecup lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya. Kulihat sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut.

“Kau tahu aku telah lama tidak merasa seperti ini Rez…” Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan. Setiap sentuhannya membuat sang ibu merintih makin dalam dan beliau merangkul punggungku semakin erat. Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yang mulus wangi dan terawat.

Aku bukanlah pecinta ulung, infact saat itu aku masih perjaka namun cakupan wawasanku tentang seks sangat luas.

“Tunggu ya Rez… ibu akan bebersih dulu.” Ugh apa yang terjadi, aku tersadar dan saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku beranjak keluar dan segara berlari ke mobil dan memacunya menjauh dari rumah Ibu Ir. Rani dosenku, sebelum segalanya telanjur terjadi. Aku terlalu menghormatinya dan… ah pokoknya berat bagiku untuk mengkhianati kepercayaan yang telah beliau berikan juga suaminya. Sekilas kulihat wajah ayu beliau mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku untuk memacu mobil dan melesat ke rumah Tina.

Sepanjang perjalanan hasrat yang telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yang bisa menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Tina. Tina adalah seorang gadis yang aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia telah mengakui kalau Tina menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil memaksa untuk bercumbu denganku. Hal yang kupikir tak ada salahnya sebagai suatu pelatihan buatku.

Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban, kubuka segera dan Tina sedang berjalan ke arahku, “Sendirian?” tanyaku.

Tina hanya mengangguk dan tanpa banyak ba bi bu, aku merangsek ke depan dan kupagut bibirnya yang merah menggemaskan. Kami berciuman dalam dan bernafsu.

“Kenapa Rez?” di sela-sela ciuman kami, Tina bertanya, aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas leher Tina, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. Tangan kananku membanting pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Tina makin erat dalam pelukanku.

“Brak!” kurengkuh Tina, kuangkat dan kugendong ke arah kasur. “Ugh buas sekali kamu Rez…” Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Tina yang jelita.

Kurebahkan Tina dan kembali kami berpagutan dalam adegan erotis yang liar dan mendebarkan. Aku bergeser ke bawah dan kutelusuri kaki Tina yang jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada bagian paha dalamnya. Kukecup mesra betis kanannya. Tina hanya mengerang keenakan sambil cekikikan lirih karena geli. Kugigit-gigit kecil paha yang putih dan mulus memikat itu sambil tanganku tak henti membelai dan merangsang Tina dengan gerakan-gerakan tangan dan jari yang memutar-mutar pada payudaranya yang seksi dan ranum. Dengan sekali tarik, piyama yang dikenakannya terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Tina.

Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai benang pun yang menjadi pembatas tarian kami yang makin lama makin liar.

“Reza ahhh… Reza… Reza…” Tina terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya dan aku menuju kewanitaannya yang membukit menantang.

Kusibakkan rambut pubic-nya yang lebat namun rapih dan serta merta aromanya yang khas menyeruak ke hidungku. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung menyukainya. Kuhirup kewanitaan Tina dengan keras dan lidahku mulai menelusuri pinggiran labia minora-nya yang telah basah oleh cairan putih bening dengan wangi pheromone menggairahkan. Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yang telah membesar dan kemerahan.

“Aaagh…” Tina menjerit tertahan, sensasi yang dirasakannya begitu menggelora dan semakin membangkitkan semangatku. Detik itu juga aku memutuskan untuk melepas status keperjakaanku yang entah apalah artinya. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Rani, ah apa yang terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yang terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. Tina pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujungnya yang kuruncingkan aku menotol-notolkan lidahku ke dalam kewanitaan Tina hingga ia melenguh keras panjang dan pendek.

Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yang kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik untuk menambah pengetahuan. Kuhirup semua cairan yang keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yang lembut itu semakin keras lenguhan yang terdengar dari bibir Tina. Aku naik perlahan dan kuciumi pusar, perut dan bagian bawah payudaranya yang membulat tegak menantang. Harus kuakui tubuh molek Tina, pacar temanku ini sungguh indah. Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yang kecoklatan.

Aku berhenti, kupandangi lama hingga Tina berteriak penasaran, “Ayo Rez… tunggu apa lagi sayang.”

Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih jelitanya yang kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Hmm… pemandangan yang jarang-jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yang berdiri menjulang sangat menggairahkan dengan telunjukku.

“Aaah Rez… jangan bikin aku gila, please Rez…”

Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mengunyah, mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku yang cukup mahir. (Aku tahu Tina sangat sensitif dengan miliknya yang satu itu, bahkan hanya dengan itupun Tina dapat orgasme saat kami sering bercumbu dulu). Tina menjerit-jerit kesenangan. Kebahagian melandanya hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku.

“Eit, tunggu dulu Non… jangan terlalu cepat sayang”, aku menjauh dan menyiksanya, biar nanti juga tahu rasanya multi orgasme.

Nafas Tina yang memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin.

“Jaaahat Reza… jahaat…” kudengar seruannya.

Saat aku balik, tubuhnya menggigil dan tangannya tak henti merangsang kewanitaanya. Aku benci hal itu, dan kutepis tangannya,

“Sini… biar aku…”

Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya yang merah itu dan kami bersilat lidah dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku.

“Uugh…” dia merintih di balik ciuman kami. Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya, seolah saling berlomba.

Birahi dan berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif menggedor-gedor seluruh syaraf kami untuk saling merangsang dan memuaskan sang lawan. Kejantananku minta perhatian dan mendesak-desak hingga permukaannya penuh dengan guratan urat yang sangat sensitif. Duh… saatnya kah? aku bimbang sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera aku menjauh dari Tina. Tanpa disuruh lagi Tina meregangkan kedua pahanya dan menyambut kesediaanku dengan segenap hati. Punggungnya membusur dan bersiap.

Sementara aku menyiapkan batang kemaluanku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yang telah lumer licin oleh cairan kewanitaannya. Oh my God… sensasi yang saat itu kurasakan sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Tina menunjukkan ketidaksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku untuk bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. Kubelai-belaikan permukaan kepala kejantananku ke klitorisnya dan Tina meraung, masa sih begitu sensasional? Biasa sajalah. Kudesak ke depan perlahan (aku tahu ini merupakan hal pertama bagi dia juga) sial… mana muat? Ah pasti muat. Kusibakkan dengan kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap. Membelalak Tina ketika batang kemaluanku telah menyeruak di antara celah kewanitaannya.

Sambil matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit-gigit bibir bawahnya, Tina membimbing dengan memegang batang kemaluanku,

“Hmm… Rez? jangan ragu sayang…” Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Tina menjerit.

Loh sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, ketat sangat sensasional. Pinggang kugerakkan ke kiri dan ke kanan. Sementara Tina kepedasan dan air matanya sedikit mengintip dari ujung matanya yang berbinar indah itu.

“Kenapa sayang?” tanyaku.
“Nggak pa-pa Rez… terusin aja sayang… Aku adalah milikmu, semuanya milikmu…”
“Sungguh…”

Aku tahu pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Tina, apabila kehilangan keperawanannya. Maka untuk menenangkannya aku merengkuh tubuhnya dan kuangkat dalam pelukan, proses itu membuat kemaluanku semakin dalam merasuk ke dalam Tina. Dia mendelik keenakan, matanya yang indah merem melek dan bibirnya tak henti mendesah,

“Rez sayaaang… ugh nikmatnya.”

Saat itu aku sedang memikirkan Ibu Rani. Aneh, mili demi mili batang kemaluanku menghujam deras ke dalam diri Tina dan semakin dalam serta setiap kali aku menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan sekujur tubuh Tina bergetar, bergidik menggelinjang keras, lalu kudesak ke dalam sambil sesekali kutarik dan ulur. Tina menjerit keras sekali dan kubungkam dengan ciumanku, glek… kalau ketahuan ibu kost-nya mampus kami.

Aku tak menyangka sedemikian ketatnya kewanitaan Tina, hingga kemaluanku serasa digenggam oleh sebuah mesin pemijat yang meski rapat namun memberikan rasa nyaman dan nikmat yang tak terkira. Pelumasan yang kulakukan telah cukup sehingga kulit permukaannya kuyakin tidak lecet sementara perjalanan batang kemaluanku menuju ke akhirnya semakin dekat. Hangat luar biasa, hangat dan basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot oleh rasa ngilu yang sangat bombastis.

Perasaan ini rupanya yang sangat diimpikan berjuta pria.

“Eh… Tina sayang… kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya”. Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam, kusibakkan liang kemaluan Tina-ku tersayang dengan batang kemaluanku hingga bersisa sedikit sekali di luarnya. Tina merintih dan membisikkan kata-kata sayang yang terdengar bagai musik di telingaku. Aku mendenyutkan kemaluanku dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya, mentokkah? Berbagai tonjolan yang ada di dalam lubang kemaluannya kutekan dengan kemaluanku, hingga Tina akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman yang ganas pada bibirnya.

Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur yang empuk dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu yang menggelegak. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala kemaluanku nyaris tersembul keluar. Ugh, sensasinya dan segera kutekan lagi, oooh pergesekan itu luar biasa indah dan nikmat. Gadis seksi yang ranum itu merem melek keenakan dan ritual ini kami lakukan dengan tenang dan santai, berirama namun dinamis. Pinggulnya yang montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga segalanya makin intens ketika sesuatu yang hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas batang kemaluanku, serta ditingkahi bulu mata Tina yang bergetar cepat mendahului aroma orgasme yang sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini.

“Shhs sayang Tina… jangan dulu ya sayang ya…”
“Shhh… Reza… nggak tahan aku… Reeez… shhhh…”
“Cup cup… kalem sayang…” kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya.
Tina mereda, aku berhenti.
“Reza… kamu tega ih…” Tina cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku.
“Sshhh sayangku… biar aja, entar kalo udah meledak pasti nikmat deh… minum dulu yuk sayang…”

Aku menarik keluar batang kemaluanku, aku tak mau Tina tumpah, meski demikian saat aku menarik kemaluanku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi luar biasa yang barusan dia rasakan. Kalian para pembaca wanita yang pernah bercinta pasti pernah merasakan hal itu. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yang pertama ini jadi indah untuk kami berdua. Sial, ingatanku kembali melayang ke Ibu Rani. Apa yang sekarang dia lakukan? Bagaimana keadaan dia? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku merambat naik lagi ke tubuh Tina yang sedang tersenyum nakal.

“Minum sayang…” dia memberengut dan minum dengan cepat.
“Ayo Reza… jangan jahat dong…”
Dengan satu gerakan cepat aku menyelipkan diri di antara kedua kakinya seraya membelainya cepat dan meletakkan kemaluanku ke perbukitan yang ranum itu. Cairan putih yang kental terlihat meleleh keluar.

Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat kutelusupkan batang kemaluanku ke dalamnya. Ugh, berdenyut keduanya masuklah ia, dengan mantap kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Tina pun menyambutnya dengan suka cita. Walhasil dengan segera dia telah masuk melewati liang yang licin basah dan hangat itu ke dalam diri Tina dan bersarang dengan nyamannya. Maka dimulailah tarian Tango itu.

Menyusuri kelembutan beledu dan bagai mendaki puncak perbukitan yang luar biasa indah, kami berdua bergerak secara erotis dan ritmis, bersama-sama menggapai-gapai ke what so called kenikmatan tiada tara. Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan ‘diri’ Tina sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yang tadi telah reda mulai lagi mendera dan menambah nikmatnya pijatan yang dihasilkan pada batang kemaluanku. Tanganku menghentak menutup mulutnya saat Tina menjerit keras dan melenguh keenakan. Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada berbagai subyek non erotis.

Aku tiba-tiba jadi buntu, Yap… Darwin, eksistensialist, le corbusier, pilotis, doppler, dan Thalia. Hah, Thalia yang seksi itu loh. Duh… kembali deh ingatanku pada persetubuhan kami yang mendebarkan ini. Ah, nikmati saja, keringat kami yang berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yang seolah tak mau terpisahkan, gerakan pinggulnya yang aduhai, aroma persetubuhan yang kental di udara, jeritan-jeritan lirih tanpa arti yang hanya dapat dipahami oleh dua makhluk yang sedang memadu cinta, perjalanan yang panjang dan tak berujung.

Hingga desakan itu tak tertahankan lagi seperti bendungan yang bobol, kami berdua menjerit-jerit tertahan dan mendelik dalam nikmat yang berusaha kami batasi dalam suatu luapan ekspresi jiwa. Tina jebol, berulang-ulang, berantai, menjerit-jerit, deras keluar memancarkan cairan yang membasahi dan menambah kehangatan bagi batang kemaluanku yang juga tengah meregang-regang dan bergetar hendak menumpahkan setampuk benih. Kontraksi otot-otot panggulnya dan perubahan cepat pada denyutan liang kemaluannya yang hangat dan ketat menjepit batang kemaluanku. Akh, aku tak tahan lagi.

Di detik-detik yang dahsyat itu aku mengingat Tuhan, dosa, dan Ibu Rani yang telah aku kecewakan, tapi hanya sesaat ketika pancaran itu mulai menjebol tak ada yang dibenakku kecuali… kenikmatan, lega yang mengawang dan kebahagiaan yang meluap. Aku melenguh keras dan meremas bahu dan pantat sekal Tina yang juga tengah mendelik dan meneriakkan luapan perasaannya dengan rintihan birahi.

Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang gadis manis dan seksi itu. Geez… nikmat luar biasa. Lemas yang menyusul secara tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Tina yang segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang. “Enak sekali Reza, duh Gusti…” Aku menjilati lehernya dan membiarkan batang kemaluanku tetap berbaring dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya (ya ampun sekarang pun aku mengingat kemaluan Tina dan aku bergidik ingin mengulang lagi).

Denyut-denyut itu masih terasa, membelai kemaluanku dan menidurkannya dalam kelemasan dan ketentraman yang damai. Kugigit dan kupagut puting payudara Tina dengan gemas. Tina membalas menjewer kupingku, meski masih dalam tindihan tubuhku.
“Reza sayang… kamu bandel banget deh… gimana kalo Rian tahu nanti Rez…”
“Iya… dan gimana Vina-ku ya?” dalam hatiku.

Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya. Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yang diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yang segalanya membuat gairah.

Tak kusangka kami terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus bertemu dengan Ibu Rani. Aku bergerak melangkah menjauhi tempat tidur meskipun dengan lutut lemas seperti karet dan tubuhku limbung. Kamar mandi tujuanku. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuh telanjangku dengan air dingin. Brrr… lemas yang mendera perlahan terangkat seiring dengan bangkitnya kesadaranku. Sambil berendam aku mengingat kembali kilatan peristiwa yang beberapa hari ini terjadi.

Semenjak saat itu asistensiku dengan Ibu Rani berlangsung beku, dan dia terlihat dingin sekali, sangat profesional di hadapanku. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan panggilan manja Reza lagi seperti dulu. Aku serba salah, tidak sadarkah dia kalau aku pulang malam itu karena menghormati dan menyayanginya? Hingga dua hari menjelang sidang akhir, dan keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat persetujuan dari Bu Rani. Kuputuskan untuk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti apakah Pak Indra ada di sana atau tidak.

Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan untuk gagal sidang kali ini. Bergegas kucegat angkot dan dengan semakin dekatnya kawasan tempat tinggal beliau, semakin deg-degan debar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian semalam saat aku dan Tina bercinta untuk kesekian kalinya, untuk mengurangi keresahanku. Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan.

Basah sudah bajuku, kuyup dan bunga Aster yang kubawakan telah tak berbentuk lagi. Kubunyikan bel dan menanti. Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak Indra ada di rumah? dan beratus what if berkecamuk sampai aku tak menyadari kalau wajah jelita dan tubuh molek Ibu Rani telah berdiri beberapa meter di depanku. Saat aku sadar senyumnya masih dingin, tapi ada rasa kasihan terbesit tampak dari wajah keratonnya yang selama ini selalu menghiasi mimpi-mimpiku. Aku hanya bisa menyodorkan bunga yang telah rusak itu dan berkata, “Maafkan saya…”

Tubuhku yang menggigil kedinginan dan kuyup itu sepertinya menggugah rasa iba di hati beliau dan aku mendapati beliau tersenyum dan berkata,

“Sudah Reza, cepat masuk, ganti baju sana… dua hari lagi kamu sidang loh… entar kalo sakit kan Ibu juga yang repot.”

Uuugh, leganya beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk. “Maaf Bu, saya basah kuyup.”

Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk untukku.

“Sana ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak.”

Kuberanikan diri, mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, “Terima kasih banyak Bu…”

Sang ibu sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku. “Sudah sana, masuk… ganti baju kamu.”

Dengan sedikit cengengesan aku masuk ke dalam dan mengeringkan tubuhku, dan mengganti baju dengan kaus yang sungguh pas di badanku.

Segera aku keluar dan mencari Ibu Rani. Beliau sedang berada di dapur mencoba membuatkan secangkir teh panas untukku. Aduuh, aku sedikit terharu. Dengan beringsut aku mendekatinya dan merangkul beliau dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh.

“Reza… kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu.” Aku terdiam.
“Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Reza tak sanggup Bu… Ibu, orang yang paling saya hormati dan sayangi, mungkin Reza butuh waktu, Bu…” sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut. Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak.

Aku mendekat lagi, “Ibu mau maafin Reza?” sambil kutatap tajam matanya, kemudian perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah ayu sang ibu.
“Tapi Rez…”

Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang lembut pada keningnya. Kurengkuh Rani yang ranum itu dalam pelukanku dan kuusap-usapkan kelopak bibirku pada bibirnya dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yang merah merekah itu. Nafas Rani sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka.

Semula sedikit pasif ciuman yang kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yang putih, mencari lidahnya. Getar-getar yang dirasakannya memaksa Rani untuk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami berdua, menari-nari dalam kerinduan dan rasa sayang yang sulit dimengerti. Bayangkan beliau adalah dosenku yang kuhormati, yang meskipun cantik jelita, putih dan mempesona menggairahkan, namun tetap saja adalah orang yang seharusnya kujunjung tinggi.

“Jangan di sini Rez, Tuti bisa datang kapan saja.”
Kutebak Tuti adalah nama pembantu mereka.
“Bapak?”
“Ah biarkan saja dia”, kata dosen pujaanku itu.
Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yang mereka rancang berdua.
“Buu… Bapak di mana?”
Wanita matang yang luar biasa cantik itu berbalik bertanya, “Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut.”

Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia pasti juga tidak akan membiarkan ada konfrontasi di rumah mereka. Jadi aku medahului Rani (sekarang aku hanya memanggil beliau dengan nama Rani atas permintaannya. Di samping itu, Rani pun tak berbeda jauh umur denganku) dan dalam satu gerakan tangan, Rani telah ada dalam pondonganku, kemudian kuciumi wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang dekat dengan tempat peraduan, Rani kuturunkan dan aku mundur memandanginya seperti aku memandanginya saat pertama kali. Semula Rani sedikit kikuk.

“Kenapa? Aku cantik kan?”

Rani bergerak gemulai seolah sedang menari, duh Gusti… cantik sekali. Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yang menerawang.

Kupastikan Rani tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat, pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak kagum. Aku sekonyong-konyong melangkah maju dan dengan lembut kutarik ikatan di belakang punggungnya, hingga bagaikan adegan slow motion daster tersebut perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan sebuah pemandangan menakjubkan, luar biasa indah. Tubuh telanjang Ir. Rani yang menggairahkan. Tanpa tunggu lebih lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra, lembut dan menuntut.

Mendesak-desak kami saling mencumbu. Ciuman terdahsyat yang pernah kualami, sensasinya begitu memukau. Lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu menyusuri permukaan dalam mulutku. Bibirnya yang mungil dan merah merekah indah kulumat dengan lembut namun pasti. Impian yang luar biasa ini, saat itu aku bahkan hendak mencubit lengan kiriku untuk meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi. Rani melucuti pakaianku dan meloloskan kaosku, sambil sesekali berhenti mengagumi gumpalan-gumpalan otot pada dadaku yang cukup bidang dan perutku yang rata karena sering didera push-up.

Kami berdua sekarang telanjang bagai bayi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, eh norak tapi romantis. Rani tergelak dan menyandarkan kepalanya ke dadaku dan kami ber-slow dance di sana, di kamar itu, aku dan Rani, tanpa pakaian. Batang kemaluanku tanpa malu-malu berdiri dengan tegaknya, dan sesekali disentil oleh tangan lentik Rani. Dengan perutnya ia mendesak batang kemaluanku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun sensasional.

Saat itu cukup remang karena hujan deras dan cuaca dingin, namun rambut Rani yang indah tergerai wangi tampak jelas bagiku. Kucium dan kubelai rambutnya sambil kubisikkan kata-kata sayang dan cinta yang selalu dibalasnya dengan… gombal, bohong dan cekikikan yang menggemaskan. Aku semakin sayang padanya.

Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Rani ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya tergolek menjuntai ke arah lantai. Aku berlulut di lantai dan mengelus-elus kaki jenjangnya yang mulus. Dan mulai mencumbunya. Kuangkat tungkai kanannya sambil kupegang dengan lembut, kutelusuri permukaan dalamnya dengan lidahku, perlahan dari bawah hingga ke arah pahanya. Pada pahanya yang putih mulus aku melakukan gerakan berputar dengan lidahku. Rani merintih kegelian.

“Rez, it feel so good, aku pengen menjerit jadinya…” Saat menuju ke kewanitaannya yang berbulu rapi dan wangi, aku menggunakan kedua tanganku untuk membelai-belai bagian tersebut hingga Rani melenguh lemah. Lalu sambil menyibakkan kedua labianya, aku menggigit-gigit dan menjepit klitorisnya yang tengah mendongak, dengan lembut sekali.

“Aduuuh Rez, aku sampai sayang…” Sejumlah besar cairan kental putih meluncur deras keluar dari dalam liang kewanitaaannya dan dengan segera aroma menyengat merasuk hidungku. Dengan hidungku aku mendesak-desak ke dalam permukaan kewanitaannya. Rani menjerit-jerit tertahan.

“Rezaaa… nggghh… Rez… aduhh…” Rani sontak bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam belahan dirinya yang sedang menggelegak. Kuhirup semua cairan yang keluar dari-nya, sungguh seksi rasanya. Aku mengenali wangi pheromone ini sangat khas dan menggairahkan. Rani-ku tersayang juga menyukainya, sampai menitikkan sedikit air mata. Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. Dengan wajah penuh peluh Rani tetaplah mempesona.

“Aduh Rez, Rani udah lama nggak banjir kayak gitu… mungkin perasaan Rani terlalu meluap ya sayang ya…” Dengan manja ibu yang sehari-harinya tampil anggun itu melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan. Aduuuh, aku sayang sekali sama dosenku yang satu ini. Kudekap Rani dalam pelukanku erat demikian juga dibalasnya dengan tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu.

Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yang kusayangi ini sepanjang hayatku kalau bisa, tapi nuraniku berbisik bahwa aku tidak dapat melakukannya. Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yang memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah menjadi entrepeneur muda.


Aku Dipakai Anak Kost

Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.

Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.

Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.

Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.
Suamiku bertanya, “Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.”
“Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target”, balasku mesra.

Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang tamu, “Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik”, kata suamiku, “Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya..”
Sambil sedikit senyum, kujawab, “Kangen ya.. emang cuman kamu yang kangen..”
Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.
“Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..” kata suamiku.
Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.
“Lho kok empat sih.. nanti over lho”, kataku manja.
“Ach.. biar cepat reaksinya”, balas suamiku sambil tertawa kecil.

Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.

“Auh..” erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya. “Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..” sambil mencari posisi yang tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, “Blesss..”, batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. “Ach.. terus Mas.. aku kangen sekali..”, dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.

Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu, “Ach.. Mas aku keluar ya… udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas”,, desahku mesra. “Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich..” Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.

Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.

Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.

Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.

Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost aku bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.

Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku mengambil cucian itu.

Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.
“Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor”, kataku dengan sedikit gugup.
“Suamimu sudah berangkat lagi?” jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, “Kenapa?”.
Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu berkata, “Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang. Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu.”

Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit
“Trus saya.. kamu apain”, tanyaku dengan sedikit penasaran
“Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu”, jawab si bule.
“Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich”, tanyaku cemas.
“Ya.. nggak pa-pa dong”, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.

Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. “Ach.. jangan dong.. aku masih capek semalaman”, kataku tapi tetap saja dia meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.

“Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh”. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.

“Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon”, desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, “Blesss..” masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.

“Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja”, ucapku tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.
“Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon..” desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.
“Aku juga mau keluar.. auh..” balasnya sambil mendesah.

Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.

Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, “Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku.. kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main bareng”. Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. “Blesss..”, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. “Aduh.. pelan-palan Mas..”, seruku.

Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..”

Akhirnya si bule pun keluar, “Auch.. keluar nich..” ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. “Kalau kamu mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya”. Sejak saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule.


Anak Juraganku Dan Temannya

Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari JemBut. Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi.

Mereka bukan tipeku.
Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18 tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya.

Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.

Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.
“Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya”.
“Eh.., Mas, udah lama nunggu?”, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.
“Barusan kok Non..”, jawabku.
“Jul.., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih.., ha.., ha..”, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.
“Hus..”, sahut Non-ku sambil tersenyum. “Jadi malu dia nanti..”.
Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.

“Kenalin nih mas, temanku”, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.
“Sony”, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.
“Niken”, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.
“Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar”, instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
“Baik Non”, jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta.., ahh.

Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan menyuruhku ikut masuk.
“Saya di luar saja Non”.
“Masuk saja mas.., sambil minum dulu.., baru kita pulang”.
Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.
“Duduk di sini aja mas”, kata Niken menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.
“Ayo jangan ragu-ragu..”, perintah Non Juliet melihat aku agak ragu.
“Mulai disetel aja Nik..”, Non Juliet kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.
Tak lama kemudian.., film pun dimulai.., Wowww.., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro (Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis & Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.

“Hmm.. Eh”, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.
Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.
“Ayo.., hisap dong mas.., ahh”. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.

“Ayo, jilatin memekku mas”, Non Juliet mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.
“Ohh.., nikmat sekali..”, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.
“Aduh, cepetan dong, yang keras.., aku mau keluar.., ehhmm ohh..”. Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil alih.

“Biar saya yang buka mas”, katanya.
Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang sudah tegak, bergelantung ke luar.
“Ih, wowww..!!”, desis Non Juliet, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa.., bayangkan.., penisku berwarna hitam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.
“Punyamu besar sekali Mas Son.., Jul suka.., ehmm..”, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.

Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.
“Ayo.., masukkin dong mas.. Jul udah nggak tahan nih..”, katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.
Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.
“Ahh.., yeah.., sekarang masukin deh penis Mas yang besar itu di memekku”, katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.

“Yah, begitu dong mas”, Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.
“Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging.. ya Mas Son..?”, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.
“Ayo dong mas.., masukkin dari belakang”, Non Juliet menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.

Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping, ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.
Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.
“Ahh.., Mas.., Mas.., Terus dong.., nikmat sekali”, Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet makin hebat.

Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.
“Ohh.., terus dong mas.. yang cepat dong ahh.. Jul keluar mas.. ohh..”, Non Juliet mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.
“Non.., saya juga hampir keluar..”, kataku.
“Tahan sebentar mas.., keluarin dimulutku..”, kata Non Juliet.

Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.
“Ayo, goyang yang keras dong mas..”, Non Juliet memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.
“Ayo penisnya taruh di sini mas..”, kata Non Juliet lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.

“Oh, nikmat sekali..”.
Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.
“Ahh.., Non.., ahh”, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.
Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.

“Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya”, katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.
“Besok kita ulangi lagi ya mas.., soalnya Niken minta bagian”.
Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.
Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.


Saya Seorang Istri yang Dirayu

Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini.

Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir.

Karena kesibukannya, dia sering pergi keluar kota. Dia kasihan kepada saya yang tinggal sendiri dirumah bersama anak saya yang berusia 2 tahun. Karenanya ia lantas mengajak adiknya yang termuda bernama Roy yang berusia 23 tahun untuk tinggal bersama kami. Roy adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS. Kehidupan rumah tangga saya bahagia, hingga peristiwa terakhir yang saya alami.

Selama kami menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme.

Saya memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat. Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu.

Di rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik dia lebih ganteng dari suami saya. Suatu ketika saat saya membersihkan kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi membaca majalah ‘begituan’.

Lebih terkejut lagi ketika saya membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang. Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik.

Saya tidak menyangka bahwa ada yang namanya oral seks. Dimana pria me’makan’ bagian yang paling intim dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka. Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut.

Suatu ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati. Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar dari kamar ia mengikuti saya.

Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks. Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui.

Tanpa disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks dengan penis pada liang kewanitaan.

Ia kemudian mencium bagian kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi saya merasakan hal yang sangat lain.

Tidak lama saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu.

Ketika saya kembali dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri.

Ia yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya. Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap kesempatan bersama suami saya.

Hari kemudian berlalu seperti biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat hal yang lain.

Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar. Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam kamar.

Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya. Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai berbicara dengannya.

Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat kejadian beberapa hari yang lalu.

Melihat saya terdiam dia mulai menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut.

Nafas saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks. Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat saya menutup mata tadi.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang. Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya.

Perasaan nikmat kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum.

Saya mendorongnya pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya mengusapi seluruh badan saya.

Selama kehidupan perkawinan saya dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai, keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan Roy.

Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat.

Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang. Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya, bibirnya lantas kembali memagut.

Oh, saya merasakan waktunya telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan kemaluan saya dipenuhi cairan hangat.

Sejak saat itu, saya dan dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya.

Dia juga sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks, dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar merasa sangat dihargai olehnya.

Ceritanya dulu suami saya Niko punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin tahu.

Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi.

Saat itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.

Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.

Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya.

Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta.

Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah.

Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas ‘alat’nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah.

Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu.

Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran.

Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.

Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu.

Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya.

Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.

Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya.

Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.

Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur.

Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat.

Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak ‘hidup’ begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya.

Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih.

Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya. Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis.

Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada liang senggama saya.

Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks.

Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa.

Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.

Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.

Sejak saat itu, oral seks merupakan hal yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang ‘menyehatkan’. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi.

Tidak lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado. Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya. Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse. Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk memakainya.

Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang “No way”. Saya tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu sekarang menjadi ‘seragam’ saya setiap saya akan bercinta dengannya.

Karena saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar, saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga merasa sangat seksi. Saya menggunakannya di dalam, dimana ada stockingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans di luar selama saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh di luar dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny sekali.

Saya sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok.

Sejak saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua (saya dan Niko) sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini saya taruh di dalam lemari Roy.

Dia tidak keberatan selama saya bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kecantikan saya bagai bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya sehingga lebih membangkitkan selera.

Saya mulai menikmati hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya, dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy.

Saya tidak ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai sekarang ini.

Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho. Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada saya yang ternyata bernama Bari.

Kami ngobrol panjang lebar. Bari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik hingga musik. Menurut penuturannya Bari memiliki band yang sering main dipub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku. Saya mulai menganggap Bari sebagai teman.

Bari semakin sering datang kerumah. Anehnya, kedatangan Bari selalu bertepatan dengan saat dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga kelakuannya.

Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa kantuk, saya merasa sangat seksi.

Karena saya mulai tidak kuat untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja. Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Bari. Padahal Bari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak dapat berpikir dengan benar lagi.

Kata Roy, kamar saya terlalu jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa.

Kini saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya beranjak menikmati payudara saya.

Kini kami melakukannya dalam ‘missionary position’. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak merangkak.

Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam liang kewanitaan saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai menggoyangkan pinggangnya. Mm, permainan dimulai kembali rupanya.

Kembali kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang. Penisnya terasa menghunjam-hunjam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang mana semakin menyebabkan saya lupa diri.

Saya keluar untuk pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar bisa berlangsung lama tampaknya.

Sesekali tubuhnya dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya, sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya dilumat oleh dirinya.

Saya hampir mencapai orgasme saya yang kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara selangkangan saya. Saya tidak ingin’mesin’ saya keburu dingin karena kelamaan menunggu Roy.

Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali. Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung menghunjamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur.

Rambut saya dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa sangat seksi dengan posisi seperti ini.

Semua ini dilakukannya tanpa berhenti menghunjamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat saat dikamar mandi? Ah, saya tidak peduli, sebab saya merasakan kenikmatan yang teramat sangat.

Yang membuat saya terkejut ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya. Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas tempat tidur dihadapan saya.

Jadi, yang saat ini menikmati saya adalah… Saya menoleh kebelakang. Bari! Bari tanpa membuang kesempatan melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Tetapi
Bari menahan saya. Tangannya mencengkeram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah ingin menangis saja.

Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah semakin terjerumus.

Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya menekan saya dari depan sementara Bari menekan saya dari belakang. Dia mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya, sementara Bari memeluk kami bertiga.

Saya mulai merasakan sesak napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka, saya bagaikan seekor pelanduk di antara dua gajah. Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan saya melambung di luar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun.

Tetapi Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada ‘dog style position’. Roy menyorongkan penisnya kebibir saya. Saya tidak mau membuka mulut. Tetapi Bari menarik rambut saya dari belakang dengan keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa saya mengulum penisnya.

Kemudian mereka mulai menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin menghunjam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan saya mengalah dan hanya diam saja. Bari yang mengatur segala gerakan.

Tidak lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat. Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya.

Di kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air panas sambil mengangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya.

Malam itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah katapun. Bari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami makan sambil berdiam diri.

Sejak saat itu, Bari tidak pernah datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa. Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy.

Hingga pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa ‘threesome’ adalah salah satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang bahwa dia ingin melakukannya dengan ‘someone special’.

Saya tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok seks. Saya tidak peduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya.

Selama dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga ruangan menjadi setengah gelap.

Itu adalah ‘candle light dinner’ saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana.

Saya merasa saya tidak akan pernah memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya.


Tante Rita, Ibu Kostku Yang Seksi

Sebelumnya saya kost diMalang dan karena ribut dengan salah satu anak kost di sana, saya coba cari tempat kost lain. Rumah kost baru ini saya ketahui dari salah seorang teman yang masih saudara sepupu ibu kost saya. Waktu pertama kali saya datang, ibu kost saya (sebut saja namanya Rita) agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat saudara sepupunya.

Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan di luar.

Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah.

Di rumah pun Mbak Rita cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar mandi pun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.

Suatu pagi waktu saya sedang sarapan, Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya,

“Hayo, lihat apa kamu ?”.

Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, “Nggak lihat apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih ?”.

Mbak Rita balik bertanya, “Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini ?”.

“Ya suka dong Mbak, namanya juga laki-laki”.

Waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya.

Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya.

“Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah ?”.

Dengan spontan saya berkata, “Boleh Mbak. Di mana ?”

“Ke kamar Mbak aja deh”, katanya.

Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil.

Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang berwarna coklat kemerahan.

“Bagaimana Wan, menurut kamu badanku, bagus ?”.

Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya.

Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar, dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan.

Mbak Rita mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya. Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya. Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang.

Saya minta Mbak Rita membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan.

Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang pria pun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku.

“Kamu juga udah terangsang yah Wan ?”.

“Iya dong Mbak, dari tadi juga udah berdiri begini”, kataku sambil tertawa.

Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya. Dulu saya pernah punya pacar tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Selang beberapa lama kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.

Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya.

“Ayo dong Wan, aku sudah nggak tahan lagi nih”.

Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan Mbak Rita berkata, “Kamu tiduran aja, nanti Mbak akan mengajari kamu.”

Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata, sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita secantik Mbak Rita.

Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan gaya-gaya lainnya.

Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang. Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur.

Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah lagi keluar malam-malam dan itu membuat kami lebih bebas melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun.

Saya juga mulai sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga tidak mau lagi menerima uang kost dari saya dan uang kiriman orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia.

Satu hal yang saya ingin ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apa lagi…

Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya. Sampe akhirnya tante rita menikah dan kami masih sering ML cuman ga sesering dulu cuman pas suaminya lagi pergi keluar kota dan kita ngelakuinnya di hotel….hmm enak bangett loh


Biografi Sexual

Namaku Marga Firliany P. Teman-temanku memanggilku Marga. Atau kalo lagi gaul biasa dipanggil Maggie, biar lebih ngegaya. Usia ada di mid twenty. Body nggak sexy-sexy amat: 165 cm / 55 kg, rambut sebahu. Ukuran dada-pinggul? Sampe saat ini biarlah cowok saya (dan temen deket yang nanti saya ceritain) yang tahu.

Yang mau saya bagi untuk teman-teman adalah pengalaman saya yang paling pribadi, semacem cerita biografi sexual saya, kegatelan-kegatelan saya, dan kegenitan masa ABG saya (dan beberapa rekan gang cewek saya). Tentu saja banyak detail yang sudah terlupakan, maklum sudah bertahun-tahun yang lampau.

Semuanya berawal di th. 1995, saat saya naik kelas 2 SMA di kota S, saat saya berjumpa dengan sahabat-sahabat (Aluh yang paling sexy dan paling nekat, Anik yang cuek, dan Ririn yang pemalu). Kami berempat kebetulan memiliki keingintahuan dan kegatelan yang sama tentang masalah hubungan pria dan wanita. Kami mulai sadar bahwa cowok-cowok mengarahkan pandangan kepada kami, dan kami menyukai hal tersebut. Sering kali kami saling bercerita bagaimana si A mencuri-curi pandang pinggul Aluh, atau si B yang menjulurkan lehernya berusaha mengintip belahan dadaku saat aku membungkuk untuk mengambil bolpoin jatuh, atau Ririn yang diintip ketiaknya waktu membenahi ikat rambutnya. Merupakan kebanggaan jika ada cowok yang difavoritkan di kelas kami mencuri pandang ke arah kami.

Kadang kami juga suka memancing perhatian, baik dengan berbusana seksi atau bertingkah laku menggoda. Misalnya menggunakan rok ketat dari bahan kaus yang mencetak pantat dengan jelas. Atau menggeliat dengan menarik tangan ke atas dan menekuk punggung untuk sekaligus memamerkan lekukan pantat dan payudara.

Salah satu kesukaan kami adalah acara ganti baju sebelum dan sesudah olahraga. Beberapa kali, tentu saja dengan mengunci pintu kelas sebelumnya, kami berempat dan beberapa cewek lain, nekat ganti baju di kelas. Satu persatu seragam kami berlolosan hingga tinggal bra dan celana dalam, sebelum berganti pakaian olah raga. Kami saling memperhatikan dan memperbandingkan kehalusan kulit, memperbincangkan model bra transparan yang dipakai si D, atau celana dalam Winnie the Pooh nya si Y. Dua tiga kali kejadian ada cowok yang mencuri lihat lewat lubang kunci, yang tentu saja kami tahu melalui bayang-bayangnya di celah bawah pintu. Namun kami cuek saja, berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Malahan beberapa dari kami (termasuk saya) secara provokatif berpura-pura mengobrol sambil duduk di atas bangku, sambil membiarkan si pengintip menikmati tubuh kami. Bahkan pernah sekali saya dan Aluh pernah sengaja mencopot bra, lalu mengoles krim pelembap di dada, sambil sesekali melirik ke arah pintu berdoa semoga cowok itu masih di situ. Temen-temen cewek lain tertawa cekikikan sambil memuji kenekatan kami. Dan itu, pertama kalinya di kelas kami ada adegan seperti itu. Dan setelah itu beberapa teman cewek mulai berani meniru melepas bra di depan teman cewek yang lain, meski belum sampai taraf kenekatan Aluh dan saya.

Meski pernah mempertontonkan tubuh dan sering berakting seksi, kami berusaha untuk tidak terkesan murahan. Kami dengan cerdiknya memancing cowok untuk melirik dan menikmati indahnya lekuk tubuh kami, tanpa bermaksud menantang mereka. Pergaulan sehari-hari berjalan seperti biasa. Pancingan-pancingan omongan dari cowok nekat jelas nggak kami tanggapin. Prinsipnya, kagumilah kami. Lebih dari itu, no way.

Kegatelan kami semakin memperoleh penyalurannya di semester 4. Diawali dari Anik yang memperoleh buku porno dari seorang teman cowok, yang segera beredar di antara kami. Masih teringat jelas bagaimana sang tokoh merendam ‘barang’nya dengan teh basi setiap pagi sore untuk memperkokoh ototnya, bagaimana sang cewek tokoh utama kesakitan dan kemudian menikmati diperawani, bagaimana sang tokoh cowok menggoda dan menyetubuhi tetangganya, dan seterusnya. Beberapa kali kami mendiskusikan cerita itu. Tiap kata dan kalimat di buku itu membuat kami semakin penasaran.

Pada suatu hari, Anik kembali membikin ‘ulah’ dengan menawari tontonan vcd porno. Katanya sih dia ambil dari kamar kakaknya yang udah kuliah. Berhubung kami masuk siang, kami punya banyak waktu buat nonton di pagi hari. Kebetulan bapak ibu Anik bekerja, jadi kami tinggal atur waktu pas kakaknya kuliah. Dan di suatu hari Jumat pagi, kami berempat untuk pertama kalinya menonton vcd porno, pertama kali kami melihat penis menembus vagina, pertama kali melihat cewek mengulum penis, bagaimana clitoris digelitik dengan jari atau lidah, pertama kali melihat indahnya penis meludahkan cairan putih kental. Dan reaksi kami… awalnya terpana, terpaku, tenggorokan kering, dan kemudian cekikikan, dan saling berkomentar seperti “Gimana ya rasanya?” (waktu adegan oral atau adegan cowok menebar benihnya di mulut pasangannya). “Wii… banyaknya…” atau “Enak ya, mas?” (adegan keluarnya air mani), “Mmm… pengeeen…” (adegan cewek orgasme), “Ayoo… tembak, mas…” (adegan cowok mo ngeluarin benihnya).

Dan itu adalah bekal saya untuk mengexplorasi tubuh saya sendiri. Di malam hari, setelah belajar, saya belajar untuk menyentuh tubuh saya, merangsang puting susu berdiri dengan rabaan ringan, cubitan lembut, atau dengan sentuhan ujung jari yang dibasahi dengan air ludah. Kemudian mencari-cari titik-titik di sekitar paha yang membuat ‘greng’ bila disentuh, menikmati gesekan pantat dan bantal, mempertemukan paha dan guling, meremas pantat sendiri. Dan tak terlewatkan, sentuhan di daerah kewanitaan.

Belaian di bibir luar, sentuhan ringan di klitoris, pelan-pelan membelai seputar liang persetubuhan, sambil berhati-hati untuk tak masuk terlalu dalam agar keperawanan tetap utuh. Mmmmh… orgasme-orgasme pertamaku. Bagaimana otot-otot daerah paha dan pinggul secara tiba-tiba terasa menegang, rasa lemas itu, rasanya takkan terlupakan. Hari-hari berikutnya aku belajar bahwa sentuhan di puting akan membuat orgasme makin kuat, bahwa orgasme dengan posisi terlentang sambil meregang punggung atau mengangkat kaki terasa lebih nikmat, bahwa dengan gesekan guling orgasme bisa didapat. Posisi tengkurap, terlentang, miring, duduk di kursi, bahkan berdiri sudah pernah kucoba. Telapak tangan, ujung jari, guling, bantal, kain lembut licin (semacam satin atau sutra), mug, atau es batu, pernah mengelus puting, membelai pinggang, menggelitik pantat, dan menyentuh pusat kenikmatanku. Kupelajari juga kalo benda dingin lebih dapat membuat syaraf kenikmatanku lebih terbuka. Pengalaman menarik ini tentu saja kubagi dengan gank-ku. Anik dan Ririn cuma berani pakai guling. Aluh, yang memiliki kegatelan sama denganku, menganjurkan Anik dan Ririn untuk belajar menyentuh daerah kewanitaannya. Dan tanpa basa-basi, Aluh mengajak kami berempat untuk melakukan pesta ‘self service’. Acara direncanakan Sabtu pagi, di rumah Anik.

Sabtu pagi kami berempat udah ada di rumah Anik sekitar jam 7 pagi. Sebentar kemudian, mas K (kakak Anik) pergi, katanya mo maen tenis. Setelah itu, Anik menyiapkan kamarnya buat acara “have fun” kami berempat. Ririn bilang kalo ia sedikit gemetaran. Sementara Anik sibuk mengecek kunci pintu, menjaga agar pembantu tidak masuk sembarangan. Atas usul Anik, kami saling membuka baju satu sama lain sambil membayangkan cowok favorit kami yang melakukannya. Aluh mulai dengan melucuti baju, rok, dan bra Ririn, sementara saya dan Anik cekikikan menonton. Nampak sekali kalo Ririn gemetar, sentuhan nakal Aluh di puting membuat Ririn beringsut mundur, lalu menolak untuk dilepas celana dalamnya. Lalu aku dapat giliran ditelanjangi oleh Anik. Cuek saja, sambil memejamkan mata, aku nikmati sentuhan jari Anik di puting, pinggang, lalu pantat. Setelah itu giliran Anik ‘digarap’ Aluh, yang dengan berani mengelus pangkal paha Anik. Terakhir Aluh yang kutelanjangi, lalu kubelai putingnya yang mulai berdiri, kucubit lembut putingnya, kuremas pantatnya. Pokoknya semua jenis sentuhan yang pernah kurasakan kupraktikkan ke tubuh Aluh, yang nampaknya menyukainya. Aluh sempat memintaku untuk menyentuh kewanitaannya.

Namun karena risih, kutolak permintaannya. Berikutnya kami berempat masing-masing mencari posisi yang enak, kemudian terbang ke alam khayalan. Setelah melewati puncak, kulayangkan pandangan ke Aluh, Ririn, dan Anik. Ternyata aku termasuk paling cepat mencapai klimaks, sehingga aku sempat melihat gaya sahabat-sahabatku merangsang diri. Satu persatu mereka mencapai puncak dengan gayanya sendiri-sendiri. Aluh terlentang, tangan kanan di pangkal paha tangan kiri mengusap dada. Ririn telungkup menjepit bantal. Sementara Anik duduk bersandar di tembok dengan kaki dilipat merangsang pangkal pahanya dengan kedua tangan.

Setelah semua ‘sadar’, kembali kami saling bercerita kenikmatan kami, saling berbagi teknik belaian dan informasi area ‘greng’, dan tentu saja, saling becanda seperti biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara gerbang dibuka. Kami mengintip melalui jendela. Ternyata mobil kakak Anik (mas K) masuk garasi. Sejenak kami kebingungan, namun Anik langsung menutup gordin. Jadi kami nggak usah buru-buru berpakaian.

Sekonyong-konyong Aluh punya ide gila. Teringat waktu mengekspos dada di kelas, Aluh usul untuk bikin acara semacem itu dengan sasaran kakaknya Anik. Aku langsung setuju. Keinginan untuk dinikmati dan dikagumi muncul kembali dalam dadaku. Anik setuju dengan catatan dia nggak mau telanjang bulat. Ririn setuju dengan syarat yang sama. Kalo aku, justru pengen nunjukin miss V-ku, apalagi kepada cowok sekeren kakaknya Anik. Lalu kami ngebahas gimana pelaksanaannya. Kata Anik, setiap Sabtu kakaknya akan keluar sekitar jam 7 pagi buat latihan tenis, terus pulang sekitar jam 9 pagi. Karena kamar Anik di tepi jendela samping dekat garasi, kami punya kesempatan pamer pas mas K lewat jendela habis masukin mobil ke garasi. Rencananya, jendela dibuka, tapi gordin ditutup dengan disisakan celah di tepi jendela buat ngintip. Posisi juga udah diatur, Aluh di atas ranjang. Aku di karpet di bawah, bersama Anik. Ririn duduk di kursi belajar, membelakangi jendela. Dia sempat protes, entar nggak bisa liat expresi mas K, dong. pemecahannya gampang, taruh cermin di atas meja belajar, biar bisa liat mas K. Di karpet juga ditaruh satu cermin, kalo-kalo aku ato Anik tiba-tiba malu trus pengen membelakangi jendela. Sebelum pulang, Anik usul agar kami bawa kosmetik buat dandan sedikit, biar tambah cakep. Aluh dan aku sepakat untuk mencukur miss V sehari sebelumnya, agar lebih keren dan bisa kelihatan lebih jelas.

Dan hari Sabtu berikutnya, jam 7 pagi kami udah standby di rumah Anik. Kali ini agak lain. Semua terlihat nervous. Ririn terlihat pucat, Anik juga. Tanganku gemetaran. Maklum, ini pertama kalinya daerah paling pribadi kami berempat akan dilihat seorang pria. Cuma Aluh yang santai. Dia juga yang ngajakin kami berempat untuk mandi bareng biar fresh dan keliatan seger. Jadilah kami mandi bareng. Ternyata bukan cuma aku dan Aluh yang mencukur bulu miss V, Ririn dan Anik juga, padahal mereka rencana semula mereka nggak mau telanjang. Malu-malu, Ririn bilang kalo aja berubah pikiran pengen pamer, ‘kan keren. Anik idem. Abis mandi kami langsung dandan seperlunya, biar tambah cakep.

Jam 8 lewat udah siap. Kami berempat cuma pake baju atas plus celana dalam, rok dan bra ditinggal. Anik dan Ririn pake G string, biar bisa pamer pantat tanpa melepas celana. Aku dan Aluh manas-manasin biar mereka mau copot celana juga. Entar nyesel lho. Jawabannya nyantai: entar deh gimana. Trus nungguin. Anik membuka jendela, terus menutup gordyn, tak lupa menyalakan semua lampu yang ada. Atas usul Anik, sambil nunggu, kami mulai merangsang diri untuk pemanasan. Sesekali kami bergantian melongok ke jendela, mengecek apa “calon penonton” sudah datang.

Jam 9 kurang sedikit terdengar suara pintu gerbang dibuka. Aku dan Aluh melongok ke jendela, mastiin mas K yang datang. Ternyata bener. Aku buka gordyn sekitar 20 senti-an, trus lepas celana dalam dan melepas semua kancing baju, lalu baring-baring di karpet. Aluh udah telanjang bulat di atas ranjang sambil mengusap-usap putingnya. Anik dan Ririn juga udah mulai. Aku baring-baring santai sambil pelan-pelan membelai putingku. Sesaat kemudian, mas K lewat dan, pas sekali, menoleh ke arah kamar Anik. Aku pura-pura memejamkan mata, trus asyik dengan putingku. Pelan-pelan tanganku turun ke daerah paha. Mataku yang terpejam kubuka kecil, mau liat reaksi mas K. Ternyata dia lagi liat ke arah Aluh. Ah, sial bener. Saat ujung jariku menyentuh clitorisku, secara refleks aku mengerang, ternyata menarik perhatian mas K. Dan… dia melihatku, tepat saat aku membuka lebar kedua kakiku. Aku tambah semangat. Dadaku berdegup kuat sekali. Pelan-pelan kutekuk kedua kakiku, lalu kuangkat pinggulku, agar miss V ku dapat dilihat lebih jelas. Aku bersyukur dapat posisi di bawah, dekat jendela karena mas K dapat langsung melihat ke arahku. Aku naik turunkan pinggulku, sambil sesekali memicingkan mata mengintip mas K yang nampak sekali menyukai show ku. Dan acara itu ditutup dengan orgasme yang nggak akan kulupakan seumur hidupku: orgasme pertamaku didepan seorang pria!! Saat kubuka mataku, tanpa sengaja tepat saat mas K melihat ke arahku. Mas K tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arahku. Wow… dia suka. Meski dalam hati aku merasa lega dan bangga, namun aku pura-pura tidak melihat. Aku pelan-pelan mengancingkan bajuku. Kedua kakiku masih kubiarkan terentang lebar, sambil berharap semoga mas K melihat ke arah bagian tubuhku yang paling pribadi.

Kulayangkan pandangan ke seputaran kamar. Ternyata, lagi-lagi aku yang pertama mencapai puncak. Tak lama menyusul Anik dengan posisi terlentang dan kedua kaki diangkat ke dinding. Aluh berikutnya, terlentang di atas ranjang, kedua kaki diangkat. Dan terakhir Ririn, si pemalu, yang dengan berani melorotkan celananya sampai sebatas paha dan membungkuk ke arah meja. Miss-V nya mengintip di antara sepasang pantatnya yang putih. Keliatan juga dia terus memandang ke arah cermin di atas meja, memperhatikan mas K.

Setelah semua mencapai puncak, kulirik jendela, mas K udah nggak keliatan lagi. Aku tersenyum ke arah Anik, lalu ke Ririn, mengacungkan jempol tanda sukses. Aluh tersenyum mantap, berbisik “sukses!”.

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari halaman. Kami berempat melongok ke jendela. Ternyata mas K jatuh tersandung pot bunga. Kami berempat tertawa cekikikan, yang membuat mas K menoleh ke arah kami. Secara reflek kami berempat menutup dada dengan tangan. Tapi mas K tersenyum ke arah kami, trus bilang percuma kami nutupin dada, soalnya dia tadi udah sempat lihat. Abis gitu dia minta maaf, katanya nggak sengaja liat acara kami. Bagaimanapun juga, mas K bilang kalo tubuh kami keliatan seger dan menggemaskan. Trus dia permisi masuk rumah. Kami sekali lagi kami berempat saling pandang dan tersenyum lega. Sukses. Apa lagi? orgasme udah dapat, pujian dari kakaknya Anik juga diperoleh.

Nggak seberapa lama mas K ngetuk pintu kamarnya Anik. Kami saling pandang. Mau apa? Buru-buru kami pake baju seadanya. Setelah dibukain pintu, mas K nawarin vcd porno punya dia. Katanya biar kami tahu tubuh cowok. Kami ketawa, trus bilang kalo Anik udah pernah ambil vcd itu dari kamarnya mas K. Aku tambahin, kalo udah pernah, yang belum itu aslinya. Enggak taunya mas K nanggapin serius, dia mau bantu kalo kami pengen liat cowok telanjang. Kami cuma ketawa cekikikan, nggak berani mutusin. Mas K bilang kami boleh mutusin kapan aja, lalu dia pergi ke kamarnya. Trus kami tutup pintu kamar, ngebahas tawaran mas K. Anik nggak setuju kakaknya jadi obyek sexual. Aku bilang nggak apa-apa, kami sama-sama saling lihat, jadi impas. Lagipula kakaknya kan keren, siapa tau aku, Aluh, atau Ririn entar bisa jadi pacarnya. Aluh dan Ririn setuju pendapatku. Jadilah. Aluh jadi juru bicara. Kami rame-rame ke kamarnya, lalu minta mas K buat njalanin tawarannya tadi. Dia tertawa lalu bilang okey, sambil minta waktu buat mandi dulu, soalnya keringatan abis maen tenis. Mas K mempersilakan kami masuk ke kamarnya, biar lebih enak, katanya.

Kami berempat duduk santai, nungguin mas K mandi. Kami ngobrolin show kami yang sukses tadi. Ririn banyak digojlok karena hari ini pertama kali dia mau menunjukkan miss V nya, bahkan dua kali, waktu mandi dan show. Aluh sesekali mengintip ke kamar mandi dan berkomentar wow keren… Abis mandi, mas K keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya, rambutnya basah. Abis gitu dia duduk di karpet, ngajakin kami duduk di sekitarnya. Lalu dia cerita segala macam tentang cowok. Mulai dari apa yang disukai tentang cewek, apa yang diliat, kami jadi tau kalo cowok itu suka yang bikin penasaran, kemampuan ejakulasi maksimal seorang cowok, bagaimana membelai daerah paha dan bokong cowok untuk membuat ejakulasi makin kuat, supaya tidak tersedak kami harus menaruh lidah di ujung penis saat ia mau ejakulasi, dll.

Abis gitu dia nawarin kami untuk menyentuh tubuhnya. Mas K trus nyuruh kami bergantian meraba dada dan punggungya. Setelah kami semua dapat giliran, suasana agak cair. Kami mulai bisa cekikikan lagi. Terus Ririn tanya, boleh lihat ‘itunya’ mas? Mas K melepaskan handuknya, lalu membelakangi kami. Pelan-pelan dia menurunkan celana dalamnya, lalu berbalik ke arah kami. Dan… wow… pengalaman pertama melihat cowok telanjang secara langsung. Dadaku berdegup kencang. Tenggorokan langsung terasa kering. Keindahan otot tubuhnya, pantat yang kencang, warna pink bagian ‘kepala’ penis. Tak akan bisa terlupakan. Ririn pura-pura tidak melihat namun sesekali mencuri pandang, Anik cuek aja melihat kakaknya.

Abis gitu mas K ngajarin caranya bikin cowok tegang anunya. Mas K meminta kami untuk membelai itunya. Langsung aja itunya mas K berdiri. Kami pun cekikikan kembali. Berikutnya kami diajarin ciuman, french kiss, necking, lidah, dll. Kami bergantian ditraining mas K, kecuali Anik, cuman bisa liat aja. Abis ciuman kami ditunjukin gimana rasanya diraba-raba oleh cowok. Prakteknya, kami diminta mas K menghadap tembok seperti penjahat diperiksa polisi di film-film. Aku dengan senang hati minta giliran pertama. Mas K menyarankan untuk melepas baju seminim mungkin. Aluh, Ririn, dan Anik memberi semangat. Pelan-pelan kulepas penutup tubuhku satu persatu, tanpa ada yang tersisa. Lalu aku berbalik menghadap tembok dan menyandarkan kedua telapak tanganku ke tembok. Tangan mas K mulai menggerayangi rambut, pundak, punggung, puting, pinggang, pantat, paha, kaki, termasuk daerah kewanitaanku. Kemudian aku disuruh duduk di kursi, lalu… oh my God… mas K menggelitik daerah kewanitaanku dengan lidahnya! Tak tahan, aku orgasme dengan suksesnya. Kakiku sampai gemetaran merasakan nikmatnya.

Mas K lalu bertanya apa ini pengalaman pertama diraba cowok? Malu-malu aku mengakuinya. “Kirain udah biasa, habis shownya tadi hot bener”. kami cuma cekikikan. Satu persatu semuanya dapat giliran, termasuk Anik. Satu persatu, kami diantar mas K ke puncak birahi. Seolah tahu kalo kami suka dipuji, Mas K mengomentari keindahan tubuh kami. Katanya bokongku paling bagus, montok, kenyal, dengan kulit halus dan lembut. Dia juga bilang kalo aku beruntung karena gampang terangsang dan cepat orgasme. Payudara Anik paling sexy, putingnya yang tegak amat menggoda. Kaki Aluh panjang, mulus, dan indah, serta proporsi tubuh paling seimbang. Dan yang paling senang adalah Ririn, yang selain dibilang mas K paling manis di antara kami berempat, juga dipuji miss V-nya paling rapat, montok, dan menggemaskan. Aluh, aku, dan Anik sedikit iri dengan keberuntungan teman kami yang pemalu ini. Sementara Ririn sedikit tersipu namun kelihatan kalo dia menyukai pujian mas K.

Abis itu, Aluh minta mas K buat nunjukin air maninya. Ia ketawa, trus bilang kalian aja yang ngeluarin, sambil ngajarin kami metode untuk memaksa air mani keluar, dengan tangan atau mulut. Kata mas K, kami cuma dapat mencoba sebentar-sebentar, soalnya kalo udah terlanjur ejakulasi pasti lemes. Lalu mas K duduk di kursi. Aluh langsung minta giliran pertama. Ia berlutut di depan mas K, langsung mengulum itunya mas K. Lewat 10 menit, mas K minta berhenti, hampir keluar katanya. Aluh cuek dan meneruskan, tapi kami bertiga protes, takut nggak kebagian. Trus istirahat sejenak. Setelah itu giliran Anik, cuma pakai tangan. Terus Ririn, juga cuma pake tangan. Aku dapat giliran terakhir. Berlutut di antara kedua pahanya, aku mulai dengan membelai dan memelintir pelan-pelan. Mas K memejamkan matanya, keenakan. Kurasakan otot itunya mas K menggelitik telapak tanganku. Mas K bilang, diemut dong. Karena ragu-ragu, aku cuma berani mengecup kepalanya saja. Rasanya asin. Beberapa saat, mas K bilang mau keluar lagi. Aku cuek aja. Kugenggam itunya erat-erat dan kunaik-turunkan tanganku. Dan… kurasakan ada sesuatu yang bergerak cepat di saluran bagian bawah penis, dan… crut… cairan putih kental melejit beberapa kali dari ujung penisnya. Yang pertama menembak dadaku. Pinggul mas K terangkat. Yang kedua, saking kerasnya, mengarah ke bibirku Mmm… terasa asin. Mas K terpejam, terlihat keenakan. Setelah selesai puncaknya, dia tersenyum dan bilang terima kasih dengan lembut. Lalu mengambil tisu untuk mengelap dadaku dan bibirku yang belepotan benihnya.

Lalu mas K nawarin untuk ngajarin kami bersetubuh, kalo kami berminat. Kami cuma celingukan. Ririn trus tanya apa mahkota kami masih utuh jika udah pernah digituin. Katanya mas K, bisa ya bisa enggak. Aluh yang biasanya nekat kali ini juga nggak berani mutusin. Kata mas K, kalo kami udah siap, dia bisa bantu kapan aja. Abis gitu mas K bilang mo istirahat soalnya capek.

Di kamar Anik, kami ngebahas pengalaman pertama kami tadi. Rame banget. Kataku, enak Anik dong, serumah sama mas K. Anik bilang, “Husy! dia kan kakak, paling cuma raba-raba ajah.” Langsung aja aku, Aluh, dan Ririn bilang, “Huuu. itu ‘kan enak juga!” Ririn, dengan malu-malu, tanya apa mas K udah punya pacar. Kalo belum, mau jadi pacarnya. Aku nyautin, ijin dulu sama aku, aku udah pernah ngeluarin benihnya dan bikin dia orgasme, jadi mestinya dapat prioritas. Aluh langsung protes, soalnya dia yang tadi minta mas K nunjukin benihnya. Sementara Ririn dengan optimis bilang mas K pasti suka sama dia karena dia paling manis dan miss V nya paling menggemaskan di antara kami berempat. Rame lah pokoknya. Akhirnya kami janjian kalo kami nggak bakalan memancing-mancing mas K untuk dijadiin pacar, kecuali dia yang meminta sendiri.

Sahabat-sahabatku juga pada bertanya, gimana sih rasa cairan benih mas K? Gimana rasanya membikin cowok orgasme? Aku tersenyum, trus bilang minggu depan atau besok ‘kan bisa coba sendiri, tinggal janjian sama mas K. Dalam hatiku aku berkata yang ini biarlah untukku, akan kusimpan sendiri gurihnya rasa benihnya, rasa bangga mengantar cowok ke puncak kenikmatan, dan tatapan lembut mas K saat mengucap terima kasih.

“Kegilaan” kami berempat ternyata tidak membuat kami terhanyut. Buktinya kami masih bisa mempertahankan mahkota kami sampai lulus SMA. Setelah itu Ririn dan Anik melanjutkan kuliah di kota yang sama. Aku dan Aluh melanjutkan kuliah di kota M, dan kadang melanjutkan penyaluran bakat genit kami berdua.

Tamat


Secret Lover


Jakarta, 18 November, 07.18 PM.

Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam antrean ini.

Perlahan saya perhatikan mobil-mobil yang berjejal dalam antrean. Mini jeep saya terlihat seperti sebuah rumput liar di taman penuh bunga. Tepat di depan saya terpampang 735iL, lalu beberapa meter darinya tampak S320. Ada pula S70 dengan plat nomor BS di belakangnya, lalu masih banyak lagi mobil-mobil CBU yang bahkan dalam mimpi pun saya belum pernah melihatnya. Semuanya antri ingin memasuki halaman parkir perhelatan tersebut. Tiba-tiba saya tersenyum simpul, mengingat ucapan seorang yang saya tuakan dalam hidup ini. Katanya di Jakarta tidaklah heran menemukan orang kaya, yang mengherankan adalah menemukan orang jujur. Dan sudah jujurkah semua tuan-tuan bermobil mewah ini? atau lebih jauh lagi, sudah jujur pulakah diri saya?

Sebelum terlampau jauh, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Ryo, 23 m Jkt (buat chatters yang nggak tau artinya, mending balik pake mesin tik aja kali yah, hehehe… :). Yah saya memang bukan lagi Ryo 23 m Bdg seperti dalam kisah-kisah terdahulu. Kelulusanku dari sebuah fakultas teknik yang dikenal sebagai ekonominya teknik (karena banyak mata kuliah ekonomi dalam kurikulumnya) dari sebuah Universitas ternama di kota itu telah mengantarkanku mendapatkan pekerjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. But one thing for sure, I’m not working at Tia’s office (untuk mengetahui tokoh ini, disarankan untuk membaca Walk Interview). Now I’m just an employee from one of an automobile industry in Indonesia, based on North Jakarta.

Kurang lebih 15 menit yang saya butuhkan sampai akhirnya dapat melangkahkan kaki dengan tenang menuju pintu gerbang perhelatan akbar tersebut, meninggalkan mini jeep saya yang terparkir nun jauh di sana. Setelah memasukkan amplop (yang saya yakin isinya cuma senilai kwaci bagi pasangan tersebut), mengisi daftar hadir dan mengambil souvenir yang dengan ramah diberikan oleh penerima tamu (pretty enough, but not my type), saya menyusuri elevator yang menuju ke lantai II, tempat acara tersebut diselenggarakan.

Antrian tamu yang hendak memberikan selamat telah mengekor panjang dengan saya sebagai salah satu korbannya, dengan diiringi gending-gending Jawa yang terus mengalunkan nada-nada lembut daerahku. Di kejauhan tampak Linda, teman semasa SMA dulu, dalam rentangan waktu ’92-’95 yang lalu, tampak cantik dengan busana daerah Jawa, sibuk menyalami para tamu sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Di sampingnya tampak suaminya yang terlihat cukup gagah. Yah…mereka berdua nampak sangat berbahagia malam ini.

“Ryo…, ma kasih yah mau dateng, kapan nih mau nyusul? kok sendiri?”, berondong Linda saat dengan lembut kusalami mereka di pelaminan. Saya hanya mampu membalasnya dengan tersenyum. Hhmm….menikah? bahkan memikirkannya pun tidak. Dalam dua atau tiga bulan lagi usiaku akan menginjak 24, ah…masih ada waktu cukup untuk bermain-main, melihat semua silau dunia sebelum pada akhirnya saya akan memutuskan untuk menetap dalam pelukan kedamaian seorang wanita. Kok sendiri? Pertanyaan itu yang masih menggayut di telingaku, saat satu per satu anak tangga pelaminan kuturuni. Seakan-akan dipurukkannya diriku dalam jurang kesunyian. Even an advounturer feels so lonely sometimes, seperti saat ini di mana diriku merasa sangat sendiri di tengah keramaian para tamu undangan. Hhh…sesak juga rasanya jika sisi sentimentil ini sedang terusik.

“Ryo…..ini kamu? Apa kabar?”, tiba-tiba sebuah suara wanita menghentakkan lamunanku, membangkitkan kembali diriku dari kesunyian yang baru saja kualami.

Sejenak saya palingkan muka mencari sumber suara tersebut. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Terus kutelusuri wajah para tamu sampai akhirnya kutertumbuk pada sesosok wajah yang cantik, lembut and of course, I’ll never forget. Revy, sahabatku di SMA dulu, tampak sangat anggun dengan kebaya modern bernuansa silver transparan yang dikenakannya. Revy… is that really you?

Tiba-tiba ingatanku terlempar pada beberapa tahun silam. Revy…. sebuah nama yang masih saja membekas hangat dalam setiap jejak ingatanku. Masih segar dalam ingatan bagaimana lekatnya kami berkawan semasa menempuh pendidikan di tahun terakhir kami pada sebuah SMA favorit di bilangan Slipi Kemanggisan dulu. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa kita tidak terlibat cinta. You’re both too close to be friends, there must be something special between you, dan masih banyak lagi yang nyata terngiang tuduhan dari teman-temanku dulu akan hubunganku dengan seorang Revy. Jujur di dalam hati pun saya pernah memimpikan hal yang sama terjadi. Yah…saya memang hanya manusia biasa, yang terkadang sulit mengontrol perasaan dan harapan kala mana berdekatan dengan sesosok lawan jenis yang sangat kita kenal dan terasa sangat mengenal kita. Tapi pada akhirnya saya memilih untuk mendiamkan perasaan itu lewat, sambil membunuhi benih-benih rasa yang terlanjur tumbuh.

Saya tidak akan pernah bisa kehilangannya sehingga jika saya tidak dapat memilikinya lebih dari sekedar teman, biarlah saya memilikinya sebagai seorang sahabat. Masih banyak lagi alasan mengapa saya memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan saya terhadapnya. In fact, we live in different world. Revy adalah anak dari sebuah keluarga yang dapat di bilang sebagai konglomerat yang berkedudukan di Surabaya. Memang Revy tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bahkan dia akan marah besar jika ada yang menyinggung permasalahan tersebut. Namun saya juga harus tahu diri, biar bagaimanapun kesenjangan kelas sosial mau tidak mau akan menjadi kendala bagi berjalannya suatu hubungan, apalagi dalam usia remaja seperti kita. Di lain pihak, seusai bangku SMA, ia merencanakan untuk menuntut ilmu di Wina, Austria. Interior Design yang menjadi impiannya selama ini akan ditimbanya di negeri itu. And I don’t belive in long distance relationship, not a second…!!

Dan memang kabar terakhir darinya adalah ketika kumelepasnya di boarding gate Bandara Soekarno-Hatta di suatu malam, lima tahun yang lewat. Kami berpelukan erat, sepertinya tidak akan pernah bertemu lagi. Wajahnya perlahan menghilang di kerumunan penumpang lain yang siap berangkat. Dan wajah itulah yang sekarang hadir lagi di hadapanku…..

“Ryo…, kok malah bengong? Masih inget saya nggak?”, sapa Revy ramai menyapaku. Ah… tentu saja saya ingat, peri kecilku. Tentu saja saya ingat kamu….

“Revy…?”, balasku tertegun, tidak mempercayai kehadirannya di hadapanku kini.

“Of course…, who else?”, seru Revy sambil meninju bahuku, “Siapa lagi temanmu yang secantik ini, hah?”, katanya lagi. Huh…pede sekali, tapi memang harus kuakui….

“Apa kabar Rev?”, balasku sambil menyalami hangat tangannya. “Lho kok sendiri, cowok kamu mana?”, tanyaku cepat saat menyadari lingkaran berwarna keemasan melingkar di jari manis kirinya. Ingin rasanya memeluknya, kalau saja………

“Mas Heru lagi nggak ada di Indo. Eh…tau dari mana kamu saya punya cowok?”, sahutnya tersadar kalau identitasnya terbongkar.

“Ah..wanita mana lagi yang mengenakan cincin emas di jari kirinya, kalau bukan pemberian seorang pria spesial”, todongku sambil cuek.

“Oh iya..yah…., eh kamu kok juga sendiri, cewek kamu mana?”, balas Revy nggak mau kalah.

“Saya memang masih sendiri kok, masih setia menantimu di ups….”, saya tidak mampu menyelesaikan kalimat, keburu sebuah cubitan mendarat di pinggangku.

“Hhhh….gemes…masih aja kayak dulu, ngegombalnya nggak ilangilang”, kata Revy sambil mengencangkan cubitannya di pinggangku. Tinggalah saya meringis-ringis menahan sakit, soalnya nggak mungkin teriak, banyak tamu sih…

Selanjutnya dapat ditebak, kami terlibat obrolan yang hangat dan akrab. Lima tahun tanpa kabar, dan kini tanpa sengaja bertemu di sebuah pesta pernikahan. Kabar si Anu, kabar si Itu, atau si Ini teman-teman kita dulu silih berganti mengisi topik pembicaraan. Seems just like yesterday….

Revy kini bekerja di sebuah konsultan interior design di kawasan Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Tak jauh dari tempatnya tinggal, di sebuah komplek apartemen yang terletak di belakang sebuah Hypermarket made in France, di daerah yang sama. Katanya menimba ilmu, pengalaman dan sense terlebih dulu, untuk nantinya membuka usaha serupa dengan modal sendiri, itu jawabannya yang diberikan kepadaku saat ku tanya mengapa dia memilih untuk jadi “ekor naga”, daripada menjadi “kepala ayam” (buat mas dan mbak yang sudah terjun ke dunia kerja, pasti tahu istilah ini). Mas Harry, kakaknya semata wayang, kini sudah menikah dan dikaruniai seorang putra, menempati rumah mereka dulu di kawasan Puri Indah. Dan sebagai gantinya, Revy dibelikan sebuah unit apartemen yang ditempatinya hingga kini.

Dan mas Heru, lelaki yang berhasil melingkarkan cincin itu, adalah tunangannya sejak setengah tahun yang lalu. Ia kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Boston, USA. Mereka telah 3 tahun berkenalan, walaupun baru berpacaran setahun yang lalu. Medio tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, segera setelah Heru menyelesaikan studinya.

Kami terus berbincang akrab, tanpa sadar jumlah tamu yang makin berkurang karena hari beranjak malam. Dengan berat hati, akhirnya kami berpisah. Sempat kuantarkan Revy menuju parkir mobilnya, sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah.

Jakarta, 20 November, 12.06 PM

Saya sedang menikmati santap siang di kantor, berkumpul dengan rekan-rekan kerja saat tiba-tiba teleponku berbunyi, dengan nama Revy terpampang di LCD ku. Segera aku menyingkir dari meja sambil menjawab telepon.

“Halo….Ryo?”, terdengar suara wanita di ujung sana.

“Yup… Apaan Rev?”, balasku segera.

“Eh Ryo…sibuk nggak ntar sore?”, tanyanya kembali.

“Ntar sore? Hhmm…enggak tuh kayaknya”, jawabku, “Assiikkk… mau nraktir yah?”, sambungku dengan pedenya.

“Huh…ge-er…”, sahutnya cepat, “Revy cuman mau ngajakin nomat, abis lagi suntuk nih Ryo”. Nomat adalah singkatan dari nonton hemat, dimana setiap hari Senin kita mendapat potongan harga untuk membeli tiket (ah..semua juga udah tahu kok).

“Boleh tapi di mana?”, tanyaku lagi.

“Biasa…di tempat bersejarah kita dulu, masak sih kamu udah nggak ingat masa-masa indah kita berdua…, hahahaha….”, sambungnya diiringi gelak tawa candanya, “Revy tunggu di tempat biasanya, 1/2 6 teng yah…”. Kami masih sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum ia menutup teleponnya.

Tempat bersejarah? Ah… lamunan saya kembali menyusuri jejak waktu yang telah berlalu sekian lamanya. Pondok Indah Mall adalah tempat favorit kami untuk jalan-jalan semasa sekolah dulu. Revy bilang barangnya bagus-bagus, sedangkan menurut saya yang terbaik dari tempat itu adalah pengunjung wanitanya yang cantik-cantik, hahahaha….. Entah sudah berapa kali kami jalan bersama ke tempat itu. Nonton, main game (ding-dong tepatnya), makan, atau sekedar ngeceng. Beberapa kali pula kami tertangkap dating oleh teman-teman yang lain, sehingga makin meyakinkan mereka kalau kami tengah berpacaran. Dating? ah… mungkin itu hanya harapan saya yang kelewat batas menganggap even-even itu sebagai dating.

Waktu menunjukkan jam 17.24 WIB ketika saya melangkahkan kaki memasuki area pertokoan tersebut. “Tempat biasa” yang Revy maksud tentunya masih seperti yang dulu, tempat kita sering nongkrong bareng. Outlet St. Michael di lantai dasar, bersebelahan dengan Baskin 31 Ice Cream pasti yang dimaksudnya. Dulu kita sering nongkrong makan ice cream sambil memandangi produk-produk St. Michael dari luar kaca. Hahaha….terasa betapa masih kecilnya kami saat itu.

Seulas senyum telah menyambutku, sesampainya ku di sana. Revy telah tiba terlebih dulu, dan masih seperti dulu, tengah asyik menikmati sebuah cup ice cream rasa strawberry sambil bersender di dinding outlet pakaian tersebut. Setelah berbincang-bincang sambil menantinya menghabiskan sisa ice cream-nya, kami pun naik ke lantai teratas untuk melihat film apa yang sedang diputar.

Pangsit goreng, mie bakso dan sebotol teh dingin. Masih saja seperti dulu makanan fave-nya kalau sedang main ke PIM. Restaurant spesialis mie yang terletak tepat di seberang sineplex masih saja kena di lidahnya, pun setelah bertahun-tahun di negeri orang. Kami makan agak tergesa, karena Charlie’s Angel akan ditayangkan tidak lama lagi.

Waktu sudah malam, ketika Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu menyelesaikan aksinya di film dan memaksa kita untuk pulang. Seperti kemarin, kuantarkan kembali Revy menuju mobilnya. Kita menjadi semakin akrab, seperti seorang anak kecil yang tidak mau lepas dari mainan favoritnya yang telah lama menghilang. Yah…..Revy memang telah lama menghilang dari hidupku, dan entah kini apa maksud-Nya mempertemukannya kembali dengan ku.

Sesampainya di rumah, kubongkar kembali file-file lamaku, berharap mendapatkan secuil kenangan tentang Revy di situ. Dan saya berhasil mendapatkannya…..!! Dua lembar potongan karcis film “Speed” tertanda medio 94 yang lalu masih ada dalam salah satu file-file lamaku. Tersenyum ku seorang diri mengingat betapa lucu mimik wajahnya mengagumi sosok Keanu Reeves yang menjadi tokoh dalam film tersebut, 6 tahun yang lampau sambil terus mendesakku untuk mengikuti potongan rambut Keanu yang memang tengah mewabah saat itu. Hahaha…makin kayak tikus kecebur got donk kalau saya nekat memapras rambut saya meniru tokoh tersebut. Di lain pihak, entah mengapa saya suka menyimpan benda-benda yang mempunyai memori, mungkin saya adalah orang yang setia pada kenangan.

Dan malam itu saya tertidur dengan senyum. Senyum tentang indahnya sebuah kenangan……

Jakarta, 1 Desember 2000, 03.19 PM

Lapar dan haus memang nyaris tidak saya rasakan, namun perasaan yang jenuh dan mengantuk yang tengah melanda diriku dengan hebat, sambil terus mencoba fokus memandangi General Managerku yang terus mengomel sepanjang memimpin rapat siang itu. Busyet…bosku ini pakai baterai apa yah, kok ngomelnya tahan banget dari tadi, pikirku sambil setengah mati menahan mata agar tidak terpejam. Memang sih dia tidak mengomeliku, namun rekan-rekan yang lain yang menjadi sasaran. Tapi tetap saja bikin bete kalau dengar orang yang ngomel melulu. Ini salah, itu salah. Ini kurang, itu kurang. Iseng kulirik ke luar jendela. Hhmmm…ruangan ini di lantai 4, kayaknya lumayan juga kalo GM-ku ini dilempar ke luar jendela, hahahaha……..

Tet…..bunyi teleponku sekali, cukup mengejutkanku. Saya rupanya lupa untuk men-set silent mode sebelum meeting tadi dimulai. Untung cuma SMS, coba kalau phone call yang masuk, bisa bikin ribut seruangan meeting donk. Sejenak kulirik SMS yang masuk. Ah…dari Revy yang mengajakku keluar mencari makan bersama sore nanti. Lumayan lah, malam libur seperti ini ada juga yang bisa dikerjakan. Berarti selesai meeting, saya harus menelponnya kembali untuk memastikan jadwal dating kita sore ini. Dating? hah? mimpi kamu…!!

Sejak kita bertemu lagi, memang sering kami berjalan-jalan seusai jam kantor. Hampir 2 hari sekali kami jalan, pun hanya untuk dinner dan mengobrol serta bercanda. Rasanya tidak pernah habis bahan obrolan kami. Entah mengapa kami makin terasa dekat satu dengan lainnya. Revy pernah bilang kalau jalan dengan saya banyak ketawanya. Dia bisa bebas bercanda, ketawa, bahkan sampai ngakak. Katanya lagi, komentar-komentar saya sering mengejutkannya, dan membuatnya tidak bisa berhenti untuk tertawa. Rasanya ramai, seperti waktu masih muda dulu, ujarnya lagi. Dia bilang belum ada seorangpun kecuali saya yang mampu membuatnya dapat mengekspresikan apapun rasa di dalam hatinya dengan bebas, tidak juga Heru, tunangannya. Katanya berjalan dengan tunangannya itu adalah jalan-jalan serius, dinner di tempat-tempat yang serius (maksudnya formal kali yah?), membicarakan hal-hal yang serius. Datar tanpa kejutan, tanpa gejolak. But I love him anyway, sambungnya lagi.

Tidak terasa semakin hari kita semakin dekat. Semakin sering kita jalan, ada sesuatu yang mulai mengikat perhatianku kepadanya. Semakin ku mengenal kembali dirinya, seperti saat-saat dulu. Ah….kalau saja cincin itu belum ada…..

Waktu menunjukkan jam 17.36 WIB saat kulangkahkan kaki memasuki lobby gedung kantor Revy, sebuah gedung dengan bentuk menyerupai kipas raksasa di atapnya. Saya memang menjemputnya kali ini, karena mobilnya telah expired surat-suratnya dan harus diuruskan ke pihak yang berwenang untuk perpanjangannya. It takes one or two days, katanya. Telah kutelepon dari lahan parkir tadi, mengatakan bahwa saya akan menunggunya di lobby. Yup…, itu dia. Revy telah menunggu di lobby. Setelan celana panjang hitam dengan blazer senada menutupi kausnya yang berwarna biru muda sangat chic dikenakannya.

Kemacetan Jakarta sore hari telah memaksa kami untuk membongkar kotak kue Revy lebih dulu di jalan ketika jam di mobilku menunjukkan pukul 18.02 WIB. Sebuah restaurant Korean Food yang terletak di BBD Tower (kini Bank Mandiri) di kawasan Diponegoro yang menjadi referensinya kali ini. Katanya dari situ kita bisa makan sambil menikmati gemerlapnya lampu Jakarta di bawah sana dari puncak gedung tersebut. Mendengarnya mengingatkanku pada kafe-kafe di bilangan bukit dago pakar Bandung, tempat kita bisa menikmati city view Bandung sepuas mungkin sambil menghirup dinginnya udara pegunungan, sebuah pemandangan yang selalu menjadi fave saya sampai kapan pun. Andaikan Revy sempat pula merasakannya….

Kali ini Revy memang benar. Indah sekali menyaksikan gemerlapnya Jakarta dari atas sini. Lampu-lampu dari gedung maupun penerangan, berwarna-warni menghiasi pemandangan kota di malam hari. Di bawah sana tampak permainan ornamen lampu dari sebuah restaurant steak terkenal berpendar-pendar indah. Bagus memang, tapi tetap ada sisi romantisnya yang hilang. Tidaklah sesakral city view Bandung, di mana kita dibuat menyatu dengan alam, merasakan sapaan lembut angin yang menghembus wajah kita, tanpa batas dinding kaca dan pendingin ruangan seperti sekarang ini.

Namun dengan Revy di hadapanku, apalah yang menjadi kurang bagus? Memandang senyumnya saja seakan mampu memadamkan setiap lampu kota yang ada di bawah sana. Hiperbolik memang, tapi bukankah begitu rasanya fall in love? Hah? Jatuh cinta? mimpi kamu…!!

“Lucu yah Ryo, kalau ingat dulu kita sering dikira pacaran”, katanya di tengah obrolan.

“Iya.. dan kalau mereka melihat lagi apa yang kita lakukan sekarang, pasti semua kaget menyangka betapa awetnya kita pacaran, hahahaha…”, sahutku.

Dan kami pun tertawa bersama. Seringkali kami berjalan bersama, tidak satu kata cinta pun terucap, pun setelah bilangan tahun telah berlalu. And now what a perfect situation…. Delicious food, good place, romantic sight, beautiful face, fire in the heart, unless…… unless one thing…………, ring in her hand. Huh……

Masih sempat kulirik jam yang menempel di dinding ruang tamu Revy menunjukkan pukul 22.42 WIB saat kami memasuki unit apartemennya. Sebuah unit apartemen kecil yang asri, dengan 2 kamar tidur dan teras dengan pemandangan menghampar menuju Jl. Casablanca, jelas terlihat dari lantai 7 ini.

Revy meninggalkanku sendiri di ruang tamu, saat ia meminta ijin untuk sebentar ke kamar kecil. Hhmm.. penataan ruangan yang bergaya minimalis namun dengan paduan warna yang terang dan berani mewarnai desain interor ruang tersebut. Iseng kusibakkan tumpukan CD yang berserakkan di karpet. Chaka Khan, Toto, Whitney Houston dan ah…Syaharani…, sama seperti kasetnya yang selalu kudengarkan di mobil saat pulang-pergi kerja. Perlahan kumainkan dalam stereo set, selembut suara Syaharani melantunkan “Unforgetable” beberapa saat kemudian.

Kuhempaskan tubuhku di atas sofa, saat tak lama kemudian Revy bergabung denganku, membawa dua kaleng coke dingin untuk kembali mengobrol dan bercanda, cekikikan dan tertawa lepas. God damned, I hate those ring……

Malam semakin larut, ketika kuputuskan untuk berpamitan dan pulang. Why does it feel so hard everytime I say goodbye, seems like I won’t never see her again ….?

Sepatu kiriku baru saja kukenakan, saat tiba-tiba dari belakangku terdengar suara Revy bertanya, “Ryo, kita sudah lama berteman, and I think I’ve already knew all about you, except one thing”, Revy menahan nafasnya sejenak untuk kemudian melanjutkan, “…and may I know about it now? and please answer the truth”.

“Sure whatever you want to know, just ask me”, tanyaku terheran. Sebenarnya mau nanya apa sih nih anak?

“Ryo, have you ever had some different feelings about me?”, tanyanya tergugup.

“What do you mean with different feelings?”, balasku tak kalah kagetnya.

“Come on Ryo, you know what I mean. Don’t make it harder for me, please….”, kata Revy dengan wajah memelas.

“Why should you know?”, tanyaku lagi untuk menghindar.

“I just have to know, Ryo. Please answer me…”, balasnya sedikit memaksa.

Shit….!! What should I do? Tell her everything I’ve been feeling about her? or just lying and tell her everything is right? Perang batin berkecamuk seketika, membuatku ragu untuk memilih apa yang akan kukatakan kepadanya. Waktu merambat perlahan, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Pikirku toh dia sudah menemukan cinta sejatinya dan sebentar lagi akan menikah. Pengakuanku mungkin hanyalah sebuah intermezzo dalam jejak-jejak hidupnya. Dan lagipula kita sudah sama-sama dewasa, pasti dapat menerima keadaan seberapa buruk pun.

“Have I fallen with you, is that what you wanna know, Rev?”, tanyaku pada akhirnya. Revy hanya terdiam dan tertunduk sembari memainkan ujung blazernya dengan kedua tangannya.

“Yes Rev, I have fallen with you. In fact I have been falling in love with you since we’re in school”, jawabku mencoba untuk tegas. “Apakah saya pernah jatuh cinta sama kamu, Rev? Jawabnya pernah, bahkan selalu…. Saya selalu mencintaimu”, lanjutku tidak kuat lagi menahan endapan perasaanku padanya.

Sunyi keadaan setelah itu. Menit demi menit berlalu tanpa kutahu apa yang harus kulakukan. Marahkah dia padaku? Jika tidak, mengapa dia terdiam begitu lama? Lalu saya harus bagaimana? Meninggalkannya begitu saja, atau harus tetap tinggal untuk melihat reaksinya?

Sekonyong-konyong Revy menubruk tubuhku, memelukku erat sambil menangis. Saya hanya mampu balas memeluknya sambil mengusap-usap rambut sebahunya yang terurai di pundaknya. What’s wrong honey?

“Kamu jahhaaattt……!!”, serunya tiba-tiba, masih sambil menangis dan memukuli dadaku dengan kedua tangannya. “Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Tahukah kamu Ryo, betapa setianya saya menyimpan cinta untukmu selama ini, sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain?”, serunya lagi sambil sesunggukkan.

Tiba-tiba dunia terasa berputar hebat mana kala saya mendengar pengakuannya. Revy selama ini mencintaiku? Oh My God….. I’ve found someone who understand me best, and I just let it slip away? Sesak rasanya nafasku demi mendengar semuanya. Those ring….those ring takes my happiness away…

Menit demi menit berlalu kudengarkan seluruh cerita Revy, mendengarkan bagaimana dia terus mengharapkan perkataan cinta dari bibirku, bahkan sampai saat dia menuntut ilmu ke luar negeri dan kami tidak pernah berkabar berita lagi. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menerima cinta Heru dan belajar untuk mencintainya, karena cinta Heru adalah kenyataan baginya, sedangkan cinta saya hanyalah sebuah mimpi. Saya tak tahu harus berkata apa. Yang saya lakukan hanya berusaha meredakan tangis dan menyekakan air matanya dengan sapu tanganku. Beberapa saat hingga akhirnya keadaan Revy cukup tenang, dan kami masih terus saja berpelukan…

I think of you every morning, dream of you every night
Darling I’ll never be lonely, whenever you’re inside
I love you, for sentimental reasons……

Alunan suara Syaharani lembut melantunkan sebuah tembang lawas “For Sentimental Reasons”, makin menghanyutkan kami berdua dalam sebuah dekapan erat yang menyejukkan. Tanpa sadar tubuh kami bergerak perlahan mengikuti alunan lagu. Ya… tanpa sadar kami berdansa, diiringi lembut musik yang keluar dari stereo set di buffet ruang tamu. Dari jendela masih terlihat Jakarta yang terang, seakan sengaja menyisakan kehangatannya untuk kami berdua.

Kami terus tenggelam dalam suatu dansa yang lembut dan romantis, bahkan setelah musik berhenti dimainkan sekalipun. Kami hanya bergoyang lembut, mengikuti kata hati semata. Perlahan kukecup lembut keningnya. Terasa bagaimana ia mempererat dekapannya. Kudongakkan perlahan dagunya, masih sempat terlihat olehku bagaimana Revy memejamkan kedua matanya, sebelum akhirnya kucium bibirnya penuh perasaan…..

Kami berdekapan dan berciuman erat, larut dalam galau emosi dan kerinduan yang sekian lama tak terkatakan, bahkan dalam bilangan tahun sekalipun. Segala macam rasa yang pernah kami rasakan, seakan kami tumpahkan pada sebuah ciuman yang dalam. Lembut kuangkat tubuhnya hingga kini ku menggendongnya setelah beberapa saat kita bercumbu, sambil terus berciuman. Perlahan kuberjalan ke sofa dengan tetap merengkuhnya dalam dekapan.

Tiba-tiba kurasakan ruangan menjadi gelap, tatkala tangan Revy berhasil menjangkau saklar lampu yang terletak di dekat pintu utama. Sunyi senyap gelap, hanya desahan nafas kami berdua yang sedang dihanyutkan cinta. Kini kami terduduk di sofa, dengan Revy dalam pangkuanku. Kami masih terus saja berciuman, semakin dalam. Perlahan kutanggalkan dua buah kancing blazernya, untuk kemudian jatuh terjuntai ke karpet. Revy pun berusaha melepaskan satu per satu kancing kemejaku, hingga pada akhirnya ia berhasil mendapatkan kemejaku dalam genggamannya, untuk kemudian dijatuhkannya pula ke karpet.

Kami terus bergumul dalam paduan kerinduan yang tak terbilang. Tak kuingat jelas bagaimana masing-masing kami kehilangan kain penutup tubuh satu per satu, sampai akhirnya kami hanya tinggal mengenakan kain penutup tubuh yang terakhir. Kucumbui dada Revy penuh kehangatan, ketika kurasakan lembut tangannya menyusup ke balik celana dalamku, menurunkannya dan menggenggam erat kejantananku dengan telapak tangannya. Ugh…sungguh suatu sensasi yang tak terkatakan.

Kuturuni centi demi centi tubuh Revy dengan menyisakan bekas- bekas pagutan berwarna keunguan pada sekujur tubuhnya. Nafas Revy terus memburu, dan makin memburu ketika perlahan kusingkapkan celana dalam bernuansa biru muda, sedikit-demi sedikit menyusuri kedua kakinya yang jenjang hingga akhirnya terlepas seluruhnya.

Kini keadaan kami tak ubahnya tatkala pertama kali kami dilahirkan, tanpa selembar benang pun menutupi tubuh kami berdua. Perlahan kubuka paha Revy dan mengarahkan wajahku ke sana. Bagai tersengat, nafas Revy tertahan ketika ia mulai merasakan sesuatu yang lembut membelai organ kewanitaannya. Lembut sekali kumainkan lidahku di liang kewanitaannya, memberinya suatu sensasi oral yang tak terkatakan.

“Ryo….uuhhh….hhhmmm…”, terdengar lembut suara Revy berbisik, di antara desah nafasnya yang memburu.

Terus kuperlakukan dia dengan penuh kasih sayang. Jilatan lembut diselingi gigitan kecil dan hisapan perlahan terus mendera organ kewanitaannya, membawanya makin tinggi terbuai dalam gulungan hasrat yang perlahan-lahan merambati seluruh aliran darahnya. Menit demi menit berlalu hingga…..

“Ryooo…aahhhh…”, serunya tertahan seraya mencengkeram rambutku. Puncak itu telah datang menderanya, menenggelamkannya pada jurang kenikmatan hingga dasarnya. Saya hanya mampu memandanginya saja. Bagaimana indahnya ekspresi Revy terbuai alunan orgasme yang baru saja hadir menyapanya mampu mengalahkan segala keindahan yang pernah saya saksikan sebelumnya.

Kubiarkan Revy mengejang detik demi detik puncak yang baru saja dilaluinya untuk kemudian mulai dapat mengatur nafasnya kembali. Kurasakan tangan Revy lembut menepis tanganku yang telah menggenggam latex pengaman. “Don’t use it, I wanna feel you inside me completely….”, bisiknya lembut di telingaku seraya menggenggam kejantananku dan menuntunnya ke dalam liang kewanitaannya.

Hangat dan mendebarkan rasanya tatkala ujung kejantananku menempel pada bibir vaginanya. Terasa sentuhan lembut tangan Revy pada pinggulku dan mendorongnya ke depan untuk menghujamkan kejantananku dalam tubuhnya. Terasa suatu sensasi yang sangat menyesakkan dan mendebarkan, ketika kunikmati mili demi mili kejantananku menembus organ kewanitaan Revy. Ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menikmati penetrasi tersebut makin membuatku serasa terbang dibuai kenikmatan. Hingga pada akhirnya terasa kejantananku terbenam utuh dalam tubuhnya, seutuh seluruh perasaan cintaku padanya yang selama ini kusimpan. Sayu matanya memandangku, kukecup lembut keningnya sebelum akhirnya kami tenggelam ke dalam suatu persetubuhan yang sangat indah, dimana galau hati dan rasa cinta bercampur aduk menjadi satu di dalamnya.

Kini Revy terbaring di sofa dan diriku dengan posisi setengah terduduk terus memompa kejantananku keluar masuk tubuhnya. Kaki kirinya terkulai di pundakku, saat kaki kanannya terjulur ke karpet. Kami terus bersetubuh dengan sangat intim, seakan tiada lagi hari esok bagi kami.

“Ryooo……hhhmmm…aahh..”, jerit Revy lirih saat sesekali dirasakannya kejantananku mendesak hebat liang kewanitaannya.

Waktu terus berpacu, seiring berpacunya hasrat kami menyatukan seluruh rasa dan raga kami berdua. Makin kurekatkan persetubuhan ini saat kurasakan Revy mulai mendekati puncak keduanya. Dan…

“Ryoooo…..aarrggghhh..hhhmmppff.”, suara Revy sungguh mendebarkan terdengar.

Puncak kedua telah datang merenggutnya kembali dan menenggelamkannya dalam gulungan nafsu dan kenikmatan yang seperti tiada berujung. Belum selesai Revy melepaskan seluruh ekspresinya, dengan cepat kucium bibirnya dalam. Terdengar lirih jeritan-jeritan kecil sisa orgasmenya saat kami berciuman.

Dengan tiba-tiba kutarik tubuh Revy dan mendudukkannya dalam pangkuanku. Kini wajah kami berhadapan dekat, dengan Revy dalam pangkuan. Kembali kutikamkan kejantananku dalam kewanitaannya, seraya meremas buah pinggulnya dan menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuhku. Kami bersetubuh sambil berciuman teramat dalam.

Tubuh Revy bergoyang-goyang mengikuti setiap hentakan persetubuhan kami. Sesekali disibakkan rambutnya yang mulai basah terurai. Ada suatu momen yang sangat indah setelah sekian waktu berlalu, tatkala Revy menyibakkan rambutnya dan tetap meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, seraya terus bergoyang mengikuti alunan persetubuhan. Bagai sebuah tarian kehidupan yang sangat indah dan sakral, mengikuti setiap gerak tubuhnya menyetubuhiku.

“Rev, I love you”, bisikku lembut di telinganya, diantara deraan-deraan lembut persetubuhan kami.

“Me too”, hanya itu yang mampu diucapkannya sebelum terhentak kembali merasakan sesaknya kejantananku memenuhi organ kewanitaannya. Terasa pula olehku bagaimana vaginanya makin erat menghimpit organ kejantananku…..

“Ryoo….eennngghhhh…..aahhhhh..”, teriaknya tertahan ketika orgasme itu kembali menggulungnya, menyeretnya ke dalam lembah kenikmatan hingga ke dasarnya.

Kini ia merebahkan kepalanya di pundakku. “Revy sayang kamu…”, ucapnya lirih di telingaku. Saya hanya mampu mengusap lembut rambutnya. Ah… Revy, andai kamu dapat tahu betapa aku pun merasakan hal yang sama sepertimu.

Kugendong Revy menuju kamar tidurnya. Dia memelukku erat seakan tidak akan pernah ia lepaskan. Masih sempat kupadamkan lampu kamar tidur saat kami mulai memasukinya. Kami terus berciuman, semakin dalam. Kuturunkan Revy dan membalikkan tubuhnya menghadap ke jendela. Sempat kudengar jeritan lirih terkejutnya ketika ku memposisikan dirinya seperti itu. Kini Revy setengah berdiri membelakangiku, dengan kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya yang menghadap ke jendela kamar tidurnya yang masih terbuka. Perlahan kusisipkan kembali kejantananku dalam liang kewanitaannya.

“Ugh….”, terdengar lirih bisik Revy saat ia mulai merasakan tikaman kejantananku menembusnya dari belakang.

Kembali kami bersetubuh, sangat erat. Kuterus menikamkan kejantananku ke dalam organ kewanitaannya dari belakang, seraya meremasi kedua buah pinggulnya. Betapa indahnya persetubuhan ini, suatu sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya ketika bercinta seraya memandangi lampu-lampu kota yang masih saja benderang dari jendela tanpa kain penghalang yang terpampang di depan kami berdua. Kami terus bercinta, mencoba merasakan kehangatan pendar-pendar lampu jalanan kota Jakarta yang terpampang di depan kami, seakan-akan terus memancari kami dengan cinta.

Galau hati, luapan emosi, kerinduan dan rasa cinta ditambah city view metropolitan berpadu dalam dekapan erat sang dewi nafsu, menghantarkan persetubuhan kami semakin dalam dan dalam. Kami berciuman, mendesah, mengerang, mendekap, coba merasakan semua sensasi yang ditawarkan dalam sebuah persetubuhan. Semakin terhimpit rasanya kejantananku di dalam liang vaginanya, ketika mulai kurasakan sesuatu bergejolak mendesak keluar dari dalam tubuhku.

“Rev, I’m almost there….”, bisikku lembut.

“Yes Ryo, cum inside honey…”, balasnya lirih.

Makin terasa desakan orgasme menghimpitku ketika makin kutikamkan kejantananku dalam liang kewanitaan Revy. Perlahan merambati seluruh urat syarafku….

“Ryo….eenngghhh…”, jerit Revy lirih, seakan memberi tanda kepadaku bahwa ia pun sedang mendekati orgasmenya yang kesekian kali.

Kupacu persetubuhan ini semakin cepat, karena ku tahu tidak ada gunanya lagi mempertahankan lebih lama, karena tembok pertahananku akan hancur berantakan dalam hitungan detik…..

“Ryooo…..aahhhh…!!”.

“I’m cumming Rev, I’m cummiiinngg…!!.”

Kami berteriak hampir berbarengan kala orgasme menyapa kami dalam waktu yang bersamaan. Kurasakan derasnya cairan kejantananku menyembur keras, memenuhi liang kewanitaan Revy dengan suatu sensasi kenikmatan yang tak terbilang. Revy terus menekan pinggulku ke arahnya, seakan hendak menghabiskan setiap detik orgasme kami di dalam tubuhnya. Entah berapa lama kami terbuai tinggi, terlenakan gelombang hasrat yang terpuaskan di dalam suatu gulungan orgasme yang begitu dahsyat……

Jakarta, 2 Desember, 04.12 AM

Angin pagi Jakarta meniup lembut rambutku yang basah tak beraturan di teras apartemen, sementara di belakang sana Revy sedang sibuk mencuci piring. Jujur saja, saat ini saya sedang merasa kacau. Seharusnya saya bangga dapat membuat seorang Revy jatuh cinta dan terlena dalam dekapanku. Namun yang terasa kini semata rasa bersalah menghujam batinku pilu. She is my best friend, and what have I done to her? Slept with her? and what about her marriage few months later? Did I think about it? What was I thinking? and what about Heru? Don’t I just screw up their life by sleeping with Revy? Ryo, you’re such a selfish person…!! Suara hatiku terus menyiksaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran dan kepalaku ini.

Revy adalah sahabat saya, dan saya ingin melihatnya hidup bahagia, dan kini saya hanya memberinya trouble yang sangat berat. Saya hanya akan mengacaukan pilihan jalan hidupnya dengan hadir di antara dia dan tunangannya. Dan jika kehadiranku tidak mampu menggoyahkannya, setidaknya saya telah membuat pernikahan mereka tidak akan sesuci seperti yang terlihat. Dan Heru, apa yang akan diperbuatnya jika mengetahui kekasihnya jatuh cinta dan bercinta dengan pria lain? Haruskah saya bersenang-senang di atas segala resiko kehancuran orang lain, bahkan yang notabene adalah orang-orang terdekatku? Saya adalah seorang pria, dan saya tahu persis hancurnya perasaan dan harga diri seorang pria yang kekasihnya berpaling ke cinta yang lain. Haruskah saya membuat kaumku yang lain merasakan perih itu? Perih yang selama ini kadang kurasakan juga saat ingatanku melayang ke masa-masa yang lalu, at the time when I gave my best love for someone, but she felt still not worth enough….

Tiba-tiba tangan Revy melingkar di tubuhku. Dia memelukku dari belakang dengan suatu dekapan erat yang mesra. Terasa lembut wangi basah rambutnya menempel di pundakku. “Ryo…, I have to talk with you”, bisiknya lirih.

“So please, say it..”, balasku sambil membalikkan tubuhku dan menemukan sesosok wajah yang sangat mendamaikan dan menentramkan jiwaku, but do I feel sorrow in her eyes?

Kami duduk di teras, menikmati semilir angin pagi Jakarta yang masih belum terkotori debu polusi, ketika Revy memulai ucapannya, “Ryo, I’ve been thinking about us.., dan Revy tidak bisa hidup begini terus”.

Saya hanya terdiam sambil menebak-nebak apa yang dimaksud Revy dari perkataan yang diucapkannya, saat Revy meneruskannya kembali, “Ryo, I have life now. Yes…we were messed up, but I still have to go on with my own life”, Revy menarik nafas sejenak, “…and Heru is my life for me now”.

Saya hanya bisa memandangi mata Revy yang mulai berkaca-kaca saat kembali ia berkata, “Maybe I don’t love him as much as I love you, but he is real for me, Ryo…… And you seems just like a dream for me”, Revy terdiam sejenak, “…and I can’t live in dreams. Revy butuh hidup yang nyata, Ryo. Revy butuh kepastian….dan saat ini kepastian untuk Revy adalah Heru. Walaupun ia tidak seindah kamu, tapi setidaknya Heru-lah yang memberikan kepastian dan hidup yang nyata buat Revy. Loving you is the greatest feeling I’ve ever had, but…..”

“Ssstttt…..say no more honey, I know what you think.

I understand you surely….”, sahutku sambil menempelkan telunjukku di bibirnya.

“Ryo mengerti apa yang kamu rasakan. Sebagai wanita di usiamu, kamu memang wajar menuntut itu. Dan pria yang terbaik bagimu adalah Heru, karena ia dapat memberikan kepastian untukmu. I know I can only give you dreams,….and dreams seems never be enough for women”, sahutku lagi,

“Kembalilah pada Heru, he is where your place belongs to”, kataku sambil kudekap erat Revy penuh sayang.

“Thanks Ryo, kamu baik sekali, but may I ask you anything else”, ujar Revy lirih sambi bersandar di pundakku.

“Sure…anything you want, Rev”, balasku cepat dengan terus membelai rambutnya.

“Will you keep this night as a secret, please…?”, Revy mendongak, menatapku dengan pandangan penuh harap.

“Surely I will, Rev. Surely….”, kataku meyakinkannya.

“Kamu sahabat saya Rev, dan saya tidak mau ada sesuatu pun yang mengacaukan kebahagiaan hidup kamu, apalagi oleh hal-hal yang disebabkan oleh saya”, lanjutku lagi,

“I’ll do anything to make you happy Rev, you can depend on me, as always…”.

Jalanan kota Jakarta masih lengang, ketika kubelokkan mini jeepku di dareah TPU Karet menuju kawasan Pejompongan. Pelan kutekan tombol on radioku yang langsung ter-set pada sebuah radio swasta yang khusus memutarkan lagu-lagu Indonesia di bilangan frekuensi 89-an FM.

…………..

Selamat tidur kekasih gelapku, s’moga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu tak kan pernah sanggup untuk melupakanmu
Selamat tidur kasih tak terungkap, s’moga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu tak kan pernah sanggup untuk meninggalkanmu

…………..

Suara Sheila on 7 dengan Sephia-nya cukup menerbangkan lamunanku kembali pada Revy. Masih terbayang bening matanya, saat terakhir kumemandangnya di pintu apartemennya. Ingin rasanya memeluk dan menciumnya, mengungkapkan semua isi hati ini yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Semua kata cinta di dunia tidak akan pernah cukup menggambarkan bagaimana inginnya diriku memilikinya. Namun semua itu tidak saya lakukan. Biar bagaimana pun saya telah berjanji untuk tidak lagi mengacaukan kehidupan Revy. Kata cinta hanya akan membuat segalanya menjadi bertambah berat dan rumit bagi kita. Better not to say it…!!

Revy butuh kepastian…, mengapa hanya kata-katanya itu yang terngiang selalu di telingaku kini. Terbayang sekelebatan kisah-kisahku dengan beberapa wanita yang sempat hadir di jejak-jejak hidupku. Jika hingga kini saya belum menemukan yang saya cari dari seorang wanita, yaitu kedamaian, mungkin karena selama ini pula saya belum mampu memberikan apa yang mereka cari, yaitu kepastian.

Diriku masih merenung saat kulewati perempatan Slipi-Palmerah yang mulai ramai dipenuhi aktivitas manusia, untuk kemudian meluncur menuju kawasan Tomang. Ah…kepastian…….. Something women always want, something I could never give……, not yet……

THE END


Kenangan Era Farmasi

Cerita ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu. Nama saya Andy dan bekerja di sebuah perusahaan Farmasi di Jakarta. Saya mengepalai bagian marketing Seluruh indonesia, dan otomatis saya sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, apalagi bila ada produk baru yg harus disosialisasikan. Sekitar tiga tahun yang lalu, saya ditugaskan ke Batam. Di sana kebetulan perusahaan kami mempunyai mess yang biasa digunakan oleh tamu-tamu yang datang dari kota lain. Mess-nya sendiri cukup besar, dan di halaman belakang ada kolam renangnya. Pada saat itu saya tugas 1 bulan dan hanya saya yg menempati Mess yg besar tersebut.

Selama di Batam saya ditemani oleh Lulu yang juga mengepalai bagian penjualan/supervisor di sana. Sebagai gambaran, Lulu tingginya sekitar 165 cm, berat sekitar 54-55 kg dan kulitnya putih mulus. Umurnya sekitar 25 tahun, dan menurut saya orangnya sangat menarik (baik dari segi fisik maupun personality). Beberapa hari di sana, kami pergi mengunjungi beberapa distributor, dan Lulu juga sempat mengajak saya jalan-jalan keliling Batam ditemani beberapa rekan kantor lainnya.

Hubungan saya dengan Lulu menjadi cukup dekat, karena kami banyak menghabiskan waktu berdua walaupun sebagian besar adalah urusan kantor. Lulu sangat baik pada saya, dan dari tingkah lakunya saya dapat merasakan kalau Lulu suka pada saya. Pertama-tama saya pikir kalau mungkin itu hanya perasaan saya saja. Walaupun dalam hati saya juga suka dengan dia, saya tidak berani untuk mengatakan atau memberi tanda-tanda kepada dia. Toh, saya baru beberapa hari kenal dengan dia dan memang untuk urusan wanita saya tergolong pemalu apalagi saya adalah pimpinannya. Bagaimana kalau dia ternyata tidak ada perasaan apa-apa ke saya?
Suatu sore setelah pulang kerja, Lulu seperti biasa mengantar saya pulang ke mess. Saya menanyakan apakah dia mau mampir dulu sebelum pulang. Lulu setuju dan masuk ke dalam mess bersama saya. Kami ngobrol sebentar, dan saya ajak Lulu untuk duduk di kursi panjang dekat kolam renang. Saya tanya Lulu apakah dia mau menemani saya berenang. Dia bilang kalau sebenarnya dia mau, tapi tidak bawa baju renang dan baju ganti sama sekali (Apa mungkin dia sungkan ama saya). Saya menawarkan untuk memakai celana pendek dan kaos saya.

“Nanti sekalian mandi di sini saja sebelum kita pergi makan malam…” kata saya.
Lulu setuju dan saya ke kamar untuk mengambil kaos dan celana pendek untuk dipinjamkan ke Lulu. Saya sendiri juga berganti pakaian dan mengenakan celana pendek saya yang lain.

Setelah berganti pakaian, kami pun berenang bersama. Karena baju kaos yang saya pinjamkan berwarna putih dan bahannya cukup tipis, buah dada Lulu yang ukurannya di atas rata-rata tercetak cukup jelas walaupun dia masih memakai bra. Kami berenang sekitar 20 menit, dan setelah selesai saya pinjamkan Lulu handuk untuk mandi di kamar saya yang kebetulan lebih bersih dari kamar mandi yang ada di ruang depan. Saya sendiri mandi di ruang depan.

Begitu selesai mandi, saya ke kamar saya untuk melihat apakah Lulu sudah selesai atau belum. Ternyata Lulu masih di kamar mandi, dan beberapa menit kemudian keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di badannya. Handuk yang saya pinjamkan tidak terlalu besar, sehingga hanya mampu menutupi sebagian buah dada dan sedikit pahanya. Belahan dadanya terlihat jelas dan mungkin sedikit lebih turun lagi putingnya akan terlihat. Dengan rambut yang masih basah, Lulu terlihat sangat seksi.

Lulu berdiri di depan pintu kamar mandi dan bilang kalau dia harus mengeringkan bra dan cd-nya yang masih basah. Waktu Lulu mengangkat kedua tangannya untuk menyibakkan rambutnya, handuknya terangkat dan kemaluannya terlihat. Saya tidak tahu apakah Lulu sadar atau tidak kalau handuknya terlalu pendek dan tidak dapat menutupi kemaluannya. Rambut kemaluan Lulu lumayan lebat.

Lulu kemudian duduk di ranjang saya dan menanyakan apakah dia boleh menunggu sebentar di kamar saya sampai pakaian dalamnya kering. Tentu saja saya membolehkan (suatu sinyal yg jelas buat saya), dan setelah mengobrol beberapa saat, Lulu menyandarkan badannya ke sandaran ranjang dan menjulurkan kakinya ke depan. Kakinya yang panjang terlihat mulus. Melihat itu semua, kemaluan saya mulai menegang.

Saya tanya dia, “Sambil nunggu celana kamu kering, mau ga kamu pijitin saya..?”
“Terserah pak andy aja..”
Dia minta saya membalikkan badan, dan dia mulai memijati kaki saya. Beberapa saat kemudian dia mulai memberanikan diri untuk memijat paha saya. Lulu sangat enjoy ketika memijat paha dalam saya sambil sedikit menyentuh kemaluan saya dan sepertinya dia juga sudah mulai terangsang. Hal ini terbukti dengan dibukanya kedua kakinya, sehingga kemaluannya terlihat jelas oleh saya, walaupun tubuhnya masih dibalut handuk.

Saya pun mulai memijat pahanya bagian dalam, dan terus naik sampai ke selangkangannya. Lulu diam saja, dan saya memberanikan untuk mengelus kemaluannya. Juga tidak ada reaksi selain desah nafas Lulu tanda bahwa dia sudah terangsang dan menikmati apa yang saya lakukan. Saya mulai lupa kalo saya adalah atasannya.
“Lulu, buka yah handuknya biar lebih mudah..” kata saya.
Tanpa diminta lagi, Lulu membalikkan badannya dan melepaskan handuknya, sehingga tubuhnya sekarang telanjang bulat di depan saya. Buah dada Lulu ternyata lumayan besar dan sangat indah. Ukurannya mungkin 36C dan putingnya berwarna kemerahan.

“Pak Andy, buka dong celana pendek kamu..!” pintanya.
Saya berdiri dan melepaskan celana yang saya kenakan. Kemaluan saya sudah sangat menegang dan saya pun naik ke ranjang dan tiduran di sebelah Lulu.
“Bapak diam saja di ranjang, biar aku yang buat bapak senang..,” katanya.
Saya pun tidur telentang, dan Lulu naik ke badan saya dan mulai menciumi saya dengan penuh nafsu.

Beberapa menit kemudian ciumannya dilepaskan, dan dia mulai menjilati badan saya dari leher, dada dan turun ke selangkangan saya. Lulu belum menjilati kemaluan saya dan hanya menjilati selangkangan dan paha saya sebelah dalam. Saya sangat terangsang dan meminta Lulu untuk memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Lulu mulai menjilati kemaluan saya, dan sesaat kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ternyata Lulu sudah sangat ahli. Pasti dia sudah sering melakukannya dengan bekas pacarnya, pikir saya. Memang sebelum itu Lulu pernah berpacaran dengan beberapa pria. Saya sendiri saat itu masih perjaka. Saya memang juga pernah berpacaran waktu kuliah, tetapi pacaran kami hanya sebatas heavy petting saja, dan kami belum pernah benar-benar melakukan hubungan seks.

Saya minta Lulu untuk membuat posisi 69, sehingga selangkangannya sekarang persis di depan hadapan wajah saya. Sambil Lulu terus mengulum dan menjilati kemaluan saya, saya sendiri juga mulai menjilati kemaluannya. Ternyata kemaluannya berbau harum karena dia baru saja selesai mandi. Rambut kemaluannya juga lebat, sehingga saya perlu menyibakkannya terlebih dahulu sebelum dapat menjilati klitorisnya. Kami saling melakukan oral seks selama beberapa menit, dan setelah itu saya minta Lulu untuk tiduran. Dia merebahkan badannya di ranjang, dan saya mulai menjilati buah dada dan putingnya.

Lulu sudah sangat terangsang, “Hmm.. hmm.. terus an.. terus..!”
Rupanya dia sudah berani memanggil langsung namaku tanpa sebutan pak…..
Saya terus menjilati tubuhnya sampai ke kemaluannya. Rambut kemaluannya saya sibakkan dan saya jilati bibir kemaluan dan klitorisnya. Cairan kemaluannya terasa di lidah saya. Tubuh Lulu menggelinjang hebat dan pantatnya diangkat seolah-olah ingin saya menjilatinya lebih dalam lagi. Tangannya menekan kepala saya sampai hampir seluruh wajah saya terbenam di kemaluannya. Saya semakin bersemangat memainkan ujung lidah saya yang menyapu kemaluan Lulu, dan kadang-kadang saya gigit perlahan klitorisnya.

Lulu benar-benar menikmati apa yang saya lakukan, dan semakin membuka pahanya lebar-lebar. Dia terus menekan kepala saya dan menaik-turunkan pinggulnya.
“Ah.. ah.. ah.. I’m coming, I’m coming..!” teriaknya.
Saya terus menjilati klitorisnya dengan lebih cepat, dan sesaat kemudian dia berteriak, “Ahh.. Ahhh… Ahhh…” tanda kalau dia sudah orgasme.

Kemaluannya sudah sangat basah, Lulu melenguh sebentar dan berkata, “an, masukin dong, saya mau nih..!”
Saya bilang kalau saya belum pernah melakukan ini, dan takut kalau dia hamil.
“Jangan takut, saya baru saja selesai mens kok, jadi pasti nggak bakalan hamil..”

“Kamu di atas yah..!” kata saya.
“Ya udah, tiduran sana..!”
Saya tiduran dan Lulu duduk di atas saya dan mulai memasukkan kemaluan saya ke vaginanya dengan perlahan. Wah, nikmat sekali.. ternyata begitu rasanya berhubungan seks yang sesungguhnya. Lulu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya dan kedua tangannya diangkat ke atas. Saya memegang kedua buah dadanya sambil Lulu terus bergoyang, makin lama makin cepat.

Beberapa saat kemudian saya sudah tidak tahan lagi dan ejakulasi sambil memeluk tubuh Lulu erat-erat. Belum pernah saya merasakan kenikmatan seperti itu. Kami pun berciuman dan kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang penuh dengan keringat. Di kamar mandi saya menyabuni tubuh Lulu dari atas ke bawah, dan hal yang sama juga dia lakukan ke saya. Khusus untuk kemaluannya, saya memberikan perhatian khusus dan dengan lembut menyabuni klitorisnya dan memasukkan jari saya untuk membersihkan vaginanya yang basah oleh air mani saya. Kelihatan kalau Lulu sangat menikmati itu, dan kakinya pun dibuka lebar-lebar.

Selesai mandi, kami kembali ke kamar dan membicarakan apa yang baru kami lakukan. Terus terang saya tidak pernah berpikir untuk melakukan hubungan seks dengan Lulu secepat itu, karena kami belum lama kenal dan semuanya juga terjadi dengan tiba-tiba. Lulu bilang kalau sebenarnya dia suka dengan saya dari awal, dan memang sudah mengharapkan untuk dapat melakukan ini dengan saya.
Sayang hubungan kami tidak berlanjut setelah saya kembali ke Jakarta karena jarak yang memisahkan kami.


Pengalaman ku

Siang itu cuaca mendung menambah dingin dalam kamarku, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Masih terbayang pijatan majikanku tadi siang, begitu takut, aneh dan juga nikmat, terus terang ini pengalamanku yang pertama dimana tubuhku dijamah tangan laki-laki. Rasa yang menjalar di semua pori-pori kulit, kurasakan keanehan yang terjadi dalam tubuhku yang berujung pada suatu kenikmatan. Aku bingung dan bertanya-tanya, apakah yang terjadi dalam diriku? Ketika di dalam kamar mandi, betapa kagetnya aku, kulihat celana dalamku dalam keadaan basah, padahal tadi tidak merasa ingin buang air, kenapa basah? Setelah aku cium ternyata tidak berbau, air apa yang keluar?

Sebelum kulanjutkan ceritaku ini, perkenalkan namaku Menuk, umurku menginjak 18 tahun dan aku anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya wanita. Kakak-kakakku juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ibuku sudah tiada sejak aku berusia dua tahun, sehingga ayahku menikah lagi tetapi tidak mempunyai keturunan. Ketika kakak-kakakku pergi merantau, tinggal aku bersama ayah dan ibu tiriku di desa terpencil pantai utara Jawa Tengah.

Sejak setahun lalu aku bekerja pada sebuah keluarga muda dengan satu orang putri yang baru berusia dua tahun. Majikan perempuanku yang kupanggil ibu adalah seorang karyawati, sedang majikan laki-lakiku seorang pegawai negeri sebuah instansi pemerintah. Kehidupan di dalam rumah tangga majikanku dapat dikatakan harmonis, itu yang membuatku kerasan tinggal bersama mereka. Ibu majikan seorang wanita yang baik, begitu pula dengan suaminya.

Hari Sabtu dimana ibu bekerja, sedang bapak setiap Sabtu dan Minggu libur. Di rumah tinggal bapak, aku dan anaknya. Aku merasa tidak enak badan sejak hujan-hujanan kemarin waktu aku pergi ke pasar. padahal malam harinya aku sudah minum obat, tetapi hingga pagi hari ini aku merasa sakit disekujur tubuh. Walau begitu tetap kupaksakan diri untuk bekerja, karena sudah kewajibanku sehari-hari dalam keluarga ini.

Setelah anaknya tidur, kurebahkan diriku di kamar. Cuaca mendung bulan November, setengah terpejam sayup-sayup kudengar bapak memanggil namaku, tetapi karena badan ini terasa berat, aku tak sanggup untuk bangkit, sampai bapak datang ke kamarku. Bapak terkejut melihat kondisiku, dihampirinya aku dan duduk ditepi ranjang. Aku berusaha untuk bangkit walau kepala ini seperti dibebani ribuan batu, tiba-tiba tangan bapak menyentuh dahiku kemudian merengkuh bahuku untuk memintaku tiduran kembali.

Bapak bilang kalau tubuhku demam, kemudian dia memijit keningku, mataku terpejam menikmati pijitan itu, terasa sakit di kepala dan lemas sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat bapak menyuruhku untuk telungkup, akupun menurutinya. Kuraskana kain bajuku disingkap ke atas oleh bapak, kemudian tali pengait behaku dicopotnyanya. Aku terkejut, tetapi karena lemas aku pasrah saja, kurasakan pijitan bapak dipunggungku. Disinlah awal keanehan itu terjadi. Walaupun kondisi demam, tetapi perasaan itu tetap saja kurasakan, begitu hangat, begitu damai, begitu takut dan akhirnya begitu nikmat, mata kupejamkan sambil menikmati pijatan bapak.

Umur bapak sudah tigapuluhan dan kuakui kalau bapak mempunyai wajah yang awet muda. Disaat aku merasakan pijitan bapak, tiba-tiba kurasakan resluiting celana pendekku di belakang diturunkan oleh bapak. Aku ingin berontak dan membalikkan badan, tetapi ditolak oleh bapak dengan mengatakan bahwa bagian bawahpun harus dipijat, akhirnya aku mengalah walau disertai rasa malu saat bapak melihat pantatku.

Jujur, yang ada di dalam benakku tidak ada prasangka lain selain aku dipijit bapak. Setelah agak lama, bapak menyudahi pijitannya dan aku diberi lagi obat demam yang segera kuminum, bapak kemudian meninggalkan kamarku. Sebelum tidur kuputuskan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Seperti yang telah aku ceritakan di atas, bahwa celana dalamku basah, dan ternyata bukan pipis. Aku raba dan rasakan ternyata berlendir dan agak lengket, aku tidak tahu hubungan basah ini dengan pijatan bapak tadi. Aku tak mampu berpikir jauh, setelah dari kamar mandi, kuputuskan untuk tidur di kamar.

Sore hari gerimis turun, ketika aku tidur, siang tadi ibu majikan dan anaknya pergi kerumah famili serta menginap di sana karena ada hajatan, sementara bapak tinggal di rumah sebab besok Minggu ada acara di komplek. Setelah sesiang tadi aku tidur, kurasakan tubuhku agak mendingan, mungkin karena pengaruh obat turun demam yang aku minum tadi, sehingga aku berani untuk mandi walau dengan air hangat. Selesai mandi terdengar suara bapak dari ruang TV memanggil namaku, aku bergegas kesana.

Bapak menanyakan keadaanku yang kujawab sudah baikan. kemudian bapak menyuruhku membuatkan teh hangat untuknya. Teh kubuat dan kuhidangkan di meja depan bapak, kemudian bapak menyuruhku duduk di bawah depan tempat duduk bapak, kuturuti perintahnya. Ternyata bapak sedang menikmati TV, kemudian bapak memegang pundaku serta memijit perlahan-lahan dan bertanya apakah pijitannya enak, kujawab enak sekali sembari tersenyum, sembari tetap memijat pundakku kami berdua membisu sambil menonton TV.

Lama-kelamaan perasaan aneh itu menjalar lagi, aku merasakan sesuatu yang lain, yang ku tak paham perasaan apa ini, kurasakan sekujur bulu tubuhku mermang. Tiba-tiba kurasakan hembusan nafas di samping leherku, aku melirik, ternyata wajah bapak telah sampai di leherku, aku merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar kesemua tubuhku, aku tidak berontak, aku takut, tetapi getaran-getaran aneh itu kurasakan begitu nikmat hingga tanpa kusadari kumirngkan kepalaku seakan memberi keleluasaan bapak untuk mencumbunya.

Tak terasa aku memejamkan mata dan menikmati setiap usapan bibir serta lidah bapak di leherku. Getaran itu kini menjalar dari leher terus turun ke bawah, yang kurasakan tubuhku melayang, tidak mempunyai beban, terasa ringan sekali seolah terbang. Otakku seakan buntu, tidak dapat berpikir jernih, yang kutahu aku mengikuti saja karena pengalaman ini belum pernah aku rasakan seumur hidup, antara takut dan nikmat. Tangan bapak masih memijat pundakku sementara dia masih mencumbui leherku, tak lama kemudian kurasakan tangan itu meraih kancing baju depanku dan membukanya satu persatu dari atas ke bawah.

Setelah semua kancing bajuku terlepas, kembali tangan bapak memijat bahuku, semua itu aku rasakan dengan melayang-layang, perlahan tapi pasti kedua tangan bapak menyentuh ke dua payudaraku, aku kaget. Kedua tanganku lalu memegang tangan bapak, bapak membisikkan supaya aku menikmati saja pijitannya, tanganku akhirnya terlepas dari tangan bapak. Lagi-lagi kurasakan sesuatu getaran aneh, hanya getaran ini lebih dahsyat dari yang pertama, payu daraku diremas tepatnya daripada dipijit, walau masih memakai bh.

Kemudian tangan bapak kembali kepundakku, ternyata diturunkannya tali bhku, perlahan-lahan diturunkan sebatas lengan, sementara ciuman bapak masih di leher, kadang leher kiri, kadang leher kanan. Aku melayang hebat, dimana kedua tangan bapak meraih payudaraku dari bagian atas turun ke bawah, sesampai di putingku remasan berubah menjadi pilinan dengan jari, aku sempat membuka mata, tetapi hanya sesaat, getaran aneh berubah menjadi sengatan. Sengatan kenikmatan yang baru ini kualami, dipilin-pilinnya kedua putingku, tak sadar ku keluarkan desahan pelan.

Secara tidak kusengaja, tangan kiriku meraba celana dalamku sendiri, kurasakan gatal disekitar kemaluaku, ternyata kemaluanku basah, aku tersentak dan memberontak. Bapak kaget, kemudian menanyakan ada apa, aku tertunduk malu. Setelah didesak aku menjawab malu, kalau aku ngompol. Bapak tersenyum dan berkata bahwa itu bukan ompol, lalu bapak berdiri dan membimbingku duduk di sofa.

Bapak menanyakan padaku, yang kujawab bahwa ini pengalamanku yang pertama, kemudian bapak mengatakan ingin memberi pengalaman selanjutnya dengan catatan supaya aku tidak menceritakan pengalaman ini pada siapa saja. Aku hanya mengangguk dan menunduk, tak berani kutatap mata bapak karena malu. Di luar hari sudah berganti malam, gerimis pun berubah menjadi hujan, tetapi aneh, hawa di ruang TV berubah menjadi hangat, apakah ini hanya perasaanku saja?

Sementara aku duduk di sofa, bapak malah jongkok dihadapanku. Aku rikuh dan menundukkan kepalaku. Tiba-tiba bapak maju menuju payu daraku dan menciuminya, seperti bayi menetek ibunya. Aku berkata malu, tetapi di jawab bapak untuk menikmati saja. Sengatan itu kembali menyerangku ketika ciuman bapak berubah menjadi jilatan dan kuluman di putingku, aku kembali terpejam dan mengerang, tak kusadari tanganku berada di kepala bapak, mengelus dan sedikit menjambak rambut bapak. Aku tidak kuat menyangga tubuhku, perlahan dan pasti tubuhku terjatuh di sofa, bapak membetulkan posisiku sehingga tiduran disofa. Kemudian jilatan bapak berlanjut diperutku, sementara tangan kiri bapak di payudaraku, tangan kanan meraba dari betis naik ke paha serta menyingkap rok yang kukenakan.

Aku sudah kehilangan akal sehat, hanya bisa diam dan menikmati setiap jilatan dan elusan bapak. Aku terkejut pada saat jilatan bapak sampai ke celana dalamku, aku mengatakan bahwa itu kotor dan pesing, tetapi dengan sabarnya bapak menenangkanku untuk tetap saja menikmatinya. Aku hanya terdiam dan pasrah, di antara takut dan malu serta rasa nikmat yang tak kuduga sebelumnya. Perlahan bapak membuka rok serta mencopot celana dalamku dan menciumi rambut kemaluanku, Takut bercampur geli berkecamuk di dalam dadaku, kurapatkan kedua pahaku menahan geli, tetapi keanehan terjadi lagi, lama kelamaan tanpa kusadari kedua pahaku membuka dan semakin lebar.

Posisi ini memudahkan bapak untuk mencumbu lebih dalam. Tiba pada bagian tengah atas kemaluanku, kurasakan ujung lidah bapak menyengat yang lebih dahsyat lagi, tanpa kusadari kunaikkan pantatku ke atas ke bawah, aku meracau tidak karuan, sukar kulukiskan dengan kata-kata perasaan ini. Kurasakan dunia gelap dan berputar, sayup-sayup kudengar suara kecipakan di sekitar selangkanganku, hingga ada suatu desakan dari dalam kemaluanku, desakan itu tak dapat kutahan, sesuatu yang akan meledak keluar, seperti bila ingin pipis, tetapi ini lebih dari itu. Tanganku tak dapat kukendalikan, kujambak rambut bapak sambil menekan kepalanya pada kemaluanku. Aku melonjak, mengjan. menahan, meracau, tiba-tiba sesuatu itu keluar dari dalam kemaluanku, kemaluanku basah… bahkan banjir… kurasakan aku ngompol…

Setelah itu tubuhku lemas, keringat membanjiri tubuhku, tulang-tulangku terasa lepas dari tempatnya… perasaan apa ini? antara nikmat… kebelet pipis… dan lemas… Kulihat bapak tersenyum dan mengelus rambutku, bapak menanyakan apa yang aku rasakan. Kubalas dengan tatapan yang bertanya-tanya, tetapi aku tidak dapat berkata-kata, diantara nafasku yang masih memburu, aku hanya tersenyum dan memandangnya sayu.

Bapak berlutut di sampingku, melepas sarungnya, meraih tanganku dan membimbingnya untuk memegang tengah celana dalamnya, kuturuti, kuraba dari luar celana dalam bapak, ini pun pengalaman pertamaku memegang kemaluan laki-laki. Kurasakan sesuatu menonjol keras ke atas di tengahnya, bapak menikmati elusanku dan kuliirik mata bapak setengah terpejam.

Tak lama, dia menurunkan celana dalamnya, sesaat kuterpekik melihat benda yang baru kali ini kulihat. Bapak mengajariku untuk mengurut benda itu dari atas ke bawah, aku geli memegang benda itu, empuk tapi keras… keras tapi lentur… Bapak membangkitkanku dari rebahan, kemudian menyuruhku untuk menjilat benda itu, karena tadi bapak sudah menjiltati kemaluanku, apa salahnya kalo sekarang aku menjilati kemaluannya, pikirku.

Pertama memang kujilati benda itu, lama-kelamaan kumasukkan benda itu ke dalam mulutku, aku ingat masa kecilku ketika menjilati es krim. Benda itu berdenyut-denyut di dalam rongga mulutku, aku merasa aneh tetapi senang, seperti anak keci mendapat makanan kesukaannya. Tiba-tiba bapak mengerang sambil menarik kepalaku, benda itu berkeduk hebat, aku heran ada apa ini, tetapi benda itu tak dapat kulepaskan, karena kepalaku ditahan tangan bapak, kemudian kurasakan suatu cairan terasa di mulutku yang akhirnya daripada tersedak, cairan itu kutelan habis, terasa amis… gurih… sedikit asin. Kulihat bapak mendengus, seperti habis lari jauh, nafasnya tersengal-sengal. Dia tersenyum dan memelukku, aku merasa damai dalam pelukannya.

Bapak mengajakku ke kamar mandi, sebelum kami masuk, bapak melucuti sisa pakaianku dan juga pakaiannya. Aku merasa heran, aku menurut tanpa ada perlawanan, mungkin karena nikmat yang baru saja pertama kali aku dapat. Di dalam kamar mandi, bapak memandikanku, bapak mengagumi bulu-bulu yang tumbuh di ketiak dan selangkanganku dan berpesan agar aku tetap memelihara dan melarang memotongnya.

Pada saat bapak menyabuniku, getaran-getaran aneh menyerangku lagi. Geli bercampur nikmat menyelimuti seluruh tubuhku, sehingga tak terasa aku mulai mendesis lagi, bapak bilang bila aku tidak tahan keluarkan saja erangan itu, tapi aku malu.

Setelah aku selesai disabuni, bapak menyuruhku menyabuninya, dengan rasa takut-takut kusabuni punggung sampai kakinya, pada giliran tubuh bagian depan, kulihat kemaluan bapak yang tadinya lemas tampak kokoh berdiri. Bapak mengatakan enak disabuni olehku, dia meraih wajahku dan mencium mulutku, aku merasakan getaran semakin hebat ketika lidah bapak bermain di dalam rongga mulutku, aku hanya terdiam dan menikmati permainan lidah bapak, perlahan kuimbangi permainan lidah bapak dengan lidahku sendiri, kami saling berpagutan.

Bapak membimbing tanganku untuk menyentuh kemaluannya yang masih terbalut sabun, aku merasakan licin serta mengocoknya. Payudaraku pun menyentuh dada bapak yang licin oleh sabun, terasa mengeras di kedua putingku, kami berpelukan… berciuman dan saling bergesekan… aktivitas ini menimbulkan gelinjang kenikmatan yang tiada tara bagiku. Setelah tubuh kami berdua tersiram air dan bersih dari sabun, bapak menyuruhku untuk menghadap wastafel setengah menunduk sembari kakiku direnggangkannya, bapak jongkok membelakangiku dan mulai menjilati pantatku, aku menengok ke belakang dan bapak hanya tersenyum.

Pada saat lidah bapak menyentuh dan mempermainkan duburku, aku tersentak dan sedikit mengangkat kakiku, kurasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan, aku mendesis, kemaluanku basah dan lengket, sehingga tangan kiriku tak sadar meraba daging bulat kecil yang mengeras di tengah kemaluanku sembari mengosok-gosok dan menekannya, secara naluri bagian itu yang kurasakan dapat memberi kenikmatan yang tiada terkira.

Tak lama berselang aku berasa ingin pipis lagi. Tangan kananku mencengkeram erat bibir wastafel, mengerang hebat, tangan kiriku kutekan kuat pada benjolan kenikmatanku, aku meladak lagi, nafasku memburu tidak karuan, sesaat aku merasa lemas dan seakan hilang pijakan tempatku berdiri. Bapak menangkapku kemudian membopongku menuju kamarku.

Direbahkannya diriku di tempat tidur, bapak duduk di tepi tempat tidurku sembari mengelus rambutku, tersenyum dan mengecup keningku, hatiku tentram, nafasku mulai teratur kembali. Setelah semuanya kembali normal bapak merebahkan dirinya di sisiku, tanpa bicara, bapak meraba payudaraku, serta menjilatinya. Getaran-getaran itu datang kembali menyerangku, aku menggelinjang serta mengeluarkan suara-suara desisan, kuremas kepala bapak sembaru kutekan ke arah dalam payudaraku.

Bapak naik ke atas tubuhku, menyodorkan kemaluannya untuk kujilat lagi, kuraih dan kukulum kemaluan bapak seperti layaknya menjilati es krim, bapak memaju-mundurkan pantatnya sehingga kemaluan bapak keluar masuk dalam mulutku. Aku menikmati keluar masuknya kemaluan bapak di dalam mulutku. setelah beberapa saat, bapak melepaskan kemaluannya dari mulutku. Bapak menggeser tubuhnya, kedua pahaku di kesampingkannya, perlahan-lahan kemaluan bapak didekatkan pada kemaluanku sambil berkata bila terasa sakit aku harus bilang.

Pertama menyentuh kulit luar kemaluanku, aku agak tersentak kaget, mulailah rasa sakit itu timbul setelah kemaluan bapak mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginaku. Aku menjerit kesakitan yang kemudian diikuti dengan dicabutnya kemaluan bapak, bapak mencium bibirku sembari membisikkan kata supaya aku menahan rasa sakit tersebut sembari mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Kemudian bapak mulai menusuk lagi, walau kemaluanku sudah basah total. tapi rasa sakit itu tak terkira, aku tak sanggup mengaduh karena mulutku tersumbat mulut bapak.

Tak terasa air mataku meleleh menahan sakit yang tak terkira, kedua tanganku mencengkeram erat pinggang bapak, Akhirnya kemaluan bapak menembus lubangku… diusapnya air mataku, kemaluan bapak masih tetap tertancap dalam lubangku. Bapak berhenti menggoyang, setelah dilihatnya aku agak tenang, mulailah bapak memaju-mundur kemaluannya lagi secara perlahan, aku sempat heran, rasa sakit itu berangsur hilang digantikan dengan nikmat.

Aku merasa kemaluanku berkedut-kedut dengan sesuatu benda asing di dalamnya, sementara itu air lendirku juga sudah membasahi liang kemaluanku, sehingga rasa sakit itu hilang tergantikan oleh kenikmatan yang sukar dikatakan. Tidak begitu lama kemudian aku merasa ingin pipis kembali, aku peluk bapak, aku naikkan pantatku seolah ingin menelan semua kemaluan bapak. Aku kejang, aku melenguh panjang, aku menggigit pundak bapak, sesuatu yang nikmat aku rasakan lagi, dunia berputar-putar, semua terlihat berputar, sungguh kejadian ini nikmat sekali.

Aku terhempas lemas setelah aku mengalami apa yang baru aku alami, rasa sakit sudah hilang. Bapak menghentikan aktifitas seakan memberi kesempatan diriku untuk menikmati puncak kenikmatan yang baru saja kualami. Setelah beberapa saat, dengan kemaluan yang masih mengacung ke atas, bapak mencabut kemaluannya dan menyerahkannya kedalam mulutku lagi, aku kulum kemaluan bapak, tak lama kemudian bapak melenguh… dan cairan itu kembali mendera mulutku, karena pengalaman tadi, semua cairan itu aku telan tanpa tersisa sedikitpun.

Bapak merebahkan tubuhya disampingku, dan mengucapkan terima kasih, dia mengatakan bahwa perawanku telah hilang. Aku tercenung kulihat ke bawah, sprei tempat tidurku ternoda merah darah perawanku, tetapi aku tidak menyesal, karena hilang oleh orang yang aku kagumi sekaligus aku sayangi, Aku tidur di dalam pelukan bapak, kami kelelahan setelah mengarungi perjalanan puncak kenikmatan bersama, dalam tidurku, aku tersenyum bahagia, kulirik bapak, dia terpejam sembari tersenyum juga.

Seperti kebiasaanku sehari-hari dalam rumah tangga majikanku ini, aku bangun pada pukul 5, kulihat bapak masih tertidur lelap, kami masih dalam keadaan bugil, karena semalam tidak sempat berpakaian karena kelelahan. Aku turun dari tempat tidur, selangkanganku masih berasa perih seakan benda tumpul panjang itu masih mengganjal di dalam lubangku.

Dengan agak tertatih aku menuju kamar mandi, kubersihkan seluruh tubuhku beserta lendir-lendir yang mengering bercampur bercak darah di sekitar kemaluan dan bulu-buluku, sembari mandi aku bersiul gembira. Kuraba lubang kemaluanku, masih terasa sisa-sisa keperihan di dalamnya, aku mengerti sekarang, dimana perbedaan antara air seni dengan lendir hormon yang keluar dari kemaluanku bila dirangsang, Aku tersenyum geli memikirkan kebodohanku selama ini.

Selesai mandi, aku membereskan rumah seperti kewajibanku sehari-hari, setelah itu aku buatkan segelas kopi panas dan kubawa ke kamarku, dimana bapak masih terlelap di sana. Perlahan kuletakkan kopi di atas meja, aku melangkah ke arah tempat tidur, kuperhatikan wajah bapak yang tertidur. Betapa tenang, betapa damai, betapa gantengnya, perlahan kuusap pipi bapak serta kubelai rambutnya, dengan sedikit takut… kucium sudut bibir bapak.

Pandanganku menyapu dada bapak, kemudian turun ke salangkangannya yang tertutup selimut, kulirik benda asing yang semalam telah memaksa masuk ke dalam lobangku. Aku tersentak kaget, walau tertutup selimut kulihat jelas benda itu tegak berdiri mengeras, ku usap perlahan sembari tertawa geli dalam hati. Perlahan kusingkap selimut itu, sekarang terpampang jelas benda itu dimana pantulan cahaya lampu menerpa ujung kepala kemaluan bapak yang seperti helm itu.

Kudekatkan wajahku ke benda itu agar terlihat lebih jelas lagi, perlahan kugenggam, kukocok, kujilati dan kumasukkan ke dalam mulutku. Bapak bergerak perlahan, aku terkejut dan berhenti mengulumnya, tetapi bapak melihat padaku dan menyuruh untuk meneruskan aktivitasku, kembali kuulangi kuluman kemaluan bapak sembari tersenyum, dielusnya rambutku sembari kudengar erangan bapak.

Bapak bergeser sedikit, tangannya meraih pantatku serta menyingkapkan dasterku ke atas, perlahan diusapnya belahan dalam pantatku, dengan tangan kanan kuraih tangan bapak di selangkanganku, ternyata kemaluanku sudah basah kembali. Aku pun kembali terangsang dengan usapan tangan bapak di kemaluanku, sedikit kugoyang pantatku kekiri dan kekanan tanpa melepaskan kulumanku pada kemaluan bapak.

Beberapa saat kemudian, bapak meminta untuk menghentikan aktifitasku, bapak bangkit dari tempat tidur, dan menyuruhku untuk menunggi di tepi tempat tidur. Dari arah belakang, perlahan bapak memasukkan kemaluannya ke dalam lubangku, aku heran, gaya apa lagi yang bapak berikan untukku, kuraih bantal untuk mengganjal kepalaku, sementara dari belakang, bapak memaju-mundurkan pantatnya.

Sensasi baru kurasakan, dengan posisi yang belakangan kuketahui bernama doogy style itu, seakan dapat kuatur jepitanku pada kemaluan bapak. Aku merasa ingin pipis lagi, kugigit bantal sembari mengerang dahsyat, otot-ototku kakiku mengejang sampai ke arah pantat, sedikit kujinjitkan kakiku, kucoba bertahan semampuku, kujambak speri di sampingku.

Aku tak tahan lagi, dengan kedutan-kedutan hebat, jebolah pertahananku, aku teriak dan mendesis kugigit bantal sekeras-kerasnya, pantatku berkedut-kedut ke atas bawah, aku lemas, aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur sembari nafasku haru memburu. Kulihat bapak tersenyum ke arahku, kemaluannya semakin berkilat akibat lendirku tertimpa cahaya dari luar kamar.

Kuraih kemaluan bapak, kukocok-kocok sembari aku mengatur nafasku, tangan bapak merengkuh rambutku, diusap-usapnya kepalaku, diciumnya keningku. Setelah nafasku teratur, kuraih kemaluan bapak dan kukulum lagi, tidak berapa lama, bapak mengejang dan mengeluarkan cairan dari kemaluan bapak yang kutelan habis tanpa bersisa.

Bapak kemudian pergi mandi, sementara aku kembali kekesibukanku hari ini yaitu memasak. Pukul delapan pagi, kulihat bapak selesai mandi dan bersiap untuk menghadiri acara komplek. Setelah berpamitan padaku, aku meneruskan memasak, hari ini kubuatkan masakan spesial untuk bapak, semua bahan telah tersedia di dalam kulkas yang kubeli hari Jumat kemarin di pasar.

Pukul 12 siang, bapak kembali dari acara di komplek, aku sedang menonton acara TV setelah selesai masak, kemudian bapak menyuruh membuatkan es teh manis untuknya, aku bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan bapak. Di saat aku sibuk mengaduk gula, tiba-tiba dari arah belakang bapak memelukku, aku tersentak karena melihat bapak tidak mengenakan pakaian selembar pun.

Tanpa bicara, dicumbuinya diriku dari belakang, aku menggelinjang kegelian, diusapnya leherku dengan lidah bapak sampai ke telingaku dan digigit-gigitnya daun kupingku. Aku tersentak kegelian, tanganku menyenggol teh yang sedang kubuat, gelas jatuh dan air di dalamnya tumpah membasahi dasterku. Tanpa memeperhatikan peristiwa itu, bapak melahap mulutku dengan ciuman-ciuman ganasnya, aku terpengarah tidak siap, sedikit kehabisan nafas melayani ciuman bapak.

Dengan tidak melepas ciumannya, tangan bapak mencopot dasterku, kemudian dengan terburu-buru, dilepasnya beha dan celana dalamku, aku hanya pasrah menghadapi kelakuan bapak. Sedikit membopong, didudukannya aku di atas meja makan, kemudian bapak melebarkan selangkanganku serta menjilati kemaluanku. Dengan berpegang pada tepi meja, aku menggelinjang keenakan, kurasakan sapuan-sapuan lidah bapak dikemaluanku sebagai sensasi yang tiada duanya.

Mungkin karena sebentar lagi aku merasa akan datang bulan, sehingga nafsu yang ada dalam diriku sedang dalam puncak-puncaknya. Aku pipis lagi, kujambak rambut bapak dengan tidak sungkan lagi, kutekan kepala bapak ke dalam kemaluanku, kurasakan lidah bapak menembus di dalam lobangku, aku menjerit tertahan, meledaklah kenikmatanku, bapak menyedot habis semua lendir nikmatku sampai tuntas serta menjilati rambut lebatku.

Dengan menahan posisiku, bapak berdiri dan memasukkan kemaluannya ke dalam lobangku, perlahan tapi pasti kemaluan bapak masuk. Aku membisikkan sesuatu ke bapak, aku mengatakan bila ingin merasakan semprotan cairan bapak di dalam rongga kemaluanku, bapak menanyakan apakah aku subur atau tidak, aku jawab bila dalam dua atau tiga hari ke depan akan datang bulan. Setelah bapak mendengar pengakuanku, dia tersenyum dan semakin bersemangat untuk menusukan kemaluannya di lobangku.

Ternyata bapak lama juga mengalami puncak, kebalikannya dalam diriku, aku merasakan suatu kedutan nikmat lagi dan berasa ingin pipis kembali. Aku peluk bapak, kucium bibirnya, sementara kedua kakiku menjepit pinggang bapak. Dengan berpangku pada tepi meja makan, bapak bertambah kencang volume memaju – mundurkan kemaluannya di dalam lobangku. Aku terpekik, aku menjerit, aku mendekap erat-erat tubuh bapak, kurasakan ledakan kembali menyerang dalam lubang kenikmatanku.

Sementara bapak kulihat semakin cepat dan berkata bila kita berdua akan mencapai puncak secara bersama-sama. Tapi aku sudah tidak tahan lagi, aku mengerang… mengejang… kugigit bibir bapak, ternyata demikian pula dengan bapak. Kami berdua mencapai puncak tinggi bersamaan, kurasakan cairan hangat bapak dan cairanku menyatu di dalam lubang kemaluanku. Aku berkedut, bapak berkedut, kami semakin erat berpelukan, peluh membanjiri seluruh tubuh, jepitan kakiku di pinggang bapak, diimbangi pelukan tangan bapak di tubuhku, kami berdua sesak, kami berdua klimaks, kami berdua memejamkan mata sesaat tidak peduli dengan sekitar.

Sampai pada suatu ketika, ibu mengunjungi orang tuanya di lain propinsi, ibu berangkat dengan anaknya menggunakan kereta Api sementara bapak tidak ikut karena tidak dapat cuti. Ibu pergi sekitar lima hari.

Pagi hari sesuai dengan tugasku sehari-hari, aku mengepel ruangan, sengaja kulepas bh dan celana dalamku, aku hanya mengenakan daster saja tanpa dalaman. Kulihat kamar majikanku masih tertutup pintunya, kuketuk pintu dengan maksud ingin mengepel kamar majikanku, kemudian bapak membukakan pintu, aku masuk dan langsung mengepel, sementara bapak masuk kekamar mandi yang terletak juga di lama kamar majikanku.

Sengaja agak berlama-lama mengepel dengan maksud memancing reaksi bapak, kutarik dasterku lebih agak ke atas, sehingga kedua pahaku terlihat jelas. Pancinganku mengena, bapak keluar dari dalam kamar mandi dan mengomentariku bahwa pahaku tampak putih mulus, kubalikkan badan sengaja menghadap ke arah bapak, dengan posisiku mengepel akan terlihat jelas kedua payudaraku yang tak tertutup beha.

Bapak tersenyum menghampiriku dan berkata bila aku sengaja memancing dirinya, kubalas senyuman bapak dengan berkata memang aku sengaja, karena aku ingin disetubuhi bapak lagi. Kulihat bapak menurunkan sarungnya, yang ternyata juga tidak mengenakan celana dalam, terlihat kemaluan bapak sudah berdiri tegang.

Setelah pamit untuk mencuci tanganku, kuhampiri bapak, aku elus kemaluan itu, bapak duduk ditepi tempat tidur, sementara aku jongok di antara kedua paha bapak, perlahan tapi pasti, kemaluan bapak aku cium dan kumasukkan kedalam mulutku. Terdengar desisan bapak, sementara tangan kiriku menyentuh kemaluanku, ternyata sudah basah, terus kuelus perlahan kemaluanku.

Bapak merengkuh bahuku, menarik supaya aku berdiri, dan memposisikan aku jongkok di atas kemaluan bapak. Dengan perlahan kuturunkan pantatku dan dibantu dengan tangan bapak untuk mengarahkan kemaluannya menuju lobang kemaluanku, pertama agak susah untuk masukkan kemaluan bapak, kucoba memasukkannya sedikit demi sedikit. Setelah posisi dan kedalaman kemaluan bapak sudah pas, mulailah kuturun-naikan pantatku, tangan bapak tidak tinggal diam, diarihnya dasterku untuk dilepas, kemudian diremas-remaslah kedua payudaraku.

Lama-kelamaan aku merasakan sengatan yang luar biasa, kupercepat goyanganku, kugesek-gesek kemaluanku, dan tak lama kemudian aku tak sanggup lagi menahan kebelet pipisku, kupeluk bapak dengan posisi masih tertancap kemaluan bapak, jebolah pertahananku, aku kebanjiran lagi. Kami bertukar posisi, aku sekarang di bawah, ditepi ranjang, sedang bapak berdiri di sisi ranjang,

Sebelum bapak memasukkan kemaluannya dia bertanya kapan aku mens, kujawab kira-kira lima hari lagi aku mens. Setelah tahu jawabanku, bapak segera mengangkat kedua kakiku dan perlahan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku, digoyangkannya pantat bapak maju-mundur, sensasi kemasukan kemaluan bapak di dalam kemaluanku terulang lagi, aku merasa terangsang lagi, kubantu dengan menggoyangkan pantatku.

Aku klimaks lagi, tetapi bapak mengajak untuk bersama-sama karena beliau juga sudah hampir. setelah beberapa saat kutahan, akhirnya jebol lagi pertahananku, kulihat hampir bersamaan pertahanan bapak juga jebol, akhirnya kami dapat mencapai klimaks secara bersamaan. Lama posisi kemaluan bapak tertancap dalam kemaluanku, akupun tidak dapat berbuat apa-apa karena nikmat, setelah beberapa saat kami terdiam, baru dicabutlah kemaluan bapak.

Kami berdua mandi bersama layaknya suami istri, aku bilang kepada bapak bila aku sayang kepadanya, dijawab dengan senyuman bapak. Setiap hari semenjak kepergian ibu, kami selalu memadu kasih, tetapi jelas setelah bapak kembali dari kantor. Kadang di kamarku, di kamar bapak, di dapur, di ruang belakang, bahkan pernah di garasi dan di dalam mobil. Hatiku senang, tentram, hingga ibu pulang dari luar kota.

Hingga suatu malam aku tidak dapat tidur, udara sangat panas sehingga membuatku kegerahan, kucopot beha dan celana dalamku, hingga hanya memakai daster saja, kondisi seperti ini membuat aku menjadi terangsang. Kugosok-gosok kemaluanku dan kuraba-raba payudaraku sambil membayangkan kejadian-kejadian yang kulalui bersama majikan laki-lakiku.

Tiba-tiba aku mendengar suara desahan dari kamar tidur majikanku, aku keluar dan jongkok di bawah jendela mendengarkan desahan-desahan nikmat kedua majikanku, letak kamar majikanku tidak jauh dar kamarku, hanya dibatasi oleh gudang. Aku terdiam mendengarkan kegiatan di dalam kamar majikanku, kutaksir posisi ibu di atas tubuh bapak. Suara-suara itu membuat tegang seluruh tubuhku, kuraba selangkanganku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku meremas payudaraku.

Aku terhanyut, mataku terpejam membayangkan kenikmatan itu, tanpa terasa gosokan tangan kanan di kemaluanku semakin cepat, dan jari tengahku sudah masuk kedalam kehangatan kemaluanku, terasa melayang diriku. Tak lama datanglah klimaks, posisiku sudah selonjor kenikmatan, sementara suara-suara di dalam kamar juga tambah seru, tak lama kudengar bapak dan ibu telah mencapai klimaks, kemudian hening.

Aku terhuyung kembali ke kamarku dan berbaring di tempat tidurku, nafasku masih tersenggal, sisa-sisa kenikmatan masih terasa, aku melap kemaluanku dengan celana dalamku. Setelah nafasku teratur, kurasakan hatiku sakit, cemburukah aku. dadaku bergejolak, seakan tidak rela bila kedua majikanku bersetubuh.

Perasaan ini tidak boleh jawab hati kecilku, tetapi perasaanku tidak dapat dibohongi, aku telah jatuh cinta kepada bapak majikanku. Pikiranku bergejolak, antara logika dengan perasaan, yang aku rasa tidak akan mencapai titik temu, bagaimanakah ini?

Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pekerjaanku, semula ibu menahan dengan menjanjikan gajiku dinaikkan, tetapi aku menolak, kukatakan bahwa aku akan mencari pengalaman di tempat lain. Malamnya bapak mengintrogasiku, menanyakan kenapa aku pindah dari keluarga itu. Aku bilang bila aku mulai menyukai dan mencintai bapak serta tidak rela bila bapak berdua sama ibu, bapak sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, kemudian ia mencium pipiku lama sekali, tak terasa menetes air mataku.

Besoknya aku pergi dari rumah itu, bapak memberiku uang tujuh kali gajiku, untuk modal katanya yang pasti tanpa sepengetahuan ibu. Sebetulnya berat hatiku meninggalkan keluarga ini, tetapi hati kecilku memberontak, terhadap orang yang aku sayangi. Keputusanku sudah bulat, mungkin nanti suatu saat aku mendapatkan jodoh yang juga menyayangiku seperti bapak.


Awal Kisah tak Berujung

Pagi itu aku terbangun kesiangan, setelah semalaman berkutat di depan RedHat Enterprise Linux 5 yang harus segera online untuk menghandle seluruh office network di tempatku bekerja. Bergegas tanpa membuang waktu, kuhabiskan 5 menit di kamar mandi hanya dengan bilas-bilas dan gosok gigi ala kadarnya. Handphone-ku sudah menunjukkan waktu 8.30. Damn, jam 9.30 aku harus memberikan training pada para pengungsi mengenai kegunaan internet bagi komunikasi jarak jauh dan pengembangan bisnis. Padahal, waktu minimail yang harus kutempuh dari rumah sampai ke kantor adalah 1 jam bila kondisi jalan normal (tidak terlalu macet), dan 1 sampai 2 jam apabila macet parah. Dan benar apa yang kutakutkan, motorku memasuki gerbang kantor jam 9.15, dan aku lihat para peserta training sudah memenuhi ruangan pelatihan. Untunglah co-trainer-ku memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengeksplorasi internet, sebelum aku memberikan materi.

Aku segera menyalakan komputer di ruanganku, dan bergegas mengambil buku materi yang akan menjadi “senjata”ku hari ini. Setelah menikmati seteguk kopi yang telah tersedia di mejaku, aku segera berjalan menuju ruang pelatihan. But, wait! Who is that? Apakah mataku tidak salah melihat pagi ini? Duduk di depan ruang pelatihan, sambil membaca copy buku materi pelatihanku, Pipiet. Apa yang dia lakukan disini? Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku membuka suara dan menyapa dia yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku di hadapannya. “Pipiet ya..?”, tanyaku spontan. “Eh… Yohan. Sudah ku duga ini pasti kamu.”, katanya sambil menunjuk buku materi pelatihan karanganku itu. “Bahasanya kamu banget, sampai hafal. Ngapain kamu disini?” tanyanya sambil menjabat tanganku. Aku cuma melotot sambil mengucap, “Aku disini ya kerja donk. Masa belanja. Kamu nich ada-ada aja.”, timpalku. “Lah kamu sendiri disini ngapain? Mau ikut trainingku?” tanyaku menyelidik. “Ngga. Aku khan sekarang kerja sebagai pendamping para pengungsi ini”. “Yaudah, kamu jangan pulang dulu ya nanti. Aku ngajar dulu.” kataku sambil bersiap-siap beranjak ke dalam ruang pelatihan.

— A LITTLE BIT FLASHBACK —

Pipiet adalah mantan pacarku, atau lebih tepatnya mantan TTM-ku. Dia tidak pernah secara resmi menjadi pacarku, karena saat kami menjalin hubungan, selalu ada orang lain yang sedang resmi menjadi pacarku. Dua kali kami putus sambung di masa kuliah, tapi itu tidak membuat hubungan kami tak bisa menjadi sepasang kekasih. Satu-satu-nya hal yang menjadi penghalangku untuk menikahinya dulu adalah perbedaan agama kita yang tidak bisa ditembus dengan cara apapun.

Kami memang sepasang kekasih, yang tidak pernah mengumumkan hubungan kami secara resmi. Hanya rekan-rekan kami yang terdekat saja yang tahu bagaimana hubungan kami sebenarnya. Pipiet adalah orang pertama yang mengajariku “french kiss”. Dia adalah seniorku sebenarnya, senior setahun diatasku. Dia jugalah yang menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru, ketika aku baru memasuki masa pekuliahan. Ketertarikanku sudah timbul sejak minggu pertama masa orientasi mahasiswa baru, ketika aku terpilih untuk menjadi pimpinan regu. Saat itu, dia berperan sebagai “senior yang baik” diantara senior-senior yang “kejam” pada saat itu.

Hubungan kami menjadi lebih erat, ketika aku bergabung dengan kegiatan kemahasiswaan yang sama dengannya. Ketika kelompok kami akan mengadakan kegiatan, kami ditunjuk sebagai team pencari dana, dimana akhirnya kami sering keluar dan pergi bersama, untuk mencari sponsor tentunya. Hal ini membuat kami semakin akrab, dan walau tidak pernah diresmikan, kami menjadi sepasang kekasih (walau saat itu sebenarnya aku sedang jalan dengan seorang teman satu angkatan).

Suatu hari, ketika Pipiet sedang bertandang kerumahku, membahas tentang beberapa calon sponsor yang akan kami dekati, secara tidak sengaja radio yang sedang aku dengarkan memutar lagu “Semoga” milik Katon Bagaskara. Saat itu, tiba-tiba Pipiet diam, dan termenung beberapa saat. Kemudian, terluncurlah cerita dari mulutnya, bagaimana dia mendambakan seorang pasangan hidup yang mau mengerti dia apa adanya. Spontan, aku termenung, dan terdiam. Hal yang sama aku lontarkan, sebab pada saat itu memang hubunganku dengan pacarku sedang tidak harmonis dan diwarnai keributan. Perbincangan kami rupanya telah membawa kami terhanyut pada emosi diri, dan entah siapa yang memulai, kami telah berciuman. Dasar masih yunior, ciumanku hanya sekedarnya, dan rupanya ini membuat penasaran Pipiet. “Kamu kok ciuman kaya gitu sih… Emang belum pernah ciuman yang hot ya?”, tanyanya. “Belum.”, jawabku polos. “Mau ngga aku ajarin French Kiss?”, tanyanya lagi. “Jelas mau donk.”, jawabku kegirangan. Dan sejak saat itu, setiap kali kami bertemu, french kiss adalah kegiatan rutin yang pasti kami lakukan.

Suatu hari, ketika kami sedang pergi keluar kota untuk menemui seorang calon sponsor, aku meminjam mobil teman, sehingga kami bisa lebih leluasa dalam bepergian. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Pipiet membisikkan sesuatu, “Yo, kamu mau ngga bercinta dengan aku?”. Aku terkejut. Hampir saja aku lupa menginjak rem, karena tiba-tiba mobil di depanku mendadak berhenti. “Apa?”, tanyaku tak percaya dengan apa yang aku dengar. “Kenapa? Kurang jelas ya aku ngomongnya? Atau kamu jadi salting sampai hampir lupa ngerem kaya gitu?”, tanyanya menantang. “Kamu ngga lagi mabok khan, Piet?”, timpal-ku meyakinkan. “Ngga, aku sadar kok. Kamu mau ngga bercinta sama aku?”, ulangnya sekali lagi. Aku tidak menjawab. Ku lihat di depan ada sebuah hotel bintang 2, dan segera kubelokkan mobil yang kukendarai, kuparkir di tempat yang tidak terlalu mencolok. Tanpa bicara, kugandeng Pipiet yang tercengang karena kenekatanku, dan segera ku buka sebuah kamar.

Setelah kami berdua ada di kamar, aku memandangnya tak percaya. “Kamu serius ngajak bercinta?”, tanyaku tak percaya. “Kapan aku pernah ngga serius”, katanya seolah menantang. Aku menatapnya dalam-dalam, dan sejurus kemudian, kami berciuman. Saat itu, tak hanya berciuman yang kami lakukan. Aku membelai rambutnya yang panjang, dan tiba-tiba, Pipiet melepaskan ciumannya, dan berpindah untuk menciumi leherku. Tangannya mulai membelai dadaku, dan mulai menyingkap kemejaku, membelai perutku. Dasar waktu itu aku memang masih yunior, aku hampir tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Menonton film porno memang sudah beberapa kali aku lakukan, tapi aku sadar benar, bahwa apa yang terjadi di film porno tersebut hanyalah berbasis nafsu saja, sementara apa yang terjadi sekarang, berbeda karena perasaan kami yang bermain, bukan hanya nafsu.

Tak tahu siapa yang memulainya, kami telah melepaskan seluruh penutup tubuh kami, dan aku diam tercengang, melihat mulusnya tubuh Pipiet yang selama ini hanya dapat aku bayangkan saja. “Kalau kamu cuma mau ngeliatin aja, mendingan kita pulang dech.”, katanya menggoda. “Sini, pegang dadaku.”, katanya memberikan perintah. Aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, segera mengulurkan kedua tanganku dan mulai memegang payudaranya. Pipiet pun mulai mengelus kejantananku. Kami berciuman lagi, sambil terus meraba. Tanganku mulai turun membelai vaginanya, bulu pubesnya tipis dan jarang. Sangat terawat. Ketika jariku menyentuh klitorisnya, dia menggelinjang dan mendesah. “Um… Ah…”. “Ini saatnya”, pikirku. Aku segera melepaskan ciumanku, dan mulai mengeksplorasi tubuhnya. Ciumanku mendarat di lehernya, dan turun ke payudaranya, sambil tanganku tak lepas membelai vaginanya. Pipiet mendesah, seolah menahan gejolak birahi yang dirasakannya. “Ah…..”. Suara yang semakin membangkitkan gairahku. Aku mulai tidak mencium lagi, tapi mulai mengkombinasikan ciuman dengan jilatan, dan Pipiet semakin dibuat mendesah karenanya. Jilatanku mulai mengeksplorasi kedua payudaranya. Aku mulai liar. Ku jilat, ku kulum, apapun aku lakukan. Setelah puas bermain dengan payudaranya, aku turun dan mulai menjilati perutnya yang datar. Pipiet mulai menggelinjang kegelian. Semakin kebawah, aroma kewanitaanya mulai kuat tercium, dan mulai membuat isi kepalaku menjadi gila. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku turun dan mulai memainkan lidahku pada klitorisnya. Ini membuat Pipiet semakin menggila.

Tiba-tiba, Pipiet mendorongku, menidurkanku dan dia mulai bersimpuh di dekat selangkanganku yang telah berdiri karena menahan nafsu. Dia memegangnya, dan mulai menciumi kepala penisku. Sejurus kemudian ia memasukkan penisku ke mulutnya, mulai mengulumnya hingga separuh penisku amblas nyaris ditelannya. Kali ini aku dibuat semakin gila. Lima menit berlalu, dan akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Kurebahkan tubuh Pipiet, dan kubuka kedua kakinya, hingga vaginanya kini terbuka lebar didepan mataku. Kuposisikan penisku untuk memasuki vaginanya, dan aku mulai menekan kepala penisku ke dalam vaginanya. Tak lama, penisku amblas ditelan vaginanya, dan Pipiet mendesah kencang. “Ah….. Ough…..”. Aku mulai menggoyangkan pantatku maju dan mundur, berlahan. Hal ini membantunya membiasakan vaginanya dengan penisku. Dan ternyata hal ini juga yang membuatnya semakin tidak nyaman. Desahan-desahan mulai keluar dari mulutnya, dan hal ini semakin membuat aku bersemangat memompakan penisku di dalam vaginanya.

Kami hanya mempraktekan satu gaya saat itu, missionary style. Tapi, Pipiet mencapai orgasme-nya dua kali. Saat hampir sampai orgasmenya yang kedua, akupun hampir mencapai ejakulasiku. Dan pada saat Pipiet mencapai orgasmenya, aku juga mendapatkan ejakulasiku. Kami berdua berteriak bersamaan, seolah melepaskan tekanan yang menghimpit kami selama ini. Aku rebah, dan kami terdiam beberapa saat lamanya. Entah apa yang ada di dalam kepala Pipiet saat itu, tetapi aku merasakan sebuah babak baru dalam hubunganku dengan Pipiet, dan pada saat yang bersamaan, aku juga merasakan bahwa kami tidak akan pernah dapat bersama.

— END OF THE FLASHBACK —

Jam 16.30, waktu yang ditunjukkan arlojiku ketika aku mengakhiri sesi pelatihan hari itu. Aku meninggalkan ruangan pelatihan, dan berjalan menuju ruanganku. Ketika aku lihat bahwa Pipiet masih setia menunggu di depan ruangan training. “Piet, punya waktu sebentar ngga. Kita bicara sebentar di ruanganku.” kataku sambil mengajaknya ke ruangan kerjaku. Ketika Pipiet sudah masuk ke ruanganku, pintu segera aku tutup, dan aku segera menciumnya, tepat di bibir, sambil sedikit ku lumat. Pipiet tidak menunjukkan perlawanan ataupun penolakan.

Ketika kusudahi ciuman itu, kupersilahkan Pipiet untuk duduk, dan akupun duduk di belakang mejaku. Kami terdiam beberapa waktu, dan Pipiet memecahkan keheningan itu, “Yo, aku ngga pernah bisa melupakan kamu. Aku tahu kamu sudah berkeluarga, tapi aku masih sayang sama kamu”. “Aku juga Piet”, timpalku. “Yo, aku tahu ini tidak benar. Tapi kalau kamu sedang bosan dengan istrimu, kamu jangan berbuat yang macam-macam sama orang lain ya”. “Kalau kamu lagi ribut sama istrimu, aku bersedia menjadi pelampiasan kamu. Yang penting kamu jangan macam-macam sama orang sembarangan.”, katanya yang membuatku terbelalak kaget.

Dan peristiwa hari inipun, menjadi awal dari sebuah cerita panjang yang tak berujung.


Anak bosku

Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya, baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya sambil belajar.

Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.
“Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud gue..”
“Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?”
“Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?”
Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku.

Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim dan seringkali sensual.
“Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.
“Ehm.. kok mau tau?”, tanyanya lagi.
“Iya”, kataku.
“Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis”, jawabnya sambil tersipu malu.
Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani terus terang begitu.

Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.
“Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang”, katanya sambil matanya menatap nakal.
“Kamu seneng seks?”, tanya saya.
“Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki”, katanya.
“Kenapa begitu?”, tanya saya lagi.
“Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kimpoi. Padahal aku sudah kepengen banget.”
“Kepengen apa?”, tanyanku.
“kimpoi”, katanya sambil tertawa.

Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya mencoba menggodanya, “Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh bra kamu”. Ia tersipu dan menjawab, “Suka enggak?”. Saya tersenyum saja. Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya tersenyum, “Saya suka yang tadi.”

Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.
“Kayaknya cowokku itu selingkuh.”
“Kenapa?”, tanyaku.
“Habis udah hampir sebulan enggak ketemu”, katanya.
“Terus enggak.. itu?”, tanyaku.
“Apa?”
“Itu.. seks”, kataku.
“Yah enggak lah”, katanya.
“Kamu pernah onani enggak?”, tanyaku.
Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.
“Ehm… kamu juga suka onani?”
“Suka”, jawabku.
“Kamu?”, tanyaku.
“Sekali-sekali, kalo lagi horny”, jawabnya jujur namun sedikit malu.

Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.
“Dewi, kamu mau gituan enggak.”
“Kapan?”
“Sekarang.”
Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan just do it nih.

Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.
“Nic, kamu beneran nih”, tanyanya.
“Kamu mau enggak?”
“Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku.”
“Terakhir main kapan?”
“Udah sebulan.”
“Trus enggak horny?”
“Ya onani.. lah”, jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah, mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But… nafsuin sih.

“Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme”
“Belum lama ini.”
“Gimana?”
“Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu.”
“Berapakali seminggu kamu onani?”, tanyaku mendesaknya.
“Udah ah… yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat. Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red).”
“Kamu enggak ngajak Andree.”
“Udah.”
“Dan..?”
“Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali. Biasanya dia enggak pernah nolak.”
Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.

“Nic, enggak kebayang main sama orang lain.”
“Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau enggak.”
“Caranya?”
“Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan bersalah, maka udah jangan bikin lagi”, kataku.
“Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal.”
“Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia kamu aman sama saya”, kataku setengah membujuk.
“Tapi saya enggak pintar lho, mainnya”, katanya. Berarti sudah OK buat ngeseks nih anak.

Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.
“Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?”
“Yah sering, kalo ketemu yang cocok.”
“Ajarin saya yah!”

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, “Shh.. geli Nic.” Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.
“Besar juga…”, katanya. Matanya setengah terpejam. “Ayo, Nic aku horny nih.” Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya, branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, “Ahh.. ahh.. ahh, terus Nic.. aduh geli… ahh.. ah.”

Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, “Uh.. Nic… uh.” Aku sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang rata, dan pusarnya kuciumi. Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting susuku. “Enak.. enak Dewi”. Rangsangannya semakin meningkat.

“Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih”, ia menggelinjang dan membuka rok panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih). Kusentuh perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang kepalanya. Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan memelintir puting susunya.

Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan tersenyum, “Nic.. kamu merangsang saya.”
“Enak..”
“Hmm…”, matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur berdampingan.
“Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak”, ceracaunya.
“Gile, Nic, gue udah kepengin nih.”
“Biar gini aja”, kataku.

Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.
“Uh… uh… Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?”
Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir klimaks dibuatnya.
“Duduk di wajahku!”, kataku.
“Enggak mau ah.”
“Ayo!”

Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya, “Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh”, matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. “Aku.. keluar”, sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

“Aduh… Nic.. enak banget. Lemes deh”, ia terkulai menindihku.
“Enak?”, tanyaku.
“Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi.”

Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu. Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.
“Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.
“Dua, sama kamu.”
“Kalo onani, sejak kapan?”
“Sejak di SMA.”
Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan di liang kenikmatannya.
“Nic, Dewi mau lagi nih.” Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan “Uhh… Nic.. Dewi keluar lagi…” Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.
Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan “Ahhh…” klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat air maniku. Crazy juga nih anak.

Setelah aku berbaring dan berkata, “Dewi, kamu bercinta dengan baik sekali.”
“Kamu juga”, mulutnya tersenyum.
Kemudian ia berkata lagi, “Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah sekarang.”
Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat, “Enak..”
“Nah kalau begitu kamu emang nakal”, kataku menggodanya.
“Ihh… kok gitu..” Aku merangkulnya dan kita tertidur.

Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian. Kemudian kembali ke kantor. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel. Aku sih santai saja, yang penting rahasia kami berdua tetap terjamin.


Mbak Ira, Suster Cantikku

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan asmara, khususnya “bercinta” saya sama sekali belum memiliki pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.

Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala penyakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang
kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke kamarku. “Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali. Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan. “Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar. Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas. “Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah
boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu. “Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi”. Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok”, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis
itu. “Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya”, lanjut Mbak Ira lagi seolah memancing gairahku. “Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusan” jawabku serius, saya tidak mau terlihat “nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.

Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku. “Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak. Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang. Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat. Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan. Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali
melihat kontolku yang ereksi. “Iya Mbak..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan tubuhku. Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata. Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku. “Ahh, geli dan enak banget”, pikirku. “Wah, kok jadi keras ya? he he he”, saya kaget mendengar ucapannya ini. “Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”

Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku. “Ahh, geli Mbak. Jangan digituin”, kataku menahan malu. “Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini”, lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya. Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin terus di”kerjain” oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.

“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Ira kepadaku. “Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara. “Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi. “Belum mbak” jawabku lagi. “hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”, lanjutnya centil. Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya “main” apaan yang saya pikirkan barusan. Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal” pikirku saat itu. “Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya? Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong. Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya. Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku. Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya. “Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya. Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat”, katanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telanjang bulat. Kemudian dia sendiri pun melepas topi susternya, digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun mbak Ira benar-benar pintar membimbingku. Sebentar saja sudah banyak jurus yang ku pelajari darinya dalam berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya. “Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini ku duduk di atas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok menghadap selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat. Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri. Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali. Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah,
sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki. “Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras. Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir di dengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga. “Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film BF yang biasa kutonton. “Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum. Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar. “Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu. Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali di sekeliling kepala kontol ku di dalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali. Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang kontolku. Ku tahan kepalanya agar kontol ku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera “keluar”, Mbak Ira menghisap semakin kencang, di sedot dan terus disedotnya kontol ku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali. “AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu ke dalam mulut mbak Ira.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku di kulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku
melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian
seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira. Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan mbak Ira. Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk ke dalam memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu. “Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Ira sambil mendekati diriku. Kembali digenggamnya kontol ku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja di pakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat kontol ku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya. “Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa saya mendengar tolakannya ini. Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Di hisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontol ku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira sungguh hebat pikirku, dia mengulum kontol ku, namun dia juga sambil memainkan memeknya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya. Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya. “Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu. Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku. “Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.

Langsung ku hisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontol ku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memek nya. Kepala ku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet di antara bulu-bulu jembutnya. Ku hisap dan ku sedot sambil memainkan lidah ku di seputar kelentitnya. “Ahh.. ahh..”, desah mbak Ira di saat terakhir berbarengan dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulut ku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu. Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian saya pun orgasme untuk kedua kali nya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk di atas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontol ku yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian ini dan membuat janji di lain waktu sebelum akhirnya kami keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.

Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubungan ku dengannya tidak lain hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa “horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira. Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidup ku, paling tidak masa muda ku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar fantastis menurutku.