Budhe Lilis

Bulan Desember ini aku dapat jatah cuti tahunan. Kesempatan baik untuk pulang kampung jumpa keluarga di Solo. Karena hanya kesempatan cuti tahunan aku dapat pulang, karena Lebaran kena piket maklum pekerjaanku melayani masyarakat jadinya nggak libur.

Dengan kereta api Argo Lawu, aku berangkat menuju Solo. Hari mulai senja ketika kereta melaju meninggalkan stasiun.
Karena bukan liburan, penumpang kereta tidak padat. Hanya beberapa orang yang ada di gerbong ini. Tepat di sampingku duduk seorang wanita setengah baya. Dengan mengenakan terusan panjang berwarna merah, rambut tergelung rapi, berkaca mata tipis, menampakkan ciri seorang ibu yang lemah lembut. Senyum selalu tersungging manis menghiasi bibirnya.
Untuk mencairkan suasana aku mulai membuka pembicaraan dengan memperkenalkan diriku
“Maaf bu, kenalkan… saya Andi” sambil ku ulurkan tangan, ibu itu menyambut dan memperkenalkan dirinya
“Lilis…” jawabnya singkat
“Ibu juga mau ke Solo ya…?”
“He-eh…. barusan nengok keponakan di Bandung”
“Oh…”
“Adik sendiri mau ke Solo juga… ?”
“Iya bu….. cuti tahunan….”

Pembicaraan untuk mengisi kekosongan mulai mengalir mencairkan suasana. Menurutku ibu Lilis adalah orang yang enak untuk diajak bicara walaupun kami baru saja kenal. Tidak ceriwis, tertawapun seakan ditahan, bicara dengan lemah lembut ciri khas wanita Solo. Di usia 43 tahun guratan wajah tidak menampakkan ketuaannya, juga bentuk tubuh yang masih kencang meskipun tidak terlalu me**njol.

Malam kian larut, lampu penerangan di gerbong kami mulai dipadamkan. Aku mempersilakan ibu Lilis untuk istirahat setelah bantal dan selimut aku serahkan. Karena capai akupun mulai merasakan kantuk. Dan kulihat ibu Lilis sudah terlelap dengan nafas teratur lembut.
Waktu menunjukkan pukul 01.10, udara AC semakin dingin mengigit tulang. Ku lihat ibu Lilis merasa gelisah dan berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Dik Andi….. Dik……”
“Ya bu….”
“Maaf….. tolong AC-nya dikecilin…. ibu kedinginan”
aku berdiri dan berusaha mengecilkan AC, tetapi kisi-kisi anginnya macet jadi percuma.
“Kisinya macet bu… maaf tidak bisa dikecilin”
“Walah… kalau begini pasti pinginnya pipis terus…”
Ibupun kembali menarik selimut menutupi tubuhnya dan kembali bersandar pada bantal.
Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba ibu Lilis kembali terbangun.
“Dik Andi…. tolong anterin ibu ke kamar mandi… pingin pipis….. ibu takut pergi sendiri” katanya sambil memgangi perutnya.
“Kebetulan bu…. Andi juga pingin pipis….”
Akupun segera berdiri untuk memberi jalan kepadanya. Berdua kami menuju ke kamar mandi di belakang gerbong. Terasa sepi, karena para penumpang sudah tertidur dibuai mimpi.
“Silahkan ibu duluan…..”
“Maaf pintunya tak usah ditutup ya…..?” katanya pelan.
“Tidak usah takut bu…. kan ada Andi”
“Dik Andi jangan berdiri jauh-jauh…”
“Iya bu…” kata ku sambil membelakangi pintu kamar mandi sambil menahan pipis.
Beberapa saat terdengar desiran air. Wow lama juga ibu Lilis kencingnya, berarti sudah dari tadi beliau menahan pipisnya. Setelah itu terdengar suara air disiramkan.
“Silahkan dik Andi……”
“Sudah bu….. aku sudah nggak tahan…..” kataku tergesa masuk ke kamar mandi.
Dengan segera ku buka reslueting celana dan mengeluarkan kemaluanku untuk segera membuang air kemih yang sudah tak tertahankan. Setelah selesai aku mengguyur lantai kamar mandi dan membasuh ujung kemaluanku dari sisa-sisa air kencing. Tanpa kusadari bahwa di belakangku sepasang mata menatap dengan terkesima. Setelah selesai dan kemaluanku sudah berada pada tempatnya, akupun berbalik. Dan kulihat wajah bu Lilis merah padam menahan malu.
“Bu…..” sapaku mengejutkannya
“Oh… maaf….” katanya sambil menunduk
Kamipun berjalan kembali ke tempat duduk kami. Hening menyelimuti suasana, hanya suara roda kereta yang tak pernah diam.
“Maaf dik Andi…..” ibu Lilis membuka pembicaraan
“Ya bu…”
“Sekali lagi maaf…. apakah memang segitu ukuran kemaluan di Andi ?”
Aku kaget bukan kepalang mendapat pertanyaan ibu Lilis yang polos. Tidak kukira dibalik wajah keibuan ternyata tersimpan keliaran.
“Maksud ibu…. ?” aku balik bertanya
“Iya… ibu sempat lihat kemaluan di Andi waktu pipis tadi, apa ukurannya memang sudah segede itu….?”
“Oh…, maaf bu…. karena dari tadi menahan pipis jadinya Andi sempat ereksi sedikit….” jawabku malu, “Memangnya kenapa bu ?”
“Nggak, ibu kirain tidak sedang ereksi…. pikir ibu kalau tidak ereksi saja segitu gede apalagi kalau ereksi…..”
“Ah… ibu ada-ada saja…”
“Nggak usah malu dik Andi…. kita kan sudah sama-sama dewasa….. biasa sajalah”
“Iya bu….” jawabku singkat
Kembali kami terdiam dan ibu Lilis mempersiapkan diri untuk tidur. Ditariknya selimut menutupi seluruh badannya menahan dinginnya udara. Belum berapa lama ibu Lilis tertidur, kembali terbangun dan memohon kepadaku untuk menemaninya ke kamar mandi.
Seperti tadi, pintu kamar mandi sengaja tidak ditutup. Aku berdiri menunggu di depan pintu, tapi sekarang aku sengaja menghadap ke dalam kamar mandi dan menyaksikan semua kegiatan ibu Lilis. Dari mulai mengangkat rok panjangnya, menurunkan celana dalam, jongkok dan kemudian pipis. Terlihat mulusnya pantat ibu Lilis membuat kemaluanku ereksi.

“Sudah dik Andi… ibu sudah selesai… dik Andi mau pipis juga…. ?”
“Nggak bu…….”
“Wow… kemaluan dik Andi ereksi ya… ?” katanya sambil menatap ke arah kemaluanku.
“Iya bu… “ jawabku malu-malu “Habis lihat pantat mulus, peralatan yang satu ini langsung bereaksi…”
“Berarti dik Andi masih **rmal…. kalau tidak ereksi malah perlu dicurigai…..” katanya tersenyum.
Kembali ke tempat duduk, kami mulai memakai selimut kembali. Tiba-tiba tangan bu Lilis menyusup ke dalam selimutku dan meraba kemaluanku. Berani juga nih orang, sekali lagi di balik wajah keibuan dan kesopanannya terdapat sesuatu yang tidak terduga.
“Masih ereksi ya…..?” bisiknya
“Iya bu…. kalau belum dikeluarin pasti nggak mau turun…” jawabku.
“Mau ibu bantu…..?”
“Ah… nggak usah bu, nanti Andi keluarin sendiri saja…” jawabku sungkan walau sebenarnya ingin juga
“Wah… dik Andi sering onani juga ya…?”
“Sering sih tidak bu… tapi kalau pas ereksi begini apa boleh buat…. hanya itu jalan satu-satunya…”
“Betul dik Andi, ibu sering sekali tiba-tiba ‘kepingin’ sedang suami ibu sudah tidak mampu lagi ereksi, maklum beliau punya penyakit gula, ibupun melakukan masturbasi untuk menuntaskannya” wajahnya menerawang jauh.
“Ibu sering masturbasi juga ya…..”
“Hanya itu yang dapat ibu lakukan…..” jawab bu Lilis dengan nada sedih
“Maaf jika pertanyaan Andi membuat ibu sedih..”
“Nggak kok…. memang kenyataannya seperti itu….” jawab bu Lilis dengan sedikit senyum, ”Sana gih…. dikeluarin dulu… nanti perut dik Andi mules lho…”
“Ntar aja bu…. dari pada kelamaan onaninya… lagian Andi nggak bawa sabun….” jelasku
“Tuh kan…. mau pakai baby oil ?” kata bu Lilis. Dan diambilnya botol baby oil dari dalam tas tangannya, ”Pakai ini dik… biar kemaluannya nggak perih…”
“Terima kasih bu…..” jawabku sambil menerima baby oil dari tangan bu Lilis, ”Ibu berani duduk sendirian di sini…?”
“Iya ya…. kalau begitu ibu ikut ke belakang ya… ?” pintanya memelas.
“Maaf bu… daripada ibu harus berdiri nungguin Andi onani di kamar mandi, lebih baik Andi lakukan di sini saja……”
“Oh ya… begitu juga bagus… hasrat dik Andi tersalurkan….. dan ibu tidak ketakutan…”

Mendapat lampu hijau dari bu Lilis, akupun segera membuka ikat pinggang. Dengan sedikit menarik celana dalam aku keluarkan kemaluan yang sudah mengeras.
Baby oil aku tuangkan diatas telapak tangan kananku, dengan segera aku lumurkan ke seluruh permukaan kemaluanku. Di balik selimut tanganku mulai bekerja naik turun mengurut batang kemaluan.
Ku lihat ibu Lilis menyadandarkan kepalanya pada bantal di permukaan jendela kaca, seingga posisi wajahnya sedikit serong ke arahku. Sesekali mata ibu Lilis melirik ke arah tanganku yang sedang melakukan onani di balik selimut. Tampak tonjolan kemaluanku yang mengeras mencuat di balik selimut seiring dengan guncangan tangan. Nafasku mulai tidak teratur merasakan rangsangan itu.

Kuperhatikan juga bahwa bu Lilis mulai terangsang dengan apa yang dilihatnya. Terbukti dengan kegelisahan dan tarikan nafas panjang sesekali. Aku cuek saja dan tetap pada kegiatan onaniku.
Ditengah kesibukkanku beronani, tiba-tiba ibu Lilis bangkit berdiri dari duduknya, diangkat rok panjangnya dan dengan segera melepas celana dalam kemudian kebali duduk serta menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut. Ibu Lilis membuka paha lebar-lebar, tangan kanannya mulai aktif meraba kemaluan dan tangan kiri melalukan remasan pada payudara kecilnya.
Desahan nafas kami memburu, berdua kami berpacu dengan nafsu untuk mencapai puncak orgasme. Aku mulai merasakan denyutan-denyutan pada kemaluanku pertanda orgasmeku sudah semakin dekat. Bu Lilis pun semakin cepat menggosokkan tangannya pada kemaluannya.
“Ouughh… aagghhh…. !!!” sperma memancar dari kemaluanku sebagai puncak dari orgasme. Tak lama kemudian bu Lilis menggigit bantal menahan orgasme hebat yang melandanya,” Heeghhh… Eeehhhh…….”
Tubuhnya mengejang beberapa kali, dan diakhiri dengan lemasnya tubuh beliau. Dilepaskan bantal dari wajahnya, dengan mata terpejam dan nafas memburu ibu Lilis menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Setelah semua selesai, kami membersihkan kemaluan masing-masing dengan tissue basah milik bu Lilis.

“Wuaduh…. lega rasanya dik….. ibu nggak tahan lihat dik Andi onani…. maklum baru kali ini lihat orang lain melakukan onani di depan ibu…..” bu Lilis tersenyum manis.
“Andi juga sudah plong… bu…”
Kamipun segera tertidur karena kelelahan setelah melakukan masturbasi.

Sesampai di stasiun Balapan Solo, kami berpisah. Tidak ada kata yang kami ucapkan, hanya salam perpisahan yang mengakhiri perjalanan kami ini. Dengan Taxi aku menuju ke rumah, dimana kedua orang tua dan adikku sudah menunggu.

Sudah dua hari aku berada di Kota Solo, aku sempatkan untuk rilex mengabaikan rutinitas yang membosankan di Bandung. Rasa kangen terhadap keluarga dan saudara sudah terhapuskan. Dan kini rasa kangenku untuk bertemu Pak Dhe Bekti sangat kuat, maklum kakak dari ayahku ini punya andil besar di dalam kehidupanku. Semenjak Budhe Bekti wafat aku belum bertemu lagi dengan beliau, hanya kabar dari ayah yang menyatakan jika pakdhe Bekti sakit-sakitan.

Sore ini aku minta ijin orang tuaku untuk berkunjung ke rumah pakdhe. Untuk mengobati rasa kangen aku berencana untuk bermalam di rumah beliau.
Dengan mengendarai sepeda motor milik adikku, kutempuh jalan Kota Solo yang mulai padat lalu-lintas.
Sesampai di rumah pakdhe waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, dan kudapati pintu rumah terkunci rapat. Karena sejak kecil aku sering bermain di rumah ini, jadi aku tahu betul dimana letak kamar pakdhe. Lewat samping rumah aku langsung menuju ke belakang rumah dimana kamar beliau berada. Dari jendela yang terbuka aku melihat kamar itu kosong. Aku teruskan langkah menuju ke belakang ke arah dapur. Terlihat pintu dapur juga tertutup rapat, tetapi samar-samar kudengar suara lirih desahan nafas. Kurapatkan telingaku pada pintu dapur. Semakin jelas terdengar desahan nafas wanita yang sedang dilanda nafsu birahi. Semakin lama terdengar semakin menggairahkan.
“Yemm…. terusss… yemmm…. oougghhh….” jelas sekali wanita ini mengalami sensasi yang luar biasa,”Liiidaahmu… tteerruss… jjaarriiimmuuu …..Ohhh
Ya… diii siituuu Yemmm… terruss… hhgghh… eennak …. Yeemmm” suara desahan semakin hebat, ”Cepattt… Yemm… ceeepaatt…. aakku… keellll…. oouugghh…. aahhhh”.
Wow jeritan kecil menandai orgasmenya, terdengar nafas yang ngos-ngosan tidak teratur.
“Ttteerima kasih Yem….. kamu semakin pinter” entah suara siapa, aku sendiri masih penasaran.
“Iya ndoro…” jawab wanita yang lain, yang ini jelas pembantu rumah tangga di rumah pakdhe.

Dengan segera aku meninggalkan bagian belakang rumah, kembali ke pintu depan.

“Nuwun…. kulo nuwun…..” dengan sedikit teriak dan ketukan pintu agak keras, dengan harapan ada yang mendengar.
Tak lama terdengar anak kunci diputar dan terbukalah pintu utama. Ku lihat pakdhe Bekti tepat di depanku dengan wajah tegang dan badan berkeringat.
“Selamat sore pakdhe…” ucapku
“Hee kamu nDi… kapan datang dari Bandung….?” jawab pakdhe Bekti penuh semangat.
“Kemarin pagi dhe….”
“Ayo masuk….. wahh pakdhe kangen banget…. sudah lama kamu tidak kemari…..” dipeluknya tubuhku dengan erat sebagai tanda kasih dan kangennya.

Kami berdua memasuki ruang tamu yang luas, maklum rumah pakdhe Bekti termasuk rumah ku** sehingga ukuran ruangan serba luas.
“Duduk nDi…. waahhh sekarang kamu tambah cakep….”
“Ahhh pakdhe bisa saja….”
“Betul lho …. pakdhe tidak ngapusi….” katanya sambil tertawa lepas. Kami duduk berhadap-hadapan dibatasi meja tamu.
“Yem…. buatin kopi Yem…. ada tamu dari jauh nih…” teriak pakdhe.
“Ndak usah repot-repot dhe….” aku berbasa-basi.
Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita muda dari arah dapur membawa baki berisi kopi hangat dan sepiring pisang goreng.
“Trima kasih Yem…. kamu masih ingat ndak sama orang ini ?” kata pakdhe kepada wanita muda ini.
“Nyuwun sewu ndoro…. saya lupa….” jawabnya sambil terus memandangi wajahku.
“Weeh kamu ini, ingat ndak kamu waktu kecil mainnya sama siapa ?” pakdhe Bekti mencoba mengingatkan.
“Ohhh… mas Andi ya….? Iya…sekarang Iyem ingat….” katanya tersenyum lebar, ”Habis sekarang sudah berubah… jadi Iyem pangling…”
“Ini Iyem anak mak Sani pembantu pakdhe yang dulu…. kamu masih ingat kan nDi…..?”
“Iya dhe… Andi ingat….. Apa kabar Yem..?” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Baik Mas….” jawabnya menyambut uluran tanganku, kami bersalaman, “Silahkan mas…. Iyem ke belakang dulu….”
“Terima kasih Yem…”
Tidak kusangka Iyem yang dulu jadi teman mainku, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Tubuh semampai langsing, kulilt putih bersih. Pinggul yang montok terlihat jelas tertutup balutan kain batik, payudara besar kencang khas orang desa.
“Hei… nDi…. pakdhe masih di sini…!” suara pakdhe membuyarkan lamunanku, “Kalau mau kangen-kangenan sama Iyem nanti ada waktunya sendiri, sekarang waktunya ngobrol sama pakdhe….” kamipun tertawa.

Dalam pikiranku masih diselimuti rasa penasaran atas peristiwa desahan nafas di dapur tadi. Kalau Iyem sudah terjawab, terus siapa wanita yang satunya ya ? dan mengapa Iyem mau membantu melepaskan birahinya ?

Obrolan kami semakin seru, tetapi pikiranku masih saja penasaran dengan peristiwa itu.
“Oh ya .. pakdhe hampir lupa……. Bu…. Ibu…. sini bu… ini lho ada tamu dari Bandung…..”
Lho kok pakdhe memanggil ibu, berarti pakdhe sudah kawin lagi. Kok aku tidak dikabari. Misteri suara wanita di dapur tadi sedikit terkuak, berarti sang wanita adalah istri pakdhe Bekti alias budhe Bekti yang baru.

Dari arah kamar munculah sesosok wanita, alangkah terkejutnya aku…. wanita itu adalah ibu Lilis teman seperjalanan denganku dari Bandung, jadi ibu Lilis adalah istri pakdhe Bekti. Aku tak mengira jika kami bertemu lagi dengan suasana yang jauh berbeda.
Tak kalah terkejutnya ibu Lilis ketika melihat bahwa tamunya adalah aku yang **ta bene keponakan sendiri. Merah padam wajah dan rasa terkejutnya tidak dapat ditutupi. Pakdhe Bekti jelas tidak dapat menyaksikan perubahan wajah istrinya, karena beliau duduk membelakangi. Terlihat ibu Lilis mengatur nafas dan mulai berjalan dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Nah… ini nDi…. kenalkan, ini istri pakdhe…. namanya Lilis…. umur boleh muda tetapi pengabdiannya kepada pakdhe jangan ditanya…. ya ndak bu….?”
Aku berdiri, dengan sikap tenang aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
“Andi…..” kataku
“Lilis…..” jawabnya sedikit bergetar, “Silahkan duduk dik…!” katanya setelah kami berjabatan tangan.

Budhe Lilis (sekarang aku harus memanggilnya begitu), duduk di samping pakdhe. Dengan mesra pakdhe merangkul pundak istrinya. Budhe menundukkan wajahnya seolah-olah takut bertatap pandangan dengan ku. Aku memakluminya, peristiwa di atas kereta api pasti membuatnya merasa malu.
Obrolan berlanjut, tetapi kuperhatikan budhe cenderung diam dan tampak kaku menghadapi suasana ini. Lalu ia bangkit dan pamit mau ke belakang.
“Silahkan diteruskan ngobrolnya, saya pamit dulu….”
Dengan berlalunya budhe, kembali pakdhe dengan semangatnya bercerita. Ternyata setelah kematian budhe Bekti dan sakit yang dideritanya, pakdhe berinisiatif untuk kawin lagi dengan wanita yang mau merawatnya. Jika dilihat dari selisih umur antara pakdhe Bekti dan budhe Lilis terpaut cukup jauh. Tetapi pakdhe bangga dengan istri barunya ini, dengan sabar dan telaten ia merawat serta melayani pakdhe.

Aku ingat pada waktu di kereta api ibu Lilis pernah bercerita kalau suaminya impoten karena penyakit gula yang dideritanya. Sekarang aku tahu kalau pakdhe memang menderita sakit gula dan impoten, klop !
Berarti, misteri suara dan lenguhan di dapur tadi sudah terkuak jelas. Adegan merangsang itu bersumber pada budhe Lilis dan Iyem. Sekarang aku jadi maklum jika pelampiasan sex budhe Lilis yang masih muda ini harus dituntaskan baik dengan masturbasi (seperti cerita dan fakta di atas kereta api) ataupun dibantu oleh Iyem pembantu rumah tangganya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.20 WIB, berarti malam sudah mulai larut.
“Kamu nginep sini tho nDi ?” tanya pakdhe kepadaku
“Jika pakdhe mengijinkan…”
“Oh ya harus…. pakdhe masih kangen….je” kata beliau,”Bu….bune…. tolong siapin kamar buat Andi… dia mau nginep di sini….”
“Terima kasih pakdhe”

“Silahkan kalau kamu mau istirahat….. pakdhe juga sudah ngantuk….”
Kami berdiri dan pakdhe langsung menuju ke kamarnya. Aku berjalan menuju kamar tamu, ruangan yang sudah tidak asing bagiku. Ketika kubuka pintu kamar terlihat budhe Lilis masih berada di dalam sedang membenahi seprai.
“Tutup pintunya dik…!” katanya lirih,”Pakdhemu sudah masuk kamar…?”
“Sudah bu… barusan….” jawabku
“Tunggu sebentar, seprainya belum beres……” katanya membenahi seprai sambil membukukkan badan.
Pandanganku tertuju pada belahan daster longgarnya. Belahan payudara terbungkus BH tampak jelas di mataku. Sadar dipandangi seperti itu, budhe langsung menegakkan badannya.
“Hayo…. mata dik Andi nakal ya….” katanya sambil tersenyum.
“Habis daster budhe yang longgar sich….” kataku, “Budhe kelihatan pucat dan lemes, sakit ya dhe…? atau karena orgasme yang nikmat….?” tanyaku menggoda.
“Hei… tahu dari mana…?” katanya penasaran
“Tadi di dapur…. Andi sempat nguping……”
“Ohh…..” wajahnya memerah, “Untung ada Iyem…. coba kalau tidak ……” katanya menjelaskan
“Berarti tadi di-oral sama Iyem tho….?”
“Iya…..” jawabnya singkat, “Kalau kamu nginep di sini berarti kamu bisa bantuin budhe….”
“Bantuan apa nich…”
“Ya….. nggantiin si Iyem…” budhe mengerlingkan matanya sambil tersenyum nakal.
“Kalau pakdhe tahu…..?”
“Iya pinter-pinternya kita…… yang jelas sekarang beliau pasti sudah tertidur, kalau sudah bau bantal pasti langsung lelap”
Aku jadi penasaran, ternyata budhe Lilis binal juga. Tetapi aku memakluminya karena kondisi pakdhe yang tidak bisa ereksi. Sambil bebenah budhe Lilis menceritakan kalau sejak menikah empat tahun yang lalu dengan pakdhe Bekti mereka tidak pernah berhubungan badan. Memang budhe Lilis adalah seorang janda, tetapi nafsu sex pastilah masih menggebu namun pakdhe tidak bisa apa-apa.
“Aku sering kangen sama kemaluan laki-laki…… kalau sudah begitu jadi terangsang….. paling-paling masturbasi kalau tidak ya di-oral sama Iyem, pakdhe-mu tahu kok apa yang budhe lakukan. Sering budhe masturbasi di depan pakdhe-mu dan sering juga dia ikut bantuin….. kalau dengan Iyem, pakdhe hanya ngitip saja karena Iyem malu jika tahu ” Jelasnya panjang lebar, “waktu di kereta api sebenarnya pingin banget, tidak sekedar bermasturbasi. Tetapi keadaanya tidak memungkinkan”
Pantesan tadi sore wajah dan badan pakdhe berkeringat, ternyata habis ngintip istri dan pembantunya ‘begituan’.
“Andi tahu apa yang budhe rasakan……. Andi mau membantu budhe…. tapi tolong rahasiakan ini ya ?” budhe Lilis hanya mengangguk.
“Nanti malam jika semua sudah terlelap budhe tunggu dik Andi di kamar mandi belakang. Tahu tho tempatnya…. jangan kamar mandi dekat dapur ya…. nanti ketahuan Iyem….”
Memang, rumah besar ini punya dua kamar mandi. Satu dekat dapur dan yang satu berada di halaman belakang.
“Baiklah kalau begitu budhe permisi dulu… jangan lupa nanti malem ya…?” budhe beralu sambil tersenyum genit.

Malam terasa panjang dalam penantianku. Gara-gara budhe genit aku semakin gelisah menunggu. Tidur gelisah dan kesunyian malam serta suara jangkrik mengiringi kegelisahanku.

Saat ini pukul 01.04 dini hari, aku mendengar suara pintu kamar pakdhe dibuka dan ditutup lagi dengan perlahan. Aku bangun dari tempat tidurku, kukonsentrasikan pendengaranku. Sekarang giliran pintu dapur mengeluarkan suara. Inilah saat yang kunantikan sejak tadi.
Dengan perlahan pula aku membuka pintu kamarku, ku tengok kiri-kanan hanya kegelapan yang ada. Setelah aku merasakan suasana aman, aku menutup pintu dan melangkahkan kaki dengan perlahan menuju ke arah dapur. Pintu belakang tidak terkunci, berarti budhe Lilis sudah menungguku di kamar mandi belakang rumah.

Aku keluar dengan hati berdebar. Tak kusangka pertemuan kedua ini menjadikanku sebagai malaikat sekaligus setan dalam hidupku. Malaikat karena me**long budhe yang ‘kehausan’ dan sebagai setan karena menghianati pakdhe Bekti. Rasa kasihan terhadap kedua orang ini membuat langkahku sedikit bimbang. Biarlah yang terjadi terjadilah.

Kuamati keadaan sekitar, kegelapan menyelimuti malam ini, sinar bulan redup hanya kunang-kunang dan jangkrik yang menjadi saksinya.

Dari dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu 5 watt tampak sesosok bayangan. Aku langkahkan kaki mendekat.
“Eehemm…” kuberikan isyarat.
Dan tebukalah sedikit pintu kamar mandi, sebagai jawaban isyaratku. Kembali aku meneliti sekitar, aman. Bergegas aku masuk ke kamar mandi, seperti dugaanku semula budhe Lilis sudah berada di sana menantiku.

Hanya dengan daster tipis tanpa BH dan celana dalam, tampak jelas kulihat terawangan payudara dan kemaluan budhe Lilis.
“Dik Andi…..” lirih sedikit berbisik.
Tiba-tiba budhe Lilis memeluk tubuh dan melumat habis bibirku. Ciuman ganas budhe Lilis membuatku kaget, aku belum siap menghadapi serangan ini. Mau tak mau akupun ikut terlarut dalam ciuman panasnya, lidah kami saling bertaut. Mendapat perlakuan seperti itu langsung ku arahkan tanganku pada payudaranya. Remasan tanganku membuat budhe Lilis semakin memejamkan matanya menikmati sentuhan yang sudah lama ia nantikan.
Dilepaskannya ciuman pada bibirku dan berbisik.
“Dikkk Annnddii….. Ooouugghh…. budhe tak tahan lagi… heegghh…” rintihnya.
Kini tangan budhe Lilis ganti meremas kemaluanku.
“Kok sudah keras, kamu sudah ereksi dari tadi ya…?”
“Aku sudah tak sabar dhe….”
“Langsung saja ya nDi…. budhe sudah tidak tahan…. budhe pingin banget….” katanya sambil mengangkat dasternya dan menunggingkan pantatnya. Akupun tanggap, dengan segera aku keluarkan kemaluanku yang sudah ereksi. Ku letakkan kemaluanku pada lubang vaginanya, tangan budhe Lilis menuntun kemaluanku agar dapat masuk dengan benar.
“Kok sudah basah banget budhe….”
“Sejak keluar dari kamarmu budhe sudah terangsang membayangkan peristiwa ini….”
Budhe Lilis melepaskan genggamannya setelah merasakan ujung kemaluanku pas pada lubang vaginanya. Akupun mendorong perlahan, sulit sekali rasanya ujung kemaluanku masuk ke lubang vaginanya. Merasa ada sedikit kesulitan, sekarang kedua tangan budhe Lilis menyibakkan bibir kemaluannya. Kurasakan lubang kemaluan budhe Lilis semakin melebar, kudorong lagi kemaluanku. Baru saja kepala kemaluanku yang masuk, tubuh budhe Lilis mengejang. Sambil menggigit bibir dan memejamkan matanya seakan menahan sesuatu yang dasyat.
“Ooooggghhh…….., pelan dik Andi… rasanya sedikit perih…. maklum sudah lama tidak kemasukan kemaluan laki-laki”
Aku memakluminya. Dan sekarang aku kembali mencoba memasukkan kemaluanku lebih dalam, budhe Lilis kembali mengejang. Ketika separuh terakhir batang kemaluanku kusodokkan masuk, teriakan budhe Lilis sedikit mengeras.
“Aahhh…. hhggghh….”
“Sakit budhe…..”
“Sedikiiitttt …..”
ku biarkan budhe Lilis mengatur nafasnya. Dilepaskan tangannya dari bibir kemaluan. Dan sekarang tangan itu diletakkan pada bibir bak mandi untuk menyangga badan, berarti sekarang budhe Lilis telah siap menghadapi action berikutnya. Perlahan kutarik kemaluanku setengahnya, kumasukkan lagi dengan perlahan. Tarik – masuk – tarik – masuk , demikian seterusnya hingga terasa lebih lancar dan budhe pun mulai menikmatinya. Dengan pinggul digoyang-goyang mengikuti irama keluar – masuknya kemaluanku dan desahan-desahan sexy-nya membuatku lebih bersemangat.
“Aahhhh…Oooohhh…. Eeennaakk…. tterrussin nnDiiii…”
“Iiiyyyaa bbuudhhee….. lubang kemaluan budhe sempit banget….. kemaluanku serasa dijepit….”
“Ppppuuunnnyyamu bbbeeesssaar sssiiiihhhh……”
Memang benar, selain lubang kemaluan budhe yang sempit karena sudah lama tidak digunakan, ukuran kemaluanku yang tergolong besar ini juga menjadi penyebab semakin nikmatnya persetubuhan ini.
Kini tanganku tidak tinggal diam, kuraih payudara budhe Lilis dari belakang. Meremas serta menggesek putingnya semakin membuat budhe Lilis terangsang. Goyangan pantatnyapun semakin cepat, membuat kemaluanku seperti dipilin-pilin.

Budhe Lilis melepaskan tangan dari bibir bak mandi, kini tubuh budhe ditegakkan dan tangannya melingkar di leherku. Kondisi seperti ini membuatku lebih bebas meremas kedua bukit payudaranya yang kencang. Sambil terus menusukkan kemaluanku, ciuman dan gigitan kecil mendarat pada lehernya. Sesekali ciuman itu beroperasi di kupingnya. Hal ini membuat budhe Lilis semakin merasa terangsang. Tak henti-hentinya kemaluanku menusuk vagina budhe Lilis, demikian juga goyangan pantat budhe mengimbanginya. Irama permainan kami semakin cepat, tusukan-tusukan kemaluanku juga semakin ganas.
“Ceeepaat nDiii….oouugghh bbuudhe….. aagghhh”, tubuh budhe Lilis mengejang, tangannya mencengkeram erat rambuku.
“Aaagghhh …….” teriakan kecil tertahan keluar dari mulut budhe Lilis.
Budhe telah sampai pada puncak persetubuhan ini, orgasme yang hebat setelah sekian lama tidak merasakan kemaluan laki-laki menerobos vaginanya. Tubuh budhe lemas lunglai, disandarkan kepalanya pada bak mandi. Nafas ngos-ngosan, dengan mata terpejam dan senyum kecil tersungging di bibirnya. Beliau menikmati orgasme hebat yang baru saja didapatkannya.
Aku menghentikan kegiatanku, memberi kesempatan pada budhe untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya. Ku belai-belai kulit mulus punggungnya, dan budhe Lilis menikmati elusan itu untuk co***ng down setelah orgasme.
“Oohhh… trima kasih dik Andi… budhe puas sekali, telah lama budhe menunggu saat-saat seperti ini. Beda sekali rasanya dengan masturbasi….. ini benar-benar nyata nikmatnya…..”
Aku lepaskan kemaluanku dari vaginanya, tampak masih dalam kondisi ereksi dan mengkilat karena cairan vagina budhe Lilis.
Budhe Lilis membalikkan badannya. Sekarang kami berhadap-hadapan.
“Oh… maaf… sampai lupa kalau kamu belum ‘keluar’…. habis budhe terlalu menikmati orgasme….”
Sekarang budhe Lilis jongkok di hadapanku, diraihnya kemaluanku, dikocok-kocok penuh kelembutan. Dengan perlahan ditariknya kemaluanku dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Sedotan-sedotan kecil serta kulumannya membuat jantungku berdesir menahan rasa nikmat. Kini budhe mulai mengeluar masukkan kemaluanku pada mulutnya. Akupun mengikuti irama oral sex yang dilakukan budhe Lilis. Secara otomastis akupun memaju mundurkan pantatku. Terlihat budhe Lilis semakin meningkatkan kegiatan oralnya. Sesekali seluruh kemaluanku masuk ke dalam mulutnya, hebatnya budhe Lilis tidak tersedak. Irama semakin cepat dan ditambah lagi kocokan tangannya juga dipercepat. Beliau paham sekali dengan denyutan pada kemaluanku sebagai pertanda akan mengalami ejakulasi. Kini mulut budhe hanya mengulum dan tangannya semakin cepat mengocok batang kemaluanku. Desakan dari dalam kemaluanku tidak dapat kutahan lagi, denyutan semakin cepat dan budhe Lilis-pun menyedot kemaluanku dengan kuat.
“Aaagghhh….”
Akhirnya air manikupun keluar dengan semprotan kuat masuk kedalam mulut budhe. Beberapa kali semprotan kuat mengiringi tubuhku yang mengejang.
Ditelannya semua air mani yang keluar dari kemaluanku, tanpa setetespun meleleh dari mulut budhe Lilis. Sensasi yang hebat aku rasakan mengiringi ejakulasiku.
“Aaahhh… gurih sekali di Andi…. sudah lama juga budhe tidak merasakan gurihnya air mani….” katanya setelah melepas kemaluanku dari mulutnya.
“Terima kasih nDi…. budhe telah mendapatkan air di tengah kekeringan” bisiknya pelan.
Karena keadaan yang serba darurat dan tidak mendukung, kami segera merapikan kembali pakaian kami. Dengan tenang budhe Lilis berjalan keluar dari kamar mandi kembali ke kamar tidurnya. Beberapa menit kemudian aku menyusul masuk ke rumah dan ku lihat semua dalam keadaan aman.

Pagi ini udara sedikit dingin karena mendung menghayut di langit. Aku bangun agak kesiangan, kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7.30. Dengan badan yang masih lemas dan mata ngantuk aku keluar dari kamar. Kudapati suasana sepi, langsung aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan gosok gigi.
Tatkala kulewati dapur, kulihat Iyem sedang sibuk menanak nasi untuk sarapan pagi ini.
“Eehhh… Mas Andi sudah bangun…..”
“Iya Yem….” jawabku malas
“Kelihatannya masih ngantuk… tak buatin kopi ya mas ?”
“Terima kasih Yem…. aku tak gosok gigi dulu” dan akupun berlalu masuk ke kamar mandi dapur.
“Kok sepi Yem…. pakdhe dan budhe pada kemana ?” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Nggak tahu mas… pagi-pagi sekali mereka sudah pergi…. oh ya… ini kan hari Kamis…. biasanya ndoro kakung tindak berobat…..” jelas Iyem dengan teriak.
Aku keluar dari kamar mandi setelah pipis dan gosok gigi. Terlihat Iyem sedang mengaduk secangkir kopi hitam panas dalam cangkir.
“Mau minumnya di sini atau di meja makan mas ….?”
“Di sini saja Yem…. sekalian aku temenin kamu ….”
“Ini mas…. diminum dulu kopinya… selagi panas….” kata Iyem sambil meletakkan secangkir kopi.
“Makasih Yem…. ngomong-ngomong pakdhe berobat ke mana Yem ?”
“Kalau nggak salah ke pengobatan alternatif di Kartasura…. kasihan ndoro kakung lho mas….. karena penyakitnya ndoro putri jadi tersiksa batinnya….”
Aku tersenyum dalam hati sambil mengingat peristiwa tadi malam.
“Lho emangnya kenapa ndoro kakungmu…. ?” tanyaku memancing, padahal aku sudah tahu semuanya.
“Eehh… maaf ya mas… ndoro kakung ‘itu’-nya tidak bisa berdiri…. lemes…. jadinya ndoro kakung nggak bisa ‘main’ sama ndoro putri…..” jelas Iyem dengan malu-malu.
“Emangnya kamu tahu dari mana Yem…. kok sampai sedetail itu ?”
“Aaannu… ndoro putri yang cerita….. aku sudah dianggapnya sebagai anggota keluarga, jadi ndoro putri cerita semuanya…. lagian aku sudah dewasa tho….” Iyem tersenyum manis.
“Itu kan hanya cerita…. kalau tidak terbukti bagaimana ?” sekali lagi aku pancing si Iyem.
“Sekali lagi maaf mas…. dulunya Iyem juga penasaran…. tapi suatu ketika Iyem melihat sendiri……….”
“Wee lha…. kok bisa sih Yem….”
Iyem menarik nafas panjang, kemudian dengan lugunya ia bercerita panjang lebar.

Waktu itu, ndoro kakung barusan pulang dari luar kota. Kebetulan ndoro putri lagi pergi ke Bandung. Sore itu terlihat ndoro kakung kurang enak badan, kecapean kali ya…. Karena tidak ada ndoro putri, sore itu Iyem dipanggil untuk memijat badan ndoro kakung.
Iyem melihat ndoro kakung sudah tengkurap diatas tempat tidur hanya dengan berbalut sarung.
“Yem tolong pijitin ya…. badanku rasanya capek banget….”
“Iya ndoro….. sebelumnya minta maaf….. Iyem naik ke tempat tidur ndoro”
“Nggak apa Yem…. naiklah ke sini”
Kemudian Iyem mulai membaluri punggung ndoro kakung dengan minyak kelapa. Tangan terampilnya mulai membuat gerakan pemijatan di seluruh permukaan punggung ndoro kakung. Dari mulai bagian leher dan terus turun sampai ke pinggang. Dan ketika tangan Iyem harus memijat ke bawah lagi, dengan segera tangan ndoro kakung menurunkan sarung yang menutupi pantatnya hingga melorot sampai ke kaki. Terlihat dengan jelas oleh Iyem kalau ndoro kakungnya tidak memakai apa-apa dibalik sarungnya alias telanjang bulat.
“Maaf ndoro… saya tidak berani….” kata Iyem malu
“Tak apa-apa Yem…. kamu ndak usah kuwatir… karena sakit gula aku sekarang tidak bisa ereksi lagi……” kata ndoro kakung dengan sedih.
“Maaf ndoro… ereksi itu apa ?” tanya Iyem lugu
“Oooo walah… dasar cah ndeso….. ereksi itu bahasa kedokteran…. yang artinya kemaluan laki-laki yang tegang….. pasti kamu lebih sering denger kata ‘ngaceng’…”
“Ooohhh….. “ wajah Iyem merah padam menahan malu, “Kkkaalau iiitu…. saaayaa tahu ndoro…..”
“Lha itu… sekarang aku ndak bisa ‘ngaceng’ lagi… jadi kamu ndak usah kawatir kalau tak perkosa….. haaa…haaa” ndoro kakung tertawa lepas seolah lupa dengan penyakitnya.
“Kalau begitu Iyem boleh mijat sampai ke kemaluan ndoro kakung ya…?” sekali lagi kepolosan Iyem membuat ndoro kakung tertawa.
“Kalau pijatanmu bisa membuat kemaluanku ‘ngaceng’, kamu tak kasih uang banyak…..”
Mendengar kata ‘uang banyak’ Iyem bersemangat dalam memijat pantat ndoro kakungnya.
“Ndoro … kalau boleh sekarang saja kemaluan ndoro Iyem pijat….”
“Boleh… boleh….” ndoro kakung membalikkan badannya.
Sekarang tampaklah oleh Iyem bentuk kemaluan ndoro kakung yang kecil dan lemas. Bentuknya mirip milik si Nar** anak kecil tetangga sebelah yang masih suka tidak pakai celana. Iyem tersenyum ketika melihat kemaluan ndoro kakung.
“Kok senyam-senyum …. Yem ?”
“Aaanuuu… ndoro….. mirip punya si Nar**…..”
“Ahh… kamu itu….Emangnya kamu pernah melihat kemaluan orang dewasa nduk ?”
“Melihat sih belum ndoro…. tapi Iyem bisa merasakannya ketika disuruh ngocok-ngocokin kemaluannya si Jar**…..” jawab Iyem polos.
“Jar** si tukang ojek itu…….?”
“Iya ndoro…. Iyem kan ada rasa sama dia, suatu malam ketika disuruh belanja ke toko sama ndoro putri Iyem naik ojeknya Jar**. Dalam perjalanan tangan Iyem yang biasanya memeluk pinggangnya tiba-tiba disentuhkan pada kemaluannya yang sudah ‘ngaceng’, terus Iyem disuruh ngocokin sampai si Jar** pipis di celanamya”
“Kalau begitu sekarang Iyem coba kocokin kemaluan ndoro kakung, biar bentuknya seperti punya si Jar**…” sambil berkata demikian tangan ndoro kakung meraih tangan Iyem yang berlumuran minyak kelapa dan menyentuhkan pada batang kemaluannya yang lemas.
Karena pengalaman tak terlupakan dengan si Jar**, tangan Iyem langsung bergerak naik turun mengurut batang kemaluan ndoro kakungnya. Terlihat ndoro kakung memejamkan matanya menikmati urutan tangan Iyem. Tapi beberapa waktu berlalu kemaluan ndoro kakung tetap saja loyo dan lemas. Tidak dapat tegang seperti punya Jar** si tukang ojek.
“Ndoro…. tangan Iyem capek…. kok ndak bisa ‘ngaceng’ tho ndoro…..” kata Iyem memelas.
“Kan aku sudah bilang… kalau aku sudah tidak bisa ‘ngaceng’… kasihan ndoro putrimu…. sejak jadi istriku belum pernah aku menyetubuhinya…..” pandangan ndoro kakung menerawang dibalur kesedihan, ”Paling banter aku hanya membantunya masturbasi..”
“Tapi … paling tidak ndoro putri juga merasakan kenikmatan tho ndoro….” jelas Iyem sedikit menggurui, “Iyem juga pernah merasakan kemaluan Iyem diobok-obok sama si Jar**…. dan akhirnya Iyem juga pipis dicelana dan badan Iyem jadi lemes…. enak banget ndoro” keluguan Iyem ciri khas anak desa.
“Iya… aku tahu Yem…. memang ndoro putrimu merasakan orgasmenya… tapi tetap saja ada yang kurang tanpa kemaluan laki-laki masuk ke lubang kemaluannya” ndoro kakung menjelaskan,”Baiklah Yem… kalau tanganmu capek…. pijatannya ndak usah diterusin….. sana kalau mau tidur…. lagian aku juga ngantuk….”
“Baiklah ndoro…..” kata Iyem sambil turun dari tempat tidur.

Itulah sekelumit kisah Iyem yang mencoba meyakinkanku tentang kemaluan pakdhe Bekti yang tidak bisa ereksi alias impoten karena penyakit gula.
“Budhe tahu nggak Yem…. kalau Iyem pernah ngocokin kemaluan pakdhe…..?” pancingku lagi.
“Akhirnya ndoro kakung cerita tentang peristiwa ini ke ndoro putri… dan beliau tidak marah malah sekarang Iyem yang dijadikan pembantu luar dalam…..”
“Apa maksudnya… ?”
“Mas Andi jangan cerita masalah ini dengan ndoro kakung lho….. ?”
“Ndak… kalau kamu mau cerita terus terang, aku ndak akan cerita pada pakdhe….”
“Sekarang Iyem suka disuruh membantu ndoro putri kalau beliau sedang ‘pingin’….. Iyem disuruh njilatin kemaluannya sampai ndoro putri mencapai kepuasan….. terus timbal baliknya ndoro putri juga njilatin kemaluan Iyem sampai Iyem kelojotan kayak ayam disembelih…. rasanya nikmatttt banget…..” katanya lugu.
“Oh… itu namanya oral sex Yem…. jadi hubungan sex dengan memakai mulut dan lidah untuk merangsang pasangannya….”
“Iya mas…. daripada tangan si Jar** yang ngobok-obok kemaluan Iyem….. kadang-kadang terlalu kasar, bukannya nikmat tapi malah perih semua….” jelasnya, “Kalau ndoro putri orangnya lembut, sabar….. jadi Iyem bisa menikmatinya sampai akhir….. itu yang diajarkan ndoro putri pada Iyem ketika harus membantu memuaskan ndoro putri……”
mendengar cerita polos dan lugu dari Iyem aku jadi terangsang. Kemaluanku mulai ereksi…..
“Kalau dengan si Jar**…. kamu pernah melakukan oral sex nggak…?”
“Belum pernah mas…. paling-paling ngocokin saja…. lha wong ketemunya kalau lagi naik ojeknya…..”
“Berarti kamu belum pernah melihat secara langsung kemaluan laki-laki yang sedang ‘ngaceng’ ya….?”
“Belum tho mas…. lha wong ngocoknya dari belakang, kan Iyem sedang mbonceng sepeda motornya…”
“Waahh… berarti masih ada yang kurang Yem…. paling tidak kamu selain merasakan juga harus melihat bentuknya….”
“Yaa…. sulit mas….. Iyem hanya bisa membayangkan saja bentuk kemaluan si Jar**….”
“Ngomong-ngomong, kamu mau nggak lihat kemaluan laki-laki yang sedang ‘ngaceng’…?” pikiran kotorku mulai beraksi.
“Pingin sih pingin mas…. tapi ketemu sama si Jar** kan tidak bisa siang hari karena kalau siang dia kerja di Pasar Klewer sedangkan Iyem harus mengurus rumah ini …..”
“Kalau selain Jar**……?”
“Siapa lagi selain dia….. aku ndak pernah berpikiran kepada yang lain….”
“Kalau aku bagaimana…?”
“Haa… mas Andi…..!” Iyem terkejut dengan pernyataanku, wajahnya merah padam menahan malu.
“Iya Yem…. aku, laki-laki yang sekarang ada di hadapanmu….”
“Ahhh… Iyem malu mas….” wajahnya tertunduk
“Ndak usah malu…. demi menghilangkan rasa penasaranmu, aku bersedia menunjukkannya padamu…?”
“Yang bener mas….. emang mas Andi ndak malu….”
“Tentu tidak Yem… ingat ndak, waktu kecil dulu kita sering main dokter-dokteran….. kamu yang jadi dokternya dan aku yang disunati…. atau ketika kita mandi bersama di pancuran sebelah utara desa…. kamu juga yang nyabuni seluruh tubuhku termasuk ‘titit’-ku…..”
“Itu kan dulu mas… waktu kita masih kecil… sekarang….. kan beda….”
“Justru itu Yem…. lama kita tidak bertemu, banyak sekali perubahan pada dirimu dan diriku. Bagaimana kalau sekarang kita membandingkan tubuh kecil kita dulu dengan tubuh kita yang sekarang ….?”
“Ah malu mas….” jawab Iyem tersipu, wajahnya memerah.
“Ndak usah malu, Yem…. sekarang hanya ada aku dan kamu…..” rayuku
“Kalau… kalau begitu mas Andi mulai dulu…”
Mendapat lampu hijau dari Iyem, aku segera beraksi dengan membuka celana pendekku. Iyem terdiam dan memperhatikan apa yang aku perbuat. Setelah celana pendek terlepas sekarang t-shirt aku lepaskan, sekarang hanya celana dalam yang melekat di tubuhku.
“Ayo Yem sekarang gantian kamu….”
“Ahh… Iyem malu mas….” jawabnya. Tetapi antara omongan dengan perbuatan berbeda. Iyem mengatakan malu tetapi tangannya mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Setelah dilepaskannya baju merah mudanya Iyem terlihat sexy dengan BH cream yang selaras dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Kini kedua tangannya mengarah ke belakang rok dan mulai membuka kancingnya. Tak lama kemudian rok biru tua itu sudah melorot dari tubuhnya. Wow… tubuh Iyem terlihat sempurna, hanya dengan mengenakan BH dan celana dalam yang juga berwarna cream terlihat perbedaan yang sangat nyata dibanding Iyem kecil dulu.
Payudara yang montok dan perut yang langsing terlihat amat sexy sekali.
“Wow… kamu sexy sekali Yem… tubuh kamu sempurna sebagai wanita dewasa…” sanjungku
“Ahhh… Mas Andi juga …..” balasnya
Sekarang giliranku melepas celana dalam, dan kemaluanku kini tepampang jelas dihadapan Iyem. Dengan wajah terkejut dan muka merah padam Iyem menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Kenapa Yem….”
“Nnndak…. Iyem…. hanya kaget melihat ukuran kemaluan mas Andi…. besar ya mas….”
tanpa melepaskan pandangan dari kemaluanku, Iyem melepaskan kait BH-nya. Sepasang payudara montok menyembul keluar seolah tak kuat lagi berada dalam cup BH. Putih mulus dengan puting berwarna merah gelap. Tangan Iyem secara reflek langsung menutup payudaranya.
“Kenapa ditutupi Yem…. ndak usah malu…. biarkan mas Andi melihat dan mengagumi apa yang kamu miliki…”
Mendengar perkataanku secara perlahan Iyem melepaskan tangan yang menutupi payudaranya. Kini dengan leluasa aku dapat melihat dan mengagumi payudara montok milik Iyem. Tangan Iyem mulai meraih celana dalam dan menurunkannya. Dengan posisi menunduk, payudara montoknya menggantung dengan indahnya. Setelah Iyem itu Iyem kembali menegakkan badannya. Sekarang dengan jelas aku melihat kemaluan gadis desa yang lugu ini. Di antara paha yang mulus terlihat kemaluan yang rimbun ditumbuhi rambut. Kontras sekali dengan putihnya kulit paha dan ketelanjangan Iyem membuat kemaluanku semakin ereksi.
Kami saling memandangi apa yang terpampang jelas di depan kami. Aku kagumi tubuh perawan desa yang lugu ini dan Iyempun tak melepaskan pandangannya dari kemaluanku yang ereksi berat. Cukup lama kami saling mengagumi dan angan kami kembali ke masa kecil dimana kami pernah juga telanjang bersama, tetapi sekarang keadaan sudah berbeda jauh.
Tiba-tiba kami mendengar pintu depan diketuk, Pakdhe dan budhe sudah pulang.
“Iyem…..Iyem…. buka pintunya nduk…..!” terdengar jelas teriakan budhe hingga ke dapur.
Bergegas kami berdua kembali mengenakan pakaian yang sudah terlepas dari tubuh. Iyem tidak sempat mengenakan celana dalam dan BH-nya, demikian juga aku yang tidak sempat mengenakan celana dalam sehingga kemaluan yang ereksi tampak jelas di balik celana pendekku. Setelah semua terlihat rapi aku segera masuk ke dalam kamar, dan Iyem menuju ke pintu depan.
“Kok lama tho Yem….” budhe Lilis memprotes.
“Maaf ndoro putri… Iyem lagi masak di dapur.
“Yo wis…. mana mas Andi kok tidak kelihatan….”
“Ada di kamar, ndoro”
Setelah mereka masuk, Iyem langsung kembali ke dapur, pakdhe dan budhe terus ke kamarnya.
Degup jantungku masih saja berdetak kencang, betapa malunya jika hal ini ketahuan mereka. Kemaluanku masih saja ereksi, tanggung banget rasanya.
Beberapa menit kemudian pintu kamarku diketuk.
“Dik Andi…. Dik…..” terdengar suara budhe Lilis sambil mengetuk pintu.
“Ya…..” jawabku sambil membukakan pintu.
“Kirain masih tidur…… sudah sarapan belum”
“Belum budhe….” jawabku sambil melihat keadaan sekitar. Sepi …. hanya budhe yang ada di hadapanku.
“Lho pakdhe mana ?”
“Pakdhemu langsung tidur…. habis minum obat” jelas budhe kepadaku.
Tiba-tiba mata budhe Lilis menatap bagian bawah tubuhku, dan kemaluan yang ereksi masih menyembul dibalik celana pendekku. Terlihat ekspresi wajah budhe memperlihatkan keterkejutannya. Tak kalah terkejutnya aku tatkala tangan budhe tiba-tiba meraba dan meremas kemaluanku.
“Lho… kok…..” katanya pendek sambil tersenyum.
“Iya….” jawabku singkat.
“Pagi-pagi kok sudah begini…. semalem kurang puas ya…?” bisik budhe tanpa melepaskan tangannya bahkan semakin aktif meremas-remas kemaluanku.
“Nggak juga sih….” jawabku gugup, sambil melihat kembali situasi di luar kamar.
“Tidak ada siapa-siapa…. ndak usah takut” bisik budhe menenangkanku. Remasan tangannya semakin aktif dan tak hanya itu, sekarang budhe Lilis memasukkan tangannya ke dalam celana pendekku. Remasannya semakin terasa pada kemaluanku yang sudah tegang dari tadi. Tak hanya remasan, kini gerakan naik turun mulai dilakukan budhe pada kemaluanku. Kocokan lembutnya membuat aku semakin tidak dapat menahan nafsuku. Nafasku mulai tidak teratur, jantung berdegub lebih cepat.
“Jangan budhe, nanti ketahuan….. ” kataku mengingatkannya. Budhe hanya menggelengkan kepalanya.
“Ndak ada siapa-siapa…. Iyem juga masih di dapur….”
Tiba-tiba terdengar suara panci jatuh dari arah dapur, kami berdua kaget bukan main, tangan budhe Lilis dengan reflek ditarik keluar dari dalam celanaku, dan budhe satu langkah mundur dari tubuhku. Tak lama kemudian tampaklah Iyem muncul dari dalam dapur dan berjalan ke arah kami.
“Ndoro… sarapan sudah Iyem siapkan…”
“Teeerima kasih Yem…” kata budhe terbata-bata, ”Ayo dik Andi kita sarapan dulu, ndak usah nunggu pakdhemu…” kata budhe sambil berjalan ke arah ruang makan.
“Iya budhe… sebentar”
Budhe Lilis telah masuk ke dalam ruang makan. Kini aku hanya berdua dengan Iyem. Ku lihat Iyem terus memandangi celanaku yang menggembung. Dengan penuh keberanian aku raih tangan Iyem dan ke sentuhkan pada kemaluanku. Iyem terkejut dengan apa yang aku perbuat. Setelah hilang rasa terkejutnya Iyem menatapku sambil tersenyum.
“Masih ‘ngaceng’ ya mas….” katanya berbisik sambil terus memegangi kemaluanku.
“Iya… Yem”
Masih menatap wajahku sambil tersenyum, tangan Iyem mulai meremas dan mengocok kemaluanku, akupun tak mau ketinggalan. Dengan segera kuremas-remas payudara montok di balik bajunya.
“Kamu belum pakai BH ya Yem….” bisikku
“Iya mas….. Iyem juga ndak pakai celana dalam” Iyem menjelaskan. Kami berdua tersenyum simpul.
“Eeheem…. eehheem…” terdengar suara budhe Lilis dari ruang makan, kami segera melepaskan tangan dan menghentikan kegiatan kami.
“Ayo sarapan dulu….” teriak budhe Lilis dari ruang makan.
Aku bergegas menuju ke ruang makan dan Iyem kembali ke dapur. Terlihat budhe Lilis baru saja duduk dan mulai mengambil nasi. Aku curiga dengan senyumannya. Pasti tadi beliau sempat melihat apa yang aku dan Iyem lakukan. Aku duduk di sebelah budhe, karena kursi makan hanya dua dan berdampingan.
Budhe Lilis masih tersenyum-senyum sambil menuangkan teh hangat pada cangkirku. Kecurigaanku bertambah dengan apa yang kulihat dari gerak-geriknya.
“Ada apa, kok budhe senyam-senyum terus….”
“Ndak….” katanya masih dengan senyuman,”Kamu tadi ngapain dengan Iyem…..”
“Oh… itu tho…..” jawabku singkat.
Aku segera bercerita tentang pengalamanku pagi ini dengan Iyem. Budhe Lilis memperhatikan sambil menyantap sarapannya. Sesekali tersungging senyuman di bibirnya.
“Oh pantes… pagi-pagi kok sudah ereksi…. budhe pikir semalem belum tuntas” kata budhe, ”Sekarang masih ereksi kan ?”
Tangan budhe menyusup ke dalam celanaku dan menemukan kemaluanku yang tegang. Dikocoknya perlahan-lahan. Aku hentikan acara sarapanku, kunikmati kocokan tangan budhe pada kemaluanku. Merasa kesulitan karena terhalang celana pendek maka aku menurukan celana pendekku sebatas paha sehinga kemaluanku dapat bebas mengacung dan budhe Lilis –pun dengan leluasa melakukan kegiatannya. Aku tidak tinggal diam, giliran tanganku menyusup dibalik roknya dan menemukan kemaluan yang terbungkus celana dalam tipis.
“Sebentar….” kata budhe.
Dilepaskannya tangan dari kemaluanku, demikian juga aku melepaskan tanganku dari sela pahanya. Budhe berdiri, melepas celana dalamnya dan segera duduk kembali. Kami langsung melakukan kegiatan yang sempat tertunda. Sekarang dengan leluasa jari-jariku dapat memaikan clitorisnya tanpa terhalang celana dalam.
Kami berdua saling menikmati. Kocokan tangan budhe terasa semakin dipercepat dan tangankupun semakin cepat juga menggosok clitorisnya. Nafas kami berdua semakin memburu, desahan-desahan nafsu terpaksa kami tahan agar tidak menimbulkan suara.
“Dik…. aku tidak tahan…. Ahhh… pingin banget ‘main’….” bisiknya
“Jangan…. nanti ketahuan….” jawabku mengingatkan.
“Biar…. paling Iyem yang tahu…. aku sudah ndak kuat….”
Budhe Lilis berdiri, kemudian beliau berdiri tepat di hadapanku. Dilangkahkan kaki diantara pahaku, dan diarahkan lubang kemaluanya pada kemaluanku yang tegang. Diruntunnya kemaluanku, perlahan-lahan mulai diturunkan pantatnya. Secara perlahan juga kemaluanku masuk kedalam lubang kemaluannya hingga habis. Sekarang dengan aktif budhe Lilis menggoyangkan pantatnya dan dengan aktif pula aku meremas-remas payudaranya. Kami semakin menikmati persetubuhan ini. Desahan budhe semakin hebat, beliau sudah tidak menghiraukan lagi desahannya yang menggema di ruang makan ini. Nafsu birahi telah menyelimuti akal sehatnya. Yang jelas pasti Iyem mendengar desahan budhe karena jarak ruang makan dengan dapur hanya terpisahkan oleh korden kain tipis.
Betul dugaanku, terlihat bayangan seorang perempuan di balik korden tipis. Jelas bahwa Iyem tengah asyik melihat persetubuhan kami. Dengan perlahan Iyem menyibakkan gorden dan tersenyum kepadaku akupun membalas senyumannya. Budhe Lilis tidak mengetahui hal ini karena posisinya membelakangi Iyem.
Dengan ganasnya budhe Lilis terus menggoyangkan pantatnya, akupun mengimbangi permainan yang semakin hebat ini. Diseberang sana Iyem me**nton adegan ini dengan mata tak berkedip. Dapat kulihat semburat merah wajah dan nafas Iyem yang tidak teratur menandakan Iyem sedang terangsang. Kini kedua tangan Iyem tampak meremas-remas sendiri payudara montoknya. Matanya mulai melek merem menikmati remasan yang merangsang payudaranya.
Budhe Lilis semakin mempercepat irama permainan, desahan nafsunya semakin hebat.
“Oouuggghhh…. akkkuuuu…. aaagghhh…” lenguhan panjang dan diiringi dengan kejang pada tubuh budhe Lilis menandakan orgasme wanita ini telah tercapai. Tangan budhe erat mencengkeram bahuku, tanganku berpegang pada pinggangnya dan dengan sekuat tenaga aku tusukkan kemaluanku sedalam mungkin kedalam kemaluan budhe Lilis. Beliau disela-sela orgasmenya kembali berteriak kecil.
“Aaaaggghhh……. ooouuuggghhhh” tubuhnya lemas lunglai seperti tidak bertulang lagi dan ambruk memelukku.
Mengetahui hal tersebut Iyem segera masuk kembali ke dapur. Tanggung, pasti Iyem sedang tanggung. Ditengah-tengah antara terangsang dengan penyaluran nafsunya. Aku hanya bisa melihat raut wajah Iyem yang kecewa.
Budhe Lilis Bergegas turun dari pangkuanku. Air mani meleleh dari sela pahanya, kemaluanku masih tegang dan mengkilat oleh cairan air maniku. Diambilnya celana dalam tipisnya, disekanya belahan kemaluan dan kini giliran kemaluanku dibersihkan dari sisa-sisa air mani.
“Kamu belum keluar ya dik…..?” budhe Lilis bertanya disela-sela kegiatan membersihkan kemaluanku.
“Belum budhe……”
“Mau dikeluarin sekarang…… budhe kocokin ya…?” tangannya mulai digerakkan naik turun.
“Ndak usah budhe…. nanti keburu pakdhe bangun….” larangku.
“Pakdhemu bangunnya nanti siang…. selagi obatnya bereaksi pasti tidak akan terbangun….” budhe Lilis menjelaskan.
“Budhe tahu ndak, tadi Iyem melihat persetubuhan kita…” kataku tenang.
“Haa….” hanya itu yang keluar dari mulut budhe Lilis menandakan keterkejutannya, “Yang bener dik….. terus….”
“Ya ndak apa-apa, si Iyem juga terangsang…… dia sempat merangsang dirinya sendiri……” jelasku
“Kasihan dia…. biar nanti budhe yang memuaskannya….”
“Sebenarnya sejak pagi tadi kami sudah terangsang kok budhe…. habis budhe pulangnya cepet…. jadinya tertunda”
“Pantes… tadi kalian saling meraba-raba… ya kan ?” budhe tersenyum.
“Bagaimana kalau Iyem diajak sekalian ke sini budhe….” saranku. Pikiranku mengajak mereka untuk Three Some alias ngesex bertiga.
“Hhmmmm… boleh juga, sekalian ngajarin dia…. sudah lama dia pingin ‘begituan’ dan aku hanya memberikan teori saja kepadanya” jelas budhe Lilis bersemangat, “Kalau begitu kita pindah saja ke dapur, dik Andi tunggu di sini sebentar terus nanti menyusul ya !”
Budhe Lilis mengedipkan matanya dan berjalan ke arah dapur. Aku kembali mengenakan celana pendekku.
Tak lama kemudian aku menyusul masuk ke dapur. Disana kulihat budhe Lilis tengah berciuman dengan si Iyem. Tampak mereka tidak hanya berciuman, tetapi tangan mereka juga tengah aktif saling menggosok kemaluan. Kebetulan posisi budhe Lilis tepat ke arahku sedangkan Iyem membelakangi. Budhe Lilis mengedipkan matanya memberi tanda kepadaku untuk segera bergabung. Tanpa komando lagi aku segera menghampiri mereka. Dari posisi belakang tanganku segera ku arahkan pada kedua payudara montok Iyem. Kuremas dengan lembut, kurasakan kekeyalan payudara perawan desa ini. Iyem sempat terkejut dengan ulahku, tetapi budhe Lilis tidak memberi kesempatan Iyem melepaskan bibir dari ciumannya.
Setelah mengetahui bahwa aku yang meremas payudaranya, mata Iyem kembali terpejam menikmati remasan-remasan lembut itu. Sekarang ku masukan tanganku di balik bajunya. Kutemukan bongkahan payudara yang montok dengan puting yang sudah mengeras tanda Iyem sudah terangsang hebat. Tidak hanya remasan, kini jari-jariku dengan leluasa memainkan puting payudaranya.
Dilepaskannya ciuman dari bibir budhe Lilis, desahan Iyem keluar dari bibirnya.
“Aahhh…. Oouugghh… eennnaakkk…. mmaasss”
Budhe Lilis melepaskan tangannya dari kemaluan Iyem, lalu dengan leluasa dia melepaskan kancing baju Iyem satu persatu. Terbukalah baju Iyem, tanganku terus beroperasi pada payudaranya. Budhe Lilis jongkok, dan dibukalah rok Iyem, sekarang Iyem sudah telanjang. Dengan segera budhe Lilis malakukan oral sex kepada Iyem. Tak puas dengan itu, budhe menurunkan celana pendekku sehingga kemaluanku mencuat keluar. Dengan tangan kanannya, diselipkan kemaluanku disela-sela paha Iyem. Kini tampak dihadapan budhe Lilis kemaluan Iyem dan sekaligus ujung kemaluanku. Dengan senyuman manis budhe Lilis kembali melakukan aksi oralnya. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Lidah budhe Lilis aktif menjilati clitoris Iyem sekaligus menjilati ujung kemaluanku. Goyangan pantatku maju mundur menghasikan gesekan pada kemaluan Iyem. Three Some kami semakin bertambah semangat. Aku hentikan kegiatan kami, aku lepaskan t-shirt dan telanjang, Iyem melepaskan bajunya, dan budhe Lilis juga melakukan hal yang sama. Sekarang kami bertiga sudah tidak lagi mengenakan berpakaian selembar benangpun.
“Katanya kamu pingin ‘ngemut’ kemaluan laki-laki…. sekarang kamu ‘ngemut’ milik mas Andi….” budhe Lilis memerintahkan Iyem untuk mengoral kemaluanku. Dengan sedikit ragu Iyem menggenggamkan tangannya dan memasukkan kemaluanku pada mulutnya. Perlahan-lahan ujung kemaluanku mulai keluar masuk mulut Iyem. Semakin lama ditambah dengan sedotan-sedotan kecil yang semakin membuat kemaluanku bertambah tegang. Pintar juga si gadis desa ini, pasti budhe Lilis yang mengajari teorinya. Karena posisi Iyem yang menungging dan mengoral kemaluanku, budhe Lilispun jongkok di belakang pantat Iyem. Satu tangan budhe Lilis terus menggosok-gosok kemaluan Iyem, sedangkan tangan yang lainnya menggosok kemaluannya sendiri. Tangankupun tidak hanya diam, kuraih payudaya montok Iyem yang bergoyang-goyang menggantung. Kuremas dan kupililn-pilin putingnya. Kami bertiga tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Permainan ini semakin terasa mengasyikan. Iyemlah yang paling merasakan efek permainan ini, bagaimana tidak, dia diserang dari depan dan belakang sekaligus. Dengan sesekali tersedak karena kemaluanku terlalu masuk ke dalam mulutnya, Iyem tetap saja dengan semangat mengenyoti ujung kemaluanku. Budhe Lilis tampak menikmati gosokan tangan pada kemaluannya yang sudah basah.
Beberapa saat kemudian kami bertiga berganti posisi, sekarang Iyem duduk di meja dapur dengan kaki dibuka lebar-lebar sehingga tampak olehku belahan kemaluan berwarna coklat kemerahan dikelilingi rambut yang tumbuh lebat, giliran budhe Lilis yang menunggingkan pantatnya dengan wajah tepat pada kemaluan Iyem. Dengan kaki yang dibuka lebar dari belakang aku tusukkan kemaluanku pada lubang kemaluan budhe Lilis. Kembali gelora nafsu bergejolak pada kami bertiga. Permainan semakin panas, kami saling menikmati permainan bertiga ini. Tampak kulihat mata Iyem yang melek merem menahan nikmat dan geli ketika lidah budhe Lilis menyapu clitorisnya. Diremas-remas payudara montok miliknya, sambil memilin puting susu yang mengeras. Budhe Lilis semakin aktif menggoyangkan pantatnya seirama dengan tusukan kemaluanku.
Beberapa menit berlalu, Iyem memegang kepala budhe Lilis dan menekan kepala itu pada kemaluannya. Dengan wajah mendongak ke atas dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya, tubuh Iyem mengejang.
“Aaagggh… nnndoorooo…. Iiiiyemmm ….ooougghhh”
Orgasme hebat melanda gadis desa yang lugu itu. Kenikmatan tiada tara, terihat Iyem menggigit bibirnya menahan kenikmatan yang luar biasa.
Tak lama berselang budhe Lilis menyusul Iyem. Dirapatkannya kaki, sehinga paha budhe Lilis dengan erat menjepit kemaluanku yang sedang aktif bergerak. Tangan budhe dengan erat mencengkeram paha Iyem karena menahan dorongan kenikmatan puncak persetubuhan ini.
“Aaahhh…. nnniikkkmmmat…… uuuhhh” lenguhan panjang mengakhiri kontraksi otot vagina budhe Lilis.
Melihat mereka berdua sudah mencapai orgasme, maka kupercepat irama tusukan kemaluanku. Sekarang mulai terasa denyutan-denyutan pada kemaluanku.
“Aahh…. oouugghhh….”
Akhirnya akupun tak dapat menahan desakan air mani yang memancar hebat, menyemprot beberapa kali di dalam kemaluan budhe Lilis.
Kami bertiga berpelukan, dengan senyuman puas atas permainan sex kami. Kecupan kecil saling kami berikan satu sama lain. Dengan komitmen bersama bahwa kita akan selalu merahasiakan permainan ini pada siapapun.
Setelah kami bertiga membereskan pakaian yang terserak dan mengenakannya kembali, suasanapun kami bangun seolah-olah tidak pernah ada adegan three some di dapur ini.
“Aku keluar dulu ya…. badanku jadi lemes dan ngantuk…. aku nyusul pakdhe-mu…” kata budhe dengan wajah sayu. Budhe Lilis berjalan keluar dari dapur, aku langsung menuju ke kamar mandi, dan Iyem kembali melanjutkan aktivitasnya. Gila, liburan cuti tahunanku kali ini diisi dengan pengalaman yang sangat berkesan dan penuh dengan kejutan.

Setelah selesai mandi, aku segera keluar dari kamar mandi. Segar sekali badan rasanya setelah tenaga terkuras dalam permainan gila pagi ini.
Tak kuduga, di depan pintu kamar mandi pakdhe Bekti hanya mengenakan sarung sudah berdiri dengan keringat mengucur dan wajah merah padam.
“Lho, sudah bangun dhe..” sapaku menghilangkan rasa terkejut.
“Iya nDi….. Ayo gantian….” katanya sambil tersenyum.
Aku tersadar, dan kupersilakan pakdhe Bekti untuk masuk ke kamar mandi.
Aku berjalan menuju ke kamarku, di lorong dapur aku berpapasan dengan Iyem. Iyem melihatku dengan senyuman manisnya.
“Mas Andi….. sudah puas…… ?” katanya sambil tersenyum menggoda.
“Iya…Yem….. puas sekali….” jawabku sambil mencubit lengannya.
“Kapan-kapan Iyem pingin ‘begituan’ dengan mas Andi… tapinya jangan sama ndoro putri… Iyem pingin berdua saja…..” katanya lugu.
“Iya Yem… nanti kalau ada kesempatan pasti mas Andi puasin Iyem….” kataku sambil mengedipkan sebelah mata.

“Iyem… kesini nduk…..” tiba-tiba terdengar teriakan pakdhe Bekti dari dalam kamar mandi.
“Ya ndoro…..” teriak Iyem sambil berlari kecil menuju kamar mandi, “Ada apa ndoro…..”
“Sini nduk… masuk sini….”
Suara pakdhe terdengar jelas di telingaku. Aku menjadi penasaran, mengapa Iyem harus masuk ke kamar mandi?.
Pasti akan terjadi sesuatu. Dengan rasa penasaran aku mengendap-endap mendekati kamar mandi. Iyem sudah tidak terlihat lagi, berarti dia sudah bersama pakdhe di dalam kamar mandi ini. Dengan penuh ketenangan aku dapat mengintip melalui lubang kecil pada papan. Dengan jelas ku lihat keadaan di dalam kamar mandi. Terlihat pakdhe Bekti yang telanjang dan Iyem berada di hadapannya dengan wajah terkejut sambil menutupi mulutnya.
“Yem…. lihat Yem…. kemaluanku sedikit ‘ngaceng’…..” kata pakdhe sambil memamerkan kemaluannya.
“Iya…ndoro…. berarti ndoro sudah hampir sembuh….” kata Iyem gembira.
“Tulung nduk…. dikocokin…. ndoromu pingin banget…..” ujar pakdhe.
“Lho… kan ada ndoro putri…. ?”
“Ndoromu sudah tertidur…..” pakdhe segera meraih tangan Iyem dan menggenggamkan pada kemaluannya.
“Weeh… sudah lumayan keras ndoro… tidak seperti kemarin….” kata Iyem sambil melakukan gerakan mengocok kemaluan ndoronya.
“Ouughhh… eeennnaakkk…. Yeemmm” mata pakdhe melek merem merasakan nikmat.
Tangan Iyem terus melakukan gerakan naik turun, mengurut-urut kemaluan pakdhe Bekti. Terlihat kemaluan pakdhe semakin membesar, Iyem-pun dengan lebih semangat melakukan aksinya. Tiba-tiba pakdhe menekan pundak Iyem, sebagai isyarat agar pembantunya berjongkok. Dengan senyuman manis Iyem-pun mengetahui maksud dari ndoro kakungnya.
Sekarang posisi wajah Iyem tepat pada kemaluan pakdhe yang sudah tegang. Segera dilahapnya kemaluan itu masuk ke dalam mulutnya. Oral sex segera dilakukannya demi kepuasan sang ndoro kakung.
Sedotan demi sedotan, kemaluan pakdhe keluar masuk mulut Iyem.
“Oouggghh… enakkk … Yeemmm…. kkaammu..pinteerr … bangeeet ngeeemuutnyaa… aahhhh” tangan pakdhe aktif memegangi kepala Iyem yang maju mundur mengoral kemaluannya.
“Ssuuudddaahhh… Yyeemmm…. jjjaannggan sampaiii kkkelluuaarrr….” kata pakdhe sambil menahan kepala Iyem.
Iyem menghentikan gerakan, dan segera mengeluarkan kemaluan pakdhe dari mulutnya.
“Lho kok sudah ndoro….” katanya heran.
“Jangan Yem… aku pingin ‘main’dengan ndoro putrimu… sejak menikah aku belum pernah memasukkan kemaluanku ini ke dalam miliknya….” pakdhe berkata sambil mengenakan sarungnya.
Aku segera menyingkir dan bersembunyi di dapur. Dan kulihat pakdhe dengan tergesa-gesa keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya.
Setelah aman aku kembali menuju ke kamar mandi. Terlihat Iyem dengan wajah terkejut melihat kedatanganku.
“Lho… mas Andi…. kok masih di sini ?”
“Iya.. Yem… aku tahu semuanya…..”
“Mas Andi ngintip ya… ?”
Aku hanya menganggukkan kepala. Aku raih tangan Iyem dan menariknya keluar dari kamar mandi.
“Ayo Yem…. kita intip mereka…. aku pingin tahu bagaimana orang tua itu menjalani hubungan sex mereka”
“Ahh… mas Andi ini ada-ada saja….”
“Oyo cepetan….. nanti keburu selesai….”
Iyem tidak me**lak, dan kami berdua segera menuju ke kamar pakdhe. Setelah mendapatkan tempat yang strategis, aku dan Iyem bergantian mengintip karena lubangnya hanya satu.
Waktu kami mengintip, adegan sudah berlangsung. Pasti pakdhe langsung saja ‘main’ tanpa melakukan pemanasan kepada budhe, ini terbukti bahwa budhe masih mengenakan daster dan celana dalamnyapun masih menggantung pada kaki sebelak kiri. Posisi pakdhe berada di atas tubuh istrinya, dengan semangat ia memompa keluar masuk kemaluannya. Dengan nafas ngos-ngosan dan mata melek merem. Budhe Lilis seolah-olah tidak menikmati permainan ini, ia hanya memberikan semangat kepada suaminya.
“Aayyyooo… paakkk….. terrrusss……. baappaakkk… ssuudaahh mmullaaii hhheebbaatt….”
“Iyyyaa bbbuuu…. ggaaraa-gaaraaa kkkallliaan bertiga mmaainn diii daappuurr…..”
Lho… jadi pakdhe tadi mengintip kegiatan kami bertiga…. wuaduh… aku malu banget…. tapi mengapa tadi pakdhe tidak marah ? Jangan-jangan ini sudah direncanakan oleh budhe Lilis ?
“Mas … gantian…..” bisik Iyem menyadarkanku.
Sekarang giliran Iyem yang mengintip ke dalam kamar. Dengan posisi nungging terlihat bongkahan pantatnya yang seksi. Aku hanya bisa melihat ekspresi wajah Iyem yang sedang terangsang. Melihat ini aku segera mengeluarkan kemaluanku yang sudah tegang dan mengesek-gesekan pada bongkahan pantatnya. Iyem terkejut, ia memandangku dengan tersenyum.
“Mas Andi pingin ya….?”
“He eh…” aku hanya mengangguk
“Tapi jangan dimasukin ya mas…. Iyem masih perawan…”
“Ndak Yem…. digesek-gesek saja…..”
Iyem segera menyibakkan roknya, kulihat bongkahan pantat yang montok, putih mulus dilapisi celana dalam cream. Tanganku segera menurunkan celana dalamnya sebatas paha, dan menyelipkan kemaluanku di sela-sela pahanya hingga permukaan kemaluanku bersentuhan dengan bibir kemaluan Iyem. Iyem merapatkan pahanya, sekarang kemaluanku benar-benar rapat bersentuhan dengan kemaluannya. Pada posisi seperti ini Iyem melanjutkan kembali acara mengintipnya dan aku segera menggesek-gesekkan kemaluanku dari belakang.
Suara di dalam kamar semakin seru, demikian juga aku dan Iyem yang ada di luar kamar. Seolah-olah kami bermain sex bersama-sama tetapi dibatasi oleh pintu saja.
Setelah beberapa menit terdengar olehku lenguhan orgasme pakdhe Bekti, seketika itupun Iyem segera melepaskan pandangan dari lubang.
“Ndoro kakung sudah selesai…..” bisiknya lirih
Aku yang sedang menikmati gesekan pada kemaluanku segera sadar.
“Ayo…kita pindah Yem….” bisikku
“He..Eh…”
Kami segera meninggalkan pintu kamar, dan menuju ke dapur. Di sana kami melanjutkan kembali aktivitas yang tertunda.
Sekarang posisi Iyem berhadapan denganku, dan kemaluanku segera ku selipkan di sela pahanya. Dengan posisi ini tanganku bebas meremas dan memilin puting payudara gadis lugu ini. Iyem memejamkan matanya menikmati gesekan dan remasan yang aku lakukan.
“Oohhh…… eeennaakkk… mass” bisik Iyem di telingaku.
“Iiiyyyaa…. Yyeemm”
Dengan lincahnya Iyem menggoyangkan pantatnya seirama dengan gesekan kemaluanku pada sela pahanya. Irama ritmis semakin meningkat, tangan Iyem semakin erat mencengkeram lenganku. Digigit bibir mungilnya menahan desakan yang semakin hebat….
“Mmmaass….. Iiyeemmm…. mmmaauuu…..”
“Aayyyoo… Yyyeeemmm… aakkkuu jugaa…”
Belum selesai aku mengatakannya, sprema dengan kuat menyemprot diantara jepitan paha Iyem. Demikian juga pembantu pakdheku, jepitan pahanya semakin diketatkan dan tubuhnya melengkung ke belakang dengan ekspresi wajah menahan kenikmatan…..
Akhirnya kami berdua mendapatkan kenikmatan secara bersama-sama. Tubuh kami bersimbah keringat, nafas masih tak beraturan.
“Terima kasih Yem…..” kataku sambil mengecup keningnya.
“Sama-sama mas…. baru sekarang Iyem bisa menikmati puncak yang demikian hebat…..” jawab Iyem dengan senyum manisnya.

Hari ke dua di rumah pakdhe Bekti.
Sore ini aku berencana akan pamit pulang, karena masa cutiku sudah hampir habis. Aku sudah mengemasi pakaian dan siap untuk berpamitan. Di ruang tamu sudah duduk pakdhe dan budhe Bekti.
“Pakdhe … Budhe….. Andi mohon pamit…. terima kasih sudah diperkenankan nginep di sini…”
“Duduk dulu nDi…..” kata pakdhe, “Seharusnya pakdhe yang mengucapkan terima kasih……”
“Lho… kan harusnya saya yang jadi tamu…..” protesku
“Sebelumnya pakdhe minta maaf, tanpa sepengetahuan kamu…. aku dan budhemu merencanakan sesuatu….”
“Sesuatu apa dhe ?” tanyaku penasaran
“Aku ingin sekali membahagiakan budhe-mu tetapi karena sakit gulaku pakdhe ini ndak bisa apa-apa” pakdhe mulai bercerita.

Karena impoten maka pakdhe tidak bisa berhubungan badan dengan istrinya, jalan satu-satunya adalah menggunakan lelaki lain untuk melakukan hal tersebut. Kebetulan kamu datang, dan rencana yang pernah kami susun akhirnya dapat menjadi kenyataan. Budhe-mu sempat protes, tapi kan kamu bukan orang lain dan akhirnya dia setuju.

Pakdhe melihat semua adegan kalian bertiga waktu di dapur. Pakdhe bahagia sekali ketika melihat budhemu orgasme…. pakdhe memakluminya karena sudah lama sekali budhemu tidak merasakan kemaluan laki-laki. Kamu tahu sendiri tho, kalau punya pakdhemu ini tidak bisa ‘ngaceng’…..
Dan karena ngintip kalian bertiga, tiba-tiba punya pakdhe jadi terangsang…. dan untuk pertama kalinya kemaluan pakdhe dapat memasukki punya budhemu….. Untuk yang terakhir pakdhe berpesan kepadaku untuk dapat menyimpan rahasia ini rapat-rapat.

“Andi berjanji dhe…. dan aku ikut bahagia karena telah dapat membantu pakdhe dan budhe walaupun harus dengan berhubungan badan….” kataku bangga.
“Baiklah nDi…. pakdhe ingin kamu tetap dapat melayani budhemu…. biarlah dia pergi ke Bandung untuk dapat melakukannya denganmu…… pakdhe percaya kamu dapat memuaskan budhemu….” kata pakdhe dengan senyuman.

Akhirnya aku tinggalkan kota Solo dengan perasaan bahagia. Dan kembali bekerja dengan penuh semangat.

Comments are closed.