Please…Say Hello to Me Tomorrow…

“Alfoooonn!! Alfooooooooonnn!!! Kamu dimana?!”. Nada suara yang sangat familiar yang selalu kudengar tiap hari.

Naya : Oh, disana rupanya…

Alfon : Apaan sih teriak-teriak? masih pagi gini…

Naya : Gini…aku mo ngomong! Penting!

Alfon : Apaan?

Naya : (sambil berbisik ditelingaku) Aku yakin, tadi malam aku abis ML sama seseorang…

Alfon : (diam sejenak) Oh ya? siapa emangnya?

Naya : Heee…Lupa..

Alfon : Ya elah…kalo gitu apa yang bikin kamu yakin tadi malam kamu abis ML sama seseorang?

Naya : (dengan nada sedikit berteriak) Soalnya spermanya masih berserakan di atas perutku waktu aku bangun tadi pagi…

Jelas aja aku kaget dengar dia teriak gitu. Langsung aja aku pegang kepalanya dan sedikit kudorong kebawah.

Alfon : Pelan2 dikit ngomongnya napa? kedengeran ama orang lain baru tau…!!

Naya : eh, iya…maap maap…

Alfon : Bukannya kamu punya diari? jadi apa gunanya tuh diari kalo ga kamu pake…

Naya : itu dia…tadi pagi aku udah buka diariku…tapi ga ada soal yang tadi malam itu…

Alfon : (diam sejenak) ya udah deh…udah mau masuk nih…duduk ke tempatmu sana…

Yah…begitulah Naya, cewek manis yang udah jadi temanku sejak kecil. Dia mengidap kelainan ingatan yang menurutku cukup merepotkan karena kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan yang lalu. Semenjak kecelakaan itu, Naya akan lupa semua hal yang dialaminya dihari sebelumnya setelah dia bangun di pagi hari berikutnya (kayak Drew Barrymore di film 51st Date). Pasti susah untuk tetap melanjutkan sekolah dalam keadaan seperti ini. Dia memang cewek yang kuat. Kelainannya ini sih nama kerennya ‘Short Time Memory Lost’. Tapi biarpun begitu, dia masih tetap ingat dengan apa yang dia punya, apa yang telah dia alami, dan orang2 yang dia kenal sebelum kecelakaan itu terjadi. Untungnya dia udah punya Diari. Sebenarnya diari yang dia punya sepasang dengan punyaku. Diari yang aku belikan tepat saat kencan pertama kami, hanya beberapa jam sebelum kecelakaan tersebut menimpanya. Malangnya, Kecelakaan itu membuat dia lupa kalo kami udah pacaran.

Ketika jam pulang…

Naya : Eh, Alf, aku rasa orang yang ML denganku tadi malam kayaknya anak sekolah kita juga deh…

Alfon : (terdiam sejenak sambil melihat ke arah Naya)

Alfon : Yeah…? Anyone I Know?? (dengan nada malas)

Tiba2 Naya menginjak kakiku dan memasang tampang sebel…

Alfon : Adaawww!! Kenapa musti nginjak kakiku, sih?

Untuk beberapa saat, suasana diantara kami jadi senyap. Tak ada satu orangpun yang mulai bicara.

Naya : Gimanapun Alf, meskipun aku udah ga virgin lagi, tapi dalem hatiku aku masih tetep Virgin…jadi aku ga mau terlalu mempermasalahkan hal ini, kok…lagian biarpun aku udah ML berapa kalipun tiap malam, toh besoknya aku ga ingat apa2.

Akupun terdiam mendengar kata2nya. Entah kenapa kata2nya ini begitu menusuk ke hati.

Alfon : Gimana kalo kita jalan2 dulu sore ini. Siapa tau kamu ntar jadi ingat sesuatu.

Naya : Ayo…!!

Nayapun menggandeng tanganku. Memang untuk hal ini dia udah ga malu lagi, soalnya kami udah temenan sejak kecil. Lagian sifatnya yang agak manja membuat dia selalu merasa ingin dilindungi olehku. Kami menghabiskan sore Sabtu itu jalan2 kaki berkeliling, sampai menjelang senja barulah kami pulang ke rumah.

Ketika hendak memasuki pintu rumahnya…

Naya : Alf…makasih untuk semuanya, ya…Mungkin kalo ga ada kamu, kayaknya sehari-hari aku ga bakal bisa hidup kalo ga dibantuin sama kamu. Well, jadi kalo aku bangun besok pagi, aku harap aku ga lupa sama kamu. Kamu juga ga lupa sama aku, okey?

Lagi2 aku terdiam…entah mo jawab apa…

Alfon : Kamu mau aku bantuin?

Naya : Hah?

Alfon : (agak gugup) yaaah, mungkin kalo aku bantu kamu dengan mengambil sisa2 keperawananmu, baik dihati ato dibagian yang sebenarnya, mungkin kamu bakal ingat siapa yang ML sama kamu kemaren malam…

Naya : (mukanya memerah…kemudian dia sedikit menunduk malu-malu…) O..okey…

Diapun membawaku masuk ke kamarnya. Aku mengunci pintu kamarnya lalu meletakkan tasku begitu saja dilantai. Dan akupun naik ke tampat tidurnya. Perlahan Naya membuka kemeja sekolahnya. Tapi begitu kemejanya terbuka, ia masih malu2 dan menutupi dadanya dengan kedua tangannya.

Naya : enngg…Alf, biarpun ini bukan yang pertama buat aku, tapi pliss kamu pelan2, ya…

Alfon : Oke…

Nayapun memejamkan matanya dan sedikit menyodorkan bibir mungilnya itu ke arahku…Akupun menciumi bibir mungilnya itu. Ciuman itu begitu basah dan hangat. Kamipun mulai memainkan lidah. Karena nafsuku sudah terlanjur memuncak, aku menaikkan tanganku ke arah dadanya, kugenggam kedua tangannya, dan kubuka tangan yang menutupi dadanya itu. Dan tinggallah dada yang indah yang ditutupi bra hitam polos. Akupun mulai meremas dadanya pelan. Diapun mulai mendesah biarpun kami masih tetap berciuman. Desahannya semakin terdengar ketika aku membuka bra-nya dan meremas lagi dada indah yang kini telanjang itu. Akupun melepas ciumanku dan mulai mengarahkan mulutku ke Dadanya. Aku mulai dengan menciumi lehernya, terus turun ke bahu, hingga akhirnya tiba di dadanya. Aku mulai menciumi dadanya, kemudian menjilati putingnya yang masih berwarna merah muda itu, lalu kemudian menghisapnya. Desahan Naya semakin kuat. Kami tak terlalu cemas karena memang hari itu dia tinggal sendirian. Tak hanya menghisapnya, akupun kadang2 menggigit putingnya pelan. Dan dia berteriak kecil ketika aku menggigit putingnya.

Puas dengan putingnya, akupun mengarahkan seranganku ke arah bawah. Kurogoh ke balik roknya dengan tanganku, dan kumainkan Vaginanya dengan tanganku. Vaginanya sudah terasa basah dan hangat. Akupun menurunkan posisi badanku ke bagian bawah badannya. Kubuka resleting roknya dan kutarik kebawah. Begitu juga dengan celana dalamnya. Hingga terpampang didepanku Vaginanya yang berwarna merah muda dan menyembul. Aku mulai memainkan Vaginanya dengan jari telunjuk tangan kiriku. Pertama aku hanya mengusap-usapnya dibagian luarnya, sementara mulutku menjilati tubuhnya mulai dari pusarnya, turun ke daerah pubis, dan terus sampai ke Vaginanya. Akupun menemukan Klitorisnya. Kujilati klitorisnya sedangkan jariku mulai memainkan liang Vaginanya. Naya semakin menjadi-jadi. Desahannya makin tak karuan, badannya mulai gemetar dan mengeluarkan keringat. Sekali-sekali ia mengangkat-angkat pinggulnya. Dan mungkin karena saking nikmatnya, suaranya seperti tertahan.

Karena sudah tak tahan lagi, aku tak mau memperpanjang waktu lagi. Segera kuturunkan celana sekolah dan celana dalamku. Penisku sudah dari tadi terhunus tegang. Aku tak mau memintanya melakukan oral sex terlebih dahulu kepadaku, meskipun temanku yang lain seperti sudah wajib melakukan hal itu ketika ML dengan pacarnya masing2. Bagiku Mulutnya hanya untuk mulutku. Aku tak mau mengecap rasa penisku sendiri.

Tanpa pikir panjang, akupun mulai mengambil posisi. Kemudian aku mulai menurunkan pinggulku. Penisku mulai masuk ke liang Vaginanya perlahan-lahan. Naya mulai mendesah kembali. Peniskupun masuk seutuhnya, kemudian mulai kugerakkan pinggulku maju-mundur perlahan. Kulihat Naya menggenggam alas tempat tidurnya erat2. Mukanya seperti menahan sakit dan mendesah pelan. Akupun menaikkan kecepatan pinggulku. Desahan Naya semakin keras, bahkan sedikit berteriak.

Semakin lama permainan kami semakin panas. Naya bahkan sudah 2 kali Orgasme. Kemudian, dia meraih bahuku, menarikku kebawah dan kemudian memelukku, sambil merintih. Sekarang posisinya Missionary. Tapi tetap saja aku tak melambatkan permainanku. Dan akhirnya, mulai terasa. Sesuatu terasa menganjal di Penisku, rasanya penisku makin panas dan mau meledak. Akupun menggenjot Vaginanya sekencang-kencangnya hingga akhirnya aku menarik keluar penisku dari vaginanya bersamaan dengan teriakan Naya. Spermaku pun memuncrat keluar dengan liarnya. Mengotori perut Naya, Bahkan ada sedikit yang sampai ke mukanya. Akupun segera menyeka Spermaku yang sampai ke muka Naya.

Naya memandangku lesu, air matanya terlihat mengalir. Tapi kemudian dia tersenyum

Naya : Maaf, ya Alf. Ini bukan yang pertama kali buatku…

Akupun merebahkan badanku disampingnya dan mengarahkan pandanganku menjauh darinya.

Alfon : Mau bukan yang pertama kali, kek. Mau yang ke seratus kali, kek, Emangnya aku peduli?

Naya memainkan punggungku dengan jari-jarinya, dan kemudian tertawa kecil.

Naya : Aw aw…kamu cemburu, ya…??

Aku tak bisa membalas ucapannya. Aku juga tak bisa berbalik memandang wajahnya. Aku tak sanggup memandang wajah polosnya yang meminta Maaf padaku. Karena sebenarnya ini sudah yang ketujuh kalinya aku Making Love dengannya.

Ya, ceritanya dia pernah ML dengan seseorang belakangan ini sebenarnya akulah orangnya.

Setelah kami merapikan bekas perbuatan kami, akupun permisi pulang. Dia mengantarku sampai ke depan rumahnya.

Alfon : Anyway, kamu ga mau nulis yang tadi di Diari kamu?

Naya : Kayaknya ga perlu deh. Biarpun besoknya aku bakal lupa. Tapi biarlah. Yang penting aku sama kamu udah pernah menyatu. Biar ini kusimpan dihatiku aja.

Alfon : (kata2nya membuatku tertegun. Rasa sedihku membuatku merasa ada sesuatu yang mencekik leherku) Terserah kamu aja, deh…ya udah, aku pulang, ya?

Naya : Ya..hati2 dijalan, ya…

Alfon : Bye…(sambil membalikkan badan)

Naya : Bye…eh, Alf…!!

Alfon : Ya? (aku membalikkan badanku lagi)

Naya : Please, Say Hello to Me tomorrow!

Alfon : Oke..you got my word.

Say Hello to me Tomorrow…kata perpisahan yang selalu dia ucapkan setelah kami berpisah sehabis Making Love. Biarpun dia ga pernah mencatat kejadian kami Making Love, tapi aku selalu mencatatnya di diariku

Esoknya, Minggu, aku datang kerumahnya disore hari untuk belajar bersama. Tapi tentu saja dengan kata2 yang sama aku kembali mengajaknya ML denganku. Dan diapun setuju.

Namun hari ini sedikit berbeda, setelah aku selesai bermain dengannya, dia bertanya kepadaku, “Alf, apa kita pernah ML sebelumnya?”.
Aku sedikit kaget mendengar kata2nya. Namun dia segera menjawab, “Eh, kalo kamu ga jawab juga ga apa2, kok. Toh besok juag aku bakal lupa”. Kata2nya membuatku tidak tahan lagi. Akupun segera memeluk tubuhnya, air mataku sedikit menetes.

“Tapi aku ga bakal pernah Lupa, Nay!!”, teriakku.

Naya juga ikut menangis. “Oke, Alf…”, jawabnya. Ia memelukku erat.

Setelah membereskan sisa2 perbuatan kami, akupun permisi pulang.
Aku menanyakan hal yang sama tiap harinya, “Anyway, kamu ga mau nulis yang tadi di Diari kamu?”. Dan jawabannya pun selalu sama.

Tapi ada suatu hal yang beda.

Naya : Alf…!!

Alfon : ya?

Naya : Love you! See you tomorrow!

Aku terdiam dan kemudian melambai kepadanya sambil pergi. Hari ini dia tidak menghantarkan kepergianku dengan “Say Hello to me Tomorrow” seperti biasanya.

Esoknya Hari senin. Waktunya sekolah kembali….

Naya : Alfoooonn!! Alfooooooooonnn!!! Kamu dimana?! Oh, disana rupanya…!!

Alfon : Apaan sih teriak-teriak? masih pagi gini…

Naya : Gini…aku mo ngomong! Penting!

Alfon : Apaan?

Naya : (sambil berbisik ditelingaku) Aku yakin, tadi malam aku abis ML sama seseorang…

Rasanya kali ini aku merasa menyesali keadaan yang terjadi. Apa tiap hari harus seperti ini?

Alfon : (dengan nada Lesu) Oh ya? dengan siapa emangnya?

Naya : Probably…with Him…!

Naya mengucapkannya sambil menunjuk, halaman pertama sebuah Diari…
Astaga!!! kataku dalam hati ketika aku melihat halaman yang ditunjuk Naya. “Alfon Only”, itu yang tertulis disana. Jelas itu Diariku. Apa aku salah bawa? Pikirku dalam hati. Dengan salah tingkah aku melihat kedalam tasku. Ternyata aku memang salah bawa. Tentu saja dia sudah membaca semua isi diariku. Karena memang kebiasaanya sebangun tidur langsung membaca diari karena sudah ku Program di Reminder-nya. Aku hanya bisa senyum2 cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalaku karena malu. Mukaku memerah. Naya juga ketawa kecil, sambil menutup mulutnya dengan diariku.
“Jadi…mau main ke rumahku lagi nanti malam?”, kata Naya sedikit merayuku…

“hee..hee…O..oke..”, jawabku sedikit gugup….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s