Daun Muda

Pelajaran untuk murid istriku

Siang itu betul2 panas, luar biasa .., setelah seharian berkeliling mencari order, tentunya enak sekali untuk meneguk segelas air dingin sambil bersantai di kamar ..

“ Ma .. ? “ seruku sambil membuka pintu kamar. “ Kosong ? “ pikirku sambil bergerak masuk.

“ Ya sayang .. aku sedang mandi nih “, suara istriku dari dalam kamar mandi “ Kok udah pulang ? “

“ Iya .. kebetulan nggak terlalu rewel kliennya .. jadi bisa cepat” sahutku ringan sambil melepas sepatu dan jaket.

Sambil melepas kemejaku, aku mengetuk pintu kamar mandi “ Buka dong Ma, mau cuci muka nih .. panas banget .. “

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, aku mendorongnya sedikit dan beranjak masuk kamar mandi .

Fang fang, istriku terlihat masih membersihkan sisa2 busa di rambutnya, nampaknya dia habis keramas, tercium wangi shampoo memenuhi kamar mandi.

Melihatku masuk dia tersenyum kecil, sambil mengulungkan hand shower ditangannya .. “ NIh Pa, aku udah selesai kok .. “

Aku menerimanya cepat lalu mulai membasuh mukaku . . hmm, segar .. air dingin yang keluar dari hand shower itu segera saja menyingkirkan semua rasa gerah di tubuhku .. “ kayanya enak juga mandi siang2 ya Ma .. “ ucapku sambil membuka pakaian.

“ Memangnya mau kemana kok mandi siang2 ?” tanyaku.

“ Ada private kan Pa, si Agus jam 3 nanti datang mau les Photoshop ..” Jawab istriku sambil membantuku membuka pakaian. Setelah lepas semua pakaianku, dia membantu menyiramkan air shower sambil menggosok punggungku.

Istriku memang berprofesi sebagai pembimbing di sebuah sekolah computer kenamaan di kota, di waktu senggang dia memberi les private untuk anak2 di kost kami. Agus itu salah satu muridnya, masih duduk di kelas 2 SMP, tidak terlalu pandai, tapi latar belakang keluarganya tidak begitu mampu, Istriku menerimanya sebagai murid hanya karena ingin membantu keluarganya saja supaya anaknya bisa memiliki kemampuan lebih.

“ Agus ya Ma .. sudah bisa apa dia ? “ tanyaku.

“ Hari ini jadualnya belajar editing foto .. “ Jawab istriku sambil menggosokkan busa sabun ke tubuhku.. nyaman sekali rasanya. Sambil dimandiin tak urung aku menelusuri tubuh telanjang istriku yang masih sibuk meratakan busa sabun. Di usianya yang ke 29 tahun ini dia memang betul2 cantik dan seksi. Dengan tinggi 165 dan berat 37 Kg, tubuhnya betul2 proporsional dan enak dilihat.

Terlebih dengan kulitnya yang putih mulus seperti layaknya gadis keturunan cina, dan buah dada 34B yang menggantung padat di dadanya ..

“ Kok bangun Pa ? .. “ celetuknya geli waktu melihat kemaluanku bergerak naik .. “ Iya Ma .. habisnya Mama seksi sekali kalau basah2 gini ..

“ Jawabku sambil meraba buah dadanya. Istriku tersenyum lebar, tangannya sekarang malah ikut membelai kemaluanku yang sudah mulai mengeras ..

“ Mau usil ya ? .. “ Candanya mesra, lalu sambil membersihkan sisa2 sabun di tubuhku dia mendekatkan bibirnya .. “ Nanti malam aja Pa .. kan si Agus mau datang”

Aku memeluknya mesra, lalu kucium bibir indahnya dengan nafsu yang mulai naik. “ sebentar kayanya bisa kok Ma .. sudah terlanjur naik nih .. “ Istriku tertawa kecil, tapi dia tidak menolak waktu aku menekan tubuhnya ke bawah ..

“ Dikulum atau gimana nih Pa .. biar cepat ? “ tanyanya. Aku tersenyum saja, lalu aku posisikan penisku diantara buah dadanya yang montok. Sisa2 air yang masih membasahi kulitnya membuat penisku dapat bergerak cukup licin menyusuri dua bukit kembar yang indah itu, tangan istriku ikut membantu menekannya dari sisi luar sehingga gundukan buah dadanya menjepit erat kemaluanku.

“ Enak Ma ..” desahku sambil mengamati penisku sendiri bergerak keluar masuk dari sela2 gumpalan daging kenyal yang luar biasa indah itu. Istriku tersenyum, dia membantu dengan ikut bergerak naik turun, membuat kenikmatan yang kurasakan semakin meningkat.

“ Dimasukkin aja ya Ma .. “ Pintaku sambil menarik istriku bangun. “ Pa .. Agus keburu datang lho ..” protes istriku waktu aku menghadapkannya ke dinding dan mulai menarik pinggulnya naik. “ Sebentar kok Ma .. ini tadi juga udah mau keluar, tapi kurang sreg kalau nggak keluar di dalam .. “ bisikku sambil menggesekkan penisku di bibir vaginanya .. “ sshhh .. Pa .. “ Desah istriku waktu aku mulai memasukkan penisku dan menggoyangnya pelan.” Enak Ma ..” Bisikku sambil menekan penisku masuk sedalam2nya.

Tanganku yang satu menarik pinggul istriku sambil aku gerakkan penisku keluar masuk, sementara tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya. Aduh, nikmat sekali .. Pemandangan tubuh telanjang istriku yang setengah membungkuk dengan pantatnya yang menungging itu makin menambah gairah di dadaku.

Bahkan setelah 7 tahun berpacaran dan 1 tahun menikah, masih saja aku terpesona oleh keindahan tubuhnya.

“Pa .. enak banget Pa .. “ Istriku mendesah sambil menoleh, tangannya yang satu berpegang ke dinding, dan tangannya yang lain ikut meremasi sendiri buah dadanya. Pinggulnya sekarang ikut bergerak mengimbangi ayunanku .. “ Iya Ma .. enak banget .. “ Aku menjawab sambil memperkuat sodokan penisku, sekarang kedua tanganku mencengkeram erat kedua bongkahan pantat istriku sambil terus aku hujamkan kemaluanku keluar masuk semakin cepat.

Lagi2 pemandangan batang kemaluanku yang bergerak keluar masuk liang vagina istriku membuatku semakin bergairah. “ Sshh .. Pa .. “ Istriku mendesah pelan waktu aku menggesekkan jempolku di tepi liang duburnya .. dia memang suka sekali kalau aku merangsangnya di daerah itu, meskipun kami berdua tidak pernah mencoba sex anal .. tetapi belaian dengan jari, kadang hingga masuk ke duburnya sama2 membuat kami makin terangsang.

Mendadak … “ tok tok .. Selamat Siang Tante .. ? “ Suara ketokan pintu dan panggilan serentak menghentikan gerakan kami.

“ Aduh .. Pa .. tuh kan si Agus datang .. “ Istriku berseru panic, tanpa kompromi dia menarik lepas pinggulnya dan langsung menyambar pakaiannya .. “ Ma .. “ protesku, tapi istriku sudah bergegas memakai kembali pakaiannya “ Nggak usah dipakai Ma .. gitu aja .. “ Bisikku sambil menahan waktu dia mau memakai celana dalamnya “ Biar nanti bisa langsung lanjut .. “ ucapku nakal sambil merebut juga BHnya .

“ Pa .. ? aku kan mau kasih private ?? .. “ Protes istriku.

“ Nggak apa .. biarin aja, kan ketutup baju” Sahutku nakal “ Biar lebih kerasa sensasinya .. nih dipakai bajunya terus keluar .. “ Tukasku sambil mengulurkan kimononya.

“ Papa .. “ sahut istriku manja .. tapi tetap saja dipakainya kimono merah muda itu. “ Awas nanti ya .. “ sungutnya sambil membuka pintu kamar mandi. Aku tersenyum saja sambil menutup kembali pintu dan menghidupkan kembali kran shower. Siraman air dingin yang mengguyur kepalaku sedikit banyak membantu meredakan sisa2 nafsu yang masih menggumpal di kepalaku.

Tak lama, setelah selesai mandi, aku memakai kaos dan celana pendek, kemudian berjalan ke ruang depan. Istriku dan Agus sudah terlihat sibuk di depan computer, anak itu terlihat serius sekali memperhatikan Istriku memberi beberapa teori yang kemudian dipraktekkannya di layar computer.

“ Ini gunanya untuk mengatur resolusi foto Gus .. untuk bisa di edit, foto harus punya resolusi yang cukup tinggi supaya tidak pecah kalau nanti mau di cetak” Terang istriku sambil menunjukkan icon yang dimaksudnya.

Si Agus terlihat mangut2 saja sambil mencoba memahami keterangan istriku. “ Nah sekarang coba kamu cari foto untuk kamu edit dulu ya seperti yang Tante ajarkan .. Tante mau kedepan dulu menjemur pakaian “

Pamit istriku sambil beranjak bangun.

Setelah dia pergi, aku lihat si Agus mulai membuka2 beberapa folder foto untuk mencari gambar yang cukup menarik untuk diolah. Beberapa kali dia membuka foto lalu menutupnya lagi karena kurang menarik .

“ Serius lho Gus .. nanti nggak bisa2 kalau kamu nggak semangat gitu .. “

Kataku sambil mengambil tempat duduk di belakangnya. Aku sendiri lalu ikut duduk tak jauh dari tempatnya sambil membuka2 koran hari itu.
Beberapa saat aku lirik anak itu belum juga mendapat foto yang sesuai, nampaknya dia sendiri kurang begitu berminat dengan pelajaran itu.
“ Kamu cari foto yang gimana Gus ? .. “

“ ..mm .. nggak tahu nih Om .. “

“ Sini Om cariin .. “ Aku tutup koranku dan ikut mendekat .. beberapa lama mencari, mendadak timbul ide nakal di kepalaku “ Tahu nggak berita foto artis bugil yang di internet itu Gus ? ..” Tanyaku.

“ Eh .. iya Om ..” Jawabnya, mukanya yang awalnya bosan mendadak bersinar senang, dasar anak laki2, gerutuku. “ Itu kan juga hasil editan computer .. mau coba buat yang kaya gitu ?”

Tanyaku sambil mulai membuka folder foto2 artis JAV koleksiku. “ I .. iya Om, yang foto gitu aja .. kan lebih realis ya ? .. “ Jawabnya buru2, dasar, bilang aja lebih asyik … “ Nih .. foto ini aja yang kamu edit .. “

Ucapku sambil membuka salah satu foto Sora Aoi dengan pose duduk dan dada membusung.

“ Waaahh .. cantik Om .. “ seru Agus sambil matanya tak lepas dari layar monitor .. “ Kamu nggak pernah lihat yang ginian ? “ tanyaku heran .. “ Belum Om .. kan dirumah nggak punya computer .. “

“ Nggak pernah ke warnet ? “ Tanyaku lagi .. “ Nggak pernah Om .. paling juga ke PS ..” Jawabnya polos, sambil matanya tetap memelototi layar monitor.

“ Ya ampun, dasar gaptek kamu nih .. sudah, berhenti melototnya .. ini foto ini, kamu gantiin kepalanya pakai foto yang lain .. “ Sahutku sambil membuka beberapa folder foto lain .. “ Eh .. gini aja, coba gantiin bagian leher ke atas foto ini dengan foto Tante Fang ya .. “ Ucapku sambil tersenyum geli .. lalu aku buka salah satu foto istriku dengan pose yang mendekati sama.

“ Eh .. nggak apa Om sama Tante ? “ Agus bertanya bingung, aku menggeleng saja sambil tersenyum “ Nggak apa, yang penting hasilnya bagus dan editannya halus nggak apa kok, kan yang penting pelajarannya, bukan fotonya .. “ Jawabku sambil mengembalikan keyboard dan mouse ke padanya.

Tak lama anak itu sudah aktif menggerakkan mouse dan keyboard dengan jari2nya, memang kalau obyeknya menarik pasti lah lebih semangat juga yang mengerjakan. Batinku geli, sambil aku mulai melanjutkan membaca Koran.

“ Lho .. Gus ? kok ngedit gambar gituan ? .. “ Tiba2 saja suara istriku terdengar, dia melihat layar computer dengan ekspresi heran dan kaget “ Siapa yang kasih gambarnya ?? “ Tanyanya dengan nada keras.

“ Om .. yang kasih ..Tante .. katanya nggak apa buat latihan .. “ Jawab anak itu sambil setengah ketakutan, dia melirikku meminta dukungan.
“ Iya Ma .. nggak apa, tadi si Agus kurang semangat kalau obyeknya pemandangan, makanya aku kasih yang lebih menantang .. “ Jawabku sambil menarik istriku menjauh.

“ Biarin Ma .. aku dulu juga waktu SMP kaya gitu .. semangat banget kalau lihat body cewek telanjang .. nggak apa .. kalau nggak kita yang nunjukin juga dia pasti lihat di tempat lain .. “ Bisikku sambil tersenyum.

“ Ngawur papa nih .. kalo orang tuanya tahu gimana ? “ Protes istriku masih dengan muka tegang.

“ Gus .. jangan bilang siapa2 lho ya .. nanti kalau ketahuan orang Om nggak bisa kasih lihat kamu gambar lain yang lebih asyik .. “ Seruku sambil melihat Agus. “ Iya Om , nggak akan .. tapi nanti lihat lagi gambar yang lain ya Om .. “ Agus menjawab dengan ekspresi senang. “ Iya, asal kamu janji jaga rahasia .. “ Jawabku sambil mengacungkan jempol. “ Aman Ma .. “

“ Huu .. dasar .. Papa dan Agus ini sama nakalnya .. “ Sungut istriku sambil mendekati Agus.

“ mm .. lumayan nih editanmu Gus .. tapi disini kamu motongnya kurang bagus .. masih terlihat kaku .. “ Istriku mengambil alih mouse dari tangan anak itu lalu mulai memberi contoh bagaimana melakukan editing yang benar.” Nih .. kan .. setelah dipotong lalu kamu posisikan gambar kepalanya di tempat potongan yang sama .. “

Sekarang gambar potongan kepala istriku sudah melekat di foto tubuh telanjang Sora Aoi .. pas, mantap sekali .. memang buah dadanya masih tidak sebesar itu, tapi sekilas terlihat mirip sekali dengan aslinya ..

“ Wah .. pas tuh Ma … mirip kaya aslinya .. “ celetukku iseng … Istriku melirikku manja. Agus sendiri melihat foto telanjang dengan wajah istriku mendadak seperti punya imajinasi sendiri .. dia melirik sesekali tubuh istriku dan membandingkannya dengan gambar di layar computer.

“ Kenapa Gus ? .. nggak percaya ya ? .. “ tanyaku geli .. “ Eh .. nggak kok Om, tapi fotonya seperti bener2 sungguhan .. “ Jawabnya gugup.
“ Aslinya lebih bagus Gus .. “ Istriku menyahut singkat, sambil melirikku nakal .. “ Kalau kamu pengen, boleh kok lihat aslinya .. “ Kontan aku terperanjat mendengar celetuk nakal istriku.

“ Ma .. ? “ seruku sambil menatap istriku tajam

“ Lho katanya mau memenuhi obsesi masa SMP Pa ? .. sekalian aja dong .. papa dulu kan nggak ada yang sukarela nunjukin body telanjangnya kan ? .. bayangin aja sekarang Papa yang jadi Agus .. “ jawab istriku ringan sambil melirik Agus “ Gimana Gus .. pengen nggak ? “

Bisik Istriku dengan nada menggoda sambil menyentukan bahunya ke bahu Agus.

Karena posisinya yang membungkuk di samping Agus yang sedang duduk dengan tangan tergantung memegang mouse di meja, otomatis sentuhan bahunya itu membawa dadanya ikut menggesek sisi lengan anak itu. Dan aku cukup yakin, sentuhan buah dada yang hanya terlapis kain satin tipis tanpa pakaian dalam itu pastilah disadari Agus, walaupun usia anak itu belum genap 13 tahun.

Agus gelagapan .. antara senang dan takut dia melirikku yang masih diam keheranan, lalu dia melirik gambar di layar lagi dan kembali memandang tubuh istriku. Fang Fang tersenyum kecil, tangannya lalu menarik sedikit kain kimononya ke luar dan membiarkan belahan di bagian tengah kimono itu terbuka sedikit hingga ke atas perut .

Tentu saja dengan posisinya yang sedikit membungkuk, sisi samping buah dadanya segera saja terlihat indah, menggantung padat dengan bentuknya yang bulat , walaupun ujung putingnya masih tertutup oleh kain kimononya. Agus kini tidak lagi melirik, matanya melihat tajam ke tengah bagian kimono yang terbuka itu, menelusuri kemulusan kulit pundak, dada hingga perut istriku yang masih terlihat rata.

“Mau nggak Gus .. ? .. boleh kan Pa ? “ godanya manja, sambil melirikku yang masih diam tidak mengerti.

Entah pembalasan dari keisenganku atau ada alasan lain, aku juga tidak mengerti, tapi suasana yang terjadi sekarang ternyata juga membuat gairahku mulai naik. Godaan yang dilakukan istriku pada anak SMP itu sedikit banyak membuatku ikut tergoda juga.

“ Nggak apa Gus .. asal antara kita aja ya .. jangan sampai orang lain tahu .. “ Bisikku pelan.

“ I .. iya Om .. mau tante, mau .. “ Seperti mendapat durian runtuh mendengar restuku, Agus langsung menatap istriku sepenuhnya dengan penuh harap.

“hihi .. Papa tergoda juga ya .. “ Istriku tertawa menang, dia lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Agus sepenuhnya sambil membuka tali pengikat kimononya.

“ Tahan napas ya .. tante buka sekarang .. “ Fang Fang tersenyum nakal, setelah dilepaskannya tali pengikat kimono itu, pelan2 seperti penari yang sedang bergaya, dia menyibakkan kain satin tipis yang membungkus tubuhnya .

Kimono tipis itu merosot pelahan melewati bahunya,membuka bagian pundak dan dada atasnya yang putih sempurna. Seperti disengaja, dia menahan jatuhnya kain itu sesaat sebelum seluruh payudaranya terbuka, gumpalan buah dadanya yang penuh terlihat montok menyembul dari sela – sela kain yang tertahan oleh dua tangannya. Aku melirik Agus yang terpana penuh harap, terlihat sekali ada kekhawatiran di matanya kalau Istriku membatalkan niatnya membuka pakaian.

Tapi Fang fang Cuma tersenyum geli, sebelum kemudian melepaskan pegangan tangannya dan kain tipis itu jatuh terlipat di atas pahanya, meninggalkan sosok seorang wanita cantik dan molek yang membiarkan tubuh atasnya terbuka bebas untuk dinikmati.

Dua laki2 didepannya terlonggong penuh takjub melihat pemandangan luar biasa yang terhidang lepas itu, tubuh telanjang yang putih mulus dengan sepasang buah dada yang montok dan padat bergantung di bawah lehernya yang jenjang.

Aku melirik Agus yang masih diam tak percaya, mulutnya setengah terbuka melihat istriku duduk santai didepannya dengan tubuh atas sama sekali telanjang. Aku yakin, dalam mimpi pun dia tidak akan pernah terbayang akan punya kesempatan melihat tubuh indah gurunya seperti ini.

“ Gimana Gus .. sama dengan di foto itu nggak ? .. “ Istriku bertanya menggoda, tangannya bergerak membelai buah dadanya sendiri, menekannya ke tengah sehingga gumpalan daging yang memang sudah membusung itu terlihat semakin indah.

“ Lebih indah dari di foto .. tante .. badan tante bagus sekali .. “ Agus menyahut pelan, matanya masih tidak lepas mengamati buah dada istriku.

“ Memangnya kamu belum pernah melihat wanita telanjang .. ?” Istriku bertanya, seolah tanpa beban dia bergerak mendekat kea rah Agus yang masih duduk diam di dekat computer.

“ Pernah tante .. Agus pernah mengintip Ibu yang sedang mandi … juga Kak Wati .. tapi badannya tidak seperti tante .. susunya melorot .. “ Jawab anak itu polos, di sahut tawa kecil istriku.

“ Masa Kak Wati sudah melorot Gus ? .. kan kakakmu masih SMA ? “ Jawabku sambil ikut mendekat.

“ Ini susu tantemu masih kencang kok, padahal sudah 29 tahun .. “ tambahku sambil tanganku ikut meremas buah dada istriku dengan nakal. Sensasi menyadari istriku menunjukkan tubuh indahnya didepan seorang anak SMP ternyata menimbulkan gairah tersendiri dalam hatiku.

Istriku sendiri diam saja, dia tidak menolak waktu aku meremasi buah dadanya, nampaknya dia juga merasakan sensasi lain dari perlakuanku itu.

“ Iya Om .. Kak Wati susunya kecil kok .. tidak seperti tante .. “ Agus menjawab setengah terbata .. matanya berubah iri melihat aku meremasi buah dada istriku .. “ Mau ikut pegang Gus ? .. “ Tanyaku, lalu tanpa meminta persetujuan istriku, aku menarik tangannya dan menekannya di dada istriku yang terbuka.

“ Ahh .. Pa ..? “ Istriku mendesah kecil, agaknya dia tidak mengira aku akan mengizinkan tangan lain menyentuh dadanya .. Agus sendiri yang khawatir istriku akan menolaknya malah buru2 meremas buah dada istriku dengan gemas .. kontan istriku menjerit kecil, antara sakit dan geli .. “ Aduh .. pelan2 Gus, tante nggak melarang kok .. tapi pelan aja ya .. “

“ I .. iya tante ..” merasa mendapat angin, anak SMP itu lalu beranjak duduk di samping istriku, lalu mulai melanjutkan kegiatannya meremasi dada istriku.

Aku sendiri lalu berpindah ke belakang istriku, menopangnya dari belakang sambil tanganku ikut ambil bagian dalam kegiatan meremasi dadanya.

Istriku nampaknya sudah benar2 menikmati perlakukan itu, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, membiarkan Agus yang sekarang sudah makin berani memilin2 putting susunya. Perlahan aku merangsang bahu dan lehernya dengan ciuman2 kecil untuk makin membangkitkan gairahnya. Dan istriku membalasnya dengan desahan sambil membusungkan dadanya, membuat Agus makin bernafsu meremas dan bermain dengan dua bola daging yang kenyal itu.

“ Cium aja Gus .. hisap putingnya .. “ Bisikku disambut lirikan manja istriku dan cubitan mesranya.

Agus tidak membuang waktu lebih lama lagi, langsung melaksanakan perintahku dengan segera. Dia bahkan tidak hanya menciumi buah dada istriku, tapi berusaha mencaploknya dengan mulutnya yang kecil. Istriku terpekik pelan, nampaknya dalam gemasnya, anak SMP itu tidak sengaja menggigit daging buah dadanya, meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih.

“ Pelan2 Gus .. nikmati aja ya .. jangan buru2 “ Bisik istriku pelan sambil membelai kepala Agus yang masih terbenam diantara buah dadanya. Agus melirik saja dengan ekspresi yang tidak karuan terbakar nafsunya sendiri. Sekarang dia menjilati putting susu istriku dengan ujung lidahnya sambil sesekali dihisapnya dengan gemas. Melihat kelakuannya yang makin nakal itu nafsuku dengan cepat merayap naik sampai ke puncak, sisa2 gairah yang belum tertuntaskan dari persetubuhan di kamar mandi tadi sekarang bergolak tanpa kendali.

Perlahan, sambil masih menciumi leher istriku aku menurunkan celanaku dan menarik keluar kemaluanku dari dalamnya. Melihat itu istriku rupanya segera tanggap, dia segera menggenggam dan mengocoknya lembut. Aku tidak peduli lagi betapa aku melakukannya didepan anak smp yang notabene adalah murid istriku, yang aku inginkan sekarang adalah kenikmatan yang tadi masih belum puas aku reguk.

Cepat aku ciumi bibir istriku, lidahnya yang menyentuh bibirku dengan ganas aku hisap dan aku kulum. Membuat dia pun makin aktif mempermainkan penisku di dalam genggamannya.

Tiba2 dia menggelinjang geli .. “ Aduh .. Gus .. apa2an sih .. “ serunya sambil tertawa kecil.

Aku menghentikan ciumanku dan melirik kebawah. Rupanya sambil menciumi buah dada istriku, tangan anak itu nakal menyusup ke bawah kimono istriku, dan karena memang istriku tidak mengenakan pakaian dalam, jari2 anak itu langsung menyentuh vaginanya yang terbuka.

“ Aduh .. kamu nakal banget sih Gus .. “ protesnya sambil menahan tangan Agus, tapi dari suaranya aku tahu kalau sentuhan kecil tadi sudah membangkitkan gairah nafsu di dalam dadanya.

Agus melihatku penuh harap .. dan akupun berpikir sejenak, seandainya yang melakukan itu adalah orang seumurku mungkin aku tidak akan berpikir 2 kali untuk menghajarnya .. tapi melihat anak ingusan ini menjadi begitu bernafsu dengan tubuh istriku, aku justru ingin melihat sejauh mana anak ini akan melampiaskan keinginannya.

Maka perlahan aku menarik kimono istriku ke samping, Fang fang melihatku dengan tanda tanya, tapi aku hanya membalasnya dengan ciuman mesra di bibir sambil tanganku membuka kimononya lebar2 ke samping.

Kini tubuh istriku sudah sama sekali terbuka. Agus yang duduk terpana di antara kaki istriku kini bisa melihat tubuh istriku sepenuhnya. Dari lehernya yang jenjang, buah dadanya yang menggantung padat, perutnya yang rata dan celah vaginanya yang dihiasi bulu2 lebat …

Anak itu betul – betul memuaskan seluruh rasa ingin tahunya, sekarang dia bahkan merosot turun dari kursinya, dan memposisikan kepalanya tepat diantara bukaan paha istriku.

Matanya tidak lepas mengamati belahan vagina istriku yang aku sangat yakin, saat ini sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Istriku sendiri, sekarang malah memejamkan matanya, mungkin terjebak antara rasa malu menyadari muridnya tengah mengamati bagian paling pribadinya, dan sesasi yang makin kuat menaikkan gairahnya.

Aku kembali menciumi bibirnya, Agus yang melirikku hanya aku beri isyarat anggukan kecil saja untuk melanjutkan kegiatannya.

Dari sudut mataku aku melihat anak itu menunduk, tangannya yang satu mendorong paha istriku membuka ke samping dan jarinya bergerak mengorek2 lubang vagina istriku.

Fang2 menggigit bibirnya, dia nampak menikmati sekali melihat seorang anak SMP bermain2 dengan vaginanya. Dua kakinya tanpa dikendalikan bergerak membuka, memberi ruang seluas2nya untuk Agus mengamati dan menikmati bagian paling intimnya itu.

Aku bergerak menyamping, membiarkan istriku kini berbaring dengan relax, tanganku kini beralih meremasi buah dadanya dari depan. Ciumanku ikut turun dari pundak dan lehernya, kini mengarah pada buah dada dan putting susunya. Makin melengkapi rangsangan yang dirasakan istriku.

Dan detik berikutnya waktu aku melirik kebawah lagi, aku melihat Agus sudah mulai memasukkan 2 jarinya ke liang vagina istriku, mendorongnya sebentar kemudian menariknya keluar dengan pelan masih sambil mengamati pangkal paha istriku. Nampaknya sensasi melihat jari – jarinya bermain – main di dalam vagina gurunya memberikan kenikmatan sendiri bagi anak itu..

“ Cium di bagian ini Gus .. dan hisap sedikit sambil kamu dorong jarimu keluar masuk .. “

Bisikku sambil membuka lapisan daging yang menutup klitoris istriku. Agus mendekatkan bibirnya dan mulai mengulum dan menghisap tonjolan kecil itu. Istriku mendesah pelan, pinggulnya bergerak naik turun merespon kenikmatan yang dirasakan dari hisapan anak itu. Dan merasakan cumbuannya berhasil, Agus makin bersemangat mempermainkan jarinya keluar masuk liang vagina istriku.

Aku mengimbanginya dengan ciuman dan remasan di buah dada istriku, gumpalan daging putih itu segera saja berubah kemerahan akibat remasan2 tanganku. Dan Fang2 sekarang sudah betul2 bernafsu, dia mendesah desah sambil mengangkat pinggulnya. Permainan tangan Agus dan hisapannya nampaknya berhasil membawanya hampir ke puncak kenikmatan.

“ Gus .. minggir dulu ya .. “ Aku memberi isyarat Agus untuk menyamping, anak itu menatapku setengah memprotes. Tapi aku mendorongnya ke depan untuk kembali bermain dengan buah dada istriku, dan dia menurut.

Istriku tersenyum, dia nampaknya cukup mengerti kalau percumbuan ini sudah membuat kemaluanku betul2 mengeras. Melihat Agus yang nampak sedikit kecewa permainannya terhenti, dia merangkul anak itu dan menciumnya. Tangan lentiknya lalu bergerak menyentuh pangkal paha anak itu.

“ Buka celananya Gus .. Tante mau lihat burungmu .. “ bisiknya.

Dan seperti mendapat hadiah nomplok, anak itu segera saja memelorotkan celananya dan duduk mengangsurkan penisnya. Fang2 tersenyum, dia membelai batang kemaluan kecil itu dan pelan2 mulai mengocoknya. “ Sering ngocok sendiri ya Gus ? ..” godanya sambil tersenyum.

Agus tersenyum saja, mukanya terlihat mulai merah merasakan kenikmatan kocokan istriku.

Tangannya mulai aktif kembali meremasi buah dada istriku sambil seselali bermain dengan putingnya.

Aku sendiri segera mengambil posisi dipangkal paha istriku, kemaluanku yang memang sudah sangat keras segera saja aku tarik keluar dari celana kolorku dan aku gesekkan di bibir vagina istriku yang sudah sangat basah itu.

“ Ssshh … aduh, Pa .. “ desah istriku waktu aku dorongkan kemaluanku masuk.

Kocokannya pada kemaluan Agus terlihat semakin cepat terbawa oleh kenikmatan yang dirasakan dari gesekan penisku di vaginanya.

Agus terlihat makin bernafsu meremasi dada istriku, kini dia mulai menciumi buah dada istriku dengan liar, tidak lagi malu – malu seperti sebelumnya. Bahkan sekarang terlihat anak itu tidak saja focus pada buah dada istriku tapi mulai bergerak menciumi leher dan bahunya, nampaknya dia berusaha meniru apa yang tadi aku lakukan.

Fang fang mendesah saja, tangannya membelai rambut tipis anak itu sambil tangannya tetap bermain dengan kemaluan kecil digenggamannya. Dia bahkan menyambut ciuman Agus yang mulai mendarat di bibirnya dengan hisapan penuh nafsu.

Aku mempercepat gerakan pinggulku. Kedua kaki istriku aku naikkan ke pundakku, memberi akses maksimal pada kemaluanku untuk masuk sedalam2nya ke liang vagina istriku. Pemandangan istriku bermesraan dengan anak umur belasan tahun itu betul2 memberikan sensasi yang aneh di dadaku. Ada kecemburuan .. tapi yang paling kuat justru rangsangan yang makin kuat memompa birahiku.

Tidak puas dengan posisi misionaris ini, aku menarik pinggul istriku dan memutarnya, mencoba membawanya ke posisi doggy style.

“ Pah .. susah kalau posisi gini Pah ..” Protes istriku sambil melepaskan kemaluan Agus dan mendorongnya sedikit menyamping. Anak itu ikut menatapku heran, dia berdiri saja di samping istriku dengan penisnya yang masih mengacung tegak.

“ Pindah ke ranjang aja Ma .. bisa kok .. Si Agus biar ganti posisi lain aja .. “ Aku memberi isyarat Agus untuk bergerak ke ranjang, sambil aku dorong juga istriku ke sana. “ Aduh .. Papa .. aneh2 aja maunya .. “ Protes istriku manja, sambil naik ke tempat tidur , “ Kamu mau gimana Gus ? “ tanyanya sambil melihat Agus yang masih duduk saja di tepi ranjang.

Agus diam saja, dia menatap istriku yang mulai memposisikan dirinya merangkak di atas ranjang, nampaknya dia terpesona sekali melihat gumpalan payudara istriku yang tergantung lepas di dadanya dan bergoyang – goyang sedikit oleh gerakanku yang mengambil posisi di belakangnya.

Agus mengulurkan tangan kecilnya dan mulai lagi bermain dengan buah dada istriku dari sisi samping. Jari- jarinya bergerak meremas dan memilin putting susu istriku dengan gemas. Tapi karena posisi istriku yang merangkak dengan dua tangan menopang tubuhnya, tentu saja tidak ada ruang lagi untuk dia melanjutkan mengocok penis anak itu.

“ Sini Gus, kamu baring aja di bawah tante ya ..” tarik istriku sambil menegakkan tubuhnya, memberi ruang pada anak itu untuk berbaring diranjang. Aku melihatnya saja dari sela – sela pundak istriku, penisku yang panjang masih mengacung tegak menanti posisi yang pas untuk menyelip masuk.

“Iya .. Tante .. “ Agus menjawab pelan, sambil mulai berbaring di ranjang. Setengah bingung dia nampaknya, tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Istriku tersenyum lebar melihat keluguan murid kecilnya itu, dia lalu menempelkan dadanya sedemikian rupa hingga buah dadanya kini menjepit kemaluan anak itu, lalu pelan – pelan digesekkannya turun naik.

Agus menatapnya dengan wajah tegang, tentu saja pengalaman yang luar biasa ini membuat matanya tidak bisa lepas melihat ke bawah. Gurunya yang muda dan cantik, menggesekkan payudaranya naik turun di pahanya .. penis kecilnya terlihat naik turun menyusuri lereng bukit dada yang putih dan mulus itu dengan indahnya.

“Kamu tekan sendiri pakai tangan Gus .. penismu kecil, jadi susah nyelipnya di dada Tante .. “ protes istriku pelan sambil masih sedikit mengangkat tubuhnya.

“ I .. iya tante .. “ Agus menjawab tersendat, dia lalu meraih buah dada istriku dan meremasnya dari sisi samping, merapatkan belahan dadanya untuk menjepit penisnya lebih erat lagi.

“ Nah .. terus kamu goyangin sendiri ya .. kasihan tuh Om-mu susah mau masukin kalau Tante goyang – goyang terus .. “ Kata istriku sambil tersenyum dan melirikku mesra.

“Iya Tante .. “ Agus menyahut singkat, pinggulnya bergerak naik turun sekarang, membawa penisnya bergerak keluar masuk jepitan buah dada istriku. Remasan jarinya kini terlihat semakin mantap, membuat dada istriku terlihat makin penuh membusung, erat menjepit kemaluan kecil ditengahnya.

“ Nah .. gitu .. enak kan .. “ Istriku berbisik pelan setengah tersengal, nampaknya dia mulai terangsang juga dengan perlakuan anak itu dengan buah dadanya. Pinggulnya kini sudah menungging sempurna, liang vaginanya terlihat basah terbuka, siap untuk dimasuki.

Akupun tidak menunggu lama segera menyusupkan penisku dan mendorongnya perlahan masuk.

“ Ssh .. Pa ..” desahnya sambil menggigit bibir, terlihat sekali wajahnya memerah dipenuhi gejolak kenikmatan yang dirasakannya. Aku mulai mengayunkan pinggulku, makin lama makin cepat.

Ini pertama kalinya kami bersetubuh dengan cara ini, melibatkan satu orang lagi selain kami berdua. Jujur kalau yang terlibat adalah orang dewasa, aku belum tentu bisa menerimanya, tapi karena yang terlibat disini hanya anak 12 tahun .. yang menurutku belum sepenuhnya memahami .. aku justru bisa menerimanya sebagai bentuk variasi permainan yang menyenangkan ..

Aku mempercepat goyanganku , penisku yang panjang kini terlihat mulai basah oleh cairan vagina istriku, tapi itu justru makin melicinkannya bergerak keluar masuk dengan lancar. Sesekali kurasakan vagina istriku berkedut menambah kenikmatan jepitannya.

Agus sendiri, melihat aku menyetubuhi istriku dari belakang rupanya juga ikut terangsang, dia makin erat menjepit buah dada istriku dan mengayunkan penisnya. Gabungan sensasinya meremasi buah dada gurunya yang montok dan gesekan kulit halus di penisnya nampaknya begitu nikmat dia rasakan. Terlihat dari caranya melihat dan mulutnya yang setengah terbuka.

Istriku terlihat makin resah dengan desahannya, jari – jarinya yang lentik terlihat sibuk meremasi kain sprei, mencoba mengekspresikan kenikmatan ditubuhnya, disamping juga berusaha agar tidak terlalu terdorong kedepan oleh ayunanku yang semakin keras.

Aku masih menikmati sensasi ini kurang lebih selama 15 menit ke depan, ketika kulihat Agus makin kencang mengayunkan penisnya. Wajahnya terlihat bingung dan nikmat bercampur menjadi satu. Lalu sesaat kemudian dia melepaskan penisnya dari jepitan buah dada istriku dan menggenggamnya kuat – kuat dengan jarinya.

Terlihat cairan putih mengalir keluar dari sela2 jarinya. Tidak banyak, tapi terlihat sekali kepuasan memancar dari matanya. Hmm .. cukup bagus dia tidak menyemprotkan spermanya di dada istriku .. pikirku lega .. rupanya masih tahu diri juga dia untuk tidak sembarangan mengotori tubuh mulus gurunya ini.

“ Sudah ya Gus .. “ bisik istriku sambil tersenyum.

“ Iya Tante .. enak banget .. “ jawab anak itu malu – malu sambil menyisih ke samping, tangannya masih menggenggam penisnya yang sudah mulai berhenti memuntahkan cairannya.

“ Sana cuci dulu dikamar mandi .. “ suruhku sambil masih mengayunkan pinggulku maju mundur.

“ Iya Om .. “ jawabnya, sambil berjalan ke kamar mandi matanya tidak lepas memperhatikan penisku yang masih bergerak keluar masuk ke vagina istriku.

“ Pa .. aku keluar Pa .. “ erang istriku sambil menunggingkan pantatnya. Punggungnya sedikit melengkung ke atas dan pinggulnya bergerak gerak, berputar dan naik turun dengan cepat, menandakan dia sudah mencapai orgasmenya.

“ Aku juga Ma .. aah. . aduh .. “ Jawabku sambil menyodokkan penisku dalam2, terasa ujung kemaluanku berkedut kedut nikmat, menyemprotkan spermaku banyak banyak kedalam rahim istriku, mungkin lebih keras dan lebih banyak dari yang biasanya aku alami.

“ Enak banget Ma .. “ Aku menjatuhkan tubuhku ke punggung istriku yang kini berbaring telungkup di ranjang. Sesekali masih aku gerakkan pinggulku, mendorong penisku masuk lebih dalam untuk mengambil sisa – sisa kenikmatan yang masih ada.

“ mmm … iya Pa .. enak banget .. “ Bisik istriku pelan sambil tersenyum. Tangannya meraih kepalaku dan mendorongnya lebih merapat. Ku kecup lembut bibirnya dengan mesra. Sisa – sisa keringat yang masih mengucur ditubuhnya menambah aroma kemesraan yang kami rasakan.

Betul2 sensasi baru yang pertama kalinya kami alami .. tapi sepertinya tidak akan jadi yang terakhir. Sedikit gila mungkin .. tapi entah kenapa, terasa begitu sensasional dan menggairahkan. Kami bermesraan beberapa lama sebelum menyadari kalau si Agus sudah kembali dari kamar mandi. Anak itu sekarang duduk saja di kursi sambil mengamati kami yang masih berpelukan di atas ranjang.

“ Gus, ambilin tissue dong .. “ Pintaku sambil beranjak bangun. Anak itu segera meraih kotak tissue yang ada di atas meja dan membawanya mendekat.

Aku mendorong paha Istriku sedikit melipat ke atas, membuka celah di pangkal pahanya lebih melebar, kemudian perlahan aku tarik keluar penisku. Cairan putih nampak mengalir keluar dari liang vaginanya yang masih terlihat sedikit melebar.

“ Tolong bersihin vagina Tante tuh .. “ Suruhku sambil tersenyum, istriku tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat ke-usilanku.

Agus bergegas mendekat, menggantikan posisiku, tangannya buru2 merobek beberapa tissue dan mengelapkannya di vagina istriku yang masih terlihat basah oleh sisa – sisa sperma.

Aku meninggalkannya melangkah ke kamar mandi , bersih – bersih sedikit, sambil melirik apa saja yang dilakukan si Agus dengan kesempatan unik yang aku berikan itu.

Anak itu terlihat serius membersihkan pangkal paha istriku, cermat sekali di usapnya setiap inci dari liang vagina itu dengan tissue yang dipegangnya. Setelah lembar pertama yang dibawanya basah, cepat digantinya dengan lembar berikutnya, dan diulangnya mengusap bagian pangkal paha dan sisi paha dalam istriku sampai betul – betul bersih.

Istriku membiarkannya saja, dia menurut saja waktu Agus mendorong tubuhnya ke posisi telentang.

Sekarang anak itu terlihat memijit – mijit kaki istriku dengan penuh kasih sayang, di urutnya perlahan betis mulus istriku dengan lembut dan pelan, seperti orang yang sedang berpacaran saja.

Istriku menikmati pijitan itu dengan tersenyum senyum kecil, dia sekarang berbaring telentang, buah dadanya yang montok dibiarkan saja terbuka, membusung ke atas, membuat Agus semakin betah saja dengan kegiatan pijit memijitnya.

Anak itu sekarang bergerak naik, tangannya berpindah dari betis ke paha istriku yang mulus dan bersih.

Matanya tidak lepas memperhatikan gerakan buah dada istriku yang turun naik seiring nafasnya, sesekali diliriknya pangkal paha istriku yang dihiasi bulu – bulu tipis menggairahkan.

“ Dasar .. masih belum puas juga dia menikmati jepitan buah dada Fang Fang .. “ batinku sambil menyelesaikan kegiatanku bersih – bersih. Bergegas ku pakai celana kolorku kembali sebelum aku melangkah keluar kamar mandi.

“ Ma .. udah tuh, bersih – bersih dulu .. “ Suruhku sambil mendekat. Agus menoleh melihatku dengan pandangan kecewa. “ Pakai celanamu Gus .. tuh burungmu bangun lagi tuh .. “ Suruhku sambil menunjuk penisnya yang memang sudah kembali berdiri tegak.

“ Eh .. I .. iya Om .. “ jawabnya tergagap, tapi tangannya masih sibuk memijit – mijit paha istriku.

“ Masa bangun lagi Gus ? “ Istriku tiba – tiba bergerak bangun, dia terkikik geli melihat penis Agus yang memang sudah tegak sekali, menjulang seperti kayu.” Aduuhh .. belum puas juga ya ? .. “ Godanya sambil menggenggam penis anak itu gemas, seperti sengaja, dia menempelkan dadanya ke punggung Agus, membuat anak itu semakin gelagapan.

“ Adduh .. iya Tante .. mm .. saya mau masukkan ke situ boleh ? “ Agus menjawab lirih sambil memandang pangkal paha istriku yang masih terbuka.

“ Nggak boleh Gus .. sekarang pakai celanamu tuh .. “ Jawabku cepat sambil aku raih celananya dan kulemparkan menutup penisnya.

“ Lain kali saja .. kalau kamu baik baik dan bisa jaga rahasia .. mungkin Tante kasih kamu masukin ke sana .. “ Hibur istriku sambil melepaskan genggamannya dan beranjak ke kamar mandi.

“ I .. iya Tante .. “ Jawabnya lesu .. dia bangun juga, tapi tidak segera memakai celananya .. matanya masih mengikuti istriku yang berjalan telanjang ke kamar mandi .. tapi kali ini Fang Fang menutup pintu kamar mandi rapat – rapat. Nampaknya dia tidak tega juga untuk terus menggoda anak itu.

“ Sudah Gus .. pulang dulu sana .. “ Suruhku sambil memandangnya, iba juga sih melihat muka lesunya itu. Aku tahu rasanya menahan nafsu yang tidak kesampaian begitu. Tapi .. ya anak itu juga harus belajar menahan diri .. dengan istri orang lagi.

“ Iya Om .. “ Usai memakai celananya Agus mengemasi buku – bukunya dan memasukkannya kedalam tas. “ mm .. minggu depan lagi ya Om ? .. “ Tanyanya sambil melihatku penuh harap.

“ Minggu depan kamu ke sini buat belajar computer .. “ Jawabku tegas “ Jangan mikir macam2 … yang penting jaga rahasia ya .. nanti kita lihat lagi “

“ Iya Om ..” Jawabnya pelan. Dia menunggu istriku keluar dari Kamar Mandi sebentar. Tapi setelah beberapa lama ditunggu dan ternyata malah terdengar suara air shower dihidupkan akhirnya anak itu pamit pulang.


Like mother like daughter

Satu weekend aku lagi jalan ma mamahku di mall. Mamah ketemu ma temennya lelaki, om2, ganteng banget deh. “Pa kabarnya ni, makin cantik aja”, sapa si om. Mamahku kecentilan menjawab, “Masak si, dah tua”. mereka ber cipika cipiki tanpa sungkan ada aku juga. “Seginilah dibilang tua, ni lagi ranum2nya lo”. “Bisa aja kamu, tu klakuan gak brubah dari dulu”. “Ni sapa, kok cantik banget, sexy lagi”. “O ini anakku Dina, masi klas 9, jau banget skolahnya didaerah… (mamahku nyebut lokasinya)”. “Wah deket banget ma rumahku, kalo jau kos ja dirumahku, bereskan. Buat kamu mah foc deh”. “bener ni foc”. “Iyalah buat kamu apa si yang enggak, aku kan buka kos2an dirumah”. “Mangnya masi ada kamar”. “Di bagian kos2an dah penuh tapi masi da kamar kosong di rumah utama”. “Mau gak Din kos ditempatnya om…. (mamah nyebut namanya). Ni om temen mama dulu”. “Mantan pacar Din”, kata si om sambil ngedipin matanya ke aku. Ih genit, sama ja kaya mamahku. Tapi aku suka banget liat si om, keren, tegap lagi badannya, gak gendut kaya kebanyakan lelaki seumuran itu. “Katimbang kamu dah capek kalo nyampe rumah, blon bikin pr lagi kan, blajar buat ulangan besok lagi”. “Ya boleh deh mah, palagi si om ngasi gratisan kan”. “Ya udah, kita pulang beberes barang, trus mamah anterin ke tempat si om”. “Gak usah, kalian ikut aku aja pake mobilku, aku anter kalian pulang, trus Dina biar ikut aku kerumah”. “Wah si mas mah baek banget”. “Kan dah kubilang, buat kamu apa si yang enggak”.

akhirnya kami ikut si om kerumah, kebetulan tadi kami naek taksi karena mobilnya ngadat ga mo distater. Di rumah mereka masi ngobrol, bernostalgila kali ya, aku si beberes baju en barang2 yang mo kubawa ja, gak banyak si, aku bawa laptop juga supaya bisa brosing internet dan ngerjain tugas sekolah, juga buku2 sekolah. Jadilah barangku ada koper pakean dan kardus barang2 serta laptop. aku seret bawaanku keluar. “Kok dikit bawaannya Din”. “Segini juga dah banyak om. Mah, Dina pamit ya”. “Jangan bengal ya dirumah om, kalo weekend pulang ke rumah”. “Iya mah, dadah mamah”, kataku sambil mencium tangan mamahku. Si om membawakan barang2ku, dimasukkan ke bagasi kecuali laptop dimasukkan di jok blakang. “Udah ya, aku duluan”. “Nitip Dina ya mas”. Mobilpun meluncur meninggalkan rumah.

“Om beneran mantannya mamah”. “ya, bener, om yang ketiga”. “Wah mamah banyak banget pacarnya”. “Kamu brapa pacarnya”. “Cuma satu kok om”. “Mamah gak tau ya kamu punya pacar”. “Kok om tau”. “Ya taulah, kalo gak kan pasti dia suru kamu kabarin cowok kamu kalo kamu mo kos ditempatku. Kamu cantik Din, lebi cantik kamu katimbang mamah kamu”. “Wah om mulai gombal ni”. “Tapi suka kan digombalin, biasanya abege si kaya gitu”. “Wah om dah pengalaman jualan gombal ya”. Dia tertawa ja. “Kamu suka maen pa cowok kamu ya Din”, kaget juga aku ditanya tudepoin gitu. “Sok tau ah om”. “Past deh, makanya kamu gak bilsang sama mamah kamu, pulang skul sering maen dulu kan ma cowok kamu, makanya ampe rumah malem”. Tepat banget dugaan si om. “Ditempatku gak bole cowok masuk kamar lo Din, aturannya memang gitu, gak bole lawan jenis ada di kamar. Kalo maennya diluar ya terserah”. Dalem ati, aku maennya kan dikosan cowokku. “Kamu ni masi juga klas 9 dah ngesex segala”. “Bisnya nikmat si om”. “Cowok kamu yang mrawanin kamu ya”. Aku cuma ngangguk. “Temen skul kamu”. Aku ngegeleng, “Bukan om, cowok Dina dah mahasiswa”. “Wah demen daon tua ni kamu”. “Mahasiswa kan blon tua lah om”. “Tapi kan jau lebi tua dari kamu”. “Iya si, tapi asik2 aja tu ma yang jau lebi tua”. “Om lebi jau lagi tuaan dari kamu”. “Maksud om”. Dia senyum2 ja gak ngejawab, wah ada bakwan dibalik batu ni.

Sampelah kami dirumahnya, rumahnya besar, dibagian belakang rumahnya si om ngebangun kamar2 kosnya, 2 tingkat. “Yang atas buat lelaki dan bawah prempuan”. “Kok prempuan slalu dibawah ya om”. “Gak lah kadang2 diatas”, si om nyambung juga ma guyonanku yang miring. “Kamu suka diatas ya Din”. Aku cuma senyum ja. Aku yang mulai miring2, eh disamber lebi miring lagi, kalah ngomong deh aku. Aku diajaknya kedalem rumahnya, aku dikasi kamar disebelah kamarnya. Gede juga, ada ac nya, kamar mandi didalem, prabotannya ya ranjang, lemari, meja blajar ja. Kamar mandinya shower type, wc ma wastafel, standard juga. “Ya udah kamu beberes ya Din, kalo perlu apa2 om ada di kamar”. Aku membereskan barang2ku, trus keluar cari minum.

Di rumah itu kayanya gak da siapa2. Si om keluar dari kamar, “Mo orientasi rumah ya Din. Ni dapurnya, kalo perlu piring gelas ya ambil ja di rak piring. Sendok garpu en piso ada dilaci ini. Perabotan masak ada dilemari bawah. Kalo mo masak bisa pake kompor ato microwave, kamu bisa masak gak”. Aku ngegeleng. “Jangan2 masak air ja kamu gosong ya”, godanya sambil tertawa. “Ya gak gitu2 amir lah om, Dina bisa masak mi instan”. “Cowok kamu kah?” “Maksud om?” “amir?” Aku tertawa, “Amat mudik, yang ngeganti amir om”. “asik juga neh becanda ma cewek imut, sexy en cantik lagi, lebi cantik dari mamah kamu waktu jadi cewek om”. “Masak si om, tapi mamah kan toge, Dina kan tocil om, masak sexy si”. “Sekarang toge, dulunya biasa2 aja. Kan kamu imut, jadi gak masalah tocil juga, kalo imut toge kan gak proporsional jadinya. Kamu mandi gih, ntar om ajak kamu makan sate, doyan kan”. “Doyan om, Dina mah omnivora kok”. “Wah ntar sosis om kamu makan juga dong”. “Ih prono ngomongnya”. “Panya yang prono, tu ada sosis di lemari es”, katanya sambil membuka lemari esnya yang penuh macem2 makanan. “Kamu kalo mo makan ambil ja, gak usah sungkan”. “Wah dah ngekosnya gratis, makannya gratis pula”. “Buat cewek secantik kamu apa si yang enggak”. “Tadi ngegombalin mamah skarang Dina yang digombalin”. “Tapi suka kan”, aku tertawa ja. “Dah mandi dulu sana, trus kita pergi makan”.

Segera aku mandi dan mengenakan tengtop ketat dan celana 3/4 yang ketat. Walaupun imut tapi bdanku ada bentuknya juga walaupun tonjolannya serba kecil. “Wow, sexy banget kamu sayang”. “Wah kok jadi sayang2an si, kaya cowok Dina ja”. “Om mau kok jadi cowok kamu, mau gak”. Aku senyum aja, aku seneng ja disanjung2 gitu. Aku jadi keinget kata temenku kalo maen ma om2 jau lebi nikmat katimbang ma maen ma cowok ndiri. Aku jadi penarasan kaya apa nikmatnya. “Jalan ja ya Din, deket kok”. aku ngangguk, aku digandengnya, seneng banget rasanya digandeng om ganteng kaya gitu, malah diperjalanan, tangannya memeluk ahuku dan meraik badanku merapat ke badannya. aku si iya aja. “Om mesra amir si ma Dina”. “aku suka liat kamu Din, keinget mamah kamu dulu”. “ah si om ber nostalgila ya”.

Di warung sate si om pesen sate kambing ma sate ayam, “Kamu mo lontong pa nasi, pasti demennya lontong ya”. Aku ngangguk sambil tertawa, “om ni menjurus aja si ngomongnya”. Pesenan dateng dan kami makan dengan lahap, si om pesennya sate banyak banget sampe aku kenyang banget karena dipaksa kudu ngabisin, sampe lontongnya gak kemakan, cuma brapa potong ja lontong yang aku makan. “Om kenyang banget deh, ngantuk ni”. “Mangnya besok masi ada tugas gak”. “Dah beres semuanya kok om” “besok kudu dianter skolahnya”. “Gak usah om, Dina jalan ja, deket banget dari rumah om”. “Ya udah, pulang yuk, trus bobo”. Aku digandeng2nya lagi, kami santai ja jalannya, trus terang aku sangat menikmati kemesraan si om, ampe lupa ma cowokku aku. “Om kok tinggal ndiri si”. “Om dah pisah Din, anak ikut ibunya”. “O maap, Dina gak tau om”. “No problemo”. “Trus rumah sapa yang ngebersiin om?” “Ada si pembantu, tapi konsentrasinya mbantu yang ngekos, jadi seminggu sekali baru ngerapiin rumah, nyuci baju dll”. “O gitu, Dina bole ikutan nyuci dong om”. “Ya bole, asal mo ditumpuk ja baju kotornya seminggu baru dicuci”. “Wah seragam Dina gak banyak”. Ya udah nanti om suru pembantu nyuciin baju Dina aja tiap ari”. “Om kayanya lebi tua dari mamah deh”. “Ya iyalah, mamah kamu kan bis smu langsung nikah ma papah kamu, makanya masi kaya kakak kamu kan”. “Mangnya om brapa lama jalan ma mamah”. “Setaon ada kali, trus mamah kamu dilamar ma papah kamu, putus deh kita”. “Dah ngapain aja tu setaon ma mamah”. “Mo tau aja kamu anak kecil”. “anak kecil yang dah bisa bikin anak kecil om”, jawabku nantangin”. “bener juga, bikin ma om yuk”. Ketauan deh belangnya, pantes dia nawarin aku tinggal dirumahnya, pengen berbagi kenikmatan dengan aku rupanya, ber nostalgila ma mamahku, cuman diterusinnya ma aku. Aku jadi berdebar antara kaget, seneng dan pengen.

Malemnya si gak terjadi apa2, si om gak mo grusa grusu rupanya, ya aku ngejalanin kehidupanku aja. karena aku tinggal diruma si om, aku gak bisa kluyuran ma cowokku lagi karena rumah si om deket banget ma skola ku. cowokku jadi uring2an karena susa banget nyari waktu untuki ngewein aku. Akhirnya dia jarang nongol dirumah si om, ya biar aja, aku dah punya gantinya kok, hihi geer ya, si om anteng2 aja kuanggep kaya cowokku aja. Sejak tinggal bersama si om, tentunya aku gak bisa merasakan kenikmatan dari cowokku, itu yang membuat aku gelisah kalo lagi bertanduk (horny kamsudnya, horn kan tanduk). Seminggu sekali si om nganter aku pulang, minggu sore aku dijemput lagi, mamah seneng banget si om memperlakuin aku kaya anaknya ndiri, mamah gak tau ja kalo aku pengen banget lebi dari kaya ke anaknya aja.

Satu hari ada hari libur nasional ditengah minggu. aku bangunnya jadi kesiangan. Ketika aku keluar kamar, rumah dah sepi, gak tau si om kemana. Aku balik kekamar tidur2an aja, karena gerah aku melepas pakean tidurku sehingga tinggal cd aja yang nempel di bodiku. Karena merasa sendirian di rumah, pintu kamar kubiarkan saja terbuka. Karena masi ngantuk akupun terlena lagi. Aku terbangun ketika mendengar suara orang batuk. aku kaget karena ketika aku membuka mata, kulihat si om dengan tersenyum sedang berdiri memandangiku disebelah ranjangku. Tanganku reflex menututpi toketku, tapi si om rupanya dah lama juga memandangi aku nyaris telanjang gitu. Dia duduk disebelahku. “Napa Din, gerah ya. Bodi kamu merangsang sekali Din. Sejak kamu dateng pertama kali, aku dah napsu liat bodi kamu. Hari ini baru aku bisa liat langsung bodi mulus kamu ampir telanjang”. Aku terdiam saja. Si om menarik tanganku dari toketku dan mulai menyentuh2 pentilku.”Din, Aku pengen deh ngelakuin ma kamu”. “Mangnya om tadi dari mana, kirain kerja.” “Aku off hari ini, tadi keluar beli keperluan bulanan ja. Mau ya Din ngentot ma aku”, katanya to the point. “Kan sekarang kamu horni berat ya karena dah lama gak dientot, om dah lama gak liat cowok kamu”. “Iya om”. “Ya udah ngelakuinnya ma aku aja ya”, katanya sambil menutup pintu kamar.

Dia berbaring disebelahku, masih memakai pakeannya. dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. tangannya mengusap2 pahaku. “Kamu cantik sekali, Din”, katanya. Tangannya pidah ke selangkanganku, mengelus bukit memekku. Dia bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku. Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. “Geli om”, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.”Toket kenceng ya Din, biar gak besar juga”, katanya. “Om suka kan”, jawabku. “Ya Din, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku.

Dia kemudian mencium bibirku. Keadaan menjadi tambah parah buatku karena yang dia cium kemudian adalah kuping dan leherku. berlama-lama lagi. Padahal itu termasuk daerah sensitif. Hal itu membuat aku mulai ser-seran. tangannya mulai turun ke dada dari bahuku. Tangannya lihai banget, putaran-putaran jarinya mampu membuat aku sesak karena toketku segera mengeras. Tangannya terus aktif, sehingga akhirnya pentilku menjadi keras banget. Bibirnya yang bermain dileherku, mulai turun ke bahu, tapi dia nggak langsung mencaplok pentil aku yang keras, disengol-sengol dulu sama hidungnya.

Napasnya yang hangat aja sudah berhasil membuat pentilku makin keras. Terus ia ciumin pelan pelan toketku, mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua bagian toketku dicium lembut olehnya. Belum puas menggoda aku, lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas toketku. Aku tak tahan dan mulai mendesah. Akhirnya lidahnya mulai menyapu sekitar pentilku dan akhirnya pentilku tersapu lidahnya. perlahan mula mula, makin lama makin sering dan akhirnya pentilku dikulumnya. Ketika aku merasa nikmat dia melepaskannya. dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi, perlahan mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya pentilku. Kali ini pentilku digigit perlahan sementara lidahnya berputar putar menyapu pentil itu. Sensasi yang ditimbulkan ruar binasa, semua keinginanku yang kupendam selama ini serasa terpancing keluar dan berontak untuk segera dipuasi. Melihat aku mendesah dia makin seru.

Selain menggigit-gigit kecil pentilku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai bermain di lututku dan pahaku. aku makin merinding menahan nikmat. Dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini berada diselangkanganku. Dengan lembut dia mengusap-usap selangkanganku. “Dah basah gini cd kamu Din, lepas aja ya”. Tanpa menunggu persetujuanku, cdku diplorortinnya, aku mengangkat pantatku untuk mempermudah lepasnya cd dari badanku. “jembut kamu lebat jua Din, pasti napsu kamu besar. kamu gak puas kan kalo dientot cuma seronde ya Din”. “He eh”, hanya itu yang keluar dari mulutku. Usapannya menimbulkan sensasi dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat tenang lagi, sebentar bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi menyembunyikan kenikmatan yang kualami. Jarinya yang besar itu akhirnya menyelinap dikerimbunan jembutku dan langsung menemukan itilku.

Dengan gemulai dia memainkan jarinya sehingga aku melenguh kenikmatan. Jarinya lembut menyentuh itilku dan gerakannya memutar membuat tubuhkupun serasa berputar-putar. Akhirnya pertahananku jebol, cairan kental mulai mengalir keluar di memekku. dan dia tahu persis sehingga dia mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu datang, kepeluk kepalanya dengan erat dan kuhujamkan bibirku ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Dia dengan sabar tetap mengelus itilku, membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti. Lubang memekku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya.

Sementara jari jempolnya tetap memainkan itilku, jari tengahnya mengorek-ngorek memekku menstimulasi apa yang dapat dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Aku megap-megap dibuatnya. Entah berapa lama dia membuatku seperti itu dan sudah beberapa kali aku mengalami orgasme, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan mengakhiri permainan ini.

Akhirnya aku yang memulai, tanganku meraba-raba selangkangannya. disana jemariku menemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh belaianku, gundukan itu berubah menjadi mengeras. Diapun segera melepaskan semua yang melekat dibadannya. Aku terkejut melihat kontolnya, sungguh perkasa, besar, panjang dan bengkung keatas karena sudah ngaceng dengan kerasnya. Segera dia berbaring lagi disebelahku. Entah mengapa aku jadi senang menggodanya, jariku terus membelai turun naik sepanjang kon tolnya yang luar biasa ukurannya. Secara perlahan kon tolnya bertambah panjang dan besar. tanganku meremas-remas bola-bolanya sehingga dia makin terangsang.

Sambil mengecup daun telingaku dia berbisik, “mulai maen yuk Din”. Aku tak tau harus bagaimana dan menurutinya saja ketika dia mencium bibirku dengan lembut, ini membuat tubuhku bertambah lunglai. Kembali bibirnya melumat bibirku cukup lama dan dalam. Dia mengecup ngecup bibir bawah dan atasku bergantian. Aku berdesah kecil ketika tangannya memeluk pinggangku dan menarik tubuhku makin merapat ketubuhnya. dua bibirku yang tanpa sadar merekah menyambut lidahnya. Lidah itu begitu lihai bermain diantara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku untuk keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat, sehingga perlahan lidahku mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya dengan sigap dia mengulumnya dengan lembut, dan menjepit lidahku diantara lidah dan langit-langit. Tubuhku menggeliat menahan nikmat yang timbul.

Sorotoan matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan. Pandangannya agak lama berhenti pada toketkug. Tatapan matanya cukup membuat tubuhku hangat, dan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman. Dia kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat ketubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku dia mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikan pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian tubuhku.

Akhirnya kecupannya sampai di daerah telingaku dan lidahnya secara lembut menyapu bagian belakang telingaku. Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil lepas dari kedua bibirku. Dia telah menyerang salah satu daerah sensitifku, dan dia tau itu sehingga hal itu dilakukannya berkali-kali. Dengan sangat mempesona dia berbisik bahwa dia ingin menghabiskan hari ini dengan bercinta denganku, kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan, tanpa sadar tanganku kulingkarkan di lehernya.

Kemudian dia membungkuk sehingga tanganku terlepas dari lehernya. Dia mulai menciumi ujung-ujung jari kakiku. Aku menjerit kegelian dan berusaha mencegah, namun dia memohon agar dia dapat melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang ditimbulkan. akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan mengulum jari-jari kakiku. Aku merasa geli, tersanjung dan sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan perlahan tapi pasti bibirnya makin bergerak keatas menyusuri paha bagian dalam ku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuat aku lupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Dia dengan mudah memposisikan tubuhnya diantara kedua pahaku.

Pertahananku benar-benar runtuh ketika dia menyapu-nyapukan lidahnya dipangkal pahaku. Aku berteriak tertahan ketika dia mendaratkan bibirnya diatas gundukan memekku. dia terus melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti dia sedang menciumku. Aku berkali-kali menjerit nikmat, dan getaran-getaran orgasme mulai bergulung-gulung, tanganku meremas-remas apa saja yang ditemuinya, sprei, bantal dan bahkan rambut dia, tubuhku tak bisa diam bergetar, menggeliat, dan gelisah, mulutku mendesis tak sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara reflek dan beberapa kali terangkat mengikuti gerakan kepala dia. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi. Dengan perlahan lidah dia menyentuh belahannya, aku menjerit tak tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan memekku, puncak orgasme tak tertahankan. Tanganku memegang dan meremas rambutnya, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak.

dia tetap bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik itilku, ketika puncak itu datang. Aku merasa dinding-dinding memekku mulai lembab, dan kontraksi-kontraksi khas pada lorongku mulai terasa. lorong memekku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi, yang bisa membuat lelaki tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. dia nampaknya dapat merasakan kontraksi-kontraksi itu, sehingga membuat bertambah nafsu. Kini lidah nya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan bagian cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai memburu.

dia kemudian bangkit, beberapa saat kemudian aku merasa kontol hangat yang sangat besar mulai menyentuh-nyentuh selangkanganku yang basah. dia membuka kakiku lebih lebar, dan mengarahkan kepala kontolnya ke bibir memekku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa keras dan besarnya kontolnya. Dia mempermainkan kepala kontolnya di bibir memekku di gerakan keatas ke bawah dengan lembut, untuk membasahinya. Tubuhku seperti tak sabar menanti tindakan yang selanjutnya. Kemudian gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang memekku yang sempit. Tetapi karena memekku sudah cukup basah, kepala kontol itu perlahan tapi pasti terbenam, makin lama-makin dalam. Aku merintih panjang ketika dia membenamkan seluruh batang kontolnya. Aku merasa sesak, tetapi sekaligus nikmat luar biasa, seakan seluruh daerah sensistif dalam memekku tersentuh. Batang kontolnya yang keras dan padat itu disambut oleh kehangatan dinding memekku.

Cairan-cairan pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan gerakan kontraksi mulai berdenyut, membuat dia membiarkan kontolnya terbenam agak lama merasakan kenikmatan denyutan memekku. Kemudian dia mulai menariknya keluar perlahan-lahan dan mendorongnya lagi, makin lama makin cepat. Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding memekku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan gerakan maju mundur membuat batang kontolnya seolah-olah diurut, kenikmatan tak bisa dia sembunyikan, gerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat menetes dari dahinya.

Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat. Pinggulku kuangkat sedikit dan kemudian membuat gerakan memutar manakala dia melakukan gerak menusuk. dia nampaknya belum terbiasa dengan gerakan dangdut ini, mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat, batang kontolnya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya bobol, kontolnya menghujam keras dalam memekku, tubuhnya ambruk menindihku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika pejunya menyemprot keluar dalam memekku berkali-kali. Akupun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku tercapai. Sesaat dia membiarkan kontolnya di dalamku hingga nafasnya kembali teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun harus kuakui kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa.

Dia melepas kontolnya yang dah melelmas dari memekku dan berbaring diseblahku. “Din maen ma kamu jau lebi nikmat katimbang maen ma mamah kamu dulu”. “terang aja om, Dina kan baru punya 1 cowok sedang kata om mamah dah punya 2 cowok seblon om. Memek Dina lebi peret ya om”. “Ya peret banget deh, om baru skali ni ngrasain memek abegeh yang peret kaya kamu punya, berasa lagi kedutannya kalo kamu 0″. “Mamah punya dah longgar ya om”. “Ya gak longgar si, tapi gak seperet kamu punya”. “Om dulu sering ya maen ma mamah”. “Sering banget, ampir setiap ketemu kita maen di kosan ku”. “Wah asik banget ya mamah waktu muda, berbagi kenikmatan ma 3 lelaki, yang asik dari mamah apanya om”. “Sepongannya, kontol om kaya diplintir2 sembari disepong, kamu bisa gitu juga gak”. “Itu mah gampang om, cowok Dina ngajarin kok gimana caranya nyepongin yang nikmat buat dia”. “Wah maknya hebat, anaknya juga hebat. Kamu mau juga dengan 3 lelaki”. “Gak ah, ma om ja dah lebi dari cukup. Kontol om besar, ampe sesek memek Dina kalo om ablesin smuanya, lagian panjang, sampe mentok om, ngilu2 nikmat gitu”. “Mana nikmat ma cowok kamu”. “nikmat ma om lah, cowok Dina punya gak seperkasa om punya”. “Jadi?” “Ya skarang Dina jadi cewek om ja, kita kan serumah, kapan aja om mau Dina siap kok om. Kalo Dina lagi dapet ya Dina sepongin om ja. Tapi om jangan maen ma abegeh laen lagi ya, ma Dina aja”. “Ya pastuiKluarnya dimulut kamu ya”. “Pastinya, ntar peju om dina telen” Kami kemudian terlelap kecapean.

Ketika aku terbangun hari udah tengah hari, dia sedang tersenyum memandangiku. “Kamu cantik sekali deh Din, mana seksi lagi. aku pengen lagi Din. Mau ya”. Kemudian dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahaku. memekku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. “Hmmhhh…enak, gila.” jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang memekku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya.

Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai kontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di memekku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang kecoklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidahnya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat.

Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir memekku mengalir dan terasa basah di perutku. “Om, gantian Dina yang ngemut kontol om ya”, kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang kontolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, “Enak Din, terus..” Lidahku mulai merambat ke kepala kontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang kontolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya. “Din…” gumamnya pelan. “enak banget, geli-geli nikmat”. Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan kontolnya masuk ke dalam mulutku. kontolnya kuisep kenceng-kenceng sambil kuputer2, lalu dengan mulut kukocok kontolnya turun naik, “uuuuggggghhhh…sedap banget Din, persis kaya cara mamah kamu nyepongin dulu…mmmmhhhh…”, erangnya.

Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati memekku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya menyedot lubang memekku, menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke dalam lubang memekku, menjilati dinding-dinding basah, sementara jari nya mempermainkan itilku. Aku mengerang-ngerang dengan kontolnya di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari memekku membajir membasahi mukanya.

Aku melepaskan kontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu kontolnya masuk, aku hanya merintih pelan. kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung merangsang itilku. Kocokan kontol di memekku dan kilikan jarinya di itilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali memekku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok kontolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan no nokku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret lagi.”Om, nikmat banget deh, lebih nikmat dari yang tadi, Dina sampe berkali2 nyampe baru om ngecret”, lenguhku lemes.

Dia mencabut kontolnya dari memekku. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia mengikuti dari belakang. Dikamar mandi dia memelukku, “Terima kasih ya Din, kamu asik banget dientotnya, empotan memek kamu luar biasa deh. Aku sangat menantikan kesempatan seperti ini lagi agar kita bisa mengulangi kenikmatan ini”. Sejak saat itu, dia selalu mencari kesempatan untuk bisa mengentoti aku, gak susah tentunya, tinggal nyocokin jadwal ja, kan kita tinggal serumah.


Ibu Tiara

Namaku Iful..umur 29 taon, tinggi 168 paras badanku tegap, rambutku lurus dan ukuran vitalku biasa saja normal orang indonesia lah, panjangnya kira-kira 16 cm dan diameternya aku nggak pernah ukur.. Aku tinggal di rumah kontrakan istilahnya apartement menyamping. Dan ada tetanggaku yang bernama Ibu Tiara, berjilbab, umurnya sekitar 33 taon, anaknya dah 3, yang paling besar masih sekolah kelas 5 SD otomatis yg palg kecil umur 1,8 bulan, sedangkan suaminya bekerja di kontraktor (perusahaan) sebagai karyawan saja. Setiap hari Ibu tiara ini wanita yang memakai jilbab panjang-panjang sampai ke lengan2nya boleh dikatakan aku melihatnya terlalu sempurna utk ukuran seorang Wanita yag sdh berumah tangga dan tentunya aku sangatlah segan dan hormat padanya.

Suatu ketika suaminya sudah pergi kekantor untuk kerja dan aku sendiri masih di rumah rencananya agak siangan baru aku ke kantor . “Iful…”ibu tiara memanggil dari sebelah…karena aku masih malas hari ini so aku tidur2an aja di tempat tidurku..”Iful…Iful….” Ibu minta tolong bisa..?? ujar Ibu Tiara dari luar..aku sbenarnya sudah mendengar namun rasanya badanku lagi malas bangun. Karena mungkin aku yang dipanggil tadak segera keluar, maka Ibu tiara dengan hati-hati membuka pintu rumahku dan masuk pelan-pelan mencari aku.

Seketika itu juga aku pura-pura tutup mataku..dia mencariku dan akhirnya dia melihat aku tidur di kamar. “ohh….” Ujarnya…spontan dia kaget…karena kebiasaan kalau aku tidur tidak pernah pake baju dan hanya celana dalam saja. Dan pagi itu kontolku sebenarnya lagi tegang …biasa penyakit di pagi hari…(heheheh) seketika itu dia langsung balik melangkah dan menjauh dari kamarku. kucoba mengintip dengan sebelah mataku…”dia sudah tidak ada” ujarku dalam hati. Namun tidak lama kemudian dia balik lagi dan mengendap2 mengintip kamarku …sambil tersenyum penuh arti…cukup lama dia perhatikan aku dan setelah itu ibu tiara langsung balik ke rumahnya.

Besok pagi setelah semuanya telah tidak ada di rumhnya ibu tiara, tinggal anaknya yg plg kecil dah tidur aku. Sayup-sayup aku dengar di samping rumahku yang ada di belkang, sepertinya ada yg mencuci pakaian …aku intip di belakang.. Oohh ibu tiara sedang mencuci pakaian.. namun dia hanya memakai daster terusan panjang dan jilbab.. Karena dasternya yang panjang, maka dasternya basah sampai ke paha …saat aku sedang mengintip..ibu tiara lgsg berdiri dan mengangkat dasternya sekaligus mencopot celana dalamnya dan langsung dicuci sekalian …otomatis…saat itu aku melihat ooooohhh….memeknya yang merah dan pahanya yang putih di tumbuhi bulu2 halus …aku langsung berputar didalam otakku.. ku ingin rasanya mencicipi memek yang indah dari ibu tiara yang berjilbab ini..

“Maaf ibu tiara…kemarin ibu ada perlu saya??” tanyaku.. mengagetkan ibu tiara dan serta-merta dia langsung merapikan dasternya jilbab tersingkap sampai ke paha.. “Iya nih mas Iful..Ibu kemarin mau minta tolong pasangin lampu di kamar mandi “katanya. “kalo gitu sekarang aja bu..

Soalnya sebentar lagi saya mau kerja “sambil mataku melihat dasternya…membayangkan apa yang didalamnya. “Oooh iya ..lewat sini saja..” Ujarnya..karena memang tipe rumah kost yg aku tempati dibelakangnya Cuma di palang kayu dan otomatis kegiatan para tetangga kelihatan di belakang. Aku lngsung membuka kayu dan sengnya dan masuk ke dalam dan ibu tiara membawaku didepan …aku mengikuti di belakang…oohhh…seandainya aku bisa merasakan memek dan pantat ini sekarang ” gumamku dalam hati. “ini lampunya dan kursinya.. Hati2 yah jng sampe ribut soalnya anaku lg tidur “kata Ibu Tiara..

Aku lngsung memasang dan ibu tiara melanjutkan mencuci nya, setelah selesai aku lngsg bilang “ibu sudah selesai “kataku.. Kemudian ibu tiara langsung berdiri..tapi saat itu dia terpeleset ke arahku …seketika itu aku menangkapnya..ups…oh tanganku mengenai payudaranya yg montok dan tanganku satu lagi mengenai langsung pantatnya yg tidak pake celana dalam dan hanya ditutupi daster saja …”maaf Dik Iful…agak licin lantainya”ujarnya tersipu-sipu..

Iful tunggu yah ibu bikinin Teh “ujarnya lagi…Dia ke dapur dan dari belakang aku mengikutinya secara pelan2..saat teh lagi diaduk di dalam gelas..langsung aku memeluknya dari belakang… iiful…apaan2 neh…sentak Ibu Tiara…maaf bu…saya melihat ibu sangatlah cantik dan seksi.. “ujarku…Jangan Iful…aku sudah punya suami ..”tapi tetap ibu tiara tidak melepaskan pegangan tanganku yang mampir di pinggangnya dan dadanya.. Iful…jangaann.. langsung aku menciumi dari belakang menyikapi jilbabnya.. sluurrp.. Oh..betapa putihnya leher ibu tiara ‘ujarku dlm hati…okhh.. Iful…hmmm…ibu tiara menggeliat..langsung dia membalik badannya menghadapku..Iful …aku udah beres…saat dia mau ucapin sesuatu..langsung aku cium bibirnya …mmmprh…tak lama dia langsung meresponku dan langsung memeluk leherku .mmmmhprpp ….bunyi mulutnya dan aku beradu…aku singkapi jilbabnya sedikit saja..

Sambil tanganku mencoba nenen menggerayangi dadanya …aku melihat dasternya memakai kancing dua saja diatas dadanya.. Aku membukanya..dan tersembullah buah dadanya yang putih mulusss …slurp…kujilat dan isap pentilnya.. Iiiful….ooohhh….ufhhh….”lirihnya sslurrpp….slurp..saa t aku jilat.. Sepertinya msh ada sedikit air susunya …
hmmmm…tambah nikmatnya..slurp..slurp.. ngehe

Sambil menjilat dan menyedot susunya..aku tetap tidak membuka jilbab maupun dasternya …tapi tanganku tetap menarik dasternya keatas.. Karena dari tadi dia tidak pake celana dalam …maka dengan gampang itilnya ku usap-usap dengan tanganku …Ohhh…oh.. Ssssshhhh…gumam ibu tiara..kepalaku ku dekatkan ke memeknya dan kakinya kurenggangkan..

Ssluruupp….pelan2 kujilati itil dan memeknya…oh iful…eennakkh.. Oghu…mmmpphhff…teriaknya pelan…kulihat kepalanya telah goyang ke kanan dan kekiri.. Pelan-pelan sambil lidahku bermain di memeknya …kubuka celana pendekku dan terpampanglah kontolku yang telah tegang.. Namun ibu tiara masih tidak menyadari akan hal itu …pelan-pelanku mengangkat dasternya.. Namun tidak sampai terbuka semuanya..hanya sampai diperutnya saja …dan mulutku mulai beradu dengan bibirnya yang ranum …mmmppghh…iful.. ku…”ujar ibu tiara..kuhisap dalam-dalam lidahnya…slurp.. Caup…oh ibu sungguh indah bibirmu, kobeln memekmu dan semuanya …lirihku.. Sambil menjilat seluruh rongga mulutnya …kubawa ia ke atas meja makannya dan kusandarkan ibu tiara dipinggiran meja …tanganku kumainkan kembali ke itil dan sekitaran memeknya …ahh..oh…Ifulll….i bu udah nggak kuaatttttt…lirih Ibu tiara. Pelan2 ku pegang kontolku…kuarahkan ke memeknya yang sudah basah dan licin ….dan bleessssshh….ohhh.. Ufgh hh….Ifulll….Teriak Ibu tiara. Slpep…slepp….

Kontolku kudiamkan sebentar ….Ibu Tiara sepontan melihat kewajahku..dan langsung ia menunduk lagi …kududukkan di atas meja makan dan kuangkat kakinya …mulailah aku memompanya..slep…slep..selp. Blssss….oh memeknya ibu sangat enak….Iful…kontolmu juga sangat besar….rupanya ibu tiara udah tidak memikirkan lagi norma2..yang ada hanyalah nafsu birahinya yang harus dituntaskan ….berulang-ulang ku pompa memeknya dengan kontolku ….oohh..akhh…Ifull….ku balikkan lagi badannya dan tangannya memegang pinggiran meja …ku tusuk memeknya dari belakang bleess. Ohhhhh….teriak Ibu Tiara.

Kuhujam sekeras-kerasnya kontolku …tanganku remas2 susunya ….aku liat dari belakang sangat bagus gaya ibu tiara nungging ini, tanpa melepas daster dan jilbabnya..kutusuk terus …sleeeepp….sleeps Hingga kurang lebih setengah jam ibu tiara bilang …Iful….ibu udah nggak tahan…..sabar bu bentar lagi saya juga……Ujarku. Oh…ohhhh…ufmpghhh …Iful. ibu mau keluarrrr…achhhh… semakin kencang dan terasa memeknya menjepit kontolku dan oohhhhh …ku rasakan ada semacam cairan panas yang menyirami kontolku di dalam memeknya ….semakin kupercepat gerakan menusukku.. Slep….slurp…bleeppp… . oh Ibu aku juga dah mo sampai neh …..cepat Iful…ibu bantu….oho….uhhhhh….ibu tiara menggoyangnya lagi…dan akhirnya Ibu…. aku mo keluarrr…..sama2 yang iful …. ibu juga mau keluar lagi. Teriaknya … dan ….Ohhh.. ack…. ahhhhh.. aku dan ibu tiara sama–sama keluar … dan sejenak kulihat di memeknya terlihat becek dan banjir. Setelah hening sejenak…ku cabut kontolku dan kupakai celana pendek setelah itu ibu tiara merapikan Daster dan jilbabnya. Langsung aku minta maaf kepadanya “Bu..mohon maaf ..Iful khilaf.” kataku.

“Tidak apa2 kok iFul…ibu juga yang salah…yang menggoda Iful” ujarnya. Aku langsung pamitan kembali ke rumahku sebelah dan mandi siap2 kerja. Setelah mandi kulihat ibu tiara sedang menjemur pakaian. tapi jelas didalam daster ibu tiara tidak memakai celana dalam karenn terlihat tercetak lewat sinar matahari pagi yang meninggi mulai mendekati jam 10 pagi. Sebelum aku pergi ku sempatkan pamitan ke ibu tiara dan dia tersenyum. Tidak tau apakah ada artinya atau tidak.


model yunior

Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.

Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar. Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kon**lnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.

Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis. Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon**lnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om And mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.

Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku. “Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngen totin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya. Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point. “Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng gimana”, tanyaku. Om and segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dien tot. “Kamu kan udah sering dientotkan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku. “Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.

Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kon**lnya serta kukocok hingga kurasakan kon**l itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar. “Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut om andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku. “Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientotsatu ronde”, katanya.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya. “Ines ga tahan lagi om, Ines emut kon**l om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadanya dan menyodorkan kon**lnya. kon**lnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kon**l yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kon**lnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh kon**lnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kon**lnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan. “Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala kon**l itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku.

Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kon**lnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku. Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. “Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum. “Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko sampai habis. Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kon**lnya dari luar celananya, membuatnya terangsang

Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya. “Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku. Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kon**lnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kon**l om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kon**lnya, kurasakan kon**lnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kon**lnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan. “Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.

Om andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kon**lnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kon**l yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan kon**lnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kon**lnya memasuki nonokku. Aku dien totnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kon**l Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngen tot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientotdari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kon**l yang lain makin menghujam ke tubuhku. kon**l Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kon**l Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kon**l Joko. Bersamaan dengan itu pula gen totan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.

Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. “Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko. Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.

“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kon**lnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kon**l om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku. “Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan. Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kon**lnya. Kini nonokku telah terisi oleh kon**lnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku. “Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya. Setelah 15 menit dia gentotaku dalam posisi itu, dia melepas kon**lnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kon**lnya. Dengan refleks akupun menggenggam kon**l itu sambil menurunkan tubuhku hingga kon**lnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko memperhatikan kon**lnya sedang keluar masuk di nonokku.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika om andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om andi membuka pantatku dan mengarahkan kon**lnya ke sana. “Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia mendorong masuk kon**lnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kon**l kon**l besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om andi malah makin buas menggen totku. Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kon**l masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir “Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kon**l mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.

Om andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kon**lnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2. “Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kon**lnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus. “Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan. Tangannya terus saja mengelus2 nonokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak. “Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kon**lnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kon**lnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.

Tiba2 dia mencabut kon**lnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kon**lnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kon**l yang besar, dia mulai mengenjotkan kon**lnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kon**lnya yang panjang ambles di nonokku. “Enak om , kon**l om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan. enjotan kon**lnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kon**lnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientotaku udah merasa mau nyampe, “om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku. “Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kon**lnya. Akhirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan. Dia masih terus saja mengenjotkan kon**lnya keluar masuk dengan cepat dan keras.

Tiba2 dia mencabut kon**lnya dari nonokku. “Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku. Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing. “Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku. Dia diam saja. Segera kon**lnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kon**lnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi, “Om , nikmat”, erangku lagi. Jarinya terasa

mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kon**l besar panjang yang sedang keluar

masuk, “Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku. Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke itilku, sambil dientotitilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dientotdengan cara seperti itu. “Om , nikmat banget nge***tsama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya. Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kon**lnya. Tak lama kemudian, “Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengen totkan kon**lnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret. “Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku. Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kon**lnya tercabut dari nonokku. “Om , nikmat deh, sekali entotaja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku. “Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku. Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi. Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kon**lnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku. Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya, “Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku. Tanganku masih mengocok kon**lnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu, “Jok , nikmat banget “, erangku.

Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku. “Aah Jok , enak banget, belum dientotaja udah nikmat banget”, erangku. Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan itilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dien tot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonoku yang basah berlendir itu. Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kon**lnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kon**lnya. “Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji. Cukup lama aku mengemut kon**lnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku, kon**lnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.

Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kon**lnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk, “Jok , enak”, erangku.Dia mulai mengenjotkan kon**lnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kon**lnya nancep semua di nonokku. “Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kon**l berkali2ya”, katnya. “Tapi enak kan, abis kon**l kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah. Dia mulai mengenjotkan kon**lnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya. “Enak Jok, aah”, erangku keenakan. enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2, “Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku. “Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya. “Abisnya kon**l kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi. enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku

“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kon**lnya keluar masuk. “Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget.

Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kon**lnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kon**lnya sehingga dia melenguh, “Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya “Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya. “Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kon**lnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.

Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om andi yang masih pengen ngen totin aku lagi. kulihat kon**lnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonoku makin terbuka. “Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku. Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.

Aku menggelepar2 ketika itilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan. “Om, masukin dong om , Ines udah pengen dien tot”, rengekku. Dia langsung menindih tubuhku, kon**lnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kon**lnya menerobos masuk, “Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak. Dia langsung mengenjotkan kon**lnya dengan keras sehingga sebentar saja kon**lnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kon**lnya terasa masuk lebih dalem lagi. “Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi. Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku

menggeliat2 saking nikmatnya, “Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kon**lnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi, “om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.

Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kon**lnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kon**lnya. Dia meringis keenakan. “Nes, terus

diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya. Sementara itu enjotan kon**lnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya. “Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “,

kataku. Terus saja kon**lnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya, “Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku
erat2, “Nes, nikmat banget deh nge***tama kamu”, katanya.

Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dientot2 cowok berkali2. “Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku. “Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya. Joko hanya tersenyum saja. Gak lama setelah mobil jalan, akupun tertidur.


Sepupu Penuh Kenikmatan

Kejadiannya udah lama banget, sekitar tahun 1998. Pas waktu itu lagi ada acara hajatan perkawinan saudara di pinggiran Kota Bandung. Mengingat acara hajatan kawinan, kebiasaan orang Indonesia kebanyakan, maka banyaklah saudara yang datang beberapa hari sebelum acara dimulai untuk sekedar membantu-bantu demi kesuksesan acara. Demikian juga saya. H-6 saya dan keluarga sudah tiba di TKP. Begitu juga beberapa anggota keluarga yang lain datangg dengan seluruh atau sebagian anggota keluuarganya. Diantara mereka ada seorang keluarga yaitu pamanku yang datang dengan anak-anaknya 5 orang Perempuan semua. Mereka berusia tidak begitu jauh denganku. Sebut saja salah seorangnya bernama Nining. Wajahnya tidak terlaluu cantik, namun enak dan sedap dipandang. Berusia sekitar 20-22 tahunan, mahasiswa jurusan kesenian di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Kebetulan oleh yyang empunya hajatan saya dan Nining diberikan tugas untuk membuat janur yang akan dipasang pada h-1 nanti. Setelah ngobrol ngalor dan ngidul, malampun tiba dan sekitar jam 11 malam sebagian besar orang-orang sudah terkapar karena lelah dan kecapaian setelah aktifitas ataupun dari perjalanan jauh.

Kebetulan rumah yang empunya hajat lumayan besar dengan banyak ruang dan kamar. Namun tetap sajja ada bebebrapa orang yangg tidak kebagian tidur di kamar termasuk aku dan nining yang keasyikan ngobrol. “wah, keabisan kapling nih kita!” kata nining menutup obrolan tengah malam.”iya, udah ah aku mah tidur disini saja…” kataku sambil menggelosorkan badan di karpet yang juga sudah disesaki oleh orang-orang. Karena sudah ngantuk dan lelah, tak lam aku pun tertidur. Entah sudah berapa lama tiba-tiba aku terbangun karena terasa ada yang memegang pahaku. Ketika kulihat ternyata Nining sudah terlelpa dengan posisi menyampiing ke arahku dan tangannya tanpa sadar telahh berada diatas pahaku yang tingga bebebrpa cm saja ke daerah sensitifku. Lama-lama timbul niat iseng untuk mencium bibir nining yang mungil dan tipis itu dalam benakku. Kuhampiri wajahnya dan ingin segera kukecup bibirnya itu. Namun aku takut kalau-kalau ada yang melihat jadi aku celingukan kanan kiri dulu. Nampaknya semua orang sudah terlelap dan terbuai dalam mimpinya masing-masing. Siiip, aman pikirku. Langsung aku kecup bibirnya yang mungil itu. Tak ada reaksi. Wah bener udah tidur lelap nih, kuteruskan pekerjaan ku menciumi bibir Nining. Iseng kuraba bagian dadanya yang montok, terhalang oleh kutangnya yang luumayan tebal. Haduh, akau memutar otak aagar isa meraba payudaranya yang sekel. Karena tak kunjung dapat akal, kulanjutkan saja menciumi bibir Nining. Selagi kuciumi, tiba – tiba ia bergerak ke arah sebaliknya dan aku kaget setengah mati takut ketahuan. Daripada malu, aku pun berbalik dan pura-pura tidur sambil mennggerutu menahan konak yang teramat sangat.

Keesokan harinya, aku takut ada perubahan sikap dari Nining gara-gara insiden semalam. Tapi ia biasa saja. Dalam hatiku bertanya, sebenarnya dia tahu apa tidaknya??? Dari pada pusing mikirin hal itu aku pun menganggapnya itu tak pernah terjadi. Skip story, setelah malam rutinitas pun kembali terulang dan kami pun tidur laagi bersama di tempat yang sama. Kali ini sengaja aku tidak tidur. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, kudengar dengkuran halus dari sebelahku. Nampaknya Nining sudah pulas tertidur. Kali ini dia tidur dengan mengenakan baju kaos dengan celana selutut dan bahan kaos juga. Saat ini, Nining tidur membelakangiku. Nampak jelas diwajahku, ceplakan CD nya jelas sekali menutupi pantatnya yang semok. Kucoba mengelus pantatnya yang bulat itu dengan pelan dan lembut. 5 menit kulakuakn hal itu dan tiba-tiba nining merubah posisi tidurnya dengan telentang dan kaki sebelah kirinya ditekuk keatas. otomatis celananya yang selutut dan longgar sedikit turun dan menghassilkan pemandangan yang indah. Paha putih yang mulus membentang dimataku. Kembali si otong menengang dan aku pun pusing mencari cara bagaimana memuaskan hasratku. Harus malam ini aku bisa puas. Begitu tekadku dalam hati. Untuk kelancaran acara, aku berpura-pura ke kamar mandi smbl patroli melihat keadaan sekitar. Aman, jam 2 dinihari dengan hawa malam ynag dingin membuat semua oraang tertidur pulas. Aku kembali ketempat semula dan sengaja mengambil posisi agak kebawah agar wajahku sejajar dengan toket Nining. aku mulai aktifitas dengan mencoba menyentuh payudaranya dari luar. Ku coba mengangkat kausnya sedikit dan nampak bagian bawah punggungnya. Kumasukkan tanganku kebalik kaosnya dan mencoba menggengan payudaranya. berhasill…… Tanganku yang nakal berhasil mencapai payudaranyya walau sedikit. selagi aktifitasku berlangsung, Nining tiba-tiba merubah posisi tidurnya dengan cara membalik badannya dan kaki sebelah kirinya menindih kakiku. Sekarang kami berhadapan dengan langsung dan sepintas seperti sedang berpelukan. Kembali kuelus lembut toketnya dari luar, sambila tangan kananku mengelus-elus pantatnya. Setelah kurang lebih 3 minit kuelus-elus daerang putingnya dari luar, tiba-tiba kedua tangannya memegang wajahku dan wajahnya dirunkan sehingga wajah kami saling berhadapan. Dan dengan mata sayu ia menatapku dan menciumi hidung ku. Mendapat respon positif, ku ambil inisiatif dengan meraih bibirnya dengan bibirku. Ia membalas dengan lembut dan menjilati bibirku. Kusambut juluran lidahnya dengan lidahku. Kami bermain lidah kurang lebih dua menit dan kucoba angkat kaosnya dan ia pun mengangkat badannya sehingga pekerjaanku dengan mudah dapat dilaksanakan. Setelah Bajunya terangkat kukeluarkan toketnya tanpa membuka BHnya dan langsung kupelitir putingnya dengan lidahku, hasilnya ia pun menggelinjang geli dan keenakan. Tangan Nining sudah berada di atas celana dan mengusap-usap kontolku denggan gerakan yang pelan. Lama-lama ia menelusupkan tangannya dari arah perutku. Segera kubuka sleting clena pendekku dn kukeluarkan penisku yng sudah tegang darikemarin. Kusambut kocokannya dengan membalas menusap-usap memeknya dari luar. Ciumannya yang tadinya lembut berubah menjadi liar dan nafasnya semakin terengah-engah menahan nafsu. Kumasukkan tanganku dan ku masukan jariku ditengah-tengah memeknya yang terasa mulai basah.

Dengan akrifitas semacam itu, hasratku semakin memuncak dan ingin segera kumuntahkan spermaku. “Ning, boleh ga dimasukin??” tanyaku. Ia hanya terdiam. Kutanya lagi dan ia mengangguk pelan tanda setuju. Kusuruh ia membelakangiku dan kupelorotan celananya hingga selutut. Kucoba masukkan kontolku dari belakang sambil terus menggosok-gosokan kearah bagian belakang memeknya. Kuangkat sedikit pahanya agar kontolku mudah menerobos masuk dan berhasil. Kumasukan batang kontolku yang semakin keras dengan iringan desahan tertahan dari nining. ” aaaahhhh, shhhhh, mmmhhhhh….. ” hanya suara itu yang ia keluarkan. Kukocok kontolku maju mundur deng kecepatan sedang. 5 menit kukocok memeknya dari belakang dan terasa semakin basah dan semakin licin memeknya. Tiba-tiba dia menarik badannya dan membalikkannya kehadapanku. “Bang di teras samping aja yu, dkt kolam. Supaya lebih leluasa..” ajaknya. Tanpa menunggu diminta 2 kali langsung aku berdiri menuju teras samping yang berjarak kurang lebih 5 meter dari tempat kami sekarang. Setibanya di sana, Nining langsung membuka habis celananya tanpa melepas kausnya. Ia hanya menaikkan kaos dan kutangnya sehingga toketnya yang sekel, mulus dan putih menggelayut menambah birahi. Ia mendorong tubuhku untuk berbaring dan mengambil inisiattif menindihku. Kuciumi dan kujilati lagi bibirnya yang mungil dan tipis itu dengan penuh nafsu. Ia membalasnya dengan penuh nafsu pula. Rupanya ia sudah on lagi dan mulai menuntun kontolku untuk memasuki lobang memeknya lagi. Blessssss…. aaahhhhh…. masuknya kontolku diiringgi dengan rintihan dan desahannya lagi sehhinggga membuat aku semakin terangsang. Ia pun menggenjot kontolku dengan gerakan maju mundur. Kadang cepat kadang lambat gerakannya. Sementara ia mengocok kuremas2 toketnya yang lucu itu dengan gemas sambil sesekali memainkan putingnya. 3 menit kemudian ia mengambil posisi berjongkok diatasku dan mulai dengan gerakan turun naik. Semakin lama semakin cepat dan setelah 3 menit ia menindihku sambil mencium bibirku dan mengejang… “Dah keluar Ning???” tanyaku dan ia menjawab dengan anggukan kecil sambil senyum. Kubalikkan badannya dan kurenggangkan kakinya sehingga sekarang aku bisa melihat memeknya dengan leluasa. Kumasukkan kontolku kembali dan kukocok dengan kecepatan sedang dan langsung tinggi sehingga toketnya bergoyang goyang… aaahhhh… uuuhhh… shhhh… mmmmhhhh…aaaahhh…. hanya suara-suara itu yang dikeluarkan Nining dengan pelan dan lirih. “Ning, aku dah mau sampe, keluarin dimana nih?? dalem apa diluar???” tanyaku. “dddalllemmm aja bannggghhh…. ssshhhh …. aaahhh… gpp.. aku lg ga subur… aaahhh… shhh” katanya sambil terus merintih nikmat.

Kuteruskan pekerjaanku mnggenjot memeknya dan …. aaaaahhhhhh…… Croooooottttt…. croooottt… entah berpa kali kusemprot memeknya dengan maniku. “Ning enak banget…. memek mu enak banget ….” kataku memuji. “Kontol abang juga gede, ning aja sampe kelojotan dikompa sama abanag.” jawabnya memabalas pujian ku. Kutarik kontolku keluar dan nampak disela-sela memeknya air maniku meleleh. Memeknya mulus, ga ada bulu dengan pinggiran memek yang merah merekah. Nining lalu mengambil Cdnya dan mengelapi memeknya yang basah dan mengelapi kontolku. Sewaktu ia mengelapi kontolku, kuraih kepalanya agar mendekat ke kontolku.Nining rupanya faham dan mulai mengulum kontolku sambil sesekali dihisapnya pelan. Kontol yang mulai mengecil dan melemas itu dalam sekejab sudah mengeras kembali. kutarik pahanya keatas dan sekarang kami lakukan posisi 69. 5 menit kami saling hisap dan jilat alatkemaluan sampai akhirnya aku sudah tak tahan pingin kembali memasukkan kontolku kedalam memeknya. Kudorong pantatnya dan ia kembali berjongkok diatas tubuhku, namun sekarang dia membelakangiku. kusuruh ia nungging dan kusodok dari belakang dengan gaya anjing. Kukompa terus memeknya langsung dengan RPM tinggi. Hasilnya, belum 7 menit aku sudah keluar dan menyemprotkan kembali air maniku. Dari jauh terdengar lamat-lamat azan subuh dan kami mengenakan kembali pakaian kami dan kembali tidur di tempat semula.

Siang harinya, kami sedang prepare kamar pengantin di lantai atas, dan memang lantai atas hanya ada 3 kamar tidur dan lumayan sepi. Sambil mengobrol membahas kejadian semalam, kami merapikan ruangan kamar untuk dijadikan kamar pengantin. Lama-lama, cewek ini semakin cantik rupanya, pikirku. Terbawa suasana rumah yang sepi, sambil memasang tirai, kucoba mengelus pantatnya. Ia hanya senyum tanpa mempedulikan tanganku yang bukan lagi membelai tapi mulai meremas pantanya yang sekel dan bahenol itu. Kudorong bahunya dengan lembut dan kucoba mengecup bibirnya. Ia membalas walau hanya sebentar dan mendorong bahuku. “nanti aja, tar kerjaannya ga beres….” katanya lembut. Aku ga peduli. Tanggung konak kudorong tubuhnya dengan tubuhku kearah tembok aambil terus menciumi dan melumat bibirnya. Tanganku pun mulai beroperasi, sebelah kanan meremas toketnya sebelah kiri menelusup kearah memeknya. 2 menit ia mulai terangsang dan merenggangkan pahanya. Terasa memeknya mulai basah. Kutidurkan dia di lantai dan kuturunkan celana jeans pendeknya sekaligus dengan celan dalamya. Sekarang bagian bawah tubuhnya polos sama sekali. sambil mengangkang ia terus membalas ciuman ku dengan liar. Akupun mulai turun menciumi perut dan daerah diatas memeknya dengan lembut. Nining hanya berekspresi dengan mengelinjang da menggeliat saja. Kuciumi itilkya dan kuhirup baunya yang menyegarkan. Kumulai menjilati itilnya dengan lembut bahkan kadang kuhisap pelan. setelah beberapa saat kujilatin memeknya tiba-tiba ia menekan kepalaku sekan menyuruhku melepaskan ciuman dan jilatanku. Tapi aku ga peduli, aku terus menjilati memeknya dengan buas dan sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat yang menyiram wajahku diiringi dengan lenguhan panjang Nining. Ahhhhhhhhhhhhhhhh……….. sssssssshhhhh… oooohhh… bang, kamu nakal banget siiiihh…. oooooooooohhh..” Mengetahu Nining orgasme, kukeluarkan kontolku yang sedari tadi tegang dan kumasukkan kontolku kedalam loban memeknya yang licin dan hangat. Clllepphhh… aaaah… lega dan nyaman rasanya ketika kontolku mulai memasuki lobang memeknya. Kukocok langsung dengan kecepatan tinggi memeknya. Plok, plok, plok, suara paha kami yang beradu meningkahi suara Nining yang terus mendesah menahan nikmat. Dan akhirnya akupun melepaskan air maniku dengan denras didalam memeknya yang hangat dan nyaman dengan sebuah rintihan tertahan…. “”Nnnniiinnnngggghhh… aaaahhh… aaaahhh…aaaahhh” kulepaskan air maniku dengan segala kenikmatan. Al hasil… kerjaan kami hari itu sedikit terhambat dengan aktifitas kami yangg diluar rencana kerja.

Malam harinya, kami mengulangi lagi kenikmatan yang sama di tempat lain yang kami anggap aman. bahkan pada H-2 kami melakukannya di kebun belakang dengan bertelanjang bulat beralaskan rumput saja. Sampai hari pelaksanaan resepsi, kami masih melakukannya sampai 4 kali di kamar mandi lantai atas, kamar gudang, kamar mandi dan di dalam mobil. Selama 6 hari sampai H+2 kami benar-benar seperti pengantin baru. Melakukannya kapan saja saat ada kesempatan.


Soleil de Francais [ Matahari dari Perancis ]

Perancis,. 1783

Aku berlari menyelusuri lorong-lorong istana yang belum terlalu kuhapal, ya ini baru hari ketiga aku memasuki istana ini. Aku berbelok di persimpangan, menuruni tangga menuju ruangan utama, sementara pelayan-ku tampak kewalahan mengikuti-ku dari belakang.. kulihat di ruangan utama para pekerja yang sedang begitu sibuk melakukan pekerjaanya, keluar masuk dari ruangan untuk mengangkat tempat-tempat lilin, bunga-bunga Matahari yang begitu indah dan juga meja-meja besar,..

Hari ini ada pesta, sebuah pesta besar untuk-ku, jantungku berdegup kencang, memperhatikan bagaimana pekerja-pekerja agar mereka bekerja dengan serius, aku ingin untuk hari ini saja, semuanya berjalan dengan sempurna, makanan, dekorasi ruangan… semuanya, Parfait .. aku berusaha memperhatikan dengan detail agar semuanya menjadi sempurna , perlahan sedikit demi sedikit ruangan itu mulai bertambah indah,..dengan lilin-lilin yang siap dinyalakan, bunga-bunga Matahari yang begitu indah,.. ahh aku benar-benar menyukai ruangan ini….

Semua begitu sempurna,..
Ayahku Charles Alexandre de Calonne baru saja diangkat menjadi Pengawas Umum Keuangan Kerajaan, Istana ini adalah hadiah pelantikan dari Raja Louis XVI, tiga hari yang lalu kami baru memasuki tempat ini dan bukan kah ini semua terlihat begitu sempurna ??,.. sempurna buatku…

Karier Ayah yang tiba-tiba menanjak hebat, menggantikan Turgot dan Jaques Necker,.. Aku tahu pekerjaannya tidak akan mudah, dan lagi dari apa yang aku dengar kondisi keuangan kerajaan tengah menipis, namun bukannya itu begitu indah, aku,. Aku bisa merayakan ulangtahun-ku yang ke17 di sebuah istana yang begitu indah ini,.. ahhh,.. indah sekali

” Nona, kita harus segera bersiap-siap,.. ” Bisik salah satu pelayan-ku,..
” Ah,.. baiklah,.. tapi bukannya ini semua benar-benar indah ?? ” Tanya-ku, aku begitu tegang, takut semua yang begitu sempurna ini akan rusak karena kebodohan-ku,.
” Indah nona, benar-benar Indah sekali,.. “
Aku mengganguk, senyuman-ku mengembang,.. perlahan aku keluar dari ruangan utama itu sementara serombongan pemusik memasuki ruangan itu,..

Aku berjalan perlahan,.. aku tegang, memikirkan pestaku nanti, sementara pelayan-ku tadi masih mengikuti-ku dari belakang,..
” Semua akan baik-baik saja kan ?? ” Tanya-ku,..
” Ya nona, pasti,.. ” Kata pelayan-ku, berusaha membuang semua kekhawatiran-ku,..
” Semoga,.. ” Jawab-ku pelan,..

Aku sampai diruangan-ku di lantai 2, aku memasuki kamar-ku,..
” Antonie,.. ” Aku terkejut mendapati teman lama-ku disana,..
” Ata,.. cantik sekali, kecantikan kamu gak pernah berkurang sedikitpun, malah makin bertambah cantik-cantik dan semakin cantik… “
Aku merona mendengar pujiannya,.. aku tersenyum,..
” Terima kasih,.. jadi kamu yang mempersiapkan semua dekorasi ini ?? pasti Papa yang meminta kan,.. ” Tanya-ku, aku duduk di depan meja rias,..
” Untuk teman-ku yang cantik ini, tanpa diminta pun aku pasti akan menawarkan diri,.. kamu suka ?? ” tanya Antonie,..
Aku mengganguk,.. ” Bagus sekali Antonie, bagus sekali,.. terima kasih ya,.. ” Aku mencium pipi Antonie,..
” Dengan segala hormat tuan putri,.. “
” Hey,. Jangan panggil aku tuan putri, kita kan sudah berteman lama,.. ” Gerutu-ku,..
” Ya ya Ata, maaf aku lupa,.. hehehe,.. Ok kita mulai sekarang ya,.. ” Tanya Antonie,.

Aku mengganguk, sambil memperhatikan gaun berwarna kuning lemon yang dibawanya,.. indah sekali gaun itu,.. aku yakin siapapun yang memakainya pasti akan terlihat cantik,..Antonie ?? hmm dia teman-ku dari kecil, kami berbeda 8 tahun dia sudah seperti seorang kakak buat-ku, sekarang dia adalah salah satu desainer dan penata rias terbaik di Perancis, dan tentu saja aku begitu bahagia dia mau menyempatkan waktu untuk merias-ku ditengah kesibukannya,..

Entah berapa jam berlalu, tak terasa sementara kami hampir menyelesaikan riasan-ku, sambil bercanda-canda dengan Antonie, Ayah tiba-tiba mengagetkan-ku,..

” Ata, anak-ku yang cantik,.. ” Ia tersenyum sambil menatap pantulan wajah-ku dicermin,..
” Papa,.. ” Aku tersenyum,.sambil melambaikan tangan memintanya mendekat
” Tuan Calonne,.. ” Antonie membungkuk-kan tubuhnya, seperti selayaknya rakyat biasa pada anggota keluarga kerajaan,..
” Antonie, tidak ada formalitas diantara kita,.. lagi pula aku berhutang budi pada-mu, kamu menyempatkan diri untuk datang kesini ditengah kesibukan-mu di Monaco,.. ” Kata Ayah-ku,..
” Kehormatan untuk saya Tuan,.. “
Ayah-ku tersenyum menjawab, ia memeluk pundak-ku dari belakang,..
” Ata, kamu cantik sekali, seperti Mama dulu,.. ” Ia tersenyum menatap-ku,..
” Terima kasih Papa,. “
” Ya, dan selamat ulang tahun sayang,.. ” Ia mencium kening-ku,..
Aku tersenyum membalas,..

” Ayo bersiap-siaplah kalian,.. oh ya, Raja akan datang,.. ” Papa-ku tersenyum sambil menutup pintu kamar-ku,..
” Wow,. Raja menyempatkan datang di pesta ulangtahun-mu Ata,.. ” Antonie tersenyum,..
Sungguh sebuah kehormatan, Raja Louis menyempatkan datang kepesta-ku, meski aku memang tak terlalu menyukainya, tapi tetap saja ini adalah sebuah kehormatan yang begitu besar untuk keluarga kami,..
” Ya-ya aku tahu Antonie,.. ” Aku kian bertambah tegang,..
” Nah kamu harus tampil sesempurna mungkin OK,.. ” Antonie merapikan riasan-ku,.

#####

Entah berapa pasang mata yang menatap-ku saat aku perlahan menuruni tangga menuju ruangan utama,.. Suara tepukan tangan, dan ucapan selamat dari para tamu, banyak yang kukenal, tapi lebih banyak lagi yang tak kukenal,. Aku hanya bisa tersenyum, sambil mengucapkan terima kasih, hadiah-hadiah yang begitu indah yang diberikan oleh mereka,..

Antonie mengiringi-ku hingga ketengah ruangan,.. disana berdiri Ayah-ku yang memberikan ucapan terima kasih atas kedatangan para rekanan bisnisnya,.. sedangkan aku lebih sibuk melambai kearah teman-teman-ku yang ada dipojok dekat makanan,.. dasar mereka itu,..

Pesta itu berjalan begitu meriah, Antonie benar-benar tahu keinginan-ku, saat ruangan yang agak remang dengan lilin-lilin yang memberikan kesan romantis untuk pesta-ku ini,.. Rasanya bahagia sekali bisa merasakan kesempatan ini dalam hidup-ku,..

Tiba-tiba musik yang tengah dimainkan itu berhenti,.. mata para tamu tertuju ke pintu masuk, sama seperti saat aku masuk tadi, sesosok pria tambun memasuki ruangan itu, tak terlalu tinggi dan juga tidak tampan, namun pakaian yang dikenakannya begitu mewah, semua orang menundukan kepalanya,.. termasuk ayah-ku dan aku,..

Pria ini adalah Yang Mulia Raja Louis ke XVI, sungguh kedatangannya adalah sebuah kehormatan besar untuk keluarga kami,. Menandakan kami adalah anggota kerajaan yang dihormati,.. namun mata para lelaki lain menatap ke sosok di belakang Raja Louis seorang Putri yang begitu cantik,..

Dengan Gaun-nya yang berwarna merahnya, rambut pirangnya yang di ikal dan digulung keatas,. Mengengam topeng yang sengaja ia biarkan tak menutup wajahnya, memperlihatkan kecantikannya yang begitu sempurna ia tersenyum pada para tamu yang terperangah oleh kecantikannya itu, ia lah permaisuri Perancis, Sang Mawar dari Versace.. Ratu Marie Antoinette Putri Kerajaan Austria

” Yang Mulia,.. ” Ayah-ku menyambut Raja Louis tepat di tengah ruangan,..
” Ya ya Charles,.. yang mana putri-mu,.. aku mau mengucapkan selamat untuknya,.. “
” Ata, kemari,. Yang Mulia memanggilmu,.. ” Ayah-ku langsung memanggilku,.. aku pun mendekati mereka bertiga,.. aku membungkukan tubuh-ku sambil menarik sedikit Rok-ku, sekedar memberikan salam hormat pada Raja Louis dan Ratu Antoinette,..

” Terima kasih atas kedatangannya baginda Raja dan Ratu,.. “
” Ya ya,.. ini ada sedikit hadiah untuk-mu, dan Charles, aku tak pernah tahu kamu memiliki seorang Putri yang begitu cantik, luar biasa,.. rambut coklatnya begitu indah,.. ” Raja Louis memuji-ku, entah sekedar pujian atau apa,..
” Terima kasih yang mulia,.. “
Sementara Raja Louis memancarkan senyum yang begitu akrab pada seluruh tamu, Ratu disebelahnya terlihat begitu angkuh, ia lebih sering menutupi wajah cantiknya dengan topeng yang dibawanya itu,..

” Ya ya,.. ayo silahkan dilanjutkan lagi pestanya,.. ” Kata Raja, musik pun kembali bermain dan orang-orang kembali berdansa sambil menyantap hidangan yang telah tersedia,. Aku kembali ke dua teman-ku, Beatrice Sieyekes putri dari Abbe Sieyekes, seorang Romo dan seorang Politikus terkemuka,,. Dan Jean Bailly,.. putri dari Jean-Sylvain Bailly,..

” Hey, bagaimana Pesta-ku ?? Apa semua terlihat sempurna,.. aku takut kalau sampai terjadi segala sesuatu yang bodoh di pesta ini dan akan merusak segalanya,..
” Hey, tenang lah, semuanya berjalan begitu sempurna, tampaknya teman-mu yang gay itu benar-benar detail dalam segala sesuatunya,.. ” tawa Beatrice,..
” Hey, dia itu baik loh,.. jangan menghina Antonie di depan-ku,.. ” Agak kesal juga mendengar ada yang menjelek-jelekan Antonie, walaupun aku tahu itu sekedar bercanda…
” Yeah, aku tahu, dan cuma bercanda koq cantik,.. ” Beatrice melihat wajahku yang mengkerut,..

” Duh, tampan sekali sich,.. ” Jean tiba-tiba bergumam sendiri,.
” Hah, yang mana yang mana ?? ” Beatrice langsung menyambar mendengar kata tampan,..
” Itu yang memainkan piano itu,.. ” Tunjuk Jean,..
Dan memang benar, Pria itu begitu tampan, senyuman-nya yang indah dengan rambutnya yang pirang, ia mungkin 2 tahun diatas-ku, tapi terlihat begitu dewasa dan..dan membuat jantungku berdebar begitu kencang terlebih saat mata kami bertemu,.. ia tersenyum dan sepertinya senyuman itu untuk-ku,..

Entah berapa kali mata kami saling bertemu, saling melempar senyuman dan entah kenapa, wajahnya itu selalu terbayang, padahal kami masih berada di satu ruangan yang sama,.. ada beberapa tamu yang mengajak-ku berdansa mulai dari anak-anak pejabat kerajaan, sampai dengan para pejabat itu sendiri,. Mau tak mau aku menemani mereka sesaat dan pada saat-saat seperti itu aku dapat merasakan dengan jelas sepasang mata pemain piano itu mengawasi-ku,..

Malam kian larut, pesta masih berjalan dengan begitu meriah, aku merasakan pegal diseluruh tubuhku, namun aku masih memaksakan diri untuk berada di ruangan ini, aku ingin bersama pemain piano itu lebih lama, entah kenapa, mungkin ini yang namanya jatuh cinta,..

” Ata, kamu harus beristirahat,.. ini sudah malam, biarkan saja pesta ini berjalan dengan sendirinya,.. semua akan selesai besok pagi,.. Biar Papa yang menemani mereka,.. ” Bisik Papa-ku,
Aku hanya mengganguk tak lagi berani membantah, apalagi Beatrice dan Jean juga telah terlihat begitu letih, aku pun meninggalkan ruangan itu bersama mereka dan seorang pelayan-ku, kembali ke kamar-ku di lantai 2,..

Sepanjang perjalanan masih saja Beatrice dan Jean membicarakan para pemuda yang datang di pesta ulang tahun-ku itu, terutama si pemain piano tampan itu,.. sambil tertawa-tawa kecil, kami bertiga masuk ke kamar-ku,.. memang kami sudah sepakat untuk menginap di tempat-ku hari ini,.

Dan benar saja kami masih sibuk membicarakan para tamu di pesta tadi, entah berapa lama hingga satu persatu dari kami mulai tertidur,..

#####

Pagi hari yang cerah, aku terbangun oleh kicauan burung yang terdengar di jendela kamar-ku, aku membuka jendela kamar-ku, 2 sahabat-ku masih tertidur terbaring di ranjang-ku, sebenarnya aku masih lelah, tapi rasanya hati-ku begitu bahagia,..Mungkin karena sekarang aku sudah dewasa,.. rasanya pagi ini begitu berbeda seperti terlahir kembali,..

Aku berlari di sepanjang lorong istana-ku,.. sambil tersenyum-senyum sendiri, dan Ouchhhh aku menabrak seseorang,..

” Maaf,.. ” kata-ku sambil menahan rasa sakit di bokong-ku,.
” Maaf , Maaf aku tidak melihat,.. ” Kata suara itu, seorang lelaki dan langsung menaruh benda besar yang dibawanya tadi,
” Maaf, aku yang tidak melihat, ” Kata-ku, karena memang aku yang salah,..

” Tuan Putri ?? ” Tanya-nya,.. sambil berusaha membangunkan-ku,..
Wajah-ku langsung memerah, ya ampun ini pemain piano yang kemarin, kemarin aku sampai tak bisa melepaskan pandangan-ku darinya, dan sekarang ia berdiri di depan-ku dan berusaha membantu-ku bangun, ya ampun jantung-ku berdegup begitu kencang,..

” Maafkan saya Tuan Putri,.. ” Ia berusaha membangunkan-ku,.. aku pun perlahan bangun dengan bantuannya itu,..
” Tidak, aku yang salah, sembarangan berlari seperti itu,.. ” aku merasa tak enak hati sekali, apalagi kalau ada yang rusak,..
” Haha, Tidak,.. Maafkan saya Tuan Putri, dan maaf kami harus segera berbenah,.. “
” Hmm, Ya kenapa tidak,.. ” Rasanya kesal melihat tingkahnya yang begitu kaku, seolah tak berani menatap-ku,..
” Hmm Tuan Putri, tidak ada yang terluka kan?? ” Tanya-nya lagi,..
Aku menggeleng sambil tersenyum, ia tersenyum membalas sambil mulai mengangkat Benda yang tadi dibawanya,..

Namun tiba-tiba ia berpaling,..
” Tuan Putri, Maaf bila saya lancang,.. Boleh saya mencium tangan anda ?? ” Tanya-nya tiba-tiba,..
Aku terdiam, ternyata ia berani juga dan, dan aku tak mungkin menolaknya,..
Aku menganguk sambil membuang wajah-ku malu, takut ia melihat wajah-ku yang mulai memerah malu,..

” Sebagai permohonan maaf saya,.. ” Perlahan ia mencium tangan-ku,.” Terima Kasih Tuan Putri Ata “
Ia Tersenyum sambil mengangkat barang bawaannya itu,..

” Hey, boleh aku tahu nama-mu,. ” Aku tak ingin menyesal bila sampai lupa menanyakannya,..

” Tentu tuan putri,.. Marquis de Lafayette “

#####

Marquis de Lafayette nama pemuda itu, entah ayah tahu atau tidak, hubungan kami mulai berjalan, tak banyak memank frekuensi pertemuan kami, dan ta pernah dekat dengan rumah kami,. Selalu dengan bantuan teman-teman-ku aku harus bersembunyi-sembunyi untuk dapat menemuinya,.. Namun kufikir semua cukup berjalan lancar , meski tak banyak yang tahu tentang itu semua,.. ia adalah seorang Pelajar, pemikirannya tentang perubahan pemerintahan sedikit banyak terus mempengaruhi jalan pikiran-ku,..

Bila dirunut ia masih memiliki hubungan kerajaan, meski hanya seorang bangsawan kecil dan tidak dianggap dalam daftar kerajaan saat ini, itulah yang membuat ia mengikuti rombongan pemusik, memanfaatkan bakatnya yang baik dalam bermain musik ia membiayai sendiri studinya,..

Tak banyak memang frekuensi kami bertemu,.. terlebih ada semacam hukum tak tertulis dimana para anggota keluarga Para pejabat dan bangsawan harus menghadiri pesta-pesta kerajaan, kian lama kian sering, dan dari Lafayette aku tahu berapa banyak penduduk di negeri ini yang tidak mendapatkan makanan hari itu,..

Tetapi aturan kerajaan tetaplah aturan kerajaan, untuk menjaga kehormatan keluarga-ku, adalah penting untuk selalu dekat dengan anggota kerajaan itu sendiri,. Kian lama kian banyak frekuensi pertemuan-ku dengan

#####

” Dan itu semua tidak mungkin dilakukan yang mulia, tidak mungkin ,.. cara terbaik adalah menyeragamkan pajak, para bangsawan seperti kami pun harus membayar pajak, berapa banyak lahan kerajaan yang tidak menghasilkan pemasukan untuk kerajaan, dan tidak mungkin bila rakyat dibebani pajak yang lebih tinggi lagi dalam keadaan ekonomi yang buruk seperti sekarang “

Suasana rapat diruangan itu terlihat begitu panas,.. para pejabat teras kerajaan dan anggota parlementer, sementara Raja Louis tampak binggung dengan apa yang harus ia putuskan,..

” Kau benar Charles,. Kau benar,… “

” Tapi itu tidak mungkin dilakukan Tuan-ku yang terhormat, kerajaan memiliki hak penuh pada tanah-tanah yang dipinjamkan pada rakyat, apakah anda harus membayar untuk sesuatu yang memang milik anda ” Salah satu anggota dewan menyela pemikiran raja,..

” Tapi membebani rakyat lebih dari ini sama saja dengan membunuh rakyat “

” Dan tak mungkin kita tidak menuntut rakyat melakukan pembelaan Negara kan, mereka harus berkorban untuk Negara ini,.. ” Anggota Parlemen itu tak mau mengalah

” Dan apabila anda merasa Negara ini adalah miliki kita, para kaum bangsawan, apa yang kita lakukan demi menyelamatkan negeri ini,.. “

” Cukup-cukup, kita lanjutkan sidang ini lusa,.. ” Raja Louis menghentikan sidang dan langsung meninggalkan ruangan itu,..

” Baik yang mulia,.. ” Para peserta sidang itu menundukan kepala, sementara raja keluar dari ruang sidang itu,.. Charles de Callone merapikan berkas yang dibawanya, sementara ia sadar, apa yang ia lakukan sama saja memusuhi parlement, namun dalam hematnya hanya ini yang bisa ia pikirkan untuk menyelamatkan negara ini,.

” Kita harus melenyapkannya,.. ” Bisik salah satu anggota parlement,..
” Aku tahu, ia bisa merusak sesuatu yang sudah turun temurun,.. Sama saja ia menyuruh kita sederajat sama dengan para rakyat itu,.. “
” Ya ide yang bodoh, bodoh sekali ” celetuk yang lainnya,..
” Tapi bagaimana cara-nya, tidak mudah menjatuhkan orang sepertinya,.. “
Mereka tampak berfikir keras, sebelum seseorang menyela pembicaraan mereka,..

” Mudah, mudah sekali ” seseorang menyela pembicaraan itu,..
Para anggota dewan yang tambun itu berbalik, menatap orang yang berbicara itu,..
” Comte De’Artois,.. apa yang bisa dilakukan penjahat seperti-mu,.. ” Ejek salah satu dari mereka yang disambut gelak tawa dari yang lainnya,..
” Sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang tambun seperti kalian,.. “
” Hahahaha, apa yang bisa kau lakukan,.. “
” Mudah aku tahu caranya, dan kalian tinggal duduk diam sambil menghitung nyamuk dirumah kalian,.. “

Lelaki itu Comte De’ Artois sepupu jauh dari Permaisuri sendiri, dia sendiri bukanlah anggota kerajaan, namun ia bisa berada disini atas desakan Permaisuri, dan lagi ada kabar selentingan yang mengatakan beberapa dakwaan hokum pada dirinya,..

Ia mengambil topinya sambil berjalan santai meninggalkan tempat itu

#####

” Dan Anak kecil itu akan menghancur-kan kesenangan-mu,.. ” bisik Comte De’Artois,
Permasuri hanya mengganguk,
” Sekarang tidak hanya ada satu bunga,.. Mawar dari Versace bukan lagi satu-satunya di seluruh Perancis , Ada juga Ata sang Matahari Paris,.. ” berusaha memanasi Permaisuri
” Kau tahu harus apa ?? ” Tanya Ratu, ia terbujuk, terbujuk oleh segala kemarahan dan rasa irinya,..
Sepupunya itu mengganguk perlahan,..

” Baguslah,.. “,” Aku paling tidak suka ada yang bermain-main dengan-ku, “

Comte De’Artois hanya tersenyum, sementara ia membisiki Sang Ratu, merencanakan sesuatu yang buruk,..

#####

Jalan di kota itu terasa lebih gelap dari sebelumnya,..
Entah hanya perasaan-ku saja, atau memang ada yang aneh,.. perasaan-ku kian tak nyaman saat kusir-ku mengatakan ada yang mengikuti kami dibelakang, meski ia sendiri tak yakin,..

Aku baru pulang, setelah bertemu dengan Lafayette dan teman-teman pelajarnya, mendengar bagaimana rakyat begitu menderita dan marah, kelaparan berusaha mendirikan sebuah badan rakyat yang mampu melawan kekuasaan kerajaan,..

Lafayette berkata berulang kali, bahwa rakyat berada di belakang-ku, mereka mencintai keluarga De Callonee, Namun dalam keadaan seperti sekarang tetap saja ini semua terasa begitu menakutkan,..
Rakyat yang kian melarat, kelaparan, dan penuh kemarahan bisa saja menjadi brutal, buta dan menghalalkan segala cara untuk mengisi perut mereka dan keluarganya,.
Keamanan di kota ini kian lama kian terabaikan,..

Dan benar saja, semua ketakutan itu terjadi,. Orang-orang yang mengikuti kami tadi, mengejar kereta-ku dan menghentikan kereta, desir ketakutan merasuki-ku, sementara kusir kereta-ku tiba-tiba terjatuh dari bangku kusirnya,.. seseorang membuka paksa pintu kereta-ku,..

Orang itu menarik-ku,.. aku tak tahu dibawa kemana, sementara aku berusaha berteriak, yang lain menutup mata dan mulut-ku, aku tak dapat berteriak dengan sesuatu menganjal di mulut-ku,..
Entah kemana mereka membawa-ku, aku baru dilepaskan di sebuah gudang jerami, dua orang yang menakutkan berdiri di depan-ku, yang satu kekar dan mengerikan, dan yang satu kurus, tapi juga tak kalah menakutkan,.. senyumannya adalah senyuman licik yang begitu terkesan dari wajahnya,..

” Lepaskan aku,.. “Aku berusaha meronta,..
Namun jawaban yang keluar dari lelaki kurus itu hanya sebuah tawa dan ia berusaha merobek gaun yang kupakai,.. aku berusaha menghindar namun lelaki kekar itu mengejar-ku,.. ia menangkap tubuh-ku dari belakang, membuat aku tak lagi dapat menghindar sementara Pria yang kurus mendekati dan merobek gaun-ku bagian atas,..

Mereka tertawa seketika,..Tawa mereka yang seolah tak lagi memiliki hati, sementara aku berusaha menutupi tubuh-ku yang nyaris tanpa selembar kain pun, aku dipenuhi oleh rasa takut, sementara aku terus berusaha mengingat lelaki kurus yang berdiri di depan-ku ini, aku,… aku merasa mengenali wajah itu,.. tapi siapa??

Yang pasti mereka bukan lah rakyat biasa yang sekedar dipenuhi kemarahan pada kaum bangsawan, mereka adalah anggota kerajaan, tapi apa maksud semua ini aku benar-benar tak mengerti, namun aku tak dapat menemukan jawabannya, setidaknya untuk saat ini,.. seseorang menarik tubuh-ku,.. sepertinya ajudan dari lelaki kurus di depan-ku ini,..

Ia mengekang tangan-ku,.. hingga aku tak dapat lagi menutupi dada-ku dengan sisa pakaian yang masih tersisa di tubuh-ku, tangan lelaki kurus itu menyentuh dada-ku, tubuh-ku langsung merinding berusaha menolak,.. aku menatapnya tajam penuh kebencian, memakinya berulang kali, namun ia seolah tak perduli dan terus memainkan tangannya di dada-ku itu, ia meremas-remasnya perlahan, namun entah kenapa semua ini terasa begitu kasar dan menjijikan,..

Rasanya aku ingin meludahinya, terlebih mendengar bagaimana ia terus tertawa sambil berkata kotor,.. namun tiap kali aku sedikit bergerak penjaga di belakang-ku itu langsung mencengkram tangan-ku kuat-kuat dan itu menyakitkan,..

” Lepaskan, kamu tahu kan siapa aku !! ” Bentak-ku, terlebih berusaha menjaga kehormatan dan kegadisaan-ku,..
” Ya, tahu dan membuat semua ini menjadi lebih baik,.. dan aku tak akan segan untuk membunuh-mu, ” Matanya terlihat menyorot kejam, seolah yakin akan apa yang dikatakannya, dan juga mampu melakukan ancaman itu,..

Penjaga di belakang-ku itu ikut tertawa sambil ikut menciumi wajah-ku, aku berulang kali berusaha menghindari mereka, namun tetap saja mereka berhasil mendapatkan-ku, menciumi wajah-ku seolah aku adalah boneka mereka..

Lelaki kurus itu tersenyum dan tiba-tiba melepaskan celana-nya,.. penisnya yang sudah menegang dihadapan-ku, untuk pertama kalinya dalam hidup-ku aku melihat sebuah penis, penis seorang lelaki dewasa, panjang dan besar, aku menatap ngeri kepadanya,.. terlebih aku takut bila mereka sampai memperkosa-ku,..

” Jangan,.. Jangan,.. saya masih suci,.. lepaskan saya,.. ” Aku berusaha memelas, meminta belas kasihan mereka,..
” Ya, Putri Ata, saya cuma mau tahu, apakah seorang Gadis yang dijuluki Matahari dari Paris ini bisa memuaskan suaminya kelak,.. ” Mereka tertawa gelak,.. sementara wajah-ku merah padam dihina seperti itu oleh mereka,.. aku tak mengerti apa lagi yang dapat kulakukan untuk melepaskan diri-ku dari mereka sekarang,..

Tiba-tiba Penjaga itu memaksa-ku berjongkok, sementara penis lelaki kurus itu berdiri tegak tepat di depan wajah-ku,.. penisnya kurus namun panjang dengan sedikit urat-urat di sekitaran penisnya itu, perlahan penjaga itu memaksa-ku mendekatkan mulut-ku pada penis itu, sementara lelaki kurus itu menunggu-ku sambil berkacak pinggang,..

Aku terus berusaha melawan, namun tenaga-ku dengan mudah dikalahkan oleh penjaga itu,.. aku menutup mulut-ku rapat-rapat namun lelaki kurus itu menampar wajah-ku,..

” Buka !!! ” bentaknya,.. aku menuruti kemauannya, terlebih rasa sakit itu terasa begitu nyata hingga aku mulai memasukan penis itu dalam mulut-ku,.. bau,..itu yang pertama kali kurasakan,sementara kurasakan juga bagaimana penis itu terasa asin saat mengena di lidah-ku,.. aku tak banyak lagi melawan, bahkan menahan rasa mual ini saja sudah terasa begitu menjijikan buat-ku,..

Perlahan dengan tuntunan si Penjaga kepala-ku bergerak maju mundur, terpaksa aku menggerakan lidah-ku menyentuh penis itu,.. penis yangterada begitu keras dan berdenyut-denyut ditambah lagi penis itu cukup panjang, sehingga membuat-ku tersedak beberapa kali,.. berulang kali aku hampir kehabisan nafas karena tak sekalipun aku diberi kebebasan untuk bergerak,.. aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan selain menjilati penis bau di mulut-ku ini,..

Penjaga itu menerima perintah untuk melepaskan-ku,. Aku menghirup nafas panjang, kufikir semua ini akan berakhir sekarang, namun semua perkiraan-ku itu salah, Lelaki kurus itu merobek Pakaian bawah-ku sekarang, tak sempat aku berteriak kaget, Lelaki kurus itu telah menarik tubuh-ku kearahnya,..

Ia duduk diatas bangku,.. sebuah bangku kayu,.. Ia meminta-ku untuk mengangkanginya,.. memaksa kami bertatapan dan aku harus duduk di pangkuannya,.. Ia mencoba berulang kali mencium-ku, sementara aku masih terus menolak ciumannya,. Si penjaga yang berdiri di samping kami malah ikut menurunkan celananya penis-nya sungguh besar, aku tak percaya dengan apa yang kulihat,..

Dan lelaki kurus itu pun berhasil mencuri ciuman-ku, aku tercekat merasakan lidahnya yang dipaksa masuk dalam mulut-ku, aku tak mengerti apa yang harus kulakukan, bahkan Lafayette hanya pernah mencium bibir-ku sekali, dan tidak seperti ini,..

Lidahnya terus berusaha masuk, mencium-ku perlahan, aku tak membalas, membalas ciumannya itu sama saja dengan mengatakan aku rela diperlakukan apapun, dan aku benci itu,.. aku masih berusaha melepaskan diri dari ciumannya,..

Namun malahan Lelaki itu seperti sengaja membiarkan-ku berdiri,.. penisnya diarahkan ke kemaluan-ku, aku merasakan benda tumpul yang seolah menekan masuk dalam vagina-ku itu, aku mendesah menahan rasa sakitm berulang kali aku berusaha berdiri, menghindari benda itu memasuki tubuh-ku, namun si penjaga itu tak tinggal diam, ia malahan menekan pundak-ku kebawah, menekannya hingga perlahan penis lelaki ini memasuki tubuh-ku,..

Ia melepaskan-ku sesaat membuat-ku langsung berdiri menghindar, perih itu yang pasti kurasakan, namun lagi-lagi penjaga itu menekan tubuh-ku kebawah, berulang kali, perih dan seolah melepaskan-ku dilakukannya berulang-ulang, seolah aku ini mainan mereka,.. dan akhirnya setelah sekian kali penis itu berhasil menekan masuk, merobek kesucian-ku,..

Aku menangis seketika, antara rasa sakit dan rasa kesal penuh keputusasaan, aku,.. aku telah kehilangan sesuatu yang snagat berharga dalam hidup-ku, pada orang yang smaa sekali tak kukenal dan tak kucintai, aku benci itu, harus menyerahkannya secara paksa pada orang-orang ini, namun perlahan aku merasakan penis itu menekan lebih dalam lagi, dan terus bergerak-gerak, perih dan sakit,..

Penis lelaki kurus itu menusuk begitu dalam, memasuki tubuh-ku, menghancurkan segalanya kehormatan dan kesucian-ku,.. aku menangis sejadinya,.. perih rasanya sementara ia terus tertawa sambil menggerakan tubuhnya itu,. Penisnya keluar masuk begitu cepat, tak pernah perduli dengan semua ringisan kesakitan-ku,..

Aku mendesah menahan rasa sakit, sementara tangan-ku tak pernah dilepaskan oleh penjaga itu, terus berusaha mengengamkan tangan-ku di penisnya yang besar itu,.. Aku terus dipaksa menggerakan tubuh-ku naik turun, seiring dengan gerakan penis lelaki kurus ini,..

Tangan-ku memeluk tubuh lelaki kurus ini, aku berusaha berpegangan, sementara rasa sakit itu kian begitu terasa pada tubuh-ku yang telah begitu berkeringat,.. tangis-ku tak pernah berhenti,.. Lelaki kurus itu terus mengejek-ku, berbincang dengan penjaganya yang sedang memaksa-ku memasturbasi penisnya itu,. Ia mengatakan bagaimana Vagina-ku meremas penisnya, dan itu sama sekali tak terdengar enak di telinga-ku,..

Tubuh-ku yang dipaksa naik turun memaksa tangan-ku itu ikut bergerak-gerak di penis si penjaga, penis penjaga itu jelas lebih besar dari penis si lelaki kurus ini, aku tak dapat membayangkan sakitnya bila ia sampai ikut memperkosa-ku, ini saja sudah terasa begitu menyakitkan,..

Tangan Si lelaki kurus itu meremas-remas dada-ku, sesekali lidahnya ikut menjilati tubuh-ku itu, seputaran puting-ku, aku menggelinjang geli, namun tetap saja semua ini terasa menakutkan, tangannya yang lain menarik-narik rambut-ku,.. sambil menampar-nampar bokong-ku membuat-ku terlonjak-lonjak menahan sakit namun dengan begitu tubuh-ku kembali bergerak hingga penis si lelaki kurus itu bergerak-gerak kembali keluar masuk dalam tubuh-ku,..

Desahan itu hanyalah desahan menahan rasa sakit, sementara kian lama kian cepat juga lelaki tua itu menggerakan tubuhnya, penisnya timbul tenggelam dalam kemaluan-ku itu sebelum akhirnya ia mendesah panjang, aku terlonjak kaget saat sebuah cairan serasa ditembakan oleh penis itu dalam kemaluan-ku,.. ia menarik rambut-ku hingga aku meneggadah keatas dan itu membuatku menahan rasa sakit yang teramat sangat,.. belum lagi rasa kaget-kuakan cairan kental yang menembak di dalam tubuh-ku itu pudar, aku diturunkan oleh lelaki kurus itu dari pangkuannya,..

” Milik-mu,.. ” Katanya ringan, seolah aku ini barang miliknya,..
Aku memandang pada penjaga itu memandang dengan penuh harapan ia akan melepaskan-ku,..
” Terima kasih Tuan,.. ” Kata si penjaga itu,.. Ia menyeringai penuh rasa terima kasaih, dan menatap-ku dengan pandangan lapar,..

Aku berusaha memohon padanya untuk melepaskan-ku,.. namun ia justru menarik wajah-ku, kini penisnya yang besar dan keras itu telah tenggelam dalam mulut-ku,.. lebih menjijikan, bau dan rasanya begitu aneh membuat-ku begitu mual,.. namuan ia tak melepaskan-ku begitu saja,.. tiap kali aku berhenti menggerakan kepala-ku ia menampar-ku berulang-ulang,.

Penjaga ini justru lebih kejam dan jahat daripada Tuannya itu,..Aku menangis, air mata-ku bahkan menetes di pahanya, namun ia hanya tertawa melihat tangis-ku itu,..

Tak lagi puas dengan mulut-ku, ia mendorong-ku, dari belakang ia mulai menekan penisnya di lubang kemaluan-ku itu, aku menutup mata-ku menahan rasa sakit, seolah tak jijik dengan kemaluan-ku yang tercampur sperma dari majikannya, dan juga darah keperawanan-ku yang baru saja terengut itu ia menekan penis besar-nya itu masuk dalam kemaluan-ku,..

Aku mengigit bibir bawah-ku menahan rasa sakit,..sementara penis itu kian ditekan lebih dalam dari sebelumnya,..aku menahan rasa sakit yang teramat sangat,.. vagina-ku yang masihbegitu rapat harus mencerna penis sebesar ini dan itu menyakitkan sangat menyakitkan untuk-ku,..

Aku berusaha mencengkram apapun yang bisa kucengkram, sekedar melampiaskan rasa sakit yang teramat sangat ini,.. namun desahan sakit-ku hanya dibalas dengan tawa yang mengelegar dari penjaga bertubuh kekar ini,..

Ia terus menggerakan bagian tubuhnya itu maju mundur dalam kemaluan-ku, aku menahan rasa sakit yang teramat sangat terlebih saat ia menarik rambut-ku sambil mencambuk tubuh-ku dengan jerami yang ada digudang itu, perih dan menyakitkan, namun ia hanya tertawa melihat apa yang dilakukannya itu pada diri-ku,..

Aku mendesah tak karuan, sementara kian lama kian cepat juga ia memperkosa-ku, ia terus memperkosa-ku tubuh-ku sudah terasa begitu lelah, dan masih menyakitkan, aku ingin secepatnya tak sadarkan diri agar tak merasakan rasa sakit ini lagi, ingin semuanya cepat selesai hingga akhirnya Penjaga itu memuntahkan spermanya dalam kemaluan-ku itu,..

Sambil melolong panjang, ia mendesah hebat menggerakan penisnya itu kian cepat sebelum penisnya mulai melelehkan spermanya dalam tubuh-ku,.. Setelahnya tubuhku langsung ambruk, lelah dan menyakitkan, sementara semua rasanya begitu berputar dan aku tak sadarkan diri lagi

#####

Aku terbangun saat para petugas keamanan menemukan-ku di dalam gudang jerami itu, dan menutupi tubuh-ku, aku berusaha menutupi wajah-ku saat warga sekitar ikut mengerumuni tempat itu, aku malu, sementara seorang lelaki digiring masuk oleh para petugas, tak berbusana dan yang lebih mengagetkan lelaki itu LAFAYETTE

Bukan, aku tahu bukan dia yang menjadi dalang semua ini, semua rasanya konspirasi, namun aku tak dapat mengejarnya, mereka membawa Lafayette begitu cepat,.. katanya mereka menemukannya terbaring tanpa busana di sebelah-ku dan mereka yakin ia yang melakukan semua ini,..

Bukan, aku yakin bukan dia,.. aku pulang, aku harus pulang untuk meluruskan semua ini, ayah, pasti ayah bisa melakukan sesuatu,..

Namun sebuah kebusukan lain kembali terjadi dalam hidup-ku,..

Aku menemukan tubuh ayah-ku terbujur kaku tak bernyawa,.. Entah apalagi arti semua ini, hidup-ku terasa begitu hancur,.. rasanya aku kehilangan segala penopang hidup-ku sekarang,..

Kehormatan, kesucian, dan keluarga-ku lenyap dalam satu malam,..

Dalam kebinggungan aku harus berfikir keras,..Apa aku harus membuka aib-ku untuk menyelamatkan Lafayette,.. aku bertemu dengannya beberapa kali setelah pemakaman ayah yang dihadiri oleh Raja dan anggota keluarga,..

Tak Lama kebusukan kerajaan kian terlihat jelas dimata-ku,.. beruntung kerajaan melakukan brunder besar dengan mengangkat Étienne Charles de Loménie de Brienne, Seorang uskup,.. ia memang melakukan beberapa perubahan Radikal sesuai keinginan Kerajaan, namun di sisi lain ia juga mendukung Ide Ayah yang menerapkan pajak merata,.. Untuk sekian lama Kerajaan berada dalam keadaan membinggungkan dalam menentukan kebijakan mereka,..

Lafayette meminta-ku untuk tidak membelanya, lebih penting untuk menjaga nama baik keluarga-ku, membelanya sama saja mebuka aib bahwa Putri Bangsawan De Callone diperkosa oleh seseorang, ia terus meminta-ku untuk tidak membelanya,.. aku bimbang rapuh dan sangat lemah,..

Sedangkan aku saat ini berada dalam lindungan keluarga Beatrice,.. Romo Sieyes sudah menjadi ayah kedua bagi-ku,.. aku bimbang, dan putus asa aku berkali-kali menangis, entah berapa banyak air mata yang telah menetes dari mata-ku, hingga di pertemuan-ku yang terakhir dengan Lafayette sebelum peradilan, aku membulatkan tekad-ku,..

Aku melihat lelaki itu disana,..

Aku mengenalnya sekarang,,..

Semua konspirasi Kerajaan , scenario untuk menghancurkan keluarga kami,..

Lelaki itu Comte De’Artois

#####

” Dan Yang Mulia, bila seseorang yang kita cintai, haruskah ia melakukan ini semua ?? ” Aku berusaha membela diri-ku dan juga Lafayette,..

Aku melihat tempat untuk terdakwa yang masih juga kosong,.. sudah lewat 5 persidangan, dan tak pernah Lafayette menghadirinya,.. Aku tahu ia masih hidup, memimpin perjuangan rakyat dari dalam penjara sana, namun aku ingin melihat wajahnya, memastikan ia baik-baik saja,..

” Bastille dan seumur hidup,.. ” Putus Hakim itu, ini rasanya lebih mirip penghakiman pada tahanan Politik yang berbahaya, meski yang dituduhkan pada Lafayette tak lebih dari seorang Penjahat Seks dan pemerkosa,..

Aku tertunduk, rasanya semua perjuangan ini sia-sia,.. diluar sana aku tahu, makin banyak rakyat yang tak puas pada kerajaan, mereka butuh seseorang, seseorang yang bisa menjadi semangat dalam perjuangan mereka…

Ayah Beatrice membantu-ku keluar dari ruang persidangan itu, ruanga persidangan terkutuk yang terlalu dirusak oleh kekuasaan dan ketakutan,..

Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu, untuk Lafayette,.. untuk Kami,.. untuk Rakyat, untuk Perancis yang lebih baik,..

” Paman ,.. ” Bisik-ku
Romo Sieyes, memalingkan wajahnya pada-ku,..
” Ya anak-ku Ata,.. “
” Paman tahu kan, aku yakin paman bisa melakukan sesuatu,.. “
Paman Sieyes tampak diam, ia tak yakin, meski ia sendiri sadar ia bisa melakukan sesuatu yang lebih, terlebih ia memiliki dukungan rakyat dibelakangnya,.. terutama setelah tulisannya tentang ” Kelompok ketiga ” yang berisi dugaannya tentang ordo-ordo yang memiliki hak-hak istimewa
” Aku akan mendukung-mu paman, aku akan terus berjuang,.. “
” Baiklah anak-ku aku tahu harus apa,.. kita kan berjuang bersama,.. pasti ” Air mata-ku mengharu, terlebih setelah mendengar perkataanya itu, rasanya semangat hidup-ku kembali pulih,. Aku seolahtahu kemana kaki-ku harus melangkah,..

Paris, 28 Mei 1789

Revolusi itu dimulai,.. Setelah menghubungi semua pihak yang mendukung Revolusi ini, Romo Sieyes memulai perjuangan ini dengan cara-nya,.. Pembentukan Estate ( Majelis ) tandingan, dimulai di Paris,..
Dukungan yang kian lama kian bertambah membawa kami melakukan hal-hal yang jauh lebih radikal,.. membentuk orde ini menjadi Majelis Nasional, dengan berbagai pertimbangan Jane-Sylvain Bailly, ayah Jane memasang dirinya sebagai pimpinan,.. kami mulai menggalang kekuatan rakyat menyuarakan aspirasi rakyat dan semua yang bisa kami lakukan untuk meminta kerajaan melakukan kebijakan yang mendukung rakyat, dan mengurangi kekuasaan kerajaan itu sendiri,..

Aku tahu ini tak mudah, satu persatu dari kami mulai dijatuhi hukuman, namun itu semua tak membuat perjuangan kami mengendur,.. Langkah tegas diputuskan oleh Jane-Sylvain Bailly,.. Pasukan kerajaan yang mengepung tempat kami bertemu Salle de’s Etat membuat kami pindah ke lapangan Tenis dekat tempat pertemuan, disana kami bersumpah akan tetap bersama sampai perjuangan ini berakhir ( Sumpah Lapangan Tenis / 20 Juni 1789 )..

Dukungan kembali muncul, semua hanyalah permainan politik namun meyakinkan golongan-golongan masyarakat yang memiliki pengaruh bukanlah hal yang mudah, aku terus berjuang, aku berusaha meyakinkan mereka,.. berdebat, cucuran air mata dan rasa putus asa yang acap mendatangi-ku, membuat aku kian tangguh untuk berjuang, bersama dengan bantuan teman-teman yang lain akhirnya para golongan masyarakat itu mulai membantu kami, dimulia dari golongan Gereja, disusul 57 keluarga kerajaan yang meyatakan dukungan pada kami. 27 Juni, kekuatan kami membuat Kerajaan mulai ketakutan, dan saatnya memulai sesuatu yang lebih radikal,.

9 Juli tahun yang sama, majelis ini kembali berubah, menegaskan eksistensi dan kekuatan kami,.. Majelis Konstitusi Nasional,..

#####

Bila sebuah Negara yang memikirkan kepentingannya satu golongan sendiri,..
Bila sebuah Negara yang hanya memikirkan Kesenangan para anggota kerajaan dalam pesta-pesta dan minuman,..

Maka Negara itu ibarat seuah kapal bolong yang akan berlayar

Bila Sebuah Negara yang membiarkan para pejabat dan kerajaan mengisi perut mereka kenyang-kenyang sementara rakyat mereka harus mengais untuk mendapatkan makanan mereka,..

Maka Negara itu ibarat kapal yang akan tenggelam

Saat Sebuah Negara tak lagi memiliki dukungan rakyat,
Saat Sebuah Negara tak lagi memiliki kepercayaan rakyat
Saat Sebuah Negara tak lagi memiliki Konstitusinya

Maka Negara itu adalah kapal yang tenggelam

#####

Aku tahu ini semua lebih memberanikan kenekatan, dibanding sebuah keberanian, aku melakukannya, demi semua yang ingin aku perjuangakan, meski tahu, mata-mata kerajaan selalu mengawasi kami,. Selalu menatap kami dan selalu siap menenggelamkan kami,.. tapi aku mengatakannya,..

Paris, 14 Juli 1789
Bastille

Pertempuran selama 4 jam di depan penjara Bastille, simbol kekuasaan absolute kerajaan berhasil ditumbangkan,.. Marquis Bernand de Launay, saat itu menjabat sebagai Gubernur terbunuh dalam insident itu,..

Massa berhasil membebaskan 7 tahanan,.. 4 pemalsu document Negara,.. dakwaan kebohongan yang digunakan untuk menutupi aib para bangsawan, 2 orang yang nyaris gila karena hukuman yang diberikan oleh mereka,.. dan seorang “penjahat seksual” bernama Lafayette

Dengan segala perjuangan rakyat,.. Raja dan para pendukungnya mundur dari Paris, dibalai kota Prevot des marchands ( Walikota ) Jacques de Flesselles,. Didakwa oleh Massa atas penghianatan terhadap rakyat yang ia lakukan,.. meski kemudian ia terbunuh dalam perjalanan menuju pengadilan, besar kemungkinan Kerajaan terlibat langsung didalamnya,..

Jean-Sylvain Bailly, ayah Jean menerima Komando rakyat, menjalankan peran sebagai walikota dan merehabilitasi system pemerintahan yang ada dengan system baru yang dikenal dengan Commune,. Lafayette yang telah menerima dukungan rakyat selama ini mendapat kepercayaan untuk memimpin Garda Nasional,..

Kekuasaan rakyat terus meningkat, perjuangan rakyat tidaklah mudah untuk menuntaskan perjuangan mereka, masih akan begitu banyak darah, air mata, dan keringat yang diperlukan masih 6 tahun lagi hingga kerajaan ini akan tumbang,..

Raja Louis yang lemah, namun selalu berada dalam tekanan permaisurinya itu mengeluarkan semboyan yang tidak popular untuk mempertahankan kekuasaannya, Semboyan selama ini ” Vive la nation “ ( Hidup Negara ) symbol keagungan kerajaan dirubah menjadi ” Vive le Roi “ ( Hidup Raja ) dan yang paling terkenal ” L’e etat ce es Mo I ” ( Negara adalah saya )…

Paris, 16 Juli 1789

Hari itu hujan sejak pagi,..

Lafayette berdiri di sebuah panggung, tangannya mengenggam sebuah bunga,.. bunga matahari kesukaan-ku,.. Ia menatap lama, menatap penuh arti tak ada senyuman diwajahnya,.. perlahan ia merunduk,.. menaruh bunga Matahari itu diatas benda yang sejak tadi ditatapinya,..

Entah air mata, atau air mata yang mengalir di wajahnya,..
Bunga Matahari itu ia letakan tepat di bangku yang ada di benda itu, sebelum ia meninggalkan tempat itu, para pengawalnya memayungi dan selalu mewaspadai para tokoh Revolusi dari ancaman keselamatan mereka, mereka mulai berjalan menjauh, menjauhi tempat itu, sebuah panggung dengan sebuah Guillotine diatasnya,..

3 hari yang lalu, tanpa dakwaan yang jelas, seorang gadis kehilangan nyawanya,.. terpenggal di depan banyak orang, memancing kemarahan rakyat, kemarahan yang sudah demikian mengubun di kepala mereka, melewati batas kesabaran mereka, atas kesewenangan kerajaan..

Dinding-dinding tempat itu dipenuhi coretan,..
Laisse Ata vivre Soleil de Francais
( Biarlah Ata menjadi Matahari Perancis )


SMK Magang

Ketika aku masi di smk, kurikulum mengharuskan aku mangang selama 2 minggu hari kerja artinya selama 3 minggu kalender, daftar perusahaan yang mau menerima magang siswa smk dikasi, segera aku pilih yang relatif dekat dengan kos ku, kudu cepetan karna kalo dah keduluan temenku ya tertutuplah kesempatan magang di perusahaan yang dah aku pilih. Berbekal surat pengantar dari smk segera aku mengunjungi perusahaan tersebut. Kepada satpam yang bertugas di pintu masuk aku harus menerangkan panjang lebar maksud kedatanganku, resek banget deh tu satpam, kaya bos ja dia mengiterogasi aku, padahal aku kan gak da maksud mencuri atawa berbuat onar. Aku sampe bilang, “Ni kan ada surat resmi dari smk pak, saya harus magang diperusahaan ini dan perusahaan dah bersedia menerima siswa magang, ni daftar resmi perusahaan yang dikeluarkan dari sekolah”. Baru tu satpam resek membolehkan aku masuk. Aku diantar ke resepsionis, yang satpam lagi. Kayanya kalo perusahaan manufaktur, semua garis depan dijaga satpam. Baiknya satpam yang resepsionis gak nanya macem2, cuma baca surat pengantar sekolah trus menghubungi pejabat terkait. Aku disuru nunggu karena pejabat terkait masi miting. Selama nunggu aku dikasi aqua gelas, lumayan deh untuk mengobati hausku karena dah berpanas2 jalan kaki diterik matahari menunju ke perusahaan itu dari kos ku. Karena deket ya aku jalan aja, lumayan kan menghemat waktu dan ongkos angkot. Ampe ngantuk aku nunggunya, satpam resepsionis menghampiriku dan menyodorkan formulir untuk aku isi. Segera aku isi formulir itu, nanya tentang nama, tempat tanggal lahir, sekolah, ortu, banyak bener deh yang kudu diisi, karena prosedur ya terpaksa diikuti aja. Selesai isi form, form kuserahkan lagi ke satpam dan aku disuru nunggu lagi, “Masi aus dek?” tanya satpam sambil nyodorin aqua gelas satu lagi. Sambil mengucap maacih, kutrima tu minuman dan segera kutenggak abis. Aku nunggu lagi, lama juga, eh karna dah minum 2 gelas jadi pengen buang aer imut. Nanyalah aku ke satpam dimana toiletnya, diunjukin ma satpam, buru2 aku ketempatnya untuk menunaikan tuntutan badan. Ketika aku kembali ke ruang tunggu tu satpam bilang, “Kamu dah ditunggu ma pak…” (dia menyebutkan nama, gak usah disebut dimari deh ya). “Pak … jabatannya apa pak”, tanyaku. “Dia kepala perso”. “Perso tu paan pak”. “Personalia”. “Ooh”, jawabku, ngomong singkat2 gitu apa maksudnya ya batinku.

Si bapak ternyata ramah banget, ganteng lagi orangnya, seneng aku ngeliatnya. Dia baca surat sekolah dan formulir yang dah aku isi, dan mulailah dia ngajak aku ngobrol, dia nanya macem2 berdasarkan yang dah aku isi di formulir itu, sampai akhirnya dia tanya, “Kamu cuma 2 minggu ya magangnya”. “iya pak, sekolah mengharuskannya 2 minggu aja”. “Kurang tu kalo mo tau dikit tentang perso”. “Bole nanya gak pak”. “Ya bole lah, buat cewek semanis kamu apa si yang enggak”. Eh demen gombal juga ni bapak, aku cuma senyum ja menanggapi penggombalannya. “Kok bapak nyebut perso, tadi satpam juga bilang gitu”. “Biar singkat aja ngomongnya, tu efisien namanya”. Aku manggut2 aja, padahal gak ngarti efisien tu apa. “2minggu kurang Nez, magang perso kudu 3minggu, seminggu tentang admin training, seminggu admin rekrutmen dan seminggu admin perso”. “Admin tu paan pak”. “Wah aku seneng ni, kamu banyak tanya, artinya mo blajar banyak. Administrasi, biar efisien nyebutnya admin aja. Bisa gak 3minggu”. “Wah kudu nanya ke sekolah pak, Inez gak bisa jawab pertanyaan bapak”. “Ya udah aku call dulu deh kepsek kamu”. Dia minta operator nyambung ke nomer telpon sekolah, setelah nyambung dia bicara dengan kepsek tentang waktu magang. “O gitu ya pak, kalo gitu klop lah dengan rencana saya, makasi pak, jelas sekarang”, katanya sambil menutup pembicaraan dengan kepsek. “2minggu disurat kepsek tu maksudnya 2minggu hari kerja”. “Maksudnya apa tu pak?”tanyaku lagi. “iya, 2minggu kan 14 ari, jadi 14 hari kerja, itu artinya 3minggu kurang seari, dan kata kepsek bisa digenapkan 3 minggu penuh”. “Gak ngerti pak”. “Gini lo anak manis, hari kerja dimari kan 5 hari seminggu, jadi kalo 3 minggu magang butuh waktu 15 ari. makanya 2minggu magangnya kamu dimari menurut surat kepsek tu artinya 14 ari kerja, sabtu minggu gak diitung kerna libur, kan sama dengan 3 minggu kurang seari. Kep sek setuju kamu magangnya ditambah seari lagi biar lengkap 3 minggu. Mulai ni ari ya”. “Iya pak”.

Mulailah dia menerangkan semua seluk beluk mengenai departemen perso yang dipimpinnya, aku dikenalkan ma semua staf perso, Staf yang ada di kantor disuru masuk ke ruang miting semua, aku disuru mengenalkan diriku kepada semuanya, dan mreka mulai nanya2 tentang aku, pada nggangguin aku malu sehingga sering aku tersipu. Acara perkenalan selesai, “Bagus, gitu caranya kenalan ma orang, aku suka cara kamu ngejawab pertanyaan yang konyol sekalipun. supaya lebih baik lagi seharusnya begini ni”, dia ngajarin aku gimana komunikasi ma orang laen. Wah asik juga magang kaya gini, seblonnya aku kira kerjaan yang ngebosenin karena kaya disuru jadi ob aja, itu kata kakak kelas yang dah pernah magang. Ternyata aku gak salah mili perusahaan ini, karena bener2 aku dikasi pengalaman baru yang berguna. Demikianlah aku mulai magangnya di departemen training dibawah supervisi si bapak dan supervisor training. Mbak supervisornya juga ramah dan helpful banget. Setiap sore aku kudu lapor ke bapak tentang apa aja yang aku pelajari hari itu, apa kendalanya dan mana2 yang blon ngerti, si bapak nerangin semua yang aku blon ngerti dan menjawab pertanyaanku. “Wah Nez kamu beda banget deh ma yang perna magang dimari dari smk kamu, kamu banyak nanya, banyak nyatet, kalo yang dulu2 mah ngantukan semua”. “Iyalah pak, Inez mo dapet sesuatu disini, masak mo buang waktu percuma”. “Bagus, bole tu kalo kamu dah lulus kerja dimari”. “Bener pak”. “Ya kalo da kebutuhan”. “Kebutuhan apa pak”. “Ya butuh nambah orang”. Aku manggut2 aja. Demikianlah waktu cepet berlalu karena aku seneng banget ngejalaninya.

Minggu kedua di rekrutmen, kerja rodi banget deh karena kerjaannya cuma nyortir surat lamaran yang masuk, karungan lagi, bosen banget deh, yang gak kepake langsung masuk mesin shreder kertas. aku cuma dipesenin paperclip ma stepleran kudu dilepas biar gigi mesin shredernya gak rusak, dapet sekantong tu paperclip, gak bole dibuang, bisa dipake lagi, jadi gak usah beli, biar efisien kata supervisor rekrutmen, cewek juga. O ini toh artinya efisien, gak tau hemat gak tau pelit ya. Karena gak banyak pertanyaan tentang bagian ini, maka si bapak bilang kalo gak da pertanyaan gak usah ketemu dia, aku bole langsung pulang ja kalo dah waktunya.

Minggu ke 3 laen lagi nuansanya, bagian perso kaya bagian kranjang sampah, semua bengek masuk kesitu, teteknya mah dinikmati bagian laen. Aku blajar banyak banget, aku bilang ke si bapak, kudunya di rekrutmen 2 ari aja, biar lebi banyak lagi blajar dimari. Aku diajari gimana ngomong ma bagian laen yang marah2, gimana supaya bisa nyelesain konflik, kalo corn flake tinggal dicampur susu anget, beres. Aku semangat banget magang di perso, supervisornya cowok, dia seneng banget ngajarin aku. aku juga banyak bertanya ma si bapak selepas jam kerja, sehingga aku pulangnya selalu malem. si bapak telaten sekali ngasi bimbingan ke aku. Pulangnya aku diajak makan. aku dah brani ngejawab gombalannya.

“Nez, kamu dah imut, sexy, mulus, kulit kamu putih lagi”. “Mangnya napa kalo putih pak, lagian inez kan kurus masak sexy si, tocil kan pak”. “Kalo diluar gini jangan panggil pak dong”, “Bis manggil apa dong, om aja deh ya”. “Boleh, justru karena kamu imut jadi badan kamu proporsional, makanya aku bilang kamu sexy, Lucu lagi kalo imut tapi toge, gak imbang jadinya”. “Mang om suka ma yang imut ya”. “Iya, bisa digendong kemana2″. “Kok gendongan?” “Blon perna ya digendong cowok kamu, asik lagi. Kamu da cowoknya kan”. “Ada cuma jarang ketemu”. “Trus kalo ketemu ngapain”. “Ada deh, om mo tau aja”. “Lo kan kamu mau tau semua urusan kerjaan aku kasi tau, ni aku nanya atu aja kok kamu gak mo ngasi tau si”. “Ya gitulah om, anak muda kalo dah lama gak ktemu ngapain?” “Ngangon burung ke sangkarnya ya Nez, asik dong”. “Jarang kok om ktemunya, dia da dilaen kota, jadi kalo ada waktu baru bisa ngapelin Inez”. “Mangnya kerja ya”. “iya”. “Jablay dong kamu ya, mau gak aku yg blay”. “Ih si om genit”. “Tapi suka kan”. “Ge er, sapa lagi yang suka”. “aku suka banget ma kamu, sejak pertama ktemu kamu”. “Masak si, kan om dah kluarga”. “Sapa bilang, aku dah pisah lagi”. “anak?” “da 2 orang, ikut ibunya, jadilah aku jomblo, baeknya da kamu yang nemenin”. “Om kesepian ya”. “Iya Yang, kamu mo gak nemeni aku”. Wah meningkat ni kedudukan aku, dipanggil Yang. Aku senyum2 ja, “mangnya om gak malu jalan ma abg kaya Inez”. “Napa mesti malu, kamu kan cantik, mau ya jadi cewek aku”. Buset dah ni om, galau banget dia. “Job desc cewek om apa”. “Wah hebat, blajar ampir 3 minggu dah bisa nyebut job desc, ya menghibur aku lah, mau ya Yang”. Tanpa sadar aku ngangguk, soalnya aku juga seneng banget liat si bapak. Supervisor perso juga ganteng tapi kan dia masi muda, seleraku om2 kali ya. Abis makan dia nganterin aku ke kosanku, “Om, kalo jalan ma om Inez ganti baju dulu aja ya, tadi makan ja diliatin orang2″. “Kamu bawa baju ganti ja, seblon pulang kantor kamu ganti baju dulu”. “Ntar ditanyain orang kantor om”. “Bilang ja mo ke tempat temen, ada kerjaan skolah”. Pulangnya seblon aku turun dari mobil, dia mencium pipiku, aku sampe tersipu, “mimpiin aku ya Yang”. Besoknya dikantor dia biasa aja kaya gak da papa ma aku semalem, aku juga manggil dia bapak lagi.

Sampelah hari terakhir magangku. Dia bikin semacam upacara pelepasan dengan para supervisor dan staf yang ada di kantor, aku dikerjain abis2an, disuru crita kesan2 selama magang, ditanyain semua hal dan aku kudu jawab, kaya siapa yang paling nyebelin. Gak bisa kan aku nunjuk orang, jadi pandai2lah aku ngejawabnya. Supervisor perso bilang, “Wah Inez pinter banget deh, diajarin skali langsung bisa praktek”. Yang laen ngejodoin aku ma supervisor perso yang ternyata masi jomblo. Aku ngeliat ke si bapak, dia tenang2 aja mendengar gurauan stafnya, malah ada yang nyuru supervisor perso berdiri disebelahku dan di foto2in pake hape, disuru meluk pundakku, pinggangku, eh dianya nurut aja, aku si cuman cengar cengir ja, aku gak enak ma si bapak, cuma si bapak tenang banget, gak da prubahan papa di wajahnya, senyum2 ja. Setelah semua acara pamitan slesai, aku nunggu si bapak di halte deket kantor, setiap sore memang aku nunggu dia disitu, dia kan dah sminggu ni ngajak aku makan malem trus, lumayanlah ada yang mbayarin.

“Om, gak papa kan tadi candaan temen2″. “Gak papa kok, kamu suka gak ma dia”. “Bukan selera Inez om”. “Lo, bisnya selera kamu yang kaya apa”. “Yang kaya om, cowok Inez juga tipe om2 kok”. “O gitu, bagus dah, jadi aku gak da saingan di kantor”. “Kita jalan ke ancol yuk”. “Ngapain om”. “Kamu perna ke pasar seni gak”. “Gak tu om, mangnya mo liat paan disitu”. “Ya liat2 seni lah, asik juga liatnya, mau Yang”. aku dah ganti baju, aku pake jin ma tengtop ja, biasanya aku pake blus en rok kalo makan malem. “Kamu sexy banget deh, kok gak pake baju kaya biasanya”. “Kan hari trakhir, jadi pakeannya dibedain”. “Kok terakhir, katanya mo jadi cewek aku”. “Ya tapi kan ketemunya gak bisa tiap ari om, Inez kan kudu sekolah, ada tugas yang kudu Inez selesaiin”. “Ya gak papa, jumat malem ja kita ketemuannya ya”. “Kalo gak da kerjaan buat weekend ya om, kadang tu ada tugas kelompok, ya ngerjainnya kalo weekend”. Dia ngangguk ja. “Mau ya ke pasar seni”. Aku cuma ngangguk ja. Di pasar seni aku digandengnya kemana2, kadang pundakku dipeluk, kadang pinggangku dipeluk sambil ditarik merapat ke badannya. Aku cuma bermanja2 ma dia. Kayanya dia ngebales keselnya dia tadi waktu si supervisor meluk2 aku waktu di foto2in. Kita nyari makan, ngobrol berlama2, gak kerasa dah ampir tengah malem. “Nez cape ya, cari tempat istrahat yuk”. Wah naga2nya mo ngajak cek in ni, aku blaga pilon ja”. “Ya pulang aja om”. “aku cape banget deh, gak sanggup nyetir lagi, kamu bisa nyetir gak”. “Gak bisa om”. “Ya udah ke hotel ja yuk, kan dimari ada hotel juga”. “Kan mahal om”. “buat kamu apa si yang enggak”.

Dia membeli beberapa botol soft drink, menggandeng tanganku ke parkiran mobil, dibukanya pintu mobil dan aku duduk, gak lama kemudian mobilpun meluncur ke motel yang ada disitu. Kayanya jam2an deh, gak tau deh dah ampir tengah malem gini gimana itungannya, katanya si dapet lebi dari 6 jam. Mobilnya masuk garasi, dia turun dari mobil, akupun ikut dan kita masuk ke kamar. Aku langsung berbaring ja di ranjang masi dengan pakean lengkap, isinya cuma ranjang besar, kaca rias, tv, seperangkat sofa dan banyak kaca di dindingnya. kamar mandinya cuma da shower, toilet dan wastafel, ada anduk dan toileteris yang di bungkus plastik. Gak lama lagi terdengar ketukan pintu, si bapak membuka pintunya dikit dan membayar biaya kamar.

Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang. Dia yang move duluan, tangan kanannya memeluk tubuhku, dah kepalang tanggung berdua dengan dia diranjang, aku tidak segan-segan lagi membalas pelukannya, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping. “Dah sejak awal ketemu aku pengen meluk kamu di ranjang gini deh Nez, kesampean juga”, dia sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami sudah saling beradu. Kemudian bibirnya langsung merambah bibirku, sambil dia memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Sambil bermain lidah, dia mencoba memasukkan tangan kanannya ke dalam tengtopku hingga masuk ke dalam braku. Aku tidak tahan lama dipermainkan toketku, apalagi dia meremas-remas kedua toketku dengan lembut dan sesekali memlintir2 putingku yang mulai mengeras dan menonjol itu. Aku tidak mampu lagi menyembunyikan kenikmatan yang kurasakan dan terasa aku mulai terangsang, aku mulai mengerang-erang kecil. “Nggak mau mandi dulu om?” tanyaku. “Nantilah, kan blon kringeten, lagian ada ac”, jawabnya sambil tetap memainkan lidahnya dalam mulutku dan meremas-remas toketku yang imut.

Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahnya dari dalam mulutku lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya. Aku hanya mampu menatap kekarnya dadanya, masi perkasa banget keliatannya. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitku putih sementara kulitnya agak hitam.

Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring, “Tengtop kamu dilepas ya”. Aku cuma mengangguk, dia bangun lagi dan melepaskan tengtopku. aku mengangkat kedua tangan keatas untuk mempermudah lepasnya tengtop dari tubuhku. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk. Kali ini aku menindihnya masih mengenakan bra warna putih, sementara dia bertelanjang dada. Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab dia tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam braku. braku pun segera menyusul, dia menyelipkan kedua tangannya ke punggungku, aku mengangkat badanku sedikit untuk mempermudah dia melepas kaitan braku. lalu dia meremas-remas toketku dengan penuh napsu. “Kecil kan om”. “Gak lah, segini justru pas ditanganku”. segera dijilatinya dan diisap-isapnya pentilku yang imut yang dah mengeras.dia mengemut pentilku keluar masuk mulutnya sehingga kedengaran bunyinya akibat air liurnya yang membasahi pentilku.

Mulutnya turun menciumi perutku membuat aku menggeliat kegelian, “Geli om, udahan dong”. dia segera melepas kancing jinsku dan menariknya kebawah. aku mengangkat pinggulku untuk membantunya sehingga lepaslah jins ku dari kakiku menyisakan cd miniku aja. Dia menggosok selangkangaku yang masi tertutup cd sehingga menjadi sedikit basah, “Dah mulai napsu ya Nez”. “He eh”, aku hanya mengguman saja, menikmati elusannya di selangkanganku. Tak lama kemudian, cdku pun dilepasnya. Kembali aku mengangkat sedikit pinggulku untuk mempermudah dia melepas cdku, dan telbul lah aku didepannya. Matanya berbinar2 menelusuri tubuh telanjangku dari ujung rambut sampe ujung kaki, “ck ck ck”, decaknya. di antara selangkanganku terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya, nampak warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih dengan bulu2 halus yang menerawang sedikit. Kini aku dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua pahaku yang menjepit daging empuk itu.

Tanpa berlama-lama, segera dia segera menjulurkan lidahnya menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu. tidak terlalu sulit baginya untuk memasukkan lidah ke lubang tengahku itu. Semakin lama semakin dipercepat kocokan lidahnya kedalam mekiku sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air. Aku menjadi semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulku serta aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakiku hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya. Dia semakin leluasa memasukkan lidahnya lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa mekiku semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang mekiku.

“Aduh.. om.. enak sekali om.. terus om.. aahh.. uhh.. mm..” hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulutku ketika dia menggerak-gerakkan ujung lidahnya pada lubang mekiku. “Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Aku masukkan saja?” tanyanya sambil terus mempermainkan lidahnya dalam lubangku. “Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suaraku itu semakin menaikkan rangsangannya sehingga akhirnya dia secara berturut-turut membuka celana dan cdnya sekaligus sampai tubuhnya sudah telanjang bulat. Aku mengambil alih permainan, aku mau merangsang dia juga agar kenikmatan yang kami ingin raih bersama bisa maksimal.

Aku mengambil posisi disisi kanannya dan mulai menghisap pentilnya serta gigitan kecil di sekitarnya sambil tanganku mulai ikut mengocok kontinya. “Ihh.. ahh.. uhh..”, hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. “Ouh.. sst.. aduh nikmat Nez..”, sambil merasakan terus sensasi kenikmatan yang melanda tubuhnya. Aku mulai sejengkal demi sejengkal menjilati setiap bagian tubuhnya, tidak ada yang terlewatkan. “Ahh.. Yang.. ohh.. sstt..”, serunya sambil tubuhnya mulai menggeliat seperti cacing menahan rasa geli bercampur nikmat karena permainan lidahku pada tubuhnya. “Kamu blajar yang beginian dari cowok kamu ya Yang”. “He-eh”, gumamku. “Ohh.. hoo.. huss”, erngnya kembali sambil mulai mengangkat-angkat pantatnya ketika mulut dan lidahku sudah sampai di sekitar bagian paling sensitif tubuhnya. “Ayo.. Yang.. sedot dong, hoo..”, dia menyuruhku menyedot kontinya yang berdiri tegak seperti tiang bendera disertai mengalirnya air bening kenikmatan yang keluar dari lubang kontinya. Tetapi aku tidak menghiraukan permohonannya, aku justru asyik memainkan di sekitar selangkangannya dan sesekali singgah di biji pelernya yang mulai memerah.

Napasnya mulai tidak beraturan, namun aku belum juga menyentuh batang kontinya yang semakin deras mengeluarkan air bening seperti sedang menangis minta dijamah. Sampai-sampai bulu-bulu di sekitar pangkal kontinya sudah terasa basah semua. “Ahh.. .. sekarang sedot kuat-kuat Yang..”, pintanya lagi. Kini batang kontinya mulai kujilat perlahan-lahan oleh seperti sedang menjilat lelehan es lilin yang airnya mengalir turun di batangnya. Ketika ujung lidahku menyentuh lubang kontinya aku mulai memutar-mutar lidahku itu disitu. “Oh.. nikmatnya, hoo.. sekarang sedot Yang”, kembali dia memohon agar aku menghisap kontinya, jangan hanya dijilatin saja. ” ohh.. masukkan semua di dalam mulutmu, ohh..”, serunya ketika aku sudah memasukkan kontinya di dalam mulutku. Dia mengerang gak keruan ketika merasakan kontinya sudah kuat kusedot2. Apalagi gerakan itu kulakukan tanpa bantuan tanganku, semuanya kulakukan hanya dengan mulut dan lidahku aja.

“Sst.. ohh.. Yang sedot terus”, serunya mulai tidak karuan dengan napas yang mulai memburu. “Ahh.. terus Yang..”, serunya lagi terus menyuruhku mengocok kontinya dengan mulutku. “sedikit lagi Yang, aku sudah mulai rasa ya.. ohh..”, serunya sambil pantatnya ikut bergoyang kiri kanan mengimbangi mulutku yang maju mundur di batang kontinya. “Om.. keluarkan di dalam mulut Inez ja, Inez ingin sekali minum semua mani om”, kataku sambil memasukkan kembali kontinya ke dalam mulutku dan mengocok, menyedot dan mempermainkan lidahku di kontinya secara bergantian.

“terus.. ayo.. sedot Yang..”, serunya seiring dengan semprotan air maninya sebanyak empat kali di dalam mulutku. Kutelan semua maninya, gak menyisakan sedikitpun ketika kontinya masih didalem mulutku. Bahkan ketika air maninya sudah keluar semua dan tidak ada yang tertinggal di batang kontinya, aku justru menyedot kuat di lubang kontinya untuk meyakinkan bahwa air maninya telah keluar semua dan telah tertelan olehku. “Ah.. oh.. ahh., ruar binasa Yang. Hebat kali sedotanmu, cowok kamu bener2 coach yang baek ampe anak didiknya lihai banget dalam urusan sedot menyedot, kaya pompa aer sanyo ja”. .”, guyonnya lemas merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia rasakan. Sementara itu aku sudah mengeluarkan kontinya dari mulutku. aku tersenyum melihatnya terkapar puas sambil mengelus-elus kontinya yang perlahan-lahan mulai lemas.

“kamu sudah sering ngelakuinnya ya Yang ma cowok kamu”, tanyanya. “Soalnya kamu tadi sepertinya sudah pengalaman banget”, sambungnya. “Iya om diajarin cowok Inez ja gimana ngemut yang nikmat. Sudah sebulan Inez tak melakukannya makanya tadi Inez sangat agresif”. “Kenapa?” “Ia lagi tugas keluar pulau om, mungkin enam bulan baru balik”. “Wah.., kamu bisa tahan ndak”. “Kan ada om..”, jawabku genit.

Setelah merasa cukup istirahatnya, dia mulai lagi meraba2 toketku. “Sekarang giliranku lagi ya Yang”. aku senang ja selama permainan ini dia slalu manggil aku Yang, serasa bener2 dia tu cowokku, atau minimal pengganti cowokku yang dah pergi tugas. “Om, sedot toket Inez lagi ya, kaya tadi”, kataku sambil berbaring mengambil posisi terlentang di tempat tidur, namun kedua kakiku masih tergantung di pinggir tempat tidur hampir menyentuh lantai. langsung tangannya mulai bergerilya di toketku sambil mulut kami saling menutupi dan lidah kami saling tarik. “Mmh.. mmhh..”, suara kami berdua saling berbalas sambil menikmati permainan lidah kami dan tangannya yang sudah semakin liar di toketku.

Setelah kurang lebih sepuluh menit kami lakukan gaya itu akhirnya mulutnya menggantikan posisi tangannya untuk bergerilya ditoketku sementara tangannya sudah turun bermain di mekiku yang telah becek oleh lendir. “Oh.. ya.. sedot om, ahh..”, giliran aku melenguh karena mulai meningkat gairah birahiku akibat sentuhan kenikmatan yang aku dapat dari permainan mulut dan jari tangannya. “Sst.. agh.., masukkan jari om di lubang Inez dong” , sambungku lagi ketika dia mulai memainkan jari tangannya di dalam lubang mekiku. “om.. goyang di dalam agh..”, desisku menikmati permainan jari-jarinya di liang mekiku yang sudah sangat becek. “cepat om, ya.. sedikit lagi”, seruku sambil mengangkat kedua kakiku dan membuka kedua sisi pahaku sehingga mekiku terbuka lebar. Pantatku pun kini semakin bergoyang ke kiri-kanan yang kadang kuangkat-angkat sedikit.

Aku tidak ingin mencapai klimaksnya sendiri. “Om, gaya 69 dong, biar om enak juga”. Segera dia memosisikan dirinya dengan gaya 69 sehingga posisi wajahku tepat berada di depan kontinya yang berdiri tegak seperti tiang bendera, lalu kupegang batang kontinya yang sudah ereksi berat dan kumasukkan lagi ke dalam mulutku. “Ssrr.. cup.. cup..”, suara yang keluar dari mulutku ketika menyedot kepala kontinya dengan kuat sekali sehingga ketika aku menariknya keluar terdengar bunyi tersebut. “Ahh.. aggh.. wow..”, serunya kegelian akibat permainan mulutku terhadap kontinya. “Aduhh.. agh.. nikmatnya.., aku mulai rasa nih”, katanya memberitahu aku bahwa dia sudah mendekati klimaks.

Segera aku menyetop emutanku dan mengeluarkan kontinya dari mulutku secara perlahan agar dia dapat menahan orgasmenya sesaat. “Inez diatas ya om”, kataku sambil menyuruhnya berbaring gantian dipinggir tempat tidur dengan kakinya tetap tergantung ke lantai. Akupun berdiri dan mengambil posisi membelakanginya lalu dengan perlahan seperti orang yang akan duduk, aku meraih kontinya dan menuntunnya masuk ke dalam lubang mekiku. “Agh.. ohh..”, desisku ketika memasukkan kepala kontinya kedalam mekiku, kemudian kucabut lalu kumasukkan kembali. Gerakan itu kulakukan sebanyak dua kali. “Ya.. uhh.. auh..”, desahku lagi sambil mulai mengeluar-masukkan kontinya dalam mekiku. Aku berusaha untuk mencoba memasukkan sebagian demi sebagian kontinya hingga seluruh batang kontinya masuk semua hingga ke pangkalnya, kedua buah sisi pantatku telah rapat di kedua pahanya. “Ouhh.. sstt.. .”, desahnya ketika aku mulai bergoyang diatas kedua pahanya bak orang lagi menunggang kuda. Goyangan pinggulku sebentar-sebentar lambat dan sebentar-sebentar aku percepat putarannya dan naik turunnya pinggulku.

Setelah kira-kira sepuluh menit dalam posisi begitu akhirnya aku mulai merasakan mekiku menegang dan menghimpit kontinya dengan erat. goyanganku semakin cepat dan tidak beraturan. “Oma.. konti om nikmat sekali”, desahku dengan napas yang mulai tidak beraturan dengan goyangan naik turunnya tubuhku yang semakin cepat sehingga menimbulkan suara seperti orang yang bertepuk tangan akibat pertemuan kedua pahanya dan dua buah pantatku. Akhirnya, “Ouh.. om.. Inez keluar om.. ahh..”, desahku dengan nada yang sedikit panjang. Ketika itu juga tubuhku berhenti bergerak dan menekan turun tubuhku sehingga seluruh kontinya amblas masuk kedalam mekiku. “Oh.. nikmat sekali om..”, desahku. Lendir mekiku berhamburan keluar membasahi seluruh pangkal kontinya dan bulu jembutnya, sampai-sampai lubang anusnya ikut basah.

Menyaksikan erangan dan mimik kenikmatan serta jepitan otot mekiku akibat mencapai orgasme, kepala kontinya terasa ikut membesar. pinggulnya membuat gerakan memutar-mutar kecil. Sambil mendesis pelan, “Oh.. enak ya Yang” “Hmm, auh..”, jawabku. spontan dia langsung mengambil alih kendali dengan menyodok naik lubang mekiku sehingga tubuhku agak terlempar naik sedikit. “Aku ndak tahan nih ohh..” serunya sambil terus menyodok-nyodok lubang mekiku yang masih basah oleh lendir kenikmatanku.

Dia lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan aku tetap di pangkuanku serta kontinya yang masih tetap bertahan di lubang mekiku dan membelakanginya. “Ohh.. ahh..”, desahku yang mulai kembali terangsang akibat kedua toketku diremasnya dari belakang sambil menciumi tengkukku. Aku juga mulai membuat gerakan-gerakan kecil dengan mengoyang pantat sehingga ujung kepala kontinya terasa menyentuh g-spotku. “Agh.. agh.. agh..”, desahku keenakan. Aku semakin tidak tahan dengan gerakan-gerakan kecilku dikombinasikan dengen tusukan kontinya yang gencar dari bawah, “Om, Inez dah mo nyampe lagi nih”, desahku semakin kuat dengan napas yang mulai tidak beraturan. “Cepet amir Nez, aku blon brasa banget mo ngecret”. “Ahh.. ya.. oh.. om.. ahh..”, desahku dengan sangat panjang mendapatkan orgasmeku kembali. Aku langsung nyender pada dadanya. “Om, nikmat banget deh maen ma om”.

Aku dibaringkan telentang diranjang dan dia segera menaiki aku untuk menuntaskan permainan ini. Dia mengarahkan ujung kontinya pada mekiku yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum dia sempat menusukkan ujung kontinya ke lubang mekiku, aku terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok kontinya dengan tanganku sehingga membuat dia semakin gemas. Kini senti demi senti dia mendorong ke depan hingga ujung kontinya pas tertuju pada lubang mekiku. Aku hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memekku sehingga kontinya dapat menembus lubang mekiku dengan mudah. Dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakiku hingga ujungnya berada di atas kedua bahunya. Kurasakan kontinya masuk menyelusup ke dalam mekiku tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Aku semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburu, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya. “Om, nikmatnya….”, erangku.

Aku menarik pinggulnya dengan keras dan diapun menekan kontinya ke dalam mekiku juga dengan keras sehingga peraduan antara kontinya dengan mekiku semakin dalam dan kencang. Genjotan kontinya semakin dipercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup keras. Kami sempat memperhatikan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV yang sengaja kami keraskan untuk menyamarkan suara kami.

Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Aku gak puas dengan posisi di bawah, “om, inez pengen wot lagi”. Segera dikeluarkannya kontinya dari dalam mekiku lalu merobah posisi. Aku dengan sigap mengangkanginya lalu memasukkan kembali kontinya dalam mekiku lalu aku dengan cepat menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan, ke bawah dan ke atas, sehingga dia sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam kontinya.

Setelah beberapa saat, aku menawarkan padanya untuk nungging agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun dia gak mau agar tidak mengeluarkan lagi kontinya dari dalam mekiku sebab merasa sudah sangat mendesak ingin muncratkan maninya. Kali ini aku dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulku maju mundur dan kiri kanan, bahkan aku menarik dia bangun sehingga kami setengah duduk dengan meletakkan kedua pahaku di atas kedua pahanya, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik. Kakiku melingkar kebelakang tubuhnya.

Tiba2 dia memelukku keras, dia menyuruh aku memeluk lehernya, dia memegang pahaku dan berusaha untuk berdiri. “Mo ngapain om”. “Kamu blon perna digendong kan?” Setelah dia bisa berdiri sambil menggendongku, dia mulai menurunkan tubuhku pelan kemudian mengangkatnya kembali keatas, terasa sekali kontinya menelusuri liang mekiku pelan keluar masuk, sensainya beda banget ma wot di ranjang. “Gimana rasanya”. “Fantastis om, Inez blon perna ngerasain yang kaya gini, dia berjalan menuju ke tembok, badanku terayun pelan sehingga terasa sekali kontinya bergerak keluar masuk mekiku. Wah nikmat banget deh. Dia menekan punggungku ke tembaok dan mulai mengedutkan kontinya keluar masuk mekiku, dengan bersender ke tembok, dia bisa mengeluar-masukkan kontiny dengan lebi cepat ke dalam mekiku, aku mulai mengerang keenakan, “Om, luar biasa deh nikmatnya. Inez blon perna ngrasain gaya gendongan”. “Kan tadi aku dah bilang, aku demen banget ma cewek imut supaya bisa digendong2, ya inilah maksudnya”. Aku cuma bisa melenguh keenakan merasakan kontinya makin cepat kluar masuknya di meki aq.

Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan. muncratlah maninya dalam mekiku sambil terus memompa mekiku dari bawah dan mengikuti gerakanku. Bersamaan dengan aku kembali mencapai klimaxku. “Wah Yang, meki kamu dah peret, empotannya berasa banget, palagi wot, ulekan meki kamu kaya ulekan sambel aja, mana tahan”. “Ya gak papa, masi da ronde ke 2 kan”. “Pastinya, mana puas aku ngecret cuma sekali di meki kamu. Eh gak papa kan ngecret dalam meki kamu. “Gak papa kok om”. “Kamu lagi gak subur kan”. “justru lagi subur, makanya napsu Inez gampang banget terangsangnya”. “Wah gawat dong”. “tenang aja om, Inez da antinya kok, dikasi ma cowok Inez. Dia kan datengnya bisa kapan aja, sehingga kalo mo maen ya gak usah ribetin subur gaknya Inez, makanya dia kasi Inez antinya”. Wah hebat, kudu trima kasi tu ma cowok kamu”, jawabnya sambil tertawa. Dia mencabut kontinya pelan dari mekiku, bersamaan dengan melelhnya maninya dari mekiku, dia menurunkan aku dari gendongan ke ranjang, sehingga aku telentang diranjang dan dia menyusul terkapar disebelahku,

setelah cukup istirahat menenangkan napas yang memburu, baru kami ke kamar mandi untuk membersihkan konti dan meki yang berlepotan dengan mani, dibawah pancuran air hangat, kemudian andukkan dan segera kembali ke ranjang. Dinginnya ac menyengat tubuhku yang masi setengah basah sehingga kerasa dingin. “Om acnya dimatiin ja, dingin banget”. “Jangan dimatiin yang, ntar panas, naekin suhunya ja”, jawabnya sambil menaekkan suhu ac. “aku pasang di 25 drajat ja ya, ini minimum, pantes dingin banget jadinya, kan dah malem juga”. Dia kembali berbaring disampingku, memeluk dan mencium kening dan bibirku. kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan. Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya pasangan kekasih yang lagi dimabuk asmara. “Om, istirahat dulu ya, Inez dah lemes banget, om hebat ih bisa ngegiring Inez ampe 3 kali nyampe”. “iya kita istirahat dulu, gak usah buru2, kita masi punya waktu ampe besok siang”.

Kami berdua tidur nyenyak sekali, mungkin abis perang bratayuda sangat melelahkan. Aku terbangun karena pengen pipis, dia masih tertidur. Kulihat dah terang dibalikmkorden jendela. Segera aku ke kamar mandi dan memnunaikan hajat kecilku, Aku menggosok gigi dan mencuci muka. Belum selesai dia masuk kekamar mandi dan memeluk tubuh telanjangku dari belakang. “Selamat pagi sayangku”, katanya sambil mencium tengkukku sehingga aku menggelinjang kegelian. “Dah pipis dulu, tu kontinya ampe ngaceng keras ” Dia melepas pelukannya dan buang air imut, kemudian dia ikutan gosok gigi dan cuci muka. Aku keluar duluan dari kamar mandi dan berbaring di ranjang lagi.

Dia segera menyusulku, tanpa diperintah lagi dia langsung mendekatkan batang kontinya ke tangan ku. Segera kuelus dan keremas dengan gemas. Aku mendekatkan wajahku untuk mengulumnya. “Sarapan paginya ini ya om”. “Kamu dah laper ya Yang, siangan ya makannya sekalian cek out, gak usah nunggu ampe jam 12, kita brunch ja di mangdu sambil beli pakean buat kamu. Itung2 trimakasi dari kantor kamu dah bantuin 3 minggu dengan memuaskan”. “Juga dah memuaskan om juga malem ini kan”. “Ya itu juga, aku puas banget deh maen ma kamu, ruar biasa dah meki kamu, dah peret abis trus kedutannya tu gak nahan banget, ntar kita beli juga hadiah dari aku pribadi deh”. “Inez gak minta lo om, Inez juga puas banget kok maen ma om, jau lebi nikmat ma om katimbang cowok Inez. Inez mau deh jadi ceweknya om asal dikasi nikmat tiap malem”. “Wah kalo tiap malem, kamu mesti tinggal ma aku dong”. Aku cuma senyum ja sambil kembali mengulum kontinya. Dia mendesah

Gak lama dia menarikku berbaring lagi. kayanya dah pengen masuk lagi dia, kontinya dah full ngacengnya. dengan hangat aku dipeluknya dan aku pun membalas pelukannya. Bibirku diciumnya dengan penuh kehangatan dan kelembutan. aku menyambut ciumannya, dia menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan segera kubelit juga dengan lidahku. Bibirku yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagutnya dengan posisinya yang menindihku.

Dia menghentikan pagutan bibirnya dan melanjutkan kebawah, terus kebawah sampe ke bukit mekiku. Dipandanginya bukit mekiku, kakiku direnggangkannya. Pagutannya beralih bibir mekiku. Pantatku terangkat dengan sendirinya ketika bibirnya mengulum bukit mekiku yang telah basah oleh cairan. Jilatan dan emutan pada klitku membuat pahaku menjepit wajahnya. Semburan panas keluar dari mekiku, aku hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang diakibatkan oleh jilatan dan emutannya.

Dia kemudian menarik tubuhku agar pantatku pas di pinggir ranjang. Kakiku menyentuh lantai dan dia berdiri diantara kedua pahaku. batang kontinya diarahkan ke bukit mekiku. Dia sedikit lebih melebarkan pahaku sehingga klitku terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kontinya di bibir mekiku. Aku merangkulnya dan mencium bibirnya. Pagutan pun kembali terjadi, bibirku dengan lahapnya terus memagut bibirnya. Dia meraba-raba bukit mekiku dengan batang kontinya, kemudian didorongnya perlahan sehingga kepala kontinya melesak masuk mekiku.

Kuluman bibir kami terjadi lagi. Dadanya terus digesekkan ke toketku yang sudah mengeras. Aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi untuk menambah nikmatnya. Kepala kontinya terjepit liang mekiku, sambil mencium telinga kiriku, dia menekan kontinya supaya masuk lebi dalam, batang kontinya sudah masuk ke liang mekiku hampir setengahnya. kakiku semakin kuangkat dan tertumpang di punggungnya. Tiba-tiba tubuhku bergetar sambil merangkulnya dengan kuat. “Aduhh..om” dan cairan hangat keluar dari bibir mekiku.

Mendapat guyuran air di dalam mekiku, dia lalu memasukkan semua batang kontinya ke dalam lubang mekiku. “Auh.. auh.. auh..” lenguhku. Aku terus menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan. Dia juga mengenjotkan pantatnya sehingga kontinya kluar masuk di mekiku. Nikmat banget rasanya pagi gitu dah dienjot dengan penuh napsu. Aku dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatku kekanan dan ke kiri membuat dia karena kuatnya jepitan bukit mekiku yang semakin menjepit. Beberapa menit kemudian dia memeluk badanku dengan eratnya dan batang kontinya ditekannya dalam2 dibarengi semburan panas maninya ke mekiku. Selang beberapa menit dia diam sambil memeluk aku yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat.

Dia mendekapku sampai batangnye mengecil dan terlepas dari mekiku.Dia merebahkan dirinya disampingku. Dia mencium keningku, “Yang, makasi buat kenikmatan yang kamu kasi ke aku”. “Inez juga nikmat banget kok om”. Ya udah skarang kita mandi trus cek out”. Larena dah laper juga segera kita membersihkan diri di kamar mandi, berpakean dan langsung cek out. Mobilnya meluncur ke daerah mangdu yang gak jauh dari lokasi motel. Nomer satu kita mengisi perut yang dh dangdutan dan diskoan dari tadi. habis itu dia mblanjain aku pakean dan hape baru dan berakhirah sesi nikmat diantara kami berdua dengan dia nganter aku pulang, mungkin akan ada lanjutannya tapi blon bisa diramal skarang.


Laporan Pelajaran Biologi

Namaku Henry. Saat ini aku duduk di Kelas 3 SMA yang sedang menunggu Ujian Nasional alias UAN. Aku akan menceritakan pengalaman pertamaku dalam bercinta. Kejadiannya sekitar bulan November tahun lalu.

Jovie adalah seorang gadis cantik di kelasku yang tentu saja seksi, tubuhnya ramping, dengan rambut hitam sebahu, berwajah manis dengan kulit kecoklatan, walaupun payudaranya tidak begitu besar, mungkin lebih kecil dari 34A. Namun tetap saja ia sering membuatku terangsang. Setiap hari ia selalu menggunakan rok sekolah diatas lutut. Sehingga paha dan celana dalamnya sudah menjadi santapan sehari-hari bagiku. Pahanya yang begitu mulus sering membuatku TURN ON, dan celana dalamnya sering menggoda hasratku. Hampir setiap hari aku melihat celana dalamnya, mulai dari putih polos, biru, gambar beruang, pink, hitam, dll.

Jovie duduk di sebelah kananku(di sekolahku tiap orang satu meja). Setiap kali aku berbicara atau ngbrol dengannya dia sering mengangkangkan kakinya sehingga aku bisa dengan jelas melihat motif celana dalam yg dipakainya (entah dia sengaja atau tidak). Hal itu yg membuatku senang ngobrol dengannya.

Suatu hari kelas kami diberi tugas untuk membuat laporan biologi tentang reproduksi manusia dan hewan. Dan aku dan jovie sekelompok berdua. Dan pada hari Kamis kami memutuskan untuk membuatnya di rumah Jovie sepulang sekolah.

Pulang sekolah aku langsung ke rumah Jovie. Sesampainya disana aku lansung disuruh pembantunya langsung ke kamar Jovie di lantai dua.

“Knock Knock”

Aku mengetuk pintunya, namun tidak ada yang menjawab. Lalu aku membuka pintunya perlahan dan masuk ke kamar Jovie. Ternyata Jovie sedang tidur terlelap dengan posisi telentang. Jovie masih mengenakan seragamnya lengkap dan kaos kaki masih menempel di kakinya. Kemejanya agak terangkat sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Roknya pun sedikit tersingkap sehingga aku bisa melihat dengan jelas celana dalam yang dipakainya(warna pink). Semua itu membuatku sangat terangsang dalam waktu seketika. Namun aku tidak berani membangunkannya(mumpung pemandangan bagus) maupun berbuat macam-macam kepadanya(maklum gak pernah). Tapi aku semakin tidak tahan, rasanya Penisku sudah berontak. Lalu aku keluar dari kamarnya dan ke kamar mandi.

Di kamar mandi aku segera melepaskan celanaku dan membebaskan burungku keluar dan mulai mengocoknya. Tiba-tiba aku melihat sebuah celana dalam bermotifkan beruang (seperti yang pernah aku lihat )tergantung di gantungan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambilnya dan mulai menggesek-gesekannya ke Penis ku yang tegang dari tadi. Ternyata begitu lembut CDnya Jovie, lalu aku semakin mempercepat kocokanku. Dan akhirnya “Crot………….crot………………crot………..” Sambil membayangkan Jovie sedang mengulum Penisku.

Celana dalam Jovie menjadi penuh dengan spermaku. Lalu setelah membersihkan Penisku aku kembali ke kamar Jovie. Dan ternyata ia telah bangun.
Aku : “Kamu uda bangun Jo. Aku uda dateng dari tadi tapi kamu lagi tidur jadi aku gak tega bangunin kamu.”
Jovie : “Aduh maaf, gw tadi ketiduran. Ywd kita langsung mulai yuk bikin laporan.

Maka kami pun mulai mengerjakan laporan biologi tugas kami. Tiba-tiba Jovie bertanya, ”Ereksi tuh apaan sih?Gw penasaran nih, jelasin donk”
Aku : “Ereksi itu pengerasan pada alat kelamin pria yang disebabkan oleh saraf dan pembuluh darah sebagai akibat dari suatu rangsangan tertentu.”
Jovie: “Itu sih aku juga tau. Tapi aku masih penasaran ereksi tuh kyk paan. Jelasin lagi donk yang detail.”
Pertanyaan Jovie membuatku terangsang lagi. Dan aku pun mulai berpikiran macam-macam.
Aku : “Klo gitu kamu mo lihat ereksi kyk pa?”
Jovie:”Nakal kamu! Tapi boleh juga. Mank boleh?”
Maka aku langsung membuka celana panjang dan celana dalamku. Jovie langsung terperangah melihat penisku yang sudah tegang. Ukuran penisku sekitar 15.5cm.
Jovie:”Wah gila, baru pernah gw liat punyanya cowo!”
Lalu Jovie dengan polosnya menyentuh dan meraba-raba penisku. Rasanya seperti tersengat listrik yang membuatku nafsu untuk menyetubuhi Jovie.

Dengan segera kudekatkan tubuhku dengan tubuhya dan mulai mencium bibirnya. Aku langsung melumat bibirnya dengan nafsu. Semula Jovie memang diam saja. Namun akhirnya dia membalas ciuman-ciumanku. Aku membalasnya lagi dengan semakin agresif, kuemut bibir bawahnya. Kuemut lidahnya. Dan ia pun mengemut lidah ku.

Lalu ciumanku semakin merajalela. Aku mulai menciumi telinganya yang bersih. Mengemut dan menjilati telinganya. Tanganku pun yang tadinya diam mulai menyentuh dan meremas payudaranya. Terdengar suara nafas Jovie yang semakin tersengal-sengal. Agh…agh….agh…agh….
Lalu aku turun menciumi lehernya dan terus meremas payudaranya. Lalu aksi kami berlanjut di ranjang. Aku segera membuka bajuku sehingga aku tidak memakai apa-apa lagi. Dan aku pun mulai membuka kancing kemeja Jovie satu per satu sambil menciuminya. Begitu melihat payudaranya yang masih terbalut Bra berwarna putih dengan tali biru. Aku pun langsung menciumi payudaranya yang kanan dan tangan kanan ku meremas payudara yang satunya lagi.

Sepertinya Jovie semakin menikmati permainanku. Ia menyuruhku untuk membuka kait branya. Aku tentu saja menurutinya. Sambil membuka kaitnya aku menjilati punggungnya dalam posisi telungkup. Lalu kutelentangkan dia kembali. Langsung kuburu kedua payudaranya yang imut. Kuemut dan kumainkan pentilnya dalam mulutku sambil tanganku yang satunya lagi meremas payudaranya yang lain. Kujilati terus putingnya sampai terasa mengeras. Payudaranya memang lembut dan indah sekali. Memang ini merupakan pengalaman pertamaku melihat dan merasakan payudara seorang wanita.

Akupun mulai melakukan pergerakan kebawah. Aku ciumi dan jilati kakinya, lau ke betisnya yang seksi dan kusingkapkan rok abu-abunya (tanpa membukanya) agar aku bisa merasakan kelembutan pahanya yang mulus sambil mendengarkan suara Jovie yang kegelian.

Lalu kuciumi celana dalamnya sampai basah. Lalu kutarik dan kulepaskan celana dalamnya. Terlihat kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu Jovie berkata ”Mo ngapain Hen?Jangan dimasukin ya!” Karena kasihan aku pun menutup niatku untuk memasukkan penisku.

Namun aku tetap menciumi dan menjilati vaginanya yang terlihat merah dan agak sedikit basah (munkin ini yang dibilang becek). Hal ini membuatku tambah nafsu. Aku terus menjilati dan memasukkan lidahku kedalam vaginanya. Jovie pun mulai menggeliat. Nafasnya semakin tidak teratur. “Agh..agh..agh..agh.” Lalu tanganku pun ikut meraba-raba bibir vaginanya, dan sepertinya kutemukan klitorisnya. Karena begitu tersentuh tubuhnya langsung menggeliat dan mengeluarkan suara yang semakin keras. Suaranya tersebut membuatku semakin mempercepat gerakan lidah dan tanganku. Dan tiba-tiba keluar cairan yang berbau seperti cuka dari vaginanya. Sepertinya Jovie mencapai orgasmenya. Dengan lahap kujilati cairan tersebut.

Jovie terlihat sangat menikmati orgasmenya. Aku pun iseng mengesek-gesekkan penisku ke bibir kemaluannya. Tiba-tiba Jovie menyuruhku,”Lagi hen, lagi hen. Masukkin!” Walaupun kaget, aku sangat senang mendengarnya(inilah yang kutunggu-tungggu). Dengan sigap aku memulainya.

Aku :”Ok, dengan senang hati sayang.”
Aku mulai memasukkan penisku ke vaginanya. Seret sekali vaginanya. Awalnya sulit untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Dan sepertinya Jovie agak kesakitan.
Jovie:”Egh…Pelan-pelan Hen!”
Aku : “Tahan dikit Jo, bentar lagi.”

Dengan sedikit dorongan aku berhasil memasukkan penisku. Aku pun mulai melakukan gerakan maju mundur (posisi konvensional). Benar-benar nikmat rasanya . Penisku seperti diurut-urut. Agh…agh…agh. Jovie pun mulai mengikuti gerakanku. Dan suara jovie makin lama makin keras. Lalu aku segera mempercepat gerakanku sambil mencium payudaranya. Lalu Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Namun setelah dipercepat aku kembali memperlambat (kayak waktu c*** system tarik-ulur). Kira-kira setengah jam tarik-ulur aku mempercepat gerakanku. Maju-mundur,maju-mundur…Dan tiba-tiba Jovie berkata:”Gak tahan Hen!Cepet –cepet!” Lalu tiba2 terasa ada air muncrat ke penisku. Rupanya Jovie sudah orgasme. Tidak lama kemudian rasanya penisku sudah 80% ingin memuntahkan sesuatu. Segera aku cabut penisku karena takut Jovie hamil. Lalu kujulurkan penisku ke wajah Jovie dan kusuruh mengulumnya. Enak sekali rasanya. Terasa lidahnya menjilat-jilat kepala penisku. Lalu kuajarkan dia mengocok penisku. Ia pun mulai mengocok penisku.
Aku :”Agh….agh….Terus jo….lebih cepet lagi….Uda mo keluar nih.”

Crot….crot…crot…crott….crotttt…Spermaku akhirnya keluar juga dan kutumpahkan semuanya di mulut Jovie. Ternyata Jovie menikmatinya spermaku. Ia menelan habis semua spermaku dan membersihkan kepala penisku dari sisa-sisa spermaku.
Karena lelah Jovie tertidur dengan lelap. Dan aku pulang ke rumah. What a great day!!!Klo begini Sering-sering aja bikin laporan.
Keesokan paginya kami bertemu lagi di kelas. Lalu dia berbisik kepadaku, ”Celana dalamku yang beruang kemarin kamu apain? Ehm…kapan-kapan kita bikin laporan lagi ya.”


Maria

Maria. Itu namaku. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia 11 tahun. Saat itu, aku benar-benar sendirian. Rasa takut dan kesepian menyerang hati dan pikiranku. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Aku tidak pernah bertanya. Selama ini aku hanya mengenal ayah dan ibu saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kami bertiga sangat bahagia.

Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya “lupa” akan kemalangan yang baru saja menimpaku. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.

Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan oleh Bunda Risa, salah satu pengurus di tempat kami.

“Ayo bangun, cepat mandi, pakai pakaian terbaik kalian, setelah itu kalian harus berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa”, katanya sambil tersenyum hangat.

Dan aku pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”

“Mungkin ya..”, kata Bunda Risa sambil tertawa kecil.

“Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini..”

Tak kusangka, pertemuanku dengan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.

“Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?”, tanyanya.

“Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.

“Sempurna” katanya dingin.

“Seperti boneka..”

Aku yakin sekali dia bergumam ["..boneka yang aku idam-idamkan"]

Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.

Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.

“Halo.. Maria” Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.

“Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”

Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan, ”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”

Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.

Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku. Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.

Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.

“Erik sudah pulang!!”, pikirku senang.

Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Erik bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba dan meremas payudara wanita itu.

“Ohh..Erik”

Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok wanita itu dan menari-nari di sekitar pinggul dan pahanya. Tak lama, Erik sudah habis melucuti pakaian wanita itu. Erik merebahkan wanita itu ke tempat tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh wanita itu, menciuminya dengan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara wanita itu sambil meremas-remasnya.

“Ohh..Eriik..” Aku mendengar desahan wanita itu.

Aku melihatnya. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa.

Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan ‘senjata’nya, kedua kaki wanita itu dipegang dengan tangan Erik dan Erik segera menancapkan ‘senjata’nya ke liang wanita yang sudah basah itu dengan sangat kasar. Wanita itu mengerang dengan keras. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Hatiku terasa sakit dan ngilu. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku tetap melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sambil berlinang air mata.

Erik masih melanjutkan permainannya bersama wanita cantik itu, dia menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Sepuluh menit setelah itu, Erik terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.

Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Benar saja, aku melihat Erik berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.

Dia pun membungkukkan tubuhnya,

“Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja.”

Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.

“Aku..aku..sayang Erik”

“Erik adalah milikku..hanya milikku seorang”

Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat cantik dengan baju itu, “Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik.”

Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.

“Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Erik..”

Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.

“Hey Maria, Erik itu ganteng banget ya? Temennya juga..” ujar Sara sambil tertawa kecil.

Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.

Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Erik sambil mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih Erik..aku sayang sekali sama Erik..”

Erik pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.

“..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?”

Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.

“Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!”

Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,

“Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!”

Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.

“Erik marah..”, pikirku.

Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.

Tiba-tiba, Erik menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.

“Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!”

Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.

“Erriik!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.

Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.

“Aku harus menjadi orang pertama yang..”

Erik tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.

“Hmmphh..”

Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.

“Ahh..”

Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.

“Panas..badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati.

Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.

“Ahh..!!” nafasku makin memburu.

Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.

“Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”

Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.

“Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya..”

Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Erik kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.

“Hhh..!!”

“Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa.” pikirku.

Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.

“Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.

Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.

“Aaahh..!!”

Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.

“Erriik..!! tidaak!!” aku sangat malu melakukan posisi itu.

Tetapi Erik tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan ‘liang’ku
menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.

“Ohh..Maria.”

Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Erik mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.

“Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat”, gumamnya.

Aku memilih untuk diam. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.

“Maria, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”

Erik memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.

“Ya Erik..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.

“Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Maria..”

Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.

“Terima kasih..Erik.”


Ibu Kos, pembantu kos dan 4 temen arisan ibu kos yang haus sex adalah guru sexku

Cerita ini merupakan pengalaman nyata yang hampir 30 thn aku simpan, sekarang aku berusia 49thn, berkeluarga dgn. 2 anak (masing2 sdh kuliah), pengalaman ini tidak pernah kuceritakan ke istri dan siapapun. Tetapi karena sering membaca Cerita Dewasa, maka aku ingin menceritakannya kepada para pembaca setia Cerita Dewasa.

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1980 s.d 1986 ketika aku mulai kuliah di PT swasta di Jogjakarta. Saat itu aku Hendi (nama samaran) usia 19 thn, tinggi 168cm, berat 60Kg, postur atletis, kulit sawo matang, wajah oval berkumis, potongan rambut bross, teman2 selalu memiripkan aku dengan bintang film Beverly Hills Cop – Freddy Murphy (film layar lebar yang termasuk box office saat itu), setelah lulus SMA di kota Bandung (kami sekeluarga asli jawa timur, tetapi kami 6 bersaudara lahir dan besar di kota Bandung), hijrah ke Jogjakarta tanpa ada family sama sekali untuk mendapatkan sekolah PT swasta, karena tidak diterima di PT. Negeri (saat itu jalur Perintis 1 – 4), aku diterima disalah satu PT. Swasta terkenal di Jogja, jadi aku mencari tempat kos2an yang akhirnya dapat tempat kos dimana sebelumya rumah itu belum pernah menerima kos2an, didaerah Baciro.

Karena rumah tsb. nampak asri banyak tanaman hias, nyaman dan sejuk, aku tertarik untuk kos disitu walaupun tukang becak dan pemilik warung disudut simpang 3 mengatakan: “ itu kan rumah Bu Wahyu, selama ini tidak terima kos2an mas, dia hanya bersama pembantunya, Pak Wahyunya sedang tugas ke Amrik, sedangkan mbak Shinta (anak semata wayang) kuliah di Jakarta, tapi coba aja mas, kayaknya punya 4 kamar kosong dibelakang”

Aku beranikan diri mengebel rumah bu Wahyu, dan yang keluar adalah wanita setengah baya mengenakan kain jarik jogja, usia sekitar 35-40thn, nampak wajahnya bersih berlesung pipit, bertubuh sintal dan mungil, sehingga nampak menarik, ternyata dia adalah pembantunya bu Wahyu: “ disini ga terima kos mas, tapi coba saya tanyakan ke ibu sebentar” (dalam hatiku, wah.. pembatunya bersih juga dan semok bodynya…… he..he).

Beberapa menit kemudian keluarlah bu Wahyu, wah… wah…! aku terbengong kagum, ibu satu anak ini sangat ayu cantik, kulit putih mulus, rambut panjang sepinggang diikat, tinggi sekitar 160cm dan berat sekitar 55kg, dgn tubuh sintal (semok/ bahenol) mengenakan celana jeans ¾ ketat dan kaos puntung (tanpa lengan) ketat sehingga nampak buah dada yang super besar (menurut saya) kenceng/ padat ukuran sekitar 36B dan ketiaknya nampak bersih tidak berambut. Saat itu aku terbayang penyanyi dangdut/ bintang film cantik Shinta Bella, karena bu Wahyu mirip benar dan aku pikir dia adalah bintang film tsb. Nampak bahwa usianya sekitar 30-35thn (lebih muda dari pembantunya), tapi dalam hatiku berpikir heran, kok anaknya sudah kuliah..!?

Ntah alasan apa, bu Wahyu yang katanya tidak terima kos, langsung berkata: “ kebetulan dek ada kamar kosong dibelakang, tapi jangan bulanan yaa, tante maunya per 6 bulan”. Akhirnya aku setuju kos disitu, lagian senang banget suasananya asri, sejuk dan….. ibu kosnya cantik, bahenol… pembantunya juga he..he!

Ternyata hasil ngobrol2 dengan mbok Tini (pembantu yg ternyata usianya 37th), Tante Wahyu itu usianya sudah 46thn (lebih tua dari ibu saya yang 44th), bener2 aku kagum dengan Tante yang bisa merawat tubuh & wajah sehingga terlihat seperti masih usia 30 tahunan, dan Pak Wahyu (50th) tugas ke Amrik 3 thn, ini baru 6 bulan dan pernah pulang sekali saja (2 minggu). Kalau mbak Shinta kuliah di Jakarta sdh 1 thn dan kadang2 pulang sebulan sekali (2hr saja), krn dia selain kuliah juga nyambi kerja di TVRI.

Aku menempati kamar belakang yang terdepan, persis berbatasan dengan pintu ruang keluarga, tetapi pintu masuk kamar tetap diluar ruangan tsb. dan tembok kamarku persis bersebelahan dengan kamar Tante Wahyu. Di ruang keluarga nampak foto2 keluarga Tante yang memang hanya ber 3 : Tante, Om Wahyu dan Shinta yg nampak cakep banget dengan potongan rambut pendek (tomboy) dengan tubuh mirip Tante semok dan buah dadanya super..he..he..! Om Wahyu nampak tinggi ganteng berkumis tipis dan kelihatan jauh lebih tua dari Tante.

Saya perhatikan dan dari cerita2 Mbok Tini, Kegiatan rutin Tante adalah fitness 3 x seminggu, rutin ke salon luluran dan mandi susu, arisan/ kumpul2 seminggu sekali, dan shoping ke supermarket hampir setiap 2 hari sekali. Tante kalau pergi2 sendirian menggunakan mobil Mitsubishi Lancer, serta selalu berpakaian modis layaknya gadis2 SMA/ Mahasiswa dan berkacamata hitam, tentu banyak laki2 yang tertarik memandang wanita secantik tante dengan penampilan seperti itu, padahal usianya sudah 46th.

Hari2 kulalui biasa2 saja dimulai dengan kegiatan Posma (Pekan orientasi mahasiswa) dan dilanjutkan aktif kuliah menggunakan sepeda motor bebek Honda 70cc thn 73 plat D Bandung, sementara 3 kamar kosong disebelah kamarku belum ada penghuninya, sempat aku tanya ke Tante: “ Tante apa perlu aku carikan teman yg mau kos disini, aku carikan cewek yaa … biar Tante ada temen dan aku tambah segar..he..he..”, tapi Tante bilang: “ ga usah dulu Hen, Tante belum biasa dirumah ini banyak orang, lagian tante sudah senang ada teman kamu yg bisa temenin tante sehari-hari…!!!”.

Setelah 1 bulanan berjalan, aku melihat gelagat perilaku Tante berubah sangat perhatian terhadapku dan smakin hari semakin tidak biasa, seperti: sering menanyakan jam kuliah dan pulangku, dan membelikan makanan kecil maupun menyediakan makan malam, padahal aku kan cari makan diluar, jadinya aku sering ga keluar uang makan, ..yah..lumayan..gratis..he..he..! Mulai juga sering diajak mengantar tante dengan mobilnya (kalau aku kosong kuliah) ke Supermarket, fitness, salon di jalan Solo dan nonton film di bioskop Mataram serta kalau hari libur menemani ke tempat wisata Kaliurang. Aku sih senang2 aja, semuanya gratis, dan yg lebih senang jalan dengan tante cantik bahenol dan nampak masih muda, jadi seperti sepasang kekasih yang sedang pacaran aja..ha..ha.., habis tante sering merapatkan tubuhnya ketubuhku kalau sedang berjalan sambil melingkarkan tangannya di lenganku.

Akhirnya karena terbiasa ngobrol2 baik dirumah maupun saat jalan, tante banyak curhat ke aku, mengenai kehidupan sehari-harinya, bahwa dia kesepian sejak suami jauh di Amrik dan jarang pulang, bahkan sampai menceritakan hubungan sexnya dengan suaminya, dimana Tante belum pernah merasakan apa itu orgasme saat berhubungan intim dengan suami selama menikah 22thn, padahal tante libidonya sangat tinggi, jadi selalu ingin berhubungan intim terus. Sejak suami tugas Tante melampiaskam birahinya dengan masturbasi menggunakan Dildo (Penis karet ukuran orang bule, karena pesan dari luar) hampir setiap hari di kamar, dan Tante baru bisa merasakan namanya orgasme dengan Dildo tersebut, sehingga Tante selalu membayangkan bagaimana rasanya orgasme oleh Penis beneran saat berhubungan intim dengan laki-laki kayak apa sih… dan terpikir ingin cari Gigolo untuk merasakan orgasme sesungguhnya, tapi Tante takut tertular penyakit kelamin dan rahasia terbongkar, karena Gigolo adalah orang lain yang tidak dikenal. Aku lebih banyak tertegun mendengar curhatan tante, lagian aku kan ga punya pengalaman apa-apa, pacaran dan ciuman aja belum pernah apalagi berhubungan intim atau ngentot, jadi aku agak kaget dan malu2 merespon curhatan Tante. Aku lebih sering mengatakan ke Tante untuk sering komunikasi dengan suami via telephone dan tambah aktivitas sehari-hari

Suatu saat kami perjalanan ke wisata Kaliurang, sepanjang perjalanan tante mendesak aku mau untuk berhubungan intim dengan Tante, aku sangat kaget dan takut, meskipun ingin juga sih merasakannya kayak apa sih.., apalagi tante sudah pengalaman dan cantik bahenol seperti artis, kebayang juga sih pengen ngentot artis he..he!

“Hen…, tante terus terang sudah ga tahan dengan masturbasi terus setiap hari, tante pengen merasakan Kontol asli Hen…, Tante sudah lama ga di entot kontol beneran..”, aku kaget karena tante secara blak blakan menyebut “Kontol & Ngentot” bikin aku terangsang..! “Kamu belum pernah ya entotan, …..” Aku menggeleng pelan sambil menyetir mobil dan memandang kedepan “jangan takut ntar tante yang ajarin semuanya…kamu pokoknya diam aja ntar tante yang entot kamu, tante yakin kontolmu pasti bisa memuaskan tante … dan kamu juga pasti nanti menikmati”. Aku diam saja sambil menyetir mobil dan tante mengarahkan aku agar masuk ke villa.

Akhirnya kami ginep di villa tsb, saat baru sampai di Villa, Tante ntah bagaimana sudah memeluk aku dan di sofa langsung mengelus2 bagian kontolku meskipun masih bercelana. Aku kaget tapi diam saja, dan tante menciumi leher dan bibirku, aku merasakan terangsang, yg baru pertama kualami dan kontolku langsung menegang krn dielus2 dibagian luar celana oleh tante.

Tante begitu ganasnya membuka seluruh pakaianku yg akhirnya telanjang bulat dalam posisi telentang disofa dengan kontol mengacung ke atas cenut-cenut, sementara tante juga sdh ga tahan, dia telanjang bulat juga yg ntah kapan membuka pakaiannya.

Aku bengong dan kagum dengan tubuh telanjang tante yg mulus putih, teteknya yang super besar sangat kenceng dan padat bagaikan buah melon, perutnya rata, pinggangnya begitu berbentuk lekuk serta bokongnya besar/ bongsor, nampak pahanya begitu padat berisi dan sangat putih mulus membuat aku semakin terangsang, aku melirik keselangkangannya nampak menonjol ke depan dengan ditumbuhi rambut2 hitam kasar yang sangat lebat merambat ke atas bagian perut mendekati pusar semakin tipis dan sebagian rambutnya melebar ke kiri dan kanan mendekati pangkal paha, bener2 sexy banget membuat aku sangat terangsang. Aku tidak sadar tante sudah mengocok-ngocok kontolku dan langsung dijilatinya..aku heran kok tante ga jijik.. trus di kulum2nya kontolku serta di isap2nya, tante menjilati pelirku dan seluruh batang dan kepala kuya kontolku sehingga aku merem melek kenikmatan, sementara kedua tangan Tante sambil mengelus-elus kedua pahaku, “kontolmu panjang dan besar Hen, jembutnya masih tipis2 …sexy banget… tante baru lihat seperti ini hampir ½ batang kontolmu ditumbuhi jembut ouh.., ini jauh lebih besar dari kontolnya om…, huh…Hen keras banget kayak dildo Tante…tante suka banget..dan pasti bisa ketagihan nie…, Ooh..kamu bener2 masih perjaka yaa…tante lihat lubang kontolmu masih bulat sebesar ujung pensil…wah..tante beruntung Hen…!” Sementara tante jongkok disamping sofa sambil menghisiap-hisap kontolku, aku meremas-remas ke dua tetek tante yg kenyal dan padat sehingga tante mendesah-desah sambil kulum2 kontolku, aku juga semakin mengerang-ngerang kenikmatan yg belum pernah alami selama ini. Aku akhirnya merasakan ada sesuatu yang akan mendesak keluar dari kontolku dan terasa sampai saraf kepalaku sehingga aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara, padahal baru beberapa menit, Tante dengan begitu binalnya terus2an menaik turunkan mulutnya di sepanjang batang kontolku serta meng hisap-hisap kepala kuyaku! “Tante….tante… aku ga tahan tan…pengen keluar…. Oughhhh……Crot..crot..crot….crot… muncrat begitu banyak dan keras didalam mulut Tante, ough…ough…argh..argh… tante…tante…enak banget..ouhk…ouuhhh….”, Tante nampak senang sekali sambil ketawa2 dan cepat2 menjilati dan menelan semua sperma yang keluar dari lubang kontolku serta yang tercecer disepanjang batang kontolku dan spermaku dijilatinya dan telannya sampai bersih seperti menjilati ice cream. Kenikmatan bertambah saat Tante menghisap-hisapi kepala kuyaku dan menjilati sperma yang sudah keluar…ooohhh…ouuhhh…! Itulah pertama kali keperjakaanku direnggut oleh tante kosku, yang usianya sudah 46thn, atau 27 tahun lebih tua dariku yg layaknya sebagai ibuku. Aku benar2 lupa ingatan yang jelas saat itu merasakan suatu kenikmatan dunia yang tiada duanya sambil melayang di awan yang selama ini belum pernah kurasakan.

Tante ga berhenti disitu, setelah kontolku bersih dari sperma Tante tetap mengulum-ngulum kontolku yang akhirnya ga sampai 5 menit kontolku sudah tegang kembali dan aku terangsang lagi pengen rasanya mengeluarkan sperma lagi. Gila memang..tante bener2 pengalaman dan haus sex.. mungkin karena beberapa bulan ga pernah merasakan kontol beneran lagi. Setelah kontolku tegang kembali, tante langsung cepat2 duduk diatas kontolku berhadapan dengan ku dan memegang serta memasukkan kontolku ke memeknya yg rambutnya kasar dan sangat lebat, aku merasakan gesekan saat pertama kontolku masuk ke memeknya tante…..terasa hangat dan ada cairan licin didalam memeknya “ough…ough…nikmat banget..tant” dan akupun mulai mengerti rasanya ngentot itu ternyata nikmat banget bagaikan melayang di awan, makanya tante bener2 menginginkannya, krn sdh lama ga dientot suaminya, “ Hen..kamu tenang aja..ntar kamu akan merasakan kenikmatan yang lebih nikmat dari yang tadi..” Tante semakin mempercepat naik turun diatas kontolku sambil meracau ga karuan apa yang dikatakan…dan bertriak-triak mengerang kenikmatan, dan aku semakin merasakan gesekan memek Tante yang begitu cepat sehingga seluruh saraf tubuhku benar2 menegang dan terasa sangat nikmat dibanding saat kontolku dioral-oral tante tadi.

Beberapa menit kenudian tubuh tante menegang beberapa kali sambil mempercepat naik turun diatas kontolku serta triak-triak:” Hen…hen….Tante ga tahan..Hen..mau keluar…ooohh…oughh..ough…Hen…Hen..argh..argh…Uuuoohhhh Tante sudah….sudah…Argh… hen..hen Ouh…ouhg…ouhg…arrghh….aahhhshh..nikmatnya !” Aku merasakan nikmat dan kontolku semakin merasakan hangatnya cairan mani memek Tante yang keluar berulang-ulang, jadi kenikmatan yang tiada duanya….Aku sedikit heran juga kok kontolku tahan lama juga, mungkin karena tadi sudah keluar sekali. Tante berhenti sejenak sambil merem menikmati klimaxnya “aouuhhh….Hen… tante puas banget… bisa orgasme 2 kali nie..hebat kontolmu enak banget…kontolnya Om ga ada apa-apanya”, kemudian tante minta aku ganti posisi di atas, akupun berputar sekarang posisiku diatas menyodok-nyodokkan kontolku begitu cepat di memek tante… sampai berbunyi clok…clok..clok..begitu, karena memek tante sudah mengeluarkan cairan mani orgasme ber kali2…..sementara tante masih bisa mendesah-desah dan triak triak kecil kenikmatan setiap aku menyodokkan kontolku ke memeknya. Tante nampak masih menginginkan dientot lagi untuk mendapatkan multiorgasme yang selama ini didambakan.

Aku smakin cepet naik turunkan kontolku dan tante triak2 tdk terkontrol sambil bertriak2: ”..trus..trus..trus..hen..yg cepet jgn berhenti.. ough..ough..ough hen..argh..argh…huh..huh.. hen trus2 trus..hen entot tante yg keras henn….hen.. Ough..ough…hen..hen..hen..tante sudah pengen keluar lagi….ga tahan ga tahan..hen..jgn….stop..jgn..stop..jgn.pelan…trus….yang cepet…” aku smakin mempercepat sodokanku scepat cepatnya sampai tante terhentak-hentak! “ Hen… iya….iya..bgitu jangan berhenti…ough…ough…ough…arrrggghhhh….hen…tante….mau…keluar…lagi…….orgasme…..argh……argh…arg…ough…ough..hen..hen ouuuggghhh….ouh..ouh…Hennnn…..ough..ough…ough..ough nikmatnya Hen..tante puas banget…..! ouh….ouh…makasih hen…makasih hen…tante belum pernah orgasme gini kalo sama kontol Om..tante hanya bisa orgasme kalo dgn dildo…ooh…. Kamu hebat hen..tante sayang kamu..! Baru kali ini tante bisa merasakan rasanya orgasme karena sodokan kontol….malahan bisa multiorgasme yang selama ini Tante dambakan, makasih ya sayang..tante pengen terus tambah kalo gini”. Aku berhenti sejenak memberikan kesempatan tante menikmati fase klimax yg didapatnya, setelah beberapa detik kulanjutkan kembali aku menaik turunkan kontolku di memek tante yg dari tadi masih menancap.

Semakin cepat kusodokan beberapa menit kemudian aku merasakan ada desakan dari dalam kontolku yang akan keluar sehingga bisa meraih kenikmatan yang kata Tante lebih nikmat dari yang tadi, aku sdh tidak mendengarkan apa yg diomongin Tante, dan aku semakin cepat menyodok-nyodok memek Tante yang sudah klimax penuh cairan mani karena multiorgasme “ Akh..akh..akh..tante..tante…aku pengen keluar di memek tante…!” Tante langsung mengimbangi dengan gerakan memutar-mutarkan pantatnya dari bawah..sehingga setiap sodokan kontolku bisa masuk penuh ke dalam memeknya. “Ouh….ouh…hen…kamu belum keluar ya hen…sini tante bantu keluarin..” ….sekitar 2 menit kemudian aku ga tahan dan keluar..dengan keras..crot..crot..crot “ough…ough..tante…tante…aku keluar…..ough…ough…haaahhh…nikmat banget tant….”…… “truskan hendi keluarkan yang banyak…. Tante merasakan hangat spermamu di dalam memek Tante..ouhg…enaknya Hen…. Kontolmu…hebat… makasih ya hen….memek tante bisa mendapatkan semprotan sperma perjaka kontolmu…..yg bikin tante awet muda”

Akhirnya kami di villa itu nginep 1 malam, dan kami entotan sepanjang hari ga henti2…Tante Wahyu bener2 ketagihan kontolku dan aku hitung2 kami entotan selama 1 hari 1 malam sebanyak 18 kali…wuih..! Aku ga kepikiran juga…karena setiap aku ngecrot pasti di dalam memek tante…kok tante ga takut hamil yaa…mungkin tante sudah ada penangkalnya..anti hamil.

Selanjutnya sudah bisa diduga..hari2 dirumah kosku hanya entotan..dan entotan lagi dengan tante Wahyu..ga bosan2 nya. Aku sdh tidak bisa menghitung lagi berapa kali aku ngentot tante Wahyu..karena sudah menjadi makanan se hari2.. kecuali kalau Tante lagi mens. Tante selalu minta di entot setiap pagi sebelum dan sesudah aku pulang kuliah, malempun tante minta lagi, itupun bisa 2 s.d 3 kali. Dan itupun dilakukan di kamarnya atau di kamarku, ngumpet2 dari mbok Tini, meskipun aku merasa Mbok Tini pasti sudah tahu, tapi kami berdua cuek aja. Toh mbok Tini juga biasa aja dan cuek kok..!

Aku ga bisa bayangkan, aku setiap hari ngentot tante Wahyu yang usianya pantas menjadi ibuku…. , bahkan 2 tahun lebih tua dari usia ibuku, sudah bersuami dan punya anak sudah seusiaku, serta kalau nanti tante hamil bagaimana…., kan suaminya lagi di Amrik…itu ga pernah terpikir..! Tapi yang jelas sampai saat itu Tante ga pernah hamil tuh..! dan aku benar2 menikmati dengan senang..!

Kadang aku pulang kuliah, tante sudah tidur telanjang di kamarku…aku sudah langsung mengentotnya..rutin seperti tante Wahyu adalah istriku. Kalau malem aku lebih banyak tidur ditempat tidur tante, jadi otomatis tinggal ngentot aja… aku semakin ter gila2 ngentot juga dan ketagihan..kalau ga ngentot rasanya kepala pusing..! Dan kadang aku yang minta tambah berulang-ulang..Tantepun dengan senang hati melayaniku. Saat Tante menspun kalau aku yang minta ngentot, Tante tetap melayaniku dengan meng oral2 dan hisap2 kontolku sampai muncrat dan spermanya Tante telan habis.

Dampaknya aku ga pernah bayar uang kosku lagi (dulu aku hanya bayar 6 bulan pertama), berikutnya ga pernah bayar sama sekali, saat aku mau bayar kos 6 bulan kedua:” Hen…kamu apa2an sih…, Tante ikhlas ngentot sama kamu..Tante bener2 puas dan nikmat ngentot denganmu… Tante bersyukur bisa kenal kamu, jadi Tante bisa mendapatkan orgasme yang selama ini Tante idam2kan…. Kamu anggap rumah ini dan Tante adalah milikmu sendiri… yang setiap saat bisa kamu tiduri…!

Tante sangat berpengalaman, setiap hari aku diberi vitamin2 dan supplement: “ Hen ini harus kamu minum tiap hari yaa.. pagi – siang dan sebelum tidur..nah kalau mau ngentot tante kamu minum yang ini 1 tablet yaa.. jangan lupa lho….supaya kontolmu kuat dan tahan lama… .. kalau loyo..apa kamu ga kasihan sama tante..ntar tante sakit lho..!” Tante cerita bahwa Om Wahyu kalau disuruh minum tablet2 dari Tante ga pernah mau, makanya Tante gemes sama suaminya.

Suatu hari Om Wahyu pulang ke Jogja dari Amrik sekitar 2 minggu. Jadi Tante ga ada kesempatan entotan dengan aku. Akupun lama2 bete ga tahan pengen ngentot tante juga..! Ntah bagaimana..tiba2 suatu malam (om msh ada) skitar jam 01:00 dini hari tante ngetok kamarku dan langsung masuk dalam keadaan telanjang….. nampak wajahnya sayu tapi penuh napsu birahi…dan langsung merogoh kontolku langsung dikulum-kulumnya, aku ya langsung melayani tante tanpa terpikir ada Om Wahyu dikamarnya.. akhirnya kami entotan sepuasnya sampai 2 kali. Dan tante tercapai orgasmenya berkali-kali juga (multiorgasme): “ hen.. makasih yaa.. tadi Om ngentot tante..tapi peltu (nempel metu)..baru nyodok2 beberapa kali sudah ngecrot..pdhl tante belum terangsang..makanya Om langsung bobo2 dan tante minta kontolmu lah yg sudah pasti bisa kasih tante orgasme ber kali2”. Makanya saat aku nyodok memek tante terasa memek tante agak licin ada spermanya Om masih tertinggal di dalam, tapi aku cuek aja, yg penting masih bisa dgn rutin ngentot tante.

Minggu ke dua saat Om Wahyu masih ada, suatu sore yg sepi, aku baru pulang kuliah, mbok Tini tumben menyediakan es juice dan pisang goreng, biasanya kan tante Wahyu yg sediakan. Mbok Tini sambil senyum2 lagi, gelagatnya tidak seperti biasa, tapi tampak Mbok Tini cantik dan tubuhnya sintal, bikin aku terangsang juga nie he..he. Mbok kok sepi…. “ibu dan Bapak sedang pergi ke rumah familynya, kan besok Bapak sdh pulang Amrik lagi”. Wah…aku mbayangin besok sudah bisa secara rutin ngentot tante lagi he..he..! Tiba-tiba “Mas Hendi seneng kan kalau Bapak pulang Amrik lagi….!” Aku heran apa maksud Mbok Tini..! ”Iya.., jadi bisa ngentotin ibu kan…Mbok tahu lah..!”. Aku terkejut dan tdk berkutik dengan perkataan Mbok Tini tadi..aku hanya terdiam dan malu karena Mbok Tini ternyata sudah tahu. “Iya.. lah mas… Mbok tahu ibu sama mas hampir setiap hari entotan..mbok sih seneng aja..ibu jadi bisa tersalurkan birahinya..karena sebelum ada mas Hendi..ibu sering melamun dan di kamar sering masturbasi..mbok sering dengar suara2 birahi ibu, lagian ibu itu birahinya tinggi banget, Bapak ga bisa ngimbangi..kayaknya mas Hendi lah yg bisa ngimbangi..makanya ibu suka di entot mas..” Trus aku dengan perlahan ngomong ke Mbok Tini:” Jadi Mbok mau melaporkan ke Bapak yaa,,?”. Mbok Tini sambil senyum2…bilang..:”yah gak lah Mas… rugi..!”.. Aku bingung dengan perkataan Mbok Tini: “Lho kok rugi..emang ada untungnya untuk Mbok kalau ga dilaporkan?”. Mbok Tini senyum2 gelagat genit:” Kan Mbok juga pengen seperti ibu…Mbok ini sudah menjanda hampir 12 thn Mas…dan punya mbok sudah dianggurin lama..ga ada yang pake..he..he..!, makanya mas… Mbok pengen juga ngerasain kontol Mas Hendi.. Boleh kan?!, Tolong lah Mas.. itu yang dibilang untung tadi mas..makanya Mbok ga akan lapor ke Bapak deh.. asalkan Mas mau ngentot Mbok, lagian mbok belum pernah melahirkan, jadi memek mbok masih orisinil dibanding ibu!” Gila ini mbok…. Omongannya bikin merangsang aku. Aku jadi pengen ngerasain memek yg belum melahirkan, kalau tante kan sudah punya anak 1, itupun rasanya nikmat banget, apalagi yg masih seret kayak memek mbok, aku ngebayangai gitu.

Akhirnya kami berdua masuk kamarku dan aku melayani napsunya Mbok Tini yang menggebu-gebu kehausan kontol, kontolku dikulum-kulum dan diisap-isap si mbok, dan digigit2 gemes oleh Mbok Tini: “ Huwaduh..Mas Hendi..mbok bener2 gemes sama kontol mas…guede dan panjang banget…punya suami mbok aja hanya setengahnya…mbok pengen di entot sekarang mas..” Aku baru sodok2 sekitar 1 menit..si mbok sudah triak2 minta dicepetin dan mencapai klimax…. Mas..mas..trus..trus..cepet..cepet.. mas… mbok dah mau keluar…ough…ough…argk…argk…maaassss……mbok keluar..aahhh….. nikmat banget mas..” Tapi aku memang merasakan kenikmatan yang lebih memek simbok dibandingkan memek tante, memek mbok Tini masih sempit banget, td waktu pertama kontolku masuk ke memek si mbok, si mbok triak2 kesakitan;’ Akh..akh..mas..pelan2..memek mbok masih belum merekah masih sempit..” Tp setelah merekah, aku yg kenikmatan gesekan bibir memeknya bener2..lebih nikmat dari punya tante yang menurutku sudah enak..ternyata memek si mbok lebih nikmat, makanya akhirnya aku juga cepet orgasme sangking nikmatnya memek di mbok, inipun spermaku kukeluarkan didalam memek si Mbok:” mas…mas…….kalau mas ntar klimax keluarin didalam memek Mbok aja… Memek Mbok dah lama ga ngerasain semprotan sperma..pasti nikmat..!”

Akhirnya hari2 kulalui dengan secara rutin ngentot tante dan Mbok Tini. Kalau Tante ga ada dirumah, biasanya tante arisan bulanan, ke fitness dan salon, aku pasti ngentot mbok Tini, yg selalu stand by saat Tante pergi: “ mas…tante pergi lho..sekitar 2 jam lagi biasanya baru pulang”, bgitulah he..he.., aku langsung ngentot si mbok di dapur, di meja makan, di kamarnya, kamarku atau di di garasi, semauku saat ketemu mbok dimanapun. Aku merasakan bahwa memek mbok Tini memang enak dan nikmat banget.

Suatu saat aku sedang gentot mbok Tini di meja makan, tiba2 Tante datang lebih cepat dan saat itu aku sudah mencapai klimax, jadi pas tante masuk pas mbok triak2 klimax dan aku juga orgasme, jadi sama2 triak kenikmatan mencapai klimax, jadi tante denger dan langsung mergoki kami yang sedang entotan di meja makan. Tante tidak marah tapi cemberut dan diam sampai malam, dan 1 malam tidak minta di entot, akhirnya besok pagi aku minta maaf, akhirnya tante mengerti dgn alasanku bahwa aku sdh ga tahan sementara tante pergi, jadi aku ngentot mbok Tini.

Gila juga Tante..akhirnya setiap minta di entot, ngajak mbok Tini untuk threesome, akhirnya setiap ada kesempatan kami entotan threesome di sofa, kamar tante atau kamarku, kadang2 di kamar mbok Tini. Setiap Threesome, aku paling suka saat kontolku dijilati tante dan mbok Tini berebut, dan saat aku telentang si mbok naik turun diatas kontolku dengan memeknya ngentot kontolku sementara Tante jongkok di atas kepalaku dengan memeknya aku jilati (mereka bergantian posisinya), akhirnya terdengar suara triak2 nakal, genit dan birahi dari 2 wanita paruh baya merasakan kenikmatan kontolku dan jilatan lidahku di memek mereka.

Begitu juga saat Mbak Shinta pulang ke Jogja (biasanya hanya 2 hari), Tante sering jalan dengan Mbak Shinta, maka Mbok Tini saja yang rutin entotan denganku. Terpikir juga olehku pengen ngentot Mbak Shinta yang tomboy, tapi ayu cantik tinggi dan bokongnya huh…. Bongsor banget. Ga dapet Mbak Shinta ga apa2..toh sudah rutin ngentot ibunya he..he..serta bonus mbok tini!

Waktu berjalan hampir 1 tahun, kegiatan praktikum di kampus semakin padat dan aku lebih banyak di kampus, jadi ngentot tante & mbok lebih sering dilakukan malam hari saja. Tapi tante sudah mengeluh: “ Hen…Tante ga tahan..kamu jarang ngentot tante lagi…, kamu setuju ga 3 kamar tolong dicarikan temen2 kuliahmu, biar tante ada temen kalau kamu sibuk”. Begitu juga Mbok Tini: “ Mas Hendi ga kasihan sama tante apa..mbok juga nie…gara2 Mas Hendi..Mbok sudah ketagihan kontol Mas nie…tp Mas Hendi jarang dirumah..jadinya Mbok dan Tante sering gantian pakai dildonya Tante..”

Aku lama juga berpikir, kalau ada temen2ku disini kos, berarti ntar yg ngentotin tante dan mbok Tini jadi mereka, lha aku ntar ga dipake tante lagi….!…Tapi tante sudah mendesak-desak terus :” temen2mu bagaimana Hen..ada ga yg mau kos..!, jangan sampai tante ntar cari Gigolo lho Hen..” kasihan juga tante, dan aku ga rela kalau Tante harus di entotin Gigolo, trus mbok Tini ntar ikut2an.. ga rela aku! Lebih baik di entotin temen sendiri aja..!

Akhirnya aku dapat 3 temen kampus beda Fakultas. Mereka mau karena aku ceritakan bahwa ibu kos sama pembantunya siap untuk di entot setiap saat (aku tunjukkan photo Tante & Mbok Tini), wah..mereka bersedia secepatnya pindah Ke kos Tante Wahyu.

Akhirnya 3 temenku sudah kos dirumah Tante Wahyu, dan sudah bisa diduga setiap hari Tante digilir oleh mereka termasuk Mbok Tini juga minta bagian di entotin kami ber 4. Jadi Tante dan Mbok Tini setiap hari ga pernah kosong di entot, selalu ada saja yang siap mengentot Tante dan Mbok.

Laki-laki mana sih yang ga mau ngentot cewek gratis seperti Tante dan Mbok Tini, yang sexy, bahenol, genit, cantik. Temen2ku jelas seneng banget bisa ngentot gratis Tante yang bahenol cantik meskipun sudah 46thn, mereka ga peduli, yang penting mendapatkan nimat dunia dengan Cuma2 dan suka sama suka.

Gilanya, tante pernah suatu saat minta di entot oleh kami ber 4 secara bersamaan..kami ber 4 sempat kaget juga, akhirnya kami entot Tante bersama-sama (Fivesome) bahkan jadinya Sixsome bersama Mbok Tini, dan Tante secara rutin pengen melakukan Entotan rame2 (salome) spt itu, bisa Threesome, Foursome, Fivesome, Sixsome, tergantung siapa yang ada dirumah. Gila memang tante yang sudah usia 46 tahun masih haus sex dan tidak terkendali, sedangkan si Mbok Tini yang janda juga ikut2an salome.

Dan itu berlangsung terus sampai 2 tahun, sampai saat Om Wahyu kembali ke Jogjakarta lagi. Akhirnya dengan adanya Om Wahyu, kami ber 4 sangat jarang ngentot tante lagi, karena Tante dilibatkan aktif mengelola usahanya Om Wahyu yang lebih banyak ditempat usahanya, kasihan Tante pasti bête terus setiap hari, karena birahinya ga kesampaian seperti dulu lagi, kadang2 kami masih sempat ngentot tante salome, saat Om pulang malam. Yg masih bisa rutin dientot ya Mbok Tini, dengan bangganya menjadi primadona, padahal aku perhatikan memeknya lama kelamaan sudah dower..he..he.. kemasukan banyak kontol.! Tapi Tante tetap konsisten meminta aku ngentot rutin setiap 2 hari sekali saat pagi subuh, Om ga pernah tahu, kami ngentot di gudang belakang yang kebetulan ada sofa nganggur. Temen2ku dan Mbok Tini juga ga tahu.

Memasuki tahun ke 4, kami ber 4 sudah sibuk masing2 dan ke 3 temenku sudah jarang gentot Tante, apalagi Mbok Tini. Aku yg masih sering ngentot Tante dan Mbok Tini. Ternyata Tante & Mbok Tini tetap mengatakan kontolku yang enak dan Nikmat serta tahan lama.. hebat kan..!

Ke 3 temenku sudah bergantian pindah ke tempat kos lain, dan digantikan anak kos lain yg lebih junior. Aku tetap kos disitu karena Tante dan Mbok Tini tetap minta aku rutin ngentot mereka dan masih bertahan setiap ngentot pasti threesome, dan itu dilakukan saat Om Wahyu pergi.

Salah satu anak kos yang baru orangnya ganteng tinggi besar indo, Ricky namanya, Tante juga minta di entot dia, aku bener2 cemburu deh. Habis Tante saat ada Ompun berani juga datang kekamar si Ricky untuk entotan, pdhl Om lagi diruang TV. Tapi akhirnya si Ricky hanya sebentar dan pindah ke tempat kos lain, mungkin ga tahan melayani Tante.

Waktu berjalan memasuki tahun ke 5, aku tetap sibuk kuliah, praktikum dan menyusun skripsi, sementara ngentot tante dan Mbok Tini juga masih rutin meskipun ga stiap hari lagi, karena Om Wahyu sering ada dirumah. Terlihat kecantikan dan kemolekan tante berkurang, nampak wajahnya ga bersih lagi, tp kelihatan kuyu serta tidak bersemangat, tapi masih hot juga setiap entotan denganku. Dan setiap entotan justru nampak kegairahan dan kecantikannya lebih bersinar, jadi mungkin Tante memang sangat mendambakan entotan secara rutin dari laki2 yang bisa memberikan multiorgasme, sehingga wajahnya jadi bisa lebih berseri, namun karena keterbatasan ada Om Wahyu jadi ga kesampaian. Kasihan Tante Wahyu. Sementara aku juga semakin bosen pengen cari wanita lain, karena aku jadi ketagihan ngentot nie… walaupun masih ada Mbok Tini, yang juga kadang2 sdh ga bergairah lagi. Karena sdh tidak rutin lagi. Aku kepikiran pengen ngentot cewek lain selain Tante Wahyu dan Mbok Tini.

Saat aku lulus kuliah dan selesai wisuda, kedua orangtuaku datang ke Jogja dan aku kenalkan dengan Tante & Om Wahyu. Nampak biasa2 saja sih.. padahal Tante Wahyu yang usianya lebih tua dari ibuku, hampir setiap hari aku entot dengan suka sama suka. Ibu dan Bapakku jangan sampai tahu itu.

Sebagai salam perpisahan, Tante bikin kejutan: Aku diundang ke kumpulan arisan temen2 Tante Wahyu, mereka ber 5 (lima), ke 4 temen Tante usianya sekitar 40 – 45 thn. saat itu Tante sudah usia 50thn masih cantik tubuhnya berisi padat (mungkin karena rajin di entot dan nelan sperma, jadi awet muda), jadi Tante yg paling tua, tapi nampak jadi yang paling muda. Saat itu Om Wahyu sedang dinas ke Jakarta dan Tante tidak ikut.

Kejutan itu adalah di rumah salah satu Tante tsb. aku hanya cowok sendiri berusia 24thn bersama 5 Tante2 usia diatas 40 thn. Pengamatanku, nampak ke 4 tante2 tsb adalah Tante2 yang kesepian dan tidak pernah puas sex dengan suaminya.

Tante Wahyu menceritakan kepada 4 temannya bahwa aku adalah cowok yang sering dia ceritakan bisa memberikan kepuasan Sex Tante Wahyu dan selalu memberikan multiorgasme yang gak pernah didapat dari suaminya, sehingga Tante diusianya yg 50th nampak lebih muda dibanding ke 4 temannya.

Aku bak piala bergilir yang dipindah-pindahkan ke berganti-ganti tangan. Ke 4 temen tante Wahyu langsung mengerubuti aku serta mengelus-ngelus kontolku, akhirnya aku sudah telanjang bulat didepan hadapan mereka yang ntah kapan merekapun sudah pada telanjang bulat. Aku hanya berpikiran akhirnya keinginanku tercapai bisa ngentot cewek lain selain Tante Wahyu dan Mbok Tini.. he..he..!

Akhirnya aku tidur terlentang dikarpet ruang tamu dan tante bersama-sama 4 tante lainnya berebut menjilati kontolku serta di kulum-kulum serta di hisap2..bergantian dan berebutan, sehingga terdengar suara2 triakan2 genit dan nakal ke 5 tante arisan tsb. Aku merasakan lama2 bergairah dan terangsang dengan melihat 5 Tante2 cantik telanjang bulat dengan tetek2 yang besar2 padat dan memeknya ditumbuhi rambut2 kasar yang sangat lebat dan sangat berpengalaman menerima sodokan kontol ntah siapa saja selain suaminya.

Sebelum aku ikut Tante Wahyu ke rumah arisan tsb, tante memberikan pil biru ntah apa aku tidak tahu: “ Hen..ini diminum sekarang..biar kamu fit..” aku langsung meminumnya saat masih dirumah. Rupanya ini sudah direncanakan Tante Wahyu.

Aku heran karena kontolku sudah dikulum-kulum ber jam-jam dan tante2 itu memasukan memeknya ke kontolku naik turun diatas tubuhku bergantian 5 tante, aku belum mencapai klimax juga, sementara tante yang lain juga minta dijilati memeknya dgn lidahku.

Jadi ke 5 tante tsb. masing2 sudah orgasme ber kali2 (multiorgasme), tapi aku belum juga, padahal sdh hampir 5 jam. Akhirnya aku ga tahan juga dan cepat2 menarik Tante Wahyu kutelentangkan dan aku posisi diatas menyodok2 Tante Wahyu berulang-ulang dengan cepatnya…Tante Wahyu juga triak2 kenikmatan; “ Iya..iya..iya..trus..trus.. hen yang cpet..jangan stop..jangan stop hen…. Ough..ough..hen..hen..hen…trus..trus…argh…argh ..argh…” Ayo…ayo bu Wahyu..ayo bu Wahyu…trus …trus yang cepet hen..hen..yang cepet…Bu Wahyu sudah hamper orgasme lagi, begitu Tante 2lain memberi dukungan entotan kami ber2.! “Ough..ough..Tante..hendi dah mw kaluar tante…” Ok Hen Tante juga..aaahhhkk….aaaakkhh….aaarrrgghh…ough…ough….ooouuhhh… hen…hen…Tante sudah..tante sudah….kamu…ouh….! Rupanya Aku baru mau tant..belum keluar juga. Cepet2 tante mencabut kontolku dan menarik tante lain disuruh telentang…Bu retno..sini gantian…si hendi hampir nie belum keluar..kasihan dia..” Ok Bu wahyu…langsung bu retno telentang ngangkang dan aku langsung memasukkan kontolku ke memek Tante retno.. ough..ough…hen..hen nikmatnya trus trus hen yg cepet..tante kenikmatan nie..malah sudah pengen keluar..habis kontolmu enak banget..! Aku juga mau keluar Tant…aakkhh…aakkgghh.. tante…tante..tante..aku keluar argh..argh…” Tante juga Hen..kita keluar sama2….\: ough…ough…ough..ough..argh/…argh…arg..arg..aakkkhh…akkhhgg…” Crot..crot..crot..! Ouhhh…..ough..ough…spermamu terasa hangat di memek tante nikmatnya Hen..makasih ya,,Tante puas banget hari ini bisa orgasme sampai 5 kali, paling nikmat yg barusan…kontolmu kapan2 tante boleh pake lagi kan..?

1 bulan terakhir sebelum aku kembali ke Bandung, ke 4 tante bergantian mencari aku untuk ngajak ngentot dirumah mereka masing2…aku digilir mereka bergantian, dan yang paling ketagihan adalah Tante Retno yang usianya 40thn punya anak 2, suaminya kerja di Jakarta dan seminggu sekali pulang Jogja, hampir setiap hari aku pulang kuliah Tante Retno sudah nunggu di depan rumah kosku: “ Hen…bu Wahyu sudah kasih ijin kamu ikut dengan Tante kerumah…Tante dah ga tahan Hen..!”. Kalau 3 Tante lain selama sebulan masing2 hanya 3 x ngentot denganku. Sementara ngentot Tante Wahyu dan Mbok Tini kadang2 aja, Mbok Tini akhir2 ini cemberut terus..cemburu kalee…!

Itulah perpisahan terakhir dengan Tante Wahyu, Mbok Tini dan 4 Tante temen arisan Tante Wahyu. Setelah itu aku langsung bekerja diluar Jawa s.d sekarang dan tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Pengalaman sex bersama mereka membuat aku jadi ketagihan ngentot meskipun aku sudah berkeluarga, yang akhirnya aku berpetualang dengan banyak wanita: mahasiswi, karyawati, SPG, ibu rumah tangga & janda yang kenalan di mall/ via sms chat/YM/facebook/Indonesiancupid; wanita karier partner kerja; teman kantor, istri teman/ tetangga, istri bosku, pembantu dan bahkan adik iparku sendiri. Kalau dihitung-hitung sudah ada sekitar 37 cewek yang pernah aku entot atas dasar suka sama suka, aku tidak pernah ngentot sama pelacur/PSK.

Pernah suatu saat secara tidak sengaja bertemu Mbak Shinta di Jakarta saat aku pindah kerja di Jakarta, yang akhirnya bisa janji temu beberapa kali dan diakhiri dengan ngentot yang dulu pernah aku idamkan, saat itu dia sudah bersuami dgn 3 anak, sementara aku juga dgn 2 anak (usiaku saat itu 38thn dan Shinta 39thn, itupun dilanjutkan dgn pertemuan2 ngentot berikutnya selama 2 tahun, itu akan aku ceritakan next time bersama petualangan sexku lainnya, bye bye..!


Sahabat karib juga berbagi seks lho

Siang itu sepulang sekolah, salah satu temen aq ikut ke rumah aq.
Biasalah, namanya sobatan cewek saat SMA, dia curhat mengenai sikap cowoknya
yang semena-mena. Gini salah gitu salah. Kalo tengkar dikit, sukanya ngancam
putus. lah yang terakhir ini mereka tengkar hebat lalu si cowoknya minta
putus sepihak. pake sms lagi. weeee!

“beeeteeeeeeeeee!” teriaknya.

sudah-sudah, dari dulu kan si richard emang gitu sifatnya. mending putus
sekarang daripada pas kalian dah merit. aq berusaha menghiburnya tetapi dia
tetap nangis. ya maklum, emang patah hati bisa sembuh hanya dengan dihibur ya?
brrr….

Aline, nama temen aq ini, lalu memuntahkan semua unek-unek yang ada didalam
hatinya. segala macam hal positif dan negatif keluar semua (perasaan banyak
negatifnya deh…hehehe). Aq dengerin terus sambil membelai-belai rambutnya,
dia menangis dan curhat di pahaku cukup lama sampai agak mati rasa.

ya sudah, at least u masih punya “cherry” kamu kan? hiburku. Dia memandangku
sebentar lalu tangisnya semakin keras. “huaaaa! ya itu, uda dipetik dia!”.
Aduh aduh…salah ngomong dah gue…emang betul deh kata pepatah, jika kamu
tidak yakin ucapanmu bisa membantu, mending diem saja.

setelah agak lama, kami berdua pun rebahan di ranjang. Dia sesenggukan tidur
diatas bahuku, sedang aq masih perlahan membelai rambutnya. Hatiku
ikutan pilu mendengar ceritanya. uh…emang cowok-cowok itu brengsek ya!!!

Aq lalu menarik wajahnya. “sudahlah lin, tabah. lu kalo sedih begini ya
percuma. si brengsek itu malah ketawa-ketawa sekarang, gandengan ama cewek
lain. lu yang rugi donk, dia enak-enak! OK? lets have fun together. gw kan
best friend elo? OK? OK? Tanyaku sambil tersenyum. Aline terdiam, lalu
memaksakan untuk tersenyum. Nah gitu donk…ujarku senang sambil mencium
keningnya.

Kupandangi wajahnya yang belepotan air mata. Hm…Aline lumayan cakep kok
wajahnya (walau masih cakepan aq hahaha). bodynya bagus, putih bersih.

Nah yang terjadi kemudian ini nih…yang aq sendiri ndak paham. It just
happened. ;)

Aq merasa begitu “bersatu” dengan aline saat itu dan rasanya dia juga
demikian. Kucium keningnya perlahan. Dia diam saja sambil terus
memandangiku. Jantungku tiba-tiba berdegub kencang, entah tegang ntah horny.
Pelan-pelan aku cium bibirnya. satu kali, dua kali. dia diem saja sambil
memandangku. Akihrnya ya begitu deh…kami berciuman bibir layaknya lelaki
dan wanita, penuh gairah. hehehehe…

ngga merasa aneh? hm…mungkin, ntahlah. yang pasti waktu itu aq menikmatinya.

setelah cukup lama berciuman, aku melepas seragam sma-nya dan bra pink yang
sedang dipakainya. Aku lalu mulai menghisap putingnya dengan lembut. “ah…”
desahnya perlahan. Sesekali aku ciumi lehernya yang putih. Aline diem saja
menikmati permainan gilaku ini. Sesekali aku urut meqi-nya yang masih tertutup
celana dalam pink, senada dengan bra-nya.

Pas lagi asyik-asyiknya ber-lesbi-ria, kudengar pintu pagar depan diketok
orang. Ah biarin aja.,,ntar juga bik Ida yang keluar. Tapi setelah ditunggu
lama juga ngga ada yang membuka pintu tuh. huh! lagi asik-asiknya. Aq lalu
pamitan sebentar ke Aline, mau turun kebawah. Dia tersenyum sambil mencium
pipiku. Siapa sih siang-siang begini datang? Aq lihat lewat jendela.

Oh mas Rizky si tukang galon itu. TIBA-TIBA TIMBUL IDE GILA KU!
Lin, kamu kalo maen ama Richard puas ndak? hayo jawab cepat! Dia agak kaget,
ya puas lah, kan enak. Hus! puas ama enak itu beda lho, sahutku cepat. Dia
berpikir sebentar. Ya…enak sih…, sahutnya ragu-ragu. LHA! brarti lu
ndak pernah terpuaskan toh? Dia mengangguk pelan sambil memandangku penuh
tanda-tanya. Sini…lu mau maen ngga ama dia? sahutku sambil menunjuk kearah
pagar depan, dimana Rizky sambil merokok menunggu. :p

Aline tiba-tiba memukulku! Lu gile! Dia kan…AKU TAHU! sahutku cepat. Tapi
kujamin dia bisa bikin lu hepi, paling ngga untuk beberapa jam kedepan, sekalian
pelampiasan richard toh? Dia memandangku ngga percaya! lah lu apa hubungannya
apa dia? jangan-jangan…Hiiiiiiiiiiiiiiiii! tiba-tiba dia cekikian sambil
mencubit lenganku. Aq tertawa. KAMU LIAR JUGA YA! udah berapa kali kamu dimakan
dia? Aq semakin lebar tertawa. Berapa kali ya? um…ngga ngitung tuh! hahaha…
Tapi tak jamin lu bakal ketagihan, kayak gua! hahaha kami berdua lalu tertawa.
NGGA AH! NGGA MAU! kalo kena penyakit gimana? kalo dia mulut ember gimana?

Lin, untuk 2 hal itu, aq jamin NO jawabannya. Udah aq buktiin sendiri. Ayo,
YES or NO! jangan kelamaan mikir! Dia nampak banget bimbang…antara kepengen
tahu juga malu. Ah masa tiba-tiba kita menyerahkan diri. Kan tengsin bok!
Ah gampang, sahutku. Udah lu nurut gw aja. Aq lalu menarik dia supaya bangun,
menyuruhnya melepas cd tetapi tetap memakai seragam sekolah, aq pun
demikian. Tanpa sempat dia berpikir lagi, aq menyeretnya ke lantai bawah.

skip-skip…

Taruh dimana non galonnya? ujarnya sopan. Iya, mulutnya sopan, tapi MATANYA
hahaha yang dilihat susu mulu :D Didalam donk. Sahutku. Bik Ida mana ya?
Tanyaku. Rizky kebingungan, lah kok tanya saya non? tadi yang suruh kirim juga
dia. Aq mengangguk. sesampainya didalam, aq lihat Aline sedang mengisi gelas
di dispenser. Aq lalu suruh Rizky mengganti galon yang kosong itu dengan yang
baru. Matanya rizky melolot melihat Aline yang sedang minum air, berpakaian
seragam SMA tanpa bra. Hahaha…

“Aduuh…mana tahaaaan!” ujarnya ringan sambil cengar-cengir ndak lucu,
seperti biasanya. Aline tersadar lalu menutup dadanya dengan tangan.
Saat Rizky mengganti galon, aq menarik aline dan bertanya, gimana menurutmu?
Aline tersenyum ya lumayan untuk ukuran dia, ditambah cukup kekar juga.

Udah nonik-nonik yang cantik. Ada lagi? ujarnya. Aq menggeleng sambil
menyerahkan uang galon. Dia memasukkan uang itu kedalam celana jeans
bututnya, lalu tiba-tiba menarik lenganku dan menciumi bibirku. Kami lalu
berciuman selama beberapa menit dengan penuh gairah. UH mas suka banget liat
nonik pake seragam sma, lebih mrangsang, ujarnya. Aq tersenyum sambil melirik
kearah Aline yang melotot tidak percaya. =p~

Rizky lalu membuka kancing seragamku dan langsung menyedot kedua puting
payudaraku. Aoh…ssshh…mas…desahku. Tangannya masuk kedalam rokku dan
langsung mengaduk-aduk vaginaku. Lho kok udah becek begini non? nunggu mas ya?
ujarnya pelan sambil terus menyedot putingku. Aq diam saja menikmati
permainannya ini.

Setelah cukup lama aq dicumbui, aq berbisik ke mas rizky, ayo mas, masukin aja.
Rizky mengangguk dan menghentikan cumbuannya. Dilorotnya celana jeans butut itu
dan celana dalamnya sehingga penisnya yang besar dan berwarna ckolat kehitaman
itu menyembul keluar. ouh…aq pengen banget tuh ketimun masuk kedalam mq aq.
Ayo mas, masukin…pintaku sambil nungging memegang sadaran kursi sofa ruang
tamu. Aline menutup matanya melihat penis Rizky tetapi tak lama kemudian
udah mulai curi-curi liat.

Rizky lalu memposisikan penisnya persis dibelahan mq-ku dan lalu langsung
memasukkannya tanpa basa-basi. “Aaach! sakit mas..pelan-pelan donk!” protesku.
Dia diam saja, sambil terus memompa penisnya yang besar itu didalam meqi ku.

“Ah…meki cina memang enak nona…sshh…ah…..”, erang rizky keenakan.
Lengannya yang kekar mencengkeram pinggangku dan menariknya maju mundur.
Aku pun menggoyang pinggangku seirama agar penisnya semakin dalam masuknya.
“ah..ash…mas…mas”…erangku penuh nikmat. Sebetulnya aq takut kalo
tiba-tiba bik Ida nongol, tapi kenikmatan ini seakan-akan mengalahkan segalanya.

Tak lama kemudian, aq merasakan orgasm akan segera datang. Segera aq cabut penis
Rizky, lalu aq rebah diatas sofa. Ayo mas, masukin sekarang! Rizky lalu menindihku
dan memasukkan kembali penisnya kedalam vaginaku. Kami pun berpelkukan dengan erat.
Aq suka orgasm sambil berpelukan dengan cowok! hihihihi… Akhirnya gelombang
puncak kenikmatan itu datang juga. Rizky memeluk erat tubuhku yang sedang
berkelojotan dengan hebat. Kurasakan vaginaku meremas, berkedutan dengan cepat
sementara penisnya Rizky dengan kokoh menancap didalamnya. Aq menciumi bibir
Rizky dengan liar sampai dia pun kelabakan. Bau rokok udah ngga menjadi masalah
lagi, yang penting enak! :”>

Setelah aq merasa tenang, kudorong badannya agar penisnya tercabut dari meqiku.
Aq lalu meraih seragam smaku dan kubersihkan keringatnya yang menempel dibadanku.
Lho saya belum lho nik? Protes Rizky. Aq tersenyum tak menjawab, hanya telunjukku
kuarahkan ke Aline. Aline yang dari tadi duduk dikursi dengan gelisah menonton
live sex show ini terkejut dan melolot! Rizky memandangku seakan tak percaya!!
Aq mengangguk! B-)

hahaha…mata rizky lalu berbinar-binar dan dengan segera dia mendekati Aline.
Penisnya yang besar sedang kokoh berdiri, membuat setiap wanita yang melihatnya
pasti terangsang!

Sambil memakai kembali seragamku, kulihat Aline sudah ditarik berdiri oleh Rizky
dan Aline memunggunggi Rizky. Tangan Rizky tak henti-hentinya meremasi dan
memilin2 puting susu Aline dari luar. Uh….seksinya kamu nik. Tak kalah ama non
Fefe, rayu Rizky sambil terus menciumi leher sobat karibku ini. Aline hanya
pasrah pada nafsu yang sudah sangat menguasai dirinya.

Rizky lalu melepas seragam aline dan menidurkan gadis chinese cantik itu keatas
sofa. Dengan segera dia menindihnya, menciuminya, menyedot putingnya sambil
memposisikan penisnya. Lalu dengan beberapa kali mencoba, akhirnya masuk juga
penis itu kedalam meqi Aline. “Aaah…maaaas!” teriak aline sambil sedikit
menarik badannya. Rupanya dia kesakitan, belum pernah mq-nya dipake oleh cowok
dengan penis sebesar Rizky itu. hehehe…teringat masa-masa pertama kali aq
digauli Rizky!

Rizky, seperti biasa, tidak memperdulikan protes cewek chinese yang ditidurinya.
Lengannya yang kekar mencengkeram leher aline sambil panggulnya maju-mundur
dengan cepat, menyetubuhi temanku ini dengan kasar. Aline cuman meringis sambil
mengerang perlahan..karena lama-kelamaan rasa nikmat sudah mulai menjalar.

“Ssh…ah….enaknya meqi kamu nik! lebih enak ketimnbang punya fefe!”, ujar
Rizky sambil menyeringai. “jarang dipake kaliatannya ya?”. Aq sewot lalu aku
pukul pantatnya Rizky yang sedang maju-mundur keenakan itu. Aline terus mengerang
dan setelah beberapa menit dinikmati oleh Rizky, tiba-tiba tubuhnya terasa
bergetar dan berkelojotan! hahaha…sebuah lengkingan yang tertahan keluar dari
mulutnya. Rizky sampai kewalahan menahan tubuh Aline yang sedang orgasm itu agar
tidak terguling dari sofa.

enak lin? tanyaku pelan sambil mencium keningnya. Aline mengangguk pelan, matanya
terpejam, dia menggigit bibirnya menahan sisa-sisa aliran kenikmatan yang masih
mengalir. Rizky menyeringai penuh kemenangan. Dua cewek chinese cakep telah dia
setubuhi siang ini dan keduanya takluk dibawah keperkasaan seksualitasnya.
cieeeee…

Rizky lalu mencabut penisnya dari mq Aline. Wah…meqi-nya bersemu merah, dan
terlihat berlubang. “Ah elo mas, tititmu kebesaran sampai mq temenku lubang
menganga negitu..” godaku pada rizky. Rizky tersenyum puas, bangga. Aline mencubit
lenganku.

Nah, sekarang kalian berdua musti sedot aku punya penis, seprti di film2 porno itu.
OK? Aq mengangguk. Kami berdua pun lalu bergantian menyedot penis besar Rizky,
menjilatinya dan mengulum testisnya untuk memberikan kepuasan buat Rizky.
Aline berbisik, “ih bauuu”, aq menyenggol lengannya dan terus menyedot batang
keperkasaan itu. Tak lama kemudian, Rizky tak kuat lagi menahan ejakulasi dan
crot.crot.crot..”Aaaaaaaaaaah sip enaknyaaa!”, erangnya! Spermanya menyemprot
ke wajah kami berdua. hihihihi…

Kapan-kapan lagi ya non? ujar rizky sambil pamitan keluar.
Aq diam saja sambil menutup pintu gerbang.

by the way, BIK IDA INI KEMANA SEH? dari tadi ngga pulang-pulang !!!!

Didalam kamar, aq memeluk Aline.

Gimana? puas kan kamu?
Aline mengangguk sambil memelukku. Enak banget. Baru kali ini aq merasakan
namanya orgasm. Huh! punya richard Keciiiil! Hahaha…aq tertawa. Begitulah
ucapan orang yang sedang sakit hati…

Kamu mau lagi? godaku. Aline tersenyum kecil sambil meringis.
Hi….ketagihan kan? hahaha…Dia lalu kesal dan mencubit lenganku.
Aq tahu toko galonnya. Kapan-kapan sepulang sekolah kita kesana, mau?
Aline mangangguk! Hahahaha..


Penghinaan Melly

Melly, di usianya yang ke 24, bertekad untuk mendapatkan gelarnya tahun ini melalui sekolah hukum di universitas ternama di kotanya dan menjadikannya pengacara di sebuah perusahaan. Tidak ada lagi yang penting baginya. Orang lain hanyalah boneka hanya untuk membantu dia mencapai tujuannya. Kecantikannya hanya alat yang dia gunakan untuk membuat orang lain, terutama laki-laki, sebagai penawar bagi dirinya. Sayangnya Melly, kenyataan baru saja berkata lain.

Melly dibenci di perpustakaan sekolah hukumnya. Dia selalu tak ramah pada staf perpustakaan, dan memperlakukan mereka semua dengan semena-mena. Setelah semester terakhir ini, para staf siap untuk melakukan perhitungan dan membalaskan dendam kepadanya.

“Dimana buku yang Saya minta untuk dipisahkan kemarin,” teriak Melly, “Kalian semua orang bodoh, bagaimana Saya lulus ujian jika Saya tidak memiliki buku itu? “

Seorang pemuda yang dimaki-maki Melly itu tetap tenang meskipun dia memarahinya dengan panjang lebar. Toni digunakan untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi hari ini, Toni sepertinya hampir mencoba membuat Melly tambah kesal dengan tidak mengambilkan buku-buku itu.

“Buku-buku Anda telah saya sisihkan di ruang C dalam rak studi khusus,” kata Toni, “Saya tidak ingin orang lain dapat dengan mudah menemukan buku-buku Itu. Ayo ikuti saya, dan saya akan menunjukkan kepada Anda di mana buku-buku itu berada. “

“Tunjukkan jalannya sekarang,” kata Melly, “Saya tidak punya banyak waktu untuk belajar selain malam ini. “

Toni membawa Melly ke sebuah ruangan kecil di belakang perpustakaan. Dan menunjukkan susunan drak buku yang dimaksud,

“Saya pikir Anda akan menemukan bahwa ini adalah tempat yang jauh lebih kondusif untuk
belajar, “kata Toni,” Anda tidak akan mendapatkan banyak gangguan di sini. “

“Saya tidak tahu mengapa Anda tidak hanya memberitahu saya letak buku-buku itu di sini di
tempat pertama, “kata Melly,” Sekarang Saya minta anda keluar dari sini. Bagaimana Anda mengharapkan Saya untuk belajar sementara Anda mengganggu saya di sini? “

“Maaf Nona,” kata Toni sambil menutup pintu ruang C.

Toni meninggalkan ruangan itu dan pergi ke ruang kontrol yang berdekatan dengan ruang C. Dari
ruangan itu, dia bisa melihat Melly melalui lubang. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari kemejanya, dan kemudian meraih ke bawah exhaust fan dan mengeluarkan masker oksigen. Dia kemudian memecahkan botol itu pada sisi dinding di samping lubang exhaust fan. Setelah kontak dengan udara, isi botol berubah menjadi asap yang merembes melalui lubang angin ke dalam ruang C tempat di mana Melly sedang belajar.

“Apa itu?,” kata Melly sambil melihat asap yang datang melalui celah ventilasi. Itu adalah hal terakhir yang diingatnya. Namun, karena asap cepat menjalar ke sisi ruangan, Melly pun pingsan. Ketika Melly terbangun, beberapa jam kemudian. Dia membuka matanya, melihat Toni, dan menjadi bingung.

“Bangun Mellyy kecil,” kata Toni, “Kamu tampaknya telah tertidur, dan perpustakaan sudah ditutup selama lebih dari satu jam yang lalu. “

“tertidur?,” kata Melly, “Ada semacam asap di sini, Saya akan menggugat Anda dan seluruh staf perpustakaan ini.

“Aku tidak berpikir Kamu akan menggugat Aku, atau orang lain dalam hal ini,
Mellyy, “kata Toni.” Itu bukan asap biasa. Itu adalah obat kuat yang merangsang bagian otak Kamu yang mungkin Kita sebut dengan `kebebasan.” Mulai sekarang Kamu akan berada pada kekuasaan seseorang dan semua orang di sini. Kamu akan melakukan apa pun yang mereka meminta untuk melakukan apa saja, tidak peduli betapa memalukan itu. Jika tidak, Kamu akan tetap biasa atau Kamu akan menyenangkan diri sendiri. “

“Apa yang kamu bicarakan,” kata Melly, aku merasakan sedikit grogi, tapi aku di perintah penuh di luar batas kesadaran aku. “Aku akan melaporkan Kamu ke Kepala Perpustakaan. “

“Kelihatannya aku harus menunjukkan efek penuh kekuatan dari obat ini, “kata Toni,”Berdiri! “

Meski tidak ingin mengikuti perintah Toni, Melly berdiri.

“Aku baru saja bangun dan aku akan segera pergi dari sini,” kata Melly, mencoba menyembunyikan fakta bahwa dia tidak bisa menolak permintaan Toni. “Oh, kamu tidak akan meninggalkan tempat ini secepat itu,” kata Toni, “tapi mungkin ada cara lain. Lepaskan pakaian kamu, Melly. “

“Apa yang kamu katakan?,” kata Melly, “Kata-kata kamu barusan akan menyeretmu ke penjara tuan!”

Saat Melly berbicara, ia mulai membuka kancing blusnya.

“Jika kamu berpikir untuk satu detik bahwa aku akan mengikuti perintahmu, kamu gila!, “kata Melly saat ia membuka bajunya dan membiarkan rok hitam itu jatuh ke kakinya.

“Kau menyuruh aku keluar, dan kemudian mencoba mempengaruhi ku bahwa aku tidak lagi dapat mengendalikan diriku sendiri. Apa yang tertawa kan?, “Kata Melly sambil membuka kancing bra dan membiarkan lapisan terakhir di atas payudaranya lolos begitu saja.

“Ada banyak kesempatan ku untuk mengambil pakaian mu dan kamu akan dengan gembira-ria bertelanjang melalui kampus ini, ” sambung Toni, sambil meluncur meraih celana dalam Melly, dan meninggalkan dia benar-benar telanjang.

“Saya rasa pikiran mu tidak tahu apa yang tubuh kamu lakukan,” kata Toni, “Sepasang payudara indah Mellyy telah terlihat.”

“Bagaimana kau tahu,” kata Melly.

Pada saat itu, Melly menunduk ngeri dan menemukan bahwa dirinya telah berdiri telanjang di hadapan orang asing.

“Ya Tuhan, apa yang telah kamu lakukan kepada aku?!,” Kata Melly sambil berusaha untuk menutup dirinya dari tatapan Toni.

“Aku? Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Toni. “Kau melepaskan semua pakaianmu itu sendiri. Sekarang bentangkan lengan kamu ke samping dan berhenti berusaha menutupinya seperti itu. Atau kenapa kamu tidak berputar 360 derajat seperti model dan menunjukkan semua yang kamu punya kepadaku? “

“Kau bajingan!,” Teriak Melly sambil perlahan berbalik memutar untuk memberikan Toni pandangan yang lebih baik dari tubuhnya. “Mengapa saya melakukan ini?”

“Kamu tampak sedikit lebih terbuka terhadap saran dari biasanya,” Toni tertawa. “Mari kita pergi ke ruang utama di perpustakaan ini, ada beberapa orang di sana yang menunggu untuk melihat kamu. “

“Apa maksudmu, bajingan,” kata Melly, saat dia mengikuti Toni keluar dari ruang C dan menuju ke ruang utama perpustakaan, di mana sepuluh orang telah duduk dan menunggu kedatangan mereka. Saat Melly datang, dia disambut oleh teriakan, sorakan, dan peluit dari laki-laki dan perempuan yang berada di sana.

“Berhasil!,” Kata Sonny, seorang anggota staf perpustakaan, “saya tidak percaya bahwa obat itu akan benar-benar bekerja! “

“Aku akan meminta kalian semua dipecat,” teriak Melly. “Tunggu sampai kepala perpustakaan mengetahui hal ini!”

“Tapi aku sudah tahu, Sayang,” kata Sarah, kepala hukum perpustakaan sekolah. “Aku sudah muak dengan ketidaksopanan Kamu pada beberapa waktu yang lalu.

Kami semua merencanakan agenda ini bersama-sama. Seorang teman saya sedang mencoba untuk mengembangkan obat yang akan membantu orang untuk psikoterapi. Satu-satunya masalah dengan obat ini tampaknya mempunyai efek samping permanen jika dosis besar diberikan. Jika dosis cukup besar, obat yang sebenarnya akan secara permanen merusak bagian otak yang mengendalikan kehendak bebas seseorang. Segala sesuatu yang lain tetap tak berubah, seperti kepribadiannya akan teteap sama, dan hanya sedikit pikirannya yang tersisa utuh, namun mereka sangat rentan untuk melakukan apa pun oleh SIAPAPUN yang meminta dirinya untuk mengikuti segala perintah orang yang didengarnya. Jika teman saya ini benar, Kamu sekarang akan meminta belas kasihan pada semua orang di sini dan siapapun yang meminta Kamu untuk melakukan sesuatu. Mari kita coba. Mengapa kamu tidak memeberikan sebuah acara kecil bagi kami. Aku ingin kamu ‘bermain’ dengan diri kamu sendiri di depan kami. “

“Ini semua omong kosong!,” Kata Melly, sebagian tangannya condong menuju daerah kemaluannya. “Kalian tidak bisa pergi dari sini!”

“Ah, tapi apa yang kita lakukan tidak terlalu jauh, Mellyy Sayang?,” Kata Sarah. “Kami bahkan belum menyentuh kamu sedikitpun, kamu yang membawa ini semua kepada diri kamu sendiri. Mengapa tidak kamu berbaring di atas meja ini dan melebarkan kaki kamu sehingga semua orang di sini dapat melihat kamu menggosok klit kecilmu. “

“Ya Tuhan ini! Saaaangat memalukan,” isak Melly. “Tolong jangan membuat aku melakukan hal memalukan ini di depan semua orang-orang ini. “

“Kamu tidak keberatan jika staf ku akan memenuhi semua kebutuhan kamu,” kata Sarah. “Kenapa tidak kamu memperlihatkan bagaimana kamu mendapatkan orgasme kepada kami sekarang?”

Melly mulai menggosok klitorisnya lebih cepat dan lebih cepat dengan satu tangan, dan meremas buah dadanya dengan tangannya yang lain.

“Tidak, tidak .. biarkan aku berhenti, aku akan sampai Tolong, tolong,! Tidak lebih,” kata Melly saat tubuhnya mulai mengejang karena orgasme.

“Kau bajingan, kau akan menyesal seumur hidup telah melakukan ini padaku.!”

“Seperti kamu menyesal memperlakukan semua orang di sini seperti sampah?,” Tanya Sarah.

“Baiklah, Kamu dapat berhenti sekarang, aku punya beberapa hal lain yang saya ingin coba sekarang. “

“Hal-hal lain?!,” Seru Melly, “Tidak, tolong, Maafkan aku memperlakukan kalian semua seperti yang telah aku lakukan. Aku berjanji akan menjadi lebih baik di masa depan. “

“Sedikit terlambat untuk itu Mellyy,” kata Sarah. “Belum ada sebuah obat penawar yang telah ditemukan. Saya khawatir bahwa kami tidak bisa merubah apa yang telah kami lakukan kepada kamu. Apakah ada orang lain yang ingin menanamkan saran ke dalam pikiran Melly? “

“Saya punya ide,” kata Sam. “Saya pikir kamu memerlukan perubahan diet. Mulai sekarang, kamu akan kecanduan sperma. Kamu akan hidup dengan meminum air mani. Mereka selalu mengatakan bahwa waktu terbaik untuk memulai diet baru adalah sekarang. Mengapa kamu tidak mengambil beberapa sampel sperma dari penisku, Mellyy. “

Dengan air mata mengalir di wajahnya, Melly pergi ke Sonny dan membuka ritsleting celananya dan mengeluarkan kemaluannya. Dia membimbing penis Sonny ke dalam mulutnya dan mulai mengisapnya dan bertekad untuk mendapatkan benih dari Sam, sekarang Melly mulai kecanduan.

“Luangkan waktu kamu, dan jangan sampai tersentuh gigi sialan kamu itu,” kata Sonny. “Jika tidak, kami akan mengubah kamu menjadi pelacur dan membuat kamu menjadi lonte sialan bagi seluruh sekolah. “

“Tolong, tolong keluarkan sperma kamu, saya harus memiliki sperma kamu,” kata Melly. “Ini terasa lebih buruk daripada kecanduan heroin.”

“Oke, Mellyy, ini dia,” kata Sonny sambil menyemburkan aliran dari air mani ke mulutnya. Kemudian, dia bergegas ke menjilat sebuah noda sperma yang dirindukan mulutnya dan mendarat di lantai perpustakaan.

“Rasanya enak, eh?,” Sonny tertawa, “Yah, kalau kau baik padaku, kamu bisa datang kepadaku untuk meminta sperma ku kapan saja. “

“Yah gadis kecil, saya kira kita sudah cukup menyenangkanmu untuk malam ini,” kata Sarah, “Tapi sebelum kamu pergi, aku ingin memberimu sedikit peraturan yang telah buat untuk kamu. Mulai sekarang, Kamu akan memakainya sehari-hari. “

Sarah tertawa saat ia mengangkat kaos yang telah basah oleh sperma, “Permintaanmu adalah perintahku .. “tertulis di depan.

“Pakai kaos dan rok kamu dan pulanglah ke rumah,” kata Sarah, “Kami harap kamu akan terbiasa dengan gaya hidup baru kamu segera.”

“Aku bilang hanya kaos dan rok!,” kata Sarah, Melly kaget dan menjatuhkan celana dalamnya, “Biarkan sisa pakaian Kamu di sini.”

Aku akan mencari tahu bagaimanapun juga untuk mengalahkan pengaruh obat ini, “kata Melly,” Dan
ketika saya lakukan, hati-hati … aku akan mendapatkannya bahkan dengan kalian semua. “

“Kita akan lihat, sayang. Kita akan lihat,” Sarah tertawa.


Senangnya Jadi Bos

    Sudah sejak seminggu yang lalu Lenny sekretarisku mengeluh kalau pekerjaannya sekarang bertambah banyak, karena memang beberapa waktu ini aku membeli beberapa perusahaan baru untuk perluasan bisnisku. Sebagai sekretaris pribadi, maka Lenny harus mengetahui semua permasalahan bisnisku dengan mendetail sehingga dapat dimaklumi bahwa dia agak kerepotan juga menyelesaikan semua tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Karena dia terus mengeluh, maka aku menyuruh dia untuk mencari asisten untuk membantunya. Lenny sangat gembira karena aku mengijinkannya mencari asisten, tentu saja dia tak akan lupa dengan pesanku bahwa asistennya harus dapat memuaskan aku baik pekerjaannya maupun seksnya. Lenny hanya tertawa waktu mendengar permintaanku itu. Aku juga yakin bahwa tak terlalu sulit untuk mendapatkan sekretaris yang sehebat Lenny luar dalam, karena aku berani membayar sangat mahal untuk pelayanan mereka, namun yang menarik bagiku adalah kesempatan untuk menguji mereka secara langsung. Karena disinilah selera petualanganku aan terpuaskan dengan menggoda para calon sekretaris itu.

Setelah melalui screening yang ketat oleh personalia, Lenny akhirnya menyetujui 6 calon asisten yang untuk itu dimintanya aku untuk menguji langsung mereka itu. Lenny terus-menerus tersenyum ketika ia menceritakan betapa cantiknya para calon sekretaris yang melamar dan pasti aku akan bingung untuk memilihnya. Akupun hanya tertawa karena aku yakin pikiran Lenny sudah ngeres saja. Dalam hati aku sudah tak sabar menunggu jam makan siang, karena setelah itu para calon pegawaiku ini akan menghadapku.

Ketika aku kembali dari makan siang, kulihat diruang tunggu sudah berderet duduk beberapa gadis yang rata-rata berdandan rapi. Dari pandangan pertama aku mengakui bahwa mereka rata-rata cantik hanya saja kelihatannya kalau umurnya masih muda. Mereka semua memandangku dengan penuh harap sambil berusaha menunjukkan senyum yang terindah, aku membalas senyum mereka dan langsung masuk ke ruanganku. Lenny yang sudah menunggu aku langsung mendatangiku dan menanyakan apakah aku sudah siap untuk mulai wawancara. Aku mengangguk namun kusempatkan untuk bertanya pada Lenny, apakah semuanya masih perawan, Lenny menjawab bahwa perasaan dia ada dua yang masih perawan yaitu yang namanya Indah dan Ratih, kalau yang lainnya kelihatannya sudah punya pengalaman. Yang pertama masuk seorang gadis memakai rok ketat berwarna biru tua, wajahnya cantik dengan tubuh yang tinggi langsing. Dengan penuh hormat ia menjabat tanganku dan duduk didepanku sambil menyerahkan berkas wawancara dari staffku sebelumnya. Kubaca namanya adalah Hesti ia lulusan Akademi Sekretaris yang terkenal di kota Bandung umurnya baru 21 tahun.

Setelah mengetahui jati dirinya aku menutup map itu dan memandangnya tajam. Hesti menatap pandanganku dengan berani meskipun tetap sopan. Aku langsung menanyainya dengan beberapa hal yang umum mengenai kemampuannya, sementara mataku dengan teliti memandang wajah serta badannya. Aku kurang suka dengan Hesti ini karena badannya terlalu langsing meskipun susunya kelihatan cukup montok untuk badan selangsing dia itu. Setelah dia tak begitu canggung berbicara denganku, aku mulai memasang jebakanku, kutawari dia untuk merokok, Hesti kaget mendengar tawaranku itu, dengan ragu-ragu ia memandangku. ketika kukatakan bahwa kalau dia memang biasa merokok boleh saja merokok agar bisa lebih santai berbicara, barulah ia berani mengambil sebatang Marlboro yang kusodorkan.

Ketika kutanyakan apakah dia berkebaratan kalau aku bertanya hal hal yang bersifat pribadi, dia langsung menggelengkan kepalanya tanda tak keberatan. Aku tersenyum sambil membetulkan dudukku.
“Apakah Hesti sudah punya pacar?”, Hesti tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Apakah pacar Hesti juga tinggal di Bandung?”.
“Tidak Pak, pacar saya ada di Jakarta”.
“Oh, makanya Hesti kepengen kerja di Jakarta ya?” Hesti lagi-lagi mengangguk dan tersenyum manis.
“Apakah ini pacar Hesti yang pertama ataukah sebelumnya sudah sering berpacaran?
“Sering Pak, tetapi semuanya sudah putus karena tak cocok!”.
Aku tersenyum dan bertanya lagi, “Selama berpacaran, apa saja yang dilakukan oleh Hesti?”.
“Maksud Bapak bagaimana ya?”, Hesti balas bertanya.
“Maksud Bapak, apakah hanya sekedar omong-omong, atau dengan tindakan tindakan lain!

Hesti terdiam dan hanya tersenyum mendengar pertanyaanku yang mulai terarah itu.
“Sebagai seorang sekretaris, Hesti harus bisa menyimpan rahasia perusahaan secara maksimal, maka bagi Bapak, kalau Hesti bisa berkata jujur mengenai diri Hesti, berarti juga Hesti bisa dipercaya untuk memegang rahasia perusahaan!”.
Mendengar itu Hesti baru berani menjawab, ” Ya kadang kadang omong-omong, kadang-kadang juga yang lainnya Pak!”.
“Yang lainnya bagaimana?” kejarku, Hesti tak menjawab tetapi hanya senyum saja.
“Apa berciuman?” Hesti mengangguk.
“Apakah pacar Hesti suka meremas-remas buah dada Hesti?” dengan wajah sedikit malu Hesti mengangguk.
“Sekarang coba jujur pada Bapak ya, apakah Hesti pernah berhubungan seks?”, dengan wajah yang makin merah Hesti menganggukkan kepalanya.
Kukejar lagi dengan pertanyaan, “Sudah dengan berapa pria Hesti berhubungan seks?
Hesti menjawab, “Empat orang Pak!”

Aku tidak terlalu terkejut dengan pengakuan Hesti ini, tetapi karena aku tak terlalu tertarik dengan Hesti, maka aku tidak berusaha untuk mengajaknya untuk main, aku hanya ingin mengetahui keadaan Hesti luar dalam dan nantinya memberi dia duit agar supaya kalau tokh dia tidak kuterima maka aku tidak dituntutnya macam-macam. Dari laci mejaku kukeluarkan sebendel uang limapuluh ribuan senilai 5 juta rupiah, aku berkata kepada Hesti, bahwa aku ingin melihat dia membuka pakaiannya agar aku dapat lebih mengenal dia secara nyata, untuk itu akan kuberikan uang 5 juta rupiah yang ada di depannya itu. Kalau nanti dia diterima, maka uang itu tetap menjadi miliknya, sedangkan kalau tidak maka uang itu sebagai hadiah dariku. Hesti ternganga mendengar perintahku yang tak pernah didengarnya itu, tetapi ia benar-benar siap untuk apapun rupanya.

Dengan agak gemetar ia berdiri dan mulai membuka pakaiannya satu persatu, aku hanya duduk saja di depannya. Seperti yang kuduga buah dada Hesti cukup montok untuk badan ceking seperti itu, ketiaknya juga bersih mulus tanpa bulu selembarpun, ketika behanya dilepas, tampaklah buah dadanya yang kelihatannya sudah agak mengendur dan penuh dengan kecupan merah. Dari situ aku yakin kalau Hesti ini doyan main!. Ketika Hesti membuka rok dan sekaligus celana dalamnya, penisku agak tegang juga, karena selangkangan Hesti ditumbuhi dengan bulu yang cukup rimbun. Setelah telanjang, Hesti berdiri mematung di depanku sambil tersenyum dan menunduk. Aku berdiri mendekati dia dan menyentuh susunya yang kurasakan agak empuk begitu juga dengan pantatnya, ketika kuraba bulu vaginanya, Hesti merangkulku seperti orang yang kaget. Aku diam saja, hanya jariku yang mulai menyelinap di antara celah pahanya mencari liang vaginanya. Hesti mengerang ketika jariku menyentuh clitorisnya, tangannya meremas-remas bahuku tanpa berkata apa-apa. Aku merasa semuanya sudah cukup, maka aku kembali duduk di kursiku dan kusuruh dia kembali berpakaian.

Setelah kuberikan uang dalam amplop itu, kuucapkan terima kasih dan kuminta Hesti menunggu kabar dari personalia. Hesti juga mengucapkan terima kasih dan meninggalkanku. Setelah itu masuk berturut-turut, Meity, Retno, Onny dan Ratih yang perkiraan Lenny masih perawan. Meity, Retno maupun Onny semuanya juga kuberi hadiah 5 juta rupiah setiap kali mereka telanjang bulat di depanku, semuanya berbadan bagus dengan susu yang montok, benar-benar berat bagiku untuk menahan diri menghadapi vagina yang masih muda dan segar seperti milik mereka itu. Ketika Onny telanjang di depanku aku tak tahan untuk tak menciumi vaginanya yang berwarna merah muda itu, kujilati clitorisnya sampai Onny merintih-rintih, begitu juga dengan Retno yang sempat merasakan tusukan penisku meskipun hanya sampai dasar dan segera kucabut kembali. Ratih yang diduga Lenny perawan ternyata juga sudah tak perawan, justru cewek satu ini yang berani terang-terangan mengajakku untuk main tetapi aku ragu-ragu karena aku hanya mau main dengan calon pegawai yang betul-betul akan kuterima saja, yang lainnya cukup main-main saja.

Kesabaran dan ketahananku akhirnya berbuah juga, ketika calon sekretarisku yang bernama Wulan masuk, aku merasakan kalau inilah cewek yang tepat untuk mendampingi Lenny sebagai sekretaris, mataku dengan tak sungkan-sungkan melahap wajah dan tubuh Wulan yang tinggi besar itu. Wajahnya cantik dengan tipe Jawa, hidungnya mancung dan kulitnya putih, bibirnya sangat sensual dengan lipstick merah tua. Blousenya yang berpotongan rendah dilapisi jas berwarna biru tua, sepintas aku dapat melihat lekuk buah dadanya yang dalam menandakan kalau buah dada pemiliknya montok. Dari penampilannya, sepertinya cewek yang satu ini alim, tetapi aku yakin kalau sebenarnya dia ini super hot dan sangat sesuai dengan seleraku. Pandanganku yang jalang itu, tidak membuat dia rikuh, malah dia tersenyum manja waktu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tangannya empuk dan hangat sekali, begitu juga dengan suaranya yang agak bernada bass itu. Semuanya sangat memuaskan seleraku, hanya sekarang tergantung bagaimana aku dapat mengolah agar dia dapat aku sikat dan selanjutnya akan kupakai untuk membantu Lenny. Pikiranku sudah membayangkan kalau mereka berdua aku sikat sekaligus diruang ini, pasti asyik.

Setelah berbasa basi dengan menanyakan beberapa hal yang sifatnya formil, aku mulai menanyakan hal hal yang sensitif, karena begitu bernafsu akau merasakan kalau suaraku agak gemetar, tetapi justru yang kulihat Wulan malah tersenyum melihat gayaku itu.

“Wulan keberatan nggak kalau saya tanya hal hal yang sifatnya pribadi, karena sebagai tangan kanan Bapak, tentunya Bapak juga ingin tahu hal hal seperti itu”.
“Tentu saja boleh Pak, silahkan Bapak tanya apa saja!”, Aku menelan ludah mendengar jawaban Wulan yang menantang itu.
“Wulan tingginya berapa ya?”.
“Seratus tujuh puluh enam senti Pak”.
“Berapa ukuran vital Wulan?”.
“Dada 36, pinggang 30, pinggul 38″, Aku tersenyum mendengar ukuran vitalnya yang hebat itu, Wulan juga menyeringai melihat aku tersenyum itu.
“Masak dada Wulan sebesar itu, kelihatannya kok nggak ya!”.
“Benar kok Pak, Wulan nggak bohong”, jawabnya mengajuk.
“Coba Wulan buka jasnya, biar Bapak bisa melihat lebih jelas!”.

Tanpa ragu-ragu Wulan berdiri dan melepas jasnya, ternyata Blouse Wulan tak berlengan sehingga aku dapat melihat lengannya yang putih mulus itu. Memang setelah Wulan hanya memakai blouse, baru kelihatan kalau susunya memang besar. Ketika kusuruh Wulan mengangkat lengannya, kelihatan juga kalau ketiaknya penuh bulu yang sangat aku sukai. Aku makin bernafsu melihat tubuh Wulan yang sip ini, tetapi aku masih harus berusaha agar Wulan benar benar dapat kutiduri, karenanya aku masih harus terus berusaha.
“Apakah Wulan pernah melihat blue film?”
“Pernah Pak”.
“Sering?”.
“Sering”.
“Coba ceritakan pada Bapak apa yang kamu sukai kalau nonton blue film itu!”

Wulan pertamanya agak ragu untuk menjawab, tetapi akhirnya keluar juga jawabannya.
“Wulan senang kalau mereka melakukan adegan pemanasan, dan juga melihat mimik muka ceweknya kalau puas! Aku rasanya sudah tak tahan lagi ingin menubruk Wulan, tetapi aku masih menahan diri.
“Wulan, coba ya behanya dilepas, Bapak ingin melihat buah dada Wulan!”.
“Apa blousenya juga dilepas Pak?”.
“Terserah!”.

Kembali Wulan berdiri, dia dengan tenang membuka blousenya serta kemudian melepas pengait behanya. Benar-benar fantastis payudara Wulan, besar, montok, putih namun sedikit kendor. Aku sejenak terpana memandangnya, tetapi aku langsung dapat menguasai diriku dan berdiri dan berjalan memutari mejaku mendekati Wulan. Tanpa ragu kedua tanganku langsung meremas payudara Wulan dengan lembut. Wulan hanya diam saja, merasakan empuknya payuadara Wulan aku tahu kalau dia sudah tidak gadis lagi. Remasan tanganku ke payudara Wulan menyebabkan puting susunya mulai mengeras, aku menyelusupkan tanganku ke ketiaknya dan mengangkat lengannya tinggi-tinggi, kuperhatikan ketiaknya yang penuh dengan bulu hitam itu dan tanpa sadar aku sudah menciuminya.

Saat itulah Wulan mulai mendesah kegelian, aku terus menciumi bulu ketiaknya yang berbau harum oleh karena deodorant itu untuk kemudian ciumanku mulai mengarah keputing susunya.
Wulan dengan agak berbisik berkata, “Pak, nanti ada yang melihat lho, Wulan takut!”, Aku mana perduli dengan semua itu. Justru sambil mengulum puting susunya aku mulai melepaskan rok yang dipakainya. Dengan mudah kulepaskan rok bawah Wulan demikian juga dengan celana dalamnya, ketika kuraba selangkangan Wulan dapat kurasakan ketebalan bulu vaginanya di telapak tanganku, ketika jariku menyelinap ke dalam vaginanya. Wulan makin menggelinjang dan meremas pundakku tanpa bersuara sedikitpun. Karena aku tahu waktuku hanya sebentar, maka aku menghentikan ciumanku dan mulai melepasi pakaianku sendiri. Wulan hanya berdiri saja melihat aku melepaskan semua pakaianku itu, matanya terbeliak ketika kulepas celana dalamku sehingga penisku tersembul keluar.
Dengan terbata-bata ia berkata “Pak saya takut Pak, punya Bapak besar sekali, nanti nggak cukup lho Pak, saya baru beberapa kali bersetubuh!. Aku berbisik agar ia tak takut karena aku akan hati hati dan kujamin dia tak merasa sakit.

Kubaringkan Wulan di sofa yang ada di kantorku, dan aku kembali ke mejaku. Tanpa diketahui Wulan aku memejet interkom untuk memanggil Lenny, Lenny yang telah mengerti dengan kode dari aku segera masuk ke ruanganku dengan tenangnya. Tetapi lain dengan Wulan yang langsung meloncat kaget dengan wajah pucat pasi dan kebingungan mencari penutup tubuh.
“Wulan nggak usah takut, tokh nanti kalau kamu kerja juga bersama dengan Mbak Lenny, jadi rahasiamu juga jadi rahasia mbak Lenny ya!”, Wulan hanya diam saja dengan wajah merah menatap Lenny yang tersenyum manis kepadanya. Ketika kutanyakan dimana kondom yang kubutuhkan, Lenny mengeluarkannya dari saku dan membukanya untuk kemudian dengan berjongkok ia memasangnya di penisku yang sudah berdiri kaku itu, karena memang tujuannya agar supaya Wulan tidak rikuh dengan dirinya, Lenny secara sengaja mengulum penisku dulu sebelum memasang kondom bahkan dengan demonstratif ia menelan seluruh penisku hingga tinggal pelirku saja. Wulan memandang semua itu dengan wajah merah padam, entah karena malu atau karena nafsunya yang sudah naik. Yang pasti ia diam saja ketika Lenny duduk di atas meja kerjaku sementara aku mendekatinya, kurenggangkan kaki Wulan sehingga vaginanya kelihatan merekah merah tua.

Pelan-pelan kusapukan lidahku kepinggir vagina Wulan, Wulan langsung mendesah dan mendorong kepalaku, aku diam saja malahan kuteruskan jilatanku pada clitorisnya yang bulat itu, Wulan merintih rintih kegelian, tanganku tak tinggal diam juga ikut meremas remas susunya yang montok itu. Wulan dengan gemetar meraih penisku dan diremasnya penisku dengan gemas sekali. Aku juga kasihan melihat Wulan yang demikian kebingungan karena merasakan kegelian yang luar biasa itu, tetapi tujuanku sebenarnya agar dia tak terlalu merasa sakit bila penisku yang gede itu menembus vaginanya.

Langsung saja aku mengarahkan penisku ke liang vaginanya yang sudah basah kuyup dan merekah itu, ketika kulihat ujungnya sudah terselip diantara bibir vagina Wulan, pelan-pelan kutekan masuk. Wulan menggigit bibirnya sementara tangannya memegang pantatku entah mau menahan atau malahan mendorong, yang pasti penisku dengan pelan berhasil juga masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya. Vagina Wulan terasa legit sekali, rasa hangat yang menjepit penisku membuat aku menggigit bibir karena enaknya. Tetapi seperti yang kuduga, Wulan kurang berpengalaman dalam persetubuhan, karena meskipun penisku sudah mentok menyentuh leher rahimnya, ia diam saja bahkan menutup matanya.

Aku berbisik di telinganya agar Wulan juga menggerakkan pantatnya, tetapi Wulan tetap diam saja. Gerakan penisku naik turun membuat vagina Wulan bertambah basah dan becek, aku benar-benar kecewa dengan vagina Wulan ini, rasanya aku kepengen mencabut penisku dan berpindah ke vagina Lenny yang pasti lebih pulen dibanding punya Wulan itu, tetapi aku tak mau melukai perasaan Wulan. Dengan agak tergesa-gesa aku mempercepat genjotanku agar aku segera mencapai puncak kenikmatanku, tetapi dasar masih belum berpengalaman, tiba-tiba saja Wulan merintih keras, sementara kurasakan vaginanya mengejang. Rupanya Wulan sudah mencapai puncak kepuasannya, badannya berkeringat dan kakinya erat melingkar dipantatku. Dengan beberapa sentakan lagi, akupun memuntahkan air maniku yang tertampung dalam kondom yang kupakai. Begitu rasa geli mulai hilang dari ujung penisku, aku segera mencabut penisku dan kusuruh Lenny mengajak Wulan untuk keluar dari ruanganku. Lenny tersenyum melihatku, ia tahu bahwa aku kurang puas dengan permainan Wulan, pasti nantinya Lenny harus bekerja keras untuk mendidik Wulan agar tahu seleraku dalam bermain main ! Kuingatkan Lenny agar tak lupa memberi Wulan uang serta memanggilnya lagi untuk masuk kerja.


Sari, Perawan..

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.

Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.

Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.
“Met pagi..” kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.
Kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.
“Kok semalam sampai larut sih..?” tanyaku.
“Kok tak juga diantar seperti biasanya..?” tanyaku lagi sebelum dia menjawab.
“Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.
“Semalam nggak terkejut ya melihatku..?” aku mencoba menyelidiki.
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.

Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.
“Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!” desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.
“Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohhh.. aku mau keluar.. ohh..” desahku lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.
“Oohhh Sari… Uhh Sariii.., Saarrii… Nikmat sekali..!” desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.
“Ehh.., ehhh..!” desis Sari menikmati cumbuanku.
“Ehh.., ehhh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.

Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.
“Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!” pintanya.

Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.

Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda.


Anak Juraganku Dan Temannya

Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari JemBut. Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi.

Mereka bukan tipeku.
Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18 tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya.

Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.

Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.
“Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya”.
“Eh.., Mas, udah lama nunggu?”, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.
“Barusan kok Non..”, jawabku.
“Jul.., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih.., ha.., ha..”, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.
“Hus..”, sahut Non-ku sambil tersenyum. “Jadi malu dia nanti..”.
Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.

“Kenalin nih mas, temanku”, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.
“Sony”, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.
“Niken”, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.
“Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar”, instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
“Baik Non”, jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta.., ahh.

Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan menyuruhku ikut masuk.
“Saya di luar saja Non”.
“Masuk saja mas.., sambil minum dulu.., baru kita pulang”.
Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.
“Duduk di sini aja mas”, kata Niken menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.
“Ayo jangan ragu-ragu..”, perintah Non Juliet melihat aku agak ragu.
“Mulai disetel aja Nik..”, Non Juliet kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.
Tak lama kemudian.., film pun dimulai.., Wowww.., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro (Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis & Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.

“Hmm.. Eh”, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.
Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.
“Ayo.., hisap dong mas.., ahh”. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.

“Ayo, jilatin memekku mas”, Non Juliet mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.
“Ohh.., nikmat sekali..”, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.
“Aduh, cepetan dong, yang keras.., aku mau keluar.., ehhmm ohh..”. Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil alih.

“Biar saya yang buka mas”, katanya.
Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang sudah tegak, bergelantung ke luar.
“Ih, wowww..!!”, desis Non Juliet, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa.., bayangkan.., penisku berwarna hitam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.
“Punyamu besar sekali Mas Son.., Jul suka.., ehmm..”, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.

Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.
“Ayo.., masukkin dong mas.. Jul udah nggak tahan nih..”, katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.
Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.
“Ahh.., yeah.., sekarang masukin deh penis Mas yang besar itu di memekku”, katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.

“Yah, begitu dong mas”, Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.
“Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging.. ya Mas Son..?”, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.
“Ayo dong mas.., masukkin dari belakang”, Non Juliet menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.

Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping, ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.
Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.
“Ahh.., Mas.., Mas.., Terus dong.., nikmat sekali”, Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet makin hebat.

Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.
“Ohh.., terus dong mas.. yang cepat dong ahh.. Jul keluar mas.. ohh..”, Non Juliet mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.
“Non.., saya juga hampir keluar..”, kataku.
“Tahan sebentar mas.., keluarin dimulutku..”, kata Non Juliet.

Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.
“Ayo, goyang yang keras dong mas..”, Non Juliet memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.
“Ayo penisnya taruh di sini mas..”, kata Non Juliet lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.

“Oh, nikmat sekali..”.
Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.
“Ahh.., Non.., ahh”, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.
Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.

“Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya”, katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.
“Besok kita ulangi lagi ya mas.., soalnya Niken minta bagian”.
Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.
Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.


Biografi Sexual

Namaku Marga Firliany P. Teman-temanku memanggilku Marga. Atau kalo lagi gaul biasa dipanggil Maggie, biar lebih ngegaya. Usia ada di mid twenty. Body nggak sexy-sexy amat: 165 cm / 55 kg, rambut sebahu. Ukuran dada-pinggul? Sampe saat ini biarlah cowok saya (dan temen deket yang nanti saya ceritain) yang tahu.

Yang mau saya bagi untuk teman-teman adalah pengalaman saya yang paling pribadi, semacem cerita biografi sexual saya, kegatelan-kegatelan saya, dan kegenitan masa ABG saya (dan beberapa rekan gang cewek saya). Tentu saja banyak detail yang sudah terlupakan, maklum sudah bertahun-tahun yang lampau.

Semuanya berawal di th. 1995, saat saya naik kelas 2 SMA di kota S, saat saya berjumpa dengan sahabat-sahabat (Aluh yang paling sexy dan paling nekat, Anik yang cuek, dan Ririn yang pemalu). Kami berempat kebetulan memiliki keingintahuan dan kegatelan yang sama tentang masalah hubungan pria dan wanita. Kami mulai sadar bahwa cowok-cowok mengarahkan pandangan kepada kami, dan kami menyukai hal tersebut. Sering kali kami saling bercerita bagaimana si A mencuri-curi pandang pinggul Aluh, atau si B yang menjulurkan lehernya berusaha mengintip belahan dadaku saat aku membungkuk untuk mengambil bolpoin jatuh, atau Ririn yang diintip ketiaknya waktu membenahi ikat rambutnya. Merupakan kebanggaan jika ada cowok yang difavoritkan di kelas kami mencuri pandang ke arah kami.

Kadang kami juga suka memancing perhatian, baik dengan berbusana seksi atau bertingkah laku menggoda. Misalnya menggunakan rok ketat dari bahan kaus yang mencetak pantat dengan jelas. Atau menggeliat dengan menarik tangan ke atas dan menekuk punggung untuk sekaligus memamerkan lekukan pantat dan payudara.

Salah satu kesukaan kami adalah acara ganti baju sebelum dan sesudah olahraga. Beberapa kali, tentu saja dengan mengunci pintu kelas sebelumnya, kami berempat dan beberapa cewek lain, nekat ganti baju di kelas. Satu persatu seragam kami berlolosan hingga tinggal bra dan celana dalam, sebelum berganti pakaian olah raga. Kami saling memperhatikan dan memperbandingkan kehalusan kulit, memperbincangkan model bra transparan yang dipakai si D, atau celana dalam Winnie the Pooh nya si Y. Dua tiga kali kejadian ada cowok yang mencuri lihat lewat lubang kunci, yang tentu saja kami tahu melalui bayang-bayangnya di celah bawah pintu. Namun kami cuek saja, berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Malahan beberapa dari kami (termasuk saya) secara provokatif berpura-pura mengobrol sambil duduk di atas bangku, sambil membiarkan si pengintip menikmati tubuh kami. Bahkan pernah sekali saya dan Aluh pernah sengaja mencopot bra, lalu mengoles krim pelembap di dada, sambil sesekali melirik ke arah pintu berdoa semoga cowok itu masih di situ. Temen-temen cewek lain tertawa cekikikan sambil memuji kenekatan kami. Dan itu, pertama kalinya di kelas kami ada adegan seperti itu. Dan setelah itu beberapa teman cewek mulai berani meniru melepas bra di depan teman cewek yang lain, meski belum sampai taraf kenekatan Aluh dan saya.

Meski pernah mempertontonkan tubuh dan sering berakting seksi, kami berusaha untuk tidak terkesan murahan. Kami dengan cerdiknya memancing cowok untuk melirik dan menikmati indahnya lekuk tubuh kami, tanpa bermaksud menantang mereka. Pergaulan sehari-hari berjalan seperti biasa. Pancingan-pancingan omongan dari cowok nekat jelas nggak kami tanggapin. Prinsipnya, kagumilah kami. Lebih dari itu, no way.

Kegatelan kami semakin memperoleh penyalurannya di semester 4. Diawali dari Anik yang memperoleh buku porno dari seorang teman cowok, yang segera beredar di antara kami. Masih teringat jelas bagaimana sang tokoh merendam ‘barang’nya dengan teh basi setiap pagi sore untuk memperkokoh ototnya, bagaimana sang cewek tokoh utama kesakitan dan kemudian menikmati diperawani, bagaimana sang tokoh cowok menggoda dan menyetubuhi tetangganya, dan seterusnya. Beberapa kali kami mendiskusikan cerita itu. Tiap kata dan kalimat di buku itu membuat kami semakin penasaran.

Pada suatu hari, Anik kembali membikin ‘ulah’ dengan menawari tontonan vcd porno. Katanya sih dia ambil dari kamar kakaknya yang udah kuliah. Berhubung kami masuk siang, kami punya banyak waktu buat nonton di pagi hari. Kebetulan bapak ibu Anik bekerja, jadi kami tinggal atur waktu pas kakaknya kuliah. Dan di suatu hari Jumat pagi, kami berempat untuk pertama kalinya menonton vcd porno, pertama kali kami melihat penis menembus vagina, pertama kali melihat cewek mengulum penis, bagaimana clitoris digelitik dengan jari atau lidah, pertama kali melihat indahnya penis meludahkan cairan putih kental. Dan reaksi kami… awalnya terpana, terpaku, tenggorokan kering, dan kemudian cekikikan, dan saling berkomentar seperti “Gimana ya rasanya?” (waktu adegan oral atau adegan cowok menebar benihnya di mulut pasangannya). “Wii… banyaknya…” atau “Enak ya, mas?” (adegan keluarnya air mani), “Mmm… pengeeen…” (adegan cewek orgasme), “Ayoo… tembak, mas…” (adegan cowok mo ngeluarin benihnya).

Dan itu adalah bekal saya untuk mengexplorasi tubuh saya sendiri. Di malam hari, setelah belajar, saya belajar untuk menyentuh tubuh saya, merangsang puting susu berdiri dengan rabaan ringan, cubitan lembut, atau dengan sentuhan ujung jari yang dibasahi dengan air ludah. Kemudian mencari-cari titik-titik di sekitar paha yang membuat ‘greng’ bila disentuh, menikmati gesekan pantat dan bantal, mempertemukan paha dan guling, meremas pantat sendiri. Dan tak terlewatkan, sentuhan di daerah kewanitaan.

Belaian di bibir luar, sentuhan ringan di klitoris, pelan-pelan membelai seputar liang persetubuhan, sambil berhati-hati untuk tak masuk terlalu dalam agar keperawanan tetap utuh. Mmmmh… orgasme-orgasme pertamaku. Bagaimana otot-otot daerah paha dan pinggul secara tiba-tiba terasa menegang, rasa lemas itu, rasanya takkan terlupakan. Hari-hari berikutnya aku belajar bahwa sentuhan di puting akan membuat orgasme makin kuat, bahwa orgasme dengan posisi terlentang sambil meregang punggung atau mengangkat kaki terasa lebih nikmat, bahwa dengan gesekan guling orgasme bisa didapat. Posisi tengkurap, terlentang, miring, duduk di kursi, bahkan berdiri sudah pernah kucoba. Telapak tangan, ujung jari, guling, bantal, kain lembut licin (semacam satin atau sutra), mug, atau es batu, pernah mengelus puting, membelai pinggang, menggelitik pantat, dan menyentuh pusat kenikmatanku. Kupelajari juga kalo benda dingin lebih dapat membuat syaraf kenikmatanku lebih terbuka. Pengalaman menarik ini tentu saja kubagi dengan gank-ku. Anik dan Ririn cuma berani pakai guling. Aluh, yang memiliki kegatelan sama denganku, menganjurkan Anik dan Ririn untuk belajar menyentuh daerah kewanitaannya. Dan tanpa basa-basi, Aluh mengajak kami berempat untuk melakukan pesta ‘self service’. Acara direncanakan Sabtu pagi, di rumah Anik.

Sabtu pagi kami berempat udah ada di rumah Anik sekitar jam 7 pagi. Sebentar kemudian, mas K (kakak Anik) pergi, katanya mo maen tenis. Setelah itu, Anik menyiapkan kamarnya buat acara “have fun” kami berempat. Ririn bilang kalo ia sedikit gemetaran. Sementara Anik sibuk mengecek kunci pintu, menjaga agar pembantu tidak masuk sembarangan. Atas usul Anik, kami saling membuka baju satu sama lain sambil membayangkan cowok favorit kami yang melakukannya. Aluh mulai dengan melucuti baju, rok, dan bra Ririn, sementara saya dan Anik cekikikan menonton. Nampak sekali kalo Ririn gemetar, sentuhan nakal Aluh di puting membuat Ririn beringsut mundur, lalu menolak untuk dilepas celana dalamnya. Lalu aku dapat giliran ditelanjangi oleh Anik. Cuek saja, sambil memejamkan mata, aku nikmati sentuhan jari Anik di puting, pinggang, lalu pantat. Setelah itu giliran Anik ‘digarap’ Aluh, yang dengan berani mengelus pangkal paha Anik. Terakhir Aluh yang kutelanjangi, lalu kubelai putingnya yang mulai berdiri, kucubit lembut putingnya, kuremas pantatnya. Pokoknya semua jenis sentuhan yang pernah kurasakan kupraktikkan ke tubuh Aluh, yang nampaknya menyukainya. Aluh sempat memintaku untuk menyentuh kewanitaannya.

Namun karena risih, kutolak permintaannya. Berikutnya kami berempat masing-masing mencari posisi yang enak, kemudian terbang ke alam khayalan. Setelah melewati puncak, kulayangkan pandangan ke Aluh, Ririn, dan Anik. Ternyata aku termasuk paling cepat mencapai klimaks, sehingga aku sempat melihat gaya sahabat-sahabatku merangsang diri. Satu persatu mereka mencapai puncak dengan gayanya sendiri-sendiri. Aluh terlentang, tangan kanan di pangkal paha tangan kiri mengusap dada. Ririn telungkup menjepit bantal. Sementara Anik duduk bersandar di tembok dengan kaki dilipat merangsang pangkal pahanya dengan kedua tangan.

Setelah semua ‘sadar’, kembali kami saling bercerita kenikmatan kami, saling berbagi teknik belaian dan informasi area ‘greng’, dan tentu saja, saling becanda seperti biasanya.

Tiba-tiba terdengar suara gerbang dibuka. Kami mengintip melalui jendela. Ternyata mobil kakak Anik (mas K) masuk garasi. Sejenak kami kebingungan, namun Anik langsung menutup gordin. Jadi kami nggak usah buru-buru berpakaian.

Sekonyong-konyong Aluh punya ide gila. Teringat waktu mengekspos dada di kelas, Aluh usul untuk bikin acara semacem itu dengan sasaran kakaknya Anik. Aku langsung setuju. Keinginan untuk dinikmati dan dikagumi muncul kembali dalam dadaku. Anik setuju dengan catatan dia nggak mau telanjang bulat. Ririn setuju dengan syarat yang sama. Kalo aku, justru pengen nunjukin miss V-ku, apalagi kepada cowok sekeren kakaknya Anik. Lalu kami ngebahas gimana pelaksanaannya. Kata Anik, setiap Sabtu kakaknya akan keluar sekitar jam 7 pagi buat latihan tenis, terus pulang sekitar jam 9 pagi. Karena kamar Anik di tepi jendela samping dekat garasi, kami punya kesempatan pamer pas mas K lewat jendela habis masukin mobil ke garasi. Rencananya, jendela dibuka, tapi gordin ditutup dengan disisakan celah di tepi jendela buat ngintip. Posisi juga udah diatur, Aluh di atas ranjang. Aku di karpet di bawah, bersama Anik. Ririn duduk di kursi belajar, membelakangi jendela. Dia sempat protes, entar nggak bisa liat expresi mas K, dong. pemecahannya gampang, taruh cermin di atas meja belajar, biar bisa liat mas K. Di karpet juga ditaruh satu cermin, kalo-kalo aku ato Anik tiba-tiba malu trus pengen membelakangi jendela. Sebelum pulang, Anik usul agar kami bawa kosmetik buat dandan sedikit, biar tambah cakep. Aluh dan aku sepakat untuk mencukur miss V sehari sebelumnya, agar lebih keren dan bisa kelihatan lebih jelas.

Dan hari Sabtu berikutnya, jam 7 pagi kami udah standby di rumah Anik. Kali ini agak lain. Semua terlihat nervous. Ririn terlihat pucat, Anik juga. Tanganku gemetaran. Maklum, ini pertama kalinya daerah paling pribadi kami berempat akan dilihat seorang pria. Cuma Aluh yang santai. Dia juga yang ngajakin kami berempat untuk mandi bareng biar fresh dan keliatan seger. Jadilah kami mandi bareng. Ternyata bukan cuma aku dan Aluh yang mencukur bulu miss V, Ririn dan Anik juga, padahal mereka rencana semula mereka nggak mau telanjang. Malu-malu, Ririn bilang kalo aja berubah pikiran pengen pamer, ‘kan keren. Anik idem. Abis mandi kami langsung dandan seperlunya, biar tambah cakep.

Jam 8 lewat udah siap. Kami berempat cuma pake baju atas plus celana dalam, rok dan bra ditinggal. Anik dan Ririn pake G string, biar bisa pamer pantat tanpa melepas celana. Aku dan Aluh manas-manasin biar mereka mau copot celana juga. Entar nyesel lho. Jawabannya nyantai: entar deh gimana. Trus nungguin. Anik membuka jendela, terus menutup gordyn, tak lupa menyalakan semua lampu yang ada. Atas usul Anik, sambil nunggu, kami mulai merangsang diri untuk pemanasan. Sesekali kami bergantian melongok ke jendela, mengecek apa “calon penonton” sudah datang.

Jam 9 kurang sedikit terdengar suara pintu gerbang dibuka. Aku dan Aluh melongok ke jendela, mastiin mas K yang datang. Ternyata bener. Aku buka gordyn sekitar 20 senti-an, trus lepas celana dalam dan melepas semua kancing baju, lalu baring-baring di karpet. Aluh udah telanjang bulat di atas ranjang sambil mengusap-usap putingnya. Anik dan Ririn juga udah mulai. Aku baring-baring santai sambil pelan-pelan membelai putingku. Sesaat kemudian, mas K lewat dan, pas sekali, menoleh ke arah kamar Anik. Aku pura-pura memejamkan mata, trus asyik dengan putingku. Pelan-pelan tanganku turun ke daerah paha. Mataku yang terpejam kubuka kecil, mau liat reaksi mas K. Ternyata dia lagi liat ke arah Aluh. Ah, sial bener. Saat ujung jariku menyentuh clitorisku, secara refleks aku mengerang, ternyata menarik perhatian mas K. Dan… dia melihatku, tepat saat aku membuka lebar kedua kakiku. Aku tambah semangat. Dadaku berdegup kuat sekali. Pelan-pelan kutekuk kedua kakiku, lalu kuangkat pinggulku, agar miss V ku dapat dilihat lebih jelas. Aku bersyukur dapat posisi di bawah, dekat jendela karena mas K dapat langsung melihat ke arahku. Aku naik turunkan pinggulku, sambil sesekali memicingkan mata mengintip mas K yang nampak sekali menyukai show ku. Dan acara itu ditutup dengan orgasme yang nggak akan kulupakan seumur hidupku: orgasme pertamaku didepan seorang pria!! Saat kubuka mataku, tanpa sengaja tepat saat mas K melihat ke arahku. Mas K tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke arahku. Wow… dia suka. Meski dalam hati aku merasa lega dan bangga, namun aku pura-pura tidak melihat. Aku pelan-pelan mengancingkan bajuku. Kedua kakiku masih kubiarkan terentang lebar, sambil berharap semoga mas K melihat ke arah bagian tubuhku yang paling pribadi.

Kulayangkan pandangan ke seputaran kamar. Ternyata, lagi-lagi aku yang pertama mencapai puncak. Tak lama menyusul Anik dengan posisi terlentang dan kedua kaki diangkat ke dinding. Aluh berikutnya, terlentang di atas ranjang, kedua kaki diangkat. Dan terakhir Ririn, si pemalu, yang dengan berani melorotkan celananya sampai sebatas paha dan membungkuk ke arah meja. Miss-V nya mengintip di antara sepasang pantatnya yang putih. Keliatan juga dia terus memandang ke arah cermin di atas meja, memperhatikan mas K.

Setelah semua mencapai puncak, kulirik jendela, mas K udah nggak keliatan lagi. Aku tersenyum ke arah Anik, lalu ke Ririn, mengacungkan jempol tanda sukses. Aluh tersenyum mantap, berbisik “sukses!”.

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari halaman. Kami berempat melongok ke jendela. Ternyata mas K jatuh tersandung pot bunga. Kami berempat tertawa cekikikan, yang membuat mas K menoleh ke arah kami. Secara reflek kami berempat menutup dada dengan tangan. Tapi mas K tersenyum ke arah kami, trus bilang percuma kami nutupin dada, soalnya dia tadi udah sempat lihat. Abis gitu dia minta maaf, katanya nggak sengaja liat acara kami. Bagaimanapun juga, mas K bilang kalo tubuh kami keliatan seger dan menggemaskan. Trus dia permisi masuk rumah. Kami sekali lagi kami berempat saling pandang dan tersenyum lega. Sukses. Apa lagi? orgasme udah dapat, pujian dari kakaknya Anik juga diperoleh.

Nggak seberapa lama mas K ngetuk pintu kamarnya Anik. Kami saling pandang. Mau apa? Buru-buru kami pake baju seadanya. Setelah dibukain pintu, mas K nawarin vcd porno punya dia. Katanya biar kami tahu tubuh cowok. Kami ketawa, trus bilang kalo Anik udah pernah ambil vcd itu dari kamarnya mas K. Aku tambahin, kalo udah pernah, yang belum itu aslinya. Enggak taunya mas K nanggapin serius, dia mau bantu kalo kami pengen liat cowok telanjang. Kami cuma ketawa cekikikan, nggak berani mutusin. Mas K bilang kami boleh mutusin kapan aja, lalu dia pergi ke kamarnya. Trus kami tutup pintu kamar, ngebahas tawaran mas K. Anik nggak setuju kakaknya jadi obyek sexual. Aku bilang nggak apa-apa, kami sama-sama saling lihat, jadi impas. Lagipula kakaknya kan keren, siapa tau aku, Aluh, atau Ririn entar bisa jadi pacarnya. Aluh dan Ririn setuju pendapatku. Jadilah. Aluh jadi juru bicara. Kami rame-rame ke kamarnya, lalu minta mas K buat njalanin tawarannya tadi. Dia tertawa lalu bilang okey, sambil minta waktu buat mandi dulu, soalnya keringatan abis maen tenis. Mas K mempersilakan kami masuk ke kamarnya, biar lebih enak, katanya.

Kami berempat duduk santai, nungguin mas K mandi. Kami ngobrolin show kami yang sukses tadi. Ririn banyak digojlok karena hari ini pertama kali dia mau menunjukkan miss V nya, bahkan dua kali, waktu mandi dan show. Aluh sesekali mengintip ke kamar mandi dan berkomentar wow keren… Abis mandi, mas K keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya, rambutnya basah. Abis gitu dia duduk di karpet, ngajakin kami duduk di sekitarnya. Lalu dia cerita segala macam tentang cowok. Mulai dari apa yang disukai tentang cewek, apa yang diliat, kami jadi tau kalo cowok itu suka yang bikin penasaran, kemampuan ejakulasi maksimal seorang cowok, bagaimana membelai daerah paha dan bokong cowok untuk membuat ejakulasi makin kuat, supaya tidak tersedak kami harus menaruh lidah di ujung penis saat ia mau ejakulasi, dll.

Abis gitu dia nawarin kami untuk menyentuh tubuhnya. Mas K trus nyuruh kami bergantian meraba dada dan punggungya. Setelah kami semua dapat giliran, suasana agak cair. Kami mulai bisa cekikikan lagi. Terus Ririn tanya, boleh lihat ‘itunya’ mas? Mas K melepaskan handuknya, lalu membelakangi kami. Pelan-pelan dia menurunkan celana dalamnya, lalu berbalik ke arah kami. Dan… wow… pengalaman pertama melihat cowok telanjang secara langsung. Dadaku berdegup kencang. Tenggorokan langsung terasa kering. Keindahan otot tubuhnya, pantat yang kencang, warna pink bagian ‘kepala’ penis. Tak akan bisa terlupakan. Ririn pura-pura tidak melihat namun sesekali mencuri pandang, Anik cuek aja melihat kakaknya.

Abis gitu mas K ngajarin caranya bikin cowok tegang anunya. Mas K meminta kami untuk membelai itunya. Langsung aja itunya mas K berdiri. Kami pun cekikikan kembali. Berikutnya kami diajarin ciuman, french kiss, necking, lidah, dll. Kami bergantian ditraining mas K, kecuali Anik, cuman bisa liat aja. Abis ciuman kami ditunjukin gimana rasanya diraba-raba oleh cowok. Prakteknya, kami diminta mas K menghadap tembok seperti penjahat diperiksa polisi di film-film. Aku dengan senang hati minta giliran pertama. Mas K menyarankan untuk melepas baju seminim mungkin. Aluh, Ririn, dan Anik memberi semangat. Pelan-pelan kulepas penutup tubuhku satu persatu, tanpa ada yang tersisa. Lalu aku berbalik menghadap tembok dan menyandarkan kedua telapak tanganku ke tembok. Tangan mas K mulai menggerayangi rambut, pundak, punggung, puting, pinggang, pantat, paha, kaki, termasuk daerah kewanitaanku. Kemudian aku disuruh duduk di kursi, lalu… oh my God… mas K menggelitik daerah kewanitaanku dengan lidahnya! Tak tahan, aku orgasme dengan suksesnya. Kakiku sampai gemetaran merasakan nikmatnya.

Mas K lalu bertanya apa ini pengalaman pertama diraba cowok? Malu-malu aku mengakuinya. “Kirain udah biasa, habis shownya tadi hot bener”. kami cuma cekikikan. Satu persatu semuanya dapat giliran, termasuk Anik. Satu persatu, kami diantar mas K ke puncak birahi. Seolah tahu kalo kami suka dipuji, Mas K mengomentari keindahan tubuh kami. Katanya bokongku paling bagus, montok, kenyal, dengan kulit halus dan lembut. Dia juga bilang kalo aku beruntung karena gampang terangsang dan cepat orgasme. Payudara Anik paling sexy, putingnya yang tegak amat menggoda. Kaki Aluh panjang, mulus, dan indah, serta proporsi tubuh paling seimbang. Dan yang paling senang adalah Ririn, yang selain dibilang mas K paling manis di antara kami berempat, juga dipuji miss V-nya paling rapat, montok, dan menggemaskan. Aluh, aku, dan Anik sedikit iri dengan keberuntungan teman kami yang pemalu ini. Sementara Ririn sedikit tersipu namun kelihatan kalo dia menyukai pujian mas K.

Abis itu, Aluh minta mas K buat nunjukin air maninya. Ia ketawa, trus bilang kalian aja yang ngeluarin, sambil ngajarin kami metode untuk memaksa air mani keluar, dengan tangan atau mulut. Kata mas K, kami cuma dapat mencoba sebentar-sebentar, soalnya kalo udah terlanjur ejakulasi pasti lemes. Lalu mas K duduk di kursi. Aluh langsung minta giliran pertama. Ia berlutut di depan mas K, langsung mengulum itunya mas K. Lewat 10 menit, mas K minta berhenti, hampir keluar katanya. Aluh cuek dan meneruskan, tapi kami bertiga protes, takut nggak kebagian. Trus istirahat sejenak. Setelah itu giliran Anik, cuma pakai tangan. Terus Ririn, juga cuma pake tangan. Aku dapat giliran terakhir. Berlutut di antara kedua pahanya, aku mulai dengan membelai dan memelintir pelan-pelan. Mas K memejamkan matanya, keenakan. Kurasakan otot itunya mas K menggelitik telapak tanganku. Mas K bilang, diemut dong. Karena ragu-ragu, aku cuma berani mengecup kepalanya saja. Rasanya asin. Beberapa saat, mas K bilang mau keluar lagi. Aku cuek aja. Kugenggam itunya erat-erat dan kunaik-turunkan tanganku. Dan… kurasakan ada sesuatu yang bergerak cepat di saluran bagian bawah penis, dan… crut… cairan putih kental melejit beberapa kali dari ujung penisnya. Yang pertama menembak dadaku. Pinggul mas K terangkat. Yang kedua, saking kerasnya, mengarah ke bibirku Mmm… terasa asin. Mas K terpejam, terlihat keenakan. Setelah selesai puncaknya, dia tersenyum dan bilang terima kasih dengan lembut. Lalu mengambil tisu untuk mengelap dadaku dan bibirku yang belepotan benihnya.

Lalu mas K nawarin untuk ngajarin kami bersetubuh, kalo kami berminat. Kami cuma celingukan. Ririn trus tanya apa mahkota kami masih utuh jika udah pernah digituin. Katanya mas K, bisa ya bisa enggak. Aluh yang biasanya nekat kali ini juga nggak berani mutusin. Kata mas K, kalo kami udah siap, dia bisa bantu kapan aja. Abis gitu mas K bilang mo istirahat soalnya capek.

Di kamar Anik, kami ngebahas pengalaman pertama kami tadi. Rame banget. Kataku, enak Anik dong, serumah sama mas K. Anik bilang, “Husy! dia kan kakak, paling cuma raba-raba ajah.” Langsung aja aku, Aluh, dan Ririn bilang, “Huuu. itu ‘kan enak juga!” Ririn, dengan malu-malu, tanya apa mas K udah punya pacar. Kalo belum, mau jadi pacarnya. Aku nyautin, ijin dulu sama aku, aku udah pernah ngeluarin benihnya dan bikin dia orgasme, jadi mestinya dapat prioritas. Aluh langsung protes, soalnya dia yang tadi minta mas K nunjukin benihnya. Sementara Ririn dengan optimis bilang mas K pasti suka sama dia karena dia paling manis dan miss V nya paling menggemaskan di antara kami berempat. Rame lah pokoknya. Akhirnya kami janjian kalo kami nggak bakalan memancing-mancing mas K untuk dijadiin pacar, kecuali dia yang meminta sendiri.

Sahabat-sahabatku juga pada bertanya, gimana sih rasa cairan benih mas K? Gimana rasanya membikin cowok orgasme? Aku tersenyum, trus bilang minggu depan atau besok ‘kan bisa coba sendiri, tinggal janjian sama mas K. Dalam hatiku aku berkata yang ini biarlah untukku, akan kusimpan sendiri gurihnya rasa benihnya, rasa bangga mengantar cowok ke puncak kenikmatan, dan tatapan lembut mas K saat mengucap terima kasih.

“Kegilaan” kami berempat ternyata tidak membuat kami terhanyut. Buktinya kami masih bisa mempertahankan mahkota kami sampai lulus SMA. Setelah itu Ririn dan Anik melanjutkan kuliah di kota yang sama. Aku dan Aluh melanjutkan kuliah di kota M, dan kadang melanjutkan penyaluran bakat genit kami berdua.

Tamat


Pengalaman ku

Siang itu cuaca mendung menambah dingin dalam kamarku, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Masih terbayang pijatan majikanku tadi siang, begitu takut, aneh dan juga nikmat, terus terang ini pengalamanku yang pertama dimana tubuhku dijamah tangan laki-laki. Rasa yang menjalar di semua pori-pori kulit, kurasakan keanehan yang terjadi dalam tubuhku yang berujung pada suatu kenikmatan. Aku bingung dan bertanya-tanya, apakah yang terjadi dalam diriku? Ketika di dalam kamar mandi, betapa kagetnya aku, kulihat celana dalamku dalam keadaan basah, padahal tadi tidak merasa ingin buang air, kenapa basah? Setelah aku cium ternyata tidak berbau, air apa yang keluar?

Sebelum kulanjutkan ceritaku ini, perkenalkan namaku Menuk, umurku menginjak 18 tahun dan aku anak bungsu dari lima bersaudara yang kesemuanya wanita. Kakak-kakakku juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ibuku sudah tiada sejak aku berusia dua tahun, sehingga ayahku menikah lagi tetapi tidak mempunyai keturunan. Ketika kakak-kakakku pergi merantau, tinggal aku bersama ayah dan ibu tiriku di desa terpencil pantai utara Jawa Tengah.

Sejak setahun lalu aku bekerja pada sebuah keluarga muda dengan satu orang putri yang baru berusia dua tahun. Majikan perempuanku yang kupanggil ibu adalah seorang karyawati, sedang majikan laki-lakiku seorang pegawai negeri sebuah instansi pemerintah. Kehidupan di dalam rumah tangga majikanku dapat dikatakan harmonis, itu yang membuatku kerasan tinggal bersama mereka. Ibu majikan seorang wanita yang baik, begitu pula dengan suaminya.

Hari Sabtu dimana ibu bekerja, sedang bapak setiap Sabtu dan Minggu libur. Di rumah tinggal bapak, aku dan anaknya. Aku merasa tidak enak badan sejak hujan-hujanan kemarin waktu aku pergi ke pasar. padahal malam harinya aku sudah minum obat, tetapi hingga pagi hari ini aku merasa sakit disekujur tubuh. Walau begitu tetap kupaksakan diri untuk bekerja, karena sudah kewajibanku sehari-hari dalam keluarga ini.

Setelah anaknya tidur, kurebahkan diriku di kamar. Cuaca mendung bulan November, setengah terpejam sayup-sayup kudengar bapak memanggil namaku, tetapi karena badan ini terasa berat, aku tak sanggup untuk bangkit, sampai bapak datang ke kamarku. Bapak terkejut melihat kondisiku, dihampirinya aku dan duduk ditepi ranjang. Aku berusaha untuk bangkit walau kepala ini seperti dibebani ribuan batu, tiba-tiba tangan bapak menyentuh dahiku kemudian merengkuh bahuku untuk memintaku tiduran kembali.

Bapak bilang kalau tubuhku demam, kemudian dia memijit keningku, mataku terpejam menikmati pijitan itu, terasa sakit di kepala dan lemas sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat bapak menyuruhku untuk telungkup, akupun menurutinya. Kuraskana kain bajuku disingkap ke atas oleh bapak, kemudian tali pengait behaku dicopotnyanya. Aku terkejut, tetapi karena lemas aku pasrah saja, kurasakan pijitan bapak dipunggungku. Disinlah awal keanehan itu terjadi. Walaupun kondisi demam, tetapi perasaan itu tetap saja kurasakan, begitu hangat, begitu damai, begitu takut dan akhirnya begitu nikmat, mata kupejamkan sambil menikmati pijatan bapak.

Umur bapak sudah tigapuluhan dan kuakui kalau bapak mempunyai wajah yang awet muda. Disaat aku merasakan pijitan bapak, tiba-tiba kurasakan resluiting celana pendekku di belakang diturunkan oleh bapak. Aku ingin berontak dan membalikkan badan, tetapi ditolak oleh bapak dengan mengatakan bahwa bagian bawahpun harus dipijat, akhirnya aku mengalah walau disertai rasa malu saat bapak melihat pantatku.

Jujur, yang ada di dalam benakku tidak ada prasangka lain selain aku dipijit bapak. Setelah agak lama, bapak menyudahi pijitannya dan aku diberi lagi obat demam yang segera kuminum, bapak kemudian meninggalkan kamarku. Sebelum tidur kuputuskan ke kamar mandi untuk buang air kecil. Seperti yang telah aku ceritakan di atas, bahwa celana dalamku basah, dan ternyata bukan pipis. Aku raba dan rasakan ternyata berlendir dan agak lengket, aku tidak tahu hubungan basah ini dengan pijatan bapak tadi. Aku tak mampu berpikir jauh, setelah dari kamar mandi, kuputuskan untuk tidur di kamar.

Sore hari gerimis turun, ketika aku tidur, siang tadi ibu majikan dan anaknya pergi kerumah famili serta menginap di sana karena ada hajatan, sementara bapak tinggal di rumah sebab besok Minggu ada acara di komplek. Setelah sesiang tadi aku tidur, kurasakan tubuhku agak mendingan, mungkin karena pengaruh obat turun demam yang aku minum tadi, sehingga aku berani untuk mandi walau dengan air hangat. Selesai mandi terdengar suara bapak dari ruang TV memanggil namaku, aku bergegas kesana.

Bapak menanyakan keadaanku yang kujawab sudah baikan. kemudian bapak menyuruhku membuatkan teh hangat untuknya. Teh kubuat dan kuhidangkan di meja depan bapak, kemudian bapak menyuruhku duduk di bawah depan tempat duduk bapak, kuturuti perintahnya. Ternyata bapak sedang menikmati TV, kemudian bapak memegang pundaku serta memijit perlahan-lahan dan bertanya apakah pijitannya enak, kujawab enak sekali sembari tersenyum, sembari tetap memijat pundakku kami berdua membisu sambil menonton TV.

Lama-kelamaan perasaan aneh itu menjalar lagi, aku merasakan sesuatu yang lain, yang ku tak paham perasaan apa ini, kurasakan sekujur bulu tubuhku mermang. Tiba-tiba kurasakan hembusan nafas di samping leherku, aku melirik, ternyata wajah bapak telah sampai di leherku, aku merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar kesemua tubuhku, aku tidak berontak, aku takut, tetapi getaran-getaran aneh itu kurasakan begitu nikmat hingga tanpa kusadari kumirngkan kepalaku seakan memberi keleluasaan bapak untuk mencumbunya.

Tak terasa aku memejamkan mata dan menikmati setiap usapan bibir serta lidah bapak di leherku. Getaran itu kini menjalar dari leher terus turun ke bawah, yang kurasakan tubuhku melayang, tidak mempunyai beban, terasa ringan sekali seolah terbang. Otakku seakan buntu, tidak dapat berpikir jernih, yang kutahu aku mengikuti saja karena pengalaman ini belum pernah aku rasakan seumur hidup, antara takut dan nikmat. Tangan bapak masih memijat pundakku sementara dia masih mencumbui leherku, tak lama kemudian kurasakan tangan itu meraih kancing baju depanku dan membukanya satu persatu dari atas ke bawah.

Setelah semua kancing bajuku terlepas, kembali tangan bapak memijat bahuku, semua itu aku rasakan dengan melayang-layang, perlahan tapi pasti kedua tangan bapak menyentuh ke dua payudaraku, aku kaget. Kedua tanganku lalu memegang tangan bapak, bapak membisikkan supaya aku menikmati saja pijitannya, tanganku akhirnya terlepas dari tangan bapak. Lagi-lagi kurasakan sesuatu getaran aneh, hanya getaran ini lebih dahsyat dari yang pertama, payu daraku diremas tepatnya daripada dipijit, walau masih memakai bh.

Kemudian tangan bapak kembali kepundakku, ternyata diturunkannya tali bhku, perlahan-lahan diturunkan sebatas lengan, sementara ciuman bapak masih di leher, kadang leher kiri, kadang leher kanan. Aku melayang hebat, dimana kedua tangan bapak meraih payudaraku dari bagian atas turun ke bawah, sesampai di putingku remasan berubah menjadi pilinan dengan jari, aku sempat membuka mata, tetapi hanya sesaat, getaran aneh berubah menjadi sengatan. Sengatan kenikmatan yang baru ini kualami, dipilin-pilinnya kedua putingku, tak sadar ku keluarkan desahan pelan.

Secara tidak kusengaja, tangan kiriku meraba celana dalamku sendiri, kurasakan gatal disekitar kemaluaku, ternyata kemaluanku basah, aku tersentak dan memberontak. Bapak kaget, kemudian menanyakan ada apa, aku tertunduk malu. Setelah didesak aku menjawab malu, kalau aku ngompol. Bapak tersenyum dan berkata bahwa itu bukan ompol, lalu bapak berdiri dan membimbingku duduk di sofa.

Bapak menanyakan padaku, yang kujawab bahwa ini pengalamanku yang pertama, kemudian bapak mengatakan ingin memberi pengalaman selanjutnya dengan catatan supaya aku tidak menceritakan pengalaman ini pada siapa saja. Aku hanya mengangguk dan menunduk, tak berani kutatap mata bapak karena malu. Di luar hari sudah berganti malam, gerimis pun berubah menjadi hujan, tetapi aneh, hawa di ruang TV berubah menjadi hangat, apakah ini hanya perasaanku saja?

Sementara aku duduk di sofa, bapak malah jongkok dihadapanku. Aku rikuh dan menundukkan kepalaku. Tiba-tiba bapak maju menuju payu daraku dan menciuminya, seperti bayi menetek ibunya. Aku berkata malu, tetapi di jawab bapak untuk menikmati saja. Sengatan itu kembali menyerangku ketika ciuman bapak berubah menjadi jilatan dan kuluman di putingku, aku kembali terpejam dan mengerang, tak kusadari tanganku berada di kepala bapak, mengelus dan sedikit menjambak rambut bapak. Aku tidak kuat menyangga tubuhku, perlahan dan pasti tubuhku terjatuh di sofa, bapak membetulkan posisiku sehingga tiduran disofa. Kemudian jilatan bapak berlanjut diperutku, sementara tangan kiri bapak di payudaraku, tangan kanan meraba dari betis naik ke paha serta menyingkap rok yang kukenakan.

Aku sudah kehilangan akal sehat, hanya bisa diam dan menikmati setiap jilatan dan elusan bapak. Aku terkejut pada saat jilatan bapak sampai ke celana dalamku, aku mengatakan bahwa itu kotor dan pesing, tetapi dengan sabarnya bapak menenangkanku untuk tetap saja menikmatinya. Aku hanya terdiam dan pasrah, di antara takut dan malu serta rasa nikmat yang tak kuduga sebelumnya. Perlahan bapak membuka rok serta mencopot celana dalamku dan menciumi rambut kemaluanku, Takut bercampur geli berkecamuk di dalam dadaku, kurapatkan kedua pahaku menahan geli, tetapi keanehan terjadi lagi, lama kelamaan tanpa kusadari kedua pahaku membuka dan semakin lebar.

Posisi ini memudahkan bapak untuk mencumbu lebih dalam. Tiba pada bagian tengah atas kemaluanku, kurasakan ujung lidah bapak menyengat yang lebih dahsyat lagi, tanpa kusadari kunaikkan pantatku ke atas ke bawah, aku meracau tidak karuan, sukar kulukiskan dengan kata-kata perasaan ini. Kurasakan dunia gelap dan berputar, sayup-sayup kudengar suara kecipakan di sekitar selangkanganku, hingga ada suatu desakan dari dalam kemaluanku, desakan itu tak dapat kutahan, sesuatu yang akan meledak keluar, seperti bila ingin pipis, tetapi ini lebih dari itu. Tanganku tak dapat kukendalikan, kujambak rambut bapak sambil menekan kepalanya pada kemaluanku. Aku melonjak, mengjan. menahan, meracau, tiba-tiba sesuatu itu keluar dari dalam kemaluanku, kemaluanku basah… bahkan banjir… kurasakan aku ngompol…

Setelah itu tubuhku lemas, keringat membanjiri tubuhku, tulang-tulangku terasa lepas dari tempatnya… perasaan apa ini? antara nikmat… kebelet pipis… dan lemas… Kulihat bapak tersenyum dan mengelus rambutku, bapak menanyakan apa yang aku rasakan. Kubalas dengan tatapan yang bertanya-tanya, tetapi aku tidak dapat berkata-kata, diantara nafasku yang masih memburu, aku hanya tersenyum dan memandangnya sayu.

Bapak berlutut di sampingku, melepas sarungnya, meraih tanganku dan membimbingnya untuk memegang tengah celana dalamnya, kuturuti, kuraba dari luar celana dalam bapak, ini pun pengalaman pertamaku memegang kemaluan laki-laki. Kurasakan sesuatu menonjol keras ke atas di tengahnya, bapak menikmati elusanku dan kuliirik mata bapak setengah terpejam.

Tak lama, dia menurunkan celana dalamnya, sesaat kuterpekik melihat benda yang baru kali ini kulihat. Bapak mengajariku untuk mengurut benda itu dari atas ke bawah, aku geli memegang benda itu, empuk tapi keras… keras tapi lentur… Bapak membangkitkanku dari rebahan, kemudian menyuruhku untuk menjilat benda itu, karena tadi bapak sudah menjiltati kemaluanku, apa salahnya kalo sekarang aku menjilati kemaluannya, pikirku.

Pertama memang kujilati benda itu, lama-kelamaan kumasukkan benda itu ke dalam mulutku, aku ingat masa kecilku ketika menjilati es krim. Benda itu berdenyut-denyut di dalam rongga mulutku, aku merasa aneh tetapi senang, seperti anak keci mendapat makanan kesukaannya. Tiba-tiba bapak mengerang sambil menarik kepalaku, benda itu berkeduk hebat, aku heran ada apa ini, tetapi benda itu tak dapat kulepaskan, karena kepalaku ditahan tangan bapak, kemudian kurasakan suatu cairan terasa di mulutku yang akhirnya daripada tersedak, cairan itu kutelan habis, terasa amis… gurih… sedikit asin. Kulihat bapak mendengus, seperti habis lari jauh, nafasnya tersengal-sengal. Dia tersenyum dan memelukku, aku merasa damai dalam pelukannya.

Bapak mengajakku ke kamar mandi, sebelum kami masuk, bapak melucuti sisa pakaianku dan juga pakaiannya. Aku merasa heran, aku menurut tanpa ada perlawanan, mungkin karena nikmat yang baru saja pertama kali aku dapat. Di dalam kamar mandi, bapak memandikanku, bapak mengagumi bulu-bulu yang tumbuh di ketiak dan selangkanganku dan berpesan agar aku tetap memelihara dan melarang memotongnya.

Pada saat bapak menyabuniku, getaran-getaran aneh menyerangku lagi. Geli bercampur nikmat menyelimuti seluruh tubuhku, sehingga tak terasa aku mulai mendesis lagi, bapak bilang bila aku tidak tahan keluarkan saja erangan itu, tapi aku malu.

Setelah aku selesai disabuni, bapak menyuruhku menyabuninya, dengan rasa takut-takut kusabuni punggung sampai kakinya, pada giliran tubuh bagian depan, kulihat kemaluan bapak yang tadinya lemas tampak kokoh berdiri. Bapak mengatakan enak disabuni olehku, dia meraih wajahku dan mencium mulutku, aku merasakan getaran semakin hebat ketika lidah bapak bermain di dalam rongga mulutku, aku hanya terdiam dan menikmati permainan lidah bapak, perlahan kuimbangi permainan lidah bapak dengan lidahku sendiri, kami saling berpagutan.

Bapak membimbing tanganku untuk menyentuh kemaluannya yang masih terbalut sabun, aku merasakan licin serta mengocoknya. Payudaraku pun menyentuh dada bapak yang licin oleh sabun, terasa mengeras di kedua putingku, kami berpelukan… berciuman dan saling bergesekan… aktivitas ini menimbulkan gelinjang kenikmatan yang tiada tara bagiku. Setelah tubuh kami berdua tersiram air dan bersih dari sabun, bapak menyuruhku untuk menghadap wastafel setengah menunduk sembari kakiku direnggangkannya, bapak jongkok membelakangiku dan mulai menjilati pantatku, aku menengok ke belakang dan bapak hanya tersenyum.

Pada saat lidah bapak menyentuh dan mempermainkan duburku, aku tersentak dan sedikit mengangkat kakiku, kurasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan, aku mendesis, kemaluanku basah dan lengket, sehingga tangan kiriku tak sadar meraba daging bulat kecil yang mengeras di tengah kemaluanku sembari mengosok-gosok dan menekannya, secara naluri bagian itu yang kurasakan dapat memberi kenikmatan yang tiada terkira.

Tak lama berselang aku berasa ingin pipis lagi. Tangan kananku mencengkeram erat bibir wastafel, mengerang hebat, tangan kiriku kutekan kuat pada benjolan kenikmatanku, aku meladak lagi, nafasku memburu tidak karuan, sesaat aku merasa lemas dan seakan hilang pijakan tempatku berdiri. Bapak menangkapku kemudian membopongku menuju kamarku.

Direbahkannya diriku di tempat tidur, bapak duduk di tepi tempat tidurku sembari mengelus rambutku, tersenyum dan mengecup keningku, hatiku tentram, nafasku mulai teratur kembali. Setelah semuanya kembali normal bapak merebahkan dirinya di sisiku, tanpa bicara, bapak meraba payudaraku, serta menjilatinya. Getaran-getaran itu datang kembali menyerangku, aku menggelinjang serta mengeluarkan suara-suara desisan, kuremas kepala bapak sembaru kutekan ke arah dalam payudaraku.

Bapak naik ke atas tubuhku, menyodorkan kemaluannya untuk kujilat lagi, kuraih dan kukulum kemaluan bapak seperti layaknya menjilati es krim, bapak memaju-mundurkan pantatnya sehingga kemaluan bapak keluar masuk dalam mulutku. Aku menikmati keluar masuknya kemaluan bapak di dalam mulutku. setelah beberapa saat, bapak melepaskan kemaluannya dari mulutku. Bapak menggeser tubuhnya, kedua pahaku di kesampingkannya, perlahan-lahan kemaluan bapak didekatkan pada kemaluanku sambil berkata bila terasa sakit aku harus bilang.

Pertama menyentuh kulit luar kemaluanku, aku agak tersentak kaget, mulailah rasa sakit itu timbul setelah kemaluan bapak mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginaku. Aku menjerit kesakitan yang kemudian diikuti dengan dicabutnya kemaluan bapak, bapak mencium bibirku sembari membisikkan kata supaya aku menahan rasa sakit tersebut sembari mempermainkan lidahnya di dalam mulutku. Kemudian bapak mulai menusuk lagi, walau kemaluanku sudah basah total. tapi rasa sakit itu tak terkira, aku tak sanggup mengaduh karena mulutku tersumbat mulut bapak.

Tak terasa air mataku meleleh menahan sakit yang tak terkira, kedua tanganku mencengkeram erat pinggang bapak, Akhirnya kemaluan bapak menembus lubangku… diusapnya air mataku, kemaluan bapak masih tetap tertancap dalam lubangku. Bapak berhenti menggoyang, setelah dilihatnya aku agak tenang, mulailah bapak memaju-mundur kemaluannya lagi secara perlahan, aku sempat heran, rasa sakit itu berangsur hilang digantikan dengan nikmat.

Aku merasa kemaluanku berkedut-kedut dengan sesuatu benda asing di dalamnya, sementara itu air lendirku juga sudah membasahi liang kemaluanku, sehingga rasa sakit itu hilang tergantikan oleh kenikmatan yang sukar dikatakan. Tidak begitu lama kemudian aku merasa ingin pipis kembali, aku peluk bapak, aku naikkan pantatku seolah ingin menelan semua kemaluan bapak. Aku kejang, aku melenguh panjang, aku menggigit pundak bapak, sesuatu yang nikmat aku rasakan lagi, dunia berputar-putar, semua terlihat berputar, sungguh kejadian ini nikmat sekali.

Aku terhempas lemas setelah aku mengalami apa yang baru aku alami, rasa sakit sudah hilang. Bapak menghentikan aktifitas seakan memberi kesempatan diriku untuk menikmati puncak kenikmatan yang baru saja kualami. Setelah beberapa saat, dengan kemaluan yang masih mengacung ke atas, bapak mencabut kemaluannya dan menyerahkannya kedalam mulutku lagi, aku kulum kemaluan bapak, tak lama kemudian bapak melenguh… dan cairan itu kembali mendera mulutku, karena pengalaman tadi, semua cairan itu aku telan tanpa tersisa sedikitpun.

Bapak merebahkan tubuhya disampingku, dan mengucapkan terima kasih, dia mengatakan bahwa perawanku telah hilang. Aku tercenung kulihat ke bawah, sprei tempat tidurku ternoda merah darah perawanku, tetapi aku tidak menyesal, karena hilang oleh orang yang aku kagumi sekaligus aku sayangi, Aku tidur di dalam pelukan bapak, kami kelelahan setelah mengarungi perjalanan puncak kenikmatan bersama, dalam tidurku, aku tersenyum bahagia, kulirik bapak, dia terpejam sembari tersenyum juga.

Seperti kebiasaanku sehari-hari dalam rumah tangga majikanku ini, aku bangun pada pukul 5, kulihat bapak masih tertidur lelap, kami masih dalam keadaan bugil, karena semalam tidak sempat berpakaian karena kelelahan. Aku turun dari tempat tidur, selangkanganku masih berasa perih seakan benda tumpul panjang itu masih mengganjal di dalam lubangku.

Dengan agak tertatih aku menuju kamar mandi, kubersihkan seluruh tubuhku beserta lendir-lendir yang mengering bercampur bercak darah di sekitar kemaluan dan bulu-buluku, sembari mandi aku bersiul gembira. Kuraba lubang kemaluanku, masih terasa sisa-sisa keperihan di dalamnya, aku mengerti sekarang, dimana perbedaan antara air seni dengan lendir hormon yang keluar dari kemaluanku bila dirangsang, Aku tersenyum geli memikirkan kebodohanku selama ini.

Selesai mandi, aku membereskan rumah seperti kewajibanku sehari-hari, setelah itu aku buatkan segelas kopi panas dan kubawa ke kamarku, dimana bapak masih terlelap di sana. Perlahan kuletakkan kopi di atas meja, aku melangkah ke arah tempat tidur, kuperhatikan wajah bapak yang tertidur. Betapa tenang, betapa damai, betapa gantengnya, perlahan kuusap pipi bapak serta kubelai rambutnya, dengan sedikit takut… kucium sudut bibir bapak.

Pandanganku menyapu dada bapak, kemudian turun ke salangkangannya yang tertutup selimut, kulirik benda asing yang semalam telah memaksa masuk ke dalam lobangku. Aku tersentak kaget, walau tertutup selimut kulihat jelas benda itu tegak berdiri mengeras, ku usap perlahan sembari tertawa geli dalam hati. Perlahan kusingkap selimut itu, sekarang terpampang jelas benda itu dimana pantulan cahaya lampu menerpa ujung kepala kemaluan bapak yang seperti helm itu.

Kudekatkan wajahku ke benda itu agar terlihat lebih jelas lagi, perlahan kugenggam, kukocok, kujilati dan kumasukkan ke dalam mulutku. Bapak bergerak perlahan, aku terkejut dan berhenti mengulumnya, tetapi bapak melihat padaku dan menyuruh untuk meneruskan aktivitasku, kembali kuulangi kuluman kemaluan bapak sembari tersenyum, dielusnya rambutku sembari kudengar erangan bapak.

Bapak bergeser sedikit, tangannya meraih pantatku serta menyingkapkan dasterku ke atas, perlahan diusapnya belahan dalam pantatku, dengan tangan kanan kuraih tangan bapak di selangkanganku, ternyata kemaluanku sudah basah kembali. Aku pun kembali terangsang dengan usapan tangan bapak di kemaluanku, sedikit kugoyang pantatku kekiri dan kekanan tanpa melepaskan kulumanku pada kemaluan bapak.

Beberapa saat kemudian, bapak meminta untuk menghentikan aktifitasku, bapak bangkit dari tempat tidur, dan menyuruhku untuk menunggi di tepi tempat tidur. Dari arah belakang, perlahan bapak memasukkan kemaluannya ke dalam lubangku, aku heran, gaya apa lagi yang bapak berikan untukku, kuraih bantal untuk mengganjal kepalaku, sementara dari belakang, bapak memaju-mundurkan pantatnya.

Sensasi baru kurasakan, dengan posisi yang belakangan kuketahui bernama doogy style itu, seakan dapat kuatur jepitanku pada kemaluan bapak. Aku merasa ingin pipis lagi, kugigit bantal sembari mengerang dahsyat, otot-ototku kakiku mengejang sampai ke arah pantat, sedikit kujinjitkan kakiku, kucoba bertahan semampuku, kujambak speri di sampingku.

Aku tak tahan lagi, dengan kedutan-kedutan hebat, jebolah pertahananku, aku teriak dan mendesis kugigit bantal sekeras-kerasnya, pantatku berkedut-kedut ke atas bawah, aku lemas, aku jatuhkan tubuhku ke atas kasur sembari nafasku haru memburu. Kulihat bapak tersenyum ke arahku, kemaluannya semakin berkilat akibat lendirku tertimpa cahaya dari luar kamar.

Kuraih kemaluan bapak, kukocok-kocok sembari aku mengatur nafasku, tangan bapak merengkuh rambutku, diusap-usapnya kepalaku, diciumnya keningku. Setelah nafasku teratur, kuraih kemaluan bapak dan kukulum lagi, tidak berapa lama, bapak mengejang dan mengeluarkan cairan dari kemaluan bapak yang kutelan habis tanpa bersisa.

Bapak kemudian pergi mandi, sementara aku kembali kekesibukanku hari ini yaitu memasak. Pukul delapan pagi, kulihat bapak selesai mandi dan bersiap untuk menghadiri acara komplek. Setelah berpamitan padaku, aku meneruskan memasak, hari ini kubuatkan masakan spesial untuk bapak, semua bahan telah tersedia di dalam kulkas yang kubeli hari Jumat kemarin di pasar.

Pukul 12 siang, bapak kembali dari acara di komplek, aku sedang menonton acara TV setelah selesai masak, kemudian bapak menyuruh membuatkan es teh manis untuknya, aku bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan bapak. Di saat aku sibuk mengaduk gula, tiba-tiba dari arah belakang bapak memelukku, aku tersentak karena melihat bapak tidak mengenakan pakaian selembar pun.

Tanpa bicara, dicumbuinya diriku dari belakang, aku menggelinjang kegelian, diusapnya leherku dengan lidah bapak sampai ke telingaku dan digigit-gigitnya daun kupingku. Aku tersentak kegelian, tanganku menyenggol teh yang sedang kubuat, gelas jatuh dan air di dalamnya tumpah membasahi dasterku. Tanpa memeperhatikan peristiwa itu, bapak melahap mulutku dengan ciuman-ciuman ganasnya, aku terpengarah tidak siap, sedikit kehabisan nafas melayani ciuman bapak.

Dengan tidak melepas ciumannya, tangan bapak mencopot dasterku, kemudian dengan terburu-buru, dilepasnya beha dan celana dalamku, aku hanya pasrah menghadapi kelakuan bapak. Sedikit membopong, didudukannya aku di atas meja makan, kemudian bapak melebarkan selangkanganku serta menjilati kemaluanku. Dengan berpegang pada tepi meja, aku menggelinjang keenakan, kurasakan sapuan-sapuan lidah bapak dikemaluanku sebagai sensasi yang tiada duanya.

Mungkin karena sebentar lagi aku merasa akan datang bulan, sehingga nafsu yang ada dalam diriku sedang dalam puncak-puncaknya. Aku pipis lagi, kujambak rambut bapak dengan tidak sungkan lagi, kutekan kepala bapak ke dalam kemaluanku, kurasakan lidah bapak menembus di dalam lobangku, aku menjerit tertahan, meledaklah kenikmatanku, bapak menyedot habis semua lendir nikmatku sampai tuntas serta menjilati rambut lebatku.

Dengan menahan posisiku, bapak berdiri dan memasukkan kemaluannya ke dalam lobangku, perlahan tapi pasti kemaluan bapak masuk. Aku membisikkan sesuatu ke bapak, aku mengatakan bila ingin merasakan semprotan cairan bapak di dalam rongga kemaluanku, bapak menanyakan apakah aku subur atau tidak, aku jawab bila dalam dua atau tiga hari ke depan akan datang bulan. Setelah bapak mendengar pengakuanku, dia tersenyum dan semakin bersemangat untuk menusukan kemaluannya di lobangku.

Ternyata bapak lama juga mengalami puncak, kebalikannya dalam diriku, aku merasakan suatu kedutan nikmat lagi dan berasa ingin pipis kembali. Aku peluk bapak, kucium bibirnya, sementara kedua kakiku menjepit pinggang bapak. Dengan berpangku pada tepi meja makan, bapak bertambah kencang volume memaju – mundurkan kemaluannya di dalam lobangku. Aku terpekik, aku menjerit, aku mendekap erat-erat tubuh bapak, kurasakan ledakan kembali menyerang dalam lubang kenikmatanku.

Sementara bapak kulihat semakin cepat dan berkata bila kita berdua akan mencapai puncak secara bersama-sama. Tapi aku sudah tidak tahan lagi, aku mengerang… mengejang… kugigit bibir bapak, ternyata demikian pula dengan bapak. Kami berdua mencapai puncak tinggi bersamaan, kurasakan cairan hangat bapak dan cairanku menyatu di dalam lubang kemaluanku. Aku berkedut, bapak berkedut, kami semakin erat berpelukan, peluh membanjiri seluruh tubuh, jepitan kakiku di pinggang bapak, diimbangi pelukan tangan bapak di tubuhku, kami berdua sesak, kami berdua klimaks, kami berdua memejamkan mata sesaat tidak peduli dengan sekitar.

Sampai pada suatu ketika, ibu mengunjungi orang tuanya di lain propinsi, ibu berangkat dengan anaknya menggunakan kereta Api sementara bapak tidak ikut karena tidak dapat cuti. Ibu pergi sekitar lima hari.

Pagi hari sesuai dengan tugasku sehari-hari, aku mengepel ruangan, sengaja kulepas bh dan celana dalamku, aku hanya mengenakan daster saja tanpa dalaman. Kulihat kamar majikanku masih tertutup pintunya, kuketuk pintu dengan maksud ingin mengepel kamar majikanku, kemudian bapak membukakan pintu, aku masuk dan langsung mengepel, sementara bapak masuk kekamar mandi yang terletak juga di lama kamar majikanku.

Sengaja agak berlama-lama mengepel dengan maksud memancing reaksi bapak, kutarik dasterku lebih agak ke atas, sehingga kedua pahaku terlihat jelas. Pancinganku mengena, bapak keluar dari dalam kamar mandi dan mengomentariku bahwa pahaku tampak putih mulus, kubalikkan badan sengaja menghadap ke arah bapak, dengan posisiku mengepel akan terlihat jelas kedua payudaraku yang tak tertutup beha.

Bapak tersenyum menghampiriku dan berkata bila aku sengaja memancing dirinya, kubalas senyuman bapak dengan berkata memang aku sengaja, karena aku ingin disetubuhi bapak lagi. Kulihat bapak menurunkan sarungnya, yang ternyata juga tidak mengenakan celana dalam, terlihat kemaluan bapak sudah berdiri tegang.

Setelah pamit untuk mencuci tanganku, kuhampiri bapak, aku elus kemaluan itu, bapak duduk ditepi tempat tidur, sementara aku jongok di antara kedua paha bapak, perlahan tapi pasti, kemaluan bapak aku cium dan kumasukkan kedalam mulutku. Terdengar desisan bapak, sementara tangan kiriku menyentuh kemaluanku, ternyata sudah basah, terus kuelus perlahan kemaluanku.

Bapak merengkuh bahuku, menarik supaya aku berdiri, dan memposisikan aku jongkok di atas kemaluan bapak. Dengan perlahan kuturunkan pantatku dan dibantu dengan tangan bapak untuk mengarahkan kemaluannya menuju lobang kemaluanku, pertama agak susah untuk masukkan kemaluan bapak, kucoba memasukkannya sedikit demi sedikit. Setelah posisi dan kedalaman kemaluan bapak sudah pas, mulailah kuturun-naikan pantatku, tangan bapak tidak tinggal diam, diarihnya dasterku untuk dilepas, kemudian diremas-remaslah kedua payudaraku.

Lama-kelamaan aku merasakan sengatan yang luar biasa, kupercepat goyanganku, kugesek-gesek kemaluanku, dan tak lama kemudian aku tak sanggup lagi menahan kebelet pipisku, kupeluk bapak dengan posisi masih tertancap kemaluan bapak, jebolah pertahananku, aku kebanjiran lagi. Kami bertukar posisi, aku sekarang di bawah, ditepi ranjang, sedang bapak berdiri di sisi ranjang,

Sebelum bapak memasukkan kemaluannya dia bertanya kapan aku mens, kujawab kira-kira lima hari lagi aku mens. Setelah tahu jawabanku, bapak segera mengangkat kedua kakiku dan perlahan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku, digoyangkannya pantat bapak maju-mundur, sensasi kemasukan kemaluan bapak di dalam kemaluanku terulang lagi, aku merasa terangsang lagi, kubantu dengan menggoyangkan pantatku.

Aku klimaks lagi, tetapi bapak mengajak untuk bersama-sama karena beliau juga sudah hampir. setelah beberapa saat kutahan, akhirnya jebol lagi pertahananku, kulihat hampir bersamaan pertahanan bapak juga jebol, akhirnya kami dapat mencapai klimaks secara bersamaan. Lama posisi kemaluan bapak tertancap dalam kemaluanku, akupun tidak dapat berbuat apa-apa karena nikmat, setelah beberapa saat kami terdiam, baru dicabutlah kemaluan bapak.

Kami berdua mandi bersama layaknya suami istri, aku bilang kepada bapak bila aku sayang kepadanya, dijawab dengan senyuman bapak. Setiap hari semenjak kepergian ibu, kami selalu memadu kasih, tetapi jelas setelah bapak kembali dari kantor. Kadang di kamarku, di kamar bapak, di dapur, di ruang belakang, bahkan pernah di garasi dan di dalam mobil. Hatiku senang, tentram, hingga ibu pulang dari luar kota.

Hingga suatu malam aku tidak dapat tidur, udara sangat panas sehingga membuatku kegerahan, kucopot beha dan celana dalamku, hingga hanya memakai daster saja, kondisi seperti ini membuat aku menjadi terangsang. Kugosok-gosok kemaluanku dan kuraba-raba payudaraku sambil membayangkan kejadian-kejadian yang kulalui bersama majikan laki-lakiku.

Tiba-tiba aku mendengar suara desahan dari kamar tidur majikanku, aku keluar dan jongkok di bawah jendela mendengarkan desahan-desahan nikmat kedua majikanku, letak kamar majikanku tidak jauh dar kamarku, hanya dibatasi oleh gudang. Aku terdiam mendengarkan kegiatan di dalam kamar majikanku, kutaksir posisi ibu di atas tubuh bapak. Suara-suara itu membuat tegang seluruh tubuhku, kuraba selangkanganku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku meremas payudaraku.

Aku terhanyut, mataku terpejam membayangkan kenikmatan itu, tanpa terasa gosokan tangan kanan di kemaluanku semakin cepat, dan jari tengahku sudah masuk kedalam kehangatan kemaluanku, terasa melayang diriku. Tak lama datanglah klimaks, posisiku sudah selonjor kenikmatan, sementara suara-suara di dalam kamar juga tambah seru, tak lama kudengar bapak dan ibu telah mencapai klimaks, kemudian hening.

Aku terhuyung kembali ke kamarku dan berbaring di tempat tidurku, nafasku masih tersenggal, sisa-sisa kenikmatan masih terasa, aku melap kemaluanku dengan celana dalamku. Setelah nafasku teratur, kurasakan hatiku sakit, cemburukah aku. dadaku bergejolak, seakan tidak rela bila kedua majikanku bersetubuh.

Perasaan ini tidak boleh jawab hati kecilku, tetapi perasaanku tidak dapat dibohongi, aku telah jatuh cinta kepada bapak majikanku. Pikiranku bergejolak, antara logika dengan perasaan, yang aku rasa tidak akan mencapai titik temu, bagaimanakah ini?

Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pekerjaanku, semula ibu menahan dengan menjanjikan gajiku dinaikkan, tetapi aku menolak, kukatakan bahwa aku akan mencari pengalaman di tempat lain. Malamnya bapak mengintrogasiku, menanyakan kenapa aku pindah dari keluarga itu. Aku bilang bila aku mulai menyukai dan mencintai bapak serta tidak rela bila bapak berdua sama ibu, bapak sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, kemudian ia mencium pipiku lama sekali, tak terasa menetes air mataku.

Besoknya aku pergi dari rumah itu, bapak memberiku uang tujuh kali gajiku, untuk modal katanya yang pasti tanpa sepengetahuan ibu. Sebetulnya berat hatiku meninggalkan keluarga ini, tetapi hati kecilku memberontak, terhadap orang yang aku sayangi. Keputusanku sudah bulat, mungkin nanti suatu saat aku mendapatkan jodoh yang juga menyayangiku seperti bapak.


Awal Kisah tak Berujung

Pagi itu aku terbangun kesiangan, setelah semalaman berkutat di depan RedHat Enterprise Linux 5 yang harus segera online untuk menghandle seluruh office network di tempatku bekerja. Bergegas tanpa membuang waktu, kuhabiskan 5 menit di kamar mandi hanya dengan bilas-bilas dan gosok gigi ala kadarnya. Handphone-ku sudah menunjukkan waktu 8.30. Damn, jam 9.30 aku harus memberikan training pada para pengungsi mengenai kegunaan internet bagi komunikasi jarak jauh dan pengembangan bisnis. Padahal, waktu minimail yang harus kutempuh dari rumah sampai ke kantor adalah 1 jam bila kondisi jalan normal (tidak terlalu macet), dan 1 sampai 2 jam apabila macet parah. Dan benar apa yang kutakutkan, motorku memasuki gerbang kantor jam 9.15, dan aku lihat para peserta training sudah memenuhi ruangan pelatihan. Untunglah co-trainer-ku memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengeksplorasi internet, sebelum aku memberikan materi.

Aku segera menyalakan komputer di ruanganku, dan bergegas mengambil buku materi yang akan menjadi “senjata”ku hari ini. Setelah menikmati seteguk kopi yang telah tersedia di mejaku, aku segera berjalan menuju ruang pelatihan. But, wait! Who is that? Apakah mataku tidak salah melihat pagi ini? Duduk di depan ruang pelatihan, sambil membaca copy buku materi pelatihanku, Pipiet. Apa yang dia lakukan disini? Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku membuka suara dan menyapa dia yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku di hadapannya. “Pipiet ya..?”, tanyaku spontan. “Eh… Yohan. Sudah ku duga ini pasti kamu.”, katanya sambil menunjuk buku materi pelatihan karanganku itu. “Bahasanya kamu banget, sampai hafal. Ngapain kamu disini?” tanyanya sambil menjabat tanganku. Aku cuma melotot sambil mengucap, “Aku disini ya kerja donk. Masa belanja. Kamu nich ada-ada aja.”, timpalku. “Lah kamu sendiri disini ngapain? Mau ikut trainingku?” tanyaku menyelidik. “Ngga. Aku khan sekarang kerja sebagai pendamping para pengungsi ini”. “Yaudah, kamu jangan pulang dulu ya nanti. Aku ngajar dulu.” kataku sambil bersiap-siap beranjak ke dalam ruang pelatihan.

— A LITTLE BIT FLASHBACK —

Pipiet adalah mantan pacarku, atau lebih tepatnya mantan TTM-ku. Dia tidak pernah secara resmi menjadi pacarku, karena saat kami menjalin hubungan, selalu ada orang lain yang sedang resmi menjadi pacarku. Dua kali kami putus sambung di masa kuliah, tapi itu tidak membuat hubungan kami tak bisa menjadi sepasang kekasih. Satu-satu-nya hal yang menjadi penghalangku untuk menikahinya dulu adalah perbedaan agama kita yang tidak bisa ditembus dengan cara apapun.

Kami memang sepasang kekasih, yang tidak pernah mengumumkan hubungan kami secara resmi. Hanya rekan-rekan kami yang terdekat saja yang tahu bagaimana hubungan kami sebenarnya. Pipiet adalah orang pertama yang mengajariku “french kiss”. Dia adalah seniorku sebenarnya, senior setahun diatasku. Dia jugalah yang menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru, ketika aku baru memasuki masa pekuliahan. Ketertarikanku sudah timbul sejak minggu pertama masa orientasi mahasiswa baru, ketika aku terpilih untuk menjadi pimpinan regu. Saat itu, dia berperan sebagai “senior yang baik” diantara senior-senior yang “kejam” pada saat itu.

Hubungan kami menjadi lebih erat, ketika aku bergabung dengan kegiatan kemahasiswaan yang sama dengannya. Ketika kelompok kami akan mengadakan kegiatan, kami ditunjuk sebagai team pencari dana, dimana akhirnya kami sering keluar dan pergi bersama, untuk mencari sponsor tentunya. Hal ini membuat kami semakin akrab, dan walau tidak pernah diresmikan, kami menjadi sepasang kekasih (walau saat itu sebenarnya aku sedang jalan dengan seorang teman satu angkatan).

Suatu hari, ketika Pipiet sedang bertandang kerumahku, membahas tentang beberapa calon sponsor yang akan kami dekati, secara tidak sengaja radio yang sedang aku dengarkan memutar lagu “Semoga” milik Katon Bagaskara. Saat itu, tiba-tiba Pipiet diam, dan termenung beberapa saat. Kemudian, terluncurlah cerita dari mulutnya, bagaimana dia mendambakan seorang pasangan hidup yang mau mengerti dia apa adanya. Spontan, aku termenung, dan terdiam. Hal yang sama aku lontarkan, sebab pada saat itu memang hubunganku dengan pacarku sedang tidak harmonis dan diwarnai keributan. Perbincangan kami rupanya telah membawa kami terhanyut pada emosi diri, dan entah siapa yang memulai, kami telah berciuman. Dasar masih yunior, ciumanku hanya sekedarnya, dan rupanya ini membuat penasaran Pipiet. “Kamu kok ciuman kaya gitu sih… Emang belum pernah ciuman yang hot ya?”, tanyanya. “Belum.”, jawabku polos. “Mau ngga aku ajarin French Kiss?”, tanyanya lagi. “Jelas mau donk.”, jawabku kegirangan. Dan sejak saat itu, setiap kali kami bertemu, french kiss adalah kegiatan rutin yang pasti kami lakukan.

Suatu hari, ketika kami sedang pergi keluar kota untuk menemui seorang calon sponsor, aku meminjam mobil teman, sehingga kami bisa lebih leluasa dalam bepergian. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Pipiet membisikkan sesuatu, “Yo, kamu mau ngga bercinta dengan aku?”. Aku terkejut. Hampir saja aku lupa menginjak rem, karena tiba-tiba mobil di depanku mendadak berhenti. “Apa?”, tanyaku tak percaya dengan apa yang aku dengar. “Kenapa? Kurang jelas ya aku ngomongnya? Atau kamu jadi salting sampai hampir lupa ngerem kaya gitu?”, tanyanya menantang. “Kamu ngga lagi mabok khan, Piet?”, timpal-ku meyakinkan. “Ngga, aku sadar kok. Kamu mau ngga bercinta sama aku?”, ulangnya sekali lagi. Aku tidak menjawab. Ku lihat di depan ada sebuah hotel bintang 2, dan segera kubelokkan mobil yang kukendarai, kuparkir di tempat yang tidak terlalu mencolok. Tanpa bicara, kugandeng Pipiet yang tercengang karena kenekatanku, dan segera ku buka sebuah kamar.

Setelah kami berdua ada di kamar, aku memandangnya tak percaya. “Kamu serius ngajak bercinta?”, tanyaku tak percaya. “Kapan aku pernah ngga serius”, katanya seolah menantang. Aku menatapnya dalam-dalam, dan sejurus kemudian, kami berciuman. Saat itu, tak hanya berciuman yang kami lakukan. Aku membelai rambutnya yang panjang, dan tiba-tiba, Pipiet melepaskan ciumannya, dan berpindah untuk menciumi leherku. Tangannya mulai membelai dadaku, dan mulai menyingkap kemejaku, membelai perutku. Dasar waktu itu aku memang masih yunior, aku hampir tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Menonton film porno memang sudah beberapa kali aku lakukan, tapi aku sadar benar, bahwa apa yang terjadi di film porno tersebut hanyalah berbasis nafsu saja, sementara apa yang terjadi sekarang, berbeda karena perasaan kami yang bermain, bukan hanya nafsu.

Tak tahu siapa yang memulainya, kami telah melepaskan seluruh penutup tubuh kami, dan aku diam tercengang, melihat mulusnya tubuh Pipiet yang selama ini hanya dapat aku bayangkan saja. “Kalau kamu cuma mau ngeliatin aja, mendingan kita pulang dech.”, katanya menggoda. “Sini, pegang dadaku.”, katanya memberikan perintah. Aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, segera mengulurkan kedua tanganku dan mulai memegang payudaranya. Pipiet pun mulai mengelus kejantananku. Kami berciuman lagi, sambil terus meraba. Tanganku mulai turun membelai vaginanya, bulu pubesnya tipis dan jarang. Sangat terawat. Ketika jariku menyentuh klitorisnya, dia menggelinjang dan mendesah. “Um… Ah…”. “Ini saatnya”, pikirku. Aku segera melepaskan ciumanku, dan mulai mengeksplorasi tubuhnya. Ciumanku mendarat di lehernya, dan turun ke payudaranya, sambil tanganku tak lepas membelai vaginanya. Pipiet mendesah, seolah menahan gejolak birahi yang dirasakannya. “Ah…..”. Suara yang semakin membangkitkan gairahku. Aku mulai tidak mencium lagi, tapi mulai mengkombinasikan ciuman dengan jilatan, dan Pipiet semakin dibuat mendesah karenanya. Jilatanku mulai mengeksplorasi kedua payudaranya. Aku mulai liar. Ku jilat, ku kulum, apapun aku lakukan. Setelah puas bermain dengan payudaranya, aku turun dan mulai menjilati perutnya yang datar. Pipiet mulai menggelinjang kegelian. Semakin kebawah, aroma kewanitaanya mulai kuat tercium, dan mulai membuat isi kepalaku menjadi gila. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku turun dan mulai memainkan lidahku pada klitorisnya. Ini membuat Pipiet semakin menggila.

Tiba-tiba, Pipiet mendorongku, menidurkanku dan dia mulai bersimpuh di dekat selangkanganku yang telah berdiri karena menahan nafsu. Dia memegangnya, dan mulai menciumi kepala penisku. Sejurus kemudian ia memasukkan penisku ke mulutnya, mulai mengulumnya hingga separuh penisku amblas nyaris ditelannya. Kali ini aku dibuat semakin gila. Lima menit berlalu, dan akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Kurebahkan tubuh Pipiet, dan kubuka kedua kakinya, hingga vaginanya kini terbuka lebar didepan mataku. Kuposisikan penisku untuk memasuki vaginanya, dan aku mulai menekan kepala penisku ke dalam vaginanya. Tak lama, penisku amblas ditelan vaginanya, dan Pipiet mendesah kencang. “Ah….. Ough…..”. Aku mulai menggoyangkan pantatku maju dan mundur, berlahan. Hal ini membantunya membiasakan vaginanya dengan penisku. Dan ternyata hal ini juga yang membuatnya semakin tidak nyaman. Desahan-desahan mulai keluar dari mulutnya, dan hal ini semakin membuat aku bersemangat memompakan penisku di dalam vaginanya.

Kami hanya mempraktekan satu gaya saat itu, missionary style. Tapi, Pipiet mencapai orgasme-nya dua kali. Saat hampir sampai orgasmenya yang kedua, akupun hampir mencapai ejakulasiku. Dan pada saat Pipiet mencapai orgasmenya, aku juga mendapatkan ejakulasiku. Kami berdua berteriak bersamaan, seolah melepaskan tekanan yang menghimpit kami selama ini. Aku rebah, dan kami terdiam beberapa saat lamanya. Entah apa yang ada di dalam kepala Pipiet saat itu, tetapi aku merasakan sebuah babak baru dalam hubunganku dengan Pipiet, dan pada saat yang bersamaan, aku juga merasakan bahwa kami tidak akan pernah dapat bersama.

— END OF THE FLASHBACK —

Jam 16.30, waktu yang ditunjukkan arlojiku ketika aku mengakhiri sesi pelatihan hari itu. Aku meninggalkan ruangan pelatihan, dan berjalan menuju ruanganku. Ketika aku lihat bahwa Pipiet masih setia menunggu di depan ruangan training. “Piet, punya waktu sebentar ngga. Kita bicara sebentar di ruanganku.” kataku sambil mengajaknya ke ruangan kerjaku. Ketika Pipiet sudah masuk ke ruanganku, pintu segera aku tutup, dan aku segera menciumnya, tepat di bibir, sambil sedikit ku lumat. Pipiet tidak menunjukkan perlawanan ataupun penolakan.

Ketika kusudahi ciuman itu, kupersilahkan Pipiet untuk duduk, dan akupun duduk di belakang mejaku. Kami terdiam beberapa waktu, dan Pipiet memecahkan keheningan itu, “Yo, aku ngga pernah bisa melupakan kamu. Aku tahu kamu sudah berkeluarga, tapi aku masih sayang sama kamu”. “Aku juga Piet”, timpalku. “Yo, aku tahu ini tidak benar. Tapi kalau kamu sedang bosan dengan istrimu, kamu jangan berbuat yang macam-macam sama orang lain ya”. “Kalau kamu lagi ribut sama istrimu, aku bersedia menjadi pelampiasan kamu. Yang penting kamu jangan macam-macam sama orang sembarangan.”, katanya yang membuatku terbelalak kaget.

Dan peristiwa hari inipun, menjadi awal dari sebuah cerita panjang yang tak berujung.


Anak bosku

Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya, baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya sambil belajar.

Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.
“Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud gue..”
“Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?”
“Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?”
Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku.

Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim dan seringkali sensual.
“Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.
“Ehm.. kok mau tau?”, tanyanya lagi.
“Iya”, kataku.
“Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis”, jawabnya sambil tersipu malu.
Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani terus terang begitu.

Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.
“Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang”, katanya sambil matanya menatap nakal.
“Kamu seneng seks?”, tanya saya.
“Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki”, katanya.
“Kenapa begitu?”, tanya saya lagi.
“Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kimpoi. Padahal aku sudah kepengen banget.”
“Kepengen apa?”, tanyanku.
“kimpoi”, katanya sambil tertawa.

Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya mencoba menggodanya, “Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh bra kamu”. Ia tersipu dan menjawab, “Suka enggak?”. Saya tersenyum saja. Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya tersenyum, “Saya suka yang tadi.”

Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.
“Kayaknya cowokku itu selingkuh.”
“Kenapa?”, tanyaku.
“Habis udah hampir sebulan enggak ketemu”, katanya.
“Terus enggak.. itu?”, tanyaku.
“Apa?”
“Itu.. seks”, kataku.
“Yah enggak lah”, katanya.
“Kamu pernah onani enggak?”, tanyaku.
Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.
“Ehm… kamu juga suka onani?”
“Suka”, jawabku.
“Kamu?”, tanyaku.
“Sekali-sekali, kalo lagi horny”, jawabnya jujur namun sedikit malu.

Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.
“Dewi, kamu mau gituan enggak.”
“Kapan?”
“Sekarang.”
Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan just do it nih.

Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.
“Nic, kamu beneran nih”, tanyanya.
“Kamu mau enggak?”
“Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku.”
“Terakhir main kapan?”
“Udah sebulan.”
“Trus enggak horny?”
“Ya onani.. lah”, jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah, mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But… nafsuin sih.

“Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme”
“Belum lama ini.”
“Gimana?”
“Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu.”
“Berapakali seminggu kamu onani?”, tanyaku mendesaknya.
“Udah ah… yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat. Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red).”
“Kamu enggak ngajak Andree.”
“Udah.”
“Dan..?”
“Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali. Biasanya dia enggak pernah nolak.”
Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.

“Nic, enggak kebayang main sama orang lain.”
“Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau enggak.”
“Caranya?”
“Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan bersalah, maka udah jangan bikin lagi”, kataku.
“Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal.”
“Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia kamu aman sama saya”, kataku setengah membujuk.
“Tapi saya enggak pintar lho, mainnya”, katanya. Berarti sudah OK buat ngeseks nih anak.

Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.
“Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?”
“Yah sering, kalo ketemu yang cocok.”
“Ajarin saya yah!”

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, “Shh.. geli Nic.” Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.
“Besar juga…”, katanya. Matanya setengah terpejam. “Ayo, Nic aku horny nih.” Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya, branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, “Ahh.. ahh.. ahh, terus Nic.. aduh geli… ahh.. ah.”

Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, “Uh.. Nic… uh.” Aku sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang rata, dan pusarnya kuciumi. Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting susuku. “Enak.. enak Dewi”. Rangsangannya semakin meningkat.

“Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih”, ia menggelinjang dan membuka rok panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih). Kusentuh perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang kepalanya. Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan memelintir puting susunya.

Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan tersenyum, “Nic.. kamu merangsang saya.”
“Enak..”
“Hmm…”, matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur berdampingan.
“Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak”, ceracaunya.
“Gile, Nic, gue udah kepengin nih.”
“Biar gini aja”, kataku.

Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.
“Uh… uh… Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?”
Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir klimaks dibuatnya.
“Duduk di wajahku!”, kataku.
“Enggak mau ah.”
“Ayo!”

Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya, “Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh”, matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. “Aku.. keluar”, sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

“Aduh… Nic.. enak banget. Lemes deh”, ia terkulai menindihku.
“Enak?”, tanyaku.
“Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi.”

Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu. Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.
“Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.
“Dua, sama kamu.”
“Kalo onani, sejak kapan?”
“Sejak di SMA.”
Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan di liang kenikmatannya.
“Nic, Dewi mau lagi nih.” Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan “Uhh… Nic.. Dewi keluar lagi…” Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.
Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan “Ahhh…” klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat air maniku. Crazy juga nih anak.

Setelah aku berbaring dan berkata, “Dewi, kamu bercinta dengan baik sekali.”
“Kamu juga”, mulutnya tersenyum.
Kemudian ia berkata lagi, “Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah sekarang.”
Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat, “Enak..”
“Nah kalau begitu kamu emang nakal”, kataku menggodanya.
“Ihh… kok gitu..” Aku merangkulnya dan kita tertidur.

Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian. Kemudian kembali ke kantor. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel. Aku sih santai saja, yang penting rahasia kami berdua tetap terjamin.


Mbak Ira, Suster Cantikku

Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya sedang dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan asmara, khususnya “bercinta” saya sama sekali belum memiliki pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat ini.

Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak tahu siapa namanya. Ira adalah seorang suster rumah sakit dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala penyakit hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari. Selama itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan. Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang
kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke kamarku. “Ada apa Dik?” tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali. Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang terlihat montok dan menggiurkan. “Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari ini mbak?”, tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar. Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas. “Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah
boleh dimandiin apa belum”, jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk “memandikan”, saya merasa darahku seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien rumah sakit yang tipis itu. “Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih, pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi”. Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut.
“Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem kok”, elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis
itu. “Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak dokter belum mengijinkannya”, lanjut Mbak Ira lagi seolah memancing gairahku. “Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan ambil keputusan” jawabku serius, saya tidak mau terlihat “nakal” dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum pengalaman dalam soal memikat wanita.

Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu, kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja disamping tempat tidurku. “Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa lengket”, lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan melumuri telapak tangannya dengan bedak. Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang. Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak, terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat. Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. fantasiku melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan. Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali
melihat kontolku yang ereksi. “Iya Mbak..”, jawabku sambil berusaha menenangkan diri, sayapun membalikkan tubuhku. Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku, rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku dengan memejamkan mata. Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali telapak tangannya menyentuh putingku. “Ahh, geli dan enak banget”, pikirku. “Wah, kok jadi keras ya? he he he”, saya kaget mendengar ucapannya ini. “Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?”

Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa, cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan sesekali dicubitnya putingku. “Ahh, geli Mbak. Jangan digituin”, kataku menahan malu. “Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau putingnya dimainkan gini”, lanjutnya sambil melepas jari-jari nakalnya. Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu sisi saya ingin terus di”kerjain” oleh mbak Ira, satu sisi saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin saja tiba-tiba masuk.

“Dik Iwan sudah punya pacar?”, tanya mbak Ira kepadaku. “Belum Mbak”, jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah mana dia akan berbicara. “Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?”, tanyanya lagi. “Belum mbak” jawabku lagi. “hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih”, lanjutnya centil. Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak olehnya. Memangnya “main” apaan yang saya pikirkan barusan. Pasti dia berpikir saya benar-benar “nakal” pikirku saat itu. “Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus, Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya? Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong. Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya. Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku. Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku, dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan lidah dan gigi-gigi kecilnya. “Ahh, geli Mbak”m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa, setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya. Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
“Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa gawat”, katanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telanjang bulat. Kemudian dia sendiri pun melepas topi susternya, digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan wanita, namun mbak Ira benar-benar pintar membimbingku. Sebentar saja sudah banyak jurus yang ku pelajari darinya dalam berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan sesekali menggigitnya. “Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih”, desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkannya ke dadanya.

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini ku duduk di atas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan kontolku dengan tangannya. Dia jongkok menghadap selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua tangannya.
“Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh… ahh..”, desahku menahan agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat. Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri. Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali. Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah,
sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol kaki. “Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget”, desahnya keras. Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak khawatir di dengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan keras juga. “Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin banget”, pintaku karena memang sudah dari tadi saya mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film BF yang biasa kutonton. “Ih.. kamu nakal yah”, jawabnya sambil tersenyum. Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar. “Ahh.. ahh..”, saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari jepitan bibirnya yang manis itu. Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya sesekali di sekeliling kepala kontol ku di dalam mulutnya benar-benar terasa geli dan nikmat sekali. Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di sekujur batang kontolku. Ku tahan kepalanya agar kontol ku tetap berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera “keluar”, Mbak Ira menghisap semakin kencang, di sedot dan terus disedotnya kontol ku. Terasa agak perih, namun sangat enak sekali. “AHH.. AHH.. Ahh.. ahh”, teriakku mendadak tersemprot cairan mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak dikeluarkan itu ke dalam mulut mbak Ira.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat kontolku di kulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku
melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian
seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira. Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet sambil memandang aktifitas “panas” yang dilakukan mbak Ira. Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu menggoda.

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga. Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk ke dalam memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih mengeras dan terlihat makin mancung itu. “Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..”, canda mbak Ira sambil mendekati diriku. Kembali digenggamnya kontol ku dengan menggunakan tangan yang tadi baru saja di pakai untuk memainkan memeknya. Cairan memeknya di tangan itu membuat kontol ku yang sedari tadi sudah mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya. “Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe”, agak kecewa saya mendengar tolakannya ini. Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh sementara kami masih asyik “bermain” di dalam sana. Di hisap, disedot, dan sesekali dikocoknya kontol ku dengan cepat, benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak Ira sungguh hebat pikirku, dia mengulum kontol ku, namun dia juga sambil memainkan memeknya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya. Dia merintih, “Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau keluar”, teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya. “Sini mbak, saya mau menjilatnya”, jawabku spontan, karena teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu. Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke arah mulutku. “Nih.. cepet hisap Wan, hisap..”, desahnya seolah memelas.

Langsung ku hisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok kontol ku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul dan memek nya. Kepala ku dibenamkannya ke memeknya sampai hidungku tergencet di antara bulu-bulu jembutnya. Ku hisap dan ku sedot sambil memainkan lidah ku di seputar kelentitnya. “Ahh.. ahh..”, desah mbak Ira di saat terakhir berbarengan dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan mulut ku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan yang keluar dan tercium bau amis itu. Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian saya pun orgasme untuk kedua kali nya. Kali ini tidak sebanyak yang pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia duduk di atas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontol ku yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian ini dan membuat janji di lain waktu sebelum akhirnya kami keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan aman-aman saja.

Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya, lagi pula hubungan ku dengannya tidak lain hanya sekedar saling memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa “horny” menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta dengan teman-teman Mbak Ira. Pengalaman masuk rumah sakit, benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidup ku, paling tidak masa muda ku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar fantastis menurutku.


Nikmatnya Teman Pacar

Sejak berpacaran dengan Lina, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas terkemuka di Bandung, yang berbeda dua angkatan dengannya, Andi mulai bergaul dengan teman-teman Lina. Aktifitas Lina membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Hukum yang seperti teman-teman baru bagi Andi. Kenyataan ia satu-satunya anak Ekonomi saat berkumpul dengan teman-teman Lina membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Hukum. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas anak-anak Hukum.

Sebagai anak Ekonomi dan punya pengalaman organisasi lebih banyak dibanding teman-teman Lina, membuatnya sering memberikan wawasan baru bagi anak-anak Hukum angkatan Lina. Di sini juga ia menjadi kenal Lira, yang sama seperti teman Lina yang lain, sekedar kenal dengannya. Lira sering ikut datang karena statusnya sebagai pacar Boy, salah satu pentolan angkatan Lina. Tidak ada perhatian khusus Andi kepada Lira, kecuali tentu saja, sebagai laki-laki normal, dadanya yang super. Meski bersikap biasa kepada Lira dan cenderung bersikap sama terhadap teman Lina yang lain, kelebihan pada tubuh Lira kerap membuatnya tak kuasa melirik lebih dalam, terutama saat Lira memakai baju yang memamerkan lekuk tubuhnya secara sempurna, apalagi kulit Lira putih bersih dan mulus.

Perkenalan lebih terjadi saat Lina meminta Andi mengantarnya ke kost Lira karena perlu meminjam bahan kuliah. Saat itu pun Andi masih belum sadar Lira itu siapa, dan baru paham setelah disebutkan pacar Boy. Meminjam buku menjadi waktu bertamu yang lebih lama setelah Andi dan Lira ternyata punya selera musik yang sama. Obrolan itu masih dalam batas koridor pertemanan, hanya bedanya setelah itu, Andi jadi lebih ingat siapa Lira, paling tidak namanya. Lira sendiri sebetulnya bukan teman akrab Lina. Bisa dikatakan beda gank, tapi hubungan mereka baik.

Aktifitas mengantar Lina ke kampus pun kini menjadi lebih menyenangkan bagi Andi karena ia sering bertemu Lira. Namun, sekali lagi ini sebatas karena mereka punya selera musik yang sama. Paling tidak, saat menunggu Lina berurusan dengan orang lain, terutama di lingkungan organisasi mahasiswa kampus, Andi punya teman ngobrol baru yang nyambung diajak ngobrol. Lina pun merasa beruntung Andi mengenal Lira karena ia jadi lebih santai mengerjakan sesuatu di kampus terutama jika ia minta Andi menunggunya.

Sampai tiba masa-masa sibuk di organisasi mahasiwa Hukum yaitu pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Rapat-rapat sering digelar untuk merumuskan strategi kampanye. Kasihan kepada Andi, pada suatu hari Lina tidak minta ditunggu lagi oleh pacarnya itu, tapi ia minta dijemput lagi pukul empat sore, dua jam setelah rapat dimulai. Andi pun memutuskan untuk menunggu di kost-an salah satu teman yang kost di dekat kampus. Sayang, saat tiba di kost-kostan tersebut temannya sedang keluar. Tak habis akal ia menuju kost-an temannya yang lain. Namun, jalan ke kost-an temannya itu melewati kost-an Lira. Dari jalan, yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari deretan kamar kost tersebut. Ia melihat Lira keluar dari kamarnya hendak menjemur handuk. Andi melambatkan motornya dan berharap Lira melihat. Dan, harapannya terkabul. Ia akhirnya memutuskan main di kost Lira sembari menunggu Lina selesai rapat.

“Lina lagi rapat ya?”
Lira membuka pembicaraan sambil sibuk menata rambutnya yang basah. Ia mempersilakan Andi duduk di atas karpet karena di kamarnya memang tidak ada kursi. Semua perabot terletak di bawah termasuk sebidang meja kecil tempat Lira belajar.

“Iya. Loe kok ngga ikut Lir?”
“Males. Gue tau pasti lama. Lagian sekarang kan yang rapat pentolan aja.”
“Boy di sana juga?”
“Iyalah, dia kan proyeknya. Masa’ dia ngga dateng. Ini juga gue lagi nungguin dia. Janjian ntar gue jemput jam enam, mau nonton.”

Andi baru sadar kalau ini adalah malam Minggu dan ia belum punya rencana. Dari tadi pandangannya tidak lepas dari rambut ikal sebahu Lira yang basah habis mandi. Ia hanya bisa menelan ludah melihat Lira yang seksi sekali dalam kondisi seperti itu. Aroma yang cukup familiar baginya merebak dari rambut Lira yang masih basah.

“Shampo loe shampo bayi ya, Deedee kan, rasa strawbery?”
“Hahaha, kecium ya, kok tau sih?
“Yah, elo Lir, gue kan juga pake Deedee. Cemen yah?”
“Buset, orang kayak loe shamponya Deedee? Lina yang mau apa emang elo yang suka?”
“Gue udah pake shampo itu sejak SMA,”
“Hihihi…, geli gue, lucu aja, liat loe shamponya Deedee,” ledek Lira sambil tertawa geli.

Keduanya terdiam sesaat. Sampai tawa Lira berderai lagi.
“Kok sama lagi sih. Kita emang udah jodoh ketemu kali nih. Jodoh jadi temen gitu maksud gue.”

Lira berusaha meluruskan kalimatnya karena sadar perkataannya bisa diartikan berbeda. Keduanya memang saling nyambung awalnya karena punya selera musik yang sama.

“Mungkin kali ya…., loe bocor sih,” sahut Andi terkekeh.
Obrolan pun terus berlanjut mengalir seperti sungai. Lira yang cerewet selalu punya bahan pembicaraan menarik demikian pula dengan Andi. Uniknya obrolan tersebut selalu nyambung. Di tengah ngobrol Andi sekali-sekali melirik dua tonjolan di dada Lira yang luar biasa ranum. Soal cewe, selera Andi memang yang memiliki dada besar. Ia sudah bersyukur punya Lina yang berdada lumayan berisi, namun melihat Lira, rasanya rugi kalau diabaikan, membuat darahnya berdesir kencang.

Saat melihat dari jalan tadi, Andi menemukan Lira hanya memakai kimono mandi dan sedang menjemur handuk. Ia sempat diminta menunggu cukup lama oleh Lira karena harus berpakaian dulu. Harapannya, Lira keluar dengan pakaian lebih tertutup, tapi yang didapati adalah Lira hanya memakai tank top putih yang memamerkan ceplakan branya dengan jelas hingga renda-renda di dalamnya berikut celana pendek yang membuat 3/4 pahanya terbuka.

“Eh, Lir, gue mo nanya nih….”
“Apaan?”
“Tapi jawab jujur ya….”
“Apaan dulu??
“Ya ini gue mo nanya?.”
“Oke, jujur….”
“Anak-anak Hukum sebetulnya risih ngga sih gue sering ngumpul bareng mereka.”
“Angkatan gue??
“Iya.”
“Jujur kan?…Ngga, yakin gue. Eh, tapi maksudnya ngumpul karena loe nemenin Lina kan?”
“Iya.”
“Ya ngga sama sekali. Yang suka sama loe banyak kok.”
“Bener loe? Kalo cowo-cowonya gimana?”
“Ngga juga. Kenapa sih? Ya kalo ada paling yang dulu naksir Lina tapi keserobot elo?hahahaha….”
“Sialan loe?, serius nih gue.”
“Gue juga serius. Bener kok, percaya deh sama gue.”
“Mereka, terutama yang cewe, malah yang gue tau pada keki sama Lina.”
“Keki kenapa? emang salah gue apa?”
“Maksudnya keki soalnya Lina dapet cowo kayak elo.”
“Emang gue kenapa?”
“Ya?loe kan sabar banget tuh mau nungguin Lina, terus gabung sama kita-kita, maen bareng?”
“Gitu ya…?”
“Iya pak Andi. Nih ya, gue kasih bandingan: cowo gue yang dulu, itu sama sekali ngga mau gabung. Sebates nganterin gue aja. Sombong banget, kayak ngeliat apaan gitu kalo kita ngumpul. Ngga tau, pembawaan anak teknik kali ya, berasa pintar sedunia.”

Lira nyerocos tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius.
“Dulu gue tuh sering nahan hati soalnya cowo gue itu diomongin terus sama temen-temen gue. Sombong lah, belagu lah. Ya mereka sih ngomongnya baik-baik, minta gue ajak dia bergabung. Tapi cowo gue ngga mau gimana. Jadi serba salah kan?”
“Anak teknik? Dani maksud loe?”
“Betul pak! Dani. Mungkin juga karena ketuaan kali ya? Tapi ngga tau ah! Nah, ketika loe masuk dan mau mencoba berbaur. Temen-temen gue, ngga cewe ngga cowo, jelas seneng. Apalagi loe bisa nyambung. Yang cowo respek sama loe, yang cewe,….hihihi, demen.”

Lira sengaja hanya sampai kata itu. Sebetulnya ia ingin bilang ke Andi bahwa anak-anak, cewe-cewe tentunya, banyak yang naksir Andi.
“Demen apaan?” Andi berusaha memaksa Lira memperjelas omongannya sambil tergelak.
“Ya demen…ih, loe GR ya?” kata Lira sambil menunjuk Andi.
“GR apaan? kan gue cuman minta diperjelas,”
“Nih ya, ada satu temen gue yang bilang berharap banget loe putus sama Lina. Katanya, gue mau deh, biar bekas temen juga…tuh…”
“Yang bener loe? Siapa?”
“Ngga usah gue kasih tau. Kalo perasaan loe peka, loe pasti tau deh! Eh, bener tuh, dalem hati loe pasti seneng juga kan disenengin cewe-cewe….hahaha.”
“Sialan loe!” balas Andi sambil terkekeh.

Tanpa sadar, Andi mendorong paha kiri Lina. Sejak perkenalan pertama mereka saat ngumpul bersama teman-teman yang lain sepuluhan bulan yang lalu. Baru kali ini mereka benar-benar saling bersentuhan secara fisik. Meski sebuah sentuhan tanpa maksud apa-apa, tak kurang Lira tertegun sejenak. Syaraf sensorik di pahanya seperti mengalirkan sesuatu yang menbuatnya berdesir. Hampir tidak ada yang tahu, bagian yang didorong dan disentuh Andi justru bagian paling sensitif pada Lira, bagian yang mampu mengalirkan perasaan erotik dalam diri cewe berumur 20 tahun itu.

Lira berusaha tidak memandang mata Andi, tapi ia tak kuasa menahannya. Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat.
“Eh, Lir, sorry ya kalo terlalu keras. Ngga sakit kan?”

Kali ini Lira malah berharap Andi kembali menyentuhnya. Desiran akibat sentuhan tak sengaja tadi benar-benar membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tapi, ia berusaha mengendalikan diri. Pahanya yang merinding tersentuh tangan Andi berusaha ia tutupi.

“Ngga kok Ndi, ngga papa, cuma kaget.”
“Aduh, gue jadi ngga enak. Bukan maksud gue mau lancang ke loe kok, Lir reflek aja.”
“Iya gue tau,” Lira berusaha menahan agar mulutnya tidak mengatakan bahwa bagian yang Andi sentuh adalah daerah paling sensitif dari tubuhnya.

Andi benar-benar jadi tidak enak dan salah tingkah. Lira bukan tidak menyadari hal tersebut. Ia kini paham, Andi memang bukan tipe cowo yang suka merayu perempuan, bukan cowo yang suka pegang-pegang perempuan sembarangan. Memang tidak salah teman-teman di kampusnya banyak yang suka pada Andi. Sikapnya gentleman banget, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat. Dan, kenyataannya Andi memang benar-benar menyesal telah berlaku kasar, menurut ukurannya, kepada seorang perempuan. Ia adalah laki-laki yang paling tidak bisa berbuat kasar pada perempuan.

“Gue juga termasuk yang dongkol sama Lina, kenapa gue justru nyambung sama cowo-nya…hahaha,” Lira berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan joke yang sejujurnya ngga lucu.

Andi pun tertawa meski masih agak dipaksa. Ia benar-benar merasa bersalah karena tanpa terkontrol menyentuh paha Lira terlalu dalam. Maksudnya hanya pengakuan ‘kekalahan’ karena didesak soal banyak perempuan yang menyenanginya. Sejujurnya ia juga suka Lira karena ia anggap perempuan yang suka bicara tanpa basa basi, apalagi dengan orang yang ia rasa bisa membuatnya nyaman. Sikapnya itu membuat Andi merasa lebih dekat dengannya, meski dengan dasar suka sebagai teman.

Dari sisi laki-laki, Andi juga terkesiap dengan sentuhannya itu. Ia jadi menyadari Lira memiliki tubuh yang kencang dengan kulit yang halus. Benar-benar membuat kelaki-lakiannya bangkit. Ingin rasanya berbuat lebih dari itu. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Ia juga sadar, situasi seperti ini sudah cukup sebagai tanda bahaya bagi dua insan berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan. Hanya ia juga tak kuasa dan tak mengerti bagaimana menghentikannya. Langsung pergi, jelas akan membuat Lira marah, ia bisa menangkap bahwa Lira tidak menginginkan itu.

Masih diliputi perasaan tak menentu dan membuatnya tertegun seperti patung, Andi terkejut ketika Lira sudah menjulurkan tangan dan meraih tangannya. Tapak tangannya digenggam kedua tangan Lira dan diarahkan ke bibirnya. Dalam keadaan terbuka, Lira menciumi perlahan-lahan permukaan telapak tangan kanannya. Andi benar-benar tegang bercampur kaget. Ia tahu itu sudah lebih dari sekedar pertanda Lira menginginkan sesuatu, lebih dari sekedar sentuhan tanpa sengaja. Lira pun bukan tanpa maksud seperti itu. Ia sadar antara dirinya dan Andi baru benar-benar kenal beberapa bulan belakangan. Tapi, akal sehatnya tak kuasa menahan keinginannya untuk disentuh lebih dalam oleh Andi.

Andi benar-benar bimbang. Ia tahu, Lira sudah membuka gerbang dan kini dialah yang harus memainkan bola. Semua ada di tangannya. Di antara bimbang untuk meneruskan, yang artinya ia dan Lira sudah melanggar komitmen pada pasangan masing-masing, atau menghentikan, yang artinya ia bisa kehilangan kesempatan merasakan sesuatu yang selama ini sering membuat badannya bergetar dan hanya ia lampiaskan pada Lina, tangannya seperti bergerak sendiri membelai pipi kiri Lira. Jantung Andi berdegup kencang, bukan lagi takut Lira akan menolak, tapi sadar ia telah membuat sebuah pilihan penuh resiko tapi pasti sangat menyenangkan.

Lira tersenyum. Merasakan belaian lembut jemari Andi di pipinya. Andi pun bergerak menyisir leher dan tengkuk Lira. Sampai di punggung, tangan kirinya ikut merangkul Lira dan seketika keduanya sudah berpelukan. Lira membenamkan seluruh tubuhnya ke Andi. Pelukannya bahkan lebih kuat dari Andi dan pantatnya ia geser mendekat. Keduanya masih duduk di lantai beralaskan sebuah karpet tebal berwarna merah. Andi mengangkat wajah Lira perlahan. Ia bisa melihat Lira tersenyum bahagia merasakan kehangatan tersebut. Andi sadar, ia melakukannya bukan untuk mengejar perasaan Lira, tapi lebih pada nafsu. Nalurinya sebagai laki-laki berkata bahwa ini adalah kesempatan merasakan nikmatnya tubuh seksi Lira yang selama ini sudah ia kagumi. Dalam hati ia terus membatin untuk tidak tanggung-tanggung dan ragu. Ia bertekad menunjukkan pada Lira bahwa ia memang laki-laki sejati. Sambil mulai menjilati daun telinga Lira, Andi berusaha membisikkan kata-kata rayuan ke telinga Lira.

Glek! Mulutnya justru seperti terkunci. Semuanya sangat sulit untuk dikatakan. Balasan Lira hanya sebuah erangan manja berikut usapan halus disekujur punggung Andi. Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya yang merekah menyentuh bibir Andi. Halus, lembut dan perlahan penuh perasaan, keduanya saling mengulum bibir lawannya. Berpagutan dan saling bertukar lidah membuat suasana semakin hangat.

“Ndi…,” Lira berusaha mengontrol dirinya. Ia ingin terus merasakan belaian laki-laki yang dikaguminya itu.

Andi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia paham ini adalah titik kebimbangan Lira. Memaksa Lira menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya sama saja berpeluang menghentikan semuanya. Ia terus mencium Lira penuh kehangatan. Tangannya mulai menggerayangi sisi kiri tubuh Lira dan berbalik ke atas menuju sebuah bongkah daging keinginan setiap laki-laki. Ia mulai dengan meraba permukaannya halus dan meremasnya pelan. Persis seperti yang ia lakukan pada Wita, sahabatnya, beberapa tahun silam. Perbuatan berdasarkan naluri yang membuat ia dan Wita hampir mengakhiri persahabatan erat yang mereka bangun sejak masuk kuliah, runtuh hanya bersisa nafsu.

Andi seperti merasakan kembali sensasi itu. Sensasi bercumbu dengan perempuan yang rela menyerahkan tubuhnya secara total pada dirinya. Sesuatu yang justru tidak ia rasakan saat melakukannya pertama kali dengan Lina. Status berpacaran membuat mereka mudah melakukan apapun seperti ciuman, pelukan, bahkan rabaan. Andai dulu ia mengabaikan pertanyaan Wita apakah mereka benar melakukan hal tersebut, ia dan Wita saat ini pasti sudah tak ubahnya dua insan yang saling mengejar nafsu. Tidak ada lagi keindahan persahabatan dan keagungan sebuah kedekatan yang tidak dilandasi nafsu, murni sebuah kasih sayang dua manusia yang saling membutuhkan.

Tapi dulu tindakannya tepat. Karena, ia dan Wita lebih membutuhkan hubungan tanpa berlandaskan nafsu birahi. Walaupun akhirnya ia dan Wita menghentikan semuanya sebelum keduanya bersatu dalam sebuah persetubuhan, perlu waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali landasan yang telah mereka hancurkan sendiri.

Kini, terhadap Lira, semuanya berbeda. Tidak ada halangan untuk melakukannya saat ini. Benar atau salah, itu soal nanti, karena saat ini nafsulah yang melandasi hubungan dirinya dengan Lira. Lira bukan teman dekatnya. Sejak awal ia tertarik pada Lira karena tubuh Lira yang menggoda iman. Kalau kemudian ia menjadi dekat dengan Lira karena sesuatu hal, itu tak ubahnya alat untuk masuk ke dalam perasaan Lira.

Remasannya ke dada Lira semakin kuat. Tanpa ragu, ia menyisipkan jarinya dari sisi atas untuk merasakan langsung lembutnya bongkahan indah itu. Lira mengerang dan berusaha mendekap Andi lebih kuat. Tangan Andi meremasnya makin kuat dan semakin ia merasakan betapa kencangnya dada Lira. Kencang, halus dan terawat. Ia pun kagum kepada Lira yang menyadari bahwa bagian tubuhnya yang sedang remas Andi adalah daya tarik utama dirinya, terbukti dari hasil perawatan yang dilakukannya itu. Sembari tangan kanannya meremas dada Lira, dan lidahnya menjilati leher Lira. Tangan kirinya membuka pengait bra di belakang. Sekali terbuka, kedua tangannya menyusup dari bawah dan mengangkat pakaian Lira melewati leher.

Dan sekejab ia langsung bisa melihat bukit besar menantang itu langsung di depan matanya. Sejenak ia kembali mengagumi keindahan yang terpampang di depan matanya itu. Dua bongkah daging yang sejak setahun lalu membuat dirinya kerap tak bisa tidur. Tak berlama-lama puting susu Lira sudah menjadi sasaran mulutnya. Kuluman bibir, gigitan kecil plus sapuan lidah membuat Lira terlonjak tak bisa menahan diri. Badannya menegang setiap Andi menghisap putingnya. Ingin rasanya Andi mengecup kuat area di kulit yang menutupi tonjolan dada Lira, tapi ia sadar hal tersebut akan mempersulit posisi Lira. Apalagi Lira memohon dengan suara lirih.
“Jangan ada…bekasnya…Ndi….”

Dua bukit besar itu seperti mainan baru bagi Andi. Ia juga sering merasakannya dari Lina, tapi yang disodorkan Lira dua kali lebih nikmat. Lina juga keras dan kencang, tapi tidak sebesar Lira. Besar tapi masih proporsional. Ia bisa merasakan puting Lira menyentuh telinganya saat ia berusaha membenamkan kepalanya ke sela-sela di antara dua bukit tersebut.

Erangan pelan mulai terdengar keras keluar dari mulut Lira. Nafas Lira mulai memburu dan matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dan setiap isapan Andi di putingnya mengeras, kepalanya terlonjak ke belakang. Tangannya hanya bisa menekan kuat punggung Andi. Kendali dirinya benar-benar sudah hilang tertutup kenikmatan isapan dan sapuan lidah Andi di kedua payudaranya. Bahkan angin dingin khas kota Bandung yang kencang dari luar sudah tak terasa lagi di kulitnya. Tak hanya Lira yang terlena, Andi pun semakin bernafsu menggarap buah dada Lira yang menggairahkan itu. Sensasinya seperti mendapatkan sebuah mainan baru. Ia menjelahi setiap titik buah dada Lira tanpa terlewatkan. Ia ingin tahu reaksi apa yang diberikan Lira setiap ia menjelajah setiap permukaan buah dada itu.

Keduanya sedikit tersentak ketika pintu kamar Lira tertutup sendiri tertiup angin kencang dari luar. Andi terdiam dan memandangi Lira sesaat.
“Geblek, lupa ditutup….”
Andi langsung bangkit dan memeriksa keadaan di luar dari jendela, apakah ada mata-mata tersembunyi yang menyaksikan perbuatan mereka.
“Kunci Ndi…, sekalian korden…”
Sebut Lira dengan suara parau dan lemah.

Lira langsung menggamit lengan Andi dan memeluk laki-laki itu dan menempelkan keningnya ke dada bidang penuh bulu itu. Menunduk, ia bisa melihat puting buah dadanya menempel di atas perut Andi.
“Ndi…, tolong…,”
Ia melepaskan tangan Andi yang mengusap-usap halus punggungnya. Tangan kanannya membimbing tangan Andi ke arah selangkangannya. Ia merasakan sendiri sedikit demi sedikit kewanitaannya mulai basah mengalirkan cairan hangat. Ia tahu persis telah dihinggapi nafsu.

Sejenak Lira was-was. Ia takut Andi melakukannya tindakan bodoh seperti laki-laki lain yang tidak peduli fase-fase seksualitas wanita. Ia ingin dilayani juga sebagai makhluk yang juga memiliki nafsu. Selama ini, yang ia alami hanya melayani keinginan laki-laki tanpa ada balasan dari laki-laki itu.

Tapi kekhawatirannya segera lenyap saat Andi menyambut bimbingan tangannya dan mulai aktif menggerayangi daerah kewanitaannya. Dimulai dengan usapan lembut di atas daerah vaginanya yang masih tertutup dua lapisan, celana dan celana dalam. Dilanjutkan gosokan sedikit keras yang menekan alat genitalnya. Sekali lagi, saat Andi menyentuh paha bagian dalamnya, darahnya berdesir kencang, nafsunya semakin melonjak.

Aliran darah seketika seperti mengalir deras di tengah-tengah selangkangannya. Andi pun tak mau berlama-lama menunggu. Sekali tarik, ia meloloskan celana pendek dan celana dalam yang membuat Lira makin tak berdaya telanjang bulat. Tangan Andi mulai mengusap-usap klitoris dan bagian luar vaginanya. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari Andi mengenai alat kelaminnya itu. Dipadu permainan lidah di putingnya, Lira semakin lemah tak berdaya. Lututnya terasa lemas yang membuat Andi semakin mudah menjelajahi daerak kemaluannya karena menjadi terbuka.

Tak tahan melakukannya sambil berdiri, Lira memundurkan tubuhnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang. Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. Andi melepas sendiri kaus yang dikenakannya dan tak menyia-nyiakan pemandangan indah bibir-bibir vagina berwarna coklat muda yang terpampang di depannya. Bulu-bulu kemaluan Lira sangat terawat karena terlihat dari cukuran yang rapi. Bulu-bulu itu hanya tersisa di atas klitoris dan panjangnya tidak ada yang melebihi satu milimeter.

Sambil memeluk pinggang Lira dengan tangan kiri, ia mulai memainkan jari kanannya di seluruh permukaan kewanitaan Lira. Pengalaman dengan Lina mengajarkannya untuk tidak langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Ia lebih mementingkan usapan di klitoris. Dengan ibu jari dan jari tengah, ia membuka kulit penutup klitoris. Jari telunjuknya mulai meraba-raba permukaan klitoris yang menyembul berwarna merah muda. Lonjakan pantat Lira terasa kuat setiap ia mengusap klitoris itu dibarengi erangan keras dari mulut Lira. Lira meremas-remas sendiri buah dadanya. Ia menahan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya.

Puas jemarinya memainkan klitoris Lira, lidahnya mulai bergabung. Setiap jilatan sanggup membuat Lira menjerit. Kedua pahanya berusaha menjepit kepala Andi yang membuat Andi semakin ganas memainkan lidahnya. Sesekali permainan itu ia gabung dengan isapan keras klitoris Lira. Tak usah ditanya reaksi Lira karena perempuan muda itu semakin berisik mengeluarkan erangan dari mulutnya.
Rasanya memang gila permainan mereka, karena jika erangan Lira terdengar sampai keluar, entah apa yang akan terjadi.

Andi sudah mengarahkan lidahnya turun menuju vagina Lira ketika Lira menahan tubuh Andi dan bangkit meraih kancing celana Andi dan melepasnya. Bersama celana dalam, satu sorongan ke bawah langsung menjulurkan batang kemaluan Andi yang sudah mengacung sejak tadi. Lira tahu, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bersama dan kini gilirannya membelai, mencium, menjilat, dan meremas milik Andi. Tak canggung ia menggenggam penis Andi yang mengacung keras. Kedua tangannya mengenggam bersama, terasa besar dan penuh penis itu memenuhinya.

Satu kocokan, kini giliran Andi yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangan halus nan hangat itu. Dari bawah, Lira melirik ke atas dan tersenyum kepada Andi yang berlutut di kasur. Ia paham arti senyum balasan Andi. Tanpa berlama-lama lagi, ia lumat batang tersebut di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, ia jilat seluruh permukaannya yang mengkilat itu. Urat-urat di sekujur penis Andi semakin membuat nafsunya memuncak. Ingin rasanya segera merasakannya merayap di dinding vaginanya. Andi terengah merasakan isapan dan kulumannya. Masih ada sedikit rasa dongkol pada Lina, kenapa temannya itu yang bisa mendapatkan laki-laki yang mampu menggetarkan hati setiap wanita itu.

Di tengah usahanya memasukkan seluruh batang kemaluan Andi kemulutnya, Lira hampir tersedak karena ujung kemaluan Andi menyentuh pangkal rongga mulutnya sementara di luar masih tersisa. Ia semakin bernafsu mengulum penis ini. Pelan tapi pasti ia keluar masukkan penis itu di mulutnya. Lidahnya ia sentuhkan ke ujung penis yang kokoh itu. Ia paham laki-laki amat senang diperlakukan seperti itu. Terlihat dari paha Andi yang semakin terbuka membuat penisnya makin mengacung kencang. Seketika ia melihat penis Andi, Lira langsung merasakan rangsangan semakin besar dalam dirinya. Tanpa ragu ia berusaha memberikan pelayanan sempurna pada Andi, laki-laki yang sanggup membuatnya panas dingin meski hanya beradu pandang. Ia ingin Andi merasakan kenikmatan terdalam pelayanan perempuan.

Lira memang tidak salah karena Andi pun mulai merasakan apa yang diharapkannya. Baru kali ini Andi merasakan perlakuan total perempuan selain Lina terhadap dirinya. Apalagi saat Lira mulai menjilati dan mengulum kantung buah zakarnya. Semuanya terasa berbeda, benar-benar sensasi yang memabukkan. Selain merasakan nikmatnya kuluman dan isapan Lira, pemandangan indah sekaligus ia dapatkan. Posisi Lira yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang ke atas. Pasti nikmat membenamkan penisnya ke kemaluan Lira sekaligus menggenggam dan mengusap pantat yang padat dan berisi itu.

Lira merasa belum cukup ketika Andi menarik lengannya. Tapi, ia mengikuti saja keinginan pujaan barunya itu dan menyambut kecupan hangat Andi di bibirnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menarik Andi. Lira sudah tahu kelakuan laki-laki. Jika sudah menarik dan merebahkan tubuh perempuan berarti laki-laki itu sudah ingin melakukan penetrasi.

Namun, dugaannya meleset. Andi justru merebahkan badannya di sisi Lira. Berbaring miring, Andi mengisap lagi buah dadanya. Lira semakin kagum akan laki-laki yang satu ini, benar-benar penuh kendali diri. Ia semakin kaget ketika jemari Andi mulai bermain lagi di sekitar kemaluannya. Kali ini usapannya sedikit keras dan cepat menggosok klitorisnya. Lira menggelinjang menerima perlakuan Andi. Benar-benar laki-laki penuh misteri, pikirnya.

Laki-laki sempurna, pikir Lira menyadari betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan Andi seperti sekarang. Bisa mendapatkan lagi sesuatu yang dulu hilang direnggut kejamnya Dani terhadap dirinya. Kalau saja ia tahu Dani hanya mempermainkannya saat itu, tidak akan ia mau menyerahkan semua kehormatannya kepada laki-laki brengsek pengecut itu. Rasanya muak hatinya mendengar semua orang membicarakan perkawinan Dani saat ia baru dua bulan memadu kasih dengan laki-laki keparat itu.Untung Boy hadir sebagai penyelamat. Ia sayang pada laki-laki ini, tapi kadang perasaannya tak tega melihat kebaikkan hati Boy.

Tapi kali ini ia ingin total merasakan kehangatan Andi. Kekagumannya membuat ia semakin senang akan apa yang dilakukan Andi padanya saat ini. Menikmati usapan jemari Andi yang cepat itu membuatnya ia sanggup melupakan semua pikirannya pada dua laki-laki yang telah sempat mengisi relung hatinya.

Di tengah lonjakan-lonjakan kecil menikmati permainan Andi, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya sebuah rambatan energi tiada tara yang membuat sejenak dirinya seperti melayang. Suara-suara di sekitarnya seketika seperti lenyap, hanya terasa desiran tiada tara yang membuat tubuh sempat terbujur kaku sejenak dan berikutnya terlonjak-lonjak demikian kuat yang semakin lama semakin melemah frekuensi dan intensitasnya. Matanya terpejam, ia baru saja merasakan sensasi terbesar yang belum pernah sekalipun ia rasakan dengan laki-laki lain. Liang vaginanya pun terasa berdenyut lebih kuat dan saat semuanya belum mereda, Andi sudah menindih tubuhnya. Ia bisa merasakan bobot tubuh Andi terutama di bagian bawah pinggangnya. Tangan Andi sudah tegak di sisi buah dada Lira kekar menopang badannya sendiri. Ia bisa merasakan bagian tubuh bawah Andi bergerak-gerak berusaha mengarahkan acungan penisnya. Lira pun langsung meraih penis nan kokoh itu dan membimbingnya ke ujung vaginanya.

Andi tersenyum dan Lira membalasnya dengan senyuman manis diiringi anggukan penuh kepasrahan tanpa paksaan. Terasa Andi mendorong kuat pantatnya dan Lira juga bisa merasakan rengsekan batang kemaluan Andi di dinding vaginanya. Sungguh halus dan penuh perasaan Andi memasukkan penisnya ke vagina Lira. Perlahan cairan di dalam vagina melumasi permukaan penis Andi. Tak ada rasa sakit sama sekali meski penis tersebut lebih besar ketimbang milik Dani dan Boy. Itu karena Andi melakukannya tanpa terburu-buru dan tanpa memaksa. Mulai terasa perih ia menarik kembali penisnya sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh penisnya dilumat vagina Lira. Sodokan pertama penis tersebut masuk seluruhnya sanggup menyentuh bagian dalam vagina Lira yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Lira pun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, Andi tidak langsung memompa pantatnya cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, ia menahannya dan memandangi wajah Lira dan kali ini ditambah sebuah kecupan mesra. Lira seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu. Ia merasa dirinya demikian berharga di hadapan Andi,

Andi sendiri merasa telah memenangi sebuah peperangan. Penisnya yang sudah bersarang di vagina Lira adalah sebuah tanda babak baru hubungannya dengan Lira yang tidak akan mudah dikembalikan seperti sedia kala. Bersatunya kedua tubuh mereka adalah sebuah ikatan emosi yang hanya bisa dirasakan oleh Andi dan Lira, tak seorangpun bisa merasakan itu.

Setelah itu, mulailah Andi menggerakkan pantatnya mengangkat dan menekan yang membuat penisnya keluar masuk bergesekan dengan liang vagina Lira. Hangat dan lembut bisa Andi rasakan lewat sekujur penisnya dari dalam vagina Lira.

Lira menyambut setiap gerakan Andi dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dari mulutnya keluar erangan yang semakin lama semakin keras dan cepat berirama. Melihat Lira terpejam dan mengerang dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mendongakkan kepala membuat Andi makin bernafsu. Lira semakin seksi dalam kondisi seperti itu. Lehernya yang putih dan guncangan kuat pada buah dadanya membuat Andi semakin ingin membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Lira. Apalagi setiap ujung penisnya menyentuh pangkal vagina Lira. Rasanya sungguh tiada tara. Derit ranjang mulai terdengar seiring semakin kuatnya sodokan Andi. Tapi mereka sudah tidak peduli. Lira bukan tidak menyadari seseorang pasti ada yang mendengar deritan tersebut di bawah. Apalagi kalau teman kost yang menempati kamar di bawahnya sedang berada di kamar. Tapi ia yakin semua temannya akan maklum.

Semakin kuat dan cepat sodokan Andi membuat Lira merasakan lagi desakan rasa luar biasa yang akan tiba. Ia hanya bisa mencengkram punggung Andi keras-keras ketika desiran itu semakin kuat dan mencapai puncak. Kepalanya benar-benar mendongak ke atas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah sampai, sekali lagi ia merasakan tubuhnya ringan dan aliran darah mengalir deras ke arah vaginanya. Dinding vaginanya berdenyut kuat hingga Andi juga bisa merasakannya. Andi langsung menghentikan gerakannya membiarkan penisnya merasakan cengkraman kuat yang terjadi hanya beberapa detik itu. Tindakan Andi juga membuat Lira merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan vaginanya tertahan penis Andi yang sedang membenami kemaluannya itu. Semakin banyak saja kekaguman Lira pada Andi. Tahu kapan ia akan merasakan puncak kenikmatan dan menghentikan sodokan membuat Lira bisa merasakan sepenuhnya kenikmatan tersebut. Sebuah teknik bercinta yang baru kali ini Lira rasakan.
“Andi…,nikmat sekali…,”

Lira memeluk Andi kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundak laki-laki itu. Sekali lagi Andi tersenyum membalas Lira.
“Enak?”
“Banget!” Jawab Lira singkat dan tegas.
“Gaya lain…?”
Lira langsung mengangguk dan menunggu aba-aba Andi gaya apa yang diinginkan Andi.

Andi membalik badan Lira dan mengangkat badan bagian bawah Lira dengan memeluk pinggang dari belakang. Lira langsung berdebar-debar begitu tahu Andi ingin melakukan gaya doggy. Missionari saja sudah sanggup mencapai pangkal vaginanya, apalagi doggy.

Tak menunggu lama Andi langsung memasukkan penisnya. Lira menunduk sambil menggigit bibirnya merasakan seluruh penis Andi terbenam makin dalam di vaginanya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat Andi semakin tak bisa mengendalikan birahinya. Kali ini Andi langsung mendorong dengan cepat dan Lira mengikuti irama dengan mendorong pantatnya ke belakang. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih dalam.

Masuk hitungan belasan menit menyodok vagina Lira, belum ada tanda-tanda dorongan Andi melemah. Sebaliknya justru makin kuat, membuat Lira makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi keduanya, namun baik Lira dan Andi justru makin bersemangat. Lira, yang bisa dua kali beruntun merasakan kenikmatan puncak saat disodok Andi dari belakang justru semakin ingin merenguk terus kenikmatan itu. Pantat dan pinggangnya makin bergerak liar membuat Andi tak mampu menahan lenguhannya.

Tiba-tiba ganti Lira yang berinisiatif. Ia lepaskan penis Andi dari vaginanya dan mendorong Andi sampai terlentang. Ia langsung memanjat tubuh Andi dan duduk di atas acungan penis Andi yang masih kokoh berdiri. Melihat Lira bergerak naik turun, Andi tak kuasa untuk tidak meremas buah dada Lira yang terguncang-guncang. Telapaknya yang besar berusaha meraup seluruh permukaan buah dada itu, tapi tidak pernah berhasil. Remasannya makin kuat membuat Lira makin mempercepat gerakannya.

Sekali lagi Lira harus mengaku kalah. Karena meski ia telah mencoba berbagai goyangan yang dipadu dengan gerakan naik turunnya, justru ia yang kembali merasakan desakan kenikmatan dari liang vaginanya. Lira langsung ambruk menindih Andi yang sudah siap menerimanya dengan pelukan mesra dan kecupan hangat di ubun-ubunnya.
“Kamu kuat banget Ndi…”
“Kamu di bawah lagi ya…?”
Lira mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kanan Andi.

Sebelum Andi memasukkan lagi penisnya ke vagina Lira, Lira memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada laki-laki manapun yaitu memasukkan penis tersebut ke mulutnya. Sebelumnya ia tidak mau mengulum penis yang sudah masuk ke vaginanya. Tapi, untuk Andi, yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara, ia lakukan itu.

Puas mengulum dan menjilati penis yang dipenuhi lendir sisa persetubuhan mereka, Lira kembali merebahkan dirinya dan menyuruh Andi memulai lagi aksinya. Andi langsung bergerak dan dorongan seperti saat pertama mereka memulainya yaitu perlahan dan terus semakin lama semakin kuat dan cepat. Lira sudah pasrah kalau ia harus sekali lagi merasakan orgasme, tapi baru ia berpikirbegitu, tiba-tiba sodokan Andi terasa lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian Andi mengerang panjang dan menyodokkan penisnya sangat kuat beberapa kali. Lira pun bisa merasakan hangatnya muncratan sperma Andi di dalam vaginanya. Andi masih terus menyodok terputus-putus dan semakin melemah. Sperma Andi juga Lira rasakan mengalir keluar setiap Andi menyodokkan lagi penisnya. Setelah benar-benar selesai, Andi pun ambruk menindih Lira. Andi terdiam sesaat di atas buah dada idamannya itu merasakan betapa nikmat persetubuhannya dengan Lira.

Lira mengusap lembut kepala Andi penuh kehangatan.
“Puas Ndi…?”
Andi hanya mengangguk. Badannya terasa lemas. Lira tersenyum bahagia mendapatkan jawaban Andi. Paling tidak, tekadnya membuat Andi merasakan kenikmatan tertinggi berhasil ia lakukannya.
“Lir, nikmatnya benar-benar ngga ada yang nyamain…”
“Kamu juga hebat Ndi. Baru kali ini aku ngerasain orgasme….”

Keduanya pun duduk berdampingan di sisi ranjang. Lira merebahkan kepalanya di pundak Andi. Sambil membakar rokok, Andi merangkul Lira. Keduanya hanya bisa terdiam dan sama-sama tidak percaya apa yang baru saja terjadi di antara mereka.

Lira masih tidak percaya ia telah melakukan hubungan seks dengan Andi, pacar Lina, teman satu angkatannya. Meski ia memang sudah kagum pada Andi sejak pertama berkenalan, tapi akhirnya sampai berhubungan intim dengan Andi, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Andi, walaupun ia juga tertarik pada Lira diawali oleh ketertarikan fisik, tetap saja apa yang baru saja ia alami benar-benar di luar dugaannya. Apalagi Lira seperti menyambut keinginan terpendam Andi itu yang sebetulnya ia simpan dalam-dalam. Ia kenal Boy dan tahu bagaimana Boy selalu menerima sarannya dalam hal aktifitas di kampus. Ia juga tahu Boy sangat menghormatinya terutama sebagai senior meski beda fakultas.

Dalam diamnya, Lira tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Lina yang terkenal emosional di kampus. Serupa dengan Lira, Andi juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada Boy jika ia tahu apa yang dilakukannya dengan Lira. Boy memang pendiam dan tenang, tapi Andi tahu Boy adalah orang yang keras.

Andi mengeratkan rangkulannya pada Lira. Lira pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Tapi Andi tak membalasnya yang membuat Lira bingung.
“Kenapa…?”
Andi menggeleng sambil tersenyum dan mengecup kening Lira dan mendekap Lira lebih dalam.
“Yuk ke kampus…,” ajak Andi sambil melepas pelukannya.

Lira mengangguk sambil tersenyum. Berpakaian, kedua lantas keluar kamar bersikap biasa. Andi lebih dulu menuju motornya di lantai bawah.
“Bareng aja…,” sahut Andi.
“Oke!”

Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Keduanya tak sadar telah dua jam bercumbu dan berhubungan intim. Kalau sesuai janji, Andi sebetulnya sudah terlambat. Dan memang benar, saat tiba di kampus FH, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus.
“Bareng Lira?” Tanya Lina tanpa curiga.
“Iya, tadi ketemu di jalan, ya sekalian aja.”
“Tunggu bentar ya, 10 menit lagi.”
“Oke, aku tunggu di sini ya.”

Di tempatnya duduk, Andi melihat Lira berdiri di samping Boy. Boy masih sibuk membahas beberapa masalah dengan teman-temannya. Lira pun melirik ke arah Andi dan memberikan sebuah senyum yang manis. Keduanya memang harus kembali bersikap normal, tapi di hati kecil mereka, baik Andi dan Lira sama-sama berharap kejadian yang mereka alami terulang lagi?