Author Archive

Sahabat dekat istriku yang trauma

Yang ingin aku ceritakan pada adalah pengalaman ML dengan teman istriku. Pernikahan kami berdua sangat bahagia, jarang seumuran kami sudah berkelurga.menikah pada usia muda mungkin bukan rencana ku dan istriku.Tapi Tuhan sudah berkehendak lain inilah jalan yang harus kulalui. Sungguh bahagia menyambut datangnya hari itu,peristiwa indah yang terukir dalam sebuah cinta.Tidak lama kemudian kamipun dikaruniai bayi mungil yang akan menambah kehagiaan rumah tangga.Hari demi hari kulalui tanpa terasa anak ku semakin besar dan usiakupun juga semakin bertambah,perbedaan prinsip,ego ternyata sudah bisa kami kendalikan dan atasi hinga keluarga kami selalu terpisah dari kata bertengkar.

Anak- anak sekarang sudah sekolah dan sebagai orang tua aku harus siap mendidik sedini mungkin agar kelak aku bisa menjembatani mereka agar bisa menjadi anak yang berguna dan tidak salah langkah.Tidak terasa liburan semester sudah tiba,rutinitas keluarga adalah mengajak mereka holiday.kali ini aku aku merasakan kejadian luar biasa pada saat itu,ya Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada dikota Solo kota kelahiran istriku, kebetulan kami mempunyai rumah disana dan saat itu liburan anak sekolah.

Sudah 2 hari kami berada di kota, hampir seluruh sudut kota kami jelajahi dan anak anak juga sangat senang menikmati liburannya dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata di kota itu.Saat itu kami sedang berada disebuah mall ketika sebuah suara terdengar “Hey……, apa kabar ..? seorang wanita berusia sedikit diatas istriku tiba tiba setengah berteriak menegur Yani,

“Eh.., Mei….apa kabar..” jawab istriku yang langsung menghampiri wanita itu dan mereka berpelukan.
“Pa…ingat kan..ini Mei….” kata istriku
“Tentu saja aku ingat…apa kabar..? “tanyaku menyalaminya

Mei adalah sahabat istriku saat masih kerja di solo…, wajahnya khas jawa, tidak terlalu cantik, kulitnya sedikit gelap tapi bersih, terakhir kami bertemu 5 tahun lalu disuatu pesta di Kota itu, ketika itu ia datang dengan tunanganya.
Keduanya lalu ngobrol entah apa yang dibicarakan namun tampak mereka bicara tak putus – putusnya, bahkan istriku nampaknya lupa kalau ia sedang belanja, dan akupun melangkah meninggalkan mereka dan menggandeng anakku meneruskan belanja kami, kubiarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya.
Sesaat kemudian keduanya menghampiriku dan Mei pamit mau pulang.

“Kasihan…ia tidak jadi nikah” kata istriku dimobil
“Lho..kok…? tanyaku
”calon suaminya kawin dengan wanita lain, dan ia pengin sendiri, ia anggap lelaki sama habis manis sepah dibuang” panjang lebar istriku menjelaskan
“Lalu…, apa hubungan mereka sudah jauh?” tanyaku lagi
“Ya sudah dan menjelang lamaran lelakinya pergi dengan wanita lain, sementara mei sudah menyerahkan kehormatannya untung saja tidak sampai hamil,…Mei sekarang kerja diperusahaan lain untuk meninggalkan masa lalunya, memang banyak yang pingin memperistrinya tapi dia masih trauma” jelas Yani

Percakapan berhenti sampai disitu karena anak anak mulai cerewet minta makan dan kamipun berhenti di sebuah restoran yang sejak dulu menjadi langganan kami.

“Pa.. Mei kusuruh kesini ya…, sebelum kita pulang, biar dia nginep disini…” istriku membuka percakapan sore itu ketika kami sedang santai di teras rumah kami yang terletak agak dibagian pinggir kota
“Boleh” jawabku..dan sungguh …saat itu tidak ada satupun pemikiran yang aneh aneh melintas di benakku, aku sedang melepas semua pikiran tentang pekerjaan dan benar benar bersantai, lagi pula anak anak juga tidak mau tinggal diam…selalu ribut tidak karuan
Yani mengambil HP nya, setengah jam ia ngobrol dengan sahabatnya itu, dan menjelang pukul 8, ketika kami baru saja menyelesaikan makan malam kami, suara motor memasuki halaman.
“Hai…..” sapa Mei ketika kami menyambutnya, malam itu ia nampak segar dengan celana panjang yang mencetak bentuk pantatnya dan atasan pakai jaket, namun sampai saat itu kembali aku belum memikirkan nafsu sama sekali.

Istriku segera menarik tangan Mei dan mengajaknya kedalam rumah.
Kebetulan rumah kami agak besar dan masih memiliki sebuah kamar yang tidak terpakai, Malam itu aku masuk kamar duluan, setelah anak anak tertidur, sementara istriku masih asyik ngobrol dengan kawannya, dan tak lama kemudian aku terlelap.
Rasa hangat dan geli yang nikmat menyadarkanku, dan aku tahu kalau mulut istriku sudah mengulum batang kemaluanku yang segera berdiri walau aku sendiri masih setengah sadar, entah kapan celanaku sudah turun sampai kelutut aku benar benar tak tahu.
Sesaat kemudian tanpa melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku sudah terlepas seluruhnya, dan menyusul baju lainnya.
Setelah saling mencumbu, menjilat dan bergumul, akhirnya dengan posisi diatas Yani memasukan batang kemaluanku kedalam vaginanya yang hangat itu dan mulai bergoyang, mula mula perlahan semakin lama semakin cepat, sementara mulutnya berdesis seperti orang kepedasan.
“Srrrt…” aku tak tahan lagi dan melepaskan air maniku duluan dalam vagina istriku yang masih terus bergoyang mengejar puncak kenikmatannya, dan akhirnya beberapa puluh detik kemudian istriku melenguh dan mendesis desis ketika ia menggapai klimaxnya, untung …pikirku…telat sedikit saja kemaluanku sudah melemas dan bisa pusing dia kalau tidak berhasil mencapai klimaxnya.

Tubuh istriku ambruk diatas tubuhku, dan…plop…..kemaluanku terlepas dengan sendirinya, kami berciuman dan saling memeluk, yah…walaupun banyak acara kami namun setiap kali berhubungan sex ……..kami sangat puas dan nilai keintiman yang ada diantara kami kalau sedang berdua.
Kami tidak banyak bercakap malam itu, capek setelah seharian berputar putar dan belanja serta nikmatnya sex yang baru saja kami rasakan membuat kami segera terlelap dalam selimut….berpelukan telanjang bulat.
Pagi pagi aku sudah terjaga…, melihat istriku masih tidur.. aku lalu mengenakan celana pendek dan kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada diadalam kamar, cuci muka…lalu keluar keruang makan…mencari kopi.
Saat melintas dapur kulihat Mei sedang asyik mengaduk kopi digelas…dan ketika melihatku Mei tersenyum…
Mei hanya mengenakan celana pendek dan kaos ketat sehingga buah dadanya yang montok itu membayang jelas…, masih pagi.., baru bangun……. melihat pemandangan seperti itu…langsung saja ‘adik kecil’ diselangkangan berontak keras….

“Mas…kopinya suka manis ?” tanya Mei
“Lho..kok….masa kamu yang bikin ..?” tanyaku
“Jangan terlalu manis..ah….nanti bisa diabetes…” jawabku, hampir…saja kulanjutkan…’kalau diabet bisa impoten…rugi …’ tapi kembali kujaga lidah ku.

Siang itu aku bersantai dikamar sementara istriku dan Mei asyik memasak…, anak anakku juga asyik dengan urusan mereka masing – masing dikamarnya
“Hey….makanan sudah siap.”teriak istriku di suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar.

Mataku sempat menelusuri tubuh Mei yang tampak sibuk mengambilkan nasi, menyiapkan lauk pauk dan dengan kaos ketat, celana pendek yang dikenakannya mencetak bentuk tubuhnya, sesungguhnya wanita ini menarik, berusia menjelang 35, wajahnya biasa saja tidak terlalu cantik, tubuhnya juga masih kencang apalagi payudaranya kelihatan padat berisi lebih besar dibanding milik yani. namun kulitnya sedikit agak gelap dibanding istriku tapi bersih, dari wajah serta penampilannya serta cara bicaranya terlihat jelas kalau ia bukan perempuan kegatelan, dan yang agak mengganggu pemikiranku adalah lama memeknya tidak dipakai…’jangan jangan sudah rapat kembali.

Pepes ikan mas, sayur asam, sambal dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu singkat bersih tandas dan beberapa saat kemudian aku ada acara ketemu teman lama sampai sore entah apa yang diperbuat istriku, sahabatnya dan anak anak sudah tidak kupedulikan lagi.
Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke pasar dekat rumah, beli jagung bakar, makan malam dan menjelang Pk. 8.00 malam kami sudah kembali kerumah…anak – anak langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi…
Aku sedang membaca dikamar ketika istriku masuk dan duduk disampingku, dengan wajah yang berbinar-binar ia berkata

“Pa..menurut papa Mei bagaimana..?” tanyannya tiba tiba.
“Bagaimana apa…”tanyaku
“Ah…mama kan melihat papa memperhatikan Mei, waktu makan siang tadi, …minat….?” lanjut istriku
“Mmmmm bukan gitu” lalu kusampaikan isi pemikiranku siang tadi dan istriku mencubitku “buktikan mau ? lubangnya masih ada atau nggak..? jawab Yani.
“Mm……….tapi kan dia teman mama dan masih trauma terhadap lelaki nanti malah semakin parah” jawabku
“mau engak mama rela kok, hitung2 nyenengi suami yang setia masak kontol sekuat ini tidak untuk berbagi” kata istriku sambil memijit kontolku dari luar.
” benar ma, aku kan belum pernah ngentot sama wanita lama, jangan-jangan mama pingin mencoba papa” kataku
“sudah..pokoknya papa..nurut saja. ya…nggak rugi deh…” lalu sambil mencium pipiku ia beranjak keluar kamar…

Aku mencoba kembali ke bacaanku, namun konsentrasi ku sudah buyar..
Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku serta Mei yang sudah berganti pakaian dengan daster, wajahnya tampak segar dengan rambut diikat kebelakang sementara dadanya tampak menggantung lepas..sayang daster batik yang dikenakannya agak tebal..sehingga tidak ada bayangan yang timbul…

“Ngobrol disini saja ya mei…, pa boleh kan Mei ngobrol dulu disini ..?,”
“Walau awalnya agak canggung namun sebentar saja pembicaraan kami sudah relax, Yani duduk disisiku dan kami duduk diranjang bersandar santai, sementara Mei duduk diujung ranjang…., kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku bertanya..(aku yakin dia sudah bertanya sebelumnya…tapi diulangi lagi untuk ku),
“Mei…kalau boleh tahu….kamu kan sudah pernah gituan sama mantan mu…, nah kalau ‘kepingin…itu..’ bagaimana kamu mengatasinya…? tanpa tedeng aling aling Yani bertanya yang membuat wajah Mei merah bagi kepiting rebus.
“Ya…gitu deh enakan sendiri tidak beresiko……….., udah ah malu sama suamimu….kok nanya in yang begituan sih…….” jawab Mei tersipu.

Tiba tiba Yani bangkit, lalu mengambil lap top yang biasa kugunakan, meletakannya dipangkuannya dan…menyalakannya serta memanggil Mei mendekat…
Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku…, sekejab kemudian terdengar suara Mei berteriak kecil…”Ih…gila ya kamu……..” sambil melirik kearahku.
Berkali kali terdengar jerit tertahan Mei saat melihat apa yang tersaji di laptop ku, ya..kumpulan gambar photo koleksi pribadi kami ketika sedang ngentot.
“Sebentar ya…” kata Yani yang lalu beranjak ke kamar mandi Mei tidak menjawab namun matanya terus menatap layar lap top dengan wajah yang berubah ubah..antara percaya dan tidak..antara ingin tahu dan tertarik….ia masih asyik menscroll gambar gambar itu tanpa peduli aku disitu.

Yani yang sudah kembali duduk didekatku…tangannya langsung menyusup kedalam celana pendek yang kukenakan. ” papa kita bikin pertunjukan untuk mei” bisik yani di telingaku. Aku hanya ikut antara nafsu … dan kecemasan.Istriku lalu merangkul leherku, mencium bibirku..lidah kami saling bertautan dan tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku yang masih tersimpan didalam celana pendek yang kukenakan…beberapa saat kemudian celana yang kukenakan sudah terlepas…
Ketika Mei menengok…ia terpana….karena saat itu istriku sedang asyik menjilat dan menghisap batang kemaluanku…dan ketika istriku melihat bahwa sahabatnya memperhatikan nya…ia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar mendekat….
“sini tak lihatin barang aslinya, nggak usah malu aku rela kok” kata yani
Dengan ragu tapi kelihatan nafsu dan entah sadar atau tidak Mei mendekati kami duduk disamping tempat tidur.
Tiba –tiba istriku menarik tangan Mei dan meletakannya di batang kemaluan ku yang sudah mengeras.
Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas…memberikan sensasi padaku..dan benar seperti kata istriku……. Mei sudah terlalu lama tidak menyentuh laki laki…, sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan batang kemaluanku sebagai ‘mainan’, saat Mei menghisap kepala kemaluanku istriku menjilati bijiku dan begitu bolak balik…kujulurkan tanganku…kutarik Mei agar merayap keatas dan sesaat kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku…
Ketika dasternya kulepas..buah dadanya terpampang jelas…puting susunya lebih besar dari istriku merah agak kehitaman lebih montok dan padat mungkin jarang dipakai.

Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu dan tanganku menyusup ke bawah pusarnya…terasa selangkangan yang lembab agak basah…dengan bulu bulu yang cukup lebat.
Istriku yang mengerti apa yang kuinginkan, menghentikan gerakannya menjilati kemaluanku..lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.
Kubaringkan Mei telentang..dan kucium bibirnya…lalu perlahan jilatanku merambat turun…lehernya, pundaknya dan buah dadanya ganti berganti kujilati dan kuhisap putingnya sementara ia hanya memejamkan mata mengerang lirih….
Lidahku turun terus kebawah…dan ketika sampai di perutnya ia mulai menggelinjang…kuambil bantal..kuminta ia mengganjal pinggulnya dan kini aku mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.

Dengan kedua tanganku kusibak bulu bulu di area itu….kubuka vaginanya…dan lidahku mulai menari nari di klitorisnya…, sesekali menerobos masuk dan kembali menjilat, menghisap dan menjilat..
Yani yang rupanya tidak tahan dari belakang juga ‘menyerang’ku.
“Ssshh…..aduh….sdh nggak tahan……” sesekali kepalaku dijepitnya dengan pahanya..dan aku mengerti..sudah terlalu lama ia ‘haus’..maka ketika aku menyudahi permainan lidahku dan merayap naik ketas tubuhnya dengan serta merta tangannya menyambut dan memelukku, dan setelah batang kemaluanku terarah tepat dengan perlahan mulai kubenamkan…Mei mengerang…. membuka pahanya semakin lebar,…setelah kepala kemaluanku masuk…dengan satu hentakan yang diiringi desahan keras dari wanita ini kubenamkan batang kemaluanku hingga habis.
” aduk..sakit” teriak mei tapi tanpa mau melepaskan vaginanya terasa rapat seperti perawan lagi.
Kubiarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun ‘legit’ itu, memang sih kelebihan wanita jawa umumnya bisa membuat vaginanya enak..tidak kering agak basah sedikit?..dan baru kemudian kutarik sedikit…lalu kubenamkan lagi..demikian berulang – ulang… sementara Mei memeluk dan kakinya bahkan melingkari pinggangku…

Tiba kurasakan sensasi lain…wah…….ternyata istriku mengusap dan memegangi bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik turun di vagina Mei, bahkan sesat kemudian bukan lagi usapan yang kurasakan namun …..jilatan….gila…………….rasa nikmat yang luar biasa menyerangku …………, batang kemlauanku terbenam dijepit kemaluan Mei dan lidah Yani menjilati bijiku..sesekali batangku terjilat saat tertarik keluar…..

Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang…….. maka, ku rubah posisi, tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya , kubalik posisi hingga Mei kini diatasku, kini aku punya ‘mainan’ tambahan’, buah dada yang bergoyang dan menggayut diatasku dengan leluasa kuremas…, sesekali putingnya kuhisap…, disisi lain istriku juga jadi lebih leluasa ‘menggarap’ kemaluan ku yang sedang menyatu dalam vagina sahabatnya itu.
Mei mulai bergerak teratur….mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki laki membuatnya tidak tahan terlalu lama…..ia naik turun diatasku dengan teratur…semakin lama semakin cepat..kemaluannya mulai menghangat…dan aku ‘membantunya’ dengan menghisap puting susunya…..dan akhirnya dengan satu teriakan tertahan ia melemparkan kepalanya kebelakang..mencengkeram pundaku dan mendesah lirih…”Ah…ssss…………….hhh…………. …..ah……..aduh…..keluar………..” lalu ia ambruk diatas dadaku.

Kucium bibirnya dan dengan perlahan ia kurebahkan kesamping…, sesungguhnya aku yakin kalau kuteruskan sedikit lagi ia masih bisa menggapai satu klimax lagi walau tidak sedahsyat yang barusan..namun aku juga tahu kalau istriku sudah menanti..

Kusuruh Yani menungging dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah kuyup dangan lendir Mei menerobos memasuki lubang vagina istriku..yang juga sudah basah….
Kami sudah mengenal satu dengan lain sangat baik….maka irama yang berkembang sudah dalam kontrol kami dan karena desakan di bijiku sudah sedemikian mendesak…kuberi tanda pada Yani untuk meningkatkan ‘speed’ dan akhirnya…srrrrt…..creeet……….air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku sementara istriku juga mencapai klimax pada saat yang sama dan mendesah desah keras.
Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang, ganti berganti kedua wanita itu mencium bibirku dan tangan mereka mengelus serta mengusap ngusap kemaluanku yang masih basah itu…, namun juga masih susut.
“ gimana mei, enak masturbasi apa yang nyata” Tanya yani
“ enak banget yan, belum pernah sepuas ini, ngak takut kalau aku ketagihan suamimu” kata mei
” gimana pa.. mei” tanya istriku
” kaya perawan memek mei sempit banget” kataku

Belum terlalu rasanya beristirahat Mei sudah mulai memainkan kembali mulutnya di selangkanganku sementara Yani berjongkok diatas wajahku dan lidahku langsung saja menerobos masuk ke lubang vaginanya……, vagina istriku walau sudah sering kunikmati namun tetap terawat dan terasa nikmat… juga klitorisnya masih tetap mungil kemerahan….sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum berbalik… kini kembali aku diatas Mei yang dengan melebarkan kakinya menerima kemaluanku dan Yani memelukku dari belakang menjilati leher dan belakang telingaku..kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku….

Aku menggenjot Mei yang terlentang dibawah tubuhku dengan teratur dan pada irama yang tetap, bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas…istriku mengelus dan mengusap usap bijiku yang memberikan sensasi nikmat dan seperti tadi…………Mei yang masih haus itu kembali mencapai klimax duluan…..”Mas……….ah…….cepet….cepet.. .aduh…………enaaaak..hhh………” dan setelah seluruh tubuhnya menegang ia tergolek lemas, aku berhenti sebentar tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut denyut itu…….dan semenit kemudian mulai lagi kugerakan maju mundur secara teratur….”waw……….geli….ah……..aduhh.. …………” Mei merintih dan mendesah….namun aku meneruskan gerakanku dengan cepat mengejar ejakulasi kedua yang ingin kugapai…dan “Aduh…….keluar…lagi……ah……” dan istriku juga semakin giat mengusap dan meremas bijiku dan ketika aku merasa tak tahan lagi……kucabut kemaluanku dari vagina Mei dan istriku segera membuka mulutnya menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.

Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya menembakan air maniku dalam mulut Yani yang tanpa ragu langsung menelannya.,
Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya namun bukan berarti berhenti karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.
Sekali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat ‘bangkit’ kembali…. dan setengah jam lebih dikocok dalam vagina Yani untuk kemudian melepaskan isinya yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal ‘belum sempat diisi’ air maniku
Entah jam berapa Mei kembali ke kamarnya karena saat aku berada dalam pelukannya dengan wajahku terbenam diantara buah dadanya…aku terlelap.

Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istriku…sambil berbisik ”Mei bilang terima kasih, punya papa jauh lebih enak dari mantannya dulu katanya..” aku hanya tersenyum karena benar benar merasa ‘habis…..’, terkuras energi dan air maniku….,

Pagi hari kita sarapan bersama, seolah –olah tidak terjadi apa-apa semalam. Kata istriku hari ini dia diajak kepantai bareng saudaraku, anak-anak menyambutnya penuh ceria, aku bilang pengin istirahat. Mei pamit pulang karena harus masuk kerja. Istriku dan anak-anak sudah berangkat ke Jogja mungkin sampai malam karena mau ke malioboro. Aku langsung tidur sampai jam 11 aku mandi lagi biar seger. Selesai mandi ada yang ngetuk pintu. Ketengok ternyata mei…. ngapain dia kembali ?


Selingkuh tak tertahankan

Ana meletakkan bayinya di atas boks, lalu dia sendiri rebah di atas sofa di ruang tengah, merasa agak sedikit kelelahan. Suaminya, Roy, bilang padanya kalau ada seorang sahabat lamanya yang akan datang dan menginap di akhir pekan ini, jadi disamping mengurus bayinya, dia mempunyai sebuah pekerjaan tambahan lagi, menyiapkan kamar tamu untuk menyambut tamu suaminya itu. Pikirannya melayang pada sang tamu, sahabat suaminya yang akan datang nanti, Jodi.

Jodi adalah sahabat lama suaminya saat kuliah dulu. Dia cukup akrab dengan mereka. Ana sudah cukup mengenal Jodi, lebih dari cukup untuk menyadari bahwa hatinya selalu berdesir bila bertatapan mata dengannya. Sebuah perasaan yang tumbuh semakin besar yang tak seharusnya ada dalam hatinya yang sudah terikat janji dengan Roy waktu itu. Dan perasaan itu tetap hidup di dasar hatinya hingga mereka berpisah, Ana akhirnya menikah dengan Roy dan sekarang mereka mempunyai seorang bayi pria.

Ada sedikit pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya. Di satu sisi meskipun dia dan suaminya saling menjunjung tinggi kepercayaan dan berpikiran terbuka, tapi dia tetap merasa sebagai seorang istri yang wajib menjaga kesucian perkawinan mereka dan kesetiaannya pada sang suami. Tapi di sisi lain Ana tak bisa pungkiri bahwa ada rasa yang lain tumbuh di hatinya terhadap Jodi hingga saat ini. Seorang pria menarik berumur sekitar tiga puluhan, berpenampilan rapi, dan matanya yang tajam selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat bertemu mata. Sosoknya yang tinggi tegap membuatnya sangat menawan.

Ana seorang wanita ayu yang bisa dikatakan sedikit pemalu dan selalu berpegang teguh pada sebuah ikatan. Dan dia tak kehilangan bentuk asli tubuhnya setelah melahirkan. Mungil, payudara yang jadi sedikit lebih besar karena menyusui dan sepasang pantat yang menggoda. Rambutnya lurus panjang dengan mata indah yang dapat melumerkan kokohnya batu karang. Semua yang ada pada dirinya membuat dia mempunyai daya tarik seksual terhadap lawan jenisnya meskipun dia tak pernah menunjukkannya.

Ah… seandainya saja dia mengaenal Jodi jauh sebelum suaminya datang dalam kehidupannya!

Ana pejamkan matanya mencoba meredam pergolakan dalam hatinya dan hati kecilnya menuntun tangannya bergerak ke bawah tubuhnya. Vaginanya terasa bergetar akibat membayangkannya dan saat dia menyentuh dirinya sendiri yang masih terhalang celana jeansnya, sebuah ombak kenikmatan menerpa tubuhnya. Jemarinya yang lentik bergerak cepat melepas kancing celananya lalu menurunkan resleitingnya.

Tangannya menyelinap di balik celana dalam katunnya yang berwarna putih, melewati rambut kemaluannya hingga sampai pada gundukan daging hangatnya. Nafasnya terasa terhenti sejenak saat jarinya menyentuh kelentitnya yang sudah basah, membuat sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang sangat kuat.

Dia terdiam beberapa waktu. Roy pulang 2 jam lagi, dan Jodi juga datang kira-kira dalam waktu yang sama. Kenapa tidak? Dia tak bisa mencegah dorongan hati kecilnya. Toh dia tak menghianati suaminya secara lahiriah, hanya sekedar untuk memuaskan dirinya sendiri dan 2 jam lebih dari cukup, sisi lain hatinya mencoba beralasan membenarkan kobaran gairahnya yang semakin membesar dalam dadanya.

Ana menurunkan celana jeansnya dan mengeluarkan kakinya satu persatu dari himpitan kain celana jeansnya. Melepaskan celana dalamnya juga, lalu dia kembali rebah di atas sofa. Dari pinggang ke bawah telanjang, kakinya terbuka. Pejamkan matanya lagi dan tangannya kembali bergerak ke bawah, menuju ke pangkal pahanya, membuat dirinya merasa se nyaman yang dia inginkan.

Dia nikmati waktunya, menikmati setiap detiknya. Dia membayangkan Jodi sedang memuaskannya, deru nafasnya semakin cepat. Ana tak pernah berselingkuh selama ini, membayangkan dengan pria lain selain Roy saja belum pernah, semua fantasinya hanya berisikan suaminya. Tapi sekarang ada sesuatu dari pria ini yang menyeretnya ke dalam fantasi barunya.

“Ups! Maaf!” terdengar sebuah suara. Matanya langsung terbuka, dan dia tercekat. Dia melihat bayangan seorang pria menghilang di sudut ruangan. Dia baru sadar kalau dia sudah melakukan masturbasi selama lebih dari 10 menit, dan dia benar-benar tenggelam dalam alam imajinasinya hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumah. Dan dia sadar kalau bayangan pria itu adalah Jodi, dengan terburu-buru dia mengambil pakaiannya dan segera memakainya lagi.

“Mafkan aku Ana,” kata Jodi, “Nggak ada yang menjawab ketukanku dan pintunya terbuka.” dia berada di sudut ruangan jauh dari pandangan, tapi dia sudah melihat banyak! Pemandangan yang disaksikannya saat dia memasuki ruangan ini membakar pikirannya. Istri sahabatnya berbaring dengan kaki terpentang lebar di atas sofa itu, tangannya bergerak berputar pada kelentitnya. Pahanya yang lembut dan kencang tebuka lebar, rambut kemaluannya yang hitam mengelilingi bibir vaginanya. Penisnya mengeras dengan cepat dalam celana jeansnya.

“Nggak apa-apa,” jawab Ana dari ruang keluarga, “Kamu boleh masuk sekarang.” dia sudah berpakaian lengkap sekarang, dan dia berbaring di atas sofa, menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangannya. “Aku sangat malu.” katanya kemudian.

“Ah, kita semua pernah melakukannya, Ana!” jawab Jodi. Dia berdiri tepat di samping Ana, seperti ingin agar Ana dapat melihat seberapa ‘kerasnya’ dia. Dia tak dapat mencegahnya, wanita ini sangat menggoda. Dia merasa kalau dia ingin agar wanita ini bergerak padanya!!!

“Tetap saja memalukan!” katanya, menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Vaginanya berdenyut sangat hebat, dia hampir saja mendapatkan orgasme tadi! Sebuah desiran yang lain terasa saat dia melihat tonjolan menggelembung pada bagian depan celana Jodi. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya, tapi masih saja pria ini memergokinya. Sekarang Jodi menjadi lebih terbakar lagi, ini lebih dari cukup.

“Nggak ada yang harus kamu permalukan, setidaknya itu pendapatku setelah apa yang sudah aku lihat tadi!” katanya tenang. Ana menatapnya penuh dengan tanda tanya. “Aku jadi benar-benar terangsang melihatmu seperti itu,” dia menjelaskan, “Sebuah perasaan yang belum pernah ku alami sebelumnya.” kata-katanya, adalah kenyataan bahwa dia sangat menginginkannya, membuat Ana semakin basah. Dia menyadari betapa istri sahabatnya ini ‘tertarik’ akan perkataannya tersebut dan Jodi memutuskan untuk lebih menekannya lagi.

“Lihat akibatnya padaku!” katanya, tangannya bergerak mengelus tonjolan pada bagian depan celananya. Ini masih dalam batas yang bisa dikatakan ‘wajar’, belum ada batas yang dilanggar. Saat Jodi melihat ‘noda’ basahnya di atas permukaan sofa itu dan mata Ana yang tak berpaling dari seputar pinggangnya, Jodi memutuskan akan melanggar batas tersebut.

Ana hanya melihat dengan diam saat sahabat suaminya ini membuka kancing dan menurunkan resleiting celananya. Ana tak bisa mengingkari bahwa dia menjadi lebih terangsang, dan dia tak menemukan kata yang tepat untuk mencegah pria ini.

Dan saat dia menyaksikan pria di depannya ini memasukkan tangannya dalam celana dalamnya sendiri, vaginanya terasa semakin basah. Jodi mengeluarkan penis kedua dalam hidup Ana yang dilihatnya secara nyata, disamping penis para bintang film porno yang pernah dilihatnya bersama suaminya dulu.

Nafas Ana tercekat, matanya terkunci memandangi penis dihadapannya. Dia belum melihat keseluruhannya, dan ini benar-benar sangat berbeda dengan milik suaminya. Tapi ternyata ‘perbedaan’ itulah yang semakin membakar nafsunya semakin lapar.
“Suka apa yang kamu lihat?” tanyanya pelan. Ana mengangguk, memberanikan diri memandang ke atas pada mata Jodi sebelum melihat kembali pada penisnya yang keras. Jodi mengumpat betapa beruntungnya sahabatnya. Dia ucapkan sebuah kata.

“Sentuhlah!”

Ragu-ragu, dengan hati berdebar kencang, Ana pelan-pelan menyentuh dengan tangannya yang kecil dan melingkari penis pria di depannya ini dengan jarinya. Penis pertama yang dia pegang dengan tangannya, selain milik suaminya, dalam enam tahun belakangan. Perasaan dan emosi yang bergolak di dadanya terasa menegangkan, dan dia inginkan lebih lagi. Jodi melihat penisnya dalam genggaman tangan istri sahabatnya yang kecil, dan dia hanya melihat saat Ana pelan-pelan mulai mengocokkan tangannya.

Terasa sangat panas dan keras dalam genggaman tangannya, dan Ana tak dapat hentikan tangannya membelai kulitnya yang lembut dan berurat besar itu. Jodi bergerak mendekat dan membuat batang penisnya menjadi hanya beberapa inchi saja dari wajah Ana.

Jodi menyentuh tubuh Ana, tangannya meremas pahanya yang masih terbungkus celana jeans. Tanpa sadar Ana membuka kakinya sendiri melebar untuknya, dan tangan Jodi bergerak semakin dalam ke celah paha Ana. Terasa desiran kuat keluar dari vaginanya saat tangan Jodi mulai mengelusi dari luar celana jeansnya, Ana menggelinjang dan meremas penisnya semakin kencang.

Dengan tangannya yang masih bebas, dipegangnya belakang kepala Ana dan mendorongnya semakin mendekat. Ana tak berusaha berontak. Matanya masih terpaku pada penis Jodi, dia menunduk ke depan dan dengan lembut mencium ujung kepalanya. Lidahnya terjulur keluar dan Ana kemudian mulai menjilat dari pangkal hingga ujung penis barunya tersebut.

Sekarang giliran Jodi, tangannya bergerak melucuti pakaian Ana. Ana yang sedang asik dengan batang keras dalam genggaman tangannya tak menghiraukan apa yang dilakukan Jodi. Diciumnya kepala penis Jodi, menggodanya seperti yang disukai suaminya (hanya itulah seputar referensi yang dimilikinya).

Tangan Jodi menyelinap dalam celana dalam Ana, tangannya meluncur melewati rambut kemaluannya. Ana melenguh pelan saat tangan Jodi menyentuh kelentitnya. Dia membuka lebar mulutnya dan memasukkan mainan barunya tersebut ke dalam mulutnya, lidahnya berputar pelan melingkari kepala penis dalam mulutnya. Jodi mengerang, merasakan kehangatan yang membungkus kejantanannya. Dia menatapnya dan melihat batang penisnya menghilang dalam mulut Ana, bibirnya mencengkeram erat di sekelilingnya dan matanya terpejam rapat.

Jodi menjalankan jarinya pada kelentit Ana, menggoda tombol kecilnya, mulut Ana tak bisa bebas mengerang saat tersumpal batang penis Jodi. Dorongan gairah yang hebat membuat Ana semakin bernafsu mengulum naik turun batang penis Jodi. Pinggulnya dengan reflek bergerak memutar merespon tarian jari Jodi pada kelentit sensitifnya.

Jari Jodi mengeksplorasi lubang hangatnya Ana, membuat lenguhannya semakin sering terdengar dalam bunyi yang aneh karena dia tak juga mau melepaskan mulutnya dari batang penis Jodi. Ana tak lagi memikirkan apa yang dia perbuat, dia hanya mengikuti nalurinya. Ini benar-benar lain dengan dia dalam keseharian, sesuatu yang akan membuat suaminya mati berdiri bila dia melihatnya saat ini. Semuanya meledak begitu saja. Sesuatu yang dimiliki pria ini yang membuka pintu dari sisi lain dirinya dan Jodi sangat menikmati perbuatannya. Masing-masing masih tetap asik dengan kemaluan pasangannya. Dan Ana menginginkan lebih dari ini. Mereka berdua menginginkan lebih dari sekedar begini.

Ana menelan seluruh batang penis Jodi, menahannya di dalam mulutnya untuk memenuhi kehausan gairahnya sendiri. Hidungnya sampai menyentuh rambut kemaluan Jodi, ujung kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokannya, hampir membuatnya tersedak.

Jodi mengeluarkan tangannya dari balik celana dalam Ana yang membuatnya sedikit kecewa, ada sesuatu yang terasa hilang. Diraihnya tepian celana jeans Ana dan dengan cepat Ana mengangkat sedikit pantatnya dari atas sofa, yang mau tak mau membuatnya melepaskan batang penis itu dari mulutnya, dan mempermudah sahabat suaminya ini melepaskan celananya dari kakinya yang halus.

Nafasnya tercekat, dada terasa berat saat dia melihat Jodi menarik celana dalamnya. Dengan sedikit memaksa dia menurunkannya melewati kakinya dan Ana menendangnya menjauh dari kakinya sendiri. Membantu Jodi menelanjangi tubuh bawahnya. Jodi sekarang berlutut di lantai dan menatap takjub pada segitiga menawan dari rambut kemaluan Ana.

Dia menyentuh vagina Ana dengan tangan kirinya, menjalankan jari tengahnya pada kelentitnya sambil tangan yang satunya menggenggam batang penisnya sendiri.

Ana mendesah pelan, pinggulnya bergetar. Matanya terpejam rapat, dia sangat meresapi rasa yang diberikan selangkangannya. Jodi mengoleskan kepala penisnya pada pipi dan hidung Ana. Saat sampai di mulutnya, Ana membuka mulutnya segera dan Jodi langsung mendorong penisnya masuk.

Tangannya yang kecil menggenggam buah zakarnya dan Ana membuka matanya perlahan saat dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun pada batang penisnya. Jodi semakin melesakkan jarinya ke dalam vagina Ana, membuat Ana memejamkan matanya lagi, mengerang. Vaginanya terasa sangat basah! Jarinya bergerak di seluruh rongga lubang itu, bergerak keluar masuk saat ibu jarinya mengerjai kelentit Ana.

Kini, celana jeans dan celana dalam Jodi sudah jatuh merosot di atas lantai, Jodi menarik penisnya keluar dari mulut Ana dan langsung menendang pakaian bawahnya menjauh. Dia menunduk, tangannya bergerak ke bawah bongkahan pantat Ana, mengangkatnya dari atas sofa agar bagian bawah tubuh istri sahabatnya ini lebih terekspose ke atas. Ana meraih penisnya dan segera memasukkannya kembali ke dalam mulutnya. Jodi mendekatkan kepalanya pada daging nikmat Ana.

Masih tetap menahan pantat Ana ke atas, mulutnya mencium bibir vagina Ana, mencicipi rasa dari istri sahabatnya untuk pertama kalinya. Mulut Ana langsung mengerang merespon, sejenak menikmati sensasi yang diberikan Jodi sebelum kembali meneruskan ‘pekerjaan’ mulutnya. Lidah Jodi melata pada dinding bagian dalam dari vagina Ana, menjilati sari buah gairah yang dikeluarkannya.

Ana merasa bibir Jodi menjepit tombol sensitifnya dan lidahnya bergerak pelan pada sasarannya. Erangan semakin tak terkendali lepas dari mulutnya akibat perlakuan Jodi kali ini. Batang penisnya terlepas keluar dari cengkeraman mulut Ana. Jodi semakin menaikkan pantat Ana, menekan vagina Ana pada wajahnya dan lidahnya semakin bergerak menggila.

Jantung Ana serasa mau meledak, nafasnya terasa berat… sangat dekat…

Jantungnya berhenti berdenyut, orgasmenya datang. Pinggulnya mengejat di wajah Jodi dengan liar. Ana merasa jiwanya melayang entah kemana! Pria ini memberinya sebuah oral seks terhebat yang pernah didapatkan dalam hidupnya!

Akhirnya, Ana kembali ke bumi. Jodi melepaskan pantatnya, mengangkat kepalanya dari selangkangan Ana. Batang penisnya terasa sangat keras, dan nafasnya terdengar memburu tak beraturan. Ana pikir dia tak mungkin dapat menghentikan pria ini sekarang meskipun dia menginginkannya. Jodi naik ke atas sofa, menempatkan dirinya diantara paha Ana, yang tetap Ana biarkan terbentang lebar hanya untuknya.

Terlintas dalam pikirannya jika dia tetap meneruskan ini terjadi, milik Jodi adalah penis kedua yang akan memasuki tubuhnya dalam hidupnya. Sedikit gelembung rasa bersalah melayang dalam benaknya. Yang dengan cepat meletus menguap saat ujung kepala penis Jodi menyentuh bibir vaginanya, membuat sekujur tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.

Dengan perlahan Jodi memasukkan penisnya menembus ke dalam tubuh Ana. Pada pertengahan perjalanannya dia menghentikan sejenak gerakannya, menikmati gigitan bibir vagina Ana pada batang penisnya dan tiba-tiba dia menghentakkan kedalam dengan satu tusukan. Dinding vaginanya terbuka menyambutnya, dan pelan-pelan Ana dapat merasakan dirinya menerima sesuatu yang lain memasuki tubuhnya kini. Tubuhnya merinding, perasaan menakjubkan ini merenggut nalarnya.

Jodi mengeluarkan separuh dari batang penisnya dan menghujamkannya kembali seluruhnya ke dalam vagina Ana.

Erangan keduanya terdengar saling bersahutan dan Jodi menahan penisnya sejenak di dalam vagina Ana, meresapi sensasinya. Manahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya, dia menatap ke bawah pada istri sahabatnya ini sambil menggerakkan penisnya keluar masuk dalam vagina Ana dengan gerakan lambat.

Ana pejamkan matanya, mendesah lirih saat dia rasakan kejantanan Jodi keluar masuk dalam tubuhnya. Jodi melihat batang penisnya menghilang lalu muncul kembali dalam daging hangat basah milik Ana lagi dan lagi, dan gerakannya perlahan semakin cepat. Nafas keduanya semakin berat, Jodi bergerak semakin cepat, Ana menggelinjang, mengerang, kakinya terangkat keatas.

Kedua kakinya akhirnya jatuh dibelakang pantat Jodi yang mengayun keluar masuk. Tubuh Jodi menindih tubuh kecil wanita di bawahnya saat dia mengocok vaginanya semakin keras. Dia menciumi leher Ana, dan menghisap lubang telinganya dengan mulutnya, erangan keduanya terdengar mengiringi setiap gerakan tubuh mereka.

Lengan Ana melingkari tubuh Jodi, kukunya tertancap pada punggung Jodi saat kakinya terayun-ayun oleh gerakan pantat Jodi. Mulut Ana menyusuri leher Jodi, mencari bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, mereka berciuman untuk pertama kalinya. Lidah Ana merangsak masuk ke dalam mulut Jodi mengiringi batang penisnya yang menggenjot tubuhnya berulang-ulang. Bibir keduanya saling melumat, saling mengerang dalam mulut masing-masing di atas sofa di ruang tengah itu. Sofa itu sedikit berderit akibat gerakan Jodi yang bertambah liar.

Ana dapat merasakan orgasmenya mulai tumbuh, dan dia menghentikan ciumannya, tak mampu menahan erangannya lagi. Mulut mungilnya mengeluarkan erangan yang sangat keras dan semakin keras saat penis keras Jodi semakin melebarkan vaginanya dan Jodi memasukinya bertambah dalam.

Seorang pria baru! Ana tak pernah melakukannya dengan pria lain selain Roy sebelumnya dan pria baru ini melakukannya dengan sangat hebat! Semuanya terasa bergerak cepat. Orgasmenya meledak, Ana mencoba menahan erangannya dengan menggigit bibir bawahnya. Dinding-dinding vaginanya berkontraksi mencengkeram batang penis pria baru ini dengan kuat, dan Ana menghentakkan pinggulnya keatas berlawanan dengan gerakan Jodi di atas tubuhnya, berusaha agar batang penis Jodi tenggelam semakin dalam pada tubuhnya saat ombak orgasme mengambil alih kesadarannya.

Jodi memandangi Ana saat dia dilanda orgasme, masih tetap mengocok penisnya dengan kecepatan yang dia mampu. Dia tak menyangka wanita pemalu dan pendiam ini akan begitu mudah ditaklukannya! Dia merasakan miliknya juga segera tiba, gerakannya semakin dipercepat.
Dalam beberapa tusukan kemudian, dan lalu meledaklah. Sejenak setelah orgasme Ana mereda, orgasme Jodi datang.

Tusukan terakhirnya membuat penisnya terkubur semakin jauh dalam vagina Ana. Dia menggeram, penisnya berdenyut hebat. Semburan demi semburan yang kuat keluar dari ujung penisnya mendarat dalam rahim Ana seakan tanpa jeda.

Ana menggoyangkan pantatnya naik ke atas, memeras semua sperma dari penis Jodi. Jodi tak bisa menahan tubuhnya lebih lama, dia jatuh menindih tubuh Ana di bawahnya, mencoba bernafas dengan susah payah.

Tangan Ana membelai punggung Jodi saat sperma terakhirnya keluar dari penisnya menyirami vaginanya. Keduanya masih berusaha untuk mengatur nafas. Kedua bibir mereka merapat, berciuman dengan lembut. Lidahnya menggelitik rongga mulut Ana dan ciuman mereka berubah menjadi liar saat penis Jodi mulai mengecil dalam vagina Ana. Tangan dan paha Ana mencengkeramnya erat, menahannya agar tetap berada dalam tubuhnya.

Dia mendapatkan pengalaman lain dengan pria ini. Pria kedua yang bercinta dengannya dalam 29 tahun usianya. Akhirnya mereka hentikan ciumannya. Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi dari vagina Ana. Keduanya mengenakan pakaiannya masing-masing tanpa saling berkata-kata. Ana terlalu malu untuk mengucapkan sesuatu dan Jodi tak tahu harus berkata apa.

********

Roy pulang 30 menit kemudian – dia pulang lebih awal, tapi tak lebih awal (beruntunglah mereka). Ketiganya lalu makan malam, dan Ana tak dapat menyingkirkan pikirannya dari bayangan Jodi sepanjang waktu itu.

Roy dan Jodi kemudian sibuk dengan urusan pria yang tak begitu dimengerti oleh Ana. Dan malam berikutnya, mereka berdua duduk di meja makan bersama Ana. Para pria sedang bermain catur. Ana menghabiskan sepanjang harinya mengasuh bayi mereka. Kapanpun saat dia sedang sendiri, dia tak mampu hentikan dirinya memikirkan pengalamannya bersama Jodi kemarin. Dia merasa gairahnya menyala-nyala sepanjang hari itu, dan dia mempunyai beberapa menit untuk memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri.

Saat menuangkan minuman pada suaminya dan Jodi malam itu, dia sangat bergairah, dan sangat basah. Setiap kali dia melirik Jodi, ada desiran halus pada vaginanya. Sekarang dia telah mencoba seorang pria lain, dan dia merasa ketagihan!

Jodi tak jauh beda. Dia bermasturbasi mebayangkan istri sahabatnya ini kemarin malam, sebelum tidur. Bayangan tubuh telanjangnya memenuhi benaknya sepanjang hari. Saat Roy pergi ke kamar mandi, Jodi beringsut mendekati Ana.

“Apa kamu menikmati waktu kita kemarin?” tanyanya berbisik.

“Ya.” Ana tersenyum manis. Sifatnya yang malu-malu membuat birahi Jodi terbakar.

“Apa kamu menginginkannya sekarang?” dia bertanya memastikan. Penisnya sudak mengeras sekarang. Ana terkejut dengan pertanyaannya yang sangat berani itu, malu-malu, lalu mengangguk.

Jodi memutuskan akan sedikit menggodanya. Membuat Ana semakin menginginkannya agar kesempatan mendapatkannya lagi semakin terbuka lebar. Dia menurunkan resleiting celananya dan melepaskan kancingnya, tangannya masuk ke dalam pakaian dalamnya. Dia mengeluarkan penisnya, yang sudah ereksi penuh. Nafas Ana tercekat di tenggorokan, denyutan di vaginanya memberinya sebuah sensasi. Batang penis itu berada dalam tubuhnya kemarin. Dia menginginkannya lagi sekarang.

Mereka mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Jodi segara memasukkan penisnya kembali ke dalam celananya. Roy masuk ke dalam ruangan, tak mengira sahabatnya baru saja memperlihatkan penisnya yang ereksi pada istrinya.

Tak lama berselang, entah kenapa dewa kemujuran selalu berpihak pada mereka, Roy lagi-lagi mau ke kamar mandi. Saat dia berdiri dan bergegas ke kamar mandi, vagina istrinya berdenyut membutuhkan penis Jodi. Begitu Roy menghilang dari pandangan keduanya, Jodi langsung bangkit dari kursinya. Mata Ana berbinar terfokus pada tonjolan di celana Jodi saat mereka mendengar pintu kamar mandi ditutup.

Dia langsung menurunkan resleitingnya, dan mengeluarkan batang penisnya. Dengan cekatan Jodi mengocok penisnya sampai ereksi penuh, sangat dekat di wajah Ana. Jodi berdiri dei depan Ana, dan Ana langsung berlutut di hadapan sahabat suaminya.

Kepala penisnya menyentuh kulit pipinya, dan perlahan bergerak ke mulutnya. Saat Jodi merasa bibir lembut Ana menyentuh ujung kepala penisnya, dia merasa mulut itu membuka.

Segera saja kepala penis itu lenyap ke dalam mulut Ana, dan Jodi melihat bibir itu bergerak membungkus seluruh batang penisnya. Tangannya membelai rambut panjang Ana dengan lembut, menahan kepalanya saat seluruh bagian batang penisnya lenyap dalam mulut Ana.
Kepalanya segera bergerak maju mundur pada batang penis itu, suara basah dari hisapan mulutnya segera terdengar.

Kembali, mereka mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Jodi mengeluarkan penisnya dari mulut Ana dengan cepat. Agak kesulitan dia memasukkan penisnya kembali dalam celananya dan segera duduk kembali di kursinya, menutupi perbuatan mereka. Roy duduk dan memberi Ana ciuman kecil, tak tahu kalau istrinya baru saja mendapatkan sebuah batang penis yang lain dalam mulutnya.

Mereka kembali mendapatkan kesempatan sekali lagi di malam itu, dan mereka berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin. Bayi mereka menangis di lantai atas, Roy berinisiatif untuk pergi melihatnya. Ana lebih dari senang mengijinkannya. Dia sangat menginginkan penis itu, tapi dia tak mampu berbuat apa-apa. Meskipun mendapatkannya di dalam mulutnya tak mampu meredakan gairahnya.

Mereka dapat mendengar bunyi langkah kaki Roy yang menaiki tangga, dan Ana langsung berdiri. Dia tak pernah se agresif ini! Tapi ke’hausannya’ akan penis itu mampu merubah tabiatnya. Hanya sekedar untuk segera melihatnya lagi! Dia langsung berlutut di antara paha Jodi, dan Jodi segera membukanya untuknya…

Tangan mungilnya dengan cekatan melepaskan kancing dan resleitingnya, dan dia langsung membukanya dalam sekejap. Ana meraih ke dalam celana dalam Jodi dan mengeluarkan penis kerasnya. Vaginanya langsung basah hanya dengan memandangnya saja. Tangannya yang kecil mengocoknya, saat lidahnya menjilati dari pangkal batang penis Jodi hingga ke ujung.

Sekali lagi, dia kembali memasukkannya ke dalam mulutnya. Menghisapnya dengan rakus hingga mengeluarkan bunyi, tak menghiraukan resiko kepergok suaminya. Jodi mendengarkan dengan seksama gerakan dari lantai atas, memastikan Roy tidak turun ke bawah.

Jodi menatapnya. Bibirnya membungkus batang penisnya dengan erat, kepala penisnya tampak bekilatan basah terkena lampu ruangan ini saat itu keluar dari mulutnya, mata Ana terpejam menikmati. Dia ternyata begitu pintar memberikan blow job! Jodi sangat ingin menyetubuhi wanita ini, meskipun hanya sesaat.

Gairahnya sudah tak terbendung lagi, dan dia memegang pipi Ana, batang penisnya keluar dari mulutnya. Jodi berdiri, penisnya mengacung tegang, dan Ana berdiri bersamaan, memandangnya dengan api gairah yang sama. Jodi menciumnya, lembut, melumat bibirnya. Dia menciumnya lagi, dan lidah mereka saling melilit. Lalu ciuman itu berakhir. Jodi memutar tubuh Ana membelakanginya. Ana merasakan tangan Jodi berada pada vaginanya, berusaha melepaskan kancing celananya.

“Jangan…” desahan lirih keluar dari mulutnya. Dia tak tahu kenapa kata itu keluar dari mulutnya saat dia ingin mengucapkan kata ‘ya’. Celananya jatuh hingga lututnya, memperlihatkan pantatnya yang dibungkus dengan celana dalam katun berwarna putih. Jodi merenggut kain itu dan langsung menyentakkannya ke bawah, membuat pantat Ana terpampang bebas di hadapannya. Jodi masih dapat mendengar suara gerakan di lantai atas jadi dia tahu dia aman untuk beberapa saat, dia hanya perlu memasukkan penisnya ke dalam vaginanya, walaupun untuk se detik saja!

Nafas keduanya memburu, dan Ana sedikit menundukkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu pada meja makan, membuka lebar kakinya. Jodi jauh lebih tinggi darinya, penisnya berada jauh di atas bongkahan pantatnya. Dia sedikit menekuk lututnya agar posisinya tepat. Dia semakin menekuk lututnya, sangat tidak nyaman, tapi dia sadar kalau dia terlalu tinggi untuk Ana. Dia tahu dia akan merasa kesulitan dalam posisi ini, tapi hasratnya semakin mendesak agar terpenuhi segera.

Dia menggerakkan pinggulnya ke depan, ujung kepala penisnya menyentuh bibir vaginanya. Ana sudah teramat basah! Dan itu semakin mengobarkan api gairah Jodi. Saat bibir vagina Ana sedikit mencengkeram ujung kepala penisnya, Jodi tahu jalan masuknya sudah tepat. Dia mendorong ke depan. Ana menghisapnya masuk ke dalam, separuh dari penisnya masuk ke dalam dengan cepat.

Ana mendesah, merasa Jodi memasukinya. Jodi mencengkeram pantat Ana dan memaksa memasukkan penisnya semakin ke dalam. Batang penisnya sudah seluruhnya terkubur ke dalam cengkeraman hangatnya. Jodi mulai menyetubuhinya dari belakang, menarik penisnya separuh sebelum mendorongnya masuk kembali, lagi dan lagi. Serasa berada di surga bagi mereka berdua. Jodi berada di dalam vaginanya hanya beberapa detik, tapi bagi keduanya itu sudah dapat meredakan gelora api gairah yang membakar.

Tiba-tiba Jodi mendengar gerakan dari lantai atas. Ana tak menghiraukannya, dia sudah tenggelam jauh dalam perasaannya. Jodi mengeluarkan penisnya dari vagina Ana. Sebenarnya Ana ingin teriak melampiaskan kekesalannya, tapi segera dia sadar akan bahaya yang mengancam mereka berdua, segera saja dia menarik celana dan celana dalamnya sekaligus ke atas. Saat Roy datang, mereka berdua sudah duduk kembali di kursinya masing-masing, gusar.

Jodi dan Ana menghabiskan sisa malam itu dengan gairah yang tergantung. Saat malam itu berakhir, Jodi segera bergegas pergi ke kamarnya dan langsung mengeluarkan penisnya. Hanya dibutuhkan 3 menit saja baginya bermasturbasi dan legalah…

Tapi bagi Ana, tidaklah semudah itu. Kamar tidurnya berada di lantai yang berlainan dengan kamar tamu yang dihuni Jodi, dan dia tak punya kesempatan untuk melakukan masturbasi. Bahkan Roy tak mencoba untuk bercinta dengannya malam itu! Seperempat jam ke depan dilaluinya dengan resah. Ana memberi beberapa menit lagi untuk suaminya sebelum dia tak mampu membendungnya lagi.

Dia turun dari tempat tidur, setelah memastikan suaminya sudah tertidur lelap. Dia mengendap-endap menuju ke kamar tamu. Malam itu dia hanya memakai kaos putih besar hingga lututnya dan celana dalam saja untuk menutupi tubuh mungilnya.

Dengan hati-hati dia membuka pintu kamar Jodi, menyelinap masuk, dan menutup perlahan pintu di belakangnya. Jodi sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Ana berdiri di samping tempat tidur, memandang pria yang tertidur itu, memutuskan bahwa dia akan melakukannya. Ini tak seperti dirinya! Dia tak pernah seagresif ini! Dia tak pernah berinisiatif! Tapi sekarang, terjadi perubahan besar.

Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Jodi, Jodi tergolek tidur di atas kasur hanya memakai celana dalamnya. Ana mencengkeram bagian pinggirnya dan dengan cepat menariknya turun hingga lututnya, membebaskan penis Jodi yang masih lemas. Dengan memandangnya Ana merasakan desiran halus pada vaginanya. Dia tak percaya Jodi tak terbangunkan oleh perbuatannya tadi! Yah, baiklah, dia tahu bagaimana cara membangunkannya.

Ana duduk di samping Jodi, dengan perlahan membuka kaki Jodi ke samping. Tangan mungilnya meraih penis Jodi yang masih lemas menuju ke mulutnya. Rambut panjangnya jatuh tergerai di sekitar pangkal paha Jodi. Jodi setengah bangun, merasa nyaman. Penisnya membesar dalam mulut Ana, dan sebelum ereksi penuh, dia akhirnya benar-benar terjaga. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi – istri sahabatnya sedang menghisap penisnya!

Dia mendesah, tangannya meraih ke bawah dan mengelus rambut panjang Ana saat dengan pasti penisnya semakin mengeras dalam mulut Ana. Merasakan penisnya yang semakin membesar dalam mulutnya membuat celana dalam Ana basah, dan dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun. Dia menghisap dengan berisik, lidahnya menjalar naik turun seperti seorang professional.

Jodi dapat mendengar bunyi yang dikeluarkan mulut Ana saat menghisap penisnya, dan dia dapat melihat bayangan tubuh Ana yang diterangi cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ana sedang memberinya blow job yang hebat. Untunglah dia bermasturbasi sebelum tidur tadi, kalau tidak pasti dia tak akan dapat bertahan lama.

Ana tak mampu menahannya lagi. Dia ingin vaginanya segera diisi. Dia sangat terangsang, dia sangat membutuhkan penis itu dalam vaginanya seharian tadi. Dikeluarkannya penis Jodi dari dalam mulutnya, dan berdiri dengan bertumpukan lututnya di atas tempat tidur itu. Tangannya menarik bagian bawah kaosnya ke atas dan menyelipkan kedua ibu jarinya di kedua sisi celana dalamnya dan mulai menurunkannya. Diangkatnya salah satu kakinya untuk melepaskan celana dalam itu dari kakinya. Kaki yang satunya lagi dan kemudian merangkak naik ke atas kasur setelah menjatuhkan celana dalamnya ke atas lantai. Nafasnya sesak, menyadari apa yang menantinya.

Diarahkannya batang penis Jodi ke atas dengan tangannya yang kecil dan bergerak ke atas Jodi, memposisikan vaginanya di atasnya. Jodi dapat merasakan bibir vagina Ana yang basah menyentuh ujung kepala penisnya saat Ana mulai menurunkan pinggulnya.

Daging dari bibir vaginanya yang basah membuka dan kepala penis Jodi menyelinap masuk. Ana mengerang lirih, tubuhnya yang disangga oleh kedua lengannya jadi agak maju ke depan. Ana semakin menekan ke bawah, membuat keseluruhan batang penis Jodi akhirnya tenggelam ke dalamnya.

Erangan Ana semakin terdengar keras. Dia merasa sangat penuh! Jodi benar-benar membukanya lebar! Ana semakin menekan pinggulnya ke bawah dan dia mulai menciumi leher Jodi, berusaha menahan Jodi di dalam tubuhnya. Bibir mereka bertemu dan saling melumat dengan bernafsu. Lidah Ana menerobos masuk ke dalam mulut Jodi, menjalar di dalam rongga mulutnya saat dia tetap menahan batang penis Jodi agar berada di dalam vaginanya.

Jodi membalas lilitan lidah Ana, tangannya bergerak masuk ke balik kaos yang dipakai Ana, bergerak ke bawah tubuhnya hingga akhirnya tangan itu mencengkeram bongkahan pantat Ana. Tangannya mengangkat pantat Ana ke atas, membuat tubuhnya naik turun di atasnya – Ana tetap tak membiarkan batang penis Jodi teangkat terlalu jauh dari vaginanya!

Tak menghiraukan keberadaan Roy yang masih terlelap tidur di kamarnya, mereka berdua berkonsentrasi terhadap satu sama lainnya. Tangan Jodi naik ke punggung Ana, menarik kaos yang dipakai Ana bersamanya. Ciuman mereka merenggang, Ana mengangkat tubuhnya, tangannya mengangkat ke atas saat Jodi melepaskan kaosnya lepas dari tubuhnya. Payudaranya terbebas. Jodi melihatnya untuk pertama kalinya. Di dalam keremangan cahaya, Jodi masih dapat menangkap keindahannya. Payudaranya yang tak begitu besar dengan putting susu yang keras menantang, dan dia menggoyangkannya dihadapan Jodi, menggodanya.

Jodi mengangkat tubuhnya, tangannya yang besar menahan punggung Ana saat dia menghisap putingnya ke dalam mulutnya. Ana menggelinjang kegelian saat lidahnya bergerak melingkari sebelah payudaranya sebelum mencium yang satunya lagi. Pada waktu yang bersamaan Jodi mengangkat pantatnya, masih berusaha agar tetap tenggelam dalam vaginanya, tapi bergerak keluar masuk dengan pelan. Tangannya meremas payudara Ana yang bebas, sedangkan mulutnya terus merangsang payudara yang satunya dengan mulutnya.

Ana memandang Jodi yang merangsang payudaranya, tangannya membelai rambut Jodi dengan lembut. Ana merasa penis Jodi bergerak keluar sedikit tapi tak lama kemudian masuk kembali ke dalam vaginanya. Dia merasa sangat nyaman, sangat berbeda di dalam tubuhnya. Dia mulai menggoyang, mengimbangi kocokan Jodi yang mulai bertambah cepat.

Jodi melepaskan mulut dan tangannya dari payudara Ana dan rebah kembali ke atas kasur. Ana mulai mengangkat pinggulnya naik ke atas hingga batang penis Jodi nyaris terlepas ke luar seluruhnya sebelum menghentakkan pinggulnya ke bawah lagi. Tangan Jodi kembali pada pantat Ana, meremasnya sambil memandangi wanita yang telah menikah ini menggoyang tubuhnya tanpa henti. Dengan tanpa bisa dibendung lagi erangan demi erangan semakin sering terdengar keluar dari mulut Ana.

Orgasme yang sangat dinantikannya seharian ini mulai terbangun dalam tubuhnya. Dengan meremas pantatnya erat, Jodi menggerakkan tubuh Ana naik turun semakin keras dan keras. Hentakan tubuh mereka saling bertemu. Nafas Ana semakin berat, Penis Jodi menyentak dalam tubuhnya berulang kali.

Dengan cepat orgasmenya semakin mendekat. Ana mempercepat kocokannya pada penis Jodi, menghentakkan bertambah cepat seiring orgasmenya yang mendesak keluar. Ana tak mampu membendungnya lebih lama lagi, pandangannya mulai menjadi gelap. Jantungnya berdegup semakin kencang, otot vaginanya berkontraksi, seluruh sendi tubuhnya bergetar saat dia keluar dengan hebatnya. Mulutnya memekik melepaskan himpitan yang menyumbat aliran nafasnya.

Melihat pemandangan itu gairah Jodi semakin memuncak, dia tak memberi kesempatan pada Ana untuk menikmati sensasi orgasmenya. Diangkatnya tubuh mungil wanita itu, dan membaringkan di sampingnya. Dia bergerak ke atas tubuh Ana dan Ana membuka pahanya melebar menyambutnya secara refleks.

Jodi memandangi kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana. Dengan pelan dia mulai masuk, dan mendorongnya masuk ke dalam lubang hangatnya. Ana mengangkat kakinya ke udara, membukanya lebar lebar untuknya. Jodi menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya.

Jodi memberinya satu dorngan yang kuat. Ana memekik, ombak kenikmatan menggulungnya saat batang keras itu memasuki tubuhnya. Jodi mulai menyetubuhinya tanpa ampun, Ana telah sangat membakar gairahnya. Jodi mengocokkan penisnya keluar masuk dalam vagina istri sahabatnya yang berada di bawah tubuhnya dengan cepat, kedua kaki Ana terayun-ayun di atas pantatnya yang menghentak.

Tempat tidur sampai bergoyang karena hentakan Jodi. Ana menggigit bibirnya untuk meredam erangannya yang semakin bertambah keras.
Jodi mulai kehilangan kontrol. Penisnya keluar masuk dalam vagina Ana sebelum akhirnya, dia menarik keluar batang penisnya dengan bunyi yang sangat basah.

Jodi mengerang, batang penisnya berdenyut hebat dalam genggaman tangannya. Sebuah tembakan yang kuat dari cairan kental putih keluar dari ujung kepala penisnya dan menghantam perut Ana, beberapa darinya bahkan sampai di payudaranya.

Ana menarik nafas, dadanya terasa sesak saat dia melihat tembakan demi tembakan sperma yang kuat keluar dari penis Jodi, dan mendarat di atas perutnya. Terasa sangat panas pada kulit perutnya, tapi semakin membakar gairahnya menyadari bahwa itu bukan semburan sperma suaminya, tapi dari seorang pria lain.

Akhirnya, sperma terakhir menetes dari penis Jodi, menetes ke atas rambut kemaluan Ana yang terbaring di depannya dengan kaki terpentang lebar. Dengan mata yang terpejam, Ana tersenyum puas.

“Aku membutuhkannya” bisiknya. Mereka terdiam beberapa saat meredakan nafas yang memburu sebelum akhirnya mulai membersihkan tubuh basah mereka. Jodi mencium dengan lembut bibir Ana yang tersenyum.

Ana memakai kaosnya dan menggenggam celana dalamnya dalam tangan, melangkah keluar dari kamar itu dengan perasaan yang sangat lega.

********

Jodi bangun di keesokan harinya. Peristiwa semalam langsung menyergap benaknya, penisnya mulai mengeras. Dikeluarkannya batang penisnya dan perlahan mulai mengocoknya.

Dia merasa sangat senang saat mendengar ada seseorang yang sedang mandi. Dimasukkannya penisnya kembali kedalam celana dalamnya, bergegas memakai celana jeansnya dan bergegas keluar kamar dengan bersemangat, turun ke lantai bawah.

Dia berharap yang sedang mandi adalah Roy dan Ana ada di lantai bawah. Dia mendengar seseorang sedang membuat kopi di dapur. Dia segera ke sana dan ternyata…

Ana masih dengan pakaian yang dikenakannya malam tadi, sebuah kaos besar hingga lutut, dan sebuah celana dalam saja di baliknya. Dia menoleh saat mendengar ada yang mendekat, dan langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Terasa ada desiran halus di vaginanya saat memandang Jodi.

Ana terkejut saat tangan Jodi melingkar di pinggangnya memeluknya erat dan mencium bibirnya. Lalu Ana sadar ada seseorang yang sedang mandi di lantai atas dan Roy lah yang sedang berada di kamar mandi itu. Bibirnya membalas lumatan Jodi dengan menggebu saat tangan Jodi menyusup ke dalam kaosnya untuk menyentuh payudaranya.

Ana melenguh di dalam mulut Jodi yang memeluknya merapat ke tubuhnya. Desiran gairah memercik dari payudaranya langsung menuju ke vaginanya, membuatnya basah. Wanita mungil itu tak berdaya dalam dekapan Jodi, tangan Ana melingkari leher Jodi.

Mereka berciuman dengan penuh gairah, lidah saling bertaut, perlahan Jodi mendorong tubuh Ana merapat ke dinding. Tangannya meremas bongkahan pantat Ana di balik kaosnya. Dan Ana sangat merasakan tonjolan pada bagian depan celana jeans Jodi yang menekan perutnya.

Ciuman Ana turun ke leher Jodi, lidahnya melata menuju putting Jodi. Ana membiarkan Jodi mengangkat tubuhnya ke atas meja, memandangnya dengan pasif saat Jodi menyingkap kaosnya hingga dadanya. Ana mengangkat kakinya bertumpu pada tepian meja, mempertontonkan celana dalam putihnya.

Vaginanya berdenyut tak terkontrol, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya. Jodi berlutut di hadapannya, dia dapat mencium aroma yang kuat dari lembah surganya saat hidungnya bergerak mendekat.

Perlahan diciumnya vagina Ana yang masih tertutupi kain itu, Ana mendesah, kenikmatan mengaliri darahnya. Untuk pertama kalinya, Ana merasa gembira saat Roy berada lama di dalam kamar mandi!

Dengan tak sabar, tangannya menuju ke pangkal pahanya. Jodi hanya menatapnya saat tangan Ana menarik celana dalamnya sendiri ke samping, memperlihatkan rambut kemaluannya, dan kemudian bibir vaginanya yang kemerahan.

Ana menatap pria yang berlutut di antara pahanya, api gairah tampak berkobar dalam matanya, menahan celana dalamnya ke samping untuknya. Jodi menatap matanya seiring bibirnya mulai mencium bibir vaginanya. Membuat lebih banyak desiran kenikmatan mengguyur tubuhnya dan dia mendesah melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya.

Lidah Jodi mulai menjilat dari bagian bawah bibir vagina Ana sampai ke bagian atasnya, mendorong kelentitnya dengan ujung lidahnya saat dia menemukannya. Diselipkannya lidahnya masuk ke dalam lubang vaginanya, mersakan bagaimana rasanya cairan gairah Ana.

Dihisapnya bibir vagina itu ke dalam mulutnya dan dia mulai menggerakkan lidahnya naik turun di sana, membuat Ana semakin basah.

Desahannya terdengar, menggoyangkan pinggulnya di wajah Jodi. Jodi melepaskan bibirnya, lidahnya bergerak ke kelentitnya. Dirangsangnya tonjolan daging sensitif itu menggunakan lidahnya dalam gerakan memutar.

Ana menaruh kakinya pada bahu Jodi, duduknya jadi tidak tenang. Tiba-tiba, Jodi menghisap kelentitnya ke dalam mulutnya, menggigitnya diantara bibirnya.

Ana memekik agak keras saat serasa ada aliran listrik yang menyentak tubuhnya. Lidah Jodi bergerak berulang-ulang pada kelentit Ana yang terjepit diantara bibirnya, tahu bahwa titik puncak Ana sudah dekat. Dilepaskannya kelentit itu dari mulutnya dan tangannya menggantikan mengerjai kelentit Ana dengan cepat.

“Oh Tuhan… ” bisiknya mendesah, merasakan orgasmenya mendekat. Jari Jodi bergerak tanpa ampun, pinggul Ana terangkat karenanya. Ana menggigit bibirnya berusaha agar suara jeritannya tak terdengar sampai kepada suaminya yang berada di kamar mandi saat orgasmenya datang dengan hebatnya. Dadanya sesak, nafasnya terhenti beberapa saat, dinding-dinding vaginanya merapat.

Kedua kakinya terpentang lebar di belakang kepala Jodi. Ana mendesah hebat, akhirnya nafasnya kembali mengisi paru-parunya mengiringi terlepasnya orgasmenya.

Jodi berdiri dan langsung mengeluarkan penisnya. Ana memandang dengan lapar pada batang penis dalam genggaman tangan Jodi. Sebelah tangan Ana masih memegangi celana dalamnya ke samping saat tangannya yang satunya lagi meraih batang penis Jodi. Tangan kecil itu menggenggamnya saat Jodi maju mendekat.

Dengan cepat Ana menggesek-gesekkannya pada bibir vaginanya yang basah, berhenti hanya saat itu sudah tepat berada di depan lubang masuknya. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama suara dari kamar mandi di lantai atas yang masih terdengar.

Jodi melihat ke bawah pada kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana.

Jodi mendorong ke depan dan menyaksikan bibir itu membuka untuknya, mengijinkannya untuk masuk. Desahan Ana segera terdengar saat dia mersa terisi. Jodi terus mendorong, vagina Ana terus menghisapnya sampai akhirnya, Jodi berada di dalamya dalam satu dorongan saja.

Ana sangat panas dan mencengkeramnya, dan Jodi membiarkan penisnya terkubur di dalam sana untuk beberapa saat, meresapi perasaan yang datang padanya. Tangan Ana masih menahan celana dalamnya ke samping, tangan yang satunya meraih kepala Jodi mendekat padanya.

Lidahnya mencari pasangannya dalam lumatan bibir yang rapat. Dengan pelan Jodi menarik penisnya. Dia mendorongnya masuk kemabali, keras, dan Ana mengerang dalam mulutnya seketika. Tubuh mereka saling merapat, kaki Ana terjuntai terayun dibelakang tubuh Jodi dalam tiap hentakan.

Roy yang masih berada di kamar mandi tak mengira di lantai bawah penis sahabatnya sedang terkubur dalam vagina istrinya.

Sementara itu Ana, sedang berada di ambang orgasmenya yang lain. Penis pria ini menyentuhnya dengan begitu berbeda! Terasa sangat nikmat saat keluar masuk dalam tubuhnya seperti itu! Dia orgasme, melenguh, melepaskan ciumannya.

Jodi mundur sedikit dan melihat batang penisnya keluar masuk dalam lubang vaginanya yang kemerahan, tangannya yang kecil menahan celana dalamnya jauh-jauh ke samping yang membuat Jodi heran karena kain itu tak robek. Dia mulai menyutubuhinya dengan keras, menyadari kalau mungkin saja dia tak mempunyai banyak waktu lagi.

Jika Roy masuk ke sudut ruangan itu, dia akan melihat ujung kaki istrinya yang terayun dibelakang pantat Jodi. Celana jeans Jodi merosot hingga mata kakinya, celana dalamnya berada di lututnya, dan pantatnya mengayun dengan kecepatan penuh diantara paha Ana yang terbuka lebar. Roy mungkin mendengar suara erangan kenikmatan istrinya.

Jodi terus mengocok, dia dapat merasakan kantung buah zakarnya mengencang dan dia tahu itu tak lama lagi. Dia menggeram, memberinya beberapa kocokan lagi sebelum dilesakkannya batang penisnya ke dalam vagina wanita bersuami itu dan menahannya di dalam sana.

Dia menggeram hebat, penisnya menyemburkan spermanya yang panas di dalam sana. Begitu banyak sperma yang tertumpah di dalam vagina Ana.

Erangan keduanya terdengar saling bersahutan untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka tersadar kalau suara dari dalam kamar mandi sudah berhenti, dan tak menyadari sudah berapa lama itu tak terdengar.

Bibir Jodi mengunci bibirnya dan mereka saling melumat untuk beberapa waktu seiring kejantanan Jodi yang melembut di dalam tubuhnya. Kemudian mereka saling merenggang dan Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi itu dari vagina Ana. Dengan cekatan dia mengenakan pakaiannya kembali. Ana membiarkan celana dalamnya seperti begitu. Dia merasa celananya menjadi semakin basah saat ada sperma Jodi yang menetes keluar dari vaginanya saat dia berdiri.

Roy turun tak lama berselang, siap untuk sarapan.


Dokter Sandra

San… hei aku jaga nich malam ini, elu jangan kirim pasien yang aneh-aneh ya, aku mau bobo, begitu pesanku ketika terdengar telepon di ujung sana diangkat.

“Udah makan belum?” suara merdu di seberang sana menyahut.

“Cie… illeee, perhatian nich”, aku menyambung dan, “Bodo ach”, lalu terdengar tuutt… tuuuttt… tuuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.

Malam ini aku dapat giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD kalau sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu.

Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tidak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus aku akui dia cukup terampil dan pandai juga, masih sangat muda sekitar 28 tahun, cantik menurutku, tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm dengan bodi sedang ideal, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang seakan memberikan kesan sabar tapi yang sering rekan sejawat jumpai yaitu ketus dan judes apalagi kalau lagi moodnya jelek sekali.

Celakanya yang sering ditunjukkan, ya seperti itu. Gara-gara itu barangkali, sampai sekarang dia masih single. Cuma dengar-dengar saja belakangan ini dia lagi punya hubungan khusus dengan dr. Anton tapi aku juga tidak pasti.

Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga aku diketuk dengan cukup keras juga.

“Siapa?” tanyaku masih agak malas untuk bangun, sepet benar nih mata.

“Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul”, suara dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya.

“Ya”, sahutku sejurus kemudian.

Sampe di UGD kulihat ada beberapa pria di dalam ruang UGD dan sayup-sayup terdengar suara rintihan halus dari ranjang periksa di ujung sana, sempat kulihat sepintas seorang pria tergeletak di sana tapi belum sempat kulihat lebih jelas ketika dr. Sandra menyongsongku,

“Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), gimana menurut elu?” demikian resume singkat yang diberikan olehnya.

“San, elu makin cantik aja”, pujiku sebelum meraih status pasien yang diberikannya padaku dan ketika aku berjalan menuju ke tempat pasien itu, sebuah cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku sehingga tidak terlalu lihat apa yang dia lakukan. Sakit juga nih.

Saat kulihat, pasien itu memang parah sekali, boleh dibilang hampir putus dan yang tertinggal cuma sedikit daging dan kulit saja.

“Dok, tolong dok… jangan dipotong”, pintanya kepadaku memelas.

Akhirnya aku panggil itu si Om gendut, bosnya barangkali dan seorang rekan kerjanya untuk mendekat dan aku berikan pengertian ke mereka semua.

“Siapa nama Bapak?” begitu aku memulai percakapan sambil melirik ke status untuk memastikan bahwa status yang kupegang memang punya pasien ini.

“Praptono”, sahutnya lemah.

“Begini Pak Prap, saya mengerti keadaan Bapak dan saya akan berusaha untuk mempertahankan jari Bapak, namun hal ini tidak mungkin dilakukan karena yang tersisa hanya sedikit daging dan kulit saja sehingga tidak ada lagi pembuluh darah yang mengalir sampai ke ujung jari. Bila saya jahit dan sambungkan, itu hanya untuk sementara mungkin sekitar 2 – 4 hari setelah itu jari ini akan membusuk dan mau tidak mau pada akhirnya harus dibuang juga, jadi dikerjakan 2 kali.

Kalau sekarang kita lakukan hanya butuh 1 kali pengerjaan dengan hasil akhir yang lebih baik, saya akan berusaha untuk seminimal mungkin membuang jaringannya dan pada penyembuhannya nanti diharapkan lebih cepat karena lukanya rapih dan tidak compang-camping seperti ini”, begitu penjelasan aku pada mereka.

Kira – kira seperempat jam kubutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka akan tindakan yang akan kita lakukan. Setelah semuanya oke, aku minta dr. Sandra untuk menyiapkan dokumennya termasuk surat persetujuan tindakan medik dan pengurusan untuk rawat inapnya, sementara aku siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster dinas di UGD.

“San, elu mau jadi operatornya?” tanyaku setelah semuanya siap.

“Ehm… aku jadi asisten elu aja deh”, jawabnya setelah terdiam sejenak.

Entah kenapa ruangan UGD ini walaupun ber-AC tetap saja aku merasa panas sehingga butir-butir keringat yang sebesar jagung bercucuran keluar terutama dari dahi dan hidung yang mengalir hingga ke leher saat aku kerja itu. Untung Sandra mengamati hal ini dan sebagai asisten dia cepat tanggap dan berulang kali dia menyeka keringatku.

Huh… aku suka sekali waktu dia menyeka keringatku, soalnya wajahku dan wajahnya begitu dekat sehingga aku juga bisa mencium wangi tubuhnya yang begitu menggoda, lebih-lebih rambutnya yang sebahu dia gelung ke atas sehingga tampak lehernya yang putih berjenjang dan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Benar-benar menggoda iman dan harapan.

Setengah jam kemudian selesai sudah tugasku, tinggal jahit untuk menutup luka yang kuserahkan pada dr. Sandra. Setelah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, terus cuci tangan di wastafel yang ada dan segera masuk ke kamar jaga UGD untuk pipis.

Ini yang membuat aku tidak tahan dari tadi ingin pipis. Daripada aku mesti lari ke bangsal bedah yang cukup jauh atau keluar UGD di ujung lorong sana juga ada toilet, lebih baik aku pilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pula rasanya lebih bersih.

Saat kubuka pintu toilet (hendak keluar toilet), “Ooopsss…” terdengar jeritan kecil halus dan kulihat dr. Sandra masih sibuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos yang dipegangnya.

“Ngapain lu di sini?” tanyanya ketus.

“Aku habis pipis nih, elu juga kok nggak periksa-periksa dulu terus ngapain elu buka baju?” tanyaku tak mau disalahkan begitu saja.

“Ya, udah keluar sana”, suaranya sudah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu biar tidak kelihatan dari luar saat kubuka pintu nanti.

Ketika aku sampai di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan… ya ampun…. pundaknya yang putih halus terlihat sampai dengan ke pangkal lengannya, “San, pundak elu bagus”, bisikku dekat telinganya dan semburat merah muda segera menjalar di wajahnya dan ia masih tertunduk yang menimbulkan keberanianku untuk mengecup pundaknya perlahan.

Ia tetap terdiam dan segera kulanjutkan dengan menjilat sepanjang pundaknya hingga ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, sempat tersentuh kaos yang dipegangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya dan terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya dia membuka kaosnya untuk menggantinya dengan yang baru. Berkeringat juga rupanya tadi.

Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah.

“Aaaccch… ach…” desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.

Kulihat dua buah gundukan bukit yang tidak terlalu besar tapi sangat menantang dan pada bukit yang sebelah kanan tampak tonjolannya yang masih berwarna merah dadu sedangkan yang sebelah kiri tak terlihat. Kusedot kembali urat lehernya dan ia menjerit tertahan, “Aach… ach… ssshhh”, tubuhnya pun kurasakan semakin lemas oleh karena semakin berat aku menahannya.

Dengan tetap dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yang ada dan perlahan kurebahkan dia, matanya masih terpejam dengan guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, dan secara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya. Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dengan tangan kiri menyangga beban tubuh, sedangkan tangan kanan mengusap lembut alis matanya terus turun ke pangkal hidung, mengitari bibir terus turun ke bawah dagu dan berakhir di ujung liang telinganya.

Senyum tipis terus menghias wajahnya dan berakhir dengan desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. “Ssshhh… acchh…” Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya dan segera kami saling berpagutan penuh nafsu. Kuteroboskan lidahku memasuki mulut dan mencari lidahnya untuk saling bergesekan kemudian kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher dan terus turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah dan kukitari putingnya yang menonjol itu.

Lima sampai tujuh kali putaran dan putingnya semakin mengeras. Kulepaskan ciumanku dan kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bagian depannya dan kusapu lehernya dengan lidahku terus turun dan menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yang kiri yang masih menutupi bukitnya. Tampak kini dengan jelas kedua puting susunya masih berwarna merah dadu tapi yang kiri masih tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum pernah ada yang menyentuh itu sebelumnya.

Kujilat tepat di area puting kirinya yang masih terpendam malu itu pada jilatan yang kelima atau keenam, aku lupa. Puting itu mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan segera kutangkap dengan lidah dan kutekankan di gigi bagian atas,

“Ach… ach… ach…” suara desisnya semakin menjadi dan kali ini tangannya juga mulai aktif memberikan perlawanan dengan mengusap rambut dan punggungku. Sambil terus memainkan kedua buah payudaranya tanganku mulai menjelajah area yang baru turun ke bawah melalui jalur tengah terus dan terus menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan dan kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit dan segera tersentuh bulu-bulu yang sedikit lebih kasar.

“Eeehhhm… ech…” tidak diteruskan tapi bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya dan sampai pada area pinggulnya dan segera kutekan dengan agak keras dan mantap, “Ach…” pekiknya kecil pendek seraya bergerak sedikit liar dan mengangkat pantat dan pinggulnya.

Segera kutekan kembali lagi pinggul ini tapi kali ini kulakukan keduanya kanan dan kiri dan, “Fran… ugh…” teriaknya tertahan. Aku kaget juga, itu kan artinya Sandra sadar siapa yang mencumbunya dan itu juga berarti dia memang memberikan kesempatan itu untukku. Matanya masih terpejam hanya-hanya kadang terbuka. Kutarik restleting celananya dan kutarik celana itu turun. Mudah, oleh karena Sandra memang menginginkannya juga, sehingga gerakan yang dilakukannya sangat membantu.

Tungkainya sangat proporsional, kencang, putih mulus, tentu dia merawatnya dengan baik juga oleh karena dia juga kan berasal dari keluarga kaya, kalau tidak salah bapaknya salah satu pejabat tinggi di bea cukai. Kuraba paha bagian dalamnya turun ke bawah betis, terus turun hingga punggung kaki dan secara tak terduga Sandra meronta dan terduduk, dengan nafas memburu dan tersengal-sengal, “Fran…” desisnya tertelan oleh nafasnya yang masih memburu.

Kemudian ia mulai membuka kancing bajuku sedikit tergesa dan kubantunya lalu ia mulai mengecup dadaku yang bidang seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku dan menariknya lepas. Langsung saja aku berdiri dan melepaskan seluruh bajuku dan kuterjang Sandra sehingga ia rebah kembali dan kujilat mulai dari perutnya.

Sementara tangannya ikut mengimbangi dengan mengusap rambutku, ketika aku sampai di selangkangannya kulihat ia memakai celana berwarna dadu dan terlihat belahan tengahnya yang sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol keluar mirip pematang sawah dan ada sedikit noda basah di tengahnya tidak terlalu luas, ada sedikit bulu hitam yang mengintip keluar dari balik celananya. Kurapatkan tungkainya lalu kutarik celana dalamnya dan kembali kurentangkan kakinya seraya aku juga melepas celanaku.

Kini kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali dan cukup besar untuk ukuranku. Sementara Sandra sudah mengangkang lebar tapi labia mayoranya masih tertutup rapat. Kucoba membukanya dengan jari-jari tangan kiriku dan tampak sebuah lubang kecil sebesar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yang berwarna pucat demikian juga dindingnya tampak berwarna pucat walau lebih merah dibandingkan dengan bagian tengahnya. Gila, rupanya masih perawan.

Tak lama kulihat segera keluar cairan bening yang mengalir dari lubang itu oleh karena sudah tidak ada lagi hambatan mekanik yang menghalanginya untuk keluar dan banjir disertai baunya yang khas makin terasa tajam. Baru saat itu kujulurkan lidahku untuk mengusapnya perlahan dengan sedikit tekanan. “Eehhh… ach… ach… ehhh”, desahnya berkepanjangan.

Sementara lidahku mencoba untuk membersihkannya namun banjir itu datang tak tertahankan. Aku kembali naik dan menindih tubuh Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya dan aku sudah tidak tahan lagi kemudian aku mulai meremas payudara kanannya yang kenyal itu dengan kekuatan lemah yang makin lama makin kuat.

“Fran… ambilah…” bisiknya tertahan seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan kuarahkan torpedoku untuk menembak dengan tepat. Satu kali gagal rasanya melejit ke atas oleh karena licinnya cairan yang membanjir itu, dua kali masih gagal juga namun yang ketiga rasanya aku berhasil ketika tangan Sandra tiba-tiba memegang erat kedua pergelangan tanganku dengan erat dan desisnya seperti menahan sakit dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri.

Sementara batang kejantananku rasanya mulai memasuki liang yang sempit dan membuka sesuatu lembaran, sesaat kemudian seluruh batang kemaluanku sudah tertanam dalam liang surganya dan kaki Sandra pun sudah melingkari pinggangku dengan erat dan menahanku untuk bergerak. “Tunggu”, pintanya ketika aku ingin bergerak.

Beberapa saat kemudian aku mulai bergerak mengocoknya perlahan dan kaki Sandra pun sudah turun, mulanya biasa saja dan respon yang diberikan juga masih minimal, sesaat kemudian nafasnya kembali mulai memburu dan butir-butir keringat mulai tampak di dadanya, rambutnya sudah kusut basah makin mempesona dan gerakan mengocokku mulai kutingkatkan frekuensinya dan Sandra pun mulai dapat mengimbanginya.

Makin lama gerakan kami semakin seirama. Tangannya yang pada mulanya diletakkan di dadaku kini bergerak naik dan akhirnya mengusap kepala dan punggungku. “Yach… ach… eeehmm”, desisnya berirama dan sesaat kemudian aku makin merasakan liang senggamanya makin sempit dan terasa makin menjempit kuat, gerakan tubuhnya makin liar.

Tangannya sudah meremas bantal dan menarik kain sprei, sementara keringatku mulai menetes membasahi tubuhnya namun yang kunikmati saat ini adalah kenikmatan yang makin meningkat dan luar biasa, lain dari yang kurasakan selama ini melalui masturbasi.

Makin cepat, cepat, cepat dan akhirnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku dan menariknya lebih ke dalam bersamaan dengan pompaanku yang terakhir dan kami terdiam, sedetik kemudian.. “Eeeggghhh…” jeritannya tertahan bersamaan dengan mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku dan, “Crooot… crooot”, memberikannya kenikmatan yang luar biasa.

Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana dan memberikan rasa hangat yang mengalir dan berputar serasa terus menembus ke dalam tiada berujung. Selesai sudah pertempuran namun kekakuan tubuhnya masih kurasakan, demikian juga tubuhku masih kaku.

Sesaat kemudian kuraih bantal yang tersisa, kulipat jadi dua dan kuletakkan kepalaku di situ setelah sebelumnya bergeser sedikit untuk memberinya nafas agar beban tubuhku tidak menindih paru-parunya namun tetap tubuhku menindih tubuhnya. Kulihat senyum puasnya masih mengembang di bibir mungilnya dan tubuhnya terlihat mengkilap licin karena keringat kami berdua.

“Fran… thank you”, sesaat kemudian, “Ehmmm… Fran aku boleh tanya?” bisiknya perlahan.

“Ya”, sahutku sambil tersenyum dan menyeka keringat yang menempel di ujung hidungnya.

“Aku… gadis keberapa yang elu tidurin?” tanyanya setelah sempat terdiam sejenak. “Yang pertama”, kataku meyakinkannya, namun Sandra mengerenyitkan alisnya. “Sungguh?” tanyanya untuk meyakinkan.

“Betul… keperawanan elu aku ambil tapi perjakaku juga elu yang ambil”, bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis.

“San, thank you juga”, itu kata-kata terakhirku sebelum ia tidur terlelap kelelahan dengan senyum puas masih tersungging di bibir mungilnya dan batang kemaluanku juga masih belum keluar tapi aku juga ikut terlelap.


Pelajaran untuk murid istriku

Siang itu betul2 panas, luar biasa .., setelah seharian berkeliling mencari order, tentunya enak sekali untuk meneguk segelas air dingin sambil bersantai di kamar ..

“ Ma .. ? “ seruku sambil membuka pintu kamar. “ Kosong ? “ pikirku sambil bergerak masuk.

“ Ya sayang .. aku sedang mandi nih “, suara istriku dari dalam kamar mandi “ Kok udah pulang ? “

“ Iya .. kebetulan nggak terlalu rewel kliennya .. jadi bisa cepat” sahutku ringan sambil melepas sepatu dan jaket.

Sambil melepas kemejaku, aku mengetuk pintu kamar mandi “ Buka dong Ma, mau cuci muka nih .. panas banget .. “

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, aku mendorongnya sedikit dan beranjak masuk kamar mandi .

Fang fang, istriku terlihat masih membersihkan sisa2 busa di rambutnya, nampaknya dia habis keramas, tercium wangi shampoo memenuhi kamar mandi.

Melihatku masuk dia tersenyum kecil, sambil mengulungkan hand shower ditangannya .. “ NIh Pa, aku udah selesai kok .. “

Aku menerimanya cepat lalu mulai membasuh mukaku . . hmm, segar .. air dingin yang keluar dari hand shower itu segera saja menyingkirkan semua rasa gerah di tubuhku .. “ kayanya enak juga mandi siang2 ya Ma .. “ ucapku sambil membuka pakaian.

“ Memangnya mau kemana kok mandi siang2 ?” tanyaku.

“ Ada private kan Pa, si Agus jam 3 nanti datang mau les Photoshop ..” Jawab istriku sambil membantuku membuka pakaian. Setelah lepas semua pakaianku, dia membantu menyiramkan air shower sambil menggosok punggungku.

Istriku memang berprofesi sebagai pembimbing di sebuah sekolah computer kenamaan di kota, di waktu senggang dia memberi les private untuk anak2 di kost kami. Agus itu salah satu muridnya, masih duduk di kelas 2 SMP, tidak terlalu pandai, tapi latar belakang keluarganya tidak begitu mampu, Istriku menerimanya sebagai murid hanya karena ingin membantu keluarganya saja supaya anaknya bisa memiliki kemampuan lebih.

“ Agus ya Ma .. sudah bisa apa dia ? “ tanyaku.

“ Hari ini jadualnya belajar editing foto .. “ Jawab istriku sambil menggosokkan busa sabun ke tubuhku.. nyaman sekali rasanya. Sambil dimandiin tak urung aku menelusuri tubuh telanjang istriku yang masih sibuk meratakan busa sabun. Di usianya yang ke 29 tahun ini dia memang betul2 cantik dan seksi. Dengan tinggi 165 dan berat 37 Kg, tubuhnya betul2 proporsional dan enak dilihat.

Terlebih dengan kulitnya yang putih mulus seperti layaknya gadis keturunan cina, dan buah dada 34B yang menggantung padat di dadanya ..

“ Kok bangun Pa ? .. “ celetuknya geli waktu melihat kemaluanku bergerak naik .. “ Iya Ma .. habisnya Mama seksi sekali kalau basah2 gini ..

“ Jawabku sambil meraba buah dadanya. Istriku tersenyum lebar, tangannya sekarang malah ikut membelai kemaluanku yang sudah mulai mengeras ..

“ Mau usil ya ? .. “ Candanya mesra, lalu sambil membersihkan sisa2 sabun di tubuhku dia mendekatkan bibirnya .. “ Nanti malam aja Pa .. kan si Agus mau datang”

Aku memeluknya mesra, lalu kucium bibir indahnya dengan nafsu yang mulai naik. “ sebentar kayanya bisa kok Ma .. sudah terlanjur naik nih .. “ Istriku tertawa kecil, tapi dia tidak menolak waktu aku menekan tubuhnya ke bawah ..

“ Dikulum atau gimana nih Pa .. biar cepat ? “ tanyanya. Aku tersenyum saja, lalu aku posisikan penisku diantara buah dadanya yang montok. Sisa2 air yang masih membasahi kulitnya membuat penisku dapat bergerak cukup licin menyusuri dua bukit kembar yang indah itu, tangan istriku ikut membantu menekannya dari sisi luar sehingga gundukan buah dadanya menjepit erat kemaluanku.

“ Enak Ma ..” desahku sambil mengamati penisku sendiri bergerak keluar masuk dari sela2 gumpalan daging kenyal yang luar biasa indah itu. Istriku tersenyum, dia membantu dengan ikut bergerak naik turun, membuat kenikmatan yang kurasakan semakin meningkat.

“ Dimasukkin aja ya Ma .. “ Pintaku sambil menarik istriku bangun. “ Pa .. Agus keburu datang lho ..” protes istriku waktu aku menghadapkannya ke dinding dan mulai menarik pinggulnya naik. “ Sebentar kok Ma .. ini tadi juga udah mau keluar, tapi kurang sreg kalau nggak keluar di dalam .. “ bisikku sambil menggesekkan penisku di bibir vaginanya .. “ sshhh .. Pa .. “ Desah istriku waktu aku mulai memasukkan penisku dan menggoyangnya pelan.” Enak Ma ..” Bisikku sambil menekan penisku masuk sedalam2nya.

Tanganku yang satu menarik pinggul istriku sambil aku gerakkan penisku keluar masuk, sementara tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya. Aduh, nikmat sekali .. Pemandangan tubuh telanjang istriku yang setengah membungkuk dengan pantatnya yang menungging itu makin menambah gairah di dadaku.

Bahkan setelah 7 tahun berpacaran dan 1 tahun menikah, masih saja aku terpesona oleh keindahan tubuhnya.

“Pa .. enak banget Pa .. “ Istriku mendesah sambil menoleh, tangannya yang satu berpegang ke dinding, dan tangannya yang lain ikut meremasi sendiri buah dadanya. Pinggulnya sekarang ikut bergerak mengimbangi ayunanku .. “ Iya Ma .. enak banget .. “ Aku menjawab sambil memperkuat sodokan penisku, sekarang kedua tanganku mencengkeram erat kedua bongkahan pantat istriku sambil terus aku hujamkan kemaluanku keluar masuk semakin cepat.

Lagi2 pemandangan batang kemaluanku yang bergerak keluar masuk liang vagina istriku membuatku semakin bergairah. “ Sshh .. Pa .. “ Istriku mendesah pelan waktu aku menggesekkan jempolku di tepi liang duburnya .. dia memang suka sekali kalau aku merangsangnya di daerah itu, meskipun kami berdua tidak pernah mencoba sex anal .. tetapi belaian dengan jari, kadang hingga masuk ke duburnya sama2 membuat kami makin terangsang.

Mendadak … “ tok tok .. Selamat Siang Tante .. ? “ Suara ketokan pintu dan panggilan serentak menghentikan gerakan kami.

“ Aduh .. Pa .. tuh kan si Agus datang .. “ Istriku berseru panic, tanpa kompromi dia menarik lepas pinggulnya dan langsung menyambar pakaiannya .. “ Ma .. “ protesku, tapi istriku sudah bergegas memakai kembali pakaiannya “ Nggak usah dipakai Ma .. gitu aja .. “ Bisikku sambil menahan waktu dia mau memakai celana dalamnya “ Biar nanti bisa langsung lanjut .. “ ucapku nakal sambil merebut juga BHnya .

“ Pa .. ? aku kan mau kasih private ?? .. “ Protes istriku.

“ Nggak apa .. biarin aja, kan ketutup baju” Sahutku nakal “ Biar lebih kerasa sensasinya .. nih dipakai bajunya terus keluar .. “ Tukasku sambil mengulurkan kimononya.

“ Papa .. “ sahut istriku manja .. tapi tetap saja dipakainya kimono merah muda itu. “ Awas nanti ya .. “ sungutnya sambil membuka pintu kamar mandi. Aku tersenyum saja sambil menutup kembali pintu dan menghidupkan kembali kran shower. Siraman air dingin yang mengguyur kepalaku sedikit banyak membantu meredakan sisa2 nafsu yang masih menggumpal di kepalaku.

Tak lama, setelah selesai mandi, aku memakai kaos dan celana pendek, kemudian berjalan ke ruang depan. Istriku dan Agus sudah terlihat sibuk di depan computer, anak itu terlihat serius sekali memperhatikan Istriku memberi beberapa teori yang kemudian dipraktekkannya di layar computer.

“ Ini gunanya untuk mengatur resolusi foto Gus .. untuk bisa di edit, foto harus punya resolusi yang cukup tinggi supaya tidak pecah kalau nanti mau di cetak” Terang istriku sambil menunjukkan icon yang dimaksudnya.

Si Agus terlihat mangut2 saja sambil mencoba memahami keterangan istriku. “ Nah sekarang coba kamu cari foto untuk kamu edit dulu ya seperti yang Tante ajarkan .. Tante mau kedepan dulu menjemur pakaian “

Pamit istriku sambil beranjak bangun.

Setelah dia pergi, aku lihat si Agus mulai membuka2 beberapa folder foto untuk mencari gambar yang cukup menarik untuk diolah. Beberapa kali dia membuka foto lalu menutupnya lagi karena kurang menarik .

“ Serius lho Gus .. nanti nggak bisa2 kalau kamu nggak semangat gitu .. “

Kataku sambil mengambil tempat duduk di belakangnya. Aku sendiri lalu ikut duduk tak jauh dari tempatnya sambil membuka2 koran hari itu.
Beberapa saat aku lirik anak itu belum juga mendapat foto yang sesuai, nampaknya dia sendiri kurang begitu berminat dengan pelajaran itu.
“ Kamu cari foto yang gimana Gus ? .. “

“ ..mm .. nggak tahu nih Om .. “

“ Sini Om cariin .. “ Aku tutup koranku dan ikut mendekat .. beberapa lama mencari, mendadak timbul ide nakal di kepalaku “ Tahu nggak berita foto artis bugil yang di internet itu Gus ? ..” Tanyaku.

“ Eh .. iya Om ..” Jawabnya, mukanya yang awalnya bosan mendadak bersinar senang, dasar anak laki2, gerutuku. “ Itu kan juga hasil editan computer .. mau coba buat yang kaya gitu ?”

Tanyaku sambil mulai membuka folder foto2 artis JAV koleksiku. “ I .. iya Om, yang foto gitu aja .. kan lebih realis ya ? .. “ Jawabnya buru2, dasar, bilang aja lebih asyik … “ Nih .. foto ini aja yang kamu edit .. “

Ucapku sambil membuka salah satu foto Sora Aoi dengan pose duduk dan dada membusung.

“ Waaahh .. cantik Om .. “ seru Agus sambil matanya tak lepas dari layar monitor .. “ Kamu nggak pernah lihat yang ginian ? “ tanyaku heran .. “ Belum Om .. kan dirumah nggak punya computer .. “

“ Nggak pernah ke warnet ? “ Tanyaku lagi .. “ Nggak pernah Om .. paling juga ke PS ..” Jawabnya polos, sambil matanya tetap memelototi layar monitor.

“ Ya ampun, dasar gaptek kamu nih .. sudah, berhenti melototnya .. ini foto ini, kamu gantiin kepalanya pakai foto yang lain .. “ Sahutku sambil membuka beberapa folder foto lain .. “ Eh .. gini aja, coba gantiin bagian leher ke atas foto ini dengan foto Tante Fang ya .. “ Ucapku sambil tersenyum geli .. lalu aku buka salah satu foto istriku dengan pose yang mendekati sama.

“ Eh .. nggak apa Om sama Tante ? “ Agus bertanya bingung, aku menggeleng saja sambil tersenyum “ Nggak apa, yang penting hasilnya bagus dan editannya halus nggak apa kok, kan yang penting pelajarannya, bukan fotonya .. “ Jawabku sambil mengembalikan keyboard dan mouse ke padanya.

Tak lama anak itu sudah aktif menggerakkan mouse dan keyboard dengan jari2nya, memang kalau obyeknya menarik pasti lah lebih semangat juga yang mengerjakan. Batinku geli, sambil aku mulai melanjutkan membaca Koran.

“ Lho .. Gus ? kok ngedit gambar gituan ? .. “ Tiba2 saja suara istriku terdengar, dia melihat layar computer dengan ekspresi heran dan kaget “ Siapa yang kasih gambarnya ?? “ Tanyanya dengan nada keras.

“ Om .. yang kasih ..Tante .. katanya nggak apa buat latihan .. “ Jawab anak itu sambil setengah ketakutan, dia melirikku meminta dukungan.
“ Iya Ma .. nggak apa, tadi si Agus kurang semangat kalau obyeknya pemandangan, makanya aku kasih yang lebih menantang .. “ Jawabku sambil menarik istriku menjauh.

“ Biarin Ma .. aku dulu juga waktu SMP kaya gitu .. semangat banget kalau lihat body cewek telanjang .. nggak apa .. kalau nggak kita yang nunjukin juga dia pasti lihat di tempat lain .. “ Bisikku sambil tersenyum.

“ Ngawur papa nih .. kalo orang tuanya tahu gimana ? “ Protes istriku masih dengan muka tegang.

“ Gus .. jangan bilang siapa2 lho ya .. nanti kalau ketahuan orang Om nggak bisa kasih lihat kamu gambar lain yang lebih asyik .. “ Seruku sambil melihat Agus. “ Iya Om , nggak akan .. tapi nanti lihat lagi gambar yang lain ya Om .. “ Agus menjawab dengan ekspresi senang. “ Iya, asal kamu janji jaga rahasia .. “ Jawabku sambil mengacungkan jempol. “ Aman Ma .. “

“ Huu .. dasar .. Papa dan Agus ini sama nakalnya .. “ Sungut istriku sambil mendekati Agus.

“ mm .. lumayan nih editanmu Gus .. tapi disini kamu motongnya kurang bagus .. masih terlihat kaku .. “ Istriku mengambil alih mouse dari tangan anak itu lalu mulai memberi contoh bagaimana melakukan editing yang benar.” Nih .. kan .. setelah dipotong lalu kamu posisikan gambar kepalanya di tempat potongan yang sama .. “

Sekarang gambar potongan kepala istriku sudah melekat di foto tubuh telanjang Sora Aoi .. pas, mantap sekali .. memang buah dadanya masih tidak sebesar itu, tapi sekilas terlihat mirip sekali dengan aslinya ..

“ Wah .. pas tuh Ma … mirip kaya aslinya .. “ celetukku iseng … Istriku melirikku manja. Agus sendiri melihat foto telanjang dengan wajah istriku mendadak seperti punya imajinasi sendiri .. dia melirik sesekali tubuh istriku dan membandingkannya dengan gambar di layar computer.

“ Kenapa Gus ? .. nggak percaya ya ? .. “ tanyaku geli .. “ Eh .. nggak kok Om, tapi fotonya seperti bener2 sungguhan .. “ Jawabnya gugup.
“ Aslinya lebih bagus Gus .. “ Istriku menyahut singkat, sambil melirikku nakal .. “ Kalau kamu pengen, boleh kok lihat aslinya .. “ Kontan aku terperanjat mendengar celetuk nakal istriku.

“ Ma .. ? “ seruku sambil menatap istriku tajam

“ Lho katanya mau memenuhi obsesi masa SMP Pa ? .. sekalian aja dong .. papa dulu kan nggak ada yang sukarela nunjukin body telanjangnya kan ? .. bayangin aja sekarang Papa yang jadi Agus .. “ jawab istriku ringan sambil melirik Agus “ Gimana Gus .. pengen nggak ? “

Bisik Istriku dengan nada menggoda sambil menyentukan bahunya ke bahu Agus.

Karena posisinya yang membungkuk di samping Agus yang sedang duduk dengan tangan tergantung memegang mouse di meja, otomatis sentuhan bahunya itu membawa dadanya ikut menggesek sisi lengan anak itu. Dan aku cukup yakin, sentuhan buah dada yang hanya terlapis kain satin tipis tanpa pakaian dalam itu pastilah disadari Agus, walaupun usia anak itu belum genap 13 tahun.

Agus gelagapan .. antara senang dan takut dia melirikku yang masih diam keheranan, lalu dia melirik gambar di layar lagi dan kembali memandang tubuh istriku. Fang Fang tersenyum kecil, tangannya lalu menarik sedikit kain kimononya ke luar dan membiarkan belahan di bagian tengah kimono itu terbuka sedikit hingga ke atas perut .

Tentu saja dengan posisinya yang sedikit membungkuk, sisi samping buah dadanya segera saja terlihat indah, menggantung padat dengan bentuknya yang bulat , walaupun ujung putingnya masih tertutup oleh kain kimononya. Agus kini tidak lagi melirik, matanya melihat tajam ke tengah bagian kimono yang terbuka itu, menelusuri kemulusan kulit pundak, dada hingga perut istriku yang masih terlihat rata.

“Mau nggak Gus .. ? .. boleh kan Pa ? “ godanya manja, sambil melirikku yang masih diam tidak mengerti.

Entah pembalasan dari keisenganku atau ada alasan lain, aku juga tidak mengerti, tapi suasana yang terjadi sekarang ternyata juga membuat gairahku mulai naik. Godaan yang dilakukan istriku pada anak SMP itu sedikit banyak membuatku ikut tergoda juga.

“ Nggak apa Gus .. asal antara kita aja ya .. jangan sampai orang lain tahu .. “ Bisikku pelan.

“ I .. iya Om .. mau tante, mau .. “ Seperti mendapat durian runtuh mendengar restuku, Agus langsung menatap istriku sepenuhnya dengan penuh harap.

“hihi .. Papa tergoda juga ya .. “ Istriku tertawa menang, dia lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Agus sepenuhnya sambil membuka tali pengikat kimononya.

“ Tahan napas ya .. tante buka sekarang .. “ Fang Fang tersenyum nakal, setelah dilepaskannya tali pengikat kimono itu, pelan2 seperti penari yang sedang bergaya, dia menyibakkan kain satin tipis yang membungkus tubuhnya .

Kimono tipis itu merosot pelahan melewati bahunya,membuka bagian pundak dan dada atasnya yang putih sempurna. Seperti disengaja, dia menahan jatuhnya kain itu sesaat sebelum seluruh payudaranya terbuka, gumpalan buah dadanya yang penuh terlihat montok menyembul dari sela – sela kain yang tertahan oleh dua tangannya. Aku melirik Agus yang terpana penuh harap, terlihat sekali ada kekhawatiran di matanya kalau Istriku membatalkan niatnya membuka pakaian.

Tapi Fang fang Cuma tersenyum geli, sebelum kemudian melepaskan pegangan tangannya dan kain tipis itu jatuh terlipat di atas pahanya, meninggalkan sosok seorang wanita cantik dan molek yang membiarkan tubuh atasnya terbuka bebas untuk dinikmati.

Dua laki2 didepannya terlonggong penuh takjub melihat pemandangan luar biasa yang terhidang lepas itu, tubuh telanjang yang putih mulus dengan sepasang buah dada yang montok dan padat bergantung di bawah lehernya yang jenjang.

Aku melirik Agus yang masih diam tak percaya, mulutnya setengah terbuka melihat istriku duduk santai didepannya dengan tubuh atas sama sekali telanjang. Aku yakin, dalam mimpi pun dia tidak akan pernah terbayang akan punya kesempatan melihat tubuh indah gurunya seperti ini.

“ Gimana Gus .. sama dengan di foto itu nggak ? .. “ Istriku bertanya menggoda, tangannya bergerak membelai buah dadanya sendiri, menekannya ke tengah sehingga gumpalan daging yang memang sudah membusung itu terlihat semakin indah.

“ Lebih indah dari di foto .. tante .. badan tante bagus sekali .. “ Agus menyahut pelan, matanya masih tidak lepas mengamati buah dada istriku.

“ Memangnya kamu belum pernah melihat wanita telanjang .. ?” Istriku bertanya, seolah tanpa beban dia bergerak mendekat kea rah Agus yang masih duduk diam di dekat computer.

“ Pernah tante .. Agus pernah mengintip Ibu yang sedang mandi … juga Kak Wati .. tapi badannya tidak seperti tante .. susunya melorot .. “ Jawab anak itu polos, di sahut tawa kecil istriku.

“ Masa Kak Wati sudah melorot Gus ? .. kan kakakmu masih SMA ? “ Jawabku sambil ikut mendekat.

“ Ini susu tantemu masih kencang kok, padahal sudah 29 tahun .. “ tambahku sambil tanganku ikut meremas buah dada istriku dengan nakal. Sensasi menyadari istriku menunjukkan tubuh indahnya didepan seorang anak SMP ternyata menimbulkan gairah tersendiri dalam hatiku.

Istriku sendiri diam saja, dia tidak menolak waktu aku meremasi buah dadanya, nampaknya dia juga merasakan sensasi lain dari perlakuanku itu.

“ Iya Om .. Kak Wati susunya kecil kok .. tidak seperti tante .. “ Agus menjawab setengah terbata .. matanya berubah iri melihat aku meremasi buah dada istriku .. “ Mau ikut pegang Gus ? .. “ Tanyaku, lalu tanpa meminta persetujuan istriku, aku menarik tangannya dan menekannya di dada istriku yang terbuka.

“ Ahh .. Pa ..? “ Istriku mendesah kecil, agaknya dia tidak mengira aku akan mengizinkan tangan lain menyentuh dadanya .. Agus sendiri yang khawatir istriku akan menolaknya malah buru2 meremas buah dada istriku dengan gemas .. kontan istriku menjerit kecil, antara sakit dan geli .. “ Aduh .. pelan2 Gus, tante nggak melarang kok .. tapi pelan aja ya .. “

“ I .. iya tante ..” merasa mendapat angin, anak SMP itu lalu beranjak duduk di samping istriku, lalu mulai melanjutkan kegiatannya meremasi dada istriku.

Aku sendiri lalu berpindah ke belakang istriku, menopangnya dari belakang sambil tanganku ikut ambil bagian dalam kegiatan meremasi dadanya.

Istriku nampaknya sudah benar2 menikmati perlakukan itu, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, membiarkan Agus yang sekarang sudah makin berani memilin2 putting susunya. Perlahan aku merangsang bahu dan lehernya dengan ciuman2 kecil untuk makin membangkitkan gairahnya. Dan istriku membalasnya dengan desahan sambil membusungkan dadanya, membuat Agus makin bernafsu meremas dan bermain dengan dua bola daging yang kenyal itu.

“ Cium aja Gus .. hisap putingnya .. “ Bisikku disambut lirikan manja istriku dan cubitan mesranya.

Agus tidak membuang waktu lebih lama lagi, langsung melaksanakan perintahku dengan segera. Dia bahkan tidak hanya menciumi buah dada istriku, tapi berusaha mencaploknya dengan mulutnya yang kecil. Istriku terpekik pelan, nampaknya dalam gemasnya, anak SMP itu tidak sengaja menggigit daging buah dadanya, meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih.

“ Pelan2 Gus .. nikmati aja ya .. jangan buru2 “ Bisik istriku pelan sambil membelai kepala Agus yang masih terbenam diantara buah dadanya. Agus melirik saja dengan ekspresi yang tidak karuan terbakar nafsunya sendiri. Sekarang dia menjilati putting susu istriku dengan ujung lidahnya sambil sesekali dihisapnya dengan gemas. Melihat kelakuannya yang makin nakal itu nafsuku dengan cepat merayap naik sampai ke puncak, sisa2 gairah yang belum tertuntaskan dari persetubuhan di kamar mandi tadi sekarang bergolak tanpa kendali.

Perlahan, sambil masih menciumi leher istriku aku menurunkan celanaku dan menarik keluar kemaluanku dari dalamnya. Melihat itu istriku rupanya segera tanggap, dia segera menggenggam dan mengocoknya lembut. Aku tidak peduli lagi betapa aku melakukannya didepan anak smp yang notabene adalah murid istriku, yang aku inginkan sekarang adalah kenikmatan yang tadi masih belum puas aku reguk.

Cepat aku ciumi bibir istriku, lidahnya yang menyentuh bibirku dengan ganas aku hisap dan aku kulum. Membuat dia pun makin aktif mempermainkan penisku di dalam genggamannya.

Tiba2 dia menggelinjang geli .. “ Aduh .. Gus .. apa2an sih .. “ serunya sambil tertawa kecil.

Aku menghentikan ciumanku dan melirik kebawah. Rupanya sambil menciumi buah dada istriku, tangan anak itu nakal menyusup ke bawah kimono istriku, dan karena memang istriku tidak mengenakan pakaian dalam, jari2 anak itu langsung menyentuh vaginanya yang terbuka.

“ Aduh .. kamu nakal banget sih Gus .. “ protesnya sambil menahan tangan Agus, tapi dari suaranya aku tahu kalau sentuhan kecil tadi sudah membangkitkan gairah nafsu di dalam dadanya.

Agus melihatku penuh harap .. dan akupun berpikir sejenak, seandainya yang melakukan itu adalah orang seumurku mungkin aku tidak akan berpikir 2 kali untuk menghajarnya .. tapi melihat anak ingusan ini menjadi begitu bernafsu dengan tubuh istriku, aku justru ingin melihat sejauh mana anak ini akan melampiaskan keinginannya.

Maka perlahan aku menarik kimono istriku ke samping, Fang fang melihatku dengan tanda tanya, tapi aku hanya membalasnya dengan ciuman mesra di bibir sambil tanganku membuka kimononya lebar2 ke samping.

Kini tubuh istriku sudah sama sekali terbuka. Agus yang duduk terpana di antara kaki istriku kini bisa melihat tubuh istriku sepenuhnya. Dari lehernya yang jenjang, buah dadanya yang menggantung padat, perutnya yang rata dan celah vaginanya yang dihiasi bulu2 lebat …

Anak itu betul – betul memuaskan seluruh rasa ingin tahunya, sekarang dia bahkan merosot turun dari kursinya, dan memposisikan kepalanya tepat diantara bukaan paha istriku.

Matanya tidak lepas mengamati belahan vagina istriku yang aku sangat yakin, saat ini sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Istriku sendiri, sekarang malah memejamkan matanya, mungkin terjebak antara rasa malu menyadari muridnya tengah mengamati bagian paling pribadinya, dan sesasi yang makin kuat menaikkan gairahnya.

Aku kembali menciumi bibirnya, Agus yang melirikku hanya aku beri isyarat anggukan kecil saja untuk melanjutkan kegiatannya.

Dari sudut mataku aku melihat anak itu menunduk, tangannya yang satu mendorong paha istriku membuka ke samping dan jarinya bergerak mengorek2 lubang vagina istriku.

Fang2 menggigit bibirnya, dia nampak menikmati sekali melihat seorang anak SMP bermain2 dengan vaginanya. Dua kakinya tanpa dikendalikan bergerak membuka, memberi ruang seluas2nya untuk Agus mengamati dan menikmati bagian paling intimnya itu.

Aku bergerak menyamping, membiarkan istriku kini berbaring dengan relax, tanganku kini beralih meremasi buah dadanya dari depan. Ciumanku ikut turun dari pundak dan lehernya, kini mengarah pada buah dada dan putting susunya. Makin melengkapi rangsangan yang dirasakan istriku.

Dan detik berikutnya waktu aku melirik kebawah lagi, aku melihat Agus sudah mulai memasukkan 2 jarinya ke liang vagina istriku, mendorongnya sebentar kemudian menariknya keluar dengan pelan masih sambil mengamati pangkal paha istriku. Nampaknya sensasi melihat jari – jarinya bermain – main di dalam vagina gurunya memberikan kenikmatan sendiri bagi anak itu..

“ Cium di bagian ini Gus .. dan hisap sedikit sambil kamu dorong jarimu keluar masuk .. “

Bisikku sambil membuka lapisan daging yang menutup klitoris istriku. Agus mendekatkan bibirnya dan mulai mengulum dan menghisap tonjolan kecil itu. Istriku mendesah pelan, pinggulnya bergerak naik turun merespon kenikmatan yang dirasakan dari hisapan anak itu. Dan merasakan cumbuannya berhasil, Agus makin bersemangat mempermainkan jarinya keluar masuk liang vagina istriku.

Aku mengimbanginya dengan ciuman dan remasan di buah dada istriku, gumpalan daging putih itu segera saja berubah kemerahan akibat remasan2 tanganku. Dan Fang2 sekarang sudah betul2 bernafsu, dia mendesah desah sambil mengangkat pinggulnya. Permainan tangan Agus dan hisapannya nampaknya berhasil membawanya hampir ke puncak kenikmatan.

“ Gus .. minggir dulu ya .. “ Aku memberi isyarat Agus untuk menyamping, anak itu menatapku setengah memprotes. Tapi aku mendorongnya ke depan untuk kembali bermain dengan buah dada istriku, dan dia menurut.

Istriku tersenyum, dia nampaknya cukup mengerti kalau percumbuan ini sudah membuat kemaluanku betul2 mengeras. Melihat Agus yang nampak sedikit kecewa permainannya terhenti, dia merangkul anak itu dan menciumnya. Tangan lentiknya lalu bergerak menyentuh pangkal paha anak itu.

“ Buka celananya Gus .. Tante mau lihat burungmu .. “ bisiknya.

Dan seperti mendapat hadiah nomplok, anak itu segera saja memelorotkan celananya dan duduk mengangsurkan penisnya. Fang2 tersenyum, dia membelai batang kemaluan kecil itu dan pelan2 mulai mengocoknya. “ Sering ngocok sendiri ya Gus ? ..” godanya sambil tersenyum.

Agus tersenyum saja, mukanya terlihat mulai merah merasakan kenikmatan kocokan istriku.

Tangannya mulai aktif kembali meremasi buah dada istriku sambil seselali bermain dengan putingnya.

Aku sendiri segera mengambil posisi dipangkal paha istriku, kemaluanku yang memang sudah sangat keras segera saja aku tarik keluar dari celana kolorku dan aku gesekkan di bibir vagina istriku yang sudah sangat basah itu.

“ Ssshh … aduh, Pa .. “ desah istriku waktu aku dorongkan kemaluanku masuk.

Kocokannya pada kemaluan Agus terlihat semakin cepat terbawa oleh kenikmatan yang dirasakan dari gesekan penisku di vaginanya.

Agus terlihat makin bernafsu meremasi dada istriku, kini dia mulai menciumi buah dada istriku dengan liar, tidak lagi malu – malu seperti sebelumnya. Bahkan sekarang terlihat anak itu tidak saja focus pada buah dada istriku tapi mulai bergerak menciumi leher dan bahunya, nampaknya dia berusaha meniru apa yang tadi aku lakukan.

Fang fang mendesah saja, tangannya membelai rambut tipis anak itu sambil tangannya tetap bermain dengan kemaluan kecil digenggamannya. Dia bahkan menyambut ciuman Agus yang mulai mendarat di bibirnya dengan hisapan penuh nafsu.

Aku mempercepat gerakan pinggulku. Kedua kaki istriku aku naikkan ke pundakku, memberi akses maksimal pada kemaluanku untuk masuk sedalam2nya ke liang vagina istriku. Pemandangan istriku bermesraan dengan anak umur belasan tahun itu betul2 memberikan sensasi yang aneh di dadaku. Ada kecemburuan .. tapi yang paling kuat justru rangsangan yang makin kuat memompa birahiku.

Tidak puas dengan posisi misionaris ini, aku menarik pinggul istriku dan memutarnya, mencoba membawanya ke posisi doggy style.

“ Pah .. susah kalau posisi gini Pah ..” Protes istriku sambil melepaskan kemaluan Agus dan mendorongnya sedikit menyamping. Anak itu ikut menatapku heran, dia berdiri saja di samping istriku dengan penisnya yang masih mengacung tegak.

“ Pindah ke ranjang aja Ma .. bisa kok .. Si Agus biar ganti posisi lain aja .. “ Aku memberi isyarat Agus untuk bergerak ke ranjang, sambil aku dorong juga istriku ke sana. “ Aduh .. Papa .. aneh2 aja maunya .. “ Protes istriku manja, sambil naik ke tempat tidur , “ Kamu mau gimana Gus ? “ tanyanya sambil melihat Agus yang masih duduk saja di tepi ranjang.

Agus diam saja, dia menatap istriku yang mulai memposisikan dirinya merangkak di atas ranjang, nampaknya dia terpesona sekali melihat gumpalan payudara istriku yang tergantung lepas di dadanya dan bergoyang – goyang sedikit oleh gerakanku yang mengambil posisi di belakangnya.

Agus mengulurkan tangan kecilnya dan mulai lagi bermain dengan buah dada istriku dari sisi samping. Jari- jarinya bergerak meremas dan memilin putting susu istriku dengan gemas. Tapi karena posisi istriku yang merangkak dengan dua tangan menopang tubuhnya, tentu saja tidak ada ruang lagi untuk dia melanjutkan mengocok penis anak itu.

“ Sini Gus, kamu baring aja di bawah tante ya ..” tarik istriku sambil menegakkan tubuhnya, memberi ruang pada anak itu untuk berbaring diranjang. Aku melihatnya saja dari sela – sela pundak istriku, penisku yang panjang masih mengacung tegak menanti posisi yang pas untuk menyelip masuk.

“Iya .. Tante .. “ Agus menjawab pelan, sambil mulai berbaring di ranjang. Setengah bingung dia nampaknya, tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Istriku tersenyum lebar melihat keluguan murid kecilnya itu, dia lalu menempelkan dadanya sedemikian rupa hingga buah dadanya kini menjepit kemaluan anak itu, lalu pelan – pelan digesekkannya turun naik.

Agus menatapnya dengan wajah tegang, tentu saja pengalaman yang luar biasa ini membuat matanya tidak bisa lepas melihat ke bawah. Gurunya yang muda dan cantik, menggesekkan payudaranya naik turun di pahanya .. penis kecilnya terlihat naik turun menyusuri lereng bukit dada yang putih dan mulus itu dengan indahnya.

“Kamu tekan sendiri pakai tangan Gus .. penismu kecil, jadi susah nyelipnya di dada Tante .. “ protes istriku pelan sambil masih sedikit mengangkat tubuhnya.

“ I .. iya tante .. “ Agus menjawab tersendat, dia lalu meraih buah dada istriku dan meremasnya dari sisi samping, merapatkan belahan dadanya untuk menjepit penisnya lebih erat lagi.

“ Nah .. terus kamu goyangin sendiri ya .. kasihan tuh Om-mu susah mau masukin kalau Tante goyang – goyang terus .. “ Kata istriku sambil tersenyum dan melirikku mesra.

“Iya Tante .. “ Agus menyahut singkat, pinggulnya bergerak naik turun sekarang, membawa penisnya bergerak keluar masuk jepitan buah dada istriku. Remasan jarinya kini terlihat semakin mantap, membuat dada istriku terlihat makin penuh membusung, erat menjepit kemaluan kecil ditengahnya.

“ Nah .. gitu .. enak kan .. “ Istriku berbisik pelan setengah tersengal, nampaknya dia mulai terangsang juga dengan perlakuan anak itu dengan buah dadanya. Pinggulnya kini sudah menungging sempurna, liang vaginanya terlihat basah terbuka, siap untuk dimasuki.

Akupun tidak menunggu lama segera menyusupkan penisku dan mendorongnya perlahan masuk.

“ Ssh .. Pa ..” desahnya sambil menggigit bibir, terlihat sekali wajahnya memerah dipenuhi gejolak kenikmatan yang dirasakannya. Aku mulai mengayunkan pinggulku, makin lama makin cepat.

Ini pertama kalinya kami bersetubuh dengan cara ini, melibatkan satu orang lagi selain kami berdua. Jujur kalau yang terlibat adalah orang dewasa, aku belum tentu bisa menerimanya, tapi karena yang terlibat disini hanya anak 12 tahun .. yang menurutku belum sepenuhnya memahami .. aku justru bisa menerimanya sebagai bentuk variasi permainan yang menyenangkan ..

Aku mempercepat goyanganku , penisku yang panjang kini terlihat mulai basah oleh cairan vagina istriku, tapi itu justru makin melicinkannya bergerak keluar masuk dengan lancar. Sesekali kurasakan vagina istriku berkedut menambah kenikmatan jepitannya.

Agus sendiri, melihat aku menyetubuhi istriku dari belakang rupanya juga ikut terangsang, dia makin erat menjepit buah dada istriku dan mengayunkan penisnya. Gabungan sensasinya meremasi buah dada gurunya yang montok dan gesekan kulit halus di penisnya nampaknya begitu nikmat dia rasakan. Terlihat dari caranya melihat dan mulutnya yang setengah terbuka.

Istriku terlihat makin resah dengan desahannya, jari – jarinya yang lentik terlihat sibuk meremasi kain sprei, mencoba mengekspresikan kenikmatan ditubuhnya, disamping juga berusaha agar tidak terlalu terdorong kedepan oleh ayunanku yang semakin keras.

Aku masih menikmati sensasi ini kurang lebih selama 15 menit ke depan, ketika kulihat Agus makin kencang mengayunkan penisnya. Wajahnya terlihat bingung dan nikmat bercampur menjadi satu. Lalu sesaat kemudian dia melepaskan penisnya dari jepitan buah dada istriku dan menggenggamnya kuat – kuat dengan jarinya.

Terlihat cairan putih mengalir keluar dari sela2 jarinya. Tidak banyak, tapi terlihat sekali kepuasan memancar dari matanya. Hmm .. cukup bagus dia tidak menyemprotkan spermanya di dada istriku .. pikirku lega .. rupanya masih tahu diri juga dia untuk tidak sembarangan mengotori tubuh mulus gurunya ini.

“ Sudah ya Gus .. “ bisik istriku sambil tersenyum.

“ Iya Tante .. enak banget .. “ jawab anak itu malu – malu sambil menyisih ke samping, tangannya masih menggenggam penisnya yang sudah mulai berhenti memuntahkan cairannya.

“ Sana cuci dulu dikamar mandi .. “ suruhku sambil masih mengayunkan pinggulku maju mundur.

“ Iya Om .. “ jawabnya, sambil berjalan ke kamar mandi matanya tidak lepas memperhatikan penisku yang masih bergerak keluar masuk ke vagina istriku.

“ Pa .. aku keluar Pa .. “ erang istriku sambil menunggingkan pantatnya. Punggungnya sedikit melengkung ke atas dan pinggulnya bergerak gerak, berputar dan naik turun dengan cepat, menandakan dia sudah mencapai orgasmenya.

“ Aku juga Ma .. aah. . aduh .. “ Jawabku sambil menyodokkan penisku dalam2, terasa ujung kemaluanku berkedut kedut nikmat, menyemprotkan spermaku banyak banyak kedalam rahim istriku, mungkin lebih keras dan lebih banyak dari yang biasanya aku alami.

“ Enak banget Ma .. “ Aku menjatuhkan tubuhku ke punggung istriku yang kini berbaring telungkup di ranjang. Sesekali masih aku gerakkan pinggulku, mendorong penisku masuk lebih dalam untuk mengambil sisa – sisa kenikmatan yang masih ada.

“ mmm … iya Pa .. enak banget .. “ Bisik istriku pelan sambil tersenyum. Tangannya meraih kepalaku dan mendorongnya lebih merapat. Ku kecup lembut bibirnya dengan mesra. Sisa – sisa keringat yang masih mengucur ditubuhnya menambah aroma kemesraan yang kami rasakan.

Betul2 sensasi baru yang pertama kalinya kami alami .. tapi sepertinya tidak akan jadi yang terakhir. Sedikit gila mungkin .. tapi entah kenapa, terasa begitu sensasional dan menggairahkan. Kami bermesraan beberapa lama sebelum menyadari kalau si Agus sudah kembali dari kamar mandi. Anak itu sekarang duduk saja di kursi sambil mengamati kami yang masih berpelukan di atas ranjang.

“ Gus, ambilin tissue dong .. “ Pintaku sambil beranjak bangun. Anak itu segera meraih kotak tissue yang ada di atas meja dan membawanya mendekat.

Aku mendorong paha Istriku sedikit melipat ke atas, membuka celah di pangkal pahanya lebih melebar, kemudian perlahan aku tarik keluar penisku. Cairan putih nampak mengalir keluar dari liang vaginanya yang masih terlihat sedikit melebar.

“ Tolong bersihin vagina Tante tuh .. “ Suruhku sambil tersenyum, istriku tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat ke-usilanku.

Agus bergegas mendekat, menggantikan posisiku, tangannya buru2 merobek beberapa tissue dan mengelapkannya di vagina istriku yang masih terlihat basah oleh sisa – sisa sperma.

Aku meninggalkannya melangkah ke kamar mandi , bersih – bersih sedikit, sambil melirik apa saja yang dilakukan si Agus dengan kesempatan unik yang aku berikan itu.

Anak itu terlihat serius membersihkan pangkal paha istriku, cermat sekali di usapnya setiap inci dari liang vagina itu dengan tissue yang dipegangnya. Setelah lembar pertama yang dibawanya basah, cepat digantinya dengan lembar berikutnya, dan diulangnya mengusap bagian pangkal paha dan sisi paha dalam istriku sampai betul – betul bersih.

Istriku membiarkannya saja, dia menurut saja waktu Agus mendorong tubuhnya ke posisi telentang.

Sekarang anak itu terlihat memijit – mijit kaki istriku dengan penuh kasih sayang, di urutnya perlahan betis mulus istriku dengan lembut dan pelan, seperti orang yang sedang berpacaran saja.

Istriku menikmati pijitan itu dengan tersenyum senyum kecil, dia sekarang berbaring telentang, buah dadanya yang montok dibiarkan saja terbuka, membusung ke atas, membuat Agus semakin betah saja dengan kegiatan pijit memijitnya.

Anak itu sekarang bergerak naik, tangannya berpindah dari betis ke paha istriku yang mulus dan bersih.

Matanya tidak lepas memperhatikan gerakan buah dada istriku yang turun naik seiring nafasnya, sesekali diliriknya pangkal paha istriku yang dihiasi bulu – bulu tipis menggairahkan.

“ Dasar .. masih belum puas juga dia menikmati jepitan buah dada Fang Fang .. “ batinku sambil menyelesaikan kegiatanku bersih – bersih. Bergegas ku pakai celana kolorku kembali sebelum aku melangkah keluar kamar mandi.

“ Ma .. udah tuh, bersih – bersih dulu .. “ Suruhku sambil mendekat. Agus menoleh melihatku dengan pandangan kecewa. “ Pakai celanamu Gus .. tuh burungmu bangun lagi tuh .. “ Suruhku sambil menunjuk penisnya yang memang sudah kembali berdiri tegak.

“ Eh .. I .. iya Om .. “ jawabnya tergagap, tapi tangannya masih sibuk memijit – mijit paha istriku.

“ Masa bangun lagi Gus ? “ Istriku tiba – tiba bergerak bangun, dia terkikik geli melihat penis Agus yang memang sudah tegak sekali, menjulang seperti kayu.” Aduuhh .. belum puas juga ya ? .. “ Godanya sambil menggenggam penis anak itu gemas, seperti sengaja, dia menempelkan dadanya ke punggung Agus, membuat anak itu semakin gelagapan.

“ Adduh .. iya Tante .. mm .. saya mau masukkan ke situ boleh ? “ Agus menjawab lirih sambil memandang pangkal paha istriku yang masih terbuka.

“ Nggak boleh Gus .. sekarang pakai celanamu tuh .. “ Jawabku cepat sambil aku raih celananya dan kulemparkan menutup penisnya.

“ Lain kali saja .. kalau kamu baik baik dan bisa jaga rahasia .. mungkin Tante kasih kamu masukin ke sana .. “ Hibur istriku sambil melepaskan genggamannya dan beranjak ke kamar mandi.

“ I .. iya Tante .. “ Jawabnya lesu .. dia bangun juga, tapi tidak segera memakai celananya .. matanya masih mengikuti istriku yang berjalan telanjang ke kamar mandi .. tapi kali ini Fang Fang menutup pintu kamar mandi rapat – rapat. Nampaknya dia tidak tega juga untuk terus menggoda anak itu.

“ Sudah Gus .. pulang dulu sana .. “ Suruhku sambil memandangnya, iba juga sih melihat muka lesunya itu. Aku tahu rasanya menahan nafsu yang tidak kesampaian begitu. Tapi .. ya anak itu juga harus belajar menahan diri .. dengan istri orang lagi.

“ Iya Om .. “ Usai memakai celananya Agus mengemasi buku – bukunya dan memasukkannya kedalam tas. “ mm .. minggu depan lagi ya Om ? .. “ Tanyanya sambil melihatku penuh harap.

“ Minggu depan kamu ke sini buat belajar computer .. “ Jawabku tegas “ Jangan mikir macam2 … yang penting jaga rahasia ya .. nanti kita lihat lagi “

“ Iya Om ..” Jawabnya pelan. Dia menunggu istriku keluar dari Kamar Mandi sebentar. Tapi setelah beberapa lama ditunggu dan ternyata malah terdengar suara air shower dihidupkan akhirnya anak itu pamit pulang.


PRAMUGARI di kamar ganti

Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota “S”, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita “Rahasiaku” kepada situs ini. Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”

Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju.

Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.

Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu.

“Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah.

Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.

Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah.

Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.

Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.

Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,

“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.”

Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya, “Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.”

Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga, “Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.”

Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.

Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian, “Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.”

Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya, “Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.”

Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.”

Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.

Aku pura-pura kaget, “Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” kataku.

Vera menjawab, “Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.”

Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,

“Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.”

Dan Vera menjawab, “Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.”

Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.

Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya.

Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksabaju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.

Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu.

Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.

Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera.

Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.

Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria.

Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.

Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari.

Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.

Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri.

Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.

Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.

Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.


Bercinta dengan adik ipar yg manja

“Masak apa Yen?” kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur. “Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda. “Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku. “Dia lembur, nanti aku jemput lepas magrib,” jawabku. “Kamu nggak ke kampus?” aku balik bertanya. “Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.” “Aauww,” teriak Yeyen tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. “Sini aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan.

Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Yeyen nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya.

Sedangkan aku berdiri persis di sampingnya. “Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,” katanya sambil menarik tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. “Makanya jangan ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?” godaku sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya. “Yee, nggak ada hubungannya, tau,” jawabnya cepat sambil mencubit punggung lenganku yang masih berada dipundaknya.

Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini 27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. “Mas boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma pacarnya sendiri?” tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku hanya menjawab, “Tergantung.” “Tergantung apa Mas?” desaknya seperti penasaran.

“Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa aja dia lupa Ma pacarnya,” jawabku sekenanya sambil terkekeh. “Kalo Mas sendiri gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih cantik dari pacar Mas. Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?” tanya dia. “Hehe,” aku hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. “Yee, malah ketawa sih,” katanya sedikit cemberut. “Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa deh kalo aku udah punya istri,” jawabku lagi sambil tertawa. “Hah, awas lho ya. Ntar Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,” katanya sambil menahan tawa. “Gih bilangin aja, emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,” kataku terbahak, sambil tanganku mengelus-ngelus kepalanya. “Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.” “Lho, aku emang serius kok Yen,” kataku sedikit berpura-pura serius.

Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. “Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih ya dah diobatin,” katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. “Sini biar aku bantu,” kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya. “Udah ah, nggak usah Mas,” katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu, tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam.

Yeyen nampak ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya. “Maafin aku Yen,” bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen tak menjawab, tak juga memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga.

Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. “Sshh,” Yeyen seperti mulai terbuai dengan jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya. Seperti tanpa ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. “Sshh,” dia mendesah lagi. Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu.

Sementara tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu. “Aahh, mass,” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang sambil sesekali juga terdengar mendesah. “Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku.

Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. “Yeyen takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku. “Takut kenapa, Yen?” kataku setengah berbisik. “Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya.

Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal. “Aahh, Mas,” desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya.

Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyen sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. “Aaooww Mas,” ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan.

Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja.

Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu.

Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas. Yeyen takut Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu. “Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyentuh klitorisnya.

Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass, een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja. Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,” erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. “Please, jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. “Nggak Papa Yen, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya.

“Yeyen takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja. “Pegang aja Yen,” kataku pelan.

Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. “Aku udah gak tahan banget Yen,” bisikku pelan. “Yeyen takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu. “Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. “Kita sambil duduk, sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku.

Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang. Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyen. Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyen. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. “Yeenn,” kataku. “Aooww, ter, russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik, nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya.

Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. “Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya semakin tak karuan. “Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyen sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya. “Yenn,” suara seseorang memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. “Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya terperanjat. Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur.

Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..” “Mas buruan dipake celananya,” Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana.

Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. “Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus menyelong ke kamar mandi. “Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyen begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yen?” “Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi. “Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. “Pindah ke kamar gih Mas,” katanya lagi.

Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum. “Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku. “Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyen setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. “Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya tadi emang lagi mo masak.

Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyen berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. “Waduh, kasihan Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih mbaknya,” kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak.


kenalan lama temen sms

Suatu siang aku jalan-jalan kepusat perbelanjaan buat refresing….ya..liat-liat cewek cantik.Begitu aku lagi liat kiri kanan..eee..tak taunya seseorang menubrukku .Wanita ini sepertinya habis belanja banyak dan tergesa-gesa hingga tak tahunya menubruk orang. Begitu bertabrakan…aku langsung membantu memberesi barang-barangnya yang berserakan.Tak lupa kuucapkan permintaan maafku padanya karena tak sengaja menabraknya….walau sebenarnya dialah yang harus minta maaf padaku.

“Maaf ..mbak…nggak sengaja nih…”kataku padanya.

“ya…nggak apa-apa lagi….oya..kamu Andy kan….”katanya padaku.

“iya..saya Andy….dan mbak siapa ya…kok tahu nama saya”

“kamu nggak ingat sama aku ya…teman SMA kamu…yang suka jahilin kamu….”katanya padaku.

“siapa ya….eeeee….maaf …Rani ya….SiBunga SMA “

“Tepat sekali ….tapi tadi kok kamu manggilin aku mbak seh…”

“Maaf deh….abis aku nggak tau siapa kamu..”

“kenapa..lupa ya sama aku….atau emang udah dilupain ya…”

“ya..gimana ya..kamu cantik banget ..beda dengan yang dulu..”kataku sedikit memujinya.

“ak kamu ….biasa aja kok…”katanya sambil tersipu malu.

“oh ya….kita kekafe yuk..buat ngerayain pertemuan kita ini…”

“ok deh…tapi kamu yang traktir aku ya…abis aku lagi bokek nih”kataku padanya

“ya..nggak masalah lagi….”

Aku dan rani pergi kekafe langgananya Rani.Sampai disana ..kami memilih meja yang paling pojok.Suasana didalam kafe ini sangat sejuk dan nyaman…membuat orang yang berada didalamnya betah untuk duduk berlama-lama.

“Gimana kabar kamu sekarang andy…..udah berkeluarga ya…”tanya rani padaku.

“aku seh baik-baik aja….masih sendiri lagi….masih kepengen bebas”

“kalau kamu gimana….udah bekeluarga ya….”tanyaku padanya.

“aku udah married….udah 3 tahun”

“asyik dunk….trus suami kamu mana…kok pergi sendirian ….nggak takut digodain sama lelaki iseng”

“ah kamu..biasa aja lagi….laki aku lagi keLN…urusan bisnis katanya”

eh…ayo makan..kok didiamin aja nih”

kamipun akhirnya menyantap hidangan yang telah tersedia.Habis makan,kami jalan-jalan dan pulang kerumah masing-masing

Beberapa hari kemudian….Rani mengirim SMS keHP ku….isinya mengajak aku untuk main kerumahnya.SMSnya kubalas….dan aku tanyakan dimana alamat rumahnya..Beberapa menit kemudian…Rani membalas SMSku dan menyebutkan alamat rumahnya.

Aku berangkat kerumah Rani…sibunga SMA.Tak lama kemudian ..aku sampai didepan rumah mewah.Kubaca kembali alamat yang diberikan oleh Rani dan kucocokkan dengan nomor rumah yang tertera didepan pintu…pass..memang benar ini rumahnya.Kutekan bel yang ada didepanku.Beberapa saat kemudian …pintu pagar terbuka dengan sendirinya.Aku masuk, pintu pagarpun ikut tertutup dengan sendirinya.Aku berjakan menuju teras depan dan Rani telah menungguku disana.

“Hii..gimana kabar kamu sekarang….”sapanya padaku.

“Baik saja nih….kamu gimana…kok sepi amat seh…pada kemana nih”

“iya nih…nggak ada siapa-siapa nih dirumah…jadi kesepian..makanya aku undang kamu kesini ..buat nemenin aku…”

“nggak salah nih..ntar suami kamu marah lagi”

“ah..nggak apa-apa lagi…. dia lagi diLN sekarang nih…”

“yuk ..masuk….kita ngobrol didalam aja deh”

Kamipun masuk kedalam rumahnya Rani.Wah….benar-benar mewah nih rumah..semua perabotannya sangat mengagumkan.

“mari..silahkan duduk….jangan malu -malu..anggap saja seperti rumah sendiri”

“Thank’s….”dan akupun duduk

“oya..mau minum apa nih….panas..dingin atau yang hangat..”kata siNyonya rumah.

“jadi bingung nih ..milihnya …”kataku padanya.

“ya…kalau yang panas…teh sama kopi…trus kalau mau yang dingin..ada soft drink..”balas si Rani

“trus kalau aku milih yang hangat gimana”tanyaku lagi.

“ya…ada deh…”kata rani sedikit genit.

“ok deh…kalau gitu..aku minta yang hangat aja deh”kataku coba menggodanya.

“ah..kamu ini bisa aja….ntar kalau aku kasih kamu nggak susah nanti”

“ya..tergantung yang ngasih dunk…”

Rani bangkit dari duduknya ….”bentar ya …aku kebelakang dulu”

Ia pergi meninggalkanku diruang tamu yang mewah itu.Rani kembali lagi keruang tamu dengan membawa dua gelas jus orange .Dia meletakkannya datas meja.

“Lho..tadi katanya yang hangat..kok yang itu seh”kataku padanya.

“yang hangat ntar….so pasti aku kasih deh”

Akupun duduk kembali.

“Ran…rumah kamu bagus banget deh….semuanya kamu punya…so pasti kamu bahagia dong dengan suami kamu….”

“ah ..siapa bilang..dari luarnya saja aku keliatan bahagia”katanya mulai serius

“memang semuanya aku punya ..tapi khan itu nggak menjamin aku bahagia”

“bayangin aja deh ..dalam satu bulan ..palingan suamiku 3 hari ada dirumah”

“selebihnya ..ya kesana kemari ..ngurusin bisnis keluarganya yang segudang itu…jadi kamu bisa bayangin deh..betapa aku sangat kesepian..”

Rani mulai menceritakan semua keluhan yang ada dalam dirinya.Kucoba memahami setiap jalan ceritanya sambil sesekali mataku nakal melirik bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan sekali.Saat itu,Rani mengenakan kaos yang cukup ketat sekali sehingga mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sangat indah itu.Dibalik kaos ketat lengan pendek itu …sepertinya Rani tak mengenakan Bra…itu terlihat dari tonjolan kecil dipuncak dadanya yang padat dan berisi .Perlahan terasa sesuatu bergerak nakal dari balik celana yang kukenakan.

Rani bangkit dari duduknya dan pindah disampingku.Tercium bau harum parfumnya yang sangat mengundang gairah.

“Dy..aku kangen banget deh sama kamu….”katanya padaku

“oya…”kataku padanya.

“iya nih….apalagi sama…….”katanya terputus.

“sama apa seh Ran…..”

“sama…..sama ini nih….”katanya sambil meletakkan tangannya diatas gundukan batang kejantananku.

Kontan saja aku terkejut mendengar penuturannya yang begitu spontan.walau sebenarnya aku juga menginginkannya.

Karena tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku,Rani tak memindahkan tangannya dari atas selangkanganku..malah sebaliknya dia

mengelus pelan batang kejantananku yang masih tersembunyi dibalik celana panjang yang kukenakan.

Perlahan ..mukaku dan muka Rani makin mendekat.Rani memejamkan matanya sambil merekahkan bibirnya padaku.Kukecup bibirnya yang merah itu.Mulutku bermain dimulutnya yang mungil dan seksi .Sesekali lidahku berpilin dengan lidahnya .Rani sangat bergairah sekali menyambut ciuman bibirku dibibirnya.

Sementara itu tanganku tak tinggal diam.Kucoba meraba dua bukit kembar yang tumbuh didadanya. Begitu hangat ,padat dan berisi Terasa sangat halus sekali kulit dadanya Rani.Dua puncak dadanya yang mulai mengeras tak luput dari remasan tanganku.Dan tangan Rani semakin liar begerilya diatas gundukan batang kejantananku yang mulai mengeras.

Rani beranjak dari tempat duduknya .Perlahan ia mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya.Hingga akhirnya tak sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya.Kuperhatikan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.Begitu sangat sempurna sekali.Dua gundukan bulat menggantung didadanya .ditambah dengan bukit kecil yang ditumbuhi bulu hitam yang lebat menandakan kalau Rani type wanita haus seks.

Rani kembali duduk bersimpuh dihadapanku.Kali ini ia mulai membuka celana panjang yang masih kukenakan.Begitu celanaku terbuka ..nongollah batang kejantananku yang mulai mengeras dibalik celana dalamku.Namun tak berselang lama celana dalamkupun telah terbuka dan tinggallah penisku yang tegak bak torpedo yang siap meluncur.

Tangannya yang halus itu mulai membelai batang kejantananku.Lama kelamaan ukurannya makin membesar .Rani mulai menjilat ujung kepala penisku .Mulutnya yang mungil itu menjiltai permukaan kulit batang kejantananku hingga sampai kedua buah biji pelerku.Beberapa saat lamanya Rani menikmati batang kejantananku dengam ciuman-ciuman yang sangat menggetarkan persendianku.Sementara kedua tanganku meremasi kepalanya .Hingga sesuatu terasa berdenyut dibatang kejantananku Sesuatu yang ingin muncrat dari ujung kepala penisku.Aku semakin kuat menjambak rambutnya Rani dan menekannya kedalam hingga ujung kepala penisku menyentuh ujung tenggorokannya.

“Akhhh..Ran..aku mau keluar nih”erangku padanya

Beberapa detik kemudian spermaku tumpah didalam mulutnya Rani.Tanpa merasa jijik sedikitpun Rani menelan setiap tetes spermaku.Dan sambil tersenyum ..Rani menjilati sisa- sisa sperma yang masih tersisa dibatang kemaluanku.

Beberapa saat kamipun istirahat setelah aku mencapai orgasme yang pertama. .Kemudian aku berdiri dan mengangkat tubuh montok Rani dan merebahkannya diatas sofa yang empuk .Kini tiba saatnya bagiku untuk memulai babak permainan berikutnya.Aku membuka kedua kaki Rani lebar-lebar.Kudekatkan wajahku kepermukaan perutnya yang datar.Dengan penuh nafsu ..aku menjilati setiap permuakaan kulit perutnya yang halus itu.Rani menggelinjang hebat merasakan jilatan bibirku dipermukaan kulit perutnya yang ramping.

Rani merasakan dirinya seolah terbang kesorga kenikmatan saat ujung-ujung lidahku mengelitik organ-organ sensitifnya.Ia melupakan sejenak bayangan suaminya yang saat ini sedang berada diluar negri.Baginya ,kenikmatan yang kuberikan padanya tak ada bandingnya dengan limpahan materi yang diberikan oleh suaminya.Desahan…erangan dan jeritan Rani makin menbuatku bersemangat menusuk-nusuk permukaan Vaginanya dengan ujung lidahku.

“Sayang….cepet dunk masukin punyamu kememek aku….udah nggak kuat nih”rengeknya padaku.

Akupun memenuhi permintaan Rani yang sudah tidak tahan menunggu batang kejantananku yang tegang dan mengeras untuk masuk kedalam vaginanya Rani.

Aku memegang batang kejantananku dan mengocoknya sebentar kemudian mengarahkannya kelubang vagina Rani.

Aku mulai maju mendorong pantatnya Rani.Beberapa kali kucoba selalu meleset.Mungkin karena ukuran senjataku yang cukup besar hingga sulit untuk menembus lubang vaginanya yang rapet.Namun setelah beberapa kali mencoba,akhirnya batang kejantananku masuk menembus lubang memeknya Rani.Tanpa membuang waktu lagi,kugerakkan pantatku maju mundur menusuk memeknya Rani.Dengan penuh nafsu,Rani menikmati gerakan Penisku yang maju mundur menusuk vaginanya.Desiran dan desahan beriringan keluar dari mulutnya yang mungil itu.Rani mengimbangi gerakanku dengan memaju mundurkan pantatnya yang bahenol itu.

Sekitar tiga pulu menit berlalu,Rani merasakan akan mencapai klimaks.Rani mengangkat pantatnya dan menggelinjang hebat.Wajahnya berubah ganas,matanya mendelik saat puncak kenikmatan itu datang.Aku tahu kalau Rani akan mencapai klimaknya.Kupercepat gerakan pantatku menusuk vaginanya sampai akirnya puncak kenikmatanna datang.Rani mendekap erat tubuhku,Vaginanya berkedut-kedut menjepit batang kejantananku.Cairan hangat dan kental merembesi dinding vaginanya.Orgasme yang beruntun telah dialami Rani sibunga SMA.
Untuk beberapa saat ..kubiarkan Rani menikmati sisa -sisa orgasmenya ,sebelum kami melanjutkan permainan yang berikutnya.Perlahan Rani bangkit dari tidurnya dan duduk diatas sofa empuk itu.Akupun duduk disampingnya .Tanganku singgah digundukan vagina yang ditumbuhi rambut halus itu.Kubelai perlahan untuk membangkitkan kembali gairah wanita cantik yang ada disampingku ini.Perlahan terdengar desahan lembut dari mulut Rani.Sementara itu mulutku tak lepas dari dua puncak mungil didadanya.

Merasa sudah tepat saatnya bagiku untuk menuntaskan permainan ini…kuangkat Rani dan kududukkan ia diatas pahaku.Posisinya kini tepat berada diatas pangkuanku,sehingga dua buah dadanya yang padat membusung tepat berada didepan mulutku.Kugosok-gosok ujung penisku kemulut vaginanya.Kutekan ujung penisku hingga amblas masuk kedalam Vaginanya.Kudiamkan perlahan,kunikmati beberapa saat kontolku bersarang dalam memeknya Rani.

Perlahan kugerakkan pantatku naik turun menusuk lubang kemaluannya Rani.Gerakanku makin lama semakin cepat membuat tubuh Rani bergoyang-goyang diatas pangkuanku.Terdengar erangan kenikmatan dari mulut rani.Beberapa kali ia harus memekik kecil tak kala penisku yang makin membesar menyentuh ujung rahimnya.Sementara dua buah gundukan didadanya bergoyang -goyang tak karuan .Kedua tanganku meraih dua gundukan itu dan meremasnya perlahan.

Beberapa menit kemudian terasa sesuatu menyesak dalam batang kejantananku.Mungkin tiba saatmya bagiku untuk orgasme.Dengan diiringi desahan panjang secara bersamaan…aku dan Rani mencapai orgasme. Kusemprotkan spermaku yang hangat didalan vagina Rani.Beberapa saat kemudian Ranipun menyusul.Cairan hangat merembesi dinding Vaginanya yang hangat itu.Aku memcabut batang kejantananku dari dalam vaginanya Rani.

Dengan cepat Rani jongkok diselangkanagnku dan menjilat sisa-sisa sperma yang masih menempel dipenisku.

Sesaat kemudian Rani tersenyum padaku.Senyum penuh kepuasam …yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya tersayang.Aku bangkit dan mengenakan kembali pakaianku.Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan jam sepuluh malam.Akupun pamit pada Rani.

Namun sebelum aku pergi meninggalkam rumah Rani…ia memberikan sesuatu buatku sebagai hadiah.Sebuah Handphone terbaru dan motor besar .Semula aku menolak pemberiannya …namun ia berharap sekali aku menerima pemberiannya itu.Demi menghibur hatinya Rani..kuterima hadiah yang bagiku cukup besar sekali.Kupergi meninggalkan Rani dengan membawa Handphone dan sebuah motor besar.Hadiah yang mungkin lebih kecil jika dibandingkan dengan kenikmatan seks yang kudapatkan hari ini….dan bahkan akan kudapatkan hari-hari berikutnya bersama wanita cantik yang pernah menjadi Bunga SMA.


Bos lajang yang penuh gairah

Ayohh tutup pintunya, bisik Liza, dengan terengah dan mendesah. Aku segera bergegas, menutup pintu dengan tangan kanan, sementara jemari tangan kiriku sibuk mencoba mengeluarkan dua lembar bulu bawah Liza dari rongga mulutku, sebagai hasil pemanasan berupa cunnilingus.

Gila juga. Kami bercumbu di kantor. Liza, tepatnya Ibu Liza Permatasari (nama samaran), yang oleh kalangan dekatnya dipanggil sebagai Sari, adalah bossku. Di kantor kecil ini lelaki cuma aku dan pesuruh. Satpam cukup dari pengelola kompleks ruko. Lima belas staf lainnya adalah cewek, lajang semua.

Malam telah merambat. Saat ini sudah pukul 20.45. Liza membatalkan kepulangannya.
“Kamu gila. Udah basah dan nikmat gini masa harus pulang. Belum tuntas nih”, katanya, ketika aku menggodanya, sambil memainkan clit-nya, dan berpura-pura mengingatkan bahwa hari sudah malam, kemacetan sudah berkurang.

Maka kalimat susulan yang terlontar dari mulut mungilnya adalah permintaan untuk menutup pintu. Artinya, sekalian mengunci pintu. Para staff sudah pulang. Office boy sudah pulang. Pintu front office di lantai bawah sudah dikunci. Lampu yang menyala cuma dikurangi.

Kini kuhampiri Liza (tanpa panggilan “Ibu”, karena ini acara intim, bukan dinas) yang masih mengangkangkan kedua kakinya di sofa dekat meja kerjanya. Pakaiannya masih utuh. Blazernya masih terpakai, tapi seluruh kancing blus sudah terbuka, dan bra pembungkus bukit kembar 36B sudah tidak menyangga isi, hanya menggantung di atas bukit. Rok mini sudah tersingkap paling atas, melingkar tergulung di pinggangnya.

Celana dalam? Oh, segitiga mungil berenda itu berada di lutut kanan Liza. Liza yang mengangkang, alangkah seksi-nya! Paha dan perut putih mulus itu melingkungi segitiga lebat keriting, yang memayungi labia majora dan minora merah basah. Basah karena lelehan kelenjar bertholin dari vaginanya, dan juga karena cairan salivaku. Clit-nya yang berdiameter 1 cm dan panjang 3 cm tampak mengeras. Inilah pesona lajang kesepian, seorang wanita karir berusia 35 tahun.

Mungkin ini peristiwa ke-15 dalam hubungan kami, yakni percumbuan di kantornya. Aku bisa bisa bilang begitu, karena seminggu dua kali kami petting, Rabu dan Jumat, dan hal itu sudah berlangsung hampir 3 bulan, tentu saja tersela oleh kalender palang merah, bukan?

Aku kembali membungkuk, atau mungkin bersila. Mulutku tanpa permisi langsung menyergap vagina segar dan clitoris menegang itu. Labianya kurentangkan dengan jari, lalu lidahku kutembuskan ke liang, bergerak kanan-kiri-atas-bawah, memutar-mutar.

“Auuwww…”, desah Liza tertahan. Aku semakin nakal. Satu jariku masuk ke liang, maju-mundur, berputar-putar. “Kamu gilaa…”, desahnya.
Itu tak cukup. Kini jempolku ganti masuk liang vaginanya, sementara ujung jempolku melesak ke lubang duburnya, yang sebelumnya sudah aku olesi dengan cairan vagina agar sedikit licin. “Gilaa!” teriaknya. Semoga satpam tak mendengar. Liza segera meraih kepalaku, untuk dia benamkan ke pusat kewanitaannya. Aku gelagapan, susah bernafas. Tapi dia tak peduli. Pinggulnya bergerak liar, agar vulva lajangnya bisa mengerjai seluruh mukaku. Akhirnya aku kehabisan nafas. “Lizaa aahh….”, desahku, sambil mundur menjauhkan kepala dan mukaku yang basah oleh hajaran vaginanya.

“Jangan panggil aku Liza. Saat ini aku bukan bossmu. Panggil aku Sari saja”, desisnya. Muka, leher, dan dadanya mulai berkilat oleh peluh. Ternyata AC tak mampu membendung keringat si lajang yang sedang direbus oleh birahi. Aku sendiri merasa gerah. Lalu aku raih remote control AC di meja, aku turunin suhunya. Sari terpejam-pejam, terengah-engah. Tidak seperti biasanya, kali ini dia belum orgasme oleh oral dan jariku. Selama ini kami bercumbu tanpa penetrasi penis. Setelah dia klimaks, biasanya giliranku untuk menguras muatanku, dengan mengocok sendiri, yang kemudian aku tumpahkan ke lembaran tissu yang aku ambil dari meja Sari.

“Terserah kamu, pokoknya aku mau puas total”, desah Sari, masih dengan mengangkang di sofa. Aku berdiri di depannya. Dengan terburu kulepas bajuku. Dasi sudah sejak tadi tercampakan ke karpet. Lalu kulepas pantalonku. Dengan kilat celana dalamku pun lepas. Tapi ah…, masih ada yang mengganjal. Maka sepatu pantofelku itu seperti aku tendangkan, tergeletak ke bawah mejanya. Kaos kakiku pun dengan segera terlepas, dan tercampak entah ke mana. Kini aku bugil di depanya dengan penis teracung ke atas. Liza melihat penisku terus. Selama ini dia hanya memandang. Belum pernah memegang. Maka ketika aku mengocok penisku pada setiap akhir percumbuan dia seperti menikmati pria telanjang dari jarak dekat.

Sebuah pemandangan yang kontras. Aku sudah bugil, dia masih tergolek mengangkang di sofa dengan pakaian yang lengkap, meski acak-acakan. Aku semakin mendekatinya. Dia terbelalak, ketika sadar penisku sudah sekian cm dari mukanya. Sudah kepalang tanggung. Birahiku sudah mendidih. Sekian lama hanya menahan diri. Lantas kusorongkan penisku ke wajahnya, mengenai pipi. Lalu kena hidungnya, matanya, keningnya, lalu bibirnya yang kini terkatup rapat. “Sari, gantian dong”, bisikku meminta.

Dia buka sedikit mulutnya. Ujung penisku melesak masuk sekitar dua cm. Terasa mulut yang hangat. Ketika mulut ternganga sedikit, penisku kudorongkan. “Blep!” masuklah separuh penis ke mulut si cantik langsing yang mirip artis Yenny Farida di masa mudanya itu. Dengan cepat dia menyesuaikan diri agar tak tersedak. Lantas naluri kewanitaannya pun bekerja. Dia menjilati penisku. Mulanya dengan posisi menyamping, penisku terpalang horizontal di mulutnya, seperti sate yang akan disantap. Kemudian posisi menjulur, ‘senjata terkokang’ itu dijilat dan dihisap seperti es lolly. Oh nikmat dan bahagianya.

Ternyata sambil melakukan jilatan di vaginanya, tangan kiri Sari mengusap-usap vaginanya sendiri. Ketika dia berhenti sejenak dalam meng-oral, jemari kiri yang mengkilat oleh cairan vagina itu dia hisap dan jilat. Begitu berulangkali. Akhirnya aku tidak tahan. Kalau menuruti nafsu, keinginku sih biar muncrat dan tumpah sekalian seluruh maniku ke mulut dan wajahnya. Akan tetapi dia kan belum puas. Kasihan.

Maka kucabut penisku dari genggaman tangan serta hisapan dan jilatan mulutnya. Tapi ah…, dua atau tiga tetes maniku telanjur keluar, langsung menetes di lidahnya. Dengan sigap dia tarik lidah itu, dan tampaknya dia mencicipi rasa benda yang baru dikenal dalam hidupnya, cairan sperma. Untunglah aku bisa menahan diri. Kucekik penisku dengan jempol dan telunjukku, agar mani tak membanjir, sekaligus agar batangku tetap ereksi.

Kami sama-sama mengambil nafas. Lantas kuhampiri Sari, kupeluk, kugendong, lalu kurebahkan di meja kerjanya yang luas. Dengan lembut dan pelan kuciumi lehernya, sementara tanganku melepas blazer, blus, dan branya. Payudara putih bersih nan kenyal, dengan puting kemerahan yang mengeras, alangkah indahnya. Kucium dan jilati kedua bukit itu berikut puncaknya. Kunikmati aroma khas yang memancar dari lipatan bawah payudaranya agak kecut tapi merangsang.

Bossku itu seolah tak merasakan kerasnya meja kerjanya yang berkaca. Dia terus merem-melek, meleguh, terengah, mendesis. Apalagi ketika aku menciumi dan menjilati ketiaknya yang licin bersih. Ketiak wangi yang mulai bercampur keringat. Oh.., indahnya. Oh…, merangsangnya. Sementara itu tangan kananku merenggut rok mini itu, sehingga dia kini telanjang bulat, sedikit kedinginan oleh semburan hawa AC. Kuraba vulva itu. Bulu kemaluan yang lebat, rimbun, dan hangat itu rupanya telah sedikit mengering oleh hembusan AC. Begitupun bibir vaginanya. Namun clitorisnya masih mengeras. Ketika kupijat lembut clitorisnya, Sari melenguh, “Aouhh…”

Kini mulutku menjelajahi pusar dan perutnya. Sari mengaduh-aduh. Tanganku mengambil buku telepon, kuganjalkan ke pantatnya. Dengan lidah terjulur kudekatkan mulutku ke vaginanya, tanpa menempel, lalu berhenti. Aku diam saja. Sari tak sabar. “Terlalu! Kamu terlalu. Ayoh aku udah kebelet nih”, dia seperti berteriak. Kedua tangannya merenggangkan vulva selebar-lebarnya, sementara kakinya mengangkang lurus menyamping seperti gadis plastik sirkus.

Aku melihat sebuah demonstrasi otot vagina yang dahsyat! Tangan Sari sudah tidak menjereng vaginanya. Tapi kakinya masih kangkang lurus menyamping. Astaga! Vagina itu bergerak-gerak, kembang kempis, menggembung mengerut. Dinding vagina nan merah seolah mau melotot keluar, untuk kemudian mengerut sehingga dinding merah mengkilat itu tersembunyi sebagian.

Sedangkan clitorisnya tetap mengeras seperti teracung, menagih jilatan. Aku jadi semakin gila. Kusosor vagina itu. Kumainkan mulut dan lidahku, menggarap bibir vagina dan clitoris. Kujejalkan lidahku ke liang hangat saat membuka diri. Wuhh…, banjir cairan vagina menyembur, aku jilati liang vaginanya yang merupakan sumber dari cairan itu. Rasanya asin. Aku ingin menguras cairan lajang yang 7 tahun lebih tua dariku itu. Kedua tanganku merentangkan kakinya, lalu aku meng-oral vaginanya habis-habisan. Akhirnya Sari berteriak tertahan, “Aku sampe puncak!”. Dia menjambak rambutku, membenamkan wajahku ke vaginanya, sehingga aku gelagapan dan hampir tersedak oleh banjirnya cairan vaginanya.

Aku pun kian bernafsu. Kugendong Sari, kupindahkan ke selembar karpet tambahan yang menyerupai bulu kambing, di atas karpet dasar, di pinggir sofa.

“Ibu Liz, Liza, Sari…, aku nggak tahan. Kalo aku memperkosa kamu gimana?”, tanyaku, menahan nafsu sambil berposisi seperti menindih, tapi tubuhku tak menempel di tubuhnya karena tanganku masih menyangga badanku.

“Nggak usah memperkosa segala. Malam ini kita bisa bersetubuh, sayang”, katanya sambil meraih bahuku.

Oh pucuk di cinta, vagina mendamba, clitoris menagih. Kucium keningnya, matanya, hidungnya. Tapi pantatku masih seperti mengambang di atas tubuhnya, sehingga penisku pun menggantung menganggur, belum menyentuh kewanitaannya. Akhirnya aku pun capai. Pantatku turun. Sari langsung mengangkang. Tapi ah, tidak, tidak. Aku mau main-main dulu. Ini kan persetubuhan pertama kami. Maka penisku kini cuma kugesek-gesekan ke bulu kemaluan, clitoris, dan vaginanya. Dia terpejam nikmat. “Gilaa, aku sukaa”, bisiknya. Lama-kelamaan kurasakan gesekan penisku seperti mengenai bidang licin. Rupanya cairan vaginanya belum habis, terus membanjir. Hilang sudah rasa permukaan bibir vagina yang merangsang penisku. Sementara gesekan bulu kemaluan pun semakin licin karena bulu superlebat yang membentuk segitiga, menyerupai celana dalam, itupun sudah basah.

Aku beringsut. Kuambil blus silk Sari. Kuusapkan ke vaginanya untuk mengeringkan cairan. Dia sendiri pun tak peduli blus bagus itu buat mengepel vagina. Kini vagina itu mengering. Aku menindihnya tapi masih bertumpu pada tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang penis, untuk dimainkan di vaginanya. Dia melenguh nikmat. Tapi lama-lama aku capai juga. Oh Sari yang cantik. Dia akhirnya punya inisiatif. Dibiarkannya aku menindihnya, tapi kini giliran tangannya yang memegang penisku.

“Pakai buat masturbasi Liza Sari sayang”, bisikku.

Wow! Nikmatnya penis dipegang jemari lentik dan dipakai untuk onani vagina. Aku merasa terbang menumpang concorde. Hampir tak ingat apa-apa, ketika tiba-tiba kurasakan “Blessszzhh…” Penisku sudahg masuk. Lancar sekali, meski dalam jepitan, karena vaginanya memang licin.

“Kamu pikir aku tahan? Nggak. Aku udah birahi banget. Lima tahun nggak bersetubuh setelah putus pacaran. Tiga bulan cuma petting. Sekarang kepalang basah. Kita bersetubuh saja”, bisiknya.

Kubenamkan penisku dalam vagina yang menjepit itu. Aku diam saja. Pinggul Sari di bawah berputar-putar, naik turun, maju mundur, geser kanan-kiri. Aku merasa termanjakan. Sampai akhirnya kurasakan maniku mulai mendidih, seperti ruap soda dalam botol yang dikocok. Aku beringas. Kupompa vaginanya dengan penisku. Kutekan selangkangannya dengan bagian bawah tubuhku. Kuputar pinggulku.

“Sari, kita hitung yuk. Kita hitung sampe 10 lalu puncak bareng ya?”, bisikku.

“Sepuluh, seratus, seribu, sama saja. Aku sudah memasuki pintu klimaks…”

“Satu, dua, tigaa…”, aku menghitung.

“Empaattt, Limaa burung, enam spermaa….”, lanjutnya dengan terengah.

“Tujuh itil, delapan jembut….”, aku menimpali.

“Sembilann… Auwwwwww! Aku climaks! Gila! Mana manimu! Ayo dong cepetan! Udah lima tahun vaginaku nganggur nggak ngerasain sosokan burung dan semprotan mani!”.

Inilah keajaiban. Tiba-tiba maniku seperti tertahan, tapi penisku kian mengeras, sampai kulit penis ini agak perih, mungkin lecet sedikit. Kupompa vagina Sari dalam orgasmenya. Kurasakan vaginanya menyempit sementara cairan hangat kurasakan menyembur dari celah liang yang terjejali oleh penis. Terdengar suara “prepettt…” Aku tidak tahu, cairan ini dari vagina atau dari lubang kencingnya.

Akhirnya, tubuhnya mengejang. Matanya terbelalak, lalu terpejam, dan dia pun memelukku erat. Kudengar isak tertahan. “Aku nikmat. Aku lega. Aku bahagia”, bisiknya. Air mata membasahi kelopaknya. Kucabut penisku. Masih tegang. Aku juga ingin orgasme. Tapi aku kasihan kalau harus menyetubuhi dia terus. Pasti vaginanya capai. Atau malah lecet. Karena barusan tadi kurasakan bulu kemaluan ikut masuk ke liangnya, bersama penisku. Mungkin bulu kemaluannya. Karena setiap kali kami bercumbu, bulu kemaluannya banyak yang rontok.

Aku berdiri di sampingnya. Kukocok penisku. Pelan, pelan, lalu cepat, cepat, cepat, akhirnya ah…, tak tahan. Aku pejamkan mataku, sambil mengocok penis. “Blap!” kurasakan penisku masuk lubang, yang ada giginya. Ya! Kubuka mataku. Penisku masuk ke mulutnya. Kulepaskan genggamanku. Dia sudah bersimpuh di depanku, mengulum penis, tangannya mulai mengocok penisku, terkadang lidahnya menjilati.

“Awas Sari, nanti muncrat ke mulut lho!”, aku memperingatkan.

“Biarin. Ini untuk pertama kalinya aku minum isi burung”, katanya menantang.

“Oh ya?”, tanyaku.

“Iya. Ayo, kuras manimu, pejantanku!”, ajaknya.

Kini aku kocok sendiri penisku. Ketika titik didih sudah mendekat, genggamanku aku lepas. Tangan Sari segera menyambar. Dengan lima kocokan maniku pun muncrat. Crat! Crat! Crat! Craatt! Mulutnya telat mengantisipasi, mungkin karena belum pengalaman. Dalam sepersekian detik maniku menyembur pipinya, hidungnya, keningnya, lehernya, lalu, “Slep!”, penisku masuk ke mulutnya dengan mani terus membanjir. Dalam kulumannya penisku terus dia kocok. Lama-lama aku gemetar dalam lautan nikmat. Aku terduduk. Penisku tercabut dari mulutnya. Kulihat si cantik ini mukanya berlepotan cairan putih kental. Bibirnya berleleran sperma. Dia belum terampil menelan semua sperma, sehingga ada sisa yang tumpah keluar. Yang pasti dia tampak semakin cantik. Mungkin aku pun jadi mencintainya.

“Terima kasih bossku sayang. Ini bukan yang terakhir kan?”, tanyaku sambil mengusap rambutnya.

“Tentu…, Kamu mau sama aku meski aku lebih tua?”, jawabnya dengan mesra.

“Iya. Aku menyayangimu. Aku pingin mengeksplorasi semua pesona kewanitaanmu”, kataku.

“Masih banyak waktu. Lain kali kamu ke studio apartemenku. Apa yang akan kamu lakukan kepadaku Sabtu malam besok?”.
“Aku ingin mencoba anusmu, bossku sayang…”

Aduh! Diam mencubit lenganku, lalu pahaku, lalu penisku.

“Sakittttt boss!” kataku.

Dia tak mempedulikan. Setelah cubitannya lepas, dia pun bangkit, lalu membungkuk dengan menghadapkan pantat ke wajahku, yang masih terduduk di karpet dengan kaki terjulur, sambil kedua tanganku menyangga tubuhku. Jemarinya merentang anus yang merah dan dikitari bulu halus lurus yang panjang.

“Anusku masih perawan. Boleh juga sih kita coba Sabtu besok”, katanya.

Tiba-tiba pemandangan gelap. Kurasakan bau aneh, khas, tapi sedap. Astaga! Anus yang terentang jari itu sudah menempel ke hidungku. Awas, anus itu nanti menerima pembalasanku, dengan elusan penis dan tetesan maniku, sementara jariku bermain di clitoris dan vulvanya. Tunggu saatnya tiba, boss cantikku!


My True Walk In Interview

Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus ke pelataran parkir hotel P, sebuah hotel berbintang 5 yang terletak di jalan Asia Afrika. Sebagai anak kost yang sehari-hari harus prihatin, sebenarnya apa urusannya saya harus datang ke hotel semewah ini ?. Sebelumnya ijinkanlah saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Ryo, 23 m Bdg (come on chatters, you should know this code). Saya kuliah di sebuah fakultas teknik yang sering disebut sebagai fakultas ekonominya teknik, karena banyaknya mata kuliah ekonomi yang bertebaran dalam kurikulumnya, di sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di kota ini. Tapi syukurlah beberapa waktu yang lalu saya telah lulus dan diwisuda menjadi seorang Insinyur, but for now, I’m only an unemployment.

That’s why I come to this hotel. Kemarin seseorang yang mengaku bernama Ibu Ratna menelepon dan mengundangku hari ini untuk mengikuti sebuah psikotest dari sebuah perusahaan tembakau multinasional yang cukup ternama di Indonesia (dan beberapa waktu yang lalu terkena somasi masyarakat akibat acara promosi sebuah produknya yang agak “kelewat batas”). Setelah memarkirkan mobil di underground, saya melangkah menuju lobby hotel. Selintas saya melihat pengunjung hotel yang sedang menikmati breakfast (atau lebih tepatnya brunch kali yah ?) di coffee shop dan berkeliaran di sekitar lobby.

Yah…dibanding mereka yang berpenampilan santai sih, saya lumayan rapi. Ah cuek aja lah, yang penting pede. “Maaf Mbak, kalo ruang rekruitmen dimana yah ?”, tanya saya kepada seorang resepsionis yang bertugas di front office sambil menyebutkan nama perusahaan tersebut..

“Oh.., naik aja lewat tangga itu dan belok ke kanan.”, jelasnya sambil menunjukkan tangga yang dimaksud. Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun bergegas menuju ruang recruitment. Hmm… masih sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi, sedangkan ketika saya melirik jam tangan saya baru menunjukkan pukul 09.22 WIB. Setelah mengisi daftar hadir dan mengambil formulir data diri, saya menghempaskan diri di sebuah sofa empuk di pelataran ruangan tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB ketika seorang wanita mempersilakan para peserta untuk masuk ke ruang tes. Setelah mengambil posisi, saya melihat peserta lainnya. Hmm.. ada beberapa wajah yang saya kenal karena memang teman sekuliah, but now they are my competitor. Di depan ruangan telah berdiri 2 orang wanita yang kemudian memperkenalkan diri sebagai mbak Rini dan mbak Tia. Saya menyebut mbak karena saya kira mereka tidak terlalu jauh tua dibanding saya, walaupun mereka memperkenalkan diri dengan sebutan “Ibu”.
Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang berbeda. Mbak Rini berwajah tegas cenderung judes, sangat pede dan terkesan senang mendikte orang lain, sedangkan mbak Tia terkesan lembut, berhati-hati dan komunikatif. Kalau saya menilainya sebagai wanita yang seharusnya dipacari (mbak Rini) dan wanita yang seharusnya dinikahi (mbak Tia).

Hahaha…mungkin agak aneh penilaian saya ini. Setelah acara basa-basi formal, tepat jam 10 tes dimulai. 1 jam 45 menit yang dibutuhkan mbak Tia untuk memandu dan mengawasi jalannya psikotest ini, sedangkan mbak Rini entah menghilang kemana. Tepat jam 11.45 WIB kita “diusir” ke luar ruangan menikmati coffee break untuk 30 menit kemudian di umumkan orang-orang yang lulus psikotest dan menghadapi interview. Dari 200-an pelamar, hanya 40 yang dipanggil psikotest dan hanya 20 yang dipanggil interview, untuk selanjutnya terserah berapa orang yang akan diterima.

Ternyata nama saya tercantum dalam daftar peserta yang lulus psikotest, so I have to stay longer to join an interview. Interview will be done
in english, so I have to prepare myself. But it’s only my first experience, so what the hell…!! Saya berusaha cuek dan rileks aja  menghadapinya, sa’bodo teuing lah kata orang sini. Sekitar jam 14.45 WIB nama saya disebutkan untuk memasuki ruangan interview.

Hhmm…ternyata yang nginterview (eh ini bahasa mana yah ?) saya adalah mbak Tia. Setelah memperkenalkan diri, kita terlibat dalam obrolan
yang serius namun akrab. Berkali-kali dia membujuk saya untuk mau bergabung pada perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik. Saya sih sebenarnya lebih senang bekerja pada shop floor di pabrik daripada harus bekerja di kantor manajemen di belakang meja dan di depan
komputer. Tapi permasalahannya adalah bahwa pabrik yang bersangkutan terletak di sebuah kota di pesisir utara pulau Jawa, sebuah kota yang menjadi pintu gerbang Jawa Barat terhadap tetangganya di sebelah timur. Away from home means extra cost for living, am I right ? Nggak terasa kita ngobrol semakin akrab. Mbak Tia ternyata benar-benar smart, komunikatif dan mampu membawa suasana bersahabat dalam sebuah perbincangan. Nggak heran ternyata dia adalah alumni fakultas psikologi tahun 1992 pada sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta yang terkenal dengan jaket kuningnya.

“That’s all Ryo, thank you for joining this recruitment. We will contact you in two weeks from now by mail or phone”, kata mbak Tia mengakhiri pembicaraan. “The pleasure is mine.”, jawab saya pendek sambil berbalik menuju pintu. “Ryo, why do you look so confident today ? The
others don’t look like you.”, tiba-tiba mbak Tia berbicara lagi kepada saya. “I just try to be myself, no need to pretend being someone else.”, jawab saya sambil bingung, sebenarnya apa yang telah saya lakukan sih sampai dia menilai saya seperti itu ? “Cool, I like your style”,  sambung mbak Tia lagi “I like your style too.”, jawab saya (pura-pura) cuek, “Tia, I like to talk with you, maybe some other day we can talk more. May I have your number ?”, sambung saya lagi. Asli udah cuek banget, nggak ada malu-malunya lagi. Baru beberapa saat ngobrol bareng dia, tapi kenapa rasanya saya udah kenal lama yah ?

Mbak Tia cuman tersenyum dan memberikan kartu namanya sambil meminta nomor telepon saya juga. Karena saya masih pengangguran dan
nggak punya kartu nama, akhirnya dia hanya dapat mencatatnya di kertas note miliknya saja. Dan saya akhirnya langsung pulang. Bandung, same day at 18.04 WIB Saya lagi termenung di kamar kost di depan komputer menyesali kekalahan kesebelasan saya dalam game Championship Manager 4. Sialan…, menyerang habis-habisan kok malah kalah yah, pikir saya sambil menatap statistik permainan.

Tiba-tiba… .krrriiinngg. ., teleponku berbunyi mengagetkanku karena memang dipasang pada volume penuh. Di LCD terpampang nomor
telepon asing (maksudnya belum ada di memori). Langsung saya jawab, “Hallo…”. “Hallo…ini Ryo ?”, terdengar sebuah suara wanita di seberang telepon. “Iya, ini Ryo”, jawab saya. Sejenak saya terganggu koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga nih jaringan 0816 prabayar wilayah sini.

Ternyata itu telepon dari mbak Tia. Dia sih ngakunya cuman iseng aja nge-check nomor saya. Setelah ngobrol sebentar, saya nanya, “Mbak,
banyak kerjaan nggak ?”. “Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah ?”, jawab mbak Tia disusul suara tertawanya yang ramah.

“Boleh.., siapa takutt..?”, balas saya sambil senyum iseng (untung dia nggak bisa lihat senyum saya). “Nggak kok udah selesai semua, free as a bird.”, katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu The Beatles (atau John Lennon ? ah sa’bodo teuing lah). Akhirnya kita sepakat untuk jalan-jalan (but no business talks allowed, kata mbak Tia). Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika saya memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel yang sama. Ah…masak dalam sehari ke hotel ini sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat saya duduk, terlihat sosok mbak Tia berjalan ke arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan melihat sekeliling lobby untuk mencariku. Saya cukup melambaikan tangan untuk memberitahukan posisi saya duduk untuk kemudian bangkit berdiri dan berlahan menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga
kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan celana panjangnya yang juga berwarna ungu.

Wah…aliran “matching”-isme nih, pikirku. “Hi mbak, look so nice”, kata saya sambil sedikit memuji penampilannya yang memang “out of
mind” itu. “Thanks, you too”, jawabnya lagi sambil tersenyum. Tapi kali ini kesan senyumnya jauh dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman lama. Kita langsung berangkat. Karena mbak Tia meminta untuk tidak “makan berat”, akhirnya saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto dengan city view yang bagus banget di bilangan dago pakar. Kalo udah malem, kelihatan indahnya warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many times I’ve been there, but still never get bored.

Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota Bandung di bawah sana tidak mampu menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa jam saja. Kalo dilihat dari face-nya sih
nggak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya yang menguasai banyak hal, membuat
penampilannya begitu chic dan smart. Daripada dengan cewek cakep dan seksi serta mampu mengeksploitasi penampilannya semaksimal
mungkin, tapi kalo diajak ngomong nggak pernah nyambung dan otaknya isinya cuman kosmetik sama sale baju atau factory outlet doank sih jauh banget bagusan Tia kemana-mana. Pokoknya smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak terlalu cantik tapi mampu memikat karena gayanya yang smart itu.

Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta saya cukup memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, tanpa embel-embel mbak di depannya) memesan lasagna, biar nggak terlalu kenyang katanya. Ternyata city view Bandung masih kalah dengan view yang ada di depan saya sekarang. Asik banget melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit makanannya. Ada suatu momen yang bagus banget saat tiba-tiba dia mendongak, mengibaskan rambut sebahunya dan menatap saya sambil berkata, ” Lho kok malah nggak makan ?”.

Hhhmmm…..asli sumpah bagus banget angle- nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di bangku sekolah dulu, so mungkin inilah yang
disebut dengan angle terbaik. Ada beberapa saat (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang lalu. “Heh..kok malah bengong ?”, Tia membuyarkan lamunan saya seketika. “Ah nggak kok, cuman lagi inget-inget aja tadi taruh kunci kost dimana ?”, jawab saya sambil mencoba berbohong. Kalo dia sampai tahu saya
mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa jadi nggak enak suasananya.

“Ooohhh….” , sahutnya pendek, entah tahu saya berbohong atau tidak. Terus terang saya selalu rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca mereka, hahahaha…. . Lalu kita terlibat perbincangan yang hangat sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu. Desember nanti usianya 26, termasuk muda untuk seorang angkatan 1992. Anak kedua dari 3 bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya
sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat perjuangan reformasi mahasiswa medio 1998
lalu. Dia pernah hampir saja menikah pada awal tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia mengistilahkan dengan something happened in the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya ternyata menikahi wanita lain yang terlanjur dihamilinya.

Tia menyebutkan itulah resikonya pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang bekerja di kota tersebut. Ah…manusia, cerita tentang kehidupan mereka memang sangat beragam. “That’s why Ryo, ’till now I still can’t trust men”, Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap-kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu seperti kucing, udah disayang-sayang tetap aja
nyolong, hahahaha…. lucu juga istilahnya. Saya cuman bisa membela kaum saya sebisanya. Biar bagaimana pun kayaknya nggak semua cowok itu kayak kucing deh, beberapa diantaranya malah lebih mirip serigala, hahahahaha.. …

Makin lama kita ngobrol, makin banyak sisi-sisi lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan sampai sekarang dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu saat meninggalkannya, padahal we had a perfect life, katanya. Saya kira anak psikologi tahu semua jawaban tentang problem pikiran dan perasaan manusia, ternyata nggak juga tuh. Dia bilang sih nggak semua dokter bisa nyembuhin sakitnya sendiri dan nggak semua pilot bisa terbang. Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak banget. “So Ryo, why are you still alone ’till now ?”, tiba-tiba Tia mengubah topik pembicaraan. Lho kok… malah ngomongin saya sekarang ?

“Ah nggak ada yang mau sama saya, hehehe…”, jawab saya sekenanya sambil becanda. “Boong banget, mau tinggi-in mutu yah ?”, todong
Tia. “Hahaha ketahuan deh saya”, jawab saya lagi sambil cengar-cengir. “Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke kamu ?”, katanya tiba-tiba.

“Sok, silakan, mangga….”. Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuman ada di hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun. Dia bilang kalo dibalik penampilan saya yang selalu tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu sangat mungkin berkaitan dengan wanita, mengingat hingga sekarang saya masih sendiri. Ah….saya jadi teringat masa lalu saya yang berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya semudah membaca buku yang terbuka, sialan…..! !!). Dimana sekarang beradanya si “love of my life” itu, beberapa wanita memang sempat menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar dapat “menggantikannya” , hehehe….kok jadi sentimentil gini, ini kan CCS. Hahahaha….

Untuk beberapa saat saya terdiam, nggak tahu sebenarnya apa yang saya pikirkan. Apakah pikiran saya lagi ada di masa lalu atau tengah
mengagumi sesosok wanita yang duduk tepat dihadapanku. Akhirnya saya hanya melemparkan pandangan menatap gemerlapnya kota Bandung di bawah sana.

…..and baby I…, I’ve tried to forget you.. but the light on your eyes still…. shine…., you shine like an angel.. spirit that won’t let me go….

Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada makin menghanyutkan saya dalam lamunan. Sampai akhirnya…, “Bagus yah Ryo, pemandangannya. ..”, tegur Tia membuyarkan pikiran kosongku. “Yup, saya selalu suka city wiew seperti ini”, jawab saya sekenanya, biar nggak dikira ngelamun.

Malam semakin larut ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel. Kita makin dekat satu  sama lain, saling curhat selama perjalanan di
mobil. Becanda, ketawa-an bareng. Why do I feel that everything seems so right when we’re together? Ah mungkin saya aja yang terlalu
terbawa suasana. Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam ketika kita kembali menginjakkan kaki di lobby hotel. “Ryo, mau nemenin ngobrol sebentar nggak ?”, tanya Tia tiba-tiba.

“Boleh aja, emang belum ngantuk?”, tanyaku balik. “Nggak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia jadi susah tidur.”, katanya memberi reasoning. Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar Tia yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel berbintang. Good enough, daripada kamar kostku, hehehehe….

“Lha kamu sendiri di sini ?”, tanya saya begitu melihat tidak seorang pun di kamarnya. “Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga”, jelasnya, “Tapi dia langsung pulang Jakarta pake kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada acara apa gitu di keluarganya”.

Kita memasak air dengan menggunakan ketel elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian masing-masing menikmati secangkir coffemix
panas. Kursi sengaja kita balikkan menghadap ke jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang telah temaram dan senyap. Sesekali terlihat mobil melintas dengan kecepatan di atas rata-rata, mungkin karena sudah malam. Begitupun suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari TV yang dihidupkan yang menemani perbincangan kita, menggantikan cahaya lampu yang memang kami padamkan.

Entah mengapa, saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal baru beberapa jam kita berkenalan. Ah sekali lagi, mungkin saya terlalu terbawa suasana…. Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam jam-jam terdahulu.

Dalam curhatnya, ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekat saya. Dan kini saya harus menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus  air matanya yang mulai jatuh satu persatu.

Love…, look what you have done to her, bastard…!!

Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan menghampirinya. Saya hanya bisa termangu berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk
menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang menyesakkannya selama berbulan-bulan. Saya mencoba menenangkannya sebisa saya dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan
ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika
mereka telah menikah.

Setelah beberapa waktu kita membahasnya, Tia terlihat sudah agak tenang. “Thanks Ryo, kamu mau jadi tempat sampah Tia”, katanya sambil sedikit tersenyum.

“That what friends are for”, jawab saya singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua daripada saya, hehehe.. pamali tau…!! Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada tepi ranjang sambil meluruskan kaki. Hhmmm..enak juga duduk posisi kayak gini. Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi
lesehan di sampingku. Kayaknya enak banget lihat gaya kamu, katanya sebelum dia menyusulku duduk di karpet. “Ryo, kamu itu aneh yah ?”, tiba-tiba suara Tia menyentakku.

“Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?”, tanya saya asal sambil menirukan sebuah dialog sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu.
Hihihihi…. terdengar Tia cekikikan mendengarnya. “Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget”, katanya lagi, “Sampai Tia mau curhat sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat, apalagi sama orang yang baru kenal”.

“Sama, Aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kita pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah ?”, jawab saya sambil nyengir. “Ada-ada aja kamu….”, katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kananku. Jujur aja saya cukup terkejut menerima perlakuannya, but santai aja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak ? Cukup lama kita masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV rintihan Sinnead O’Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya :

…I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to
you…..

Perlahan saya usap rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Tia mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa saat kita saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini saya cari ? Mungkinkah saya menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama saya mencarinya entah kemana ? How can I be so sure about that ? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan.

Yang saya tahu beberapa saat kemudian wajah kita semakin mendekat dan sekilas saya melihat Tia menutup matanya dan pada akhirnya saya kecup lembut bibirnya. Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan saya raih pinggang Tia dan mendudukkannya dalam pangkuan. Kini kami semakin dekat karena Tia saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan.

Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Tia yang terdengar begitu lembut. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai
menurunkan bibir ke arah lehernya. “Ugh…”, hanya terdengar lenguhan lembut seorang Tia ketika ia mulai merasakan hangatnya bibir saya menjelajahi lehernya. Tidak ada perlawanan dari aksi yang saya lakukan. Tia justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tanggannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan. Saya pun semakin terhanyut terbawa suasana. Saya perlakukan Tia selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan punggungnya ke arah tubuhku.

“Ryo…oohh. ..”, lenguh Tia saat dia menyadari terlepasnya satu per satu kancing kemejanya. Ya…saya memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuan saya kepadanya. Jilatan- jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, seiring meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri kami.

Dengan sekali gerakan, saya dapat menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan dalam posisi berdiri dengan Tia dalam gendongan. Tangannya mulai meremasi rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas tubuh Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra putih. Beberapa saat kami bercumbu dalam posisi ini, sampai akhirnya saya merebahkannya di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter MTV Asia, terakhir kali sebelum saya meraih tombol off TV yang terletak di buffet samping ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap, hanya tarikan nafas kami berdua yang masih sibuk bercumbu. Tia mencoba untuk melepaskan satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan saat saya berhasil melepaskan bra-nya.

Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku. She’s different, pikirku. Jujur saja, saya sudah beberapa kali mengalami sexual intercouse, pun dengan orang-orang yang baru saja saya kenal. Namun kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi tidak berarti lagi keberadaannya. Sayang…., yah mungkin inilah yang disebut dengan perasaan sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak saya rasakan keberadaannya. Ini membuatku ingin memperlakukannya seindah dan selembut mungkin.

Tia bukan hanya seseorang yang mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she deserves the best…!!


Perawatan Wajah Dita

Gubraaaakk..!!!

Bunyi pintu dibanting mengagetkan kami (aku dan istriku yang sedang bertempur) di sore yang tenang .

“Huuh…ganggu orang aja…”! kataku kesal.

“Paling si Dita pah…!” sahut istriku sambil memakai daster.

Jadi loyo deh si junior….runtukku dalam hati. Untung mertuaku lagi keluar kota jenguk sodaranya yang lagi sakit.

Itulah serba-serbi kehidupan kami di rumah ini. Kami adalah keluarga besar, semenjak menikahi istriku 2 tahun yang lalu aku memang numpang dirumah mertua. Di rumah ini ada juga mertua perempuan janda 50 tahun, adik istriku-Dita 22 tahun. Sedangkan aku Rudi 29 tahun dan istriku Maya 27 tahun. Sedangkan ayah mertuaku sudah meninggal setahun yang lalu. Kami belum dikaruniai anak walaupun sudah 2 tahun menikah. Maklum sama-sama sibuk kerja dan ngejar karir.

“Ada apa Dit?”, “Ribut lagi sama Robby (tunangan Dita)?” Tanya istriku.

“Pulang malming kok marah-marah gitu?” lanjut

“Iya Mbak ….lagian si Robby ngeledek terus.”jawab Dita sambil tiduran telungkup di kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.

“Ngatain jerawat lagi?” lanjut istriku

“Iya Mbak di depan mamanya lagi… aku kan jadi kesel!” jawabnya sambil sesunggukkan.

“Katanya kok beda sama kakak kamu yang mukanya mulus..!” lanjut Dita.

“Hmmmm….ntar deh kamu Mbak kasih tau rahasianya!” kata istriku sambil ngelus-ngelus rambut Dita dan matanya menggerling nakal kepadaku. Aku yang berdiri di pintu kamar Dita hanya bisa melongo…sambil horny liat sepasang paha Dita yang pake rok mini berbaring telungkup hingga keliatan CD ungu nya. Sedikit gambaran mengenai Dita: 165cm, 55kg, cup 34B, putih, rambut panjang bergelombang. Sedangkan Maya 168cm, 50kg, cup 34B, putih, rambut lurus panjang.

“Janji yah Mbak…!” kata Dita manja.

“OK nona manis..jangan ngambek lagi yah!” sahut istriku.

“Kita lagi enak-enakkan jadi keganggu deh…gagal maning deh!” kataku sambil ngeloyor ke kamar mandi. Kulihat disudut mata Maya melotot ke arahku.

Malamnya aku coba pancing-pancing istriku, maklum tadi sore ngegantung.

“Tunggu pah…si Dita blom tidur tuh!” sambil matanya nunjuk Dita yang lagi nonton tv.

“Udah ga tahan yah mas Rudi…?” Tanya Dita nengok ke arahku sambil senyum-senyum.

“Bay de wey….Mbak Maya kan janji mau ngasih tau rahasia kulit muka Mbak yang halus itu. Soalnya dulu khan Mbak Maya jerawatan juga..!” cerocos Dita.

“Oooh itu…justru ini juga Mbak Maya mau perawatan muka alias facial!” kata Maya.

“Udah deh kamu tunggu disitu…ntar Mbak bawain obat facialnya..Ayo mas aku juga dah ga tahan?” sambil berdiri dan menarik tanganku ke kamar.

“Jangan nguping ya..apalagi ngintip!” kataku ke Dita.

“Sip Mas…!” sahut Dita

Ga perlu diceritain proses pertempuran kelamin kami. Biasanya menjelang ejakulasi aku cabut kontolku dan kukocok cepat dan disembur dimuka istriku (hhmm…mungkin ini penyebab kami belum punya anak). Aku sih oke-oke aja selama Maya puas dan akupun puas.

“Pah…tolong panggilin Dita!” kata istriku.

“Hah..??” ga malu emang?” kamu kan belepotan gitu?”tanyaku.

“Udah cepetan…!”skalian biar si Dita tau obat perawatan muka yang paling manjur!” lanjut Maya.

“Dit..Dita…!” kataku sambil menggoyangkan tubuh Dita. Rupanya ia tertidur di sofa, mungkin kelamaan nunggu kali yaa..”batinku

Dasar emang si Dita kalo tidur rada susah bangun…”kesempatan nih!” dalam hati. Ku elus-elus pahanya trus naik ke perut, kuremas-remas lembut toketnya, sungguh kenyal dan empuk. Dita menggeliat-geliat. “Dit…! Bangun!” kataku.

“Dah beres yam mas?, Mbak Maya mana?”sambil kucek-kucek mata Dita bangun.

“Tuh ditunggu Mbak Maya dikamar!” jawabku. Dita langsung bangun menuju kamar. Aku berjalan dibelakangnya terlihat CD nya menerawang karena ia cuman pake daster transparan selutut…Busyet pantatnya bulet banget…batinku. Tanpa terasa kontolku bangun lagi.

“Oooo…jadi obat facialnya pake ini?” kata Dita sambil mencolek maniku di muka Maya. “Iiihh…lengket!” lanjutnya.

“Emang si Bobby ga pernah nyemprot dimuka?”tanyaku. Sambil pelototin toketnya Dita yang ga kebungkus BH.

“Mas Bobby klo Dita kocokkin begitu mau keluar langsung ambil tissue..”kata Dita.

“Emang kalian dah pernah ML?”tanyaku lagi.

“Weee…mau tau aja!”jawab Dita sambil melotot ke arahku yang lagi melototin toketnya.

“Nih kamu cobain Dit!” kata Maya.

“Yang paling bagus itu yang langsung nyemprot dari ‘alatnya’ soalnya masih panas jadi langsung kerasa khasiatnya,” kata Maya lagi.

“Coba pah keluarin lagi!” kata Maya

“Hah!!!!” kataku kaget

“Malu ahh ada Dita!” kataku nolak padahal ngarep banget.

“Sini pah aku kocokin, ntar kalo mau keluar nembak di mukanya Dita!” kata Maya sambil bangun sehingga selimutnya melorot, terpampang toket putih bulet dengan puting coklat mancung. Langsung aja Maya melorotin boxerku dan si Junior langsung greng.

“Tuh kan udah bangun! Hayoo kamu ngeliatin siapa?” kata Maya nakal sambil mengurut kontolku.

“Oohh…oohhh..gila kamu May!” kulihat Dita cuman melongo (kagum kayaknya ngeliat juniorku yang ukurannya 19cm diameter 4cm). Maya langsung tancap gas ngemut kontolku sambil tangannya ngelitikin pelerku.

“Aahh…ssshh..akh..okh..yes Mah..mantap..” ceracauku. Tanganku langsung beraksi milin putingnya Maya kiri-kanan.

“Maaaah…ssshh..aku mau keluaaargh…ahh..ahh..” desahku tertahan.

“Sini Dit…ga usah malu”kata Maya sambil geser kesamping. Tangannya tetep ngocokin kontolku yang udah siap meletus. Dita beringsut kehadapanku. Kupegang pundaknya pake tangan kanan, sementara tangan kiriku langsung hinggap di toketnya sebelah kanan.

“Akhh..akkhh..aaaaahh..yessssh..croot..croott…croo tt..” 3 kali tembakan maniku ke arah muka Dita. Keliatan Dita kaget mangap ga siap jadinya ada sebagian yang masuk mulut.

“Iiihh…hueeek..”katanya sambil mau muntah. Dengan sigap Maya meratakan mani keseluruh muka Dita dan tanganku masih tetep ngeremes toket Dita, malah udah masuk keleher dasternya sambil milin putingnya. Mumpung dia ga nyadar pikirku.

“Husshh mas…tangannya nakal!”tegur Maya sambil melotot. Dita yang nyadar langsung mundur sambil nyilangin tangannya di dada.

“Uupss…maaf abisnya kebawa suasana!” kataku.

“Udah kamu tiduran dulu..ntar kira-kira sejam ato dah kerasa kering baru dicuci pake pembersih wajah!” kata Maya memberi instruksi ke Dita.
“Udah pah jangan melotot gitu….kayak yang ga pernah liat cewe aja, kita lanjut ronde dua yuu?” kata Maya.

“Dimana mah?”di sini?”tanyaku. “Dikamar aku aja Mbak!” sahut Dita

“Yaa udah…ayo mas!” kata istriku sambil bangun dan keluar menuju kamar Dita. Hmmm bakalan lembur nih! Batinku.

Seminggu setelah kejadian itu kulihat ada perubahan pada wajah Dita yang terlihat agak bersih walaupun masih ada jerawatnya hanya kecil-kecil. Ga kayak sebelomnya yang besar-besar mirip bisul.

“Pah aku ada konsinyasi di Cipanas 2 hari, bolehkan?”Tanya istriku pas malem kita lagi nonton tv.

“Kapan mah?”kataku balik nanya.

“Selasa pagi berangkat trus pulangnya Rabu pagi. Bolehkan?”Tanya istriku.

“Yaa boleh doong!” kataku

“Makasih pah, ntar biar Bik Surti atau mama yang masak,” kata Maya.

“Iya Rud..ntar Bik Surti aja yang masak, soalnya besok mama mau ke Bogor ke rumah Om Yanto, dan kayaknya pulangnya malem,”sahut mertuaku nimbrung. Memang aku ini suka ga mau makan kalo bukan masakan istri kecuali lagi tugas luar.

“No problemo …!” kataku.

“Mama tidur duluan ahh..,”kata mertuaku sambil ngeloyor ke kamarnya. Gak lama Dita keluar dari kamar sehabis pulang kerja dan mandi. Semerbak wangi sabun memenuhi ruangan. Aku langsung terkesiap ngeliat Dita yang pake daster tipis no Bra.

“Mau kemana Mbak?”tanya Dita

“Konsinyasi 2 hari di Cipanas!”sahut Maya.

“Yaaa…padahal aku pengen perawatan muka lagi nih,” kata Dita sambil ngelirik ke arahku.

“Kamu minta ke mas Rudi aja, tapi awas jangan kelewatan!” kata Maya setengah berbisik . Ohh god, aku diem ga bisa ngomong.

“Ok Mbak..asal mas Rudi nya ga keberatan aja!” sahut Dita sambil menggerling nakal ke arahku. Ga janji yah Dit…batinku.

Besoknya aku izin gak masuk kerja alesannya mau nganter istriku ke Cipanas. Pulangnya dijalan tol HP ku bunyi, kulihat dari Dita.

“Hallo…dimana mas?”Tanya Dita

“Masih di tol Jagorawi arah pulang baru nyampe Cibubur, knapa?” tanyaku.

“Ntar mampir ke kantorku mas, aku juga izin kerja setengah hari alesannya mau anter mama ke Bogor.” Sahut Dita diujung sana.

“OK non…tunggu 1 jam lagi ya..bye!”kataku sambil kututup telepon. Trus kupacu mobilku ke kantor Dita di Rawamangun. Satu jam kemudian nyampe kantornya ternyata Dita dah nunggu dilobby.

“Berangkaaat….”kata Dita. Aku masih diem sambil mikir…

“Mau anter mama? Kan mama tadi bareng aku berangkatnya?”tanyaku heran.

“Hihihihi….kaget yah?Dita kan pengen facial lagi mas!”jawab Dita.

“Kalo alesannya nganter mama khan sama boss langsung diizinin, masa alesannya mau facial?”kata Dita. Pinter juga ni anak..pikirku.

“Mau dimana nih?”tanyaku

“Di rumah aja mas,kan jam segini Bik Surti dah pulang…lagian kalo dirumah kan bisa santai,”cerocosnya.

Sepanjang jalan aku hanya bisa ngelirik Dita yang hari ini pake blazer dan daleman berleher rendah plus rok span selutut. Sexy banget..batinku. Kontol langsung ngaceng abiis.

“knapa mas ngelirik terus?xixixi …ada yang bangun tuh!” kata Dita sabil cekikikan.

Sampe rumah aku langsung mandi ganti baju trus makan. Dita langsung bergabung dimeja makan. Yang bikin aku ga konsen makan liat Dita pake daster hitam kontras sama kulitnya yang putih, no bra, no CD…glek bikin jakun turun naek. Beres makan aku ke ruang tengah nyalain tv, sedang DIta ke dapur beres-beres. Gak lama dia muncul trus duduk sebelahku. Di tangannya bawa peralatan perawatan kecantikan.

“Ayo mas kita mulai?”ajak Dita.

“Gimana caranya Dit?”bingung.

“Sekarang mas Rudi ngocok trus pas mau keluar arahin ke mukaku!”kata Dita.

“Di sini?trus?” tanyaku kayak orang bloon.

“Udah deh cepetan..,”katanya ga sabar

“Tapi…..” kataku ragu-ragu.

“Nih buat rangsangan, tapi jangan dipegang kayak tempo hari!”kata Dita sambil nurunin tali daster sebelah kanan. Toket putihnya langsung nyembul dengan puting mancung warna pink. Dengan semangat 45 langsung kubuka celanaku. Si junior langsung on fire. Kukocok perlahan sambil mataku gak lepas dari toket Dita. Irama kocokkan makin lama makin cepat, dan sekitar 15 menit masih belum ada tanda-tanda mau keluar.

“Knapa mas?, kok lama sih?”Tanya Dita.

“Gak tau Dit….butuh rangsangan lebih kali,”jawabku sekenanya. Dita beringsut mendekatiku. Tanganya langsung meraih kontolku. Aakkh rasanya kayak disetrum. Mataku langsung merem nikmatin kocokan Dita yang ternyata udah lihai.

“Enak mas?” tanyanya sambil ngegelitik pelerku

“Aaakhhh…enaak Dit…kamu lihai bangeeeetth..”desahku.

“Slruuup..hhmm…Dita langsung mengulum kontolku. Tanganku gak mau kalah langsung ngeremas-remas susunya yang terbuka. Nafas kami mulai memburu tanda rangsangan meningkat. Kuakui Dita lihai memainkan lidahnya di titik sensitif. Entah siapa yang mulai ternyata kami sudah bugil. Kepalang tanggung deh, kutarik kontolku dari mulut Dita. Kami berciuman saling mengait lidah. Ciumanku turun ke leher dan belakang telinga lalu ke toketnya. Kumainkan putingnya susu Dita kiri dan kanan. “aakkh..aaakhh…mas..”Desahan nikmat keluar dari mulut Dita.

Akhirnya ciumanku sampe ke memeknya. Langsung kulahap habis klitorisnya. Dita makin kelojotan. Tak henti-henti erangan dan desahan keluar dari mulutnya.

“Ooh…aakkh…maaaassh…aww..”eranganya yang bikin aku makin semangat. Gak lama kemudian Dita teriak-teriak sambil pahanya ngejepit kepalaku dan tangannya ngejambak kepalaku.

“aaakhh…aaakkh..akuuuu nyampeeee massss…” teriaknya orgasme sambil kelojotan kayak lele kesetrum. Kuhisap habis cairan yang keluar dari memeknya. Setelah itu kuangkat kepalaku kulihat Dita merem sambil ngegigit bibir.

“Gimana Dit..enak ga?kamu belom pernah diisep kayak tadi yah?”tanyaku. Dita ngga ngejawab hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku masukin yah Dit..memek kamu dah pernah dimasukkin sama Bobby kan?” tanyaku. Dita hanya mengangguk lemah.

“Pelan-pelan yah mas….kontol mas Rudi gede banget soalnya.” Lanjutnya.

Kulebarkan pahanya…pelan-pelan kuarahkan kontolku ke memeknya. Baru masuk setengahnya kubiarkan dulu sambil ku kenyot puting susunya. Bless langsung kutancap seluruhnya..aaakhh maass….Pelan..pelaaaan..” teriak Dita. Luar biasa cengkraman memek Dita. Kontolku serasa diremas-remas didalem. Semakin Dita menggoyangkan pinggulnya semakin keras remasan yang kurasakan. Dengan ayunan konstan kupompa kontolku. Desahan dan erangan keluar dari mulut kami berdua. Bunyi gesekan kelamin dan beradunya paha membuat suasana ruangan semakin hot. Slep..sleep..plok..plok..

“Maaas….nikmat aaaakkhh aku nyampe lagiiiiii….”teriak Dita orgasme yang kedua kali. Terasa memeknya memilin-milin kontolku. Kudiamkan beberapa saat sampe Dita tenang. Kucabut kontolku kuminta Dita untuk nungging. Doggy style gaya favoritku. Pantat Dita yang putih dan semok langsung kuciumi, kujilat sampe ke lobang anusnya.

“Aaakkhh…maaaas….aaaakkh…geliiii..aduuuuh maaass…masuuukiiin maaassshh..”desahnya.

Kumasukkan kontolku ke memeknya. Luar biasa sensansinya…pantat bulet, putih semok serasa memeknya ngejepit dan ngeremes kontolku. Kupacu cepat kontolku. Bunyi pantat yang beradu dengan pahaku dan desahannya silih berganti.

“Plak..plak..plok..plok….aaaahh…ahhh…aaahh…Ditaaa. .memeek kamuuuhh mantaaaap…”ceracauku

“aahh…ooohhh…akkhh…maaaas kontol kamu enak banget..”desah Dita.

“Maaaas…akkkuuuu maauuu nyampeee lagiiii….ahhhh…aahhhh…”teriak Dita

“Maas jugaa mau keluaaar Dit….”kataku

“Maaas jangaaann…lupaa..”katanya sambil menahan desahan. Aku seperti diingatkan agar nyemprotin mani ku dimukanya Dita.

“maaaass….aku nyampeee…aaaakkkkhhh…nikmaaaat..”teriak Dita sambil ambruk telungkup. Otomatis kontolku terlepas dari memeknya. Kubalikkan tubuh Dita. Kudekatkan kontolku kemukanya sambil kukocok cepat. Dita hanya bisa merem kelelahan dengan nafas masih ngos-ngosan.

“aaakkkhh…Diiiiit..crooot…crooot…croot…crooot..”te mbakan maniku kena wajahnya. Gilaaa sexy banget nih cewek…kataku dalem hati. Aku langsung ambruk terlentang dikarpet. Kulihat Dita meratakan maniku keseluruh wajahnya.

“Diiit…maaf yah, kita jadi keterusan ML gini..”kataku. Ada perasaan bersalah kepada Maya istriku.

“Kamu jahat maass…,bikin aku lemes nikmat gini..”kata Dita pelan.

“Kamu gak apa-apa kan Dit?”tanyaku.

“Ga apa-apa mas, lagian nikmat banget mas…Ntar malem lagi yaa mass…!”jawab Dita.

“Tapi Maya gimana?”tanyaku takut

“Nyantai maas…ntar biar Dita yang ngomong ke Mbak Maya…”jawab Dita.

Ooh indahnya….aku gak bisa ngebayangin reaksi Maya jika tahu aku dah ngentot adik kandungnya. Gimana entar aja lah…kataku dalem hati.
Akhirnya malemnya kami bermain lagi sampe subuh. 2 kali aku nyemprot mani. Yang pertama ke mukanya yang terakhir aku semprotin di dalem memek Dita. Untungnya bukan pas masa suburnya.


Vagina Rapet Tetanggaku

Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina Bu Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang cantik dan bahenol itu.

“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara Bu Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu tadi istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Tadi. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tadi.
“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.
“Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Tadi.
“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku.
“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Budi” jawab Bu Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.
“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.
“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Tadi.
“Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo”, kataku menggodanya.
“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”, katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu tadi harus aku dapatkan.
“Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.
“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.
“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Tadi setuju. Batinku bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.
“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Tadi penasaran.
“Emangnya kenapa siih.” Bu tadi memandangku penuh tanda tanya.
“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
“Anu bu… tapi janji tidak marah lho yaa.”
“Bu Tadi terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu tadi. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tadi. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.
“Awaas! hati-hati!” Bu Tadi menjerit kaget.
“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.
“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Buu Tadi, aku Budi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Budi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Tadi. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Tadi aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.
“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen”, bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. “Aduuh, Dik Budi, Dik Budii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus”, bisik Bu Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Dik Budiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus”, Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
“Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Tadi, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?”
“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.
“Emangnya Pak Tadi nggak ada?” kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Tadi sudah padam dari tadi. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Tadi. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
“Pak Tadi sedang kemana sih maa”, tanyaku.
“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.
“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Tadi memandangku.
“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.
“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.
“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.
“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”
“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih”, kataku menggoda.
“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!” katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Tadi megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Tadi dengan penisku. Bu Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Tadi
“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”,
“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa…, ouuch..”, jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Tadi. Bu Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam.


Like mother like daughter

Satu weekend aku lagi jalan ma mamahku di mall. Mamah ketemu ma temennya lelaki, om2, ganteng banget deh. “Pa kabarnya ni, makin cantik aja”, sapa si om. Mamahku kecentilan menjawab, “Masak si, dah tua”. mereka ber cipika cipiki tanpa sungkan ada aku juga. “Seginilah dibilang tua, ni lagi ranum2nya lo”. “Bisa aja kamu, tu klakuan gak brubah dari dulu”. “Ni sapa, kok cantik banget, sexy lagi”. “O ini anakku Dina, masi klas 9, jau banget skolahnya didaerah… (mamahku nyebut lokasinya)”. “Wah deket banget ma rumahku, kalo jau kos ja dirumahku, bereskan. Buat kamu mah foc deh”. “bener ni foc”. “Iyalah buat kamu apa si yang enggak, aku kan buka kos2an dirumah”. “Mangnya masi ada kamar”. “Di bagian kos2an dah penuh tapi masi da kamar kosong di rumah utama”. “Mau gak Din kos ditempatnya om…. (mamah nyebut namanya). Ni om temen mama dulu”. “Mantan pacar Din”, kata si om sambil ngedipin matanya ke aku. Ih genit, sama ja kaya mamahku. Tapi aku suka banget liat si om, keren, tegap lagi badannya, gak gendut kaya kebanyakan lelaki seumuran itu. “Katimbang kamu dah capek kalo nyampe rumah, blon bikin pr lagi kan, blajar buat ulangan besok lagi”. “Ya boleh deh mah, palagi si om ngasi gratisan kan”. “Ya udah, kita pulang beberes barang, trus mamah anterin ke tempat si om”. “Gak usah, kalian ikut aku aja pake mobilku, aku anter kalian pulang, trus Dina biar ikut aku kerumah”. “Wah si mas mah baek banget”. “Kan dah kubilang, buat kamu apa si yang enggak”.

akhirnya kami ikut si om kerumah, kebetulan tadi kami naek taksi karena mobilnya ngadat ga mo distater. Di rumah mereka masi ngobrol, bernostalgila kali ya, aku si beberes baju en barang2 yang mo kubawa ja, gak banyak si, aku bawa laptop juga supaya bisa brosing internet dan ngerjain tugas sekolah, juga buku2 sekolah. Jadilah barangku ada koper pakean dan kardus barang2 serta laptop. aku seret bawaanku keluar. “Kok dikit bawaannya Din”. “Segini juga dah banyak om. Mah, Dina pamit ya”. “Jangan bengal ya dirumah om, kalo weekend pulang ke rumah”. “Iya mah, dadah mamah”, kataku sambil mencium tangan mamahku. Si om membawakan barang2ku, dimasukkan ke bagasi kecuali laptop dimasukkan di jok blakang. “Udah ya, aku duluan”. “Nitip Dina ya mas”. Mobilpun meluncur meninggalkan rumah.

“Om beneran mantannya mamah”. “ya, bener, om yang ketiga”. “Wah mamah banyak banget pacarnya”. “Kamu brapa pacarnya”. “Cuma satu kok om”. “Mamah gak tau ya kamu punya pacar”. “Kok om tau”. “Ya taulah, kalo gak kan pasti dia suru kamu kabarin cowok kamu kalo kamu mo kos ditempatku. Kamu cantik Din, lebi cantik kamu katimbang mamah kamu”. “Wah om mulai gombal ni”. “Tapi suka kan digombalin, biasanya abege si kaya gitu”. “Wah om dah pengalaman jualan gombal ya”. Dia tertawa ja. “Kamu suka maen pa cowok kamu ya Din”, kaget juga aku ditanya tudepoin gitu. “Sok tau ah om”. “Past deh, makanya kamu gak bilsang sama mamah kamu, pulang skul sering maen dulu kan ma cowok kamu, makanya ampe rumah malem”. Tepat banget dugaan si om. “Ditempatku gak bole cowok masuk kamar lo Din, aturannya memang gitu, gak bole lawan jenis ada di kamar. Kalo maennya diluar ya terserah”. Dalem ati, aku maennya kan dikosan cowokku. “Kamu ni masi juga klas 9 dah ngesex segala”. “Bisnya nikmat si om”. “Cowok kamu yang mrawanin kamu ya”. Aku cuma ngangguk. “Temen skul kamu”. Aku ngegeleng, “Bukan om, cowok Dina dah mahasiswa”. “Wah demen daon tua ni kamu”. “Mahasiswa kan blon tua lah om”. “Tapi kan jau lebi tua dari kamu”. “Iya si, tapi asik2 aja tu ma yang jau lebi tua”. “Om lebi jau lagi tuaan dari kamu”. “Maksud om”. Dia senyum2 ja gak ngejawab, wah ada bakwan dibalik batu ni.

Sampelah kami dirumahnya, rumahnya besar, dibagian belakang rumahnya si om ngebangun kamar2 kosnya, 2 tingkat. “Yang atas buat lelaki dan bawah prempuan”. “Kok prempuan slalu dibawah ya om”. “Gak lah kadang2 diatas”, si om nyambung juga ma guyonanku yang miring. “Kamu suka diatas ya Din”. Aku cuma senyum ja. Aku yang mulai miring2, eh disamber lebi miring lagi, kalah ngomong deh aku. Aku diajaknya kedalem rumahnya, aku dikasi kamar disebelah kamarnya. Gede juga, ada ac nya, kamar mandi didalem, prabotannya ya ranjang, lemari, meja blajar ja. Kamar mandinya shower type, wc ma wastafel, standard juga. “Ya udah kamu beberes ya Din, kalo perlu apa2 om ada di kamar”. Aku membereskan barang2ku, trus keluar cari minum.

Di rumah itu kayanya gak da siapa2. Si om keluar dari kamar, “Mo orientasi rumah ya Din. Ni dapurnya, kalo perlu piring gelas ya ambil ja di rak piring. Sendok garpu en piso ada dilaci ini. Perabotan masak ada dilemari bawah. Kalo mo masak bisa pake kompor ato microwave, kamu bisa masak gak”. Aku ngegeleng. “Jangan2 masak air ja kamu gosong ya”, godanya sambil tertawa. “Ya gak gitu2 amir lah om, Dina bisa masak mi instan”. “Cowok kamu kah?” “Maksud om?” “amir?” Aku tertawa, “Amat mudik, yang ngeganti amir om”. “asik juga neh becanda ma cewek imut, sexy en cantik lagi, lebi cantik dari mamah kamu waktu jadi cewek om”. “Masak si om, tapi mamah kan toge, Dina kan tocil om, masak sexy si”. “Sekarang toge, dulunya biasa2 aja. Kan kamu imut, jadi gak masalah tocil juga, kalo imut toge kan gak proporsional jadinya. Kamu mandi gih, ntar om ajak kamu makan sate, doyan kan”. “Doyan om, Dina mah omnivora kok”. “Wah ntar sosis om kamu makan juga dong”. “Ih prono ngomongnya”. “Panya yang prono, tu ada sosis di lemari es”, katanya sambil membuka lemari esnya yang penuh macem2 makanan. “Kamu kalo mo makan ambil ja, gak usah sungkan”. “Wah dah ngekosnya gratis, makannya gratis pula”. “Buat cewek secantik kamu apa si yang enggak”. “Tadi ngegombalin mamah skarang Dina yang digombalin”. “Tapi suka kan”, aku tertawa ja. “Dah mandi dulu sana, trus kita pergi makan”.

Segera aku mandi dan mengenakan tengtop ketat dan celana 3/4 yang ketat. Walaupun imut tapi bdanku ada bentuknya juga walaupun tonjolannya serba kecil. “Wow, sexy banget kamu sayang”. “Wah kok jadi sayang2an si, kaya cowok Dina ja”. “Om mau kok jadi cowok kamu, mau gak”. Aku senyum aja, aku seneng ja disanjung2 gitu. Aku jadi keinget kata temenku kalo maen ma om2 jau lebi nikmat katimbang ma maen ma cowok ndiri. Aku jadi penarasan kaya apa nikmatnya. “Jalan ja ya Din, deket kok”. aku ngangguk, aku digandengnya, seneng banget rasanya digandeng om ganteng kaya gitu, malah diperjalanan, tangannya memeluk ahuku dan meraik badanku merapat ke badannya. aku si iya aja. “Om mesra amir si ma Dina”. “aku suka liat kamu Din, keinget mamah kamu dulu”. “ah si om ber nostalgila ya”.

Di warung sate si om pesen sate kambing ma sate ayam, “Kamu mo lontong pa nasi, pasti demennya lontong ya”. Aku ngangguk sambil tertawa, “om ni menjurus aja si ngomongnya”. Pesenan dateng dan kami makan dengan lahap, si om pesennya sate banyak banget sampe aku kenyang banget karena dipaksa kudu ngabisin, sampe lontongnya gak kemakan, cuma brapa potong ja lontong yang aku makan. “Om kenyang banget deh, ngantuk ni”. “Mangnya besok masi ada tugas gak”. “Dah beres semuanya kok om” “besok kudu dianter skolahnya”. “Gak usah om, Dina jalan ja, deket banget dari rumah om”. “Ya udah, pulang yuk, trus bobo”. Aku digandeng2nya lagi, kami santai ja jalannya, trus terang aku sangat menikmati kemesraan si om, ampe lupa ma cowokku aku. “Om kok tinggal ndiri si”. “Om dah pisah Din, anak ikut ibunya”. “O maap, Dina gak tau om”. “No problemo”. “Trus rumah sapa yang ngebersiin om?” “Ada si pembantu, tapi konsentrasinya mbantu yang ngekos, jadi seminggu sekali baru ngerapiin rumah, nyuci baju dll”. “O gitu, Dina bole ikutan nyuci dong om”. “Ya bole, asal mo ditumpuk ja baju kotornya seminggu baru dicuci”. “Wah seragam Dina gak banyak”. Ya udah nanti om suru pembantu nyuciin baju Dina aja tiap ari”. “Om kayanya lebi tua dari mamah deh”. “Ya iyalah, mamah kamu kan bis smu langsung nikah ma papah kamu, makanya masi kaya kakak kamu kan”. “Mangnya om brapa lama jalan ma mamah”. “Setaon ada kali, trus mamah kamu dilamar ma papah kamu, putus deh kita”. “Dah ngapain aja tu setaon ma mamah”. “Mo tau aja kamu anak kecil”. “anak kecil yang dah bisa bikin anak kecil om”, jawabku nantangin”. “bener juga, bikin ma om yuk”. Ketauan deh belangnya, pantes dia nawarin aku tinggal dirumahnya, pengen berbagi kenikmatan dengan aku rupanya, ber nostalgila ma mamahku, cuman diterusinnya ma aku. Aku jadi berdebar antara kaget, seneng dan pengen.

Malemnya si gak terjadi apa2, si om gak mo grusa grusu rupanya, ya aku ngejalanin kehidupanku aja. karena aku tinggal diruma si om, aku gak bisa kluyuran ma cowokku lagi karena rumah si om deket banget ma skola ku. cowokku jadi uring2an karena susa banget nyari waktu untuki ngewein aku. Akhirnya dia jarang nongol dirumah si om, ya biar aja, aku dah punya gantinya kok, hihi geer ya, si om anteng2 aja kuanggep kaya cowokku aja. Sejak tinggal bersama si om, tentunya aku gak bisa merasakan kenikmatan dari cowokku, itu yang membuat aku gelisah kalo lagi bertanduk (horny kamsudnya, horn kan tanduk). Seminggu sekali si om nganter aku pulang, minggu sore aku dijemput lagi, mamah seneng banget si om memperlakuin aku kaya anaknya ndiri, mamah gak tau ja kalo aku pengen banget lebi dari kaya ke anaknya aja.

Satu hari ada hari libur nasional ditengah minggu. aku bangunnya jadi kesiangan. Ketika aku keluar kamar, rumah dah sepi, gak tau si om kemana. Aku balik kekamar tidur2an aja, karena gerah aku melepas pakean tidurku sehingga tinggal cd aja yang nempel di bodiku. Karena merasa sendirian di rumah, pintu kamar kubiarkan saja terbuka. Karena masi ngantuk akupun terlena lagi. Aku terbangun ketika mendengar suara orang batuk. aku kaget karena ketika aku membuka mata, kulihat si om dengan tersenyum sedang berdiri memandangiku disebelah ranjangku. Tanganku reflex menututpi toketku, tapi si om rupanya dah lama juga memandangi aku nyaris telanjang gitu. Dia duduk disebelahku. “Napa Din, gerah ya. Bodi kamu merangsang sekali Din. Sejak kamu dateng pertama kali, aku dah napsu liat bodi kamu. Hari ini baru aku bisa liat langsung bodi mulus kamu ampir telanjang”. Aku terdiam saja. Si om menarik tanganku dari toketku dan mulai menyentuh2 pentilku.”Din, Aku pengen deh ngelakuin ma kamu”. “Mangnya om tadi dari mana, kirain kerja.” “Aku off hari ini, tadi keluar beli keperluan bulanan ja. Mau ya Din ngentot ma aku”, katanya to the point. “Kan sekarang kamu horni berat ya karena dah lama gak dientot, om dah lama gak liat cowok kamu”. “Iya om”. “Ya udah ngelakuinnya ma aku aja ya”, katanya sambil menutup pintu kamar.

Dia berbaring disebelahku, masih memakai pakeannya. dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. tangannya mengusap2 pahaku. “Kamu cantik sekali, Din”, katanya. Tangannya pidah ke selangkanganku, mengelus bukit memekku. Dia bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku. Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. “Geli om”, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.”Toket kenceng ya Din, biar gak besar juga”, katanya. “Om suka kan”, jawabku. “Ya Din, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku.

Dia kemudian mencium bibirku. Keadaan menjadi tambah parah buatku karena yang dia cium kemudian adalah kuping dan leherku. berlama-lama lagi. Padahal itu termasuk daerah sensitif. Hal itu membuat aku mulai ser-seran. tangannya mulai turun ke dada dari bahuku. Tangannya lihai banget, putaran-putaran jarinya mampu membuat aku sesak karena toketku segera mengeras. Tangannya terus aktif, sehingga akhirnya pentilku menjadi keras banget. Bibirnya yang bermain dileherku, mulai turun ke bahu, tapi dia nggak langsung mencaplok pentil aku yang keras, disengol-sengol dulu sama hidungnya.

Napasnya yang hangat aja sudah berhasil membuat pentilku makin keras. Terus ia ciumin pelan pelan toketku, mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua bagian toketku dicium lembut olehnya. Belum puas menggoda aku, lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas toketku. Aku tak tahan dan mulai mendesah. Akhirnya lidahnya mulai menyapu sekitar pentilku dan akhirnya pentilku tersapu lidahnya. perlahan mula mula, makin lama makin sering dan akhirnya pentilku dikulumnya. Ketika aku merasa nikmat dia melepaskannya. dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi, perlahan mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya pentilku. Kali ini pentilku digigit perlahan sementara lidahnya berputar putar menyapu pentil itu. Sensasi yang ditimbulkan ruar binasa, semua keinginanku yang kupendam selama ini serasa terpancing keluar dan berontak untuk segera dipuasi. Melihat aku mendesah dia makin seru.

Selain menggigit-gigit kecil pentilku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai bermain di lututku dan pahaku. aku makin merinding menahan nikmat. Dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini berada diselangkanganku. Dengan lembut dia mengusap-usap selangkanganku. “Dah basah gini cd kamu Din, lepas aja ya”. Tanpa menunggu persetujuanku, cdku diplorortinnya, aku mengangkat pantatku untuk mempermudah lepasnya cd dari badanku. “jembut kamu lebat jua Din, pasti napsu kamu besar. kamu gak puas kan kalo dientot cuma seronde ya Din”. “He eh”, hanya itu yang keluar dari mulutku. Usapannya menimbulkan sensasi dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat tenang lagi, sebentar bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi menyembunyikan kenikmatan yang kualami. Jarinya yang besar itu akhirnya menyelinap dikerimbunan jembutku dan langsung menemukan itilku.

Dengan gemulai dia memainkan jarinya sehingga aku melenguh kenikmatan. Jarinya lembut menyentuh itilku dan gerakannya memutar membuat tubuhkupun serasa berputar-putar. Akhirnya pertahananku jebol, cairan kental mulai mengalir keluar di memekku. dan dia tahu persis sehingga dia mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu datang, kepeluk kepalanya dengan erat dan kuhujamkan bibirku ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Dia dengan sabar tetap mengelus itilku, membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti. Lubang memekku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya.

Sementara jari jempolnya tetap memainkan itilku, jari tengahnya mengorek-ngorek memekku menstimulasi apa yang dapat dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Aku megap-megap dibuatnya. Entah berapa lama dia membuatku seperti itu dan sudah beberapa kali aku mengalami orgasme, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan mengakhiri permainan ini.

Akhirnya aku yang memulai, tanganku meraba-raba selangkangannya. disana jemariku menemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh belaianku, gundukan itu berubah menjadi mengeras. Diapun segera melepaskan semua yang melekat dibadannya. Aku terkejut melihat kontolnya, sungguh perkasa, besar, panjang dan bengkung keatas karena sudah ngaceng dengan kerasnya. Segera dia berbaring lagi disebelahku. Entah mengapa aku jadi senang menggodanya, jariku terus membelai turun naik sepanjang kon tolnya yang luar biasa ukurannya. Secara perlahan kon tolnya bertambah panjang dan besar. tanganku meremas-remas bola-bolanya sehingga dia makin terangsang.

Sambil mengecup daun telingaku dia berbisik, “mulai maen yuk Din”. Aku tak tau harus bagaimana dan menurutinya saja ketika dia mencium bibirku dengan lembut, ini membuat tubuhku bertambah lunglai. Kembali bibirnya melumat bibirku cukup lama dan dalam. Dia mengecup ngecup bibir bawah dan atasku bergantian. Aku berdesah kecil ketika tangannya memeluk pinggangku dan menarik tubuhku makin merapat ketubuhnya. dua bibirku yang tanpa sadar merekah menyambut lidahnya. Lidah itu begitu lihai bermain diantara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku untuk keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat, sehingga perlahan lidahku mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya dengan sigap dia mengulumnya dengan lembut, dan menjepit lidahku diantara lidah dan langit-langit. Tubuhku menggeliat menahan nikmat yang timbul.

Sorotoan matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan. Pandangannya agak lama berhenti pada toketkug. Tatapan matanya cukup membuat tubuhku hangat, dan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman. Dia kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat ketubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku dia mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikan pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian tubuhku.

Akhirnya kecupannya sampai di daerah telingaku dan lidahnya secara lembut menyapu bagian belakang telingaku. Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil lepas dari kedua bibirku. Dia telah menyerang salah satu daerah sensitifku, dan dia tau itu sehingga hal itu dilakukannya berkali-kali. Dengan sangat mempesona dia berbisik bahwa dia ingin menghabiskan hari ini dengan bercinta denganku, kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan, tanpa sadar tanganku kulingkarkan di lehernya.

Kemudian dia membungkuk sehingga tanganku terlepas dari lehernya. Dia mulai menciumi ujung-ujung jari kakiku. Aku menjerit kegelian dan berusaha mencegah, namun dia memohon agar dia dapat melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang ditimbulkan. akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan mengulum jari-jari kakiku. Aku merasa geli, tersanjung dan sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan perlahan tapi pasti bibirnya makin bergerak keatas menyusuri paha bagian dalam ku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuat aku lupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Dia dengan mudah memposisikan tubuhnya diantara kedua pahaku.

Pertahananku benar-benar runtuh ketika dia menyapu-nyapukan lidahnya dipangkal pahaku. Aku berteriak tertahan ketika dia mendaratkan bibirnya diatas gundukan memekku. dia terus melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti dia sedang menciumku. Aku berkali-kali menjerit nikmat, dan getaran-getaran orgasme mulai bergulung-gulung, tanganku meremas-remas apa saja yang ditemuinya, sprei, bantal dan bahkan rambut dia, tubuhku tak bisa diam bergetar, menggeliat, dan gelisah, mulutku mendesis tak sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara reflek dan beberapa kali terangkat mengikuti gerakan kepala dia. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi. Dengan perlahan lidah dia menyentuh belahannya, aku menjerit tak tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan memekku, puncak orgasme tak tertahankan. Tanganku memegang dan meremas rambutnya, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak.

dia tetap bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik itilku, ketika puncak itu datang. Aku merasa dinding-dinding memekku mulai lembab, dan kontraksi-kontraksi khas pada lorongku mulai terasa. lorong memekku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi, yang bisa membuat lelaki tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. dia nampaknya dapat merasakan kontraksi-kontraksi itu, sehingga membuat bertambah nafsu. Kini lidah nya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan bagian cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai memburu.

dia kemudian bangkit, beberapa saat kemudian aku merasa kontol hangat yang sangat besar mulai menyentuh-nyentuh selangkanganku yang basah. dia membuka kakiku lebih lebar, dan mengarahkan kepala kontolnya ke bibir memekku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa keras dan besarnya kontolnya. Dia mempermainkan kepala kontolnya di bibir memekku di gerakan keatas ke bawah dengan lembut, untuk membasahinya. Tubuhku seperti tak sabar menanti tindakan yang selanjutnya. Kemudian gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang memekku yang sempit. Tetapi karena memekku sudah cukup basah, kepala kontol itu perlahan tapi pasti terbenam, makin lama-makin dalam. Aku merintih panjang ketika dia membenamkan seluruh batang kontolnya. Aku merasa sesak, tetapi sekaligus nikmat luar biasa, seakan seluruh daerah sensistif dalam memekku tersentuh. Batang kontolnya yang keras dan padat itu disambut oleh kehangatan dinding memekku.

Cairan-cairan pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan gerakan kontraksi mulai berdenyut, membuat dia membiarkan kontolnya terbenam agak lama merasakan kenikmatan denyutan memekku. Kemudian dia mulai menariknya keluar perlahan-lahan dan mendorongnya lagi, makin lama makin cepat. Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding memekku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan gerakan maju mundur membuat batang kontolnya seolah-olah diurut, kenikmatan tak bisa dia sembunyikan, gerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat menetes dari dahinya.

Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat. Pinggulku kuangkat sedikit dan kemudian membuat gerakan memutar manakala dia melakukan gerak menusuk. dia nampaknya belum terbiasa dengan gerakan dangdut ini, mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat, batang kontolnya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya bobol, kontolnya menghujam keras dalam memekku, tubuhnya ambruk menindihku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika pejunya menyemprot keluar dalam memekku berkali-kali. Akupun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku tercapai. Sesaat dia membiarkan kontolnya di dalamku hingga nafasnya kembali teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun harus kuakui kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa.

Dia melepas kontolnya yang dah melelmas dari memekku dan berbaring diseblahku. “Din maen ma kamu jau lebi nikmat katimbang maen ma mamah kamu dulu”. “terang aja om, Dina kan baru punya 1 cowok sedang kata om mamah dah punya 2 cowok seblon om. Memek Dina lebi peret ya om”. “Ya peret banget deh, om baru skali ni ngrasain memek abegeh yang peret kaya kamu punya, berasa lagi kedutannya kalo kamu 0″. “Mamah punya dah longgar ya om”. “Ya gak longgar si, tapi gak seperet kamu punya”. “Om dulu sering ya maen ma mamah”. “Sering banget, ampir setiap ketemu kita maen di kosan ku”. “Wah asik banget ya mamah waktu muda, berbagi kenikmatan ma 3 lelaki, yang asik dari mamah apanya om”. “Sepongannya, kontol om kaya diplintir2 sembari disepong, kamu bisa gitu juga gak”. “Itu mah gampang om, cowok Dina ngajarin kok gimana caranya nyepongin yang nikmat buat dia”. “Wah maknya hebat, anaknya juga hebat. Kamu mau juga dengan 3 lelaki”. “Gak ah, ma om ja dah lebi dari cukup. Kontol om besar, ampe sesek memek Dina kalo om ablesin smuanya, lagian panjang, sampe mentok om, ngilu2 nikmat gitu”. “Mana nikmat ma cowok kamu”. “nikmat ma om lah, cowok Dina punya gak seperkasa om punya”. “Jadi?” “Ya skarang Dina jadi cewek om ja, kita kan serumah, kapan aja om mau Dina siap kok om. Kalo Dina lagi dapet ya Dina sepongin om ja. Tapi om jangan maen ma abegeh laen lagi ya, ma Dina aja”. “Ya pastuiKluarnya dimulut kamu ya”. “Pastinya, ntar peju om dina telen” Kami kemudian terlelap kecapean.

Ketika aku terbangun hari udah tengah hari, dia sedang tersenyum memandangiku. “Kamu cantik sekali deh Din, mana seksi lagi. aku pengen lagi Din. Mau ya”. Kemudian dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahaku. memekku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. “Hmmhhh…enak, gila.” jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang memekku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya.

Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai kontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di memekku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang kecoklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidahnya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat.

Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir memekku mengalir dan terasa basah di perutku. “Om, gantian Dina yang ngemut kontol om ya”, kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang kontolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, “Enak Din, terus..” Lidahku mulai merambat ke kepala kontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang kontolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya. “Din…” gumamnya pelan. “enak banget, geli-geli nikmat”. Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan kontolnya masuk ke dalam mulutku. kontolnya kuisep kenceng-kenceng sambil kuputer2, lalu dengan mulut kukocok kontolnya turun naik, “uuuuggggghhhh…sedap banget Din, persis kaya cara mamah kamu nyepongin dulu…mmmmhhhh…”, erangnya.

Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati memekku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya menyedot lubang memekku, menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke dalam lubang memekku, menjilati dinding-dinding basah, sementara jari nya mempermainkan itilku. Aku mengerang-ngerang dengan kontolnya di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari memekku membajir membasahi mukanya.

Aku melepaskan kontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu kontolnya masuk, aku hanya merintih pelan. kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung merangsang itilku. Kocokan kontol di memekku dan kilikan jarinya di itilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali memekku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok kontolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan no nokku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret lagi.”Om, nikmat banget deh, lebih nikmat dari yang tadi, Dina sampe berkali2 nyampe baru om ngecret”, lenguhku lemes.

Dia mencabut kontolnya dari memekku. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia mengikuti dari belakang. Dikamar mandi dia memelukku, “Terima kasih ya Din, kamu asik banget dientotnya, empotan memek kamu luar biasa deh. Aku sangat menantikan kesempatan seperti ini lagi agar kita bisa mengulangi kenikmatan ini”. Sejak saat itu, dia selalu mencari kesempatan untuk bisa mengentoti aku, gak susah tentunya, tinggal nyocokin jadwal ja, kan kita tinggal serumah.


perawan vs janda

Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Ia berjalan masuk kedalam dapur Dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatan dapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliran Shanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nanti malam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutup dan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harus bekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti.

Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia tak dapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dan sangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat. Mata Shanti bersinar lembut, bibirnya kemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shanti membusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yang indah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedang tumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya.

Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal cerai suaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main gila dengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanya serba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. Bibir Tuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tuti berwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalau sedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur.

Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampai akhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyak juga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuek dan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukan main, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadi buah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besar dan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging seperti meminta.. Tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya.

“Shan, kamu sudah punya pacar belum?” Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulai membantu gadis itu mencuci piriong-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng.
“Belum tuh”
“Lho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksir” kata Tuti sambil memandang Shanti. Shanti tertawa lagi.
“Payah.?? semuanya mikir kesitu melulu” Jawab Shanti.
“Memang.?? laki-laki itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngewe” kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar.
“Ah Mbak, jangan suka ngomong gitu ah” timpal Shanti.
“Kan nggak ada yang dengar ini” Jawab Tuti. Mereka terdiam lama.
“Mbak.. ” suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci.
“Mmm?” Jawab wanita itu.
“Ngg..”
“Ngomong aja susah banget sih” Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk.
“Ngg.. Anu.. Ngewe itu enak nggak sih?” Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadis itu.
“Yaa.. Enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinter” jawab Tuti seenaknya.
“Maksud Mbak?” Shanti penasaran.
“Iya pinter.. Bisa macam-macam dan punya tongkol yang keras!” kata Tuti sambil terkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran.
“Bisa macam-macam apa sih, Mbak?” tanya Shanti.
Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah.. Toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yang sedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadis itu berwarna coklat muda.
“Macam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai mau ngemut tempik kita lohh..” jawab Tuti.
Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidih melihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus.
“Idiih.. Jorok ihh.. Kok ada yang mau sih?” Shanti sekarang melotot tak percaya.
“Lho.. Banyak yang doyan ngemut memiaw Shan. Ngemut tongkol juga enak banget kok” jawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.
“Astaga.. Masak anunya lelaki diemut?” Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, ia merasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa ia terangsang.
“Oh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm.. Ehmm.. “
“Kalo apa Mbak?” Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memiaw Shanti yang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin.
“Yaa.. Malu ahh..!” Tuti sengaja membuat Shanti penasaran.
“Ayo doong Mbak” rengek Shanti.
Tuti sekarang yakin bahwa memiaw gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelap di celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu.
“Kalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enak banget!” bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya.
“Apa itu pejuh?” tanyanya. Tuti merasa tidak tahan.
“Pejuh itu seperti santan yang sering bikin memiaw kita basah lho” Jawab Tuti. Ia melihat bagian memiaw Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti.
“Idiihh amit-amit, jorok banget sih”
“Lho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita, apalagi kalo memiaw kita harum, tidak bau terasi”
“Idiihh Mbak saru ah!”
“Tapi aku yakin memiaw kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terus”
“Udah ah, lama-lama jadi saru nih” kata Shanti. Tuti tertawa.
“Kamu udah banjir yaa?” goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan kedua kakinya.
“Ahh.. Mbaakk!!” Tuti tersenyum melihat Shanti melotot.
“Nggak usah malu, aku sendiri juga basah nih” Kata Tuti.
Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercak gelap di tengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluar dari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya.
“Ihh.. Mbak jorok nih” desis Shanti. Tuti terkekeh.
“Mau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?” bisik Tuti. Shanti berdebar.
“Ngaco ah!”
“Aku mau emutin punya kamu, Shan?” Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun dan mundur ketakutan. Tuti tertawa.
“Kamu akan bisa pingsan merasakannya” bisik Tuti lagi.
“Ogah ah.. Udah deh.. Jangan nakut-nakutin akhh” Shanti mundur mendekati pintu kamar mandi dan Tuti makin maju.
“Nggak apa-apa kok.. Cuman diemut aja kok takut?”
“Masak Mbak yang ngemut?”
“Iya.. Supaya kamu tahu rasanya”
“Malu ahh..”
“Nggak apa-apaa..” Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnya menyentuh bibir bak mandi.

Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shanti memejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memiaw Shanti yang tertutup celana dalam. Tuti mencium bau memiaw Shanti, dan Tuti puas sekali dengan harumnya memiaw Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malah pernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya.

Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhu tubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memiaw Shanti yang masih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tuti terangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalam gadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itu dan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. memiaw Shanti sungguh indah sekali, tidak terlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut.

Tuti mencium dan mulai melumat memiaw Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliat-liat ketika lidah Tuti menjalar membelai liang memiawnya. Shanti benar-benar shock dengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaan nikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dinding memiawnya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawah perutnya.

“Aahh.. Mbak.. Uuuhh.. Ssshh.. Ja.. Jangan mb.. Mbbak! Ji.. Jijikhh.. Aahh”

Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul dan menembus liang memiaw Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan ia tak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahi lidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memiaw Shanti dengan sangat menikmatinya. Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapi kemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Ia percaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun!

“Enak Shan?” desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang ke bawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yang dinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memiawnya berdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memiawnya dan merasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk di selangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti dan membuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh benda lunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget bercampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya.


Namaku Liana

Namaku Liana dan suamiku Bram, kami sudah hampir 20 tahun menikah, dikarunia 2 orang anak, ang besar laki laki, 18 tahun sudah lulus SMA dan sekarang baru mulai tahun pertamanya di sebuah universitas dikota B, dan adiknya perempuan baru kelas 2 SMA.

Kehidupan kami cukup mapan, suamiku seorang pegawai BUMN dengan jabatan yang lumayan sementara aku tidak bekerja, kegiatan utamaku hanya mengurus rumah tangga dan kedua anakku, dan semenjak anakku yang besar kuliah di kota B yang berjarak sekitar 3 jam bermobil, rumahku terasa agak sepi, apalagi kegiatan ekstra kurikuler putriku cukup padat, maklum bersekolah di sebuah SMS swasta yang cukup ternama dan terkenal dengan aturan ketatnya.

Syukurlah pada usiaku yang sudah menjelang kepala 4 ini, aku masih mampu menjaga bentuk tubuhku dengan baik, dan terlihat lebih muda dari usiaku yang sebenarnya. Maklum aku menikah muda, lulus SMA aku sudah menikah, saat itu aku masih tinggal di kota kecil dan adalah umum saat itu lulus SMA terus menikah, akupun tak terkecuali, suamiku saat itu masih kuliah, namun keluarga kami sudah saling mengenal sejak lama, dan setelah suamiku lulus dia merintis karirnya di Ibu Kota, dan aku dibawanya serta. Berkat ketekunan dan kemampuannya Bram suamiku kini menduduki jabatan yang lumayan dan hidup kami dapat dikatakan berkecukupan.

—————————————-=============—————————————————

Pagi itu sedang membereskan ruang kerja suamiku ketika teringat ada beberapa email yang harus kubalas, dan aku malas untuk berjalan kekamarku mengambil netbook ku, kupikir toh ada komputer suamiku disini,

Kuhidupkan komputer itu, dan mulai membalas beberapa email, utamanya dari anakku si sulung dan adikku yang tinggal dikota lain. Cuma entah mengapa setelah menutup emailku, iseng aku melihat ‘history’ dari browser itu dan kulihat alamat beberapa situs sex baik luar negeri maupun lokal,

Jujur aku agak heran, karena sepengetahuanku, sekian lama sebagai istrinya, aku tidak pernah tahu suamiku penggemar situs porno, memang beberapa kali kami sempat melihat blue film bersama, tapi bukan taraf penggemar hanya sekedar iseng. Memang harus kuakui kalau hubungan sex kami sudah tidak sehangat dulu, rutinitas yang kami jalani serta kesibukan suamiku membuat hanya sesekali kami berhubungan sex, jauh sekali dibanding dulu.

Iseng aku buka satu persatu situs yang dikunjungi suamiku, untunglah karena komputer pribadi user dan passwordnya tetap tercontreng sehingga saat kubuka tidak perlu lagi bersusah payah, dan aku semakin terhenyak saat kusadari bahwa semua situs yang kubuka itu isinya serupa, semua tentang swingers dan utamanya threesome, tapi lebih tepatnya tentang suami yang mengijinkan istrinya digauli laki laki lain, bahkan ikut bermain bersama. Lebih kaget lagi saat aku membuka pesan pesan dalam situs itu, rupanya suamiku berkomunikasi dengan beberapa orang member dari situs itu dan bahkan menampilkan photoku……ya…photoku…..walau wajahku tidak terlihat tapi aku di photo dalam keadaan tertidur, dalam pakaian tidur dan dengan baju tersingkap. Aku sendiri tidak tahu kapan aku diphoto dalam keadaan seperti itu.

Dalam salah satu message nya, Bram suamiku menceritakan fantasinya kepada kenalannya itu bagaimana ia menginginkan melihat aku berhubungan sex dengan laki laki lain tapi tidak pernah menyampaikan fantasinya itu kepadaku dan meminta nasehat kepada kenalannya tips dan trik agar aku dapat mengetahui kinginannya dan mau mncobanya.

Saat itu pikiranku langsung galau, marah dan emosi sempat menguasai pikiranku dan aku berpikir Bram suamiku pasti menginginkan aku berhubungan sex dengan laki laki lain karena dia mencari pembenaran karena dialah yang ingin bermain dengan wanita lain, maka dia mencoba menjebakku. Namun aku mencoba menenangkan diri, aku lalu menelusuri semua situs yang dibuka suamiku dan aku menemukan hampir semua serupa, utamanya tentang shared wives dan sejenisnya.

Masih penasaran, aku mencoba googling tentang hal yang kutemukan itu, hal yang baru bagiku karena sulit tercerna dalam pikiranku, bagaimana mungkin seorang suami menginginkan istrinya digauli laki laki lain ?. Namun yang kutemukan makin mencengangkan diriku, sedemikian banyak artikel tentang hal itu dan hampir semua menganggap itu adalah hal yang lumrah, bahkan banyak yang mengatakan bahwa hal itu justru memperkuat ikatan suami istri karena berarti keterbukaan yang terjalin akan menjadikan tidak adanya rahasia antar suami istri dan ikatan antara suami istri justru akan semakin kuat.

Setelah penemuan itu, aku mencoba menguasai diriku dan berlaku biasa biasa saja, dan setiap hari setelah rumah sepi aku semakin rajin menelusuri situs – situs semacam itu, membaca pengalaman atau FR para member, dan juga mencari referensi dari banyak situs psikologi tentang hal itu.

Yang aneh semakin aku menekuni, setiap kali hati dan perasaanku semakin tergoda, aku mulai membayangkan bagaimana rasanya kemaluan laki laki lain, aku mulai membayangkan bagaimana kalau ada lebih dari satu laki laki menyetubuhiku secara bersamaan ?

Namun aku mencoba berpikir panjang, dan aku perlu tahu apakah benar suamiku menginginkan itu? Apakah itu bukan sekedar khayalan dan fantasinya saja ?,

Hampir seminggu setelah aku menemukan fantasi dan khayalan suamiku, aku mencoba menjajagi suamiku;

Malam itu, sehabis makan malam dan kami sedang bersantai menonton TV, putri kami sudah dikamarnya, aku duduk disofa sambil bersandar di bahunya aku berkata : “ pah…aku sebel banget hari ini….”
“Kenapa mah..? tanya suamiku
“iya….tadi kan mama ke mal…masa ada anak muda jalan pura pura nggak lihat, eh tahu tahu nubruk mama, yang ngeselin sambil pura pura jatuh nyenggol susu mama, mau dimaki tapi ntar jadi tontonan, diem aja tapi kan kesel..apalagi habis itu dia ngedipin mata segala”
Perhatian suamiku langsung terbangun, “ terus…?” tanyanya
“ya udah..cuma mama pelototin aja” jawabku….(dalam hati aku geli juga karena apa yang kukatakan cuma karanganku, aku cuma ingin menjajagi suamiku)
“ya nggak apa…itu kan artinya mama masih sangat cantik kan ?…” kata suamiku
“ih..papa kok nggak marah sih…..dia tu nyenggol susu mama sengaja tahu..!!! “ kataku lagi
“masa marah….??? malah papa harus bangga dong artinya mama masih sangat cantik” kata suamiku sambil memeluk pundakku
“untung anak mudanya ganteng…jadi keselnya cuma sedikit” kataku menjajagi lebih jauh…
“Oh ya…..kalau ganteng nggak apa apa?” kata suamiku..tapi tak ada nada marah sedikitpun dalam suaranya….
“bukan nggak apa apa ….tapi keselnya kan jadi sedikit” kataku lagi sambil megerling kewajahnya
Kurasakan pelukan dibahuku semakin erat…..dan aku mulai bisa mengambil kesimpulan.

“Oh iya….ini kan rabu pertengahan bulan ….kok mama nggak pijet ..? memang si mbok kemana ?” tanya suamiku, memang aku punya jadwal sebulan sekali dipijat dan dilulur oleh mbok marto, langganan pijat yang sudah memijatku sejak bertahun tahun…..
“lagi pulang kampung … nengok anaknya” jawabku , “memang kenapa ?” tanyaku lagi melanjutkan
“oh..kalau mama mau kenapa nggak panggil tukang pijet lain ?” tanya suamiku lagi
“wah..mana ada …, lagian sesekali absen kan nggak apa’ jawabku
“ngg….kalau mama mau panggil aja tukang pijat lain” desak suamiku lagi.

Dalam hati aku mulai mengerti kemana arah suamiku bicara, sering kubaca FR di situs situs tentang awal dari hal ini.

‘Wah…mama nggak tahu pemijat lain..apalagi kan si mbok yang sudah biasa sudah tahu titik pegelnya mama” jawabku lagi

“kalau mama mau..papa bisa cariin…” jawab suamiku dengan bersemangat
“memang papa punya kenalan mbok – mbok tukang pijat?” tanyaku pura pura
“bukan mbok mbok…tapi pandai pijat…” jawab suamiku lagi
“Ayo….papa suka dipijat perempuan lain ya…” tanyaku lagi
“nggak…..bukan…..” jawab suamiku terburu buru….”pemijatnya laki laki kok” katanya lagi
“Ha….???? papa mau mama dipijat sama laki laki ??” tanyaku pura pura kaget
“Memang kenapa ? “ tanya suamiku lagi dengan polosnya
“lho…papa kan tahu kalau dipijat berarti dipijat seluruh badan…masa laki laki ..?” aku masih berpura pura heran
“ya nggak apa apa toh..?” jawab suamiku…
“nah kalau pemijatnya terangsang bagaimana ?” tanyaku lagi
“ya terserah mama…..” kata suamiku enteng
“terserah bagaimana..? kalau mama ikut terangsang dipegang laki laki lain..??” tanyaku lagi menegaskan…
“iya terserah mama…asal mama senang dan suka apa juga ikut senang” kata suamiku lagi
“ngawur ah…..”jawabku lagi
“Nggak ngawur ….kalau mama mau papa bisa panggilin” kata suamiku mndesak
“ngawur …lagian apa kata Nancy kalau dia tahu” jawabku lagi, Nancy adalah putri kami
Suamiku terdiam sejenak….”kalau mama mau malam sabtu papa panggil, kan rencananya nancy mau bermalam di rumah Omanya” kata suamiku lagi
‘nanti ah…mama pikir dulu…..belum kebayang kalau mama harus dipijat dan dipegang pegang laki laki lain” kataku

Malam itu suamiku mengajakku berhubungan sex, dan ….semangatnya kembali seperti dulu…semangat yang sudah lama sekali tak pernah terlihat…dan aku yakin fantasinya menguasainya

Jumat pagi, sebelu kekantor suamiku menanyakan lagi….”Bagaimana ma….?? kalau mama mau papa panggilin tukang pijatnya…”
“Ngg…gimana ya……terserah papa saja deh….” jawabku, aku sendiri masih agak bingung…ada keinginan mencoba tapi juga agak rasa takut di hatiku.
“Ok….nanti papa atur….oh ya bilang nancy nanti Pak subari jemput dia di skolah sekalian ngenterin ke rumah Omanya…..” kata suamiku bersemangat, pak Subari adalah supir suamiku.

Hari berlalu sangat cepat…aku masih diliputi keraguan…tapi melihat semangat suamiku aku juga tidak tega membatalkannya….walau hatiku masih agak ragu.

Demikianlah malam itu, kami hanya berdua di rumah, si bibi kusuruh ikut ke rumah mertuaku, dengan alasan yang tepat untuk membantu disana, dan jam 6 sore suamiku sudah dirumah…wajahnya cerah dan tampak bersemangat, aku sendiri mencoba untuk bersikap biasa saja, tetap mengenakan baju biasa, walau aku sudah mandi dan bersolek tipis.

“mama nanti jangan tegang ya..santai saja…ikutin saja apa mau mama, kalau mama nggak sreg ya suruh stop juga nggak apa, pokoknya apapun juga papa nggak akan marah dan melarang’ kata suamiku sesaat setelah kita makan malam.
“Memangnya mama mau apa ?” tanyaku….
‘”ya terserah mama’ jawab suamiku memancing
‘Lho kan cuma pijat toh..??” tanyaku pura pura menegaskan
“Iya….” jawab suamiku sambil senyum

Ting ..Tong…suara bel mengejutkan aku, kulirik jam yang tergantung di dinding..tepat Pk. 08.00, suamiku langsung bangkit dan menuju pintu depan…
Terdengar suara laki laki bercakap cakap dengan suamiku disusul langkah kaki menuju ruang tengah dimana aku duduk.

“Dino….” pemuda itu mengulurkan tangannya menjabat tanganku
Aku masih agak terpana…pemuda ini masih sangat muda aku yakin belum sampai 25 tahun usianya, dengan tubuh tinggi atletis, dan wajah yang cukup ganteng.
“Wah….benar seperti kata Oom…Tante cantik sekali” kata pemuda itu ketika kupersilahkan duduk,

Agak tersipu aku dibuatnya..namun kujawab..”…ah jangan ngawur..aku sudah tua lho….” jawabku
“saya serius Tante…sama sekali tante tidak terlihat tua, kalau bukan Oom yang cerita saya kira tante masih dibwah 30 tahun …” jawab Dino…..wajahnya serius dan menatapku dengan pandangan yang menyatakan kekaguman.

Setelah kuhidangkan minuman, untuk sesaat kami duduk di sofa dan ngobrol kesana kemari dan Dino ternyata pemuda yang pandai berkelakar dan menyenangkan dengan pengetahuan yang cukup luas……..

“Ya sudah ma…bagaimana…mama mau mulai dipijat ?” tiba tiba suamiku mengingatkan tujuan kedatangan dino. Aku melirik ke Dino dan menjawab “ Ya terserah papa saja…” jantungku mulai bedetak agak kencang….. sejujurnya aku mulai menyukai anak muda ini dan juga timbul rasa ingin, apalagi sepanjang pembicaraan Dino tidak hentinya memuji kecantikanku namun tetap saja ada sedikit rasa ragu dan debar jantungku ini tidak mau berhenti.

Suamiku bangkit dari duduknya..mengajak Dino ke kamar yang biasa digunakan kalau ada tamu menginap….”aku ganti pakaian dulu ya….” kataku dan menuju kamarku….dan saat masuk kamar aku masih tetap diliputi keraguan….tiba tiba suamiku menyusul masuk ..”lho…kok mama belum ganti kain yang biasa mama pakai kalau dipijat si mbok?” tanya suamiku
“Papa yakin..?, Dino kan laki laki muda…..nanti dia melihat semua tubuhku” tanyaku selain menepis keraguan dihatiku juga masih kucoba menjajagi hati suamiku…

Tanpa bicara suamiku menghampiriku dan memelukku erat “papa mau mama senang dan menikmati…..ikuti saja kata Dino dan perasaan mama ya….” jawab suamiku ….dan saat memelukku itu aku bisa merasakan tonjolan yang megeras dicelana suamiku…..untuk sedetik pikiraanku melayang ke situs situs yang kubaca bagaimana para suami merasa terangsang justru saat istrinya disentuh laki laki lain

Aku lalu melepaskan pakaianku…dan menutupinya dengan kain panjang yang kupakai seperti kemben namun aku masih tetap menggunakan celana dalam dan BH juga tetap kupakai…..dengan digandeng suamiku kami menuju kamar tamu dimana Dino menunggu.

“Relaks saja ya tante …” kata Dino lembut sesaat setelah aku telungkup diatas ranjang….tubuhku masih ditutupi dengan kain panjang yang kupakai sebagai kemben tadi, kakiku terasa dingin ketika Dino menuangkan semacam lotion dengan keharuman yang lembut…dan tangannya mulai menyentuhku..dimulai dari jari jari kakiku….telapak kaki dan terus keatas…..”kulit tante halus sekali…pandai sekali tante merawat diri” puji dino memecah keheningan …sementara tangannya tidak berhenti bergerak dan kini betisku yang mulai dipijatnya…

“Mmmff….biasa aja kok” jawabku….namun sungguh tak enak bicara dengan posisi telungkup seperti itu….

“Maaf ya tante kainnya saya buka ya…..” kata Dino…dan tanpa menunggu jawabanku kain yang menutupi sudah terangkat…aku melirik…eh….malah suamikun yang membuka dan menarik kain itu….akupun diam saja….dan memang Dino cukup pandai memijat….

Dino terus memijat…sambil sesekali mengobrol dengan suamiku….dan aku merasa tangannya makin keatas dan kini sudah sampai di pahaku….kulirik suamiku yang duduk diujung ranjang memperhatikan semuanya, wajahnya tampak cerah…kulirik tonjolan yang terlihat jelas di celananya…rupanya terangsang dia melihat istrinya hanya bercelana dalam dan BH telungkup di ranjang sementara laki lakim lain asyik memijat dan mengusap betis dan pahaku….

Ketika mencapa bagian dalam pahaku…sesekali terasa tangan Dino menyenggol kemaluanku…tanpa sadar aku bereaksi dengan sedikit bergerak..namun pemuda itu pura pura tidak sadar dan tetap pada irama pijatannya.

“Punggungnya ya tante’ kudengar suara Dino berkata..dan terasa dingin lagi dipundak dan punggungku ketika cairan lotion itu dituangkan….jari jari pemuda itu bergarak teratur dari atas kebawah..namun slalu terbentur dengan tali BH ku……”boleh saya buka bra nya tante..” tatanyanya lagi dan sebelum aku sempat menjawab terasa kaitan BH ku sudah dibukanya….aku melirik lagi ke suamiku dan dia memandangku dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya seakan memberi persetujuan…..

Ketika pijatannya sudah sampai pinggang dan terus kebawah….”kurasakan dino memasukan jarinya kedalam celana dalam yang kukenakan….dan meremas remas bongkahan pantatku…aku mulai terangsang..kurasakan kemaluanku mulai membasah…..”ma….celananya dibuka saja ya….biar Dino mudah memijatnya..” tiba tiba terdengar suamiku berkata dan Dino yang mendengar itu lalu menarik celana dalamku…semula aku agak enggan…..dengan si mbok saja aku tdiak pernah telanjang bulat..tapi kuingat lagi ini keinginan suamiku dan bagaimana wajahnya tampak berseri seperti anak kecil yang kesenangan menonton pertunjukkan…maka tanpa menjawab aku mengangkat sedikit pinggulku dan …lepaslah celana dalamku

Dino beranjak naik keranjang…. kedua kakiku di bawah kakinya dan tangannya dengan serisu memijat dan meremas pantatku…….sesekali jarinya jarinya menyelinap kebawah menyentuh kemaluanku membuatku tergelinjang…….

“oom…maaf ya…kalau boleh saya melepas celana panjang soalnya pakai jeans jadi agak ketat dan kasar…nanti kulit tante tergesek jeans pula” katanya..lho…kok malah dai minta ijin suamiku pikirku….”ya silahkan saja…..” jawab suamiku…dan sambungnya lagi….kepadaku ”nggak apa kan ma?”
“Terserah saja jawabku……” pasrah namun terasa rangsangan yang mulai bangkit dalam diriku.

Aku melirik ketika Dino melepas celana panjangnya…kupikir dia pakai celana pendek atau boxer…dan terkejut juga aku ketika ternyata pemuda itu hanya memakai celana dalam hitam model mini…kontras dengan kulitnya yang putih…dan tidak berhenti sampai distu…dibukanya pula kemejanya, tubuhnya benar atletis dengan otot tangan dan dada yang bagus…dan perut yang rata…terlihat jelas tonjolan diselangkangannya…..

tanpa sungkan Dino naik keranjang menduduki pantatku dan mulai lagi memijat punggungku..sesekali tangannya melebar kesamping dan sebagian buah dadaku disentuhnya….entah berapa lama pijatan itu dilakukan tangannya terus kebawah dan aku bisa merasakan kemaluan pemuda itu yang keras menekan pantatku dari balik celana dalamnya….sambil bergeser mundur kini tangannya kembali meremas dan memijat pantatku…namun kali ini tanpa ragu sesekali jarinya menyentuh kemaluanku bahkan sesekali walau sedikit jarinya memasuki lubang kemaluanku membuatku bergelinjang dan semakin terangsang.

“Oke……balik dong badannya tante…..” kata dino lembut sambil turun dari ranjang…dan sambil melihat suamiku yang kini wajahnya agak memerah denngan nafas yang agak memburu, sementara tangannya sesekali tampak meremas kemaluannya sendiri dari yang terlihat menonjol dibalik celananya.

Aku berbalik dan untuk pertama kali sesudah menikah sekian lama ..aku berbaring telentang telanjang bulat didepan laki laki lain selain suamiku….”Uh….tante benar benar cantik….”puji Dino lagi untuk keskian kalinya……memang aku cukup rajin memelihara penampilanku…..dengan dada 36 B yang masih cukup kencang dan wajah yang kata orang diatas rata rata, dan kulit walau tidak terlalu putih tapi cukup kuning.

Dino mulai lagi dari kaki dan setelah sampai paha..tanpa sungkan tangannya mulai memijat mijat kemaluanku….membuat nafasku mulai memburu…dan kini jarinya benar benar memasuki lubang kemaluanku..tapi tidak lama……..pemuda itu beranjak naik dan mulai memijat atau lebih tepatnya meremas buah dadaku…….kedua jarinya menjepit puting susuku dan memilin dengan lembut membuatku semakin kehilangan kendali…..lalu turun lagi ke perut…..kemaluan dan naik lagi…sungguh pandai dia menaikkan irama nafsu dan rangsangan dalam diriku…….

Kali ini pemuda itu bergerak mundur…dan menempatkan diri diantara kakiku sehingga aku harus membuka pahaku agak lebar….dan tiba tiba kurasakan lidah yang hangat menyentuh kemaluanku…aku benar benar bagai kena stroom…bergelinjang namun mulut pemuda itu telah menempel dikemaluanku….dan lidahnya mulai menari nari, menjilat dan sesekali klitorisku di emut dan dan dhisapnya…..bergerak lagi..lidahnya mencucuk masuk kedalam kemaluanku dan begitu seterusnya dalam irama yang teratur…..uh….suamiku nggak ada apa apanya kalau dalam hal jilat menjilat rupanya……dan tiba tiba tanpa diduga dan tanpa melepaskan bibirnya dari kemaluanku jari tangannya memasuki lubang kemaluanku…….diserang seperti itu aku benar tidak tahan……dengan mendesah dan mengerang aku menjepit kepala pemuda itu dengan pahaku dan ..”aaaaahhhhhh..sssssshh…” aku mendapatkan orgasme pertamaku.
Dino dengan lembut melepaskan jarinya dari lubang kemaluanku dan bangkit, sementara aku masih terengah engah karena orgasme tadi……

Aku tahu acara masih belum selesai, ketika kulirik suamiku wajahnya tampak sangat horny tangannya masih tetap mengusap usap kemaluannya dari balik celananya, tampak dia sangat menikmati pertunjukkan tadi….tapi aku yang agak kesal….ada keinginanku agar saat tadi Dino asyik menjilati kemaluanku suamiku menyodorkan batangnya supaya bisa kuhisap…..tapi karena duduknya agak jauh dan aku juga risih mau menintanya maka aku diam saja dan menikmati jilatan Dino tadi.

Dino lalu duduk diranjang disampingku….tangannya meremas remas buah dadaku dan dengan jari jari tangannya puting susuku di pilin pilin dengan lembut……dan tanpa sadar karena duduknya disampingku tanganku menyentuh pahanya….tanganku bergerak sedikit menuju keselangkangan Dino sambil aku memandang kearah suamiku dngan pandangan bertanya dan walau tanpa ada sepatah diantara kami suamiku menganggukan kepalanya, tangan Dino yang meremas dan memainkan buah dadaku membangkitkan lagi nafsuku……dan tanpa sempat berpikir tanganku sduah meremas remas kemaluan pemuda itu yang masih terbungkus celana dalamnya…….dan tanpa banyak bicara tanganku merayap masuk kedalam celana dalam pemuda itu.

“Tante mau saya melepas celana dalam saya…?” tanya Dino lirih dan ketika aku mengangguk tanpa bangkit dan hanya dengan mengangkat pantatnya sedkit celana dalamnya dilepaskannya…kini kami berdua suadah sama telanjang bulat ditonton suamiku yang masih berpakaian lengkap.

Aku terpana memandang kemaluan pemuda itu…..cukup besar sekitar 18 Cm dengan lingkaran yang lumayan besar dan terlihat sangat tegang dan urat uratnya tampak menonjol….dan di ujung kepalanya tampak agak basah dengan cairan bening atau precum. Aku sudah tidak mampu berpikir lagi………aku bergerak bangkit dan sesaat kemudian lidahku sudah menjilati cairan bening yang ada dikepala kemaluan pemuda itu…terasa agak asin…gurih ….dan benar benar membangkitkan nafsuku hingga kepuncaknya…..kutarik pemuda itu dan kini kepalaku aku yang diatas kemaluannya..aku mulai menjilati batang dan kedua buah yang menggantung itu …sesekali kumasukan kepalanya kemulutku dan kusedot lembut dan terdengar pemuda itu mengerang…namun aku tak berhenti…kucoba memasukan seluruh batang kemaluannya kemulutku namun baru 3/4 …aku sudah hampir tersedak..ya…Dino memang memiliki yang lebih besar dari suamiku …mungkin sama besar lingkarannya..tapi lebih panjang….

Aku terus mengulum dan menjilati…menghisap dan kedua tanganku juga bergerak lembut mengusap dan menggaruk lembut di buah zakarnya…..dan kemudian bersamaan dengan semakin kerasnya kemaluan pemuda itu..aku memegang pangkalnya…kepalaku bereka naik turun dengan kemaluan pemuda itu dimulutku…..aku benar benar sudah dikuasai nafsuku…kesadaran bahwa ada suamiku dan suamiku yang menonton tanpa berkedip justru membuatku semakin bergairah….dan akhirnya..”Tante……saya mau keluar” kata Dino terengah engah sambil berusaha melepaskan kemaluannya dari mulutku…namun aku tetap memegangnya dan kepalaku makin cepat naik turun…dan ….”aaahhh…ssshh….tante….keluaar…arrgh..s sshhh” desahnya dan denyutan yang semakin keras pada batangnya menandakan waktunya hampir tiba…aku jepit leher batang kemaluan itu dengan bibirku dan hanya kepalanya yang berada dalam mulutku sementara tanganku terus mengocok batang pemuda itu…..

terasa semprotan cairan kental dan hangat demi semprotan memenuhi rongga mulutku….aku beradu cepat menelan cairan yang keluar itu…dengan semprotan berikutnya…..dan walau berhasil tapi ada sedikit yang tetap mengalir keluar dari celah bibirku…Dino melemah dan akhirnya terbaring diam..namun kepala kemaluannya tetap di mulutku dan ketika terasa sduah berhenti mengeluarkan cairannya..baru kulepas namun tetap kujilati hingga bersih…dan aku lalu menoleh keraha suamiku……sambil dengan jari telunjuk kudorong cairan yang masih tersisa disekitar bibirku masuk kemulutku dan kuhisap jariku hingga bersih.

Hampir 20 tahun aku menikah baru 3x suamiku suamiku mengeluarkan air maninya dalam mulutku…dan kini dengan pemuda yang belum pernah kutemui sebelumnya malah langsung kuteklan habis semua mair maninya….

“Tante hebat sekali…uh……benar benar Oom beruntung punya istri seperti tante..” kata Dino memuji.

Aku bangkit dari ranjang, kuhampiri suamiku…kutarik tangannya hingga berdiri dan kupeluk …”pa maaf ya…mama sampai lupa diri dan menghisap punya Dino” bisikku ditelinganya….dan jawaban yang kuterima adalah semua ciuman dibibirku…bibir yang masih basah dengan air mani pemuda itu…namun suamiku tampak tidak peduli…lidahnya menyapu dan memasuki rongga mulutku yang kubalas dengan ciuman yang tak kalah panasnya…”yang penting mama senang..papa juga senang kok melihatnya” suamiku berbisik ditelingaku setelah ciuman kami terlepas…

merasa kepalang tanggung dan terasa ‘menggantung’ aku bertanya “pa…mama boleh make love?” dan suamiku menjawab sambil tersnyum :”justru papa ingin nonton mama make love yang hot”
Aku mencium lagi suamiku lalu berjalan keranjang dimana dino masih rebah dengan kemaluan yang lemas….aku lalu berbaring disisinya…Dino bergerak…diciumnya keningku…turun kebibir…lalu turun ke buah dadaku dan perutku…namun sebelum dia mulai menjilati kemaluanku aku tarik tubuhnya dan kubalikan…..aku yang justru kembali menghisap dan memainkan batang kemaluannya…dan perlahan batang kemaluan pemuda itu mulai bangkit.

Setelah benar keras aku lalu berjongkok dan mengarahkan batang kemaluan pemuda itu memasuki lubang kemaluanku…..dan sedikit demi sedikit …..akhirnya… blessss…….seluruh batang kemaluan peuda itu amblas dalam kemaluanku dan aku mulai bergoyang….sungguih tak pernah kemaluanku terasa sepenuh ini……ujung batang kemaluannya sesekali menyentuh mulut rahimku menimbilkan rasa geli dan nikmat yang tak terhingga…..dan buah dadaku yang cukup besar dengan cup 36B itu menggantung bebas namun tak lama mulai diremas remas lagi oleh Dino.

Karena sudah keluar banyak saat kuhisap tadi dino bertahan cukup lama…..dan aku yang tak ingin cepat orgasme lagi merebahkan diri kedada pemuda itu….dan tanpa mencabut batang kemaluannya Dino membalik posisi dan kini dia yang berada diatasku…hampir 10 menit pantatnya naik turun dengan teratur dan akhirnya aku yang tak tahan…”uuh…….sshh…cepetin Dino…..aku mau keluar…..dan dino mempercepat gerakannya ….dan aku tahu dia juga akan mencapai puncaknya…..”cepet…cepet….ssshhh….aaahhhh. ……..” desisku…..dan akhirnya “aahhh……ssshh….enaakkk…ssshhh…keluarrr …ohh……’ aku mencapai orgasme ku lagi…..dan tak lama Dino yang tidak mengurangi kecepatan geraknya tubuhnya mulai menegang..”tante ….saya mau keluar………keluarin dimana tante…?” tanya nya disela desis dan desahannya…..aku menjawab dengan melingkarkan kakiku kepinggangnya, bibirku mengunci bibirnya …dan akhirnya semburan yang hampir sama banyaknya menyiram lubang kemaluanku………..dan Dinopun ambruk diatas tubuhku….

Agak lama kami dalam ppsisi seperti itu….Dino lalu mencium bibirku dan memandangku dangan penuh kekaguman..”tante benar hebat…..hampir tidak ada yang seenak punya tante..” katanya…dan kau menjawab dengan sebuah ciuman lagi.

Dino lalu bangkit…kuberi tanda supaya dia maju dan mengarahkan kemaluannya kemulutku dan kemaluan yang basah dengan cairan kami berdua itu kujilati hingga bersih…entah kenapa kok tiba tiba aku jadi suka menjilati tanpa rasa risih……

Dino lalu beranjak kamar mandi bebersih sementara aku masih berbaring telentang dengan kemaluan yang basah oleh air mani pemuda itu…dan memandang suamiku..”terima kasih pa.” kataku sambil memberikan senyum mesra.

Dino lalu berpakaian dan berpamitan namun aku malas untuk bangkit…hanya kutarik tangannya dan kucium bibirnya dan berbisik “ma kasih ya….”; namun langsung dijawab “saya yang berterima kasih sama tante….”

Ketika suamiku kembali setelah mengantar Dino keluar, secepat kilat dilepaskan pakaiannya…kemaluannya tampak sangat basah…….tanpa banyak bicara ditindihnya tubuhku yang masih basah mandi keringat, dan batang kemaluannya memasuki kemaluanku yang masih penuh banjir dengan air mani Dino…., namun tidak lama mungkin karena menahan diri terlalu lama tidak sampai satu menit suamiku sudah mengerang dan menumpahkan air maninya menambah jumlah air mani dalam rahimku…

Aku lalu bangkit…..menjilati batang kemaluan suamiku yang basah dengan campuran air main Dino, cairanku dan air maninya sendiri hingga bersih..lalu beranjak ke kamar mandi dan bebersih diri.

Malam itu adalah awal dari suatu babak perjalanan hidupku…..


Aku, Istriku dan Tetanggaku

Pagi itu, Aku akan mengolah data-data penting milik klien perusahaanku. Data-data itu ada di komputerku di rumah dan aku lupa mengcopykannya ke flashdisk, sehingga aku segera pulang ke rumah untuk mengcopy data. Aku tiba di rumahku sekitar jam 9 pagi.

Sesampai di rumah, kudapati ruangan tengah rumah berantakan dengan mainan anak-anak yang sedang dimainkan oleh anakku dan anak Anton, tapi tak kutemukan istriku, barangkali istriku sedang pergi ke warung atau ngerumpi sesama ibu rumah tangga.

Karena aku ada perlu ke istriku, maka aku berusaha mencari istriku ke rumah Anton. Terlihat seperti sendal istriku tergeletak di depan pintu, namun pintu depan tertutup rapat.

Kuintip dari jendela ruang tamu, terlihat ada berkas-berkas MLM yang belum dirapihkan serta 2 gelas kosong serta sisa makanan ringan atas meja, tapi istriku tak tampak. Aku mencoba berjalan ke pinggir rumah, ketika aku melewati kamar tidur Anton yang kaca nakonya terbuka. Kudengar desahan-desahan khas orang yang sedang bercumbu.

Memuaskan rasa penasaranku, kuintip dari celah-celah yang terbuka , mataku langsung tertarik pada apa yang kulihat, gairahku muncul seketika menyaksikan apa yang terjadi di kamar itu. Kulihat Anton dalam keadaan bugil sedang menghentak-hentakan pantatnya menyetubuhi seorang wanita yang kuyakini sebagai istrinya. Tapi tubuh istrinya tak terlihat karena terhalang oleh tubuh Anton, yang terlihat hanyalah tangan mulus seorang wanita yang bergerak-gerak penuh gairah serta dua bilah betis yang terayun-ayun dipinggir pinggang Anton yang sedang asyik menghentak-hentakan pinggul dan pantatnya.

Aku semakin penasaran, terbayang tubuh bugil istri Anton yang selama ini selalu jadi obsesiku, terutama ingin sekali kudengar desahan nikmat dari mulut istri Anton bila sedang disetubuhi. Diam-diam kuambil camera digital yang selalu kubawa-bawa di dalam tas pinggangku. Kuaktifkan tombol rekaman agar persetubuhan mereka terekam.

Rangsangan demikian kuat mengalir di pembuluh darahku dan aku jadi teringat sudah seminggu aku tak bercumbu dengan istriku. Aku ingin istriku segera pulang dan mengajaknya bercinta seperti yang sedang dilakukan oleh Anton. Nafasku semakin tersengal-sengal menahan gairah nafsu sambil menyaksikan apa yang Anton lakukan.

Kulihat Anton menghentikan gerakannya dan mencabut penisnya. Istrinya memutarkan badannya kepinggir sehingga aku dapat melihat wajahnya.

Tiba-tiba nafasku sesak, mulutku ternganga tak percaya, pandangan serasa gelap. Kukucek-kucekan mataku dengan jari tanganku seolah aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Badanku semakin lemas…., ternyata yang sedang disetubuhi Anton itu bukan istrinya melainkan istriku yang sedang kutunggu.

Darahku mendidih….., terbakar amarah… Ingin aku melabrak masuk ke rumah Anton ini dan menghajar mereka, namun apa daya…. Tangan dan kakiku lemas tak berdaya serta tak mampu kugerakkan. Selama beberapa menit aku terpaku diam, lemas dengan nafas yang semakin sesak serta pikiran yang berkecamuk dan akhirnya buntu tak mampu berpikir bagaikan orang yang kehilangan kesadaran. Sementara mataku melotot tak berkedip…., serta tak mampu mengalihkan pandangan dari celah yang memperlihatkan apa yang terjadi di dalam kamar..

Tubuh istriku yang sangat seksi sedang dalam posisi merangkak dengan pinggang yang ditarik kebawah sedang digenjot dengan liar oleh Anton dari belakang. Buahdadaku istriku yang besar dan montok terayun-ayun akibat sodokan yang dilakukan oleh tetangaku. Istriku terlihat begitu menikmati…, matanya terpejam dan mulut yang teranganga.
Secara perlahan rangsangan gairah yang tadi melanda diriku, kembali menjalar diseluruh pembuluh darah dan hatiku. Rangsangan itu perlahan-lahan mengalihkan rasa marah yang membludak di dalam dada. Semakin lama, rangsangan yang kurasakan semakin menggeser rasa marah yang melanda dada ini. Sehingga ada dorongan untuk terus menyaksikan perselingkuhan yang dilakukan oleh istriku dengan Anton. Penisku kembali mengeras dan tegang menyaksikan adegan yang sangat merangsang itu, nafasku semakin sesak dan terengah-engah.

Beberapa menit kemudian kulihat tubuh mereka berkelojotan bersamaan dengan erangan dan dengusan yang semakin keras dan akhirnya mengejang kaku dan mengalami orgasme secara bersamaan
Tanpa terasa akupun mengejang dan cret…. cret…. cret … spermakupun muncrat membasahi celana. Badanku terasa lemas namun nyaman, nafasku tersengal-sengal menikmati sensasi orgasme yang sangat aneh ini.
Kumatikan kameraku, secara perlahan aku meninggalkan tempat itu dan kembali menuju rumahku dengan perasaan tak menentu. Sesampai di rumah, kulihat anakku dan anak Anton tertidur kelelahan di ruang tengah yang berantakan. Aku langsung menuju ruang kerjaku dan menyalakan komputer untuk menyalin file yang berisi bukti adegan persetubuhan istriku dan Anton ke dalam flashdisk. Kumatikan komputerku dan dengan gontai aku melangkah menuju ruang tamu dan duduk di kursi sambil melamun dengan pikiran yang berkecamuk.

Di dalam keheningan itu, perlahan-lahan otakku dapat berpikir kembali. Rasa cemburu, marah dan kecewa bercampur menjadi satu, ingin rasanya kuceraikan istriku saat ini juga, tapi rasa cintaku demikian besar pada istriku dan aku tak sanggup berpisah dengannya.

Walaupun aku selalu membayangkan dapat menyetubuhi istri Anton, tetapi aku sama sekali tak berniat untuk meninggalkan istriku,karena aku sangat mencintainya.
Pikiranku seperti diarahkan agar membiarkan saja ini terjadi, demi menjaga keutuhan rumah tanggaku dan rumah tangganya. Tapi sebagai pembalasan atas apa yang mereka lakukan aku akan balas menyetubuhi istri Anton dengan seijin istriku dan Anton.. Biarkan saja perselingkuhan itu sebagai bumbu kehidupan berumah tangga yang dapat menambah gairah kami dalam meningkatkan kemesraan hubungan suami istri. Bahkan ada bisikan-bisikan yang menganjurkan agar masing-masing kami pernah menyaksikan istri atau suaminya bercinta dengan tetangganya. Dan akhirnya lamunanku lebih terarah ke bagaimana caranya agar semuanya bisa setuju dengan kondisi yang kuhayalkan tadi. Tapi apakah istri Anton yang solehah ini dapat menyetujuinya ?
————-
Ketika aku termenung itulah, istriku pulang dari rumah Anton setelah mereguk kenikmatan bercinta dari Anton.
————-
Istriku menangis sesegukan di kakiku…., sambil berkata “maafkan Mamah, Pah!… Ampuni Mamah…! Mamah rela melakukan apa saja untuk menebus kesalahan yang Mamah lakukan….asal Papah mau memaafkan Mamah…..Huu.huuu..huu” kata istriku sambil terus menangis
“Betul…? Mamah akan melakukan apa saja ?” Tanyaku menekannya
“Betul.., Pah !” jawab istriku tanpa pikir panjang sambil terus menangis di kakiku.
“Udah… bangun… “ kataku menyuruhnya bangun
“Maafkan dulu Mamah…hu..hu..” kata istriku belum berani beranjak dari kakiku.
“Udah…. Bangun…., Mamah akan Papah maafkan…. Asal…!” kataku terpotong
“Asal apa, Pah ?” tanya istriku lagi sambil menengadahkan wajahnya menatap wajahku., matanya merah berlinangan air mata penyesalan.
“Asal Mamah rela, bila Papah menyetubuhi istri tetangga kita dan Papah ingin Mamah mengintip Papah yang sedang menyetubuhi istri tetangga kita, sebagaimana Papah lihat, bagaimana Mamah menjerit-jerit nikmat disetubuhi oleh tetangga kita, seperti yang terdapat pada rekaman ini.” Kataku kalem sambil menunjukkan kamera yang berisikan rekaman perselingkuhan istriku.
“Papah.. merekamnya..?” tanya istriku terbelalak kaget
“Ya… sebagai bukti perselingkuhan kalian.” Jawabku ketus.
“Tapi…Pah…!” Kata istriku menyanggah..
“Tapi , apa..?”
“Adakah cara lain…?”istriku berusaha menawar
“Hanya itu syarat dari Papah…, agar Papah memaafkan perbuatan Mamah. Kalau tidak…, terpaksa kita bercerai dan rekaman ini dapat menjadi bukti perselingkuhan kalian. Dan untuk memuaskan dendam Papah kepada kalian berdua yang telah menghianati Papah, maka akan Papah sebarkan rekaman ini di internet…” Ancamku.
“Jangan, Pah…, jangan ceraikan Mamah…., Mamah sangat cinta pada Papah. Lakukan saja yang ingin Papah lakukan , kalau memang itu merupakan syarat dari Papah untuk memaafkan penghianatan Mamah….” Kata istriku menyerah.

Kurengkuh tubuh istriku yang masih terduduk di lantai , kucium mesra bibirnya sambil berkata “Papah sangat mencintai Mamah…”. Istriku membalas dengan ragu ciuman mesra penuh rasa cinta yang kuberikan. Kuangkat tubuhnya agar duduk disampingku. Istriku memeluk diriku erat-erat dan kepalanya dia sisipkan di dadaku.
Cukup lama dia memelukku. Kemudian wajahnya menghadap wajahku dan bertanya “Bagaimana, Papah bisa memiliki rekaman itu ?”

“Papah merekamnya, waktu mengintip apa yang sedang mamah lakukan dengan tetangga kita” kataku.
Istriku terdiam dan percaya akan apa yang kuceritakan, kemudian dia bertanya lagi “Bagaimana caranya agar istri tetangga kita mau bercinta dengan Papah, bukankah dia wanita yang solehah dan taat beribadah. Dan lagi apakah suaminya setuju jika istrinya digauli oleh Papah..”
“Suaminya pasti setuju dan harus setuju, kalau tidak…… ancaman Papah untuk menyebarkan rekaman ini akan dilaksanakan. Oleh sebab itu…. tugas Mamah merayunya agar dia setuju.” Kataku lagi
“Bagaimana caranya Papah bisa menggauli istri tetangga kita yang solehah itu ?” kembali istriku menanyakan hal yang tadi dia tanyakan.
“Akan kuperlihatkan rekaman ini padanya….., dia pasti marah dan dendam pada kalian berdua…., Sehingga dengan mudah Papah bisa mempengararuhinya dan merayunya agar dia mau melayani Papah..” kataku lagi.
Istriku hanya bengong mendengar rencanaku. Dia tidak bisa berbuat apa-apa mendengarucapanku itu.
“Hayooo…. Mengapa bengong ! Sudah sana pergi temui tetangga kita dan perlihatkan rekaman ini, serta ceritakan syarat dari Papah. Rayu dia agar setuju dengan syarat dari Papah, biar posisi kita menjadi seri.” Suruhku pada istriku untuk menemui Anton.

Dengan langkah berat, istriku kembali menemui Anton di rumahnya. Cukup lama aku menunggu istrku kembali. Aku sudah tak peduli dengan apa yang mereka lakukan, yang ada di pikiranku adalah malam ini aku bisa menikmati tubuh istri Anton yang menjadi obsesiku selama ini.

Lama kutunggu-tunggu, istriku belum pulang juga. Hingga akhirnya istriku datang dibuntuti oleh Anton. Tampak sekali Anton merasa rikuh menatapku, tatapan mata orang yang merasa sangat bersalah, karena tertangkap basah perselingkuhannya dengan istriku terekam oleh kamera.
Dengan terbungkuk-bungkuk dia menyembah diriku sambil meminta ampun dan memohon agar aku tidak melaporkan tindakannya ke polisi serta memohon dengan sangat agar rekaman itu tidak disebarkan ke internet. Dia menyanggupi syarat yang kuajukan sebagai balasan atas apa yang dia lakukan terhadap istriku.
Aku bilang padanya bahwa nanti malam aku akan mengunjungi rumahnya, kemudian dia harus meninggalkan aku dan istrinya berdua di rumahnya

Dan kuminta dia dan istriku mengintip apa yang kulakukan dengan pada istrinya sehingga dia merasakan bagaimana perasaannya jika istrinya digauli oleh laki-laki lain. Dengan berat hati dan terpaksa, Anton menyetujui usulku. Dan akhirnya dengan gontai ia kembali ke rumahnya.

Sisa hari itu kugunakan dengan menunggu kejadian mendebarkan yang akan terjadi dan akan merubah suasana perkawinan keluarga kami, dan akhirnya waktu yang kutunggu itupun tiba.

Sekitar jam 9 malam, Aku segera mendatangi rumah Anton dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, istriku Anton membukakan pintu, dan seperti biasa dia mengenakan baju longgar dan panjang serta kepala dan dadanya ditutup oleh jilbab yang lebar.
“Ehhh….bapak ! Ada apa Pak ?” katanya kaget. Aku berusaha bertindak tenang seolah-olah orang yang
sedang benar-benar bertamu.
“’Ngga apa-apa, Bu ! Bapak ada ?” Jawabku. Dia mempersilahkanku duduk di kursi tamu, dan menutup pintu.
“Pah…! Pah..! Ada tamu…” teriak istri Anton memanggil suaminya.
“Ada siapa Mah ? “ jawab Anton sambil keluar dari kamar.
“Aihh…, Bapak…., ada apa Pak ?” tanya Anton bersandiwara.
“Ahh…, pingin silaturahmi aja Pak…, Mana si kecil ? sudah tidur ?” jawabku berbasa basi.
Kemudian kami ngobrol berbasa-basi, sebelum akhirnya dia bilang akan meninggalkanku sejenak, dengan alasan mau ke warung untuk beli rokok.

Setelah Anton meninggalkan rumah, aku mulai bertanya pada istri Anton yang selalu menggoda hatiku ini. “Bu !, Ngomong-gomong…, saya ingin bertanya…!” kataku
“Mau nanya apa sich ?” balasnya sambil menatapku.
“Bagaimana, perasaan ibu, kalau ibu tahu suami ibu berselingkuh ?” tanyaku langsung pada persoalan.
“Kenapa, Bapak menanyakan hal yang tidak sopan seperti itu ?” jawab istri Anton dengan nada tersinggung.
“Jawab saja pertanyaan saya !” desakku padanya
“Tentu saja saya sangat kecewa dan marah padanya. Saya minta Bapak jangan memfitnah suami saya dan sebaiknya bapak pulang sekarang, saya tersinggung dengan ucapan Bapak” jawabnya istri Anton tersinggung dan mulai emosi.
“Bagaimana kalau ternyata, dia berselingkuh dengan istriku ?” kataku lagi tanpa menghiraukan kata-kata pengusiran yang dilontarkannya.
Dia terhenyak dan menatapku tajam “Kenapa bapak berkata begitu ? Apakah dia berselingkuh dengan istri bapak ?” katanya mulai melemah dan terhenyak lemas.
“Itulah sebabnya saya tanyakan pada Ibu, apa reaksi ibu kalau ternyata suami ibu berselingkuh dengan istriku ?” tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Bapak jangan memfitnah suami saya, suami saya orang baik-baik…, mana buktinya ?” emosi istri Anton mulai naik kembali.
“Saya punya rekaman perselingkuhan suami ibu dengan istri saya..” jawabku tegas sambil memperlihatkan flashdisk padanya, “Jadi…, apa reaksi ibu, kalau tahu suami ibu selingkuh dengan istri saya ?” desakku lagi.
“Saya sangat kecewa, tapi tak bisa apa-apa….. karena saya sangat mencintai suami saya, dan tak mungkin saya minta cerai padanya. Karena saya sudah sebatang kara, tidak punya sanak saudara.. Tapi…… apakah benar seperti itu ? dari mana bapak dapatkan rekaman itu ? dan apakah benar isi rekaman itu adalah suami saya?” berondongan pertanyaan dia lontarkan padaku dengan penasaran dan rasa khawatir.

Aku tak menjawabnya, tapi langsung menuju meja komputer yang ada di ruang tengah. Lalu kunyalakan komputernya sambil berkata “Saya punya bukti perselingkuhan mereka di flashdisk ini…”. Dia termenung dan menanti dengan tak sabar apa tindakanku selanjutnya. Kupersilahkan dia duduk di kursi yang ada di depan komputer sementara aku berdiri di sampingnya sambil memasang flashdsk pada CPU.

Kemudian aku membuka file rekaman yang berisi adegan persetubuhan yang dilakukan suaminya.
“Aihhhh…” mulutnya menjerit tertahan, dan kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga, jantungnya seolah berhenti berdetak, nafasnya sesak serta matanya melotot tak berkedip ketika dia menyaksikan tubuh seorang lelaki yang mirip tubuh suaminya dalam keadaan bugil sedang menghentak-hentakan pantatnya pada selengkangan seorang wanita yang tak tampak pada layar karena terhalang oleh tubuhlelaki itu. Hanya terdengar samar-samar suara erangan dari seorang wanita yang sedang meraih nikmat…
“Benarkah….. itu suami saya…? Wajahnya kan tak terlihat, tapi……, itu ‘khan kamar kami…!” keringat dingin keluar dari pori-porinya dan sorot matanya memperlihatkan bahwa dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi suasana kamar yang diperlihatkan pada layar memang menunjukkan kamarnya…..
“Kapan gambar ini direkam ?” disela-sela nafasnya yang tersengal
“Tadi pagi sekitar jam 9 pagi..” jawabku.

Nafasnya semakin sesak….., sementara erangan-erangan nikmat yang terdengar mulai merangsang gairahnya. Berbagai macam perasaan berkecamuk di kepalanya. Membuat pikirannya buntu.
Mulutnya menjerit tertahan ketika lelaki itu berpindah posisi sehingga wajah lelaki dan wajah wanita yang ada dalam itu jelas memperlihat wajah suaminya dan wajah istriku. Dia memalingkan wajahnya seolah tak percaya dan tak mau melihat apa yang tampak di layar monitor. Tapi tak lama kemudian dia mengintip dari sudut matanya untuk melihat kejadian selanjutnya yang ditampilkan dari layar monitor.

“Bu…, saya sangat cemburu dan marah luar biasa pada saat saya pulang dan mencari istri saya ternyata istri saya sedang asyik bercinta dengan suami ibu. Ingin rasanya saya melabrak masuk dan membunuh mereka berdua. Tapi keinginan itu kutahan karena saya sangat mencintai istri saya. Dan tak ingin lingkungan kita menjadi gempar karena saya memergoki istri saya dan suami ibu berselingkuh.”
“Keluarga kita berdua bisa malu…,kasihan anak-anak. Itu sebabnya saya merekam perbuatan mereka supaya mereka tidak bisa mungkir.”

Lalu lanjutku lagi “Untuk membalas perbuatan mereka agar impas dan mambalas rasa sakit hati saya, maka saya sudah minta pada suami ibu agar saya bisa mengauli ibu dan suami ibu menyetujuinya agar kita bisa membalas perbuatan mereka.Itulah sebabnya suami ibu meninggalkan kita berdua sekarang”
Istri Anton mulai terpengaruh oleh ucapanku, sebab diapun sakit hati terhadap apa yang dilakukan suaminya dengan istriku. Timbul dendam didalam hatinya untuk membalas apa yang dilakukan oleh suaminya dan istriku.

Sementara itu di layar, terlihat bahwa istriku dalam posisi merangkak sedang digenjot oleh suaminya dengan hentkan-hentakan yang membuat mata istriku terpejam menahan nikmat dari dari mulut istriku kembali terdengar erangan-erangan nikmat.

Cemburu, kecewa dan amarah yang berkecamuk di dalam dada istri Anton menimbulkan dorongan untuk membalas perbuatan suaminya dengan berselingkuh denganku. Apalagi dilihatnya istriku begitu terlonjak-lonjak menikmati sodokan penis suaminya, Istri Anton iri dengan kenikmatan yang di dapat istriku dari suaminya
Disamping itu apa yang dilihatnya itu menimbulkan rangsangan berahi yang mulai menggeser rasa marah dan kecewanya. Tangannya mulai meremas-remas pegangan kursi dengan keras, terlihat bulu-bulu halus ditangannya berdiri yang menunjukkan bahwa dirinya sudah terangsang. Gairahkupun sebenarnya sudah meninggi menyaksikan persetubuhan yang mengairahkan yang dilakukan istriku dan suaminya.
Semakin lama tampaknya gairah nafsu berahi semakin menguasai diri istri Anton, dadanya turun naik terpompa gairah yang semakin membumbung tinggi. Keinginan untuk segera membalas dendam semakin besar. Duduknya gelisah dan mulai menggeliat, hingga pada saat tayangan menampilkan kondisi dimana istriku dan suaminya melonjak-lonjak dan mengejang kaku mencapai orgasme, rupanya nafsu istri tetangga sudah tak tertahankan lagi dia langsung berdiri dan berkata “Kalau suami saya berselingkuh dengan istri bapak, mengapa saya tidak boleh? Saya juga mampu melakukan seperti apa yang mereka lakukan, bahkan saya akan melakukannya lebih dari apa yang mereka lakukan. Apalagi seperti yang bapak bilang bahwa suami saya mengijinkan bapak menggauli saya. Ayo Pak! Tunggu apa lagi ?” katanya parau. Cemburu , marah dan gairah bercampur menjadi satu.

Tangannya merengkuh leherku dan bibirnya langsung melumat bibirku dengan penuh nafsu birahi yang meronta-ronta ingin menemukan pelampiasan. Rupanya ia ingin membalas sakit hati yang dirasakannya dan berharap suaminya melihat apa yang dilakukannya padaku.

Begitu ganas istri Anton yang berjilbab lebar ini mnciumiku, hawa dari mulutnya terasa panas menandakan gairah nafsu yang membara, kakinya terjinjit agar wajahnya semakin mendekat dan rapat ke wajahku, pelukannya sangat erat dan kepalanya bergerak lincah sambil bibirnya menghisap dan mengecup bibirku. Kembali istri Anton ini merasa sakit hati akan kelakuan suaminya. Dan rasa sakit hatinya ini membuatnya ingin segera membalas rasa sakit hati pada suaminya.

Dia langsung membuka seluruh pakaiannya hingga tak ada selembar benangpun yang menempel pada tubuhnya, aku terpana memandang mulusnya tubuh istri Anton yang selama ini hanya ada dalam lamunanku saja. Sekarang secara nyata ada di hadapanku.

Yang kuhayalkan selama ini memang benar, kulit tubuh istri tetangga ini demikian putih, mulus dan halus bak pualam. Ohhhh… ‘the dream come true’. Rangsangan yang merasuk ke aliran darahku semakin deras. Terutama saat kupandangi buahdadanya yang masih mengacung montok sangat indah.
Aku tak tahan menikmati pemandangan indah ini. Kuhampiri tubuh bugil istri Anton ini, kupeluk dengan nafsu yang menggebu-gebu, kuciumi seluruh pundak, leher dan buah dadanya dengan nafas yang berat dan terengah-engah. Tanganku tak tinggal diam, turut meremas-remas buah dada yang montok dan menggemaskan.

Nafsu istri Anton semakin terbakar, tubuhnya menggelinjang menikmati cumbuanku, erangan nikmat keluar dari mulutnya yang mungil “Ouh… euhh… auhhh….”. Kepalanya terdongak sambil mengerang dengan mata terpejam. Buah dadanya semakin membusung, mulutku langsung menjilati dan menghisap putting susu yang semakin menonjol keras.

Penisku semakin keras dan tegak, mendorong celana yang kukenakan, terasa sakit terjepit oleh celana yang seolah tak mampu membendung membengkaknya batang penisku.
Aku melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan. Melihat apa yang kulakukan, gairah istri Anton semakin tak tertahankan, dia menarik lenganku agar bersama-sama naik ke sofa.

Nampaknya nafsu istri Anton sudah tak tertahankan, vaginanya terasa basah dan sangat gatal ingin segera digaruk. Dan rasa gatal itu semakin meronta-ronta melanda vaginanya ketika matanya melihat batang penisku yang mengacung keras dan tegang. Dia membanting tubuhku agar telentang, dengan tergesa-gesa dia mengangkangi pinggangku, meraih batang penisku dan mengarahkannya pada liang vaginanya yang semakin basah, berdenyut dan gatal. Pantatnya ditekan sambil memejamkan mata menanti kenikmatan yang datang menjelang

Lalu bleessshhh…….”Ahhhkk……” erangan nikmat dan merangsang keluar dari bibirnya yang tipis. Matakupun mendelik merasakan kepala penisku menerobos liang vaginanya yang sempit menjempit namun panas membara. Rasa nikmat yang luar biasa menjalar ke seluruh penjuru urat nadiku. “Oohhhh…..” akupun melenguh nikmat.

Rasa nikmat dan puas semakin bertambah, karena mimpiku jadi kenyataan. Dan diluar dugaanku ternyata istri Anton ini demikian liar dalam bercinta bertolak belakang dengan prilakunya sehari-hari yang lembut dan anggun.Aku semakin puas dan nikmat menghadapi kenyataan ini.
Dinding vaginanya berdenyut keras seolah menghisap kepala dan batang penisku, lalu dia melonjak-lonjakan tubuhnya dengan hebat dan tak lama kemudian dia menjerit panjang sambil tubuhnya mengejang kaku “Aaaaaaakkkhhhhh…….”.

Dendam dan Gairah nafsu yang begitu meronta-ronta mengakibatkan orgasmenya begitu cepat datang menjemput. Beberapa saat kemudian dia ambruk menimpa tubuhku, kepalanya diletakkan di atas dadaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat dan cepat dan dasar liang vaginanya meremas dan menghisap-hisap kepala penisku memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku.
“Ouhhhh…..” keluar nikmat tanpa terasa keluar dari mulutku merasakan nikmatnya vagina istri Anton ini. Vaginanya memang lain dari yang biasa kurasakan dari istriku. Remasan dan hisapan yang dilakukan vagina istri Anton ini demikian kuat menyentuh simpul-simpul syarat kenikmatan yang ada di sekeliling batang dan kepala penisku.Uuuhhh….. luar biasa

Denyutan dinding vaginanya semakin lama semakin melemah namun terasa semakin basah dan licin. Setelah denyutan dinding vaginanya menghilang dan nafasnya teratur kembali, dia mulai menggerakan pinggulnya ke atas ke bawah agar batang penisku yang masih ditelan oleh vaginanya mengocok dan menggaruk seluruh dinding vaginanya dan masih gatal. Gerakan pinggulnya kadan-kadang berubah ke kiri dan kekanan bahkan diputar agar sambil menekannya dalam-dalam agar penisku masuk semakin dalam menggaruk dinding vaginanya.

Rasa nikmat yang teramat sangat kembali menjalar di tubuh kami, aku membalas gerakan pinggulnya dengan menghentak-hentakan pantatku ke atas dan kebawah agar garukan batang penis semakin lebih terasa nikmat.
Pinggulnya bergerak demikian lincah dan liar, tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga mataku terpana melihat buahdadanya yang montok dan sekal berayun dan berguncang-gucang. Kujulurkan kedua tanganku untuk meremas dengan gemas dan penuh nafsu kedua buahdada indah itu. Kepuasan dan kenikmatan semakin menjalar di seantero pembuluh darah kami.

Kedua tangannya memegangi kedua pergelanganku yang sedang memberikan kenikmatan tambahan dengan meremas dan memilin buahdadanya sebagai pegangan pada saat lonjakannya semakin keras meronta-ronta.
Lonjakan tubuhnya semakin liar dan pinggulnya menghentak-hentak kaku, sementara itu, penisku terasa seperti dijepit kuat dan dipelintir oleh mesin penggilingan yang sangat nikmat hingga mataku melotot dan melenguh “ouhhhhhhh…..”

Pinggulnya menghentak sangat keras dan dalam, cengkraman kedua tangannya pada pergelangan tanganku sangat kuat, punggungnya menjauh, tubuhnya melenting kaku dengan mata mendelik dan berteriak cukup nyaring “Aaaaaaakkkhhhhh…….”
Kembali istri Anton ini mengalami orgasme yang lebih luarbiasa dibandingkan dengan orgasme pertamanya, sesaat kemudian tubuhnya melayang dan ambruk kembali di atas tubuhku.
Sensasi orgasme yang kedua darinya kembali dirasakan penisku, kali ini remasan dan kedutan dinding baginanya terasa lebih kuat dan lebih cepat dibandingkan yang pertama, sehingga akupun merasa lebih nikmat.

Sambil telungkup lemah di atas tubuhku, dengan lemas dia julurkan kakinya sehingga berada di samping luar kedua kakiku yang agak terbuka, kedua tangannya dia susupkan ke bawah bahuku dan merengkuh pundakku dari bawah. Kemudian mulutnya menciumi dadaku, merayap ke atas , ke leher , ke pipi hingga kembali bibir kami bertautan dengan hisapan yang dalam dan panjang.
Sambil berciuman, pantatnya kembali bergerak ke atas dan ke bawah agar batang penisku yang masih keras kembali menggaruk rasa gatal pada dinding vaginanya yang kembali datang walaupun telah terpuaskan.
Helaan pantatnya yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar dan menekan, semakin cepat dan bertenaga, buahdadanya menggesek-gesek dadaku akibat gerakan pinggulnya yang memelintir nikmat batang penisku yang masih kuat dicengkram oleh dinding vaginanya. Gerakan melonjak yang kejang dan kaku kembali dialami oleh istri Anton setelah beberapa saat dia menghela batang penisku. Kepala terangkat menjau dari wajahku, matanya terpejam rapat dan “Aaaaaakkkkhhhhh…..” kembali dia meraih orgasme yang semakin cepat dapat diraihnya. Dan kembali tubuhnya lunglai lemas di atas tubuhku.

Rasa dendam pada suaminya membuat dirinya demikian lincah dan binal. Sehingga Berkali-kali dia meraih orgasme di atas tubuhku dalam posisi dia diatas tubuhku. Berbagai gaya goyangan pinggul dia peragakan mulai dari menaik-turunkan pantatnya, memutar pinggulnya hingga memaju-mundurkan pantatnya.
Batang penisku seperti dipelintir, dijepit dan dihisap-hisap luar biasa nikmat. Teriakan dan erangan nikmat yang keluar dari mulutnya semakin keras dan merangsang, seolah ingin di dengar oleh suaminya bahwa dia juga bisa selingkuh seperti suaminya.

Akhirnya istri Anton betul-betul ambruk dan tak mampu menggerakkan pinggulnya beberapa saat. Namun tampaknya rasa gatal yang menyerang dinding vaginanya belum juga hilang sepenuhnya. Dia menggulingkan tubuhnya hingga telentang di sampingku. Dan tangannya menarik tubuhku agar aku di atas.

Aku paham dengan apa yang diinginkannya. Tubuhku bangkit, kukangkangkan pahanya, lalu aku meletakan kedua lututku tepat dibawah pahanya, kuarahkan penisku yang semakin bengkak dan keras pada mulut liang vaginanya yang mengkilat basah oleh cairan kenikmatan. Dan blessshhh…… penisku menerobos liang vagina yang semakin basah , namun tetap terasa sempit dan menjepit serta memijit-mijit batang penisku.
Aku mulai memompa pantatku hingga batang penisku mengocok-ngocok dan mengaduk-aduk liang nikmat itu. Setelah sekian lama aku menggenjotnya, dia mulai membalas dengan menghentak-hentakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku dengan erangan-erangan nikmat yang kembali dia perdengarkan.
Pada saat istri Anton sedang melonjak-lonjak merasakan nikmat atas sodokan-sodokan batang penisku, tiba-tiba suaminya dan istriku masuk melalui pintu yang tadi lupa tidak ditutup. Istri tetangaku terperanjat dan terpekik kaget “Awww….”. Dan kekagetannya semakin bertambah setelah melihat bahwa suaminya dan istriku langsung melepaskan pakaian yang sudah setengah terbuka.
Dia berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuhku yang sedang menekan pinggulku dalam-dalam hingga seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya di dalam vaginanya. Tapi urung dilakukan karena ternyata suaminya masuk bukan untuk menghentikan kami yang sedang berpacu meraih nikmatnya persetubuhan.

Dia menggandeng tangan istriku, dan menuju sofa dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.
Betapa besar rasa cemburunya ketika dia melihat bagaimana istrinya dengan lincah dan ganas melonjak-lonjak di atas tubuhku. Namun baik istriku dan Anton tak berdaya untuk menghentikan apa yang sedang kami lakukan. Mereka hanya melihat apa yang kami lakukan dengan perasaan yang tak menentu.

Tetapi perasaan cemburu dan bersalah yang melanda hati Anton dan istriku secara perlahan tergantikan oleh rangsangan berahi yang menjalar di seluruh pembuluh darah mereka melihat bagaimana aku dan istrinya melonjak-lonja meraih nikmat serta mendengar erangan-erangan istrinya yang membuat nafsu berahi keduanya naik dengan cepat.

Sambil melihat apa yang kami lakukan, mereka saling meremas dan meraba membuat nafsu mereka membumbung tinggi., Dan mereka bercumbu di depan pintu sambil memperhatikan kami, pakaian yang istriku kenakan sudah setengah terbuka. Buah dada istriku yang besar membusung indah sudah terbuka dan diremas-remas oleh Anton sambil melihat yang kami lakukan

Dan pada saat aku sedang di atas tubuh istrinya, nampaknya nafsu mereka sudah tak tertahankan lagi, mereka langsung melepaskan semua pakaian hingga akhirnya bugil.

Istriku dibimbingnya agar berbaring dibagian kosong di sofa lain di ruang tamu itu, namun kaki istriku masih terjulur di lantai. Tanpa memperhatikan kami yang sedang bengong melihat kedatangannya. Anton langsung mengangkat paha istriku hingga terkangkang, meletakkan kedua lututnya ke pinggir sofa dan mengarahkan batang penisnya yang sangat tegang dan keras ke mulut liang vagina istriku yang basah menunggu dimasuki oleh batang penis yang keras.

Lalu dia mulai menggenjot tubuh istriku dengan cepat hingga tubuh istriku melonjak-lonjak dan mengerang nikmat. Rangsangan nafsu begitu menguasai istriku dan Anton, sehingga mereka langsung merasa berada di awang-awang dilambungkan oleh kenikmatan yang tak terhingga.

Rangsangan kembali menjalar di tubuh istri Anton melihat suaminya tidak mempedulikan dirinya. “Aku.. akan melayanimu Mas…., aku akan memuaskanmu mas…., kalau Mas Anton aja bisa dan sangat bersemangat memberikan kenikmatan pada istrimu. Mengapa aku harus merasa terpaksa melayanimu Mas ?. Ayo mas …aku akan membuatmu melayang-layang…” demikian katanya sambil kedua tangannya memeluk erat tengkukku.
Ciuman yang istri Anton berikan pada bibirku demikian ganas dan panas membara memberikan rasa nikmat yang membuat diriku melayang. Kemudian dengan liarnya, bibir dan lidahnya menciumi serta menjilati sekujur bidang dadaku sampai ke perut kemudian naik lagi kearah puting susuku yang kiri dan kanan secara bergantian. Dihisap-hisapnya dengan penuh nafsu kedua puting susuku sehingga aku melayang nikmat.
”Ouhhhh… ” keluhku. Kemudian tangan istri Anton dengan cekatan memegang pangkal penisku dan mengocoknya, sementara bibirnya langsung mengemut, menghisap dan menjilati penisku membuat aku semakin melayang diterpa nikmat yang luar biasa

”Akh…..hoohhh…..hoh… Aduh jeng….enak….ohhh…” kata-kataku keluar dari mulutku secara terpotong-potong.

Secara sekilas kulihat bahwa posisi istriku dan Anton sudah berubah. Mereka sudah tidak lagi berdiri dipinggir sofa melainkan sudah berbaring diatas karpet . Anton terlentang dalam keadaan telanjang bulat . Tangan kanan istriku memegang pangkal penis Anton dan tangan kirinya mengusap-ngusap dada Anton, sementara mulut dan bibir istriku sibuk mengemut, menghisap dan menjilati kepala penis Anton membuat badan Anton terlonjak-lonjak dan kedua kakinya terkejang-kejang menahan nikmat yang diberikan istriku.
Aku disinipun tak mau kalah… kuangkat badan mungil istri temanku ini, kuciumi seluruh bagian leher jenjang yang menggairahkan ini kejilat dan kuhisap-hisap hingga mata istri temanku ini terbeliak-beliak menahan nikmat dan mulut yang megap-megap serta keluarlah suara desisannya.. ”Hsssstttt….hhssstt..”

Tanganku segera bekerja untuk meremas buah dada indah ini dan memilin-milin puting susunya sedang mulutku langsung menghisap dan menjilati puting susu yang sebelahnya.
Desahan istri temanku sudah berubah menjadi erangan kenikmatan : ”Euh…euh… ouh…ouh….” dengan mata yang kadang terpejam rapat dan terkadang terbeliak-beliak menahan nikmat.
Lalu kedua tanganku langsung meraih pantat indahnya dan bibirku langsung menuju selangmasan istri temanku ini dan dengan rakus aku menciumi, menjilati bahkan menghisap-hisap dan menggigit-gigit gemas vagina istri temanku ini. Perbuatanku ini membuat kaki istriku terjinjit-jinjit didera rasa nikmat dan kedua tangannya bertahan pada pundakku dan erangannya sudah berubah menjadi jeritan-jeritan serta teriakan nafas tertahan

”Auw…auw… ouhh…ouh enak mas…makasih mas….ouh…enak…mas…auw …” demikian ucapnya tiada henti seiring dengan ciuman dan jilatan lidahku pada vaginanya.
Sampai akhirnya ia menjinjitkan kakinya tinggi-tinggi dan lurus kaku, kedua tangannya mencengkram pundakku dengan keras bagaikan cakar burung elang yang menangkap mangsa dan badannya melenting bagaikan busur panah, pantatnya ditekankan ke wajahku keras-keras sambil berteriak..”Aaaakkkhhhh……” kemudian badannya melonjak-lonjak dengan pantat yang berkedut-kedut dan setelah itu badannya terjengkang kebelakang hingga hampir jatuh telentang jika tidak kutahan..

Kubangunkan dia dan kubawa ke atas sofa, kulihat matanya basah oleh air mata yang keluar akibat menahan nikmat yang teramat sangat sambil berucap terbata-bata .. ”Makasih mas…enak banget…aku sangat melayang dan terhempas kehilangan keseimbangan…” kemudian ia memeluk erat diriku sambil merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih datang menghampirinya.

Sementara itu Anton telah diguncang-guncang kenikmatan yang diberikan oleh istriku. Tubuh istriku sedang menduduki selangkangan Anton dan dia bergerak sangat lincah dan erotis memberikan segala kenikmatan yang ada. Buah dadanya berguncang-guncang menggairahkan akibat gerakannya yang sangat liar. Mata Anton terbeliak-beliak menahan nikmat sementara dari mulut istriku keluar teriakan-teriakan seperti orang yang sedang berolah raga dengan nafas yang tersengal-sengal.
”Hhoh…Hhohh.. ..hessshhh ….heshhh ” seiring dengan gerakan pantatnya yang maju-mundur, keatas kebawah, kekiri-kekanan dan diputar-putar.

Teriakan-teriakan istriku rupanya cepat membangkitkan kembali nafsu istri Anton untuk melanjutkan persetubuhan denganku.
Badannya berdiri diatas sofa, kedua kakinya diletakkan dikiri dan kanan pinggulku , kemudian dia berjongkok mengarahkan liang vagina yang telah basah dan licin tepat di depan kepala penisku yang sedang tegak berdiri dengan gagahnya.

”Aku akan memberikan kenikmatan yang belum pernah mas rasakan sebelumnya, percayalah..!” katanya tersenyum manis berpromosi.. Tangan mungilnya mengarahkan kepala penisku ke depan liang vaginanya, kemudian pantatnya menekan ke bawah.

Dan….blessshhh…penisku telah masuk ke liang kenikmatan istri temanku secara perlahan-lahan. Sepanjang perjalanan kepala penisku menerobos liang vagina istri temanku, kepala dan batang penisku seperti disambut dengan jilatan-jilatan beribu-ribu lidah kecil yang menjilati seluruh permukaan syaraf nikmat yang terdapat diseluruh permukaan penisku. Membuat mulutku ternganga dan mata melotot menahan nikmat yang amat sangat yang tidak pernah kualami selama bersetubuh dengan istriku. Janji istri temanku ini memang benar.
Istri temanku ini tersenyum manja melihat aku melotot dan ternganga menahan nikmat yang diberikan oleh vaginanya..

”Itu tadi baru permulaan…” katanya dilanjutkan dengan mencium bibirku penuh nafsu, kemudian secara perlahan-lahan pantatnya mulai bergerak secara teratur keatas-kebawah, kedepan-kebelamas, dan diputar-putar..
Gerakan-gerakan tersebut secara periodik terus dilakukan oleh secara konstan, memberikan kenikmatan yang sangat bagi penisku. Aku sampai mabuk kepayang dan melayang-layang didera oleh angin topan kenikmatan yang diberikan oleh vagina istri temanku yang luar biasa ini.
Sepertinya istri temanku ini merasa heran, kenapa aku belum juga mencapai puncak, padahal biasanya bila jurus yang barusan saja dia peragakan padaku dia berikan pada suaminya, maka tak menunggu banyak waktu suaminya akan sampai menuju puncak dan menjerit nikmat sambil melepaskan sperma yang deras. Sementara dirasakan olehnya bahwa penisku masih tetap tegang dan keras padahal dia melihat aku terbeliak-beliak menahan nikmat

Istriku temanku semakin ganas menggerakkan pantatnya, dan mulai memperdengarkan suara dengusan dan erangan yang memburu
”Aaah…hekhs…heks… ouh…ouh….auw…” jeritannya berulang-ulang. Dan akhirnya gerakannya sudah mulai sangat cepat dan tak teratur. Denyutan , kedutan dan jilatan lidah-lidah kecil di rongga vagina istri temanku semakin keras dan akhirnya…

”Aaaaahhh…..” istri temanku menjerit sangat keras sambil melentingkan badan dan mencakar dadaku. Vaginanya ditekan kuat-kuat ke selangmasanku sehingga penisku amblas sampai dalam sekali dan kakinya kaku dan BRUK…. dia ambruk menindih tubuhku yang sudah hampir menuju puncak tapi Istri temanku ini keburu ambruk dan terdiam sehingga orgasmeku kembali surut

”Oooh…mas…benar-benar nikmat banget… mas benar-benar hebat” katanya memujiku sambil membaringkan kepalanya di dadaku menikmati sisa-sisa orgasme.
Sementara di ruang tengah, posisi sudah berubah lagi. Anton diatas istriku sedang memompa pantatnya ke selengkangan istriku. Penisnya dengan cepat keluar-masuk vagina istriku. Tangannya seperti biasa selalu bermain dibuah dada istriku yang sangat digandrunginya. Matanya melotot seperti mau copot seolah sedang mengejar sesuatu yang akan segera dia raih.
Gerakan pinggul istriku dibawah tubuh Anton sangat cepat dan tidak teratur, teriakan-terikan istriku keluar menunjukkan bahwa dia sedang didera kenikmatan yang teramat sangat yang sebentar lagi akan menuju puncak

”Auw..auw…auw…oh…ouh……”
Dan akhirnya secara bersamaan gerakan mereka berdua sangat keras dan tak terkendali dan ….
”Aaahhh…….” teriakan Anton dan istriku berbarengan. Lalu kedua tubuh mereka menegang kaku dan akhirnya terhempas lemas dengan diakhiri dengan kedutan-kedutan pantat mereka untuk saling menekan selangmasan masing-masing. Dan diakhiri dengan menggelosornya tubuh Anton dari atas tubuh istriku kesamping tubuh istriku. Dan mereka tertidur kelelahan sambil berpelukan damai.

Sementara aku sudah mulai merangsang kembali istri Anton yang masih telungkup diatas tubuhku yang terduduk di sofa ruang tamu. Kubelai rambutnya yang indah, kukecup lembut bibirnya yang tipis dan matanya yang indah lalu kembali mengulum dan menghisap-hisap bibir istri temanku dengan penuh nafsu. Dia membuka matanya dan membalas ciumanku dengan tak kalah ganasnya. Tanganku kembali mempermainkan buahdada indah milik istri temanku. Perlahan-lahan kembali pantatnya bergerak mengucek penisku yang masih berada didalam vaginanya. Tetapi nampaknya gerakan pantatnya masih kurasakan lemah, karena mungkin masih lelah karena telah dua kali merasakan puncak orgasme yang sangat hebat yang menguras banyak energinya. Akhirnya kupegangi pantatnya, kemudian aku berdiri dari dudukku sehingga posisi saat ini menjadi aku yang sedang memangku istri temanku yang mungil dan menggairahkan. Kedua kakinya dia ikatkan ke pinggangku dan kedua tangannya merangkul tengkukku sebagai gantungan, sementara selangmasannya menekan keras selangmasanku sehingga penisku menusuk vaginanya hingga ke pangkalnya.

”Ouhh…. nikmatnya…” erangku.
”Ouhmmh… mas…. aku juga enak….euh….” sahutnya sambil mendekapku seperti orang yang sedang memanjat pohon kelapa.
Kemudian aku mulai melonjak-lonjakan tubuhnya dengan melurus-luruskan kakiku. Istri temankupun ikut melonjak-lonjakan tubuhnya sehingga persetubuhan yang kulakukan sangat berat dan melelahkan namun juga sangat nikmat sehingga erangan kenikmatan kami saling bersahutan…
”Ouh….ouh….” erangannya
”Euh….hek….hek hsssttt..” Keluhku
Lututku semakin kurasakan leklok. Akhirnya kupangku istri temanku ini memepet kan punggungnya ke dinding ruang tamu dan kakinya aku turunkan sehingga kakinya terjinjit tertahan vagina yang diganjal oleh penisku yang sangat tegang. Bebanku berkurang dan pantatku dapat bergerak bebas untuk maju-mundur mengocok penisku didalam vagina dengan beribu-ribu lidah kecil yang terus menerus menjilati seluruh permukaan penisku disertai dengan kedutan dinding yang memijit-mijit nikmat penisku. Kenikmatan ini semakin tak terlukiskan dan akupun tanpa sadar terus-menerus mendengus dan melenguh menahan nikmat

”Ouh…heh…heh……ouh….hekss…” dengusku keras.

Tiba-tiba gerakan pantat istri temanku ini semakin liar dan dia mulai menjerit-jerit kembali…”Auw…auw…auw…ohhhh….hoh…..hoh….hhhssstttt… ”

Dan akhirnya ”Aaaahhhhh…” Istri temanku kembali menjerit panjang badannya melenting kaku.. giginya menggigit dadaku dan tangannya mencakar punggungku.
Beberapa detik kemudian kembali pantatnya berkedut-kedut dan vaginanya berkontraksi sangat hebat memijit-mijit batang penisku dengan ketat..
”Oohhh…….” aku melenguh menahan nikmat. Sejurus kemudian badannya lemas tak berdaya hampir mengelosor jatuh terduduk jika tak ditahan oleh pelukanku
”Ouhh…hssss makasih mas… kenikmatan orgasme ini benar-benar melelahkanku…” katanya lemah ….
Aku bimbing kembali istri temanku ke sofa dan kubaringkan. Badannya sudah sangat basah kuyup oleh keringat. Benar-benar suatu persetubuhan yang sangat luar biasa menguras tenaga…Aku biarkan dia terbaring beberapa saat sambil kubelai-belai rambutnya yang indah. Aku tak bosan-bosan menikmati keindahan tubuh mungil istri temanku ini. Rupanya istri temanku ini merupakan tipe wanita penikmat sex, karena walaupun telah beberapa kali meraih orgasme yang hebatpun gairahnya cepat kembali bangkit untuk meraih kepuasan orgasme berikutnya., ditambah lagi keistimewaan kedutan vagina miliknya yang bagaikan memiliki ribuah lidah kecil yang selalu menjilat dan memeras penis yang menjelajahinya.

Kuarahkan dia agar kepalanya berbantalkan pegangan tangan sofa, kemudian kaki kanannya kuturankan kelantai dan kaki kiri terlipat di atas sofa, sehingga posisi istri temanku sekarang menjadi nungging dengan kaki kanan menahan di lantai dan dengkul kaki kiri menahan di sofa. Kemudian kedekati pantat seksi yang menggairahkanku ini.

Kuarahkan penis tegangku ke vagina istriku dari belamas, kemudian blesss…. kembali batang penisku merasakan jepitan liang vagina yang memiliki ribuan lidah menjilat ini..
”Ouhh…ouhh,…..” keluhku dan erangan istri temanku berbarengan.
Aku memulai mengocok penisku ke vagina istri temanku. Ku maju mundurkan pantatku hingga menekan pantatnya sehingga terdengar suara yang keras akibat tumbukan antara selangmasanku dan pantat istri temanku. Plok…plok…plok

Gerakanku mulai cepat-cepat tapi tetap teratur disertai dengan tolakan yang kejang-kejang. Hingga akhirnya pinggul istri temanku bergerak-gerak liar sehinga bunyi benturan itu semakin keras.
PLOK…PLOK…PLOK

Dan akhirnya kembali dia menjerit dan melenguh keras…

”Aaakhhh….” jerit istri temanku ini…

”Hhhooohhhhh…..” dengus napasku. Tubuhnya kaku beberapa saat dan kemudian terjadi kontraksi pada vaginanya dengan berkedut-kedut beberapa kali sangat keras.
Lalu…BRUKK… kami jatuh telungkup di atas sofa
”Ouhh… kenapa selalu enak begini, mas..? ” pertanyaan yang tak perlu dijawab dilontarkan lemah oleh mulutnya ..

Tapi saat ini aku tidak akan membiarkannya lama-lama beristirahat karena kurasakan orgasme bagi diriku sudah sangat dekat karena mataku sudah berkunang-kunang dan perasaan sudah tak menentu. Kemudian kubalikkan badannya dan langsung menindih badannya kurahkan venisku ke liang vaginanya yang sudah sangat banjir dan kemerahan dan …

Blesss… kembali kurasakan liang vagina dengan ribuan lidah menjilat ini. Aku mulai memompakan pantatku mengocok dan mengaduk-ngaduk vagina istri temanku dengan penisku. Gairah istri temanku ini kembali meninggi dan dia mulai mengeluh dan mengerang menahan nikmat..
Erangan istri temanku semakin keras…”Euh..euh..”
Dan tiba-tiba gerakan pantatnya menjadi liar dan cepat. Erangannyapun telah berubah menjadi teriakan-teriakan yang merangsang

“Aaah…aahhh…aaahhh” Dan diakhiri dengan jeritan panjang melepas nikmat “AAAaaaaahhhhhh…..” Tubuhnya kaku, badannya melenting dan vagina berkonstraksi sangat hebat membuat penisku tidak mampu bertahan. Dan aku pun menjerit melepaskan beban nikmat “Aahhhh…”
Tubuhku tegang, pantatku kutekan dalam-dalam dan.. cret…cret…cret spermaku terpancar sangat deras dan kental menyemprot dinding vagina istri temanku yang sedang berkonstraksi. Akhirnyanya tubuh kami pun berkedut-kedut menghabiskan sisa-sisa kenikmatan yang masih bisa terasakan. Kemudian…Bruk…. kali ini ..tubuhku benar-benar ambruk menindih tubuh mungil istri temanku, tapi aku gelosorkan kesamping tubuhnya, kemudian aku memeluknya sambil mata terpejam menikmati sisa-sisa orgasme yang sangat luar biasa… dan tanpa sadar kamipun tertidur.

Dini hari aku dan istri temanku terbangun karena terganggu oleh erangan dan jeritan-jeritan nikmat yang keluar dari mulut Anton dan istriku. Rupanya Anton dan istriku kembali mengayuh berahi menggapai nikmat membuat aku dan terutama istri Anton menjadi terangsang kembali. Aku merangsang gairah istri Anton dengan cara menciumi leher, dada dan akhirnya menjilati, mengulum dan menghisap puting susu istri Anton yang sudah menonjol keras, Istri Anton hanya mengerang nikmat mendapat rangsangan dariku dan akhirnya kubisikan agar pindah ke ruangan dimana suaminya dan istriku sedang menagyuh nikmat, Istri Anton memandangku sejenak, namun akhirnya mengangguk dan secara bersamaan kami berdiri dan berjalan beriringan menuju ruang tengah dengan telanjang bulat. Aku dan istri Anton semakin terangsang, begitu masuk ke ruang tengah kami lihat istriku dan Anton sedang bersetubuh dengan nafsu yang bergelora, kulihat

Anton begitu semangat mengayunkan pantatnya agar batang penisnya mengaduk-ngaduk liang vagina istriku, tangan Anton tak henti-hentinya meremas-remas buah dada istriku yang montok. Sementara itu, kepala istriku tergeleng-geleng ke kiri dan kekanan menikmati genjotan Anton sambil terus menerus mengerang nikmat, pantat istriku bergerak lincah menyambut setiap helaan pantat Anton.

Anton dan istriku yang sedang seru mengayuh nikmat hanya menoleh selintas padaku dan istri Anton ketika kami datang dan mengambil posisi disamping mereka, kemudian tanpa mempedulikan kehadiran kami mereka melanjutkan pergulatan mereka merengkuh nikmat disertai dengan suara erangan dan keluhan nikmat yang bersahutan.Aku dan istri Anton pun tidak mempedulikan kondisi mereka. Kami mulai bercumbu mengayuh nikmat yang jauh lebih seru dan lebih panas dibanding tadi, karena saat ini kami dapat melakukan dengan bebas karena kami lakukan di atas karpet yang luas.

Geliat tubuh istri Anton semakin liar dan ganas seperti mendapat tambahan tenaga baru ketika dia lihat disampingnya suaminya dengan liar dan ganas sedang menghentak-hentakan pinggulnya dia atas tubuh istriku
Dengan tiada lelah Aku terus memberikan kenikmatan yang sensasional pada istri Anton dengan cara dan variasi yang berbeda-beda. Demikian pula nampaknya dengan istri Anton, Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk memberikan kenikmatan yang dalam beberapa hal belum pernah kudapatkan dari istriku.
Entah berapa puluh kali istri temanku ini mengalami orgasme dan entah berapa ronde kami melakukan pertarungan yang sangat melelahkan dan menguras banyak tenaga. Pertarunganku dan istri Anton baru selesai ketika kokok ayam jago terdengar, sementara Anton dan istriku sudah cukup lama tertidur kelelahan setelah mereka selesai melakukan pertarungan babak kedua dini hari tadi..

Akibat kejadian semalam, keakraban kami menjadi sangat lain, orang lain akan bingung bila meperhatikan kemesraan kami, bingung untuk menentukan mana yang merupakan pasangan suami istri. Sebab aku menjadi sangat mesra dengan istriku dan istri Anton, demikian juga dengan Anton menjadi sangat mesra terhadap istrinya dan istriku.

Sejak saat itu sering kali aku pulang siang-siang bukan ke rumahku tapi ke rumah Anton dan bersetubuh dengan istrinya Anton. Demikian pula dengan Anton sering kali siang-siang ke rumahku dan bersetubuh dengan istriku. Pernah beberapa kali aku memergoki Anton sedang bergulat meraih nikmat di atas tubuh seksi istriku. Aku tidak marah tapi langsung aja kubilang akan kerumah Anton. Mereka maklum dan terus melanjutkan pergulatan yang sempat terganggu atas kedatanganku.

Kejadian hari ini adalah pengalaman pertama yang tak terlupakan, dimana kami main berempat. Dan sejak saat itu seolah-olah telah diresmikan oleh kami berempat, aku boleh meniduri istrinya kapan saja aku mau dan akupun merelakan istriku digaulinya kapankun dia mau.

Sampai saat ini status perkawinan kami tidak tergannggu. Aku dan istriku tetap saling mencinta demikian juga dengan Anton dan istrinya. Dan kami tetap melakukan hubungan suami istri dengan pasangan perkawinan masing-masing. Hanya saja sampai saat ini kami belum pernah melakukan keroyokan. Dan nampaknya tidak akan pernah kami lakukan. Tetapi kalau menukar pasangan ditengah permainan beberapa kali pernah kami lakukan. Pada saat kami melakukan acara kumpul bersama.


Istri dan adik ipar

“Mas.. kalau tidur ditutup sarungnya.. jangan dibuka kayak tadi.. kemana-mana tuh..!!” kata Mey.
Spontan aku kaget, dan tanya ke dia,”Masa sih Mey??”
“Yaah.. namanya juga tidur.. mana aku tahu..” lanjutku sekenanya.

“Untung gak ada orang tadi, makanya langsung aku tutup pakai sarung..” kata Mey.

Makin kaget aku.. “Gila lu ya.. Masa sih..??” sambil garuk-garuk kepala.

“Daah, santai aja.. lagian aku kan cuma nutup doang..” Kata Mey
“Iya.. nutup doang, tapi kan lihat.. Iya kan..?” tanyaku penasaran.

“Dikit Mas.. salah sendiri ngacung gak jelas.. mana keras banget lagi kayaknya..”

Penasaran………
Bangeeet gak seeeeh…….????? 

Awal Februari 2013, semua nama aku samarkan, Mas Bro itu panggilanku di rumah.. pulang pagi mendekati subuh.. Sekitar jam 0415 waktu Cilandak – Jakarta Selatan.. Parkir mobil agak jauh di depan.. Jalan gontai, kecapean karena pulang entertaint klien. Sampai depan rumah ambil kunci di dalam tas selempang MontBlanc andalanku… buka pintu dan lepasin semua yang ada dibadan….

Pelan-pelan aku jalan menuju kamar mandi di belakang berbatasan dengan dapur, cuci muka dan bersih-bersih badan.. sambil berpikir tentang produksi yang mudah-mudaha akan aku dapat dalam dua atau tiga minggu ke depan.. lumayan bisa buat hidup keluarga selama empat bulan kedepan..
Namanya juga pekerja di perusahaan broker asuransi, dan pastinya entertaint klien itu perlu… ditambah tadi itu, aku memang minum tequilla agak banyak.. tapi untungnya masih bisa konsentrasi pegang setir dan selamat sampai di rumah.

Selesai dari kamar mandi aku langsung menuju kamar, hanya pakai sarung yang sudah disiapkan di depan kamar mandi dan telanjang dada, aku buka pintu kamar perlahan. Kuatir membangunkan istri dan anak-anakku. Kamar kami memang menjadi satu, berhubung di rumah mertuaku memang cuma ada tiga kamar. Padahal kalau saja istriku mau tinggal di Bekasi, kita bisa punya kamar sendiri, dan anak-anak juga punya kamar sendiri. Tapi apa boleh buat, istriku kerja di area Buncit, jadi lebih dekat dan lebih irit biaya pulang perginya. Mertuaku tidur di kamar depan dan adik iparku tidur di kamar belakang.

Kaget pas aku buka pintu kamar dan aku nyalakan lampu, ternyata adik iparku, Mey, tidur di kamar kami. Selain itu, tumben juga nih, kok gak ada yang terbangun. Mungkin karena dinginnya AC dan cuaca yang mendukung setelah hujan malam tadi. Yang paling aku kaget dan bikin horny, cara tidur Mey yang berantakan, jadi rok dasternya tersingkap sampai di atas perut. Hasilnya aku bisa menikmati melihat paha, bongkahan memiy (yang menurutku) masih perawan, walaupun tidak semulus dan seputih paha istriku sendiri, Santi, kakaknya Mey. Mataku tetap memandangi memiy nya dengan jembi yang rada jarang. Mey pakai celana dalam yang agak kendor dan tipis, jadi semua bisa terlihat dengan jelas, apalagi lampu aku nyalakan. Haduuuh… Pemandangan yang membuat aku makin pusing dan horny di pagi hari buta.

Puas aku melihat memiy Mey, penasaran sih pengen pegang dan ngepel alias jilmey, tapi kan ada Santi. Berabe kalau Mey teriak. Ya sudah, aku tahan dan sengaja aku matikan lampunya lagi tanpa menutup pintu, dan pelan tapi pasti aku keluar kamar lagi dan jatuhkan botol kosong di dekat dispenser, biar salah satu dari mereka bangun. Istriku ternyata yang pertama kali terbangun dan langsung menegur Mey, kalau dasternya tersingkap.

“Mey, dastermu itu.. Untung Mas Bro di luar tuh..” kata Santi.

Mey langsung rapikan dasternya, lalu bangun dan langsung menuju kamarnya tanpa melihat aku yang sedang minum tapi memperhatikan pantatnya yang bulat. Memang adik iparku ini lebih tinggi dan agak cubby, dengan toket yang ukurannya lebih besar daripada kakaknya. Sebenarnya proporsional, tapi kulitnya eksotis Indonesia, sawo matang kekuningan. Sedangkan istriku lebih pendek dan sintal, dengan kulit putih mirip orang cina. Wajah mereka sama-sama cantik dan bikin penasaran orang yang melihat.

Aku masuk ke kamar dan langsung masuk ke dalam selimut di samping istriku, sambil cium pipinya dan peluk badannya. Ternyata istriku NO BRA, akhirnya aku coba rangsang dia dengan pegang dan puter-puter pelan pentil kecilnya.

Istriku melengguh pelan,”Yah, gak capek..? kan baru pulang..?” tanya istriku.
“Kalau pulang yang didapat kayak begini” sambil aku remas dan isep toketnya.
“Gak akan pernah cape aku” dan kusingkap dasternya.

Aku telanjangi Santi dengan sedikit kasar sambil aku isap pentilnya, dan dia menikmati ssetiap rabaan dan cumbuanku. Lengkuhannya saat aku pegang dan gerayangi memiy nya. Bugillah istriku hanya dengan celana dalam seksi G string tali sampingnya saja.

“Yaaaah.. aku horny” saat jari tangan kiri ku membuat basah memiy nya dan masuklah jari tengah ke dalam memiy Santi. Disaat yang sama bibirku tidak diam, mengarah ke semua penjuru toket, leher dan pentil Santi.

“Uuuukhhhh.. Ayaaaah… Cepetaan..!!!”

Aku lepas sarung yang aku pakai dan tongki ku aku arahkan ke mulut Santi, dan aku ganti jari tengah tangan kiriku dengan mulutku yang sekarang sudah menghisap memiy indah milik Santi dan tangan kananku melepas tali G String nya, posisi kami menjadi 69, aku diatas.

“Mmmffh….mmffh..slruuuph..slruuuph..” suara horny Santi dan hisapan mulutnya ke kontol ku.
Aku terus jilmey dan hisap klitoris Santi, sampai akhirnya…
“Aaaaakkkhkhhhh…Yaahh…” dijepitnya kepalaku dengan pahanya.
Dengan kedua tangannya peluk pinggang dan lidahnya hisap dan jilat daerah antara sunhole dan kontolku.

Orgasme pertama untuk Santi. Aku langsung balik badan dan masukkan kontol ku ke dalam memiy Santi.. “Sleeeeeph… saking basahnya belahan memiy Santi, jadi langsung masuk semua kontolku ke dalam memiy nya… dan dia melengguh lagi.. “aaaaakkkkhhh.. Ayaaaahhhh… eeeennnnaaaakkkhhhh nyaahhh….” lalu dia gigit bibir bawahnya sambil menaikkan bagian perut dan dadanya agak keatas dan menahan nafasnya, menikmati sodokan kontolku yang tiba-tiba dan agak kencang. Aku akui, memang hari ini aku sangat nafsu dengan Santi, istriku, karna

Aku diamkan sebentar kontolku yang memang keras dan agak panjang sekitar 17cm itu di dalam memiy Santi. Pelaaaaaan… perlahaaaan… aku tarik.. dan aku sodok agak keras ke memiy nya… pelaaaan… perlahaaan… aku tarik dan aku sodokkan lagi ke memiy nya berulang-ulang… sampai 15 kali… Sebenarnya kuatir juga… kuatir kalau anak-anak bangun.. aku lirik mereka.. dan aku bisikkan ke telingan santi untuk pindah di lantai saja, pakai kasur lipat yang sudah setia menunggu kami di bawah tempat tidur jati kami yang kokoh ini.

“Ayah.. cepeet ya sayang.. sudah mau subuh..?” kata istriku. Memang setiap kali ngentot, kami butuh waktu antara 45 menit sampai satu jam dan aku anggukkan kepala tanda setuju, ditambah memang aku butuh istirahat secepatnya, karena besok siang aku harus ke kantor untuk buat laporan kerja. Istriku tidur telentang dengan kaki agak sedikti terbuka di kasur lipat yang sudah aku gelar sebagai alas per-ngentotan kami. Aku langsung tindih dan masukkan kontolku..
.
“Sleeeph… Cleepot …Sleeephhh… Cleepot …..Sleephh… Cleepot……”
Bunyi yang keluar dari memiy Santi yang basah dan terdengar suara seperti kentut memiy nya ditambah dengan beradunya paha kami..

“Akkh..Akkh..Ayaaah.. Nikmat banget kontol Ayaaah… Ayo sayaanggghhh.. Aakkh.. Enak kontol Ayah…Akkkhh…Akkkhh..Akkkhhh….”Santi meracau tertahan.

Dan sambil aku sodok terus memiy Santi, aku bisikkan ke kupingnya “Apa..yang.. Nikmat Buunda…?? Apa… yaaang.. ennnakkkh Buuuundaa..???”

“Koo..ooon..toooll…..Ayyy..yaaahkkh..Ennnnaakkkh ..”
“Kooo..ooon..toooll…Ayyaahhkkh…Nikh..maaattth. ..”
“Terrrr..rruuuuusss…Yaaaaahhhkkhh..Akkkhuuu..maa auuuhhhggh…keeeeluuuaaaarrrhhhh….” Sambil meracau dan menjawab pertanyaanku… Santi orgasme yang kedua..

Aku langsung ubah posisi Woman On Top (WOT) tanpa memberikan waktu istirahat kepada Santi.. dan Santi langsung memutar-mutarkan.. dan memaju mundurkan pantatnya hampir bersamaan.. dengan desahan yang luar biasa liar..

Aku remas toketnya dan aku juga imbangi permainan pantat nya dengan menusuk-nusuk memiy nya yang bergerak membabi buta..
“Aaakkkhhhhhh…Aaaaayyyyyaaahhh…” lengkuhan panjang dan nikmat dia dapat kembali.. orgasme Santi ketiga.. dan rebahkan badannya ke dadaku.

Tapi aku tidak berhenti juga menusuk memiy Santi..
Bahkan makin kuat aku menusuk-nusuk memiy Santi.. Sebentar kemudian aku merasakan ada yang mau meledak di batang kontolku.. daaaannnn….
“Aaaaakhhhhh..Buuuuunnnnnddddhhhhaaaa…” melesat semua pejuh ku ke dalam rahim Santi, sampai lima kali tersemprot di dalamnya dan terus tersenggal-senggal semua badan dan kontolku menikmati orgasme yang hebat dan Santi juga menikmati permainan keras pagi itu.

Setelah kepuasan kami dapat, tanpa sadar kami tertidur pulas sekitar 15 menit-an dengan kontolku masih berada di dalam memiy Santi, dan kami terbangun pada saat kami mendengar bunyi kokok ayam tetangga, ternyata sudah jam 0555. Untungnya lagi, anak-anak belum terbangun dari tidur nyenyak dan mimpi indah mereka.

Istriku terburu bangun sambil menarik memiy dari kontolku dan hal itu membuat kontolku terbangun tuing tuing dengan cepatnya. Lalu kami merapikan ajang pertempuran dan aku melanjutkan kembali tidur di tempat tidur bersebelahan dengan anak-anak menggunakan sarung saktiku. Karena tanpa sarung itu, tidurku tidak akan nyenyak.

AYAH.. CAPE BANGET YA..
ANAK-ANAK SUDAH RAPI DAN AKU BAWA ANAK-ANAK KE RUMAH BIBI PENGASUH.
BIAR MEREKA GAK GANGGU TIDUR NYENYAK AYAH.
AKU BERANGKAT SENDIRI AJA KE KANTOR NAIK OJEK.
SUDAH TELAT JUGA.. KALAU HARUS BARENG AYAH…
BELUM MACETNYA..
OKE C U THIS EVENING AYAH..
KONTOL NYA AKU YANG NIKMAT DAN ENAK DIJAGAIN YAAA.. MUUACHH.
AYAH LEBIH HEBAT DARI BIASANYA PAGI INI…..

BUNDA

Secarik kertas aku dapati di samping tempat ku tidur di kasur yang empuk. Ternyata sudah jam 0900 pas, saat aku terbangun dari tidur nyenyakku. Terdengar suara orang mandi, pasti si Mey, kalau mandi lama. Dan kontol ku ikut bangun, karena aku ingat pagi tadi aku lihat memiy dan jembi Mey itu.

Aku bangun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Tepat saat Mey keluar dari kamar mandi, langsung saja aku kencing tanpa tutup pintu dan kembali ke ruang tamu di depan kamarku untuk minum air putih dan kopi yang telah dingin hasil racikan Santi sebelum dia berangkat kerja tadi.

Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi dan langsung mandi, sedang Mey sudah menutup pintu kamarnya dari tadi untuk siap-siap kerja. Oh iya.. Mey itu bidan di Rumah Sakit Ibu dan Anak terkenal di Jakarta.

Selesai mandi, aku keringkan badanku dan hanya melilitkan handuk untuk menutupi kontol ku, langsung menuju kamar untuk ambil celana dalam, sedangkan baju kerjaku ada di kamar Mey. Tapi Mey belum selesai juga dalam kamar.. “Hadduuh, lama banget nih adik ipar gue..” rutuk ku.

Akhirnya aku ketok kamar Mey untuk ambil pakaian kerjaku. Lemari pakaianku Santi dan aku memang ada di kamar Mey, karena tempat yang tidak memadai di kamar kami untuk menaruh lemari di dalam. Setelah Mey buka pintu, ternyata dia masih menggunakan handuk dan masih mengeringkan rambutnya yang panjang bergelombang.

“Lama banget sih Mey, mau bareng ke depan gak..?” aku tanya Mey.
“Iya Mas.. bareng.. “ jawab Mey spontan.
“Tapi bentaran.. aku libur kok.. aku cuma mau jalan ke Mal deket rumah” lanjutnya.

Tiba-tiba Mey tanya aku yang masih mengambil celana dan memilih baju yang cocok.
“Tadi pagi hot banget Mas..?”
“Sampai kedengeran ke sini” katanya lagi.

Kaget juga aku, dan spontan aku jawab “Biasalah.. nanti juga kamu akan begitu”

“Gak laaah.. aku sih santai kalee.. Gak mau kayak gitu ah.. malu..” jawab Mey.

Dan aku senyum-senyum sambil keluar kamarnya, tapi sebelum keluar kamar Mey bicara yang membuat aku agak kaget dan spontan berhenti.

“Mas.. kalau tidur ditutup sarungnya.. jangan dibuka kayak tadi.. kemana-mana tuh..!!” kata Mey.
Spontan aku kaget, dan tanya ke dia,”Masa sih Mey??”
“Yaah.. namanya juga tidur.. mana aku tahu..” lanjutku sekenanya.

“Untung gak ada orang tadi, makanya langsung aku tutup pakai sarung..” kata Mey.

Makin kaget aku.. “Gila lu ya.. Masa sih..??” sambil garuk-garuk kepala.

“Daah, santai aja.. lagian aku kan cuma nutup doang..” Kata Mey
“Iya.. nutup doang, tapi kan lihat.. Iya kan..?” tanyaku penasaran.

“Dikit Mas.. salah sendiri ngacung gak jelas.. mana keras banget lagi kayaknya..”

Otakku langsung ngeres dan aku taruh baju di kamarku, lalu aku balik ke kamar Mey sambil tanya
“Emang kamu lihat ya Mey..?”
“Iya lah.. lumayan.. cukuplah..” katanya.
“Halaaaah.. paling-paling juga kontol pacar mu gak segede aku” ledekku ke Mey.
“Enak aja.. lebih panjang dikit doong..” spontan dia jawab.
“Nah looh.. jadi…” sambil aku tunjuk dia.

Muka Mey langsung merah dan dia tutup mulutnya pakai tangan kanannya..
“Hahahaha.. nah bandel ya.. ??” kataku sekenanya.
“Gak kok Mas.. gak ngapa-ngapain.. cumaaa… dikit doang..” katanya.

Aku langsung memberanikan diri masuk ke kamarnya dan tutup sambil kunci kamar Mey. Dia sempat kaget karena aku juga langsung buka handuk yang melilit di pingganku.
“Mas.. mau ngapain..?” kaget dia sambil mundur dan terduduk di tempat tidurnya.
“Kamu curang.. kamu kan sudah lihat kontol ku, sekarang gantian.. aku lihat memiy kamu..!” kataku.

“Gak ah…!”
“Aku teriak nih..!” dia mengancam.

Aku gak kalah cerdik, langsung aja aku jawab
“Silahkan teriak.. toh kita berdua di kamar, kamu cuma pakai handuk.. sama dengan aku kan..??”
“lagi pula ini sudah tanggung, cuma minta dicium doang kontolnya aku..” menenangkan Mey.

“Bener ya Mas.. Cuma aku cium doang..” tanya dia.
“Aku baru sekali Mas.. sumpah deh.. itu aja sakit, tapi ada darah keluar” Mey mengakui perbuatannya dengan pacarnya.

“Ya sudah.. gak apa-apa.. aku gak akan adukan ke siapa-siapa..” jawabku menegaskan.

Lalu aku majukan kontolku ke muka Mey. Dia pegang dan cium-cium kontolku dan ditambah agak dijilat-jilat kecil oleh lidahnya. Semakin lama pastinya sentuhan, ciuman dan jilatan lidah Mey membuat kontolku semakin membesar dan tegak sempurna.

“Isep aja Mey..!” perintahku dengan lembut sambil mengelus rambut samping sebelah kupingnya.

Tanpa menunggu lama, Mey langsung masukkan kontolku ke mulutnya dan menghisap juga memaju mundurkan mulutnya. Tanpa sadar, handuknya terlepas dengan tidak sengaja dan terlihatlah toket besar adikku dengan puting yang masih kecil, ditambah masih segar agak kemerahan warnanya. Tangan kiriku tidak tinggal diam, langsuung aku pegang dan remas toket besar itu, yang aku tahu ternyata 36D, itupun karena dia yang bilang.

Remasan tanganku ke toketnya membuat Mey semakin terangsang dan makin dia cepat memaju mundurkan mulutnya sambil menghisap kontolku. Setelah beberapa lama, aku hentikan kegiatan blow job nya, yang menurutku sangat piawai. Lalu aku berdirikan dia dari tempat tidur tempat Mey duduk, dan aku cium perlahan pinggiran bibirnya dengan perlahan. Terus aku ciumi lehernya, kembali naik ke atas ke arah pinggir bibirnya dan aku cium bibirnya dengan perlahan pula.

Memang Mey sudah sangat termakan nafsu, saat aku cium bibirnya, dia malah membalas dengan pagutan yang penuh dengan birahi. Tangan kiriku masih memainkan toketnya, dan tangan kananku mulai bergerak mengarah ke punggungnya, lalu perlahan dan pasti mengarah ke bongkahan pantatnya yang bulat dan mengkal.. lalu perlahan mulai mengarah ke memiynya yang luar biasa basah oleh cairan intim Mey sendiri.

“Mhaaaaasss.. aku keppp…phheengg..nngeen…” ratapan nafsu birahi Mey mulai menjalar.
“Iya.. sayang.. kamu duduk ya dan tiduran.. Mas buat kamu enak dan menikmati surga..!” kataku

Mey duduk dan langsung tidur di tempat tidurnya, aku langsung menciumi toket nya yang besar dan mejilatinya dengan halus dan perlahan.. lalu putingnya aku cium dan aku pilin-pilin dengan hati-hati.. aku hisap dari pelan sampai aku gemes dan aku sedot penuh nafsu.. sehingga di beberapa bagian toketnya meninggalkan cupangan yang cukup banyak.

Aku sejajarkan tubuh Mey dengan tempat tidur dan aku naiki tubuhnya. Pelan… pelan.. sambil aku tatap wajah dan matanya.. lalu.. aku cium dan pagut bibirnya yang sedikit terbuka.. perlahan namun pasti, aku raba dan sentuh memiynya. Dan Mey melengkuh dengan gemetaran…

“Mhaaasssss… oooohhhkk.. akhuuuu… maaa..uuuu..phippp..piiisss..” Mey agak meregang.

“Pipis aja Mey.. gak apa-apa..” jawabku.

Pelan-pelan aku tindih dan arahkan kontolku ke lubang memiy nya. Dan perlahan aku tempelkan ujung kontolku ke depan mulut memiynya.. Mey pasrah.. dia hanya bilang

“masukin Mas.. aku mau.. cepetan…”

Tanpa dikomando ulang aku langsung tusuk perlahan dan pelan sekali, karena aku yakin pasti sakit jika langsung aku masukkan kontol ku ke memiynya.
Perlahan.. kepala kontolku bisa masuk sempurna.. lalu setengah kontolku.. sambil aku maju mundurkan.. pelan-pelan.. dan Mey hanya mendesah dan mengerang sakit.. tapi enak…
Tanpa menunggu waktu yang lama… akhirnya kontolku bisa masuk dan aku diamkan sebentar di dalam memiy Mey.

Lalu aku tarik pelaaaan.. tapi Mey terkaget-kaget.. sambil meliukkan badannya..
“Mhaaasss.. ennnaaakk..bangggeeeettt.. oooohhhkk…”

Lalu aku masukkan perlahan lagi.. terus..terus..terus seperti itu dan akhirnyakurang dari 5 menit Mey mengalami orgasme yang luar biasa hebat.. sambil memeluk badanku…

“Aaaakkkkhhhhhhhhhh….Mmmmhhaaaaaasss….ooooohhh k..”
Dan aku tetap merasakan cairan keluar dari lubang memiy nya dan mendiamkan kontolku di dalam memiynya..
“Enak banget mas..” hanya itu yang dia bilang, setelah hantaman orgasme Mey mereda.

“Kita lanjut ya..” tanyaku dengan kontol masih di dalam memiy Mey.

Tetap dengan perlahan aku sodokkan kontolku ke dalam memiy Mey. Tetapi lama-kelamaan memang aku percepat sodokan-sodokanku ke dalam memiynya. Memang, mungkin baru sekali memiynya disodok oleh pacarnya. Karena semppitnya memiy Mey sungguh luar biasa berasa dan aku benar-benar sudah merasakan akan ada ledakan yang maha dahsyat dari kontolku.

Mey merasakan hal yang sama dan kami saling mengimbangi permainan dengan menggoyangkan pantat kami secara beraturan. Mey menghantamkan memiynya dari bawah, sedangkan aku makin mempercepat sodokanku. Yang pada akhirnya….

“Aaakkhh..oohhhh..Mmmhaaassss…,Mhhheeeyy..kheeee luuaarrrhhkkk..”Mey meregang tertahan
“Mmhheeyyy.. akhhuuuu jhuuuggg..ghaaa..” sambil membenamkan seluruh kontolku ke dalam memiy Mey yang sempit dan tersemprotlah beberapa kali pejuhku ke dalam memiy Mey dan merasakan mentok sampai ke rahimnya.

Kami terdiam dan menghayati gelombang perasaaan nikmat dan puas.. sambil berpelukan..
Itu semua kami lakukan hanya dengan gaya missionary.. standard style of fucking.

Dan sejak saat itu, pasti brotha dan sistha tahu.. kami selalu lakukan berulang-ulang saat ada kesempatan. Dan sejak awal bulan.. Mey dan aku sudah melakukan 15 kali mengentot nikmat di setiap kesempatan. Dan kebetulan memang adik iparku, Mey, sempat cuti 5 hari dan baru masuk hari ini


Nikmatnya tubuh Ulfa

Malam itu aku menginap di rumah Mbak Kristin, karena saking ngantuknya aku tertidur di atas sofa. Sekitar jam 4 pagi aku terbangun, aku masih dalam keadaan telanjang bulat tapi tertutup selimut, tapi Mbak Kristin sudah tidak ada di sofa ah mungkin, dia pindah ke kamarnya dan tidur bareng anaknya. Aku berdiri dan mencari celanaku karena suasana gelap aku menghidupkan lampu.

Saat lampu menyala ada suara seorang wanita menjerit, ternyata seorang perempuan masih remaja umurnya sekitar 15 tahun, dia kaget mungkin karena melihatku telanjang bulat, aku menutup mulutku dengan jariku, maksudnya menyuruhnya diam. Kudekati dia, kujelaskan bahwa aku temannya Mbak Kristin, semalam aku menginap disini, diapun memahami dan memberitahuku bahwa dia spontan kaget karena belum pernah melihat pria dewasa telanjang, katanya dia adalah pembantunya Mbak Kristin, namanya Ulfa.

Ulfa tidak sekolah semenjak lulus SMP, dia ikut Mbak Kristin baru sekitar 3 bulan. Aku Tanya dia kenapa kaget melihat aku telanjang memangnya belum pernah punya pacar. Dia mengaku sudah punya pacar tapi belum pernah melihatnya telanjang. Kutanya lagi, terus kalau pacaran ngapain, jawabnya jujur katanya pernah ciuman dan diraba-raba susunya oleh pacarnya, tapi belum pernah sampai telanjang bulat.

Ah berarti masih perawan? Dia menganggukkan kepala dengan malu-malu. Kuperhatikan matanya sedikit melirik ke arah kontolku tapi masih malu-malu. Aku pura-pura tidak tahu dan cuek saja serta sengaja tidak segera mengenakan celanaku. Aku masih telanjang bulat dan memintanya untuk mengambilkan celanaku, aku duduk di ruang makan yang hanya berbatas sebuah bifet dari ruang tamu.

Dia membawakan pakaianku dan perlahan aku ambil celana dalamku aku sengaja memakainya di depan Ulfa. Dia melewatiku menuju ke dapur sambil melirik ke arah kontolku lagi. Dia tidak melihat di depannya ada baju dan celanaku, dia tersandung gesperku dan tertanting ingin jatuh, aku langsung menangkap tangannya, dan menarik tubuhnya hingga aku sendiri hampir saja ikut jatuh.

Dengan kondisi itu tak sengaja kami sedikit berpelukan, wajahnya dan wajahku dekat sekali, aku ingin menciumnya tapi masih takut. Kulepaskan pelan tubuhnya dia menyempurnakan berdirinya aku juga, tapi tak sengaja tangannya menyentuh kontolku, dia minta maaf, aku tersenyum dan malah menyuruhnya menyentuh lagi, dia tersipu malu, aku mengambil tangannya dan kuarahkan ke kontolku, ayolah Ulfa, ga papa, ga usah malu, katanya kamu belum pernah lihat kontol kan? Sekarang kamu boleh pegang sepuasnya, dia malu dan menutup matanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan malu memegang kontolku.

Akupun merasa nikmat disentuh oleh tangan seorang ABG, kuarahkan tangannya maju mundur mengurut kontolku, kuajari dia cara mengocok kontolku. Dia kemudian terus mengurut-urut kontolku perlahan tapi malu untuk melihatnya, tapi biarlah yang penting aku merasakan nikmatnya diurut sama tangan yang masih halus, meski pembantu tapi dia lumayan cantik, mungkin kalau dia anak orang kaya dan terawat rajin ke salon, wajahnya tak kalah cantik dibanding asmirandah. Kulitnya kuning langsat, bersih, dadanya besar untuk ukuran anak remaja, pantatnya juga seksi dan montok.

Kulihat dia sepertinya menikmati untuk terus mengurut-urut penisku, sekarang dia mulai tidak malu melihat kontolku, tangan kiri yang tadinya buat menutup matanya, kini kutarik ke leherku. Sehingga kamipun semakin berdekatan, kutarik pinggulnya kudekatkan tubuhnya ke tubuhku, dadanya menyentuh dadaku, jantungnya berdebar, dia sepertinya agak takut. Kubisikkan ke telinganya, ke kamarmu yuk, ga enak kalau disini entar Mbak Kristin bangun, entar aku ajarin yang lebih enak.

Tanpa banyak protes, dia berjalan menuju kamarnya aku mengikutinya dari belakang, kuperhatikan bokongnya yang begitu sintal, pahanya yang begitu mulus nampak terlihat karena dia mengenakan baju tidur terusan dan panjang roknya di atas lutut. Warnanya juga transaparan dan tipis sehingga tali BHnya dan juga celana dalamnya samar-samar terlihat. Sesampai di kamarnya kututup pintu dan aku kunci dari dalam.

Aku menyandarkan tubuhku di depan pintu kutarik tubuhnya dan kembali kuambil tangannya untuk terus mengocok-ngocok kontolku, kini tubuhnya bersandar di tubuhku, sambil terus mengocok kontolku, tapi gerakan mengocoknya masih sangat pelan dan lembut, mungkin karena baru pertama tapi aku malah menikmatinya.

Tolong diemut dong kontolku, dia menggelengkan kepala, kupegang kepalanya dan kududukkan di depanku, kuarahkan kontolku ke mulutnya, kutekan pipinya agar mulutnya terbuka dan perlahan kumasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dia masih terlihat risih dan malu, tapi beberapa saat kontolku sempat masuk juga dalam mulutnya meski sebentar, tapi aku gak mau memaksa karena ini pengalaman pertama baginya. Kutarik tubuhnya dan kupeluk erat, kemudian perlahan kucium bibirnya, dia cantik juga meski pembantu aku tidak risih mencium bibirnya, karena menurutku Ulfa cantik juga dan aku beruntung seandainya Ulfa mau aku entot, soalnya dia masih perawan.

Kupeluk tubuhnya erat, dan kuciumi bibirnya sementara tanganku mulai aktif menggerayang ke pantatnya, dari belakang kuangkat dasternya, sehingga aku menemukan lipatan celana dalamnya, kuselipkan tanganku dan kuremas-remas pantatnya, tangannya menahan tanganku, tapi aku cuek saja sambil terus meremas-remas pantatnya, perlahan kuturunkan celana dalamnya sambil terus kuremas dan kutarik pantatnya ke depan, sehingga kontolku sekarang bersentuhan dengan memeknya, tangannya berhenti mengocok kontolku kemudian memegang pinggulku, kutarik tangannya ke atas leherku agar tidak mengganggu kontolku yang sedang menyentuhnya memeknya yang mulai terasa hangat,

kuangkat tubuhnya dengan sedikit kugendong, sehingga kontolku tepat berada di depan lubang memeknya, kugesek-gesekkan kontolku ke memeknya, kudorong dia hingga sebelah tempat tidur, dan kurebahkan dia di atas kasur sekalian aku menindihnya, kugesek-gesekkan semakin cepat kontolku, dia terpejam, kunaikkan dasternya ke atas hingga terbuka kedua belah dadanya, kulepas BHnya, dan kulum-kulum putingnya, Ulfa diam dan terus memejamkan matanya.

Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, takut terlalu lama pemanasan malah nanti Ulfa sadar dan berhenti melayani nafsu bejatku, aku langsung membuka pahanya lebar-lebar, kulihat vaginanya yang mungil terlihat hanya seperti daging dengan garis tipis di bagian tengah, tidak ada rambut sama sekali, itilnya juga belum nampak keluar, kuarahkan kontolku ke pintu memeknya, kugesek-gesek dengan bantuan tanganku sambil mencari lubang senggamanya, setelah ketemu kudorong kontolku masuk ke dalam, tapi susah kutarik lagi dan kudorong pelan lagi, kini kepala kontolku sudah mulai masuk ke memek Ulfa, kukeluarkan pelan dan coba kudorong lebih ke dalam lagi,

Ulfa memelukku erat dan minta kepadaku untuk pelan-pelan, sakit katanya. Kukeluarkan lagi perlahan dan coba kumasukkan lagi, tapi memang memeknya kecil dan sempit, tapi kontolku sudah merasakan sedikit kehangatan, kugoyangkan pantatkan naik kemudian turun sehingga kontolku sudah agak lebih ke dalam lagi, sepertinya kontolku menyentuh sesuatu, mungkin ini selaput dara, aku semakin hati-hati menggoyangkan pantatku, kasihan kalau Ulfa kesakitan, kemudian aku mengeluarkan kontolku.

Aku ambil bantal di samping Ulfa kuletakkan di bawah pantat Ulfa, dengan posisi seperti ini perut dan memek Ulfa terangkat naik, ini akan membantuku memasukkan penisku jauh lebih dalam di dinding memek Ulfa, kembali kuarahkan batang penisku ke memek Ulfa, kumasukkan setengah dan menyentuh lagi selaput dara yang tadi belum berhasil kutembus, kudorong lebih dalam dengan hati-hati, tubuh Ulfa menegang kedua tangannya menggenggam erat ujung bantal, matanya terpejam seperti menahan sakit.

Ku beri tenaga sedikit dibantu dorongan pantatku, dan slep… aku berhasil menembus selaput dara Ulfa, dan kontolku merasakan sensasi dari kehangatan yang luar biasa, aku berhasil menembus benteng pertahanan dari dinding vagina Ulfa. ah… benar-benar nikmat, aku kemudian mengocok-ngocok kontolku keluar masuk vagina Ulfa, dinding vagina yang begitu sempit membuat kontolku mendapatkan kenikmatan yang begitu hebat, kulihat Ulfa mengeluarkan air mata, mungkin karena tadi merasakan sakit, tapi sekarang dia mulai ikut sedikit menggoyangkan pantatnya, oh dia sudah menikmati permainanku. Tiba-tiba ohhhh….

Ternyata memek perawan ini membuat benteng pertahananku tidak terbendung, hanya beberapa menit berada di dalam memek Ulfa spermaku sudah mau keluar, secepatnya kutarik kontolku dan kugesek-gesekkan di paha Ulfa yang mulus, kugesek-gesek terus dan ohhhh spermaku muncrat juga….

Croootttt….. ohhhhh nikmat sekali, aku puas sekali malam ini, aku telah berhasil merenggut keperawanan Ulfa, memek nya nikmat sekali, ahhhh terima kasih Ulfa. aku kembali mengenakan pakaianku, kulihat Ulfa masih terdiam terkapar lemas tak berdaya, perlahan aku keluar dari kamar, dan melanjutkan tidur lagi di atas sofa, takut mbak Kristin besok pagi terbangun, kalau aku masih di kamar Ulfa, wah apa kata dunia? Kutarik selimutku dan kembali tidur, tapi aku membayangkan betapa nikmatnya memek perawan, oh terima kasih Ulfa.


dokter ku sayang

Sebut saja nama saya Tri. Ini cerita berdasarkan fakta beberapa minggu yang lalu.

Saya bekerja di sebuah klinik di ibu kota. Sudah bekerja kurang lebih selama 3 tahun. Di klinik terdapat dokter yang sejak awal saya bekerja memang membuat saya terpesona dengan dokter tsb. Sebut saja dokter Nuri. Dokter Nuri mempunyai wajah yang tidak terlalu cantik tetapi manis,berkulit putih dan ukuran bra yang cukup yakni 34B. Saya tahu ukuran branya ketika saya ‘berhubungan’ dengannya.

Hari Selasa adalah jadwal dokter Nuri jaga. Hari itu merupakan hari pasien jarang datang ketika paginya. Ketika saya sudah sampai diklinik,dokter Nuri pun sudah di depan pintu klinik. Karena kunci saya yang pegang saya buru-buru menghampirinya. ‘Pagi dok,maaf nih telat’ sapa saya seperti biasa. ‘Pagi juga mas tri,tumben siangan biasanya dateng lebih awal’ katanya. ‘Iya dok soalnya naek kendaraan umum jadi lebih lama’ lanjut saya sambil membuka pintu klinik.

Setelah saya di dalam klinik selama sejam saya merasa ada yang janggal. Perawat diklinik tidak ada satupun yg masuk (Dokter Nuri adalah seorang dokter umum sehingga tidak butuh perawat) Saya pun bertanya kpd dokter Nuri. ‘Perawatnya kemana dok?’ tanya saya. ‘Gak masuk mas,pak ‘ katanya.

Dan pikiran saya pun sudah ke mana2,’hanya berdua dgn dokter Nuri saja berarti’kataku dalam hati. Tanpa sadar juniorku pun membuat celanaku sesak. Untung hari ini tidak ada pasien berobat.

Setelah beres beres saya pun ngobrol ngalur ngidul dgn dokter Nuri. Hingga akhirnya obrolan mulai menyerempet ke arah seks. ‘Mas tri kenapa ya aku selalu kurang bergairah kalo main sama suamiku?’tanyanya. ‘mmm… Mungkin dokter butuh dari yg lain kali,saya bisa kok bikin dokter bergairah hehehe’ kataku sambil bercanda. ‘Ah masa???? Kalau begitu coba buktikan mas’ kata dokter Nuri. Akupun kaget ternyata dia tidak marah aku bicara begitu,malah omongan ku yang hanya bercanda di anggap serius olehnya.

Dan tanpa pikir panjang akupun mencium bibirnya yg tipis itu. ‘Tutup dulu kliniknya aja mas’ kata dokter nuri. Aku bergegas mengunci pintu klinik dan mengubah tanda menjadi ‘tutup’. Aku langsung saja menyambar mulutnya dan kami pun berciuman. ‘Ahhh mas tri kamu pintar ciumannya’ katanya disela ciuman kami. Tangan saya pun mulai bergerilya memainkan payudaranya dari luar bajunya. ‘Uuhhh terus mas,mainin tetekku sepuasnya mas’ lenguhnya. Aku mulai membuka baju dan celananya termasuk cd dan branya. Aku terus memainkan payudaranya dan tanganku satunya mulai bermain dgn vaginanya. ‘ahhh kocok terusss masss tempikku ‘lenguhnya. Aku pikir dia adalah orang yang kalem ternyata dia orang yang cukup agresif.

Tangan dokter Nuri pun mulai memainkan penisku dari luar celanaku. ‘buka dong mas masa aku doang yg telanjang’rengeknya. ‘bukain dong dok hehehe’timpalku. ‘nuri aja buat mas gausah manggil dokter segala’katanya sembari melucuti semua pakaianku. Saat dia membuka cd ku dia pun kaget karena penisku yg menyembul keluar. ‘besarnya penis mas,punya suamiku kalah sama punya mas’katanya. Padahal penisku ukuran normal dgn panjang 15cm dan diameter 3cm. ‘kalo gitu isep dong sayang’kataku.

Nuri pun melahap penisku dengan rakus. ‘ohhh…ergh enak banget isepannya sayang’lenguhku. Nuri pun tak menjawab dia terus saja mengulum penisku. Tapi tak lama kemudian dia melepas kulumannya. ‘lanjutin di ruangan aku aja yuk sayang’ katanya. Aku pun berjalan sambil meremas payudaranya yang sexy itu. Di dalam ruangan permainan kami makin panas. Dia meminta posisi 69. ‘ayo iseppp terus penisku ahhh..ennakk banget sayang isepan kamu’ racauku.

Nuri juga tak kalah meracau karena ku jilati dan ku gigit kecil klitorisnya. ‘ahahah..ya disitu sayanggg,ah enak banget’. Dan tidak lama kemudian nuri mendapat orgasme pertamanya. ‘aaaarrgghh,aku keluar sayang. Ayo sekarang kamu masukin penis kamu dong sayang’ katanya.

Dengan perlahan ku masukan penisku ke vaginanya. ‘peret banget tempikmu sayang’kataku. Padahal dia sudah punya anak tetapi masih terasa sempit vaginanya. ‘ahhh’ lenguh kami berdua saat penisku sudah masuk ke vaginanya. Langsung ku genjot vaginanya. ‘ah..ah..ah fuck me harderrr. I’m your bitch honey uh..uh..argghh’ceracaunya. Tak lama kemudian nuri mendapat orgasmenya yg kedua. ‘ahahah cepetin sayang,fuck me faster.. Aku mau sampe sayanggggg.. Ahhhhhhh’ lenguhnya.

Penisku pun terasa seperti dipijit oleh vaginanya. Aku langsung membalikan badannya,dengan gaya doggy style aku mulai menggenjot lagi vaginanya. ‘ahahah..ohhh yesss honey fucking me,tempik aku milik kamu sayang’ ceracaunya. ‘uhh..yeahhh enakan mana sayang penis aku sama suami kamu?’kataku. ‘oh..oh enak..oh..an punya kamu sayangggg’ dia membalas. ‘ah..ah sayang akkku mauu keluarrr lagiii,ahhh’ nuri pun orgasme yg ketiga kalinya. Tak lama kemudian akupun juga merasa ingin keluar. ‘sayaaang akku jg mauu keluarrr’ kataku. ‘keluarin di mulutt aku aja sayaaang’.

Aku pun mempercepat gerakan ku dan ‘ahhhh’ aku keluarkan maniku di mulutnya dan dia habiskan yg tersisa di penisku. ‘terima kasih sayang,tempik kamu enak bgt’ kataku. ‘penis kamu jg enak bgt sayang,beda banget kalo main sama suamiku’ katanya. Dan kami sering mengulanginya diluar dan kadang diklinik ketika hanya kami berdua.


Terapi nikmat

Panggil saja nama saya Ivan, seorang wanita. Umur kepala 2. Tinggal di Jakarta dan masih kuliah di salah satu PTS. Dari penampakan luar saya termasuk orang yang biasa saja seperti orang lain. Wajah tidak cantik, juga tidak jelek. Body proporsional. Satu kekurangan saya yang saya akui, yaitu sangat takut untuk mengenal cowok, dan sampai membayangkan untuk menikah. Apalagi untuk mengenal urusan seks. Ini disebabkan pengalaman kecilku dulu yang akibatnya sampai sekarang masih membekas.

Sebagai latar belakang, ada baiknya saya menceritakan sedikit pengalaman itu. Pada waktu masih balita, saya masih tidur satu kamar dengan ke dua orangtua saya, meskipun tidak satu ranjang. Pada suatu malam, selagi tidur saya terbangun mendengar rintihan Mama diselingi oleh bentakan Papa. Mama tampaknya seperti sedang disiksa oleh Papa. Mama ditindih dan dipukul oleh Papa, sehingga Mama nampak sangat kesakitan dan menderita. Semua kejadian itu kuperhatikan tanpa kedua orangtuaku mengetahuinya. Memang tidak terlalu jelas apa yang Papa perbuat terhadap Mama, karena ruangannya remang-remang. Kejadian itu sering terulang lagi, dan aku tidak pernah berani menanyakan kepada Mama atau Papa. Maklum kedua orangtuaku termasuk agak galak, jadi saya juga agak kurang berkomunikasi dengan mereka.

Setelah menginjak remaja, baru saya mengerti itu adalah hubungan seks. Tapi meskipun itu sudah saya sadari, tapi bawah sadar saya tidak dapat melupakan rintihan dan erangan Mama serta tindakan Papa yang kasar menindih dan menekan-nekan (memompa) Mama. Mama pasti kesakitan ditindih Papa yang tinggi besar itu. Seks tampak sangat menyakitkan dan membuat perempuan menderita. Saya pun tidak bisa mengerti kalau teman-temanku bercerita tentang kencan dengan cowok mereka. Di mana nikmatnya berciuman, diobok-obok, petting, masturbasi dan lain sebagainya. Bagiku seks adalah penderitaan titik. Kalau ada cowok yang mau melakukan pendekatan, selalu saya menghindar secara halus dengan memberi alasan, bahwa saya ingin berkarier dulu baru pacaran dan menikah.

Sikap ini membuat banyak temanku mencapku sebagai kolot dan kampungan. Kadang memang itu membuatku menjadi sedih. Pernah saya mencoba juga untuk masturbasi dengan mempermainkan liang kemaluan saya sendiri. Dengan berbaring di ranjang hanya mengenakan daster, tanpa bra dan CD, saya mengangkangkan kedua paha. Sambil membayangkan seorang cowok, saya mulai mencoba menggosok liang kemaluan dan klitorisku.

Saya membayangkan bahwa yang melakukan itu seorang cowok yang akan menjadi suamiku. Kuremas-remas payudaraku dengan perlahan. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Tetap saja aku tidak bisa terangsang. Kalau bagi orang lain, dengan memainkan klitoris bisa menyebabkan banjir, bagiku tetap saja kering. Akhirnya kusadari inilah yang dinamakan frigid.

Keadaan agak mulai berubah setelah saya mulai kuliah. Di kampus saya mempunyai seorang teman akrab. Sebut saja namanya Ria. Ria seorang yang supel dan pandai bergaul. Wajah dan bodinya tidak mengecewakan. Kulit putih. Keluwesannya dalam bergaul, terkadang bisa membuatku geleng-geleng kepala. Teman cowok dan ceweknya sama banyaknya. Awalnya aku berpikir, dengan kesupelannya bergaul dan melihat cara pandangnya yang bebas, pasti Ria ini sudah melepas keperawanannya. Tapi ternyata aku salah. Menurut pengakuannya dia masih perawan. Entahlah, yang tahu pasti hanyalah dia sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu, hubunganku dengan Ria semakin akrab dan kami dapat saling curhat. Setelah Ria mengetahui aku frigid, dia berusaha juga untuk mencari jalan keluarnya. Dia menanyakan selain melihat hubungan seks yang dilakukan kedua orangtuaku, apa saya juga pernah menonton BF atau lihat gambat porno? Pernah jawabku, tapi tetap tidak bisa membuatku birahi. Bagaimana kalau ke psikolog atau psikiater, usulnya. Ah.. pasti hanya buang-buang waktu saja jawabku. Di sana pasti kita disuruh curhat, dan akhirnya kita dikuliahin ini itu, hasilnya belum tentu. Malas ah.. .

Pernah sekali waktu, Ria mengujiku. Kalau saya tidak tertarik dengan cowok jangan-jangan Ivan ini lesbi. Maka tanpa ba-bi-bu lagi, suatu malam di kamarku, Ria tiba-tiba menciumku dan meraba-raba payudaraku. Dengan kaget kudorong tubuhnya.

“Apa-apaan ini Ria?” teriakku.

Sambil tertawa dia menjawab,

“Enggak apa-apa cuma ingin tahu aja siapa tahu kamu ini lesbian tanpa kamu sadari sendiri”, katanya ringan.
Hasilnya ternyata aku pun bukan lesbi. Betul-betul total frigid 100%. Bayang-bayang ketakutan erangan dan rintihan Mama memang menghantuiku, biarpun sudah mendapat penjelasan itu bukan kesakitan tapi erangan kenikmatan.

Suatu hari Ria menelponku,
“Kamu mau diterapi enggak?”
“Terapi apaan?” tanyaku.
“Ituu.. terapi frigid kamu..”

“Konsultasi ke psikolog, maksud kamu.. Kan dari dulu aku sudah bilang, hanya buang waktu dan biaya aja, hasilnya belum tentu.”
“Aku baru dapat informasi dari temanku, ada orang yang mungkin bisa ngebantu kamu. Katanya sih manjur juga. Sudah banyak orang yang ditolongnya. Yang jelas orangnya dapat dipercaya, terapinya alami saja tergantung keluhan, tapi masalahnya dia seorang cowok. Yaa.. umur kepala 4 deh kira-kira. kamu coba dehh, orang kan harus usaha kalau mau sembuh.”

“Paranormal yaa?” tanyaku ragu.

“Bukan sih, tapi semacam sexolog gitu, tapi bukan dokter. Udah nih kamu sekarang ambil pena dan kertas. Catat nih emailnya. kamu enggak usah ketemu muka dulu, konsul aja dulu jarak jauh.”

Konsul jarak jauh, apa susahnya? kalau tidak berhasil, juga tidak perlu terlalu disesali, pikirku.

Kontak pertama, aku mengenalkan diriku dan mengetahui emailnya dari orang yang pernah dibantunya sambil basa basi sedikit. Kuceritakan kalau aku frigid dan mungkin bisa membantu saya. Sama seperti psikolog, maka Erwin (sexolog) memintaku untuk bercerita mengenai diriku sedetail mungkin. Dari beberapa kali konsul lewat email, akhirnya Erwin menyimpulkan bahwa saya harus diterapi untuk menemukan titik-titik rangsang serta memperpeka saraf seks yang ada. Tentu saja terapi ini tidak bisa lewat email. Aku pun lantas menceritakan ini pada Ria.

“Eh.. Ria.. aku mau diterapi, dicari titik rangsangku oleh erwin. Aku takut nanti, malah entar diperkosa.”

“Udah deh.. kamu janjian aja sama dia kapan, entar aku temanin. kamu itu mau sembuh enggak sih, lagian temanku udah bilang kalau orangnya sangat bisa dipercaya. Kalau ada apa-apa sama kamu, entar kita minta tanggung jawab aja sama temanku. Lagian masak sih dia mau menjerumuskan kamu..”

Setelah berpikir pergi pulang, aku pun memutuskan untuk menjalankan terapi itu, apapun resikonya.

Kami pun lantas bertemu di suatu hotel di Jakarta Barat tanpa ditemani oleh Ria, karena terkadang aku malu, karena dia sudah membantuku terlalu banyak. Masa sekarang aku minta ditemani lagi. Pada pertemuan pertama itu, kesanku adalah, Erwin orangnya cukup ganteng, gentle dan tidak terlalu banyak omong. Hanya seperlunya saja tapi mengena. Rambutnya sedikit agak memutih dan dugaanku dia baru berumur dengan kepala 3. Entahlah aku tak berani menanyakan secara langsung.

Sesampai di kamar, Erwin menanyakan apa aku tidak lupa membawa baby oil atau hand body serta handuk. “Komplit”, jawabku agak sedikit gemetar. Ini adalah saat pertamaku berdua sekamar dengan cowok. Terbayang kembali traumaku sewaktu masih kecil. Erwin yang tahu kalau aku sedikit nerves, mencoba mencairkan suasana dengan menyuruhku mandi dulu dengan air hangat. Memang setelah mandi, aku merasa segar dan lebih percaya diri.

“Sudah segar nih kelihatannya”, katanya sambil tersenyum.

“Iya.. lumayan deh”, jawabku.

“Sudah bisa dimulai nih terapinya?” tanya si Erwin.

“Oke..”

“Ivan boleh tetap memakai baju lengkap, boleh juga melepas sebagian atau boleh juga melepas semua dan nanti ditutup handuk. Ivan pilih saja yang menurut Ivan yang paling bisa membuat rileks. Sekali lagi rilek, santai dan tidak tegang. Itu key-word yang utama”, Erwin menjelaskan itu dengan tenang sekali, layaknya seorang terapist tulen yang sudah profesional.

“Begini aja deh”, jawabku sambil memandang tubuhku sendiri yang dibalut dengan T-shirt dan celana panjang berbahan tipis.

Terus terang aku tak sanggup melepaskan sebagian dari pakaianku di hadapan orang yang baru saja ketemu muka. Kalau ada apa-apa aku bisa langsung kabur, pikirku.

“Ya.. sekarang Ivan berbaring telungkup di ranjang. Kita mulai saja.”

Dengan tubuh yang tertelungkup di ranjang, Erwin mulai memijat kepala saya dengan lembut. Mungkin sekitar 5 menit dan itu cukup membuatku rileks. Erwin yang tahu kalau aku sudah tidak tegang lagi, mulai menurunkan tangannya ke leherku. Tangannya mulai membelai dengan halus dan lembut diselingi sesekali dengan pijatan. Inilah pertama kulitku disentuh dan dibelai oleh seorang cowok. Aku merasa enak dengan sentuhannya.

“Boleh aku di atas kamu?” tiba tiba Erwin bertanya.

“Maksudnya..?” tanyaku curiga.

“Ini.. aku mau mulai dari daerah punggung, jadi lebih nyaman kalau aku ada di atas kamu”, jawabnya.

“silakan..”

Dengan menempatkan dengkulnya di kiri kanan pinggulku, Erwin mulai membelai pundakku, diusapnya dengan perlahan.

“Ivan, kalau pas dibelai dan disentuh kamu merasa enak, kamu harus katakan itu. Tidak usah malu. Terapi kali ini memang untuk mencari titik rangsang kamu. Kamu tidak usah malu mengekspresikan kenikmatan itu. Kamu boleh mengerang, boleh merintih, boleh teriak, boleh menggelinjang. Tidak ada yang melarang. Malah itu harus!”

Erwin terus membelai dan mengelus dan terkadang memijat dengan lembut seluruh punggungku yang masih dibalut T-shirt. Tangannya bekerja dan mulutnya memberikan sugesti padaku, seolah-olah apa yang terjadi pada mamaku itu bukanlah suatu penderitaan, tapi kenikmatan. Ketika tangannya memijat lembut sambil sedikit memutar kedua payudaraku dari samping, aku menggelinjang keenakan biarpun masih dihalangi oleh T-shirt dan bra-ku. Sepertinya ada sedikit kejutan listrik. Yang membuatku tidak mengerti adalah, selangkangannya tidak pernah menyentuh pinggulku. Meskipun kesempatan itu sangat besar. Nampaknya Erwin memang tidak mau mengambil kesempatan itu untuk kesenangan pribadinya. Betul-betul seorang sexolog dan seorang terapist tulen pikirku dalam hati.

Dengan memundurkan pinggulnya ke betisku, Erwin mulai dengan pijatan dan belaiannya pada pinggulku. Dengan gerakan memutar, pijatan pada pinggulku ini lebih menimbulkan rasa enak lagi. Di titik inilah aku mulai merasakan badanku sedikit hangat, dan ada sedikit rasa gatal di kemaluanku. Apa ini yang disebut orang birahi? Sekarang kedua kakiku agak mengangkang karena kedua dengkul Erwin ada di antara kakiku. Gerakan jarinya sekarang agak lebih bertenaga. Mungkin karena pinggul terdiri dari banyak daging, maka harus lebih bertenaga, baru terasa. Apalagi pada saat kedua tangannya memijat secara memutar itu disusul dengan kedua ibu jarinya yang sedikit menekan anus. “Enak Win”, desisku tanpa sadar.

Belaian dan pijatan pada pahaku pun menimbulkan rasa enak. Sekali-sekali tangannya menyentuh kemaluanku. Ini membuatku gila dan setiap kali tangannya merogoh ke bawah ke arah kemaluanku, spontan aku mengangkat pinggulku dan kesempatan itu semakin dimanfaatkan Erwin untuk meremas dan mengobok-obok. Yaa.. aku mulai merasakan nikmatnya alat vitalku disentuh. Pada sesi ini aku banyak merintih dan mengerang serta berulang kali mengatakan “Enak Win, enaakk..”

Kalau dilihat, rona mukaku mungkin berubah merah. Ada rasa malu menyergap tatkala tubuhku disentuh laki-laki yang relatif baru kukenal. Apalagi kemaluanku tak luput dari sentuhan, biarpun masih ada pelapisnya. Entah berapa lama dia melakukannya, aku betul-betul serasa sudah melayang tanpa sadar berada di mana. Dari situ pijatannya kembali turun ke arah betis dan telapak kaki. Tetapi dari betis ke bawah tidak menimbulkan sensasi apapun padaku.

Setelah selesai sampai pada telapak kaki, Erwin menyuruhku membalik badan dan mengatakan, untuk sesi pertama ini sudah selesai. Dengan nada yang serius, Erwin menyuruhku ke kamar mandi untuk melihat, apakah di sekitar kemaluanku keluar cairan atau agak lembab. Pada sesi pertama terapi ini, kami diskusikan bersama. Dimana letak titik nikmat dari tubuhku. Dan ketika kukatakan, bahwa memang kemaluanku biarpun tidak banjir, memang agak sedikit lembab. Erwin memberi kesimpulan, ada harapan besar bagi aku untuk sembuh dari frigid-ku.

Aku diberi kebebasan apa akan melanjutkan terapi sesi kedua atau tidak.

“Sekarang sudah dulu yaa.. Van. Kamu renungkan dalam 1 minggu ini, apa ada kemajuan atau tidak. Mau dilanjutkan dengan sesi kedua atau tidak. Kalau Ivan mau melanjutkan pada sesi kedua, nanti bisa email Erwin dulu. Sesi kedua nanti, kita akan tingkatkan intensitas rangsangan itu. Kita coba buang trauma yang masih melekat di otakmu.”

Sejak menjalani terapi itu, aku masih suka membayangkan pijatan dan belaian Erwin. Aku sudah bisa menikmati belaian tangan lelaki. Erwin memang dapat dipercaya, karena selama berdua di kamar, hanya tangan dan dengkulnya saja yang pernah menyentuh tubuhku. Itupun masih dengan dilapisi pakaian.


Arisan Para Suami

“Apa yang akan aku lakukan di sini?” pikirku ketika tiba di depan pintu gerbang villa itu. Villa tersebut terletak di sebuah bukit terpencil di tengah kerimbunan hutan pinus. Untuk sampai di sana kita harus melalui sebuah jalan kecil yang merupakan jalan pribadi yang menghubungi villa tersebut dengan jalan utama. Di ujung jalan tersebut kita akan menjumpai sebuah pintu gerbang yang kokoh terbuat dari besi memagari sebuah bangunan artistik dikelilingi oleh taman yang asri. Begitu kami mendekati gerbang tersebut, tiba-tiba dua orang laki-laki berpotongan rambut pendek dengan tubuh kekar menghampiri kami. Suamiku segera menyodorkan sebuah kartu nama yang entah dari mana dia peroleh. Kemudian dengan wajah ramah mereka membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk.

Di dalam pekarangan villa itu kulihat beberapa mobil telah terparkir di sana dan salah satunya adalah mobil Priyono sahabat suamiku. Keluarga kami dan keluarga Priyono memang bersahabat. Umur kami tidak jauh berbeda sehingga kami mempunyai persamaan dalam pergaulan.

Suamiku seorang pengusaha muda sukses, demikian juga Priyono. Baik suamiku maupun Priyono mereka sama-sama sibuknya. Mereka kelihatannya selalu dikejar waktu untuk meraih sukses yang lebih besar lagi bagi keuntungan bisnisnya. Sehingga boleh dikatakan hidup kami sangat berlebih sekali akan tetapi di lain sisi waktu untuk keluarga menjadi terbatas sekali. Hanya pada hari-hari weekend saja kami baru dapat berkumpul bersama. Dan itu pun apabila suamiku tidak ada urusan bisnisnya di luar kota.

Keadaan itu dialami juga oleh istri Priyono, Novie. Sehingga antara aku dan istri Priyono merasa cocok dan akrab satu sama lainnya. Kami juga selalu mengatur waktu senggang bersama untuk melakukan pertemuan-pertemuan rutin atau rekreasi bersama. Kebetulan istri Priyono, juga agak sebaya denganku. Bedanya dia baru berumur tiga puluh tahun sedangkan aku telah berumur tiga puluh lima tahun. Apalagi wajahnya masih tetap seperti anak-anak remaja dengan tahi lalat di atas bibirnya membuat penampilan istri Priyono kelihatan lebih muda lagi. Selain itu bentuk tubuhnya agak mungil dibandingkan denganku. Badannya semampai namun berbentuk sangat atletis. Maklumlah selain dia secara rutin mengikuti kegiatan latihan di salah satu fitness center, dia juga memang seorang atlet renang. Sehingga warna kulitnya agak kecoklatan-coklatan terkena sinar matahari.

Berbeda denganku yang berkulit agak putih dengan bentuk tubuh yang agak lebih gemuk sedikit sehingga buah dada dan pinggulku lebih kelihatan menonjol dibandingkan dengan istri Priyono. Menurut pandanganku penampilan istri Priyono manis sekali. Ada suatu daya tarik tersendiri yang dimilikinya setidak-tidaknya demikian juga menurut suamiku. Aku tahu hal itu karena suamiku sering membicarakannya dan malahan pernah bergurau kepadaku bagaimana rasanya sekiranya dia melakukan hubungan seks dengan istri Priyono.

Pertemuan kami dengan keluarga Priyono pada mulanya diisi dengan pergi makan malam bersama atau mengunjungi club rekreasi para eksekutif di setiap akhir pekan. Sekali-sekali kami bermain kartu atau pergi berdarmawisata. Akan tetapi ketika hal tersebut sudah mulai terasa rutin, pada suatu saat suamiku dan Priyono mengajak kami untuk ikut menjadi anggota CAPS.

“Apa artinya itu..?” kataku.
“Artinya adalah Club Arisan Para Suami atau disingkat CAPS, kalau diucapkan dalam bahasa Inggris jadi kep’es, tuh gagah nggak namanya”, jawab Priyono.
“Walah, baru tahu sekarang para suami juga kayak perempuan, pakai arisan segala”, kataku.
“Ini arisan bukan sembarang arisan..”, kata Priyono membela diri.
“Dahulu mau dinamakan The Golden Key Club, tapi gara-gara Eddy Tanzil maka namanya diganti jadi CAPS, Club Arisan Para Suami”, katanya lagi.
“Ya sudah kalau begitu.., kalau arisan para suami kenapa istri perlu dibawa-bawa ikut jadi anggota?” debatku lagi.
“Rupanya belum tahu dia..!” kata Prioyono dalam logat Madura seraya menunjukkan jempol ke arahku sambil melirik kepada suamiku. Suamiku juga jadi ikut tertawa mendengar logat Prioyono itu.

“Hei, rupanya pake rahasia-rahasiaan segala ya..!” kataku sambil memukul pundaknya.
“Iya Mbak.., mereka berdua sekarang ini lagi selalu kasak-kusuk saja. Jangan-jangan memang punya rahasia yang terpendam”, tiba-tiba kata istri Priyono menimpaliku.
“Eh, jangan marah dulu.. club arisan ini merupakan suatu club yang ekslusif. Tidak sembarangan orang boleh ikut! Hanya mereka yang merupakan kawan dekat saja yang boleh ikut dan itu juga harus memenuhi syarat!”
“Syarat apa..?!”
“Misalnya para anggota harus terdiri dari pasangan suami istri yang sah! Betul-betul sah.. saah.. saah!” katanya meniru gaya Marisa Haque diiklan TV.
“Kalau belum beristri atau bukan istri yang sah, dilarang keras untuk ikut! Oleh karena itu untuk ikut arisan ini perlu dilakukan seleksi yang ketat sekali dan tidak main-main! Jadi nggak ada yang namanya itu rahasiaan-rahasiaan..!” kata Priyono lagi.

“Ah kayak mau jadi caleg saja.. pakai diseleksi segala! Nggak mau sekalian juga pakai Litsus, terus penataran! Arisan ya arisan saja..! Dimana-mana juga sama! Paling-paling Bapak-bapaknya ngumpul ngobrolin cewek-cewek dan Ibu-ibunya ngerumpi sambil comot makanan disana-sini.., akhirnya perutnya jadi gendut dan pulang-pulang jadi bertengkar di rumah karena dengar gosip ini itu!” kataku.
“Nah, disini masalahnya. Arisan kita itu bukan arisan gosip, tapi arisan yang sip!” kata Priyono.
“Jadi arisan apa pun itu, apa sip, apa sup, apa saham, emas, berlian, Mercy atau BMW, ya akhirnya semua sama saja.., yang keluar duluan hanya gosip?” kataku ketus.
“Bukan.., bukan seperti itu. Malahan sebaliknya.., arisan ini justru bertujuan buat mengharmoniskan kehidupan perkawinan antara suami istri!” jawab Priyono.
“Lho, untuk itu kenapa mesti arisan..?” kataku lagi.
“Boleh nggak diberi tahu Mas?” kata Priyono sambil melirik kepada suamiku. Suamiku tersenyum sambil mengangguk.

“Begini Mbak, terus terang saja, arisan kita itu bentuknya kegiatan tukar-menukar pasangan”, katanya.
“Pasangan?! Pasangan apa..?” jawabku dengan sangat heran.
“Ya itu, pasangan suami-istri”, tiba-tiba suamiku menyeletuk.
“Mengapa harus ditukar-tukar sih? Dan apanya yang ditukar?” tanyaku karena aku jadi semakin tidak mengerti atas penjelasan suamiku itu.
“Walah, penjelasannya panjang.., ini kan jaman emansipasi”, kata suamiku.
“Memangnya apa hubungannya dengan jaman emansipasi!” aku menyela kata-kata suamiku.
“Begini.., kegiatan club ini sebenarnya bertujuan untuk mengharmoniskan kehidupan suami istri dalam rumah tangga”, kata suamiku.
“Jadi..”
“Jadi.., jadi ya kau ikut saja dulu deh! Nanti baru tahu manfaatnya!” kata Priyono menyeletuk.
“Nggak mau ah kalau hanya ikut-ikutan!”

“Begini Neng!” kata suamiku. “Singkatnya menurut pandangan para pakar seksualogi dalam kehidupan perkawinan seseorang pada saat-saat tertentu terdapat suatu periode rawan dimana dalam periode tersebut kehidupan perkawinan seseorang itu mengalami krisis. Krisis ini apabila tidak disadari akan menimbulkan bencana yang besar yaitu tidak adanya kegairahan lagi dalam kehidupan perkawinan. Apabila tidak ada kegairahan lagi antara suami-istri biasanya akan membawa akibat yang fatal”, kata suamiku lagi.
“Misalnya bagaimana?”
“Ya dalam kehidupan perkawinan itu secara tidak disadari timbul kejenuhan-kejenuhan. Kejenuhan yang paling utama dalam periode tersebut biasanya dalam masalah hubungan badan antara suami istri, pada periode tersebut hubungan seks antara suami-istri tidak lagi menyala-nyala sebagaimana pada masa setelah pengantin baru. Kedua belah pihak biasanya telah kehilangan kegairahan dalam hubungan mereka di tempat tidur yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hubungan badan suami istri tersebut akhirnya terasa menjadi datar dan hanya merupakan suatu hal yang rutin saja. Untuk mengatasi hal itu bagi para pasangan suami istri perlu mendapatkan penggantian suasana, khususnya suasana dalam hubungan di tempat tidur”, kata suamiku.

“Ah itu kan hanya alasan yang dicari-cari saja.., bilang saja kalau sudah bosan dengan istri atau mau cari yang lain!” kataku.
“Nah, disinilah memang letak masalahnya.., yaitu ‘kebosanan’.., dan ‘wanita lain’. Hal itu sangat betul sekali.., karena ‘kebosanan’ merupakan sifat manusia, sedangkan ‘keinginan kepada wanita lain’ secara terus terang itu merupakan sifat naluri kaum laki-laki secara umum, disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak diakui, mereka mempunyai naluri poligamis, yaitu berkeinginan untuk melakukan hubungan badan tidak dengan satu wanita saja. Akan tetapi sifat-sifat ini justru merupakan ‘sumber konflik utama’ dari krisis kehidupan perkawinan seseorang! Nah!, hal inilah yang akan dicegah dalam kegiatan club itu!”

“Jelasnya bagaimana?” kataku.
“Apabila seorang suami menuruti naluri kelaki-lakiannya itu, maka dia cenderung akan melakukan penyelewengan dengan wanita lain secara sembunyi-sembunyi. Mengapa..? Karena dia tahu hal itu akan merupakan sumber konflik dalam rumah tangga yang sangat berbahaya. Pertama-tama karena dia tahu istri tidak menyetujuinya, oleh karena itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang kedua hal itu membuat suatu keadaan yang tidak adil dalam kehidupan suami-istri. Kalau suaminya bisa merasakan orang lain, untuk mendapatkan kenikmatan seksual yang lain daripada istrinya, kenapa istrinya tidak..!”

“Apakah memang demikian problem dari sebuah perkawinan? Aku kira bukan hanya soal seks saja yang menjadi konflik dalam hubungan suami istri, namun juga tentunya ada unsur lainnya!” kataku berargumentasi.
“Tidak salah pendapatmu! Memang benar dalam suatu perkawinan banyak unsur yang mempengaruhinya, akan tetapi dalam perkawinan hanya ada dua unsur saja yang paling dominan, ibarat kopi dengan susunya!” kata suamiku.

“Apa hubungan perkawian dengan kopi susu?” tanyaku agak heran.
“Begini..” kata suamiku selanjutnya. “Dalam suatu perkawinan sebenarnya merupakan campuran antara dua unsur yang sangat berbeda, yaitu antara unsur ‘cinta’ dan unsur ‘kenikmatan seks’. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam hubungan perkawinan seseorang. Unsur cinta adalah merupakan faktor yang dominan yang merupakan faktor utama terjalinnya suatu ikatan batin antara dua insan yang berlainan jenis. Unsur cinta ditandai dengan adanya kerelaan pengabdian dan pengorbanan dari masing-masing pihak dengan penuh keihlasan dan tanpa mementingkan egoisme dalam diri pribadi. Sedangkan unsur kenikmatan seks adalah merupakan unsur penunjang yang dapat memperkokoh dan mewarnai unsur cinta tersebut. Unsur ini ditandai dengan manifestasi adanya keinginan melakukan hubungan hubungan tubuh dari dua insan yang berlainan jenis, adanya kobaran nafsu birahi serta adanya keinginan dari masing-masing pihak untuk mendominasi pasangannya secara egois. Adanya nafsu birahi ini dalam diri kita sebagai mahluk alam adalah wajar dan bukan sesuatu yang memalukan. Nah.., kedua unsur tadi apabila kita ibaratkan seperti minuman tidak bedanya sebagai ‘kopi’ dengan ‘susunya’. Unsur cinta dapat diibaratkan sebagai kopi dan unsur kenikmatan seks dapat diibaratkan sebagai susunya. Kedua unsur yang saling berbeda ini dapat dinikmati dengan berbagai cara. Apakah ingin dicampur sehingga menjadi sesuatu yang baru yang lain rasanya daripada aslinya atau dinikmati secara sendiri-sendiri sesuai dengan rasa aslinya!”

“Jadi apa hubungannya dengan arisanmu sekarang?”
“Nah, arisan ini bertujuan untuk membuat keadaan yang adil dan berimbang di antara suami dan istri. Kedua-duanya harus mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan tuntutan dari wanita itu sendiri untuk beremansipasi. Dan hak itu tidak terkecuali walaupun dalam hubungan seks, para istri juga harus diberi kesempatan yang sama seperti para suami. Para istri juga harus dapat memilih kehendaknya, apakah sewaktu-waktu dia ingin minum ‘kopinya’ saja, atau ‘susunya’ saja, atau ‘kopi susunya’. Masalahnya sekarang, bagaimana mewujudkan hal itu. Kalau dilakukan oleh para suami atau para istri itu secara sendiri-sendiri, maka akan menjadi kacau dan malahan tujuannya mungkin tidak akan tercapai. Oleh karena itu perlu diusahakan secara terorganisir. Yang paling gampang ya, dalam bentuk kegiatan arisan seperti ini”, kata suamiku.

“Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku.
“Ah, kau kayak bensin saja.., langsung nyamber!” kataku.
“Kalau begitu bukankah hal itu juga merupakan suatu penyelewengan dalam perkawinan?” tiba-tiba kata istri Priyono berkomentar.
“Tentu saja bukan..! Karena apa definisi menyeleweng itu? Seseorang itu dikatakan menyeleweng apabila dia melakukan hal di luar pengetahuan pasangannya. Atau dengan kata lain dia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi sehingga pasangannya tidak tahu dan tidak pernah menyetujuinya. Berlainan dengan kegiatan ini. Semuanya terbuka dan melalui persetujuan bersama antara kedua pasangan suami-istri itu”, jawab suamiku.

Pada akhirnya setelah menjalani debat yang panjang dalam forum resmi maupun tidak resmi, aku dan istri Priyono mengalah. Resolusi para suami itu kami terima dengan catatan kami ikut dalam kegiatan club ini semata-mata hanya untuk sekedar ingin tahu saja dan tidak ada tujuan lain yang lebih dari itu. Selain daripada itu kami mengalah untuk membuat hati para suami senang. Oleh karena itulah malam ini akhirnya aku berada di tempat ini.

Aku mengenakan gaun dari bahan satin yang agak tipis yang agak ketat melekat di tubuhku. Aku mengenakan gaun ini adalah juga atas anjuran suamiku. Suamiku berkata bahwa aku sangat menarik apabila mengenakan pakaian yang agak ketat dan terbuka. Aku kira pendapat suamiku benar, karena dengan memakai gaun ini aku lihat bentuk tubuhku jadi semakin nyata lekak-lekuknya. Apalagi dengan model potongan dada yang agak rendah membuat pangkal buah dadaku yang putih bersih kelihatan agak tersembul keluar membentuk dua buah bukit lembut yang indah.

Tidak berapa lama kami berdiri di depan pintu, seseorang membuka pintu dan langsung menyalami kami.
“Selamat datang dan selamat malam”, katanya langsung sambil menyalami kami.
“Perkenalkan saya Djodi, tuan rumah di sini, dan ini istriku.., panggil saja Siska!” katanya langsung memperkenalkan seorang wanita yang tiba-tiba muncul. Dandanannya agak menor untuk menutupi kerut wajahnya yang sudah dimakan usia. Tapi secara keseluruhan bentuk tubuhnya masih boleh jugalah. Buah dadanya subur walaupun perutnya kelihatan agak gendut. Kelihatannya dia itu seorang keturunan Cina. Selanjutnya kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu.

Suasana dalam ruangan itu kudapati biasa-biasa saja. Di sudut-sudut ruangan terdapat makanan kecil dan buah-buahan. Di sudut lainnya ada sebuah bar yang kelihatan lengkap sekali jenis minumannya. Sementara itu suara iringan musik terdengar samar-samar mengalun dengan lembut dari ruang tamu yang besar. Yang membedakannya adalah para tamunya. Kelihatannya tidak begitu banyak, kuhitung hanya ada belasan orang dan wanitanya semua berdandan secantik mungkin dengan pakaian yang lebih seksi daripada yang kukenakan. Demikian juga aku tidak melihat seorang pelayan pun atau petugas catering yang biasanya mengurusi konsumsi dalam pesta-pesta yang diadakan di rumah-rumah mewah seperti ini.

“Silakan.. help your self saja”, kata nyonya rumah kepada kami dalam bahasa Inggris logat Cina Singapore. “Memang sengaja para pembantu semuanya sudah disuruh ngungsi.., you know kan, agar privacy kita tidak terganggu!” katanya lagi dengan suara yang genit.

Kami segera berbaur dengan pasangan-pasangan lainnya yang sudah ada di sana. Priyono dan istrinya sedang mengobrol dikelilingi beberapa pasangan lainnya. Aku lihat istri Priyono benar-benar sangat menarik sekali malam itu dengan pakaiannya yang agak tembus pandang membuat mata kita mau tidak mau akan segera terjebak untuk memperhatikannya dengan seksama, apakah dia memakai pakaian dalam di balik itu. Sehingga dalam pakaian itu dia tidak saja kelihatan sangat cantik akan tetapi juga seksi. Melihat penampilan istri Priyono, suamiku jadi sangat antusias sekali. Dia terus memperhatikan istri Priyono tanpa mempedulikanku lagi. Sikap suamiku yang demikian menimbulkan juga rasa cemburu di hatiku. Jadi benar dugaanku, rupanya suamiku benar tertarik kepada istri Priyono. Pantas saja dia sering memujinya bahkan sering mengatakan kepadaku secara bergurau bagaimana rasanya kalau berhubungan kelamin dengan istri Priyono.

Tidak berapa lama kemudian tuan rumah beserta istrinya menghampiri kami. “Mari kita ambil minum dahulu”, katanya sambil langsung menuju bar. Salah seorang tamu kemudian bertindak sebagai bar tender. Dengan cekatan dia membuatkan minuman yang dipilih masing-masing orang dan kebanyakan mereka memilih minuman yang bercampur akohol. Kecuali aku dan istri Priyono. Aku memang tidak begitu tahan terhadap minuman beralkohol.

“Anda minum apa?” tanyanya kepadaku dan istri Priyono.
“Coca cola saja..!” kataku.
“Pakai rum, bourbon atau scotch?” “Terima kasih.., coca cola saja..!”
“Oo, di sini tidak boleh minum itu! Itu termasuk minuman kedua yang dilarang di sini..!” katanya dalam nada yang jenaka. “Minuman pertama yang dilarang adalah cola atau lainnya yang dicampur dengan Baygone! Yang kedua minuman yang anda pilih tadi, jadi mau tidak mau harus dicampur sedikit dengan rum atau lainnya. Saya kira ‘rum and cola’ cocok untuk anda berdua!” katanya lagi sambil terus mencampur rum dan segelas cola serta menaruh es batu ke dalamnya.
“Ini.., cobalah dahulu.., buatan bar tender terkenal!” katanya sambil menyodorkan gelas itu kepada kami.

Selesai membuat minuman dia segera bergabung dengan kami.
“Anda cantik sekali dengan busana ini”, katanya seraya memegang pundakku yang terbuka.
Aku agak menjauhinya seketika karena kukira dia mabuk. Tapi sesungguhnya hal itu disebabkan aku tidak terbiasa beramah-ramah dengan seorang pria asing yang belum kukenal benar.
“Terima kasih”, kataku berusaha menjawabnya.
“Dada anda bagus sekali”, katanya sambil menatap dalam-dalam ke arah belahan dada gaunku.
Dia diam sejenak. Kemudian dia mulai memperhatikanku secara khusus. Kelihatannya dia sedang menilaiku. Aku dapat membacanya dari senyumnya yang tersembunyi. Apabila waktu yang lalu ada seorang laki-laki yang memandang diriku secara demikian maka suamiku mungkin akan segera mengirimkan bogem mentah kepadanya.

Aku pun kemudian mulai memperhatikan penampilannya. Aku berpikir apakah dia laki-laki yang akan meniduriku nanti? Tidak begitu jelek juga, pikirku. Tinggi badannya kira-kira 170 cm, dengan bahu yang bidang dan wajah yang ramah menarik. Aku berpikir rupanya dalam club ini untuk dapat tidur dengan seorang wanita tidak berbeda bagaikan akan membeli seekor sapi saja. Namun secara tidak disadari aku menyukai juga ucapannya itu terutama datangnya dari seorang pria yang tidak aku kenal dan di hadapan suamiku. Kuharap dia dengar kata-kata itu. Kata-kata itu ditujukan kepadaku, bukan kepada istri Priyono. Ya, pada saat itu aku merasa agak melambung juga walaupun hanya sedikit.

Aku segera menghabiskan minumanku. Aku memang selalu berbuat itu, akan tetapi rupanya dia mengartikannya lain bahwa aku ingin segera memulai sesuatu.
“Jangan terburu-buru!” katanya.
“Kita belum lagi tahu cottage mana yang akan anda tempati”, katanya sambil menambah minumanku. “Akan tetapi saya senang sekali apabila nanti kita dapat tempat yang sama dan segera ke sana.” bisiknya.
Aku menjadi agak terselak seketika. Hal ini disebabkan bukan hanya aku kaget mendengar bisikannya itu, tetapi juga minumanku terasa sangat keras sehingga kepalaku langsung terasa mulai berat.
“Saya benar-benar baru pertama kali mengikuti pertemuan ini”, tiba-tiba aku berkata secara spontan.
“Ohh”, katanya agak kaget. Kemudian dia menatapku dengan pandangan yang menyesal.
“Saya harap kata-kata saya tadi tidak menyinggung anda.” bisiknya dengan nada minta maaf.
“Sungguh.. sungguh tidak”, kataku sambil memberikan senyuman.

Tidak berapa lama kemudian tuan rumah mengumumkan akan melakukan penarikan nomor arisan. Semula aku mengira tuan rumah akan menarik nama pasangan yang akan mendapat arisan bulan ini sebagaimana arisan-arisan biasa lainnya. Akan tetapi dugaanku meleset. Mula-mula tuan rumah meminta kami untuk berkelompok secara terpisah antara suami istri. Para suami membuat kelompok sendiri dan para istri juga membuat kelompok sendiri. Selanjutnya kami masing-masing diminta mengambil amplop kecil dalam dua buah bowl kristal yang berbeda yang diletakkan pada masing-masing kelompok. Satunya untuk para suami dan satunya lagi untuk para istrinya. Amplop kecil tersebut ternyata berisi sebuah kunci dengan gantungannya yang bertuliskan sebuah nomor.

Aku bertanya kepada wanita di sebelahku yang kelihatan sudah biasa dalam kegiatan ini.
“Kunci ini adalah kunci cottage yang ada di sekitar villa ini..” katanya. “Jadi nanti kita cocokkan nomor yang ada di kunci itu dengan nomor bungalow atau kamar di sana.”
“Terus..” kataku selanjutnya.
“Terus..!?” katanya sambil memandang kepadaku dengan agak heran. “Terus..? Oh ya.., kita tunggu saja siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama!”

Tiba-tiba hatiku menjadi kecut. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan dalam cottage itu. Apalagi hanya berduaan dengan laki-laki yang bukan suami kita.
“Jadi kita hanya dengan berdua dalam cottage itu?”
“Ya, karena kuncinya sudah pas sepasang-sepasang!”
“Jadi kita tidak tahu siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama dengan nomor kita?” kataku untuk menegaskan dugaanku.
“Ya, memang sekarang ini sistemnya berbeda. Dahulu pada waktu club ini disebut The Golden Key Club memang kita bisa ketahui karena para pesertanya mula-mula berada dalam sebuah kamar masing-masing. Jadi kita tahu siapa di kamar nomor berapa. Kemudian baru para suami keluar dan saling tukar menukar kunci kamar mereka dimana para istrinya berada di dalamnya. Sekarang sistem itu telah dirubah. Karena dengan sistem itu ada anggota yang suka curang. Dia memilih pasangan yang diincarnya sehingga timbul komplain dari anggota yang lain. Sekarang masing-masing pasangan mengambil kunci kamar secara diundi dan disaksikan oleh semua anggota. Sehingga sekarang lebih fair karena anggota tidak dapat memilih pasangannya yang diincar terlebih dahulu. Kelemahannya dalam sistem ini ada kemungkinan pasangan suami-istri itu juga akan mendapatkan nomor yang sama. Kalau sudah begitu ya nasibnya lah.., kali ini dia tidak dapat apa-apa.”

Sekarang aku baru mengerti mengapa club ini dahulu dinamakan The Golden Key Club. Selesai kami mengambil kunci semua berkumpul kembali di ruang tamu. Tuan rumah meminta kami untuk mengambil gelas sampanye masing-masing kemudian kami bersulang. Aku mereguk sampanye itu sekaligus sehingga kepalaku kini terasa semakin berat.
“Dapat nomor berapa?” kata suamiku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Nomor delapan..!” jawabku.
“Untung..! “
“Kenapa untung?”
“Ya untung tidak dapat nomor yang sama.., nomorku duabelas!” katanya.
“Itu bukan untung tapi cilaka.., cilaka duabelas namanya!”
“Ya tapinya untung juga..!” jawab suamiku.
“Kenapa..?”
“Untung bukan cilaka tigabelas!” jawabnya sambil tertawa.
“Sudah percuma berdebat di sini..!” kataku. “Eh kalau Novie dapat nomor berapa ya?” kataku lagi.
“Iya ya.., nomor berapa dia, tolong kau tanyakan dong!”

Rupanya aku tidak usah berpayah-payah mencari Novie karena tiba-tiba Priyono dan istrinya sudah berada di dekat kami.
“Eh, kamu dapat nomor berapa?” aku berbisik kepada Novie. “Nomor duabelas Mbak..” jawabnya.
Aku jadi terhenyak. Jadi maksud suamiku untuk meniduri istri Priyono kini tercapai. Aku segera memberi isyarat kepada suamiku bahwa nomornya sama dengan nomor dia. Suamiku kelihatan berseri-seri sekali ketika menerima isyaratku. Aku jadi agak cemburu lagi melihat tingkahnya. Dia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti irama musik yang mengalun di ruangan itu.

Tidak berapa lama kemudian lampu-lampu di seluruh ruangan itu mulai meredup. Ruangan itu kini menjadi agak gelap dan alunan musik berirama slow terdengar lebih keras lagi. Suasana dalam ruangan itu kini jadi lebih romantis. Aku lihat beberapa pasangan yang mulai berdansa tapi kebanyakan dari mereka menyelinap satu persatu, mungkin menuju cottage-nya masing-masing, tapi ada juga yang masih duduk-duduk mengobrol di sofa.

Tiba-tiba Priyono mengajakku untuk berdansa. Dan sudah barang tentu suamiku segera juga mengajak istri Priyono berdansa. Ketika kami berdansa Priyono mendekapku erat-erat. Begitu sangat eratnya sehingga seolah-olah kami dapat mendengar degub jantung di dada masing-masing.
“Kamu dapat nomor berapa?” tiba-tiba Priyono berbisik di telingaku.
“Nomor delapan!” jawabku.
“Ah, sayang..”
“Mengapa?” kataku lagi.
“Aku nomor enam!” katanya lagi.
“Siapa itu..?” tanyaku.
“Aku dengar sih Nyonya Siska, istrinya tuan rumah!”
“Wah, enak dong.., orangnya sintal, mungkin tiga hari nggak habis dimakan!” kataku berseloroh.
“Jangan ngeledek ya..!” katanya.
“Memangnya kenapa..? Kan betul orangnya sintal!”
“Potongan seperti itu bukan typeku!” katanya.
“Typemu seperti apa sih?” kataku.
“Seperti kamu..!” katanya lagi sambil terus mendusal-dusal leherku.

Aku jadi agak bergelinjang juga leherku diciumi Priyono sedemikian rupa. Selama kami bergaul belum pernah dia melakukan hal yang tidak senonoh denganku. Dia sangat sopan terhadapku. Tapi malam ini tiba-tiba saja dia berbuat itu. Apakah karena pengaruh alkohol yang dia minum tadi atau memang selama ini dia juga mempunyai perasaan yang terpendam terhadap diriku. Perasaanku kini jadi melambung kembali. Ditambah dengan pengaruh alkohol yang aku minum tadi, aku merasakan adanya gairah birahi yang timbul dalam diriku ketika berdekapan Priyono sehingga aku pasrah saja leherku didusal-dusalnya.

“Eh, kau ngerayu, atau mabok..? Kenapa dari dulu-dulu nggak bilang!” kataku sambil terus mendekapkan tubuhku lebih erat lagi sehingga buah dadaku terasa menyatu dengan dadanya.
“Malu sama suamimu!”
“Kenapa malu.., dia sendiri juga sering cerita bahwa dia suka sama istri kamu, eh sekarang dia dapat nomor kamar istrimu lagi!” kataku lagi.
“Oh ya..?” kata Priyono. “Kalau aku dulu bilang.., kau terus mau apa?”
“Tentunya kita nggak usah payah-payah ikut arisan di sini.. di rumah saja!”
“Ah, kau..!” katanya sambil terus menempelkan pipinya ke pipiku. Selanjutnya begitu irama musik hampir selesai, tiba-tiba Priyono meraih wajahku dan langsung mengecup bibirku dengan lembut.

Ketika kami kembali ke tempat semula kudapati suamiku dan istri Priyono sudah tidak ada di sana. Aku pikir mereka sudah tidak sabar lagi dan masuk ke cottagenya ketika kami sedang berdansa tadi. Baru saja kami duduk tiba-tiba sepasang suami istri datang menghampiri kami dan mengulurkan tangannya.
“Saya Alex.., dan ini istri saya Mira”, katanya memperkenalkan diri.
Priyono dan aku menyebutkan nama kami masing-masing. Selanjutnya kami berbasa-basi berbincang-bincang sejenak.
“Anda dapat nomor berapa?” dia bertanya kepada Priyono.
“Enam!” jawab Priyono singkat.
“Saya nomor delapan dan istri saya nomor enambelas” katanya.
Aku jadi tersentak seketika, demikian juga Priyono.
“Itu adalah nomorku”, kataku. “Oh ya!” kata Alex agak kaget. “Saya kira anda berdua sudah bernomor sama.., tapi anda kan bukan pasangan suami istri?” katanya lagi.
“Ya..!” kataku hampir serempak.

Kemudian dia berpaling kepada Priyono dan mengamit lengannya menjauhi kami.
“Bolehkah kita bernegosiasi..” bisiknya kepada Priyono.
“Saya lihat anda senang sekali dengan nomor delapan. Sebenarnya saya juga senang dengan penampilannya, akan tetapi saya sudah mempunyai janji dengan nomor enam. Bagaimana kalau kita bertukar nomor? Anda mengambil nomor delapan dan saya nomor enam. Sedangkan istri saya memang sudah sesuai dengan nomor enambelas yang juga kebetulan tuan rumah kita. Memang hal ini tidak diperbolehkan apabila ada anggota lainnya yang tahu. Tapi saya harap hal ini hanya di antara kita saja.”
Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Priyono segera saja mengiyakan. Kemudian kulihat mereka bertukar nomor kunci.
“Oh, dear!” kata Alex. “Kali ini saya tidak akan menginterupsi kalian. Lain kali saya harap saya dapat nomor anda lagi!” Kemudian dia melingkarkan tangannya ke tubuhku dan memberikan sebuah kecupan kecil di bibirku. Selanjutnya tidak ayal lagi Priyono segera memegang tanganku dan menuntunku menuju cottage nomor delapan.

Ketika kami memasuki pintu cottage itu aku berpikir di sinilah kemungkinan awalnya perubahan hidupku. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain kecuali dengan suamiku sendiri, akan tetapi hal itu akan berubah dalam waktu beberapa menit ini. Aku akan menjadi seorang istri yang serong dan semuanya ini disebabkan oleh ulah suamiku sendiri. Apakah ada orang yang akan percaya mengenai hal itu? Secara jujur begitulah keadaanku dan itulah apa yang kupikirkan waktu itu. Aku tahu dengan ini aku memberikan suamiku semacam kepuasan seks lain sebagaimana yang dia inginkan.

Begitu memasuki cottage itu Priyono langsung merangkulku dan mulai menghujani wajahku dengan kecupan-kecupan kecil. Dia kelihatan begitu sangat bernafsu sekali terhadap diriku. Aku benar-benar tidak menyangka Priyono dapat bersikap seperti itu. Selama ini kukenal dia wajar-wajar saja apabila bertemu denganku. Apakah pada acara-acara rutin kami atau kesempatan lainnya. Kupikir apakah hal itu akibat pengaruh alkohol yang diminumnya tadi atau mungkin juga memang sejak dahulu dia sudah mempunyai minat yang besar terhadap diriku namun dia terlalu sopan untuk mengungkapkannya dalam kesempatan yang biasa.

Tidak berapa lama kemudian tangannya segera menyusup ke balik busanaku yang memang berpotongan rendah dan menjalar menelusuri punggungku. Tiba-tiba kusadari betapa nikmatnya itu semua. Aku merasakan suatu hal yang luar biasa yang belum pernah kualami sebelumnya, aku merasa bagaikan kembali pada saat-saat dimana aku mengalami ciuman yang pertama dari seorang laki-laki. Hanya kini rasa sensasi yang muncul dalam diriku aku rasakan tidak asing lagi. Aku ingin segera ditiduri.

Ketika bibirnya menempel di bibirku aku pun langsung melumatnya dengan kuat. Selanjutnya dia merenggangkan mulutku dan mendorongkan lidahnya di antara gigiku mencari-cari lidahku yang segera kujulurkan untuk menyambutnya. Sungguh merupakan suatu ciuman yang panjang dan lama sekali. Selanjutnya dengan segera tangannya mulai meraba daerah sekitar buah dadaku. Aku mempunyai suatu kelemahan mengenai buah dadaku, aku maksudkan buah dadaku sangat sensitif sekali. Begitu buah dadaku tersentuh maka praktis akan membuatku terus bergelinjang. Oleh sebab itu ketika tangannya menyentuh langsung puting susuku maka aku menjadi bergelinjang dan meliuk-liuk dengan liarnya. Jari-jariku menghujam di punggungnya menahan suatu perasaan yang sangat dahsyat.

Pada saat tubuh kami terlepas satu sama lainya, nafas kami pun memburu dengan hebat. Dia mulai meneliti busanaku mencari kancing atau pun reitsleting untuk segera melepaskan busana itu dari tubuhku. Akan tetapi busanaku memang hanya mempergunakan karet elastis saja, maka dengan mudah aku segera melepaskan busana itu melalui kepala. Aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik busanaku itu kecuali dua carik pakaian dalam model bikini yang tipis dengan warna yang senada dengan kulitku.

“Saya senang dengan puting susu yang besar”, katanya sambil menyentuh puting susuku dengan lembut. “Karena cukup untuk menyusui anaknya dan sekaligus bapaknya.” Aku tidak menjawab. Kupikir dalam kesempatan seperti ini dia masih saja bisa berkelakar. Akan tetapi sebenarnya saat itu aku juga ingin berkata kepadanya bahwa aku juga ingin segera menyaksikan bagaimana bentuk tubuh aslinya di balik kemeja dan pantalonnya itu. Namun aku merasa masih sangat malu untuk berkata secara terus terang. Rupanya dia dapat membaca apa yang ada dalam pikiranku. Sehingga selanjutnya kudapati dia mulai membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya.

Aku masih teringat bagaimana bentuk dadanya itu dan bagaimana ketika dia memperlakukan diriku. Dadanya kecoklat-coklatan hampir berwarna sawo matang penuh ditumbuhi dengan bulu dada keriting berwarna hitam di tengahnya. Otot-ototnya pun semua kelihatannya sangat kokoh dan seimbang. Ingin rasanya aku menyentuhkan wajah serta puting susuku ke dadanya, dan tidak berapa lama kemudian secara tidak kusadari aku telah melakukan hal itu. Aku mengecup dadanya kemudian puting susunya. Betapa aku menggali kenikmatan dari itu semua.

Ketika aku merapatkan tubuhku ke tubuhnya, aku dapat merasakan gumpalan alat kejantanannya di balik pantalonnya yang sudah menjadi besar dan keras sekali. Dia menggesek-gesekkan alat kejantanannya tersebut ke tubuhku yang hanya mengenakan BH serta celana dalam nylon yang tipis. Sementara itu tangannya telah menyusup ke balik celana dalamku menelusuri daerah sekitar pantatku dan meremas-remasnya dengan kuat daging pantatku yang lembut dan berisi. Selanjutnya dengan serta merta dia melucuti celana dalamku ke bawah kakiku, sementara aku pun merasa semakin bergelinjang dengan hebatnya. Segera saja kulemparkan celana dalam itu dengan kakiku jauh-jauh dari tubuhku. Dia pun kini melepaskan BH-ku sehingga kini tubuhku benar-benar berada dalam keadaan bertelanjang bulat berdiri di hadapannya.

Kemudian Priyono agak menjauh beberapa saat untuk menurunkan reitsleting calananya. Begitu reitsleting diturunkan dalam sekejap pantalonnya pun juga ikut tergusur ke bawah. Dan sudah barang tentu pemandangan selanjutnya yang kusaksikan adalah sebuah alat kejantanan yang sangat besar dan gempal sedang berdiri dengan tegaknya menentang diriku.

Aku tidak melihat banyak perbedaan dengan bentuk alat kejantanan suamiku, akan tetapi yang mengesankan adalah alat kejantanan yang kulihat sekarang adalah milik seorang laki-laki lain walaupun dia sahabat suamiku. Seumur hidupku aku belum pernah menyaksikan alat kejantanan seorang laki-laki dewasa yang begitu dekat jaraknya dengan tubuhku kecuali alat kejantanan suamiku sendiri, apalagi aku sendiri dalam keadaan bertelanjang bulat, dan tidak berapa lama lagi dia akan menyetubuhi diriku dengan alat tersebut. Sehingga secara tidak sadar kurasakan timbul suatu keinginan dalam diriku untuk segera memegang bahkan menghisap alat kejantanan itu, akan tetapi sekali lagi aku masih tidak mempunyai keberanian melakukan hal itu.

Selanjutnya Priyono meraih dan membopong tubuhku yang telah bertelanjang bulat itu ke atas tempat tidur. Aku segera telentang di sana dengan segala kepolosan tubuhku menanti kelanjutan dari dari kesemuanya itu dengan pasrah. Akan tetapi rupanya Priyono belum mau memasukkan alat kejantanannya ke liang kewanitaanku. Dia masih tetap saja berdiri menikmati pemandangan keindahan tubuhku dengan pandangan yang penuh dengan kekaguman.

Tatapan mata Priyono ke seluruh tubuhku yang bugil di lain keadaan juga menumbuhkan semacam perasaan erotis dalam diriku. Aku merasakan adanya suatu kenikmatan tersendiri bertelanjang bulat di hadapan seorang laki-laki asing yang bukan suamiku sendiri dan memperlihatkan seluruh keindahan lekuk tubuhku yang selama ini hanya disaksikan oleh suamiku saja. Sehingga secara tidak sadar kubiarkan tubuhku dinikmati mata Priyono dengan sepuas-puasnya. Malahan ketika tatapan mata Priyono menyapu bagian bawah tubuhku secara reflek aku renggangkan keduabelah pahanya agak lebar seakan-akan ingin memberikan kesempatan yang lebih luas lagi kepada mata Priyono untuk dapat menyaksikan bagian dari tubuhku yang paling sangat rahasia bagi seorang wanita.

Puas menikmati keindahan tubuhku kini tangan Priyono mulai sibuk di seluruh tubuhku. Tangannya mulai meraba dan meremas seluruh bagian tubuhku yang sensitive. Mulai dari buah dadaku yang subur berisi sampai pada liang senggamaku yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang sangat lebat. Aku menjadi tambah bergelinjang dan tubuhku terasa bergetar dengan hebat. Secara tidak sadar aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat. Liang senggamaku tambah berdenyut dengan hebat dan terasa licin dengan cairan yang keluar dari dalamnya. Aku heran bagaimana seorang laki-laki yang bukan suamiku dapat membuat diriku menjadi sedemikian rupa. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku dapat merasakan gelinjang birahi yang sedemikian hebat dari laki-laki lain yang bukan suamiku.

Tidak berapa lama kemudian dia berlutut di depanku dan merenggangkan kedua belah pahaku lebih lebar lagi. Selanjutnya dia merangkak di antara kedua belah pahaku dan menatap langsung ke arah alat kewanitaanku. Lalu dia membungkukkan tubuhnya agak rendah dan mulai menciumi pahaku yang lama kelamaan semakin dekat ke arah liang kenikmatanku. Kembali aku merasakan suatu sensasi yang hebat melanda diriku. Aku benar-benar merasa semakin bertambah liar.

Aku berteriak liar dengan suara yang sukar dipercaya bahwa itu keluar dari mulutku. Bagaikan serigala yang ganas Priyono segera melumat habis-habisan alat kewanitaanku. Mula-mula dia menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu klitorisku dengan sangat halus sekali namun cukup untuk membuatku menjadi lupa daratan. Pinggulku secara otomatis mulai bergerak turun naik bagaikan dikendalikan oleh sebuah mesin dalam tubuhku.

Priyono kemudian menurunkan lidahnya lebih ke bawah lagi dan membuat putaran kecil di sekitar liang senggamaku dan akhirnya dia sorongkan lidahnya dengan mahir ke dalamnya. Aku merasakan darahku menggelegak. Lidahnya terus keluar masuk berputar-putar menari-nari. Betapa tingginya seni permainan lidahnya itu tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Lebih jauh dari itu aku tidak tahan lagi dan aku langsung mencapai puncak orgasme yang hebat.

“Sudah.. sudahlah”, akhirnya aku berkata. Priyono tetap meneruskan melahap liang senggamaku. Sementara itu aku terus-menerus mengalami orgasme bertubi-tubi namun pada akhirnya dia berhenti juga. Dan pada saat dia mengambil posisi untuk menyetubuhi diriku, aku segera bangkit dan kini tanpa merasa risih lagi aku segera meraih alat kejantanannya yang hangat berwarna kemerah-merahan lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan mulai bekerja dengan lidahku di sepanjang alat kejantanannya yang begitu terasa keras dan tegang. Aku merasakan suatu kenikmatan yang lain yang belum pernah aku rasakan. Aku merasakan alat kejantanan Priyono mempunyai aroma yang berlainan dengan alat kejantanan suamiku.

Kini aku baru sadar alat kejantanan dari setiap laki-laki juga mempunyai perbedaan rasa yang khas yang tidak sama antara satu lelaki dengan lelaki lainnya. Bukan saja dari bentuk dan ukurannya akan tetapi juga dari aroma yang dipancarkan oleh masing-masing alat kejantanan itu. Selain itu aku merasakan alat kejantanan laki-laki lain ternyata terasa lebih nikmat daripada alat kejantanan suamiku sendiri. Mungkin hal itu karena aku mendapatkan sesuatu yang lain dari apa yang selama ini kurasakan. Jadi walaupun serupa tetapi tidak sama rasanya.

“Sekarang giliranku untuk meminta berhenti”, katanya dengan tenang. Sebenarnya aku enggan melepaskan alat kejantanan yang menggiurkan itu dari mulutku. Aku ingin merasakan betapa alat kejantanannya itu memancarkan sperma dalam mulutku, akan tetapi kupikir tidak akan senikmat sebagaimana bila alat kejantanannya itu meledak dalam rahimku dalam suatu persetubuhan yang sempurna, sehingga kuturuti permintaannya dan membaringkan tubuhku dengan kedua belah kakiku ke atas. Selanjutnya aku menyaksikan sebuah dada yang bidang menutupi tubuhku dan tidak lama kemudian kurasakan alat kejantanannya itu mulai terbenam ke dalam liang senggamaku yang hangat dan basah. Aku jadi agak mengerang kecil ketika alat kejantanan yang besar dan gempal itu memasuki tubuhku.

“Oh, sayang.., sayang”, kata Priyono bergumam.
“Teruskan.., teruskan! Rasanya dahsyat sekali..!” kataku secara spontan sambil mengencangkan otot liang senggamaku sehinga alat kejantanan Priyono itu terjepit dengan kuat. Kemudian dengan suatu kekuatan bagaikan sebuah pompa hydroulis, liang kewanitaanku menghisap dalam-dalam alat kejantanan itu sehingga terasa menyentuh leher rahimku.

Secara perlahan-lahan dia mulai menggerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Untuk beberapa saat aku telentang tanpa bergerak sama sekali menikmati diriku disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku. Sungguh sulit dipercaya, aku merasa hal ini sebagai suatu mimpi. Seorang laki-laki lain yang bukan suamiku kini sedang memasukkan alat kejantanannya ke dalam tubuhku dan aku pun sedang menggali semua kenikmatan darinya.

Selanjutnya aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dalam suatu putaran yang teratur mengikuti gerakan turun naik tubuhnya. Dengan garang Priyono terus-menerus menikamkan alat kejantanannya sedalam-dalamnya ke liang senggamaku secara bertubi-tubi. Alat kejantanannya dengan teratur keluar masuk dan naik turun di liang senggamaku yang membuka serta meremas dengan erat alat kejantanan itu. Aku merasakan persetubuhan yang sedang kami lakukan ini betul-betul sangat hebat. Dan kesemuanya ini disebabkan oleh alat kejantanan seorang laki-laki lain yang bukan suamiku.

Selanjutnya Priyono mulai menghujamkan tubuhnya ke tubuhku semakin kuat dan semakin kencang. Kami jadi bergumulan dengan hebat di atas tempat tidur saling cabik mencabik tubuh masing-masing. Tubuh kami bersatu dan merenggang dengan hebat. Setiap hunjamannya membawaku ke suatu alam fantasi yang jauh entah dimana yang tidak pernah kuketahui dan belum pernah kualami sebelumnya. Yang aku tahu pada saat itu hanyalah suara desahan kenikmatan yang keluar dari mulut kami masing-masing.

Tiba-tiba puncak dari itu semua, kurasakan alat kejantanannya yang berada dalam liang senggamaku menjadi sedemikian membesar dan tegang dengan keras. Liang senggamaku pun terasa berdenyut lebih keras lagi dan akhirnya aku merasakan suatu cairan yang hangat dan kental terpancar dari alat kejantanannya membanjiri liang senggamaku. Nafas Priyono dengan kuat menyapu wajahku. Saat yang mendebarkan itu berlangsung lama sekali. Sangat sukar aku lukiskan betapa kenikmatan yang kualami dari kesemuanya itu. Akhirnya kami terbaring dengan segala kelelahan namun dalam suatu alam kenikmatan lain yang belum pernah aku alami bersama suamiku. Yang terang ketika Priyono menarik alat kejantanannya dari liang senggamaku, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam tubuhku.

Sisa malam itu tidak kami sia-siakan begitu saja. Kami menghabiskan sisa malam itu dengan melakukan hubungan intim beberapa kali lagi bagaikan sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu dalam suatu hubungan persetubuhan yang sangat dahsyat dan belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Kami terus berasyik-masyuk sampai saat-saat terakhir kami kembali ke rumah masing-masing ketika hari sudah menjelang subuh.

Keesokan harinya ketika aku terbangun, aku merasa bagaikan seorang wanita yang baru dilahirkan kembali. Demikian pula suamiku. Aku merasakan adanya suatu kesegaran dan kecerahan lain dari yang lain dan penuh dengan semangat kegairahan hidup. Hal ini membawa pengaruh kepada hari-hariku selanjutnya. Aku merasa mendapatkan suatu horizon baru dalam kehidupan. Demikian juga suamiku, kurasakan cinta kasih kami semakin bertambah dari waktu-waktu sebelumnya. Kehidupan rumah tangga kami serasa lebih harmonis penuh dengan keceriaan dan kegembiraan daripada waktu-waktu yang lalu. Dengan demikian tidak mengherankan kiranya apabila aku dan suamiku terus menghadiri arisan itu beberapa kali dan selama itu pula aku telah dapat merasakan berbagai macam type alat kejantanan laki-laki dalam berbagai macam bentuk dan ukuran serta berbagai macam tehnik permainan hubungan kelamin dengan para suami orang lain. Akan tetapi yang penting dari kesemuanya itu, di lain keadaan, aku menyadari suatu hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan maupun kubayangkan sebelumnya, bahwa alat kejantanan suami kita sendiri sesungguhnya juga mempunyai suatu keistimewaan tersendiri. Aku dapat mengetahuinya kesemuanya itu karena aku telah dapat membandingkannya dengan alat kejantanan dari suami-suami orang lain.


Ibu Tiara

Namaku Iful..umur 29 taon, tinggi 168 paras badanku tegap, rambutku lurus dan ukuran vitalku biasa saja normal orang indonesia lah, panjangnya kira-kira 16 cm dan diameternya aku nggak pernah ukur.. Aku tinggal di rumah kontrakan istilahnya apartement menyamping. Dan ada tetanggaku yang bernama Ibu Tiara, berjilbab, umurnya sekitar 33 taon, anaknya dah 3, yang paling besar masih sekolah kelas 5 SD otomatis yg palg kecil umur 1,8 bulan, sedangkan suaminya bekerja di kontraktor (perusahaan) sebagai karyawan saja. Setiap hari Ibu tiara ini wanita yang memakai jilbab panjang-panjang sampai ke lengan2nya boleh dikatakan aku melihatnya terlalu sempurna utk ukuran seorang Wanita yag sdh berumah tangga dan tentunya aku sangatlah segan dan hormat padanya.

Suatu ketika suaminya sudah pergi kekantor untuk kerja dan aku sendiri masih di rumah rencananya agak siangan baru aku ke kantor . “Iful…”ibu tiara memanggil dari sebelah…karena aku masih malas hari ini so aku tidur2an aja di tempat tidurku..”Iful…Iful….” Ibu minta tolong bisa..?? ujar Ibu Tiara dari luar..aku sbenarnya sudah mendengar namun rasanya badanku lagi malas bangun. Karena mungkin aku yang dipanggil tadak segera keluar, maka Ibu tiara dengan hati-hati membuka pintu rumahku dan masuk pelan-pelan mencari aku.

Seketika itu juga aku pura-pura tutup mataku..dia mencariku dan akhirnya dia melihat aku tidur di kamar. “ohh….” Ujarnya…spontan dia kaget…karena kebiasaan kalau aku tidur tidak pernah pake baju dan hanya celana dalam saja. Dan pagi itu kontolku sebenarnya lagi tegang …biasa penyakit di pagi hari…(heheheh) seketika itu dia langsung balik melangkah dan menjauh dari kamarku. kucoba mengintip dengan sebelah mataku…”dia sudah tidak ada” ujarku dalam hati. Namun tidak lama kemudian dia balik lagi dan mengendap2 mengintip kamarku …sambil tersenyum penuh arti…cukup lama dia perhatikan aku dan setelah itu ibu tiara langsung balik ke rumahnya.

Besok pagi setelah semuanya telah tidak ada di rumhnya ibu tiara, tinggal anaknya yg plg kecil dah tidur aku. Sayup-sayup aku dengar di samping rumahku yang ada di belkang, sepertinya ada yg mencuci pakaian …aku intip di belakang.. Oohh ibu tiara sedang mencuci pakaian.. namun dia hanya memakai daster terusan panjang dan jilbab.. Karena dasternya yang panjang, maka dasternya basah sampai ke paha …saat aku sedang mengintip..ibu tiara lgsg berdiri dan mengangkat dasternya sekaligus mencopot celana dalamnya dan langsung dicuci sekalian …otomatis…saat itu aku melihat ooooohhh….memeknya yang merah dan pahanya yang putih di tumbuhi bulu2 halus …aku langsung berputar didalam otakku.. ku ingin rasanya mencicipi memek yang indah dari ibu tiara yang berjilbab ini..

“Maaf ibu tiara…kemarin ibu ada perlu saya??” tanyaku.. mengagetkan ibu tiara dan serta-merta dia langsung merapikan dasternya jilbab tersingkap sampai ke paha.. “Iya nih mas Iful..Ibu kemarin mau minta tolong pasangin lampu di kamar mandi “katanya. “kalo gitu sekarang aja bu..

Soalnya sebentar lagi saya mau kerja “sambil mataku melihat dasternya…membayangkan apa yang didalamnya. “Oooh iya ..lewat sini saja..” Ujarnya..karena memang tipe rumah kost yg aku tempati dibelakangnya Cuma di palang kayu dan otomatis kegiatan para tetangga kelihatan di belakang. Aku lngsung membuka kayu dan sengnya dan masuk ke dalam dan ibu tiara membawaku didepan …aku mengikuti di belakang…oohhh…seandainya aku bisa merasakan memek dan pantat ini sekarang ” gumamku dalam hati. “ini lampunya dan kursinya.. Hati2 yah jng sampe ribut soalnya anaku lg tidur “kata Ibu Tiara..

Aku lngsung memasang dan ibu tiara melanjutkan mencuci nya, setelah selesai aku lngsg bilang “ibu sudah selesai “kataku.. Kemudian ibu tiara langsung berdiri..tapi saat itu dia terpeleset ke arahku …seketika itu aku menangkapnya..ups…oh tanganku mengenai payudaranya yg montok dan tanganku satu lagi mengenai langsung pantatnya yg tidak pake celana dalam dan hanya ditutupi daster saja …”maaf Dik Iful…agak licin lantainya”ujarnya tersipu-sipu..

Iful tunggu yah ibu bikinin Teh “ujarnya lagi…Dia ke dapur dan dari belakang aku mengikutinya secara pelan2..saat teh lagi diaduk di dalam gelas..langsung aku memeluknya dari belakang… iiful…apaan2 neh…sentak Ibu Tiara…maaf bu…saya melihat ibu sangatlah cantik dan seksi.. “ujarku…Jangan Iful…aku sudah punya suami ..”tapi tetap ibu tiara tidak melepaskan pegangan tanganku yang mampir di pinggangnya dan dadanya.. Iful…jangaann.. langsung aku menciumi dari belakang menyikapi jilbabnya.. sluurrp.. Oh..betapa putihnya leher ibu tiara ‘ujarku dlm hati…okhh.. Iful…hmmm…ibu tiara menggeliat..langsung dia membalik badannya menghadapku..Iful …aku udah beres…saat dia mau ucapin sesuatu..langsung aku cium bibirnya …mmmprh…tak lama dia langsung meresponku dan langsung memeluk leherku .mmmmhprpp ….bunyi mulutnya dan aku beradu…aku singkapi jilbabnya sedikit saja..

Sambil tanganku mencoba nenen menggerayangi dadanya …aku melihat dasternya memakai kancing dua saja diatas dadanya.. Aku membukanya..dan tersembullah buah dadanya yang putih mulusss …slurp…kujilat dan isap pentilnya.. Iiiful….ooohhh….ufhhh….”lirihnya sslurrpp….slurp..saa t aku jilat.. Sepertinya msh ada sedikit air susunya …
hmmmm…tambah nikmatnya..slurp..slurp.. ngehe

Sambil menjilat dan menyedot susunya..aku tetap tidak membuka jilbab maupun dasternya …tapi tanganku tetap menarik dasternya keatas.. Karena dari tadi dia tidak pake celana dalam …maka dengan gampang itilnya ku usap-usap dengan tanganku …Ohhh…oh.. Ssssshhhh…gumam ibu tiara..kepalaku ku dekatkan ke memeknya dan kakinya kurenggangkan..

Ssluruupp….pelan2 kujilati itil dan memeknya…oh iful…eennakkh.. Oghu…mmmpphhff…teriaknya pelan…kulihat kepalanya telah goyang ke kanan dan kekiri.. Pelan-pelan sambil lidahku bermain di memeknya …kubuka celana pendekku dan terpampanglah kontolku yang telah tegang.. Namun ibu tiara masih tidak menyadari akan hal itu …pelan-pelanku mengangkat dasternya.. Namun tidak sampai terbuka semuanya..hanya sampai diperutnya saja …dan mulutku mulai beradu dengan bibirnya yang ranum …mmmppghh…iful.. ku…”ujar ibu tiara..kuhisap dalam-dalam lidahnya…slurp.. Caup…oh ibu sungguh indah bibirmu, kobeln memekmu dan semuanya …lirihku.. Sambil menjilat seluruh rongga mulutnya …kubawa ia ke atas meja makannya dan kusandarkan ibu tiara dipinggiran meja …tanganku kumainkan kembali ke itil dan sekitaran memeknya …ahh..oh…Ifulll….i bu udah nggak kuaatttttt…lirih Ibu tiara. Pelan2 ku pegang kontolku…kuarahkan ke memeknya yang sudah basah dan licin ….dan bleessssshh….ohhh.. Ufgh hh….Ifulll….Teriak Ibu tiara. Slpep…slepp….

Kontolku kudiamkan sebentar ….Ibu Tiara sepontan melihat kewajahku..dan langsung ia menunduk lagi …kududukkan di atas meja makan dan kuangkat kakinya …mulailah aku memompanya..slep…slep..selp. Blssss….oh memeknya ibu sangat enak….Iful…kontolmu juga sangat besar….rupanya ibu tiara udah tidak memikirkan lagi norma2..yang ada hanyalah nafsu birahinya yang harus dituntaskan ….berulang-ulang ku pompa memeknya dengan kontolku ….oohh..akhh…Ifull….ku balikkan lagi badannya dan tangannya memegang pinggiran meja …ku tusuk memeknya dari belakang bleess. Ohhhhh….teriak Ibu Tiara.

Kuhujam sekeras-kerasnya kontolku …tanganku remas2 susunya ….aku liat dari belakang sangat bagus gaya ibu tiara nungging ini, tanpa melepas daster dan jilbabnya..kutusuk terus …sleeeepp….sleeps Hingga kurang lebih setengah jam ibu tiara bilang …Iful….ibu udah nggak tahan…..sabar bu bentar lagi saya juga……Ujarku. Oh…ohhhh…ufmpghhh …Iful. ibu mau keluarrrr…achhhh… semakin kencang dan terasa memeknya menjepit kontolku dan oohhhhh …ku rasakan ada semacam cairan panas yang menyirami kontolku di dalam memeknya ….semakin kupercepat gerakan menusukku.. Slep….slurp…bleeppp… . oh Ibu aku juga dah mo sampai neh …..cepat Iful…ibu bantu….oho….uhhhhh….ibu tiara menggoyangnya lagi…dan akhirnya Ibu…. aku mo keluarrr…..sama2 yang iful …. ibu juga mau keluar lagi. Teriaknya … dan ….Ohhh.. ack…. ahhhhh.. aku dan ibu tiara sama–sama keluar … dan sejenak kulihat di memeknya terlihat becek dan banjir. Setelah hening sejenak…ku cabut kontolku dan kupakai celana pendek setelah itu ibu tiara merapikan Daster dan jilbabnya. Langsung aku minta maaf kepadanya “Bu..mohon maaf ..Iful khilaf.” kataku.

“Tidak apa2 kok iFul…ibu juga yang salah…yang menggoda Iful” ujarnya. Aku langsung pamitan kembali ke rumahku sebelah dan mandi siap2 kerja. Setelah mandi kulihat ibu tiara sedang menjemur pakaian. tapi jelas didalam daster ibu tiara tidak memakai celana dalam karenn terlihat tercetak lewat sinar matahari pagi yang meninggi mulai mendekati jam 10 pagi. Sebelum aku pergi ku sempatkan pamitan ke ibu tiara dan dia tersenyum. Tidak tau apakah ada artinya atau tidak.


model yunior

Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.

Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar. Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kon**lnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.

Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis. Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon**lnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om And mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.

Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku. “Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngen totin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya. Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point. “Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng gimana”, tanyaku. Om and segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dien tot. “Kamu kan udah sering dientotkan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku. “Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.

Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kon**lnya serta kukocok hingga kurasakan kon**l itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar. “Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut om andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku. “Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientotsatu ronde”, katanya.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya. “Ines ga tahan lagi om, Ines emut kon**l om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadanya dan menyodorkan kon**lnya. kon**lnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kon**l yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kon**lnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh kon**lnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kon**lnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan. “Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala kon**l itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku.

Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kon**lnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku. Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. “Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum. “Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko sampai habis. Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kon**lnya dari luar celananya, membuatnya terangsang

Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya. “Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku. Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kon**lnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kon**l om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kon**lnya, kurasakan kon**lnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kon**lnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan. “Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.

Om andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kon**lnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kon**l yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan kon**lnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kon**lnya memasuki nonokku. Aku dien totnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kon**l Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngen tot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientotdari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kon**l yang lain makin menghujam ke tubuhku. kon**l Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kon**l Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kon**l Joko. Bersamaan dengan itu pula gen totan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.

Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. “Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko. Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.

“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kon**lnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kon**l om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku. “Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan. Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kon**lnya. Kini nonokku telah terisi oleh kon**lnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku. “Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya. Setelah 15 menit dia gentotaku dalam posisi itu, dia melepas kon**lnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kon**lnya. Dengan refleks akupun menggenggam kon**l itu sambil menurunkan tubuhku hingga kon**lnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko memperhatikan kon**lnya sedang keluar masuk di nonokku.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika om andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om andi membuka pantatku dan mengarahkan kon**lnya ke sana. “Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia mendorong masuk kon**lnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kon**l kon**l besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om andi malah makin buas menggen totku. Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kon**l masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir “Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kon**l mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.

Om andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kon**lnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2. “Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kon**lnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus. “Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan. Tangannya terus saja mengelus2 nonokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak. “Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kon**lnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kon**lnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.

Tiba2 dia mencabut kon**lnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kon**lnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kon**l yang besar, dia mulai mengenjotkan kon**lnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kon**lnya yang panjang ambles di nonokku. “Enak om , kon**l om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan. enjotan kon**lnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kon**lnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientotaku udah merasa mau nyampe, “om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku. “Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kon**lnya. Akhirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan. Dia masih terus saja mengenjotkan kon**lnya keluar masuk dengan cepat dan keras.

Tiba2 dia mencabut kon**lnya dari nonokku. “Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku. Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing. “Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku. Dia diam saja. Segera kon**lnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kon**lnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi, “Om , nikmat”, erangku lagi. Jarinya terasa

mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kon**l besar panjang yang sedang keluar

masuk, “Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku. Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke itilku, sambil dientotitilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dientotdengan cara seperti itu. “Om , nikmat banget nge***tsama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya. Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kon**lnya. Tak lama kemudian, “Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengen totkan kon**lnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret. “Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku. Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kon**lnya tercabut dari nonokku. “Om , nikmat deh, sekali entotaja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku. “Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku. Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi. Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kon**lnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku. Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya, “Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku. Tanganku masih mengocok kon**lnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu, “Jok , nikmat banget “, erangku.

Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku. “Aah Jok , enak banget, belum dientotaja udah nikmat banget”, erangku. Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan itilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dien tot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonoku yang basah berlendir itu. Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kon**lnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kon**lnya. “Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji. Cukup lama aku mengemut kon**lnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku, kon**lnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.

Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kon**lnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk, “Jok , enak”, erangku.Dia mulai mengenjotkan kon**lnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kon**lnya nancep semua di nonokku. “Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kon**l berkali2ya”, katnya. “Tapi enak kan, abis kon**l kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah. Dia mulai mengenjotkan kon**lnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya. “Enak Jok, aah”, erangku keenakan. enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2, “Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku. “Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya. “Abisnya kon**l kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi. enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku

“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kon**lnya keluar masuk. “Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget.

Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kon**lnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kon**lnya sehingga dia melenguh, “Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya “Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya. “Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kon**lnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.

Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om andi yang masih pengen ngen totin aku lagi. kulihat kon**lnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonoku makin terbuka. “Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku. Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.

Aku menggelepar2 ketika itilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan. “Om, masukin dong om , Ines udah pengen dien tot”, rengekku. Dia langsung menindih tubuhku, kon**lnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kon**lnya menerobos masuk, “Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak. Dia langsung mengenjotkan kon**lnya dengan keras sehingga sebentar saja kon**lnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kon**lnya terasa masuk lebih dalem lagi. “Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi. Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku

menggeliat2 saking nikmatnya, “Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kon**lnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi, “om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.

Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kon**lnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kon**lnya. Dia meringis keenakan. “Nes, terus

diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya. Sementara itu enjotan kon**lnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya. “Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “,

kataku. Terus saja kon**lnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya, “Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku
erat2, “Nes, nikmat banget deh nge***tama kamu”, katanya.

Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dientot2 cowok berkali2. “Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku. “Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya. Joko hanya tersenyum saja. Gak lama setelah mobil jalan, akupun tertidur.


Kepuasan Dalam Perselingkuhan

Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat. Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.

Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.

“Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?” tanyaku.

“Mungkin sekitar 10 menit” jawabnya pasti.

“Gaya apa yang dipakai suami kamu?”

“Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala”

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.

“Kira-kira berapa besar penis suami kamu?”

“Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!” jawabnya bingung.

Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.

“Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?”

Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.

“Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!”

Aku tak dapat menahan senyumku.

“Maksud kamu, ‘helm’nya masih nongol?”

“Ya!” Dewipun tersenyum juga.

Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.

“Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!”

“Bagaimana dengan kekerasannya?” tanyaku lagi.

“Keras sekali, Pak, seperti batu!”

Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?

“Kok diam Pak?”

“Aku lagi mikir penyebabnya.”

“Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar” terangnya.

Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.

“Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan.”

Aku sedikit mengerti maksudnya,

“Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?” tanyaku.

“Ya, betul, kenapa ya Pak?”

Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.

“Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?”

“Oke deh!” sahutnya riang sambil meninggalkan aku.

Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.

Aku kirim SMS kepadanya, “Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak untuk mengobrol”. 5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.

“Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya”

Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,

“Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang & aku suami orang juga”

Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang. Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.

“Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?”

Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.

“Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!”

“Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?”

“Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping”

“Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!”. jawabku tegas.

“Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!”

Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.

Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat,

“Belum berhasil, Pak!”.

Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.

Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.

“Memang kenapa?”

Tak lama Dewi pun membalasnya.

“Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak.”

Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.

“Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak”

Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?”

Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.

Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.

Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,

“Pak.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya

Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,

“Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?” suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.

“Terserah Bapak deh” jawabnya manja sambil mencubit tanganku.

Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,

Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,

“Tubuh kamu bagus sekali, Wi!” Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.

Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat,

Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.

Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,

Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.

“Terima kasih, Pak” ia mencium keningku.

“Saya masih mau lagi” ucapnya serak.

Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.

“Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?” sambil aku mempercepat kocokanku.

“Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya.

Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.

Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.

Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.

Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan.


Naksir Rita… Dapet Ibunya

Saat itu aku Ronny masih kuliah dan saya mempunyai teman karib namanya Mona, dari Sumatera, dia menumpang di rumah tantenya. Kebetulan antara saya dan Mona mempunyai hoby yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik, lempar lembing. Saya sering bertandang ke rumahnya, makin lama makin sering. Karena saya juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak tantenya. Walau saya sudah menjadi akrab dengan keluarganya, tapi Rita tak kunjung kupacari.

Setelah selesai SMA Mona melanjutkan studi di Kota lain, tapi aku mencoba untuk bertandang ke rumah Rita, tapi jarang ketemu.

Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal. Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih menjadi wakil rakyat. Harapanku memacari Rita tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung, justru bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang sering menemuiku. karena Rita ada kesibukan di Jakarta, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di sebuah stasion teve swasta di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur Rita masih kalah dengan ibunya. Bu Ita lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Rita agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga.

Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ita dan seorang pembantu. Mona sudah tidak di situ, sementara Rita sekolah di ibukota, paling-paling seminggu pulang. Akhirnya saya di suruh bu Ita untuk membantu sebagai karyawan tidak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya saya memiliki kemampuan di bidang komputer dan manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA. Setelah mengetahui manajemen perusahaan bu Ita lalu saya menawari program akuntansi dan keuangan dengan komputer, dan bu Ita setuju bahkan senang. Merencanakan kalkulasi biaya proyek yang ditangani perusahaannya, dsb. Saya menyukai pekerjaan ini. Yang jelas bisa menambah uang saku saya, bisa untuk membantu kuliah, yang saat itu baru semester dua. Bu Ita memberi honor lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu Ita ada tiga cewek di kantor, tambah saya, belum termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek yang harus dikerjakan. Part time begitu. Bagi saya ini hanya kerja sambilan tapi bisa menambah pengalaman.

Karena hubungan kerja antara majikan dan pegawai, hubungan saya dengan bu Ita semakin akrab. Semula sih biasa saja, lambat-laun seperti sahabat, curhat, dan sebagainya. Aku sering dinasehati, bahkan saking akrabnya, bercanda, saya sering pegang tangannya, mencium tangan, tentu saja tanpa diketahui rekan kerja yang lain. Dan rupanya dia senang. Tapi aku tetap menjaga kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan jantungku, betapapun dan siapapun bu Ita, dia mampu menggetarkan dadaku. Walaupun sudah cukup umur wanita ini tetap jelita. Saya kira siapapun orangnya pasti mengatakan orang ini cantik bahkan cantik sekali. Dasar pandai merawat tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin fitnees, di rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA dulu, tapi karena saya kepingin mendekati Rita, hal itu saya kesampingkan. Data-data pribadi bu Ita saya tahu betul karena sering mengerjakan biodata berkaitan dengan proyek-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya saat kisah ini terjadi 37 tahun, lima bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ideal.

Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan proyek dan paginya harus didaftarkan untuk diikutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesai, tapi aku agak terhibur bu Ita mau menemaniku, sambil mengecek pekerjaanku. Dia cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia malah sering bercanda. Bahkan kalau minumanku habis dia tidak segan-segan yang menuang kembali, aku malah menjadi kikuk. Dia tak enggan pegang tanganku, mencubit, namun aku tak berani membalas. Apalagi bila sedang mencubit dadaku aku sama sekali tidak akan membalas. Dan yang cukup surprise tanpa ragu memijit-pijit bahuku dari belakang.

“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.

Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga, dipijit janda cantik. Apalagi yang kurasakan dadanya, pasti teteknya menyenggol kepalaku bagian belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku sengaja saya pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja. Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa rambut itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir pukul 23.00 baru selesai semua pekerjaan, saya membersihkan kantor dan masih dibantu bu Ita. Wah wanita ini betul-betul seorang pekerja keras, gumanku dalam hati.

Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi kembali minum.

“Kamu sudah punya pacar Ron?”

“Belum Bu”, jawabku

“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana yang tak mau dengan cowok ganteng”, katanya

“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan penerangan yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami berdua saling berpegangan tangan saling meremas lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol tangannya…

Mungkin karena terbawa suasana malam yang dingin dan suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar suara mobil melintas di jalan raya serta sayup-sayup suara binatang malam, saya dan bu Ita hanyut terbawa oleh suasana romantis. Bu Ita yang malam itu memakai gaun warna hitam dan sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wanita pengusaha ini makin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi bergemetaran, dan tak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap memegang tangannya.

“Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu.

Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap lengan kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.

“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.

Terasa dingin, sementara tangannya juga merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak di sekitar, aku duduk, menambah suasana romantis.

“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”, kataku gemetar.

“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”, katanya.

Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup kening wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia menengadahkan wajahnya. Tanpa diajari atau diperintah oleh siapapun, kukecup bibir indahnya. Dia menyambut dengan senyuman, kami saling berciuman bibir saling melumat bibir, lidah kami bertemu berburu mencari kenikmatan di setiap sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing-masing. Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku dan bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi semakin terangsang dalam permainan yang indah ini.

Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia tersenyum manis bahkan amat manis, dibanding waktu-waktu sebelumnya. Kami berangkulan kembali, seolah-olah dua sejoli yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan, padahal antara majikan dan pegawainya. Dia mulai mencumi leherku dan menggigit lembut semantara tanganku mulai meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya, kemudian menjalar ke pinggulnya.

“Sejak kamu kesini dengan Mona dulu, saya sudah berpikir: “Ganteng banget ini anak!””, katanya setengah berbisik.

“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya senang mendapat sanjungan.

“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.

Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian juga dada bu Ita. Diapun nampak bergetaran dan suaranya agak parau.

Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik tangan bu Ita yang supaya ikut berdiri. Dalam posisi ini dia saya dekap dengan hangatnya. Hasrat kelakianku menjadi bertambah bangkit dan terasa seakan membelah celana yang saya pakai. Lalu saya bimbing dia ke kamarnya, bagai kerbau dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami berbaring bersama di spring bed, kembali kami bergumul saling berciuman dan becumbu.

“Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih.

Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju lemari dan mengambil pakaian sambil menyodorkan kepada saya.

“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur.

Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian memakai kimononya.

Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku tertidur. Baru sekitar setengah jam saya terbangun lagi. Dalam kondisi begini, jelas aku susah tidur. Udara terasa dingin, saya mendekapnya makin kencang. Dia menyusupkan kaki kanannya di selakangan saya. Penisku makin bergerak-gerak, sementara cumbuan berlangsung, penisku semakin menjadi-jadi kencangnya, yang sesungguhnya sejak tadi di sofa.

Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana? Apakah saya lanjutkan atau diam saja? Lama aku berfikir untuk mengatakan tidak! Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat, nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada ubun-ubunku. Walaupun aku diamkan beberapa saat, tetap saja kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang saya sadar, wanita yang ada didekapanku adalah majikanku, tantenya Mona, mamanya Rita, tapi sebagai pria normal dan dewasa aku juga merasakan kenikmatan bibir dan rasa perasaan bu Ita sebagai wanita yang sintal, cantik dan mengagumkan. Sedikitnya aku sudah merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meski pengalaman ini baru pertama kali kualami.

Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti ini aku semakin bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatikan wajahnya di bawah sorot lampu bed, sengaja saya lihat lama dari dekat, wajahnya memancarkan penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan, saya tidak tahu apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Aku cium lembut bibirnya, dan dia menyambutnya. Berarti dia tidak tidur. Ku singkap gaun tidurnya kemudian kulepas, dia memakai beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh bu Ita, putih dan indah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dia mengeliat geli dan membuka matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyusup ke balik baju tidur yang kupakai dan menarik talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.

“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu berapa, ya?”, bisiknya. Saya tersenyum senang.

“Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”, mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum.

Aku berusaha membuka behanya dengan membuka kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan cedenya sehingga aku semakin takjub melihat keindahan alam yang tiada tara ini. Hal ini menjadikan dadaku semakin bergetar. Betapa tidak?! Aku berhadapan langsung dengan wanita tanpa busana yang bertubuh indah, yang selama ini hanya kulihat lewat gambar-gambar orang asing saja. Kini langsung mengamati dari dekat sekali bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang selama ini saya lihat berkulit putih bersih hanya pada bagian wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang tampak seluruhnya tiada yang tersisa. Menakjubkan!

Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan indah itu. Di saat saya masih bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya dan bu Ita sama-sama tak berpakaian. Penisku benar-benar maksimal kencangnya. Kami berdua berdekapan, saling meraba dan membelai. Kaki kami berdua saling menyilang yang berpangkal di selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang ikut membelai paha indah bu Ita. Sementara itu ia membelai-belai lembut penisku dengan tangan halusnya, yang membawa efek nikmat luar biasa.

Tanganku membela-belai pahanya kemudian kucium mulai dari lutut merambat pelan ke pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku makin bergetaran karena kami saling mencumbu, aku meraba selakangannya, ada rerumputan di sana, tidak terlalu lebat jadi enak dipandang. Dia mengerang lembut, ketika jemariku menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya dengan lembut dan mengedot puntingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan, lalu membenamkan wajahku di antara kedua susunya. Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya. Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut indahnya. Aku semakin bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan selakangannya, yang ternyata basah itu. Saya penasaran, lalu kubuka kedua pahanya, kemudian kusingkap rerumputan di sekitar kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu aku belai-belai dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan, menyenangkan sekali. Bu Ita mengerang lembut sambil menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu jariku kumasukkan keterowongan pink tersebut dan menari-nari di dalamnya. Dia semakin bergelincangan. Kelanjutannya ia menarikku.

“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik

Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.

Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil bertumpu pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia tidak berat menompang tubuhku. Sementara itu senjataku terjepit dengan kedua pahanya. Dalam posisi begini saja enaknya sudah bukan main, getaran jantungku makin tidak teratur. Sambil menciumi bibirnya, dan lehernya, tanganku meremas-remas lembut susunya. Penisku menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut), kemudian turun berulang-ulang Tak lama kemudian kakinya direnggangkan, lalu pinggul kami berdua beringsut, untuk mengambil posisi tepat antara senjataku dengan lubang kewanitaannya. Beberapa kali kami beringsut, tapi belum juga sampai kepada sasarannya. Penisku belum juga masuk ke vaginanya

“Alot juga”, bisikku. Bu Ita yang masih di bawahku tersenyum.

“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang penisku dan menuntun memasukkan ke arah kewanitaannya.

“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun menuruti saja, menekan pinggulku…

“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk itulah, rasa nikmatnya amat sangat. Seolah aku baru memasuki dunia lain, dunia yang sama sekali baru bagiku. Aku memang pernah melihat film orang beginian, tetapi untuk melakukan sendiri baru kali ini. Ternyata rasanya enak, nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan kenikmatan tubuh wanita.

Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-turun, naik-turun, kadang cepat kadang lambat, sambil memandang ekspresi wajah bu Ita yang merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sambil keluar suara tak disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya sendiri.

“Ah… uh… eh… hem””

Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut dengan menekan pula ke atas, supaya penisku masuk menekan sampai ke dasar vaginanya. Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan dan rasa kenikmatan berjalan merangkak sampai berlari-lari kecil berkejar-kejaran. Di tengah peristiwa itu bu Ita berbisik

“Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu cepat capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, ketika saya mulai menggenjot dengan semangatnya.

“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.

Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya mengikuti gerakan pinggulnya yang hanya sesekali dilakukan. Ternyata model ini lebih nyaman dan mudah dinikmati. Sesekali kedua kakinya diangkat dan sampai ditaruh di atas bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar, bahkan kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku terjepit ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami lakukan berdua membawa efek kenikmatan tersendiri. Setelah lebih dari sepuluh menit , aku menikmati tubuhnya dari atas, dia membuat suatu gerakan dan aku tahu maksudnya, dia minta di atas.

Aku tidur terlentang, kemudian bu Ita mengambil posisi tengkurap di atasku sambil menyatukan alat vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia memasukkan penisku rasanya ketat sekali menghujam sampai dalam. Sampai beberapa saat bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya bergelantungan nampak indah sekali, kadang menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang. Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung kudot. Gerakan wanita berambut sebahu ini makin mempesona di atas tubuhku. Kadang seperti orang berenang, atau menari yang berpusat pada gerakan pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang gerakan itu nampak indah di cermin sebelah ranjang. Tubuh putih nan indah perempuan setengah baya menaiki tubuh pemuda agak coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi!

Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit, kian lama kian kencang dan cepat, gerakannya. Nafasnya kian tidak teratur, sedikit liar. Kayak mengejar setoran saja. Tanganku mempererat rangulanku pada pantat dan pinggulnya, sementara mulutku sesekali mengulum punting susunya. Rasanya enak sekali. Setelah kerja keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya”

“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia orgasme.

Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku, nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah merasakan keenakan yang mencapai klimaknya. Nafasnya berkejar-kejaran, gerakannya lambat laun berangsur melemah, akhirnya diam. Ia menjadi lemas di atasku, sambil mengatur nafasnya kembali. Aku mengusap-usap punggung mulusnya. Sesekali ia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan, pelan sekali, merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya. Beberapa menit dia masih menindih saya.

Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap untuk saya tembak lagi. Kini giliran saya menindihnya, dan mulai mengerjakan kegiatan seperti tadi. Gerakan ku pelan juga, dia merangkul aku. Naik turun, keluar masuk. Saat masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia bisa menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh aku menikmati seluruhnya tubuh bu Ita. Ruaar biasa! Tiba-tiba suatu dorongan tenaga yang kuat sampai diujung senjataku, aliran darah, energi dan perasaan terpusat di sana, yang menimbulkan kekuatan dahsyat tiada tara. Energi itu menekan-nekan dan memenuhi lorong-lorong rasa dan perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran. Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh indah, yang mengimbangi dengan gerakan gemulai mempesona. Akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar membawa kenikmatan luar biasa”, suara tak disengaja keluar dari mulut dua insan yang sedang dilanda kenikmatan. Air maniku terasa keluar tanpa kendali, menyemprot memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ita.

“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan.

Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun makin merapatkan tubuhnya terutama pada bagian bawah perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,

“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.

“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.

“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”, tanyaku agak heran.

“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.

Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin. Rasanya cukup menguras tenaga, bagai habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan jauh, tapi saya masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Selang beberapa menit, setelah kenikmatan berangsur berkurang, dan terasa lembek, saya mencabut senjataku dan berbaring terlentang di sisinya sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya. Perempuan punya bentuk tubuh indah itupun terlihat puas, seakan terlepas dari dahaganya, yang terlihat dari guratan senyumnya. Saya lihat selakangannya, ada ceceran air maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan ada yang di pahanya. Pengalaman malam itu sangat menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku menaiki bu Ita, aku lupa. Yang jelas kami beradu nafsu hampir sepanjang malam dan kurang tidur.

Keesokan harinya. Busa-busa sabun memenuhi bathtub, aku dan bu Ita mandi bersama, kami saling menyabun dan menggosok, seluruh sisi-sisi tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut. Saya senang sekali dan sudah barang tentu membawa efek nikmat.

“Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus, kayak tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya sambil menimang-nimang tititku.

“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum bersama.

Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti sedang nyapu halaman depan, kalau aku keluar rumah tidak mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru pukul setengah enam. Tetapi senjata ini belum juga turun, tiba-tiba hasrat lelakiku kembali bangkit kencang sekali. Kembali meletup-letup, jantung berdetak makin kencang. Lagi-lagi aku mendekati janda yang sudah berpakaian itu, dan kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku lebih tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu ku lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria dan menuju tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini saling bercumbu, mengulangi kenikmatan semalam.

Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang indah paduan antara pinggul depan, pangkal paha, dan rerumputan sedikit di tengah menutup samara-samar huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya. Aku buka dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi, mulai dari lutut, kemudian merambat ke paha mulusnya. Sementara tangannya mengurut-urut lembut penisku. Tubuhku mulai bergetaran, lalu aku membuka selakangannya, menyibakkan rerumputan di sana. Aku ingin melihat secara jelas barang miliknya. Jariku menyentuh benda yang berwarna pink itu, mulai bagian atas membelai-belainya dengan lembut, sesekali mencubit dan membelai kembali. Bu Ita bergelincangan, tangannya makin erat memegang tititku. Kemudian jariku mulai masuk ke lorong, kemudian menari-nari di sana, seperti malam tadi. Tapi bibir, dan terowongan yang didominasi warna pink ini lebih jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi paham dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ita, yang menghebohkan semalam.

Gelora nafsu makin menggema dan menjalar seantero tubuh kami, saling mencium dan mencumbu, kian memanas dan berlari kejar-kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika puncak kenikmatan mulai nampak dan mendekat ketat. Sebuah kejutan, tanpa aku duga sebelumnya penisku yang sejak tadi di urut-urut kemudian dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga mulutnya. Rasanya saya diajak melayang ke angkasa tinggi sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang, sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ita yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-bagiannya secara seksama itu. Benda ini memang rasanya tiada tara, ketika kumasukkan, tidak hanya saya yang merasakan enaknya penetrasi, tetapi juga bu Ita merasakan kenikmatan yang luar biasa, terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan lembut dari mulutnya.

“Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke arah selakangannya, sambil menekankan pula pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi samodra birahi yang menakjubkan, pagi itu.

Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar pukul setengah delapan, saat Darti mencuci di belakang. Dalam perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku, tanpa terpikirkan sebelumnya. Sebuah wisata seks yang tak terduga sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih, prosesnya mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan kehangatan tubuh bu Ita secara utuh, orang yang selama ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona wajah bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya dalam ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang pria.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, si kumbang muda makin sering mendatangi bunga untuk mengisap madu. Dan bunga itu masih segar saja, bahkan rasanya makin segar menggairahkan. Memang bunga itu masih mekar dan belum juga layu, atau memang tidak mau layu.