Latest

kenalan lama temen sms

Suatu siang aku jalan-jalan kepusat perbelanjaan buat refresing….ya..liat-liat cewek cantik.Begitu aku lagi liat kiri kanan..eee..tak taunya seseorang menubrukku .Wanita ini sepertinya habis belanja banyak dan tergesa-gesa hingga tak tahunya menubruk orang. Begitu bertabrakan…aku langsung membantu memberesi barang-barangnya yang berserakan.Tak lupa kuucapkan permintaan maafku padanya karena tak sengaja menabraknya….walau sebenarnya dialah yang harus minta maaf padaku.
“Maaf ..mbak…nggak sengaja nih…”kataku padanya.
“ya…nggak apa-apa lagi….oya..kamu Andy kan….”katanya padaku.
“iya..saya Andy….dan mbak siapa ya…kok tahu nama saya”
“kamu nggak ingat sama aku ya…teman SMA kamu…yang suka jahilin kamu….”katanya padaku.
“siapa ya….eeeee….maaf …Rani ya….SiBunga SMA “
“Tepat sekali ….tapi tadi kok kamu manggilin aku mbak seh…”
“Maaf deh….abis aku nggak tau siapa kamu..”
“kenapa..lupa ya sama aku….atau emang udah dilupain ya…”
“ya..gimana ya..kamu cantik banget ..beda dengan yang dulu..”kataku sedikit memujinya.
“ak kamu ….biasa aja kok…”katanya sambil tersipu malu.
“oh ya….kita kekafe yuk..buat ngerayain pertemuan kita ini…”
“ok deh…tapi kamu yang traktir aku ya…abis aku lagi bokek nih”kataku padanya
“ya..nggak masalah lagi….”
Aku dan rani pergi kekafe langgananya Rani.Sampai disana ..kami memilih meja yang paling pojok.Suasana didalam kafe ini sangat sejuk dan nyaman…membuat orang yang berada didalamnya betah untuk duduk berlama-lama.
“Gimana kabar kamu sekarang andy…..udah berkeluarga ya…”tanya rani padaku.
“aku seh baik-baik aja….masih sendiri lagi….masih kepengen bebas”
“kalau kamu gimana….udah bekeluarga ya….”tanyaku padanya.
“aku udah married….udah 3 tahun”
“asyik dunk….trus suami kamu mana…kok pergi sendirian ….nggak takut digodain sama lelaki iseng”
“ah kamu..biasa aja lagi….laki aku lagi keLN…urusan bisnis katanya”
eh…ayo makan..kok didiamin aja nih”
kamipun akhirnya menyantap hidangan yang telah tersedia.Habis makan,kami jalan-jalan dan pulang kerumah masing-masing
Beberapa hari kemudian….Rani mengirim SMS keHP ku….isinya mengajak aku untuk main kerumahnya.SMSnya kubalas….dan aku tanyakan dimana alamat rumahnya..Beberapa menit kemudian…Rani membalas SMSku dan menyebutkan alamat rumahnya.
Aku berangkat kerumah Rani…sibunga SMA.Tak lama kemudian ..aku sampai didepan rumah mewah.Kubaca kembali alamat yang diberikan oleh Rani dan kucocokkan dengan nomor rumah yang tertera didepan pintu…pass..memang benar ini rumahnya.Kutekan bel yang ada didepanku.Beberapa saat kemudian …pintu pagar terbuka dengan sendirinya.Aku masuk, pintu pagarpun ikut tertutup dengan sendirinya.Aku berjakan menuju teras depan dan Rani telah menungguku disana.
“Hii..gimana kabar kamu sekarang….”sapanya padaku.
“Baik saja nih….kamu gimana…kok sepi amat seh…pada kemana nih”
“iya nih…nggak ada siapa-siapa nih dirumah…jadi kesepian..makanya aku undang kamu kesini ..buat nemenin aku…”
“nggak salah nih..ntar suami kamu marah lagi”
“ah..nggak apa-apa lagi…. dia lagi diLN sekarang nih…”
“yuk ..masuk….kita ngobrol didalam aja deh”
Kamipun masuk kedalam rumahnya Rani.Wah….benar-benar mewah nih rumah..semua perabotannya sangat mengagumkan.
“mari..silahkan duduk….jangan malu -malu..anggap saja seperti rumah sendiri”
“Thank’s….”dan akupun duduk
“oya..mau minum apa nih….panas..dingin atau yang hangat..”kata siNyonya rumah.
“jadi bingung nih ..milihnya …”kataku padanya.
“ya…kalau yang panas…teh sama kopi…trus kalau mau yang dingin..ada soft drink..”balas siRani
“trus kalau aku milih yang hangat gimana”tanyaku lagi.
“ya…ada deh…”kata rani sedikit genit.
“ok deh…kalau gitu..aku minta yang hangat aja deh”kataku coba menggodanya.
“ah..kamu ini bisa aja….ntar kalau aku kasih kamu nggak susah nanti”
“ya..tergantung yang ngasih dunk…”
Rani bangkit dari duduknya ….”bentar ya …aku kebelakang dulu”
Ia pergi meninggalkanku diruang tamu yang mewah itu.Rani kembali lagi keruang tamu dengan membawa dua gelas jus orange .Dia meletakkannya datas meja.
“Lho..tadi katanya yang hangat..kok yang itu seh”kataku padanya.
“yang hangat ntar….so pasti aku kasih deh”
Akupun duduk kembali.
“Ran…rumah kamu bagus banget deh….semuanya kamu punya…so pasti kamu bahagia dong dengan suami kamu….”
“ah ..siapa bilang..dari luarnya saja aku keliatan bahagia”katanya mulai serius
“memang semuanya aku punya ..tapi khan itu nggak menjamin aku bahagia”
“bayangin aja deh ..dalam satu bulan ..palingan suamiku 3 hari ada dirumah”
“selebihnya ..ya kesana kemari ..ngurusin bisnis keluarganya yang segudang itu…jadi kamu bisa bayangin deh..betapa aku sangat kesepian..”
Rani mulai menceritakan semua keluhan yang ada dalam dirinya.Kucoba memahami setiap jalan ceritanya sambil sesekali mataku nakal melirik bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan sekali.Saat itu,Rani mengenakan kaos yang cukup ketat sekali sehingga mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sangat indah itu.Dibalik kaos ketat lengan pendek itu …sepertinya Rani tak mengenakan Bra…itu terlihat dari tonjolan kecil dipuncak dadanya yang padat dan berisi .Perlahan terasa sesuatu bergerak nakal dari balik celana yang kukenakan.
Rani bangkit dari duduknya dan pindah disampingku.Tercium bau harum parfumnya yang sangat mengundang gairah.

“Dy..aku kangen banget deh sama kamu….”katanya padaku
“oya…”kataku padanya.
“iya nih….apalagi sama…….”katanya terputus.
“sama apa seh Ran…..”
“sama…..sama ini nih….”katanya sambil meletakkan tangannya diatas gundukan batang kejantananku.
Kontan saja aku terkejut mendengar penuturannya yang begitu spontan.walau sebenarnya aku juga menginginkannya.

Karena tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku,Rani tak memindahkan tangannya dari atas selangkanganku..malah sebaliknya dia mengelus pelan batang kejantananku yang masih tersembunyi dibalik celana panjang yang kukenakan.
Perlahan ..mukaku dan muka Rani makin mendekat.Rani memejamkan matanya sambil merekahkan bibirnya padaku.Kukecup bibirnya yang merah itu.Mulutku bermain dimulutnya yang mungil dan seksi .Sesekali lidahku berpilin dengan lidahnya .Rani sangat bergairah sekali menyambut ciuman bibirku dibibirnya.
Sementara itu tanganku tak tinggal diam.Kucoba meraba dua bukit kembar yang tumbuh didadanya. Begitu hangat ,padat dan berisi Terasa sangat halus sekali kulit dadanya Rani.Dua puncak dadanya yang mulai mengeras tak luput dari remasan tanganku.Dan tangan Rani semakin liar begerilya diatas gundukan batang kejantananku yang mulai mengeras.
Rani beranjak dari tempat duduknya .Perlahan ia mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya.Hingga akhirnya tak sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya.Kuperhatikan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.Begitu sangat sempurna sekali.Dua gundukan bulat menggantung didadanya .ditambah dengan bukit kecil yang ditumbuhi bulu hitam yang lebat menandakan kalau Rani type wanita haus seks.

Rani kembali duduk bersimpuh dihadapanku.Kali ini ia mulai membuka celana panjang yang masih kukenakan.Begitu celanaku terbuka ..nongollah batang kejantananku yang mulai mengeras dibalik celana dalamku.Namun tak berselang lama celana dalamkupun telah terbuka dan tinggallah penisku yang tegak bak torpedo yang siap meluncur.
Tangannya yang halus itu mulai membelai batang kejantananku.Lama kelamaan ukurannya makin membesar .Rani mulai menjilat ujung kepala penisku .Mulutnya yang mungil itu menjiltai permukaan kulit batang kejantananku hingga sampai kedua buah biji pelerku.Beberapa saat lamanya Rani menikmati batang kejantananku dengam ciuman-ciuman yang sangat menggetarkan persendianku.Sementara kedua tanganku meremasi kepalanya .Hingga sesuatu terasa berdenyut dibatang kejantananku Sesuatu yang ingin muncrat dari ujung kepala penisku.Aku semakin kuat menjambak rambutnya Rani dan menekannya kedalam hingga ujung kepala penisku menyentuh ujung tenggorokannya.
“Akhhh..Ran..aku mau keluar nih”erangku padanya

Beberapa detik kemudian spermaku tumpah didalam mulutnya Rani.Tanpa merasa jijik sedikitpun Rani menelan setiap tetes spermaku.Dan sambil tersenyum ..Rani menjilati sisa- sisa sperma yang masih tersisa dibatang kemaluanku.
Beberapa saat kamipun istirahat setelah aku mencapai orgasme yang pertama. .Kemudian aku berdiri dan mengangkat tubuh montok Rani dan merebahkannya diatas sofa yang empuk .Kini tiba saatnya bagiku untuk memulai babak permainan berikutnya.Aku membuka kedua kaki Rani lebar-lebar.Kudekatkan wajahku kepermukaan perutnya yang datar.Dengan penuh nafsu ..aku menjilati setiap permuakaan kulit perutnya yang halus itu.Rani menggelinjang hebat merasakan jilatan bibirku dipermukaan kulit perutnya yang ramping.
Rani merasakan dirinya seolah terbang kesorga kenikmatan saat ujung-ujung lidahku mengelitik organ-organ sensitifnya.Ia melupakan sejenak bayangan suaminya yang saat ini sedang berada diluar negri.Baginya ,kenikmatan yang kuberikan padanya tak ada bandingnya dengan limpahan materi yang diberikan oleh suaminya.Desahan…erangan dan jeritan Rani makin menbuatku bersemangat menusuk-nusuk permukaan Vaginanya dengan ujung lidahku.
“Sayang….cepet dunk masukin punyamu kememek aku….udah nggak kuat nih”rengeknya padaku.
Akupun memenuhi permintaan Rani yang sudah tidak tahan menunggu batang kejantananku yang tegang dan mengeras untuk masuk kedalam vaginanya Rani.

Aku memegang batang kejantananku dan mengocoknya sebentar kemudian mengarahkannya kelubang vagina Rani.
Aku mulai maju mendorong pantatnya Rani.Beberapa kali kucoba selalu meleset.Mungkin karena ukuran senjataku yang cukup besar hingga sulit untuk menembus lubang vaginanya yang rapet.Namun setelah beberapa kali mencoba,akhirnya batang kejantananku masuk menembus lubang memeknya Rani.Tanpa membuang waktu lagi,kugerakkan pantatku maju mundur menusuk memeknya Rani.Dengan penuh nafsu,Rani menikmati gerakan Penisku yang maju mundur menusuk vaginanya.Desiran dan desahan beriringan keluar dari mulutnya yang mungil itu.Rani mengimbangi gerakanku dengan memaju mundurkan pantatnya yang bahenol itu.
Sekitar tiga pulu menit berlalu,Rani merasakan akan mencapai klimaks.Rani mengangkat pantatnya dan menggelinjang hebat.Wajahnya berubah ganas,matanya mendelik saat puncak kenikmatan itu datang.Aku tahu kalau Rani akan mencapai klimaknya.Kupercepat gerakan pantatku menusuk vaginanya sampai akirnya puncak kenikmatanna datang.Rani mendekap erat tubuhku,Vaginanya berkedut-kedut menjepit batang kejantananku.Cairan hangat dan kental merembesi dinding vaginanya.Orgasme yang beruntun telah dialami Rani sibunga SMA.
Untuk beberapa saat ..kubiarkan Rani menikmati sisa -sisa orgasmenya ,sebelum kami melanjutkan permainan yang berikutnya.Perlahan Rani bangkit dari tidurnya dan duduk diatas sofa empuk itu.Akupun duduk disampingnya .Tanganku singgah digundukan vagina yang ditumbuhi rambut halus itu.Kubelai perlahan untuk membangkitkan kembali gairah wanita cantik yang ada disampingku ini.Perlahan terdengar desahan lembut dari mulut Rani.Sementara itu mulutku tak lepas dari dua puncak mungil didadanya.
Merasa sudah tepat saatnya bagiku untuk menuntaskan permainan ini…kuangkat Rani dan kududukkan ia diatas pahaku.Posisinya kini tepat berada diatas pangkuanku,sehingga dua buah dadanya yang padat membusung tepat berada didepan mulutku.Kugosok-gosok ujung penisku kemulut vaginanya.Kutekan ujung penisku hingga amblas masuk kedalam Vaginanya.Kudiamkan perlahan,kunikmati beberapa saat kontolku bersarang dalam memeknya Rani.
Perlahan kugerakkan pantatku naik turun menusuk lubang kemaluannya Rani.Gerakanku makin lama semakin cepat membuat tubuh Rani bergoyang-goyang diatas pangkuanku.Terdengar erangan kenikmatan dari mulut rani.Beberapa kali ia harus memekik kecil tak kala penisku yang makin membesar menyentuh ujung rahimnya.Sementara dua buah gundukan didadanya bergoyang -goyang tak karuan .Kedua tanganku meraih dua gundukan itu dan meremasnya perlahan.
Beberapa menit kemudian terasa sesuatu menyesak dalam batang kejantananku.Mungkin tiba saatmya bagiku untuk orgasme.Dengan diiringi desahan panjang secara bersamaan…aku dan Rani mencapai orgasme. Kusemprotkan spermaku yang hangat didalan vagina Rani.Beberapa saat kemudian Ranipun menyusul.Cairan hangat merembesi dinding Vaginanya yang hangat itu.Aku memcabut batang kejantananku dari dalam vaginanya Rani.

Dengan cepat Rani jongkok diselangkanagnku dan menjilat sisa-sisa sperma yang masih menempel dipenisku.
Sesaat kemudian Rani tersenyum padaku.Senyum penuh kepuasam …yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya tersayang.Aku bangkit dan mengenakan kembali pakaianku.Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan jam sepuluh malam.Akupun pamit pada Rani.
Namun sebelum aku pergi meninggalkam rumah Rani…ia memberikan sesuatu buatku sebagai hadiah.Sebuah Handphone terbaru dan motor besar .Semula aku menolak pemberiannya …namun ia berharap sekali aku menerima pemberiannya itu.Demi menghibur hatinya Rani..kuterima hadiah yang bagiku cukup besar sekali.Kupergi meninggalkan Rani dengan membawa Handphone dan sebuah motor besar.Hadiah yang mungkin lebih kecil jika dibandingkan dengan kenikmatan seks yang kudapatkan hari ini….dan bahkan akan kudapatkan hari-hari berikutnya bersama wanita cantik yang pernah menjadi Bunga SMA.

Bos lajang yang penuh gairah

Ayohh tutup pintunya, bisik Liza, dengan terengah dan mendesah. Aku segera bergegas, menutup pintu dengan tangan kanan, sementara jemari tangan kiriku sibuk mencoba mengeluarkan dua lembar bulu bawah Liza dari rongga mulutku, sebagai hasil pemanasan berupa cunnilingus.

Gila juga. Kami bercumbu di kantor. Liza, tepatnya Ibu Liza Permatasari (nama samaran), yang oleh kalangan dekatnya dipanggil sebagai Sari, adalah bossku. Di kantor kecil ini lelaki cuma aku dan pesuruh. Satpam cukup dari pengelola kompleks ruko. Lima belas staf lainnya adalah cewek, lajang semua.

Malam telah merambat. Saat ini sudah pukul 20.45. Liza membatalkan kepulangannya.
“Kamu gila. Udah basah dan nikmat gini masa harus pulang. Belum tuntas nih”, katanya, ketika aku menggodanya, sambil memainkan clit-nya, dan berpura-pura mengingatkan bahwa hari sudah malam, kemacetan sudah berkurang.

Maka kalimat susulan yang terlontar dari mulut mungilnya adalah permintaan untuk menutup pintu. Artinya, sekalian mengunci pintu. Para staff sudah pulang. Office boy sudah pulang. Pintu front office di lantai bawah sudah dikunci. Lampu yang menyala cuma dikurangi.

Kini kuhampiri Liza (tanpa panggilan “Ibu”, karena ini acara intim, bukan dinas) yang masih mengangkangkan kedua kakinya di sofa dekat meja kerjanya. Pakaiannya masih utuh. Blazernya masih terpakai, tapi seluruh kancing blus sudah terbuka, dan bra pembungkus bukit kembar 36B sudah tidak menyangga isi, hanya menggantung di atas bukit. Rok mini sudah tersingkap paling atas, melingkar tergulung di pinggangnya.

Celana dalam? Oh, segitiga mungil berenda itu berada di lutut kanan Liza. Liza yang mengangkang, alangkah seksi-nya! Paha dan perut putih mulus itu melingkungi segitiga lebat keriting, yang memayungi labia majora dan minora merah basah. Basah karena lelehan kelenjar bertholin dari vaginanya, dan juga karena cairan salivaku. Clit-nya yang berdiameter 1 cm dan panjang 3 cm tampak mengeras. Inilah pesona lajang kesepian, seorang wanita karir berusia 35 tahun.

Mungkin ini peristiwa ke-15 dalam hubungan kami, yakni percumbuan di kantornya. Aku bisa bisa bilang begitu, karena seminggu dua kali kami petting, Rabu dan Jumat, dan hal itu sudah berlangsung hampir 3 bulan, tentu saja tersela oleh kalender palang merah, bukan?

Aku kembali membungkuk, atau mungkin bersila. Mulutku tanpa permisi langsung menyergap vagina segar dan clitoris menegang itu. Labianya kurentangkan dengan jari, lalu lidahku kutembuskan ke liang, bergerak kanan-kiri-atas-bawah, memutar-mutar.

“Auuwww…”, desah Liza tertahan. Aku semakin nakal. Satu jariku masuk ke liang, maju-mundur, berputar-putar. “Kamu gilaa…”, desahnya.
Itu tak cukup. Kini jempolku ganti masuk liang vaginanya, sementara ujung jempolku melesak ke lubang duburnya, yang sebelumnya sudah aku olesi dengan cairan vagina agar sedikit licin. “Gilaa!” teriaknya. Semoga satpam tak mendengar. Liza segera meraih kepalaku, untuk dia benamkan ke pusat kewanitaannya. Aku gelagapan, susah bernafas. Tapi dia tak peduli. Pinggulnya bergerak liar, agar vulva lajangnya bisa mengerjai seluruh mukaku. Akhirnya aku kehabisan nafas. “Lizaa aahh….”, desahku, sambil mundur menjauhkan kepala dan mukaku yang basah oleh hajaran vaginanya.

“Jangan panggil aku Liza. Saat ini aku bukan bossmu. Panggil aku Sari saja”, desisnya. Muka, leher, dan dadanya mulai berkilat oleh peluh. Ternyata AC tak mampu membendung keringat si lajang yang sedang direbus oleh birahi. Aku sendiri merasa gerah. Lalu aku raih remote control AC di meja, aku turunin suhunya. Sari terpejam-pejam, terengah-engah. Tidak seperti biasanya, kali ini dia belum orgasme oleh oral dan jariku. Selama ini kami bercumbu tanpa penetrasi penis. Setelah dia klimaks, biasanya giliranku untuk menguras muatanku, dengan mengocok sendiri, yang kemudian aku tumpahkan ke lembaran tissu yang aku ambil dari meja Sari.

“Terserah kamu, pokoknya aku mau puas total”, desah Sari, masih dengan mengangkang di sofa. Aku berdiri di depannya. Dengan terburu kulepas bajuku. Dasi sudah sejak tadi tercampakan ke karpet. Lalu kulepas pantalonku. Dengan kilat celana dalamku pun lepas. Tapi ah…, masih ada yang mengganjal. Maka sepatu pantofelku itu seperti aku tendangkan, tergeletak ke bawah mejanya. Kaos kakiku pun dengan segera terlepas, dan tercampak entah ke mana. Kini aku bugil di depanya dengan penis teracung ke atas. Liza melihat penisku terus. Selama ini dia hanya memandang. Belum pernah memegang. Maka ketika aku mengocok penisku pada setiap akhir percumbuan dia seperti menikmati pria telanjang dari jarak dekat.

Sebuah pemandangan yang kontras. Aku sudah bugil, dia masih tergolek mengangkang di sofa dengan pakaian yang lengkap, meski acak-acakan. Aku semakin mendekatinya. Dia terbelalak, ketika sadar penisku sudah sekian cm dari mukanya. Sudah kepalang tanggung. Birahiku sudah mendidih. Sekian lama hanya menahan diri. Lantas kusorongkan penisku ke wajahnya, mengenai pipi. Lalu kena hidungnya, matanya, keningnya, lalu bibirnya yang kini terkatup rapat. “Sari, gantian dong”, bisikku meminta.

Dia buka sedikit mulutnya. Ujung penisku melesak masuk sekitar dua cm. Terasa mulut yang hangat. Ketika mulut ternganga sedikit, penisku kudorongkan. “Blep!” masuklah separuh penis ke mulut si cantik langsing yang mirip artis Yenny Farida di masa mudanya itu. Dengan cepat dia menyesuaikan diri agar tak tersedak. Lantas naluri kewanitaannya pun bekerja. Dia menjilati penisku. Mulanya dengan posisi menyamping, penisku terpalang horizontal di mulutnya, seperti sate yang akan disantap. Kemudian posisi menjulur, ‘senjata terkokang’ itu dijilat dan dihisap seperti es lolly. Oh nikmat dan bahagianya.

Ternyata sambil melakukan jilatan di vaginanya, tangan kiri Sari mengusap-usap vaginanya sendiri. Ketika dia berhenti sejenak dalam meng-oral, jemari kiri yang mengkilat oleh cairan vagina itu dia hisap dan jilat. Begitu berulangkali. Akhirnya aku tidak tahan. Kalau menuruti nafsu, keinginku sih biar muncrat dan tumpah sekalian seluruh maniku ke mulut dan wajahnya. Akan tetapi dia kan belum puas. Kasihan.

Maka kucabut penisku dari genggaman tangan serta hisapan dan jilatan mulutnya. Tapi ah…, dua atau tiga tetes maniku telanjur keluar, langsung menetes di lidahnya. Dengan sigap dia tarik lidah itu, dan tampaknya dia mencicipi rasa benda yang baru dikenal dalam hidupnya, cairan sperma. Untunglah aku bisa menahan diri. Kucekik penisku dengan jempol dan telunjukku, agar mani tak membanjir, sekaligus agar batangku tetap ereksi.

Kami sama-sama mengambil nafas. Lantas kuhampiri Sari, kupeluk, kugendong, lalu kurebahkan di meja kerjanya yang luas. Dengan lembut dan pelan kuciumi lehernya, sementara tanganku melepas blazer, blus, dan branya. Payudara putih bersih nan kenyal, dengan puting kemerahan yang mengeras, alangkah indahnya. Kucium dan jilati kedua bukit itu berikut puncaknya. Kunikmati aroma khas yang memancar dari lipatan bawah payudaranya agak kecut tapi merangsang.

Bossku itu seolah tak merasakan kerasnya meja kerjanya yang berkaca. Dia terus merem-melek, meleguh, terengah, mendesis. Apalagi ketika aku menciumi dan menjilati ketiaknya yang licin bersih. Ketiak wangi yang mulai bercampur keringat. Oh.., indahnya. Oh…, merangsangnya. Sementara itu tangan kananku merenggut rok mini itu, sehingga dia kini telanjang bulat, sedikit kedinginan oleh semburan hawa AC. Kuraba vulva itu. Bulu kemaluan yang lebat, rimbun, dan hangat itu rupanya telah sedikit mengering oleh hembusan AC. Begitupun bibir vaginanya. Namun clitorisnya masih mengeras. Ketika kupijat lembut clitorisnya, Sari melenguh, “Aouhh…”

Kini mulutku menjelajahi pusar dan perutnya. Sari mengaduh-aduh. Tanganku mengambil buku telepon, kuganjalkan ke pantatnya. Dengan lidah terjulur kudekatkan mulutku ke vaginanya, tanpa menempel, lalu berhenti. Aku diam saja. Sari tak sabar. “Terlalu! Kamu terlalu. Ayoh aku udah kebelet nih”, dia seperti berteriak. Kedua tangannya merenggangkan vulva selebar-lebarnya, sementara kakinya mengangkang lurus menyamping seperti gadis plastik sirkus.

Aku melihat sebuah demonstrasi otot vagina yang dahsyat! Tangan Sari sudah tidak menjereng vaginanya. Tapi kakinya masih kangkang lurus menyamping. Astaga! Vagina itu bergerak-gerak, kembang kempis, menggembung mengerut. Dinding vagina nan merah seolah mau melotot keluar, untuk kemudian mengerut sehingga dinding merah mengkilat itu tersembunyi sebagian.

Sedangkan clitorisnya tetap mengeras seperti teracung, menagih jilatan. Aku jadi semakin gila. Kusosor vagina itu. Kumainkan mulut dan lidahku, menggarap bibir vagina dan clitoris. Kujejalkan lidahku ke liang hangat saat membuka diri. Wuhh…, banjir cairan vagina menyembur, aku jilati liang vaginanya yang merupakan sumber dari cairan itu. Rasanya asin. Aku ingin menguras cairan lajang yang 7 tahun lebih tua dariku itu. Kedua tanganku merentangkan kakinya, lalu aku meng-oral vaginanya habis-habisan. Akhirnya Sari berteriak tertahan, “Aku sampe puncak!”. Dia menjambak rambutku, membenamkan wajahku ke vaginanya, sehingga aku gelagapan dan hampir tersedak oleh banjirnya cairan vaginanya.

Aku pun kian bernafsu. Kugendong Sari, kupindahkan ke selembar karpet tambahan yang menyerupai bulu kambing, di atas karpet dasar, di pinggir sofa.
“Ibu Liz, Liza, Sari…, aku nggak tahan. Kalo aku memperkosa kamu gimana?”, tanyaku, menahan nafsu sambil berposisi seperti menindih, tapi tubuhku tak menempel di tubuhnya karena tanganku masih menyangga badanku.
“Nggak usah memperkosa segala. Malam ini kita bisa bersetubuh, sayang”, katanya sambil meraih bahuku.

Oh pucuk di cinta, vagina mendamba, clitoris menagih. Kucium keningnya, matanya, hidungnya. Tapi pantatku masih seperti mengambang di atas tubuhnya, sehingga penisku pun menggantung menganggur, belum menyentuh kewanitaannya. Akhirnya aku pun capai. Pantatku turun. Sari langsung mengangkang. Tapi ah, tidak, tidak. Aku mau main-main dulu. Ini kan persetubuhan pertama kami. Maka penisku kini cuma kugesek-gesekan ke bulu kemaluan, clitoris, dan vaginanya. Dia terpejam nikmat. “Gilaa, aku sukaa”, bisiknya. Lama-kelamaan kurasakan gesekan penisku seperti mengenai bidang licin. Rupanya cairan vaginanya belum habis, terus membanjir. Hilang sudah rasa permukaan bibir vagina yang merangsang penisku. Sementara gesekan bulu kemaluan pun semakin licin karena bulu superlebat yang membentuk segitiga, menyerupai celana dalam, itupun sudah basah.

Aku beringsut. Kuambil blus silk Sari. Kuusapkan ke vaginanya untuk mengeringkan cairan. Dia sendiri pun tak peduli blus bagus itu buat mengepel vagina. Kini vagina itu mengering. Aku menindihnya tapi masih bertumpu pada tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang penis, untuk dimainkan di vaginanya. Dia melenguh nikmat. Tapi lama-lama aku capai juga. Oh Sari yang cantik. Dia akhirnya punya inisiatif. Dibiarkannya aku menindihnya, tapi kini giliran tangannya yang memegang penisku.
“Pakai buat masturbasi Liza Sari sayang”, bisikku.

Wow! Nikmatnya penis dipegang jemari lentik dan dipakai untuk onani vagina. Aku merasa terbang menumpang concorde. Hampir tak ingat apa-apa, ketika tiba-tiba kurasakan “Blessszzhh…” Penisku sudahg masuk. Lancar sekali, meski dalam jepitan, karena vaginanya memang licin.

“Kamu pikir aku tahan? Nggak. Aku udah birahi banget. Lima tahun nggak bersetubuh setelah putus pacaran. Tiga bulan cuma petting. Sekarang kepalang basah. Kita bersetubuh saja”, bisiknya.
Kubenamkan penisku dalam vagina yang menjepit itu. Aku diam saja. Pinggul Sari di bawah berputar-putar, naik turun, maju mundur, geser kanan-kiri. Aku merasa termanjakan. Sampai akhirnya kurasakan maniku mulai mendidih, seperti ruap soda dalam botol yang dikocok. Aku beringas. Kupompa vaginanya dengan penisku. Kutekan selangkangannya dengan bagian bawah tubuhku. Kuputar pinggulku.

“Sari, kita hitung yuk. Kita hitung sampe 10 lalu puncak bareng ya?”, bisikku.
“Sepuluh, seratus, seribu, sama saja. Aku sudah memasuki pintu klimaks…”
“Satu, dua, tigaa…”, aku menghitung.
“Empaattt, Limaa burung, enam spermaa….”, lanjutnya dengan terengah.
“Tujuh itil, delapan jembut….”, aku menimpali.
“Sembilann… Auwwwwww! Aku climaks! Gila! Mana manimu! Ayo dong cepetan! Udah lima tahun vaginaku nganggur nggak ngerasain sosokan burung dan semprotan mani!”.

Inilah keajaiban. Tiba-tiba maniku seperti tertahan, tapi penisku kian mengeras, sampai kulit penis ini agak perih, mungkin lecet sedikit. Kupompa vagina Sari dalam orgasmenya. Kurasakan vaginanya menyempit sementara cairan hangat kurasakan menyembur dari celah liang yang terjejali oleh penis. Terdengar suara “prepettt…” Aku tidak tahu, cairan ini dari vagina atau dari lubang kencingnya.

Akhirnya, tubuhnya mengejang. Matanya terbelalak, lalu terpejam, dan dia pun memelukku erat. Kudengar isak tertahan. “Aku nikmat. Aku lega. Aku bahagia”, bisiknya. Air mata membasahi kelopaknya. Kucabut penisku. Masih tegang. Aku juga ingin orgasme. Tapi aku kasihan kalau harus menyetubuhi dia terus. Pasti vaginanya capai. Atau malah lecet. Karena barusan tadi kurasakan bulu kemaluan ikut masuk ke liangnya, bersama penisku. Mungkin bulu kemaluannya. Karena setiap kali kami bercumbu, bulu kemaluannya banyak yang rontok.

Aku berdiri di sampingnya. Kukocok penisku. Pelan, pelan, lalu cepat, cepat, cepat, akhirnya ah…, tak tahan. Aku pejamkan mataku, sambil mengocok penis. “Blap!” kurasakan penisku masuk lubang, yang ada giginya. Ya! Kubuka mataku. Penisku masuk ke mulutnya. Kulepaskan genggamanku. Dia sudah bersimpuh di depanku, mengulum penis, tangannya mulai mengocok penisku, terkadang lidahnya menjilati.

“Awas Sari, nanti muncrat ke mulut lho!”, aku memperingatkan.
“Biarin. Ini untuk pertama kalinya aku minum isi burung”, katanya menantang.
“Oh ya?”, tanyaku.
“Iya. Ayo, kuras manimu, pejantanku!”, ajaknya.

Kini aku kocok sendiri penisku. Ketika titik didih sudah mendekat, genggamanku aku lepas. Tangan Sari segera menyambar. Dengan lima kocokan maniku pun muncrat. Crat! Crat! Crat! Craatt! Mulutnya telat mengantisipasi, mungkin karena belum pengalaman. Dalam sepersekian detik maniku menyembur pipinya, hidungnya, keningnya, lehernya, lalu, “Slep!”, penisku masuk ke mulutnya dengan mani terus membanjir. Dalam kulumannya penisku terus dia kocok. Lama-lama aku gemetar dalam lautan nikmat. Aku terduduk. Penisku tercabut dari mulutnya. Kulihat si cantik ini mukanya berlepotan cairan putih kental. Bibirnya berleleran sperma. Dia belum terampil menelan semua sperma, sehingga ada sisa yang tumpah keluar. Yang pasti dia tampak semakin cantik. Mungkin aku pun jadi mencintainya.

“Terima kasih bossku sayang. Ini bukan yang terakhir kan?”, tanyaku sambil mengusap rambutnya.
“Tentu…, Kamu mau sama aku meski aku lebih tua?”, jawabnya dengan mesra.
“Iya. Aku menyayangimu. Aku pingin mengeksplorasi semua pesona kewanitaanmu”, kataku.
“Masih banyak waktu. Lain kali kamu ke studio apartemenku. Apa yang akan kamu lakukan kepadaku Sabtu malam besok?”.
“Aku ingin mencoba anusmu, bossku sayang…”
Aduh! Diam mencubit lenganku, lalu pahaku, lalu penisku.
“Sakittttt boss!” kataku.
Dia tak mempedulikan. Setelah cubitannya lepas, dia pun bangkit, lalu membungkuk dengan menghadapkan pantat ke wajahku, yang masih terduduk di karpet dengan kaki terjulur, sambil kedua tanganku menyangga tubuhku. Jemarinya merentang anus yang merah dan dikitari bulu halus lurus yang panjang.

“Anusku masih perawan. Boleh juga sih kita coba Sabtu besok”, katanya.
Tiba-tiba pemandangan gelap. Kurasakan bau aneh, khas, tapi sedap. Astaga! Anus yang terentang jari itu sudah menempel ke hidungku. Awas, anus itu nanti menerima pembalasanku, dengan elusan penis dan tetesan maniku, sementara jariku bermain di clitoris dan vulvanya. Tunggu saatnya tiba, boss cantikku!

My True Walk In Interview

  1. Mini jeep yang saya kemudikan meluncur mulus
    ke pelataran parkir hotel P, sebuah hotel
    berbintang 5 yang terletak di jalan Asia Afrika.
    Sebagai anak kost yang sehari-hari harus prihatin,
    sebenarnya apa urusannya saya harus datang ke
    hotel semewah ini ?
    Sebelumnya ijinkanlah saya untuk
    memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya
    Ryo, 23 m Bdg (come on chatters, you should
    know this code). Saya kuliah di sebuah fakultas
    teknik yang sering disebut sebagai fakultas
    ekonominya teknik, karena banyaknya mata
    kuliah ekonomi yang bertebaran dalam
    kurikulumnya, di sebuah perguruan tinggi yang
    cukup ternama di kota ini. Tapi syukurlah
    beberapa waktu yang lalu saya telah lulus dan
    diwisuda menjadi seorang Insinyur, but for now,
    I’m only an unemployment.
    That’s why I come to this hotel. Kemarin
    seseorang yang mengaku bernama Ibu Ratna
    menelepon dan mengundangku hari ini untuk
    mengikuti sebuah psikotest dari sebuah
    perusahaan tembakau multinasional yang cukup
    ternama di Indonesia (dan beberapa waktu yang
    lalu terkena somasi masyarakat akibat acara
    promosi sebuah produknya yang agak “kelewat
    batas”). Setelah memarkirkan mobil di
    underground, saya melangkah menuju lobby
    hotel. Selintas saya melihat pengunjung hotel
    yang sedang menikmati breakfast (atau lebih
    tepatnya brunch kali yah ?) di coffee shop dan
    berkeliaran di sekitar lobby. Yah…dibanding
    mereka yang berpenampilan santai sih, saya
    lumayan rapi. Ah cuek aja lah, yang penting pede.
    “Maaf Mbak, kalo ruang rekruitmen dimana
    yah ?”, tanya saya kepada seorang resepsionis
    yang bertugas di front office sambil menyebutkan
    nama perusahaan tersebut..
    “Oh.., naik aja lewat tangga itu dan belok ke
    kanan.”, jelasnya sambil menunjukkan tangga
    yang dimaksud.
    Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun
    bergegas menuju ruang recruitment. Hmm…
    masih sepi nih, maklum jadwalnya jam 10 pagi
    sedangkan ketika saya melirik jam tangan saya
    baru menunjukkan pukul 09.22 WIB. Setelah
    mengisi daftar hadir dan mengambil formulir
    data diri, saya menghempaskan diri di sebuah
    sofa empuk di pelataran ruangan tersebut.
    Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB ketika
    seorang wanita mempersilakan para peserta
    untuk masuk ke ruang tes. Setelah mengambil
    posisi, saya melihat peserta lainnya. Hmm.. ada
    beberapa wajah yang saya kenal karena memang
    teman sekuliah, but now they are my competitor.
    Di depan ruangan telah berdiri 2 orang wanita
    yang kemudian memperkenalkan diri sebagai
    mbak Rini dan mbak Tia. Saya menyebut mbak
    karena saya kira mereka tidak terlalu jauh tua
    dibanding saya, walaupun mereka
    memperkenalkan diri dengan sebutan “Ibu”.
    Keduanya cantik, walaupun dalam perspektif yang
    berbeda. Mbak Rini berwajah tegas cenderung
    judes, sangat pede dan terkesan senang mendikte
    orang lain, sedangkan mbak Tia terkesan lembut,
    berhati-hati dan komunikatif. Kalau saya
    menilainya sebagai wanita yang seharusnya
    dipacari (mbak Rini) dan wanita yang seharusnya
    dinikahi (mbak Tia). Hahaha…mungkin agak aneh
    penilaian saya ini. Setelah acara basa-basi formal,
    tepat jam 10 tes dimulai.
    1 jam 45 menit yang dibutuhkan mbak Tia untuk
    memandu dan mengawasi jalannya psikotest ini,
    sedangkan mbak Rini entah menghilang kemana.
    Tepat jam 11.45 WIB kita “diusir” ke luar ruangan
    menikmati coffee break untuk 30 menit kemudian
    diumumkan orang-orang yang lulus psikotest dan
    menghadapi interview. Dari 200-an pelamar,
    hanya 40 yang dipanggil psikotest dan hanya 20
    yang dipanggil interview, untuk selanjutnya
    terserah berapa orang yang akan diterima.
    Ternyata nama saya tercantum dalam daftar
    peserta yang lulus psikotest, so I have to stay
    longer to join an interview. Interview will be done
    in english, so I have to prepare myself. But it’s
    only my first experience, so what the hell…!! Saya
    berusaha cuek dan rileks aja menghadapinya,
    sa’bodo teuing lah kata orang sini.
    Sekitar jam 14.45 WIB nama saya disebutkan
    untuk memasuki ruangan interview.
    Hhmm…ternyata yang nginterview (eh ini bahasa
    mana yah ?) saya adalah mbak Tia. Setelah
    memperkenalkan diri, kita terlibat dalam obrolan
    yang serius namun akrab. Berkali-kali dia
    membujuk saya untuk mau bergabung pada
    perusahaan ini pada divisi produksi di pabrik.
    Saya sih sebenarnya lebih senang bekerja pada
    shop floor di pabrik daripada harus bekerja di
    kantor manajemen di belakang meja dan di depan
    komputer. Tapi permasalahannya adalah bahwa
    pabrik yang bersangkutan terletak di sebuah kota
    di pesisir utara pulau Jawa, sebuah kota yang
    menjadi pintu gerbang Jawa Barat terhadap
    tetangganya di sebelah timur. Away from home
    means extra cost for living, am I right ?Nggak
    terasa kita ngobrol semakin akrab. Mbak Tia
    ternyata benar-benar smart, komunikatif dan
    mampu membawa suasana bersahabat dalam
    sebuah perbincangan. Nggak heran ternyata dia
    adalah alumni fakultas psikologi tahun 1992
    pada sebuah perguruan tinggi di selatan Jakarta
    yang terkenal dengan jaket kuningnya.
    “That’s all Ryo, thank you for joining this
    recruitment. We will contact you in two weeks
    from now by mail or phone”, kata mbak Tia
    mengakhiri pembicaraan. “The pleasure is mine.”,
    jawab saya pendek sambil berbalik menuju pintu.
    “Ryo, why do you look so confident today ? The
    others don’t look like you.”, tiba-tiba mbak Tia
    berbicara lagi kepada saya.
    “I just try to be myself, no need to pretend being
    someone else.”, jawab saya sambil bingung,
    sebenarnya apa yang telah saya lakukan sih
    sampai dia menilai saya seperti itu ?
    “Cool, I like your style”, sambung mbak Tia lagi
    “I like your style too.”, jawab saya (pura-pura)
    cuek, “Tia, I like to talk with you, maybe some
    other day we can talk more. May I have your
    number ?”, sambung saya lagi. Asli udah cuek
    banget, nggak ada malu-malunya lagi. Baru
    beberapa saat ngobrol bareng dia, tapi kenapa
    rasanya saya udah kenal lama yah ?
    Mbak Tia cuman tersenyum dan memberikan
    kartu namanya sambil meminta nomor telepon
    saya juga. Karena saya masih pengangguran dan
    nggak punya kartu nama, akhirnya dia hanya
    dapat mencatatnya di kertas note miliknya saja.
    Dan saya akhirnya langsung pulang.
    Bandung, same day at 18.04 WIB
    Saya lagi termenung di kamar kost di depan
    komputer menyesali kekalahan kesebelasan saya
    dalam game Championship Manager 4. Sialan…,
    menyerang habis-habisan kok malah kalah yah,
    pikir saya sambil menatap statistik permainan.
    Tiba-tiba… .krrriiinngg. ., teleponku berbunyi
    mengagetkanku karena memang dipasang pada
    volume penuh. Di LCD terpampang nomor
    telepon asing (maksudnya belum ada di memori).
    Langsung saya jawab, “Hallo…”.
    “Hallo…ini Ryo ?”, terdengar sebuah suara wanita
    di seberang telepon.
    “Iya, ini Ryo”, jawab saya. Sejenak saya terganggu
    koneksi telepon yang kresek-kresek, payah juga
    nih jaringan 0816 prabayar wilayah
    sini.
    Ternyata itu telepon dari mbak Tia. Dia sih
    ngakunya cuman iseng aja nge-check nomor saya.
    Setelah ngobrol sebentar, saya nanya, “Mbak,
    banyak kerjaan nggak ?”.
    “Kenapa nanya, mau ngajak jalan-jalan yah ?”,
    jawab mbak Tia disusul suara tertawanya yang
    ramah.
    “Boleh.., siapa takutt..?”, balas saya sambil
    senyum iseng (untung dia nggak bisa lihat
    senyum saya).
    “Nggak kok udah selesai semua, free as a bird.”,
    katanya lagi sambil mengutip sebuah judul lagu
    The Beatles (atau John Lennon ? ah sa’bodo teuing
    lah).
    Akhirnya kita sepakat untuk jalan-jalan (but no
    business talks allowed, kata mbak Tia). Waktu
    menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika saya
    memarkirkan pantat saya di sofa di lobby hotel
    yang sama. Ah…masak dalam sehari ke hotel ini
    sampai 2 kali, pikirku. Baru beberapa saat
    saya duduk, terlihat sosok mbak Tia berjalan ke
    arah resepsionis untuk menitipkan kuncinya dan
    melihat sekeliling lobby untuk mencariku. Saya
    cukup melambaikan tangan untuk
    memberitahukan posisi saya duduk untuk
    kemudian bangkit berdiri dan berlahan
    menghampirinya. Kemeja putih berbunga-bunga
    kecil berwarna ungu terlihat serasi dengan pilihan
    celana panjangnya yang juga berwarna ungu.
    Wah…aliran “matching”-isme nih, pikirku. “Hi
    mbak, look so nice”, kata saya sambil sedikit
    memuji penampilannya yang memang “out of
    mind” itu.
    “Thanks, you too”, jawabnya lagi sambil
    tersenyum. Tapi kali ini kesan senyumnya jauh
    dari resmi, seperti senyum kepada seorang teman
    lama.
    Kita langsung berangkat. Karena mbak Tia
    meminta untuk tidak “makan berat”, akhirnya
    saya membawanya ke LV kafe, sebuah resto
    dengan city view yang bagus banget di bilangan
    dago pakar. Kalo udah malem, kelihatan indahnya
    warna-warni lampu kota Bandung dari situ. Many
    times I’ve been there, but still never get bored.
    Temaramnya cahaya lampu resto, jilatan lidah api
    dari lilin di meja dan kerlap-kerlipnya lampu kota
    Bandung di bawah sana tidak mampu
    menutupi kecantikan yang terpancar dari seorang
    Tia, wanita yang baru saya kenal dalam beberapa
    jam saja. Kalo dilihat dari face-nya sih
    nggak cantik-cantik banget, tapi gayanya yang
    ramah, wawasannya yang luas dan obrolannya
    yang menguasai banyak hal, membuat
    penampilannya begitu chic dan smart. Daripada
    dengan cewek cakep dan seksi serta mampu
    mengeksploitasi penampilannya semaksimal
    mungkin, tapi kalo diajak ngomong nggak pernah
    nyambung dan otaknya isinya cuman kosmetik
    sama sale baju atau factory outlet doank sih jauh
    banget bagusan Tia kemana-mana. Pokoknya
    smart-lah, saya jadi teringat Ira Koesno, seorang
    presenter TV favorit saya, yang walaupun tidak
    terlalu cantik tapi mampu memikat karena
    gayanya yang smart itu.
    Mbak Tia (dan pada kesempatan ini dia minta
    saya cukup memanggilnya dengan hanya
    menyebut namanya saja, tanpa embel-embel
    mbak di depannya) memesan lasagna, biar nggak
    terlalu kenyang katanya.
    Ternyata city view Bandung masih kalah dengan
    view yang ada di depan saya sekarang. Asik
    banget melihat Tia menikmati sedikit demi sedikit
    makanannya. Ada suatu momen yang bagus
    banget saat tiba-tiba dia mendongak,
    mengibaskan rambut sebahunya dan menatap
    saya sambil berkata, ” Lho kok malah nggak
    makan ?”.
    Hhhmmm…..asli sumpah bagus banget angle-
    nya. Saya pernah ikut kegiatan fotografi saat di
    bangku sekolah dulu, so mungkin inilah yang
    disebut dengan angle terbaik. Ada beberapa saat
    (mungkin sepersekian detik) dimana seseorang
    dapat terlihat sangat tampan atau sangat cantik
    dan saya baru menikmatinya beberapa detik yang
    lalu. “Heh..kok malah bengong ?”, Tia
    membuyarkan lamunan saya seketika.
    “Ah nggak kok, cuman lagi inget-inget aja tadi
    taruh kunci kost dimana ?”, jawab saya sambil
    mencoba berbohong. Kalo dia sampai tahu saya
    mengagumi pemandangan tentang dia, wah bisa
    jadi nggak enak suasananya.
    “Ooohhh….” , sahutnya pendek, entah tahu saya
    berbohong atau tidak. Terus terang saya selalu
    rada takut menghadapi alumni-alumni fakultas
    psikologi, takut-takut pikiran saya bisa dibaca
    mereka, hahahaha…. .
    Lalu kita terlibat perbincangan yang hangat
    sambil menikmati makanan. Ada beberapa sisi
    baru yang saya kenal dari seorang Tia malam itu.
    Desember nanti usianya 26, termasuk muda
    untuk seorang angkatan 1992. Anak kedua dari 3
    bersaudara, kakak perempuannya sudah menikah
    dan tinggal di Jakarta, sedangkan adik laki-lakinya
    sedang kuliah di sebuah PTS yang ternama di
    bilangan Grogol, Jakarta dan terkenal saat-saat
    perjuangan reformasi mahasiswa medio 1998
    lalu. Dia pernah hampir saja menikah pada awal
    tahun ini, namun sesuatu terjadi (Tia
    mengistilahkan dengan something happened in
    the way to heaven, mirip sama judul lagunya Led
    Zeppelin 20-an tahun yang lalu), kekasihnya
    ternyata menikahi wanita lain yang terlanjur
    dihamilinya. Tia menyebutkan itulah resikonya
    pacaran jarak jauh, ternyata seseorang mampu
    menggantikan tempatnya di hati kekasihnya yang
    bekerja di kota tersebut. Ah…manusia, cerita
    tentang kehidupan mereka memang sangat
    beragam.
    “That’s why Ryo, ’till now I still can’t trust men”,
    Tia berkata dengan tatapan kosong ke arah kerlap-
    kerlip lampu kota Bandung. Dia bilang pria itu
    seperti kucing, udah disayang-sayang tetap aja
    nyolong, hahahaha…. lucu juga istilahnya. Saya
    cuman bisa membela kaum saya sebisanya. Biar
    bagaimana pun kayaknya nggak semua cowok itu
    kayak kucing deh, beberapa diantaranya malah
    lebih mirip serigala,
    hahahahaha.. …
    Makin lama kita ngobrol, makin banyak sisi-sisi
    lain yang saya kenal dari seorang Tia. Bahkan
    sampai sekarang dia masih belum mengerti apa
    sebenarnya yang ada di otak kekasihnya dahulu
    saat meninggalkannya, padahal we had a perfect
    life, katanya. Saya kira anak psikologi tahu semua
    jawaban tentang problem pikiran dan perasaan
    manusia, ternyata nggak juga tuh. Dia bilang sih
    nggak semua dokter bisa nyembuhin sakitnya
    sendiri dan nggak semua pilot bisa terbang.
    Untuk yang terakhir ini dia bisa bikin saya ngakak
    banget.
    “So Ryo, why are you still alone ’till now ?”, tiba-
    tiba Tia mengubah topik pembicaraan. Lho kok…
    malah ngomongin saya sekarang ?
    “Ah nggak ada yang mau sama saya, hehehe…”,
    jawab saya sekenanya sambil becanda.
    “Boong banget, mau tinggi-in mutu yah ?”, todong
    Tia.
    “Hahaha ketahuan deh saya”, jawab saya lagi
    sambil cengar-cengir.
    “Boleh Tia ngomong tentang penilaian Tia ke
    kamu ?”, katanya tiba-tiba.
    “Sok, silakan, mangga….”.
    Dan mulailah Tia mengutarakan penilaiannya
    tentang saya. Yang bikin saya kaget ternyata dia
    bisa tahu pikiran-pikiran saya yang cuman ada di
    hati, bahkan tidak ada di otak sekalipun. Dia
    bilang kalo dibalik penampilan saya yang selalu
    tertawa dan becanda melulu, pernah ada sesuatu
    yang sangat melukai saya di masa lalu, dan itu
    sangat mungkin berkaitan dengan wanita,
    mengingat hingga sekarang saya masih sendiri.
    Ah….saya jadi teringat masa lalu saya yang
    berhasil ditebak dengan jitu oleh Tia (katanya
    semudah membaca buku yang terbuka,
    sialan…..! !!). Dimana sekarang beradanya si “love
    of my life” itu, beberapa wanita memang sempat
    menggantikannya, tapi tidak ada yang benar-benar
    dapat “menggantikannya” , hehehe….kok jadi
    sentimentil gini, ini kan CCS. Hahahaha….
    Untuk beberapa saat saya terdiam, nggak tahu
    sebenarnya apa yang saya pikirkan. Apakah
    pikiran saya lagi ada di masa lalu atau tengah
    mengagumi sesosok wanita yang duduk tepat
    dihadapanku. Akhirnya saya hanya melemparkan
    pandangan menatap gemerlapnya kota Bandung
    di bawah sana.
    …..and baby I…, I’ve tried to forget you
    but the light on your eyes still….
    shine…., you shine like an angel
    spirit that won’t let me go….
    Lagu Angel yang dinyanyikan Jon Secada makin
    menghanyutkan saya dalam lamunan. Sampai
    akhirnya…, “Bagus yah Ryo,
    pemandangannya. ..”, tegur Tia membuyarkan
    pikiran kosongku.
    “Yup, saya selalu suka city wiew seperti ini”,
    jawab saya sekenanya, biar nggak dikira
    ngelamun.
    Malam semakin larut ketika kita memutuskan
    untuk kembali ke hotel. Kita makin dekat satu
    sama lain, saling curhat selama perjalanan di
    mobil. Becanda, ketawa-an bareng. Why do I feel
    that everything seems so right when we’re
    together? Ah mungkin saya aja yang terlalu
    terbawa suasana.
    Waktu menunjukkan sekitar pukul 11 malam
    ketika kita kembali menginjakkan kaki di lobby
    hotel. “Ryo, mau nemenin ngobrol sebentar
    nggak ?”, tanya Tia tiba-tiba.
    “Boleh aja, emang belum ngantuk?”, tanyaku
    balik.
    “Nggak, lagipula kalau di tempat yang asing Tia
    jadi susah tidur.”, katanya memberi reasoning.
    Akhirnya saya ikut melangkahkan kaki ke kamar
    Tia yang terletak di lantai 4. Sebuah kamar
    standar dengan 2 single bed, TV, kulkas dan
    peralatan standar layaknya sebuah kamar hotel
    berbintang. Good enough, daripada kamar
    kostku, hehehehe….
    “Lha kamu sendiri di sini ?”, tanya saya begitu
    melihat tidak seorang pun di kamarnya.
    “Sebenernya kamar ini untuk berdua, dengan
    Rini, itu lho yang tadi pagi ikut tes juga”, jelasnya,
    “Tapi dia langsung pulang Jakarta pake
    kereta terakhir tadi sore, katanya besok mau ada
    acara apa gitu di keluarganya” .
    Kita memasak air dengan menggunakan ketel
    elektrik yang disediakan hotel untuk kemudian
    masing-masing menikmati secangkir coffemix
    panas. Kursi sengaja kita balikkan menghadap ke
    jendela, untuk memandang Jalan Tamblong yang
    telah temaram dan senyap. Sesekali terlihat mobil
    melintas dengan kecepatan di atas rata-rata,
    mungkin karena sudah malam. Begitupun
    suasana di kamar ini, hanya suara MTV Asia dari
    TV yang dihidupkan yang menemani
    perbincangan kita, menggantikan cahaya lampu
    yang memang kami padamkan. Entah mengapa,
    saya merasa begitu dekat dengan Tia, padahal
    baru beberapa jam kita berkenalan. Ah sekali lagi,
    mungkin saya terlalu terbawa suasana….
    Namun kali ini ternyata Tia yang duduk di sebelah
    saya bukanlah seperti Tia yang saya kenal dalam
    jam-jam terdahulu. Dalam curhatnya,
    ia terlihat sangat rapuh. Entah memang nasib
    saya untuk selalu menjadi tempat curhat orang
    lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga
    kini setelah menamatkan pendidikan tinggi, saya
    selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam
    lingkaran terdekat saya. Dan kini saya harus
    menghadapi Tia yang sesekali sesunggukkan,
    meremas-remas sapu tangannya dan menghapus
    air matanya yang mulai jatuh satu persatu.
    Love…, look what you have done to her,
    bastard…!!
    Saya bangkit dari duduk dan berjalan perlahan
    menghampirinya. Saya hanya bisa termangu
    berdiri di sampingnya dan melihat ke luar untuk
    menunggunya menyelesaikan kisah-kisah yang
    menyesakkannya selama berbulan-bulan. Saya
    mencoba menenangkannya sebisa saya dengan
    menganalisis kehidupannya dari berbagai
    perspektif. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ia
    masih beruntung karena ditunjukkan
    ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka
    belum menikah, karena akan lebih sangat
    menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika
    mereka telah menikah.
    Setelah beberapa waktu kita membahasnya, Tia
    terlihat sudah agak tenang. “Thanks Ryo, kamu
    mau jadi tempat sampah Tia”, katanya sambil
    sedikit tersenyum.
    “That what friends are for”, jawab saya singkat
    sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada
    seorang anak kecil, padahal dia 3 tahun lebih tua
    daripada saya, hehehe..pamali tau…!! Saya duduk lesehan di karpet bersandarkan pada
    tepi ranjang sambil meluruskan kaki.
    Hhmmm..enak juga duduk posisi kayak gini.
    Tidak berapa lama kemudian Tia menyusul turun
    dari kursi dan bergabung duduk dengan posisi
    lesehan di sampingku. Kayaknya enak banget lihat
    gaya kamu, katanya sebelum dia menyusulku
    duduk di karpet. “Ryo, kamu itu aneh yah ?”, tiba-
    tiba suara Tia menyentakku.
    “Aneh selanjutnya bagaimana maksud loe?”, tanya
    saya asal sambil menirukan sebuah dialog
    sinetron Si Doel beberapa waktu yang lalu.
    Hihihihi…. terdengar Tia cekikikan
    mendengarnya.
    “Ya aneh aja, Tia baru kenal kamu hari ini, tapi
    rasanya Tia udah kenal sama kamu lama banget”,
    katanya lagi, “Sampai Tia mau curhat
    sama kamu, padahal Tia paling jarang curhat,
    apalagi sama orang yang baru kenal”.
    “Sama, Aku juga gitu kok Ya, jangan-jangan kita
    pernah ketemu di kehidupan sebelumnya yah ?”,
    jawab saya sambil nyengir.
    “Ada-ada aja kamu….”, katanya sambil tiba-tiba
    merebahkan kepalanya di bahu kananku. Jujur aja
    saya cukup terkejut menerima perlakuannya, but
    santai aja, lagipula apalah yang mungkin terjadi
    dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala
    sejenak ?
    Cukup lama kita masing-masing terdiam dalam
    posisi ini sambil memandang sebagian horizon
    langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang dari
    jendela kamarnya. Sayup-sayup terdengar dari TV
    rintihan Sinnead O’Connor yang tengah
    menyanyikan lagu legendarisnya :
    …I can eat my dinner in the fancy restaurant but
    nothing, I said nothing can take away this blue
    cos nothing compares, nothing compares to
    you…..
    Perlahan saya usap rambutnya dan
    memberanikan diri untuk mengecup keningnya.
    Tia mendongakkan kepalanya untuk
    memandangku. Beberapa saat kita saling
    berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran
    matanya inikah yang selama ini saya cari ?
    Mungkinkah saya menemukannya hanya dalam
    beberapa jam saja setelah sekian lama saya
    mencarinya entah kemana ? How can I be so sure
    about that ? dan sekian banyak pertanyaan
    lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati
    detik demi detik kami berpandangan. Yang saya
    tahu beberapa saat kemudian wajah kita semakin
    mendekat dan sekilas saya melihat Tia menutup
    matanya dan pada akhirnya saya kecup lembut
    bibirnya.
    Kami berciuman seakan-akan kami sepasang
    kekasih yang telah lama tidak berjumpa.
    Menumpahkan segala kerinduan dalam
    kehangatan sebuah ciuman. Perlahan saya raih
    pinggang Tia dan mendudukkannya dalam
    pangkuan. Kini kami semakin dekat karena Tia
    saya rengkuh dalam pangkuan saya. Saya usap
    lembut rambutnya, sedangkan dia memegang
    lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam,
    seakan tidak pernah dia lepaskan.
    Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar
    tarikan nafas Tia yang terdengar begitu lembut.
    Akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai
    menurunkan bibir ke arah lehernya.
    “Ugh…”, hanya terdengar lenguhan lembut
    seorang Tia ketika ia mulai merasakan hangatnya
    bibir saya menjelajahi lehernya.
    Tidak ada perlawanan dari aksi yang saya lakukan.
    Tia justru makin mendongakkan kepalanya,
    semakin memamerkan lehernya yang putih dan
    jenjang. Kedua tanggannya meremas seprai
    tempat tidur sebagai tumpuan. Saya pun semakin
    terhanyut terbawa suasana. Saya perlakukan Tia
    selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi
    milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan
    makin menekankan punggungnya ke arah
    tubuhku.
    “Ryo…oohh. ..”, lenguh Tia saat dia menyadari
    terlepasnya satu per satu kancing kemejanya.
    Ya…saya memang melepaskannya untuk
    melanjutkan cumbuan saya kepadanya. Jilatan-
    jilatan lembut mulai menjalari dada Tia, seiring
    meningkatnya hasrat manusiawi dalam diri
    kami.
    Dengan sekali gerakan, saya dapat
    menggendongnya. Kami lanjutkan percumbuan
    dalam posisi berdiri dengan Tia dalam
    gendongan. Tangannya mulai meremasi
    rambutku. Perlahan-lahan kemejanya terjatuh
    terhempas ke karpet, menyisakan bagian atas
    tubuh Tia yang tinggal berbalutkan sehelai bra
    putih. Beberapa saat kami bercumbu dalam
    posisi ini, sampai akhirnya saya merebahkannya
    di ranjang. Terdengar suara Donita, presenter
    MTV Asia, terakhir kali sebelum saya meraih
    tombol off TV yang terletak di buffet samping
    ranjang. Kali ini suasana benar-benar senyap,
    hanya tarikan nafas kami berdua yang masih
    sibuk bercumbu. Tia mencoba untuk melepaskan
    satu per satu kancing kemejaku hingga akhirnya
    ia berhasil melepaskannya, hampir bersamaan
    saat saya berhasil melepaskan bra-nya.
    Kami meneruskan pergumulan, namun sebuah
    perasaan aneh menyusup ke dalam hatiku. She’s
    different, pikirku. Jujur saja, saya sudah beberapa
    kali mengalami sexual intercouse, pun dengan
    orang-orang yang baru saja saya kenal. Namun
    kali ini terasa berbeda. Ada perasaan lain yang
    mengiringi nafsu yang bergejolak, sebegitu
    dahsyatnya sehingga nafsu itu sendiri menjadi
    tidak berarti lagi keberadaannya. Sayang…., yah
    mungkin inilah yang disebut dengan perasaan
    sayang itu, sesuatu yang sudah lama tidak saya
    rasakan keberadaannya. Ini membuatku ingin
    memperlakukannya seindah dan selembut
    mungkin. Tia bukan hanya seseorang yang
    mengisi sebuah babak pelampiasan nafsu
    manusiawi dalam hidupku. Dia berbeda, she
    deserves the best…!!

Perawatan Wajah Dita

Gubraaaakk..!!!
Bunyi pintu dibanting mengagetkan kami (aku dan istriku yang sedang bertempur) di sore yang tenang .
“Huuh…ganggu orang aja…”! kataku kesal.
“Paling si Dita pah…!” sahut istriku sambil memakai daster.
Jadi loyo deh si junior….runtukku dalam hati. Untung mertuaku lagi keluar kota jenguk sodaranya yang lagi sakit.

Itulah serba-serbi kehidupan kami di rumah ini. Kami adalah keluarga besar, semenjak menikahi istriku 2 tahun yang lalu aku memang numpang dirumah mertua. Di rumah ini ada juga mertua perempuan janda 50 tahun, adik istriku-Dita 22 tahun. Sedangkan aku Rudi 29 tahun dan istriku Maya 27 tahun. Sedangkan ayah mertuaku sudah meninggal setahun yang lalu. Kami belum dikaruniai anak walaupun sudah 2 tahun menikah. Maklum sama-sama sibuk kerja dan ngejar karir.

“Ada apa Dit?”, “Ribut lagi sama Robby (tunangan Dita)?” Tanya istriku.
“Pulang malming kok marah-marah gitu?” lanjut
“Iya Mbak ….lagian si Robby ngeledek terus.”jawab Dita sambil tiduran telungkup di kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku.
“Ngatain jerawat lagi?” lanjut istriku
“Iya Mbak di depan mamanya lagi… aku kan jadi kesel!” jawabnya sambil sesunggukkan.
“Katanya kok beda sama kakak kamu yang mukanya mulus..!” lanjut Dita.
“Hmmmm….ntar deh kamu Mbak kasih tau rahasianya!” kata istriku sambil ngelus-ngelus rambut Dita dan matanya menggerling nakal kepadaku. Aku yang berdiri di pintu kamar Dita hanya bisa melongo…sambil horny liat sepasang paha Dita yang pake rok mini berbaring telungkup hingga keliatan CD ungu nya. Sedikit gambaran mengenai Dita: 165cm, 55kg, cup 34B, putih, rambut panjang bergelombang. Sedangkan Maya 168cm, 50kg, cup 34B, putih, rambut lurus panjang.
“Janji yah Mbak…!” kata Dita manja.
“OK nona manis..jangan ngambek lagi yah!” sahut istriku.
“Kita lagi enak-enakkan jadi keganggu deh…gagal maning deh!” kataku sambil ngeloyor ke kamar mandi. Kulihat disudut mata Maya melotot ke arahku.

Malamnya aku coba pancing-pancing istriku, maklum tadi sore ngegantung.
“Tunggu pah…si Dita blom tidur tuh!” sambil matanya nunjuk Dita yang lagi nonton tv.
“Udah ga tahan yah mas Rudi…?” Tanya Dita nengok ke arahku sambil senyum-senyum.
“Bay de wey….Mbak Maya kan janji mau ngasih tau rahasia kulit muka Mbak yang halus itu. Soalnya dulu khan Mbak Maya jerawatan juga..!” cerocos Dita.
“Oooh itu…justru ini juga Mbak Maya mau perawatan muka alias facial!” kata Maya.
“Udah deh kamu tunggu disitu…ntar Mbak bawain obat facialnya..Ayo mas aku juga dah ga tahan?” sambil berdiri dan menarik tanganku ke kamar.
“Jangan nguping ya..apalagi ngintip!” kataku ke Dita.
“Sip Mas…!” sahut Dita

Ga perlu diceritain proses pertempuran kelamin kami. Biasanya menjelang ejakulasi aku cabut kontolku dan kukocok cepat dan disembur dimuka istriku (hhmm…mungkin ini penyebab kami belum punya anak). Aku sih oke-oke aja selama Maya puas dan akupun puas.
“Pah…tolong panggilin Dita!” kata istriku.
“Hah..??” ga malu emang?” kamu kan belepotan gitu?”tanyaku.
“Udah cepetan…!”skalian biar si Dita tau obat perawatan muka yang paling manjur!” lanjut Maya.
“Dit..Dita…!” kataku sambil menggoyangkan tubuh Dita. Rupanya ia tertidur di sofa, mungkin kelamaan nunggu kali yaa..”batinku
Dasar emang si Dita kalo tidur rada susah bangun…”kesempatan nih!” dalam hati. Ku elus-elus pahanya trus naik ke perut, kuremas-remas lembut toketnya, sungguh kenyal dan empuk. Dita menggeliat-geliat. “Dit…! Bangun!” kataku.
“Dah beres yam mas?, Mbak Maya mana?”sambil kucek-kucek mata Dita bangun.
“Tuh ditunggu Mbak Maya dikamar!” jawabku. Dita langsung bangun menuju kamar. Aku berjalan dibelakangnya terlihat CD nya menerawang karena ia cuman pake daster transparan selutut…Busyet pantatnya bulet banget…batinku. Tanpa terasa kontolku bangun lagi.

“Oooo…jadi obat facialnya pake ini?” kata Dita sambil mencolek maniku di muka Maya. “Iiihh…lengket!” lanjutnya.
“Emang si Bobby ga pernah nyemprot dimuka?”tanyaku. Sambil pelototin toketnya Dita yang ga kebungkus BH.
“Mas Bobby klo Dita kocokkin begitu mau keluar langsung ambil tissue..”kata Dita.
“Emang kalian dah pernah ML?”tanyaku lagi.
“Weee…mau tau aja!”jawab Dita sambil melotot ke arahku yang lagi melototin toketnya.
“Nih kamu cobain Dit!” kata Maya.
“Yang paling bagus itu yang langsung nyemprot dari ‘alatnya’ soalnya masih panas jadi langsung kerasa khasiatnya,” kata Maya lagi.
“Coba pah keluarin lagi!” kata Maya
“Hah!!!!” kataku kaget
“Malu ahh ada Dita!” kataku nolak padahal ngarep banget.
“Sini pah aku kocokin, ntar kalo mau keluar nembak di mukanya Dita!” kata Maya sambil bangun sehingga selimutnya melorot, terpampang toket putih bulet dengan puting coklat mancung. Langsung aja Maya melorotin boxerku dan si Junior langsung greng.
“Tuh kan udah bangun! Hayoo kamu ngeliatin siapa?” kata Maya nakal sambil mengurut kontolku.
“Oohh…oohhh..gila kamu May!” kulihat Dita cuman melongo (kagum kayaknya ngeliat juniorku yang ukurannya 19cm diameter 4cm). Maya langsung tancap gas ngemut kontolku sambil tangannya ngelitikin pelerku.
“Aahh…ssshh..akh..okh..yes Mah..mantap..” ceracauku. Tanganku langsung beraksi milin putingnya Maya kiri-kanan.
“Maaaah…ssshh..aku mau keluaaargh…ahh..ahh..” desahku tertahan.
“Sini Dit…ga usah malu”kata Maya sambil geser kesamping. Tangannya tetep ngocokin kontolku yang udah siap meletus. Dita beringsut kehadapanku. Kupegang pundaknya pake tangan kanan, sementara tangan kiriku langsung hinggap di toketnya sebelah kanan.
“Akhh..akkhh..aaaaahh..yessssh..croot..croott…croo tt..” 3 kali tembakan maniku ke arah muka Dita. Keliatan Dita kaget mangap ga siap jadinya ada sebagian yang masuk mulut.
“Iiihh…hueeek..”katanya sambil mau muntah. Dengan sigap Maya meratakan mani keseluruh muka Dita dan tanganku masih tetep ngeremes toket Dita, malah udah masuk keleher dasternya sambil milin putingnya. Mumpung dia ga nyadar pikirku.
“Husshh mas…tangannya nakal!”tegur Maya sambil melotot. Dita yang nyadar langsung mundur sambil nyilangin tangannya di dada.
“Uupss…maaf abisnya kebawa suasana!” kataku.
“Udah kamu tiduran dulu..ntar kira-kira sejam ato dah kerasa kering baru dicuci pake pembersih wajah!” kata Maya memberi instruksi ke Dita.
“Udah pah jangan melotot gitu….kayak yang ga pernah liat cewe aja, kita lanjut ronde dua yuu?” kata Maya.
“Dimana mah?”di sini?”tanyaku. “Dikamar aku aja Mbak!” sahut Dita
“Yaa udah…ayo mas!” kata istriku sambil bangun dan keluar menuju kamar Dita. Hmmm bakalan lembur nih! Batinku.

Seminggu setelah kejadian itu kulihat ada perubahan pada wajah Dita yang terlihat agak bersih walaupun masih ada jerawatnya hanya kecil-kecil. Ga kayak sebelomnya yang besar-besar mirip bisul.
“Pah aku ada konsinyasi di Cipanas 2 hari, bolehkan?”Tanya istriku pas malem kita lagi nonton tv.
“Kapan mah?”kataku balik nanya.
“Selasa pagi berangkat trus pulangnya Rabu pagi. Bolehkan?”Tanya istriku.
“Yaa boleh doong!” kataku
“Makasih pah, ntar biar Bik Surti atau mama yang masak,” kata Maya.
“Iya Rud..ntar Bik Surti aja yang masak, soalnya besok mama mau ke Bogor ke rumah Om Yanto, dan kayaknya pulangnya malem,”sahut mertuaku nimbrung. Memang aku ini suka ga mau makan kalo bukan masakan istri kecuali lagi tugas luar.
“No problemo …!” kataku.
“Mama tidur duluan ahh..,”kata mertuaku sambil ngeloyor ke kamarnya. Gak lama Dita keluar dari kamar sehabis pulang kerja dan mandi. Semerbak wangi sabun memenuhi ruangan. Aku langsung terkesiap ngeliat Dita yang pake daster tipis no Bra.
“Mau kemana Mbak?”tanya Dita
“Konsinyasi 2 hari di Cipanas!”sahut Maya.
“Yaaa…padahal aku pengen perawatan muka lagi nih,” kata Dita sambil ngelirik ke arahku.
“Kamu minta ke mas Rudi aja, tapi awas jangan kelewatan!” kata Maya setengah berbisik . Ohh god, aku diem ga bisa ngomong.
“Ok Mbak..asal mas Rudi nya ga keberatan aja!” sahut Dita sambil menggerling nakal ke arahku. Ga janji yah Dit…batinku.
Besoknya aku izin gak masuk kerja alesannya mau nganter istriku ke Cipanas. Pulangnya dijalan tol HP ku bunyi, kulihat dari Dita.
“Hallo…dimana mas?”Tanya Dita
“Masih di tol Jagorawi arah pulang baru nyampe Cibubur, knapa?” tanyaku.
“Ntar mampir ke kantorku mas, aku juga izin kerja setengah hari alesannya mau anter mama ke Bogor.” Sahut Dita diujung sana.
“OK non…tunggu 1 jam lagi ya..bye!”kataku sambil kututup telepon. Trus kupacu mobilku ke kantor Dita di Rawamangun. Satu jam kemudian nyampe kantornya ternyata Dita dah nunggu dilobby.
“Berangkaaat….”kata Dita. Aku masih diem sambil mikir…
“Mau anter mama? Kan mama tadi bareng aku berangkatnya?”tanyaku heran.
“Hihihihi….kaget yah?Dita kan pengen facial lagi mas!”jawab Dita.
“Kalo alesannya nganter mama khan sama boss langsung diizinin, masa alesannya mau facial?”kata Dita. Pinter juga ni anak..pikirku.
“Mau dimana nih?”tanyaku
“Di rumah aja mas,kan jam segini Bik Surti dah pulang…lagian kalo dirumah kan bisa santai,”cerocosnya.
Sepanjang jalan aku hanya bisa ngelirik Dita yang hari ini pake blazer dan daleman berleher rendah plus rok span selutut. Sexy banget..batinku. Kontol langsung ngaceng abiis.
“knapa mas ngelirik terus?xixixi …ada yang bangun tuh!” kata Dita sabil cekikikan.

Sampe rumah aku langsung mandi ganti baju trus makan. Dita langsung bergabung dimeja makan. Yang bikin aku ga konsen makan liat Dita pake daster hitam kontras sama kulitnya yang putih, no bra, no CD…glek bikin jakun turun naek. Beres makan aku ke ruang tengah nyalain tv, sedang DIta ke dapur beres-beres. Gak lama dia muncul trus duduk sebelahku. Di tangannya bawa peralatan perawatan kecantikan.
“Ayo mas kita mulai?”ajak Dita.
“Gimana caranya Dit?”bingung.
“Sekarang mas Rudi ngocok trus pas mau keluar arahin ke mukaku!”kata Dita.
“Di sini?trus?” tanyaku kayak orang bloon.
“Udah deh cepetan..,”katanya ga sabar
“Tapi…..” kataku ragu-ragu.
“Nih buat rangsangan, tapi jangan dipegang kayak tempo hari!”kata Dita sambil nurunin tali daster sebelah kanan. Toket putihnya langsung nyembul dengan puting mancung warna pink. Dengan semangat 45 langsung kubuka celanaku. Si junior langsung on fire. Kukocok perlahan sambil mataku gak lepas dari toket Dita. Irama kocokkan makin lama makin cepat, dan sekitar 15 menit masih belum ada tanda-tanda mau keluar.
“Knapa mas?, kok lama sih?”Tanya Dita.
“Gak tau Dit….butuh rangsangan lebih kali,”jawabku sekenanya. Dita beringsut mendekatiku. Tanganya langsung meraih kontolku. Aakkh rasanya kayak disetrum. Mataku langsung merem nikmatin kocokan Dita yang ternyata udah lihai.
“Enak mas?” tanyanya sambil ngegelitik pelerku
“Aaakhhh…enaak Dit…kamu lihai bangeeeetth..”desahku.
“Slruuup..hhmm…Dita langsung mengulum kontolku. Tanganku gak mau kalah langsung ngeremas-remas susunya yang terbuka. Nafas kami mulai memburu tanda rangsangan meningkat. Kuakui Dita lihai memainkan lidahnya di titik sensitif. Entah siapa yang mulai ternyata kami sudah bugil. Kepalang tanggung deh, kutarik kontolku dari mulut Dita. Kami berciuman saling mengait lidah. Ciumanku turun ke leher dan belakang telinga lalu ke toketnya. Kumainkan putingnya susu Dita kiri dan kanan. “aakkh..aaakhh…mas..”Desahan nikmat keluar dari mulut Dita.
Akhirnya ciumanku sampe ke memeknya. Langsung kulahap habis klitorisnya. Dita makin kelojotan. Tak henti-henti erangan dan desahan keluar dari mulutnya.
“Ooh…aakkh…maaaassh…aww..”eranganya yang bikin aku makin semangat. Gak lama kemudian Dita teriak-teriak sambil pahanya ngejepit kepalaku dan tangannya ngejambak kepalaku.
“aaakhh…aaakkh..akuuuu nyampeeee massss…” teriaknya orgasme sambil kelojotan kayak lele kesetrum. Kuhisap habis cairan yang keluar dari memeknya. Setelah itu kuangkat kepalaku kulihat Dita merem sambil ngegigit bibir.
“Gimana Dit..enak ga?kamu belom pernah diisep kayak tadi yah?”tanyaku. Dita ngga ngejawab hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku masukin yah Dit..memek kamu dah pernah dimasukkin sama Bobby kan?” tanyaku. Dita hanya mengangguk lemah.
“Pelan-pelan yah mas….kontol mas Rudi gede banget soalnya.” Lanjutnya.
Kulebarkan pahanya…pelan-pelan kuarahkan kontolku ke memeknya. Baru masuk setengahnya kubiarkan dulu sambil ku kenyot puting susunya. Bless langsung kutancap seluruhnya..aaakhh maass….Pelan..pelaaaan..” teriak Dita. Luar biasa cengkraman memek Dita. Kontolku serasa diremas-remas didalem. Semakin Dita menggoyangkan pinggulnya semakin keras remasan yang kurasakan. Dengan ayunan konstan kupompa kontolku. Desahan dan erangan keluar dari mulut kami berdua. Bunyi gesekan kelamin dan beradunya paha membuat suasan ruangan semakin hot. Slep..sleep..plok..plok..
“Maaas….nikmat aaaakkhh aku nyampe lagiiiiii….”teriak Dita orgasme yang kedua kali. Terasa memeknya memilin-milin kontolku. Kudiamkan beberapa saat sampe Dita tenang. Kucabut kontolku kuminta Dita untuk nungging. Doggy style gaya favoritku. Pantat Dita yang putih dan semok langsung kuciumi, kujilat sampe ke lobang anusnya.
“Aaakkhh…maaaas….aaaakkh…geliiii..aduuuuh maaass…masuuukiiin maaassshh..”desahnya.
Kumasukkan kontolku ke memeknya. Luar biasa sensansinya…pantat bulet, putih semok serasa memeknya ngejepit dan ngeremes kontolku. Kupacu cepat kontolku. Bunyi pantat yang beradu dengan pahaku dan desahannya silih berganti.
“Plak..plak..plok..plok….aaaahh…ahhh…aaahh…Ditaaa. .memeek kamuuuhh mantaaaap…”ceracauku
“aahh…ooohhh…akkhh…maaaas kontol kamu enak banget..”desah Dita.
“Maaaas…akkkuuuu maauuu nyampeee lagiiii….ahhhh…aahhhh…”teriak Dita
“Maas jugaa mau keluaaar Dit….”kataku
“Maaas jangaaann…lupaa..”katanya sambil menahan desahan. Aku seperti diingatkan agar nyemprotin mani ku dimukanya Dita.
“maaaass….aku nyampeee…aaaakkkkhhh…nikmaaaat..”teriak Dita sambil ambruk telungkup. Otomatis kontolku terlepas dari memeknya. Kubalikkan tubuh Dita. Kudekatkan kontolku kemukanya sambil kukocok cepat. Dita hanya bisa merem kelelahan dengan nafas masih ngos-ngosan.
“aaakkkhh…Diiiiit..crooot…crooot…croot…crooot..”te mbakan maniku kena wajahnya. Gilaaa sexy banget nih cewek…kataku dalem hati. Aku langsung ambruk terlentang dikarpet. Kulihat Dita meratakan maniku keseluruh wajahnya.
“Diiit…maaf yah, kita jadi keterusan ML gini..”kataku. Ada perasaan bersalah kepada Maya istriku.
“Kamu jahat maass…,bikin aku lemes nikmat gini..”kata Dita pelan.
“Kamu gak apa-apa kan Dit?”tanyaku.
“Ga apa-apa mas, lagian nikmat banget mas…Ntar malem lagi yaa mass…!”jawab Dita.
“Tapi Maya gimana?”tanyaku takut
“Nyantai maas…ntar biar Dita yang ngomong ke Mbak Maya…”jawab Dita.
Ooh indahnya….aku gak bisa ngebayangin reaksi Maya jika tahu aku dah ngentot adik kandungnya. Gimana entar aja lah…kataku dalem hati.
Akhirnya malemnya kami bermain lagi sampe subuh. 2 kali aku nyemprot mani. Yang pertama ke mukanya yang terakhir aku semprotin di dalem memek Dita. Untungnya bukan pas masa suburnya.

Vagina Rapet Tetanggaku

Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak muda yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Tadi, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Tadi dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Tadi yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Tadi sedang mengocok liang vagina Bu Tadi. Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Tadi menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang cantik dan bahenol itu.

“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Tadi yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Tadi), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Tadi dan khususnya suara Bu Tadi yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Tadi juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Tadi itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu tadi istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Tadi pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Tadi opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Tadi. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Tadi pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tadi.
“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.
“Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Tadi.
“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku.
“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Budi” jawab Bu Tadi agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tadi yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.
“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.
“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Tadi.
“Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Tadi ini lhoo”, kataku menggodanya.
“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”, katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu tadi harus aku dapatkan.
“Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.
“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.
“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.
“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Tadi setuju. Batinku bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.
“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Tadi dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Tadi penasaran.
“Emangnya kenapa siih.” Bu tadi memandangku penuh tanda tanya.
“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil.
“Anu bu… tapi janji tidak marah lho yaa.”
“Bu Tadi terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu tadi. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tadi. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Tadi melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring. Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Tadi balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.
“Awaas! hati-hati!” Bu Tadi menjerit kaget.
“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.
“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu tadi. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Tadi yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Tadi. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Buu Tadi, aku Budi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Tadi bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Budi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Tadi. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Tadi aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Tadi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.
“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen”, bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Tadi membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Tadi menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung. Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Tadi meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Tadi segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tadi, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Tadi dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Tadi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. “Aduuh, Dik Budi, Dik Budii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus”, bisik Bu Tadi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Tadi kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Dik Budiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus”, Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi sampai amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Tadi. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.
“Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Tadi tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Tadi sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Tadi istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Tadi hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Tadi. Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Tadi, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Tadi tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Tadi memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal). Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Tadi, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tadi sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan nggak?”
“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.
“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.
“Emangnya Pak Tadi nggak ada?” kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Tadi sudah padam dari tadi. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Tadi. Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu tadi tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Tadi menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.
“Pak Tadi sedang kemana sih maa”, tanyaku.
“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.
“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Tadi diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.
“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Tadi memandangku.
“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.
“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.
“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.
“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”
“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.
“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih”, kataku menggoda.
“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.
“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!” katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Tadi mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu, buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Tadi. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Tadi megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.
“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Tadi.
Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Tadi memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Tadi dengan penisku. Bu Tadi semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.
“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Tadi
“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”,
“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa…, ouuch..”, jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tadi menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Tadi. Bu Tadi miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa tadi mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua di rahim istri gelapku ini? Salam.

Like mother like daughter

Satu weekend aku lagi jalan ma mamahku di mall. Mamah ketemu ma temennya lelaki, om2, ganteng banget deh. “Pa kabarnya ni, makin cantik aja”, sapa si om. Mamahku kecentilan menjawab, “Masak si, dah tua”. mereka ber cipika cipiki tanpa sungkan ada aku juga. “Seginilah dibilang tua, ni lagi ranum2nya lo”. “Bisa aja kamu, tu klakuan gak brubah dari dulu”. “Ni sapa, kok cantik banget, sexy lagi”. “O ini anakku Dina, masi klas 9, jau banget skolahnya didaerah… (mamahku nyebut lokasinya)”. “Wah deket banget ma rumahku, kalo jau kos ja dirumahku, bereskan. Buat kamu mah foc deh”. “bener ni foc”. “Iyalah buat kamu apa si yang enggak, aku kan buka kos2an dirumah”. “Mangnya masi ada kamar”. “Di bagian kos2an dah penuh tapi masi da kamar kosong di rumah utama”. “Mau gak Din kos ditempatnya om…. (mamah nyebut namanya). Ni om temen mama dulu”. “Mantan pacar Din”, kata si om sambil ngedipin matanya ke aku. Ih genit, sama ja kaya mamahku. Tapi aku suka banget liat si om, keren, tegap lagi badannya, gak gendut kaya kebanyakan lelaki seumuran itu. “Katimbang kamu dah capek kalo nyampe rumah, blon bikin pr lagi kan, blajar buat ulangan besok lagi”. “Ya boleh deh mah, palagi si om ngasi gratisan kan”. “Ya udah, kita pulang beberes barang, trus mamah anterin ke tempat si om”. “Gak usah, kalian ikut aku aja pake mobilku, aku anter kalian pulang, trus Dina biar ikut aku kerumah”. “Wah si mas mah baek banget”. “Kan dah kubilang, buat kamu apa si yang enggak”.

akhirnya kami ikut si om kerumah, kebetulan tadi kami naek taksi karena mobilnya ngadat ga mo distater. Di rumah mereka masi ngobrol, bernostalgila kali ya, aku si beberes baju en barang2 yang mo kubawa ja, gak banyak si, aku bawa laptop juga supaya bisa brosing internet dan ngerjain tugas sekolah, juga buku2 sekolah. Jadilah barangku ada koper pakean dan kardus barang2 serta laptop. aku seret bawaanku keluar. “Kok dikit bawaannya Din”. “Segini juga dah banyak om. Mah, Dina pamit ya”. “Jangan bengal ya dirumah om, kalo weekend pulang ke rumah”. “Iya mah, dadah mamah”, kataku sambil mencium tangan mamahku. Si om membawakan barang2ku, dimasukkan ke bagasi kecuali laptop dimasukkan di jok blakang. “Udah ya, aku duluan”. “Nitip Dina ya mas”. Mobilpun meluncur meninggalkan rumah.

“Om beneran mantannya mamah”. “ya, bener, om yang ketiga”. “Wah mamah banyak banget pacarnya”. “Kamu brapa pacarnya”. “Cuma satu kok om”. “Mamah gak tau ya kamu punya pacar”. “Kok om tau”. “Ya taulah, kalo gak kan pasti dia suru kamu kabarin cowok kamu kalo kamu mo kos ditempatku. Kamu cantik Din, lebi cantik kamu katimbang mamah kamu”. “Wah om mulai gombal ni”. “Tapi suka kan digombalin, biasanya abege si kaya gitu”. “Wah om dah pengalaman jualan gombal ya”. Dia tertawa ja. “Kamu suka maen pa cowok kamu ya Din”, kaget juga aku ditanya tudepoin gitu. “Sok tau ah om”. “Past deh, makanya kamu gak bilsang sama mamah kamu, pulang skul sering maen dulu kan ma cowok kamu, makanya ampe rumah malem”. Tepat banget dugaan si om. “Ditempatku gak bole cowok masuk kamar lo Din, aturannya memang gitu, gak bole lawan jenis ada di kamar. Kalo maennya diluar ya terserah”. Dalem ati, aku maennya kan dikosan cowokku. “Kamu ni masi juga klas 9 dah ngesex segala”. “Bisnya nikmat si om”. “Cowok kamu yang mrawanin kamu ya”. Aku cuma ngangguk. “Temen skul kamu”. Aku ngegeleng, “Bukan om, cowok Dina dah mahasiswa”. “Wah demen daon tua ni kamu”. “Mahasiswa kan blon tua lah om”. “Tapi kan jau lebi tua dari kamu”. “Iya si, tapi asik2 aja tu ma yang jau lebi tua”. “Om lebi jau lagi tuaan dari kamu”. “Maksud om”. Dia senyum2 ja gak ngejawab, wah ada bakwan dibalik batu ni.

Sampelah kami dirumahnya, rumahnya besar, dibagian belakang rumahnya si om ngebangun kamar2 kosnya, 2 tingkat. “Yang atas buat lelaki dan bawah prempuan”. “Kok prempuan slalu dibawah ya om”. “Gak lah kadang2 diatas”, si om nyambung juga ma guyonanku yang miring. “Kamu suka diatas ya Din”. Aku cuma senyum ja. Aku yang mulai miring2, eh disamber lebi miring lagi, kalah ngomong deh aku. Aku diajaknya kedalem rumahnya, aku dikasi kamar disebelah kamarnya. Gede juga, ada ac nya, kamar mandi didalem, prabotannya ya ranjang, lemari, meja blajar ja. Kamar mandinya shower type, wc ma wastafel, standard juga. “Ya udah kamu beberes ya Din, kalo perlu apa2 om ada di kamar”. Aku membereskan barang2ku, trus keluar cari minum.

Di rumah itu kayanya gak da siapa2. Si om keluar dari kamar, “Mo orientasi rumah ya Din. Ni dapurnya, kalo perlu piring gelas ya ambil ja di rak piring. Sendok garpu en piso ada dilaci ini. Perabotan masak ada dilemari bawah. Kalo mo masak bisa pake kompor ato microwave, kamu bisa masak gak”. Aku ngegeleng. “Jangan2 masak air ja kamu gosong ya”, godanya sambil tertawa. “Ya gak gitu2 amir lah om, Dina bisa masak mi instan”. “Cowok kamu kah?” “Maksud om?” “amir?” Aku tertawa, “Amat mudik, yang ngeganti amir om”. “asik juga neh becanda ma cewek imut, sexy en cantik lagi, lebi cantik dari mamah kamu waktu jadi cewek om”. “Masak si om, tapi mamah kan toge, Dina kan tocil om, masak sexy si”. “Sekarang toge, dulunya biasa2 aja. Kan kamu imut, jadi gak masalah tocil juga, kalo imut toge kan gak proporsional jadinya. Kamu mandi gih, ntar om ajak kamu makan sate, doyan kan”. “Doyan om, Dina mah omnivora kok”. “Wah ntar sosis om kamu makan juga dong”. “Ih prono ngomongnya”. “Panya yang prono, tu ada sosis di lemari es”, katanya sambil membuka lemari esnya yang penuh macem2 makanan. “Kamu kalo mo makan ambil ja, gak usah sungkan”. “Wah dah ngekosnya gratis, makannya gratis pula”. “Buat cewek secantik kamu apa si yang enggak”. “Tadi ngegombalin mamah skarang Dina yang digombalin”. “Tapi suka kan”, aku tertawa ja. “Dah mandi dulu sana, trus kita pergi makan”.

Segera aku mandi dan mengenakan tengtop ketat dan celana 3/4 yang ketat. Walaupun imut tapi bdanku ada bentuknya juga walaupun tonjolannya serba kecil. “Wow, sexy banget kamu sayang”. “Wah kok jadi sayang2an si, kaya cowok Dina ja”. “Om mau kok jadi cowok kamu, mau gak”. Aku senyum aja, aku seneng ja disanjung2 gitu. Aku jadi keinget kata temenku kalo maen ma om2 jau lebi nikmat katimbang ma maen ma cowok ndiri. Aku jadi penarasan kaya apa nikmatnya. “Jalan ja ya Din, deket kok”. aku ngangguk, aku digandengnya, seneng banget rasanya digandeng om ganteng kaya gitu, malah diperjalanan, tangannya memeluk ahuku dan meraik badanku merapat ke badannya. aku si iya aja. “Om mesra amir si ma Dina”. “aku suka liat kamu Din, keinget mamah kamu dulu”. “ah si om ber nostalgila ya”.

Di warung sate si om pesen sate kambing ma sate ayam, “Kamu mo lontong pa nasi, pasti demennya lontong ya”. Aku ngangguk sambil tertawa, “om ni menjurus aja si ngomongnya”. Pesenan dateng dan kami makan dengan lahap, si om pesennya sate banyak banget sampe aku kenyang banget karena dipaksa kudu ngabisin, sampe lontongnya gak kemakan, cuma brapa potong ja lontong yang aku makan. “Om kenyang banget deh, ngantuk ni”. “Mangnya besok masi ada tugas gak”. “Dah beres semuanya kok om” “besok kudu dianter skolahnya”. “Gak usah om, Dina jalan ja, deket banget dari rumah om”. “Ya udah, pulang yuk, trus bobo”. Aku digandeng2nya lagi, kami santai ja jalannya, trus terang aku sangat menikmati kemesraan si om, ampe lupa ma cowokku aku. “Om kok tinggal ndiri si”. “Om dah pisah Din, anak ikut ibunya”. “O maap, Dina gak tau om”. “No problemo”. “Trus rumah sapa yang ngebersiin om?” “Ada si pembantu, tapi konsentrasinya mbantu yang ngekos, jadi seminggu sekali baru ngerapiin rumah, nyuci baju dll”. “O gitu, Dina bole ikutan nyuci dong om”. “Ya bole, asal mo ditumpuk ja baju kotornya seminggu baru dicuci”. “Wah seragam Dina gak banyak”. Ya udah nanti om suru pembantu nyuciin baju Dina aja tiap ari”. “Om kayanya lebi tua dari mamah deh”. “Ya iyalah, mamah kamu kan bis smu langsung nikah ma papah kamu, makanya masi kaya kakak kamu kan”. “Mangnya om brapa lama jalan ma mamah”. “Setaon ada kali, trus mamah kamu dilamar ma papah kamu, putus deh kita”. “Dah ngapain aja tu setaon ma mamah”. “Mo tau aja kamu anak kecil”. “anak kecil yang dah bisa bikin anak kecil om”, jawabku nantangin”. “bener juga, bikin ma om yuk”. Ketauan deh belangnya, pantes dia nawarin aku tinggal dirumahnya, pengen berbagi kenikmatan dengan aku rupanya, ber nostalgila ma mamahku, cuman diterusinnya ma aku. Aku jadi berdebar antara kaget, seneng dan pengen.

Malemnya si gak terjadi apa2, si om gak mo grusa grusu rupanya, ya aku ngejalanin kehidupanku aja. karena aku tinggal diruma si om, aku gak bisa kluyuran ma cowokku lagi karena rumah si om deket banget ma skola ku. cowokku jadi uring2an karena susa banget nyari waktu untuki ngewein aku. Akhirnya dia jarang nongol dirumah si om, ya biar aja, aku dah punya gantinya kok, hihi geer ya, si om anteng2 aja kuanggep kaya cowokku aja. Sejak tinggal bersama si om, tentunya aku gak bisa merasakan kenikmatan dari cowokku, itu yang membuat aku gelisah kalo lagi bertanduk (horny kamsudnya, horn kan tanduk). Seminggu sekali si om nganter aku pulang, minggu sore aku dijemput lagi, mamah seneng banget si om memperlakuin aku kaya anaknya ndiri, mamah gak tau ja kalo aku pengen banget lebi dari kaya ke anaknya aja.

Satu hari ada hari libur nasional ditengah minggu. aku bangunnya jadi kesiangan. Ketika aku keluar kamar, rumah dah sepi, gak tau si om kemana. Aku balik kekamar tidur2an aja, karena gerah aku melepas pakean tidurku sehingga tinggal cd aja yang nempel di bodiku. Karena merasa sendirian di rumah, pintu kamar kubiarkan saja terbuka. Karena masi ngantuk akupun terlena lagi. Aku terbangun ketika mendengar suara orang batuk. aku kaget karena ketika aku membuka mata, kulihat si om dengan tersenyum sedang berdiri memandangiku disebelah ranjangku. Tanganku reflex menututpi toketku, tapi si om rupanya dah lama juga memandangi aku nyaris telanjang gitu. Dia duduk disebelahku. “Napa Din, gerah ya. Bodi kamu merangsang sekali Din. Sejak kamu dateng pertama kali, aku dah napsu liat bodi kamu. Hari ini baru aku bisa liat langsung bodi mulus kamu ampir telanjang”. Aku terdiam saja. Si om menarik tanganku dari toketku dan mulai menyentuh2 pentilku.”Din, Aku pengen deh ngelakuin ma kamu”. “Mangnya om tadi dari mana, kirain kerja.” “Aku off hari ini, tadi keluar beli keperluan bulanan ja. Mau ya Din ngentot ma aku”, katanya to the point. “Kan sekarang kamu horni berat ya karena dah lama gak dientot, om dah lama gak liat cowok kamu”. “Iya om”. “Ya udah ngelakuinnya ma aku aja ya”, katanya sambil menutup pintu kamar.

Dia berbaring disebelahku, masih memakai pakeannya. dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. tangannya mengusap2 pahaku. “Kamu cantik sekali, Din”, katanya. Tangannya pidah ke selangkanganku, mengelus bukit memekku. Dia bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku. Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. “Geli om”, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.”Toket kenceng ya Din, biar gak besar juga”, katanya. “Om suka kan”, jawabku. “Ya Din, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku.

Dia kemudian mencium bibirku. Keadaan menjadi tambah parah buatku karena yang dia cium kemudian adalah kuping dan leherku. berlama-lama lagi. Padahal itu termasuk daerah sensitif. Hal itu membuat aku mulai ser-seran. tangannya mulai turun ke dada dari bahuku. Tangannya lihai banget, putaran-putaran jarinya mampu membuat aku sesak karena toketku segera mengeras. Tangannya terus aktif, sehingga akhirnya pentilku menjadi keras banget. Bibirnya yang bermain dileherku, mulai turun ke bahu, tapi dia nggak langsung mencaplok pentil aku yang keras, disengol-sengol dulu sama hidungnya.

Napasnya yang hangat aja sudah berhasil membuat pentilku makin keras. Terus ia ciumin pelan pelan toketku, mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua bagian toketku dicium lembut olehnya. Belum puas menggoda aku, lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas toketku. Aku tak tahan dan mulai mendesah. Akhirnya lidahnya mulai menyapu sekitar pentilku dan akhirnya pentilku tersapu lidahnya. perlahan mula mula, makin lama makin sering dan akhirnya pentilku dikulumnya. Ketika aku merasa nikmat dia melepaskannya. dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi, perlahan mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya pentilku. Kali ini pentilku digigit perlahan sementara lidahnya berputar putar menyapu pentil itu. Sensasi yang ditimbulkan ruar binasa, semua keinginanku yang kupendam selama ini serasa terpancing keluar dan berontak untuk segera dipuasi. Melihat aku mendesah dia makin seru.

Selain menggigit-gigit kecil pentilku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai bermain di lututku dan pahaku. aku makin merinding menahan nikmat. Dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini berada diselangkanganku. Dengan lembut dia mengusap-usap selangkanganku. “Dah basah gini cd kamu Din, lepas aja ya”. Tanpa menunggu persetujuanku, cdku diplorortinnya, aku mengangkat pantatku untuk mempermudah lepasnya cd dari badanku. “jembut kamu lebat jua Din, pasti napsu kamu besar. kamu gak puas kan kalo dientot cuma seronde ya Din”. “He eh”, hanya itu yang keluar dari mulutku. Usapannya menimbulkan sensasi dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat tenang lagi, sebentar bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi menyembunyikan kenikmatan yang kualami. Jarinya yang besar itu akhirnya menyelinap dikerimbunan jembutku dan langsung menemukan itilku.

Dengan gemulai dia memainkan jarinya sehingga aku melenguh kenikmatan. Jarinya lembut menyentuh itilku dan gerakannya memutar membuat tubuhkupun serasa berputar-putar. Akhirnya pertahananku jebol, cairan kental mulai mengalir keluar di memekku. dan dia tahu persis sehingga dia mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu datang, kepeluk kepalanya dengan erat dan kuhujamkan bibirku ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Dia dengan sabar tetap mengelus itilku, membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti. Lubang memekku yang basah dimanfaatkan dengan baik olehnya.

Sementara jari jempolnya tetap memainkan itilku, jari tengahnya mengorek-ngorek memekku menstimulasi apa yang dapat dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Aku megap-megap dibuatnya. Entah berapa lama dia membuatku seperti itu dan sudah beberapa kali aku mengalami orgasme, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan mengakhiri permainan ini.

Akhirnya aku yang memulai, tanganku meraba-raba selangkangannya. disana jemariku menemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh belaianku, gundukan itu berubah menjadi mengeras. Diapun segera melepaskan semua yang melekat dibadannya. Aku terkejut melihat kontolnya, sungguh perkasa, besar, panjang dan bengkung keatas karena sudah ngaceng dengan kerasnya. Segera dia berbaring lagi disebelahku. Entah mengapa aku jadi senang menggodanya, jariku terus membelai turun naik sepanjang kon tolnya yang luar biasa ukurannya. Secara perlahan kon tolnya bertambah panjang dan besar. tanganku meremas-remas bola-bolanya sehingga dia makin terangsang.

Sambil mengecup daun telingaku dia berbisik, “mulai maen yuk Din”. Aku tak tau harus bagaimana dan menurutinya saja ketika dia mencium bibirku dengan lembut, ini membuat tubuhku bertambah lunglai. Kembali bibirnya melumat bibirku cukup lama dan dalam. Dia mengecup ngecup bibir bawah dan atasku bergantian. Aku berdesah kecil ketika tangannya memeluk pinggangku dan menarik tubuhku makin merapat ketubuhnya. dua bibirku yang tanpa sadar merekah menyambut lidahnya. Lidah itu begitu lihai bermain diantara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku untuk keluar. Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat, sehingga perlahan lidahku mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya dengan sigap dia mengulumnya dengan lembut, dan menjepit lidahku diantara lidah dan langit-langit. Tubuhku menggeliat menahan nikmat yang timbul.

Sorotoan matanya yang tajam menyapu bagian-bagian tubuhku secara perlahan. Pandangannya agak lama berhenti pada toketkug. Tatapan matanya cukup membuat tubuhku hangat, dan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman. Dia kembali merangkul pinggangku yang ramping dan menariknya merapat ketubuhnya. Tanganku terkulai lemas ketika sambil memelukku dia mengecup bagian-bagian leherku sambil tak henti-hentinya membisikan pujian-pujian akan kecantikan bagian-bagian tubuhku.

Akhirnya kecupannya sampai di daerah telingaku dan lidahnya secara lembut menyapu bagian belakang telingaku. Aku menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil lepas dari kedua bibirku. Dia telah menyerang salah satu daerah sensitifku, dan dia tau itu sehingga hal itu dilakukannya berkali-kali. Dengan sangat mempesona dia berbisik bahwa dia ingin menghabiskan hari ini dengan bercinta denganku, kemudian bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku hingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku terasa ringan, tanpa sadar tanganku kulingkarkan di lehernya.

Kemudian dia membungkuk sehingga tanganku terlepas dari lehernya. Dia mulai menciumi ujung-ujung jari kakiku. Aku menjerit kegelian dan berusaha mencegah, namun dia memohon agar dia dapat melakukannya dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang ditimbulkan. akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan mengulum jari-jari kakiku. Aku merasa geli, tersanjung dan sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini. Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan perlahan tapi pasti bibirnya makin bergerak keatas menyusuri paha bagian dalam ku. Rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan membuat aku lupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka. Dia dengan mudah memposisikan tubuhnya diantara kedua pahaku.

Pertahananku benar-benar runtuh ketika dia menyapu-nyapukan lidahnya dipangkal pahaku. Aku berteriak tertahan ketika dia mendaratkan bibirnya diatas gundukan memekku. dia terus melumat gundukan tersebut dengan bibirnya seperti dia sedang menciumku. Aku berkali-kali menjerit nikmat, dan getaran-getaran orgasme mulai bergulung-gulung, tanganku meremas-remas apa saja yang ditemuinya, sprei, bantal dan bahkan rambut dia, tubuhku tak bisa diam bergetar, menggeliat, dan gelisah, mulutku mendesis tak sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara reflek dan beberapa kali terangkat mengikuti gerakan kepala dia. Untuk kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi. Dengan perlahan lidah dia menyentuh belahannya, aku menjerit tak tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan memekku, puncak orgasme tak tertahankan. Tanganku memegang dan meremas rambutnya, tubuhku bergetar-getar dan melonjak-lonjak.

dia tetap bertahan pada posisinya, sehingga lidahnya tetap bisa menggelitik itilku, ketika puncak itu datang. Aku merasa dinding-dinding memekku mulai lembab, dan kontraksi-kontraksi khas pada lorongku mulai terasa. lorong memekku secara refleks akan membuat gerakan-gerakan kontraksi, yang bisa membuat lelaki tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. dia nampaknya dapat merasakan kontraksi-kontraksi itu, sehingga membuat bertambah nafsu. Kini lidah nya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan bagian cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya mulai memburu.

dia kemudian bangkit, beberapa saat kemudian aku merasa kontol hangat yang sangat besar mulai menyentuh-nyentuh selangkanganku yang basah. dia membuka kakiku lebih lebar, dan mengarahkan kepala kontolnya ke bibir memekku. Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa keras dan besarnya kontolnya. Dia mempermainkan kepala kontolnya di bibir memekku di gerakan keatas ke bawah dengan lembut, untuk membasahinya. Tubuhku seperti tak sabar menanti tindakan yang selanjutnya. Kemudian gerakan itu berhenti. Dan aku merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang memekku yang sempit. Tetapi karena memekku sudah cukup basah, kepala kontol itu perlahan tapi pasti terbenam, makin lama-makin dalam. Aku merintih panjang ketika dia membenamkan seluruh batang kontolnya. Aku merasa sesak, tetapi sekaligus nikmat luar biasa, seakan seluruh daerah sensistif dalam memekku tersentuh. Batang kontolnya yang keras dan padat itu disambut oleh kehangatan dinding memekku.

Cairan-cairan pelumas mengalir dari dinding-dindingnya dan gerakan kontraksi mulai berdenyut, membuat dia membiarkan kontolnya terbenam agak lama merasakan kenikmatan denyutan memekku. Kemudian dia mulai menariknya keluar perlahan-lahan dan mendorongnya lagi, makin lama makin cepat. Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding memekku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan gerakan maju mundur membuat batang kontolnya seolah-olah diurut, kenikmatan tak bisa dia sembunyikan, gerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat menetes dari dahinya.

Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai nikmat. Pinggulku kuangkat sedikit dan kemudian membuat gerakan memutar manakala dia melakukan gerak menusuk. dia nampaknya belum terbiasa dengan gerakan dangdut ini, mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat, batang kontolnya bertambah besar dan keras, ayunan pinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut. Akhirnya pertahanannya bobol, kontolnya menghujam keras dalam memekku, tubuhnya ambruk menindihku, tubuhnya bergetar dan mengejang ketika pejunya menyemprot keluar dalam memekku berkali-kali. Akupun melenguh panjang ketika untuk kesekian kalinya puncak orgasmeku tercapai. Sesaat dia membiarkan kontolnya di dalamku hingga nafasnya kembali teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun harus kuakui kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa.

Dia melepas kontolnya yang dah melelmas dari memekku dan berbaring diseblahku. “Din maen ma kamu jau lebi nikmat katimbang maen ma mamah kamu dulu”. “terang aja om, Dina kan baru punya 1 cowok sedang kata om mamah dah punya 2 cowok seblon om. Memek Dina lebi peret ya om”. “Ya peret banget deh, om baru skali ni ngrasain memek abegeh yang peret kaya kamu punya, berasa lagi kedutannya kalo kamu 0″. “Mamah punya dah longgar ya om”. “Ya gak longgar si, tapi gak seperet kamu punya”. “Om dulu sering ya maen ma mamah”. “Sering banget, ampir setiap ketemu kita maen di kosan ku”. “Wah asik banget ya mamah waktu muda, berbagi kenikmatan ma 3 lelaki, yang asik dari mamah apanya om”. “Sepongannya, kontol om kaya diplintir2 sembari disepong, kamu bisa gitu juga gak”. “Itu mah gampang om, cowok Dina ngajarin kok gimana caranya nyepongin yang nikmat buat dia”. “Wah maknya hebat, anaknya juga hebat. Kamu mau juga dengan 3 lelaki”. “Gak ah, ma om ja dah lebi dari cukup. Kontol om besar, ampe sesek memek Dina kalo om ablesin smuanya, lagian panjang, sampe mentok om, ngilu2 nikmat gitu”. “Mana nikmat ma cowok kamu”. “nikmat ma om lah, cowok Dina punya gak seperkasa om punya”. “Jadi?” “Ya skarang Dina jadi cewek om ja, kita kan serumah, kapan aja om mau Dina siap kok om. Kalo Dina lagi dapet ya Dina sepongin om ja. Tapi om jangan maen ma abegeh laen lagi ya, ma Dina aja”. “Ya pastuiKluarnya dimulut kamu ya”. “Pastinya, ntar peju om dina telen” Kami kemudian terlelap kecapean.

Ketika aku terbangun hari udah tengah hari, dia sedang tersenyum memandangiku. “Kamu cantik sekali deh Din, mana seksi lagi. aku pengen lagi Din. Mau ya”. Kemudian dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahaku. memekku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. “Hmmhhh…enak, gila.” jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang memekku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya.

Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai kontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di memekku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang kecoklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidahnya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat.

Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir memekku mengalir dan terasa basah di perutku. “Om, gantian Dina yang ngemut kontol om ya”, kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang kontolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, “Enak Din, terus..” Lidahku mulai merambat ke kepala kontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang kontolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya. “Din…” gumamnya pelan. “enak banget, geli-geli nikmat”. Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan kontolnya masuk ke dalam mulutku. kontolnya kuisep kenceng-kenceng sambil kuputer2, lalu dengan mulut kukocok kontolnya turun naik, “uuuuggggghhhh…sedap banget Din, persis kaya cara mamah kamu nyepongin dulu…mmmmhhhh…”, erangnya.

Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati memekku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya menyedot lubang memekku, menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke dalam lubang memekku, menjilati dinding-dinding basah, sementara jari nya mempermainkan itilku. Aku mengerang-ngerang dengan kontolnya di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari memekku membajir membasahi mukanya.

Aku melepaskan kontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu kontolnya masuk, aku hanya merintih pelan. kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung merangsang itilku. Kocokan kontol di memekku dan kilikan jarinya di itilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali memekku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok kontolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan no nokku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret lagi.”Om, nikmat banget deh, lebih nikmat dari yang tadi, Dina sampe berkali2 nyampe baru om ngecret”, lenguhku lemes.

Dia mencabut kontolnya dari memekku. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia mengikuti dari belakang. Dikamar mandi dia memelukku, “Terima kasih ya Din, kamu asik banget dientotnya, empotan memek kamu luar biasa deh. Aku sangat menantikan kesempatan seperti ini lagi agar kita bisa mengulangi kenikmatan ini”. Sejak saat itu, dia selalu mencari kesempatan untuk bisa mengentoti aku, gak susah tentunya, tinggal nyocokin jadwal ja, kan kita tinggal serumah.

perawan vs janda

Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Ia berjalan masuk kedalam dapur Dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatan dapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliran Shanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nanti malam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutup dan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harus bekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti.
Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia tak dapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dan sangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat. Mata Shanti bersinar lembut, bibirnya kemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shanti membusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yang indah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedang tumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya.
Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal cerai suaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main gila dengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanya serba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. Bibir Tuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tuti berwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalau sedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur.
Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampai akhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyak juga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuek dan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukan main, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadi buah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besar dan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging seperti meminta.. Tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya.
“Shan, kamu sudah punya pacar belum?” Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulai membantu gadis itu mencuci piriong-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng.
“Belum tuh”
“Lho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksir” kata Tuti sambil memandang Shanti. Shanti tertawa lagi.
“Payah.?? semuanya mikir kesitu melulu” Jawab Shanti.
“Memang.?? laki-laki itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngewe” kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar.
“Ah Mbak, jangan suka ngomong gitu ah” timpal Shanti.
“Kan nggak ada yang dengar ini” Jawab Tuti. Mereka terdiam lama.
“Mbak.. ” suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci.
“Mmm?” Jawab wanita itu.
“Ngg..”
“Ngomong aja susah banget sih” Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk.
“Ngg.. Anu.. Ngewe itu enak nggak sih?” Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadis itu.
“Yaa.. Enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinter” jawab Tuti seenaknya.
“Maksud Mbak?” Shanti penasaran.
“Iya pinter.. Bisa macam-macam dan punya tongkol yang keras!” kata Tuti sambil terkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran.
“Bisa macam-macam apa sih, Mbak?” tanya Shanti.
Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah.. Toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yang sedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadis itu berwarna coklat muda.
“Macam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai mau ngemut tempik kita lohh..” jawab Tuti.
Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidih melihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus.
“Idiih.. Jorok ihh.. Kok ada yang mau sih?” Shanti sekarang melotot tak percaya.
“Lho.. Banyak yang doyan ngemut memiaw Shan. Ngemut tongkol juga enak banget kok” jawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.
“Astaga.. Masak anunya lelaki diemut?” Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, ia merasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa ia terangsang.
“Oh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm.. Ehmm.. “
“Kalo apa Mbak?” Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memiaw Shanti yang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin.
“Yaa.. Malu ahh..!” Tuti sengaja membuat Shanti penasaran.
“Ayo doong Mbak” rengek Shanti.
Tuti sekarang yakin bahwa memiaw gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelap di celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu.
“Kalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enak banget!” bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya.
“Apa itu pejuh?” tanyanya. Tuti merasa tidak tahan.
“Pejuh itu seperti santan yang sering bikin memiaw kita basah lho” Jawab Tuti. Ia melihat bagian memiaw Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti.
“Idiihh amit-amit, jorok banget sih”
“Lho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita, apalagi kalo memiaw kita harum, tidak bau terasi”
“Idiihh Mbak saru ah!”
“Tapi aku yakin memiaw kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terus”
“Udah ah, lama-lama jadi saru nih” kata Shanti. Tuti tertawa.
“Kamu udah banjir yaa?” goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan kedua kakinya.
“Ahh.. Mbaakk!!” Tuti tersenyum melihat Shanti melotot.
“Nggak usah malu, aku sendiri juga basah nih” Kata Tuti.
Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercak gelap di tengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluar dari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya.
“Ihh.. Mbak jorok nih” desis Shanti. Tuti terkekeh.
“Mau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?” bisik Tuti. Shanti berdebar.
“Ngaco ah!”
“Aku mau emutin punya kamu, Shan?” Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun dan mundur ketakutan. Tuti tertawa.
“Kamu akan bisa pingsan merasakannya” bisik Tuti lagi.
“Ogah ah.. Udah deh.. Jangan nakut-nakutin akhh” Shanti mundur mendekati pintu kamar mandi dan Tuti makin maju.
“Nggak apa-apa kok.. Cuman diemut aja kok takut?”
“Masak Mbak yang ngemut?”
“Iya.. Supaya kamu tahu rasanya”
“Malu ahh..”
“Nggak apa-apaa..” Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnya menyentuh bibir bak mandi.
Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shanti memejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memiaw Shanti yang tertutup celana dalam. Tuti mencium bau memiaw Shanti, dan Tuti puas sekali dengan harumnya memiaw Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malah pernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya.
Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhu tubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memiaw Shanti yang masih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tuti terangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalam gadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itu dan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. memiaw Shanti sungguh indah sekali, tidak terlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut.
Tuti mencium dan mulai melumat memiaw Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliat-liat ketika lidah Tuti menjalar membelai liang memiawnya. Shanti benar-benar shock dengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaan nikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dinding memiawnya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawah perutnya.
“Aahh.. Mbak.. Uuuhh.. Ssshh.. Ja.. Jangan mb.. Mbbak! Ji.. Jijikhh.. Aahh”
Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul dan menembus liang memiaw Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan ia tak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahi lidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memiaw Shanti dengan sangat menikmatinya. Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapi kemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Ia percaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun!
“Enak Shan?” desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang ke bawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yang dinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memiawnya berdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memiawnya dan merasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk di selangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti dan membuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh benda lunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget bercampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya.

Namaku Liana

Namaku Liana dan suamiku Bram, kami sudah hampir 20 tahun menikah, dikarunia 2 orang anak, ang besar laki laki, 18 tahun sudah lulus SMA dan sekarang baru mulai tahun pertamanya di sebuah universitas dikota B, dan adiknya perempuan baru kelas 2 SMA.

Kehidupan kami cukup mapan, suamiku seorang pegawai BUMN dengan jabatan yang lumayan sementara aku tidak bekerja, kegiatan utamaku hanya mengurus rumah tangga dan kedua anakku, dan semenjak anakku yang besar kuliah di kota B yang berjarak sekitar 3 jam bermobil, rumahku terasa agak sepi, apalagi kegiatan ekstra kurikuler putriku cukup padat, maklum bersekolah di sebuah SMS swasta yang cukup ternama dan terkenal dengan aturan ketatnya.

Syukurlah pada usiaku yang sudah menjelang kepala 4 ini, aku masih mampu menjaga bentuk tubuhku dengan baik, dan terlihat lebih muda dari usiaku yang sebenarnya. Maklum aku menikah muda, lulus SMA aku sudah menikah, saat itu aku masih tinggal di kota kecil dan adalah umum saat itu lulus SMA terus menikah, akupun tak terkecuali, suamiku saat itu masih kuliah, namun keluarga kami sudah saling mengenal sejak lama, dan setelah suamiku lulus dia merintis karirnya di Ibu Kota, dan aku dibawanya serta. Berkat ketekunan dan kemampuannya Bram suamiku kini menduduki jabatan yang lumayan dan hidup kami dapat dikatakan berkecukupan.

—————————————-=============—————————————————

Pagi itu sedang membereskan ruang kerja suamiku ketika teringat ada beberapa email yang harus kubalas, dan aku malas untuk berjalan kekamarku mengambil netbook ku, kupikir toh ada komputer suamiku disini,

Kuhidupkan komputer itu, dan mulai membalas beberapa email, utamanya dari anakku si sulung dan adikku yang tinggal dikota lain. Cuma entah mengapa setelah menutup emailku, iseng aku melihat ‘history’ dari browser itu dan kulihat alamat beberapa situs sex baik luar negeri maupun lokal,

Jujur aku agak heran, karena sepengetahuanku, sekian lama sebagai istrinya, aku tidak pernah tahu suamiku penggemar situs porno, memang beberapa kali kami sempat melihat blue film bersama, tapi bukan taraf penggemar hanya sekedar iseng. Memang harus kuakui kalau hubungan sex kami sudah tidak sehangat dulu, rutinitas yang kami jalani serta kesibukan suamiku membuat hanya sesekali kami berhubungan sex, jauh sekali dibanding dulu.

Iseng aku buka satu persatu situs yang dikunjungi suamiku, untunglah karena komputer pribadi user dan passwordnya tetap tercontreng sehingga saat kubuka tidak perlu lagi bersusah payah, dan aku semakin terhenyak saat kusadari bahwa semua situs yang kubuka itu isinya serupa, semua tentang swingers dan utamanya threesome, tapi lebih tepatnya tentang suami yang mengijinkan istrinya digauli laki laki lain, bahkan ikut bermain bersama. Lebih kaget lagi saat aku membuka pesan pesan dalam situs itu, rupanya suamiku berkomunikasi dengan beberapa orang member dari situs itu dan bahkan menampilkan photoku……ya…photoku…..walau wajahku tidak terlihat tapi aku di photo dalam keadaan tertidur, dalam pakaian tidur dan dengan baju tersingkap. Aku sendiri tidak tahu kapan aku diphoto dalam keadaan seperti itu.

Dalam salah satu message nya, Bram suamiku menceritakan fantasinya kepada kenalannya itu bagaimana ia menginginkan melihat aku berhubungan sex dengan laki laki lain tapi tidak pernah menyampaikan fantasinya itu kepadaku dan meminta nasehat kepada kenalannya tips dan trik agar aku dapat mengetahui kinginannya dan mau mncobanya.

Saat itu pikiranku langsung galau, marah dan emosi sempat menguasai pikiranku dan aku berpikir Bram suamiku pasti menginginkan aku berhubungan sex dengan laki laki lain karena dia mencari pembenaran karena dialah yang ingin bermain dengan wanita lain, maka dia mencoba menjebakku. Namun aku mencoba menenangkan diri, aku lalu menelusuri semua situs yang dibuka suamiku dan aku menemukan hampir semua serupa, utamanya tentang shared wives dan sejenisnya.

Masih penasaran, aku mencoba googling tentang hal yang kutemukan itu, hal yang baru bagiku karena sulit tercerna dalam pikiranku, bagaimana mungkin seorang suami menginginkan istrinya digauli laki laki lain ?. Namun yang kutemukan makin mencengangkan diriku, sedemikian banyak artikel tentang hal itu dan hampir semua menganggap itu adalah hal yang lumrah, bahkan banyak yang mengatakan bahwa hal itu justru memperkuat ikatan suami istri karena berarti keterbukaan yang terjalin akan menjadikan tidak adanya rahasia antar suami istri dan ikatan antara suami istri justru akan semakin kuat.

Setelah penemuan itu, aku mencoba menguasai diriku dan berlaku biasa biasa saja, dan setiap hari setelah rumah sepi aku semakin rajin menelusuri situs – situs semacam itu, membaca pengalaman atau FR para member, dan juga mencari referensi dari banyak situs psikologi tentang hal itu.

Yang aneh semakin aku menekuni, setiap kali hati dan perasaanku semakin tergoda, aku mulai membayangkan bagaimana rasanya kemaluan laki laki lain, aku mulai membayangkan bagaimana kalau ada lebih dari satu laki laki menyetubuhiku secara bersamaan ?

Namun aku mencoba berpikir panjang, dan aku perlu tahu apakah benar suamiku menginginkan itu? Apakah itu bukan sekedar khayalan dan fantasinya saja ?,

Hampir seminggu setelah aku menemukan fantasi dan khayalan suamiku, aku mencoba menjajagi suamiku;

Malam itu, sehabis makan malam dan kami sedang bersantai menonton TV, putri kami sudah dikamarnya, aku duduk disofa sambil bersandar di bahunya aku berkata : “ pah…aku sebel banget hari ini….”
“Kenapa mah..? tanya suamiku
“iya….tadi kan mama ke mal…masa ada anak muda jalan pura pura nggak lihat, eh tahu tahu nubruk mama, yang ngeselin sambil pura pura jatuh nyenggol susu mama, mau dimaki tapi ntar jadi tontonan, diem aja tapi kan kesel..apalagi habis itu dia ngedipin mata segala”
Perhatian suamiku langsung terbangun, “ terus…?” tanyanya
“ya udah..cuma mama pelototin aja” jawabku….(dalam hati aku geli juga karena apa yang kukatakan cuma karanganku, aku cuma ingin menjajagi suamiku)
“ya nggak apa…itu kan artinya mama masih sangat cantik kan ?…” kata suamiku
“ih..papa kok nggak marah sih…..dia tu nyenggol susu mama sengaja tahu..!!! “ kataku lagi
“masa marah….??? malah papa harus bangga dong artinya mama masih sangat cantik” kata suamiku sambil memeluk pundakku
“untung anak mudanya ganteng…jadi keselnya cuma sedikit” kataku menjajagi lebih jauh…
“Oh ya…..kalau ganteng nggak apa apa?” kata suamiku..tapi tak ada nada marah sedikitpun dalam suaranya….
“bukan nggak apa apa ….tapi keselnya kan jadi sedikit” kataku lagi sambil megerling kewajahnya
Kurasakan pelukan dibahuku semakin erat…..dan aku mulai bisa mengambil kesimpulan.

“Oh iya….ini kan rabu pertengahan bulan ….kok mama nggak pijet ..? memang si mbok kemana ?” tanya suamiku, memang aku punya jadwal sebulan sekali dipijat dan dilulur oleh mbok marto, langganan pijat yang sudah memijatku sejak bertahun tahun…..
“lagi pulang kampung … nengok anaknya” jawabku , “memang kenapa ?” tanyaku lagi melanjutkan
“oh..kalau mama mau kenapa nggak panggil tukang pijet lain ?” tanya suamiku lagi
“wah..mana ada …, lagian sesekali absen kan nggak apa’ jawabku
“ngg….kalau mama mau panggil aja tukang pijat lain” desak suamiku lagi.

Dalam hati aku mulai mengerti kemana arah suamiku bicara, sering kubaca FR di situs situs tentang awal dari hal ini.

‘Wah…mama nggak tahu pemijat lain..apalagi kan si mbok yang sudah biasa sudah tahu titik pegelnya mama” jawabku lagi

“kalau mama mau..papa bisa cariin…” jawab suamiku dengan bersemangat
“memang papa punya kenalan mbok – mbok tukang pijat?” tanyaku pura pura
“bukan mbok mbok…tapi pandai pijat…” jawab suamiku lagi
“Ayo….papa suka dipijat perempuan lain ya…” tanyaku lagi
“nggak…..bukan…..” jawab suamiku terburu buru….”pemijatnya laki laki kok” katanya lagi
“Ha….???? papa mau mama dipijat sama laki laki ??” tanyaku pura pura kaget
“Memang kenapa ? “ tanya suamiku lagi dengan polosnya
“lho…papa kan tahu kalau dipijat berarti dipijat seluruh badan…masa laki laki ..?” aku masih berpura pura heran
“ya nggak apa apa toh..?” jawab suamiku…
“nah kalau pemijatnya terangsang bagaimana ?” tanyaku lagi
“ya terserah mama…..” kata suamiku enteng
“terserah bagaimana..? kalau mama ikut terangsang dipegang laki laki lain..??” tanyaku lagi menegaskan…
“iya terserah mama…asal mama senang dan suka apa juga ikut senang” kata suamiku lagi
“ngawur ah…..”jawabku lagi
“Nggak ngawur ….kalau mama mau papa bisa panggilin” kata suamiku mndesak
“ngawur …lagian apa kata Nancy kalau dia tahu” jawabku lagi, Nancy adalah putri kami
Suamiku terdiam sejenak….”kalau mama mau malam sabtu papa panggil, kan rencananya nancy mau bermalam di rumah Omanya” kata suamiku lagi
‘nanti ah…mama pikir dulu…..belum kebayang kalau mama harus dipijat dan dipegang pegang laki laki lain” kataku

Malam itu suamiku mengajakku berhubungan sex, dan ….semangatnya kembali seperti dulu…semangat yang sudah lama sekali tak pernah terlihat…dan aku yakin fantasinya menguasainya

Jumat pagi, sebelu kekantor suamiku menanyakan lagi….”Bagaimana ma….?? kalau mama mau papa panggilin tukang pijatnya…”
“Ngg…gimana ya……terserah papa saja deh….” jawabku, aku sendiri masih agak bingung…ada keinginan mencoba tapi juga agak rasa takut di hatiku.
“Ok….nanti papa atur….oh ya bilang nancy nanti Pak subari jemput dia di skolah sekalian ngenterin ke rumah Omanya…..” kata suamiku bersemangat, pak Subari adalah supir suamiku.

Hari berlalu sangat cepat…aku masih diliputi keraguan…tapi melihat semangat suamiku aku juga tidak tega membatalkannya….walau hatiku masih agak ragu.

Demikianlah malam itu, kami hanya berdua di rumah, si bibi kusuruh ikut ke rumah mertuaku, dengan alasan yang tepat untuk membantu disana, dan jam 6 sore suamiku sudah dirumah…wajahnya cerah dan tampak bersemangat, aku sendiri mencoba untuk bersikap biasa saja, tetap mengenakan baju biasa, walau aku sudah mandi dan bersolek tipis.

“mama nanti jangan tegang ya..santai saja…ikutin saja apa mau mama, kalau mama nggak sreg ya suruh stop juga nggak apa, pokoknya apapun juga papa nggak akan marah dan melarang’ kata suamiku sesaat setelah kita makan malam.
“Memangnya mama mau apa ?” tanyaku….
‘”ya terserah mama’ jawab suamiku memancing
‘Lho kan cuma pijat toh..??” tanyaku pura pura menegaskan
“Iya….” jawab suamiku sambil senyum

Ting ..Tong…suara bel mengejutkan aku, kulirik jam yang tergantung di dinding..tepat Pk. 08.00, suamiku langsung bangkit dan menuju pintu depan…
Terdengar suara laki laki bercakap cakap dengan suamiku disusul langkah kaki menuju ruang tengah dimana aku duduk.

“Dino….” pemuda itu mengulurkan tangannya menjabat tanganku
Aku masih agak terpana…pemuda ini masih sangat muda aku yakin belum sampai 25 tahun usianya, dengan tubuh tinggi atletis, dan wajah yang cukup ganteng.
“Wah….benar seperti kata Oom…Tante cantik sekali” kata pemuda itu ketika kupersilahkan duduk,

Agak tersipu aku dibuatnya..namun kujawab..”…ah jangan ngawur..aku sudah tua lho….” jawabku
“saya serius Tante…sama sekali tante tidak terlihat tua, kalau bukan Oom yang cerita saya kira tante masih dibwah 30 tahun …” jawab Dino…..wajahnya serius dan menatapku dengan pandangan yang menyatakan kekaguman.

Setelah kuhidangkan minuman, untuk sesaat kami duduk di sofa dan ngobrol kesana kemari dan Dino ternyata pemuda yang pandai berkelakar dan menyenangkan dengan pengetahuan yang cukup luas……..

“Ya sudah ma…bagaimana…mama mau mulai dipijat ?” tiba tiba suamiku mengingatkan tujuan kedatangan dino. Aku melirik ke Dino dan menjawab “ Ya terserah papa saja…” jantungku mulai bedetak agak kencang….. sejujurnya aku mulai menyukai anak muda ini dan juga timbul rasa ingin, apalagi sepanjang pembicaraan Dino tidak hentinya memuji kecantikanku namun tetap saja ada sedikit rasa ragu dan debar jantungku ini tidak mau berhenti.

Suamiku bangkit dari duduknya..mengajak Dino ke kamar yang biasa digunakan kalau ada tamu menginap….”aku ganti pakaian dulu ya….” kataku dan menuju kamarku….dan saat masuk kamar aku masih tetap diliputi keraguan….tiba tiba suamiku menyusul masuk ..”lho…kok mama belum ganti kain yang biasa mama pakai kalau dipijat si mbok?” tanya suamiku
“Papa yakin..?, Dino kan laki laki muda…..nanti dia melihat semua tubuhku” tanyaku selain menepis keraguan dihatiku juga masih kucoba menjajagi hati suamiku…

Tanpa bicara suamiku menghampiriku dan memelukku erat “papa mau mama senang dan menikmati…..ikuti saja kata Dino dan perasaan mama ya….” jawab suamiku ….dan saat memelukku itu aku bisa merasakan tonjolan yang megeras dicelana suamiku…..untuk sedetik pikiraanku melayang ke situs situs yang kubaca bagaimana para suami merasa terangsang justru saat istrinya disentuh laki laki lain

Aku lalu melepaskan pakaianku…dan menutupinya dengan kain panjang yang kupakai seperti kemben namun aku masih tetap menggunakan celana dalam dan BH juga tetap kupakai…..dengan digandeng suamiku kami menuju kamar tamu dimana Dino menunggu.

“Relaks saja ya tante …” kata Dino lembut sesaat setelah aku telungkup diatas ranjang….tubuhku masih ditutupi dengan kain panjang yang kupakai sebagai kemben tadi, kakiku terasa dingin ketika Dino menuangkan semacam lotion dengan keharuman yang lembut…dan tangannya mulai menyentuhku..dimulai dari jari jari kakiku….telapak kaki dan terus keatas…..”kulit tante halus sekali…pandai sekali tante merawat diri” puji dino memecah keheningan …sementara tangannya tidak berhenti bergerak dan kini betisku yang mulai dipijatnya…

“Mmmff….biasa aja kok” jawabku….namun sungguh tak enak bicara dengan posisi telungkup seperti itu….

“Maaf ya tante kainnya saya buka ya…..” kata Dino…dan tanpa menunggu jawabanku kain yang menutupi sudah terangkat…aku melirik…eh….malah suamikun yang membuka dan menarik kain itu….akupun diam saja….dan memang Dino cukup pandai memijat….

Dino terus memijat…sambil sesekali mengobrol dengan suamiku….dan aku merasa tangannya makin keatas dan kini sudah sampai di pahaku….kulirik suamiku yang duduk diujung ranjang memperhatikan semuanya, wajahnya tampak cerah…kulirik tonjolan yang terlihat jelas di celananya…rupanya terangsang dia melihat istrinya hanya bercelana dalam dan BH telungkup di ranjang sementara laki lakim lain asyik memijat dan mengusap betis dan pahaku….

Ketika mencapa bagian dalam pahaku…sesekali terasa tangan Dino menyenggol kemaluanku…tanpa sadar aku bereaksi dengan sedikit bergerak..namun pemuda itu pura pura tidak sadar dan tetap pada irama pijatannya.

“Punggungnya ya tante’ kudengar suara Dino berkata..dan terasa dingin lagi dipundak dan punggungku ketika cairan lotion itu dituangkan….jari jari pemuda itu bergarak teratur dari atas kebawah..namun slalu terbentur dengan tali BH ku……”boleh saya buka bra nya tante..” tatanyanya lagi dan sebelum aku sempat menjawab terasa kaitan BH ku sudah dibukanya….aku melirik lagi ke suamiku dan dia memandangku dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya seakan memberi persetujuan…..

Ketika pijatannya sudah sampai pinggang dan terus kebawah….”kurasakan dino memasukan jarinya kedalam celana dalam yang kukenakan….dan meremas remas bongkahan pantatku…aku mulai terangsang..kurasakan kemaluanku mulai membasah…..”ma….celananya dibuka saja ya….biar Dino mudah memijatnya..” tiba tiba terdengar suamiku berkata dan Dino yang mendengar itu lalu menarik celana dalamku…semula aku agak enggan…..dengan si mbok saja aku tdiak pernah telanjang bulat..tapi kuingat lagi ini keinginan suamiku dan bagaimana wajahnya tampak berseri seperti anak kecil yang kesenangan menonton pertunjukkan…maka tanpa menjawab aku mengangkat sedikit pinggulku dan …lepaslah celana dalamku

Dino beranjak naik keranjang…. kedua kakiku di bawah kakinya dan tangannya dengan serisu memijat dan meremas pantatku…….sesekali jarinya jarinya menyelinap kebawah menyentuh kemaluanku membuatku tergelinjang…….

“oom…maaf ya…kalau boleh saya melepas celana panjang soalnya pakai jeans jadi agak ketat dan kasar…nanti kulit tante tergesek jeans pula” katanya..lho…kok malah dai minta ijin suamiku pikirku….”ya silahkan saja…..” jawab suamiku…dan sambungnya lagi….kepadaku ”nggak apa kan ma?”
“Terserah saja jawabku……” pasrah namun terasa rangsangan yang mulai bangkit dalam diriku.

Aku melirik ketika Dino melepas celana panjangnya…kupikir dia pakai celana pendek atau boxer…dan terkejut juga aku ketika ternyata pemuda itu hanya memakai celana dalam hitam model mini…kontras dengan kulitnya yang putih…dan tidak berhenti sampai distu…dibukanya pula kemejanya, tubuhnya benar atletis dengan otot tangan dan dada yang bagus…dan perut yang rata…terlihat jelas tonjolan diselangkangannya…..

tanpa sungkan Dino naik keranjang menduduki pantatku dan mulai lagi memijat punggungku..sesekali tangannya melebar kesamping dan sebagian buah dadaku disentuhnya….entah berapa lama pijatan itu dilakukan tangannya terus kebawah dan aku bisa merasakan kemaluan pemuda itu yang keras menekan pantatku dari balik celana dalamnya….sambil bergeser mundur kini tangannya kembali meremas dan memijat pantatku…namun kali ini tanpa ragu sesekali jarinya menyentuh kemaluanku bahkan sesekali walau sedikit jarinya memasuki lubang kemaluanku membuatku bergelinjang dan semakin terangsang.

“Oke……balik dong badannya tante…..” kata dino lembut sambil turun dari ranjang…dan sambil melihat suamiku yang kini wajahnya agak memerah denngan nafas yang agak memburu, sementara tangannya sesekali tampak meremas kemaluannya sendiri dari yang terlihat menonjol dibalik celananya.

Aku berbalik dan untuk pertama kali sesudah menikah sekian lama ..aku berbaring telentang telanjang bulat didepan laki laki lain selain suamiku….”Uh….tante benar benar cantik….”puji Dino lagi untuk keskian kalinya……memang aku cukup rajin memelihara penampilanku…..dengan dada 36 B yang masih cukup kencang dan wajah yang kata orang diatas rata rata, dan kulit walau tidak terlalu putih tapi cukup kuning.

Dino mulai lagi dari kaki dan setelah sampai paha..tanpa sungkan tangannya mulai memijat mijat kemaluanku….membuat nafasku mulai memburu…dan kini jarinya benar benar memasuki lubang kemaluanku..tapi tidak lama……..pemuda itu beranjak naik dan mulai memijat atau lebih tepatnya meremas buah dadaku…….kedua jarinya menjepit puting susuku dan memilin dengan lembut membuatku semakin kehilangan kendali…..lalu turun lagi ke perut…..kemaluan dan naik lagi…sungguh pandai dia menaikkan irama nafsu dan rangsangan dalam diriku…….

Kali ini pemuda itu bergerak mundur…dan menempatkan diri diantara kakiku sehingga aku harus membuka pahaku agak lebar….dan tiba tiba kurasakan lidah yang hangat menyentuh kemaluanku…aku benar benar bagai kena stroom…bergelinjang namun mulut pemuda itu telah menempel dikemaluanku….dan lidahnya mulai menari nari, menjilat dan sesekali klitorisku di emut dan dan dhisapnya…..bergerak lagi..lidahnya mencucuk masuk kedalam kemaluanku dan begitu seterusnya dalam irama yang teratur…..uh….suamiku nggak ada apa apanya kalau dalam hal jilat menjilat rupanya……dan tiba tiba tanpa diduga dan tanpa melepaskan bibirnya dari kemaluanku jari tangannya memasuki lubang kemaluanku…….diserang seperti itu aku benar tidak tahan……dengan mendesah dan mengerang aku menjepit kepala pemuda itu dengan pahaku dan ..”aaaaahhhhhh..sssssshh…” aku mendapatkan orgasme pertamaku.
Dino dengan lembut melepaskan jarinya dari lubang kemaluanku dan bangkit, sementara aku masih terengah engah karena orgasme tadi……

Aku tahu acara masih belum selesai, ketika kulirik suamiku wajahnya tampak sangat horny tangannya masih tetap mengusap usap kemaluannya dari balik celananya, tampak dia sangat menikmati pertunjukkan tadi….tapi aku yang agak kesal….ada keinginanku agar saat tadi Dino asyik menjilati kemaluanku suamiku menyodorkan batangnya supaya bisa kuhisap…..tapi karena duduknya agak jauh dan aku juga risih mau menintanya maka aku diam saja dan menikmati jilatan Dino tadi.

Dino lalu duduk diranjang disampingku….tangannya meremas remas buah dadaku dan dengan jari jari tangannya puting susuku di pilin pilin dengan lembut……dan tanpa sadar karena duduknya disampingku tanganku menyentuh pahanya….tanganku bergerak sedikit menuju keselangkangan Dino sambil aku memandang kearah suamiku dngan pandangan bertanya dan walau tanpa ada sepatah diantara kami suamiku menganggukan kepalanya, tangan Dino yang meremas dan memainkan buah dadaku membangkitkan lagi nafsuku……dan tanpa sempat berpikir tanganku sduah meremas remas kemaluan pemuda itu yang masih terbungkus celana dalamnya…….dan tanpa banyak bicara tanganku merayap masuk kedalam celana dalam pemuda itu.

“Tante mau saya melepas celana dalam saya…?” tanya Dino lirih dan ketika aku mengangguk tanpa bangkit dan hanya dengan mengangkat pantatnya sedkit celana dalamnya dilepaskannya…kini kami berdua suadah sama telanjang bulat ditonton suamiku yang masih berpakaian lengkap.

Aku terpana memandang kemaluan pemuda itu…..cukup besar sekitar 18 Cm dengan lingkaran yang lumayan besar dan terlihat sangat tegang dan urat uratnya tampak menonjol….dan di ujung kepalanya tampak agak basah dengan cairan bening atau precum. Aku sudah tidak mampu berpikir lagi………aku bergerak bangkit dan sesaat kemudian lidahku sudah menjilati cairan bening yang ada dikepala kemaluan pemuda itu…terasa agak asin…gurih ….dan benar benar membangkitkan nafsuku hingga kepuncaknya…..kutarik pemuda itu dan kini kepalaku aku yang diatas kemaluannya..aku mulai menjilati batang dan kedua buah yang menggantung itu …sesekali kumasukan kepalanya kemulutku dan kusedot lembut dan terdengar pemuda itu mengerang…namun aku tak berhenti…kucoba memasukan seluruh batang kemaluannya kemulutku namun baru 3/4 …aku sudah hampir tersedak..ya…Dino memang memiliki yang lebih besar dari suamiku …mungkin sama besar lingkarannya..tapi lebih panjang….

Aku terus mengulum dan menjilati…menghisap dan kedua tanganku juga bergerak lembut mengusap dan menggaruk lembut di buah zakarnya…..dan kemudian bersamaan dengan semakin kerasnya kemaluan pemuda itu..aku memegang pangkalnya…kepalaku bereka naik turun dengan kemaluan pemuda itu dimulutku…..aku benar benar sudah dikuasai nafsuku…ksadaran bahwa ada suamiku da sumaiku yang menonton tanpa berkedip justru membuatku semakin bergairah….dan akhirnya..”Tante……saya mau keluar” kata Dino terengah engah sambil berusaha melepaskan kemaluannya dari mulutku…namun aku tetap memegangnya dan kepalaku makin cepat naik turun…dan ….”aaahhh…ssshh….tante….keluaar…arrgh..s sshhh” desahnya dan denyutan yang semakin keras pada batangnya menandakan waktunya hampir tiba…aku jepit leher batang kemaluan itu dengan bibirku dan hanya kepalanya yang berada dalam mulutku sementara tanganku terus mengocok batang pemuda itu…..terasa semprotan cairan kental dan hangat demi semprotan memenuhi rongga mulutku….aku beradu cepat menelan cairan yang keluar itu…dengan semprotan berikutnya…..dan walau berhasil tapi ada sedikit yang tetap mengalir keluar dari celah bibirku…Dino melemah dan akhirnya terbaring diam..namun kepala kemaluannya tetap di mulutku dan ketika terasa sduah berhenti mengeluarkan cairannya..baru kulepas namun tetap kujilati hingga bersih…dan aku lalu menoleh keraha suamiku……sambil dengan jari telunjuk kudorong cairan yang masih tersisa disekitar bibirku masuk kemulutku dan kuhisap jariku hingga bersih.

Hampir 20 tahun aku menikah baru 3x suamiku suamiku mengeluarkan air maninya dalam mulutku…dan kini dengan pemuda yang belum pernah kutemui sebelumnya malah langsung kuteklan habis semua mair maninya….

“Tante hebat sekali…uh……benar benar Oom beruntung punya istri seperti tante..” kata Dino memuji.

Aku bangkit dari ranjang, kuhampiri suamiku…kutarik tangannya hingga berdiri dan kupeluk …”pa maaf ya…mama sampai lupa diri dan menghisap punya Dino” bisikku ditelinganya….dan jawaban yang kuterima adalah semua ciuman dibibirku…bibir yang masih basah dengan air mani pemuda itu…namun suamiku tampak tidak peduli…lidahnya menyapu dan memasuki rongga mulutku yang kubalas dengan ciuman yang tak kalah panasnya…”yang penting mama senang..papa juga senang kok melihatnya” suamiku berbisik ditelingaku setelah ciuman kami terlepas…

merasa kepalang tanggung dan terasa ‘menggantung’ aku bertanya “pa…mama boleh make love?” dan suamiku menjawab sambil tersnyum :”justru papa ingin nonton mama make love yang hot”
Aku mencium lagi suamiku lalu berjalan keranjang dimana dino masih rebah dengan kemaluan yang lemas….aku lalu berbaring disisinya…Dino bergerak…diciumnya keningku…turun kebibir…lalu turun ke buah dadaku dan perutku…namun sebelum dia mulai menjilati kemaluanku aku tarik tubuhnya dan kubalikan…..aku yang justru kembali menghisap dan memainkan batang kemaluannya…dan perlahan batang kemaluan pemuda itu mulai bangkit.

Setelah benar keras aku lalu berjongkok dan mengarahkan batang kemaluan pemuda itu memasuki lubang kemaluanku…..dan sedikit demi sedikit …..akhirnya… blessss…….seluruh batang kemaluan peuda itu amblas dalam kemaluanku dan aku mulai bergoyang….sungguih tak pernah kemaluanku terasa sepenuh ini……ujung batang kemaluannya sesekali menyentuh mulut rahimku menimbilkan rasa geli dan nikmat yang tak terhingga…..dan buah dadaku yang cukup besar dengan cup 36B itu menggantung bebas namun tak lama mulai diremas remas lagi oleh Dino.

Karena sudah keluar banyak saat kuhisap tadi dino bertahan cukup lama…..dan aku yang tak ingin cepat orgasme lagi merebahkan diri kedada pemuda itu….dan tanpa mencabut batang kemaluannya Dino membalik posisi dan kini dia yang berada diatasku…hampir 10 menit pantatnya naik turun dengan teratur dan akhirnya aku yang tak tahan…”uuh…….sshh…cepetin Dino…..aku mau keluar…..dan dino mempercepat gerakannya ….dan aku tahu dia juga akan mencapai puncaknya…..”cepet…cepet….ssshhh….aaahhhh. ……..” desisku…..dan akhirnya “aahhh……ssshh….enaakkk…ssshhh…keluarrr …ohh……’ aku mencapai orgasme ku lagi…..dan tak lama Dino yang tidak mengurangi kecepatan geraknya tubuhnya mulai menegang..”tante ….saya mau keluar………keluarin dimana tante…?” tanya nya disela desis dan desahannya…..aku menjawab dengan melingkarkan kakiku kepinggangnya, bibirku mengunci bibirnya …dan akhirnya semburan yang hampir sama banyaknya menyiram lubang kemaluanku………..dan Dinopun ambruk diatas tubuhku….

Agak lama kami dalam ppsisi seperti itu….Dino lalu mencium bibirku dan memandangku dangan penuh kekaguman..”tante benar hebat…..hampir tidak ada yang seenak punya tante..” katanya…dan kau menjawab dengan sebuah ciuman lagi.

Dino lalu bangkit…kuberi tanda supaya dia maju dan mengarahkan kemaluannya kemulutku dan kemaluan yang basah dengan cairan kami berdua itu kujilati hingga bersih…entah kenapa kok tiba tiba aku jadi suka menjilati tanpa rasa risih……

Dino lalu beranjak kamar mandi bebersih sementara aku masih berbaring telentang dengan kemaluan yang basah oleh air mani pemuda itu…dan memandang suamiku..”terima kasih pa.” kataku sambil memberikan senyum mesra.

Dino lalu berpakaian dan berpamitan namun aku malas untuk bangkit…hanya kutarik tangannya dan kucium bibirnya dan berbisik “ma kasih ya….”; namun langsung dijawab “saya yang berterima kasih sama tante….”

Ketika suamiku kembali setelah mengantar Dino keluar, secepat kilat dilepaskan pakaiannya…kemaluannya tampak sangat basah…….tanpa banyak bicara ditindihnya tubuhku yang masih basah mandi keringat, dan batang kemaluannya memasuki kemaluanku yang masih penuh banjir dengan air mani Dino…., namun tidak lama mungkin karena menahan diri terlalu lama tidak sampai satu menit suamiku sudah mengerang dan menumpahkan air maninya menambah jumlah air mani dalam rahimku…

Aku lalu bangkit…..menjilati batang kemaluan suamiku yang basah dengan campuran air main Dino, cairanku dan air maninya sendiri hingga bersih..lalu beranjak ke kamar mandi dan bebersih diri.

Malam itu adalah awal dari suatu babak perjalanan hidupku…..

Aku, Istriku dan Tetanggaku

Pagi itu, Aku akan mengolah data-data penting milik klien perusahaanku. Data-data itu ada di komputerku di rumah dan aku lupa mengcopykannya ke flashdisk, sehingga aku segera pulang ke rumah untuk mengcopy data. Aku tiba di rumahku sekitar jam 9 pagi.

Sesampai di rumah, kudapati ruangan tengah rumah berantakan dengan mainan anak-anak yang sedang dimainkan oleh anakku dan anak Anton, tapi tak kutemukan istriku, barangkali istriku sedang pergi ke warung atau ngerumpi sesama ibu rumah tangga.

Karena aku ada perlu ke istriku, maka aku berusaha mencari istriku ke rumah Anton. Terlihat seperti sendal istriku tergeletak di depan pintu, namun pintu depan tertutup rapat.
Kuintip dari jendela ruang tamu, terlihat ada berkas-berkas MLM yang belum dirapihkan serta 2 gelas kosong serta sisa makanan ringan atas meja, tapi istriku tak tampak. Aku mencoba berjalan ke pinggir rumah, ketika aku melewati kamar tidur Anton yang kaca nakonya terbuka. Kudengar desahan-desahan khas orang yang sedang bercumbu.

Memuaskan rasa penasaranku, kuintip dari celah-celah yang terbuka , mataku langsung tertarik pada apa yang kulihat, gairahku muncul seketika menyaksikan apa yang terjadi di kamar itu. Kulihat Anton dalam keadaan bugil sedang menghentak-hentakan pantatnya menyetubuhi seorang wanita yang kuyakini sebagai istrinya. Tapi tubuh istrinya tak terlihat karena terhalang oleh tubuh Anton, yang terlihat hanyalah tangan mulus seorang wanita yang bergerak-gerak penuh gairah serta dua bilah betis yang terayun-ayun dipinggir pinggang Anton yang sedang asyik menghentak-hentakan pinggul dan pantatnya.

Aku semakin penasaran, terbayang tubuh bugil istri Anton yang selama ini selalu jadi obsesiku, terutama ingin sekali kudengar desahan nikmat dari mulut istri Anton bila sedang disetubuhi. Diam-diam kuambil camera digital yang selalu kubawa-bawa di dalam tas pinggangku. Kuaktifkan tombol rekaman agar persetubuhan mereka terekam.

Rangsangan demikian kuat mengalir di pembuluh darahku dan aku jadi teringat sudah seminggu aku tak bercumbu dengan istriku. Aku ingin istriku segera pulang dan mengajaknya bercinta seperti yang sedang dilakukan oleh Anton. Nafasku semakin tersengal-sengal menahan gairah nafsu sambil menyaksikan apa yang Anton lakukan.

Kulihat Anton menghentikan gerakannya dan mencabut penisnya. Istrinya memutarkan badannya kepinggir sehingga aku dapat melihat wajahnya.

Tiba-tiba nafasku sesak, mulutku ternganga tak percaya, pandangan serasa gelap. Kukucek-kucekan mataku dengan jari tanganku seolah aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Badanku semakin lemas…., ternyata yang sedang disetubuhi Anton itu bukan istrinya melainkan istriku yang sedang kutunggu.

Darahku mendidih….., terbakar amarah… Ingin aku melabrak masuk ke rumah Anton ini dan menghajar mereka, namun apa daya…. Tangan dan kakiku lemas tak berdaya serta tak mampu kugerakkan. Selama beberapa menit aku terpaku diam, lemas dengan nafas yang semakin sesak serta pikiran yang berkecamuk dan akhirnya buntu tak mampu berpikir bagaikan orang yang kehilangan kesadaran. Sementara mataku melotot tak berkedip…., serta tak mampu mengalihkan pandangan dari celah yang memperlihatkan apa yang terjadi di dalam kamar..

Tubuh istriku yang sangat seksi sedang dalam posisi merangkak dengan pinggang yang ditarik kebawah sedang digenjot dengan liar oleh Anton dari belakang. Buahdadaku istriku yang besar dan montok terayun-ayun akibat sodokan yang dilakukan oleh tetangaku. Istriku terlihat begitu menikmati…, matanya terpejam dan mulut yang teranganga.
Secara perlahan rangsangan gairah yang tadi melanda diriku, kembali menjalar diseluruh pembuluh darah dan hatiku. Rangsangan itu perlahan-lahan mengalihkan rasa marah yang membludak di dalam dada. Semakin lama, rangsangan yang kurasakan semakin menggeser rasa marah yang melanda dada ini. Sehingga ada dorongan untuk terus menyaksikan perselingkuhan yang dilakukan oleh istriku dengan Anton. Penisku kembali mengeras dan tegang menyaksikan adegan yang sangat merangsang itu, nafasku semakin sesak dan terengah-engah.

Beberapa menit kemudian kulihat tubuh mereka berkelojotan bersamaan dengan erangan dan dengusan yang semakin keras dan akhirnya mengejang kaku dan mengalami orgasme secara bersamaan
Tanpa terasa akupun mengejang dan cret…. cret…. cret … spermakupun muncrat membasahi celana. Badanku terasa lemas namun nyaman, nafasku tersengal-sengal menikmati sensasi orgasme yang sangat aneh ini.
Kumatikan kameraku, secara perlahan aku meninggalkan tempat itu dan kembali menuju rumahku dengan perasaan tak menentu. Sesampai di rumah, kulihat anakku dan anak Anton tertidur kelelahan di ruang tengah yang berantakan. Aku langsung menuju ruang kerjaku dan menyalakan komputer untuk menyalin file yang berisi bukti adegan persetubuhan istriku dan Anton ke dalam flashdisk. Kumatikan komputerku dan dengan gontai aku melangkah menuju ruang tamu dan duduk di kursi sambil melamun dengan pikiran yang berkecamuk.

Di dalam keheningan itu, perlahan-lahan otakku dapat berpikir kembali. Rasa cemburu, marah dan kecewa bercampur menjadi satu, ingin rasanya kuceraikan istriku saat ini juga, tapi rasa cintaku demikian besar pada istriku dan aku tak sanggup berpisah dengannya.

Walaupun aku selalu membayangkan dapat menyetubuhi istri Anton, tetapi aku sama sekali tak berniat untuk meninggalkan istriku,karena aku sangat mencintainya.
Pikiranku seperti diarahkan agar membiarkan saja ini terjadi, demi menjaga keutuhan rumah tanggaku dan rumah tangganya. Tapi sebagai pembalasan atas apa yang mereka lakukan aku akan balas menyetubuhi istri Anton dengan seijin istriku dan Anton.. Biarkan saja perselingkuhan itu sebagai bumbu kehidupan berumah tangga yang dapat menambah gairah kami dalam meningkatkan kemesraan hubungan suami istri. Bahkan ada bisikan-bisikan yang menganjurkan agar masing-masing kami pernah menyaksikan istri atau suaminya bercinta dengan tetangganya. Dan akhirnya lamunanku lebih terarah ke bagaimana caranya agar semuanya bisa setuju dengan kondisi yang kuhayalkan tadi. Tapi apakah istri Anton yang solehah ini dapat menyetujuinya ?
————-
Ketika aku termenung itulah, istriku pulang dari rumah Anton setelah mereguk kenikmatan bercinta dari Anton.
————-
Istriku menangis sesegukan di kakiku…., sambil berkata “maafkan Mamah, Pah!… Ampuni Mamah…! Mamah rela melakukan apa saja untuk menebus kesalahan yang Mamah lakukan….asal Papah mau memaafkan Mamah…..Huu.huuu..huu” kata istriku sambil terus menangis
“Betul…? Mamah akan melakukan apa saja ?” Tanyaku menekannya
“Betul.., Pah !” jawab istriku tanpa pikir panjang sambil terus menangis di kakiku.
“Udah… bangun… “ kataku menyuruhnya bangun
“Maafkan dulu Mamah…hu..hu..” kata istriku belum berani beranjak dari kakiku.
“Udah…. Bangun…., Mamah akan Papah maafkan…. Asal…!” kataku terpotong
“Asal apa, Pah ?” tanya istriku lagi sambil menengadahkan wajahnya menatap wajahku., matanya merah berlinangan air mata penyesalan.
“Asal Mamah rela, bila Papah menyetubuhi istri tetangga kita dan Papah ingin Mamah mengintip Papah yang sedang menyetubuhi istri tetangga kita, sebagaimana Papah lihat, bagaimana Mamah menjerit-jerit nikmat disetubuhi oleh tetangga kita, seperti yang terdapat pada rekaman ini.” Kataku kalem sambil menunjukkan kamera yang berisikan rekaman perselingkuhan istriku.
“Papah.. merekamnya..?” tanya istriku terbelalak kaget
“Ya… sebagai bukti perselingkuhan kalian.” Jawabku ketus.
“Tapi…Pah…!” Kata istriku menyanggah..
“Tapi , apa..?”
“Adakah cara lain…?”istriku berusaha menawar
“Hanya itu syarat dari Papah…, agar Papah memaafkan perbuatan Mamah. Kalau tidak…, terpaksa kita bercerai dan rekaman ini dapat menjadi bukti perselingkuhan kalian. Dan untuk memuaskan dendam Papah kepada kalian berdua yang telah menghianati Papah, maka akan Papah sebarkan rekaman ini di internet…” Ancamku.
“Jangan, Pah…, jangan ceraikan Mamah…., Mamah sangat cinta pada Papah. Lakukan saja yang ingin Papah lakukan , kalau memang itu merupakan syarat dari Papah untuk memaafkan penghianatan Mamah….” Kata istriku menyerah.

Kurengkuh tubuh istriku yang masih terduduk di lantai , kucium mesra bibirnya sambil berkata “Papah sangat mencintai Mamah…”. Istriku membalas dengan ragu ciuman mesra penuh rasa cinta yang kuberikan. Kuangkat tubuhnya agar duduk disampingku. Istriku memeluk diriku erat-erat dan kepalanya dia sisipkan di dadaku.
Cukup lama dia memelukku. Kemudian wajahnya menghadap wajahku dan bertanya “Bagaimana, Papah bisa memiliki rekaman itu ?”

“Papah merekamnya, waktu mengintip apa yang sedang mamah lakukan dengan tetangga kita” kataku.
Istriku terdiam dan percaya akan apa yang kuceritakan, kemudian dia bertanya lagi “Bagaimana caranya agar istri tetangga kita mau bercinta dengan Papah, bukankah dia wanita yang solehah dan taat beribadah. Dan lagi apakah suaminya setuju jika istrinya digauli oleh Papah..”
“Suaminya pasti setuju dan harus setuju, kalau tidak…… ancaman Papah untuk menyebarkan rekaman ini akan dilaksanakan. Oleh sebab itu…. tugas Mamah merayunya agar dia setuju.” Kataku lagi
“Bagaimana caranya Papah bisa menggauli istri tetangga kita yang solehah itu ?” kembali istriku menanyakan hal yang tadi dia tanyakan.
“Akan kuperlihatkan rekaman ini padanya….., dia pasti marah dan dendam pada kalian berdua…., Sehingga dengan mudah Papah bisa mempengararuhinya dan merayunya agar dia mau melayani Papah..” kataku lagi.
Istriku hanya bengong mendengar rencanaku. Dia tidak bisa berbuat apa-apa mendengarucapanku itu.
“Hayooo…. Mengapa bengong ! Sudah sana pergi temui tetangga kita dan perlihatkan rekaman ini, serta ceritakan syarat dari Papah. Rayu dia agar setuju dengan syarat dari Papah, biar posisi kita menjadi seri.” Suruhku pada istriku untuk menemui Anton.

Dengan langkah berat, istriku kembali menemui Anton di rumahnya. Cukup lama aku menunggu istrku kembali. Aku sudah tak peduli dengan apa yang mereka lakukan, yang ada di pikiranku adalah malam ini aku bisa menikmati tubuh istri Anton yang menjadi obsesiku selama ini.

Lama kutunggu-tunggu, istriku belum pulang juga. Hingga akhirnya istriku datang dibuntuti oleh Anton. Tampak sekali Anton merasa rikuh menatapku, tatapan mata orang yang merasa sangat bersalah, karena tertangkap basah perselingkuhannya dengan istriku terekam oleh kamera.
Dengan terbungkuk-bungkuk dia menyembah diriku sambil meminta ampun dan memohon agar aku tidak melaporkan tindakannya ke polisi serta memohon dengan sangat agar rekaman itu tidak disebarkan ke internet. Dia menyanggupi syarat yang kuajukan sebagai balasan atas apa yang dia lakukan terhadap istriku.
Aku bilang padanya bahwa nanti malam aku akan mengunjungi rumahnya, kemudian dia harus meninggalkan aku dan istrinya berdua di rumahnya

Dan kuminta dia dan istriku mengintip apa yang kulakukan dengan pada istrinya sehingga dia merasakan bagaimana perasaannya jika istrinya digauli oleh laki-laki lain. Dengan berat hati dan terpaksa, Anton menyetujui usulku. Dan akhirnya dengan gontai ia kembali ke rumahnya.

Sisa hari itu kugunakan dengan menunggu kejadian mendebarkan yang akan terjadi dan akan merubah suasana perkawinan keluarga kami, dan akhirnya waktu yang kutunggu itupun tiba.

Sekitar jam 9 malam, Aku segera mendatangi rumah Anton dan mengetuk pintu. Tak lama kemudian, istriku Anton membukakan pintu, dan seperti biasa dia mengenakan baju longgar dan panjang serta kepala dan dadanya ditutup oleh jilbab yang lebar.
“Ehhh….bapak ! Ada apa Pak ?” katanya kaget. Aku berusaha bertindak tenang seolah-olah orang yang
sedang benar-benar bertamu.
“’Ngga apa-apa, Bu ! Bapak ada ?” Jawabku. Dia mempersilahkanku duduk di kursi tamu, dan menutup pintu.
“Pah…! Pah..! Ada tamu…” teriak istri Anton memanggil suaminya.
“Ada siapa Mah ? “ jawab Anton sambil keluar dari kamar.
“Aihh…, Bapak…., ada apa Pak ?” tanya Anton bersandiwara.
“Ahh…, pingin silaturahmi aja Pak…, Mana si kecil ? sudah tidur ?” jawabku berbasa basi.
Kemudian kami ngobrol berbasa-basi, sebelum akhirnya dia bilang akan meninggalkanku sejenak, dengan alasan mau ke warung untuk beli rokok.

Setelah Anton meninggalkan rumah, aku mulai bertanya pada istri Anton yang selalu menggoda hatiku ini. “Bu !, Ngomong-gomong…, saya ingin bertanya…!” kataku
“Mau nanya apa sich ?” balasnya sambil menatapku.
“Bagaimana, perasaan ibu, kalau ibu tahu suami ibu berselingkuh ?” tanyaku langsung pada persoalan.
“Kenapa, Bapak menanyakan hal yang tidak sopan seperti itu ?” jawab istri Anton dengan nada tersinggung.
“Jawab saja pertanyaan saya !” desakku padanya
“Tentu saja saya sangat kecewa dan marah padanya. Saya minta Bapak jangan memfitnah suami saya dan sebaiknya bapak pulang sekarang, saya tersinggung dengan ucapan Bapak” jawabnya istri Anton tersinggung dan mulai emosi.
“Bagaimana kalau ternyata, dia berselingkuh dengan istriku ?” kataku lagi tanpa menghiraukan kata-kata pengusiran yang dilontarkannya.
Dia terhenyak dan menatapku tajam “Kenapa bapak berkata begitu ? Apakah dia berselingkuh dengan istri bapak ?” katanya mulai melemah dan terhenyak lemas.
“Itulah sebabnya saya tanyakan pada Ibu, apa reaksi ibu kalau ternyata suami ibu berselingkuh dengan istriku ?” tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Bapak jangan memfitnah suami saya, suami saya orang baik-baik…, mana buktinya ?” emosi istri Anton mulai naik kembali.
“Saya punya rekaman perselingkuhan suami ibu dengan istri saya..” jawabku tegas sambil memperlihatkan flashdisk padanya, “Jadi…, apa reaksi ibu, kalau tahu suami ibu selingkuh dengan istri saya ?” desakku lagi.
“Saya sangat kecewa, tapi tak bisa apa-apa….. karena saya sangat mencintai suami saya, dan tak mungkin saya minta cerai padanya. Karena saya sudah sebatang kara, tidak punya sanak saudara.. Tapi…… apakah benar seperti itu ? dari mana bapak dapatkan rekaman itu ? dan apakah benar isi rekaman itu adalah suami saya?” berondongan pertanyaan dia lontarkan padaku dengan penasaran dan rasa khawatir.

Aku tak menjawabnya, tapi langsung menuju meja komputer yang ada di ruang tengah. Lalu kunyalakan komputernya sambil berkata “Saya punya bukti perselingkuhan mereka di flashdisk ini…”. Dia termenung dan menanti dengan tak sabar apa tindakanku selanjutnya. Kupersilahkan dia duduk di kursi yang ada di depan komputer sementara aku berdiri di sampingnya sambil memasang flashdsk pada CPU.

Kemudian aku membuka file rekaman yang berisi adegan persetubuhan yang dilakukan suaminya.
“Aihhhh…” mulutnya menjerit tertahan, dan kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga, jantungnya seolah berhenti berdetak, nafasnya sesak serta matanya melotot tak berkedip ketika dia menyaksikan tubuh seorang lelaki yang mirip tubuh suaminya dalam keadaan bugil sedang menghentak-hentakan pantatnya pada selengkangan seorang wanita yang tak tampak pada layar karena terhalang oleh tubuhlelaki itu. Hanya terdengar samar-samar suara erangan dari seorang wanita yang sedang meraih nikmat…
“Benarkah….. itu suami saya…? Wajahnya kan tak terlihat, tapi……, itu ‘khan kamar kami…!” keringat dingin keluar dari pori-porinya dan sorot matanya memperlihatkan bahwa dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi suasana kamar yang diperlihatkan pada layar memang menunjukkan kamarnya…..
“Kapan gambar ini direkam ?” disela-sela nafasnya yang tersengal
“Tadi pagi sekitar jam 9 pagi..” jawabku.

Nafasnya semakin sesak….., sementara erangan-erangan nikmat yang terdengar mulai merangsang gairahnya. Berbagai macam perasaan berkecamuk di kepalanya. Membuat pikirannya buntu.
Mulutnya menjerit tertahan ketika lelaki itu berpindah posisi sehingga wajah lelaki dan wajah wanita yang ada dalam itu jelas memperlihat wajah suaminya dan wajah istriku. Dia memalingkan wajahnya seolah tak percaya dan tak mau melihat apa yang tampak di layar monitor. Tapi tak lama kemudian dia mengintip dari sudut matanya untuk melihat kejadian selanjutnya yang ditampilkan dari layar monitor.

“Bu…, saya sangat cemburu dan marah luar biasa pada saat saya pulang dan mencari istri saya ternyata istri saya sedang asyik bercinta dengan suami ibu. Ingin rasanya saya melabrak masuk dan membunuh mereka berdua. Tapi keinginan itu kutahan karena saya sangat mencintai istri saya. Dan tak ingin lingkungan kita menjadi gempar karena saya memergoki istri saya dan suami ibu berselingkuh.”
“Keluarga kita berdua bisa malu…,kasihan anak-anak. Itu sebabnya saya merekam perbuatan mereka supaya mereka tidak bisa mungkir.”

Lalu lanjutku lagi “Untuk membalas perbuatan mereka agar impas dan mambalas rasa sakit hati saya, maka saya sudah minta pada suami ibu agar saya bisa mengauli ibu dan suami ibu menyetujuinya agar kita bisa membalas perbuatan mereka.Itulah sebabnya suami ibu meninggalkan kita berdua sekarang”
Istri Anton mulai terpengaruh oleh ucapanku, sebab diapun sakit hati terhadap apa yang dilakukan suaminya dengan istriku. Timbul dendam didalam hatinya untuk membalas apa yang dilakukan oleh suaminya dan istriku.

Sementara itu di layar, terlihat bahwa istriku dalam posisi merangkak sedang digenjot oleh suaminya dengan hentkan-hentakan yang membuat mata istriku terpejam menahan nikmat dari dari mulut istriku kembali terdengar erangan-erangan nikmat.

Cemburu, kecewa dan amarah yang berkecamuk di dalam dada istri Anton menimbulkan dorongan untuk membalas perbuatan suaminya dengan berselingkuh denganku. Apalagi dilihatnya istriku begitu terlonjak-lonjak menikmati sodokan penis suaminya, Istri Anton iri dengan kenikmatan yang di dapat istriku dari suaminya
Disamping itu apa yang dilihatnya itu menimbulkan rangsangan berahi yang mulai menggeser rasa marah dan kecewanya. Tangannya mulai meremas-remas pegangan kursi dengan keras, terlihat bulu-bulu halus ditangannya berdiri yang menunjukkan bahwa dirinya sudah terangsang. Gairahkupun sebenarnya sudah meninggi menyaksikan persetubuhan yang mengairahkan yang dilakukan istriku dan suaminya.
Semakin lama tampaknya gairah nafsu berahi semakin menguasai diri istri Anton, dadanya turun naik terpompa gairah yang semakin membumbung tinggi. Keinginan untuk segera membalas dendam semakin besar. Duduknya gelisah dan mulai menggeliat, hingga pada saat tayangan menampilkan kondisi dimana istriku dan suaminya melonjak-lonjak dan mengejang kaku mencapai orgasme, rupanya nafsu istri tetangga sudah tak tertahankan lagi dia langsung berdiri dan berkata “Kalau suami saya berselingkuh dengan istri bapak, mengapa saya tidak boleh? Saya juga mampu melakukan seperti apa yang mereka lakukan, bahkan saya akan melakukannya lebih dari apa yang mereka lakukan. Apalagi seperti yang bapak bilang bahwa suami saya mengijinkan bapak menggauli saya. Ayo Pak! Tunggu apa lagi ?” katanya parau. Cemburu , marah dan gairah bercampur menjadi satu.

Tangannya merengkuh leherku dan bibirnya langsung melumat bibirku dengan penuh nafsu birahi yang meronta-ronta ingin menemukan pelampiasan. Rupanya ia ingin membalas sakit hati yang dirasakannya dan berharap suaminya melihat apa yang dilakukannya padaku.

Begitu ganas istri Anton yang berjilbab lebar ini mnciumiku, hawa dari mulutnya terasa panas menandakan gairah nafsu yang membara, kakinya terjinjit agar wajahnya semakin mendekat dan rapat ke wajahku, pelukannya sangat erat dan kepalanya bergerak lincah sambil bibirnya menghisap dan mengecup bibirku. Kembali istri Anton ini merasa sakit hati akan kelakuan suaminya. Dan rasa sakit hatinya ini membuatnya ingin segera membalas rasa sakit hati pada suaminya.

Dia langsung membuka seluruh pakaiannya hingga tak ada selembar benangpun yang menempel pada tubuhnya, aku terpana memandang mulusnya tubuh istri Anton yang selama ini hanya ada dalam lamunanku saja. Sekarang secara nyata ada di hadapanku.

Yang kuhayalkan selama ini memang benar, kulit tubuh istri tetangga ini demikian putih, mulus dan halus bak pualam. Ohhhh… ‘the dream come true’. Rangsangan yang merasuk ke aliran darahku semakin deras. Terutama saat kupandangi buahdadanya yang masih mengacung montok sangat indah.
Aku tak tahan menikmati pemandangan indah ini. Kuhampiri tubuh bugil istri Anton ini, kupeluk dengan nafsu yang menggebu-gebu, kuciumi seluruh pundak, leher dan buah dadanya dengan nafas yang berat dan terengah-engah. Tanganku tak tinggal diam, turut meremas-remas buah dada yang montok dan menggemaskan.

Nafsu istri Anton semakin terbakar, tubuhnya menggelinjang menikmati cumbuanku, erangan nikmat keluar dari mulutnya yang mungil “Ouh… euhh… auhhh….”. Kepalanya terdongak sambil mengerang dengan mata terpejam. Buah dadanya semakin membusung, mulutku langsung menjilati dan menghisap putting susu yang semakin menonjol keras.

Penisku semakin keras dan tegak, mendorong celana yang kukenakan, terasa sakit terjepit oleh celana yang seolah tak mampu membendung membengkaknya batang penisku.
Aku melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan. Melihat apa yang kulakukan, gairah istri Anton semakin tak tertahankan, dia menarik lenganku agar bersama-sama naik ke sofa.

Nampaknya nafsu istri Anton sudah tak tertahankan, vaginanya terasa basah dan sangat gatal ingin segera digaruk. Dan rasa gatal itu semakin meronta-ronta melanda vaginanya ketika matanya melihat batang penisku yang mengacung keras dan tegang. Dia membanting tubuhku agar telentang, dengan tergesa-gesa dia mengangkangi pinggangku, meraih batang penisku dan mengarahkannya pada liang vaginanya yang semakin basah, berdenyut dan gatal. Pantatnya ditekan sambil memejamkan mata menanti kenikmatan yang datang menjelang

Lalu bleessshhh…….”Ahhhkk……” erangan nikmat dan merangsang keluar dari bibirnya yang tipis. Matakupun mendelik merasakan kepala penisku menerobos liang vaginanya yang sempit menjempit namun panas membara. Rasa nikmat yang luar biasa menjalar ke seluruh penjuru urat nadiku. “Oohhhh…..” akupun melenguh nikmat.

Rasa nikmat dan puas semakin bertambah, karena mimpiku jadi kenyataan. Dan diluar dugaanku ternyata istri Anton ini demikian liar dalam bercinta bertolak belakang dengan prilakunya sehari-hari yang lembut dan anggun.Aku semakin puas dan nikmat menghadapi kenyataan ini.
Dinding vaginanya berdenyut keras seolah menghisap kepala dan batang penisku, lalu dia melonjak-lonjakan tubuhnya dengan hebat dan tak lama kemudian dia menjerit panjang sambil tubuhnya mengejang kaku “Aaaaaaakkkhhhhh…….”.

Dendam dan Gairah nafsu yang begitu meronta-ronta mengakibatkan orgasmenya begitu cepat datang menjemput. Beberapa saat kemudian dia ambruk menimpa tubuhku, kepalanya diletakkan di atas dadaku. Dinding vaginanya berdenyut kuat dan cepat dan dasar liang vaginanya meremas dan menghisap-hisap kepala penisku memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku.
“Ouhhhh…..” keluar nikmat tanpa terasa keluar dari mulutku merasakan nikmatnya vagina istri Anton ini. Vaginanya memang lain dari yang biasa kurasakan dari istriku. Remasan dan hisapan yang dilakukan vagina istri Anton ini demikian kuat menyentuh simpul-simpul syarat kenikmatan yang ada di sekeliling batang dan kepala penisku.Uuuhhh….. luar biasa

Denyutan dinding vaginanya semakin lama semakin melemah namun terasa semakin basah dan licin. Setelah denyutan dinding vaginanya menghilang dan nafasnya teratur kembali, dia mulai menggerakan pinggulnya ke atas ke bawah agar batang penisku yang masih ditelan oleh vaginanya mengocok dan menggaruk seluruh dinding vaginanya dan masih gatal. Gerakan pinggulnya kadan-kadang berubah ke kiri dan kekanan bahkan diputar agar sambil menekannya dalam-dalam agar penisku masuk semakin dalam menggaruk dinding vaginanya.

Rasa nikmat yang teramat sangat kembali menjalar di tubuh kami, aku membalas gerakan pinggulnya dengan menghentak-hentakan pantatku ke atas dan kebawah agar garukan batang penis semakin lebih terasa nikmat.
Pinggulnya bergerak demikian lincah dan liar, tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga mataku terpana melihat buahdadanya yang montok dan sekal berayun dan berguncang-gucang. Kujulurkan kedua tanganku untuk meremas dengan gemas dan penuh nafsu kedua buahdada indah itu. Kepuasan dan kenikmatan semakin menjalar di seantero pembuluh darah kami.

Kedua tangannya memegangi kedua pergelanganku yang sedang memberikan kenikmatan tambahan dengan meremas dan memilin buahdadanya sebagai pegangan pada saat lonjakannya semakin keras meronta-ronta.
Lonjakan tubuhnya semakin liar dan pinggulnya menghentak-hentak kaku, sementara itu, penisku terasa seperti dijepit kuat dan dipelintir oleh mesin penggilingan yang sangat nikmat hingga mataku melotot dan melenguh “ouhhhhhhh…..”

Pinggulnya menghentak sangat keras dan dalam, cengkraman kedua tangannya pada pergelangan tanganku sangat kuat, punggungnya menjauh, tubuhnya melenting kaku dengan mata mendelik dan berteriak cukup nyaring “Aaaaaaakkkhhhhh…….”
Kembali istri Anton ini mengalami orgasme yang lebih luarbiasa dibandingkan dengan orgasme pertamanya, sesaat kemudian tubuhnya melayang dan ambruk kembali di atas tubuhku.
Sensasi orgasme yang kedua darinya kembali dirasakan penisku, kali ini remasan dan kedutan dinding baginanya terasa lebih kuat dan lebih cepat dibandingkan yang pertama, sehingga akupun merasa lebih nikmat.

Sambil telungkup lemah di atas tubuhku, dengan lemas dia julurkan kakinya sehingga berada di samping luar kedua kakiku yang agak terbuka, kedua tangannya dia susupkan ke bawah bahuku dan merengkuh pundakku dari bawah. Kemudian mulutnya menciumi dadaku, merayap ke atas , ke leher , ke pipi hingga kembali bibir kami bertautan dengan hisapan yang dalam dan panjang.
Sambil berciuman, pantatnya kembali bergerak ke atas dan ke bawah agar batang penisku yang masih keras kembali menggaruk rasa gatal pada dinding vaginanya yang kembali datang walaupun telah terpuaskan.
Helaan pantatnya yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar dan menekan, semakin cepat dan bertenaga, buahdadanya menggesek-gesek dadaku akibat gerakan pinggulnya yang memelintir nikmat batang penisku yang masih kuat dicengkram oleh dinding vaginanya. Gerakan melonjak yang kejang dan kaku kembali dialami oleh istri Anton setelah beberapa saat dia menghela batang penisku. Kepala terangkat menjau dari wajahku, matanya terpejam rapat dan “Aaaaaakkkkhhhhh…..” kembali dia meraih orgasme yang semakin cepat dapat diraihnya. Dan kembali tubuhnya lunglai lemas di atas tubuhku.

Rasa dendam pada suaminya membuat dirinya demikian lincah dan binal. Sehingga Berkali-kali dia meraih orgasme di atas tubuhku dalam posisi dia diatas tubuhku. Berbagai gaya goyangan pinggul dia peragakan mulai dari menaik-turunkan pantatnya, memutar pinggulnya hingga memaju-mundurkan pantatnya.
Batang penisku seperti dipelintir, dijepit dan dihisap-hisap luar biasa nikmat. Teriakan dan erangan nikmat yang keluar dari mulutnya semakin keras dan merangsang, seolah ingin di dengar oleh suaminya bahwa dia juga bisa selingkuh seperti suaminya.

Akhirnya istri Anton betul-betul ambruk dan tak mampu menggerakkan pinggulnya beberapa saat. Namun tampaknya rasa gatal yang menyerang dinding vaginanya belum juga hilang sepenuhnya. Dia menggulingkan tubuhnya hingga telentang di sampingku. Dan tangannya menarik tubuhku agar aku di atas.

Aku paham dengan apa yang diinginkannya. Tubuhku bangkit, kukangkangkan pahanya, lalu aku meletakan kedua lututku tepat dibawah pahanya, kuarahkan penisku yang semakin bengkak dan keras pada mulut liang vaginanya yang mengkilat basah oleh cairan kenikmatan. Dan blessshhh…… penisku menerobos liang vagina yang semakin basah , namun tetap terasa sempit dan menjepit serta memijit-mijit batang penisku.
Aku mulai memompa pantatku hingga batang penisku mengocok-ngocok dan mengaduk-aduk liang nikmat itu. Setelah sekian lama aku menggenjotnya, dia mulai membalas dengan menghentak-hentakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku dengan erangan-erangan nikmat yang kembali dia perdengarkan.
Pada saat istri Anton sedang melonjak-lonjak merasakan nikmat atas sodokan-sodokan batang penisku, tiba-tiba suaminya dan istriku masuk melalui pintu yang tadi lupa tidak ditutup. Istri tetangaku terperanjat dan terpekik kaget “Awww….”. Dan kekagetannya semakin bertambah setelah melihat bahwa suaminya dan istriku langsung melepaskan pakaian yang sudah setengah terbuka.
Dia berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuhku yang sedang menekan pinggulku dalam-dalam hingga seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya di dalam vaginanya. Tapi urung dilakukan karena ternyata suaminya masuk bukan untuk menghentikan kami yang sedang berpacu meraih nikmatnya persetubuhan.

Dia menggandeng tangan istriku, dan menuju sofa dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.
Betapa besar rasa cemburunya ketika dia melihat bagaimana istrinya dengan lincah dan ganas melonjak-lonjak di atas tubuhku. Namun baik istriku dan Anton tak berdaya untuk menghentikan apa yang sedang kami lakukan. Mereka hanya melihat apa yang kami lakukan dengan perasaan yang tak menentu.

Tetapi perasaan cemburu dan bersalah yang melanda hati Anton dan istriku secara perlahan tergantikan oleh rangsangan berahi yang menjalar di seluruh pembuluh darah mereka melihat bagaimana aku dan istrinya melonjak-lonja meraih nikmat serta mendengar erangan-erangan istrinya yang membuat nafsu berahi keduanya naik dengan cepat.

Sambil melihat apa yang kami lakukan, mereka saling meremas dan meraba membuat nafsu mereka membumbung tinggi., Dan mereka bercumbu di depan pintu sambil memperhatikan kami, pakaian yang istriku kenakan sudah setengah terbuka. Buah dada istriku yang besar membusung indah sudah terbuka dan diremas-remas oleh Anton sambil melihat yang kami lakukan

Dan pada saat aku sedang di atas tubuh istrinya, nampaknya nafsu mereka sudah tak tertahankan lagi, mereka langsung melepaskan semua pakaian hingga akhirnya bugil.

Istriku dibimbingnya agar berbaring dibagian kosong di sofa lain di ruang tamu itu, namun kaki istriku masih terjulur di lantai. Tanpa memperhatikan kami yang sedang bengong melihat kedatangannya. Anton langsung mengangkat paha istriku hingga terkangkang, meletakkan kedua lututnya ke pinggir sofa dan mengarahkan batang penisnya yang sangat tegang dan keras ke mulut liang vagina istriku yang basah menunggu dimasuki oleh batang penis yang keras.

Lalu dia mulai menggenjot tubuh istriku dengan cepat hingga tubuh istriku melonjak-lonjak dan mengerang nikmat. Rangsangan nafsu begitu menguasai istriku dan Anton, sehingga mereka langsung merasa berada di awang-awang dilambungkan oleh kenikmatan yang tak terhingga.

Rangsangan kembali menjalar di tubuh istri Anton melihat suaminya tidak mempedulikan dirinya. “Aku.. akan melayanimu Mas…., aku akan memuaskanmu mas…., kalau Mas Anton aja bisa dan sangat bersemangat memberikan kenikmatan pada istrimu. Mengapa aku harus merasa terpaksa melayanimu Mas ?. Ayo mas …aku akan membuatmu melayang-layang…” demikian katanya sambil kedua tangannya memeluk erat tengkukku.
Ciuman yang istri Anton berikan pada bibirku demikian ganas dan panas membara memberikan rasa nikmat yang membuat diriku melayang. Kemudian dengan liarnya, bibir dan lidahnya menciumi serta menjilati sekujur bidang dadaku sampai ke perut kemudian naik lagi kearah puting susuku yang kiri dan kanan secara bergantian. Dihisap-hisapnya dengan penuh nafsu kedua puting susuku sehingga aku melayang nikmat.
”Ouhhhh… ” keluhku. Kemudian tangan istri Anton dengan cekatan memegang pangkal penisku dan mengocoknya, sementara bibirnya langsung mengemut, menghisap dan menjilati penisku membuat aku semakin melayang diterpa nikmat yang luar biasa

”Akh…..hoohhh…..hoh… Aduh jeng….enak….ohhh…” kata-kataku keluar dari mulutku secara terpotong-potong.

Secara sekilas kulihat bahwa posisi istriku dan Anton sudah berubah. Mereka sudah tidak lagi berdiri dipinggir sofa melainkan sudah berbaring diatas karpet . Anton terlentang dalam keadaan telanjang bulat . Tangan kanan istriku memegang pangkal penis Anton dan tangan kirinya mengusap-ngusap dada Anton, sementara mulut dan bibir istriku sibuk mengemut, menghisap dan menjilati kepala penis Anton membuat badan Anton terlonjak-lonjak dan kedua kakinya terkejang-kejang menahan nikmat yang diberikan istriku.
Aku disinipun tak mau kalah… kuangkat badan mungil istri temanku ini, kuciumi seluruh bagian leher jenjang yang menggairahkan ini kejilat dan kuhisap-hisap hingga mata istri temanku ini terbeliak-beliak menahan nikmat dan mulut yang megap-megap serta keluarlah suara desisannya.. ”Hsssstttt….hhssstt..”

Tanganku segera bekerja untuk meremas buah dada indah ini dan memilin-milin puting susunya sedang mulutku langsung menghisap dan menjilati puting susu yang sebelahnya.
Desahan istri temanku sudah berubah menjadi erangan kenikmatan : ”Euh…euh… ouh…ouh….” dengan mata yang kadang terpejam rapat dan terkadang terbeliak-beliak menahan nikmat.
Lalu kedua tanganku langsung meraih pantat indahnya dan bibirku langsung menuju selangmasan istri temanku ini dan dengan rakus aku menciumi, menjilati bahkan menghisap-hisap dan menggigit-gigit gemas vagina istri temanku ini. Perbuatanku ini membuat kaki istriku terjinjit-jinjit didera rasa nikmat dan kedua tangannya bertahan pada pundakku dan erangannya sudah berubah menjadi jeritan-jeritan serta teriakan nafas tertahan

”Auw…auw… ouhh…ouh enak mas…makasih mas….ouh…enak…mas…auw …” demikian ucapnya tiada henti seiring dengan ciuman dan jilatan lidahku pada vaginanya.
Sampai akhirnya ia menjinjitkan kakinya tinggi-tinggi dan lurus kaku, kedua tangannya mencengkram pundakku dengan keras bagaikan cakar burung elang yang menangkap mangsa dan badannya melenting bagaikan busur panah, pantatnya ditekankan ke wajahku keras-keras sambil berteriak..”Aaaakkkhhhh……” kemudian badannya melonjak-lonjak dengan pantat yang berkedut-kedut dan setelah itu badannya terjengkang kebelakang hingga hampir jatuh telentang jika tidak kutahan..

Kubangunkan dia dan kubawa ke atas sofa, kulihat matanya basah oleh air mata yang keluar akibat menahan nikmat yang teramat sangat sambil berucap terbata-bata .. ”Makasih mas…enak banget…aku sangat melayang dan terhempas kehilangan keseimbangan…” kemudian ia memeluk erat diriku sambil merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih datang menghampirinya.

Sementara itu Anton telah diguncang-guncang kenikmatan yang diberikan oleh istriku. Tubuh istriku sedang menduduki selangkangan Anton dan dia bergerak sangat lincah dan erotis memberikan segala kenikmatan yang ada. Buah dadanya berguncang-guncang menggairahkan akibat gerakannya yang sangat liar. Mata Anton terbeliak-beliak menahan nikmat sementara dari mulut istriku keluar teriakan-teriakan seperti orang yang sedang berolah raga dengan nafas yang tersengal-sengal.
”Hhoh…Hhohh.. ..hessshhh ….heshhh ” seiring dengan gerakan pantatnya yang maju-mundur, keatas kebawah, kekiri-kekanan dan diputar-putar.

Teriakan-teriakan istriku rupanya cepat membangkitkan kembali nafsu istri Anton untuk melanjutkan persetubuhan denganku.
Badannya berdiri diatas sofa, kedua kakinya diletakkan dikiri dan kanan pinggulku , kemudian dia berjongkok mengarahkan liang vagina yang telah basah dan licin tepat di depan kepala penisku yang sedang tegak berdiri dengan gagahnya.

”Aku akan memberikan kenikmatan yang belum pernah mas rasakan sebelumnya, percayalah..!” katanya tersenyum manis berpromosi.. Tangan mungilnya mengarahkan kepala penisku ke depan liang vaginanya, kemudian pantatnya menekan ke bawah.

Dan….blessshhh…penisku telah masuk ke liang kenikmatan istri temanku secara perlahan-lahan. Sepanjang perjalanan kepala penisku menerobos liang vagina istri temanku, kepala dan batang penisku seperti disambut dengan jilatan-jilatan beribu-ribu lidah kecil yang menjilati seluruh permukaan syaraf nikmat yang terdapat diseluruh permukaan penisku. Membuat mulutku ternganga dan mata melotot menahan nikmat yang amat sangat yang tidak pernah kualami selama bersetubuh dengan istriku. Janji istri temanku ini memang benar.
Istri temanku ini tersenyum manja melihat aku melotot dan ternganga menahan nikmat yang diberikan oleh vaginanya..

”Itu tadi baru permulaan…” katanya dilanjutkan dengan mencium bibirku penuh nafsu, kemudian secara perlahan-lahan pantatnya mulai bergerak secara teratur keatas-kebawah, kedepan-kebelamas, dan diputar-putar..
Gerakan-gerakan tersebut secara periodik terus dilakukan oleh secara konstan, memberikan kenikmatan yang sangat bagi penisku. Aku sampai mabuk kepayang dan melayang-layang didera oleh angin topan kenikmatan yang diberikan oleh vagina istri temanku yang luar biasa ini.
Sepertinya istri temanku ini merasa heran, kenapa aku belum juga mencapai puncak, padahal biasanya bila jurus yang barusan saja dia peragakan padaku dia berikan pada suaminya, maka tak menunggu banyak waktu suaminya akan sampai menuju puncak dan menjerit nikmat sambil melepaskan sperma yang deras. Sementara dirasakan olehnya bahwa penisku masih tetap tegang dan keras padahal dia melihat aku terbeliak-beliak menahan nikmat

Istriku temanku semakin ganas menggerakkan pantatnya, dan mulai memperdengarkan suara dengusan dan erangan yang memburu
”Aaah…hekhs…heks… ouh…ouh….auw…” jeritannya berulang-ulang. Dan akhirnya gerakannya sudah mulai sangat cepat dan tak teratur. Denyutan , kedutan dan jilatan lidah-lidah kecil di rongga vagina istri temanku semakin keras dan akhirnya…

”Aaaaahhh…..” istri temanku menjerit sangat keras sambil melentingkan badan dan mencakar dadaku. Vaginanya ditekan kuat-kuat ke selangmasanku sehingga penisku amblas sampai dalam sekali dan kakinya kaku dan BRUK…. dia ambruk menindih tubuhku yang sudah hampir menuju puncak tapi Istri temanku ini keburu ambruk dan terdiam sehingga orgasmeku kembali surut

”Oooh…mas…benar-benar nikmat banget… mas benar-benar hebat” katanya memujiku sambil membaringkan kepalanya di dadaku menikmati sisa-sisa orgasme.
Sementara di ruang tengah, posisi sudah berubah lagi. Anton diatas istriku sedang memompa pantatnya ke selengkangan istriku. Penisnya dengan cepat keluar-masuk vagina istriku. Tangannya seperti biasa selalu bermain dibuah dada istriku yang sangat digandrunginya. Matanya melotot seperti mau copot seolah sedang mengejar sesuatu yang akan segera dia raih.
Gerakan pinggul istriku dibawah tubuh Anton sangat cepat dan tidak teratur, teriakan-terikan istriku keluar menunjukkan bahwa dia sedang didera kenikmatan yang teramat sangat yang sebentar lagi akan menuju puncak

”Auw..auw…auw…oh…ouh……”
Dan akhirnya secara bersamaan gerakan mereka berdua sangat keras dan tak terkendali dan ….
”Aaahhh…….” teriakan Anton dan istriku berbarengan. Lalu kedua tubuh mereka menegang kaku dan akhirnya terhempas lemas dengan diakhiri dengan kedutan-kedutan pantat mereka untuk saling menekan selangmasan masing-masing. Dan diakhiri dengan menggelosornya tubuh Anton dari atas tubuh istriku kesamping tubuh istriku. Dan mereka tertidur kelelahan sambil berpelukan damai.

Sementara aku sudah mulai merangsang kembali istri Anton yang masih telungkup diatas tubuhku yang terduduk di sofa ruang tamu. Kubelai rambutnya yang indah, kukecup lembut bibirnya yang tipis dan matanya yang indah lalu kembali mengulum dan menghisap-hisap bibir istri temanku dengan penuh nafsu. Dia membuka matanya dan membalas ciumanku dengan tak kalah ganasnya. Tanganku kembali mempermainkan buahdada indah milik istri temanku. Perlahan-lahan kembali pantatnya bergerak mengucek penisku yang masih berada didalam vaginanya. Tetapi nampaknya gerakan pantatnya masih kurasakan lemah, karena mungkin masih lelah karena telah dua kali merasakan puncak orgasme yang sangat hebat yang menguras banyak energinya. Akhirnya kupegangi pantatnya, kemudian aku berdiri dari dudukku sehingga posisi saat ini menjadi aku yang sedang memangku istri temanku yang mungil dan menggairahkan. Kedua kakinya dia ikatkan ke pinggangku dan kedua tangannya merangkul tengkukku sebagai gantungan, sementara selangmasannya menekan keras selangmasanku sehingga penisku menusuk vaginanya hingga ke pangkalnya.

”Ouhh…. nikmatnya…” erangku.
”Ouhmmh… mas…. aku juga enak….euh….” sahutnya sambil mendekapku seperti orang yang sedang memanjat pohon kelapa.
Kemudian aku mulai melonjak-lonjakan tubuhnya dengan melurus-luruskan kakiku. Istri temankupun ikut melonjak-lonjakan tubuhnya sehingga persetubuhan yang kulakukan sangat berat dan melelahkan namun juga sangat nikmat sehingga erangan kenikmatan kami saling bersahutan…
”Ouh….ouh….” erangannya
”Euh….hek….hek hsssttt..” Keluhku
Lututku semakin kurasakan leklok. Akhirnya kupangku istri temanku ini memepet kan punggungnya ke dinding ruang tamu dan kakinya aku turunkan sehingga kakinya terjinjit tertahan vagina yang diganjal oleh penisku yang sangat tegang. Bebanku berkurang dan pantatku dapat bergerak bebas untuk maju-mundur mengocok penisku didalam vagina dengan beribu-ribu lidah kecil yang terus menerus menjilati seluruh permukaan penisku disertai dengan kedutan dinding yang memijit-mijit nikmat penisku. Kenikmatan ini semakin tak terlukiskan dan akupun tanpa sadar terus-menerus mendengus dan melenguh menahan nikmat

”Ouh…heh…heh……ouh….hekss…” dengusku keras.

Tiba-tiba gerakan pantat istri temanku ini semakin liar dan dia mulai menjerit-jerit kembali…”Auw…auw…auw…ohhhh….hoh…..hoh….hhhssstttt… ”

Dan akhirnya ”Aaaahhhhh…” Istri temanku kembali menjerit panjang badannya melenting kaku.. giginya menggigit dadaku dan tangannya mencakar punggungku.
Beberapa detik kemudian kembali pantatnya berkedut-kedut dan vaginanya berkontraksi sangat hebat memijit-mijit batang penisku dengan ketat..
”Oohhh…….” aku melenguh menahan nikmat. Sejurus kemudian badannya lemas tak berdaya hampir mengelosor jatuh terduduk jika tak ditahan oleh pelukanku
”Ouhh…hssss makasih mas… kenikmatan orgasme ini benar-benar melelahkanku…” katanya lemah ….
Aku bimbing kembali istri temanku ke sofa dan kubaringkan. Badannya sudah sangat basah kuyup oleh keringat. Benar-benar suatu persetubuhan yang sangat luar biasa menguras tenaga…Aku biarkan dia terbaring beberapa saat sambil kubelai-belai rambutnya yang indah. Aku tak bosan-bosan menikmati keindahan tubuh mungil istri temanku ini. Rupanya istri temanku ini merupakan tipe wanita penikmat sex, karena walaupun telah beberapa kali meraih orgasme yang hebatpun gairahnya cepat kembali bangkit untuk meraih kepuasan orgasme berikutnya., ditambah lagi keistimewaan kedutan vagina miliknya yang bagaikan memiliki ribuah lidah kecil yang selalu menjilat dan memeras penis yang menjelajahinya.

Kuarahkan dia agar kepalanya berbantalkan pegangan tangan sofa, kemudian kaki kanannya kuturankan kelantai dan kaki kiri terlipat di atas sofa, sehingga posisi istri temanku sekarang menjadi nungging dengan kaki kanan menahan di lantai dan dengkul kaki kiri menahan di sofa. Kemudian kedekati pantat seksi yang menggairahkanku ini.

Kuarahkan penis tegangku ke vagina istriku dari belamas, kemudian blesss…. kembali batang penisku merasakan jepitan liang vagina yang memiliki ribuan lidah menjilat ini..
”Ouhh…ouhh,…..” keluhku dan erangan istri temanku berbarengan.
Aku memulai mengocok penisku ke vagina istri temanku. Ku maju mundurkan pantatku hingga menekan pantatnya sehingga terdengar suara yang keras akibat tumbukan antara selangmasanku dan pantat istri temanku. Plok…plok…plok

Gerakanku mulai cepat-cepat tapi tetap teratur disertai dengan tolakan yang kejang-kejang. Hingga akhirnya pinggul istri temanku bergerak-gerak liar sehinga bunyi benturan itu semakin keras.
PLOK…PLOK…PLOK

Dan akhirnya kembali dia menjerit dan melenguh keras…

”Aaakhhh….” jerit istri temanku ini…

”Hhhooohhhhh…..” dengus napasku. Tubuhnya kaku beberapa saat dan kemudian terjadi kontraksi pada vaginanya dengan berkedut-kedut beberapa kali sangat keras.
Lalu…BRUKK… kami jatuh telungkup di atas sofa
”Ouhh… kenapa selalu enak begini, mas..? ” pertanyaan yang tak perlu dijawab dilontarkan lemah oleh mulutnya ..

Tapi saat ini aku tidak akan membiarkannya lama-lama beristirahat karena kurasakan orgasme bagi diriku sudah sangat dekat karena mataku sudah berkunang-kunang dan perasaan sudah tak menentu. Kemudian kubalikkan badannya dan langsung menindih badannya kurahkan venisku ke liang vaginanya yang sudah sangat banjir dan kemerahan dan …

Blesss… kembali kurasakan liang vagina dengan ribuan lidah menjilat ini. Aku mulai memompakan pantatku mengocok dan mengaduk-ngaduk vagina istri temanku dengan penisku. Gairah istri temanku ini kembali meninggi dan dia mulai mengeluh dan mengerang menahan nikmat..
Erangan istri temanku semakin keras…”Euh..euh..”
Dan tiba-tiba gerakan pantatnya menjadi liar dan cepat. Erangannyapun telah berubah menjadi teriakan-teriakan yang merangsang

“Aaah…aahhh…aaahhh” Dan diakhiri dengan jeritan panjang melepas nikmat “AAAaaaaahhhhhh…..” Tubuhnya kaku, badannya melenting dan vagina berkonstraksi sangat hebat membuat penisku tidak mampu bertahan. Dan aku pun menjerit melepaskan beban nikmat “Aahhhh…”
Tubuhku tegang, pantatku kutekan dalam-dalam dan.. cret…cret…cret spermaku terpancar sangat deras dan kental menyemprot dinding vagina istri temanku yang sedang berkonstraksi. Akhirnyanya tubuh kami pun berkedut-kedut menghabiskan sisa-sisa kenikmatan yang masih bisa terasakan. Kemudian…Bruk…. kali ini ..tubuhku benar-benar ambruk menindih tubuh mungil istri temanku, tapi aku gelosorkan kesamping tubuhnya, kemudian aku memeluknya sambil mata terpejam menikmati sisa-sisa orgasme yang sangat luar biasa… dan tanpa sadar kamipun tertidur.

Dini hari aku dan istri temanku terbangun karena terganggu oleh erangan dan jeritan-jeritan nikmat yang keluar dari mulut Anton dan istriku. Rupanya Anton dan istriku kembali mengayuh berahi menggapai nikmat membuat aku dan terutama istri Anton menjadi terangsang kembali. Aku merangsang gairah istri Anton dengan cara menciumi leher, dada dan akhirnya menjilati, mengulum dan menghisap puting susu istri Anton yang sudah menonjol keras, Istri Anton hanya mengerang nikmat mendapat rangsangan dariku dan akhirnya kubisikan agar pindah ke ruangan dimana suaminya dan istriku sedang menagyuh nikmat, Istri Anton memandangku sejenak, namun akhirnya mengangguk dan secara bersamaan kami berdiri dan berjalan beriringan menuju ruang tengah dengan telanjang bulat. Aku dan istri Anton semakin terangsang, begitu masuk ke ruang tengah kami lihat istriku dan Anton sedang bersetubuh dengan nafsu yang bergelora, kulihat

Anton begitu semangat mengayunkan pantatnya agar batang penisnya mengaduk-ngaduk liang vagina istriku, tangan Anton tak henti-hentinya meremas-remas buah dada istriku yang montok. Sementara itu, kepala istriku tergeleng-geleng ke kiri dan kekanan menikmati genjotan Anton sambil terus menerus mengerang nikmat, pantat istriku bergerak lincah menyambut setiap helaan pantat Anton.

Anton dan istriku yang sedang seru mengayuh nikmat hanya menoleh selintas padaku dan istri Anton ketika kami datang dan mengambil posisi disamping mereka, kemudian tanpa mempedulikan kehadiran kami mereka melanjutkan pergulatan mereka merengkuh nikmat disertai dengan suara erangan dan keluhan nikmat yang bersahutan.Aku dan istri Anton pun tidak mempedulikan kondisi mereka. Kami mulai bercumbu mengayuh nikmat yang jauh lebih seru dan lebih panas dibanding tadi, karena saat ini kami dapat melakukan dengan bebas karena kami lakukan di atas karpet yang luas.

Geliat tubuh istri Anton semakin liar dan ganas seperti mendapat tambahan tenaga baru ketika dia lihat disampingnya suaminya dengan liar dan ganas sedang menghentak-hentakan pinggulnya dia atas tubuh istriku
Dengan tiada lelah Aku terus memberikan kenikmatan yang sensasional pada istri Anton dengan cara dan variasi yang berbeda-beda. Demikian pula nampaknya dengan istri Anton, Dia mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk memberikan kenikmatan yang dalam beberapa hal belum pernah kudapatkan dari istriku.
Entah berapa puluh kali istri temanku ini mengalami orgasme dan entah berapa ronde kami melakukan pertarungan yang sangat melelahkan dan menguras banyak tenaga. Pertarunganku dan istri Anton baru selesai ketika kokok ayam jago terdengar, sementara Anton dan istriku sudah cukup lama tertidur kelelahan setelah mereka selesai melakukan pertarungan babak kedua dini hari tadi..

Akibat kejadian semalam, keakraban kami menjadi sangat lain, orang lain akan bingung bila meperhatikan kemesraan kami, bingung untuk menentukan mana yang merupakan pasangan suami istri. Sebab aku menjadi sangat mesra dengan istriku dan istri Anton, demikian juga dengan Anton menjadi sangat mesra terhadap istrinya dan istriku.

Sejak saat itu sering kali aku pulang siang-siang bukan ke rumahku tapi ke rumah Anton dan bersetubuh dengan istrinya Anton. Demikian pula dengan Anton sering kali siang-siang ke rumahku dan bersetubuh dengan istriku. Pernah beberapa kali aku memergoki Anton sedang bergulat meraih nikmat di atas tubuh seksi istriku. Aku tidak marah tapi langsung aja kubilang akan kerumah Anton. Mereka maklum dan terus melanjutkan pergulatan yang sempat terganggu atas kedatanganku.

Kejadian hari ini adalah pengalaman pertama yang tak terlupakan, dimana kami main berempat. Dan sejak saat itu seolah-olah telah diresmikan oleh kami berempat, aku boleh meniduri istrinya kapan saja aku mau dan akupun merelakan istriku digaulinya kapankun dia mau.

Sampai saat ini status perkawinan kami tidak tergannggu. Aku dan istriku tetap saling mencinta demikian juga dengan Anton dan istrinya. Dan kami tetap melakukan hubungan suami istri dengan pasangan perkawinan masing-masing. Hanya saja sampai saat ini kami belum pernah melakukan keroyokan. Dan nampaknya tidak akan pernah kami lakukan. Tetapi kalau menukar pasangan ditengah permainan beberapa kali pernah kami lakukan. Pada saat kami melakukan acara kumpul bersama.

Istri dan adik ipar

“Mas.. kalau tidur ditutup sarungnya.. jangan dibuka kayak tadi.. kemana-mana tuh..!!” kata Mey.
Spontan aku kaget, dan tanya ke dia,”Masa sih Mey??”
“Yaah.. namanya juga tidur.. mana aku tahu..” lanjutku sekenanya.

“Untung gak ada orang tadi, makanya langsung aku tutup pakai sarung..” kata Mey.

Makin kaget aku.. “Gila lu ya.. Masa sih..??” sambil garuk-garuk kepala.

“Daah, santai aja.. lagian aku kan cuma nutup doang..” Kata Mey
“Iya.. nutup doang, tapi kan lihat.. Iya kan..?” tanyaku penasaran.

“Dikit Mas.. salah sendiri ngacung gak jelas.. mana keras banget lagi kayaknya..”

Penasaran………
Bangeeet gak seeeeh…….????? 

Awal Februari 2013, semua nama aku samarkan, Mas Bro itu panggilanku di rumah.. pulang pagi mendekati subuh.. Sekitar jam 0415 waktu Cilandak – Jakarta Selatan.. Parkir mobil agak jauh di depan.. Jalan gontai, kecapean karena pulang entertaint klien. Sampai depan rumah ambil kunci di dalam tas selempang MontBlanc andalanku… buka pintu dan lepasin semua yang ada dibadan….

Pelan-pelan aku jalan menuju kamar mandi di belakang berbatasan dengan dapur, cuci muka dan bersih-bersih badan.. sambil berpikir tentang produksi yang mudah-mudaha akan aku dapat dalam dua atau tiga minggu ke depan.. lumayan bisa buat hidup keluarga selama empat bulan kedepan..
Namanya juga pekerja di perusahaan broker asuransi, dan pastinya entertaint klien itu perlu… ditambah tadi itu, aku memang minum tequilla agak banyak.. tapi untungnya masih bisa konsentrasi pegang setir dan selamat sampai di rumah.

Selesai dari kamar mandi aku langsung menuju kamar, hanya pakai sarung yang sudah disiapkan di depan kamar mandi dan telanjang dada, aku buka pintu kamar perlahan. Kuatir membangunkan istri dan anak-anakku. Kamar kami memang menjadi satu, berhubung di rumah mertuaku memang cuma ada tiga kamar. Padahal kalau saja istriku mau tinggal di Bekasi, kita bisa punya kamar sendiri, dan anak-anak juga punya kamar sendiri. Tapi apa boleh buat, istriku kerja di area Buncit, jadi lebih dekat dan lebih irit biaya pulang perginya. Mertuaku tidur di kamar depan dan adik iparku tidur di kamar belakang.

Kaget pas aku buka pintu kamar dan aku nyalakan lampu, ternyata adik iparku, Mey, tidur di kamar kami. Selain itu, tumben juga nih, kok gak ada yang terbangun. Mungkin karena dinginnya AC dan cuaca yang mendukung setelah hujan malam tadi. Yang paling aku kaget dan bikin horny, cara tidur Mey yang berantakan, jadi rok dasternya tersingkap sampai di atas perut. Hasilnya aku bisa menikmati melihat paha, bongkahan memiy (yang menurutku) masih perawan, walaupun tidak semulus dan seputih paha istriku sendiri, Santi, kakaknya Mey. Mataku tetap memandangi memiy nya dengan jembi yang rada jarang. Mey pakai celana dalam yang agak kendor dan tipis, jadi semua bisa terlihat dengan jelas, apalagi lampu aku nyalakan. Haduuuh… Pemandangan yang membuat aku makin pusing dan horny di pagi hari buta.

Puas aku melihat memiy Mey, penasaran sih pengen pegang dan ngepel alias jilmey, tapi kan ada Santi. Berabe kalau Mey teriak. Ya sudah, aku tahan dan sengaja aku matikan lampunya lagi tanpa menutup pintu, dan pelan tapi pasti aku keluar kamar lagi dan jatuhkan botol kosong di dekat dispenser, biar salah satu dari mereka bangun. Istriku ternyata yang pertama kali terbangun dan langsung menegur Mey, kalau dasternya tersingkap.

“Mey, dastermu itu.. Untung Mas Bro di luar tuh..” kata Santi.

Mey langsung rapikan dasternya, lalu bangun dan langsung menuju kamarnya tanpa melihat aku yang sedang minum tapi memperhatikan pantatnya yang bulat. Memang adik iparku ini lebih tinggi dan agak cubby, dengan toket yang ukurannya lebih besar daripada kakaknya. Sebenarnya proporsional, tapi kulitnya eksotis Indonesia, sawo matang kekuningan. Sedangkan istriku lebih pendek dan sintal, dengan kulit putih mirip orang cina. Wajah mereka sama-sama cantik dan bikin penasaran orang yang melihat.

Aku masuk ke kamar dan langsung masuk ke dalam selimut di samping istriku, sambil cium pipinya dan peluk badannya. Ternyata istriku NO BRA, akhirnya aku coba rangsang dia dengan pegang dan puter-puter pelan pentil kecilnya.

Istriku melengguh pelan,”Yah, gak capek..? kan baru pulang..?” tanya istriku.
“Kalau pulang yang didapat kayak begini” sambil aku remas dan isep toketnya.
“Gak akan pernah cape aku” dan kusingkap dasternya.

Aku telanjangi Santi dengan sedikit kasar sambil aku isap pentilnya, dan dia menikmati ssetiap rabaan dan cumbuanku. Lengkuhannya saat aku pegang dan gerayangi memiy nya. Bugillah istriku hanya dengan celana dalam seksi G string tali sampingnya saja.

“Yaaaah.. aku horny” saat jari tangan kiri ku membuat basah memiy nya dan masuklah jari tengah ke dalam memiy Santi. Disaat yang sama bibirku tidak diam, mengarah ke semua penjuru toket, leher dan pentil Santi.

“Uuuukhhhh.. Ayaaaah… Cepetaan..!!!”

Aku lepas sarung yang aku pakai dan tongki ku aku arahkan ke mulut Santi, dan aku ganti jari tengah tangan kiriku dengan mulutku yang sekarang sudah menghisap memiy indah milik Santi dan tangan kananku melepas tali G String nya, posisi kami menjadi 69, aku diatas.

“Mmmffh….mmffh..slruuuph..slruuuph..” suara horny Santi dan hisapan mulutnya ke kontol ku.
Aku terus jilmey dan hisap klitoris Santi, sampai akhirnya…
“Aaaaakkkhkhhhh…Yaahh…” dijepitnya kepalaku dengan pahanya.
Dengan kedua tangannya peluk pinggang dan lidahnya hisap dan jilat daerah antara sunhole dan kontolku.

Orgasme pertama untuk Santi. Aku langsung balik badan dan masukkan kontol ku ke dalam memiy Santi.. “Sleeeeeph… saking basahnya belahan memiy Santi, jadi langsung masuk semua kontolku ke dalam memiy nya… dan dia melengguh lagi.. “aaaaakkkkhhh.. Ayaaaahhhh… eeeennnnaaaakkkhhhh nyaahhh….” lalu dia gigit bibir bawahnya sambil menaikkan bagian perut dan dadanya agak keatas dan menahan nafasnya, menikmati sodokan kontolku yang tiba-tiba dan agak kencang. Aku akui, memang hari ini aku sangat nafsu dengan Santi, istriku, karna

Aku diamkan sebentar kontolku yang memang keras dan agak panjang sekitar 17cm itu di dalam memiy Santi. Pelaaaaaan… perlahaaaan… aku tarik.. dan aku sodok agak keras ke memiy nya… pelaaaan… perlahaaan… aku tarik dan aku sodokkan lagi ke memiy nya berulang-ulang… sampai 15 kali… Sebenarnya kuatir juga… kuatir kalau anak-anak bangun.. aku lirik mereka.. dan aku bisikkan ke telingan santi untuk pindah di lantai saja, pakai kasur lipat yang sudah setia menunggu kami di bawah tempat tidur jati kami yang kokoh ini.

“Ayah.. cepeet ya sayang.. sudah mau subuh..?” kata istriku. Memang setiap kali ngentot, kami butuh waktu antara 45 menit sampai satu jam dan aku anggukkan kepala tanda setuju, ditambah memang aku butuh istirahat secepatnya, karena besok siang aku harus ke kantor untuk buat laporan kerja. Istriku tidur telentang dengan kaki agak sedikti terbuka di kasur lipat yang sudah aku gelar sebagai alas per-ngentotan kami. Aku langsung tindih dan masukkan kontolku..
.
“Sleeeph… Cleepot …Sleeephhh… Cleepot …..Sleephh… Cleepot……”
Bunyi yang keluar dari memiy Santi yang basah dan terdengar suara seperti kentut memiy nya ditambah dengan beradunya paha kami..

“Akkh..Akkh..Ayaaah.. Nikmat banget kontol Ayaaah… Ayo sayaanggghhh.. Aakkh.. Enak kontol Ayah…Akkkhh…Akkkhh..Akkkhhh….”Santi meracau tertahan.

Dan sambil aku sodok terus memiy Santi, aku bisikkan ke kupingnya “Apa..yang.. Nikmat Buunda…?? Apa… yaaang.. ennnakkkh Buuuundaa..???”

“Koo..ooon..toooll…..Ayyy..yaaahkkh..Ennnnaakkkh ..”
“Kooo..ooon..toooll…Ayyaahhkkh…Nikh..maaattth. ..”
“Terrrr..rruuuuusss…Yaaaaahhhkkhh..Akkkhuuu..maa auuuhhhggh…keeeeluuuaaaarrrhhhh….” Sambil meracau dan menjawab pertanyaanku… Santi orgasme yang kedua..

Aku langsung ubah posisi Woman On Top (WOT) tanpa memberikan waktu istirahat kepada Santi.. dan Santi langsung memutar-mutarkan.. dan memaju mundurkan pantatnya hampir bersamaan.. dengan desahan yang luar biasa liar..

Aku remas toketnya dan aku juga imbangi permainan pantat nya dengan menusuk-nusuk memiy nya yang bergerak membabi buta..
“Aaakkkhhhhhh…Aaaaayyyyyaaahhh…” lengkuhan panjang dan nikmat dia dapat kembali.. orgasme Santi ketiga.. dan rebahkan badannya ke dadaku.

Tapi aku tidak berhenti juga menusuk memiy Santi..
Bahkan makin kuat aku menusuk-nusuk memiy Santi.. Sebentar kemudian aku merasakan ada yang mau meledak di batang kontolku.. daaaannnn….
“Aaaaakhhhhh..Buuuuunnnnnddddhhhhaaaa…” melesat semua pejuh ku ke dalam rahim Santi, sampai lima kali tersemprot di dalamnya dan terus tersenggal-senggal semua badan dan kontolku menikmati orgasme yang hebat dan Santi juga menikmati permainan keras pagi itu.

Setelah kepuasan kami dapat, tanpa sadar kami tertidur pulas sekitar 15 menit-an dengan kontolku masih berada di dalam memiy Santi, dan kami terbangun pada saat kami mendengar bunyi kokok ayam tetangga, ternyata sudah jam 0555. Untungnya lagi, anak-anak belum terbangun dari tidur nyenyak dan mimpi indah mereka.

Istriku terburu bangun sambil menarik memiy dari kontolku dan hal itu membuat kontolku terbangun tuing tuing dengan cepatnya. Lalu kami merapikan ajang pertempuran dan aku melanjutkan kembali tidur di tempat tidur bersebelahan dengan anak-anak menggunakan sarung saktiku. Karena tanpa sarung itu, tidurku tidak akan nyenyak.

AYAH.. CAPE BANGET YA..
ANAK-ANAK SUDAH RAPI DAN AKU BAWA ANAK-ANAK KE RUMAH BIBI PENGASUH.
BIAR MEREKA GAK GANGGU TIDUR NYENYAK AYAH.
AKU BERANGKAT SENDIRI AJA KE KANTOR NAIK OJEK.
SUDAH TELAT JUGA.. KALAU HARUS BARENG AYAH…
BELUM MACETNYA..
OKE C U THIS EVENING AYAH..
KONTOL NYA AKU YANG NIKMAT DAN ENAK DIJAGAIN YAAA.. MUUACHH.
AYAH LEBIH HEBAT DARI BIASANYA PAGI INI…..

BUNDA

Secarik kertas aku dapati di samping tempat ku tidur di kasur yang empuk. Ternyata sudah jam 0900 pas, saat aku terbangun dari tidur nyenyakku. Terdengar suara orang mandi, pasti si Mey, kalau mandi lama. Dan kontol ku ikut bangun, karena aku ingat pagi tadi aku lihat memiy dan jembi Mey itu.

Aku bangun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Tepat saat Mey keluar dari kamar mandi, langsung saja aku kencing tanpa tutup pintu dan kembali ke ruang tamu di depan kamarku untuk minum air putih dan kopi yang telah dingin hasil racikan Santi sebelum dia berangkat kerja tadi.

Setelah itu, aku kembali ke kamar mandi dan langsung mandi, sedang Mey sudah menutup pintu kamarnya dari tadi untuk siap-siap kerja. Oh iya.. Mey itu bidan di Rumah Sakit Ibu dan Anak terkenal di Jakarta.

Selesai mandi, aku keringkan badanku dan hanya melilitkan handuk untuk menutupi kontol ku, langsung menuju kamar untuk ambil celana dalam, sedangkan baju kerjaku ada di kamar Mey. Tapi Mey belum selesai juga dalam kamar.. “Hadduuh, lama banget nih adik ipar gue..” rutuk ku.

Akhirnya aku ketok kamar Mey untuk ambil pakaian kerjaku. Lemari pakaianku Santi dan aku memang ada di kamar Mey, karena tempat yang tidak memadai di kamar kami untuk menaruh lemari di dalam. Setelah Mey buka pintu, ternyata dia masih menggunakan handuk dan masih mengeringkan rambutnya yang panjang bergelombang.

“Lama banget sih Mey, mau bareng ke depan gak..?” aku tanya Mey.
“Iya Mas.. bareng.. “ jawab Mey spontan.
“Tapi bentaran.. aku libur kok.. aku cuma mau jalan ke Mal deket rumah” lanjutnya.

Tiba-tiba Mey tanya aku yang masih mengambil celana dan memilih baju yang cocok.
“Tadi pagi hot banget Mas..?”
“Sampai kedengeran ke sini” katanya lagi.

Kaget juga aku, dan spontan aku jawab “Biasalah.. nanti juga kamu akan begitu”

“Gak laaah.. aku sih santai kalee.. Gak mau kayak gitu ah.. malu..” jawab Mey.

Dan aku senyum-senyum sambil keluar kamarnya, tapi sebelum keluar kamar Mey bicara yang membuat aku agak kaget dan spontan berhenti.

“Mas.. kalau tidur ditutup sarungnya.. jangan dibuka kayak tadi.. kemana-mana tuh..!!” kata Mey.
Spontan aku kaget, dan tanya ke dia,”Masa sih Mey??”
“Yaah.. namanya juga tidur.. mana aku tahu..” lanjutku sekenanya.

“Untung gak ada orang tadi, makanya langsung aku tutup pakai sarung..” kata Mey.

Makin kaget aku.. “Gila lu ya.. Masa sih..??” sambil garuk-garuk kepala.

“Daah, santai aja.. lagian aku kan cuma nutup doang..” Kata Mey
“Iya.. nutup doang, tapi kan lihat.. Iya kan..?” tanyaku penasaran.

“Dikit Mas.. salah sendiri ngacung gak jelas.. mana keras banget lagi kayaknya..”

Otakku langsung ngeres dan aku taruh baju di kamarku, lalu aku balik ke kamar Mey sambil tanya
“Emang kamu lihat ya Mey..?”
“Iya lah.. lumayan.. cukuplah..” katanya.
“Halaaaah.. paling-paling juga kontol pacar mu gak segede aku” ledekku ke Mey.
“Enak aja.. lebih panjang dikit doong..” spontan dia jawab.
“Nah looh.. jadi…” sambil aku tunjuk dia.

Muka Mey langsung merah dan dia tutup mulutnya pakai tangan kanannya..
“Hahahaha.. nah bandel ya.. ??” kataku sekenanya.
“Gak kok Mas.. gak ngapa-ngapain.. cumaaa… dikit doang..” katanya.

Aku langsung memberanikan diri masuk ke kamarnya dan tutup sambil kunci kamar Mey. Dia sempat kaget karena aku juga langsung buka handuk yang melilit di pingganku.
“Mas.. mau ngapain..?” kaget dia sambil mundur dan terduduk di tempat tidurnya.
“Kamu curang.. kamu kan sudah lihat kontol ku, sekarang gantian.. aku lihat memiy kamu..!” kataku.

“Gak ah…!”
“Aku teriak nih..!” dia mengancam.

Aku gak kalah cerdik, langsung aja aku jawab
“Silahkan teriak.. toh kita berdua di kamar, kamu cuma pakai handuk.. sama dengan aku kan..??”
“lagi pula ini sudah tanggung, cuma minta dicium doang kontolnya aku..” menenangkan Mey.

“Bener ya Mas.. Cuma aku cium doang..” tanya dia.
“Aku baru sekali Mas.. sumpah deh.. itu aja sakit, tapi ada darah keluar” Mey mengakui perbuatannya dengan pacarnya.

“Ya sudah.. gak apa-apa.. aku gak akan adukan ke siapa-siapa..” jawabku menegaskan.

Lalu aku majukan kontolku ke muka Mey. Dia pegang dan cium-cium kontolku dan ditambah agak dijilat-jilat kecil oleh lidahnya. Semakin lama pastinya sentuhan, ciuman dan jilatan lidah Mey membuat kontolku semakin membesar dan tegak sempurna.

“Isep aja Mey..!” perintahku dengan lembut sambil mengelus rambut samping sebelah kupingnya.

Tanpa menunggu lama, Mey langsung masukkan kontolku ke mulutnya dan menghisap juga memaju mundurkan mulutnya. Tanpa sadar, handuknya terlepas dengan tidak sengaja dan terlihatlah toket besar adikku dengan puting yang masih kecil, ditambah masih segar agak kemerahan warnanya. Tangan kiriku tidak tinggal diam, langsuung aku pegang dan remas toket besar itu, yang aku tahu ternyata 36D, itupun karena dia yang bilang.

Remasan tanganku ke toketnya membuat Mey semakin terangsang dan makin dia cepat memaju mundurkan mulutnya sambil menghisap kontolku. Setelah beberapa lama, aku hentikan kegiatan blow job nya, yang menurutku sangat piawai. Lalu aku berdirikan dia dari tempat tidur tempat Mey duduk, dan aku cium perlahan pinggiran bibirnya dengan perlahan. Terus aku ciumi lehernya, kembali naik ke atas ke arah pinggir bibirnya dan aku cium bibirnya dengan perlahan pula.

Memang Mey sudah sangat termakan nafsu, saat aku cium bibirnya, dia malah membalas dengan pagutan yang penuh dengan birahi. Tangan kiriku masih memainkan toketnya, dan tangan kananku mulai bergerak mengarah ke punggungnya, lalu perlahan dan pasti mengarah ke bongkahan pantatnya yang bulat dan mengkal.. lalu perlahan mulai mengarah ke memiynya yang luar biasa basah oleh cairan intim Mey sendiri.

“Mhaaaaasss.. aku keppp…phheengg..nngeen…” ratapan nafsu birahi Mey mulai menjalar.
“Iya.. sayang.. kamu duduk ya dan tiduran.. Mas buat kamu enak dan menikmati surga..!” kataku

Mey duduk dan langsung tidur di tempat tidurnya, aku langsung menciumi toket nya yang besar dan mejilatinya dengan halus dan perlahan.. lalu putingnya aku cium dan aku pilin-pilin dengan hati-hati.. aku hisap dari pelan sampai aku gemes dan aku sedot penuh nafsu.. sehingga di beberapa bagian toketnya meninggalkan cupangan yang cukup banyak.

Aku sejajarkan tubuh Mey dengan tempat tidur dan aku naiki tubuhnya. Pelan… pelan.. sambil aku tatap wajah dan matanya.. lalu.. aku cium dan pagut bibirnya yang sedikit terbuka.. perlahan namun pasti, aku raba dan sentuh memiynya. Dan Mey melengkuh dengan gemetaran…

“Mhaaasssss… oooohhhkk.. akhuuuu… maaa..uuuu..phippp..piiisss..” Mey agak meregang.

“Pipis aja Mey.. gak apa-apa..” jawabku.

Pelan-pelan aku tindih dan arahkan kontolku ke lubang memiy nya. Dan perlahan aku tempelkan ujung kontolku ke depan mulut memiynya.. Mey pasrah.. dia hanya bilang

“masukin Mas.. aku mau.. cepetan…”

Tanpa dikomando ulang aku langsung tusuk perlahan dan pelan sekali, karena aku yakin pasti sakit jika langsung aku masukkan kontol ku ke memiynya.
Perlahan.. kepala kontolku bisa masuk sempurna.. lalu setengah kontolku.. sambil aku maju mundurkan.. pelan-pelan.. dan Mey hanya mendesah dan mengerang sakit.. tapi enak…
Tanpa menunggu waktu yang lama… akhirnya kontolku bisa masuk dan aku diamkan sebentar di dalam memiy Mey.

Lalu aku tarik pelaaaan.. tapi Mey terkaget-kaget.. sambil meliukkan badannya..
“Mhaaasss.. ennnaaakk..bangggeeeettt.. oooohhhkk…”

Lalu aku masukkan perlahan lagi.. terus..terus..terus seperti itu dan akhirnyakurang dari 5 menit Mey mengalami orgasme yang luar biasa hebat.. sambil memeluk badanku…

“Aaaakkkkhhhhhhhhhh….Mmmmhhaaaaaasss….ooooohhh k..”
Dan aku tetap merasakan cairan keluar dari lubang memiy nya dan mendiamkan kontolku di dalam memiynya..
“Enak banget mas..” hanya itu yang dia bilang, setelah hantaman orgasme Mey mereda.

“Kita lanjut ya..” tanyaku dengan kontol masih di dalam memiy Mey.

Tetap dengan perlahan aku sodokkan kontolku ke dalam memiy Mey. Tetapi lama-kelamaan memang aku percepat sodokan-sodokanku ke dalam memiynya. Memang, mungkin baru sekali memiynya disodok oleh pacarnya. Karena semppitnya memiy Mey sungguh luar biasa berasa dan aku benar-benar sudah merasakan akan ada ledakan yang maha dahsyat dari kontolku.

Mey merasakan hal yang sama dan kami saling mengimbangi permainan dengan menggoyangkan pantat kami secara beraturan. Mey menghantamkan memiynya dari bawah, sedangkan aku makin mempercepat sodokanku. Yang pada akhirnya….

“Aaakkhh..oohhhh..Mmmhaaassss…,Mhhheeeyy..kheeee luuaarrrhhkkk..”Mey meregang tertahan
“Mmhheeyyy.. akhhuuuu jhuuuggg..ghaaa..” sambil membenamkan seluruh kontolku ke dalam memiy Mey yang sempit dan tersemprotlah beberapa kali pejuhku ke dalam memiy Mey dan merasakan mentok sampai ke rahimnya.

Kami terdiam dan menghayati gelombang perasaaan nikmat dan puas.. sambil berpelukan..
Itu semua kami lakukan hanya dengan gaya missionary.. standard style of fucking.

Dan sejak saat itu, pasti brotha dan sistha tahu.. kami selalu lakukan berulang-ulang saat ada kesempatan. Dan sejak awal bulan.. Mey dan aku sudah melakukan 15 kali mengentot nikmat di setiap kesempatan. Dan kebetulan memang adik iparku, Mey, sempat cuti 5 hari dan baru masuk hari ini

Nikmatnya tubuh Ulfa

Malam itu aku menginap di rumah Mbak Kristin, karena saking ngantuknya aku tertidur di atas sofa. Sekitar jam 4 pagi aku terbangun, aku masih dalam keadaan telanjang bulat tapi tertutup selimut, tapi Mbak Kristin sudah tidak ada di sofa ah mungkin, dia pindah ke kamarnya dan tidur bareng anaknya. Aku berdiri dan mencari celanaku karena suasana gelap aku menghidupkan lampu. Saat lampu menyala ada suara seorang wanita menjerit, ternyata seorang perempuan masih remaja umurnya sekitar 15 tahun, dia kaget mungkin karena melihatku telanjang bulat, aku menutup mulutku dengan jariku, maksudnya menyuruhnya diam. Kudekati dia, kujelaskan bahwa aku temannya Mbak Kristin, semalam aku menginap disini, diapun memahami dan memberitahuku bahwa dia spontan kaget karena belum pernah melihat pria dewasa telanjang, katanya dia adalah pembantunya Mbak Kristin, namanya Ulfa. Ulfa tidak sekolah semenjak lulus SMP, dia ikut Mbak Kristin baru sekitar 3 bulan. Aku Tanya dia kenapa kaget melihat aku telanjang memangnya belum pernah punya pacar. Dia mengaku sudah punya pacar tapi belum pernah melihatnya telanjang. Kutanya lagi, terus kalau pacaran ngapain, jawabnya jujur katanya pernah ciuman dan diraba-raba susunya oleh pacarnya, tapi belum pernah sampai telanjang bulat. Ah berarti masih perawan? Dia menganggukkan kepala dengan malu-malu. Kuperhatikan matanya sedikit melirik ke arah kontolku tapi masih malu-malu. Aku pura-pura tidak tahu dan cuek saja serta sengaja tidak segera mengenakan celanaku. Aku masih telanjang bulat dan memintanya untuk mengambilkan celanaku, aku duduk di ruang makan yang hanya berbatas sebuah bifet dari ruang tamu. Dia membawakan pakaianku dan perlahan aku ambil celana dalamku aku sengaja memakainya di depan Ulfa. Dia melewatiku menuju ke dapur sambil melirik ke arah kontolku lagi. Dia tidak melihat di depannya ada baju dan celanaku, dia tersandung gesperku dan tertanting ingin jatuh, aku langsung menangkap tangannya, dan menarik tubuhnya hingga aku sendiri hampir saja ikut jatuh. Dengan kondisi itu tak sengaja kami sedikit berpelukan, wajahnya dan wajahku dekat sekali, aku ingin menciumnya tapi masih takut. Kulepaskan pelan tubuhnya dia menyempurnakan berdirinya aku juga, tapi tak sengaja tangannya menyentuh kontolku, dia minta maaf, aku tersenyum dan malah menyuruhnya menyentuh lagi, dia tersipu malu, aku mengambil tangannya dan kuarahkan ke kontolku, ayolah Ulfa, ga papa, ga usah malu, katanya kamu belum pernah lihat kontol kan? Sekarang kamu boleh pegang sepuasnya, dia malu dan menutup matanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan malu memegang kontolku. Akupun merasa nikmat disentuh oleh tangan seorang ABG, kuarahkan tangannya maju mundur mengurut kontolku, kuajari dia cara mengocok kontolku. Dia kemudian terus mengurut-urut kontolku perlahan tapi malu untuk melihatnya, tapi biarlah yang penting aku merasakan nikmatnya diurut sama tangan yang masih halus, meski pembantu tapi dia lumayan cantik, mungkin kalau dia anak orang kaya dan terawat rajin ke salon, wajahnya tak kalah cantik dibanding asmirandah. Kulitnya kuning langsat, bersih, dadanya besar untuk ukuran anak remaja, pantatnya juga seksi dan montok.

Kulihat dia sepertinya menikmati untuk terus mengurut-urut penisku, sekarang dia mulai tidak malu melihat kontolku, tangan kiri yang tadinya buat menutup matanya, kini kutarik ke leherku. Sehingga kamipun semakin berdekatan, kutarik pinggulnya kudekatkan tubuhnya ke tubuhku, dadanya menyentuh dadaku, jantungnya berdebar, dia sepertinya agak takut. Kubisikkan ke telinganya, ke kamarmu yuk, ga enak kalau disini entar Mbak Kristin bangun, entar aku ajarin yang lebih enak. Tanpa banyak protes, dia berjalan menuju kamarnya aku mengikutinya dari belakang, kuperhatikan bokongnya yang begitu sintal, pahanya yang begitu mulus nampak terlihat karena dia mengenakan baju tidur terusan dan panjang roknya di atas lutut. Warnanya juga transaparan dan tipis sehingga tali BHnya dan juga celana dalamnya samar-samar terlihat. Sesampai di kamarnya kututup pintu dan aku kunci dari dalam. Aku menyandarkan tubuhku di depan pintu kutarik tubuhnya dan kembali kuambil tangannya untuk terus mengocok-ngocok kontolku, kini tubuhnya bersandar di tubuhku, sambil terus mengocok kontolku, tapi gerakan mengocoknya masih sangat pelan dan lembut, mungkin karena baru pertama tapi aku malah menikmatinya. Tolong diemut dong kontolku, dia menggelengkan kepala, kupegang kepalanya dan kududukkan di depanku, kuarahkan kontolku ke mulutnya, kutekan pipinya agar mulutnya terbuka dan perlahan kumasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dia masih terlihat risih dan malu, tapi beberapa saat kontolku sempat masuk juga dalam mulutnya meski sebentar, tapi aku gak mau memaksa karena ini pengalaman pertama baginya. Kutarik tubuhnya dan kupeluk erat, kemudian perlahan kucium bibirnya, dia cantik juga meski pembantu aku tidak risih mencium bibirnya, karena menurutku Ulfa cantik juga dan aku beruntung seandainya Ulfa mau aku entot, soalnya dia masih perawan. Kupeluk tubuhnya erat, dan kuciumi bibirnya sementara tanganku mulai aktif menggerayang ke pantatnya, dari belakang kuangkat dasternya, sehingga aku menemukan lipatan celana dalamnya, kuselipkan tanganku dan kuremas-remas pantatnya, tangannya menahan tanganku, tapi aku cuek saja sambil terus meremas-remas pantatnya, perlahan kuturunkan celana dalamnya sambil terus kuremas dan kutarik pantatnya ke depan, sehingga kontolku sekarang bersentuhan dengan memeknya, tangannya berhenti mengocok kontolku kemudian memegang pinggulku, kutarik tangannya ke atas leherku agar tidak mengganggu kontolku yang sedang menyentuhnya memeknya yang mulai terasa hangat, kuangkat tubuhnya dengan sedikit kugendong, sehingga kontolku tepat berada di depan lubang memeknya, kugesek-gesekkan kontolku ke memeknya, kudorong dia hingga sebelah tempat tidur, dan kurebahkan dia di atas kasur sekalian aku menindihnya, kugesek-gesekkan semakin cepat kontolku, dia terpejam, kunaikkan dasternya ke atas hingga terbuka kedua belah dadanya, kulepas BHnya, dan kulum-kulum putingnya, Ulfa diam dan terus memejamkan matanya. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, takut terlalu lama pemanasan malah nanti Ulfa sadar dan berhenti melayani nafsu bejatku, aku langsung membuka pahanya lebar-lebar, kulihat vaginanya yang mungil terlihat hanya seperti daging dengan garis tipis di bagian tengah, tidak ada rambut sama sekali, itilnya juga belum nampak keluar, kuarahkan kontolku ke pintu memeknya, kugesek-gesek dengan bantuan tanganku sambil mencari lubang senggamanya, setelah ketemu kudorong kontolku masuk ke dalam, tapi susah kutarik lagi dan kudorong pelan lagi, kini kepala kontolku sudah mulai masuk ke memek Ulfa, kukeluarkan pelan dan coba kudorong lebih ke dalam lagi, Ulfa memelukku erat dan minta kepadaku untuk pelan-pelan, sakit katanya. Kukeluarkan lagi perlahan dan coba kumasukkan lagi, tapi memang memeknya kecil dan sempit, tapi kontolku sudah merasakan sedikit kehangatan, kugoyangkan pantatkan naik kemudian turun sehingga kontolku sudah agak lebih ke dalam lagi, sepertinya kontolku menyentuh sesuatu, mungkin ini selaput dara, aku semakin hati-hati menggoyangkan pantatku, kasihan kalau Ulfa kesakitan, kemudian aku mengeluarkan kontolku. Aku ambil bantal di samping Ulfa kuletakkan di bawah pantat Ulfa, dengan posisi seperti ini perut dan memek Ulfa terangkat naik, ini akan membantuku memasukkan penisku jauh lebih dalam di dinding memek Ulfa, kembali kuarahkan batang penisku ke memek Ulfa, kumasukkan setengah dan menyentuh lagi selaput dara yang tadi belum berhasil kutembus, kudorong lebih dalam dengan hati-hati, tubuh Ulfa menegang kedua tangannya menggenggam erat ujung bantal, matanya terpejam seperti menahan sakit. Ku beri tenaga sedikit dibantu dorongan pantatku, dan slep… aku berhasil menembus selaput dara Ulfa, dan kontolku merasakan sensasi dari kehangatan yang luar biasa, aku berhasil menembus benteng pertahanan dari dinding vagina Ulfa. ah… benar-benar nikmat, aku kemudian mengocok-ngocok kontolku keluar masuk vagina Ulfa, dinding vagina yang begitu sempit membuat kontolku mendapatkan kenikmatan yang begitu hebat, kulihat Ulfa mengeluarkan air mata, mungkin karena tadi merasakan sakit, tapi sekarang dia mulai ikut sedikit menggoyangkan pantatnya, oh dia sudah menikmati permainanku. Tiba-tiba ohhhh…. Ternyata memek perawan ini membuat benteng pertahananku tidak terbendung, hanya beberapa menit berada di dalam memek Ulfa spermaku sudah mau keluar, secepatnya kutarik kontolku dan kugesek-gesekkan di paha Ulfa yang mulus, kugesek-gesek terus dan ohhhh spermaku muncrat juga…. Croootttt….. ohhhhh nikmat sekali, aku puas sekali malam ini, aku telah berhasil merenggut keperawanan Ulfa, memek nya nikmat sekali, ahhhh terima kasih Ulfa. aku kembali mengenakan pakaianku, kulihat Ulfa masih terdiam terkapar lemas tak berdaya, perlahan aku keluar dari kamar, dan melanjutkan tidur lagi di atas sofa, takut mbak Kristin besok pagi terbangun, kalau aku masih di kamar Ulfa, wah apa kata dunia? Kutarik selimutku dan kembali tidur, tapi aku membayangkan betapa nikmatnya memek perawan, oh terima kasih Ulfa.

dokter ku sayang

Sebut saja nama saya Tri. Ini cerita berdasarkan fakta beberapa minggu yang lalu.

Saya bekerja di sebuah klinik di ibu kota. Sudah bekerja kurang lebih selama 3 tahun. Di klinik terdapat dokter yang sejak awal saya bekerja memang membuat saya terpesona dengan dokter tsb. Sebut saja dokter Nuri. Dokter Nuri mempunyai wajah yang tidak terlalu cantik tetapi manis,berkulit putih dan ukuran bra yang cukup yakni 34B. Saya tahu ukuran branya ketika saya ‘berhubungan’ dengannya.

Hari Selasa adalah jadwal dokter Nuri jaga. Hari itu merupakan hari pasien jarang datang ketika paginya. Ketika saya sudah sampai diklinik,dokter Nuri pun sudah di depan pintu klinik. Karena kunci saya yang pegang saya buru-buru menghampirinya. ‘Pagi dok,maaf nih telat’ sapa saya seperti biasa. ‘Pagi juga mas tri,tumben siangan biasanya dateng lebih awal’ katanya. ‘Iya dok soalnya naek kendaraan umum jadi lebih lama’ lanjut saya sambil membuka pintu klinik.

Setelah saya di dalam klinik selama sejam saya merasa ada yang janggal. Perawat diklinik tidak ada satupun yg masuk (Dokter Nuri adalah seorang dokter umum sehingga tidak butuh perawat) Saya pun bertanya kpd dokter Nuri. ‘Perawatnya kemana dok?’ tanya saya. ‘Gak masuk mas,pak ‘ katanya.
Dan pikiran saya pun sudah ke mana2,’hanya berdua dgn dokter Nuri saja berarti’kataku dalam hati. Tanpa sadar juniorku pun membuat celanaku sesak. Untung hari ini tidak ada pasien berobat.

Setelah beres beres saya pun ngobrol ngalur ngidul dgn dokter Nuri. Hingga akhirnya obrolan mulai menyerempet ke arah seks. ‘Mas tri kenapa ya aku selalu kurang bergairah kalo main sama suamiku?’tanyanya. ‘mmm… Mungkin dokter butuh dari yg lain kali,saya bisa kok bikin dokter bergairah hehehe’ kataku sambil bercanda. ‘Ah masa???? Kalau begitu coba buktikan mas’ kata dokter Nuri. Akupun kaget ternyata dia tidak marah aku bicara begitu,malah omongan ku yang hanya bercanda di anggap serius olehnya.

Dan tanpa pikir panjang akupun mencium bibirnya yg tipis itu. ‘Tutup dulu kliniknya aja mas’ kata dokter nuri. Aku bergegas mengunci pintu klinik dan mengubah tanda menjadi ‘tutup’. Aku langsung saja menyambar mulutnya dan kami pun berciuman. ‘Ahhh mas tri kamu pintar ciumannya’ katanya disela ciuman kami. Tangan saya pun mulai bergerilya memainkan payudaranya dari luar bajunya. ‘Uuhhh terus mas,mainin tetekku sepuasnya mas’ lenguhnya. Aku mulai membuka baju dan celananya termasuk cd dan branya. Aku terus memainkan payudaranya dan tanganku satunya mulai bermain dgn vaginanya. ‘ahhh kocok terusss masss tempikku ‘lenguhnya. Aku pikir dia adalah orang yang kalem ternyata dia orang yang cukup agresif. Tangan dokter Nuri pun mulai memainkan penisku dari luar celanaku. ‘buka dong mas masa aku doang yg telanjang’rengeknya. ‘bukain dong dok hehehe’timpalku. ‘nuri aja buat mas gausah manggil dokter segala’katanya sembari melucuti semua pakaianku. Saat dia membuka cd ku dia pun kaget karena penisku yg menyembul keluar. ‘besarnya penis mas,punya suamiku kalah sama punya mas’katanya. Padahal penisku ukuran normal dgn panjang 15cm dan diameter 3cm. ‘kalo gitu isep dong sayang’kataku. Nuri pun melahap penisku dengan rakus. ‘ohhh…ergh enak banget isepannya sayang’lenguhku. Nuri pun tak menjawab dia terus saja mengulum penisku. Tapi tak lama kemudian dia melepas kulumannya. ‘lanjutin di ruangan aku aja yuk sayang’ katanya. Aku pun berjalan sambil meremas payudaranya yang sexy itu. Di dalam ruangan permainan kami makin panas. Dia meminta posisi 69. ‘ayo iseppp terus penisku ahhh..ennakk banget sayang isepan kamu’ racauku. Nuri juga tak kalah meracau karena ku jilati dan ku gigit kecil klitorisnya. ‘ahahah..ya disitu sayanggg,ah enak banget’. Dan tidak lama kemudian nuri mendapat orgasme pertamanya. ‘aaaarrgghh,aku keluar sayang. Ayo sekarang kamu masukin penis kamu dong sayang’ katanya.

Dengan perlahan ku masukan penisku ke vaginanya. ‘peret banget tempikmu sayang’kataku. Padahal dia sudah punya anak tetapi masih terasa sempit vaginanya. ‘ahhh’ lenguh kami berdua saat penisku sudah masuk ke vaginanya. Langsung ku genjot vaginanya. ‘ah..ah..ah fuck me harderrr. I’m your bitch honey uh..uh..argghh’ceracaunya. Tak lama kemudian nuri mendapat orgasmenya yg kedua. ‘ahahah cepetin sayang,fuck me faster.. Aku mau sampe sayanggggg.. Ahhhhhhh’ lenguhnya. Penisku pun terasa seperti dipijit oleh vaginanya. Aku langsung membalikan badannya,dengan gaya doggy style aku mulai menggenjot lagi vaginanya. ‘ahahah..ohhh yesss honey fucking me,tempik aku milik kamu sayang’ ceracaunya. ‘uhh..yeahhh enakan mana sayang penis aku sama suami kamu?’kataku. ‘oh..oh enak..oh..an punya kamu sayangggg’ dia membalas. ‘ah..ah sayang akkku mauu keluarrr lagiii,ahhh’ nuri pun orgasme yg ketiga kalinya. Tak lama kemudian akupun juga merasa ingin keluar. ‘sayaaang akku jg mauu keluarrr’ kataku. ‘keluarin di mulutt aku aja sayaaang’. Aku pun mempercepat gerakan ku dan ‘ahhhh’ aku keluarkan maniku di mulutnya dan dia habiskan yg tersisa di penisku. ‘terima kasih sayang,tempik kamu enak bgt’ kataku. ‘penis kamu jg enak bgt sayang,beda banget kalo main sama suamiku’ katanya. Dan kami sering mengulanginya diluar dan kadang diklinik ketika hanya kami berdua.

Terapi nikmat

Panggil saja nama saya Ivan, seorang wanita. Umur kepala 2. Tinggal di Jakarta dan masih kuliah di salah satu PTS. Dari penampakan luar saya termasuk orang yang biasa saja seperti orang lain. Wajah tidak cantik, juga tidak jelek. Body proporsional. Satu kekurangan saya yang saya akui, yaitu sangat takut untuk mengenal cowok, dan sampai membayangkan untuk menikah. Apalagi untuk mengenal urusan seks. Ini disebabkan pengalaman kecilku dulu yang akibatnya sampai sekarang masih membekas.

Sebagai latar belakang, ada baiknya saya menceritakan sedikit pengalaman itu. Pada waktu masih balita, saya masih tidur satu kamar dengan ke dua orangtua saya, meskipun tidak satu ranjang. Pada suatu malam, selagi tidur saya terbangun mendengar rintihan Mama diselingi oleh bentakan Papa. Mama tampaknya seperti sedang disiksa oleh Papa. Mama ditindih dan dipukul oleh Papa, sehingga Mama nampak sangat kesakitan dan menderita. Semua kejadian itu kuperhatikan tanpa kedua orangtuaku mengetahuinya. Memang tidak terlalu jelas apa yang Papa perbuat terhadap Mama, karena ruangannya remang-remang. Kejadian itu sering terulang lagi, dan aku tidak pernah berani menanyakan kepada Mama atau Papa. Maklum kedua orangtuaku termasuk agak galak, jadi saya juga agak kurang berkomunikasi dengan mereka.

Setelah menginjak remaja, baru saya mengerti itu adalah hubungan seks. Tapi meskipun itu sudah saya sadari, tapi bawah sadar saya tidak dapat melupakan rintihan dan erangan Mama serta tindakan Papa yang kasar menindih dan menekan-nekan (memompa) Mama. Mama pasti kesakitan ditindih Papa yang tinggi besar itu. Seks tampak sangat menyakitkan dan membuat perempuan menderita. Saya pun tidak bisa mengerti kalau teman-temanku bercerita tentang kencan dengan cowok mereka. Di mana nikmatnya berciuman, diobok-obok, petting, masturbasi dan lain sebagainya. Bagiku seks adalah penderitaan titik. Kalau ada cowok yang mau melakukan pendekatan, selalu saya menghindar secara halus dengan memberi alasan, bahwa saya ingin berkarier dulu baru pacaran dan menikah. Sikap ini membuat banyak temanku mencapku sebagai kolot dan kampungan. Kadang memang itu membuatku menjadi sedih. Pernah saya mencoba juga untuk masturbasi dengan mempermainkan liang kemaluan saya sendiri. Dengan berbaring di ranjang hanya mengenakan daster, tanpa bra dan CD, saya mengangkangkan kedua paha. Sambil membayangkan seorang cowok, saya mulai mencoba menggosok liang kemaluan dan klitorisku. Saya membayangkan bahwa yang melakukan itu seorang cowok yang akan menjadi suamiku. Kuremas-remas payudaraku dengan perlahan. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Tetap saja aku tidak bisa terangsang. Kalau bagi orang lain, dengan memainkan klitoris bisa menyebabkan banjir, bagiku tetap saja kering. Akhirnya kusadari inilah yang dinamakan frigid.

Keadaan agak mulai berubah setelah saya mulai kuliah. Di kampus saya mempunyai seorang teman akrab. Sebut saja namanya Ria. Ria seorang yang supel dan pandai bergaul. Wajah dan bodinya tidak mengecewakan. Kulit putih. Keluwesannya dalam bergaul, terkadang bisa membuatku geleng-geleng kepala. Teman cowok dan ceweknya sama banyaknya. Awalnya aku berpikir, dengan kesupelannya bergaul dan melihat cara pandangnya yang bebas, pasti Ria ini sudah melepas keperawanannya. Tapi ternyata aku salah. Menurut pengakuannya dia masih perawan. Entahlah, yang tahu pasti hanyalah dia sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu, hubunganku dengan Ria semakin akrab dan kami dapat saling curhat. Setelah Ria mengetahui aku frigid, dia berusaha juga untuk mencari jalan keluarnya. Dia menanyakan selain melihat hubungan seks yang dilakukan kedua orangtuaku, apa saya juga pernah menonton BF atau lihat gambat porno? Pernah jawabku, tapi tetap tidak bisa membuatku birahi. Bagaimana kalau ke psikolog atau psikiater, usulnya. Ah.. pasti hanya buang-buang waktu saja jawabku. Di sana pasti kita disuruh curhat, dan akhirnya kita dikuliahin ini itu, hasilnya belum tentu. Malas ah.. .

Pernah sekali waktu, Ria mengujiku. Kalau saya tidak tertarik dengan cowok jangan-jangan Ivan ini lesbi. Maka tanpa ba-bi-bu lagi, suatu malam di kamarku, Ria tiba-tiba menciumku dan meraba-raba payudaraku. Dengan kaget kudorong tubuhnya.
“Apa-apaan ini Ria?” teriakku.
Sambil tertawa dia menjawab,
“Enggak apa-apa cuma ingin tahu aja siapa tahu kamu ini lesbian tanpa kamu sadari sendiri”, katanya ringan.
Hasilnya ternyata aku pun bukan lesbi. Betul-betul total frigid 100%. Bayang-bayang ketakutan erangan dan rintihan Mama memang menghantuiku, biarpun sudah mendapat penjelasan itu bukan kesakitan tapi erangan kenikmatan.

Suatu hari Ria menelponku,
“Kamu mau diterapi enggak?”
“Terapi apaan?” tanyaku.
“Ituu.. terapi frigid kamu..”
“Konsultasi ke psikolog, maksud kamu.. Kan dari dulu aku sudah bilang, hanya buang waktu dan biaya aja, hasilnya belum tentu.”
“Aku baru dapat informasi dari temanku, ada orang yang mungkin bisa ngebantu kamu. Katanya sih manjur juga. Sudah banyak orang yang ditolongnya. Yang jelas orangnya dapat dipercaya, terapinya alami saja tergantung keluhan, tapi masalahnya dia seorang cowok. Yaa.. umur kepala 4 deh kira-kira. kamu coba dehh, orang kan harus usaha kalau mau sembuh.”
“Paranormal yaa?” tanyaku ragu.
“Bukan sih, tapi semacam sexolog gitu, tapi bukan dokter. Udah nih kamu sekarang ambil pena dan kertas. Catat nih emailnya. kamu enggak usah ketemu muka dulu, konsul aja dulu jarak jauh.”

Konsul jarak jauh, apa susahnya? kalau tidak berhasil, juga tidak perlu terlalu disesali, pikirku.

Kontak pertama, aku mengenalkan diriku dan mengetahui emailnya dari orang yang pernah dibantunya sambil basa basi sedikit. Kuceritakan kalau aku frigid dan mungkin bisa membantu saya. Sama seperti psikolog, maka Erwin (sexolog) memintaku untuk bercerita mengenai diriku sedetail mungkin. Dari beberapa kali konsul lewat email, akhirnya Erwin menyimpulkan bahwa saya harus diterapi untuk menemukan titik-titik rangsang serta memperpeka saraf seks yang ada. Tentu saja terapi ini tidak bisa lewat email. Aku pun lantas menceritakan ini pada Ria.

“Eh.. Ria.. aku mau diterapi, dicari titik rangsangku oleh erwin. Aku takut nanti, malah entar diperkosa.”

“Udah deh.. kamu janjian aja sama dia kapan, entar aku temanin. kamu itu mau sembuh enggak sih, lagian temanku udah bilang kalau orangnya sangat bisa dipercaya. Kalau ada apa-apa sama kamu, entar kita minta tanggung jawab aja sama temanku. Lagian masak sih dia mau menjerumuskan kamu..”

Setelah berpikir pergi pulang, aku pun memutuskan untuk menjalankan terapi itu, apapun resikonya.

Kami pun lantas bertemu di suatu hotel di Jakarta Barat tanpa ditemani oleh Ria, karena terkadang aku malu, karena dia sudah membantuku terlalu banyak. Masa sekarang aku minta ditemani lagi. Pada pertemuan pertama itu, kesanku adalah, Erwin orangnya cukup ganteng, gentle dan tidak terlalu banyak omong. Hanya seperlunya saja tapi mengena. Rambutnya sedikit agak memutih dan dugaanku dia baru berumur dengan kepala 3. Entahlah aku tak berani menanyakan secara langsung.

Sesampai di kamar, Erwin menanyakan apa aku tidak lupa membawa baby oil atau hand body serta handuk. “Komplit”, jawabku agak sedikit gemetar. Ini adalah saat pertamaku berdua sekamar dengan cowok. Terbayang kembali traumaku sewaktu masih kecil. Erwin yang tahu kalau aku sedikit nerves, mencoba mencairkan suasana dengan menyuruhku mandi dulu dengan air hangat. Memang setelah mandi, aku merasa segar dan lebih percaya diri.

“Sudah segar nih kelihatannya”, katanya sambil tersenyum.

“Iya.. lumayan deh”, jawabku.

“Sudah bisa dimulai nih terapinya?” tanya si Erwin.

“Oke..”

“Ivan boleh tetap memakai baju lengkap, boleh juga melepas sebagian atau boleh juga melepas semua dan nanti ditutup handuk. Ivan pilih saja yang menurut Ivan yang paling bisa membuat rileks. Sekali lagi rilek, santai dan tidak tegang. Itu key-word yang utama”, Erwin menjelaskan itu dengan tenang sekali, layaknya seorang terapist tulen yang sudah profesional.

“Begini aja deh”, jawabku sambil memandang tubuhku sendiri yang dibalut dengan T-shirt dan celana panjang berbahan tipis.

Terus terang aku tak sanggup melepaskan sebagian dari pakaianku di hadapan orang yang baru saja ketemu muka. Kalau ada apa-apa aku bisa langsung kabur, pikirku.

“Ya.. sekarang Ivan berbaring telungkup di ranjang. Kita mulai saja.”

Dengan tubuh yang tertelungkup di ranjang, Erwin mulai memijat kepala saya dengan lembut. Mungkin sekitar 5 menit dan itu cukup membuatku rileks. Erwin yang tahu kalau aku sudah tidak tegang lagi, mulai menurunkan tangannya ke leherku. Tangannya mulai membelai dengan halus dan lembut diselingi sesekali dengan pijatan. Inilah pertama kulitku disentuh dan dibelai oleh seorang cowok. Aku merasa enak dengan sentuhannya.

“Boleh aku di atas kamu?” tiba tiba Erwin bertanya.

“Maksudnya..?” tanyaku curiga.

“Ini.. aku mau mulai dari daerah punggung, jadi lebih nyaman kalau aku ada di atas kamu”, jawabnya.

“silakan..”

Dengan menempatkan dengkulnya di kiri kanan pinggulku, Erwin mulai membelai pundakku, diusapnya dengan perlahan.

“Ivan, kalau pas dibelai dan disentuh kamu merasa enak, kamu harus katakan itu. Tidak usah malu. Terapi kali ini memang untuk mencari titik rangsang kamu. Kamu tidak usah malu mengekspresikan kenikmatan itu. Kamu boleh mengerang, boleh merintih, boleh teriak, boleh menggelinjang. Tidak ada yang melarang. Malah itu harus!”

Erwin terus membelai dan mengelus dan terkadang memijat dengan lembut seluruh punggungku yang masih dibalut T-shirt. Tangannya bekerja dan mulutnya memberikan sugesti padaku, seolah-olah apa yang terjadi pada mamaku itu bukanlah suatu penderitaan, tapi kenikmatan. Ketika tangannya memijat lembut sambil sedikit memutar kedua payudaraku dari samping, aku menggelinjang keenakan biarpun masih dihalangi oleh T-shirt dan bra-ku. Sepertinya ada sedikit kejutan listrik. Yang membuatku tidak mengerti adalah, selangkangannya tidak pernah menyentuh pinggulku. Meskipun kesempatan itu sangat besar. Nampaknya Erwin memang tidak mau mengambil kesempatan itu untuk kesenangan pribadinya. Betul-betul seorang sexolog dan seorang terapist tulen pikirku dalam hati.

Dengan memundurkan pinggulnya ke betisku, Erwin mulai dengan pijatan dan belaiannya pada pinggulku. Dengan gerakan memutar, pijatan pada pinggulku ini lebih menimbulkan rasa enak lagi. Di titik inilah aku mulai merasakan badanku sedikit hangat, dan ada sedikit rasa gatal di kemaluanku. Apa ini yang disebut orang birahi? Sekarang kedua kakiku agak mengangkang karena kedua dengkul Erwin ada di antara kakiku. Gerakan jarinya sekarang agak lebih bertenaga. Mungkin karena pinggul terdiri dari banyak daging, maka harus lebih bertenaga, baru terasa. Apalagi pada saat kedua tangannya memijat secara memutar itu disusul dengan kedua ibu jarinya yang sedikit menekan anus. “Enak Win”, desisku tanpa sadar.

Belaian dan pijatan pada pahaku pun menimbulkan rasa enak. Sekali-sekali tangannya menyentuh kemaluanku. Ini membuatku gila dan setiap kali tangannya merogoh ke bawah ke arah kemaluanku, spontan aku mengangkat pinggulku dan kesempatan itu semakin dimanfaatkan Erwin untuk meremas dan mengobok-obok. Yaa.. aku mulai merasakan nikmatnya alat vitalku disentuh. Pada sesi ini aku banyak merintih dan mengerang serta berulang kali mengatakan “Enak Win, enaakk..” Kalau dilihat, rona mukaku mungkin berubah merah. Ada rasa malu menyergap tatkala tubuhku disentuh laki-laki yang relatif baru kukenal. Apalagi kemaluanku tak luput dari sentuhan, biarpun masih ada pelapisnya. Entah berapa lama dia melakukannya, aku betul-betul serasa sudah melayang tanpa sadar berada di mana. Dari situ pijatannya kembali turun ke arah betis dan telapak kaki. Tetapi dari betis ke bawah tidak menimbulkan sensasi apapun padaku.

Setelah selesai sampai pada telapak kaki, Erwin menyuruhku membalik badan dan mengatakan, untuk sesi pertama ini sudah selesai. Dengan nada yang serius, Erwin menyuruhku ke kamar mandi untuk melihat, apakah di sekitar kemaluanku keluar cairan atau agak lembab. Pada sesi pertama terapi ini, kami diskusikan bersama. Dimana letak titik nikmat dari tubuhku. Dan ketika kukatakan, bahwa memang kemaluanku biarpun tidak banjir, memang agak sedikit lembab. Erwin memberi kesimpulan, ada harapan besar bagi aku untuk sembuh dari frigid-ku.

Aku diberi kebebasan apa akan melanjutkan terapi sesi kedua atau tidak.

“Sekarang sudah dulu yaa.. Van. Kamu renungkan dalam 1 minggu ini, apa ada kemajuan atau tidak. Mau dilanjutkan dengan sesi kedua atau tidak. Kalau Ivan mau melanjutkan pada sesi kedua, nanti bisa email Erwin dulu. Sesi kedua nanti, kita akan tingkatkan intensitas rangsangan itu. Kita coba buang trauma yang masih melekat di otakmu.”

Sejak menjalani terapi itu, aku masih suka membayangkan pijatan dan belaian Erwin. Aku sudah bisa menikmati belaian tangan lelaki. Erwin memang dapat dipercaya, karena selama berdua di kamar, hanya tangan dan dengkulnya saja yang pernah menyentuh tubuhku. Itupun masih dengan dilapisi pakaian.

Arisan Para Suami

“Apa yang akan aku lakukan di sini?” pikirku ketika tiba di depan pintu gerbang villa itu. Villa tersebut terletak di sebuah bukit terpencil di tengah kerimbunan hutan pinus. Untuk sampai di sana kita harus melalui sebuah jalan kecil yang merupakan jalan pribadi yang menghubungi villa tersebut dengan jalan utama. Di ujung jalan tersebut kita akan menjumpai sebuah pintu gerbang yang kokoh terbuat dari besi memagari sebuah bangunan artistik dikelilingi oleh taman yang asri. Begitu kami mendekati gerbang tersebut, tiba-tiba dua orang laki-laki berpotongan rambut pendek dengan tubuh kekar menghampiri kami. Suamiku segera menyodorkan sebuah kartu nama yang entah dari mana dia peroleh. Kemudian dengan wajah ramah mereka membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk.

Di dalam pekarangan villa itu kulihat beberapa mobil telah terparkir di sana dan salah satunya adalah mobil Priyono sahabat suamiku. Keluarga kami dan keluarga Priyono memang bersahabat. Umur kami tidak jauh berbeda sehingga kami mempunyai persamaan dalam pergaulan.

Suamiku seorang pengusaha muda sukses, demikian juga Priyono. Baik suamiku maupun Priyono mereka sama-sama sibuknya. Mereka kelihatannya selalu dikejar waktu untuk meraih sukses yang lebih besar lagi bagi keuntungan bisnisnya. Sehingga boleh dikatakan hidup kami sangat berlebih sekali akan tetapi di lain sisi waktu untuk keluarga menjadi terbatas sekali. Hanya pada hari-hari weekend saja kami baru dapat berkumpul bersama. Dan itu pun apabila suamiku tidak ada urusan bisnisnya di luar kota.

Keadaan itu dialami juga oleh istri Priyono, Novie. Sehingga antara aku dan istri Priyono merasa cocok dan akrab satu sama lainnya. Kami juga selalu mengatur waktu senggang bersama untuk melakukan pertemuan-pertemuan rutin atau rekreasi bersama. Kebetulan istri Priyono, juga agak sebaya denganku. Bedanya dia baru berumur tiga puluh tahun sedangkan aku telah berumur tiga puluh lima tahun. Apalagi wajahnya masih tetap seperti anak-anak remaja dengan tahi lalat di atas bibirnya membuat penampilan istri Priyono kelihatan lebih muda lagi. Selain itu bentuk tubuhnya agak mungil dibandingkan denganku. Badannya semampai namun berbentuk sangat atletis. Maklumlah selain dia secara rutin mengikuti kegiatan latihan di salah satu fitness center, dia juga memang seorang atlet renang. Sehingga warna kulitnya agak kecoklatan-coklatan terkena sinar matahari.

Berbeda denganku yang berkulit agak putih dengan bentuk tubuh yang agak lebih gemuk sedikit sehingga buah dada dan pinggulku lebih kelihatan menonjol dibandingkan dengan istri Priyono. Menurut pandanganku penampilan istri Priyono manis sekali. Ada suatu daya tarik tersendiri yang dimilikinya setidak-tidaknya demikian juga menurut suamiku. Aku tahu hal itu karena suamiku sering membicarakannya dan malahan pernah bergurau kepadaku bagaimana rasanya sekiranya dia melakukan hubungan seks dengan istri Priyono.

Pertemuan kami dengan keluarga Priyono pada mulanya diisi dengan pergi makan malam bersama atau mengunjungi club rekreasi para eksekutif di setiap akhir pekan. Sekali-sekali kami bermain kartu atau pergi berdarmawisata. Akan tetapi ketika hal tersebut sudah mulai terasa rutin, pada suatu saat suamiku dan Priyono mengajak kami untuk ikut menjadi anggota CAPS.

“Apa artinya itu..?” kataku.
“Artinya adalah Club Arisan Para Suami atau disingkat CAPS, kalau diucapkan dalam bahasa Inggris jadi kep’es, tuh gagah nggak namanya”, jawab Priyono.
“Walah, baru tahu sekarang para suami juga kayak perempuan, pakai arisan segala”, kataku.
“Ini arisan bukan sembarang arisan..”, kata Priyono membela diri.
“Dahulu mau dinamakan The Golden Key Club, tapi gara-gara Eddy Tanzil maka namanya diganti jadi CAPS, Club Arisan Para Suami”, katanya lagi.
“Ya sudah kalau begitu.., kalau arisan para suami kenapa istri perlu dibawa-bawa ikut jadi anggota?” debatku lagi.
“Rupanya belum tahu dia..!” kata Prioyono dalam logat Madura seraya menunjukkan jempol ke arahku sambil melirik kepada suamiku. Suamiku juga jadi ikut tertawa mendengar logat Prioyono itu.

“Hei, rupanya pake rahasia-rahasiaan segala ya..!” kataku sambil memukul pundaknya.
“Iya Mbak.., mereka berdua sekarang ini lagi selalu kasak-kusuk saja. Jangan-jangan memang punya rahasia yang terpendam”, tiba-tiba kata istri Priyono menimpaliku.
“Eh, jangan marah dulu.. club arisan ini merupakan suatu club yang ekslusif. Tidak sembarangan orang boleh ikut! Hanya mereka yang merupakan kawan dekat saja yang boleh ikut dan itu juga harus memenuhi syarat!”
“Syarat apa..?!”
“Misalnya para anggota harus terdiri dari pasangan suami istri yang sah! Betul-betul sah.. saah.. saah!” katanya meniru gaya Marisa Haque diiklan TV.
“Kalau belum beristri atau bukan istri yang sah, dilarang keras untuk ikut! Oleh karena itu untuk ikut arisan ini perlu dilakukan seleksi yang ketat sekali dan tidak main-main! Jadi nggak ada yang namanya itu rahasiaan-rahasiaan..!” kata Priyono lagi.

“Ah kayak mau jadi caleg saja.. pakai diseleksi segala! Nggak mau sekalian juga pakai Litsus, terus penataran! Arisan ya arisan saja..! Dimana-mana juga sama! Paling-paling Bapak-bapaknya ngumpul ngobrolin cewek-cewek dan Ibu-ibunya ngerumpi sambil comot makanan disana-sini.., akhirnya perutnya jadi gendut dan pulang-pulang jadi bertengkar di rumah karena dengar gosip ini itu!” kataku.
“Nah, disini masalahnya. Arisan kita itu bukan arisan gosip, tapi arisan yang sip!” kata Priyono.
“Jadi arisan apa pun itu, apa sip, apa sup, apa saham, emas, berlian, Mercy atau BMW, ya akhirnya semua sama saja.., yang keluar duluan hanya gosip?” kataku ketus.
“Bukan.., bukan seperti itu. Malahan sebaliknya.., arisan ini justru bertujuan buat mengharmoniskan kehidupan perkawinan antara suami istri!” jawab Priyono.
“Lho, untuk itu kenapa mesti arisan..?” kataku lagi.
“Boleh nggak diberi tahu Mas?” kata Priyono sambil melirik kepada suamiku. Suamiku tersenyum sambil mengangguk.

“Begini Mbak, terus terang saja, arisan kita itu bentuknya kegiatan tukar-menukar pasangan”, katanya.
“Pasangan?! Pasangan apa..?” jawabku dengan sangat heran.
“Ya itu, pasangan suami-istri”, tiba-tiba suamiku menyeletuk.
“Mengapa harus ditukar-tukar sih? Dan apanya yang ditukar?” tanyaku karena aku jadi semakin tidak mengerti atas penjelasan suamiku itu.
“Walah, penjelasannya panjang.., ini kan jaman emansipasi”, kata suamiku.
“Memangnya apa hubungannya dengan jaman emansipasi!” aku menyela kata-kata suamiku.
“Begini.., kegiatan club ini sebenarnya bertujuan untuk mengharmoniskan kehidupan suami istri dalam rumah tangga”, kata suamiku.
“Jadi..”
“Jadi.., jadi ya kau ikut saja dulu deh! Nanti baru tahu manfaatnya!” kata Priyono menyeletuk.
“Nggak mau ah kalau hanya ikut-ikutan!”

“Begini Neng!” kata suamiku. “Singkatnya menurut pandangan para pakar seksualogi dalam kehidupan perkawinan seseorang pada saat-saat tertentu terdapat suatu periode rawan dimana dalam periode tersebut kehidupan perkawinan seseorang itu mengalami krisis. Krisis ini apabila tidak disadari akan menimbulkan bencana yang besar yaitu tidak adanya kegairahan lagi dalam kehidupan perkawinan. Apabila tidak ada kegairahan lagi antara suami-istri biasanya akan membawa akibat yang fatal”, kata suamiku lagi.
“Misalnya bagaimana?”
“Ya dalam kehidupan perkawinan itu secara tidak disadari timbul kejenuhan-kejenuhan. Kejenuhan yang paling utama dalam periode tersebut biasanya dalam masalah hubungan badan antara suami istri, pada periode tersebut hubungan seks antara suami-istri tidak lagi menyala-nyala sebagaimana pada masa setelah pengantin baru. Kedua belah pihak biasanya telah kehilangan kegairahan dalam hubungan mereka di tempat tidur yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hubungan badan suami istri tersebut akhirnya terasa menjadi datar dan hanya merupakan suatu hal yang rutin saja. Untuk mengatasi hal itu bagi para pasangan suami istri perlu mendapatkan penggantian suasana, khususnya suasana dalam hubungan di tempat tidur”, kata suamiku.

“Ah itu kan hanya alasan yang dicari-cari saja.., bilang saja kalau sudah bosan dengan istri atau mau cari yang lain!” kataku.
“Nah, disinilah memang letak masalahnya.., yaitu ‘kebosanan’.., dan ‘wanita lain’. Hal itu sangat betul sekali.., karena ‘kebosanan’ merupakan sifat manusia, sedangkan ‘keinginan kepada wanita lain’ secara terus terang itu merupakan sifat naluri kaum laki-laki secara umum, disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak diakui, mereka mempunyai naluri poligamis, yaitu berkeinginan untuk melakukan hubungan badan tidak dengan satu wanita saja. Akan tetapi sifat-sifat ini justru merupakan ‘sumber konflik utama’ dari krisis kehidupan perkawinan seseorang! Nah!, hal inilah yang akan dicegah dalam kegiatan club itu!”

“Jelasnya bagaimana?” kataku.
“Apabila seorang suami menuruti naluri kelaki-lakiannya itu, maka dia cenderung akan melakukan penyelewengan dengan wanita lain secara sembunyi-sembunyi. Mengapa..? Karena dia tahu hal itu akan merupakan sumber konflik dalam rumah tangga yang sangat berbahaya. Pertama-tama karena dia tahu istri tidak menyetujuinya, oleh karena itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang kedua hal itu membuat suatu keadaan yang tidak adil dalam kehidupan suami-istri. Kalau suaminya bisa merasakan orang lain, untuk mendapatkan kenikmatan seksual yang lain daripada istrinya, kenapa istrinya tidak..!”

“Apakah memang demikian problem dari sebuah perkawinan? Aku kira bukan hanya soal seks saja yang menjadi konflik dalam hubungan suami istri, namun juga tentunya ada unsur lainnya!” kataku berargumentasi.
“Tidak salah pendapatmu! Memang benar dalam suatu perkawinan banyak unsur yang mempengaruhinya, akan tetapi dalam perkawinan hanya ada dua unsur saja yang paling dominan, ibarat kopi dengan susunya!” kata suamiku.

“Apa hubungan perkawian dengan kopi susu?” tanyaku agak heran.
“Begini..” kata suamiku selanjutnya. “Dalam suatu perkawinan sebenarnya merupakan campuran antara dua unsur yang sangat berbeda, yaitu antara unsur ‘cinta’ dan unsur ‘kenikmatan seks’. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam hubungan perkawinan seseorang. Unsur cinta adalah merupakan faktor yang dominan yang merupakan faktor utama terjalinnya suatu ikatan batin antara dua insan yang berlainan jenis. Unsur cinta ditandai dengan adanya kerelaan pengabdian dan pengorbanan dari masing-masing pihak dengan penuh keihlasan dan tanpa mementingkan egoisme dalam diri pribadi. Sedangkan unsur kenikmatan seks adalah merupakan unsur penunjang yang dapat memperkokoh dan mewarnai unsur cinta tersebut. Unsur ini ditandai dengan manifestasi adanya keinginan melakukan hubungan hubungan tubuh dari dua insan yang berlainan jenis, adanya kobaran nafsu birahi serta adanya keinginan dari masing-masing pihak untuk mendominasi pasangannya secara egois. Adanya nafsu birahi ini dalam diri kita sebagai mahluk alam adalah wajar dan bukan sesuatu yang memalukan. Nah.., kedua unsur tadi apabila kita ibaratkan seperti minuman tidak bedanya sebagai ‘kopi’ dengan ‘susunya’. Unsur cinta dapat diibaratkan sebagai kopi dan unsur kenikmatan seks dapat diibaratkan sebagai susunya. Kedua unsur yang saling berbeda ini dapat dinikmati dengan berbagai cara. Apakah ingin dicampur sehingga menjadi sesuatu yang baru yang lain rasanya daripada aslinya atau dinikmati secara sendiri-sendiri sesuai dengan rasa aslinya!”

“Jadi apa hubungannya dengan arisanmu sekarang?”
“Nah, arisan ini bertujuan untuk membuat keadaan yang adil dan berimbang di antara suami dan istri. Kedua-duanya harus mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan tuntutan dari wanita itu sendiri untuk beremansipasi. Dan hak itu tidak terkecuali walaupun dalam hubungan seks, para istri juga harus diberi kesempatan yang sama seperti para suami. Para istri juga harus dapat memilih kehendaknya, apakah sewaktu-waktu dia ingin minum ‘kopinya’ saja, atau ‘susunya’ saja, atau ‘kopi susunya’. Masalahnya sekarang, bagaimana mewujudkan hal itu. Kalau dilakukan oleh para suami atau para istri itu secara sendiri-sendiri, maka akan menjadi kacau dan malahan tujuannya mungkin tidak akan tercapai. Oleh karena itu perlu diusahakan secara terorganisir. Yang paling gampang ya, dalam bentuk kegiatan arisan seperti ini”, kata suamiku.

“Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku.
“Ah, kau kayak bensin saja.., langsung nyamber!” kataku.
“Kalau begitu bukankah hal itu juga merupakan suatu penyelewengan dalam perkawinan?” tiba-tiba kata istri Priyono berkomentar.
“Tentu saja bukan..! Karena apa definisi menyeleweng itu? Seseorang itu dikatakan menyeleweng apabila dia melakukan hal di luar pengetahuan pasangannya. Atau dengan kata lain dia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi sehingga pasangannya tidak tahu dan tidak pernah menyetujuinya. Berlainan dengan kegiatan ini. Semuanya terbuka dan melalui persetujuan bersama antara kedua pasangan suami-istri itu”, jawab suamiku.

Pada akhirnya setelah menjalani debat yang panjang dalam forum resmi maupun tidak resmi, aku dan istri Priyono mengalah. Resolusi para suami itu kami terima dengan catatan kami ikut dalam kegiatan club ini semata-mata hanya untuk sekedar ingin tahu saja dan tidak ada tujuan lain yang lebih dari itu. Selain daripada itu kami mengalah untuk membuat hati para suami senang. Oleh karena itulah malam ini akhirnya aku berada di tempat ini.

Aku mengenakan gaun dari bahan satin yang agak tipis yang agak ketat melekat di tubuhku. Aku mengenakan gaun ini adalah juga atas anjuran suamiku. Suamiku berkata bahwa aku sangat menarik apabila mengenakan pakaian yang agak ketat dan terbuka. Aku kira pendapat suamiku benar, karena dengan memakai gaun ini aku lihat bentuk tubuhku jadi semakin nyata lekak-lekuknya. Apalagi dengan model potongan dada yang agak rendah membuat pangkal buah dadaku yang putih bersih kelihatan agak tersembul keluar membentuk dua buah bukit lembut yang indah.

Tidak berapa lama kami berdiri di depan pintu, seseorang membuka pintu dan langsung menyalami kami.
“Selamat datang dan selamat malam”, katanya langsung sambil menyalami kami.
“Perkenalkan saya Djodi, tuan rumah di sini, dan ini istriku.., panggil saja Siska!” katanya langsung memperkenalkan seorang wanita yang tiba-tiba muncul. Dandanannya agak menor untuk menutupi kerut wajahnya yang sudah dimakan usia. Tapi secara keseluruhan bentuk tubuhnya masih boleh jugalah. Buah dadanya subur walaupun perutnya kelihatan agak gendut. Kelihatannya dia itu seorang keturunan Cina. Selanjutnya kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu.

Suasana dalam ruangan itu kudapati biasa-biasa saja. Di sudut-sudut ruangan terdapat makanan kecil dan buah-buahan. Di sudut lainnya ada sebuah bar yang kelihatan lengkap sekali jenis minumannya. Sementara itu suara iringan musik terdengar samar-samar mengalun dengan lembut dari ruang tamu yang besar. Yang membedakannya adalah para tamunya. Kelihatannya tidak begitu banyak, kuhitung hanya ada belasan orang dan wanitanya semua berdandan secantik mungkin dengan pakaian yang lebih seksi daripada yang kukenakan. Demikian juga aku tidak melihat seorang pelayan pun atau petugas catering yang biasanya mengurusi konsumsi dalam pesta-pesta yang diadakan di rumah-rumah mewah seperti ini.

“Silakan.. help your self saja”, kata nyonya rumah kepada kami dalam bahasa Inggris logat Cina Singapore. “Memang sengaja para pembantu semuanya sudah disuruh ngungsi.., you know kan, agar privacy kita tidak terganggu!” katanya lagi dengan suara yang genit.

Kami segera berbaur dengan pasangan-pasangan lainnya yang sudah ada di sana. Priyono dan istrinya sedang mengobrol dikelilingi beberapa pasangan lainnya. Aku lihat istri Priyono benar-benar sangat menarik sekali malam itu dengan pakaiannya yang agak tembus pandang membuat mata kita mau tidak mau akan segera terjebak untuk memperhatikannya dengan seksama, apakah dia memakai pakaian dalam di balik itu. Sehingga dalam pakaian itu dia tidak saja kelihatan sangat cantik akan tetapi juga seksi. Melihat penampilan istri Priyono, suamiku jadi sangat antusias sekali. Dia terus memperhatikan istri Priyono tanpa mempedulikanku lagi. Sikap suamiku yang demikian menimbulkan juga rasa cemburu di hatiku. Jadi benar dugaanku, rupanya suamiku benar tertarik kepada istri Priyono. Pantas saja dia sering memujinya bahkan sering mengatakan kepadaku secara bergurau bagaimana rasanya kalau berhubungan kelamin dengan istri Priyono.

Tidak berapa lama kemudian tuan rumah beserta istrinya menghampiri kami. “Mari kita ambil minum dahulu”, katanya sambil langsung menuju bar. Salah seorang tamu kemudian bertindak sebagai bar tender. Dengan cekatan dia membuatkan minuman yang dipilih masing-masing orang dan kebanyakan mereka memilih minuman yang bercampur akohol. Kecuali aku dan istri Priyono. Aku memang tidak begitu tahan terhadap minuman beralkohol.

“Anda minum apa?” tanyanya kepadaku dan istri Priyono.
“Coca cola saja..!” kataku.
“Pakai rum, bourbon atau scotch?” “Terima kasih.., coca cola saja..!”
“Oo, di sini tidak boleh minum itu! Itu termasuk minuman kedua yang dilarang di sini..!” katanya dalam nada yang jenaka. “Minuman pertama yang dilarang adalah cola atau lainnya yang dicampur dengan Baygone! Yang kedua minuman yang anda pilih tadi, jadi mau tidak mau harus dicampur sedikit dengan rum atau lainnya. Saya kira ‘rum and cola’ cocok untuk anda berdua!” katanya lagi sambil terus mencampur rum dan segelas cola serta menaruh es batu ke dalamnya.
“Ini.., cobalah dahulu.., buatan bar tender terkenal!” katanya sambil menyodorkan gelas itu kepada kami.

Selesai membuat minuman dia segera bergabung dengan kami.
“Anda cantik sekali dengan busana ini”, katanya seraya memegang pundakku yang terbuka.
Aku agak menjauhinya seketika karena kukira dia mabuk. Tapi sesungguhnya hal itu disebabkan aku tidak terbiasa beramah-ramah dengan seorang pria asing yang belum kukenal benar.
“Terima kasih”, kataku berusaha menjawabnya.
“Dada anda bagus sekali”, katanya sambil menatap dalam-dalam ke arah belahan dada gaunku.
Dia diam sejenak. Kemudian dia mulai memperhatikanku secara khusus. Kelihatannya dia sedang menilaiku. Aku dapat membacanya dari senyumnya yang tersembunyi. Apabila waktu yang lalu ada seorang laki-laki yang memandang diriku secara demikian maka suamiku mungkin akan segera mengirimkan bogem mentah kepadanya.

Aku pun kemudian mulai memperhatikan penampilannya. Aku berpikir apakah dia laki-laki yang akan meniduriku nanti? Tidak begitu jelek juga, pikirku. Tinggi badannya kira-kira 170 cm, dengan bahu yang bidang dan wajah yang ramah menarik. Aku berpikir rupanya dalam club ini untuk dapat tidur dengan seorang wanita tidak berbeda bagaikan akan membeli seekor sapi saja. Namun secara tidak disadari aku menyukai juga ucapannya itu terutama datangnya dari seorang pria yang tidak aku kenal dan di hadapan suamiku. Kuharap dia dengar kata-kata itu. Kata-kata itu ditujukan kepadaku, bukan kepada istri Priyono. Ya, pada saat itu aku merasa agak melambung juga walaupun hanya sedikit.

Aku segera menghabiskan minumanku. Aku memang selalu berbuat itu, akan tetapi rupanya dia mengartikannya lain bahwa aku ingin segera memulai sesuatu.
“Jangan terburu-buru!” katanya.
“Kita belum lagi tahu cottage mana yang akan anda tempati”, katanya sambil menambah minumanku. “Akan tetapi saya senang sekali apabila nanti kita dapat tempat yang sama dan segera ke sana.” bisiknya.
Aku menjadi agak terselak seketika. Hal ini disebabkan bukan hanya aku kaget mendengar bisikannya itu, tetapi juga minumanku terasa sangat keras sehingga kepalaku langsung terasa mulai berat.
“Saya benar-benar baru pertama kali mengikuti pertemuan ini”, tiba-tiba aku berkata secara spontan.
“Ohh”, katanya agak kaget. Kemudian dia menatapku dengan pandangan yang menyesal.
“Saya harap kata-kata saya tadi tidak menyinggung anda.” bisiknya dengan nada minta maaf.
“Sungguh.. sungguh tidak”, kataku sambil memberikan senyuman.

Tidak berapa lama kemudian tuan rumah mengumumkan akan melakukan penarikan nomor arisan. Semula aku mengira tuan rumah akan menarik nama pasangan yang akan mendapat arisan bulan ini sebagaimana arisan-arisan biasa lainnya. Akan tetapi dugaanku meleset. Mula-mula tuan rumah meminta kami untuk berkelompok secara terpisah antara suami istri. Para suami membuat kelompok sendiri dan para istri juga membuat kelompok sendiri. Selanjutnya kami masing-masing diminta mengambil amplop kecil dalam dua buah bowl kristal yang berbeda yang diletakkan pada masing-masing kelompok. Satunya untuk para suami dan satunya lagi untuk para istrinya. Amplop kecil tersebut ternyata berisi sebuah kunci dengan gantungannya yang bertuliskan sebuah nomor.

Aku bertanya kepada wanita di sebelahku yang kelihatan sudah biasa dalam kegiatan ini.
“Kunci ini adalah kunci cottage yang ada di sekitar villa ini..” katanya. “Jadi nanti kita cocokkan nomor yang ada di kunci itu dengan nomor bungalow atau kamar di sana.”
“Terus..” kataku selanjutnya.
“Terus..!?” katanya sambil memandang kepadaku dengan agak heran. “Terus..? Oh ya.., kita tunggu saja siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama!”

Tiba-tiba hatiku menjadi kecut. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan dalam cottage itu. Apalagi hanya berduaan dengan laki-laki yang bukan suami kita.
“Jadi kita hanya dengan berdua dalam cottage itu?”
“Ya, karena kuncinya sudah pas sepasang-sepasang!”
“Jadi kita tidak tahu siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama dengan nomor kita?” kataku untuk menegaskan dugaanku.
“Ya, memang sekarang ini sistemnya berbeda. Dahulu pada waktu club ini disebut The Golden Key Club memang kita bisa ketahui karena para pesertanya mula-mula berada dalam sebuah kamar masing-masing. Jadi kita tahu siapa di kamar nomor berapa. Kemudian baru para suami keluar dan saling tukar menukar kunci kamar mereka dimana para istrinya berada di dalamnya. Sekarang sistem itu telah dirubah. Karena dengan sistem itu ada anggota yang suka curang. Dia memilih pasangan yang diincarnya sehingga timbul komplain dari anggota yang lain. Sekarang masing-masing pasangan mengambil kunci kamar secara diundi dan disaksikan oleh semua anggota. Sehingga sekarang lebih fair karena anggota tidak dapat memilih pasangannya yang diincar terlebih dahulu. Kelemahannya dalam sistem ini ada kemungkinan pasangan suami-istri itu juga akan mendapatkan nomor yang sama. Kalau sudah begitu ya nasibnya lah.., kali ini dia tidak dapat apa-apa.”

Sekarang aku baru mengerti mengapa club ini dahulu dinamakan The Golden Key Club. Selesai kami mengambil kunci semua berkumpul kembali di ruang tamu. Tuan rumah meminta kami untuk mengambil gelas sampanye masing-masing kemudian kami bersulang. Aku mereguk sampanye itu sekaligus sehingga kepalaku kini terasa semakin berat.
“Dapat nomor berapa?” kata suamiku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Nomor delapan..!” jawabku.
“Untung..! “
“Kenapa untung?”
“Ya untung tidak dapat nomor yang sama.., nomorku duabelas!” katanya.
“Itu bukan untung tapi cilaka.., cilaka duabelas namanya!”
“Ya tapinya untung juga..!” jawab suamiku.
“Kenapa..?”
“Untung bukan cilaka tigabelas!” jawabnya sambil tertawa.
“Sudah percuma berdebat di sini..!” kataku. “Eh kalau Novie dapat nomor berapa ya?” kataku lagi.
“Iya ya.., nomor berapa dia, tolong kau tanyakan dong!”

Rupanya aku tidak usah berpayah-payah mencari Novie karena tiba-tiba Priyono dan istrinya sudah berada di dekat kami.
“Eh, kamu dapat nomor berapa?” aku berbisik kepada Novie. “Nomor duabelas Mbak..” jawabnya.
Aku jadi terhenyak. Jadi maksud suamiku untuk meniduri istri Priyono kini tercapai. Aku segera memberi isyarat kepada suamiku bahwa nomornya sama dengan nomor dia. Suamiku kelihatan berseri-seri sekali ketika menerima isyaratku. Aku jadi agak cemburu lagi melihat tingkahnya. Dia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti irama musik yang mengalun di ruangan itu.

Tidak berapa lama kemudian lampu-lampu di seluruh ruangan itu mulai meredup. Ruangan itu kini menjadi agak gelap dan alunan musik berirama slow terdengar lebih keras lagi. Suasana dalam ruangan itu kini jadi lebih romantis. Aku lihat beberapa pasangan yang mulai berdansa tapi kebanyakan dari mereka menyelinap satu persatu, mungkin menuju cottage-nya masing-masing, tapi ada juga yang masih duduk-duduk mengobrol di sofa.

Tiba-tiba Priyono mengajakku untuk berdansa. Dan sudah barang tentu suamiku segera juga mengajak istri Priyono berdansa. Ketika kami berdansa Priyono mendekapku erat-erat. Begitu sangat eratnya sehingga seolah-olah kami dapat mendengar degub jantung di dada masing-masing.
“Kamu dapat nomor berapa?” tiba-tiba Priyono berbisik di telingaku.
“Nomor delapan!” jawabku.
“Ah, sayang..”
“Mengapa?” kataku lagi.
“Aku nomor enam!” katanya lagi.
“Siapa itu..?” tanyaku.
“Aku dengar sih Nyonya Siska, istrinya tuan rumah!”
“Wah, enak dong.., orangnya sintal, mungkin tiga hari nggak habis dimakan!” kataku berseloroh.
“Jangan ngeledek ya..!” katanya.
“Memangnya kenapa..? Kan betul orangnya sintal!”
“Potongan seperti itu bukan typeku!” katanya.
“Typemu seperti apa sih?” kataku.
“Seperti kamu..!” katanya lagi sambil terus mendusal-dusal leherku.

Aku jadi agak bergelinjang juga leherku diciumi Priyono sedemikian rupa. Selama kami bergaul belum pernah dia melakukan hal yang tidak senonoh denganku. Dia sangat sopan terhadapku. Tapi malam ini tiba-tiba saja dia berbuat itu. Apakah karena pengaruh alkohol yang dia minum tadi atau memang selama ini dia juga mempunyai perasaan yang terpendam terhadap diriku. Perasaanku kini jadi melambung kembali. Ditambah dengan pengaruh alkohol yang aku minum tadi, aku merasakan adanya gairah birahi yang timbul dalam diriku ketika berdekapan Priyono sehingga aku pasrah saja leherku didusal-dusalnya.

“Eh, kau ngerayu, atau mabok..? Kenapa dari dulu-dulu nggak bilang!” kataku sambil terus mendekapkan tubuhku lebih erat lagi sehingga buah dadaku terasa menyatu dengan dadanya.
“Malu sama suamimu!”
“Kenapa malu.., dia sendiri juga sering cerita bahwa dia suka sama istri kamu, eh sekarang dia dapat nomor kamar istrimu lagi!” kataku lagi.
“Oh ya..?” kata Priyono. “Kalau aku dulu bilang.., kau terus mau apa?”
“Tentunya kita nggak usah payah-payah ikut arisan di sini.. di rumah saja!”
“Ah, kau..!” katanya sambil terus menempelkan pipinya ke pipiku. Selanjutnya begitu irama musik hampir selesai, tiba-tiba Priyono meraih wajahku dan langsung mengecup bibirku dengan lembut.

Ketika kami kembali ke tempat semula kudapati suamiku dan istri Priyono sudah tidak ada di sana. Aku pikir mereka sudah tidak sabar lagi dan masuk ke cottagenya ketika kami sedang berdansa tadi. Baru saja kami duduk tiba-tiba sepasang suami istri datang menghampiri kami dan mengulurkan tangannya.
“Saya Alex.., dan ini istri saya Mira”, katanya memperkenalkan diri.
Priyono dan aku menyebutkan nama kami masing-masing. Selanjutnya kami berbasa-basi berbincang-bincang sejenak.
“Anda dapat nomor berapa?” dia bertanya kepada Priyono.
“Enam!” jawab Priyono singkat.
“Saya nomor delapan dan istri saya nomor enambelas” katanya.
Aku jadi tersentak seketika, demikian juga Priyono.
“Itu adalah nomorku”, kataku. “Oh ya!” kata Alex agak kaget. “Saya kira anda berdua sudah bernomor sama.., tapi anda kan bukan pasangan suami istri?” katanya lagi.
“Ya..!” kataku hampir serempak.

Kemudian dia berpaling kepada Priyono dan mengamit lengannya menjauhi kami.
“Bolehkah kita bernegosiasi..” bisiknya kepada Priyono.
“Saya lihat anda senang sekali dengan nomor delapan. Sebenarnya saya juga senang dengan penampilannya, akan tetapi saya sudah mempunyai janji dengan nomor enam. Bagaimana kalau kita bertukar nomor? Anda mengambil nomor delapan dan saya nomor enam. Sedangkan istri saya memang sudah sesuai dengan nomor enambelas yang juga kebetulan tuan rumah kita. Memang hal ini tidak diperbolehkan apabila ada anggota lainnya yang tahu. Tapi saya harap hal ini hanya di antara kita saja.”
Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Priyono segera saja mengiyakan. Kemudian kulihat mereka bertukar nomor kunci.
“Oh, dear!” kata Alex. “Kali ini saya tidak akan menginterupsi kalian. Lain kali saya harap saya dapat nomor anda lagi!” Kemudian dia melingkarkan tangannya ke tubuhku dan memberikan sebuah kecupan kecil di bibirku. Selanjutnya tidak ayal lagi Priyono segera memegang tanganku dan menuntunku menuju cottage nomor delapan.

Ketika kami memasuki pintu cottage itu aku berpikir di sinilah kemungkinan awalnya perubahan hidupku. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain kecuali dengan suamiku sendiri, akan tetapi hal itu akan berubah dalam waktu beberapa menit ini. Aku akan menjadi seorang istri yang serong dan semuanya ini disebabkan oleh ulah suamiku sendiri. Apakah ada orang yang akan percaya mengenai hal itu? Secara jujur begitulah keadaanku dan itulah apa yang kupikirkan waktu itu. Aku tahu dengan ini aku memberikan suamiku semacam kepuasan seks lain sebagaimana yang dia inginkan.

Begitu memasuki cottage itu Priyono langsung merangkulku dan mulai menghujani wajahku dengan kecupan-kecupan kecil. Dia kelihatan begitu sangat bernafsu sekali terhadap diriku. Aku benar-benar tidak menyangka Priyono dapat bersikap seperti itu. Selama ini kukenal dia wajar-wajar saja apabila bertemu denganku. Apakah pada acara-acara rutin kami atau kesempatan lainnya. Kupikir apakah hal itu akibat pengaruh alkohol yang diminumnya tadi atau mungkin juga memang sejak dahulu dia sudah mempunyai minat yang besar terhadap diriku namun dia terlalu sopan untuk mengungkapkannya dalam kesempatan yang biasa.

Tidak berapa lama kemudian tangannya segera menyusup ke balik busanaku yang memang berpotongan rendah dan menjalar menelusuri punggungku. Tiba-tiba kusadari betapa nikmatnya itu semua. Aku merasakan suatu hal yang luar biasa yang belum pernah kualami sebelumnya, aku merasa bagaikan kembali pada saat-saat dimana aku mengalami ciuman yang pertama dari seorang laki-laki. Hanya kini rasa sensasi yang muncul dalam diriku aku rasakan tidak asing lagi. Aku ingin segera ditiduri.

Ketika bibirnya menempel di bibirku aku pun langsung melumatnya dengan kuat. Selanjutnya dia merenggangkan mulutku dan mendorongkan lidahnya di antara gigiku mencari-cari lidahku yang segera kujulurkan untuk menyambutnya. Sungguh merupakan suatu ciuman yang panjang dan lama sekali. Selanjutnya dengan segera tangannya mulai meraba daerah sekitar buah dadaku. Aku mempunyai suatu kelemahan mengenai buah dadaku, aku maksudkan buah dadaku sangat sensitif sekali. Begitu buah dadaku tersentuh maka praktis akan membuatku terus bergelinjang. Oleh sebab itu ketika tangannya menyentuh langsung puting susuku maka aku menjadi bergelinjang dan meliuk-liuk dengan liarnya. Jari-jariku menghujam di punggungnya menahan suatu perasaan yang sangat dahsyat.

Pada saat tubuh kami terlepas satu sama lainya, nafas kami pun memburu dengan hebat. Dia mulai meneliti busanaku mencari kancing atau pun reitsleting untuk segera melepaskan busana itu dari tubuhku. Akan tetapi busanaku memang hanya mempergunakan karet elastis saja, maka dengan mudah aku segera melepaskan busana itu melalui kepala. Aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik busanaku itu kecuali dua carik pakaian dalam model bikini yang tipis dengan warna yang senada dengan kulitku.

“Saya senang dengan puting susu yang besar”, katanya sambil menyentuh puting susuku dengan lembut. “Karena cukup untuk menyusui anaknya dan sekaligus bapaknya.” Aku tidak menjawab. Kupikir dalam kesempatan seperti ini dia masih saja bisa berkelakar. Akan tetapi sebenarnya saat itu aku juga ingin berkata kepadanya bahwa aku juga ingin segera menyaksikan bagaimana bentuk tubuh aslinya di balik kemeja dan pantalonnya itu. Namun aku merasa masih sangat malu untuk berkata secara terus terang. Rupanya dia dapat membaca apa yang ada dalam pikiranku. Sehingga selanjutnya kudapati dia mulai membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya.

Aku masih teringat bagaimana bentuk dadanya itu dan bagaimana ketika dia memperlakukan diriku. Dadanya kecoklat-coklatan hampir berwarna sawo matang penuh ditumbuhi dengan bulu dada keriting berwarna hitam di tengahnya. Otot-ototnya pun semua kelihatannya sangat kokoh dan seimbang. Ingin rasanya aku menyentuhkan wajah serta puting susuku ke dadanya, dan tidak berapa lama kemudian secara tidak kusadari aku telah melakukan hal itu. Aku mengecup dadanya kemudian puting susunya. Betapa aku menggali kenikmatan dari itu semua.

Ketika aku merapatkan tubuhku ke tubuhnya, aku dapat merasakan gumpalan alat kejantanannya di balik pantalonnya yang sudah menjadi besar dan keras sekali. Dia menggesek-gesekkan alat kejantanannya tersebut ke tubuhku yang hanya mengenakan BH serta celana dalam nylon yang tipis. Sementara itu tangannya telah menyusup ke balik celana dalamku menelusuri daerah sekitar pantatku dan meremas-remasnya dengan kuat daging pantatku yang lembut dan berisi. Selanjutnya dengan serta merta dia melucuti celana dalamku ke bawah kakiku, sementara aku pun merasa semakin bergelinjang dengan hebatnya. Segera saja kulemparkan celana dalam itu dengan kakiku jauh-jauh dari tubuhku. Dia pun kini melepaskan BH-ku sehingga kini tubuhku benar-benar berada dalam keadaan bertelanjang bulat berdiri di hadapannya.

Kemudian Priyono agak menjauh beberapa saat untuk menurunkan reitsleting calananya. Begitu reitsleting diturunkan dalam sekejap pantalonnya pun juga ikut tergusur ke bawah. Dan sudah barang tentu pemandangan selanjutnya yang kusaksikan adalah sebuah alat kejantanan yang sangat besar dan gempal sedang berdiri dengan tegaknya menentang diriku.

Aku tidak melihat banyak perbedaan dengan bentuk alat kejantanan suamiku, akan tetapi yang mengesankan adalah alat kejantanan yang kulihat sekarang adalah milik seorang laki-laki lain walaupun dia sahabat suamiku. Seumur hidupku aku belum pernah menyaksikan alat kejantanan seorang laki-laki dewasa yang begitu dekat jaraknya dengan tubuhku kecuali alat kejantanan suamiku sendiri, apalagi aku sendiri dalam keadaan bertelanjang bulat, dan tidak berapa lama lagi dia akan menyetubuhi diriku dengan alat tersebut. Sehingga secara tidak sadar kurasakan timbul suatu keinginan dalam diriku untuk segera memegang bahkan menghisap alat kejantanan itu, akan tetapi sekali lagi aku masih tidak mempunyai keberanian melakukan hal itu.

Selanjutnya Priyono meraih dan membopong tubuhku yang telah bertelanjang bulat itu ke atas tempat tidur. Aku segera telentang di sana dengan segala kepolosan tubuhku menanti kelanjutan dari dari kesemuanya itu dengan pasrah. Akan tetapi rupanya Priyono belum mau memasukkan alat kejantanannya ke liang kewanitaanku. Dia masih tetap saja berdiri menikmati pemandangan keindahan tubuhku dengan pandangan yang penuh dengan kekaguman.

Tatapan mata Priyono ke seluruh tubuhku yang bugil di lain keadaan juga menumbuhkan semacam perasaan erotis dalam diriku. Aku merasakan adanya suatu kenikmatan tersendiri bertelanjang bulat di hadapan seorang laki-laki asing yang bukan suamiku sendiri dan memperlihatkan seluruh keindahan lekuk tubuhku yang selama ini hanya disaksikan oleh suamiku saja. Sehingga secara tidak sadar kubiarkan tubuhku dinikmati mata Priyono dengan sepuas-puasnya. Malahan ketika tatapan mata Priyono menyapu bagian bawah tubuhku secara reflek aku renggangkan keduabelah pahanya agak lebar seakan-akan ingin memberikan kesempatan yang lebih luas lagi kepada mata Priyono untuk dapat menyaksikan bagian dari tubuhku yang paling sangat rahasia bagi seorang wanita.

Puas menikmati keindahan tubuhku kini tangan Priyono mulai sibuk di seluruh tubuhku. Tangannya mulai meraba dan meremas seluruh bagian tubuhku yang sensitive. Mulai dari buah dadaku yang subur berisi sampai pada liang senggamaku yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang sangat lebat. Aku menjadi tambah bergelinjang dan tubuhku terasa bergetar dengan hebat. Secara tidak sadar aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat. Liang senggamaku tambah berdenyut dengan hebat dan terasa licin dengan cairan yang keluar dari dalamnya. Aku heran bagaimana seorang laki-laki yang bukan suamiku dapat membuat diriku menjadi sedemikian rupa. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku dapat merasakan gelinjang birahi yang sedemikian hebat dari laki-laki lain yang bukan suamiku.

Tidak berapa lama kemudian dia berlutut di depanku dan merenggangkan kedua belah pahaku lebih lebar lagi. Selanjutnya dia merangkak di antara kedua belah pahaku dan menatap langsung ke arah alat kewanitaanku. Lalu dia membungkukkan tubuhnya agak rendah dan mulai menciumi pahaku yang lama kelamaan semakin dekat ke arah liang kenikmatanku. Kembali aku merasakan suatu sensasi yang hebat melanda diriku. Aku benar-benar merasa semakin bertambah liar.

Aku berteriak liar dengan suara yang sukar dipercaya bahwa itu keluar dari mulutku. Bagaikan serigala yang ganas Priyono segera melumat habis-habisan alat kewanitaanku. Mula-mula dia menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu klitorisku dengan sangat halus sekali namun cukup untuk membuatku menjadi lupa daratan. Pinggulku secara otomatis mulai bergerak turun naik bagaikan dikendalikan oleh sebuah mesin dalam tubuhku.

Priyono kemudian menurunkan lidahnya lebih ke bawah lagi dan membuat putaran kecil di sekitar liang senggamaku dan akhirnya dia sorongkan lidahnya dengan mahir ke dalamnya. Aku merasakan darahku menggelegak. Lidahnya terus keluar masuk berputar-putar menari-nari. Betapa tingginya seni permainan lidahnya itu tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Lebih jauh dari itu aku tidak tahan lagi dan aku langsung mencapai puncak orgasme yang hebat.

“Sudah.. sudahlah”, akhirnya aku berkata. Priyono tetap meneruskan melahap liang senggamaku. Sementara itu aku terus-menerus mengalami orgasme bertubi-tubi namun pada akhirnya dia berhenti juga. Dan pada saat dia mengambil posisi untuk menyetubuhi diriku, aku segera bangkit dan kini tanpa merasa risih lagi aku segera meraih alat kejantanannya yang hangat berwarna kemerah-merahan lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan mulai bekerja dengan lidahku di sepanjang alat kejantanannya yang begitu terasa keras dan tegang. Aku merasakan suatu kenikmatan yang lain yang belum pernah aku rasakan. Aku merasakan alat kejantanan Priyono mempunyai aroma yang berlainan dengan alat kejantanan suamiku.

Kini aku baru sadar alat kejantanan dari setiap laki-laki juga mempunyai perbedaan rasa yang khas yang tidak sama antara satu lelaki dengan lelaki lainnya. Bukan saja dari bentuk dan ukurannya akan tetapi juga dari aroma yang dipancarkan oleh masing-masing alat kejantanan itu. Selain itu aku merasakan alat kejantanan laki-laki lain ternyata terasa lebih nikmat daripada alat kejantanan suamiku sendiri. Mungkin hal itu karena aku mendapatkan sesuatu yang lain dari apa yang selama ini kurasakan. Jadi walaupun serupa tetapi tidak sama rasanya.

“Sekarang giliranku untuk meminta berhenti”, katanya dengan tenang. Sebenarnya aku enggan melepaskan alat kejantanan yang menggiurkan itu dari mulutku. Aku ingin merasakan betapa alat kejantanannya itu memancarkan sperma dalam mulutku, akan tetapi kupikir tidak akan senikmat sebagaimana bila alat kejantanannya itu meledak dalam rahimku dalam suatu persetubuhan yang sempurna, sehingga kuturuti permintaannya dan membaringkan tubuhku dengan kedua belah kakiku ke atas. Selanjutnya aku menyaksikan sebuah dada yang bidang menutupi tubuhku dan tidak lama kemudian kurasakan alat kejantanannya itu mulai terbenam ke dalam liang senggamaku yang hangat dan basah. Aku jadi agak mengerang kecil ketika alat kejantanan yang besar dan gempal itu memasuki tubuhku.

“Oh, sayang.., sayang”, kata Priyono bergumam.
“Teruskan.., teruskan! Rasanya dahsyat sekali..!” kataku secara spontan sambil mengencangkan otot liang senggamaku sehinga alat kejantanan Priyono itu terjepit dengan kuat. Kemudian dengan suatu kekuatan bagaikan sebuah pompa hydroulis, liang kewanitaanku menghisap dalam-dalam alat kejantanan itu sehingga terasa menyentuh leher rahimku.

Secara perlahan-lahan dia mulai menggerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Untuk beberapa saat aku telentang tanpa bergerak sama sekali menikmati diriku disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku. Sungguh sulit dipercaya, aku merasa hal ini sebagai suatu mimpi. Seorang laki-laki lain yang bukan suamiku kini sedang memasukkan alat kejantanannya ke dalam tubuhku dan aku pun sedang menggali semua kenikmatan darinya.

Selanjutnya aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dalam suatu putaran yang teratur mengikuti gerakan turun naik tubuhnya. Dengan garang Priyono terus-menerus menikamkan alat kejantanannya sedalam-dalamnya ke liang senggamaku secara bertubi-tubi. Alat kejantanannya dengan teratur keluar masuk dan naik turun di liang senggamaku yang membuka serta meremas dengan erat alat kejantanan itu. Aku merasakan persetubuhan yang sedang kami lakukan ini betul-betul sangat hebat. Dan kesemuanya ini disebabkan oleh alat kejantanan seorang laki-laki lain yang bukan suamiku.

Selanjutnya Priyono mulai menghujamkan tubuhnya ke tubuhku semakin kuat dan semakin kencang. Kami jadi bergumulan dengan hebat di atas tempat tidur saling cabik mencabik tubuh masing-masing. Tubuh kami bersatu dan merenggang dengan hebat. Setiap hunjamannya membawaku ke suatu alam fantasi yang jauh entah dimana yang tidak pernah kuketahui dan belum pernah kualami sebelumnya. Yang aku tahu pada saat itu hanyalah suara desahan kenikmatan yang keluar dari mulut kami masing-masing.

Tiba-tiba puncak dari itu semua, kurasakan alat kejantanannya yang berada dalam liang senggamaku menjadi sedemikian membesar dan tegang dengan keras. Liang senggamaku pun terasa berdenyut lebih keras lagi dan akhirnya aku merasakan suatu cairan yang hangat dan kental terpancar dari alat kejantanannya membanjiri liang senggamaku. Nafas Priyono dengan kuat menyapu wajahku. Saat yang mendebarkan itu berlangsung lama sekali. Sangat sukar aku lukiskan betapa kenikmatan yang kualami dari kesemuanya itu. Akhirnya kami terbaring dengan segala kelelahan namun dalam suatu alam kenikmatan lain yang belum pernah aku alami bersama suamiku. Yang terang ketika Priyono menarik alat kejantanannya dari liang senggamaku, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam tubuhku.

Sisa malam itu tidak kami sia-siakan begitu saja. Kami menghabiskan sisa malam itu dengan melakukan hubungan intim beberapa kali lagi bagaikan sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu dalam suatu hubungan persetubuhan yang sangat dahsyat dan belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Kami terus berasyik-masyuk sampai saat-saat terakhir kami kembali ke rumah masing-masing ketika hari sudah menjelang subuh.

Keesokan harinya ketika aku terbangun, aku merasa bagaikan seorang wanita yang baru dilahirkan kembali. Demikian pula suamiku. Aku merasakan adanya suatu kesegaran dan kecerahan lain dari yang lain dan penuh dengan semangat kegairahan hidup. Hal ini membawa pengaruh kepada hari-hariku selanjutnya. Aku merasa mendapatkan suatu horizon baru dalam kehidupan. Demikian juga suamiku, kurasakan cinta kasih kami semakin bertambah dari waktu-waktu sebelumnya. Kehidupan rumah tangga kami serasa lebih harmonis penuh dengan keceriaan dan kegembiraan daripada waktu-waktu yang lalu. Dengan demikian tidak mengherankan kiranya apabila aku dan suamiku terus menghadiri arisan itu beberapa kali dan selama itu pula aku telah dapat merasakan berbagai macam type alat kejantanan laki-laki dalam berbagai macam bentuk dan ukuran serta berbagai macam tehnik permainan hubungan kelamin dengan para suami orang lain. Akan tetapi yang penting dari kesemuanya itu, di lain keadaan, aku menyadari suatu hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan maupun kubayangkan sebelumnya, bahwa alat kejantanan suami kita sendiri sesungguhnya juga mempunyai suatu keistimewaan tersendiri. Aku dapat mengetahuinya kesemuanya itu karena aku telah dapat membandingkannya dengan alat kejantanan dari suami-suami orang lain.

Ibu Tiara

Namaku Iful..umur 29 taon, tinggi 168 paras badanku tegap, rambutku lurus dan ukuran vitalku biasa saja normal orang indonesia lah, panjangnya kira-kira 16 cm dan diameternya aku nggak pernah ukur.. Aku tinggal di rumah kontrakan istilahnya apartement menyamping. Dan ada tetanggaku yang bernama Ibu Tiara, berjilbab, umurnya sekitar 33 taon, anaknya dah 3, yang paling besar masih sekolah kelas 5 SD otomatis yg palg kecil umur 1,8 bulan, sedangkan suaminya bekerja di kontraktor (perusahaan) sebagai karyawan saja. Setiap hari Ibu tiara ini wanita yang memakai jilbab panjang-panjang sampai ke lengan2nya boleh dikatakan aku melihatnya terlalu sempurna utk ukuran seorang Wanita yag sdh berumah tangga dan tentunya aku sangatlah segan dan hormat padanya. Suatu ketika suaminya sudah pergi kekantor untuk kerja dan aku sendiri masih di rumah rencananya agak siangan baru aku ke kantor . “Iful…”ibu tiara memanggil dari sebelah…karena aku masih malas hari ini so aku tidur2an aja di tempat tidurku..”Iful…Iful….” Ibu minta tolong bisa..?? ujar Ibu Tiara dari luar..aku sbenarnya sudah mendengar namun rasanya badanku lagi malas bangun. Karena mungkin aku yang dipanggil tadak segera keluar, maka Ibu tiara dengan hati-hati membuka pintu rumahku dan masuk pelan-pelan mencari aku.

Seketika itu juga aku pura-pura tutup mataku..dia mencariku dan akhirnya dia melihat aku tidur di kamar. “ohh….” Ujarnya…spontan dia kaget…karena kebiasaan kalau aku tidur tidak pernah pake baju dan hanya celana dalam saja. Dan pagi itu kontolku sebenarnya lagi tegang …biasa penyakit di pagi hari…(heheheh) seketika itu dia langsung balik melangkah dan menjauh dari kamarku. kucoba mengintip dengan sebelah mataku…”dia sudah tidak ada” ujarku dalam hati. Namun tidak lama kemudian dia balik lagi dan mengendap2 mengintip kamarku …sambil tersenyum penuh arti…cukup lama dia perhatikan aku dan setelah itu ibu tiara langsung balik ke rmahnya. Besok pagi setelah semuanya telah tidak ada di rumhnya ibu tiara, tinggal anaknya yg plg kecil dah tidur aku. Sayup-sayup aku dengar di samping rumahku yang ada di belkang, sepertinya ada yg mencuci pakaian …aku intip di belakang.. Oohh ibu tiara sedang mencuci pakaian.. namun dia hanya memakai daster terusan panjang dan jilbab.. Karena dasternya yang panjang, maka dasternya basah sampai ke paha …saat aku sedang mengintip..ibu tiara lgsg berdiri dan mengangkat dasternya sekaligus mencopot celana dalamnya dan langsung dicuci sekalian …otomatis…saat itu aku melihat ooooohhh….memeknya yang merah dan pahanya yang putih di tumbuhi bulu2 halus …aku langsung berputar didalam otakku.. ku ingin rasanya mencicipi memek yang indah dari ibu tiara yang berjilbab ini.. “Maaf ibu tiara…kemarin ibu ada perlu saya??” tanyaku.. mengagetkan ibu tiara dan serta-merta dia langsung merapikan dasternya jilbab tersingkap sampai ke paha.. “Iya nih mas Iful..Ibu kemarin mau minta tolong pasangin lampu di kamar mandi “katanya. “kalo gitu sekarang aja bu..

Soalnya sebentar lagi saya mau kerja “sambil mataku melihat dasternya…membayangkan apa yang didalamnya. “Oooh iya ..lewat sini saja..” Ujarnya..karena memang tipe rumah kost yg aku tempati dibelakangnya Cuma di palang kayu dan otomatis kegiatan para tetangga kelihatan di belakang. Aku lngsung membuka kayu dan sengnya dan masuk ke dalam dan ibu tiara membawaku didepan …aku mengikuti di belakang…oohhh…seandainya aku bisa merasakan memek dan pantat ini sekarang ” gumamku dalam hati. “ini lampunya dan kursinya.. Hati2 yah jng sampe ribut soalnya anaku lg tidur “kata Ibu Tiara.. Aku lngsung memasang dan ibu tiara melanjutkan mencuci nya, setelah selesai aku lngsg bilang “ibu sudah selesai “kataku.. Kemudian ibu tiara langsung berdiri..tapi saat itu dia terpeleset ke arahku …seketika itu aku menangkapnya..ups…oh tanganku mengenai payudaranya yg montok dan tanganku satu lagi mengenai langsung pantatnya yg tidak pake celana dalam dan hanya ditutupi daster saja …”maaf Dik Iful…agak licin lantainya”ujarnya tersipu-sipu..
Iful tunggu yah ibu bikinin Teh “ujarnya lagi…Dia ke dapur dan dari belakang aku mengikutinya secara pelan2..saat teh lagi diaduk di dalam gelas..langsung aku memeluknya dari belakang… iiful…apaan2 neh…sentak Ibu Tiara…maaf bu…saya melihat ibu sangatlah cantik dan seksi.. “ujarku…Jangan Iful…aku sudah punya suami ..”tapi tetap ibu tiara tidak melepaskan pegangan tanganku yang mampir di pinggangnya dan dadanya.. Iful…jangaann.. langsung aku menciumi dari belakang menyikapi jilbabnya.. sluurrp.. Oh..betapa putihnya leher ibu tiara ‘ujarku dlm hati…okhh.. Iful…hmmm…ibu tiara menggeliat..langsung dia membalik badannya menghadapku..Iful …aku udah beres…saat dia mau ucapin sesuatu..langsung aku cium bibirnya …mmmprh…tak lama dia langsung meresponku dan langsung memeluk leherku .mmmmhprpp ….bunyi mulutnya dan aku beradu…aku singkapi jilbabnya sedikit saja.. Sambil tanganku mencoba nenen menggerayangi dadanya …aku melihat dasternya memakai kancing dua saja diatas dadanya.. Aku membukanya..dan tersembullah buah dadanya yang putih mulusss …slurp…kujilat dan isap pentilnya.. Iiiful….ooohhh….ufhhh….”lirihnya sslurrpp….slurp..saa t aku jilat.. Sepertinya msh ada sedikit air susunya …
hmmmm…tambah nikmatnya..slurp..slurp.. ngehe

Sambil menjilat dan menyedot susunya..aku tetap tidak membuka jilbab maupun dasternya …tapi tanganku tetap menarik dasternya keatas.. Karena dari tadi dia tidak pake celana dalam …maka dengan gampang itilnya ku usap-usap dengan tanganku …Ohhh…oh.. Ssssshhhh…gumam ibu tiara..kepalaku ku dekatkan ke memeknya dan kakinya kurenggangkan.. Ssluruupp….pelan2 kujilati itil dan memeknya…oh iful…eennakkh.. Oghu…mmmpphhff…teriaknya pelan…kulihat kepalanya telah goyang ke kanan dan kekiri.. Pelan-pelan sambil lidahku bermain di memeknya …kubuka celana pendekku dan terpampanglah kontolku yang telah tegang.. Namun ibu tiara masih tidak menyadari akan hal itu …pelan-pelanku mengangkat dasternya.. Namun tidak sampai terbuka semuanya..hanya sampai diperutnya saja …dan mulutku mulai beradu dengan bibirnya yang ranum …mmmppghh…iful.. ku…”ujar ibu tiara..kuhisap dalam-dalam lidahnya…slurp.. Caup…oh ibu sungguh indah bibirmu, kobel
memekmu dan semuanya …lirihku.. Sambil menjilat seluruh rongga mulutnya …kubawa ia ke atas meja makannya dan kusandarkan ibu tiara dipinggiran meja …tanganku kumainkan kembali ke itil dan sekitaran memeknya …ahh..oh…Ifulll….i bu udah nggak kuaatttttt…lirih Ibu tiara. Pelan2 ku pegang kontolku…kuarahkan ke memeknya yang sudah basah dan licin ….dan bleessssshh….ohhh.. Ufgh hh….Ifulll….Teriak Ibu tiara. Slpep…slepp…. Kontolku kudiamkan sebentar ….Ibu Tiara sepontan melihat kewajahku..dan langsung ia menunduk lagi …kududukkan di atas meja makan dan kuangkat kakinya …mulailah aku memompanya..slep…slep..selp. Blssss….oh memeknya ibu sangat enak….Iful…kontolmu juga sangat besar….rupanya ibu tiara udah tidak memikirkan lagi norma2..yang ada hanyalah nafsu birahinya yang harus dituntaskan ….berulang-ulang ku pompa memeknya dengan kontolku ….oohh..akhh…Ifull….ku balikkan lagi badannya dan tangannya memegang pinggiran meja …ku tusuk memeknya dari belakang bleess. Ohhhhh….teriak Ibu Tiara. Kuhujam sekeras-kerasnya kontolku …tanganku remas2 susunya ….aku liat dari belakang sangat bagus gaya ibu tiara nungging ini, tanpa melepas daster dan jilbabnya..kutusuk terus …sleeeepp….sleeps Hingga kurang lebih setengah jam ibu tiara bilang …Iful….ibu udah nggak tahan…..sabar bu bentar lagi saya juga……Ujarku. Oh…ohhhh…ufmpghhh …Iful. ibu mau keluarrrr…achhhh… semakin kencang dan terasa memeknya menjepit kontolku dan oohhhhh …ku rasakan ada semacam cairan panas yang menyirami kontolku di dalam memeknya ….semakin kupercepat gerakan menusukku.. Slep….slurp…bleeppp… . oh Ibu aku juga dah mo sampai neh …..cepat Iful…ibu bantu….oho….uhhhhh….ibu tiara menggoyangnya lagi…dan akhirnya Ibu…. aku mo keluarrr…..sama2 yang iful …. ibu juga mau keluar lagi. Teriaknya … dan ….Ohhh.. ack…. ahhhhh.. aku dan ibu tiara sama–sama keluar … dan sejenak kulihat di memeknya terlihat becek dan banjir. Setelah hening sejenak…ku cabut kontolku dan kupakai celana pendek setelah itu ibu tiara merapikan Daster dan jilbabnya. Langsung aku minta maaf kepadanya “Bu..mohon maaf ..Iful khilaf.” kataku.

“Tidak apa2 kok iFul…ibu juga yang salah…yang menggoda Iful” ujarnya. Aku langsung pamitan kembali ke rumahku sebelah dan mandi siap2 kerja. Setelah mandi kulihat ibu tiara sedang menjemur pakaian. tapi jelas didalam daster ibu tiara tidak memakai celana dalam karenn terlihat tercetak lewat sinar matahari pagi yang meninggi mulai mendekati jam 10 pagi. Sebelum aku pergi ku sempatkan pamitan ke ibu tiara dan dia tersenyum. Tidak tau apakah ada artinya atau tidak.

model yunior

Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.

Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar. Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kon**lnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.

Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis. Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon**lnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om And mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.

Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.

Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku. “Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngen totin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya. Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point. “Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng gimana”, tanyaku. Om and segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dien tot. “Kamu kan udah sering dientotkan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.

Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku. “Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.

Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kon**lnya serta kukocok hingga kurasakan kon**l itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar. “Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut om andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku. “Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientotsatu ronde”, katanya.

Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya. “Ines ga tahan lagi om, Ines emut kon**l om ya” kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadanya dan menyodorkan kon**lnya. kon**lnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kon**l yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kon**lnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.

Mulutku terisi penuh oleh kon**lnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kon**lnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan. “Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala kon**l itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku.

Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kon**lnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku. Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil. “Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil tersenyum. “Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko sampai habis. Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kon**lnya dari luar celananya, membuatnya terangsang

Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya. “Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku. Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kon**lnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kon**l om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kon**lnya, kurasakan kon**lnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kon**lnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan. “Enak, Jok”, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.

Om andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kon**lnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kon**l yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku. Aku mulai merasakan kon**lnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kon**lnya memasuki nonokku. Aku dien totnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kon**l Joko makin bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngen tot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientotdari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kon**l yang lain makin menghujam ke tubuhku. kon**l Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kon**l Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku. Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kon**l Joko. Bersamaan dengan itu pula gen totan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.

Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. “Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Joko. Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.

“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kon**lnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kon**l om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku. “Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan. Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kon**lnya. Kini nonokku telah terisi oleh kon**lnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku. “Wah.. seret banget nonok kamu Nes”, erangnya. Setelah 15 menit dia gentotaku dalam posisi itu, dia melepas kon**lnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kon**lnya. Dengan refleks akupun menggenggam kon**l itu sambil menurunkan tubuhku hingga kon**lnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko memperhatikan kon**lnya sedang keluar masuk di nonokku.

Goyangan kami terhenti sejenak ketika om andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om andi membuka pantatku dan mengarahkan kon**lnya ke sana. “Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia mendorong masuk kon**lnya. Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kon**l kon**l besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om andi malah makin buas menggen totku. Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.

Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kon**l masih tertancap.

Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir “Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kon**l mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.

Om andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kon**lnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2. “Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kon**lnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus. “Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan. Tangannya terus saja mengelus2 nonokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak. “Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini”, katanya lagi. kon**lnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kon**lnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.

Tiba2 dia mencabut kon**lnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kon**lnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kon**l yang besar, dia mulai mengenjotkan kon**lnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kon**lnya yang panjang ambles di nonokku. “Enak om , kon**l om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om “, rengekku keenakan. enjotan kon**lnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kon**lnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientotaku udah merasa mau nyampe, “om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe”, rengekku. “Cepat banget Nes, om belum apa2″ jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kon**lnya. Akhirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan. Dia masih terus saja mengenjotkan kon**lnya keluar masuk dengan cepat dan keras.

Tiba2 dia mencabut kon**lnya dari nonokku. “Kok dicabut om, kan belum ngecret”, protesku. Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing. “Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku. Dia diam saja. Segera kon**lnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kon**lnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi, “Om , nikmat”, erangku lagi. Jarinya terasa

mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kon**l besar panjang yang sedang keluar

masuk, “Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku. Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke itilku, sambil dientotitilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dientotdengan cara seperti itu. “Om , nikmat banget nge***tsama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku saking nikmatnya. Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kon**lnya. Tak lama kemudian, “Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengen totkan kon**lnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret. “Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku. Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kon**lnya tercabut dari nonokku. “Om , nikmat deh, sekali entotaja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya”, kataku. “Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku. Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. “Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi. Aku hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.

Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kon**lnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku. Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya, “Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku. Tanganku masih mengocok kon**lnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu, “Jok , nikmat banget “, erangku.

Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku. “Aah Jok , enak banget, belum dientotaja udah nikmat banget”, erangku. Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan itilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dien tot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonoku yang basah berlendir itu. Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kon**lnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kon**lnya. “Nes, kamu pinter banget sih”, dia memuji. Cukup lama aku mengemut kon**lnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku, kon**lnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.

Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kon**lnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk, “Jok , enak”, erangku.Dia mulai mengenjotkan kon**lnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kon**lnya nancep semua di nonokku. “Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kon**l berkali2ya”, katnya. “Tapi enak kan, abis kon**l kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit”, jawabku terengah. Dia mulai mengenjotkan kon**lnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya. “Enak Jok, aah”, erangku keenakan. enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2, “Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe”, erangku. “Cepet banget Nes, aku belum apa2″, jawabnya. “Abisnya kon**l kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi. enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku

“Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kon**lnya keluar masuk. “Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget.

Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kon**lnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kon**lnya sehingga dia melenguh, “Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya “Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya. “Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kon**lnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.

Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om andi yang masih pengen ngen totin aku lagi. kulihat kon**lnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonoku makin terbuka. “Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku. Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.

Aku menggelepar2 ketika itilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan. “Om, masukin dong om , Ines udah pengen dien tot”, rengekku. Dia langsung menindih tubuhku, kon**lnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kon**lnya menerobos masuk, “Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak. Dia langsung mengenjotkan kon**lnya dengan keras sehingga sebentar saja kon**lnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kon**lnya terasa masuk lebih dalem lagi. “Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi. Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku

menggeliat2 saking nikmatnya, “Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kon**lnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi, “om enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.

Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kon**lnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kon**lnya. Dia meringis keenakan. “Nes, terus

diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”, pintanya. Sementara itu enjotan kon**lnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya. “Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om “,

kataku. Terus saja kon**lnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya, “Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku
erat2, “Nes, nikmat banget deh nge***tama kamu”, katanya.

Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dientot2 cowok berkali2. “Om, jangan lupa orbitin Ines ya”, kataku. “Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok”, jawabnya. Joko hanya tersenyum saja. Gak lama setelah mobil jalan, akupun tertidur.

Kepuasan Dalam Perselingkuhan

Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat. Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.

Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.

“Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?” tanyaku.

“Mungkin sekitar 10 menit” jawabnya pasti.

“Gaya apa yang dipakai suami kamu?”

“Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala”

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.

“Kira-kira berapa besar penis suami kamu?”

“Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!” jawabnya bingung.

Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.

“Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?”

Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.

“Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!”

Aku tak dapat menahan senyumku.

“Maksud kamu, ‘helm’nya masih nongol?”

“Ya!” Dewipun tersenyum juga.

Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.

“Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!”

“Bagaimana dengan kekerasannya?” tanyaku lagi.

“Keras sekali, Pak, seperti batu!”

Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?

“Kok diam Pak?”

“Aku lagi mikir penyebabnya.”

“Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar” terangnya.

Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.

“Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan.”

Aku sedikit mengerti maksudnya,

“Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?” tanyaku.

“Ya, betul, kenapa ya Pak?”

Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.

“Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?”

“Oke deh!” sahutnya riang sambil meninggalkan aku.

Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.

Aku kirim SMS kepadanya, “Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak untuk mengobrol”. 5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.

“Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya”

Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,

“Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang & aku suami orang juga”

Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang. Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.

“Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?”

Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.

“Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!”

“Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?”

“Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping”

“Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!”. jawabku tegas.

“Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!”

Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.

Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat,

“Belum berhasil, Pak!”.

Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.

Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.

“Memang kenapa?”

Tak lama Dewi pun membalasnya.

“Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak.”

Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.

“Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak”

Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?”

Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.

Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.

Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,

“Pak.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya

Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,

“Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?” suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.

“Terserah Bapak deh” jawabnya manja sambil mencubit tanganku.

Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,

Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,

“Tubuh kamu bagus sekali, Wi!” Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.

Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat,

Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.

Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,

Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.

“Terima kasih, Pak” ia mencium keningku.

“Saya masih mau lagi” ucapnya serak.

Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.

“Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?” sambil aku mempercepat kocokanku.

“Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya.

Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.

Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.

Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.

Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan.

Naksir Rita… Dapet Ibunya

Saat itu aku Ronny masih kuliah dan saya mempunyai teman karib namanya Mona, dari Sumatera, dia menumpang di rumah tantenya. Kebetulan antara saya dan Mona mempunyai hoby yang sama, naik gunung, lintas alam, atletik, lempar lembing. Saya sering bertandang ke rumahnya, makin lama makin sering. Karena saya juga naksir sama Rita, adik sepupu Mona atau anak tantenya. Walau saya sudah menjadi akrab dengan keluarganya, tapi Rita tak kunjung kupacari.

Setelah selesai SMA Mona melanjutkan studi di Kota lain, tapi aku mencoba untuk bertandang ke rumah Rita, tapi jarang ketemu.

Namun perjalanan waktu menentukan lain bagi Rita, ayahnya yang wakil rakyat itu meninggal. Sekarang ini ibunya mencari nafkah sendiri dengan memegang beberapa perusahaannya yang memang sudah dirintis cukup lama, sebelum terpilih menjadi wakil rakyat. Harapanku memacari Rita tetap ada di dada, walaupun saat aku berkunjung, justru bu Ita (ibunya Rita/tantenya Mona) yang sering menemuiku. karena Rita ada kesibukan di Jakarta, sehubungan dengan keikutsertaannya dalam sekolah presenter di sebuah stasion teve swasta di sana. Tapi sebenarnya kalau mau jujur Rita masih kalah dengan ibunya. Bu Ita lebih cantik.,kulitnya lebih putih bersih, dewasa dan tenang pembawaannya. Sementara Rita agak sawo matang, nurun ayahnya kali? Seandainya Rita seperti ibunya: tenang pembawaannya, keibuan dan penuh perhatian, baik juga.

Sekarang, di rumah yang cukup mewah itu hanya ada bu Ita dan seorang pembantu. Mona sudah tidak di situ, sementara Rita sekolah di ibukota, paling-paling seminggu pulang. Akhirnya saya di suruh bu Ita untuk membantu sebagai karyawan tidak tetap mengelola perusahaannya. Untungnya saya memiliki kemampuan di bidang komputer dan manajemennya, yang saya tekuni sejak SMA. Setelah mengetahui manajemen perusahaan bu Ita lalu saya menawari program akuntansi dan keuangan dengan komputer, dan bu Ita setuju bahkan senang. Merencanakan kalkulasi biaya proyek yang ditangani perusahaannya, dsb. Saya menyukai pekerjaan ini. Yang jelas bisa menambah uang saku saya, bisa untuk membantu kuliah, yang saat itu baru semester dua. Bu Ita memberi honor lebih dari cukup menurut ukuran saya. Pegawai bu Ita ada tiga cewek di kantor, tambah saya, belum termasuk di lapangan. Saya sering bekerja setelah kuliah, sore hingga malam hari, datang menjelang pegawai yang lain pulang. Itupun kalau ada proyek yang harus dikerjakan. Part time begitu. Bagi saya ini hanya kerja sambilan tapi bisa menambah pengalaman.

Karena hubungan kerja antara majikan dan pegawai, hubungan saya dengan bu Ita semakin akrab. Semula sih biasa saja, lambat-laun seperti sahabat, curhat, dan sebagainya. Aku sering dinasehati, bahkan saking akrabnya, bercanda, saya sering pegang tangannya, mencium tangan, tentu saja tanpa diketahui rekan kerja yang lain. Dan rupanya dia senang. Tapi aku tetap menjaga kesopanan. Pengalaman ini yang mendebarkan jantungku, betapapun dan siapapun bu Ita, dia mampu menggetarkan dadaku. Walaupun sudah cukup umur wanita ini tetap jelita. Saya kira siapapun orangnya pasti mengatakan orang ini cantik bahkan cantik sekali. Dasar pandai merawat tubuh, karena ada dana untuk itu, rajin fitnees, di rumah disediakan peralatannya. Kalau sedang fitnees memakai pakaian fitnees ketat sangat sedap dipandang. Ini sudah saya ketahui sejak saya SMA dulu, tapi karena saya kepingin mendekati Rita, hal itu saya kesampingkan. Data-data pribadi bu Ita saya tahu betul karena sering mengerjakan biodata berkaitan dengan proyek-proyeknya. Tingginya 161 cm, usianya saat kisah ini terjadi 37 tahun, lima bulan dan berat badannya 52 kg. Cukup ideal.

Pada suatu hari saya lembur, karena ada pekerjaan proyek dan paginya harus didaftarkan untuk diikutkan tender. Pukul 22.00 pekerjaan belum selesai, tapi aku agak terhibur bu Ita mau menemaniku, sambil mengecek pekerjaanku. Dia cukup teliti. Kalau kerja lembur begini ia malah sering bercanda. Bahkan kalau minumanku habis dia tidak segan-segan yang menuang kembali, aku malah menjadi kikuk. Dia tak enggan pegang tanganku, mencubit, namun aku tak berani membalas. Apalagi bila sedang mencubit dadaku aku sama sekali tidak akan membalas. Dan yang cukup surprise tanpa ragu memijit-pijit bahuku dari belakang.

“Capek ya..? Saya pijit, nih”, katanya.

Aku hanya tersenyum, dalam hati senang juga, dipijit janda cantik. Apalagi yang kurasakan dadanya, pasti teteknya menyenggol kepalaku bagian belakang, saya rasakan nyaman juga. Lama-lama pipiku sengaja saya pepetkan dengan tangannya yang mulus, dia diam saja. Dia membalas membelai-belai daguku, yang tanpa rambut itu. Aku menjadi cukup senang. Hampir pukul 23.00 baru selesai semua pekerjaan, saya membersihkan kantor dan masih dibantu bu Ita. Wah wanita ini betul-betul seorang pekerja keras, gumanku dalam hati.

Saya bersiap-siap untuk pulang, tapi dibuatkan kopi, jadi kembali minum.

“Kamu sudah punya pacar Ron?”

“Belum Bu”, jawabku

“Masa.., pasti kamu sudah punya. Cewek mana yang tak mau dengan cowok ganteng”, katanya

“Belum Bu, sungguh kok”, kataku lagi. Kami duduk bersebelahan di sofa ruang tengah, dengan penerangan yang agak redup. Entah siapa yang mendahului, kami berdua saling berpegangan tangan saling meremas lembut. Yang jelas semula saya sengaja menyenggol tangannya…

Mungkin karena terbawa suasana malam yang dingin dan suasana ruangan yang syahdu, dan terdengar suara mobil melintas di jalan raya serta sayup-sayup suara binatang malam, saya dan bu Ita hanyut terbawa oleh suasana romantis. Bu Ita yang malam itu memakai gaun warna hitam dan sedikit motif bunga ungu. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wanita pengusaha ini makin mendekatkan tubuhnya ke arahku. Dalam kondisi yang baru aku alami ini aku menjadi sangat kikuk dan canggung, tapi anehnya nafasku makin memburu, kejar-kejaran dan bergelora seperti gemuruh ombak di Pelabuhan Ratu. Saya menjadi bergemetaran, dan tak mampu berbuat banyak, walau tanganku tetap memegang tangannya.

“Dingin ya Ron..?!”, katanya sendu.

Sementara tangan kiriku ditarik dan mendekap lengan kirinya yang memang tanpa lengan baju itu.

“Ya, Bu dingin sekali”, jawabku.

Terasa dingin, sementara tangannya juga merangkul pinggangku. Bau wewanginan semerbak di sekitar, aku duduk, menambah suasana romantis.

“Kalau ketahuan Darti (pembantunya), gimana Bu?”, kataku gemetar.

“Darti tidak akan masuk ke sini, pintunya terkunci”, katanya.

Saya menjadi aman. Lalu aku mencoba mengecup kening wanita lincah ini, dia tersenyum lalu dia menengadahkan wajahnya. Tanpa diajari atau diperintah oleh siapapun, kukecup bibir indahnya. Dia menyambut dengan senyuman, kami saling berciuman bibir saling melumat bibir, lidah kami bertemu berburu mencari kenikmatan di setiap sudut-sudut bibir dan rongga mulut masing-masing. Tangankupun mulai meraba-raba tubuh sintal bu Ita, diapun tidak kalah meraba-raba punggungku dan bahkan menyusup dibalik kaosku. Aku menjadi semakin terangsang dalam permainan yang indah ini.

Sejenak jeda, kami saling berpandangan dia tersenyum manis bahkan amat manis, dibanding waktu-waktu sebelumnya. Kami berangkulan kembali, seolah-olah dua sejoli yang sedang mabuk asmara sedang bermesraan, padahal antara majikan dan pegawainya. Dia mulai mencumi leherku dan menggigit lembut semantara tanganku mulai meraba-raba tubuhnya, pertama pantatnya, kemudian menjalar ke pinggulnya.

“Sejak kamu kesini dengan Mona dulu, saya sudah berpikir: “Ganteng banget ini anak!””, katanya setengah berbisik.

“Ah ibu ada-ada saja”, kataku mengelak walaupun saya senang mendapat sanjungan.

“Saya tidak merayu, sungguh”, katanya lagi.

Kami makin merangsek bercumbu, birahiku makin menanjak naik, dadaku semakin bergetar, demikian juga dada bu Ita. Diapun nampak bergetaran dan suaranya agak parau.

Kemudian saya beranjak, berdiri dan menarik tangan bu Ita yang supaya ikut berdiri. Dalam posisi ini dia saya dekap dengan hangatnya. Hasrat kelakianku menjadi bertambah bangkit dan terasa seakan membelah celana yang saya pakai. Lalu saya bimbing dia ke kamarnya, bagai kerbau dicocok hidungnya bu Ita menurut saja. Kami berbaring bersama di spring bed, kembali kami bergumul saling berciuman dan becumbu.

“Gimana kalau saya tidur di sini saja, Bu”, pintaku lirih.

Ia berpikir sejenak lalu mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia beranjak menuju lemari dan mengambil pakaian sambil menyodorkan kepada saya.

“Ini pakai punyaku”, dia menyodorkan pakaian tidur.

Lalu aku melorot celana panjangku dan kaos kemudian memakai kimononya.

Aku menjadi terlena. Dalam dekapannya aku tertidur. Baru sekitar setengah jam saya terbangun lagi. Dalam kondisi begini, jelas aku susah tidur. Udara terasa dingin, saya mendekapnya makin kencang. Dia menyusupkan kaki kanannya di selakangan saya. Penisku makin bergerak-gerak, sementara cumbuan berlangsung, penisku semakin menjadi-jadi kencangnya, yang sesungguhnya sejak tadi di sofa.

Aku berpikir kalau sudah begini bagaimana? Apakah saya lanjutkan atau diam saja? Lama aku berfikir untuk mengatakan tidak! Tapi tidak bisa ditutupi bahwa hasrat, nafsu birahiku kuat sekali yang mendorong melonjak-lonjak dalam dadaku bercampur aduk sampai kepada ubun-ubunku. Walaupun aku diamkan beberapa saat, tetap saja kejaran libido yang terasa lebih kuat. Memang saya sadar, wanita yang ada didekapanku adalah majikanku, tantenya Mona, mamanya Rita, tapi sebagai pria normal dan dewasa aku juga merasakan kenikmatan bibir dan rasa perasaan bu Ita sebagai wanita yang sintal, cantik dan mengagumkan. Sedikitnya aku sudah merasakan kehangatannya tubuhnya dan perasaannya, meski pengalaman ini baru pertama kali kualami.

Aku tak kuasa berkeputusan, dalam kondisi seperti ini aku semakin bergemetaran, antara mengelak dan hasrat yang menggebu-gebu. Aku perhatikan wajahnya di bawah sorot lampu bed, sengaja saya lihat lama dari dekat, wajahnya memancarkan penyerahan sebagai wanita, di depan lelaki dewasa. Pelan-pelan tanganku menyusup di balik gaunnya, meraba pahanya dia mengeliat pelan, saya tidak tahu apakah dia tidur atau pura-pura tidur. Aku cium lembut bibirnya, dan dia menyambutnya. Berarti dia tidak tidur. Ku singkap gaun tidurnya kemudian kulepas, dia memakai beha warna putih dan cedenya juga putih. Aku menjadi tambah takjub melihat kemolekan tubuh bu Ita, putih dan indah banget. Ku raba-raba tubuhnya, dia mengeliat geli dan membuka matanya yang sayu. Jari-jari lentiknya menyusup ke balik baju tidur yang kupakai dan menarik talinya pada bagian perutku, lalu pakaianku terlepas. Kini akupun hanya pakai cede saja.

“Kamu ganteng banget, Ron, tinggi badanmu berapa, ya?”, bisiknya. Saya tersenyum senang.

“Makasih. Ada 171. Bu Ita juga cantik sekali”, mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum.

Aku berusaha membuka behanya dengan membuka kaitannya di punggungnya, kemudian keplorotkan cedenya sehingga aku semakin takjub melihat keindahan alam yang tiada tara ini. Hal ini menjadikan dadaku semakin bergetar. Betapa tidak?! Aku berhadapan langsung dengan wanita tanpa busana yang bertubuh indah, yang selama ini hanya kulihat lewat gambar-gambar orang asing saja. Kini langsung mengamati dari dekat sekali bahkan bisa meraba-raba. Wanita yang selama ini saya lihat berkulit putih bersih hanya pada bagian wajah, bagian kaki dan bagian lengan ini, sekarang tampak seluruhnya tiada yang tersisa. Menakjubkan!

Darahku semakin mendidih, melihat pemandangan nan indah itu. Di saat saya masih bengong, pelan-pelan aku melorot cedeku, saya dan bu Ita sama-sama tak berpakaian. Penisku benar-benar maksimal kencangnya. Kami berdua berdekapan, saling meraba dan membelai. Kaki kami berdua saling menyilang yang berpangkal di selakangan, saling mengesek. Penisku yang kencang ikut membelai paha indah bu Ita. Sementara itu ia membelai-belai lembut penisku dengan tangan halusnya, yang membawa efek nikmat luar biasa.

Tanganku membela-belai pahanya kemudian kucium mulai dari lutut merambat pelan ke pangkal pahanya. Ia mendesah lembut. Dadaku makin bergetaran karena kami saling mencumbu, aku meraba selakangannya, ada rerumputan di sana, tidak terlalu lebat jadi enak dipandang. Dia mengerang lembut, ketika jemariku menyentuh bibir vaginanya. Mulutku menciumi payudaranya dengan lembut dan mengedot puntingnya yang berwarna coklat kemerah-merahan, lalu membenamkan wajahku di antara kedua susunya. Sementara tangan kiriku meremas lembut teteknya. Desisan dan erangan lembut muncul dari mulut indahnya. Aku semakin bernafsu walau tetap gemetaran. Tanganku mulai aktif memainkan selakangannya, yang ternyata basah itu. Saya penasaran, lalu kubuka kedua pahanya, kemudian kusingkap rerumputan di sekitar kewanitaannya. Bagian-bagian warna pink itu aku belai-belai dengan jemariku. Klitorisnya, ku mainkan, menyenangkan sekali. Bu Ita mengerang lembut sambil menggerakkan pelan kaki-kakinya. Lalu jariku kumasukkan keterowongan pink tersebut dan menari-nari di dalamnya. Dia semakin bergelincangan. Kelanjutannya ia menarikku.

“Ayo Ron”aku tak tahan”, katanya berbisik

Dan merangkulku ketat sekali, sehingga bagian yang menonjol di dadanya tertekan oleh dadaku.

Aku mulai menindih tubuh sintal itu, sambil bertumpu pada kedua siku-siku tanganku, supaya ia tidak berat menompang tubuhku. Sementara itu senjataku terjepit dengan kedua pahanya. Dalam posisi begini saja enaknya sudah bukan main, getaran jantungku makin tidak teratur. Sambil menciumi bibirnya, dan lehernya, tanganku meremas-remas lembut susunya. Penisku menggesek-gesek sekalangannya, ke arah atas (perut), kemudian turun berulang-ulang Tak lama kemudian kakinya direnggangkan, lalu pinggul kami berdua beringsut, untuk mengambil posisi tepat antara senjataku dengan lubang kewanitaannya. Beberapa kali kami beringsut, tapi belum juga sampai kepada sasarannya. Penisku belum juga masuk ke vaginanya

“Alot juga”, bisikku. Bu Ita yang masih di bawahku tersenyum.

“Sabar-sabar”, katanya. Lalu tangannya memegang penisku dan menuntun memasukkan ke arah kewanitaannya.

“Sudah ditekan… pelan-pelan saja”, katanya. Akupun menuruti saja, menekan pinggulku…

“Blesss”, masuklah penisku, agak seret, tapi tanpa hambatan. Ternyata mudah! Pada saat masuk itulah, rasa nikmatnya amat sangat. Seolah aku baru memasuki dunia lain, dunia yang sama sekali baru bagiku. Aku memang pernah melihat film orang beginian, tetapi untuk melakukan sendiri baru kali ini. Ternyata rasanya enak, nyaman, mengasyikkan. Wonderful! Betapa tidak, dalam usiaku yang ke 23, baru merasakan kehangatan dan kenikmatan tubuh wanita.

Gerakanku mengikuti naluri lelakiku, mulai naik-turun, naik-turun, kadang cepat kadang lambat, sambil memandang ekspresi wajah bu Ita yang merem-melek, mulutnya sedikit terbuka, sambil keluar suara tak disengaja desah-mendesah. Merasakan kenikmatannya sendiri.

“Ah… uh… eh… hem””

Ketika aku menekankan pinggulku, dia menyambut dengan menekan pula ke atas, supaya penisku masuk menekan sampai ke dasar vaginanya. Getaran-getaran perasaan menyatu dengan leguhan dan rasa kenikmatan berjalan merangkak sampai berlari-lari kecil berkejar-kejaran. Di tengah peristiwa itu bu Ita berbisik

“Kamu jangan terlalu keburu nafsu, nanti kamu cepat capek, santai saja, pelan-pelan, ikuti iramanya”, ketika saya mulai menggenjot dengan semangatnya.

“Ya Bu, maaf”, akupun menuruti perintahnya.

Lalu aku hanya menggerakkan pinggulku ala kadarnya mengikuti gerakan pinggulnya yang hanya sesekali dilakukan. Ternyata model ini lebih nyaman dan mudah dinikmati. Sesekali kedua kakinya diangkat dan sampai ditaruh di atas bahuku, atau kemudian dibuka lebar-lebar, bahkan kadang dirapatkan, sehingga terasa penisku terjepit ketat dan semakin seret. Gerak apapun yang kami lakukan berdua membawa efek kenikmatan tersendiri. Setelah lebih dari sepuluh menit , aku menikmati tubuhnya dari atas, dia membuat suatu gerakan dan aku tahu maksudnya, dia minta di atas.

Aku tidur terlentang, kemudian bu Ita mengambil posisi tengkurap di atasku sambil menyatukan alat vital kami berdua. Bersetubuhlah kami kembali.Ia memasukkan penisku rasanya ketat sekali menghujam sampai dalam. Sampai beberapa saat bu Ita menggerakkan pinggulnya, payudaranya bergelantungan nampak indah sekali, kadang menyapu wajahku. Aku meremas kuat-kuat bongkahan pantatnya yang bergoyang-goyang. Payudaranya disodorkan kemulutku, langsung kudot. Gerakan wanita berambut sebahu ini makin mempesona di atas tubuhku. Kadang seperti orang berenang, atau menari yang berpusat pada gerakan pinggulnya yang aduhai. Bayang-bayang gerakan itu nampak indah di cermin sebelah ranjang. Tubuh putih nan indah perempuan setengah baya menaiki tubuh pemuda agak coklat kekuning-kuningan. Benar-benar lintas generasi!

Adegan ini berlangsung lebih dari lima belas menit, kian lama kian kencang dan cepat, gerakannya. Nafasnya kian tidak teratur, sedikit liar. Kayak mengejar setoran saja. Tanganku mempererat rangulanku pada pantat dan pinggulnya, sementara mulutku sesekali mengulum punting susunya. Rasanya enak sekali. Setelah kerja keras majikanku itu mendesah sejadi-jadinya”

“Ah… uh, eh… aku, ke.. luaar..Ron..”, rupanya ia orgasme.

Puncak kenikmatannya diraihnya di atas tubuhku, nafasnya berkejar-kejaran, terengah-engah merasakan keenakan yang mencapai klimaknya. Nafasnya berkejar-kejaran, gerakannya lambat laun berangsur melemah, akhirnya diam. Ia menjadi lemas di atasku, sambil mengatur nafasnya kembali. Aku mengusap-usap punggung mulusnya. Sesekali ia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan, pelan sekali, merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya. Beberapa menit dia masih menindih saya.

Setelah pulih tenaganya, dia tidur terlentang kembali, siap untuk saya tembak lagi. Kini giliran saya menindihnya, dan mulai mengerjakan kegiatan seperti tadi. Gerakan ku pelan juga, dia merangkul aku. Naik turun, keluar masuk. Saat masuk itulah rasa nikmat luar biasa, apalagi dia bisa menjepit-jepit, sampai beberapa kali. Sungguh aku menikmati seluruhnya tubuh bu Ita. Ruaar biasa! Tiba-tiba suatu dorongan tenaga yang kuat sampai diujung senjataku, aliran darah, energi dan perasaan terpusat di sana, yang menimbulkan kekuatan dahsyat tiada tara. Energi itu menekan-nekan dan memenuhi lorong-lorong rasa dan perasaan, saling memburu dan kejar-kejaran. Didorong oleh gairah luar biasa, menimbulkan efek gerakan makin keras dan kuat menghimpit tubuh indah, yang mengimbangi dengan gerakan gemulai mempesona. Akhirnya tenaga yang menghentak-hentak itu keluar membawa kenikmatan luar biasa”, suara tak disengaja keluar dari mulut dua insan yang sedang dilanda kenikmatan. Air maniku terasa keluar tanpa kendali, menyemprot memenuhi lubang kenikmatan milik bu Ita.

“Ahh… egh… egh… uhh”, suara kami bersaut-sahutan.

Bibir indah itu kembali kulumat makin seru, diapun makin merapatkan tubuhnya terutama pada bagian bawah perutnya, kuat sekali. Menyatu semuanya,

“Aku” keluar Bu”, kataku terengah-engah.

“Aku juga Ron”, suaranya agak lemah.

“Lho keluar lagi, tadi kan sudah?! Kok bisa keluar lagi?!”, tanyaku agak heran.

“Ya, bisa dua kali”, jawabnya sambil tersenyum puas.

Kami berdua berkeringat, walau udara di luar dingin. Rasanya cukup menguras tenaga, bagai habis naik gunung saja, lempar lembing atau habis dari perjalanan jauh, tapi saya masih bisa merasakan sisa-sisa kenikmatan bersama. Selang beberapa menit, setelah kenikmatan berangsur berkurang, dan terasa lembek, saya mencabut senjataku dan berbaring terlentang di sisinya sambil menghela nafas panjang. Puas rasanya menikmati seluruh kenikmatan tubuhnya. Perempuan punya bentuk tubuh indah itupun terlihat puas, seakan terlepas dari dahaganya, yang terlihat dari guratan senyumnya. Saya lihat selakangannya, ada ceceran air maniku putih kental meleleh di bibir vaginanya bahkan ada yang di pahanya. Pengalaman malam itu sangat menakjubkan, hingga sampai berapa kali aku menaiki bu Ita, aku lupa. Yang jelas kami beradu nafsu hampir sepanjang malam dan kurang tidur.

Keesokan harinya. Busa-busa sabun memenuhi bathtub, aku dan bu Ita mandi bersama, kami saling menyabun dan menggosok, seluruh sisi-sisi tubuhnya kami telusuri, termasuk bagian yang paling pribadi. Yang mengasyikkan juga ketika dia menyabun penisku dan mengocok-kocok lembut. Saya senang sekali dan sudah barang tentu membawa efek nikmat.

“Saya heran barang ini semalaman kok tegak terus, kayak tugu Monas, besar lagi. Ukuran jumbo lagi?!”, katanya sambil menimang-nimang tititku.

“Kan Ibu yang bikin begini?!”, jawabku. Kami tersenyum bersama.

Sehabis mandi, kuintip lewat jendela kamar, Darti sedang nyapu halaman depan, kalau aku keluar rumah tidak mungkin, bisa ketahuan. Waktu baru pukul setengah enam. Tetapi senjata ini belum juga turun, tiba-tiba hasrat lelakiku kembali bangkit kencang sekali. Kembali meletup-letup, jantung berdetak makin kencang. Lagi-lagi aku mendekati janda yang sudah berpakaian itu, dan kupeluk, kuciumi. Saya agak membungkuk, karena aku lebih tinggi. Bau wewangian semerbak disekujur tubuhnya, rasanya lebih fresh, sehabis mandi. Lalu ku lepas gaunnya, ku tanggalkan behanya dan kuplorotkan cedenya. Kami berdua kembali berbugil ria dan menuju tempat tidur. Kedua insan lelaki perempuan ini saling bercumbu, mengulangi kenikmatan semalam.

Ia terbaring dengan manisnya, pemandangan yang indah paduan antara pinggul depan, pangkal paha, dan rerumputan sedikit di tengah menutup samara-samar huruf “V”, tanpa ada gumpalan lemaknya. Aku buka dengan pelan kedua pahanya. Aku ciumi, mulai dari lutut, kemudian merambat ke paha mulusnya. Sementara tangannya mengurut-urut lembut penisku. Tubuhku mulai bergetaran, lalu aku membuka selakangannya, menyibakkan rerumputan di sana. Aku ingin melihat secara jelas barang miliknya. Jariku menyentuh benda yang berwarna pink itu, mulai bagian atas membelai-belainya dengan lembut, sesekali mencubit dan membelai kembali. Bu Ita bergelincangan, tangannya makin erat memegang tititku. Kemudian jariku mulai masuk ke lorong, kemudian menari-nari di sana, seperti malam tadi. Tapi bibir, dan terowongan yang didominasi warna pink ini lebih jelas, bagai bunga mawar yang merekah. Beberapa saat aku melakukan permainan ini, dan menjadi paham dan jelas betul struktur kewanitaan bu Ita, yang menghebohkan semalam.

Gelora nafsu makin menggema dan menjalar seantero tubuh kami, saling mencium dan mencumbu, kian memanas dan berlari kejar-kejaran. Seperti ombak laut mendesir-desir menerpa pantai. Tiada kendali yang dapat mengekang dari kami berdua. Apalagi ketika puncak kenikmatan mulai nampak dan mendekat ketat. Sebuah kejutan, tanpa aku duga sebelumnya penisku yang sejak tadi di urut-urut kemudian dikulum dengan lembutnya. Pertama dijilati kepalanya, lalu dimasukkan ke rongga mulutnya. Rasanya saya diajak melayang ke angkasa tinggi sekali menuju bulan. Aku menjadi kelelahan. Sesi berikutnya dia mengambil posisi tidur terlentang, sementara aku pasang kuda-kuda, tengkurap yang bertumpu pada kedua tangan saya. Saya mulai memasukkan penisku ke arah lubang kewanitaan bu Ita yang tadi sudah saya “pelajari” bagian-bagiannya secara seksama itu. Benda ini memang rasanya tiada tara, ketika kumasukkan, tidak hanya saya yang merasakan enaknya penetrasi, tetapi juga bu Ita merasakan kenikmatan yang luar biasa, terlihat dari ekpresi wajahnya, dan desahan lembut dari mulutnya.

“Ah”, desahnya setiap aku menekan senjataku ke arah selakangannya, sambil menekankan pula pinggulnya ke arah tititku. Kami berdua mengulangi mengarungi samodra birahi yang menakjubkan, pagi itu.

Semuanya sudah selesai, aku keluar rumah sekitar pukul setengah delapan, saat Darti mencuci di belakang. Dalam perjalanan pulang aku termenung, Betapa kejadian semalam dapat berlangsung begitu cepat, tanpa liku-liku, tanpa terpikirkan sebelumnya. Sebuah wisata seks yang tak terduga sebelumnya. Kenikmatan yang kuraih, prosesnya mulus, semulus paha bu Ita. Singkat, cepat dan mengalir begitu saja, namun membawa kenikmatan yang menghebohkan. Betapa aku bisa merasakan kehangatan tubuh bu Ita secara utuh, orang yang selama ini menjadi majikanku. Menyaksikan rona wajah bu Ita yang memerah jambu, kepasrahannya dalam ketelanjangannya, menunjukkan kedagaan seorang wanita yang mebutuhkan belaian dan kehangatan seorang pria.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, si kumbang muda makin sering mendatangi bunga untuk mengisap madu. Dan bunga itu masih segar saja, bahkan rasanya makin segar menggairahkan. Memang bunga itu masih mekar dan belum juga layu, atau memang tidak mau layu.

Sepupu Penuh Kenikmatan

Kejadiannya udah lama banget, sekitar tahun 1998. Pas waktu itu lagi ada acara hajatan perkawinan saudara di pinggiran Kota Bandung. Mengingat acara hajatan kawinan, kebiasaan orang Indonesia kebanyakan, maka banyaklah saudara yang datang beberapa hari sebelum acara dimulai untuk sekedar membantu-bantu demi kesuksesan acara. Demikian juga saya. H-6 saya dan keluarga sudah tiba di TKP. Begitu juga beberapa anggota keluarga yang lain datangg dengan seluruh atau sebagian anggota keluuarganya. Diantara mereka ada seorang keluarga yaitu pamanku yang datang dengan anak-anaknya 5 orang Perempuan semua. Mereka berusia tidak begitu jauh denganku. Sebut saja salah seorangnya bernama Nining. Wajahnya tidak terlaluu cantik, namun enak dan sedap dipandang. Berusia sekitar 20-22 tahunan, mahasiswa jurusan kesenian di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. Kebetulan oleh yyang empunya hajatan saya dan Nining diberikan tugas untuk membuat janur yang akan dipasang pada h-1 nanti. Setelah ngobrol ngalor dan ngidul, malampun tiba dan sekitar jam 11 malam sebagian besar orang-orang sudah terkapar karena lelah dan kecapaian setelah aktifitas ataupun dari perjalanan jauh.

Kebetulan rumah yang empunya hajat lumayan besar dengan banyak ruang dan kamar. Namun tetap sajja ada bebebrapa orang yangg tidak kebagian tidur di kamar termasuk aku dan nining yang keasyikan ngobrol. “wah, keabisan kapling nih kita!” kata nining menutup obrolan tengah malam.”iya, udah ah aku mah tidur disini saja…” kataku sambil menggelosorkan badan di karpet yang juga sudah disesaki oleh orang-orang. Karena sudah ngantuk dan lelah, tak lam aku pun tertidur. Entah sudah berapa lama tiba-tiba aku terbangun karena terasa ada yang memegang pahaku. Ketika kulihat ternyata Nining sudah terlelpa dengan posisi menyampiing ke arahku dan tangannya tanpa sadar telahh berada diatas pahaku yang tingga bebebrpa cm saja ke daerah sensitifku. Lama-lama timbul niat iseng untuk mencium bibir nining yang mungil dan tipis itu dalam benakku. Kuhampiri wajahnya dan ingin segera kukecup bibirnya itu. Namun aku takut kalau-kalau ada yang melihat jadi aku celingukan kanan kiri dulu. Nampaknya semua orang sudah terlelap dan terbuai dalam mimpinya masing-masing. Siiip, aman pikirku. Langsung aku kecup bibirnya yang mungil itu. Tak ada reaksi. Wah bener udah tidur lelap nih, kuteruskan pekerjaan ku menciumi bibir Nining. Iseng kuraba bagian dadanya yang montok, terhalang oleh kutangnya yang luumayan tebal. Haduh, akau memutar otak aagar isa meraba payudaranya yang sekel. Karena tak kunjung dapat akal, kulanjutkan saja menciumi bibir Nining. Selagi kuciumi, tiba – tiba ia bergerak ke arah sebaliknya dan aku kaget setengah mati takut ketahuan. Daripada malu, aku pun berbalik dan pura-pura tidur sambil mennggerutu menahan konak yang teramat sangat.

Keesokan harinya, aku takut ada perubahan sikap dari Nining gara-gara insiden semalam. Tapi ia biasa saja. Dalam hatiku bertanya, sebenarnya dia tahu apa tidaknya??? Dari pada pusing mikirin hal itu aku pun menganggapnya itu tak pernah terjadi. Skip story, setelah malam rutinitas pun kembali terulang dan kami pun tidur laagi bersama di tempat yang sama. Kali ini sengaja aku tidak tidur. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, kudengar dengkuran halus dari sebelahku. Nampaknya Nining sudah pulas tertidur. Kali ini dia tidur dengan mengenakan baju kaos dengan celana selutut dan bahan kaos juga. Saat ini, Nining tidur membelakangiku. Nampak jelas diwajahku, ceplakan CD nya jelas sekali menutupi pantatnya yang semok. Kucoba mengelus pantatnya yang bulat itu dengan pelan dan lembut. 5 menit kulakuakn hal itu dan tiba-tiba nining merubah posisi tidurnya dengan telentang dan kaki sebelah kirinya ditekuk keatas. otomatis celananya yang selutut dan longgar sedikit turun dan menghassilkan pemandangan yang indah. Paha putih yang mulus membentang dimataku. Kembali si otong menengang dan aku pun pusing mencari cara bagaimana memuaskan hasratku. Harus malam ini aku bisa puas. Begitu tekadku dalam hati. Untuk kelancaran acara, aku berpura-pura ke kamar mandi smbl patroli melihat keadaan sekitar. Aman, jam 2 dinihari dengan hawa malam ynag dingin membuat semua oraang tertidur pulas. Aku kembali ketempat semula dan sengaja mengambil posisi agak kebawah agar wajahku sejajar dengan toket Nining. aku mulai aktifitas dengan mencoba menyentuh payudaranya dari luar. Ku coba mengangkat kausnya sedikit dan nampak bagian bawah punggungnya. Kumasukkan tanganku kebalik kaosnya dan mencoba menggengan payudaranya. berhasill…… Tanganku yang nakal berhasil mencapai payudaranyya walau sedikit. selagi aktifitasku berlangsung, Nining tiba-tiba merubah posisi tidurnya dengan cara membalik badannya dan kaki sebelah kirinya menindih kakiku. Sekarang kami berhadapan dengan langsung dan sepintas seperti sedang berpelukan. Kembali kuelus lembut toketnya dari luar, sambila tangan kananku mengelus-elus pantatnya. Setelah kurang lebih 3 minit kuelus-elus daerang putingnya dari luar, tiba-tiba kedua tangannya memegang wajahku dan wajahnya dirunkan sehingga wajah kami saling berhadapan. Dan dengan mata sayu ia menatapku dan menciumi hidung ku. Mendapat respon positif, ku ambil inisiatif dengan meraih bibirnya dengan bibirku. Ia membalas dengan lembut dan menjilati bibirku. Kusambut juluran lidahnya dengan lidahku. Kami bermain lidah kurang lebih dua menit dan kucoba angkat kaosnya dan ia pun mengangkat badannya sehingga pekerjaanku dengan mudah dapat dilaksanakan. Setelah Bajunya terangkat kukeluarkan toketnya tanpa membuka BHnya dan langsung kupelitir putingnya dengan lidahku, hasilnya ia pun menggelinjang geli dan keenakan. Tangan Nining sudah berada di atas celana dan mengusap-usap kontolku denggan gerakan yang pelan. Lama-lama ia menelusupkan tangannya dari arah perutku. Segera kubuka sleting clena pendekku dn kukeluarkan penisku yng sudah tegang darikemarin. Kusambut kocokannya dengan membalas menusap-usap memeknya dari luar. Ciumannya yang tadinya lembut berubah menjadi liar dan nafasnya semakin terengah-engah menahan nafsu. Kumasukkan tanganku dan ku masukan jariku ditengah-tengah memeknya yang terasa mulai basah.

Dengan akrifitas semacam itu, hasratku semakin memuncak dan ingin segera kumuntahkan spermaku. “Ning, boleh ga dimasukin??” tanyaku. Ia hanya terdiam. Kutanya lagi dan ia mengangguk pelan tanda setuju. Kusuruh ia membelakangiku dan kupelorotan celananya hingga selutut. Kucoba masukkan kontolku dari belakang sambil terus menggosok-gosokan kearah bagian belakang memeknya. Kuangkat sedikit pahanya agar kontolku mudah menerobos masuk dan berhasil. Kumasukan batang kontolku yang semakin keras dengan iringan desahan tertahan dari nining. ” aaaahhhh, shhhhh, mmmhhhhh….. ” hanya suara itu yang ia keluarkan. Kukocok kontolku maju mundur deng kecepatan sedang. 5 menit kukocok memeknya dari belakang dan terasa semakin basah dan semakin licin memeknya. Tiba-tiba dia menarik badannya dan membalikkannya kehadapanku. “Bang di teras samping aja yu, dkt kolam. Supaya lebih leluasa..” ajaknya. Tanpa menunggu diminta 2 kali langsung aku berdiri menuju teras samping yang berjarak kurang lebih 5 meter dari tempat kami sekarang. Setibanya di sana, Nining langsung membuka habis celananya tanpa melepas kausnya. Ia hanya menaikkan kaos dan kutangnya sehingga toketnya yang sekel, mulus dan putih menggelayut menambah birahi. Ia mendorong tubuhku untuk berbaring dan mengambil inisiattif menindihku. Kuciumi dan kujilati lagi bibirnya yang mungil dan tipis itu dengan penuh nafsu. Ia membalasnya dengan penuh nafsu pula. Rupanya ia sudah on lagi dan mulai menuntun kontolku untuk memasuki lobang memeknya lagi. Blessssss…. aaahhhhh…. masuknya kontolku diiringgi dengan rintihan dan desahannya lagi sehhinggga membuat aku semakin terangsang. Ia pun menggenjot kontolku dengan gerakan maju mundur. Kadang cepat kadang lambat gerakannya. Sementara ia mengocok kuremas2 toketnya yang lucu itu dengan gemas sambil sesekali memainkan putingnya. 3 menit kemudian ia mengambil posisi berjongkok diatasku dan mulai dengan gerakan turun naik. Semakin lama semakin cepat dan setelah 3 menit ia menindihku sambil mencium bibirku dan mengejang… “Dah keluar Ning???” tanyaku dan ia menjawab dengan anggukan kecil sambil senyum. Kubalikkan badannya dan kurenggangkan kakinya sehingga sekarang aku bisa melihat memeknya dengan leluasa. Kumasukkan kontolku kembali dan kukocok dengan kecepatan sedang dan langsung tinggi sehingga toketnya bergoyang goyang… aaahhhh… uuuhhh… shhhh… mmmmhhhh…aaaahhh…. hanya suara-suara itu yang dikeluarkan Nining dengan pelan dan lirih. “Ning, aku dah mau sampe, keluarin dimana nih?? dalem apa diluar???” tanyaku. “dddalllemmm aja bannggghhh…. ssshhhh …. aaahhh… gpp.. aku lg ga subur… aaahhh… shhh” katanya sambil terus merintih nikmat.

Kuteruskan pekerjaanku mnggenjot memeknya dan …. aaaaahhhhhh…… Croooooottttt…. croooottt… entah berpa kali kusemprot memeknya dengan maniku. “Ning enak banget…. memek mu enak banget ….” kataku memuji. “Kontol abang juga gede, ning aja sampe kelojotan dikompa sama abanag.” jawabnya memabalas pujian ku. Kutarik kontolku keluar dan nampak disela-sela memeknya air maniku meleleh. Memeknya mulus, ga ada bulu dengan pinggiran memek yang merah merekah. Nining lalu mengambil Cdnya dan mengelapi memeknya yang basah dan mengelapi kontolku. Sewaktu ia mengelapi kontolku, kuraih kepalanya agar mendekat ke kontolku.Nining rupanya faham dan mulai mengulum kontolku sambil sesekali dihisapnya pelan. Kontol yang mulai mengecil dan melemas itu dalam sekejab sudah mengeras kembali. kutarik pahanya keatas dan sekarang kami lakukan posisi 69. 5 menit kami saling hisap dan jilat alatkemaluan sampai akhirnya aku sudah tak tahan pingin kembali memasukkan kontolku kedalam memeknya. Kudorong pantatnya dan ia kembali berjongkok diatas tubuhku, namun sekarang dia membelakangiku. kusuruh ia nungging dan kusodok dari belakang dengan gaya anjing. Kukompa terus memeknya langsung dengan RPM tinggi. Hasilnya, belum 7 menit aku sudah keluar dan menyemprotkan kembali air maniku. Dari jauh terdengar lamat-lamat azan subuh dan kami mengenakan kembali pakaian kami dan kembali tidur di tempat semula.

Siang harinya, kami sedang prepare kamar pengantin di lantai atas, dan memang lantai atas hanya ada 3 kamar tidur dan lumayan sepi. Sambil mengobrol membahas kejadian semalam, kami merapikan ruangan kamar untuk dijadikan kamar pengantin. Lama-lama, cewek ini semakin cantik rupanya, pikirku. Terbawa suasana rumah yang sepi, sambil memasang tirai, kucoba mengelus pantatnya. Ia hanya senyum tanpa mempedulikan tanganku yang bukan lagi membelai tapi mulai meremas pantanya yang sekel dan bahenol itu. Kudorong bahunya dengan lembut dan kucoba mengecup bibirnya. Ia membalas walau hanya sebentar dan mendorong bahuku. “nanti aja, tar kerjaannya ga beres….” katanya lembut. Aku ga peduli. Tanggung konak kudorong tubuhnya dengan tubuhku kearah tembok aambil terus menciumi dan melumat bibirnya. Tanganku pun mulai beroperasi, sebelah kanan meremas toketnya sebelah kiri menelusup kearah memeknya. 2 menit ia mulai terangsang dan merenggangkan pahanya. Terasa memeknya mulai basah. Kutidurkan dia di lantai dan kuturunkan celana jeans pendeknya sekaligus dengan celan dalamya. Sekarang bagian bawah tubuhnya polos sama sekali. sambil mengangkang ia terus membalas ciuman ku dengan liar. Akupun mulai turun menciumi perut dan daerah diatas memeknya dengan lembut. Nining hanya berekspresi dengan mengelinjang da menggeliat saja. Kuciumi itilkya dan kuhirup baunya yang menyegarkan. Kumulai menjilati itilnya dengan lembut bahkan kadang kuhisap pelan. setelah beberapa saat kujilatin memeknya tiba-tiba ia menekan kepalaku sekan menyuruhku melepaskan ciuman dan jilatanku. Tapi aku ga peduli, aku terus menjilati memeknya dengan buas dan sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat yang menyiram wajahku diiringi dengan lenguhan panjang Nining. Ahhhhhhhhhhhhhhhh……….. sssssssshhhhh… oooohhh… bang, kamu nakal banget siiiihh…. oooooooooohhh..” Mengetahu Nining orgasme, kukeluarkan kontolku yang sedari tadi tegang dan kumasukkan kontolku kedalam loban memeknya yang licin dan hangat. Clllepphhh… aaaah… lega dan nyaman rasanya ketika kontolku mulai memasuki lobang memeknya. Kukocok langsung dengan kecepatan tinggi memeknya. Plok, plok, plok, suara paha kami yang beradu meningkahi suara Nining yang terus mendesah menahan nikmat. Dan akhirnya akupun melepaskan air maniku dengan denras didalam memeknya yang hangat dan nyaman dengan sebuah rintihan tertahan…. “”Nnnniiinnnngggghhh… aaaahhh… aaaahhh…aaaahhh” kulepaskan air maniku dengan segala kenikmatan. Al hasil… kerjaan kami hari itu sedikit terhambat dengan aktifitas kami yangg diluar rencana kerja.

Malam harinya, kami mengulangi lagi kenikmatan yang sama di tempat lain yang kami anggap aman. bahkan pada H-2 kami melakukannya di kebun belakang dengan bertelanjang bulat beralaskan rumput saja. Sampai hari pelaksanaan resepsi, kami masih melakukannya sampai 4 kali di kamar mandi lantai atas, kamar gudang, kamar mandi dan di dalam mobil. Selama 6 hari sampai H+2 kami benar-benar seperti pengantin baru. Melakukannya kapan saja saat ada kesempatan.

Jelly D’Doll

Namanya Derrick,.. entah sudah berapa lama sejak pertama kali dia membawa-ku ke kamar ini,..

Derrick itu seorang siswa SMU kelas 3..

Sepertinya juga dia sudah dekat dengan ujian nasionalnya,.. karena Mamanya sering menggumamkan hal itu di sini, menyuruhnya untuk belajar dengan rajin,..
Mamanya sepertinya sangat sayang dengan Derrick, mungkin karena Derrick anak tunggal,.. selama ini juga aku belum pernah melihat Papanya,.. Mamanya yang setiap hari masuk ke kamarnya sekitar Jam 5 sore, ya sekitar jam segitu, aku yakin karena dari posisi-ku disini, aku bisa melihat dengan jelas .. masuk ke kamar ini sambil membawakan buah-buahan untuk Derrick yang sedang berpura-pura belajar di meja belajarnya dipojok sana,..

Mamanya cantik meski aku tak bisa menebak pasti berapa usianya,..tapi sorot matanya itu penuh dengan kasih sayang yang bahkan bisa kurasakan hanya dengan melihat bagaimana dia memperhatikan setiap detail kebutuhan Derrick, tiap hari mamanya pasti masuk ke kamar ini, meskipun terkesan terburu-buru ia merapikan kamar Derrick yang berantakan, dia melakukannya dengan pakaian yang telah Rapi, dengan blazer dan beberapa Map yang dia bawa ketika memasuki kamar yang kemudian ditaruhnya di meja belajar Derrick, dengan sigap merapikan tempat tidur Derrick, merapikan buku-buku komiknya yang berantakan, dan tumpukan film-film yang ditonton oleh Derrick semalaman, sebelum kemudian bergegas pergi,..

Seperti hari kemarin, hari kemarin dan kemarinnya lagi, hari ini Mamanya yang cantik itu membawakan buah-buahan, sambil menutup horden di kamarnya, ia kembali dengan nasihat yang mengingatan Derrick untuk giat belajar, sambil merapikan komik-komik Derrick yang berserakan dilantai sebelum 15 menit kemudian ia keluar dari kamar Derrick, dan kembali lah Derrick melompat ke kasurnya, mengambil komik yang baru dibelinya hari ini dan sibuk dengan bacaan barunya itu,..

Sering kali aku mendengar Mamanya itu mengeluhkan Derrick yang sering dihukum oleh gurunya karena lalai mengerjakan PR, andai saja aku bisa membantunya pasti Derrick gak akan dihukum lagi oleh gurunya, dan lagi Derrick gak perlu lagi dimarahin sama Mamanya itu,.. sayang aku gak bisa membantunya,..

Derrick ?? Hmmm Derrick sendiri anak yang gemuk,.. paling gak mungkin berat badannya itu 90kg, paling sedikit loh,.. anaknya kecil dengan kacamatanya yang tebal, yang paling aku sebal darinya itu, dia malas sekali untuk mandi, kalau saja hari itu hari libur, pasti dia gak akan mandi seharian, hanya sibuk dengan komik dan permainan Gamenya, iya seharian di kamar ini, walau kadang-kadang dia pergi keluar kamar, tapi itu juga gak lama koq,..

Terus apa donk menariknya Derrick, yang pasti Derrick itu baik,.. ia setiap hari memandikan-ku, memberikan rambut-ku shampoo, sampai membelikan-ku baju baru setiap bulannya, bahkan dia rajin sekali menggantikan pakaianku.. pokoknya dia baik sekali dech sama aku, sementara barang-barang lain di kamar ini berantakan, ia selalu menaruhku ditempat yang nyaman ya di kursi ini, makanya dia itu baik, baik banget sama aku, aku mau membantu dia melakukan apa-pun, pokoknya apa saja yang penting bisa menyenangkannya, dan membalas semua kebaikannya padaku..

Seperti itu tuch, ia sedang sibuk berkaca, sementara tangannya sibuk memecahkan jerawat di pipinya, kadang sampai berdarah-darah, andai aku bisa membantunya aku pasti pelan-pelan sekali memecahkan jerawatnya itu, perlahan agar tidak berdarah seperti itu,..

Dan jam 8 seperti biasa, ia akan keluar dari kamarnya selama sekitar 30 menit, sebelum kembali ke kamarnya, mungkin makan malam dia pasti kembali sambil membawa keripik kentang ke kamarnya, begitu masuk ke kamarnya, ia mematikan Lampu dan menyalakan Film,.. aku tak bisa melihat jelas dari tempat-ku, terhalang oleh lemari, yang pasti ia akan menyembunyikan tubuhnya didalam selimut sebelum kemudian ia sibuk dengan kesenangannya sendiri, jujur aku begitu penasaran dengan apa yang dilakukannya itu, apalagi sampai membawa gulungan tissue yang kemudian dibuangnya keluar jendela, apa sich yang dilakukannya ??

Gak lama pasti terdengar bunyi dengkurannya, dan ia pun tertidur tanpa sempat menyelesaikan PR-nya lagi, tak lama sich dia tertidur, sebelum kemudian terbangun, mematikan Film yang tadi ditontonnya, keluar dari kamarnya sejenak sebelum kemudian dia akan mencium-ku, semacam ciuman selamat malam, dan aku selalu menunggu ia melakukan itu tiap malamnya, kalau tidak aku pasti tidak bisa tidur pulas,..

Hmmm, binggung ya aku siapa, Nama-ku Jelly,.. aku adalah sebuah boneka Barbie yang cantik, aku tak ingat kapan aku mulai bisa melihat, mengingat, dan berfikir,.. yang aku ingat kalau Derrick adalah majikan-ku dan ia selalu merawat-ku dengan baik,.. rambut-ku hitam panjang tergerai, awal bulan ini Derrick membelikan-ku pakaian ini, sebuah pakaian yang mirip pelayan Jepang, warnanya hitam dengan bandana berwarna putih dan serbet yang diikatkan di pinggang-ku warnanya juga putih,.. dan ini yang baru dibelikannya kemarin, sebuah sepatu baru dengan kaus kaki selutut yang berwarna putih juga,.. pokoknya tema bulan ini adalah hitam dan putih,..

Ahhhhh, pokoknya aku pengen banget ngebantuin Derrick, dia kan udah segitu baiknya sama aku, apa salahnya kalau dia tidur dan membaca komik yang dia sukain, dan gak perlu juga kan Mamah dan Gurunya disekolah itu memarahinya,.. T3T

Aku terus berdoa setiap malam, terus berdoa hingga akhirnya doa-ku itu terjawab, hari ini semua permohonan-ku itu terjawab, sebuah mahluk bersayap saat ini terbang dihadapan-ku,.. ia bercahaya, aku tak dapat melihat dengan jelas wujudnya karena terlalu bercahaya,.. tapi aku bisa melihat sepasang sayapnya yang seperti kupu-kupu mengepak-ngepak halus,.. ia berbicara pada-ku,..

” OK, JELLY ” suaranya berat, seperti bapak-bapak yang sedang marah,..

Aku berusaha memberikan kode padanya agar tidak berbicara terlalu keras, takut Derrick terbangun karenanya,.

” Tidak perlu takut,.. dia tidak bisa mendengar,.. ” Katanya,..

Aku tetap memintanya tidak berbicara keras seperti itu, aku tak yakin dengan suara sekeras dan seberat itu tidak akan membuat Derrick terbangun,..

” Ya-ya, sudahlah, aku tahu kamu memiliki permintaan, aku bisa memenuhinya,.. ” Kata ‘Peri’ itu, ya dia mengaku sebagai peri, tapi setahu-ku peri itu biasanya cewek, bukan bapak-bapak tua seperti dia,..

Tapi yang pasti ucapannya itu membuat-ku begitu antusias, seolah ada sebuah harapan untuk jawaban doa-ku selama ini, Peri itu menerangkan semua syarat-syarat yang ia inginkan sebagai balasan dari terkabulnya permintaan-ku itu, aku mengiyakan saja semua, tak perduli lagi dengan semua syaratnya itu,..

” OK, Tanda tangan disini,.. ” Katanya,..

Aku terbengong, aku kan gak bisa mengangkat tangan-ku sendiri,.. bicara saja aku sulit,..

” Bisa ” katanya,.. seolah membaca apa yang aku pikirkan,.. perlahan aku mencoba mengangkat tangan-ku, dan benar!! Aku bisa menggerakan dengan leluasa tangan-ku,..

Rasanya hati-ku begitu berbunga, aku menulis nama-ku di kertas bercahaya peri itu,..

JELLY tulis-ku,..

Peri itu tersenyum, meski aku tak dpaat melihat jelas senyumannya itu, perlahan ia menggangkat tangan-ku, dan mengayunkan tongkat sihirnya, menyinari-ku dan

BLUPPP !!!!!!

Aku berdiri, berdiri diatas kedua kaki-ku, aku menggerakan tangan-ku ketubuh-ku, aku menyentuh seluruh bagian tubuh-ku, wajah-ku, terasa hangat, aku merasakan denyut jantung-ku,. Aku Hidup !!

Aku berlari kecil kearah, cermin, melihat pantuan wajah-ku dicermin,..

Pertama kalinya aku melihat wajah-ku sendiri di cermin,..

Wajah-ku sedikit bulat, dengan poni diatas mata-ku, rambut-ku memang benar panjang sepunggung,.. mata-ku bulat dengan bulu mata yang lentik,.. hidung-ku yang sedikit mancung dengan bibir kecil mungil berwarna merah muda,.. kulit-ku putih hingga membuat pipi-ku sedikit merah,.. aku berlari kearah peri yang masih terbang itu, kini ia terlihat berukuran sangat kecil,..

” Makasih ya,.. ” Kata-ku penuh semangat,..

” Suuuut !! ” ia mengingatkan-ku,.. ” Sekarang suara kamu bisa terdengar tahu,.. ” Katanya,..

Aku menutup mulut-ku, aku tak mau membangunkan Derrick,..

” Ingat, semua syarat-syarat itu, ada hukuman bila kamu melanggarnya Jelly, dan aku pasti tau itu,.. ” Katanya,..

Aku mengganguk sambil mengingat-ingat apa saja yang peri itu katakan tadi,..

” Ok dech ya,.. ingat kamu harus kembali dalam bentuk bonekamu sebelum 3 jam,.. “, ” Bye2 ” Katanya sebelum kemudian menghilang begitu saja,..
Aku tak sempat menggaguk, Peri itu menghilang begitu saja,.. rasanya hati-ku begitu senang, keinginan-ku itu terkabul begitu saja, aku berjalan-jalan setengah melompat-lompat di kamar itu, pelan-pelan takut Derrick terbangun,..

Cukup bersenang-senangnya, aku mulai merapikan kamar Derrick, membantu Derrick itu kan tujuan dari doa-doa-ku itu, dengan merapikan kamarnya itu, pasti Derrick gak akan dimarahi lagi, apalagi Mamanya itu juga gak perlu repot-repot untuk merapikan kamarnya ini lagi,..
Aku mulai memunguti komik-komik dan buku-buku yang berserakan, menaruh komiknya di tempatnya,menyusunnya sesuai nomor dan judul bukunya, memisahkan buku-buku pelajarannya dan merapikan kaset-kaset Game dan Filmnya yang berantakan, aku memunguti tissue-tissue yang berserakan di dekat ranjangnya itu, tak terasa kamar Derrick kembali rapi,.. aku tersenyum melihat hasil kerja-ku,.

Tapi masih ada satu pekerjaan lagi, aku menyalakan lampu kecil di meja belajarnya ada dua tumpukan buku, yang satu buku cetak pelajaran dan yang satunya lagi buku tugasnya,.. ada sedikit lipatan dari situ aku bisa menyimpulkan kalau Derrick sedang mengerjakan soal nomor 3-4 dan 5, pasti itu tugas rumahnya untuk besok, aku mulai memeras otak-ku untuk menggerjakan tugas-tugasnya itu, aku mulai menggerjakan tugas-tugasnya itu,.. ternyata tak terlalu sulit juga, atau mungkin seperti yang dikatakan oleh peri itu tadi kalau aku diberikan kepandaian terbaik untuk anak SMU ya??,..

Aku membereskan pekerjaan rumah Derrick sebelum kemudian berdiri dari tempat duduk di depan meja belajarnya itu, mematikan lampu kecil di meja belajarnya itu,..Aku pelan melangkah mendekati Derrick yang tengah tertidur pulas di tempat tidur,.. ia tengah mendengkur keras, aku menatap wajahnya itu yang sedang tertidur pulas, rasanya tak percaya kalau semua mimpi-ku ini terkabul sekarang, sekarang tiap hari aku bisa membantunya menggerjakan pekerjan rumah, membereskan kamarnya, dan menyelimutinya,.. aku menarik selimutnya yang tak lag menutupi badannya yang besar itu, perlahan aku menutupi tubuhnya itu dengan selimut hangat, sebelum kemudian kembali ke kursi tempat-ku dan kembali menjadi boneka Barbie,..

#####

” Ahhh, PR Belum bikin !! ” Derrick terbangun setengah melompat, membuat-ku ikut terbangun, tapi aku tersenyum dalam hati,.. melihat Derrick yang tengah terbinggung-binggung melihat PR-nya telah selesai dikerjakan,..

” Mungkin gue ngigau kemarin sampai bikin PR, ” katanya,.. sambil memasukan bukunya itu dalam tas sekolahnya, Ah aku lupa, harusnya aku membereskan buku pelajarannya itu, jadi Derrick tak perlu lagi merapikan bukunya itu pagi-pagi,.. nanti malam aku harus menyempatkan untuk membereskan buku-buku pelajarannya itu,..

Aku tersenyum-senyum sendiri melihat Derrick yang kebinggungan, sebelum ia keluar kamar, pasti mau mandi dan berganti pakaian, benar saja ia kembali sudah dengan pakaian sekolahnya dan mengambil tasnya sebelum keluar dari kamar, Huugh dia kelupaan sesuatu hari ini,.. Duk..dukk…duk bunyi langkah suara kaki yang bergesa-gesa menuju kamar ini, Derrick kembali ke kamar, mengambilku dari dalam lemari, mencium-ku , duh senangnya,..

” Selamat pagi Jelly, aku pergi dulu ya,.. ” ia kembali menaruhku di lemari hias itu dan keluar dari kamarnya,..

Aku diam memandang langit terang itu,.. sementara tak lama Mama Derrick masuk ke dalam kamar dan terbengong melihat semuanya sudah rapih, ya donk aku baru saja merapikan tempat tidur Derrick tadi,..

Mamanya itu tersenyum sebelum kemudian keluar, pasti ia senang karena kamar Derrick rapi, siapa dulu yang rapihin,.. hehehe

Aku lebih banyak diam, rasanya tiapa kau menjadi manusia tubuh-ku menjadi letih, jadi lebih baik aku diam dalam keadaan ini dan menunggu Derrick pulang, sambil menghitung awan dilangit dan gerakan detik jarum jam di dinding depan-ku itu,.. menunggu sebelum kemudian aku kembali berubah menjadi manusia,.. sudah jam 3 sebentar lagi Derrick pasti pulang,..

Aku melangkah menuju jendela kamar itu, berdiri sambil melirik kearah jalan, menunggu sampai akhirnya yang kutunggu itu muncul, perlahan kulihat perut tambun Derrick, ia berjalan sendirian sambil memegang perutnya yang lapar,.. dan menyeka keringatnya yang bercucuran, pasti panas diluar sana,.. aku ikut menyeka keringatnya itu, tapi belum berani melakukannya,..

” Uuupppssss,.. ” Aku terkaget saat Derrick seolah melirik ke arah-ku sebelum kemudian Derrick berlari masuk,. Duh jangan-jangan dia melihat-ku,.. gimana ini ???!!!!

Aku langsung berlari kearah lemari display-ku merubah diri-ku dalam bentuk boneka lagi dan duduk diam di sini, sementara perlahan kudengar suara langkah kaki Derrick yang masuk dalam kamar ini,.. Duh gimana nich,… jantung-ku berdebar kencang saking takutnya,..

” Kayaknya tadi ada orang,.. ” Derrick benggong-benggong di tengah kamarnya,.. sambil memperhatikan ruangan kamarnya yang lebih rapi dari biasanya,.. ia geleng-geleng sendiri sebelum kemudian melirik kearah-ku,..

” Aku udah pulang nich Jelly,.. sepi ya sendirian.. ” Tanya-nya,..

Ingin rasanya mengganguk, tapi bisa-bisa Derrick kaget dan membuang-ku nanti, jadi kuurungkan niat-ku itu, pelan ia kembali menaruhku di lemari-ku dan menganti pakaiannya,.. seperti biasa asal saja ia melempar pakaiannya itu, sambil mengganti bajunya dengan kaus rumah,..

Sebelum kemudian ia keluar dari kamarnya, membawa makananya masuk, sambil makan ia menonton acara TV dan membaca komik-komiknya,..

Jam 4 ritual biasa, ia mulai membuka bukunya menggeletakanya di atas meja belajar dan sedikit menggerjakan tugas rumahnya,.. aku menatapnya dari tempat-ku, melihat Derrick yang sedang pura-pura belajar, sebelum bangun dari tempatnya itu mengambil-ku dan mengajak-ku mandi bersama,..

Seperti biasa saja,.. Mamanya datang membawakan buah untuknya,.. sebelum kemudian jam 8 ia keluar dari kamar untuk makan malam, saat itu kusempatkan untuk merapikan kamarnya, karena biasanya mamanya ikut masuk ke dalam kamarnya untuk merapikan kamar Derrick sambil memarahinya karena tak pernah merapikan kamarnya itu,..

Derrick kembali dengan makanan kecil di tangannya,.. ia melirik binggung sebelum kemudian kembali dalam kegiataan rutinnya,..sukurlah ia tak curiga dengan semua hasil kerja-ku itu,.. aku juga bukan ingin membanggakan diri karena telah membantunya,.. semuanya tulus dari lubuk hati-ku yang terdalam,..

Derrick sudah terlelap dalam tidurnya sekarang, aku menunggu sebentar sebelum kemudian kembali dalam wujud manusia-ku merapikan kamarnya sudah kembali berantakan, dan sekarang tengah duduk di depan meja belajarnya,.. aku mulai berfikir menggerjakan tugas rumahnya itu, baru sekarang aku tahu kenapa Derrick benci matematika,.. T.T

” Si…siiii apa kamuuuuu… ” sebuah suara membuat-ku panic dan berbalik kebelakang,..

Derrick mengenggam bantal gulingnya dan terlihat ketakutan, sama dengan-ku aku binggung harus apa sekarang,..

” A..aku aku Jelly,.. ” kata-ku pelan,..

” Je..jelly ?? ” Tanya-nya ia melirik ke lemari display-ku dan melihat tempatku biasa duduk kosong,..

” Kamu beneran Jelly ?? ” Derrick kembali bertanya, kali ini ia sudah mulai berani mendekat,..

Aku menggaguk sambil berusaha tersenyum ramah,..

” Beneran ?? ” tanya-nya sambil menyentuh tubuh-ku, ia memastikan apa benar aku manusia,..

” Jadi kamu yang bantu aku bikin PR dan membersihkan kamar-ku ?? ” Tanya-nya…

Aku mengganguk lagi,.. ia melihat PR-nya yang telah selesai aku kerjakan,..

” Thanx ya Jelly, tapi koq kamu bisa jadi manusia ?? ” Tanya-nya, aku menggeleng karena aku pun sama tak mengertinya dengan dia,.

” Aku cuma mau menolong kamu Derrick, apa saja, karena kamu sudah begitu baik sama aku ” kataku

” Makasih ya,.. coba kamu kesini,.. ” katanya,.. aku menuruti perkataanya itu, duduk di sampingnya tepat disebelah kamarnya,..

Kami berbincang banyak hal, sampai akhirnya aku bertanya sesuatu yang selama ini membuat-ku penasaran,..

” Sebenarnya kamu tuch ngapain aja sich kalau lagi pakai selimut, koq kayaknya aneh banget ?? ” tanya-ku malu-malu,..

” Hah ?? itu ?? Kamu liat juga ?? ” Ia geleng-geleng kepala,.. ” kamu mau tahu ?? “

Aku mengganguk,.. ” Kalau boleh,..”

” Coba sini ” ia tersenyum sambil meminta-ku untuk mendekatinya lebih dekat lagi,..

Aku mendekatinya,.. perlahan ia menurunkan celananya,.. aku reflek menutup mata-ku padahal ini kan sudah biasa kulihat,..

Benar saja ada sesuatu yang berbeda, aku jarang sekali melihat kemaluannya itu berdiri seperti itu,..

” Koq begitu ?? ” tanya-ku tanpa sadar,..

” Nah kamu mau tau kan,.. coba kamu pegang ,.. ” katanya,.. aku menggeleng ragu

#####

Perlahan Derrick mengarahkan tangan-ku ke batang kemaluannya itu,. Tangan-ku bergetar ragu,..

” Gak papa koq,.. ” Katanya,..

Wajah-ku rasanya terbakar meski perlahan aku menyentuh batang kemaluannya itu terasa hangat di telapak tangan-ku itu, ukurannya mungkin 4 kali kepalan tangan-ku,..

” Nah begitu,.. sekarang pelan-pelang gerakin tangan kamu,.. ” Aku menggeleng, ada sedikit rasa malu yang kurasakan,..
” Katanya kamu mau bantuin aku,.. ” bisik Derrick, aku mengganguk menatap mata Derrick yang terlihat sedikit kecewa,..

” Iya dech ” kata-ku pelan, perlahan aku mulai menggerakan tangan-ku di batang kemaluannya itu,.. sementara tubuh Derrick sedikit gemetar-gemetar, entah kenapa..

” Pelan-pelan tambah cepet ya,.. ” Kata Derrick, aku mengganguk sambil mulai mempercepat tangan-ku itu,..

” Nah tangan kamu yang satunya mana .. ” Tanya Derrick,..

Aku menggangkat tangan kiri-ku ke wajahnya,.. ” Ini kata-ku,.. “
” Nah kesinikan,.. ” Kata Derrick, membimbing tangan-ku kearah kemaluannya lagi, tapi bukan ke batang kemaluannya tapi ke kantung kemaluannya yang ada di bawah batang kemaluannya itu,..

” Pelan-pelan kamu pijat ya,.. ” katanya,.. Aku menggeleng dan langsung menarik tangan-ku saat merasakan keanehan di benda yang tadi kusentuh itu,.. berkeriput tapi juga keras dengan sepasang bola di dalam kantungnya itu, lebih aneh dari batang kemaluan yang keras dan seperti berurat ini, terlebih sekali-sekali batang kemaluannya itu seperti bergetar-getar..

” Ayo donk Jelly, gak papa koq,.. ” Derrick berusaha meyakinkan-ku,.. aku kembali menaruh tangan-ku di kantung kemaluannya itu, pelan-pelan aku menyentuh kantung kemaluannya itu, berkeriput dengan bulu-bulu halus di batang kemaluannya, pelan aku melakukan apa yang diminta oleh Derrick tadi, memijatnya perlahan,..

Kini Derrick hanya tiduran di atas ranjangnya, matanya kadang terpejam sambil mengeluarkan desahan kecil dari mulutnya,.. aku terus melakukan apa yang dimintanya itu, sementara perlahan makin lama rasanya batang kemaluannya itu makin keras dalam genggaman-ku,..

” Terus Jelly, lagi,.. ” Katanya sebelum kemudian kembali mendesah, aku mengikuti permintaanya itu, sebelum kemudian Derrick mendesah panjang tangannya menangkap pinggulku menarik sedikit tubuh-ku dan memeluknya,..

Tubuh Derrick gemetaran sementara perlahan kemaluannya itu kian gemetar dan keras,.. pelukan Derrick semakin erat, ia mendesah panjang, aku binggung harus apa, takut apa yang kulakukan itu menyakitinya, tapi Derrick malah meminta-ku terus menggerakan tangan-ku itu dikemaluannya sambil memeluk-ku erat-erat,..

Aku panic saat melihat kemaluannya itu menyemburkan sesuatu yang berwarna putih pekat,.. tubuh Derrick pun menegang sesaat sebelum kemudian melemas kembali, cairan pekat itu menempel di tangan-ku aku binggung harus melakukan apa, aku menatap Derrick sementara aku masih belum melepaskan tangan-ku dari kemaluan Derrick yang mulai lemas,..

” Sini tangan kamu,.. ” Derrick mengambil tissue dan melap sepasang tangan-ku, rasanya hangat sekali saat Derrick membersihkan tangan-ku dari cairan aneh berwarna putih kental itu,..

” Makasih ya Jelly, ” Aku tersenyum manis menatap wajah Derrick,.. perlahan Derrick mendekatkan wajahnya ke wajah-ku aku binggung harus bagaimana sekarang, wajah Derrick terlalu dekat dengan wajah-ku sekarang,.. perlahan aku berusaha mengalihkan wajah-ku, aku malu merasakan mata kami yang saling bertatapan seperti ini,..

Tiba-tiba Derrick mencium-ku, aku merasakan bibirnya menyentuh bibir-ku menciumku perlahan,.. seperti ada sesuatu yang ditekan-nya masuk dalam mulut-ku, mau tak maua kau kembali menatap Derrick, bertanya apa yang ia lakukan dengan tatapan mata-ku, ia meminta-ku menutup mata-ku, aku mengikuti apa yang diinginkannya itu, perlahan kututup mata-ku, kubiarkan sesuatu itu masuk dalam bibir-ku, lidahnya, kurasakan lidah basah yang hangat itu menyentuh lidah-ku, aku mengikuti kemauannya yang membuat lidah kami saling bertautan, menyentuh satu sama lain,..

Tangan kanan-ku mencengkram erat tangan Derrick, menutup mata-ku rapat-rapat sambil membiarkan Derrick mencium-ku,.. sementara kurasakan tangan Derrick yang lain memeluk-ku sementara kami masih berciuman panjang, pelan meski masih ada rasa malu yang membakar wajah-ku aku mulai menikmati ciuman-nya itu,..

Aku terkejut merasakan tangannya meraih seleting dipunggung-ku dan menurunkannya,.. aku mendorong tubuh Derrick kaget,..
” Mau apa ?? ” Tanya-ku, entah kenapa aku merasa semua ini salah,..

Derrick memeluk-ku sambil membisik, aku tak berusaha melepaskan diri,.. ” Gak papa koq,.. ya, percaya kan sama aku Jelly,.. ” Tanya-nya sambil mencium bibir-ku lagi,.. aku mengganguk, sementara jemari Derrick kembali menurunkan sleting-ku, ia masih mencium-ku, jantung-ku berdebar kencang sementara perlahan aku merasakan tangan Derrick yang lain mulai menurunkan pakaian-ku itu,..

Aku merasakan semacam rasa malu yang belum pernah kurasakan sebelumnya, padahal hal semacam ini sudah biasa dilakukannya tiap hari ia memandikan-ku, ya setiap hari tapi entah kenapa terasa sedikit berbeda sekarang, hanya terasa ada yang salah dengan semua ini,.. tapi aku tak ingin mengecewakan Derrick kalau menolak keinginannya ini,..

Sementara kurasakan hembusan dingin dari punggungku,.. perlahan ciuman Derrick turun dari bibir-ku ke dagu-ku sebelum ia mulai menciumi leher-ku, tubuh-ku merinding seketika, perlahan juga kurasakan sepasang tangannya menyentuh tubuh-ku,.. tepat di sepasang buah dada-ku yang bulat,.. jemari-jemarinya bergerak di dada-ku itu,. Rasanya aku ingin menghindar namun aku tak ingin mengecewakan Derrick…

Ciumannya itu bukan sekedar bibir yang menyentuh tubuh-ku tapi juga lidahnya yang menyentuh seluruh tubuh-ku, aku merasa ingin mendesah tanpa sadar,..dan aku melakukannya aku mendesah karena menahan rasa geli disekujur tubuh-ku dan juga ada sedikit rasa lain yang timbul dari dalam tubuh-ku, apalagi saat jemarinya itu bergerak-gerak di dada-ku,..

Ia mulai mencium pelan dada-ku, aku menahan geli yang teramat sangat, sementara jemarinya yang lain mencubit pelan pucuk dada-ku itu, membuat aku kian mendesah, tapi ada sesuatu yang lain yang kurasakan, aku merasakan bagian bawah tubuh-ku mulai basah, entah kenapa,.. aku terkaget merasakan rasa hangat dibawah sana itu,..

Lidah Derrick bergerak-gerak menyentuh pucuk dada-ku itu, perlahan ia seperti menyedot di dada-ku sementara di bagian dada-ku yang lain tangannya meremas-remas bagian itu,.. perlahan tubuh-ku kian merinding dibuatnya,.. aku menaruh kepala-ku di pundak Derrick, sementara tangannya meremas-remas dada-ku ataupun mulutnya yang tengah menyedot-nyedot bagian dada-ku itu,.. aku mengintip lihat,.. ada sedikit bekas-bekas merah di dada-ku akibat hisapannya tadi,..

Tangan Derrick yang lain menyentuh perut-ku sebelum menyingkap rok-ku menyusup dalam celana dalam-ku dan menyentuh bagian tubuh-ku yang terasa hangat dan basah tadi, aku merasakan jemarinya itu menyentuh tubuh-ku, rasanya geli, namun entah kenapa jantung-ku berdebar kencang,.. aku tahu ini salah,..

Tanpa sadar aku mendorong tubuh Derrick,.

Aku menutup tubuh-ku dengan sepasang tangan-ku, menatap Derrick dengan tatapan menolak halus,.. sambil menggelengkan kepala-ku, aku menatapnya perlahan,..

Derrick mendekati tubuh-ku, tangannya menempel dipundak-ku,.. ia tersenyum,..

” Yawda gapapa,.. sekarang tidur yuk,.. ” Katanya sambil merapikan baju-ku, memasang risleting-ku lagi, dan membantu-ku berbaring di kasurnya, kasurnya memang cukup besar untuk kami berdua,.. perlahan ia menarik selimut dan memeluk-ku, perlahan kami tertidur,..

Aku masih sempat merenung sesaat, aku tak tahu apa yang baru saja terjadi, aku ingin membahagiakan Derrick, tapi entah kenapa aku merasa begitu malu dan takut melakukan itu semua,.. aku menatap cahaya lampu temaram di sudut kamar tidur Derrick, sebuah lampu hias berbentuk kotak, dengan sebuah daun di setiap sisinya,.. menyala redup sementara perlahan aku kembali menjadi sebuah boneka,..

Soleil de Francais [ Matahari dari Perancis ]

Perancis,. 1783

Aku berlari menyelusuri lorong-lorong istana yang belum terlalu kuhapal, ya ini baru hari ketiga aku memasuki istana ini. Aku berbelok di persimpangan, menuruni tangga menuju ruangan utama, sementara pelayan-ku tampak kewalahan mengikuti-ku dari belakang.. kulihat di ruangan utama para pekerja yang sedang begitu sibuk melakukan pekerjaanya, keluar masuk dari ruangan untuk mengangkat tempat-tempat lilin, bunga-bunga Matahari yang begitu indah dan juga meja-meja besar,..

Hari ini ada pesta, sebuah pesta besar untuk-ku, jantungku berdegup kencang, memperhatikan bagaimana pekerja-pekerja agar mereka bekerja dengan serius, aku ingin untuk hari ini saja, semuanya berjalan dengan sempurna, makanan, dekorasi ruangan… semuanya, Parfait .. aku berusaha memperhatikan dengan detail agar semuanya menjadi sempurna , perlahan sedikit demi sedikit ruangan itu mulai bertambah indah,..dengan lilin-lilin yang siap dinyalakan, bunga-bunga Matahari yang begitu indah,.. ahh aku benar-benar menyukai ruangan ini….

Semua begitu sempurna,..
Ayahku Charles Alexandre de Calonne baru saja diangkat menjadi Pengawas Umum Keuangan Kerajaan, Istana ini adalah hadiah pelantikan dari Raja Louis XVI, tiga hari yang lalu kami baru memasuki tempat ini dan bukan kah ini semua terlihat begitu sempurna ??,.. sempurna buatku…

Karier Ayah yang tiba-tiba menanjak hebat, menggantikan Turgot dan Jaques Necker,.. Aku tahu pekerjaannya tidak akan mudah, dan lagi dari apa yang aku dengar kondisi keuangan kerajaan tengah menipis, namun bukannya itu begitu indah, aku,. Aku bisa merayakan ulangtahun-ku yang ke17 di sebuah istana yang begitu indah ini,.. ahhh,.. indah sekali

” Nona, kita harus segera bersiap-siap,.. ” Bisik salah satu pelayan-ku,..
” Ah,.. baiklah,.. tapi bukannya ini semua benar-benar indah ?? ” Tanya-ku, aku begitu tegang, takut semua yang begitu sempurna ini akan rusak karena kebodohan-ku,.
” Indah nona, benar-benar Indah sekali,.. “
Aku mengganguk, senyuman-ku mengembang,.. perlahan aku keluar dari ruangan utama itu sementara serombongan pemusik memasuki ruangan itu,..

Aku berjalan perlahan,.. aku tegang, memikirkan pestaku nanti, sementara pelayan-ku tadi masih mengikuti-ku dari belakang,..
” Semua akan baik-baik saja kan ?? ” Tanya-ku,..
” Ya nona, pasti,.. ” Kata pelayan-ku, berusaha membuang semua kekhawatiran-ku,..
” Semoga,.. ” Jawab-ku pelan,..

Aku sampai diruangan-ku di lantai 2, aku memasuki kamar-ku,..
” Antonie,.. ” Aku terkejut mendapati teman lama-ku disana,..
” Ata,.. cantik sekali, kecantikan kamu gak pernah berkurang sedikitpun, malah makin bertambah cantik-cantik dan semakin cantik… “
Aku merona mendengar pujiannya,.. aku tersenyum,..
” Terima kasih,.. jadi kamu yang mempersiapkan semua dekorasi ini ?? pasti Papa yang meminta kan,.. ” Tanya-ku, aku duduk di depan meja rias,..
” Untuk teman-ku yang cantik ini, tanpa diminta pun aku pasti akan menawarkan diri,.. kamu suka ?? ” tanya Antonie,..
Aku mengganguk,.. ” Bagus sekali Antonie, bagus sekali,.. terima kasih ya,.. ” Aku mencium pipi Antonie,..
” Dengan segala hormat tuan putri,.. “
” Hey,. Jangan panggil aku tuan putri, kita kan sudah berteman lama,.. ” Gerutu-ku,..
” Ya ya Ata, maaf aku lupa,.. hehehe,.. Ok kita mulai sekarang ya,.. ” Tanya Antonie,.

Aku mengganguk, sambil memperhatikan gaun berwarna kuning lemon yang dibawanya,.. indah sekali gaun itu,.. aku yakin siapapun yang memakainya pasti akan terlihat cantik,..Antonie ?? hmm dia teman-ku dari kecil, kami berbeda 8 tahun dia sudah seperti seorang kakak buat-ku, sekarang dia adalah salah satu desainer dan penata rias terbaik di Perancis, dan tentu saja aku begitu bahagia dia mau menyempatkan waktu untuk merias-ku ditengah kesibukannya,..

Entah berapa jam berlalu, tak terasa sementara kami hampir menyelesaikan riasan-ku, sambil bercanda-canda dengan Antonie, Ayah tiba-tiba mengagetkan-ku,..

” Ata, anak-ku yang cantik,.. ” Ia tersenyum sambil menatap pantulan wajah-ku dicermin,..
” Papa,.. ” Aku tersenyum,.sambil melambaikan tangan memintanya mendekat
” Tuan Calonne,.. ” Antonie membungkuk-kan tubuhnya, seperti selayaknya rakyat biasa pada anggota keluarga kerajaan,..
” Antonie, tidak ada formalitas diantara kita,.. lagi pula aku berhutang budi pada-mu, kamu menyempatkan diri untuk datang kesini ditengah kesibukan-mu di Monaco,.. ” Kata Ayah-ku,..
” Kehormatan untuk saya Tuan,.. “
Ayah-ku tersenyum menjawab, ia memeluk pundak-ku dari belakang,..
” Ata, kamu cantik sekali, seperti Mama dulu,.. ” Ia tersenyum menatap-ku,..
” Terima kasih Papa,. “
” Ya, dan selamat ulang tahun sayang,.. ” Ia mencium kening-ku,..
Aku tersenyum membalas,..

” Ayo bersiap-siaplah kalian,.. oh ya, Raja akan datang,.. ” Papa-ku tersenyum sambil menutup pintu kamar-ku,..
” Wow,. Raja menyempatkan datang di pesta ulangtahun-mu Ata,.. ” Antonie tersenyum,..
Sungguh sebuah kehormatan, Raja Louis menyempatkan datang kepesta-ku, meski aku memang tak terlalu menyukainya, tapi tetap saja ini adalah sebuah kehormatan yang begitu besar untuk keluarga kami,..
” Ya-ya aku tahu Antonie,.. ” Aku kian bertambah tegang,..
” Nah kamu harus tampil sesempurna mungkin OK,.. ” Antonie merapikan riasan-ku,.

#####

Entah berapa pasang mata yang menatap-ku saat aku perlahan menuruni tangga menuju ruangan utama,.. Suara tepukan tangan, dan ucapan selamat dari para tamu, banyak yang kukenal, tapi lebih banyak lagi yang tak kukenal,. Aku hanya bisa tersenyum, sambil mengucapkan terima kasih, hadiah-hadiah yang begitu indah yang diberikan oleh mereka,..

Antonie mengiringi-ku hingga ketengah ruangan,.. disana berdiri Ayah-ku yang memberikan ucapan terima kasih atas kedatangan para rekanan bisnisnya,.. sedangkan aku lebih sibuk melambai kearah teman-teman-ku yang ada dipojok dekat makanan,.. dasar mereka itu,..

Pesta itu berjalan begitu meriah, Antonie benar-benar tahu keinginan-ku, saat ruangan yang agak remang dengan lilin-lilin yang memberikan kesan romantis untuk pesta-ku ini,.. Rasanya bahagia sekali bisa merasakan kesempatan ini dalam hidup-ku,..

Tiba-tiba musik yang tengah dimainkan itu berhenti,.. mata para tamu tertuju ke pintu masuk, sama seperti saat aku masuk tadi, sesosok pria tambun memasuki ruangan itu, tak terlalu tinggi dan juga tidak tampan, namun pakaian yang dikenakannya begitu mewah, semua orang menundukan kepalanya,.. termasuk ayah-ku dan aku,..

Pria ini adalah Yang Mulia Raja Louis ke XVI, sungguh kedatangannya adalah sebuah kehormatan besar untuk keluarga kami,. Menandakan kami adalah anggota kerajaan yang dihormati,.. namun mata para lelaki lain menatap ke sosok di belakang Raja Louis seorang Putri yang begitu cantik,..

Dengan Gaun-nya yang berwarna merahnya, rambut pirangnya yang di ikal dan digulung keatas,. Mengengam topeng yang sengaja ia biarkan tak menutup wajahnya, memperlihatkan kecantikannya yang begitu sempurna ia tersenyum pada para tamu yang terperangah oleh kecantikannya itu, ia lah permaisuri Perancis, Sang Mawar dari Versace.. Ratu Marie Antoinette Putri Kerajaan Austria

” Yang Mulia,.. ” Ayah-ku menyambut Raja Louis tepat di tengah ruangan,..
” Ya ya Charles,.. yang mana putri-mu,.. aku mau mengucapkan selamat untuknya,.. “
” Ata, kemari,. Yang Mulia memanggilmu,.. ” Ayah-ku langsung memanggilku,.. aku pun mendekati mereka bertiga,.. aku membungkukan tubuh-ku sambil menarik sedikit Rok-ku, sekedar memberikan salam hormat pada Raja Louis dan Ratu Antoinette,..

” Terima kasih atas kedatangannya baginda Raja dan Ratu,.. “
” Ya ya,.. ini ada sedikit hadiah untuk-mu, dan Charles, aku tak pernah tahu kamu memiliki seorang Putri yang begitu cantik, luar biasa,.. rambut coklatnya begitu indah,.. ” Raja Louis memuji-ku, entah sekedar pujian atau apa,..
” Terima kasih yang mulia,.. “
Sementara Raja Louis memancarkan senyum yang begitu akrab pada seluruh tamu, Ratu disebelahnya terlihat begitu angkuh, ia lebih sering menutupi wajah cantiknya dengan topeng yang dibawanya itu,..

” Ya ya,.. ayo silahkan dilanjutkan lagi pestanya,.. ” Kata Raja, musik pun kembali bermain dan orang-orang kembali berdansa sambil menyantap hidangan yang telah tersedia,. Aku kembali ke dua teman-ku, Beatrice Sieyekes putri dari Abbe Sieyekes, seorang Romo dan seorang Politikus terkemuka,,. Dan Jean Bailly,.. putri dari Jean-Sylvain Bailly,..

” Hey, bagaimana Pesta-ku ?? Apa semua terlihat sempurna,.. aku takut kalau sampai terjadi segala sesuatu yang bodoh di pesta ini dan akan merusak segalanya,..
” Hey, tenang lah, semuanya berjalan begitu sempurna, tampaknya teman-mu yang gay itu benar-benar detail dalam segala sesuatunya,.. ” tawa Beatrice,..
” Hey, dia itu baik loh,.. jangan menghina Antonie di depan-ku,.. ” Agak kesal juga mendengar ada yang menjelek-jelekan Antonie, walaupun aku tahu itu sekedar bercanda…
” Yeah, aku tahu, dan cuma bercanda koq cantik,.. ” Beatrice melihat wajahku yang mengkerut,..

” Duh, tampan sekali sich,.. ” Jean tiba-tiba bergumam sendiri,.
” Hah, yang mana yang mana ?? ” Beatrice langsung menyambar mendengar kata tampan,..
” Itu yang memainkan piano itu,.. ” Tunjuk Jean,..
Dan memang benar, Pria itu begitu tampan, senyuman-nya yang indah dengan rambutnya yang pirang, ia mungkin 2 tahun diatas-ku, tapi terlihat begitu dewasa dan..dan membuat jantungku berdebar begitu kencang terlebih saat mata kami bertemu,.. ia tersenyum dan sepertinya senyuman itu untuk-ku,..

Entah berapa kali mata kami saling bertemu, saling melempar senyuman dan entah kenapa, wajahnya itu selalu terbayang, padahal kami masih berada di satu ruangan yang sama,.. ada beberapa tamu yang mengajak-ku berdansa mulai dari anak-anak pejabat kerajaan, sampai dengan para pejabat itu sendiri,. Mau tak mau aku menemani mereka sesaat dan pada saat-saat seperti itu aku dapat merasakan dengan jelas sepasang mata pemain piano itu mengawasi-ku,..

Malam kian larut, pesta masih berjalan dengan begitu meriah, aku merasakan pegal diseluruh tubuhku, namun aku masih memaksakan diri untuk berada di ruangan ini, aku ingin bersama pemain piano itu lebih lama, entah kenapa, mungkin ini yang namanya jatuh cinta,..

” Ata, kamu harus beristirahat,.. ini sudah malam, biarkan saja pesta ini berjalan dengan sendirinya,.. semua akan selesai besok pagi,.. Biar Papa yang menemani mereka,.. ” Bisik Papa-ku,
Aku hanya mengganguk tak lagi berani membantah, apalagi Beatrice dan Jean juga telah terlihat begitu letih, aku pun meninggalkan ruangan itu bersama mereka dan seorang pelayan-ku, kembali ke kamar-ku di lantai 2,..

Sepanjang perjalanan masih saja Beatrice dan Jean membicarakan para pemuda yang datang di pesta ulang tahun-ku itu, terutama si pemain piano tampan itu,.. sambil tertawa-tawa kecil, kami bertiga masuk ke kamar-ku,.. memang kami sudah sepakat untuk menginap di tempat-ku hari ini,.

Dan benar saja kami masih sibuk membicarakan para tamu di pesta tadi, entah berapa lama hingga satu persatu dari kami mulai tertidur,..

#####

Pagi hari yang cerah, aku terbangun oleh kicauan burung yang terdengar di jendela kamar-ku, aku membuka jendela kamar-ku, 2 sahabat-ku masih tertidur terbaring di ranjang-ku, sebenarnya aku masih lelah, tapi rasanya hati-ku begitu bahagia,..Mungkin karena sekarang aku sudah dewasa,.. rasanya pagi ini begitu berbeda seperti terlahir kembali,..

Aku berlari di sepanjang lorong istana-ku,.. sambil tersenyum-senyum sendiri, dan Ouchhhh aku menabrak seseorang,..

” Maaf,.. ” kata-ku sambil menahan rasa sakit di bokong-ku,.
” Maaf , Maaf aku tidak melihat,.. ” Kata suara itu, seorang lelaki dan langsung menaruh benda besar yang dibawanya tadi,
” Maaf, aku yang tidak melihat, ” Kata-ku, karena memang aku yang salah,..

” Tuan Putri ?? ” Tanya-nya,.. sambil berusaha membangunkan-ku,..
Wajah-ku langsung memerah, ya ampun ini pemain piano yang kemarin, kemarin aku sampai tak bisa melepaskan pandangan-ku darinya, dan sekarang ia berdiri di depan-ku dan berusaha membantu-ku bangun, ya ampun jantung-ku berdegup begitu kencang,..

” Maafkan saya Tuan Putri,.. ” Ia berusaha membangunkan-ku,.. aku pun perlahan bangun dengan bantuannya itu,..
” Tidak, aku yang salah, sembarangan berlari seperti itu,.. ” aku merasa tak enak hati sekali, apalagi kalau ada yang rusak,..
” Haha, Tidak,.. Maafkan saya Tuan Putri, dan maaf kami harus segera berbenah,.. “
” Hmm, Ya kenapa tidak,.. ” Rasanya kesal melihat tingkahnya yang begitu kaku, seolah tak berani menatap-ku,..
” Hmm Tuan Putri, tidak ada yang terluka kan?? ” Tanya-nya lagi,..
Aku menggeleng sambil tersenyum, ia tersenyum membalas sambil mulai mengangkat Benda yang tadi dibawanya,..

Namun tiba-tiba ia berpaling,..
” Tuan Putri, Maaf bila saya lancang,.. Boleh saya mencium tangan anda ?? ” Tanya-nya tiba-tiba,..
Aku terdiam, ternyata ia berani juga dan, dan aku tak mungkin menolaknya,..
Aku menganguk sambil membuang wajah-ku malu, takut ia melihat wajah-ku yang mulai memerah malu,..

” Sebagai permohonan maaf saya,.. ” Perlahan ia mencium tangan-ku,.” Terima Kasih Tuan Putri Ata “
Ia Tersenyum sambil mengangkat barang bawaannya itu,..

” Hey, boleh aku tahu nama-mu,. ” Aku tak ingin menyesal bila sampai lupa menanyakannya,..

” Tentu tuan putri,.. Marquis de Lafayette “

#####

Marquis de Lafayette nama pemuda itu, entah ayah tahu atau tidak, hubungan kami mulai berjalan, tak banyak memank frekuensi pertemuan kami, dan ta pernah dekat dengan rumah kami,. Selalu dengan bantuan teman-teman-ku aku harus bersembunyi-sembunyi untuk dapat menemuinya,.. Namun kufikir semua cukup berjalan lancar , meski tak banyak yang tahu tentang itu semua,.. ia adalah seorang Pelajar, pemikirannya tentang perubahan pemerintahan sedikit banyak terus mempengaruhi jalan pikiran-ku,..

Bila dirunut ia masih memiliki hubungan kerajaan, meski hanya seorang bangsawan kecil dan tidak dianggap dalam daftar kerajaan saat ini, itulah yang membuat ia mengikuti rombongan pemusik, memanfaatkan bakatnya yang baik dalam bermain musik ia membiayai sendiri studinya,..

Tak banyak memang frekuensi kami bertemu,.. terlebih ada semacam hukum tak tertulis dimana para anggota keluarga Para pejabat dan bangsawan harus menghadiri pesta-pesta kerajaan, kian lama kian sering, dan dari Lafayette aku tahu berapa banyak penduduk di negeri ini yang tidak mendapatkan makanan hari itu,..

Tetapi aturan kerajaan tetaplah aturan kerajaan, untuk menjaga kehormatan keluarga-ku, adalah penting untuk selalu dekat dengan anggota kerajaan itu sendiri,. Kian lama kian banyak frekuensi pertemuan-ku dengan

#####

” Dan itu semua tidak mungkin dilakukan yang mulia, tidak mungkin ,.. cara terbaik adalah menyeragamkan pajak, para bangsawan seperti kami pun harus membayar pajak, berapa banyak lahan kerajaan yang tidak menghasilkan pemasukan untuk kerajaan, dan tidak mungkin bila rakyat dibebani pajak yang lebih tinggi lagi dalam keadaan ekonomi yang buruk seperti sekarang “

Suasana rapat diruangan itu terlihat begitu panas,.. para pejabat teras kerajaan dan anggota parlementer, sementara Raja Louis tampak binggung dengan apa yang harus ia putuskan,..

” Kau benar Charles,. Kau benar,… “

” Tapi itu tidak mungkin dilakukan Tuan-ku yang terhormat, kerajaan memiliki hak penuh pada tanah-tanah yang dipinjamkan pada rakyat, apakah anda harus membayar untuk sesuatu yang memang milik anda ” Salah satu anggota dewan menyela pemikiran raja,..

” Tapi membebani rakyat lebih dari ini sama saja dengan membunuh rakyat “

” Dan tak mungkin kita tidak menuntut rakyat melakukan pembelaan Negara kan, mereka harus berkorban untuk Negara ini,.. ” Anggota Parlemen itu tak mau mengalah

” Dan apabila anda merasa Negara ini adalah miliki kita, para kaum bangsawan, apa yang kita lakukan demi menyelamatkan negeri ini,.. “

” Cukup-cukup, kita lanjutkan sidang ini lusa,.. ” Raja Louis menghentikan sidang dan langsung meninggalkan ruangan itu,..

” Baik yang mulia,.. ” Para peserta sidang itu menundukan kepala, sementara raja keluar dari ruang sidang itu,.. Charles de Callone merapikan berkas yang dibawanya, sementara ia sadar, apa yang ia lakukan sama saja memusuhi parlement, namun dalam hematnya hanya ini yang bisa ia pikirkan untuk menyelamatkan negara ini,.

” Kita harus melenyapkannya,.. ” Bisik salah satu anggota parlement,..
” Aku tahu, ia bisa merusak sesuatu yang sudah turun temurun,.. Sama saja ia menyuruh kita sederajat sama dengan para rakyat itu,.. “
” Ya ide yang bodoh, bodoh sekali ” celetuk yang lainnya,..
” Tapi bagaimana cara-nya, tidak mudah menjatuhkan orang sepertinya,.. “
Mereka tampak berfikir keras, sebelum seseorang menyela pembicaraan mereka,..

” Mudah, mudah sekali ” seseorang menyela pembicaraan itu,..
Para anggota dewan yang tambun itu berbalik, menatap orang yang berbicara itu,..
” Comte De’Artois,.. apa yang bisa dilakukan penjahat seperti-mu,.. ” Ejek salah satu dari mereka yang disambut gelak tawa dari yang lainnya,..
” Sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang tambun seperti kalian,.. “
” Hahahaha, apa yang bisa kau lakukan,.. “
” Mudah aku tahu caranya, dan kalian tinggal duduk diam sambil menghitung nyamuk dirumah kalian,.. “

Lelaki itu Comte De’ Artois sepupu jauh dari Permaisuri sendiri, dia sendiri bukanlah anggota kerajaan, namun ia bisa berada disini atas desakan Permaisuri, dan lagi ada kabar selentingan yang mengatakan beberapa dakwaan hokum pada dirinya,..

Ia mengambil topinya sambil berjalan santai meninggalkan tempat itu

#####

” Dan Anak kecil itu akan menghancur-kan kesenangan-mu,.. ” bisik Comte De’Artois,
Permasuri hanya mengganguk,
” Sekarang tidak hanya ada satu bunga,.. Mawar dari Versace bukan lagi satu-satunya di seluruh Perancis , Ada juga Ata sang Matahari Paris,.. ” berusaha memanasi Permaisuri
” Kau tahu harus apa ?? ” Tanya Ratu, ia terbujuk, terbujuk oleh segala kemarahan dan rasa irinya,..
Sepupunya itu mengganguk perlahan,..

” Baguslah,.. “,” Aku paling tidak suka ada yang bermain-main dengan-ku, “

Comte De’Artois hanya tersenyum, sementara ia membisiki Sang Ratu, merencanakan sesuatu yang buruk,..

#####

Jalan di kota itu terasa lebih gelap dari sebelumnya,..
Entah hanya perasaan-ku saja, atau memang ada yang aneh,.. perasaan-ku kian tak nyaman saat kusir-ku mengatakan ada yang mengikuti kami dibelakang, meski ia sendiri tak yakin,..

Aku baru pulang, setelah bertemu dengan Lafayette dan teman-teman pelajarnya, mendengar bagaimana rakyat begitu menderita dan marah, kelaparan berusaha mendirikan sebuah badan rakyat yang mampu melawan kekuasaan kerajaan,..

Lafayette berkata berulang kali, bahwa rakyat berada di belakang-ku, mereka mencintai keluarga De Callonee, Namun dalam keadaan seperti sekarang tetap saja ini semua terasa begitu menakutkan,..
Rakyat yang kian melarat, kelaparan, dan penuh kemarahan bisa saja menjadi brutal, buta dan menghalalkan segala cara untuk mengisi perut mereka dan keluarganya,.
Keamanan di kota ini kian lama kian terabaikan,..

Dan benar saja, semua ketakutan itu terjadi,. Orang-orang yang mengikuti kami tadi, mengejar kereta-ku dan menghentikan kereta, desir ketakutan merasuki-ku, sementara kusir kereta-ku tiba-tiba terjatuh dari bangku kusirnya,.. seseorang membuka paksa pintu kereta-ku,..

Orang itu menarik-ku,.. aku tak tahu dibawa kemana, sementara aku berusaha berteriak, yang lain menutup mata dan mulut-ku, aku tak dapat berteriak dengan sesuatu menganjal di mulut-ku,..
Entah kemana mereka membawa-ku, aku baru dilepaskan di sebuah gudang jerami, dua orang yang menakutkan berdiri di depan-ku, yang satu kekar dan mengerikan, dan yang satu kurus, tapi juga tak kalah menakutkan,.. senyumannya adalah senyuman licik yang begitu terkesan dari wajahnya,..

” Lepaskan aku,.. “Aku berusaha meronta,..
Namun jawaban yang keluar dari lelaki kurus itu hanya sebuah tawa dan ia berusaha merobek gaun yang kupakai,.. aku berusaha menghindar namun lelaki kekar itu mengejar-ku,.. ia menangkap tubuh-ku dari belakang, membuat aku tak lagi dapat menghindar sementara Pria yang kurus mendekati dan merobek gaun-ku bagian atas,..

Mereka tertawa seketika,..Tawa mereka yang seolah tak lagi memiliki hati, sementara aku berusaha menutupi tubuh-ku yang nyaris tanpa selembar kain pun, aku dipenuhi oleh rasa takut, sementara aku terus berusaha mengingat lelaki kurus yang berdiri di depan-ku ini, aku,… aku merasa mengenali wajah itu,.. tapi siapa??

Yang pasti mereka bukan lah rakyat biasa yang sekedar dipenuhi kemarahan pada kaum bangsawan, mereka adalah anggota kerajaan, tapi apa maksud semua ini aku benar-benar tak mengerti, namun aku tak dapat menemukan jawabannya, setidaknya untuk saat ini,.. seseorang menarik tubuh-ku,.. sepertinya ajudan dari lelaki kurus di depan-ku ini,..

Ia mengekang tangan-ku,.. hingga aku tak dapat lagi menutupi dada-ku dengan sisa pakaian yang masih tersisa di tubuh-ku, tangan lelaki kurus itu menyentuh dada-ku, tubuh-ku langsung merinding berusaha menolak,.. aku menatapnya tajam penuh kebencian, memakinya berulang kali, namun ia seolah tak perduli dan terus memainkan tangannya di dada-ku itu, ia meremas-remasnya perlahan, namun entah kenapa semua ini terasa begitu kasar dan menjijikan,..

Rasanya aku ingin meludahinya, terlebih mendengar bagaimana ia terus tertawa sambil berkata kotor,.. namun tiap kali aku sedikit bergerak penjaga di belakang-ku itu langsung mencengkram tangan-ku kuat-kuat dan itu menyakitkan,..

” Lepaskan, kamu tahu kan siapa aku !! ” Bentak-ku, terlebih berusaha menjaga kehormatan dan kegadisaan-ku,..
” Ya, tahu dan membuat semua ini menjadi lebih baik,.. dan aku tak akan segan untuk membunuh-mu, ” Matanya terlihat menyorot kejam, seolah yakin akan apa yang dikatakannya, dan juga mampu melakukan ancaman itu,..

Penjaga di belakang-ku itu ikut tertawa sambil ikut menciumi wajah-ku, aku berulang kali berusaha menghindari mereka, namun tetap saja mereka berhasil mendapatkan-ku, menciumi wajah-ku seolah aku adalah boneka mereka..

Lelaki kurus itu tersenyum dan tiba-tiba melepaskan celana-nya,.. penisnya yang sudah menegang dihadapan-ku, untuk pertama kalinya dalam hidup-ku aku melihat sebuah penis, penis seorang lelaki dewasa, panjang dan besar, aku menatap ngeri kepadanya,.. terlebih aku takut bila mereka sampai memperkosa-ku,..

” Jangan,.. Jangan,.. saya masih suci,.. lepaskan saya,.. ” Aku berusaha memelas, meminta belas kasihan mereka,..
” Ya, Putri Ata, saya cuma mau tahu, apakah seorang Gadis yang dijuluki Matahari dari Paris ini bisa memuaskan suaminya kelak,.. ” Mereka tertawa gelak,.. sementara wajah-ku merah padam dihina seperti itu oleh mereka,.. aku tak mengerti apa lagi yang dapat kulakukan untuk melepaskan diri-ku dari mereka sekarang,..

Tiba-tiba Penjaga itu memaksa-ku berjongkok, sementara penis lelaki kurus itu berdiri tegak tepat di depan wajah-ku,.. penisnya kurus namun panjang dengan sedikit urat-urat di sekitaran penisnya itu, perlahan penjaga itu memaksa-ku mendekatkan mulut-ku pada penis itu, sementara lelaki kurus itu menunggu-ku sambil berkacak pinggang,..

Aku terus berusaha melawan, namun tenaga-ku dengan mudah dikalahkan oleh penjaga itu,.. aku menutup mulut-ku rapat-rapat namun lelaki kurus itu menampar wajah-ku,..

” Buka !!! ” bentaknya,.. aku menuruti kemauannya, terlebih rasa sakit itu terasa begitu nyata hingga aku mulai memasukan penis itu dalam mulut-ku,.. bau,..itu yang pertama kali kurasakan,sementara kurasakan juga bagaimana penis itu terasa asin saat mengena di lidah-ku,.. aku tak banyak lagi melawan, bahkan menahan rasa mual ini saja sudah terasa begitu menjijikan buat-ku,..

Perlahan dengan tuntunan si Penjaga kepala-ku bergerak maju mundur, terpaksa aku menggerakan lidah-ku menyentuh penis itu,.. penis yangterada begitu keras dan berdenyut-denyut ditambah lagi penis itu cukup panjang, sehingga membuat-ku tersedak beberapa kali,.. berulang kali aku hampir kehabisan nafas karena tak sekalipun aku diberi kebebasan untuk bergerak,.. aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan selain menjilati penis bau di mulut-ku ini,..

Penjaga itu menerima perintah untuk melepaskan-ku,. Aku menghirup nafas panjang, kufikir semua ini akan berakhir sekarang, namun semua perkiraan-ku itu salah, Lelaki kurus itu merobek Pakaian bawah-ku sekarang, tak sempat aku berteriak kaget, Lelaki kurus itu telah menarik tubuh-ku kearahnya,..

Ia duduk diatas bangku,.. sebuah bangku kayu,.. Ia meminta-ku untuk mengangkanginya,.. memaksa kami bertatapan dan aku harus duduk di pangkuannya,.. Ia mencoba berulang kali mencium-ku, sementara aku masih terus menolak ciumannya,. Si penjaga yang berdiri di samping kami malah ikut menurunkan celananya penis-nya sungguh besar, aku tak percaya dengan apa yang kulihat,..

Dan lelaki kurus itu pun berhasil mencuri ciuman-ku, aku tercekat merasakan lidahnya yang dipaksa masuk dalam mulut-ku, aku tak mengerti apa yang harus kulakukan, bahkan Lafayette hanya pernah mencium bibir-ku sekali, dan tidak seperti ini,..

Lidahnya terus berusaha masuk, mencium-ku perlahan, aku tak membalas, membalas ciumannya itu sama saja dengan mengatakan aku rela diperlakukan apapun, dan aku benci itu,.. aku masih berusaha melepaskan diri dari ciumannya,..

Namun malahan Lelaki itu seperti sengaja membiarkan-ku berdiri,.. penisnya diarahkan ke kemaluan-ku, aku merasakan benda tumpul yang seolah menekan masuk dalam vagina-ku itu, aku mendesah menahan rasa sakitm berulang kali aku berusaha berdiri, menghindari benda itu memasuki tubuh-ku, namun si penjaga itu tak tinggal diam, ia malahan menekan pundak-ku kebawah, menekannya hingga perlahan penis lelaki ini memasuki tubuh-ku,..

Ia melepaskan-ku sesaat membuat-ku langsung berdiri menghindar, perih itu yang pasti kurasakan, namun lagi-lagi penjaga itu menekan tubuh-ku kebawah, berulang kali, perih dan seolah melepaskan-ku dilakukannya berulang-ulang, seolah aku ini mainan mereka,.. dan akhirnya setelah sekian kali penis itu berhasil menekan masuk, merobek kesucian-ku,..

Aku menangis seketika, antara rasa sakit dan rasa kesal penuh keputusasaan, aku,.. aku telah kehilangan sesuatu yang snagat berharga dalam hidup-ku, pada orang yang smaa sekali tak kukenal dan tak kucintai, aku benci itu, harus menyerahkannya secara paksa pada orang-orang ini, namun perlahan aku merasakan penis itu menekan lebih dalam lagi, dan terus bergerak-gerak, perih dan sakit,..

Penis lelaki kurus itu menusuk begitu dalam, memasuki tubuh-ku, menghancurkan segalanya kehormatan dan kesucian-ku,.. aku menangis sejadinya,.. perih rasanya sementara ia terus tertawa sambil menggerakan tubuhnya itu,. Penisnya keluar masuk begitu cepat, tak pernah perduli dengan semua ringisan kesakitan-ku,..

Aku mendesah menahan rasa sakit, sementara tangan-ku tak pernah dilepaskan oleh penjaga itu, terus berusaha mengengamkan tangan-ku di penisnya yang besar itu,.. Aku terus dipaksa menggerakan tubuh-ku naik turun, seiring dengan gerakan penis lelaki kurus ini,..

Tangan-ku memeluk tubuh lelaki kurus ini, aku berusaha berpegangan, sementara rasa sakit itu kian begitu terasa pada tubuh-ku yang telah begitu berkeringat,.. tangis-ku tak pernah berhenti,.. Lelaki kurus itu terus mengejek-ku, berbincang dengan penjaganya yang sedang memaksa-ku memasturbasi penisnya itu,. Ia mengatakan bagaimana Vagina-ku meremas penisnya, dan itu sama sekali tak terdengar enak di telinga-ku,..

Tubuh-ku yang dipaksa naik turun memaksa tangan-ku itu ikut bergerak-gerak di penis si penjaga, penis penjaga itu jelas lebih besar dari penis si lelaki kurus ini, aku tak dapat membayangkan sakitnya bila ia sampai ikut memperkosa-ku, ini saja sudah terasa begitu menyakitkan,..

Tangan Si lelaki kurus itu meremas-remas dada-ku, sesekali lidahnya ikut menjilati tubuh-ku itu, seputaran puting-ku, aku menggelinjang geli, namun tetap saja semua ini terasa menakutkan, tangannya yang lain menarik-narik rambut-ku,.. sambil menampar-nampar bokong-ku membuat-ku terlonjak-lonjak menahan sakit namun dengan begitu tubuh-ku kembali bergerak hingga penis si lelaki kurus itu bergerak-gerak kembali keluar masuk dalam tubuh-ku,..

Desahan itu hanyalah desahan menahan rasa sakit, sementara kian lama kian cepat juga lelaki tua itu menggerakan tubuhnya, penisnya timbul tenggelam dalam kemaluan-ku itu sebelum akhirnya ia mendesah panjang, aku terlonjak kaget saat sebuah cairan serasa ditembakan oleh penis itu dalam kemaluan-ku,.. ia menarik rambut-ku hingga aku meneggadah keatas dan itu membuatku menahan rasa sakit yang teramat sangat,.. belum lagi rasa kaget-kuakan cairan kental yang menembak di dalam tubuh-ku itu pudar, aku diturunkan oleh lelaki kurus itu dari pangkuannya,..

” Milik-mu,.. ” Katanya ringan, seolah aku ini barang miliknya,..
Aku memandang pada penjaga itu memandang dengan penuh harapan ia akan melepaskan-ku,..
” Terima kasih Tuan,.. ” Kata si penjaga itu,.. Ia menyeringai penuh rasa terima kasaih, dan menatap-ku dengan pandangan lapar,..

Aku berusaha memohon padanya untuk melepaskan-ku,.. namun ia justru menarik wajah-ku, kini penisnya yang besar dan keras itu telah tenggelam dalam mulut-ku,.. lebih menjijikan, bau dan rasanya begitu aneh membuat-ku begitu mual,.. namuan ia tak melepaskan-ku begitu saja,.. tiap kali aku berhenti menggerakan kepala-ku ia menampar-ku berulang-ulang,.

Penjaga ini justru lebih kejam dan jahat daripada Tuannya itu,..Aku menangis, air mata-ku bahkan menetes di pahanya, namun ia hanya tertawa melihat tangis-ku itu,..

Tak lagi puas dengan mulut-ku, ia mendorong-ku, dari belakang ia mulai menekan penisnya di lubang kemaluan-ku itu, aku menutup mata-ku menahan rasa sakit, seolah tak jijik dengan kemaluan-ku yang tercampur sperma dari majikannya, dan juga darah keperawanan-ku yang baru saja terengut itu ia menekan penis besar-nya itu masuk dalam kemaluan-ku,..

Aku mengigit bibir bawah-ku menahan rasa sakit,..sementara penis itu kian ditekan lebih dalam dari sebelumnya,..aku menahan rasa sakit yang teramat sangat,.. vagina-ku yang masihbegitu rapat harus mencerna penis sebesar ini dan itu menyakitkan sangat menyakitkan untuk-ku,..

Aku berusaha mencengkram apapun yang bisa kucengkram, sekedar melampiaskan rasa sakit yang teramat sangat ini,.. namun desahan sakit-ku hanya dibalas dengan tawa yang mengelegar dari penjaga bertubuh kekar ini,..

Ia terus menggerakan bagian tubuhnya itu maju mundur dalam kemaluan-ku, aku menahan rasa sakit yang teramat sangat terlebih saat ia menarik rambut-ku sambil mencambuk tubuh-ku dengan jerami yang ada digudang itu, perih dan menyakitkan, namun ia hanya tertawa melihat apa yang dilakukannya itu pada diri-ku,..

Aku mendesah tak karuan, sementara kian lama kian cepat juga ia memperkosa-ku, ia terus memperkosa-ku tubuh-ku sudah terasa begitu lelah, dan masih menyakitkan, aku ingin secepatnya tak sadarkan diri agar tak merasakan rasa sakit ini lagi, ingin semuanya cepat selesai hingga akhirnya Penjaga itu memuntahkan spermanya dalam kemaluan-ku itu,..

Sambil melolong panjang, ia mendesah hebat menggerakan penisnya itu kian cepat sebelum penisnya mulai melelehkan spermanya dalam tubuh-ku,.. Setelahnya tubuhku langsung ambruk, lelah dan menyakitkan, sementara semua rasanya begitu berputar dan aku tak sadarkan diri lagi

#####

Aku terbangun saat para petugas keamanan menemukan-ku di dalam gudang jerami itu, dan menutupi tubuh-ku, aku berusaha menutupi wajah-ku saat warga sekitar ikut mengerumuni tempat itu, aku malu, sementara seorang lelaki digiring masuk oleh para petugas, tak berbusana dan yang lebih mengagetkan lelaki itu LAFAYETTE

Bukan, aku tahu bukan dia yang menjadi dalang semua ini, semua rasanya konspirasi, namun aku tak dapat mengejarnya, mereka membawa Lafayette begitu cepat,.. katanya mereka menemukannya terbaring tanpa busana di sebelah-ku dan mereka yakin ia yang melakukan semua ini,..

Bukan, aku yakin bukan dia,.. aku pulang, aku harus pulang untuk meluruskan semua ini, ayah, pasti ayah bisa melakukan sesuatu,..

Namun sebuah kebusukan lain kembali terjadi dalam hidup-ku,..

Aku menemukan tubuh ayah-ku terbujur kaku tak bernyawa,.. Entah apalagi arti semua ini, hidup-ku terasa begitu hancur,.. rasanya aku kehilangan segala penopang hidup-ku sekarang,..

Kehormatan, kesucian, dan keluarga-ku lenyap dalam satu malam,..

Dalam kebinggungan aku harus berfikir keras,..Apa aku harus membuka aib-ku untuk menyelamatkan Lafayette,.. aku bertemu dengannya beberapa kali setelah pemakaman ayah yang dihadiri oleh Raja dan anggota keluarga,..

Tak Lama kebusukan kerajaan kian terlihat jelas dimata-ku,.. beruntung kerajaan melakukan brunder besar dengan mengangkat Étienne Charles de Loménie de Brienne, Seorang uskup,.. ia memang melakukan beberapa perubahan Radikal sesuai keinginan Kerajaan, namun di sisi lain ia juga mendukung Ide Ayah yang menerapkan pajak merata,.. Untuk sekian lama Kerajaan berada dalam keadaan membinggungkan dalam menentukan kebijakan mereka,..

Lafayette meminta-ku untuk tidak membelanya, lebih penting untuk menjaga nama baik keluarga-ku, membelanya sama saja mebuka aib bahwa Putri Bangsawan De Callone diperkosa oleh seseorang, ia terus meminta-ku untuk tidak membelanya,.. aku bimbang rapuh dan sangat lemah,..

Sedangkan aku saat ini berada dalam lindungan keluarga Beatrice,.. Romo Sieyes sudah menjadi ayah kedua bagi-ku,.. aku bimbang, dan putus asa aku berkali-kali menangis, entah berapa banyak air mata yang telah menetes dari mata-ku, hingga di pertemuan-ku yang terakhir dengan Lafayette sebelum peradilan, aku membulatkan tekad-ku,..

Aku melihat lelaki itu disana,..

Aku mengenalnya sekarang,,..

Semua konspirasi Kerajaan , scenario untuk menghancurkan keluarga kami,..

Lelaki itu Comte De’Artois

#####

” Dan Yang Mulia, bila seseorang yang kita cintai, haruskah ia melakukan ini semua ?? ” Aku berusaha membela diri-ku dan juga Lafayette,..

Aku melihat tempat untuk terdakwa yang masih juga kosong,.. sudah lewat 5 persidangan, dan tak pernah Lafayette menghadirinya,.. Aku tahu ia masih hidup, memimpin perjuangan rakyat dari dalam penjara sana, namun aku ingin melihat wajahnya, memastikan ia baik-baik saja,..

” Bastille dan seumur hidup,.. ” Putus Hakim itu, ini rasanya lebih mirip penghakiman pada tahanan Politik yang berbahaya, meski yang dituduhkan pada Lafayette tak lebih dari seorang Penjahat Seks dan pemerkosa,..

Aku tertunduk, rasanya semua perjuangan ini sia-sia,.. diluar sana aku tahu, makin banyak rakyat yang tak puas pada kerajaan, mereka butuh seseorang, seseorang yang bisa menjadi semangat dalam perjuangan mereka…

Ayah Beatrice membantu-ku keluar dari ruang persidangan itu, ruanga persidangan terkutuk yang terlalu dirusak oleh kekuasaan dan ketakutan,..

Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu, untuk Lafayette,.. untuk Kami,.. untuk Rakyat, untuk Perancis yang lebih baik,..

” Paman ,.. ” Bisik-ku
Romo Sieyes, memalingkan wajahnya pada-ku,..
” Ya anak-ku Ata,.. “
” Paman tahu kan, aku yakin paman bisa melakukan sesuatu,.. “
Paman Sieyes tampak diam, ia tak yakin, meski ia sendiri sadar ia bisa melakukan sesuatu yang lebih, terlebih ia memiliki dukungan rakyat dibelakangnya,.. terutama setelah tulisannya tentang ” Kelompok ketiga ” yang berisi dugaannya tentang ordo-ordo yang memiliki hak-hak istimewa
” Aku akan mendukung-mu paman, aku akan terus berjuang,.. “
” Baiklah anak-ku aku tahu harus apa,.. kita kan berjuang bersama,.. pasti ” Air mata-ku mengharu, terlebih setelah mendengar perkataanya itu, rasanya semangat hidup-ku kembali pulih,. Aku seolahtahu kemana kaki-ku harus melangkah,..

Paris, 28 Mei 1789

Revolusi itu dimulai,.. Setelah menghubungi semua pihak yang mendukung Revolusi ini, Romo Sieyes memulai perjuangan ini dengan cara-nya,.. Pembentukan Estate ( Majelis ) tandingan, dimulai di Paris,..
Dukungan yang kian lama kian bertambah membawa kami melakukan hal-hal yang jauh lebih radikal,.. membentuk orde ini menjadi Majelis Nasional, dengan berbagai pertimbangan Jane-Sylvain Bailly, ayah Jane memasang dirinya sebagai pimpinan,.. kami mulai menggalang kekuatan rakyat menyuarakan aspirasi rakyat dan semua yang bisa kami lakukan untuk meminta kerajaan melakukan kebijakan yang mendukung rakyat, dan mengurangi kekuasaan kerajaan itu sendiri,..

Aku tahu ini tak mudah, satu persatu dari kami mulai dijatuhi hukuman, namun itu semua tak membuat perjuangan kami mengendur,.. Langkah tegas diputuskan oleh Jane-Sylvain Bailly,.. Pasukan kerajaan yang mengepung tempat kami bertemu Salle de’s Etat membuat kami pindah ke lapangan Tenis dekat tempat pertemuan, disana kami bersumpah akan tetap bersama sampai perjuangan ini berakhir ( Sumpah Lapangan Tenis / 20 Juni 1789 )..

Dukungan kembali muncul, semua hanyalah permainan politik namun meyakinkan golongan-golongan masyarakat yang memiliki pengaruh bukanlah hal yang mudah, aku terus berjuang, aku berusaha meyakinkan mereka,.. berdebat, cucuran air mata dan rasa putus asa yang acap mendatangi-ku, membuat aku kian tangguh untuk berjuang, bersama dengan bantuan teman-teman yang lain akhirnya para golongan masyarakat itu mulai membantu kami, dimulia dari golongan Gereja, disusul 57 keluarga kerajaan yang meyatakan dukungan pada kami. 27 Juni, kekuatan kami membuat Kerajaan mulai ketakutan, dan saatnya memulai sesuatu yang lebih radikal,.

9 Juli tahun yang sama, majelis ini kembali berubah, menegaskan eksistensi dan kekuatan kami,.. Majelis Konstitusi Nasional,..

#####

Bila sebuah Negara yang memikirkan kepentingannya satu golongan sendiri,..
Bila sebuah Negara yang hanya memikirkan Kesenangan para anggota kerajaan dalam pesta-pesta dan minuman,..

Maka Negara itu ibarat seuah kapal bolong yang akan berlayar

Bila Sebuah Negara yang membiarkan para pejabat dan kerajaan mengisi perut mereka kenyang-kenyang sementara rakyat mereka harus mengais untuk mendapatkan makanan mereka,..

Maka Negara itu ibarat kapal yang akan tenggelam

Saat Sebuah Negara tak lagi memiliki dukungan rakyat,
Saat Sebuah Negara tak lagi memiliki kepercayaan rakyat
Saat Sebuah Negara tak lagi memiliki Konstitusinya

Maka Negara itu adalah kapal yang tenggelam

#####

Aku tahu ini semua lebih memberanikan kenekatan, dibanding sebuah keberanian, aku melakukannya, demi semua yang ingin aku perjuangakan, meski tahu, mata-mata kerajaan selalu mengawasi kami,. Selalu menatap kami dan selalu siap menenggelamkan kami,.. tapi aku mengatakannya,..

Paris, 14 Juli 1789
Bastille

Pertempuran selama 4 jam di depan penjara Bastille, simbol kekuasaan absolute kerajaan berhasil ditumbangkan,.. Marquis Bernand de Launay, saat itu menjabat sebagai Gubernur terbunuh dalam insident itu,..

Massa berhasil membebaskan 7 tahanan,.. 4 pemalsu document Negara,.. dakwaan kebohongan yang digunakan untuk menutupi aib para bangsawan, 2 orang yang nyaris gila karena hukuman yang diberikan oleh mereka,.. dan seorang “penjahat seksual” bernama Lafayette

Dengan segala perjuangan rakyat,.. Raja dan para pendukungnya mundur dari Paris, dibalai kota Prevot des marchands ( Walikota ) Jacques de Flesselles,. Didakwa oleh Massa atas penghianatan terhadap rakyat yang ia lakukan,.. meski kemudian ia terbunuh dalam perjalanan menuju pengadilan, besar kemungkinan Kerajaan terlibat langsung didalamnya,..

Jean-Sylvain Bailly, ayah Jean menerima Komando rakyat, menjalankan peran sebagai walikota dan merehabilitasi system pemerintahan yang ada dengan system baru yang dikenal dengan Commune,. Lafayette yang telah menerima dukungan rakyat selama ini mendapat kepercayaan untuk memimpin Garda Nasional,..

Kekuasaan rakyat terus meningkat, perjuangan rakyat tidaklah mudah untuk menuntaskan perjuangan mereka, masih akan begitu banyak darah, air mata, dan keringat yang diperlukan masih 6 tahun lagi hingga kerajaan ini akan tumbang,..

Raja Louis yang lemah, namun selalu berada dalam tekanan permaisurinya itu mengeluarkan semboyan yang tidak popular untuk mempertahankan kekuasaannya, Semboyan selama ini ” Vive la nation “ ( Hidup Negara ) symbol keagungan kerajaan dirubah menjadi ” Vive le Roi “ ( Hidup Raja ) dan yang paling terkenal ” L’e etat ce es Mo I ” ( Negara adalah saya )…

Paris, 16 Juli 1789

Hari itu hujan sejak pagi,..

Lafayette berdiri di sebuah panggung, tangannya mengenggam sebuah bunga,.. bunga matahari kesukaan-ku,.. Ia menatap lama, menatap penuh arti tak ada senyuman diwajahnya,.. perlahan ia merunduk,.. menaruh bunga Matahari itu diatas benda yang sejak tadi ditatapinya,..

Entah air mata, atau air mata yang mengalir di wajahnya,..
Bunga Matahari itu ia letakan tepat di bangku yang ada di benda itu, sebelum ia meninggalkan tempat itu, para pengawalnya memayungi dan selalu mewaspadai para tokoh Revolusi dari ancaman keselamatan mereka, mereka mulai berjalan menjauh, menjauhi tempat itu, sebuah panggung dengan sebuah Guillotine diatasnya,..

3 hari yang lalu, tanpa dakwaan yang jelas, seorang gadis kehilangan nyawanya,.. terpenggal di depan banyak orang, memancing kemarahan rakyat, kemarahan yang sudah demikian mengubun di kepala mereka, melewati batas kesabaran mereka, atas kesewenangan kerajaan..

Dinding-dinding tempat itu dipenuhi coretan,..
Laisse Ata vivre Soleil de Francais
( Biarlah Ata menjadi Matahari Perancis )

Rekan Kerjaku Nadya

Semenjak kedatangannya, suasana kantor agak berubah. Orang2 jadi semakin rajin, entah mengapa. Dia bukanlah direktur yang baru, bukan pula sekretaris baru yang seksi. Namanya Nadya. Perempuan berumur 27 tahun ini disukai sekaligus dibenci. Disukai karena kerjanya cepat dan sangat efektif, serta sangat cerdas, tetapi disisi lain dia selalu mengeluh dan memarahi kami karena keterlambatan kami atau hal2 sepele lainnya.

Nadya bukanlah direktur, juga bukan senior designer. Posisinya sama denganku, junior designer. Yang membedakannya denganku dan beberapa teman lainnya adalah, Nadya lulusan universitas kenamaan di Amerika Serikat, dengan prestasi cum laude. Selain itu Nadya juga keponakan dari Owner perusahaan desain interior ini. Berdarah Jawa- Belanda, dengan tampang indo layaknya model2 catwalk, rambut hitam panjang, dengan kacamata tipis dan pakaiannya yang selalu modis, sudah barang tentu lelaki menyukainya. Namun entah kenapa kami malas untuk akrab dengannya, selain karena sikapnya yang selalu ketus dan tidak bersahabat itu, juga karena kami merasa tidak selevel dengannya. Apalagi kebanyakan dari kami adalah lulusan universitas lokal, dan sewaktu kuliah, membolos sudah jadi makanan kami (tidak bisa nyontek di kuliah desain interior). Walaupun kami datang dari universitas mentereng, tetap saja tidak bisa membandingkan diri kami dengan Nadya.

Aku sendiri berusia 29 tahun, masih jomblo dan belum menikah. Bukan karena aku tidak laku, tapi aku masih agak shock ketika setahun yang lalu pacarku selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Memang mereka tidak melakukan hal2 yang melanggar norma kesusilaan, tetapi jalan dengan laki2 lain dan saling berkirim sms mesra di tengah2 persiapan pernikahan, apa bukan selingkuh itu namanya ?

Teman2ku yang lain sering menggodaku agar aku mendekati dan mencoba akrab dengan Nadya, karena menurut informasi yang beredar, Nadya belum memiliki pacar. Wajar saja hal ini terjadi mengingat yang masih bujangan di kantor ini selain aku dan Nadya, Cuma ada seorang desainer senior yang selalu tidak beruntung dalam masalah percintaan, dan seorang office boy. Aku pun bertanya2 kenapa Nadya tidak laku padahal dia sangat cantik dan pintar. Apa karena sikapnya yang ketus ? atau mungkin saja dia lesbian ? haha.

Minggu ini minggu yang sangat melelahkan. Selain mengerjakan desain interior untuk sebuah mall yang akan dibangun, aku dan Nadya harus rapat sore hari bersama developer sebuah gedung perkantoran. Selama di mobilku, Nadya hanya diam saja, sembari mendengarkan musik di ipodnya. Sudah barang tentu dia pasti tidak akan menjawab jika aku sekedar ingin mengobrol atau berbasa-basi dengannya. Sebab selama ini pembicaraanku dengan dia hanya sebatas pekerjaan saja. Dia juga tidak pernah bergabung dengan orang2 kantor mencari makanan murah disekeliling gedung perkantoran. Entah dia makan dimana, karena menurut para direksi dan senior designer, Nadya tidak pernah makan bersama mereka. Tentu saja, karena walaupun sudah berduit dan lebih berumur dari kami, para direksi dan senior designer pasti mencari makan murah untuk berhemat.

Rapat berlangsung sangat lama. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 8 malam. Tetapi Nadya masih berdiskusi dengan pihak pengembang soal konsep desain interior gedung perkantoran itu. Bila rapat dengan rekan yang lain, pasti mereka akan mencari2 alasan atau sengaja mengarahkan pembicaraan agar rapat cepat selesai. Akhirnya rapat selesai juga. Waktu menunjukkan pukul 8.30. rapat berlangsung sangat lancar, dan tidak satupun ucapan Nadya yang dibantah. Harus kuakui gadis ini sangat hebat dalam berargumen.

Jalanan sudah agak lengang karena jam macet sudah lewat. Aku dan Nadya berada di dalam mobil, menuju ke kantor. Aku membuka pembicaraan.

“Udah malem, di kantor ga ada siapa2, mau cari makan dulu sebelum kembali ke kantor ? “ tanyaku berbasa basi.

“Gak usah, langsung ke kantor aja” jawabnya pelan dan pasti. Tak sampai 5 detik dia langsung memasangkan headset ipod ke telinganya. Buset. Dingin sekali tanggapannya. Yasudah. Aku tidak ambil pusing, dengan buru2 aku segera menyetir mobil ke arah kantor, agar aku bisa cepat pulang dan makan malam.

Kantor kami terletak di sebuah gedung berlantai 7, di daerah yang mentereng di Jakarta Selatan. Kantor Konsultan desain interior kami berada di lantai paling atas, berbagi lantai dengan 3 kantor lainnya. Aku memarkirkan mobilku dengan asal2an di tempat parkir. Tumben, pikirku, para satpam lagi kemana ? aku dan Nadya langsung masuk, menaiki lift, dan kemudian masuk ke kantor. Suasana kantor agak gelap karena memang sudah tidak ada siapapun. Aku mencoba membuka pintu pantry untuk mengambil makanan ringan di kulkas, namun pintu pantry sudah terkunci. Memang kebiasaan office boy kami untuk mengunci semua pintu di kantor kecuali pintu utama, yang biasanya selalu dikunci oleh satpam setelah semua pergi.

Untung saja pintu belum dikunci ketika kami masuk. Entah karena malas atau apa, kami tidak menyalakan lampu utama. Karena besok pagi desain awal hasil rapat sudah masuk ke desainer senior, maka kami membereskan hasil rapat tadi di ruang rapat utama. Nadya bekerja dengan sangat teliti mengetik laporan dengan MacBook nya. Sementara aku mengumpulkan hasil sketsa ‘dan denah ruangan dalam satu bundel, sambil menahan perut lapar dan tak henti2nya aku melihat ke arah jam. Setelah tugasku beres, aku membereskan mejaku, dan bersiap untuk pulang sementara Nadya mem-print hasil ketikannya. Nadya sudah akan pergi ketika aku memasukkan alat tulis ke tasku.
“Aku pulang duluan ya..” Nadya berjalan ke arah pintu. Aku tersenyum sekenanya dan meregangkan tubuh dulu sebelum benar2 akan pulang. Tiba2…

“SHIT !” aku mendengar teriakan Nadya dari arah pintu utama. Aku bergegas berlari ke arah pintu utama. Rupanya Nadya sedang berdiri mematung di depan pintu yang tertutup.

“Kenapa ?” tanyaku heran

“Pintunya dikunci” jawab Nadya sambil menarik2 handle pintu sekuat tenaga.

Sial, pikirku. Rupanya tidak ada satpam di luar itu dikarenakan mereka sedang patroli, sekaligus mengecek adakah orang yang lembur malam ini. Rupanya karena kami berdua tidak menyalakan lampu2 utama, yang menyebabkan ruangan kantor seperti tidak ada orang, mereka mengunci pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu. Aku mulai panic karena jalan satu2nya keluar dari kantor ini adalah pintu itu. Tangga darurat ada di seberang pintu kantor. Sial. Sekali lagi sial. Semua pintu sudah dikunci. Aku berlari mengintip ke jendela. Sia2. Jendela kantor kami tidak ada yang menghadap ke kantor satpam. Aku blingsatan kesana kemari, dan dengan marah kutendang pintu kaca yang tebal itu. Tak ada reaksi kecuali kakiku sakit. Desain pintu yang kuat agar kantor aman ternyata menjebak kami di kantor

Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku dan menelpon office boy, untuk menyuruhnya kembali ke kantor. Sial sekali lagi. Telponnya tidak aktif. Hebat.

Nadya diam, walau bisa kulihat mukanya memerah menahan marah. Mungkin dia juga ingin cepat pulang, ada janji atau apapun. Tapi Nadya tetap berusaha kalem dengan menelpon pamannya, sang owner perusahaan desain ini. Aku bisa mendengar percakapan mereka.

“Hallo om..”

“Eh Nadya, ada apa ?”

“Om, aku kekunci di kantor”

“Lah kok bisa ? “

Nadya menjelaskan situasinya ke pamannya.

“Waduh…. Gawat juga.. OB nya pun ga bisa ditelpon ?”

“Iya om….”

“Teriak2 gih, coba panggil satpamnya”

Percuma, kupikir. Aku pernah lembur dan melihat kelakuan para satpam itu ketika waktu sudah menunjukkan jam 9 keatas. Setelah patroli dan mengunci pintu2 utama, mereka langsung ke kantor mereka, untuk nonton tv rame2, main kartu, bahkan kadang2 mabuk bareng.

“Ga bisa om…” nada bicara Nadya sudah mulai memelas.

“Hmm… om akan usahakan cari bantuan, tapi om lagi di luar kota sekarang”

“KOK OM GAK BILANG DARI TADI KALAU ADA DI LUAR KOTA ?!?” Nadya meledak. Ditengah kekalutan aku mencoba menelpon semua nomor telpon kantor. Dan sialnya, kebanyakan dari mereka tidak aktif. Ada yang mengangkatnya dengan background suara hingar bingar diskotik dan suara teler ga karuan. Tolol. Di tengah minggu malah dugem. Nadya, terus menekan pamannya. Aku berusaha menelpon semuanya, tetapi entah kenapa sinyal hapeku tiba2 hilang. Aku kalut, mencari telpon kantor. Dan hanya telpon di meja front office saja yang bisa dipakai untuk menelepon ke luar. Aku berlari kearah front office dengan panik. Dan bodohnya tiba2 aku terjatuh tersangkut pojokan meja. Aku jatuh ke meja menimpa telpon kantor. Aku kaget dan langsung bangkit. Berharap telpon tidak rusak. Aku lalu mengangkat telponnya. Ternyata ada nada sambung. Aku mencoba menekan nomer yang kuhapal. Lagi2 sial. Rupanya kejadian tadi menyebabkan tombol 0 rusak dan tidak bisa ditekan. Nomer telpon HP mana yang tidak ada 0 nya ? sedangkan aku tidak punya nomor telpon rumah orang kantor. Ide tiba2 muncul, aku membuka laci front office untuk melihat data nomer telpon pegawai.

SIAL ! SIAL! Lacinya terkunci. Sementara itu Nadya masih menelpon pamannya.

“JADI GIMANA DONG OM ?!?” Bentak Nadya

“Sabar, kamu sama siapa disana ?”

Nadya menyebutkan namaku.

“Oh… sama dia…. Aman kalau sama dia, Nadya, kamu tunggu besok aja, kamu…” Belum sempat pamannya menyelesaikan kalimatnya, Nadya dengan kesal melemparkan handphonenya ke dinding dan handphonenya hancur berkeping2.

“Kenapa kamu banting ?!?!?” Bentakku

Nadya hanya terdiam. Dia menarik nafas dalam2.

“Telpon kantor ? “ tanyanya pendek

“Rusak” jawabku tak kalah pendeknya.

“Kenapa ?” Mukanya mulai memerah. Matanya berkaca2

“Tadi aku jatuh, telponnya ketindih badanku” Aku menjawab sambil memalingkan muka.

“TOLOL !!” Nadya membentakku dan tangan kanannya mengayun akan menampar pipiku. Dengan tangkas aku menangkap tangannya dan melepasnya kembali.

“Lebih tolol mana sama orang yang ngebanting hape nya sendiri ? “ sindirku.

—– 30 menit berlalu ——-

Ruang rapat penuh asap rokok sekarang. Aku menghisap rokok kretekku dalam2 dan membuang asapnya ke langit2. Nadya duduk di pojokan sambil menghisap rokok mentholnya. Kami sudah saling diam selama 30 menit lebih. Tidak ada alasan bagiku untuk mengobrol dengan wanita judes ini. Bikin pusing. Tapi aku mencoba menengok untuk melihat keadaannya. Khawatir juga. Jangan2 nekat gantung diri.

“Apa kamu lihat2 ?” Nadya membalas tatapanku dengan pertanyaan dingin

“Gw punya mata, boleh dong liat kemana aja” Jawabku tak kalah dingin.

“Ngeri tau gak, berdua doang sama cowok macem kamu”

“Eh…. Lu baru masuk kemaren sore Nad, blom kenal siapa gw..” Aku menatap penuh emosi ke arah Nadya.

“Ah…semua cowok sama aja” Nadya membuang muka

“Apa maksud lu ?” Tanyaku penasaran

“Ah, tau lah….” Jawabnya sembari mematikan rokoknya di pot bunga yang sekarang beralih fungsi sebagai asbak.

“Lo tau kan otak cowok isinya seks melulu ?” Suara Nadya terdengar tidak enak

Aku hanya terdiam.

“Bahaya tau gak berdua doang sama cowok asing. Salah2 gw diperkosa” Nadya berkata ketus

“EH. Sori ya mbak-sok pintar-lulusan luar negri-masuk karena koneksi” Nada bicaraku meninggi. “Biar kata lu cantik, juga, ga bakal ada cowok mau perkosa lo ! Mana ada orang mau merkosa orang ngeselin macem elo !!!” Bentakku.

“Orang yang gak bisa bersosialisasi macem lo ! Orang yang egois ! Ga ada empati sedikitpun sama orang kantor ! Ga ada bagus2nya! Mentang2 ni kantor punya om lu, lu mau seenaknya aja disini ?!?!? “ Aku sudah naik pitam. Tidak mampu menahan kesabaran lagi.

“Ah… “ Nadya tidak bisa berkata2 lagi.

“Enak aja lo bilang gw mau merkosa elo ! mendingan gw tidur ama pecun daripada nyentuh badan lo !” Nafasku habis. Sudah kuluapkan semua kekesalanku kepada Nadya.

Tiba2 Nadya berlutut. Melepas kacamatanya dan mulai menitikkan air mata. Dia membanting kacamatanya dan mulai menangis sesenggukan. Shit. Rupanya kata2ku tadi kelewat kasar. Makin lama tangis Nadya makin keras. Aku pun berlutut mendekatinya dan mencoba memegang bahunya.

“Nadya…. Sorry… mungkin gw terlalu kasar” aku meminta maaf

Nadya menepis tanganku dan terus menangis.

“Nad….” Aku agak membungkuk untuk melihat wajahnya. Tapi tiba2 Nadya memelukku dan menangis di dalam pelukanku. Aku terdiam sembari mengelus2 punggung Nadya. Sekitar 10 menit dia menghabiskan tangisnya di pelukku. Aku yang pegal lalu duduk di lantai bersandar pada dinding. Nadya duduk di sebelahku, dengan pandangan kosong. Tak beberapa lama Nadya memulai pembicaraan.

“Maaf… tadi aku lancang ngecap kamu” katanya pelan

“Gw juga Nad… maaf tadi terlalu kasar” jawabku.

“Aku yang mulai” lanjut Nadya. “Kupikir semua laki2 sama. Baik pada awalnya tapi ternyata brengsek”

“Ah. Semua laki2 brengsek kok Nad” Jawabku

Lalu kami terdiam cukup lama.

“Aku pernah diperkosa” Nadya tiba2 bercerita.

“Eh……” Aku tidak bisa menyembunyikan mimik heran dari mukaku.

“Waktu aku baru kuliah di US, ada kakak kelas yang ngedeketin aku..” Lanjut Nadya

“Dia baik banget, sampe pada akhirnya aku diundang ke pesta di asramanya… Pestanya rame, dan ternyata minumannya beralkohol semua.”

“Aku dibuat mabuk” dia terus bercerita “ Lalu aku dibawa masuk ke kamar, dan disana aku diperkosa olehnya” Nadya menghela nafas panjang dulu.

“Sejak saat itu aku ga pernah percaya sama cowok” Nadia lalu mengambil sebatang rokok menthol dari bungkusnya, meremas bungkusnya yang sudah kosong, lalu melemparkan bungkusnya ke pot bunga. Aku memberikan korek apiku ke Nadya. Nadya lalu menyalakan rokoknya dengan korek milikku.

Aku tidak berani berbicara lagi. Aku tadi telah lancing berbicara seperti itu kepada Nadya.

“Gimana kehidupan cinta kamu ?” tanya Nadya

“Mmmm…” Aku diam tak berani menjawab

“Setelah kejadian itu, aku ga pernah berhubungan sama laki2 lagi” katanya. “Sekarang giliran kamu cerita” Katanya sambil tersenyum kepadaku

Aku sedikit terkejut. Ternyata jika tersenyum Nadya manis sekali. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum semenjak dia masuk kantor.

“Mmmm… Aku harusnya tahun lalu nikah…” jawabku

“Tapi ?” Tanyanya sambil menghisap rokok mentholnya.

“Tunanganku selingkuh” Jawabku pelan. Tak ingin rasanya menceritakan hal tersebut. Aku menarik nafas dalam2 dan memandang ke arah langit2. Nadya tidak menimpali jawabanku. Dia mematikan rokoknya di pot bunga.

Waktu berjalan sangat lama. Aku dan Nadya berbicara tentang banyak hal. Mulai dari jaman kuliah, sma, segala macam. Ternyata Nadya menyenangkan jika diajak bicara. Tak jarang ia tertawa bersamaku, menertawakan kejadian2 konyol di kantor yang terjadi sebelum kedatangannya. Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku sangat capek. Aku mencoba tidur. Aku masih bersender pada dinding, sementara Nadya tertidur, dengan menggunakan bahuku sebagai sandaran.

“Dingin……” Nadya tiba2 memelukku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai lelaki normal, yang sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan, aku tiba2 merasa deg2an, dan suhu tubuhku memanas. Aku mengira Nadya bisa merasakannya, karena dia memeluk tubuhku sekarang. “Hmmmm.. jadi yang bujangan di kantor Cuma aku, kamu, sama Pak Yudi ? “ tanya Nadya.

“Iya” jawabku pelan sambil menahan perasaan aneh ini.

“Hehe” Nadya tertawa kecil

“Kenapa ? “ tanyaku.

“Nope… nothing” katanya sambil menahan tawa.

“Well… I guess. Ga ada salahnya kalo satu dari kalian aku pacarin” Nadya melanjutkan ucapannya.

“Oh jadi lu demen ya sama om2 bujangan tua” timpalku

“Haha… enak aja. Coba kamu itung, 45 – 27 = 18, jauh kan umurku sama Pak Yudi” jawabnya
“27 ? Kirain 35…” ledekku.

Nadya berusaha untuk menjewer telingaku tetapi aku menghindar, menangkap tangannya, tetapi aku kehilangan keseimbangan duduk, sehingga aku terjatuh kearah kanan dan tak sengaja menarik Nadya ikut jatuh juga menimpa tubuhku. Aku yang jatuh menyimpang kekanan ditimpa oleh Nadya yang menghadapi telingaku. Akhirnya dia menjewer telingaku tanpa ampun.

“Aduh !. Sakit tau !” Aku berusaha memberontak tapi Nadya malah tertawa2 dan tidak melawan rontaanku. Aku berusaha bangkit tetapi Nadya malah memelukku.

“Aku ingin diperlakukan dengan lembut oleh laki2” bisik Nadya.

Aku memperbaiki posisi jatuhku. Aku tiduran terlentang di ruang rapat, dan Nadya menimpa tubuhku. Aku bangkit, dan Nadya ikut memperbaiki posisinya. Aku kembali duduk, tetapi sekarang Nadya ada di pangkuanku dan tetap memelukku.

“Aku merhatiin kamu terus semenjak pertama kali masuk kantor” Nadya kembali berbisik. “Kamu paling sopan, dan lembut sama perempuan kalo dibandingin sama yang lain”

“Ditambah lagi… kamu belum nikah kan… dan om ku bilang, kamu orang yang baik” Nadya terus berbicara.

“Baru tadi kan bilangnya, gw juga denger” jawabku

“Enggak. Dari awal aku masuk kantor, om udah bilang kalo kamu selain kinerjanya paling bagus, kamu juga sopan, ramah dan orangnya menyenangkan” Nadya membantah ucapanku. “Kayaknya lucu kalau kita pacaran……” Nadya melanjutkan ucapannya.

Aku kaget. Baru pertama kali seumur hidup ada perempuan yang mengatakan ingin kupacari. Dan perempuan itu adalah perempuan yang cantiknya minta ampun seperti Nadya. Aku tak bisa bicara apa2.

Kami berdua saling memandang. Tiba2 entah siapa yang memulai, kami memajukan kepala kami masing2 dan berciuman. Bibir Nadya sungguh hangat. Aku memeluk erat pinggangnya dan Nadya meremas rambutku. Kami berdua berciuman sangat lama. Kurasakan kacamata Nadya menekan2 mukaku. Tapi aku tidak peduli. Bibir kami saling memagut. Lidah kami saling beradu. Aku semakin menguatkan pelukanku. Dan nadya melepaskan ciumannya. Hidungnya beradu dengan hidungku. Dapat kurasakan nafasnya yang panas dan memburu. Nadya melepas kacamatanya dan meletakkannya di sembarang tempat. Tanpa terasa Nadya membuka kancing bajuku. Dia melakukannya sambil menciumi leherku. Agak sulit membuka kancingku dalam keadaan seperti itu, tetapi Nadya cuek.

Aku tak mau kalah. Kulepaskan leherku dari jangkauan bibir nadya, dan mulai meraih kancing kemejanya. Tak berapa lama bajunya terbuka. Tanpa diminta Nadya membuka ikat pinggangnya dan melepas celananya. Didepanku berdiri perempuan blasteran Jawa-Belanda, dengan kulit yang putih dan mulus, hanya memakai pakaian dalam berwarna merah menyala. Aku menelan ludah, melihat tubuh Nadya yang indah, bagaikan model catwalk yang langsing dan proporsional.

Nadya kembali menyerangku. Bibir kami kembali saling berciuman, tanpa sadar tanganku mengarah pada buah dada Nadya. Aku meremasnya dengan lembut. Buah dadanya yang proporsional terasa sangat empuk di tanganku. Aku dengan cepat menyisipkan tanganku ke dalam BHnya. Nadya tiba2 memegang pergelangan tanganku. Dia menahan tanganku dan seakan menyuruhku untuk mundur. Setelah aku menarik tanganku kembali, tangan Nadya mengarah ke punggungnya, dan dia melepas pengait BHnya, melepas BH nya sendiri. Nadya tersenyum kepadaku dan berkata “Kenapa melongo gitu…. Kayak orang bego tau….” Aku malu sendiri dan membuang muka.

Nadya memegang pipiku, dan kemudian tangannya menyusuri badanku, untuk kemudian membuka ikat pinggangku. Aku pasrah, dan Nadya pun menciumi badanku mulai dari leher sampai ke perutku. Aku kaget saat tangan Nadya masuk ke celana dalamku dan menggenggam penisku. Nadya lalu mengoral penisku. Aku sedikit kaget, karena tidak terbiasa dengan oral seks. Pada saat dengan tunanganku dulu, boro2 oral seks, pegang2 sedikit saja sudah kena marah. Padahal aku bukan orang yang tanpa pengalaman seks. Sebelum berpacaran dengannya, aku beberapa kali melakukannya dengan pacar2ku yang dulu.

Aku meringis menahan geli akibat permainan lidah Nadya. Dia sangat pintar memainkan penisku dengan mulutnya. Tindakannya bervariasi, tidak hanya mengulumnya, tetapi juga dengan menciumi bagian2 yang sensitive dan memainkan lidahnya di kepala penisku. Kupikir, sebelum kejadian perkosaan yang menimpanya di US, Nadya sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.

Aku kaget dan berusaha menahan kepala Nadya ketika kurasakan spermaku hampir keluar. Nadya tampaknya mengerti dan menghentikan kegiatannya. Dan dalam beberapa menit kemudian, Nadya menanggalkan semua baju dalamnya, begitu juga denganku. Badan telanjang kami berdua bergumul di lantai ruang rapat. Saling berciuman, berpelukan dan menikmati keindahan tubuh masing2.

Hingga pada akhirnya Nadya telentang di atas karpet, kepalanya tepat berada di bawah kepalaku. Mataku memandang lekat2 matanya yang indah.

“Nad…”

“ya…. “ jawabnya

“Are you sure you want to do this ?” tanyaku

“Why did you ask ?” katanya sambil tersenyum.

“We’re already gone too far” lanjutnya. “and now I consider you as my lover though” senyum tipisnya meluluhkan hatiku. Aku mencium keningnya. Kedua kaki Nadya tanpa disuruh kini telah melingkari pinggangku. Kami berciuman dengan hangat. Kedua tangannya melingkari leherku. Kudekatkan penisku ke mulut vaginanya yang mulai terasa basah. Pelan2 aku menggesekkan penisku di mulut vaginanya, mencari jalan masuk. Tetapi tiba2 otot vaginanya menegang, seakan menolak penisku untuk masuk. Aku terdiam dan memandang wajahnya, aku takut dia masih trauma akibat kejadian di US itu.

“It’s okay….” Nadya mengisyaratkan bahwa dia tidak apa2.

Nadya membuka pahanya sedikit lebih lebar lagi dan dia tampak mencoba untuk rileks. Pelan2 kudekatkan kembali kepala penisku di bibir vaginanya. Kepala penisku sudah mulai masuk. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur, walaupun baru sedikit yang masuk. Perlahan namun pasti, penisku semakin masuk kedalam lubang vaginanya.

“aah….. “ Nadya mengerang pelan dan agak meringis ketika penisku masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Aku menggerakan penisku maju mundur dalam posisi misionaris.

“Mmmhhh… sayang… pelan2 “ Nadya mengingatkanku untuk tidak bergerak terlalu cepat. Dinding vaginanya seakan memijat2 batang penisku dengan lembut. “Aahhh… sayang… mmmhhh….. uuhhh…” Nadya mengerang, menandakan dia mendekati orgasme. Tetapi aku tidak ingin malam ini berakhir secepat itu. Aku menghentikan gerakanku, dan ketika Nadya akan membuka mulutnya untuk bertanya, aku langsung meraih pantatnya dan menggendongnya. Aku kemudian duduk di kursi rapat dan menaikkan badan Nadya di pangkuanku. Nadya mulai berpegang pada pundakku. Dia mengerti dan segera menaikkan pantatnya, lalu dengan pelan2 dia mengarahkan lubang vaginanya ke kepala penisku. Nadya bergerak naik turun di pangkuanku. Vaginanya terus2an memijat2 batang penisku dengan lembut.

Aku memegangi pinggangnya. Nadya menghentikan gerakannya dan berbisik lembut kepadaku. “Sayang… kalo udah mau keluar bilang ya…. Aku gak mau kamu keluarin disitu…” aku mengiyakannya dan dia mulai kembali beraksi. Goyangannya tidak liar dan asal, tetapi begitu rapih. Begitu elegan dan anggun. Suara erangan kami memenuhi ruang rapat. Kami sudah tidak peduli lagi tentang kemungkinan satpam kembali lagi keatas dan menolong kami yang terkunci. Aku sudah tidak berpikir lagi untuk kembali menelpon orang kantor, atau mencoba mendobrak pintu pantry dan keluar lewat tangga darurat.

Yang ada dipikiranku hanyalah Nadya. Rasanya tidak percaya gadis yang tadinya cuek dan judes kepadaku ini bisa ada dipelukanku sekarang.

“Mmmmmhhh….” Nadya agak menggelinjang.

“Aaahhh…..” Nadya kembali bersuara

Aku bisa merasakan Nadya akan mengalami orgasme, karena selain merasakan gelinjangan tubuhnya, aku pun merasakan vaginanya makin menjepit penisku. Aku pun mengimbangi dengan menggerakkan pantatku naik turun di kursi itu. Kursi yang biasanya dipakai rapat itu menjadi saksi bisu percintaan kami.

“Sayang……. Ahhhhh….” Nadya pun makin mempercepat gerakannya. Aku lalu bangkit sambil menggendong Nadya. Aku mendudukkan Nadya di meja rapat, Nadya tetap memelukku, dan aku terus menggerakkan penisku maju mundur.

“Uuuhh…. Uhhhh…. Sayang……. Aku mau…. Ahhhhh….” Nadya menggelingjang dengan hebatnya… “Tahan sedikit… aku juga mau…..”

“Ahhhhh…..” paha Nadya mencengkram pinggangku dan kepalanya mendongak keatas. Mengerang nikmat menandakan bahwa dia sudah orgasme. Aku terus menggerakkan penisku, dan…”Nadya…. Ahhh…..” Nadya jatuh telentang di meja rapat dan aku mencabut penisku dari lubang vaginanya. Sperma segera berhamburan dari penisku. Nadya segera bangkit dan memelukku. Kami berpelukan erat. Tidak berciuman, tidak melakukan apapun. Hanya berpelukan selama beberapa lama tanpa berbicara apa2. Nadya lalu melepaskan pelukannya dan turun dari meja. Dia lalu mencium pipiku lembut, kemudian dia mulai memakai kembali bajunya.

Aku masih berdiri telanjang dan tertegun. Melihat Nadya yang bagaikan malaikat itu memakai bajunya satu persatu.

“eh… pake baju dong…. Ntar keburu pagi” Nadya mengingatkanku

Aku segera mengenakan kembali bajuku. Aku kembali mencoba tidur dengan bersandar di dinding. Nadya kembali pada posisinya, bersandar di bahuku.

Singkat cerita pagi pun datang. Kami berhasil keluar jam 7 pagi. Hari itu kami berdua sengaja diliburkan karena kejadian konyol itu. Selanjutnya bisa ditebak. Nadya mulai terbuka pada orang2 kantor. Dia sudah bisa berkomunikasi dengan akrab, dan sinisnya makin lama menghilang. Ditambah lagi ketika kini kami sudah berpacaran. Nadya menjadi ceria dan orang2 kantor tampak takjub melihat perubahan itu.

One thing leads to another. Dan sekarang, setelah kegagalan pernikahanku yang dulu, setelah beberapa lama berpacaran, aku akan mempersiapkan pernikahanku dengan Nadya.

SMK Magang

Ketika aku masi di smk, kurikulum mengharuskan aku mangang selama 2 minggu hari kerja artinya selama 3 minggu kalender, daftar perusahaan yang mau menerima magang siswa smk dikasi, segera aku pilih yang relatif dekat dengan kos ku, kudu cepetan karna kalo dah keduluan temenku ya tertutuplah kesempatan magang di perusahaan yang dah aku pilih. Berbekal surat pengantar dari smk segera aku mengunjungi perusahaan tersebut. Kepada satpam yang bertugas di pintu masuk aku harus menerangkan panjang lebar maksud kedatanganku, resek banget deh tu satpam, kaya bos ja dia mengiterogasi aku, padahal aku kan gak da maksud mencuri atawa berbuat onar. Aku sampe bilang, “Ni kan ada surat resmi dari smk pak, saya harus magang diperusahaan ini dan perusahaan dah bersedia menerima siswa magang, ni daftar resmi perusahaan yang dikeluarkan dari sekolah”. Baru tu satpam resek membolehkan aku masuk. Aku diantar ke resepsionis, yang satpam lagi. Kayanya kalo perusahaan manufaktur, semua garis depan dijaga satpam. Baiknya satpam yang resepsionis gak nanya macem2, cuma baca surat pengantar sekolah trus menghubungi pejabat terkait. Aku disuru nunggu karena pejabat terkait masi miting. Selama nunggu aku dikasi aqua gelas, lumayan deh untuk mengobati hausku karena dah berpanas2 jalan kaki diterik matahari menunju ke perusahaan itu dari kos ku. Karena deket ya aku jalan aja, lumayan kan menghemat waktu dan ongkos angkot. Ampe ngantuk aku nunggunya, satpam resepsionis menghampiriku dan menyodorkan formulir untuk aku isi. Segera aku isi formulir itu, nanya tentang nama, tempat tanggal lahir, sekolah, ortu, banyak bener deh yang kudu diisi, karena prosedur ya terpaksa diikuti aja. Selesai isi form, form kuserahkan lagi ke satpam dan aku disuru nunggu lagi, “Masi aus dek?” tanya satpam sambil nyodorin aqua gelas satu lagi. Sambil mengucap maacih, kutrima tu minuman dan segera kutenggak abis. Aku nunggu lagi, lama juga, eh karna dah minum 2 gelas jadi pengen buang aer imut. Nanyalah aku ke satpam dimana toiletnya, diunjukin ma satpam, buru2 aku ketempatnya untuk menunaikan tuntutan badan. Ketika aku kembali ke ruang tunggu tu satpam bilang, “Kamu dah ditunggu ma pak…” (dia menyebutkan nama, gak usah disebut dimari deh ya). “Pak … jabatannya apa pak”, tanyaku. “Dia kepala perso”. “Perso tu paan pak”. “Personalia”. “Ooh”, jawabku, ngomong singkat2 gitu apa maksudnya ya batinku.

Si bapak ternyata ramah banget, ganteng lagi orangnya, seneng aku ngeliatnya. Dia baca surat sekolah dan formulir yang dah aku isi, dan mulailah dia ngajak aku ngobrol, dia nanya macem2 berdasarkan yang dah aku isi di formulir itu, sampai akhirnya dia tanya, “Kamu cuma 2 minggu ya magangnya”. “iya pak, sekolah mengharuskannya 2 minggu aja”. “Kurang tu kalo mo tau dikit tentang perso”. “Bole nanya gak pak”. “Ya bole lah, buat cewek semanis kamu apa si yang enggak”. Eh demen gombal juga ni bapak, aku cuma senyum ja menanggapi penggombalannya. “Kok bapak nyebut perso, tadi satpam juga bilang gitu”. “Biar singkat aja ngomongnya, tu efisien namanya”. Aku manggut2 aja, padahal gak ngarti efisien tu apa. “2minggu kurang Nez, magang perso kudu 3minggu, seminggu tentang admin training, seminggu admin rekrutmen dan seminggu admin perso”. “Admin tu paan pak”. “Wah aku seneng ni, kamu banyak tanya, artinya mo blajar banyak. Administrasi, biar efisien nyebutnya admin aja. Bisa gak 3minggu”. “Wah kudu nanya ke sekolah pak, Inez gak bisa jawab pertanyaan bapak”. “Ya udah aku call dulu deh kepsek kamu”. Dia minta operator nyambung ke nomer telpon sekolah, setelah nyambung dia bicara dengan kepsek tentang waktu magang. “O gitu ya pak, kalo gitu klop lah dengan rencana saya, makasi pak, jelas sekarang”, katanya sambil menutup pembicaraan dengan kepsek. “2minggu disurat kepsek tu maksudnya 2minggu hari kerja”. “Maksudnya apa tu pak?”tanyaku lagi. “iya, 2minggu kan 14 ari, jadi 14 hari kerja, itu artinya 3minggu kurang seari, dan kata kepsek bisa digenapkan 3 minggu penuh”. “Gak ngerti pak”. “Gini lo anak manis, hari kerja dimari kan 5 hari seminggu, jadi kalo 3 minggu magang butuh waktu 15 ari. makanya 2minggu magangnya kamu dimari menurut surat kepsek tu artinya 14 ari kerja, sabtu minggu gak diitung kerna libur, kan sama dengan 3 minggu kurang seari. Kep sek setuju kamu magangnya ditambah seari lagi biar lengkap 3 minggu. Mulai ni ari ya”. “Iya pak”.

Mulailah dia menerangkan semua seluk beluk mengenai departemen perso yang dipimpinnya, aku dikenalkan ma semua staf perso, Staf yang ada di kantor disuru masuk ke ruang miting semua, aku disuru mengenalkan diriku kepada semuanya, dan mreka mulai nanya2 tentang aku, pada nggangguin aku malu sehingga sering aku tersipu. Acara perkenalan selesai, “Bagus, gitu caranya kenalan ma orang, aku suka cara kamu ngejawab pertanyaan yang konyol sekalipun. supaya lebih baik lagi seharusnya begini ni”, dia ngajarin aku gimana komunikasi ma orang laen. Wah asik juga magang kaya gini, seblonnya aku kira kerjaan yang ngebosenin karena kaya disuru jadi ob aja, itu kata kakak kelas yang dah pernah magang. Ternyata aku gak salah mili perusahaan ini, karena bener2 aku dikasi pengalaman baru yang berguna. Demikianlah aku mulai magangnya di departemen training dibawah supervisi si bapak dan supervisor training. Mbak supervisornya juga ramah dan helpful banget. Setiap sore aku kudu lapor ke bapak tentang apa aja yang aku pelajari hari itu, apa kendalanya dan mana2 yang blon ngerti, si bapak nerangin semua yang aku blon ngerti dan menjawab pertanyaanku. “Wah Nez kamu beda banget deh ma yang perna magang dimari dari smk kamu, kamu banyak nanya, banyak nyatet, kalo yang dulu2 mah ngantukan semua”. “Iyalah pak, Inez mo dapet sesuatu disini, masak mo buang waktu percuma”. “Bagus, bole tu kalo kamu dah lulus kerja dimari”. “Bener pak”. “Ya kalo da kebutuhan”. “Kebutuhan apa pak”. “Ya butuh nambah orang”. Aku manggut2 aja. Demikianlah waktu cepet berlalu karena aku seneng banget ngejalaninya.

Minggu kedua di rekrutmen, kerja rodi banget deh karena kerjaannya cuma nyortir surat lamaran yang masuk, karungan lagi, bosen banget deh, yang gak kepake langsung masuk mesin shreder kertas. aku cuma dipesenin paperclip ma stepleran kudu dilepas biar gigi mesin shredernya gak rusak, dapet sekantong tu paperclip, gak bole dibuang, bisa dipake lagi, jadi gak usah beli, biar efisien kata supervisor rekrutmen, cewek juga. O ini toh artinya efisien, gak tau hemat gak tau pelit ya. Karena gak banyak pertanyaan tentang bagian ini, maka si bapak bilang kalo gak da pertanyaan gak usah ketemu dia, aku bole langsung pulang ja kalo dah waktunya.

Minggu ke 3 laen lagi nuansanya, bagian perso kaya bagian kranjang sampah, semua bengek masuk kesitu, teteknya mah dinikmati bagian laen. Aku blajar banyak banget, aku bilang ke si bapak, kudunya di rekrutmen 2 ari aja, biar lebi banyak lagi blajar dimari. Aku diajari gimana ngomong ma bagian laen yang marah2, gimana supaya bisa nyelesain konflik, kalo corn flake tinggal dicampur susu anget, beres. Aku semangat banget magang di perso, supervisornya cowok, dia seneng banget ngajarin aku. aku juga banyak bertanya ma si bapak selepas jam kerja, sehingga aku pulangnya selalu malem. si bapak telaten sekali ngasi bimbingan ke aku. Pulangnya aku diajak makan. aku dah brani ngejawab gombalannya.

“Nez, kamu dah imut, sexy, mulus, kulit kamu putih lagi”. “Mangnya napa kalo putih pak, lagian inez kan kurus masak sexy si, tocil kan pak”. “Kalo diluar gini jangan panggil pak dong”, “Bis manggil apa dong, om aja deh ya”. “Boleh, justru karena kamu imut jadi badan kamu proporsional, makanya aku bilang kamu sexy, Lucu lagi kalo imut tapi toge, gak imbang jadinya”. “Mang om suka ma yang imut ya”. “Iya, bisa digendong kemana2″. “Kok gendongan?” “Blon perna ya digendong cowok kamu, asik lagi. Kamu da cowoknya kan”. “Ada cuma jarang ketemu”. “Trus kalo ketemu ngapain”. “Ada deh, om mo tau aja”. “Lo kan kamu mau tau semua urusan kerjaan aku kasi tau, ni aku nanya atu aja kok kamu gak mo ngasi tau si”. “Ya gitulah om, anak muda kalo dah lama gak ktemu ngapain?” “Ngangon burung ke sangkarnya ya Nez, asik dong”. “Jarang kok om ktemunya, dia da dilaen kota, jadi kalo ada waktu baru bisa ngapelin Inez”. “Mangnya kerja ya”. “iya”. “Jablay dong kamu ya, mau gak aku yg blay”. “Ih si om genit”. “Tapi suka kan”. “Ge er, sapa lagi yang suka”. “aku suka banget ma kamu, sejak pertama ktemu kamu”. “Masak si, kan om dah kluarga”. “Sapa bilang, aku dah pisah lagi”. “anak?” “da 2 orang, ikut ibunya, jadilah aku jomblo, baeknya da kamu yang nemenin”. “Om kesepian ya”. “Iya Yang, kamu mo gak nemeni aku”. Wah meningkat ni kedudukan aku, dipanggil Yang. Aku senyum2 ja, “mangnya om gak malu jalan ma abg kaya Inez”. “Napa mesti malu, kamu kan cantik, mau ya jadi cewek aku”. Buset dah ni om, galau banget dia. “Job desc cewek om apa”. “Wah hebat, blajar ampir 3 minggu dah bisa nyebut job desc, ya menghibur aku lah, mau ya Yang”. Tanpa sadar aku ngangguk, soalnya aku juga seneng banget liat si bapak. Supervisor perso juga ganteng tapi kan dia masi muda, seleraku om2 kali ya. Abis makan dia nganterin aku ke kosanku, “Om, kalo jalan ma om Inez ganti baju dulu aja ya, tadi makan ja diliatin orang2″. “Kamu bawa baju ganti ja, seblon pulang kantor kamu ganti baju dulu”. “Ntar ditanyain orang kantor om”. “Bilang ja mo ke tempat temen, ada kerjaan skolah”. Pulangnya seblon aku turun dari mobil, dia mencium pipiku, aku sampe tersipu, “mimpiin aku ya Yang”. Besoknya dikantor dia biasa aja kaya gak da papa ma aku semalem, aku juga manggil dia bapak lagi.

Sampelah hari terakhir magangku. Dia bikin semacam upacara pelepasan dengan para supervisor dan staf yang ada di kantor, aku dikerjain abis2an, disuru crita kesan2 selama magang, ditanyain semua hal dan aku kudu jawab, kaya siapa yang paling nyebelin. Gak bisa kan aku nunjuk orang, jadi pandai2lah aku ngejawabnya. Supervisor perso bilang, “Wah Inez pinter banget deh, diajarin skali langsung bisa praktek”. Yang laen ngejodoin aku ma supervisor perso yang ternyata masi jomblo. Aku ngeliat ke si bapak, dia tenang2 aja mendengar gurauan stafnya, malah ada yang nyuru supervisor perso berdiri disebelahku dan di foto2in pake hape, disuru meluk pundakku, pinggangku, eh dianya nurut aja, aku si cuman cengar cengir ja, aku gak enak ma si bapak, cuma si bapak tenang banget, gak da prubahan papa di wajahnya, senyum2 ja. Setelah semua acara pamitan slesai, aku nunggu si bapak di halte deket kantor, setiap sore memang aku nunggu dia disitu, dia kan dah sminggu ni ngajak aku makan malem trus, lumayanlah ada yang mbayarin.

“Om, gak papa kan tadi candaan temen2″. “Gak papa kok, kamu suka gak ma dia”. “Bukan selera Inez om”. “Lo, bisnya selera kamu yang kaya apa”. “Yang kaya om, cowok Inez juga tipe om2 kok”. “O gitu, bagus dah, jadi aku gak da saingan di kantor”. “Kita jalan ke ancol yuk”. “Ngapain om”. “Kamu perna ke pasar seni gak”. “Gak tu om, mangnya mo liat paan disitu”. “Ya liat2 seni lah, asik juga liatnya, mau Yang”. aku dah ganti baju, aku pake jin ma tengtop ja, biasanya aku pake blus en rok kalo makan malem. “Kamu sexy banget deh, kok gak pake baju kaya biasanya”. “Kan hari trakhir, jadi pakeannya dibedain”. “Kok terakhir, katanya mo jadi cewek aku”. “Ya tapi kan ketemunya gak bisa tiap ari om, Inez kan kudu sekolah, ada tugas yang kudu Inez selesaiin”. “Ya gak papa, jumat malem ja kita ketemuannya ya”. “Kalo gak da kerjaan buat weekend ya om, kadang tu ada tugas kelompok, ya ngerjainnya kalo weekend”. Dia ngangguk ja. “Mau ya ke pasar seni”. Aku cuma ngangguk ja. Di pasar seni aku digandengnya kemana2, kadang pundakku dipeluk, kadang pinggangku dipeluk sambil ditarik merapat ke badannya. Aku cuma bermanja2 ma dia. Kayanya dia ngebales keselnya dia tadi waktu si supervisor meluk2 aku waktu di foto2in. Kita nyari makan, ngobrol berlama2, gak kerasa dah ampir tengah malem. “Nez cape ya, cari tempat istrahat yuk”. Wah naga2nya mo ngajak cek in ni, aku blaga pilon ja”. “Ya pulang aja om”. “aku cape banget deh, gak sanggup nyetir lagi, kamu bisa nyetir gak”. “Gak bisa om”. “Ya udah ke hotel ja yuk, kan dimari ada hotel juga”. “Kan mahal om”. “buat kamu apa si yang enggak”.

Dia membeli beberapa botol soft drink, menggandeng tanganku ke parkiran mobil, dibukanya pintu mobil dan aku duduk, gak lama kemudian mobilpun meluncur ke motel yang ada disitu. Kayanya jam2an deh, gak tau deh dah ampir tengah malem gini gimana itungannya, katanya si dapet lebi dari 6 jam. Mobilnya masuk garasi, dia turun dari mobil, akupun ikut dan kita masuk ke kamar. Aku langsung berbaring ja di ranjang masi dengan pakean lengkap, isinya cuma ranjang besar, kaca rias, tv, seperangkat sofa dan banyak kaca di dindingnya. kamar mandinya cuma da shower, toilet dan wastafel, ada anduk dan toileteris yang di bungkus plastik. Gak lama lagi terdengar ketukan pintu, si bapak membuka pintunya dikit dan membayar biaya kamar.

Sambil berbaring dengan pakaian masih lengkap, kami bincang- bicang. Dia yang move duluan, tangan kanannya memeluk tubuhku, dah kepalang tanggung berdua dengan dia diranjang, aku tidak segan-segan lagi membalas pelukannya, sehingga kami saling berpelukan dalam keadaan berbaring menyamping. “Dah sejak awal ketemu aku pengen meluk kamu di ranjang gini deh Nez, kesampean juga”, dia sedikit berbisik ketika wajah kami sudah saling menyentuh sehingga napas kami sudah saling beradu. Kemudian bibirnya langsung merambah bibirku, sambil dia memasukkan lidahnya dalam mulutku, sehingga kami saling mengisap, saling bergumul dan memainkan lidah dalam mulut kami masing-masing.

Permainan mulut dan lidah kami berlangsung semakin rapat dan cukup lama, sampai kami merasa terengah-engah akibat kecapean mengisap. Sambil bermain lidah, dia mencoba memasukkan tangan kanannya ke dalam tengtopku hingga masuk ke dalam braku. Aku tidak tahan lama dipermainkan toketku, apalagi dia meremas-remas kedua toketku dengan lembut dan sesekali memlintir2 putingku yang mulai mengeras dan menonjol itu. Aku tidak mampu lagi menyembunyikan kenikmatan yang kurasakan dan terasa aku mulai terangsang, aku mulai mengerang-erang kecil. “Nggak mau mandi dulu om?” tanyaku. “Nantilah, kan blon kringeten, lagian ada ac”, jawabnya sambil tetap memainkan lidahnya dalam mulutku dan meremas-remas toketku yang imut.

Namun karena ia nampaknya sudah sangat terangsang, ia tiba-tiba melepaskan pelukannya dan mengeluarkan lidahnya dari dalam mulutku lalu duduk sambil satu demi satu ia buka kancing bajunya hingga terlepas dari badannya. Aku hanya mampu menatap kekarnya dadanya, masi perkasa banget keliatannya. Warna kulit kami sangat kontras karena kulitku putih sementara kulitnya agak hitam.

Setelah ia melepaskan baju kain yang dikenakannya, ia lalu kembali berbaring, “Tengtop kamu dilepas ya”. Aku cuma mengangguk, dia bangun lagi dan melepaskan tengtopku. aku mengangkat kedua tangan keatas untuk mempermudah lepasnya tengtop dari tubuhku. Kami kembali berpelukan dan bergumul di atas kasur yang empuk. Kali ini aku menindihnya masih mengenakan bra warna putih, sementara dia bertelanjang dada. Namun hal itu tidak sampai bertahan lama, sebab dia tidak tahan lagi mau segera melihat isi dalam braku. braku pun segera menyusul, dia menyelipkan kedua tangannya ke punggungku, aku mengangkat badanku sedikit untuk mempermudah dia melepas kaitan braku. lalu dia meremas-remas toketku dengan penuh napsu. “Kecil kan om”. “Gak lah, segini justru pas ditanganku”. segera dijilatinya dan diisap-isapnya pentilku yang imut yang dah mengeras.dia mengemut pentilku keluar masuk mulutnya sehingga kedengaran bunyinya akibat air liurnya yang membasahi pentilku.

Mulutnya turun menciumi perutku membuat aku menggeliat kegelian, “Geli om, udahan dong”. dia segera melepas kancing jinsku dan menariknya kebawah. aku mengangkat pinggulku untuk membantunya sehingga lepaslah jins ku dari kakiku menyisakan cd miniku aja. Dia menggosok selangkangaku yang masi tertutup cd sehingga menjadi sedikit basah, “Dah mulai napsu ya Nez”. “He eh”, aku hanya mengguman saja, menikmati elusannya di selangkanganku. Tak lama kemudian, cdku pun dilepasnya. Kembali aku mengangkat sedikit pinggulku untuk mempermudah dia melepas cdku, dan telbul lah aku didepannya. Matanya berbinar2 menelusuri tubuh telanjangku dari ujung rambut sampe ujung kaki, “ck ck ck”, decaknya. di antara selangkanganku terdapat seonggok daging yang cukup empuk dengan tonjolan daging mungil antara kedua belahannya, nampak warnanya agak kemerahan dan kulit disekelilingnya juga berwarna putih dengan bulu2 halus yang menerawang sedikit. Kini aku dalam keadaan bugil penuh sambil baring dengan merenggangkan kedua pahaku yang menjepit daging empuk itu.

Tanpa berlama-lama, segera dia segera menjulurkan lidahnya menelusuri daging empuk yang terbelah dua itu. tidak terlalu sulit baginya untuk memasukkan lidah ke lubang tengahku itu. Semakin lama semakin dipercepat kocokan lidahnya kedalam mekiku sehingga mengeluarkan bunyi seperti kucing yang menjilat air. Aku menjadi semakin histeris dan menggerak-gerakkan pinggulku serta aku mengangkat tinggi-tinggi kedua kakiku hingga ujungnya bersentuhan dengan bahunya sambil tetap merenggangkannya. Dia semakin leluasa memasukkan lidahnya lebih dalam dan memutar-mutarnya sehingga terasa mekiku semakin mengeluarkan cairan yang membasahi seluruh dinding lubang mekiku.

“Aduh.. om.. enak sekali om.. terus om.. aahh.. uhh.. mm..” hanya suara itulah yang berulang-ulang keluar dari mulutku ketika dia menggerak-gerakkan ujung lidahnya pada lubang mekiku. “Kamu merasa enak sayang? Bagaimana sekarang? Aku masukkan saja?” tanyanya sambil terus mempermainkan lidahnya dalam lubangku. “Auh.. hee, ohh.. ehh.. mm..” Suaraku itu semakin menaikkan rangsangannya sehingga akhirnya dia secara berturut-turut membuka celana dan cdnya sekaligus sampai tubuhnya sudah telanjang bulat. Aku mengambil alih permainan, aku mau merangsang dia juga agar kenikmatan yang kami ingin raih bersama bisa maksimal.

Aku mengambil posisi disisi kanannya dan mulai menghisap pentilnya serta gigitan kecil di sekitarnya sambil tanganku mulai ikut mengocok kontinya. “Ihh.. ahh.. uhh..”, hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya. “Ouh.. sst.. aduh nikmat Nez..”, sambil merasakan terus sensasi kenikmatan yang melanda tubuhnya. Aku mulai sejengkal demi sejengkal menjilati setiap bagian tubuhnya, tidak ada yang terlewatkan. “Ahh.. Yang.. ohh.. sstt..”, serunya sambil tubuhnya mulai menggeliat seperti cacing menahan rasa geli bercampur nikmat karena permainan lidahku pada tubuhnya. “Kamu blajar yang beginian dari cowok kamu ya Yang”. “He-eh”, gumamku. “Ohh.. hoo.. huss”, erngnya kembali sambil mulai mengangkat-angkat pantatnya ketika mulut dan lidahku sudah sampai di sekitar bagian paling sensitif tubuhnya. “Ayo.. Yang.. sedot dong, hoo..”, dia menyuruhku menyedot kontinya yang berdiri tegak seperti tiang bendera disertai mengalirnya air bening kenikmatan yang keluar dari lubang kontinya. Tetapi aku tidak menghiraukan permohonannya, aku justru asyik memainkan di sekitar selangkangannya dan sesekali singgah di biji pelernya yang mulai memerah.

Napasnya mulai tidak beraturan, namun aku belum juga menyentuh batang kontinya yang semakin deras mengeluarkan air bening seperti sedang menangis minta dijamah. Sampai-sampai bulu-bulu di sekitar pangkal kontinya sudah terasa basah semua. “Ahh.. .. sekarang sedot kuat-kuat Yang..”, pintanya lagi. Kini batang kontinya mulai kujilat perlahan-lahan oleh seperti sedang menjilat lelehan es lilin yang airnya mengalir turun di batangnya. Ketika ujung lidahku menyentuh lubang kontinya aku mulai memutar-mutar lidahku itu disitu. “Oh.. nikmatnya, hoo.. sekarang sedot Yang”, kembali dia memohon agar aku menghisap kontinya, jangan hanya dijilatin saja. ” ohh.. masukkan semua di dalam mulutmu, ohh..”, serunya ketika aku sudah memasukkan kontinya di dalam mulutku. Dia mengerang gak keruan ketika merasakan kontinya sudah kuat kusedot2. Apalagi gerakan itu kulakukan tanpa bantuan tanganku, semuanya kulakukan hanya dengan mulut dan lidahku aja.

“Sst.. ohh.. Yang sedot terus”, serunya mulai tidak karuan dengan napas yang mulai memburu. “Ahh.. terus Yang..”, serunya lagi terus menyuruhku mengocok kontinya dengan mulutku. “sedikit lagi Yang, aku sudah mulai rasa ya.. ohh..”, serunya sambil pantatnya ikut bergoyang kiri kanan mengimbangi mulutku yang maju mundur di batang kontinya. “Om.. keluarkan di dalam mulut Inez ja, Inez ingin sekali minum semua mani om”, kataku sambil memasukkan kembali kontinya ke dalam mulutku dan mengocok, menyedot dan mempermainkan lidahku di kontinya secara bergantian.

“terus.. ayo.. sedot Yang..”, serunya seiring dengan semprotan air maninya sebanyak empat kali di dalam mulutku. Kutelan semua maninya, gak menyisakan sedikitpun ketika kontinya masih didalem mulutku. Bahkan ketika air maninya sudah keluar semua dan tidak ada yang tertinggal di batang kontinya, aku justru menyedot kuat di lubang kontinya untuk meyakinkan bahwa air maninya telah keluar semua dan telah tertelan olehku. “Ah.. oh.. ahh., ruar binasa Yang. Hebat kali sedotanmu, cowok kamu bener2 coach yang baek ampe anak didiknya lihai banget dalam urusan sedot menyedot, kaya pompa aer sanyo ja”. .”, guyonnya lemas merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia rasakan. Sementara itu aku sudah mengeluarkan kontinya dari mulutku. aku tersenyum melihatnya terkapar puas sambil mengelus-elus kontinya yang perlahan-lahan mulai lemas.

“kamu sudah sering ngelakuinnya ya Yang ma cowok kamu”, tanyanya. “Soalnya kamu tadi sepertinya sudah pengalaman banget”, sambungnya. “Iya om diajarin cowok Inez ja gimana ngemut yang nikmat. Sudah sebulan Inez tak melakukannya makanya tadi Inez sangat agresif”. “Kenapa?” “Ia lagi tugas keluar pulau om, mungkin enam bulan baru balik”. “Wah.., kamu bisa tahan ndak”. “Kan ada om..”, jawabku genit.

Setelah merasa cukup istirahatnya, dia mulai lagi meraba2 toketku. “Sekarang giliranku lagi ya Yang”. aku senang ja selama permainan ini dia slalu manggil aku Yang, serasa bener2 dia tu cowokku, atau minimal pengganti cowokku yang dah pergi tugas. “Om, sedot toket Inez lagi ya, kaya tadi”, kataku sambil berbaring mengambil posisi terlentang di tempat tidur, namun kedua kakiku masih tergantung di pinggir tempat tidur hampir menyentuh lantai. langsung tangannya mulai bergerilya di toketku sambil mulut kami saling menutupi dan lidah kami saling tarik. “Mmh.. mmhh..”, suara kami berdua saling berbalas sambil menikmati permainan lidah kami dan tangannya yang sudah semakin liar di toketku.

Setelah kurang lebih sepuluh menit kami lakukan gaya itu akhirnya mulutnya menggantikan posisi tangannya untuk bergerilya ditoketku sementara tangannya sudah turun bermain di mekiku yang telah becek oleh lendir. “Oh.. ya.. sedot om, ahh..”, giliran aku melenguh karena mulai meningkat gairah birahiku akibat sentuhan kenikmatan yang aku dapat dari permainan mulut dan jari tangannya. “Sst.. agh.., masukkan jari om di lubang Inez dong” , sambungku lagi ketika dia mulai memainkan jari tangannya di dalam lubang mekiku. “om.. goyang di dalam agh..”, desisku menikmati permainan jari-jarinya di liang mekiku yang sudah sangat becek. “cepat om, ya.. sedikit lagi”, seruku sambil mengangkat kedua kakiku dan membuka kedua sisi pahaku sehingga mekiku terbuka lebar. Pantatku pun kini semakin bergoyang ke kiri-kanan yang kadang kuangkat-angkat sedikit.

Aku tidak ingin mencapai klimaksnya sendiri. “Om, gaya 69 dong, biar om enak juga”. Segera dia memosisikan dirinya dengan gaya 69 sehingga posisi wajahku tepat berada di depan kontinya yang berdiri tegak seperti tiang bendera, lalu kupegang batang kontinya yang sudah ereksi berat dan kumasukkan lagi ke dalam mulutku. “Ssrr.. cup.. cup..”, suara yang keluar dari mulutku ketika menyedot kepala kontinya dengan kuat sekali sehingga ketika aku menariknya keluar terdengar bunyi tersebut. “Ahh.. aggh.. wow..”, serunya kegelian akibat permainan mulutku terhadap kontinya. “Aduhh.. agh.. nikmatnya.., aku mulai rasa nih”, katanya memberitahu aku bahwa dia sudah mendekati klimaks.

Segera aku menyetop emutanku dan mengeluarkan kontinya dari mulutku secara perlahan agar dia dapat menahan orgasmenya sesaat. “Inez diatas ya om”, kataku sambil menyuruhnya berbaring gantian dipinggir tempat tidur dengan kakinya tetap tergantung ke lantai. Akupun berdiri dan mengambil posisi membelakanginya lalu dengan perlahan seperti orang yang akan duduk, aku meraih kontinya dan menuntunnya masuk ke dalam lubang mekiku. “Agh.. ohh..”, desisku ketika memasukkan kepala kontinya kedalam mekiku, kemudian kucabut lalu kumasukkan kembali. Gerakan itu kulakukan sebanyak dua kali. “Ya.. uhh.. auh..”, desahku lagi sambil mulai mengeluar-masukkan kontinya dalam mekiku. Aku berusaha untuk mencoba memasukkan sebagian demi sebagian kontinya hingga seluruh batang kontinya masuk semua hingga ke pangkalnya, kedua buah sisi pantatku telah rapat di kedua pahanya. “Ouhh.. sstt.. .”, desahnya ketika aku mulai bergoyang diatas kedua pahanya bak orang lagi menunggang kuda. Goyangan pinggulku sebentar-sebentar lambat dan sebentar-sebentar aku percepat putarannya dan naik turunnya pinggulku.

Setelah kira-kira sepuluh menit dalam posisi begitu akhirnya aku mulai merasakan mekiku menegang dan menghimpit kontinya dengan erat. goyanganku semakin cepat dan tidak beraturan. “Oma.. konti om nikmat sekali”, desahku dengan napas yang mulai tidak beraturan dengan goyangan naik turunnya tubuhku yang semakin cepat sehingga menimbulkan suara seperti orang yang bertepuk tangan akibat pertemuan kedua pahanya dan dua buah pantatku. Akhirnya, “Ouh.. om.. Inez keluar om.. ahh..”, desahku dengan nada yang sedikit panjang. Ketika itu juga tubuhku berhenti bergerak dan menekan turun tubuhku sehingga seluruh kontinya amblas masuk kedalam mekiku. “Oh.. nikmat sekali om..”, desahku. Lendir mekiku berhamburan keluar membasahi seluruh pangkal kontinya dan bulu jembutnya, sampai-sampai lubang anusnya ikut basah.

Menyaksikan erangan dan mimik kenikmatan serta jepitan otot mekiku akibat mencapai orgasme, kepala kontinya terasa ikut membesar. pinggulnya membuat gerakan memutar-mutar kecil. Sambil mendesis pelan, “Oh.. enak ya Yang” “Hmm, auh..”, jawabku. spontan dia langsung mengambil alih kendali dengan menyodok naik lubang mekiku sehingga tubuhku agak terlempar naik sedikit. “Aku ndak tahan nih ohh..” serunya sambil terus menyodok-nyodok lubang mekiku yang masih basah oleh lendir kenikmatanku.

Dia lalu duduk di pinggir tempat tidur dengan aku tetap di pangkuanku serta kontinya yang masih tetap bertahan di lubang mekiku dan membelakanginya. “Ohh.. ahh..”, desahku yang mulai kembali terangsang akibat kedua toketku diremasnya dari belakang sambil menciumi tengkukku. Aku juga mulai membuat gerakan-gerakan kecil dengan mengoyang pantat sehingga ujung kepala kontinya terasa menyentuh g-spotku. “Agh.. agh.. agh..”, desahku keenakan. Aku semakin tidak tahan dengan gerakan-gerakan kecilku dikombinasikan dengen tusukan kontinya yang gencar dari bawah, “Om, Inez dah mo nyampe lagi nih”, desahku semakin kuat dengan napas yang mulai tidak beraturan. “Cepet amir Nez, aku blon brasa banget mo ngecret”. “Ahh.. ya.. oh.. om.. ahh..”, desahku dengan sangat panjang mendapatkan orgasmeku kembali. Aku langsung nyender pada dadanya. “Om, nikmat banget deh maen ma om”.

Aku dibaringkan telentang diranjang dan dia segera menaiki aku untuk menuntaskan permainan ini. Dia mengarahkan ujung kontinya pada mekiku yang sudah basah dan sedikit terbuka itu. Sebelum dia sempat menusukkan ujung kontinya ke lubang mekiku, aku terlebih dahulu meremas dan mengocok-gocok kontinya dengan tanganku sehingga membuat dia semakin gemas. Kini senti demi senti dia mendorong ke depan hingga ujung kontinya pas tertuju pada lubang mekiku. Aku hanya membantu dengan kedua tangannya membuka kedua bibir memekku sehingga kontinya dapat menembus lubang mekiku dengan mudah. Dia mengangkat tinggi-tinggi kedua kakiku hingga ujungnya berada di atas kedua bahunya. Kurasakan kontinya masuk menyelusup ke dalam mekiku tanpa suatu kesulitan yang berarti hingga seluruhnya amblas. Aku semakin mengerang dan napasnya terengah-engah bagaikan orang yang lari dengan kencangnya. Suara dan napas kamipun saling memburu, sekujur tubuh kami dibasahi oleh keringat. AC di kamar itu nampaknya tidak terasa pengaruhnya. “Om, nikmatnya….”, erangku.

Aku menarik pinggulnya dengan keras dan diapun menekan kontinya ke dalam mekiku juga dengan keras sehingga peraduan antara kontinya dengan mekiku semakin dalam dan kencang. Genjotan kontinya semakin dipercepat sampai-sampai peraduan paha kami menimbulkan suara cukup keras. Kami sempat memperhatikan gerakan-gerakan kami itu di cermin besar yang ada di samping tempat tidur, yang diselingi dengan suara TV yang sengaja kami keraskan untuk menyamarkan suara kami.

Keringat yang membasahi tubuh kami semakin bercampur, sehingga terasa tubuh kami saling lengket. Aku gak puas dengan posisi di bawah, “om, inez pengen wot lagi”. Segera dikeluarkannya kontinya dari dalam mekiku lalu merobah posisi. Aku dengan sigap mengangkanginya lalu memasukkan kembali kontinya dalam mekiku lalu aku dengan cepat menggerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan, ke bawah dan ke atas, sehingga dia sulit menahan lahar hangat yang tertampung dalam kontinya.

Setelah beberapa saat, aku menawarkan padanya untuk nungging agar ia dapat dengan jelas mengamati gerakan-gerakan kami lewat cermin, namun dia gak mau agar tidak mengeluarkan lagi kontinya dari dalam mekiku sebab merasa sudah sangat mendesak ingin muncratkan maninya. Kali ini aku dengan keras dan cepatnya menggoyangkan pinggulku maju mundur dan kiri kanan, bahkan aku menarik dia bangun sehingga kami setengah duduk dengan meletakkan kedua pahaku di atas kedua pahanya, lalu pinggul kami bergerak seirama seolah kami saling mendorong dan menarik. Kakiku melingkar kebelakang tubuhnya.

Tiba2 dia memelukku keras, dia menyuruh aku memeluk lehernya, dia memegang pahaku dan berusaha untuk berdiri. “Mo ngapain om”. “Kamu blon perna digendong kan?” Setelah dia bisa berdiri sambil menggendongku, dia mulai menurunkan tubuhku pelan kemudian mengangkatnya kembali keatas, terasa sekali kontinya menelusuri liang mekiku pelan keluar masuk, sensainya beda banget ma wot di ranjang. “Gimana rasanya”. “Fantastis om, Inez blon perna ngerasain yang kaya gini, dia berjalan menuju ke tembok, badanku terayun pelan sehingga terasa sekali kontinya bergerak keluar masuk mekiku. Wah nikmat banget deh. Dia menekan punggungku ke tembaok dan mulai mengedutkan kontinya keluar masuk mekiku, dengan bersender ke tembok, dia bisa mengeluar-masukkan kontiny dengan lebi cepat ke dalam mekiku, aku mulai mengerang keenakan, “Om, luar biasa deh nikmatnya. Inez blon perna ngrasain gaya gendongan”. “Kan tadi aku dah bilang, aku demen banget ma cewek imut supaya bisa digendong2, ya inilah maksudnya”. Aku cuma bisa melenguh keenakan merasakan kontinya makin cepat kluar masuknya di meki aq.

Kami tidak mengubah lagi posisi hingga kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan. muncratlah maninya dalam mekiku sambil terus memompa mekiku dari bawah dan mengikuti gerakanku. Bersamaan dengan aku kembali mencapai klimaxku. “Wah Yang, meki kamu dah peret, empotannya berasa banget, palagi wot, ulekan meki kamu kaya ulekan sambel aja, mana tahan”. “Ya gak papa, masi da ronde ke 2 kan”. “Pastinya, mana puas aku ngecret cuma sekali di meki kamu. Eh gak papa kan ngecret dalam meki kamu. “Gak papa kok om”. “Kamu lagi gak subur kan”. “justru lagi subur, makanya napsu Inez gampang banget terangsangnya”. “Wah gawat dong”. “tenang aja om, Inez da antinya kok, dikasi ma cowok Inez. Dia kan datengnya bisa kapan aja, sehingga kalo mo maen ya gak usah ribetin subur gaknya Inez, makanya dia kasi Inez antinya”. Wah hebat, kudu trima kasi tu ma cowok kamu”, jawabnya sambil tertawa. Dia mencabut kontinya pelan dari mekiku, bersamaan dengan melelhnya maninya dari mekiku, dia menurunkan aku dari gendongan ke ranjang, sehingga aku telentang diranjang dan dia menyusul terkapar disebelahku,

setelah cukup istirahat menenangkan napas yang memburu, baru kami ke kamar mandi untuk membersihkan konti dan meki yang berlepotan dengan mani, dibawah pancuran air hangat, kemudian andukkan dan segera kembali ke ranjang. Dinginnya ac menyengat tubuhku yang masi setengah basah sehingga kerasa dingin. “Om acnya dimatiin ja, dingin banget”. “Jangan dimatiin yang, ntar panas, naekin suhunya ja”, jawabnya sambil menaekkan suhu ac. “aku pasang di 25 drajat ja ya, ini minimum, pantes dingin banget jadinya, kan dah malem juga”. Dia kembali berbaring disampingku, memeluk dan mencium kening dan bibirku. kemudian berbaring sambil berpelukan, bermesraan. Kami saling bercanda dan bersenda gurau layaknya pasangan kekasih yang lagi dimabuk asmara. “Om, istirahat dulu ya, Inez dah lemes banget, om hebat ih bisa ngegiring Inez ampe 3 kali nyampe”. “iya kita istirahat dulu, gak usah buru2, kita masi punya waktu ampe besok siang”.

Kami berdua tidur nyenyak sekali, mungkin abis perang bratayuda sangat melelahkan. Aku terbangun karena pengen pipis, dia masih tertidur. Kulihat dah terang dibalikmkorden jendela. Segera aku ke kamar mandi dan memnunaikan hajat kecilku, Aku menggosok gigi dan mencuci muka. Belum selesai dia masuk kekamar mandi dan memeluk tubuh telanjangku dari belakang. “Selamat pagi sayangku”, katanya sambil mencium tengkukku sehingga aku menggelinjang kegelian. “Dah pipis dulu, tu kontinya ampe ngaceng keras ” Dia melepas pelukannya dan buang air imut, kemudian dia ikutan gosok gigi dan cuci muka. Aku keluar duluan dari kamar mandi dan berbaring di ranjang lagi.

Dia segera menyusulku, tanpa diperintah lagi dia langsung mendekatkan batang kontinya ke tangan ku. Segera kuelus dan keremas dengan gemas. Aku mendekatkan wajahku untuk mengulumnya. “Sarapan paginya ini ya om”. “Kamu dah laper ya Yang, siangan ya makannya sekalian cek out, gak usah nunggu ampe jam 12, kita brunch ja di mangdu sambil beli pakean buat kamu. Itung2 trimakasi dari kantor kamu dah bantuin 3 minggu dengan memuaskan”. “Juga dah memuaskan om juga malem ini kan”. “Ya itu juga, aku puas banget deh maen ma kamu, ruar biasa dah meki kamu, dah peret abis trus kedutannya tu gak nahan banget, ntar kita beli juga hadiah dari aku pribadi deh”. “Inez gak minta lo om, Inez juga puas banget kok maen ma om, jau lebi nikmat ma om katimbang cowok Inez. Inez mau deh jadi ceweknya om asal dikasi nikmat tiap malem”. “Wah kalo tiap malem, kamu mesti tinggal ma aku dong”. Aku cuma senyum ja sambil kembali mengulum kontinya. Dia mendesah

Gak lama dia menarikku berbaring lagi. kayanya dah pengen masuk lagi dia, kontinya dah full ngacengnya. dengan hangat aku dipeluknya dan aku pun membalas pelukannya. Bibirku diciumnya dengan penuh kehangatan dan kelembutan. aku menyambut ciumannya, dia menjulurkan lidahnya kedalam mulutku dan segera kubelit juga dengan lidahku. Bibirku yang telah berubah warna menjadi merah terus dipagutnya dengan posisinya yang menindihku.

Dia menghentikan pagutan bibirnya dan melanjutkan kebawah, terus kebawah sampe ke bukit mekiku. Dipandanginya bukit mekiku, kakiku direnggangkannya. Pagutannya beralih bibir mekiku. Pantatku terangkat dengan sendirinya ketika bibirnya mengulum bukit mekiku yang telah basah oleh cairan. Jilatan dan emutan pada klitku membuat pahaku menjepit wajahnya. Semburan panas keluar dari mekiku, aku hanya menggeliat dan menahan rasa nikmat yang diakibatkan oleh jilatan dan emutannya.

Dia kemudian menarik tubuhku agar pantatku pas di pinggir ranjang. Kakiku menyentuh lantai dan dia berdiri diantara kedua pahaku. batang kontinya diarahkan ke bukit mekiku. Dia sedikit lebih melebarkan pahaku sehingga klitku terlihat dengan jelas. Ia menggesek-gesekkan batang kontinya di bibir mekiku. Aku merangkulnya dan mencium bibirnya. Pagutan pun kembali terjadi, bibirku dengan lahapnya terus memagut bibirnya. Dia meraba-raba bukit mekiku dengan batang kontinya, kemudian didorongnya perlahan sehingga kepala kontinya melesak masuk mekiku.

Kuluman bibir kami terjadi lagi. Dadanya terus digesekkan ke toketku yang sudah mengeras. Aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi untuk menambah nikmatnya. Kepala kontinya terjepit liang mekiku, sambil mencium telinga kiriku, dia menekan kontinya supaya masuk lebi dalam, batang kontinya sudah masuk ke liang mekiku hampir setengahnya. kakiku semakin kuangkat dan tertumpang di punggungnya. Tiba-tiba tubuhku bergetar sambil merangkulnya dengan kuat. “Aduhh..om” dan cairan hangat keluar dari bibir mekiku.

Mendapat guyuran air di dalam mekiku, dia lalu memasukkan semua batang kontinya ke dalam lubang mekiku. “Auh.. auh.. auh..” lenguhku. Aku terus menggoyang-goyangkan pantatku ke kiri dan ke kanan. Dia juga mengenjotkan pantatnya sehingga kontinya kluar masuk di mekiku. Nikmat banget rasanya pagi gitu dah dienjot dengan penuh napsu. Aku dengan ganasnya menggoyang-gonyangkan pantatku kekanan dan ke kiri membuat dia karena kuatnya jepitan bukit mekiku yang semakin menjepit. Beberapa menit kemudian dia memeluk badanku dengan eratnya dan batang kontinya ditekannya dalam2 dibarengi semburan panas maninya ke mekiku. Selang beberapa menit dia diam sambil memeluk aku yang masih dengan aktif menggerak-gerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan dengan tempo yang sangat lambat.

Dia mendekapku sampai batangnye mengecil dan terlepas dari mekiku.Dia merebahkan dirinya disampingku. Dia mencium keningku, “Yang, makasi buat kenikmatan yang kamu kasi ke aku”. “Inez juga nikmat banget kok om”. Ya udah skarang kita mandi trus cek out”. Larena dah laper juga segera kita membersihkan diri di kamar mandi, berpakean dan langsung cek out. Mobilnya meluncur ke daerah mangdu yang gak jauh dari lokasi motel. Nomer satu kita mengisi perut yang dh dangdutan dan diskoan dari tadi. habis itu dia mblanjain aku pakean dan hape baru dan berakhirah sesi nikmat diantara kami berdua dengan dia nganter aku pulang, mungkin akan ada lanjutannya tapi blon bisa diramal skarang.

Laporan Pelajaran Biologi

Namaku Henry. Saat ini aku duduk di Kelas 3 SMA yang sedang menunggu Ujian Nasional alias UAN. Aku akan menceritakan pengalaman pertamaku dalam bercinta. Kejadiannya sekitar bulan November tahun lalu.

Jovie adalah seorang gadis cantik di kelasku yang tentu saja seksi, tubuhnya ramping, dengan rambut hitam sebahu, berwajah manis dengan kulit kecoklatan, walaupun payudaranya tidak begitu besar, mungkin lebih kecil dari 34A. Namun tetap saja ia sering membuatku terangsang. Setiap hari ia selalu menggunakan rok sekolah diatas lutut. Sehingga paha dan celana dalamnya sudah menjadi santapan sehari-hari bagiku. Pahanya yang begitu mulus sering membuatku TURN ON, dan celana dalamnya sering menggoda hasratku. Hampir setiap hari aku melihat celana dalamnya, mulai dari putih polos, biru, gambar beruang, pink, hitam, dll.

Jovie duduk di sebelah kananku(di sekolahku tiap orang satu meja). Setiap kali aku berbicara atau ngbrol dengannya dia sering mengangkangkan kakinya sehingga aku bisa dengan jelas melihat motif celana dalam yg dipakainya (entah dia sengaja atau tidak). Hal itu yg membuatku senang ngobrol dengannya.

Suatu hari kelas kami diberi tugas untuk membuat laporan biologi tentang reproduksi manusia dan hewan. Dan aku dan jovie sekelompok berdua. Dan pada hari Kamis kami memutuskan untuk membuatnya di rumah Jovie sepulang sekolah.

Pulang sekolah aku langsung ke rumah Jovie. Sesampainya disana aku lansung disuruh pembantunya langsung ke kamar Jovie di lantai dua.

“Knock Knock”

Aku mengetuk pintunya, namun tidak ada yang menjawab. Lalu aku membuka pintunya perlahan dan masuk ke kamar Jovie. Ternyata Jovie sedang tidur terlelap dengan posisi telentang. Jovie masih mengenakan seragamnya lengkap dan kaos kaki masih menempel di kakinya. Kemejanya agak terangkat sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Roknya pun sedikit tersingkap sehingga aku bisa melihat dengan jelas celana dalam yang dipakainya(warna pink). Semua itu membuatku sangat terangsang dalam waktu seketika. Namun aku tidak berani membangunkannya(mumpung pemandangan bagus) maupun berbuat macam-macam kepadanya(maklum gak pernah). Tapi aku semakin tidak tahan, rasanya Penisku sudah berontak. Lalu aku keluar dari kamarnya dan ke kamar mandi.

Di kamar mandi aku segera melepaskan celanaku dan membebaskan burungku keluar dan mulai mengocoknya. Tiba-tiba aku melihat sebuah celana dalam bermotifkan beruang (seperti yang pernah aku lihat )tergantung di gantungan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambilnya dan mulai menggesek-gesekannya ke Penis ku yang tegang dari tadi. Ternyata begitu lembut CDnya Jovie, lalu aku semakin mempercepat kocokanku. Dan akhirnya “Crot………….crot………………crot………..” Sambil membayangkan Jovie sedang mengulum Penisku.

Celana dalam Jovie menjadi penuh dengan spermaku. Lalu setelah membersihkan Penisku aku kembali ke kamar Jovie. Dan ternyata ia telah bangun.
Aku : “Kamu uda bangun Jo. Aku uda dateng dari tadi tapi kamu lagi tidur jadi aku gak tega bangunin kamu.”
Jovie : “Aduh maaf, gw tadi ketiduran. Ywd kita langsung mulai yuk bikin laporan.

Maka kami pun mulai mengerjakan laporan biologi tugas kami. Tiba-tiba Jovie bertanya, ”Ereksi tuh apaan sih?Gw penasaran nih, jelasin donk”
Aku : “Ereksi itu pengerasan pada alat kelamin pria yang disebabkan oleh saraf dan pembuluh darah sebagai akibat dari suatu rangsangan tertentu.”
Jovie: “Itu sih aku juga tau. Tapi aku masih penasaran ereksi tuh kyk paan. Jelasin lagi donk yang detail.”
Pertanyaan Jovie membuatku terangsang lagi. Dan aku pun mulai berpikiran macam-macam.
Aku : “Klo gitu kamu mo lihat ereksi kyk pa?”
Jovie:”Nakal kamu! Tapi boleh juga. Mank boleh?”
Maka aku langsung membuka celana panjang dan celana dalamku. Jovie langsung terperangah melihat penisku yang sudah tegang. Ukuran penisku sekitar 15.5cm.
Jovie:”Wah gila, baru pernah gw liat punyanya cowo!”
Lalu Jovie dengan polosnya menyentuh dan meraba-raba penisku. Rasanya seperti tersengat listrik yang membuatku nafsu untuk menyetubuhi Jovie.

Dengan segera kudekatkan tubuhku dengan tubuhya dan mulai mencium bibirnya. Aku langsung melumat bibirnya dengan nafsu. Semula Jovie memang diam saja. Namun akhirnya dia membalas ciuman-ciumanku. Aku membalasnya lagi dengan semakin agresif, kuemut bibir bawahnya. Kuemut lidahnya. Dan ia pun mengemut lidah ku.

Lalu ciumanku semakin merajalela. Aku mulai menciumi telinganya yang bersih. Mengemut dan menjilati telinganya. Tanganku pun yang tadinya diam mulai menyentuh dan meremas payudaranya. Terdengar suara nafas Jovie yang semakin tersengal-sengal. Agh…agh….agh…agh….
Lalu aku turun menciumi lehernya dan terus meremas payudaranya. Lalu aksi kami berlanjut di ranjang. Aku segera membuka bajuku sehingga aku tidak memakai apa-apa lagi. Dan aku pun mulai membuka kancing kemeja Jovie satu per satu sambil menciuminya. Begitu melihat payudaranya yang masih terbalut Bra berwarna putih dengan tali biru. Aku pun langsung menciumi payudaranya yang kanan dan tangan kanan ku meremas payudara yang satunya lagi.

Sepertinya Jovie semakin menikmati permainanku. Ia menyuruhku untuk membuka kait branya. Aku tentu saja menurutinya. Sambil membuka kaitnya aku menjilati punggungnya dalam posisi telungkup. Lalu kutelentangkan dia kembali. Langsung kuburu kedua payudaranya yang imut. Kuemut dan kumainkan pentilnya dalam mulutku sambil tanganku yang satunya lagi meremas payudaranya yang lain. Kujilati terus putingnya sampai terasa mengeras. Payudaranya memang lembut dan indah sekali. Memang ini merupakan pengalaman pertamaku melihat dan merasakan payudara seorang wanita.

Akupun mulai melakukan pergerakan kebawah. Aku ciumi dan jilati kakinya, lau ke betisnya yang seksi dan kusingkapkan rok abu-abunya (tanpa membukanya) agar aku bisa merasakan kelembutan pahanya yang mulus sambil mendengarkan suara Jovie yang kegelian.

Lalu kuciumi celana dalamnya sampai basah. Lalu kutarik dan kulepaskan celana dalamnya. Terlihat kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu Jovie berkata ”Mo ngapain Hen?Jangan dimasukin ya!” Karena kasihan aku pun menutup niatku untuk memasukkan penisku.

Namun aku tetap menciumi dan menjilati vaginanya yang terlihat merah dan agak sedikit basah (munkin ini yang dibilang becek). Hal ini membuatku tambah nafsu. Aku terus menjilati dan memasukkan lidahku kedalam vaginanya. Jovie pun mulai menggeliat. Nafasnya semakin tidak teratur. “Agh..agh..agh..agh.” Lalu tanganku pun ikut meraba-raba bibir vaginanya, dan sepertinya kutemukan klitorisnya. Karena begitu tersentuh tubuhnya langsung menggeliat dan mengeluarkan suara yang semakin keras. Suaranya tersebut membuatku semakin mempercepat gerakan lidah dan tanganku. Dan tiba-tiba keluar cairan yang berbau seperti cuka dari vaginanya. Sepertinya Jovie mencapai orgasmenya. Dengan lahap kujilati cairan tersebut.

Jovie terlihat sangat menikmati orgasmenya. Aku pun iseng mengesek-gesekkan penisku ke bibir kemaluannya. Tiba-tiba Jovie menyuruhku,”Lagi hen, lagi hen. Masukkin!” Walaupun kaget, aku sangat senang mendengarnya(inilah yang kutunggu-tungggu). Dengan sigap aku memulainya.

Aku :”Ok, dengan senang hati sayang.”
Aku mulai memasukkan penisku ke vaginanya. Seret sekali vaginanya. Awalnya sulit untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Dan sepertinya Jovie agak kesakitan.
Jovie:”Egh…Pelan-pelan Hen!”
Aku : “Tahan dikit Jo, bentar lagi.”

Dengan sedikit dorongan aku berhasil memasukkan penisku. Aku pun mulai melakukan gerakan maju mundur (posisi konvensional). Benar-benar nikmat rasanya . Penisku seperti diurut-urut. Agh…agh…agh. Jovie pun mulai mengikuti gerakanku. Dan suara jovie makin lama makin keras. Lalu aku segera mempercepat gerakanku sambil mencium payudaranya. Lalu Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Namun setelah dipercepat aku kembali memperlambat (kayak waktu c*** system tarik-ulur). Kira-kira setengah jam tarik-ulur aku mempercepat gerakanku. Maju-mundur,maju-mundur…Dan tiba-tiba Jovie berkata:”Gak tahan Hen!Cepet –cepet!” Lalu tiba2 terasa ada air muncrat ke penisku. Rupanya Jovie sudah orgasme. Tidak lama kemudian rasanya penisku sudah 80% ingin memuntahkan sesuatu. Segera aku cabut penisku karena takut Jovie hamil. Lalu kujulurkan penisku ke wajah Jovie dan kusuruh mengulumnya. Enak sekali rasanya. Terasa lidahnya menjilat-jilat kepala penisku. Lalu kuajarkan dia mengocok penisku. Ia pun mulai mengocok penisku.
Aku :”Agh….agh….Terus jo….lebih cepet lagi….Uda mo keluar nih.”

Crot….crot…crot…crott….crotttt…Spermaku akhirnya keluar juga dan kutumpahkan semuanya di mulut Jovie. Ternyata Jovie menikmatinya spermaku. Ia menelan habis semua spermaku dan membersihkan kepala penisku dari sisa-sisa spermaku.
Karena lelah Jovie tertidur dengan lelap. Dan aku pulang ke rumah. What a great day!!!Klo begini Sering-sering aja bikin laporan.
Keesokan paginya kami bertemu lagi di kelas. Lalu dia berbisik kepadaku, ”Celana dalamku yang beruang kemarin kamu apain? Ehm…kapan-kapan kita bikin laporan lagi ya.”

Yanti, Sang Wanita Karier

Perkenalkan namaku Yanti. Aku seorang wanita karier berumur 35 tahun, bersuamikan pria yang sebelas tahun lebih tua. Pekerjaanku adalah Marketing Manager di sebuah perusahaan swasta yang menangani para Sales Promotion Girls, sedangkan suamiku adalah seorang Distric Manager Farmasi.

Di usia perkawinan yang sudah menginjak 14 tahun ini, kami dikaruniai dua orang anak yang manis-manis. Dea putri kami sekarang sudah berumur 12 tahun dan adiknya Rio baru 8 tahun. Walaupun sudah beranak 2 namun aku selalu menjaga kebugaran tubuh dengan mengikuti fitnes seminggu dua kali agar badan ini selalu terlihat langsing. Tidak hanya itu, aku selalu rutin minum jamu dan merawat tubuh, sehingga badan jadi sehat dan payudara 36-B masih kencang menantang. Kehidupan perkawinan kami berjalan wajar sebagaimana pasangan suami istri yang lain. Dengan materi yang cukup, kebahagiaan keluarga kami selalu terjaga.

Selain kami sekeluarga, di rumah ini tinggal seorang pembantu rumah tangga Mbok Nah namanya dan seorang anak laki-lakinya yang seumur dengan anak pertamaku, Harso adalah nama anak Mbok Nah. Mbok Nah adalah seorang janda muda dari Solo umurnya sekitar 30 tahunan, dia diceraikan suaminya sejak mengandung si Harso karena sang suami tidak mau mengakui bahwa anak yang dikandung Mbok Nah adalah anaknya. Itu beralasan karena Mbok Nah termasuk gadis desa yang ‘nakal’ pada waktu itu.

Karena terlalu mementingkan pekerjaan, setelah suami aku diangkat menjadi Distric Manager kehidupan sex kami mulai menurun. Hal ini dikarenakan seminggu dua kali kadang-kadang seminggu penuh suami aku harus ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Oleh karena itulah frekuensi hubungan sex kami hanya dapat kami lakukan jika suami ada di rumah dan tidak dalam keadaan lelah. Hal ini sangat mengganggu aku, karena libido aku terbilang cukup besar. Hubungan sex yang hanya dua kali dalam satu bulan membuat batin aku tersiksa. Hanya dengan masturbasi tuntutan batinku dapat tercurahkan.

Sering kali libodoku tiba-tiba muncul, entah di rumah, kantor, malah kadang-kadang di atas mobil. Jika sudah begitu hanya masturbasilah jalan keluar yang terbaik buatku untuk melepaskan hasrat.

Aku adalah tipe wanita yang setia, demikian juga suamiku. Jadi untuk melakukan selingkuh atau berhubungan sex dengan laki-laki lain menjadi pemikiranku yang ke-100. Banyak sih sebenarnya kesempatan yang datang ketika libidoku naik hingga hasrat untuk berhubungan sex menjadi suatu tuntutan batin, tetapi untuk melakukannya dengan laki-laki selain suamiku membuat aku harus berpikir 1.000 kali. Kalau hanya untuk membayar gigolo-gigolo muda rasanya kemampuan financialku lebih dari cukup, hanya saja aku selalu berpikir bahwa penis mereka telah keluar masuk dalam vagina banyak wanita hingga rasa jijik selalu mengusik. Sedangkan rekan-rekan kerja banyak juga yang sering menggoda, baik dengan gurauan maupun serius, tetapi itu semua tidak aku tanggapi.

Hingga suatu saat, aku mengalami suatu peristiwa yang luar biasa dan baru sekali dalam hidup ini. Persitiwa itu adalah melihat secara langsung sepasang pria dan wanita melakukan hubungan sexual. Ini terjadi di kantorku sendiri.

Siang itu ketika aku ingin buang air di kamar mandi kantor, tidak kukira jika kamar mandi sebelah sedang berlangsung ‘permainan panas’ antara dua insan manusia.

Dari balik kamar mandi yang sedang aku pakai hanya terdengar desahan nafas dan sesekali lenguhan. Aku tahu persis bahwa desahan dan lenguhan itu adalah akibat dari hubungan sex yang sedang dilakukan di kamar mandi sebelah. Dengan penuh penasaran aku segera menyelesaikan acara buang hajat dan mencoba mengintip dari lubang kunci.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku melihat Wati sedang berhubungan badan dengan seorang cleaning service kami. Wati berdiri dengan posisi menungging dan tangan bersandar pada bak mandi, sedangkan Tono si cleaning service menusuk-tusukan penisnya dari arah belakang dan tangannya berpegang pada pantat si Wati. Mereka tidak bertelanjang bulat, Wati hanya menyingkapkan rok mininya dan menurunkan celana dalam sebatas lutut, sedang celana Tono terlihat melorot sampai paha. Tampaknya kedua insan ini benar-benar menikmati hubungan sex mereka. Dengan mata terpejam terlihat Wati betul-betul menikmatinya, demikian pula Tono.

Jantung berdegub dengan kencang, keringat dingin membasahi tubuh, nafaspun jadi tak beraturan, tak terasa aku jadi terangsang. Celana dalamku mulai basah oleh cairan vagina, payudara dan putingnya mulai mengeras. Karena takut ketahuan, aku segera mengakhiri acara mengintip ini. Bergegas kembali masuk ke ruang kerja. Pikiran ini masih saja membayangkan peristiwa di kamar mandi itu. Hal ini membuat aku tidak dapat berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaan.

Tidak berapa lama tampak Wati berjalan melewati ruang kerjaku. Dengan wajah berbinar dan senyum manis tampak menghiasi wajahnya. Jelas sekali kebahagiaan tampak dari raut wajahnya. Beberapa menit kemudian, gantian Tono melintas. Berbeda dengan Wati, kali ini Tono tampak bergegas dengan wajah tertunduk.

Setiba di rumah sekitar pukul 19.30, aku menyadari bahwa suamiku sedang bertugas ke luar kota, anak-anak sudah berada di kamar masing-masing.

Setelah mandi badan ini segar kembali. Dengan bermalas-malasan aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Ketika mata mulai terpejam, bayangan peristiwa di kantor kembali mengusik. Hebatnya persetubuhan antara Wati dan Tono kembali membuat aku terangsang. Perlahan jari-jemari mulai mengelus lebut permukaan kemaluan yang masih tertutup celana dalam. Rasa nikmat mulai merambat ke seluruh tubuh. Sekarang giliran tangan kiriku meremas payudara dan sesekali memilin putingnya. Terasa cairan vagina mulai membasahi celana dalam. Jari-jemari semakin aktif menggosok dan dengan perlahan aku mulai melepaskan celana dalam dan membuka paha lebar-lebar.

Kini dengan bebas jari-jariku menelusuri clitoris. Gosokan pada clitoris membuat sensasi yang luar biasa. Seperti terkena aliran listrik ribuan volt, badan ini serasa melayang. Desahan nafas tidak dapat aku kontrol lagi. Dengan mata terpejam aku nikmati sensasi luar biasa ini. Tak hanya itu, sekarang jari tengah mulai ke masukkan ke dalam liang vagina. Dengan sedikit kulengkungkan ke atas, jari tengah kuarahkan pada g-spot. Perlu sedikit aku jelaskan bahwa g-spot (titik rangsang) pada wanita terletak antara clitoris dan liang vagina bagian atas. Kali ini sensasi rangsangannya melebihi jika kita menggosok clitoris. Dasyat sekali……….

Dengan mengeksploitasi g-spot, seorang wanita tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai orgasmenya. Hanya butuh beberapa menit saja …… hal inilah yang sering tidak dilakukan oleh seorang pria terhadap pasangannya atau seorang wanita yang tidak mau / tidak tahu tentang g-spot-nya.

Demikian pula aku yang dengan semangatnya menggoso-gosokkan jari tengah pada g-spot. Aku mulai merasakan bahwa orgasme sudah berada di ambang pintu…

“Aaaghhh…..” badanku mengejang, melayang jauh ke atas dan tiba-tiba jatuh dari ketinggian…. nikmat sekali.

Badan aku lemas seperti tidak bertulang, nafas ngos-ngosan dan jantung berdebar kencang. Dengan mata terpejam aku nikmati sisa-sisa orgasme.

Setelah co***ng down, mata terasa mengantuk dan akupun tertidur dengan pulasnya.

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia, setelah semalam melampiaskan nafsu yang membelenggu.

Tampak Mbok Nah tengah sibuk di dapur dan setelah itu merawat anak bungsuku. Dea dan Harso sudah berangkat sekolah, kini tinggal aku, Rio dan Mbok Nah.

Setelah mandi dan berdandan rapi, aku siap pergi ke kantor. Dengan mengendarai mobil, aku tempuh perjalanan 30 menit dari rumah ke kantor. Kembali aku harus memasuki dunia kerja yang penuh rutinitas, kesibukkan membuat aku sering lupa waktu.

Sore ini ketika kantor selesai, aku melihat Wati sedang duduk sendirian di ruang kerjanya. Perasaan penasaran kembali menghayuti pikiran. Segera aku masuk ke ruang kerjanya.

“Hai…..” sapaku, “ Tumben tidak segera pulang…?”
“Hai Yan….” balasnya, “iya nih…lagi males aja…”
“Kok sama Wat… aku juga males”
“Duduk di sini aja Yan…. kita ngobrol-ngobrol sebentar” kata Wati sambil menarik kursi mempersilahkan aku untuk duduk.
Setelah aku menutup pintu, aku segera duduk berhadapan dengan Wati. Kami mulai ngobrol tentang banyak hal, terkadang obrolan kami dibumbui gosip-gosip.

Tak terasa obrolan kami mulai menyinggung tentang sex. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, mumpung temanya lagi hot.
“Wat…. sebelumya maafin aku ya….”
“Hei… ngapain sih… kelihatanya serius amat…”
“Nggak…. kemarin tanpa sengaja aku mendengar sepasang manusia sedang bercinta di kamar mandi…. aku penasaran…… dan ketika ku intip ternyata kamu dan si Tono lagi begituan….”
Wajah Wati berubah memerah dan tertunduk….
“Sekali lagi sorry Wat…..”

“Nggak apa-apa Yan…. tapi kamu jangan sebarin ke orang lain ya…?” pintanya memelas.
“Pasti…. aku janji…. kamu adalah sahabatku bahkan sudah seperti saudara sendiri… mana mungkin aku sebarkan peristiwa itu pada orang lain….” jawabanku menenangkan hati Wati, “Kalian sering ya ngesex di kamar mandi…?”

“Itulah Yan…. aku ini punya libido yang besar… nafsu ini dapat bangkit tiba-tiba….. untungnya di kantor ini ada si Tono…. jadi kalau tiba-tiba bernafsu ketika di kantor, aku ajakin Tono ke kamar mandi….. aku hanya sekedar melepaskan hasrat…. aku nggak bisa nahan kalau hasrat itu datang…..” jelas Wati panjang lebar.
“Itu berarti kamu sama dengan aku Wat…. aku juga berlibido besar, sering tiba-tiba pingin banget ngesex, tetapi untuk melakukan hubungan sex dengan lelaki lain aku nggak berani….” jelas ku.
“Terus…. kalau lagi ‘pingin’ ……”
“Aku melakukan masturbasi….. yang penting hasrat ini terlampiaskan….. bukannya munafik Wat… sebenarnya ada rasa ingin mencoba tapi nggak berani….”

“Bukannya berani atau nggak berani Yan… tetapi kesempatan dan siapa yang mau diajak…. itulah point utamanya…..” dengan bersemangat Wati menjelaskan, “Aku dulu juga seperti itu Yan…. tapi setelah ada kesempatan dan Tono kebetulan menjadi pilihan…. terjadilah peristiwa di kamar mandi seperti apa yang kau lihat…”
“Kok bisa sih….”

Wati mulai bercerita awal mula ngesex dengan Tono. Dan hanya dengan Tono si cleaning service, tidak ada yang lain.

Peristiwa itu bermula ketika tiba-tiba hasrat sexual Wati muncul. Seperti biasanya dia langsung menuju ke kamar mandi kantor untuk ‘swalayan’….. karena desakan nafsu yang sudah di ubun-ubun, Wati kelupaan mengunci pintu kamar mandi. Dan Tono si cleaning service baru bekerja beberapa hari itu tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Mereka berdua sama-sama terkejut, sama-sama malu…..

Diusia menjelang 20 tahun, Tono adalah pemuda yang gampang banget terangsang…. hanya dengan melihat foto wanita mengenakan bikini saja sudah dapat membangkitkan nafsunya. Demikian halnya dengan ketidaksengajaannya membuka pintu kamar mandi dan mendapati Wati sedang melakukan masturbasi. Walaupun hanya sekilas Tono melihat kemaluan Wati, penisnya langsung ereksi hebat……

Peristiwa itu berlalu begitu saja, hingga suatu saat secara tidak sengaja mereka berdua kembali bertemu di lorong kamar mandi kantor.
“Maaf bu…. kemarin Tono membuka pintu tanpa mengetuk…”
“Ngggaakkkk… mmasalah Ton…. aku yang salah….” kata Wati terbata.
Mereka berdua menunduk malu, dan pembicaraan terhenti…
“Maaf, Ibu Wati mau ke kamar mandi… silahkan bu….” Tono memiringkan badan memberi jalan kepada Wati. Watipun berjalan melewati Tono dan masuk ke kamar mandi, bau harum parfum Wati langsung tercium oleh Tono…. tak dapat dipungkiri Tono kembali teringat peristiwa kemarin, dan itu mengakibatkan nafsunya bangkit. Penis Tono ereksi….
Tono hanya berdiri dan diam, matanya terpejam membayangkan kemaluan Wati yang sekilas dilihatnya kemarin, penisnya semakin keras. Tanpa disadarinya, Wati sudah keluar dari kamar mandi. Pandangan Wati langsung tertuju pada tonjolan celana Tono. Demikian besarkah penis si Tono, pikir Wati ketika ia lebih memperhatikan tonjolan penis di balik celana Tono. Mau tak mau libido Wati-pun bangkit.
Mereka berdua terhanyut pada imajinasi masing-masing. Dan ketika tersadar, dengan reflek tangan Tono menutupi tonjolan penisnya, demikian juga Wati segera memalingkan wajahnya.
“Maaf bu…..” ujar Tono
“Aku yang minta maaf Ton…” ujar Wati pula.
“Sekali lagi maaf bu… Tono tidak bisa menahan nafsu…. Tono bayangin ibu Wati….” kata Tono lugu dan polos.
“Pantes… penis-mu …..” Wati memberanikan diri.
“Iya…. sering seperti ini bu….” kata Tono lagi
“Kalau sudah begitu terus ngapain…” pancing Wati
“Paling-paling di’puasin’ sendiri… seperti yang ibu Wati lakukan kemarin…..”
“Berarti kamu dan aku sama Ton…. hanya dengan melihat tonjolan penis di balik celanamu akupun jadi terangsang….” kata Wati sambil meraba sela pahanya yang masih tertutup rok mini, “Aku rasakan celana dalam-ku mulai basah Ton….”
“Ibu mau masturbasi…. silahkan lho bu…. biar Tono onani di kamar mandi sebelah….”
Dengan penuh keberanian, Wati mengajak Tono untuk bergabung bersamanya dalam satu kamar mandi. Mula-mula Tono menolak, dia takut karena Wati adalah staff kantor yang dihormatinya dan Tono-pun takut jika ketahuan orang lain…..
Karena nafsu sudah menguasai diri, dan merasa ia berstrata lebih tinggi di kantor ini dibanding Tono, Wati segera mendekati Tono. Dengan segera Wati merapatkan tubuhnya pada tubuh Tono. Payudaranya terhimpit dada bidang si cleaning service, sejurus kemudian tangan Wati meremas tonjolan penis dibalik celana Tono. Diraihnya tangan Tono dan dituntunnya ke arah payudara. Dengan wajah pucat dan rasa ketakutan Tono hanya bisa terdiam, tetapi rangsangan pada penis-nya mengakibatkan sensasi nikmat yang luar biasa. Akhirnya iapun terhayut irama permainan yang disodorkan Wati. Tangan Tono sekarang sudah mulai berani meremas payudara Wati. Tak hanya itu, tangan itu mulai berani menyusup dibalik pakaian kerja Wati dan menemukan bongkahan lembut yang masih tertutup BH. Dengan perlahan tapi pasti, kini tangan Tono dapat melewati BH dan menemukan payudara dengan puting yang mulai mengeras. Sekarang Tono tidak perlu berkhayal lagi, seperti ketika ia melihat foto-foto artis Indonesia yang berbikini. Remasan dan pilinan tangan Tono pada payudara, membuat Wati semakin terangsang. Dipejamkan matanya, Wati menikmati rangsangan pada payudaranya. Demikian juga Tono, rangsangan pada penis-nya membuat ia kelimpungan menahan gejolak.

Keadaan lorong kamar mandi yang sepi, membuat aktivitas mereka terus meningkat. Wati, ia yang pertama sadar bahwa mereka masing berada di lorong. Segera ditariknya tangan Tono dan diajaknya si cleaning service lugu ini masuk ke dalam kamar mandi. Dikuncinya pintu, disandarkannya Tono ke dinding kamar mandi dan segera tangan Wati melepas gesper dan membuka restluiting celana Tono. Dengan sedikit tenaga celana itu sudah turun sebatas paha. Sekarang terlihat oleh Wati, penis yang ereksi terbungkus celana dalam. Ujung penis tampak keluar dari batas celana dalam. Tanpa membuang waktu diturunkannya celana dalam itu, kini dengan jelas tampaklah penis Tono yang ereksi penuh. Inilah penis laki-laki lain yang pertama kali dilihat dan dipegang olehnya selain milik suaminya. Dengan posisi berdiri di samping Tono, Wati mulai melakukan aktivitasnya.

Dikocoknya penis Tono dengan lembut, dengan gerakan naik turun yang ritmis. Lewat genggaman tangannya Wati dapat membandingkan besarnya kemaluan Tono dibandingkan dengan milik suaminya. Wati merasakan perbedaan yang mencolok, baik dari segi ukuran maupun kekerasannya. Penis Tono benar-benar luar biasa, maklum anak muda yang masih perjaka, yang belum tersentuh oleh wanita. Beruntunglah aku, pikir Wati.

Irama kocokan tangan Wati semakin meningkat tatkala ia mulai merasakan deyutan-denyutan pada penis Tono. Karena Wati sudah berpengalaman dengan suaminya, ia dapat memastikan bahwa sebentar lagi orgasme Tono akan segera tiba. Benar saja… tak berapa lama ejakulasi hebat terjadilah. Sperma Tono menNahprot keluar dari ujung penisnya, beberapa kali semprotan memancar jauh hingga membasahi dinding. Terlihat sperma yang berwana putih dan kental, menandakan kualitas sperma yang bagus dan tentunya tidak sering ejakulasi, baik dengan berhubungan sex maupun ejakulasi dengan onani ataupun petting.
Kini lemaslah tubuh Tono si cleaning service, dengan senyuman sebagai tanda kepuasannya.
“Terima kasih bu Wati…. ejakulasi yang hebat….” kata Tono dengan lugunya.
“Sekarang gantian ya…… aku juga pingin, Ton…” bisik Wati

Tanpa menunggu waktu, Wati segera mengangkat rok mininya dan melepaskan celana dalam G-string-nya. Tampaklah gundukan kemaluan ditumbuhi rambut yang terawat rapi. Memang Wati sering mencukur rambut kemaluannya dengan rapi untuk memperindah bentuk kemaluannya. Dengan segera pula ditariknya tangan Tono. Diarahkannya pada kemaluan yang sudah basah itu. Karena keluguannya, tangan Tono hanya terdiam di permukaan, dengan sabar Wati mulai menuntun tangan Tono untuk menggosok-gosokkan jarinya pada clitoris. Tono-pun melakukannya, kini Wati mulai merasakan sensasi dari jari-jari Tono. Tuntunan tangan Wati terhadap tangan Tono masih terus berlangsung, bahkan irama semakin berkembang dengan cepat. Tak hanya itu sesaat Wati mengarahkan jari-jari Tono untuk masuk ke dalam lubang vaginanya. Tak hanya satu, bahkan dua jari langsung yang dimasukkan. Hal ini dilakukan Wati agar sensasinya menjadi lebih dasyat.
Wati menikmati kocokan tangan Tono dan dengan goyangan pinggulnya ia mulai mengikuti irama kocokan. Walaupun masih dituntun, namun jari-jari Tono dirasakan oleh Wati menari-nari di dalam vaginanya. Ini berarti Tono adalah orang yang cepat belajar dan kreatif. Sesekali jari-jari itu menyentuh G-spot, dan jika itu berlangsung terlihat Wati semakin menggeliatkan tubuhnya.
“Tttooon… llebihh ceepeet… laaagiii….” pinta Wati, karena ia sudah merasakan orgasmenya semakin dekat.
Seperti atlet yang mendapat support, Tono semakin memepercepat kocokannya.
“Aaahhggg….. hheeggghhh…ahhgg !”

Tangan Wati semakin kencang memegang tangan Tono, tubuhnya meliuk, ia mengejang beberapa kali….. Dia mendapatkan orgasmenya. Badan Wati melemas dan ambruk di dada bidang Tono. Kenikmatan yang tiada tara baru saja ia dapatkan dengan lelaki yang bukan suaminya. Walaupun hanya dengan petting ia mendapatkan orgasme yang lebih hebat daripada dengan masturbasi sendiri atau bahkan berhubungan sex dengan suaminya yang nota bene hanya sebagai pelengkap hubungan suami istri.

Dengan peristiwa di atas, sekarang Wati lebih berani meminta kepada Tono untuk memuaskan nafsunya. Bahkan tak lagi petting, mereka sudah melakukan intercouse dan saling memuaskan satu sama lain. Dan tidak terasa hubungan itu sudah terjalin hingga kini, di usia kerja Tono yang ke empat tahun.

“Itulah Yan…. seperti apa yang kau lihat kemarin…..”
“Beruntunglah kamu Wat….” kataku sambil penepuk pundaknya.
Tak terasa hari sudah mulai malam, sekarang sudah menunjukkan pukul 19.21, saatnya untuk pulang.
Kamipun saling berpamitan pulang, dan sekali lagi Wati mengingatkanku untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun.

********

Sabtu malam Minggu, suasana rumah sedang sepi. Suamiku sedang up town ke Yogyakarta, sedangkan anak-anak dibawa neneknya ke Solo. Praktis hanya tinggal aku, Mbok Nah dan Harso putranya. Malam ini aku lewati hanya dengan menonton siaran televisi, semakin lama rasa jenuh menyerang sedangkan kantuk tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.26 WIB, ketika tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan. Dengan langkah perlahan dan penuh rasa curiga aku mengikuti sampai hilangnya bayangan tersebut.
Setelah benar-benar aku perhatikan, ternyata Harso yang sedang menuju ke kamar mandi. Mungkin dia kebelet pipis, tetapi telinga ini tidak mendengar gemercik air atau suara apapun di dalam kamar mandi. Sudah menjadi sifat aku, rasa penasaran itu selalu muncul dalam benakku. Dengan rasa penasaran aku menempelkan telinga pada pintu kamar mandi, sayup-sayup terdengar desahan halus dari dalam, perasaan penasaran semakin menjadi. Dengan perlahan aku memutar handel pintu dan membukanya. Dari celah tersebut aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Harso di dalam kamar mandi. Perasaan jadi ridak menentu, karena dengan jelas aku melihat Harso sedang asyik ber-onani. Dia nikmati betul acara ‘swalayan’ ini, terbukti dengan mata terpejam dia sama sekali tidak mendengar handel pintu dibuka, dan juga kehadiranku menyaksikan acara live show ini.

Dengan tangan dipenuhi busa sabun, Harso semakin cepat melakukan kocokan pada penis-nya. Sesekali pinggulnya bergoyang mengikuti irama kocokkannya. Harso benar-benar menikmati, dia tidak sadar bahwa tingkah lakunya sedang diamati oleh seorang wanita yang nota bene bernafsu besar. Melihat pemandangan seperti itu mau tidak mau aku jadi terangsang. Bayangkan saja, bocah lelaki 14 tahun dengan penis yang ereksi penuh. Aku melihat penis Harso yang tidak terlalu besar dan rambut kemaluannya masih terlihat jarang. Tetapi itu adalah penis seorang lelaki yang bukan suamiku. Bayanganku kembali kepada cerita Wati kemarin sore. Alangkah nikmatnya apabila aku dapat berhubungan sex dengan bocah SMP ini, tetapi beranikah aku ?. Pertanyaan itu muncul dalam benak yang sudah dilanda nafsu birahi.

Setelah aku berpikir jika ini bukan saat yang tepat untuk itu, dengan perlahan aku kembali menutup pintu kamar mandi dan langsung menuju ke kamar. Malam ini aku tidur dengan perasaan gelisah karena dengan jelas sekali aku melihat penis Harso yang tegang. Akhirnya aku melakukan ‘self service’ hingga mencapai orgasme,dan tidur dengan perasaan puas.

Minggu pagi ini seperti biasa, sehabis fitness aku langsung pulang ke rumah. Suasana sepi tampak sekali menyelimuti rumah. Setelah mobil aku masukkan ke garasi, langsung ku langkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.
“Mbok…. Mbok Nah……”
Sepi….. tidak ada jawaban dari yang ku panggil. Aku ambil sebotol air minum dingin dari kulkas dan langsung balik badan meninggalkan dapur. Ketika melewati kamar Mbok Nah, aku melihat pintu kamar sudah dalam keadaan terbuka. Aku melongok ke dalam, hanya ada Harso yang masih tertidur pulas. Berarti Mbok Nah sedang keluar rumah, entah ke pasar atau kemana aku tidak tahu. Aku tinggalkan kamar Mbok Nah dengan Harso-nya.

Setelah mandi badan ini segar rasanya, capek sesudah mengikuti fitness hilang sudah. Tidak terasa secangkir susu hangat kini hanya tonggal gelasnya, dengan langkah gontai aku pergi ke dapur untuk menaruh gelas kotor pada tempat cuci. Ketika melewati kamar Mbok Nah mata ini lansung melihat Harso yang mulai menggeliat terbangun dari tidurnya. Pikiran kotor aku tiba-tiba muncul. Dengan segera aku langkahkan kaki masuk ke kamar mandi. Sengaja pintu kamar mandi aku buka sedikit dan tidak aku kunci. Segera aku lucuti semua pakaian yang kukenakan, dengan segayung air aku basahi badan ini dan segera aku balurkan sabun ke seluruh tubuh. Aku berharap Harso akan masuk ke kamar mandi ini dan melihat tubuh telanjangku. Dengan berdiam diri di balik pintu, , gemuruh detak jantung dan rasa takut menyelimuti. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Ternyata jebakan ini membuahkan hasil. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan masuklah Harso. Dengan mata yang masih diselimuti rasa kantuk, dia tidak memperhatikan jika di dalam kamar mandi ini ada seorang wanita dewasa yang telanjang bulat. Dengan posisi membelakangiku Harso melepas celana sekaligus celana dalamnya, setelah itu t-shirt-pun terlepas dari badan kecilnya. Kini Harso sudah dalam keadaan telanjang bulat sepertiku. Dan ketika ia membalikkan badan, secara reflek dia tutup penis-nya dengan kedua telapak tangannya.
“Mmaa’aaf bbuuu… ssaayaa… ttiidakk ttahuu… kkkaalllau iibuu addaa ddiii ddaalammm…” katanya ketakutan.
Akupun berpura-pura menutupi payudara dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananku menutupi kemaluan.
“Aaa… seharusnya ibu yang minta maaf Har…. ibu lupa tidak mengunci pintunya….”
“Kalau begitu, Harso keluar saja bu….” katanya sambil menunduk
Tetapi sesekali aku melihat lirikan matanya tertuju langsung ke arah payudaraku. Aku ulur waktu….
“Jangan Har… kebetulan ibu perlu bantuanmu untuk menggosok punggung….” kataku sambil menyodorkan puff yang sudah penuh dengan busa sabun.
“Harso takut bu…”
“Ayolah… jangan takut…..” kataku menenangkannya.

Aku raih tangan yang menutupi penis kecilnya. Ku serahkan puff kepada Harso dan aku berkongkok memunggunginya.

Harso yang masih diselimuti rasa malu dan takut mulai menggosokkan puff pada punggungku. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kurasakan gosokkannya sudah mulai mantap dan tenang.

Dengan sabar aku memcoba untuk mengulur waktu agar Harso dapat semakin lama menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Kini gosokkan puff tidak hanya dilakukan bocah ini pada area punggung, aku merasakan ia sudah mulai berani menyentuhkannya pada bagian pinggang dan belakang ketiakku. Dengan sengaja aku membuka lenganku, ini membuat Harso dengan leluasa menyabuni permukaan samping badanku. Aku menjadi terangsang ketika puff melewati permukaan kulit payudara bagian belakang, desiran halus terasa mulai menyelimuti badanku.

Semakin lama tidak hanya samping badan saja, Harso mulai berani menggosokkan puff pada payudaraku. Tidak hanya itu, tangan kirinyapun mulai ikut aktif mengelus payudara kiriku. Aku nikmati elusan lembut itu, karena tidak tahan dengan perlakuan Harso itu aku memegang telapak tangannya dan langsung mengarahkan pada kedua payudara yang sudah mulai mengeras. Aku tuntun agar Harso tidak hanya mengelus tetapi meremas dengan putaran lembut pada putingnya.

Aku rasakan penis Harso yang ereksi menyentuh punggungku, anak ini sudah mulai terangsang. Kini tidak hanya sentuhan, dengan genggaman tangannya, Harso sengaja menggosok-gosokkan penisnya di punggungku. Aku yang sudah terangsang dari tadi mulai menggosokkan tangan pada kemaluanku. Aku rasakan kemaluanku semakin basah oleh cairan vagina, jari tengah aku arahkan pada vagina dan kusentuhkan pada G-spot-nya. Sekujur badan terasa merinding akibat sentuhan itu.

Kini aku balikkan badan dan tepat berhadapan dengan penis Harso yang sudah ereksi. Aku genggam penis itu, tetapi secara reflek Harso menghindarinya.
“Jangan bu… Harso takut….” katanya sambil menutupi penisnya.
“Nggak usah takut…. rasanya akan lebih enak dibanding kamu onani….. kamu sering onani kan ?”
“Kok ibu tahu….. ?” jawabnya penasaran
“Tahu dong…. sini… jangan takut…”
Aku sudah tidak sabar lagi, nafsu sudah membelengguku. Segera tanganku meraih penis Harso, sekarang dia tampak lebih tenang dan menikmati remasan tanganku. Sabun cair segera aku tuangkan pada permukaan penisnya, gerakan naik turun aku lakukan. Harso memejamkan matanya, menikmati kocokan lembut itu. Aku semakin memberanikan diri, di sela meng-onani-kan Harso ku telusuri permukaan perut bagian bawah dengan kecupan dan ciuman, sesekali tubuh Harso menggeliat ketika ciuman itu tepat pada titik rangsangnya. Sapuan lidah pada area antara pusar dan penis membuat Harso semakin kelimpungan, penis-nya berdenyut semakin kuat.
Pikiranku semakin ngeres…. aku bersihkan penis Harso dari busa sabun, ku dorong tubuhnya untuk bersandar pada dinding kamar mandi dan dengan lahap aku mengulum penis itu.

“Hhhggghh…..”

Harso tersentak menahan nafasnya ketika mulutku semakin kuat menyedot penisnya. Ia menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama sedotanku. Oral sex yang aku lakukan ini adalah yang pertama kalinya, karena suamiku tidak pernah mau melakukannya. Baik kepadaku maupun aku kepadanya sehingga kesempatan ini aku manfaatkan sebaik-baiknya.

Penis Harso yang sudah ereksi penuh ini maju mundur dalam mulutku, ketika gerakan mundur aku menyedotnya keras-keras. Tanganku memegangi pinggulnya, membantu mendorong penis dalam mulutku. Demikian juga Harso, tangannya memegangi kepalaku dan menarik dorong mengikuti irama permainan. Cairan kemaluan Harso mulai keluar, rasanya asin. Ini menandakan Harso sudah terangsang hebat. Aku lepaskan tangan kananku pada pantat Harso, segera aku gosok-gosok clitoris untuk mengimbangi rangsangan pada diriku. Kami berdua menikmati permainan ini.

Denyutan penis Harso semakin kuat dan sering, ini menandakan ejakulasi akan segera terjadi. Aku semakin mempercepat gerakan oral sex dan goyangan pinggul Harsopun ikut dipercepat.
“Bbbuuu…… Hhaarrrssoo… mmmaauuu …….”
Belum selesai ia berkata aku sedot penis-nya kuat-kuat dan ….
“Aahhhhggg…… hhheggghhh……..”
Tangan Harso mencengkeram kepalaku dengan kuat, sprema menyemprot di dalam mulutku beberapa kali…. mulutku tak henti-henti menyedoti penisnya hingga sperma itu tuntas keluar. Aku telan semua sperma yang tertumpah dari penis Harso, bahkan sisa-sisa lelehan pada kepala penis-pun aku jilati hingga bersih. Kata orang sperma jejaka baik untuk jamu bagi ibu-ibu yang sudah setengah umur, untuk obat awet muda. Asin dan gurih…
Tubuh Harso tampak lemas dan lunglai….. nafasnya tidak beraturan……
“Enak…. Har….. ?” kataku sambil tersenyum.
“Yyyaa…. bbuuu…. lebbihh eennakk ddari oonnani…..” Harso menjawab sambil memejamkan matanya.
Aku berdiri dan memeluknya, ku kecup keningnya dengan penuh perasaan.
“Ya sudah…. peristiwa ini menjadi rahasia kita berdua…. kapan-kapan ibu berikan yang lebih nikmat dari ini…oke….!” bisikku
“Ya… bu…. Harso akan simpan rahasia ini rapat-rapat” kata Harso sambil mempererat pelukkannya.
“Baiklah… kamu lanjutin mandinya…. ibu keluar dulu, jangan sampai mbokmu memergoki kita…. Oh ya Har… kalau kamu onani, spermanya jangan dibuang percuma ya… ditampung dan berikan pada ibu….. dengan catatan jangan sampai ketahuan bapak….” kataku sambil mengambil handuk dan membelitkan pada tubuhku, serta membawa pakaianku yang ada di kamar mandi ini dan segera keluar. Aku ingin mempraktekkan teori Ani rekan kerjaku yang sering menggunakan sperma untuk masker payudara, katanya payudara akan semakin kencang dan kenyal.
Sebenarnya aku ingin permainan ini berlanjut dengan intercouse, karena aku sendiri sudah amat sangat terangsang dan belum mencapai orgasme. Tetapi hal ini tidak aku lakukan, aku ingin hal ini berjalan sedikit demi sedikit dan aku tidak ingin Harso menjadi shock karenanya.
Segera setelah sampai di kamar, aku menumpahkan segala rangsangan yang sudah kudapat dengan ber’swalayan’. Kali ini guling yang menjadi sasaran amukan. Dengan tubuh telanjang aku naiki guling dan menggoyangkan pantatku sehingga kemaluan ini bergesek pada permukaan guling. Aku hanya berimajinasi bermain sex dengan Harso pada posisi di atasnya. Hingga desakan dalam tubuhku tak dapat ku tahan lagi…. dan ….
“Ooouugghhh……… hhhhegggghhh……” tubuhku mengejang, serasa terbang ke tempat tinggi dan tiba-tiba terjatuh
Aku dapatkan orgasme yang luar biasa hebatnya….. kenikmatan yang tiada tara…. belum pernah dalam masturbasi ataupun ketika berhubungan badan dengan suami aku mendapatkan orgasme sehebat ini. Tubuhku lemas… abruk…. ku gigit guling keras-keras… iiihhhhh aku gemesss….. Terlihat sebagian permukaan guling menjadi basah oleh cairan vaginaku.
Aku tersenyum sendiri memikirkan peristiwa hari ini. Benar-benar hari yang sangat membahagiakan hatiku, hari yang sudah memberikan kenikmatan luar biasa yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Akupun tertidur dengan perasaan bahagia.

*******

Tak terasa peristiwa itu sudah berlalu dalam seminggu. Hubungan sex dengan suamiku semakin bertambah mesra dan akupun sering mendapatkan orgasme hebat. Mungkin itu terjadi karena dalam berhubungan badan dengan suami, aku selalu membayangkan berhubungan sex dengan Harso anak Mbok Nah.

Malam ini setelah mandi, aku berpapasan dengan Harso di lorong dapur. Dari sakunya ia mengeluarkan botol plastik kecil dan menyerahkannya kepadaku.
“Bu…. ini untuk ibu…” katanya
“Apaah Har…” kuterima botol plastik itu, hangat rasanya.
“Pesanan ibu… katanya sperma Harso nggak boleh dibuang percuma…”katanya sambil berbisik
“Oohh itu… terima kasih Har….” kataku sambil mengusap rambutnya
Kecupan kecil mendarat di bibirnya sebagai hadiah.

Aku berlalu dan masuk kamar. Sendiri di kamar, karena hari ini suamiku sudah berada di Bandung memenuhi tugas kantor dan anak-anak sudah berada di kamarnya. Segera aku buka kimono, kemudian BH. Di depan cermin aku tuangkan cairan sperma Harso dari dalam botol plastik pada telapak tangan kananku. Putih, kental, lengket dan berbau khas mirip bau bunga Akasia, kemudian aku balurkan rata ke seluruh permukaan kedua payudaraku. Setelah semua terbalurkan dan merata, aku rebahkan badan ini di tempat tidur. Sambil menunggu kering, aku isi waktuku dengan membaca majalah. Benar kata Ani, dalam proses mengeringnya sperma pada payudara, aku merasakan payudaraku seperti dicengkeram dengan lembut. Dan ketika sudah kering benar, lapisan itu melapisi payudara dengan ketat dan terasa payudara semakin kencang. Setelah 15 menit, aku bersihkan payudara ini dengan washlap yang dibasahi air hangat. Sesekali washlap hangat ini dibiarkan menempel beberapa saat pada payudara, hasilnya sungguh luar biasa. Payudaraku terasa lebih kencang dan kenyal, putingnya juga terlihat lebih menonjol serta cerah warnanya (silahkan mencobanya sendiri, hasilnya tidak mengecewakan).

Setelah peristiwa yang lalu, anganku untuk berhubungan sex dengan ABG ini semakin menggebu. Tetapi kembali rasa takut masih saja membayangiku. Kadang kala aku berpikir bahwa umur Harso sama dengan usia anak perempuanku, dan ia sudah aku anggap sebagai anak-ku sendiri. Pagar makan tanaman…. itu yang selalu menghantuiku.

Sore ini tampak Harso, Dea dan Rio bermain bersama di halaman belakang. Aku dan Mbok Nah hanya memperhatikan mereka sambil duduk bersandar di kursi beranda. Keceriaan mereka membuah hati kami turut bahagia. Tetapi tiba-tiba pikiran kotor kembali mengusik, tatkala aku melihat Harso sedang menggoda Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatnya. Seeerrr….. desiran halus menyelimuti tubuhku. Aku bayangkan goyangan tersebut seperti tengah berhubungan sex bersama ku. Terbayangkan tubuh bugil dengan penis ereksi yang keluar masuk dalam vaginaku. Tak kusadara bahwa pandangan kosongku diperhatikan oleh Mbok Nah.
“Bu… Ibu…..” kata Mbok Nah sambil menggoyangkan lenganku.
Aku tersentak sadar dari lamunan kotor….
“Oohh….. Aaappa Nah ?” kataku tergagap karena kaget
“Ibu ngelamunin apa… kok kelihatannya serius amat…”
“Ahh..nggak kok Nah….. hanya badan ini terasa lesu…. “kataku berbohong.
“Lelah kali bu…. Ibu mau dipijitin….” Inah menawarkan diri
Aku terawangkan pandangan seolah-oleh sedang berpikir.
“Oke Nah…. kelihatannya enak dipijitin….” kataku setuju.
Kami berdiri dan bersiap masuk kamar, “Harso…. Dea… jaga Rio sebentar ya….. hati-hati mainnya… !” seru Mbok Nah memperingatkan.
Dengan langkah gontai aku menuju ke kamar diiringi langkah Mbok Nah dari belakang.
Segera aku rebahkan badan di atas tempat tidurku, Mbok Nah menutup pintu dan menguncinya. Lalu melangkah menghampiriku, kini posisi tiduku berubah menelungkup.
Dari belakang Mbok Nah melepaskan kimono-ku, dilipat rapi dan diletakkannya di atas meja. Kemudian BH-ku dilepaskannya pula, setelah itu tangan terampil Mbok Nah memelorotkan celana dalamku. Kini diriku tertelungkup dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang yang menempel. Tiba-tiba punggung ini merasakan sesuatu cairan yang sejuk, aku sedikit terkejut dan merinding.
“Apaan ini mbok ?” tanyaku penasaran.
“Oh.. maaf bu… hanya body lottion….”
“Pantes….. kok sejuk….” aku kembali memejamkan mata.
Dengan terampil Mbok Nah mulai memijat punggungku. Aku menikmati pijatannya, lembut tapi bertenaga dan sesekali membuat tubuh ini menggeliat tatkala tangan Mbok Nah menyentuh titik rangsangku. Aku paling tidak tahan jika kuduk dan bagian belakang telingaku disentuh lembut. Hal itu cepat sekali membuat aku terangsang. Aku yakin Mbok Nah menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada unsur kesengajaan ingin merangsangku. Pijatannya merata pada punggungku, dari atas hingga bawah semua dipijatnya.
“Mbok… aku mau tanya… Mbok Nah jangan marah ya…?” tanyaku memecah keheningan
“Silahkan bu…. ibu tahu sendiri kan Inah orangnya nggak suka marah…” kata Mbok Nah sambil mencubit pinggangku.
“Sudah sekian tahun kamu menjada… apakah kamu nggak kangen sama laki-laki mbok…?”
“Wehhh… sebagai perempuan normal tentu kangen dong bu…..”
“Pernah tiba-tiba kamu terangsang, mbok ?”
“Tentu saja pernah, bu… Inah kan nafsunya gedhe ” jawabnya polos
“Terus…..”
“Ya….. bagaimana lagi… ditahan-tahan nggak tahan juga….”
“Kamu puasin sendiri, mbok ?”
“Maaf bu, Inah nggak biasa masturbasi….. pernah melakukan sekali hasilnya kurang memuaskan, malah bibir kemaluan Inah perih semua….”
“Terus….” pancingku
“Ya…. Inah kan punya laki-laki untuk diajak ngesex….”
“Siapa laki-laki itu, mbok..?”
“Adaaa ajaaa….” kata Mbok Nah manja
“Katanya pacar kamu dulu banyak ya mbok ?”
“Ahhh… itu kan masa lalu bu….”
“Emang di desa gampang cari pacar ya…?”
“Nggak juga sih… dasar Inah aja yang ‘gatel’…. haa…haaa…haaa” ia tertawa terbahak-bahak.
Tanpa menyadari bahwa Mbok Nah sedang aku pancing untuk menceritakan masa gadisnya di desa, ia mulai berkisah kepadaku.

Diawali ketika Inah berumur 12 tahun, masih duduk di Sekolah Dasar. Walau masih SD tapi tubuh Inah sudah seperti gadis dewasa, maklum tubuh wanita desa lebih cepat berkembang dari pada wanita kota. Mungkin karena makanan yang mereka konsumsi masih segar dan alamiah. Dengan tubuh bongsor, di usianya Inah sudah memakai BH ukuran 34-B, ukuran yang cukup besar untuk anak SD. Dapat dibayangkan betapa besar payudara anak itu. Tidak hanya itu, pikiran Inah juga sudah seperti wanita dewasa.

Seperti bulan-bulan yang lalu, di lapangan Desa sering ada pertunjukan layar tancep. Sedangkan jarak lapangan dengan rumah Inah kurang lebih 2 – 3 Km. Itupun harus melewati persawahan dan keluar masuk kebun orang, jika harus lewat jalan raya jaraknya akan lepih jauh lagi. Dapat dibayangkan, hanya dengan memakai senter kecil Inah dan teman-temannya menerobos kegelapan malam pergi ke lapangan desa untuk nonton film. Film-film yang diputar adalah film Indonesia yang tergolong ‘hot’ di era 80-an. Inilah yang membuat kedewasaan Inah datang lebih cepat. Adegan yang terpampang selalu merasuk dalam pikirannya, hingga dalam tidur Inah sering bermimpi melakukan adegan seperti dalam film yang ditontonnya.

Tidak hanya itu, sering kali Inah menyaksikan sendiri sapi di kandangnya sedang kawin. Atau ketika mandi di kali seberang desa, Inah selalu mencuri-curi pandang ke arah kemaluan laki-laki dewasa yang sedang mandi. Kalau sudah begitu jantungnya akan berdegub kencang dan payudara serta putingnya mengeras, kemaluannya berdenyut-denyut. Inah tidak tahu reaksi apa yang sedang ia alami, hal ini selalu muncul jika ia melihat kemaluan laki-laki atau ternaknya sedang kawin.

Rasa penasaran anak remaja ini mencari pemecahannya. Ia malu bertanya kepada yang lebih tua, karena ia sadar kalau Inah masih anak-anak. Ia mencari tahu dengan pengalamannya, sebagaimana suatu hari dengan rasa penasaran ia sengaja meraba-raba kemaluannya sendiri. Dirasakannya kenikmatan asing hingga ia semakin meningkatkan dari rabaan menjadi gosokkan pada kemaluannya. Dan akhirnya ia dapatkan sesuatu yang membuatnya serasa melambung dan rasa nikmat yang dasyat. Kegiatan itu menjadi rutinitas dikala Inah akan tidur malam, jika itu belum dilakukannya ia tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Sore itu, Bapak dan Emaknya pergi kondangan ke desa tetangga. Tinggal Inah sendirian di rumah. Seperti biasa suasana sore terlihat sepi di desanya. Dengan langkah kecilnya, Inah menuju ke kamar mandi di halaman belakang rumahnya. Ketika melewati kandang sapi, tiba-tiba pikiran kotor merasuki otaknya. Ditengoknya kiri-kanan, sepi….. Segera ia masuk ke dalam kandang dan menghampiri sapi jantan milik Bapaknya. Perlahan diusapnya tubuh sang hewan piaraan itu, kini dengan rasa penasarannya tangan Inah mulai merambat dari paha menuju ke penis si sapi. Diraba-rabanya penis itu dengan penuh perasaan, pikiran kotornya semakin membuat Inah terangsang. Kini, tangan mungil itu mulai mengocok penis sapi yang semula kecil menjadi ereksi. Tidak ada reaksi yang berarti dari hewan kesayangan Bapaknya itu. Aktivitas tangan Inah mulai ditingkatkan. Terlihat batang penis itu mulai tampak menjulur keluar. Berwarna kemerah-merahan, licin dan itu membuat Inah semakin terangsang. Dirasakannya payudara mulai mengeras dan celana dalamnyapun mulai basah. Inah semakin tidak dapat menahan nafsunya, tangan kirinya segera masuk menerobos celana dalam tipisnya. Basah oleh cairan vagina, jari tengah Inah mulai menggosok-gosok clitoris. Irama kocokan pada penis sapi seiring dengan gosokan pada clitorisnya. Beberapa menit kemudian Inah merasakan denyutan-denyutan yang semakin kuat dari penis sapinya, demikian juga pada kemaluannya. Dan…… Aagghhh….. Inah mendapatkan orgasmenya, seiring dengan itu tangan Inah semakin cepat mengocok batang penis binatang ternaknya. Akhirnya dengan lenguhan panjang, keluarlah sperma sapi menyemprot kuat beberapa kali. Kocokan tangan Inah mulai melemah.
Setelah itu Inah bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi dengan perasaan puas. Hari ini ia mendapat pengalaman baru, dan rasa keingintahuan seorang remaja selalu saja akan meningkat. Itu baru sapi, pikirnya. Bagaimana ya rasanya memegang penis laki-laki ? pikiran itu selalu saja menghantuinya.

Malam semakin larut, tidak terasa sekarang sudah pukul 19.24.
Inah mendengar suara ketukan. Dengan segera ia membuka pintu rumahnya. Didapatinya bulik dan paklik Ali ada dihadapannya.
“Nah, Bapak dan Emakmu tidak bisa pulang malam ini, karena Pak Raji yang punya gawe minta agar orang tuamu membantunya di sana dan bulik disuruh nemeni kamu….” kata bulik Ali pada Inah
“Oh…. kalau begitu kebetulan lik, sudah lama Inah tidak ketemu bulik dan paklik” kata Inah senang
“Kalau begitu kamu tidur saja dulu Nah…. besok sekolah kan..?” kata paklik Ali.
“Iya lik…. kan sudah tidak ada yang Inah tunggu….” Inah beranjak pergi ke kamar tidurnya. Bulik dan paklik juga menuju ke kamar orang tuanya.

Inah mencoba memejamkan mata, rasa kantuk belum juga datang. Angannya kembali pada peristiwa sore tadi, sebagai gantinya Inah berimajinasi sedang mengocok penis seorang laki-laki dewasa. Dilepaskannya kaos dan BH, juga bawahan. Kini hanya celana dalam yang Inah kenakan. Dengan kain jarik, ditutupinya tubuh yang telanjang. Inah mulai merangsang dirinya dengan meraba-raba kemaluan yang masih tertutup celana dalam. Kembali ia terangsang, masturbasi kembali dilakukannya….. maklum anak bongsor ini termasuk gedhe nafsu libidonya. Setelah beberapa saat Inah mendapatkan orgasmenya, rasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Malam ini di dalam tidurnya Inah merasakan kenikmatan lain, ia merasakan remasan lembut pada payudara kirinya dan emutan diselingi gigitan kecil pada puting payudara kanannya. Hal ini dirasakan Inah sebagai pengalaman baru, tidak pernah terpikirkan olehnya jika payudara yang dikenyot dapat membuatnya terangsang. Selama ini yang Inah pikirkan bahwa payudara hanya untuk menyusui bayi, tetapi mimpinya berkata lain. Ia rasakan rangsangannya semakin kuat.
Betapa kagetnya Inah, setelah ia tersadar bahwa ini bukanlah mimpi. Kain selimutnya sudah pergi entah kemana. Didapatinya lik Ali tengah asyik meremas-remas dan mengeyoti payudaranya. Segera Inah tersentak, dijambaknya rambut lik Ali. Maksud hati ingin melepaskan mulut lik Ali dari payudaranya. Tetapi kenyataan berkata lain, lik Ali semakin kesetanan. Ia semakin kuat meremas-remas kedua payudara Inah, kini mulut Inah dibungkam oleh ciuman dasyat lik Ali. Untuk sementara waktu Inah gelagapan, ia sulit bernafas. Dalam pemberontakkannya Inah merasakan dirinya semakin terangsang. Beberapa saat kemudian Inah mulai tenang, bahkan ia mulai membalas kuluman bibir lik Ali. Lidah mereka beradu, ludah mereka bercampur. Remasan tangan lik Ali mulai lembut kembali bahkan sesekali puting payudara Inah dipencet-pencet. Inah semakin terangsang, kemaluannya mulai basah, nafasnya tak beraturan dan sesekali melenguh ketika ia merasakan titik rangsangnya disentuh.

Aktivitas mereka meningkat. Kini tangan lik Ali mulai turun dan menyentuh lembut permukaan kemaluan Inah yang masih tertutup celana dalam. Inah menggeliatkan badannya ketika tangan lik Ali menerobos masuk melewati celana dalam dan menyentuh clitorisnya. Benar-benar luar biasa….. rasanya berbeda dengan sentuhan jarinya sendiri. Jari lik Ali semakin aktif mengosoki clitoris Inah, sedangkan mulut lik Ali kembali beraksi pada payudaranya. Inah hanya bisa diam dengan mata terpejam menikmati apa yang sedang dilakukan pak lik-nya. Sesekali kedua tangan Inah menekan kepala lik Ali untuk lebih kuat menyedot payudaranya. Inah semakin lebar membuka pahanya, memberi kemudahan pada jari lik Ali yang sedang aktif menggosok clitorisnya.

Tiba-tiba, lik Ali menghentikan semua aktivitasnya. Rasa kecewa menyelimuti perasaan Inah. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena Inah melihat lik Ali turun dari tempat tidurnya, berdiri dan melepaskan sarungnya. Tampak oleh Inah penis lik Ali sudah mengacung tegang, mengkilat terkena cahaya remang lampu tempel.

Kembali lik Ali naik ke tempat tidur. Lik Ali mendekatkan penisnya pada Inah. Diraihnya tangan mungil Inah dan dituntun untuk memegang penisnya. Dengan ragu Inah memegang kemaluan suami adik emaknya itu. Inah menatap wajah lik Ali, dengan senyuman manis lik Ali mengangguk lembut, hal ini membuat keberanian Inah bertambah. Tidak hanya memegang, kini tangan mungil itu mulai menggenggam batang penis yang sudah tegang itu. Lik Ali menuntun genggaman tangan Inah dengan gerakan naik-turun pada kemaluannya. Setelah beberapa saat dilepaskan tangannya sehingga kini Inah sudah dapat melakukannya sendiri.

Lik Ali menikmati kocokan tangan Inah, kemudian tangan lik Ali kembali meremas-remas payudara gadis kecil itu. Inah semakin mempercepat kocokan pada penis lik Ali, demikian juga lik Ali semakin gemas meremas payudaranya dan sesekali memilin puting susu Inah, tidak ketinggalan tangan kanan lik Ali kembali masuk menerobos celana dalam Inah dan mempermainkan clitorisnya. Mereka berdua berpacu dengan nafsu, masing-masing meresapi rangsangan. Irama permainan semakin meningkat, hingga tiba-tiba tangan Inah merasakan penis lik Ali berdenyut kencang dan ….

Oouughhhh…… Hheegggghhh…..

Tubuh lik Ali mengejang, tangannya semakin kuat mencengkeram payudara Inah, sprema menyemprot tepat pada wajah Inah. Bebepara kali semprotan itu terasa kuat menerpa wajah Inah, dan kemudian tubuh lik Ali lemas dengan nafas ngos-ngosan. Tangan Inah mengurut penis lik Ali dengan kuat untuk terakhir kalinya. Terlihat sperma meleleh di wajah dan tangan Inah.
“Ohh…. terima kasih Nah,…. nikmat sekali rasanya….” bisik lik Ali di telinga Inah.
Inah seperti terjaga, ia segera sadar.
“Sudahhh… lik…. sana kembali ke kamar, nanti ketahuan…..” pinta Inah sedikit memaksa
“Kamu kan belum ‘dapet’ tho Nah…?”
“Besok-besok kan masih ada waktu, lik” kata Inah sambil mendorong lembut dada lik Ali
“Baiklah…. aku masih hutang padamu, Nah….” kata lik Ali sambil berdiri
Lik Ali segera mengenakan kembali sarungnya, terlihat tonjolan penis masih tercetak di balik sarung. Inah hanya tersenyum melihat bentuk sarung yang tidak rata itu.
Lik Ali menghapirinya dan mendaratkan kecupan lembut pada bibir mungil Inah. Inah-pun menerima kecupan itu dengan sedikit membuka bibirnya.
“Sekali lagi… terima kasih, Nah…” kata lik Ali sebelum menghilang di balik korden.
Inah tersenyum senang, tidak disangka hari ini dia mendapat dua pengalaman baru. Tangan Inah menyeka sperma yang membasahi wajahnya, telapak tangan yang basah oleh sperma itu kemudian diusapkan pada kedua payudaranya. Sensasi bau sperma yang mirip dengan bau bunga akasia kembali membuat Inah kecil terangsang, apalagi tadi ia belum mendapatkan orgasmenya. Kembali tangan mungil itu menyentuh kemaluan dan Inahpun melakukan “Self Service” hingga puncak orgasme didapatkannya.

Minggu pagi ini udara terasa dingin, rasa kantuk masih menggayuti Inah. Peristiwa semalam membuat ia kehabisan tenaga. Akhirnya iapun memutuskan untuk segera bangkit dari tempat tidurnya. Hanya dengan kain Inah menyelimuti tubuh telanjangnya dan pergi ke kamar mandi. Ia rasa mandi pagi ini akan membuat badannya segar kembali. Setelah selesai mandi, Inah menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat. Masih dengan berkemben kain ia melakukan aktivitasnya. Karena habis keramas, terlihat tubuh anak ini tercetak lekat pada kain yang basah. Setiap mata lelaki pasti akan melotot melihat kemolekan gadis desa yang satu ini. Payudara yang montok tampak jelas tercetak pada kain demikian pula putingnya.

Beberapa saat kemudian masuklah bulik Ali.
“Wah… rajin betul kamu Nah, pagi-pagi sudah ada di dapur”
“Ahh… bulik….” Inah tidak dapat menutupi keterkejutannya, ia menundukkan kepala dan merasa bersalah dengan apa yang dilakukan dengan suami buliknya semalam.
“Semoga saja bulik tidak tahu peristiwa semalam” pikir Inah.
“Lho kok terus diam, ada apa Nah”
“Nggak kok bulik…. paklik Ali kemana kok tidak kelihatan ?” tanya Inah mengalihkan perhatian.
“Oohh… pagi-pagi benar ia sudah pergi ke terminal mau ke Semarang katanya”
“Ohh….” hanya itu yang dapat keluar dari mulut mungil Inah.
“Umur kamu sekarang berapa Nah ?”
“12 tahun bulik, ada apa sih kok tanya umur segala ?” balas Inah penasaran
“Nggak… tubuh kamu bagus banget Nah, payudaramu juga montok…. bulik iri lho”
Memang bulik Ali orangnya tinggi, kurus, dan yang pasti payudaranya hanya seukuran cangkir teh, KUTILANG DARAT (kurus, tinggi, langsing, dada rata), kalau dibandingkan dengan Inah kalah jauh.
“Aahh… bulik ini, Inah hanya dapat bersyukur dengan pemberian Tuhan ini, lik…”
“Pasti banyak lelaki yang ingin meremas payudara mu ini, Nah…” kata bulik Ali sambil meremas payudara Inah.
Inah kaget dengan apa yang dilakukan buliknya. Dengan gerakan reflek ia mundur selangkah.
“Kenapa Nah….?”
“Geli bulik…. badan Inah jadi merinding….”
“Hhaaa…. hhhaa….. hhhaaa” bulik Ali tertawa.
“Kok ketawa, Lik ?”
“Berarti kamu mudah sekali terangsang…. libidomu besar, Nah”
“Memang kok Lik, Inah gampang sekali terangsang, jangankan payudara yang disentuh, tangan ini kalau diraba dengan lembut perasaan Inah jadi nggak karuan” Inah menjelaskan dengan lugunya.
“Oh Ya…. ?”
“Iya Lik, kalau sudah begitu payudara rasanya semakin membesar dan putingnya terasa gatal….”
“Kalau diterusin pasti kemaluanmu jadi basah, ya nggak Nah ?” bulik meneruskan
“He-Eh…” jawab Inah sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalau sudah begitu terus kamu ngapain…?”
“Ah… bulik ini, Inah jadi malu…”
“Nggak usah malu, kita kan sama-sama wanita…. jadi bulik juga merasakannya seperti kamu…”
“Janji…. bulik jangan ngomong ke orang lain…?”
“Wahh… ada rahasia-rahasiaan nih… baik, bulik janji…”
“Inah suka masturbasi kalau lagi terangsang…” bisik Inah pelan
“Sudah bulik duga, tapi kamu nggak usah malu… bulik juga melakukannya. Habis paklik-mu ogah-ogahan kalau diajak ngesex….”
Tidak disangka, bulik membuka rahasia pribadinya… itu berarti kata hati yang terpendam lama. Pikiran Inah kembali mengulang peristiwa semalam. Kiranya menjadi kebalikkan dengan cerita bulik Ali, semalam paklik tampak agresif sekali dengannya.
“Kalau begitu bulik sering kesepian dong…”
“Iya Nah….. paling-paling masturbasi terus tidur”
“Gimana sih rasanya ngesex itu, Lik ?” tanya Inah dengan lugunya
“Gimana ya…. pokoknya lebih enak dari masturbasi….”
“Inah jadi pingin ngrasain…”
“Huss… kamu masih terlalu kecil, Nah…” bulik Ali mengingatkan.
Inah hanya tersenyum, padahal semalam jika ia tidak ingat akan bulik-nya pasti ia dan paklik Ali sudah berhubungan sex.
“Lho kok malah ngelamun…..” teguran bulik menyadarkan Inah, “Ya sudah… bulik mandi dulu…. karena sudah janjian sama teman…”
Bulik Ali berlalu menuju ke kamar mandi, Inah kembali tersenyum. Semalam hanya dengan petting sudah membuat Inah merasakan nikmat, apalagi kalau penis lik Ali yang besar itu masuk ke dalam vaginanya, pasti rasanya akan tambah nikmat. Semakin tak sabar Inah ingin merasakan nikmatnya berhubungan sex, tak cuma harus masturbasi setiap kali ia terangsang.

Sebulan telah berlalu ……… Hanya penis paklik Ali yang selalu menjadi obyek khayalannya ketika masturbasi. Dapat dimaklumi, karena penis itulah yang secara nyata dipegang dan dipuasinya. Kini semua itu tinggal kenangan, harapan untuk berhubungan sex dengan lik Ali pupuslah sudah. Dua minggu yang lalu paklik Ali tewas dalam kecelakaan, sedih hati Inah. Selain menyesali diri atas kesempatan yang pernah ada dengan keinginan untuk tidur bersama pamannya tidak kesampaian.

Pengalaman pertama yang tidak terlupakan akan selalu mencari kesempatan untuk melakukan yang kedua dan seterusnya. Demikian pula Inah, setiap ada kesempatan ia selalu saja mencari cara untuk memanfaatkannya. Libidonya yang besar membuat ia selalu ingin melakukan hubungan sex secara nyata. Hingga suatu hari ketika sore itu ia pergi mandi di kali seberang desa, sengaja ia datang pada jam 15.00 karena setelah beberapa hari Inah mengamati, jam-jam tersebut masih sepi dan hanya ada 1 – 2 orang lelaki saja yang mandi.
Ternyata dugaan Inah kali ini tidak meleset, di kali itu hanya ada seorang lelaki Karno namanya, usia 15 tahunan, berbadan sedang, kulit hitam khas penggembala kerbau.
“Lho tumben Nah, jam sekian sudah sampai di sini” tanya Karno keheranan
“Iya No, maklum hari ini panas banget… aku nggak kuat…. gerah…” balas Inah berbohong
“Ohh….” Karno menjawab singkat sambil meneruskan mandinya.
Inah yang hanya berkemben kain itu segera masuk ke dalam kali. Ia sudah mempersiapkan jebakan sehingga tanpa mengenakan celana dalam maupun BH tubuh telanjangnya hanya ditutupi kain untuk kebenan. Sebenarnya kali ini tidak terlalu dalam, di tepian permukaan air hanya sebatas paha saja. Sehingga kalau mandi dengan berjongkok permukaan air akan mencapai sebatas leher.
Setelah meletakkan bakul dan peralatan mandinya Inah segera membenamkan tubuhnya ke dalam air. Dan secara perlahan kembali tubuh yang berkemben itu naik ke permukaan air. Begitu berulang-ulang sehingga dapat dibayangkan, tubuh Inah yang montok tercetak sangat jelas oleh kain yang basah. Hal ini tidak luput dari pengamatan Karno, dari curi-curi pandang hingga akhirnya ia pun menatap dengan mata melototi tubuh Inah yang sital itu. Inah tahu kalau jebakannya mulai mendapatkan mangsa, ia tahu kalau Karno tanpa berkedip memandangi tubuhnya walaupun masih tertutup kain basah, dan iapun tahu kalau Karno secara tidak sadar tubuh bagian bawahnya keluar dari permukaan air dan Karno juga tidak sadar jika penisnya sudah ereksi. Inah hanya tersenyum melihat Karno yang melongo tanpa berbuat apa-apa…..
Setelah bagian pertama dilakukannya, kini Inah melakukan rencana keduanya. Dengan sengaja Inah menyabun tangan dan kakinya, dengan menopangkan kakinya di atas batu kali, Inah menggosok kaki terus naik ke paha. Kain ia tarik sedemikian rupa sehingga paha mulusnya tampak sempurna nyaris memperlihatkan kemaluannya. Mata Karno semakin melotot, dan yang lebih menggelikan Inah bahwa tangan kanan Karno mulai mengurut penisnya. Kena kau…. kata Inah lirih. Setelah tangan dan kaki Ia bersihkan, sekarang tangan Inah mulai masuk ke payudara dan menggosoknya dengan sabun. Sengaja Inah tidak melepaskan kainnya, dan ia menempatkan posisi tubuhnya sedikit miring sehingga aksi itu tidak sepenuhnya terlihat oleh Karno. Benar juga, kali ini Karno semakin kelimpungan, tampak dari lirikan Inah badan Karno di condongkan ke kiri agar ia dapat melihat moment tersebut.
Setelah membasuh badannya, Inah berbalik menghadap Karno. Ia tersenyum, dengan sedikit membuka bibirnya dan lidahpun sedikit terjulur, tampak seksi dan sangat merangsang. Karno masih saja terhipnotis dengan pemandangan di depan matanya. Inah mengambil bakul dan membereskan peralatan mandinya, iapun segera naik ke permukaan dan menghilang di balik rimbunnya semak tak jauh dari kali. Di balik semak Inah mengintip apa yang akan dilakukan Karno. Betul dugaan Inah, Karno masih saja mengocok penisnya dan setelah sadar Karnopun menengok kanan – kiri mencari Inah yang telah lenyap dari pandangan matanya. Karno segera naik dan mengenakan sarungnya. Tampak tonjolan penis tercetak jelas di balik sarung yang dikenakannya. Dengan tergesa ia mencari dimanakah Inah berada.
Sekarang Inah mulai menjalankan rencana ketiganya. Dengan sengaja ia menggerak-gerakkan semak yang menutupi tubuhnya, ia ingin agar Karno mengetahui di mana ia bersembunyi. Beberapa saat kemudian Inah melihat sosok tubuh Karno mulai terlihat, segera ia berbalik badan dan melepaskan kain penutup tubuhnya. Kini Inah dapat merasakan kehadiran Karno di belakangnya, ia pun tahun mata Karno akan semakin melotot melihat ketelanjangannya, iapun merasa yakin penis Karno akan semakin tegang. Inah hanya dapat tertawa dalam hati. Rencana terus berlanjut, dengan sengaja Inah membungkukkan badannya sehingga dengan jelas pantat dan kemaluannya terlihat oleh mata Karno.
Pemandangan di depan mata membuat Karno semakin tidak tahan. Penisnya ereksi hebat, dengan perlahan Karnopun menurunkan celananya hingga kemaluannya yang tegang bebas mengacung di udara. Perlahan tangan Karno mulai menguruti kemaluannya, pandangannya tak lepas sedikitpun menatap tubuh telanjang Inah yang sital. Karno tak kuat menahan nafsu birahinya, ia berjalan perlahan mendekati Inah yang telanjang. Dari arah belakang dipeluknya gadis itu, diremasnya payudara yang montok, dicium lembut tengkuk mulus Inah. Dengan berpura-pura kaget, Inah membalikkan badannya.
“Ohh…. apaan sih kang…!” kata Inah pura-pura kaget
“Nah….. aku nggak kuat….” Karno memelas
“Apanya yang yang kuat kang…”
“Ayolah Nah… jangan siksa aku…..”
“Ihhhh….” Inah berteriak kecil sambil menutup wajahnya dengan tangan ketika ia melihat kemaluan Karno yang sudah tegang. Dalam hati Inah tertawa, jebakkannya berhasil !
“Ayolah Nah…..” Karno mencoba membuka tangan yang menutupi wajah Inah.
“Kok kemaluannya gedhe banget kang….” kata Inah sambil menunjuk ke arah kemaluan Karno.
“Nah… Inah…” Karno yang telah diselimuti nafsu itu segera menuntun tangan kanan Inah ke arah kemaluannya.
Dengan berpura-pura malu Inah memalingkan wajahnya, tetapi tangan yang sudah menyentuh kemaluan Karno tidak menolak untuk menggenggam. Karno menuntun tangan Inah untuk melakukan gerakan mengurut maju-mundur. Desiran hebat membuat Karno menahan nafasnya. Kini tangan Inah mulai aktif tanpa bantuan dari Karno. Karno memejamkan matanya menikmati kocokan lembut pada kemaluannya. Sekarang giliran Inah yang mulai dirasuki nafsu, desiran halus pada kemaluannya serta rasa gatal pada puting payudara membuat tangan kiri Inah mulai meraba dan memilin puting payudaranya. Desahan nafas mereka mulai terdengar, masing-masing menikmati apa yang mereka rasakan. Aktivitas Inah mulai meningkat, tangannya secara perlahan turun hingga menyentuh kemaluan yang ditumbuhi rambut tipis itu. Perlahan tapi pasti jari-jari Inah mulai digosokkan pada clitorisnya. Inah merasakan cairan vagina mulai membasahi kemaluannya, demikian juga cairan bening yang keluar dari ujung kemaluan Karno-pun dirasakannya.
Tak hanya diam, Karno mengulurkan tangannya dan menangkap sepasang payudara montok miliki Inah. Secara perlahan diremas-remas serta sesekali dipilinnya puting merah jambu itu.
Keduanya semakin kesetanan, Karno segera memeluk dan mencium bibir mungil gadis desa itu. Lidah mereka beradu, ciuman maut mereka lakukan. Tangan kiri Karno memeluk leher mulus Inah, sedangkan tangan kanannya terus aktif meremas payudara gadis itu. Demikian juga dengan Inah, tangan kanannya masih saja mengocok lembut kemaluan Karno, sesekali kepala kemaluan itu digesek-gesekkan pada clitorisnya. Baik Karno maupun Inah sama-sama merasakan kenikmatan awal permainan birahi ini.
Merasa bosan dengan ciumannya, mulut Karno beralih pada payudara yang montok. Kuluman mulutnya serta gigitan kecil pada payudara Inah semakin membuat pemiliknya merasakan sensasi yang luar biasa. Inah merasakan kenikmatan lain, dengan memejamkan matanya Inah meresapi apa yang sedang terjadi bahkan ia sempat menghentikan kegiatan mengocok batang kemaluan Karno. Dilepaskan tangannya, dan kini kedua tangan Inah menekan kepala Karno yang sedang mengenyoti payudaranya.

Aktivitas terus meningkat, Karno merebahkan tubuh Inah. Dibukanya lebar-lebar kaki gadis itu, sekaran tampaklah belahan kemaluan Inah terpampang jelas di depan matanya. Karno segera mengarahkan mulutnya, lidahnya dengan aktif menjilati kemaluan Inah. Badan Inah seperti kena setrum ribuan watt, meliuk-liuk ke kanan-kiri, tangan Inah semakin menekan kepala Karno yang tengah asyik melakukan oral sex.
“Kanggg…. aakkku juga pinggin…. ngemutt miiilikk muuu…” kata Inah disela-sela kenikmatan.
Tanpa komando Karno segera memutar badanya, posisi kemaluan Karno kini tapat pada mulut mungil Inah. Dengan segera Inah melahap apa yang ada dihadapannya. Sedotan mulut pada kemaluan Karno membuat si empunya semakin menahan nafas. Kegiatan ‘69’ yang mereka lakukan terasa semakin gila, saling sedot dan saling kulum membuat keduanya semakin kesetanan.
“Kangg…. akkuu… sudaah nggaaak tahannn….. mmmassuukkiin yaa kanggg..!” kata Inah setelah melepaskan batang kemaluan Karno dari mulutnya.
Karno segera mengatur posisi, paha Inah dikangkangkan sedimikian rupa hingga terbukalah kemaluan gadis kecil itu. Tampak lubang kemaluan yang memerah dan basah. Karno bersiap untuk memasukkan kemaluannya pada vagina Inah, digesek-gesekkan kepala kemaluan itu pada bibir vagina Inah. Ketika sudah menemukan lubang, perlahan ditekannya kemaluan dengan perlahan.
“Peelllannn…. kangg…..” rintih Inah ketika ia merasakan benda tumpul itu memasuki vaginanya.
“Oaaghhh…..” Inah menjerit kecil, dipelunya dengan ketat tubuh Karno ketika batang kemaluan itu melesak jauh ke dalam vaginanya.
“Hhgggghh……” Inah mengigit pundak Karno ketika batang kemaluan yang ereksi itu perlahan ditarik keluar dari vaginanya, darah segar meleleh disela-sela kemaluan Inah dan juga membasahi batang kemaluan Karno. Hilang sudah mahkota gadis desa itu.
Sekarang dengan perlahan Karno mulai melakukan gerakan maju-mundur memasukkan batang kemaluannya. Inah masih merasakan perih pada vaginanya, ia hanya dapat menahan rasa perih disela-sela kenikmatan. Tetapi ketika Inah menggoyangkan pantatnya, rasa perih itu berangsur-angsur hilang berganti dengan rasa geli dan nikmat. Disela-sela keluar masuknya kemaluan, Karno kembali melakukan aktivitas mulut pada payudara Inah. Inahpun semakin merasakan kenikmatan, baik vagina maupun payudaranya semakin gatal saja. Berdua berpacu dalam nafsu, semakin cepat Karno menggerakkan kemaluannya demikian juga goyangan pantat Inah tak mau ketinggalan.
Di balik ribunnya semak di pinggir kali, menjadi saksi hubungan sexual antara dua anak manusia berlainan jenis. Mereka terus meningkatkan kecepatan dan aktivitasnya.
“Aahhhggg…. kkaangg….. akkku…..kkeelluuaarr….kaanngg….!” Tubuh Inah mengejang beberapa kali, dipeluknya Karno dengan kuat. Inah mendapatkan orgasmenya dengan hebat. Tetapi Karno masih kuat, ia belum merasakan adanya tanda-tanda akan ejakulasi. Goyangan semakin ditingkatkan, Inah yang sudah lemas hanya bisa diam, ia hanya mampu mendengar nafas Karno yang ngos-ngosan. Tetapi hal itu terjadi tak begitu lama, Inah kembali merasakan gesekan kemaluan Karno pada vaginanya membuat nafsu gadis desa ini mulai bangkit kembali.
“Ayyyoo…. kangg….. teruuuss…. Oohhh….. ennnakkk kanggg…..!” kata Inah sambil menekan tangannya pada pantat Karno.
Seperti mendapatkan semangat baru, Karno tanpa henti menggenjotkan batang kemaluannya. Inah kembali menggoyangkan pantatnya. tiba-tiba Karno menghentikan gerakkannya dan tubuh itu ambruk dalam pelukan Inah.
“Capek kang…..” bisik Inah.
“He-eh….” hanya itu suara yang keluar dari mulut Karno di sela nafas yang ngos-ngosan.
“Gantian kang…. biar Inah yang di atas…”
“He-eh….”
Karno melepaskan batang kemaluan dari vagina Inah. Sekarang mereka berganti posisi, Karno membaringkan badannya, tampak batang kemaluan itu mengacung tegang. Dengan perlahan Inah mula merangkak di atas tubuh Karno. Perlahan digenggamnya batang kemaluan itu, dituntunnya memasuki vagina. Setelah dirasakan tepat pada lubang, Inah dengan lembut perlahan menurunkan pantatnya.

“Aaggghh…….” Inah menjerit kecil dan menahan nafasnya seiring dengan melesaknya batang kemaluan Karno ke dalam vaginanya.
Giliran Inah yang aktif menggerakkan pantatnya naik turun, sesekali diputarnya pantat itu. Karno merasakan sensasi lain, kemaluannya serasa dipilin-pilin oleh vagina Inah. Dengan leluasa tangan Karno meremasi kedua bukit kembar montok berputing merah jambu itu.

Inah yang berada di atas tubuh Karno semakin menikmati apa yang dirasakannya. Ia dapat mengendalikan arah mana yang membuatnya merasa nikmat. Baik gesekan kemaluan pada vaginanya maupun remasan lembut pada payudaranya membuat Inah semakin kelimpungan. Tak lama kemudian Inah merasakan desakan hebat melanda tubuhnya. Dilentingkan tubuh gadis desa itu ke belakang, dibenamkannya pantat dalam-dalam hingga ujung kemaluan Karno menyentuh dasar vaginanya, dipegangnya tangan kekar Karno untuk meremas payudaranya dengan kuat. Desakan orgasme tak tertahankan.
“Oouuggghhh…… Aaghhhh…!” jeritan kenikmatan keluar dari mulut mungil Inah.
“Ayo…. Nah… turunnn….” perintah Karno sambil mendorong tubuh Inah untuk segera turun dari tubuhnya.
Dengan cekatan tangan Karno mengocok batang kemaluannya.
“Aku…. maauu keeeluuaar… Nah…..!”
Pengalaman Inah dengan lik Ali membuatnya tidak tinggal diam. Segera disingkirkan tangan Karno yang sedang berkativitas itu. Dengan segera mulut Inah kembali melakukan oral sex. Sedotan mulut mungilnya serta kocokan lembut tangan Inah pada batang kemaluan Karno semakin dipercepat, hal ini membuat Karno semakin tak dapat menahan desakan dari dalam tubuhnya.
“Oougghhh……… Hhhgggghhh…….” tubuh Karno mengejang seiring dengan keluarnya sperma dari ujung kemaluannya.
Inah tidak mengira jika orgasme Karno akan berlangsung cepat, Inah tidak sempat melepaskan mulutnya hingga sperma yang keluar itu masuk dan tertelan olehnya, rasa asin dan gurih sperma dirasakannya untuk pertama kali.
Setelah semuanya mereda, dengan lembut Karno memeluk dan mengecup pipi Inah.
“Terima kasih Nah….”
“Iya kang…. Inah juga seneng……”
“Kamu tidak nyesel, Nah…?”
“Ah… kang Karno…. Inah rela kang….” senyum manis tersungging, kini giliran Inah mengecup pipi Karno.
Dua anak manusia yang berlainan jenis itu diselimuti rasa bahagia, tetapi mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kegiatan mereka di dalam rimbunnya semak.

Malam ini kembali acara pemutara film di lapangan desa diadakan. Dengan antusias Inah beserta teman-temannya merencanakan untuk nonton.
Senja sudah bergulir berganti malam pekat menyelimuti desa, dengan membawa senter Inah berjalan beriringan dengan beberapa gadis. Seperti biasa mereka berjalan menyusuri kebun dan landang untuk segera sampai ke lapangan desa.
Film yang diputar kali ini tidak jauh berbeda dengan film-film sebelumnya, film ‘panas’ ala Indonesia yang terlalu menonjolkan paha dan dada itu dinikmati betul oleh Inah. Dia selalu membayangkan adegan film itu dengan dirinya sendiri, mau tak mau nafsu birahi mulai merasuki dirinya. Kemaluannya mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalam, payudara serasa membesar dan putingnyapun mengeras.
“Hai… nonton apa ngelamun…?” sapa Karjo
“Ohh… kamu Jo….” jawab inah malu, untung keadaan sekitar gelap tanpa lampu, coba kalau terang pasti wajah Inah yang memerah akan tampak terlihat oleh Karjo.
“Boleh aku duduk di sampingmu, Nah…?”
“Silahkan Jo….”
Kembali mereka tenggelam dalam keasyikan menonton film yang semakin seru. Adegan ciuman tampak di hadapan mereka, terus berlanjut hingga adegan ranjang. Walaupun telah disensor, adegan tersebut sangat mempengaruhi penontonnya tak terkecuali Inah dan Karjo yang duduk di sampingnya. Karena sudah sejak tadi nafsu birahi telah mengusai Inah, adegan kali inipun semakin membuatnya tak sadar untuk meraba-raba kemaluannya. Karjo yang duduk di samping Inah sudah memperhatikan tingkah laku gadis ini, mau tak mau iapun mulai terangsang. Penisnya menegang, nafsu birahipun semakin menguasainya.
Karjo memberanikan diri memeluk Inah yang tengah asyik menikmati rabaan tangannya. Tak hanya memeluk, tangan Karjo mulai turun dan memegang payudara montok Inah. Inah hanya terdiam dan memejamkan matanya. Karjo semakin berani, kini remasan lembut pada payudara Inah semakin membuat Inah terangsang. Dengan sengaja Inah melepaskan dua kancing bajunya, hal ini dilakukan agar tangan Karjo lebih leluasa masuk menerobos BH dan menemukan gumpalan payudaranya. Remasan serta rabaan lembut pada puting payudara, membuat Inah semakin bernafsu, gosokkan tangan yang tadinya berada pada permukaan kemaluannya kini berlalih pada tonjolan celana Karjo yang ada di sampingnya. Inah menemukan penis Karjo yang sudah ereksi di balik celana panjangnya. Tangan Inahpun tidak tinggal diam, dia meremas-remas dengan lembut batang kemaluan yang sudah tegang itu. Kegelapan malam membuat kegiatan mereka tidak diketahui orang lain, apa lagi jarak antara satu dengan yang lainnya agak berjauhan. Film tidak lagi mereka tonton, kegiatan meremas menjadikan mereka asyik menikmati desiran dan rangsangan pada tubuh mereka.
Semakin tak tahan, Karjo membuka resluiting celananya dan menuntun tangan Inah masuk ke dalam celana dalamnya. Inahpun menemukan batang kemaluan Karjo yang sudah tegang itu. Tetapi segera pikiran Inah melayang membandingkan antara kemaluan lik Ali dan Karno. Dibandingkan dengan mereka kemaluan Karjo tergolong kecil dan tidak begitu tegang. Namun karena nafsu sudah di ubun-ubun tangan Inahpun melakukan remasan dan urutan lembut pada kemaluan Karjo. Sekarang giliran Karjo yang melepaskan tangannya dari payudara montok Inah. Perlahan tangan itu menyusup menerobos dibalik rok yang dikenakan Inah. Dengan sedikit gerakan, tangan Karjo menyibak celana dalam Inah dan menemukan gundukan daging berambut tipis sang gadis. Jari-jari Karjo mulai beraksi pada tonjolan kecil disela-sela belahan kemaluan itu, digosoknya perlahan hingga membuat Inah semakin kuat menggenggam kemaluan Karjo. Kegiatan semakin meningkat, nafsu birahi telah membutakan mereka.
“Nah… aku pingin……” bisik Karjo
“Jjaangann… ddii ssinnii Jooo” balas Inah dengan berbisik pula.
“Ayyooolah Nahh….” Karjo sedikit memaksa.
“Nggak aahhh… diginiin saajjaa…..”
Tiba-tiba saja Karjo menghentikan kegiatan pada kemaluan Inah dan dengan sedikit kasar iapun melepaskan tangan Inah dari kemaluannya.
“Kok berhenti, Jo…?” tanya Inah penasaran
“Kalau kamu nggak mau ya sudah….” kata Karjo cuek.
“Dikocok saja kan sudah enak Jo…”
“Kalau sekedar itu aku sudah sering melakukannya…. aku ingin kemaluanku ini masuk ke dalam kemaluanmu…. aku ingin berhubungan sex dengan mu, Nah….!” bisik Karjo dengan ketus.
“Ah…. kamu jo….. aku takut….”
“Kalau kamu nggak mau….. aku akan bongkar rahasia yang sudah lama ku pendam….. aku tahu kalau kamu dan Karno pernah melakukannya di semak-semak pinggir kali…. ya tho…?”
“Ha….” Inah terkejut bukan kepalang, dia mengira waktu itu hanya ada dia dan kang Karno saja.
“Ayolah Nah…. beri aku seperti Karno….. kalau kamu nggak ingin rahasia ini beredar di mana-mana…” kata Karjo sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Inah sendiri.
Inah hanya terdiam, pikirannya bekerja dengan keras….. di satu pihak dia sudah terangsang dengan apa yang dilakukan Karjo, di lain pihak dia tidak ingin rahasianya dibongkar. Hanya ada satu jawaban, Inah harus melayani Karjo seperti ia melakukan hubungan sex dengan kang Karno. Inahpun berdiri dan berjalan menghapiri Karjo yang sudah duduk jauh darinya.
“Baiklah Jo…. akan aku layani kamu…. tapi janji ya… jangan bocorkan rahasia ini….” bisik Inah
“Nah… begitu dong…..” kata Karjo sambil tersenyum.
“Kalau begitu, kamu jalan duluan ya….. tunggu aku di gubug ladang Pak Marto….” perintah Inah pada Karjo
“Oke… aku tunggu di sana….. awas kalau nggak dateng….” Karjo mengancam sambil berlalu menginggalkan Inah.
Demikianlah, akhirnya Inah harus melayani nafsu birahi Karjo di gubug Pak Marto. Dari mulut ke mulut berita cepat menyebar di kalangan para pemuda desa. Sekarang Inah terkenal dengan sebutan “Piala Bergilir”
Itulah sekelumit kisah dari Inah sewaktu muda dulu, tak heran memang pembantuku ini terlihat masih sexy dan kemayu.

Acara memijat terus berlanjut, karena badan ini merasakan mantapnya pijatan Inah tidak terasa akupun tertidur dengan pulasnya. Entah kapan Inah mengakhiri pijatannya, karena sewaktu aku terbangun hari telah sore dan ia sudah tidak berada di tempat dan tubuh telanjangkupun hanya berselimut kain. Akupun bergegas mandi, dengan air hangat tubuh ini semakin segar saja rasanya.

*****

Sore itu, sepulang dari kantor, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Super Market. Belanja kebutuhan sehari-hari, buah, sayur dan lainnya serta beberapa jenis kosmetik yang aku butuhkan. Setelah usai membayar belanjaan, bersama dengan seorang porter aku segera menuju ke tempat parkir. Dengan sigap dan cekatan poter muda itu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil. Entah apa yang membuat aku selalu memperhatikan bagian depan celana si porter muda ini. Terlihat tonjolan yang menggembung di balik celana ketatnya. Pikiranku semakin ngeres, desiran halus merambati tubuhku. Sebegitu besarkah ‘barang’ parter muda ini ? kataku dalam hati. Entah dia sadar atau tidak perhatianku tetap tertuju pada tonjolan itu. Semakin lama aku tidak dapat menahan gejolak ini. Aku merasakan cairan vagina mulai membasahi celana dalam. Pikiranku sudah tertutupi oleh nafsu birahi yang semakin menguat, sehingga ketika poter muda itu meminta tips karena tugasnya sudah selesai. Aku kaget dan tersipu malu.
Dalam perjalanan pulang, nafsu sudah di ujung kepala. Aku semakin tidak dapat menahannya, dengan segera aku tepikan mobil ke tempat yang agak gelap. Segera rok mini kuangkat dan celana dalam yang sudah basah aku turunkan hingga tumit. Tangan dan jariku segera melakukan gesekan pada clitoris. Tak hanya itu, jari tengah mulai ku masukkan ke dalam lubang vagina dan menyentuh G-Spot. Seperti mendapat sengatan listrik, tubuhku mengelinjang. Dengan irama ritmis aku menggosok-gosokkan jari tengah pada G-Spot. Sesnsasi yang luar biasa, nafasku mulai tidak teratur menahan gejolak nafsu yang semakin meninggi. Semakin lama semakin cepat kocokan jari tengah pada vagina, hal ini dikarenakan orgasmeku juga sudah semakin dekat. Akhirnya tubuhku serasa membumbung dan terjatuh dengan cepat. Orgasme itu datang, kenikmatan tiada tara aku dapatkan. Badan terasa lemas seperti tanpa tulang. Aku sandarkan badan ini pada kursi mobil. Dengan mata terpejam aku nikmati sisa-sisa orgasme yag baru saja aku dapatkan.
Setelah semua normal kembali, aku melepas celana dalam dan aku gunakan untuk membersihkan cairan vagina yang meleleh. Aku lihat celana dalam itu basah oleh cairan vagina yang keluar bersamaan dengan orgasmeku, dengan begitu saja aku lempar celana dalam itu ke jog sebelah kiri. Setelah aku merapikan rok mini, ku starter mobil dan kembali berjalan untuk pulang ke rumah. Perasaan ini menjadi lega setelah aku mendapatkan kenikmatan bermasturbasi. Memang gairahku sangat besar, dan sering muncul dengan tiba-tiba sehingga untuk menuntaskannya aku harus melakukan masturbasi. Jeleknya, nafsu itu sering muncul di tempat umum, kalau sudah begitu hanya dalam mobil pribadi aku menuntaskannya. Untuk itulah kaca mobil ini aku bikin gelap, sehingga orang yang berada di luar tidak dapat melihat apa yang aku lakukan.

Sesampai di rumah, aku bergegas masuk dengan tujuan utama adalah kamar mandi. Karena tergesa-gesa, aku tidak melihat Harso yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Kami berdua bertabrakan, karena badanku lebih besar Harsolah yang terdorong ke belakang sehingga kepalanya sempat terbentur dinding.
“Oh, maaf…. Har…..”
Harso hanya meringis sambil memegangi kepalanya.
Aku segera masuk kamar mandi dan menutup pintunya. Setelah beberapa saat aku teringat dengan belanjaan dan tas kerjaku yang masih berada di dalam mobil.
“Harso… tolong belanjaan dan tas ibu dimasukin ya….” teriaku dari dalam kamar mandi.
“Ya Bu…”

Aku bersihkan kemaluan dari sisa-sisa cairan vagina yang lengket, baru aku sdari kalau aku dari tadi tidak memakai celana dalam. Berati celana dalam itu masih berada di dalam mobil. Setelah bersih aku keluar dan ku lihat Harso belum juga masuk. Belanjaan juga belum ada di dapur, di atas meja kerja juga tidak terlihat tas-ku. Dengan penuh penasaran aku mencoba mengintip ke ruang garasi dimana mobil ku parkirkan.
Aku kaget sekali ketika melihat Harso masih berada di dalam mobil. Karena pintu samping mobil terbuka, aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan anak pembantuku itu. Dengan mata terpejam Harso menciumi celana dalam ku yang tadi kupakai dan dalam keadaan basah oleh cairan vagina. Tidak hanya itu, tangan kanan Harso menyusup kedalam dengan gerakan naik turun. Terlihat tonjolan penisnya tercetak jelas, Harso melakukan onani di dalam mobil sambil menciumi celana dalamku. Melihat Harso melakukan onani nafsuku kembali bergolak, dengan sengaja aku membiarkan putra pembantuku itu melakukan onani dan akupun mulai meraba-raba kemaluanku sendiri. Akhirnya aku jadi tidak tahan. Aku berjalan mendekati Harso yang tengah menikmati onaninya.
“Kok lama sekali……” kataku mengejutkannya.
“Oh… maaf bu….” kata Harso malu.
“Tanggung ya….” kataku menggoda
“Ah.. ibu…”
“Kamu pingin seperti yang kemarin ?”
Harso hanya mengangguk.
Segera aku masuk ke dalam mobil. Pintu mobil ku tutup rapat. Wajah Harso sudah tidak seperti dulu lagi, rasa takut tidak tampak pada wajahnya yang lugu, bahkan sekarang dia sendiri yang melepaskan celana pendek beserta celana dalamnya. Terlihat kemaluan yang sudah ereksi penuh mengacung ke udara. Aku tak sabar, segera mulut ini mengarah ke kemaluannya. Sekali lahap habislah batang kemaluan Harso. Sedotan demi sedotan membuat tubuh Harso kecil menggeliat kesana kemari. Kedua tangan Harso memegangi kepalaku sambil mendorong dan menariknya seiring dengan keluar masuknya penis dalam mulutku.
Seperti mendapatkan semangat baru, irama semakin ku percepat ketika aku rasakan denyutan penis Harso semakin kuat. Tidak hanya dengan mulut, tanganku dengan cekatan mengocok penisnya kuat-kuat dan akhirnya keluarlah sperma dari ujung penis dengan semprotan kuat masuk ke dalam mulutku. Aku menelan semua sperma yang keluar dari penis dan dengan sedotan kuat aku habiskan sperma itu hingga tak bersisa.
Sekarang giliranku bersandar pada kursi mobil. Hanya dengan mengangkat rok miniku tamopaklah kemaluanku. Aku sudah tidak memakai celana dalam sedari tadi waktu bermasturbasi di jalan. Kini giliran mulut Harso menyerbu kemaluanku. Jilatan lidah pada clitoris membuat aku kelimpungan, terkadang lidah itu ditusukkan jauh ke dalam lubang vagina sehingga tubuhku seperti melambung tinggi menahan rangsangan hebat ini. Harso sudah semakin pandai, gigitan kecil pada clitorisku juga sangat mengejutkan ditambah dengan sodokan dua jari tangan Harso yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku. Tubuhku tersentak, nafasku menderu tak menentu, kepala bergeleng kesana sini menahan rangsangan yang diberikan Harso. Kocokan jari semakin cepat dan ditambah sedotan kuat pada clitoris membuat orgasmeku semakin dekat. Kucoba untuk menahannya tetapi desakan begitu kuat sehingga jebollah .
“Hgg…. aahhhhh……..” aku berteriak kecil sambil menekan kepala Harso dengan kuat pada kemaluanku.
Tubuhku meregang, mata tepejam rapat, aku gigit bibirku menahan kenikmatan yang luar biasa ini, dan akhirnya aku tersandar lemas di jog mobilku. Harso kembali duduk di sampingku, aku terdiam menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja aku dapatkan. Belum lama aku menikmatinya, tiba-tiba Harso dengan lembut meraih tanganku dan diarahkannya pada penisnya. Wow… anak muda ini benar-benar hebat, aku rasakan penis itu sudah membengkak lagi. Aku tersenyum memandangnya, dengan lembut aku meremas-remasnya.
“Kamu pingin lagi ya….? Tanyaku sambil tersenyum
“Iya bu… Harso pingin penis ini masuk ke kemaluan ibu…” katanya sambil menunduk
Oh… sebuah kejutan lagi…..
Aku tidak mengira kalau Harsolah yang mempunyai inisiatif ini, padahal sudah lama aku yang menginginkan tetapi masih diliputi rasa takut. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, dengan segera sandaran jog mobil aku turunkan sehingga posisi tubuhku terlentang dengan bebas. Aku tuntun anak SMP ini naik ke atas tubuhku. Dengan posisi kaki aku kangkangkan dan penis itu aku arahkan tepat ke dalam lubang vagina yang memang sudah menuntut untuk segera dimasuki penis tegang.
Kali ini aku melihat wajah Harso yang tegang, aku hanya tersenyum menatapnya. Sepertinya anak muda ini sudah tidak mampu menahan emosinya, dengan segera ia melesakkan batang penisnya. Kembali aku tersenyum, penis itu meleset dari sasarannya.
“Tenang…. perlahan …. jangan tergesa-gesa…..” kataku pada Harso.
“Iya…bu….”
kembali aku genggam kemaluan itu, aku arahkan ke dalam lubang vagina dan ku tuntunn memasukinya.
“OK… masukkan perlahan….” komandoku
Harsopun menuruti apa yang aku perintahkan, secara perlahan penisnya mulai masuk ke dalam vaginaku. Perlahan tapi pasti akhirnya masuklah semua hingga ke dasar lubang vagina. Akupun merasakan tubuhku bergetar jebat ketika penis itu masuk. Inilah penis kedua setelah penis suamiku yang telah menerobos lubang vaginaku.
Sepetinya hubungan sex adalah naluriahseorang manusia, kini tanpa dikomando lagi Harso mulai menarik separoh dari penisnya dan menghujamkan kembali ke lubang vagina. Terus… terus…. dan terus…..
Goyangan pinggulku mengimbangi gerakan naik turun pantat Harso. Irama yang ritmis ini membuat nafsuku semakin meningkat, gesekan penis pada dinding vagina serta rambut kemaluan Harso yang menyapu dan menggesek clitorisku membuat aku tidak dapat menahan lagi orgasme-ku.
“Hmmm… aayyoo….. Hhharr… lllebihh cceeppatt…lagii….. iibuuu ssuuddaah tidak… tttaaahaann…. aahhhhh”
Harso semakin mempercepat gerakkannya, goyangan pinggulku juga ku percepat.
“Aaahhhggg….. Oouugghhh……”
Orgasme datang dengan hebatnya, hingga tanpa ku sadari aku merapatkan kaki sehingga penis Harso terjepit olehnya. Aku mendekap erat tubuh anak pembantuku ketika orgasme itu datang.
Tetapi penis si Harso muda masih saja melakukan gerakan maju mundur menusuk lubang vaginaku yang sudah banjir, oh… ternyata ia belum mengalami ejakulasi… kuat juga anak ini .
“Ayyoo… teruss….. sshhhh” aku memberi semangat kepadanya disela-sela lemasnya tubuh setelah orgasme.
Mendengar itu Harso semakin tambah semangat dalam melakukan hubungan sex terlarang ini. Terbukti dengan semakin cepatnya dia menusukkan penisnya pada vaginaku. Akupun kembali mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku.
Tak terasa aku kembali mendapatkan rangsangan, semangat anak muda ini membuat gairahku terbakar.
Dengan sedikit kelelahan, gerakan Harso mulai melemah. Tetapi jangan salah, tusukan penisnya malah semakin keras dan sedikit kasar. Hal ini membuat aku semakin kelimpungan, tusukan yang keras itu membuat penis Harso masuk secara penuh ke dalam lubang vagina sehingga menyentuh dasarnya.
“Hhhggg…. hhhggghhh” hanya itu suara yang keluar dari mulutku ketika penis Harso menghujam keras
Tubuhku menegang ketika tusukkan itu mengenai dasar vagina, belum pernah aku mengalami peristiwa seperti ini. Tusukan yang keras membuat aku semakin dekat dengan orgasme demikian juga dengan Harso. Aku merasakan penisnya berdenyut semakin cepat dalam himpitan vagina.
Benar juga, tak berapa lama tubuhku menegang, aku kembali mengalami orgasme yang lebih hebat dari yang pertama dan kemudian Harso menyusulnya. Pancaran sprema terasa hangat dalam vaginaku. Tubuh Harso ambruk lemas dalam dekapanku, kami berdua sama-sama lemas, nafas kamipun ngos-ngosan seperti habis berlari jauh.
Aku ciumi kening anak muda ini sebagai ucapan terima kasih. Harsolah yang telah membuat aku mengalami multi orgasme, dialah yang pada hari ini telah memberiku pengalaman baru dalam berhubungan sex. Hari ini penuh kejutan…. itu intinya.
Setelah semuanya usai, dengan perlahan Harso mencabut penisnya, desiran halus ku rasakan ketika penis yang mulai lemas itu keluar dari lubang vagina.
Tampak cairan sprema membasahi penis Harso, dan dari dalam lubang kemaluan aku rasakan ada lelehan sperma yang keluar. Aku ambil celana dalamku yang tergeletak di atas dashboard, kuseka lubang kemaluanku hingga bersih dari sperma, setelah itu giliran penis Harso aku seka hingga bersih.
Kami keluar dari mobil, sekali lagi dengan senyuman manis aku mengucapkan terima kasih kepada anak muda yang telah membuat aku mengalami multi orgasme.
Bersama-sama kami masuk sambil membawa barang belanjaan dan tas kantor.
“Bu… boleh Harso menyimpan celana dalam ini” kata Harso sambil menunjukkan celana dalamku yang sudah basah oleh cairan vagina dan sperma. “Harso ingin ini menjadi kenangan…”
“Kenangan untuk apa….” jawabku penasaran
“Hari ini perjaka Harso telah Harso persembahkan untuk ibu….. Harso selalu membayangkan bersetubuh dengan ibu ketika onani…. dan hari ini semuanya telah menjadi kenyataan……”
“Oohhh….. ya sudah…. tapi simpan rapat-rapat rahasia ini … jangan sampai Mak-mu tahu…ya….” kataku sambil mengelus rambutnya dan kecupan lembut mendarat di keningnya.

Pengalaman pertama berhubungan sex dengan orang lain membuat aku jadi lebih berani untuk berpetualang. Sekarang secara rutin Harso melayaniku seminggu dua kali. Di luar itu masturbasi tetap saja aku lakukan ketika tiba-tiba nafsu membelenggu..

TAMAT