Latest

Sahabat dekat istriku yang trauma

Yang ingin aku ceritakan pada adalah pengalaman ML dengan teman istriku. Pernikahan kami berdua sangat bahagia, jarang seumuran kami sudah berkelurga.menikah pada usia muda mungkin bukan rencana ku dan istriku.Tapi Tuhan sudah berkehendak lain inilah jalan yang harus kulalui. Sungguh bahagia menyambut datangnya hari itu,peristiwa indah yang terukir dalam sebuah cinta.Tidak lama kemudian kamipun dikaruniai bayi mungil yang akan menambah kehagiaan rumah tangga.Hari demi hari kulalui tanpa terasa anak ku semakin besar dan usiakupun juga semakin bertambah,perbedaan prinsip,ego ternyata sudah bisa kami kendalikan dan atasi hinga keluarga kami selalu terpisah dari kata bertengkar.

Anak- anak sekarang sudah sekolah dan sebagai orang tua aku harus siap mendidik sedini mungkin agar kelak aku bisa menjembatani mereka agar bisa menjadi anak yang berguna dan tidak salah langkah.Tidak terasa liburan semester sudah tiba,rutinitas keluarga adalah mengajak mereka holiday.kali ini aku aku merasakan kejadian luar biasa pada saat itu,ya Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada dikota Solo kota kelahiran istriku, kebetulan kami mempunyai rumah disana dan saat itu liburan anak sekolah.

Sudah 2 hari kami berada di kota, hampir seluruh sudut kota kami jelajahi dan anak anak juga sangat senang menikmati liburannya dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata di kota itu.Saat itu kami sedang berada disebuah mall ketika sebuah suara terdengar “Hey……, apa kabar ..? seorang wanita berusia sedikit diatas istriku tiba tiba setengah berteriak menegur Yani,

“Eh.., Mei….apa kabar..” jawab istriku yang langsung menghampiri wanita itu dan mereka berpelukan.
“Pa…ingat kan..ini Mei….” kata istriku
“Tentu saja aku ingat…apa kabar..? “tanyaku menyalaminya

Mei adalah sahabat istriku saat masih kerja di solo…, wajahnya khas jawa, tidak terlalu cantik, kulitnya sedikit gelap tapi bersih, terakhir kami bertemu 5 tahun lalu disuatu pesta di Kota itu, ketika itu ia datang dengan tunanganya.
Keduanya lalu ngobrol entah apa yang dibicarakan namun tampak mereka bicara tak putus – putusnya, bahkan istriku nampaknya lupa kalau ia sedang belanja, dan akupun melangkah meninggalkan mereka dan menggandeng anakku meneruskan belanja kami, kubiarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya.
Sesaat kemudian keduanya menghampiriku dan Mei pamit mau pulang.

“Kasihan…ia tidak jadi nikah” kata istriku dimobil
“Lho..kok…? tanyaku
”calon suaminya kawin dengan wanita lain, dan ia pengin sendiri, ia anggap lelaki sama habis manis sepah dibuang” panjang lebar istriku menjelaskan
“Lalu…, apa hubungan mereka sudah jauh?” tanyaku lagi
“Ya sudah dan menjelang lamaran lelakinya pergi dengan wanita lain, sementara mei sudah menyerahkan kehormatannya untung saja tidak sampai hamil,…Mei sekarang kerja diperusahaan lain untuk meninggalkan masa lalunya, memang banyak yang pingin memperistrinya tapi dia masih trauma” jelas Yani

Percakapan berhenti sampai disitu karena anak anak mulai cerewet minta makan dan kamipun berhenti di sebuah restoran yang sejak dulu menjadi langganan kami.

“Pa.. Mei kusuruh kesini ya…, sebelum kita pulang, biar dia nginep disini…” istriku membuka percakapan sore itu ketika kami sedang santai di teras rumah kami yang terletak agak dibagian pinggir kota
“Boleh” jawabku..dan sungguh …saat itu tidak ada satupun pemikiran yang aneh aneh melintas di benakku, aku sedang melepas semua pikiran tentang pekerjaan dan benar benar bersantai, lagi pula anak anak juga tidak mau tinggal diam…selalu ribut tidak karuan
Yani mengambil HP nya, setengah jam ia ngobrol dengan sahabatnya itu, dan menjelang pukul 8, ketika kami baru saja menyelesaikan makan malam kami, suara motor memasuki halaman.
“Hai…..” sapa Mei ketika kami menyambutnya, malam itu ia nampak segar dengan celana panjang yang mencetak bentuk pantatnya dan atasan pakai jaket, namun sampai saat itu kembali aku belum memikirkan nafsu sama sekali.

Istriku segera menarik tangan Mei dan mengajaknya kedalam rumah.
Kebetulan rumah kami agak besar dan masih memiliki sebuah kamar yang tidak terpakai, Malam itu aku masuk kamar duluan, setelah anak anak tertidur, sementara istriku masih asyik ngobrol dengan kawannya, dan tak lama kemudian aku terlelap.
Rasa hangat dan geli yang nikmat menyadarkanku, dan aku tahu kalau mulut istriku sudah mengulum batang kemaluanku yang segera berdiri walau aku sendiri masih setengah sadar, entah kapan celanaku sudah turun sampai kelutut aku benar benar tak tahu.
Sesaat kemudian tanpa melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku sudah terlepas seluruhnya, dan menyusul baju lainnya.
Setelah saling mencumbu, menjilat dan bergumul, akhirnya dengan posisi diatas Yani memasukan batang kemaluanku kedalam vaginanya yang hangat itu dan mulai bergoyang, mula mula perlahan semakin lama semakin cepat, sementara mulutnya berdesis seperti orang kepedasan.
“Srrrt…” aku tak tahan lagi dan melepaskan air maniku duluan dalam vagina istriku yang masih terus bergoyang mengejar puncak kenikmatannya, dan akhirnya beberapa puluh detik kemudian istriku melenguh dan mendesis desis ketika ia menggapai klimaxnya, untung …pikirku…telat sedikit saja kemaluanku sudah melemas dan bisa pusing dia kalau tidak berhasil mencapai klimaxnya.

Tubuh istriku ambruk diatas tubuhku, dan…plop…..kemaluanku terlepas dengan sendirinya, kami berciuman dan saling memeluk, yah…walaupun banyak acara kami namun setiap kali berhubungan sex ……..kami sangat puas dan nilai keintiman yang ada diantara kami kalau sedang berdua.
Kami tidak banyak bercakap malam itu, capek setelah seharian berputar putar dan belanja serta nikmatnya sex yang baru saja kami rasakan membuat kami segera terlelap dalam selimut….berpelukan telanjang bulat.
Pagi pagi aku sudah terjaga…, melihat istriku masih tidur.. aku lalu mengenakan celana pendek dan kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada diadalam kamar, cuci muka…lalu keluar keruang makan…mencari kopi.
Saat melintas dapur kulihat Mei sedang asyik mengaduk kopi digelas…dan ketika melihatku Mei tersenyum…
Mei hanya mengenakan celana pendek dan kaos ketat sehingga buah dadanya yang montok itu membayang jelas…, masih pagi.., baru bangun……. melihat pemandangan seperti itu…langsung saja ‘adik kecil’ diselangkangan berontak keras….

“Mas…kopinya suka manis ?” tanya Mei
“Lho..kok….masa kamu yang bikin ..?” tanyaku
“Jangan terlalu manis..ah….nanti bisa diabetes…” jawabku, hampir…saja kulanjutkan…’kalau diabet bisa impoten…rugi …’ tapi kembali kujaga lidah ku.

Siang itu aku bersantai dikamar sementara istriku dan Mei asyik memasak…, anak anakku juga asyik dengan urusan mereka masing – masing dikamarnya
“Hey….makanan sudah siap.”teriak istriku di suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar.

Mataku sempat menelusuri tubuh Mei yang tampak sibuk mengambilkan nasi, menyiapkan lauk pauk dan dengan kaos ketat, celana pendek yang dikenakannya mencetak bentuk tubuhnya, sesungguhnya wanita ini menarik, berusia menjelang 35, wajahnya biasa saja tidak terlalu cantik, tubuhnya juga masih kencang apalagi payudaranya kelihatan padat berisi lebih besar dibanding milik yani. namun kulitnya sedikit agak gelap dibanding istriku tapi bersih, dari wajah serta penampilannya serta cara bicaranya terlihat jelas kalau ia bukan perempuan kegatelan, dan yang agak mengganggu pemikiranku adalah lama memeknya tidak dipakai…’jangan jangan sudah rapat kembali.

Pepes ikan mas, sayur asam, sambal dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu singkat bersih tandas dan beberapa saat kemudian aku ada acara ketemu teman lama sampai sore entah apa yang diperbuat istriku, sahabatnya dan anak anak sudah tidak kupedulikan lagi.
Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke pasar dekat rumah, beli jagung bakar, makan malam dan menjelang Pk. 8.00 malam kami sudah kembali kerumah…anak – anak langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi…
Aku sedang membaca dikamar ketika istriku masuk dan duduk disampingku, dengan wajah yang berbinar-binar ia berkata

“Pa..menurut papa Mei bagaimana..?” tanyannya tiba tiba.
“Bagaimana apa…”tanyaku
“Ah…mama kan melihat papa memperhatikan Mei, waktu makan siang tadi, …minat….?” lanjut istriku
“Mmmmm bukan gitu” lalu kusampaikan isi pemikiranku siang tadi dan istriku mencubitku “buktikan mau ? lubangnya masih ada atau nggak..? jawab Yani.
“Mm……….tapi kan dia teman mama dan masih trauma terhadap lelaki nanti malah semakin parah” jawabku
“mau engak mama rela kok, hitung2 nyenengi suami yang setia masak kontol sekuat ini tidak untuk berbagi” kata istriku sambil memijit kontolku dari luar.
” benar ma, aku kan belum pernah ngentot sama wanita lama, jangan-jangan mama pingin mencoba papa” kataku
“sudah..pokoknya papa..nurut saja. ya…nggak rugi deh…” lalu sambil mencium pipiku ia beranjak keluar kamar…

Aku mencoba kembali ke bacaanku, namun konsentrasi ku sudah buyar..
Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku serta Mei yang sudah berganti pakaian dengan daster, wajahnya tampak segar dengan rambut diikat kebelakang sementara dadanya tampak menggantung lepas..sayang daster batik yang dikenakannya agak tebal..sehingga tidak ada bayangan yang timbul…

“Ngobrol disini saja ya mei…, pa boleh kan Mei ngobrol dulu disini ..?,”
“Walau awalnya agak canggung namun sebentar saja pembicaraan kami sudah relax, Yani duduk disisiku dan kami duduk diranjang bersandar santai, sementara Mei duduk diujung ranjang…., kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku bertanya..(aku yakin dia sudah bertanya sebelumnya…tapi diulangi lagi untuk ku),
“Mei…kalau boleh tahu….kamu kan sudah pernah gituan sama mantan mu…, nah kalau ‘kepingin…itu..’ bagaimana kamu mengatasinya…? tanpa tedeng aling aling Yani bertanya yang membuat wajah Mei merah bagi kepiting rebus.
“Ya…gitu deh enakan sendiri tidak beresiko……….., udah ah malu sama suamimu….kok nanya in yang begituan sih…….” jawab Mei tersipu.

Tiba tiba Yani bangkit, lalu mengambil lap top yang biasa kugunakan, meletakannya dipangkuannya dan…menyalakannya serta memanggil Mei mendekat…
Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku…, sekejab kemudian terdengar suara Mei berteriak kecil…”Ih…gila ya kamu……..” sambil melirik kearahku.
Berkali kali terdengar jerit tertahan Mei saat melihat apa yang tersaji di laptop ku, ya..kumpulan gambar photo koleksi pribadi kami ketika sedang ngentot.
“Sebentar ya…” kata Yani yang lalu beranjak ke kamar mandi Mei tidak menjawab namun matanya terus menatap layar lap top dengan wajah yang berubah ubah..antara percaya dan tidak..antara ingin tahu dan tertarik….ia masih asyik menscroll gambar gambar itu tanpa peduli aku disitu.

Yani yang sudah kembali duduk didekatku…tangannya langsung menyusup kedalam celana pendek yang kukenakan. ” papa kita bikin pertunjukan untuk mei” bisik yani di telingaku. Aku hanya ikut antara nafsu … dan kecemasan.Istriku lalu merangkul leherku, mencium bibirku..lidah kami saling bertautan dan tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku yang masih tersimpan didalam celana pendek yang kukenakan…beberapa saat kemudian celana yang kukenakan sudah terlepas…
Ketika Mei menengok…ia terpana….karena saat itu istriku sedang asyik menjilat dan menghisap batang kemaluanku…dan ketika istriku melihat bahwa sahabatnya memperhatikan nya…ia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar mendekat….
“sini tak lihatin barang aslinya, nggak usah malu aku rela kok” kata yani
Dengan ragu tapi kelihatan nafsu dan entah sadar atau tidak Mei mendekati kami duduk disamping tempat tidur.
Tiba –tiba istriku menarik tangan Mei dan meletakannya di batang kemaluan ku yang sudah mengeras.
Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas…memberikan sensasi padaku..dan benar seperti kata istriku……. Mei sudah terlalu lama tidak menyentuh laki laki…, sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan batang kemaluanku sebagai ‘mainan’, saat Mei menghisap kepala kemaluanku istriku menjilati bijiku dan begitu bolak balik…kujulurkan tanganku…kutarik Mei agar merayap keatas dan sesaat kemudian bibirnya sudah berpagutan dengan bibirku…
Ketika dasternya kulepas..buah dadanya terpampang jelas…puting susunya lebih besar dari istriku merah agak kehitaman lebih montok dan padat mungkin jarang dipakai.

Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu dan tanganku menyusup ke bawah pusarnya…terasa selangkangan yang lembab agak basah…dengan bulu bulu yang cukup lebat.
Istriku yang mengerti apa yang kuinginkan, menghentikan gerakannya menjilati kemaluanku..lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.
Kubaringkan Mei telentang..dan kucium bibirnya…lalu perlahan jilatanku merambat turun…lehernya, pundaknya dan buah dadanya ganti berganti kujilati dan kuhisap putingnya sementara ia hanya memejamkan mata mengerang lirih….
Lidahku turun terus kebawah…dan ketika sampai di perutnya ia mulai menggelinjang…kuambil bantal..kuminta ia mengganjal pinggulnya dan kini aku mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.

Dengan kedua tanganku kusibak bulu bulu di area itu….kubuka vaginanya…dan lidahku mulai menari nari di klitorisnya…, sesekali menerobos masuk dan kembali menjilat, menghisap dan menjilat..
Yani yang rupanya tidak tahan dari belakang juga ‘menyerang’ku.
“Ssshh…..aduh….sdh nggak tahan……” sesekali kepalaku dijepitnya dengan pahanya..dan aku mengerti..sudah terlalu lama ia ‘haus’..maka ketika aku menyudahi permainan lidahku dan merayap naik ketas tubuhnya dengan serta merta tangannya menyambut dan memelukku, dan setelah batang kemaluanku terarah tepat dengan perlahan mulai kubenamkan…Mei mengerang…. membuka pahanya semakin lebar,…setelah kepala kemaluanku masuk…dengan satu hentakan yang diiringi desahan keras dari wanita ini kubenamkan batang kemaluanku hingga habis.
” aduk..sakit” teriak mei tapi tanpa mau melepaskan vaginanya terasa rapat seperti perawan lagi.
Kubiarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun ‘legit’ itu, memang sih kelebihan wanita jawa umumnya bisa membuat vaginanya enak..tidak kering agak basah sedikit?..dan baru kemudian kutarik sedikit…lalu kubenamkan lagi..demikian berulang – ulang… sementara Mei memeluk dan kakinya bahkan melingkari pinggangku…

Tiba kurasakan sensasi lain…wah…….ternyata istriku mengusap dan memegangi bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik turun di vagina Mei, bahkan sesat kemudian bukan lagi usapan yang kurasakan namun …..jilatan….gila…………….rasa nikmat yang luar biasa menyerangku …………, batang kemlauanku terbenam dijepit kemaluan Mei dan lidah Yani menjilati bijiku..sesekali batangku terjilat saat tertarik keluar…..

Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang…….. maka, ku rubah posisi, tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya , kubalik posisi hingga Mei kini diatasku, kini aku punya ‘mainan’ tambahan’, buah dada yang bergoyang dan menggayut diatasku dengan leluasa kuremas…, sesekali putingnya kuhisap…, disisi lain istriku juga jadi lebih leluasa ‘menggarap’ kemaluan ku yang sedang menyatu dalam vagina sahabatnya itu.
Mei mulai bergerak teratur….mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki laki membuatnya tidak tahan terlalu lama…..ia naik turun diatasku dengan teratur…semakin lama semakin cepat..kemaluannya mulai menghangat…dan aku ‘membantunya’ dengan menghisap puting susunya…..dan akhirnya dengan satu teriakan tertahan ia melemparkan kepalanya kebelakang..mencengkeram pundaku dan mendesah lirih…”Ah…ssss…………….hhh…………. …..ah……..aduh…..keluar………..” lalu ia ambruk diatas dadaku.

Kucium bibirnya dan dengan perlahan ia kurebahkan kesamping…, sesungguhnya aku yakin kalau kuteruskan sedikit lagi ia masih bisa menggapai satu klimax lagi walau tidak sedahsyat yang barusan..namun aku juga tahu kalau istriku sudah menanti..

Kusuruh Yani menungging dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah kuyup dangan lendir Mei menerobos memasuki lubang vagina istriku..yang juga sudah basah….
Kami sudah mengenal satu dengan lain sangat baik….maka irama yang berkembang sudah dalam kontrol kami dan karena desakan di bijiku sudah sedemikian mendesak…kuberi tanda pada Yani untuk meningkatkan ‘speed’ dan akhirnya…srrrrt…..creeet……….air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku sementara istriku juga mencapai klimax pada saat yang sama dan mendesah desah keras.
Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang, ganti berganti kedua wanita itu mencium bibirku dan tangan mereka mengelus serta mengusap ngusap kemaluanku yang masih basah itu…, namun juga masih susut.
“ gimana mei, enak masturbasi apa yang nyata” Tanya yani
“ enak banget yan, belum pernah sepuas ini, ngak takut kalau aku ketagihan suamimu” kata mei
” gimana pa.. mei” tanya istriku
” kaya perawan memek mei sempit banget” kataku

Belum terlalu rasanya beristirahat Mei sudah mulai memainkan kembali mulutnya di selangkanganku sementara Yani berjongkok diatas wajahku dan lidahku langsung saja menerobos masuk ke lubang vaginanya……, vagina istriku walau sudah sering kunikmati namun tetap terawat dan terasa nikmat… juga klitorisnya masih tetap mungil kemerahan….sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum berbalik… kini kembali aku diatas Mei yang dengan melebarkan kakinya menerima kemaluanku dan Yani memelukku dari belakang menjilati leher dan belakang telingaku..kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku….

Aku menggenjot Mei yang terlentang dibawah tubuhku dengan teratur dan pada irama yang tetap, bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas…istriku mengelus dan mengusap usap bijiku yang memberikan sensasi nikmat dan seperti tadi…………Mei yang masih haus itu kembali mencapai klimax duluan…..”Mas……….ah…….cepet….cepet.. .aduh…………enaaaak..hhh………” dan setelah seluruh tubuhnya menegang ia tergolek lemas, aku berhenti sebentar tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut denyut itu…….dan semenit kemudian mulai lagi kugerakan maju mundur secara teratur….”waw……….geli….ah……..aduhh.. …………” Mei merintih dan mendesah….namun aku meneruskan gerakanku dengan cepat mengejar ejakulasi kedua yang ingin kugapai…dan “Aduh…….keluar…lagi……ah……” dan istriku juga semakin giat mengusap dan meremas bijiku dan ketika aku merasa tak tahan lagi……kucabut kemaluanku dari vagina Mei dan istriku segera membuka mulutnya menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.

Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya menembakan air maniku dalam mulut Yani yang tanpa ragu langsung menelannya.,
Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya namun bukan berarti berhenti karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.
Sekali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat ‘bangkit’ kembali…. dan setengah jam lebih dikocok dalam vagina Yani untuk kemudian melepaskan isinya yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal ‘belum sempat diisi’ air maniku
Entah jam berapa Mei kembali ke kamarnya karena saat aku berada dalam pelukannya dengan wajahku terbenam diantara buah dadanya…aku terlelap.

Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istriku…sambil berbisik ”Mei bilang terima kasih, punya papa jauh lebih enak dari mantannya dulu katanya..” aku hanya tersenyum karena benar benar merasa ‘habis…..’, terkuras energi dan air maniku….,

Pagi hari kita sarapan bersama, seolah –olah tidak terjadi apa-apa semalam. Kata istriku hari ini dia diajak kepantai bareng saudaraku, anak-anak menyambutnya penuh ceria, aku bilang pengin istirahat. Mei pamit pulang karena harus masuk kerja. Istriku dan anak-anak sudah berangkat ke Jogja mungkin sampai malam karena mau ke malioboro. Aku langsung tidur sampai jam 11 aku mandi lagi biar seger. Selesai mandi ada yang ngetuk pintu. Ketengok ternyata mei…. ngapain dia kembali ?

Selingkuh tak tertahankan

Ana meletakkan bayinya di atas boks, lalu dia sendiri rebah di atas sofa di ruang tengah, merasa agak sedikit kelelahan. Suaminya, Roy, bilang padanya kalau ada seorang sahabat lamanya yang akan datang dan menginap di akhir pekan ini, jadi disamping mengurus bayinya, dia mempunyai sebuah pekerjaan tambahan lagi, menyiapkan kamar tamu untuk menyambut tamu suaminya itu. Pikirannya melayang pada sang tamu, sahabat suaminya yang akan datang nanti, Jodi.

Jodi adalah sahabat lama suaminya saat kuliah dulu. Dia cukup akrab dengan mereka. Ana sudah cukup mengenal Jodi, lebih dari cukup untuk menyadari bahwa hatinya selalu berdesir bila bertatapan mata dengannya. Sebuah perasaan yang tumbuh semakin besar yang tak seharusnya ada dalam hatinya yang sudah terikat janji dengan Roy waktu itu. Dan perasaan itu tetap hidup di dasar hatinya hingga mereka berpisah, Ana akhirnya menikah dengan Roy dan sekarang mereka mempunyai seorang bayi pria.

Ada sedikit pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya. Di satu sisi meskipun dia dan suaminya saling menjunjung tinggi kepercayaan dan berpikiran terbuka, tapi dia tetap merasa sebagai seorang istri yang wajib menjaga kesucian perkawinan mereka dan kesetiaannya pada sang suami. Tapi di sisi lain Ana tak bisa pungkiri bahwa ada rasa yang lain tumbuh di hatinya terhadap Jodi hingga saat ini. Seorang pria menarik berumur sekitar tiga puluhan, berpenampilan rapi, dan matanya yang tajam selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat bertemu mata. Sosoknya yang tinggi tegap membuatnya sangat menawan.

Ana seorang wanita ayu yang bisa dikatakan sedikit pemalu dan selalu berpegang teguh pada sebuah ikatan. Dan dia tak kehilangan bentuk asli tubuhnya setelah melahirkan. Mungil, payudara yang jadi sedikit lebih besar karena menyusui dan sepasang pantat yang menggoda. Rambutnya lurus panjang dengan mata indah yang dapat melumerkan kokohnya batu karang. Semua yang ada pada dirinya membuat dia mempunyai daya tarik seksual terhadap lawan jenisnya meskipun dia tak pernah menunjukkannya.

Ah… seandainya saja dia mengaenal Jodi jauh sebelum suaminya datang dalam kehidupannya!

Ana pejamkan matanya mencoba meredam pergolakan dalam hatinya dan hati kecilnya menuntun tangannya bergerak ke bawah tubuhnya. Vaginanya terasa bergetar akibat membayangkannya dan saat dia menyentuh dirinya sendiri yang masih terhalang celana jeansnya, sebuah ombak kenikmatan menerpa tubuhnya. Jemarinya yang lentik bergerak cepat melepas kancing celananya lalu menurunkan resleitingnya.

Tangannya menyelinap di balik celana dalam katunnya yang berwarna putih, melewati rambut kemaluannya hingga sampai pada gundukan daging hangatnya. Nafasnya terasa terhenti sejenak saat jarinya menyentuh kelentitnya yang sudah basah, membuat sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang sangat kuat.

Dia terdiam beberapa waktu. Roy pulang 2 jam lagi, dan Jodi juga datang kira-kira dalam waktu yang sama. Kenapa tidak? Dia tak bisa mencegah dorongan hati kecilnya. Toh dia tak menghianati suaminya secara lahiriah, hanya sekedar untuk memuaskan dirinya sendiri dan 2 jam lebih dari cukup, sisi lain hatinya mencoba beralasan membenarkan kobaran gairahnya yang semakin membesar dalam dadanya.

Ana menurunkan celana jeansnya dan mengeluarkan kakinya satu persatu dari himpitan kain celana jeansnya. Melepaskan celana dalamnya juga, lalu dia kembali rebah di atas sofa. Dari pinggang ke bawah telanjang, kakinya terbuka. Pejamkan matanya lagi dan tangannya kembali bergerak ke bawah, menuju ke pangkal pahanya, membuat dirinya merasa se nyaman yang dia inginkan.

Dia nikmati waktunya, menikmati setiap detiknya. Dia membayangkan Jodi sedang memuaskannya, deru nafasnya semakin cepat. Ana tak pernah berselingkuh selama ini, membayangkan dengan pria lain selain Roy saja belum pernah, semua fantasinya hanya berisikan suaminya. Tapi sekarang ada sesuatu dari pria ini yang menyeretnya ke dalam fantasi barunya.

“Ups! Maaf!” terdengar sebuah suara. Matanya langsung terbuka, dan dia tercekat. Dia melihat bayangan seorang pria menghilang di sudut ruangan. Dia baru sadar kalau dia sudah melakukan masturbasi selama lebih dari 10 menit, dan dia benar-benar tenggelam dalam alam imajinasinya hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumah. Dan dia sadar kalau bayangan pria itu adalah Jodi, dengan terburu-buru dia mengambil pakaiannya dan segera memakainya lagi.

“Mafkan aku Ana,” kata Jodi, “Nggak ada yang menjawab ketukanku dan pintunya terbuka.” dia berada di sudut ruangan jauh dari pandangan, tapi dia sudah melihat banyak! Pemandangan yang disaksikannya saat dia memasuki ruangan ini membakar pikirannya. Istri sahabatnya berbaring dengan kaki terpentang lebar di atas sofa itu, tangannya bergerak berputar pada kelentitnya. Pahanya yang lembut dan kencang tebuka lebar, rambut kemaluannya yang hitam mengelilingi bibir vaginanya. Penisnya mengeras dengan cepat dalam celana jeansnya.

“Nggak apa-apa,” jawab Ana dari ruang keluarga, “Kamu boleh masuk sekarang.” dia sudah berpakaian lengkap sekarang, dan dia berbaring di atas sofa, menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangannya. “Aku sangat malu.” katanya kemudian.

“Ah, kita semua pernah melakukannya, Ana!” jawab Jodi. Dia berdiri tepat di samping Ana, seperti ingin agar Ana dapat melihat seberapa ‘kerasnya’ dia. Dia tak dapat mencegahnya, wanita ini sangat menggoda. Dia merasa kalau dia ingin agar wanita ini bergerak padanya!!!

“Tetap saja memalukan!” katanya, menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Vaginanya berdenyut sangat hebat, dia hampir saja mendapatkan orgasme tadi! Sebuah desiran yang lain terasa saat dia melihat tonjolan menggelembung pada bagian depan celana Jodi. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya, tapi masih saja pria ini memergokinya. Sekarang Jodi menjadi lebih terbakar lagi, ini lebih dari cukup.

“Nggak ada yang harus kamu permalukan, setidaknya itu pendapatku setelah apa yang sudah aku lihat tadi!” katanya tenang. Ana menatapnya penuh dengan tanda tanya. “Aku jadi benar-benar terangsang melihatmu seperti itu,” dia menjelaskan, “Sebuah perasaan yang belum pernah ku alami sebelumnya.” kata-katanya, adalah kenyataan bahwa dia sangat menginginkannya, membuat Ana semakin basah. Dia menyadari betapa istri sahabatnya ini ‘tertarik’ akan perkataannya tersebut dan Jodi memutuskan untuk lebih menekannya lagi.

“Lihat akibatnya padaku!” katanya, tangannya bergerak mengelus tonjolan pada bagian depan celananya. Ini masih dalam batas yang bisa dikatakan ‘wajar’, belum ada batas yang dilanggar. Saat Jodi melihat ‘noda’ basahnya di atas permukaan sofa itu dan mata Ana yang tak berpaling dari seputar pinggangnya, Jodi memutuskan akan melanggar batas tersebut.

Ana hanya melihat dengan diam saat sahabat suaminya ini membuka kancing dan menurunkan resleiting celananya. Ana tak bisa mengingkari bahwa dia menjadi lebih terangsang, dan dia tak menemukan kata yang tepat untuk mencegah pria ini.

Dan saat dia menyaksikan pria di depannya ini memasukkan tangannya dalam celana dalamnya sendiri, vaginanya terasa semakin basah. Jodi mengeluarkan penis kedua dalam hidup Ana yang dilihatnya secara nyata, disamping penis para bintang film porno yang pernah dilihatnya bersama suaminya dulu.

Nafas Ana tercekat, matanya terkunci memandangi penis dihadapannya. Dia belum melihat keseluruhannya, dan ini benar-benar sangat berbeda dengan milik suaminya. Tapi ternyata ‘perbedaan’ itulah yang semakin membakar nafsunya semakin lapar.
“Suka apa yang kamu lihat?” tanyanya pelan. Ana mengangguk, memberanikan diri memandang ke atas pada mata Jodi sebelum melihat kembali pada penisnya yang keras. Jodi mengumpat betapa beruntungnya sahabatnya. Dia ucapkan sebuah kata.

“Sentuhlah!”

Ragu-ragu, dengan hati berdebar kencang, Ana pelan-pelan menyentuh dengan tangannya yang kecil dan melingkari penis pria di depannya ini dengan jarinya. Penis pertama yang dia pegang dengan tangannya, selain milik suaminya, dalam enam tahun belakangan. Perasaan dan emosi yang bergolak di dadanya terasa menegangkan, dan dia inginkan lebih lagi. Jodi melihat penisnya dalam genggaman tangan istri sahabatnya yang kecil, dan dia hanya melihat saat Ana pelan-pelan mulai mengocokkan tangannya.

Terasa sangat panas dan keras dalam genggaman tangannya, dan Ana tak dapat hentikan tangannya membelai kulitnya yang lembut dan berurat besar itu. Jodi bergerak mendekat dan membuat batang penisnya menjadi hanya beberapa inchi saja dari wajah Ana.

Jodi menyentuh tubuh Ana, tangannya meremas pahanya yang masih terbungkus celana jeans. Tanpa sadar Ana membuka kakinya sendiri melebar untuknya, dan tangan Jodi bergerak semakin dalam ke celah paha Ana. Terasa desiran kuat keluar dari vaginanya saat tangan Jodi mulai mengelusi dari luar celana jeansnya, Ana menggelinjang dan meremas penisnya semakin kencang.

Dengan tangannya yang masih bebas, dipegangnya belakang kepala Ana dan mendorongnya semakin mendekat. Ana tak berusaha berontak. Matanya masih terpaku pada penis Jodi, dia menunduk ke depan dan dengan lembut mencium ujung kepalanya. Lidahnya terjulur keluar dan Ana kemudian mulai menjilat dari pangkal hingga ujung penis barunya tersebut.

Sekarang giliran Jodi, tangannya bergerak melucuti pakaian Ana. Ana yang sedang asik dengan batang keras dalam genggaman tangannya tak menghiraukan apa yang dilakukan Jodi. Diciumnya kepala penis Jodi, menggodanya seperti yang disukai suaminya (hanya itulah seputar referensi yang dimilikinya).

Tangan Jodi menyelinap dalam celana dalam Ana, tangannya meluncur melewati rambut kemaluannya. Ana melenguh pelan saat tangan Jodi menyentuh kelentitnya. Dia membuka lebar mulutnya dan memasukkan mainan barunya tersebut ke dalam mulutnya, lidahnya berputar pelan melingkari kepala penis dalam mulutnya. Jodi mengerang, merasakan kehangatan yang membungkus kejantanannya. Dia menatapnya dan melihat batang penisnya menghilang dalam mulut Ana, bibirnya mencengkeram erat di sekelilingnya dan matanya terpejam rapat.

Jodi menjalankan jarinya pada kelentit Ana, menggoda tombol kecilnya, mulut Ana tak bisa bebas mengerang saat tersumpal batang penis Jodi. Dorongan gairah yang hebat membuat Ana semakin bernafsu mengulum naik turun batang penis Jodi. Pinggulnya dengan reflek bergerak memutar merespon tarian jari Jodi pada kelentit sensitifnya.

Jari Jodi mengeksplorasi lubang hangatnya Ana, membuat lenguhannya semakin sering terdengar dalam bunyi yang aneh karena dia tak juga mau melepaskan mulutnya dari batang penis Jodi. Ana tak lagi memikirkan apa yang dia perbuat, dia hanya mengikuti nalurinya. Ini benar-benar lain dengan dia dalam keseharian, sesuatu yang akan membuat suaminya mati berdiri bila dia melihatnya saat ini. Semuanya meledak begitu saja. Sesuatu yang dimiliki pria ini yang membuka pintu dari sisi lain dirinya dan Jodi sangat menikmati perbuatannya. Masing-masing masih tetap asik dengan kemaluan pasangannya. Dan Ana menginginkan lebih dari ini. Mereka berdua menginginkan lebih dari sekedar begini.

Ana menelan seluruh batang penis Jodi, menahannya di dalam mulutnya untuk memenuhi kehausan gairahnya sendiri. Hidungnya sampai menyentuh rambut kemaluan Jodi, ujung kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokannya, hampir membuatnya tersedak.

Jodi mengeluarkan tangannya dari balik celana dalam Ana yang membuatnya sedikit kecewa, ada sesuatu yang terasa hilang. Diraihnya tepian celana jeans Ana dan dengan cepat Ana mengangkat sedikit pantatnya dari atas sofa, yang mau tak mau membuatnya melepaskan batang penis itu dari mulutnya, dan mempermudah sahabat suaminya ini melepaskan celananya dari kakinya yang halus.

Nafasnya tercekat, dada terasa berat saat dia melihat Jodi menarik celana dalamnya. Dengan sedikit memaksa dia menurunkannya melewati kakinya dan Ana menendangnya menjauh dari kakinya sendiri. Membantu Jodi menelanjangi tubuh bawahnya. Jodi sekarang berlutut di lantai dan menatap takjub pada segitiga menawan dari rambut kemaluan Ana.

Dia menyentuh vagina Ana dengan tangan kirinya, menjalankan jari tengahnya pada kelentitnya sambil tangan yang satunya menggenggam batang penisnya sendiri.

Ana mendesah pelan, pinggulnya bergetar. Matanya terpejam rapat, dia sangat meresapi rasa yang diberikan selangkangannya. Jodi mengoleskan kepala penisnya pada pipi dan hidung Ana. Saat sampai di mulutnya, Ana membuka mulutnya segera dan Jodi langsung mendorong penisnya masuk.

Tangannya yang kecil menggenggam buah zakarnya dan Ana membuka matanya perlahan saat dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun pada batang penisnya. Jodi semakin melesakkan jarinya ke dalam vagina Ana, membuat Ana memejamkan matanya lagi, mengerang. Vaginanya terasa sangat basah! Jarinya bergerak di seluruh rongga lubang itu, bergerak keluar masuk saat ibu jarinya mengerjai kelentit Ana.

Kini, celana jeans dan celana dalam Jodi sudah jatuh merosot di atas lantai, Jodi menarik penisnya keluar dari mulut Ana dan langsung menendang pakaian bawahnya menjauh. Dia menunduk, tangannya bergerak ke bawah bongkahan pantat Ana, mengangkatnya dari atas sofa agar bagian bawah tubuh istri sahabatnya ini lebih terekspose ke atas. Ana meraih penisnya dan segera memasukkannya kembali ke dalam mulutnya. Jodi mendekatkan kepalanya pada daging nikmat Ana.

Masih tetap menahan pantat Ana ke atas, mulutnya mencium bibir vagina Ana, mencicipi rasa dari istri sahabatnya untuk pertama kalinya. Mulut Ana langsung mengerang merespon, sejenak menikmati sensasi yang diberikan Jodi sebelum kembali meneruskan ‘pekerjaan’ mulutnya. Lidah Jodi melata pada dinding bagian dalam dari vagina Ana, menjilati sari buah gairah yang dikeluarkannya.

Ana merasa bibir Jodi menjepit tombol sensitifnya dan lidahnya bergerak pelan pada sasarannya. Erangan semakin tak terkendali lepas dari mulutnya akibat perlakuan Jodi kali ini. Batang penisnya terlepas keluar dari cengkeraman mulut Ana. Jodi semakin menaikkan pantat Ana, menekan vagina Ana pada wajahnya dan lidahnya semakin bergerak menggila.

Jantung Ana serasa mau meledak, nafasnya terasa berat… sangat dekat…

Jantungnya berhenti berdenyut, orgasmenya datang. Pinggulnya mengejat di wajah Jodi dengan liar. Ana merasa jiwanya melayang entah kemana! Pria ini memberinya sebuah oral seks terhebat yang pernah didapatkan dalam hidupnya!

Akhirnya, Ana kembali ke bumi. Jodi melepaskan pantatnya, mengangkat kepalanya dari selangkangan Ana. Batang penisnya terasa sangat keras, dan nafasnya terdengar memburu tak beraturan. Ana pikir dia tak mungkin dapat menghentikan pria ini sekarang meskipun dia menginginkannya. Jodi naik ke atas sofa, menempatkan dirinya diantara paha Ana, yang tetap Ana biarkan terbentang lebar hanya untuknya.

Terlintas dalam pikirannya jika dia tetap meneruskan ini terjadi, milik Jodi adalah penis kedua yang akan memasuki tubuhnya dalam hidupnya. Sedikit gelembung rasa bersalah melayang dalam benaknya. Yang dengan cepat meletus menguap saat ujung kepala penis Jodi menyentuh bibir vaginanya, membuat sekujur tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.

Dengan perlahan Jodi memasukkan penisnya menembus ke dalam tubuh Ana. Pada pertengahan perjalanannya dia menghentikan sejenak gerakannya, menikmati gigitan bibir vagina Ana pada batang penisnya dan tiba-tiba dia menghentakkan kedalam dengan satu tusukan. Dinding vaginanya terbuka menyambutnya, dan pelan-pelan Ana dapat merasakan dirinya menerima sesuatu yang lain memasuki tubuhnya kini. Tubuhnya merinding, perasaan menakjubkan ini merenggut nalarnya.

Jodi mengeluarkan separuh dari batang penisnya dan menghujamkannya kembali seluruhnya ke dalam vagina Ana.

Erangan keduanya terdengar saling bersahutan dan Jodi menahan penisnya sejenak di dalam vagina Ana, meresapi sensasinya. Manahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya, dia menatap ke bawah pada istri sahabatnya ini sambil menggerakkan penisnya keluar masuk dalam vagina Ana dengan gerakan lambat.

Ana pejamkan matanya, mendesah lirih saat dia rasakan kejantanan Jodi keluar masuk dalam tubuhnya. Jodi melihat batang penisnya menghilang lalu muncul kembali dalam daging hangat basah milik Ana lagi dan lagi, dan gerakannya perlahan semakin cepat. Nafas keduanya semakin berat, Jodi bergerak semakin cepat, Ana menggelinjang, mengerang, kakinya terangkat keatas.

Kedua kakinya akhirnya jatuh dibelakang pantat Jodi yang mengayun keluar masuk. Tubuh Jodi menindih tubuh kecil wanita di bawahnya saat dia mengocok vaginanya semakin keras. Dia menciumi leher Ana, dan menghisap lubang telinganya dengan mulutnya, erangan keduanya terdengar mengiringi setiap gerakan tubuh mereka.

Lengan Ana melingkari tubuh Jodi, kukunya tertancap pada punggung Jodi saat kakinya terayun-ayun oleh gerakan pantat Jodi. Mulut Ana menyusuri leher Jodi, mencari bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, mereka berciuman untuk pertama kalinya. Lidah Ana merangsak masuk ke dalam mulut Jodi mengiringi batang penisnya yang menggenjot tubuhnya berulang-ulang. Bibir keduanya saling melumat, saling mengerang dalam mulut masing-masing di atas sofa di ruang tengah itu. Sofa itu sedikit berderit akibat gerakan Jodi yang bertambah liar.

Ana dapat merasakan orgasmenya mulai tumbuh, dan dia menghentikan ciumannya, tak mampu menahan erangannya lagi. Mulut mungilnya mengeluarkan erangan yang sangat keras dan semakin keras saat penis keras Jodi semakin melebarkan vaginanya dan Jodi memasukinya bertambah dalam.

Seorang pria baru! Ana tak pernah melakukannya dengan pria lain selain Roy sebelumnya dan pria baru ini melakukannya dengan sangat hebat! Semuanya terasa bergerak cepat. Orgasmenya meledak, Ana mencoba menahan erangannya dengan menggigit bibir bawahnya. Dinding-dinding vaginanya berkontraksi mencengkeram batang penis pria baru ini dengan kuat, dan Ana menghentakkan pinggulnya keatas berlawanan dengan gerakan Jodi di atas tubuhnya, berusaha agar batang penis Jodi tenggelam semakin dalam pada tubuhnya saat ombak orgasme mengambil alih kesadarannya.

Jodi memandangi Ana saat dia dilanda orgasme, masih tetap mengocok penisnya dengan kecepatan yang dia mampu. Dia tak menyangka wanita pemalu dan pendiam ini akan begitu mudah ditaklukannya! Dia merasakan miliknya juga segera tiba, gerakannya semakin dipercepat.
Dalam beberapa tusukan kemudian, dan lalu meledaklah. Sejenak setelah orgasme Ana mereda, orgasme Jodi datang.

Tusukan terakhirnya membuat penisnya terkubur semakin jauh dalam vagina Ana. Dia menggeram, penisnya berdenyut hebat. Semburan demi semburan yang kuat keluar dari ujung penisnya mendarat dalam rahim Ana seakan tanpa jeda.

Ana menggoyangkan pantatnya naik ke atas, memeras semua sperma dari penis Jodi. Jodi tak bisa menahan tubuhnya lebih lama, dia jatuh menindih tubuh Ana di bawahnya, mencoba bernafas dengan susah payah.

Tangan Ana membelai punggung Jodi saat sperma terakhirnya keluar dari penisnya menyirami vaginanya. Keduanya masih berusaha untuk mengatur nafas. Kedua bibir mereka merapat, berciuman dengan lembut. Lidahnya menggelitik rongga mulut Ana dan ciuman mereka berubah menjadi liar saat penis Jodi mulai mengecil dalam vagina Ana. Tangan dan paha Ana mencengkeramnya erat, menahannya agar tetap berada dalam tubuhnya.

Dia mendapatkan pengalaman lain dengan pria ini. Pria kedua yang bercinta dengannya dalam 29 tahun usianya. Akhirnya mereka hentikan ciumannya. Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi dari vagina Ana. Keduanya mengenakan pakaiannya masing-masing tanpa saling berkata-kata. Ana terlalu malu untuk mengucapkan sesuatu dan Jodi tak tahu harus berkata apa.

********

Roy pulang 30 menit kemudian – dia pulang lebih awal, tapi tak lebih awal (beruntunglah mereka). Ketiganya lalu makan malam, dan Ana tak dapat menyingkirkan pikirannya dari bayangan Jodi sepanjang waktu itu.

Roy dan Jodi kemudian sibuk dengan urusan pria yang tak begitu dimengerti oleh Ana. Dan malam berikutnya, mereka berdua duduk di meja makan bersama Ana. Para pria sedang bermain catur. Ana menghabiskan sepanjang harinya mengasuh bayi mereka. Kapanpun saat dia sedang sendiri, dia tak mampu hentikan dirinya memikirkan pengalamannya bersama Jodi kemarin. Dia merasa gairahnya menyala-nyala sepanjang hari itu, dan dia mempunyai beberapa menit untuk memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri.

Saat menuangkan minuman pada suaminya dan Jodi malam itu, dia sangat bergairah, dan sangat basah. Setiap kali dia melirik Jodi, ada desiran halus pada vaginanya. Sekarang dia telah mencoba seorang pria lain, dan dia merasa ketagihan!

Jodi tak jauh beda. Dia bermasturbasi mebayangkan istri sahabatnya ini kemarin malam, sebelum tidur. Bayangan tubuh telanjangnya memenuhi benaknya sepanjang hari. Saat Roy pergi ke kamar mandi, Jodi beringsut mendekati Ana.

“Apa kamu menikmati waktu kita kemarin?” tanyanya berbisik.

“Ya.” Ana tersenyum manis. Sifatnya yang malu-malu membuat birahi Jodi terbakar.

“Apa kamu menginginkannya sekarang?” dia bertanya memastikan. Penisnya sudak mengeras sekarang. Ana terkejut dengan pertanyaannya yang sangat berani itu, malu-malu, lalu mengangguk.

Jodi memutuskan akan sedikit menggodanya. Membuat Ana semakin menginginkannya agar kesempatan mendapatkannya lagi semakin terbuka lebar. Dia menurunkan resleiting celananya dan melepaskan kancingnya, tangannya masuk ke dalam pakaian dalamnya. Dia mengeluarkan penisnya, yang sudah ereksi penuh. Nafas Ana tercekat di tenggorokan, denyutan di vaginanya memberinya sebuah sensasi. Batang penis itu berada dalam tubuhnya kemarin. Dia menginginkannya lagi sekarang.

Mereka mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Jodi segara memasukkan penisnya kembali ke dalam celananya. Roy masuk ke dalam ruangan, tak mengira sahabatnya baru saja memperlihatkan penisnya yang ereksi pada istrinya.

Tak lama berselang, entah kenapa dewa kemujuran selalu berpihak pada mereka, Roy lagi-lagi mau ke kamar mandi. Saat dia berdiri dan bergegas ke kamar mandi, vagina istrinya berdenyut membutuhkan penis Jodi. Begitu Roy menghilang dari pandangan keduanya, Jodi langsung bangkit dari kursinya. Mata Ana berbinar terfokus pada tonjolan di celana Jodi saat mereka mendengar pintu kamar mandi ditutup.

Dia langsung menurunkan resleitingnya, dan mengeluarkan batang penisnya. Dengan cekatan Jodi mengocok penisnya sampai ereksi penuh, sangat dekat di wajah Ana. Jodi berdiri dei depan Ana, dan Ana langsung berlutut di hadapan sahabat suaminya.

Kepala penisnya menyentuh kulit pipinya, dan perlahan bergerak ke mulutnya. Saat Jodi merasa bibir lembut Ana menyentuh ujung kepala penisnya, dia merasa mulut itu membuka.

Segera saja kepala penis itu lenyap ke dalam mulut Ana, dan Jodi melihat bibir itu bergerak membungkus seluruh batang penisnya. Tangannya membelai rambut panjang Ana dengan lembut, menahan kepalanya saat seluruh bagian batang penisnya lenyap dalam mulut Ana.
Kepalanya segera bergerak maju mundur pada batang penis itu, suara basah dari hisapan mulutnya segera terdengar.

Kembali, mereka mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Jodi mengeluarkan penisnya dari mulut Ana dengan cepat. Agak kesulitan dia memasukkan penisnya kembali dalam celananya dan segera duduk kembali di kursinya, menutupi perbuatan mereka. Roy duduk dan memberi Ana ciuman kecil, tak tahu kalau istrinya baru saja mendapatkan sebuah batang penis yang lain dalam mulutnya.

Mereka kembali mendapatkan kesempatan sekali lagi di malam itu, dan mereka berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin. Bayi mereka menangis di lantai atas, Roy berinisiatif untuk pergi melihatnya. Ana lebih dari senang mengijinkannya. Dia sangat menginginkan penis itu, tapi dia tak mampu berbuat apa-apa. Meskipun mendapatkannya di dalam mulutnya tak mampu meredakan gairahnya.

Mereka dapat mendengar bunyi langkah kaki Roy yang menaiki tangga, dan Ana langsung berdiri. Dia tak pernah se agresif ini! Tapi ke’hausannya’ akan penis itu mampu merubah tabiatnya. Hanya sekedar untuk segera melihatnya lagi! Dia langsung berlutut di antara paha Jodi, dan Jodi segera membukanya untuknya…

Tangan mungilnya dengan cekatan melepaskan kancing dan resleitingnya, dan dia langsung membukanya dalam sekejap. Ana meraih ke dalam celana dalam Jodi dan mengeluarkan penis kerasnya. Vaginanya langsung basah hanya dengan memandangnya saja. Tangannya yang kecil mengocoknya, saat lidahnya menjilati dari pangkal batang penis Jodi hingga ke ujung.

Sekali lagi, dia kembali memasukkannya ke dalam mulutnya. Menghisapnya dengan rakus hingga mengeluarkan bunyi, tak menghiraukan resiko kepergok suaminya. Jodi mendengarkan dengan seksama gerakan dari lantai atas, memastikan Roy tidak turun ke bawah.

Jodi menatapnya. Bibirnya membungkus batang penisnya dengan erat, kepala penisnya tampak bekilatan basah terkena lampu ruangan ini saat itu keluar dari mulutnya, mata Ana terpejam menikmati. Dia ternyata begitu pintar memberikan blow job! Jodi sangat ingin menyetubuhi wanita ini, meskipun hanya sesaat.

Gairahnya sudah tak terbendung lagi, dan dia memegang pipi Ana, batang penisnya keluar dari mulutnya. Jodi berdiri, penisnya mengacung tegang, dan Ana berdiri bersamaan, memandangnya dengan api gairah yang sama. Jodi menciumnya, lembut, melumat bibirnya. Dia menciumnya lagi, dan lidah mereka saling melilit. Lalu ciuman itu berakhir. Jodi memutar tubuh Ana membelakanginya. Ana merasakan tangan Jodi berada pada vaginanya, berusaha melepaskan kancing celananya.

“Jangan…” desahan lirih keluar dari mulutnya. Dia tak tahu kenapa kata itu keluar dari mulutnya saat dia ingin mengucapkan kata ‘ya’. Celananya jatuh hingga lututnya, memperlihatkan pantatnya yang dibungkus dengan celana dalam katun berwarna putih. Jodi merenggut kain itu dan langsung menyentakkannya ke bawah, membuat pantat Ana terpampang bebas di hadapannya. Jodi masih dapat mendengar suara gerakan di lantai atas jadi dia tahu dia aman untuk beberapa saat, dia hanya perlu memasukkan penisnya ke dalam vaginanya, walaupun untuk se detik saja!

Nafas keduanya memburu, dan Ana sedikit menundukkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu pada meja makan, membuka lebar kakinya. Jodi jauh lebih tinggi darinya, penisnya berada jauh di atas bongkahan pantatnya. Dia sedikit menekuk lututnya agar posisinya tepat. Dia semakin menekuk lututnya, sangat tidak nyaman, tapi dia sadar kalau dia terlalu tinggi untuk Ana. Dia tahu dia akan merasa kesulitan dalam posisi ini, tapi hasratnya semakin mendesak agar terpenuhi segera.

Dia menggerakkan pinggulnya ke depan, ujung kepala penisnya menyentuh bibir vaginanya. Ana sudah teramat basah! Dan itu semakin mengobarkan api gairah Jodi. Saat bibir vagina Ana sedikit mencengkeram ujung kepala penisnya, Jodi tahu jalan masuknya sudah tepat. Dia mendorong ke depan. Ana menghisapnya masuk ke dalam, separuh dari penisnya masuk ke dalam dengan cepat.

Ana mendesah, merasa Jodi memasukinya. Jodi mencengkeram pantat Ana dan memaksa memasukkan penisnya semakin ke dalam. Batang penisnya sudah seluruhnya terkubur ke dalam cengkeraman hangatnya. Jodi mulai menyetubuhinya dari belakang, menarik penisnya separuh sebelum mendorongnya masuk kembali, lagi dan lagi. Serasa berada di surga bagi mereka berdua. Jodi berada di dalam vaginanya hanya beberapa detik, tapi bagi keduanya itu sudah dapat meredakan gelora api gairah yang membakar.

Tiba-tiba Jodi mendengar gerakan dari lantai atas. Ana tak menghiraukannya, dia sudah tenggelam jauh dalam perasaannya. Jodi mengeluarkan penisnya dari vagina Ana. Sebenarnya Ana ingin teriak melampiaskan kekesalannya, tapi segera dia sadar akan bahaya yang mengancam mereka berdua, segera saja dia menarik celana dan celana dalamnya sekaligus ke atas. Saat Roy datang, mereka berdua sudah duduk kembali di kursinya masing-masing, gusar.

Jodi dan Ana menghabiskan sisa malam itu dengan gairah yang tergantung. Saat malam itu berakhir, Jodi segera bergegas pergi ke kamarnya dan langsung mengeluarkan penisnya. Hanya dibutuhkan 3 menit saja baginya bermasturbasi dan legalah…

Tapi bagi Ana, tidaklah semudah itu. Kamar tidurnya berada di lantai yang berlainan dengan kamar tamu yang dihuni Jodi, dan dia tak punya kesempatan untuk melakukan masturbasi. Bahkan Roy tak mencoba untuk bercinta dengannya malam itu! Seperempat jam ke depan dilaluinya dengan resah. Ana memberi beberapa menit lagi untuk suaminya sebelum dia tak mampu membendungnya lagi.

Dia turun dari tempat tidur, setelah memastikan suaminya sudah tertidur lelap. Dia mengendap-endap menuju ke kamar tamu. Malam itu dia hanya memakai kaos putih besar hingga lututnya dan celana dalam saja untuk menutupi tubuh mungilnya.

Dengan hati-hati dia membuka pintu kamar Jodi, menyelinap masuk, dan menutup perlahan pintu di belakangnya. Jodi sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Ana berdiri di samping tempat tidur, memandang pria yang tertidur itu, memutuskan bahwa dia akan melakukannya. Ini tak seperti dirinya! Dia tak pernah seagresif ini! Dia tak pernah berinisiatif! Tapi sekarang, terjadi perubahan besar.

Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Jodi, Jodi tergolek tidur di atas kasur hanya memakai celana dalamnya. Ana mencengkeram bagian pinggirnya dan dengan cepat menariknya turun hingga lututnya, membebaskan penis Jodi yang masih lemas. Dengan memandangnya Ana merasakan desiran halus pada vaginanya. Dia tak percaya Jodi tak terbangunkan oleh perbuatannya tadi! Yah, baiklah, dia tahu bagaimana cara membangunkannya.

Ana duduk di samping Jodi, dengan perlahan membuka kaki Jodi ke samping. Tangan mungilnya meraih penis Jodi yang masih lemas menuju ke mulutnya. Rambut panjangnya jatuh tergerai di sekitar pangkal paha Jodi. Jodi setengah bangun, merasa nyaman. Penisnya membesar dalam mulut Ana, dan sebelum ereksi penuh, dia akhirnya benar-benar terjaga. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi – istri sahabatnya sedang menghisap penisnya!

Dia mendesah, tangannya meraih ke bawah dan mengelus rambut panjang Ana saat dengan pasti penisnya semakin mengeras dalam mulut Ana. Merasakan penisnya yang semakin membesar dalam mulutnya membuat celana dalam Ana basah, dan dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun. Dia menghisap dengan berisik, lidahnya menjalar naik turun seperti seorang professional.

Jodi dapat mendengar bunyi yang dikeluarkan mulut Ana saat menghisap penisnya, dan dia dapat melihat bayangan tubuh Ana yang diterangi cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ana sedang memberinya blow job yang hebat. Untunglah dia bermasturbasi sebelum tidur tadi, kalau tidak pasti dia tak akan dapat bertahan lama.

Ana tak mampu menahannya lagi. Dia ingin vaginanya segera diisi. Dia sangat terangsang, dia sangat membutuhkan penis itu dalam vaginanya seharian tadi. Dikeluarkannya penis Jodi dari dalam mulutnya, dan berdiri dengan bertumpukan lututnya di atas tempat tidur itu. Tangannya menarik bagian bawah kaosnya ke atas dan menyelipkan kedua ibu jarinya di kedua sisi celana dalamnya dan mulai menurunkannya. Diangkatnya salah satu kakinya untuk melepaskan celana dalam itu dari kakinya. Kaki yang satunya lagi dan kemudian merangkak naik ke atas kasur setelah menjatuhkan celana dalamnya ke atas lantai. Nafasnya sesak, menyadari apa yang menantinya.

Diarahkannya batang penis Jodi ke atas dengan tangannya yang kecil dan bergerak ke atas Jodi, memposisikan vaginanya di atasnya. Jodi dapat merasakan bibir vagina Ana yang basah menyentuh ujung kepala penisnya saat Ana mulai menurunkan pinggulnya.

Daging dari bibir vaginanya yang basah membuka dan kepala penis Jodi menyelinap masuk. Ana mengerang lirih, tubuhnya yang disangga oleh kedua lengannya jadi agak maju ke depan. Ana semakin menekan ke bawah, membuat keseluruhan batang penis Jodi akhirnya tenggelam ke dalamnya.

Erangan Ana semakin terdengar keras. Dia merasa sangat penuh! Jodi benar-benar membukanya lebar! Ana semakin menekan pinggulnya ke bawah dan dia mulai menciumi leher Jodi, berusaha menahan Jodi di dalam tubuhnya. Bibir mereka bertemu dan saling melumat dengan bernafsu. Lidah Ana menerobos masuk ke dalam mulut Jodi, menjalar di dalam rongga mulutnya saat dia tetap menahan batang penis Jodi agar berada di dalam vaginanya.

Jodi membalas lilitan lidah Ana, tangannya bergerak masuk ke balik kaos yang dipakai Ana, bergerak ke bawah tubuhnya hingga akhirnya tangan itu mencengkeram bongkahan pantat Ana. Tangannya mengangkat pantat Ana ke atas, membuat tubuhnya naik turun di atasnya – Ana tetap tak membiarkan batang penis Jodi teangkat terlalu jauh dari vaginanya!

Tak menghiraukan keberadaan Roy yang masih terlelap tidur di kamarnya, mereka berdua berkonsentrasi terhadap satu sama lainnya. Tangan Jodi naik ke punggung Ana, menarik kaos yang dipakai Ana bersamanya. Ciuman mereka merenggang, Ana mengangkat tubuhnya, tangannya mengangkat ke atas saat Jodi melepaskan kaosnya lepas dari tubuhnya. Payudaranya terbebas. Jodi melihatnya untuk pertama kalinya. Di dalam keremangan cahaya, Jodi masih dapat menangkap keindahannya. Payudaranya yang tak begitu besar dengan putting susu yang keras menantang, dan dia menggoyangkannya dihadapan Jodi, menggodanya.

Jodi mengangkat tubuhnya, tangannya yang besar menahan punggung Ana saat dia menghisap putingnya ke dalam mulutnya. Ana menggelinjang kegelian saat lidahnya bergerak melingkari sebelah payudaranya sebelum mencium yang satunya lagi. Pada waktu yang bersamaan Jodi mengangkat pantatnya, masih berusaha agar tetap tenggelam dalam vaginanya, tapi bergerak keluar masuk dengan pelan. Tangannya meremas payudara Ana yang bebas, sedangkan mulutnya terus merangsang payudara yang satunya dengan mulutnya.

Ana memandang Jodi yang merangsang payudaranya, tangannya membelai rambut Jodi dengan lembut. Ana merasa penis Jodi bergerak keluar sedikit tapi tak lama kemudian masuk kembali ke dalam vaginanya. Dia merasa sangat nyaman, sangat berbeda di dalam tubuhnya. Dia mulai menggoyang, mengimbangi kocokan Jodi yang mulai bertambah cepat.

Jodi melepaskan mulut dan tangannya dari payudara Ana dan rebah kembali ke atas kasur. Ana mulai mengangkat pinggulnya naik ke atas hingga batang penis Jodi nyaris terlepas ke luar seluruhnya sebelum menghentakkan pinggulnya ke bawah lagi. Tangan Jodi kembali pada pantat Ana, meremasnya sambil memandangi wanita yang telah menikah ini menggoyang tubuhnya tanpa henti. Dengan tanpa bisa dibendung lagi erangan demi erangan semakin sering terdengar keluar dari mulut Ana.

Orgasme yang sangat dinantikannya seharian ini mulai terbangun dalam tubuhnya. Dengan meremas pantatnya erat, Jodi menggerakkan tubuh Ana naik turun semakin keras dan keras. Hentakan tubuh mereka saling bertemu. Nafas Ana semakin berat, Penis Jodi menyentak dalam tubuhnya berulang kali.

Dengan cepat orgasmenya semakin mendekat. Ana mempercepat kocokannya pada penis Jodi, menghentakkan bertambah cepat seiring orgasmenya yang mendesak keluar. Ana tak mampu membendungnya lebih lama lagi, pandangannya mulai menjadi gelap. Jantungnya berdegup semakin kencang, otot vaginanya berkontraksi, seluruh sendi tubuhnya bergetar saat dia keluar dengan hebatnya. Mulutnya memekik melepaskan himpitan yang menyumbat aliran nafasnya.

Melihat pemandangan itu gairah Jodi semakin memuncak, dia tak memberi kesempatan pada Ana untuk menikmati sensasi orgasmenya. Diangkatnya tubuh mungil wanita itu, dan membaringkan di sampingnya. Dia bergerak ke atas tubuh Ana dan Ana membuka pahanya melebar menyambutnya secara refleks.

Jodi memandangi kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana. Dengan pelan dia mulai masuk, dan mendorongnya masuk ke dalam lubang hangatnya. Ana mengangkat kakinya ke udara, membukanya lebar lebar untuknya. Jodi menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya.

Jodi memberinya satu dorngan yang kuat. Ana memekik, ombak kenikmatan menggulungnya saat batang keras itu memasuki tubuhnya. Jodi mulai menyetubuhinya tanpa ampun, Ana telah sangat membakar gairahnya. Jodi mengocokkan penisnya keluar masuk dalam vagina istri sahabatnya yang berada di bawah tubuhnya dengan cepat, kedua kaki Ana terayun-ayun di atas pantatnya yang menghentak.

Tempat tidur sampai bergoyang karena hentakan Jodi. Ana menggigit bibirnya untuk meredam erangannya yang semakin bertambah keras.
Jodi mulai kehilangan kontrol. Penisnya keluar masuk dalam vagina Ana sebelum akhirnya, dia menarik keluar batang penisnya dengan bunyi yang sangat basah.

Jodi mengerang, batang penisnya berdenyut hebat dalam genggaman tangannya. Sebuah tembakan yang kuat dari cairan kental putih keluar dari ujung kepala penisnya dan menghantam perut Ana, beberapa darinya bahkan sampai di payudaranya.

Ana menarik nafas, dadanya terasa sesak saat dia melihat tembakan demi tembakan sperma yang kuat keluar dari penis Jodi, dan mendarat di atas perutnya. Terasa sangat panas pada kulit perutnya, tapi semakin membakar gairahnya menyadari bahwa itu bukan semburan sperma suaminya, tapi dari seorang pria lain.

Akhirnya, sperma terakhir menetes dari penis Jodi, menetes ke atas rambut kemaluan Ana yang terbaring di depannya dengan kaki terpentang lebar. Dengan mata yang terpejam, Ana tersenyum puas.

“Aku membutuhkannya” bisiknya. Mereka terdiam beberapa saat meredakan nafas yang memburu sebelum akhirnya mulai membersihkan tubuh basah mereka. Jodi mencium dengan lembut bibir Ana yang tersenyum.

Ana memakai kaosnya dan menggenggam celana dalamnya dalam tangan, melangkah keluar dari kamar itu dengan perasaan yang sangat lega.

********

Jodi bangun di keesokan harinya. Peristiwa semalam langsung menyergap benaknya, penisnya mulai mengeras. Dikeluarkannya batang penisnya dan perlahan mulai mengocoknya.

Dia merasa sangat senang saat mendengar ada seseorang yang sedang mandi. Dimasukkannya penisnya kembali kedalam celana dalamnya, bergegas memakai celana jeansnya dan bergegas keluar kamar dengan bersemangat, turun ke lantai bawah.

Dia berharap yang sedang mandi adalah Roy dan Ana ada di lantai bawah. Dia mendengar seseorang sedang membuat kopi di dapur. Dia segera ke sana dan ternyata…

Ana masih dengan pakaian yang dikenakannya malam tadi, sebuah kaos besar hingga lutut, dan sebuah celana dalam saja di baliknya. Dia menoleh saat mendengar ada yang mendekat, dan langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Terasa ada desiran halus di vaginanya saat memandang Jodi.

Ana terkejut saat tangan Jodi melingkar di pinggangnya memeluknya erat dan mencium bibirnya. Lalu Ana sadar ada seseorang yang sedang mandi di lantai atas dan Roy lah yang sedang berada di kamar mandi itu. Bibirnya membalas lumatan Jodi dengan menggebu saat tangan Jodi menyusup ke dalam kaosnya untuk menyentuh payudaranya.

Ana melenguh di dalam mulut Jodi yang memeluknya merapat ke tubuhnya. Desiran gairah memercik dari payudaranya langsung menuju ke vaginanya, membuatnya basah. Wanita mungil itu tak berdaya dalam dekapan Jodi, tangan Ana melingkari leher Jodi.

Mereka berciuman dengan penuh gairah, lidah saling bertaut, perlahan Jodi mendorong tubuh Ana merapat ke dinding. Tangannya meremas bongkahan pantat Ana di balik kaosnya. Dan Ana sangat merasakan tonjolan pada bagian depan celana jeans Jodi yang menekan perutnya.

Ciuman Ana turun ke leher Jodi, lidahnya melata menuju putting Jodi. Ana membiarkan Jodi mengangkat tubuhnya ke atas meja, memandangnya dengan pasif saat Jodi menyingkap kaosnya hingga dadanya. Ana mengangkat kakinya bertumpu pada tepian meja, mempertontonkan celana dalam putihnya.

Vaginanya berdenyut tak terkontrol, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya. Jodi berlutut di hadapannya, dia dapat mencium aroma yang kuat dari lembah surganya saat hidungnya bergerak mendekat.

Perlahan diciumnya vagina Ana yang masih tertutupi kain itu, Ana mendesah, kenikmatan mengaliri darahnya. Untuk pertama kalinya, Ana merasa gembira saat Roy berada lama di dalam kamar mandi!

Dengan tak sabar, tangannya menuju ke pangkal pahanya. Jodi hanya menatapnya saat tangan Ana menarik celana dalamnya sendiri ke samping, memperlihatkan rambut kemaluannya, dan kemudian bibir vaginanya yang kemerahan.

Ana menatap pria yang berlutut di antara pahanya, api gairah tampak berkobar dalam matanya, menahan celana dalamnya ke samping untuknya. Jodi menatap matanya seiring bibirnya mulai mencium bibir vaginanya. Membuat lebih banyak desiran kenikmatan mengguyur tubuhnya dan dia mendesah melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya.

Lidah Jodi mulai menjilat dari bagian bawah bibir vagina Ana sampai ke bagian atasnya, mendorong kelentitnya dengan ujung lidahnya saat dia menemukannya. Diselipkannya lidahnya masuk ke dalam lubang vaginanya, mersakan bagaimana rasanya cairan gairah Ana.

Dihisapnya bibir vagina itu ke dalam mulutnya dan dia mulai menggerakkan lidahnya naik turun di sana, membuat Ana semakin basah.

Desahannya terdengar, menggoyangkan pinggulnya di wajah Jodi. Jodi melepaskan bibirnya, lidahnya bergerak ke kelentitnya. Dirangsangnya tonjolan daging sensitif itu menggunakan lidahnya dalam gerakan memutar.

Ana menaruh kakinya pada bahu Jodi, duduknya jadi tidak tenang. Tiba-tiba, Jodi menghisap kelentitnya ke dalam mulutnya, menggigitnya diantara bibirnya.

Ana memekik agak keras saat serasa ada aliran listrik yang menyentak tubuhnya. Lidah Jodi bergerak berulang-ulang pada kelentit Ana yang terjepit diantara bibirnya, tahu bahwa titik puncak Ana sudah dekat. Dilepaskannya kelentit itu dari mulutnya dan tangannya menggantikan mengerjai kelentit Ana dengan cepat.

“Oh Tuhan… ” bisiknya mendesah, merasakan orgasmenya mendekat. Jari Jodi bergerak tanpa ampun, pinggul Ana terangkat karenanya. Ana menggigit bibirnya berusaha agar suara jeritannya tak terdengar sampai kepada suaminya yang berada di kamar mandi saat orgasmenya datang dengan hebatnya. Dadanya sesak, nafasnya terhenti beberapa saat, dinding-dinding vaginanya merapat.

Kedua kakinya terpentang lebar di belakang kepala Jodi. Ana mendesah hebat, akhirnya nafasnya kembali mengisi paru-parunya mengiringi terlepasnya orgasmenya.

Jodi berdiri dan langsung mengeluarkan penisnya. Ana memandang dengan lapar pada batang penis dalam genggaman tangan Jodi. Sebelah tangan Ana masih memegangi celana dalamnya ke samping saat tangannya yang satunya lagi meraih batang penis Jodi. Tangan kecil itu menggenggamnya saat Jodi maju mendekat.

Dengan cepat Ana menggesek-gesekkannya pada bibir vaginanya yang basah, berhenti hanya saat itu sudah tepat berada di depan lubang masuknya. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama suara dari kamar mandi di lantai atas yang masih terdengar.

Jodi melihat ke bawah pada kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana.

Jodi mendorong ke depan dan menyaksikan bibir itu membuka untuknya, mengijinkannya untuk masuk. Desahan Ana segera terdengar saat dia mersa terisi. Jodi terus mendorong, vagina Ana terus menghisapnya sampai akhirnya, Jodi berada di dalamya dalam satu dorongan saja.

Ana sangat panas dan mencengkeramnya, dan Jodi membiarkan penisnya terkubur di dalam sana untuk beberapa saat, meresapi perasaan yang datang padanya. Tangan Ana masih menahan celana dalamnya ke samping, tangan yang satunya meraih kepala Jodi mendekat padanya.

Lidahnya mencari pasangannya dalam lumatan bibir yang rapat. Dengan pelan Jodi menarik penisnya. Dia mendorongnya masuk kemabali, keras, dan Ana mengerang dalam mulutnya seketika. Tubuh mereka saling merapat, kaki Ana terjuntai terayun dibelakang tubuh Jodi dalam tiap hentakan.

Roy yang masih berada di kamar mandi tak mengira di lantai bawah penis sahabatnya sedang terkubur dalam vagina istrinya.

Sementara itu Ana, sedang berada di ambang orgasmenya yang lain. Penis pria ini menyentuhnya dengan begitu berbeda! Terasa sangat nikmat saat keluar masuk dalam tubuhnya seperti itu! Dia orgasme, melenguh, melepaskan ciumannya.

Jodi mundur sedikit dan melihat batang penisnya keluar masuk dalam lubang vaginanya yang kemerahan, tangannya yang kecil menahan celana dalamnya jauh-jauh ke samping yang membuat Jodi heran karena kain itu tak robek. Dia mulai menyutubuhinya dengan keras, menyadari kalau mungkin saja dia tak mempunyai banyak waktu lagi.

Jika Roy masuk ke sudut ruangan itu, dia akan melihat ujung kaki istrinya yang terayun dibelakang pantat Jodi. Celana jeans Jodi merosot hingga mata kakinya, celana dalamnya berada di lututnya, dan pantatnya mengayun dengan kecepatan penuh diantara paha Ana yang terbuka lebar. Roy mungkin mendengar suara erangan kenikmatan istrinya.

Jodi terus mengocok, dia dapat merasakan kantung buah zakarnya mengencang dan dia tahu itu tak lama lagi. Dia menggeram, memberinya beberapa kocokan lagi sebelum dilesakkannya batang penisnya ke dalam vagina wanita bersuami itu dan menahannya di dalam sana.

Dia menggeram hebat, penisnya menyemburkan spermanya yang panas di dalam sana. Begitu banyak sperma yang tertumpah di dalam vagina Ana.

Erangan keduanya terdengar saling bersahutan untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka tersadar kalau suara dari dalam kamar mandi sudah berhenti, dan tak menyadari sudah berapa lama itu tak terdengar.

Bibir Jodi mengunci bibirnya dan mereka saling melumat untuk beberapa waktu seiring kejantanan Jodi yang melembut di dalam tubuhnya. Kemudian mereka saling merenggang dan Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi itu dari vagina Ana. Dengan cekatan dia mengenakan pakaiannya kembali. Ana membiarkan celana dalamnya seperti begitu. Dia merasa celananya menjadi semakin basah saat ada sperma Jodi yang menetes keluar dari vaginanya saat dia berdiri.

Roy turun tak lama berselang, siap untuk sarapan.

Dokter Sandra

San… hei aku jaga nich malam ini, elu jangan kirim pasien yang aneh-aneh ya, aku mau bobo, begitu pesanku ketika terdengar telepon di ujung sana diangkat.

“Udah makan belum?” suara merdu di seberang sana menyahut.

“Cie… illeee, perhatian nich”, aku menyambung dan, “Bodo ach”, lalu terdengar tuutt… tuuuttt… tuuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.

Malam ini aku dapat giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD kalau sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu.

Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tidak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus aku akui dia cukup terampil dan pandai juga, masih sangat muda sekitar 28 tahun, cantik menurutku, tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm dengan bodi sedang ideal, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang seakan memberikan kesan sabar tapi yang sering rekan sejawat jumpai yaitu ketus dan judes apalagi kalau lagi moodnya jelek sekali.

Celakanya yang sering ditunjukkan, ya seperti itu. Gara-gara itu barangkali, sampai sekarang dia masih single. Cuma dengar-dengar saja belakangan ini dia lagi punya hubungan khusus dengan dr. Anton tapi aku juga tidak pasti.

Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga aku diketuk dengan cukup keras juga.

“Siapa?” tanyaku masih agak malas untuk bangun, sepet benar nih mata.

“Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul”, suara dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya.

“Ya”, sahutku sejurus kemudian.

Sampe di UGD kulihat ada beberapa pria di dalam ruang UGD dan sayup-sayup terdengar suara rintihan halus dari ranjang periksa di ujung sana, sempat kulihat sepintas seorang pria tergeletak di sana tapi belum sempat kulihat lebih jelas ketika dr. Sandra menyongsongku,

“Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), gimana menurut elu?” demikian resume singkat yang diberikan olehnya.

“San, elu makin cantik aja”, pujiku sebelum meraih status pasien yang diberikannya padaku dan ketika aku berjalan menuju ke tempat pasien itu, sebuah cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku sehingga tidak terlalu lihat apa yang dia lakukan. Sakit juga nih.

Saat kulihat, pasien itu memang parah sekali, boleh dibilang hampir putus dan yang tertinggal cuma sedikit daging dan kulit saja.

“Dok, tolong dok… jangan dipotong”, pintanya kepadaku memelas.

Akhirnya aku panggil itu si Om gendut, bosnya barangkali dan seorang rekan kerjanya untuk mendekat dan aku berikan pengertian ke mereka semua.

“Siapa nama Bapak?” begitu aku memulai percakapan sambil melirik ke status untuk memastikan bahwa status yang kupegang memang punya pasien ini.

“Praptono”, sahutnya lemah.

“Begini Pak Prap, saya mengerti keadaan Bapak dan saya akan berusaha untuk mempertahankan jari Bapak, namun hal ini tidak mungkin dilakukan karena yang tersisa hanya sedikit daging dan kulit saja sehingga tidak ada lagi pembuluh darah yang mengalir sampai ke ujung jari. Bila saya jahit dan sambungkan, itu hanya untuk sementara mungkin sekitar 2 – 4 hari setelah itu jari ini akan membusuk dan mau tidak mau pada akhirnya harus dibuang juga, jadi dikerjakan 2 kali.

Kalau sekarang kita lakukan hanya butuh 1 kali pengerjaan dengan hasil akhir yang lebih baik, saya akan berusaha untuk seminimal mungkin membuang jaringannya dan pada penyembuhannya nanti diharapkan lebih cepat karena lukanya rapih dan tidak compang-camping seperti ini”, begitu penjelasan aku pada mereka.

Kira – kira seperempat jam kubutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka akan tindakan yang akan kita lakukan. Setelah semuanya oke, aku minta dr. Sandra untuk menyiapkan dokumennya termasuk surat persetujuan tindakan medik dan pengurusan untuk rawat inapnya, sementara aku siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster dinas di UGD.

“San, elu mau jadi operatornya?” tanyaku setelah semuanya siap.

“Ehm… aku jadi asisten elu aja deh”, jawabnya setelah terdiam sejenak.

Entah kenapa ruangan UGD ini walaupun ber-AC tetap saja aku merasa panas sehingga butir-butir keringat yang sebesar jagung bercucuran keluar terutama dari dahi dan hidung yang mengalir hingga ke leher saat aku kerja itu. Untung Sandra mengamati hal ini dan sebagai asisten dia cepat tanggap dan berulang kali dia menyeka keringatku.

Huh… aku suka sekali waktu dia menyeka keringatku, soalnya wajahku dan wajahnya begitu dekat sehingga aku juga bisa mencium wangi tubuhnya yang begitu menggoda, lebih-lebih rambutnya yang sebahu dia gelung ke atas sehingga tampak lehernya yang putih berjenjang dan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Benar-benar menggoda iman dan harapan.

Setengah jam kemudian selesai sudah tugasku, tinggal jahit untuk menutup luka yang kuserahkan pada dr. Sandra. Setelah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, terus cuci tangan di wastafel yang ada dan segera masuk ke kamar jaga UGD untuk pipis.

Ini yang membuat aku tidak tahan dari tadi ingin pipis. Daripada aku mesti lari ke bangsal bedah yang cukup jauh atau keluar UGD di ujung lorong sana juga ada toilet, lebih baik aku pilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pula rasanya lebih bersih.

Saat kubuka pintu toilet (hendak keluar toilet), “Ooopsss…” terdengar jeritan kecil halus dan kulihat dr. Sandra masih sibuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos yang dipegangnya.

“Ngapain lu di sini?” tanyanya ketus.

“Aku habis pipis nih, elu juga kok nggak periksa-periksa dulu terus ngapain elu buka baju?” tanyaku tak mau disalahkan begitu saja.

“Ya, udah keluar sana”, suaranya sudah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu biar tidak kelihatan dari luar saat kubuka pintu nanti.

Ketika aku sampai di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan… ya ampun…. pundaknya yang putih halus terlihat sampai dengan ke pangkal lengannya, “San, pundak elu bagus”, bisikku dekat telinganya dan semburat merah muda segera menjalar di wajahnya dan ia masih tertunduk yang menimbulkan keberanianku untuk mengecup pundaknya perlahan.

Ia tetap terdiam dan segera kulanjutkan dengan menjilat sepanjang pundaknya hingga ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, sempat tersentuh kaos yang dipegangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya dan terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya dia membuka kaosnya untuk menggantinya dengan yang baru. Berkeringat juga rupanya tadi.

Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah.

“Aaaccch… ach…” desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.

Kulihat dua buah gundukan bukit yang tidak terlalu besar tapi sangat menantang dan pada bukit yang sebelah kanan tampak tonjolannya yang masih berwarna merah dadu sedangkan yang sebelah kiri tak terlihat. Kusedot kembali urat lehernya dan ia menjerit tertahan, “Aach… ach… ssshhh”, tubuhnya pun kurasakan semakin lemas oleh karena semakin berat aku menahannya.

Dengan tetap dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yang ada dan perlahan kurebahkan dia, matanya masih terpejam dengan guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, dan secara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya. Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dengan tangan kiri menyangga beban tubuh, sedangkan tangan kanan mengusap lembut alis matanya terus turun ke pangkal hidung, mengitari bibir terus turun ke bawah dagu dan berakhir di ujung liang telinganya.

Senyum tipis terus menghias wajahnya dan berakhir dengan desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. “Ssshhh… acchh…” Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya dan segera kami saling berpagutan penuh nafsu. Kuteroboskan lidahku memasuki mulut dan mencari lidahnya untuk saling bergesekan kemudian kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher dan terus turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah dan kukitari putingnya yang menonjol itu.

Lima sampai tujuh kali putaran dan putingnya semakin mengeras. Kulepaskan ciumanku dan kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bagian depannya dan kusapu lehernya dengan lidahku terus turun dan menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yang kiri yang masih menutupi bukitnya. Tampak kini dengan jelas kedua puting susunya masih berwarna merah dadu tapi yang kiri masih tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum pernah ada yang menyentuh itu sebelumnya.

Kujilat tepat di area puting kirinya yang masih terpendam malu itu pada jilatan yang kelima atau keenam, aku lupa. Puting itu mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan segera kutangkap dengan lidah dan kutekankan di gigi bagian atas,

“Ach… ach… ach…” suara desisnya semakin menjadi dan kali ini tangannya juga mulai aktif memberikan perlawanan dengan mengusap rambut dan punggungku. Sambil terus memainkan kedua buah payudaranya tanganku mulai menjelajah area yang baru turun ke bawah melalui jalur tengah terus dan terus menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan dan kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit dan segera tersentuh bulu-bulu yang sedikit lebih kasar.

“Eeehhhm… ech…” tidak diteruskan tapi bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya dan sampai pada area pinggulnya dan segera kutekan dengan agak keras dan mantap, “Ach…” pekiknya kecil pendek seraya bergerak sedikit liar dan mengangkat pantat dan pinggulnya.

Segera kutekan kembali lagi pinggul ini tapi kali ini kulakukan keduanya kanan dan kiri dan, “Fran… ugh…” teriaknya tertahan. Aku kaget juga, itu kan artinya Sandra sadar siapa yang mencumbunya dan itu juga berarti dia memang memberikan kesempatan itu untukku. Matanya masih terpejam hanya-hanya kadang terbuka. Kutarik restleting celananya dan kutarik celana itu turun. Mudah, oleh karena Sandra memang menginginkannya juga, sehingga gerakan yang dilakukannya sangat membantu.

Tungkainya sangat proporsional, kencang, putih mulus, tentu dia merawatnya dengan baik juga oleh karena dia juga kan berasal dari keluarga kaya, kalau tidak salah bapaknya salah satu pejabat tinggi di bea cukai. Kuraba paha bagian dalamnya turun ke bawah betis, terus turun hingga punggung kaki dan secara tak terduga Sandra meronta dan terduduk, dengan nafas memburu dan tersengal-sengal, “Fran…” desisnya tertelan oleh nafasnya yang masih memburu.

Kemudian ia mulai membuka kancing bajuku sedikit tergesa dan kubantunya lalu ia mulai mengecup dadaku yang bidang seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku dan menariknya lepas. Langsung saja aku berdiri dan melepaskan seluruh bajuku dan kuterjang Sandra sehingga ia rebah kembali dan kujilat mulai dari perutnya.

Sementara tangannya ikut mengimbangi dengan mengusap rambutku, ketika aku sampai di selangkangannya kulihat ia memakai celana berwarna dadu dan terlihat belahan tengahnya yang sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol keluar mirip pematang sawah dan ada sedikit noda basah di tengahnya tidak terlalu luas, ada sedikit bulu hitam yang mengintip keluar dari balik celananya. Kurapatkan tungkainya lalu kutarik celana dalamnya dan kembali kurentangkan kakinya seraya aku juga melepas celanaku.

Kini kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali dan cukup besar untuk ukuranku. Sementara Sandra sudah mengangkang lebar tapi labia mayoranya masih tertutup rapat. Kucoba membukanya dengan jari-jari tangan kiriku dan tampak sebuah lubang kecil sebesar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yang berwarna pucat demikian juga dindingnya tampak berwarna pucat walau lebih merah dibandingkan dengan bagian tengahnya. Gila, rupanya masih perawan.

Tak lama kulihat segera keluar cairan bening yang mengalir dari lubang itu oleh karena sudah tidak ada lagi hambatan mekanik yang menghalanginya untuk keluar dan banjir disertai baunya yang khas makin terasa tajam. Baru saat itu kujulurkan lidahku untuk mengusapnya perlahan dengan sedikit tekanan. “Eehhh… ach… ach… ehhh”, desahnya berkepanjangan.

Sementara lidahku mencoba untuk membersihkannya namun banjir itu datang tak tertahankan. Aku kembali naik dan menindih tubuh Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya dan aku sudah tidak tahan lagi kemudian aku mulai meremas payudara kanannya yang kenyal itu dengan kekuatan lemah yang makin lama makin kuat.

“Fran… ambilah…” bisiknya tertahan seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan kuarahkan torpedoku untuk menembak dengan tepat. Satu kali gagal rasanya melejit ke atas oleh karena licinnya cairan yang membanjir itu, dua kali masih gagal juga namun yang ketiga rasanya aku berhasil ketika tangan Sandra tiba-tiba memegang erat kedua pergelangan tanganku dengan erat dan desisnya seperti menahan sakit dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri.

Sementara batang kejantananku rasanya mulai memasuki liang yang sempit dan membuka sesuatu lembaran, sesaat kemudian seluruh batang kemaluanku sudah tertanam dalam liang surganya dan kaki Sandra pun sudah melingkari pinggangku dengan erat dan menahanku untuk bergerak. “Tunggu”, pintanya ketika aku ingin bergerak.

Beberapa saat kemudian aku mulai bergerak mengocoknya perlahan dan kaki Sandra pun sudah turun, mulanya biasa saja dan respon yang diberikan juga masih minimal, sesaat kemudian nafasnya kembali mulai memburu dan butir-butir keringat mulai tampak di dadanya, rambutnya sudah kusut basah makin mempesona dan gerakan mengocokku mulai kutingkatkan frekuensinya dan Sandra pun mulai dapat mengimbanginya.

Makin lama gerakan kami semakin seirama. Tangannya yang pada mulanya diletakkan di dadaku kini bergerak naik dan akhirnya mengusap kepala dan punggungku. “Yach… ach… eeehmm”, desisnya berirama dan sesaat kemudian aku makin merasakan liang senggamanya makin sempit dan terasa makin menjempit kuat, gerakan tubuhnya makin liar.

Tangannya sudah meremas bantal dan menarik kain sprei, sementara keringatku mulai menetes membasahi tubuhnya namun yang kunikmati saat ini adalah kenikmatan yang makin meningkat dan luar biasa, lain dari yang kurasakan selama ini melalui masturbasi.

Makin cepat, cepat, cepat dan akhirnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku dan menariknya lebih ke dalam bersamaan dengan pompaanku yang terakhir dan kami terdiam, sedetik kemudian.. “Eeeggghhh…” jeritannya tertahan bersamaan dengan mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku dan, “Crooot… crooot”, memberikannya kenikmatan yang luar biasa.

Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana dan memberikan rasa hangat yang mengalir dan berputar serasa terus menembus ke dalam tiada berujung. Selesai sudah pertempuran namun kekakuan tubuhnya masih kurasakan, demikian juga tubuhku masih kaku.

Sesaat kemudian kuraih bantal yang tersisa, kulipat jadi dua dan kuletakkan kepalaku di situ setelah sebelumnya bergeser sedikit untuk memberinya nafas agar beban tubuhku tidak menindih paru-parunya namun tetap tubuhku menindih tubuhnya. Kulihat senyum puasnya masih mengembang di bibir mungilnya dan tubuhnya terlihat mengkilap licin karena keringat kami berdua.

“Fran… thank you”, sesaat kemudian, “Ehmmm… Fran aku boleh tanya?” bisiknya perlahan.

“Ya”, sahutku sambil tersenyum dan menyeka keringat yang menempel di ujung hidungnya.

“Aku… gadis keberapa yang elu tidurin?” tanyanya setelah sempat terdiam sejenak. “Yang pertama”, kataku meyakinkannya, namun Sandra mengerenyitkan alisnya. “Sungguh?” tanyanya untuk meyakinkan.

“Betul… keperawanan elu aku ambil tapi perjakaku juga elu yang ambil”, bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis.

“San, thank you juga”, itu kata-kata terakhirku sebelum ia tidur terlelap kelelahan dengan senyum puas masih tersungging di bibir mungilnya dan batang kemaluanku juga masih belum keluar tapi aku juga ikut terlelap.

Pelajaran untuk murid istriku

Siang itu betul2 panas, luar biasa .., setelah seharian berkeliling mencari order, tentunya enak sekali untuk meneguk segelas air dingin sambil bersantai di kamar ..

“ Ma .. ? “ seruku sambil membuka pintu kamar. “ Kosong ? “ pikirku sambil bergerak masuk.

“ Ya sayang .. aku sedang mandi nih “, suara istriku dari dalam kamar mandi “ Kok udah pulang ? “

“ Iya .. kebetulan nggak terlalu rewel kliennya .. jadi bisa cepat” sahutku ringan sambil melepas sepatu dan jaket.

Sambil melepas kemejaku, aku mengetuk pintu kamar mandi “ Buka dong Ma, mau cuci muka nih .. panas banget .. “

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, aku mendorongnya sedikit dan beranjak masuk kamar mandi .

Fang fang, istriku terlihat masih membersihkan sisa2 busa di rambutnya, nampaknya dia habis keramas, tercium wangi shampoo memenuhi kamar mandi.

Melihatku masuk dia tersenyum kecil, sambil mengulungkan hand shower ditangannya .. “ NIh Pa, aku udah selesai kok .. “

Aku menerimanya cepat lalu mulai membasuh mukaku . . hmm, segar .. air dingin yang keluar dari hand shower itu segera saja menyingkirkan semua rasa gerah di tubuhku .. “ kayanya enak juga mandi siang2 ya Ma .. “ ucapku sambil membuka pakaian.

“ Memangnya mau kemana kok mandi siang2 ?” tanyaku.

“ Ada private kan Pa, si Agus jam 3 nanti datang mau les Photoshop ..” Jawab istriku sambil membantuku membuka pakaian. Setelah lepas semua pakaianku, dia membantu menyiramkan air shower sambil menggosok punggungku.

Istriku memang berprofesi sebagai pembimbing di sebuah sekolah computer kenamaan di kota, di waktu senggang dia memberi les private untuk anak2 di kost kami. Agus itu salah satu muridnya, masih duduk di kelas 2 SMP, tidak terlalu pandai, tapi latar belakang keluarganya tidak begitu mampu, Istriku menerimanya sebagai murid hanya karena ingin membantu keluarganya saja supaya anaknya bisa memiliki kemampuan lebih.

“ Agus ya Ma .. sudah bisa apa dia ? “ tanyaku.

“ Hari ini jadualnya belajar editing foto .. “ Jawab istriku sambil menggosokkan busa sabun ke tubuhku.. nyaman sekali rasanya. Sambil dimandiin tak urung aku menelusuri tubuh telanjang istriku yang masih sibuk meratakan busa sabun. Di usianya yang ke 29 tahun ini dia memang betul2 cantik dan seksi. Dengan tinggi 165 dan berat 37 Kg, tubuhnya betul2 proporsional dan enak dilihat.

Terlebih dengan kulitnya yang putih mulus seperti layaknya gadis keturunan cina, dan buah dada 34B yang menggantung padat di dadanya ..

“ Kok bangun Pa ? .. “ celetuknya geli waktu melihat kemaluanku bergerak naik .. “ Iya Ma .. habisnya Mama seksi sekali kalau basah2 gini ..

“ Jawabku sambil meraba buah dadanya. Istriku tersenyum lebar, tangannya sekarang malah ikut membelai kemaluanku yang sudah mulai mengeras ..

“ Mau usil ya ? .. “ Candanya mesra, lalu sambil membersihkan sisa2 sabun di tubuhku dia mendekatkan bibirnya .. “ Nanti malam aja Pa .. kan si Agus mau datang”

Aku memeluknya mesra, lalu kucium bibir indahnya dengan nafsu yang mulai naik. “ sebentar kayanya bisa kok Ma .. sudah terlanjur naik nih .. “ Istriku tertawa kecil, tapi dia tidak menolak waktu aku menekan tubuhnya ke bawah ..

“ Dikulum atau gimana nih Pa .. biar cepat ? “ tanyanya. Aku tersenyum saja, lalu aku posisikan penisku diantara buah dadanya yang montok. Sisa2 air yang masih membasahi kulitnya membuat penisku dapat bergerak cukup licin menyusuri dua bukit kembar yang indah itu, tangan istriku ikut membantu menekannya dari sisi luar sehingga gundukan buah dadanya menjepit erat kemaluanku.

“ Enak Ma ..” desahku sambil mengamati penisku sendiri bergerak keluar masuk dari sela2 gumpalan daging kenyal yang luar biasa indah itu. Istriku tersenyum, dia membantu dengan ikut bergerak naik turun, membuat kenikmatan yang kurasakan semakin meningkat.

“ Dimasukkin aja ya Ma .. “ Pintaku sambil menarik istriku bangun. “ Pa .. Agus keburu datang lho ..” protes istriku waktu aku menghadapkannya ke dinding dan mulai menarik pinggulnya naik. “ Sebentar kok Ma .. ini tadi juga udah mau keluar, tapi kurang sreg kalau nggak keluar di dalam .. “ bisikku sambil menggesekkan penisku di bibir vaginanya .. “ sshhh .. Pa .. “ Desah istriku waktu aku mulai memasukkan penisku dan menggoyangnya pelan.” Enak Ma ..” Bisikku sambil menekan penisku masuk sedalam2nya.

Tanganku yang satu menarik pinggul istriku sambil aku gerakkan penisku keluar masuk, sementara tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya. Aduh, nikmat sekali .. Pemandangan tubuh telanjang istriku yang setengah membungkuk dengan pantatnya yang menungging itu makin menambah gairah di dadaku.

Bahkan setelah 7 tahun berpacaran dan 1 tahun menikah, masih saja aku terpesona oleh keindahan tubuhnya.

“Pa .. enak banget Pa .. “ Istriku mendesah sambil menoleh, tangannya yang satu berpegang ke dinding, dan tangannya yang lain ikut meremasi sendiri buah dadanya. Pinggulnya sekarang ikut bergerak mengimbangi ayunanku .. “ Iya Ma .. enak banget .. “ Aku menjawab sambil memperkuat sodokan penisku, sekarang kedua tanganku mencengkeram erat kedua bongkahan pantat istriku sambil terus aku hujamkan kemaluanku keluar masuk semakin cepat.

Lagi2 pemandangan batang kemaluanku yang bergerak keluar masuk liang vagina istriku membuatku semakin bergairah. “ Sshh .. Pa .. “ Istriku mendesah pelan waktu aku menggesekkan jempolku di tepi liang duburnya .. dia memang suka sekali kalau aku merangsangnya di daerah itu, meskipun kami berdua tidak pernah mencoba sex anal .. tetapi belaian dengan jari, kadang hingga masuk ke duburnya sama2 membuat kami makin terangsang.

Mendadak … “ tok tok .. Selamat Siang Tante .. ? “ Suara ketokan pintu dan panggilan serentak menghentikan gerakan kami.

“ Aduh .. Pa .. tuh kan si Agus datang .. “ Istriku berseru panic, tanpa kompromi dia menarik lepas pinggulnya dan langsung menyambar pakaiannya .. “ Ma .. “ protesku, tapi istriku sudah bergegas memakai kembali pakaiannya “ Nggak usah dipakai Ma .. gitu aja .. “ Bisikku sambil menahan waktu dia mau memakai celana dalamnya “ Biar nanti bisa langsung lanjut .. “ ucapku nakal sambil merebut juga BHnya .

“ Pa .. ? aku kan mau kasih private ?? .. “ Protes istriku.

“ Nggak apa .. biarin aja, kan ketutup baju” Sahutku nakal “ Biar lebih kerasa sensasinya .. nih dipakai bajunya terus keluar .. “ Tukasku sambil mengulurkan kimononya.

“ Papa .. “ sahut istriku manja .. tapi tetap saja dipakainya kimono merah muda itu. “ Awas nanti ya .. “ sungutnya sambil membuka pintu kamar mandi. Aku tersenyum saja sambil menutup kembali pintu dan menghidupkan kembali kran shower. Siraman air dingin yang mengguyur kepalaku sedikit banyak membantu meredakan sisa2 nafsu yang masih menggumpal di kepalaku.

Tak lama, setelah selesai mandi, aku memakai kaos dan celana pendek, kemudian berjalan ke ruang depan. Istriku dan Agus sudah terlihat sibuk di depan computer, anak itu terlihat serius sekali memperhatikan Istriku memberi beberapa teori yang kemudian dipraktekkannya di layar computer.

“ Ini gunanya untuk mengatur resolusi foto Gus .. untuk bisa di edit, foto harus punya resolusi yang cukup tinggi supaya tidak pecah kalau nanti mau di cetak” Terang istriku sambil menunjukkan icon yang dimaksudnya.

Si Agus terlihat mangut2 saja sambil mencoba memahami keterangan istriku. “ Nah sekarang coba kamu cari foto untuk kamu edit dulu ya seperti yang Tante ajarkan .. Tante mau kedepan dulu menjemur pakaian “

Pamit istriku sambil beranjak bangun.

Setelah dia pergi, aku lihat si Agus mulai membuka2 beberapa folder foto untuk mencari gambar yang cukup menarik untuk diolah. Beberapa kali dia membuka foto lalu menutupnya lagi karena kurang menarik .

“ Serius lho Gus .. nanti nggak bisa2 kalau kamu nggak semangat gitu .. “

Kataku sambil mengambil tempat duduk di belakangnya. Aku sendiri lalu ikut duduk tak jauh dari tempatnya sambil membuka2 koran hari itu.
Beberapa saat aku lirik anak itu belum juga mendapat foto yang sesuai, nampaknya dia sendiri kurang begitu berminat dengan pelajaran itu.
“ Kamu cari foto yang gimana Gus ? .. “

“ ..mm .. nggak tahu nih Om .. “

“ Sini Om cariin .. “ Aku tutup koranku dan ikut mendekat .. beberapa lama mencari, mendadak timbul ide nakal di kepalaku “ Tahu nggak berita foto artis bugil yang di internet itu Gus ? ..” Tanyaku.

“ Eh .. iya Om ..” Jawabnya, mukanya yang awalnya bosan mendadak bersinar senang, dasar anak laki2, gerutuku. “ Itu kan juga hasil editan computer .. mau coba buat yang kaya gitu ?”

Tanyaku sambil mulai membuka folder foto2 artis JAV koleksiku. “ I .. iya Om, yang foto gitu aja .. kan lebih realis ya ? .. “ Jawabnya buru2, dasar, bilang aja lebih asyik … “ Nih .. foto ini aja yang kamu edit .. “

Ucapku sambil membuka salah satu foto Sora Aoi dengan pose duduk dan dada membusung.

“ Waaahh .. cantik Om .. “ seru Agus sambil matanya tak lepas dari layar monitor .. “ Kamu nggak pernah lihat yang ginian ? “ tanyaku heran .. “ Belum Om .. kan dirumah nggak punya computer .. “

“ Nggak pernah ke warnet ? “ Tanyaku lagi .. “ Nggak pernah Om .. paling juga ke PS ..” Jawabnya polos, sambil matanya tetap memelototi layar monitor.

“ Ya ampun, dasar gaptek kamu nih .. sudah, berhenti melototnya .. ini foto ini, kamu gantiin kepalanya pakai foto yang lain .. “ Sahutku sambil membuka beberapa folder foto lain .. “ Eh .. gini aja, coba gantiin bagian leher ke atas foto ini dengan foto Tante Fang ya .. “ Ucapku sambil tersenyum geli .. lalu aku buka salah satu foto istriku dengan pose yang mendekati sama.

“ Eh .. nggak apa Om sama Tante ? “ Agus bertanya bingung, aku menggeleng saja sambil tersenyum “ Nggak apa, yang penting hasilnya bagus dan editannya halus nggak apa kok, kan yang penting pelajarannya, bukan fotonya .. “ Jawabku sambil mengembalikan keyboard dan mouse ke padanya.

Tak lama anak itu sudah aktif menggerakkan mouse dan keyboard dengan jari2nya, memang kalau obyeknya menarik pasti lah lebih semangat juga yang mengerjakan. Batinku geli, sambil aku mulai melanjutkan membaca Koran.

“ Lho .. Gus ? kok ngedit gambar gituan ? .. “ Tiba2 saja suara istriku terdengar, dia melihat layar computer dengan ekspresi heran dan kaget “ Siapa yang kasih gambarnya ?? “ Tanyanya dengan nada keras.

“ Om .. yang kasih ..Tante .. katanya nggak apa buat latihan .. “ Jawab anak itu sambil setengah ketakutan, dia melirikku meminta dukungan.
“ Iya Ma .. nggak apa, tadi si Agus kurang semangat kalau obyeknya pemandangan, makanya aku kasih yang lebih menantang .. “ Jawabku sambil menarik istriku menjauh.

“ Biarin Ma .. aku dulu juga waktu SMP kaya gitu .. semangat banget kalau lihat body cewek telanjang .. nggak apa .. kalau nggak kita yang nunjukin juga dia pasti lihat di tempat lain .. “ Bisikku sambil tersenyum.

“ Ngawur papa nih .. kalo orang tuanya tahu gimana ? “ Protes istriku masih dengan muka tegang.

“ Gus .. jangan bilang siapa2 lho ya .. nanti kalau ketahuan orang Om nggak bisa kasih lihat kamu gambar lain yang lebih asyik .. “ Seruku sambil melihat Agus. “ Iya Om , nggak akan .. tapi nanti lihat lagi gambar yang lain ya Om .. “ Agus menjawab dengan ekspresi senang. “ Iya, asal kamu janji jaga rahasia .. “ Jawabku sambil mengacungkan jempol. “ Aman Ma .. “

“ Huu .. dasar .. Papa dan Agus ini sama nakalnya .. “ Sungut istriku sambil mendekati Agus.

“ mm .. lumayan nih editanmu Gus .. tapi disini kamu motongnya kurang bagus .. masih terlihat kaku .. “ Istriku mengambil alih mouse dari tangan anak itu lalu mulai memberi contoh bagaimana melakukan editing yang benar.” Nih .. kan .. setelah dipotong lalu kamu posisikan gambar kepalanya di tempat potongan yang sama .. “

Sekarang gambar potongan kepala istriku sudah melekat di foto tubuh telanjang Sora Aoi .. pas, mantap sekali .. memang buah dadanya masih tidak sebesar itu, tapi sekilas terlihat mirip sekali dengan aslinya ..

“ Wah .. pas tuh Ma … mirip kaya aslinya .. “ celetukku iseng … Istriku melirikku manja. Agus sendiri melihat foto telanjang dengan wajah istriku mendadak seperti punya imajinasi sendiri .. dia melirik sesekali tubuh istriku dan membandingkannya dengan gambar di layar computer.

“ Kenapa Gus ? .. nggak percaya ya ? .. “ tanyaku geli .. “ Eh .. nggak kok Om, tapi fotonya seperti bener2 sungguhan .. “ Jawabnya gugup.
“ Aslinya lebih bagus Gus .. “ Istriku menyahut singkat, sambil melirikku nakal .. “ Kalau kamu pengen, boleh kok lihat aslinya .. “ Kontan aku terperanjat mendengar celetuk nakal istriku.

“ Ma .. ? “ seruku sambil menatap istriku tajam

“ Lho katanya mau memenuhi obsesi masa SMP Pa ? .. sekalian aja dong .. papa dulu kan nggak ada yang sukarela nunjukin body telanjangnya kan ? .. bayangin aja sekarang Papa yang jadi Agus .. “ jawab istriku ringan sambil melirik Agus “ Gimana Gus .. pengen nggak ? “

Bisik Istriku dengan nada menggoda sambil menyentukan bahunya ke bahu Agus.

Karena posisinya yang membungkuk di samping Agus yang sedang duduk dengan tangan tergantung memegang mouse di meja, otomatis sentuhan bahunya itu membawa dadanya ikut menggesek sisi lengan anak itu. Dan aku cukup yakin, sentuhan buah dada yang hanya terlapis kain satin tipis tanpa pakaian dalam itu pastilah disadari Agus, walaupun usia anak itu belum genap 13 tahun.

Agus gelagapan .. antara senang dan takut dia melirikku yang masih diam keheranan, lalu dia melirik gambar di layar lagi dan kembali memandang tubuh istriku. Fang Fang tersenyum kecil, tangannya lalu menarik sedikit kain kimononya ke luar dan membiarkan belahan di bagian tengah kimono itu terbuka sedikit hingga ke atas perut .

Tentu saja dengan posisinya yang sedikit membungkuk, sisi samping buah dadanya segera saja terlihat indah, menggantung padat dengan bentuknya yang bulat , walaupun ujung putingnya masih tertutup oleh kain kimononya. Agus kini tidak lagi melirik, matanya melihat tajam ke tengah bagian kimono yang terbuka itu, menelusuri kemulusan kulit pundak, dada hingga perut istriku yang masih terlihat rata.

“Mau nggak Gus .. ? .. boleh kan Pa ? “ godanya manja, sambil melirikku yang masih diam tidak mengerti.

Entah pembalasan dari keisenganku atau ada alasan lain, aku juga tidak mengerti, tapi suasana yang terjadi sekarang ternyata juga membuat gairahku mulai naik. Godaan yang dilakukan istriku pada anak SMP itu sedikit banyak membuatku ikut tergoda juga.

“ Nggak apa Gus .. asal antara kita aja ya .. jangan sampai orang lain tahu .. “ Bisikku pelan.

“ I .. iya Om .. mau tante, mau .. “ Seperti mendapat durian runtuh mendengar restuku, Agus langsung menatap istriku sepenuhnya dengan penuh harap.

“hihi .. Papa tergoda juga ya .. “ Istriku tertawa menang, dia lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Agus sepenuhnya sambil membuka tali pengikat kimononya.

“ Tahan napas ya .. tante buka sekarang .. “ Fang Fang tersenyum nakal, setelah dilepaskannya tali pengikat kimono itu, pelan2 seperti penari yang sedang bergaya, dia menyibakkan kain satin tipis yang membungkus tubuhnya .

Kimono tipis itu merosot pelahan melewati bahunya,membuka bagian pundak dan dada atasnya yang putih sempurna. Seperti disengaja, dia menahan jatuhnya kain itu sesaat sebelum seluruh payudaranya terbuka, gumpalan buah dadanya yang penuh terlihat montok menyembul dari sela – sela kain yang tertahan oleh dua tangannya. Aku melirik Agus yang terpana penuh harap, terlihat sekali ada kekhawatiran di matanya kalau Istriku membatalkan niatnya membuka pakaian.

Tapi Fang fang Cuma tersenyum geli, sebelum kemudian melepaskan pegangan tangannya dan kain tipis itu jatuh terlipat di atas pahanya, meninggalkan sosok seorang wanita cantik dan molek yang membiarkan tubuh atasnya terbuka bebas untuk dinikmati.

Dua laki2 didepannya terlonggong penuh takjub melihat pemandangan luar biasa yang terhidang lepas itu, tubuh telanjang yang putih mulus dengan sepasang buah dada yang montok dan padat bergantung di bawah lehernya yang jenjang.

Aku melirik Agus yang masih diam tak percaya, mulutnya setengah terbuka melihat istriku duduk santai didepannya dengan tubuh atas sama sekali telanjang. Aku yakin, dalam mimpi pun dia tidak akan pernah terbayang akan punya kesempatan melihat tubuh indah gurunya seperti ini.

“ Gimana Gus .. sama dengan di foto itu nggak ? .. “ Istriku bertanya menggoda, tangannya bergerak membelai buah dadanya sendiri, menekannya ke tengah sehingga gumpalan daging yang memang sudah membusung itu terlihat semakin indah.

“ Lebih indah dari di foto .. tante .. badan tante bagus sekali .. “ Agus menyahut pelan, matanya masih tidak lepas mengamati buah dada istriku.

“ Memangnya kamu belum pernah melihat wanita telanjang .. ?” Istriku bertanya, seolah tanpa beban dia bergerak mendekat kea rah Agus yang masih duduk diam di dekat computer.

“ Pernah tante .. Agus pernah mengintip Ibu yang sedang mandi … juga Kak Wati .. tapi badannya tidak seperti tante .. susunya melorot .. “ Jawab anak itu polos, di sahut tawa kecil istriku.

“ Masa Kak Wati sudah melorot Gus ? .. kan kakakmu masih SMA ? “ Jawabku sambil ikut mendekat.

“ Ini susu tantemu masih kencang kok, padahal sudah 29 tahun .. “ tambahku sambil tanganku ikut meremas buah dada istriku dengan nakal. Sensasi menyadari istriku menunjukkan tubuh indahnya didepan seorang anak SMP ternyata menimbulkan gairah tersendiri dalam hatiku.

Istriku sendiri diam saja, dia tidak menolak waktu aku meremasi buah dadanya, nampaknya dia juga merasakan sensasi lain dari perlakuanku itu.

“ Iya Om .. Kak Wati susunya kecil kok .. tidak seperti tante .. “ Agus menjawab setengah terbata .. matanya berubah iri melihat aku meremasi buah dada istriku .. “ Mau ikut pegang Gus ? .. “ Tanyaku, lalu tanpa meminta persetujuan istriku, aku menarik tangannya dan menekannya di dada istriku yang terbuka.

“ Ahh .. Pa ..? “ Istriku mendesah kecil, agaknya dia tidak mengira aku akan mengizinkan tangan lain menyentuh dadanya .. Agus sendiri yang khawatir istriku akan menolaknya malah buru2 meremas buah dada istriku dengan gemas .. kontan istriku menjerit kecil, antara sakit dan geli .. “ Aduh .. pelan2 Gus, tante nggak melarang kok .. tapi pelan aja ya .. “

“ I .. iya tante ..” merasa mendapat angin, anak SMP itu lalu beranjak duduk di samping istriku, lalu mulai melanjutkan kegiatannya meremasi dada istriku.

Aku sendiri lalu berpindah ke belakang istriku, menopangnya dari belakang sambil tanganku ikut ambil bagian dalam kegiatan meremasi dadanya.

Istriku nampaknya sudah benar2 menikmati perlakukan itu, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, membiarkan Agus yang sekarang sudah makin berani memilin2 putting susunya. Perlahan aku merangsang bahu dan lehernya dengan ciuman2 kecil untuk makin membangkitkan gairahnya. Dan istriku membalasnya dengan desahan sambil membusungkan dadanya, membuat Agus makin bernafsu meremas dan bermain dengan dua bola daging yang kenyal itu.

“ Cium aja Gus .. hisap putingnya .. “ Bisikku disambut lirikan manja istriku dan cubitan mesranya.

Agus tidak membuang waktu lebih lama lagi, langsung melaksanakan perintahku dengan segera. Dia bahkan tidak hanya menciumi buah dada istriku, tapi berusaha mencaploknya dengan mulutnya yang kecil. Istriku terpekik pelan, nampaknya dalam gemasnya, anak SMP itu tidak sengaja menggigit daging buah dadanya, meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih.

“ Pelan2 Gus .. nikmati aja ya .. jangan buru2 “ Bisik istriku pelan sambil membelai kepala Agus yang masih terbenam diantara buah dadanya. Agus melirik saja dengan ekspresi yang tidak karuan terbakar nafsunya sendiri. Sekarang dia menjilati putting susu istriku dengan ujung lidahnya sambil sesekali dihisapnya dengan gemas. Melihat kelakuannya yang makin nakal itu nafsuku dengan cepat merayap naik sampai ke puncak, sisa2 gairah yang belum tertuntaskan dari persetubuhan di kamar mandi tadi sekarang bergolak tanpa kendali.

Perlahan, sambil masih menciumi leher istriku aku menurunkan celanaku dan menarik keluar kemaluanku dari dalamnya. Melihat itu istriku rupanya segera tanggap, dia segera menggenggam dan mengocoknya lembut. Aku tidak peduli lagi betapa aku melakukannya didepan anak smp yang notabene adalah murid istriku, yang aku inginkan sekarang adalah kenikmatan yang tadi masih belum puas aku reguk.

Cepat aku ciumi bibir istriku, lidahnya yang menyentuh bibirku dengan ganas aku hisap dan aku kulum. Membuat dia pun makin aktif mempermainkan penisku di dalam genggamannya.

Tiba2 dia menggelinjang geli .. “ Aduh .. Gus .. apa2an sih .. “ serunya sambil tertawa kecil.

Aku menghentikan ciumanku dan melirik kebawah. Rupanya sambil menciumi buah dada istriku, tangan anak itu nakal menyusup ke bawah kimono istriku, dan karena memang istriku tidak mengenakan pakaian dalam, jari2 anak itu langsung menyentuh vaginanya yang terbuka.

“ Aduh .. kamu nakal banget sih Gus .. “ protesnya sambil menahan tangan Agus, tapi dari suaranya aku tahu kalau sentuhan kecil tadi sudah membangkitkan gairah nafsu di dalam dadanya.

Agus melihatku penuh harap .. dan akupun berpikir sejenak, seandainya yang melakukan itu adalah orang seumurku mungkin aku tidak akan berpikir 2 kali untuk menghajarnya .. tapi melihat anak ingusan ini menjadi begitu bernafsu dengan tubuh istriku, aku justru ingin melihat sejauh mana anak ini akan melampiaskan keinginannya.

Maka perlahan aku menarik kimono istriku ke samping, Fang fang melihatku dengan tanda tanya, tapi aku hanya membalasnya dengan ciuman mesra di bibir sambil tanganku membuka kimononya lebar2 ke samping.

Kini tubuh istriku sudah sama sekali terbuka. Agus yang duduk terpana di antara kaki istriku kini bisa melihat tubuh istriku sepenuhnya. Dari lehernya yang jenjang, buah dadanya yang menggantung padat, perutnya yang rata dan celah vaginanya yang dihiasi bulu2 lebat …

Anak itu betul – betul memuaskan seluruh rasa ingin tahunya, sekarang dia bahkan merosot turun dari kursinya, dan memposisikan kepalanya tepat diantara bukaan paha istriku.

Matanya tidak lepas mengamati belahan vagina istriku yang aku sangat yakin, saat ini sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya. Istriku sendiri, sekarang malah memejamkan matanya, mungkin terjebak antara rasa malu menyadari muridnya tengah mengamati bagian paling pribadinya, dan sesasi yang makin kuat menaikkan gairahnya.

Aku kembali menciumi bibirnya, Agus yang melirikku hanya aku beri isyarat anggukan kecil saja untuk melanjutkan kegiatannya.

Dari sudut mataku aku melihat anak itu menunduk, tangannya yang satu mendorong paha istriku membuka ke samping dan jarinya bergerak mengorek2 lubang vagina istriku.

Fang2 menggigit bibirnya, dia nampak menikmati sekali melihat seorang anak SMP bermain2 dengan vaginanya. Dua kakinya tanpa dikendalikan bergerak membuka, memberi ruang seluas2nya untuk Agus mengamati dan menikmati bagian paling intimnya itu.

Aku bergerak menyamping, membiarkan istriku kini berbaring dengan relax, tanganku kini beralih meremasi buah dadanya dari depan. Ciumanku ikut turun dari pundak dan lehernya, kini mengarah pada buah dada dan putting susunya. Makin melengkapi rangsangan yang dirasakan istriku.

Dan detik berikutnya waktu aku melirik kebawah lagi, aku melihat Agus sudah mulai memasukkan 2 jarinya ke liang vagina istriku, mendorongnya sebentar kemudian menariknya keluar dengan pelan masih sambil mengamati pangkal paha istriku. Nampaknya sensasi melihat jari – jarinya bermain – main di dalam vagina gurunya memberikan kenikmatan sendiri bagi anak itu..

“ Cium di bagian ini Gus .. dan hisap sedikit sambil kamu dorong jarimu keluar masuk .. “

Bisikku sambil membuka lapisan daging yang menutup klitoris istriku. Agus mendekatkan bibirnya dan mulai mengulum dan menghisap tonjolan kecil itu. Istriku mendesah pelan, pinggulnya bergerak naik turun merespon kenikmatan yang dirasakan dari hisapan anak itu. Dan merasakan cumbuannya berhasil, Agus makin bersemangat mempermainkan jarinya keluar masuk liang vagina istriku.

Aku mengimbanginya dengan ciuman dan remasan di buah dada istriku, gumpalan daging putih itu segera saja berubah kemerahan akibat remasan2 tanganku. Dan Fang2 sekarang sudah betul2 bernafsu, dia mendesah desah sambil mengangkat pinggulnya. Permainan tangan Agus dan hisapannya nampaknya berhasil membawanya hampir ke puncak kenikmatan.

“ Gus .. minggir dulu ya .. “ Aku memberi isyarat Agus untuk menyamping, anak itu menatapku setengah memprotes. Tapi aku mendorongnya ke depan untuk kembali bermain dengan buah dada istriku, dan dia menurut.

Istriku tersenyum, dia nampaknya cukup mengerti kalau percumbuan ini sudah membuat kemaluanku betul2 mengeras. Melihat Agus yang nampak sedikit kecewa permainannya terhenti, dia merangkul anak itu dan menciumnya. Tangan lentiknya lalu bergerak menyentuh pangkal paha anak itu.

“ Buka celananya Gus .. Tante mau lihat burungmu .. “ bisiknya.

Dan seperti mendapat hadiah nomplok, anak itu segera saja memelorotkan celananya dan duduk mengangsurkan penisnya. Fang2 tersenyum, dia membelai batang kemaluan kecil itu dan pelan2 mulai mengocoknya. “ Sering ngocok sendiri ya Gus ? ..” godanya sambil tersenyum.

Agus tersenyum saja, mukanya terlihat mulai merah merasakan kenikmatan kocokan istriku.

Tangannya mulai aktif kembali meremasi buah dada istriku sambil seselali bermain dengan putingnya.

Aku sendiri segera mengambil posisi dipangkal paha istriku, kemaluanku yang memang sudah sangat keras segera saja aku tarik keluar dari celana kolorku dan aku gesekkan di bibir vagina istriku yang sudah sangat basah itu.

“ Ssshh … aduh, Pa .. “ desah istriku waktu aku dorongkan kemaluanku masuk.

Kocokannya pada kemaluan Agus terlihat semakin cepat terbawa oleh kenikmatan yang dirasakan dari gesekan penisku di vaginanya.

Agus terlihat makin bernafsu meremasi dada istriku, kini dia mulai menciumi buah dada istriku dengan liar, tidak lagi malu – malu seperti sebelumnya. Bahkan sekarang terlihat anak itu tidak saja focus pada buah dada istriku tapi mulai bergerak menciumi leher dan bahunya, nampaknya dia berusaha meniru apa yang tadi aku lakukan.

Fang fang mendesah saja, tangannya membelai rambut tipis anak itu sambil tangannya tetap bermain dengan kemaluan kecil digenggamannya. Dia bahkan menyambut ciuman Agus yang mulai mendarat di bibirnya dengan hisapan penuh nafsu.

Aku mempercepat gerakan pinggulku. Kedua kaki istriku aku naikkan ke pundakku, memberi akses maksimal pada kemaluanku untuk masuk sedalam2nya ke liang vagina istriku. Pemandangan istriku bermesraan dengan anak umur belasan tahun itu betul2 memberikan sensasi yang aneh di dadaku. Ada kecemburuan .. tapi yang paling kuat justru rangsangan yang makin kuat memompa birahiku.

Tidak puas dengan posisi misionaris ini, aku menarik pinggul istriku dan memutarnya, mencoba membawanya ke posisi doggy style.

“ Pah .. susah kalau posisi gini Pah ..” Protes istriku sambil melepaskan kemaluan Agus dan mendorongnya sedikit menyamping. Anak itu ikut menatapku heran, dia berdiri saja di samping istriku dengan penisnya yang masih mengacung tegak.

“ Pindah ke ranjang aja Ma .. bisa kok .. Si Agus biar ganti posisi lain aja .. “ Aku memberi isyarat Agus untuk bergerak ke ranjang, sambil aku dorong juga istriku ke sana. “ Aduh .. Papa .. aneh2 aja maunya .. “ Protes istriku manja, sambil naik ke tempat tidur , “ Kamu mau gimana Gus ? “ tanyanya sambil melihat Agus yang masih duduk saja di tepi ranjang.

Agus diam saja, dia menatap istriku yang mulai memposisikan dirinya merangkak di atas ranjang, nampaknya dia terpesona sekali melihat gumpalan payudara istriku yang tergantung lepas di dadanya dan bergoyang – goyang sedikit oleh gerakanku yang mengambil posisi di belakangnya.

Agus mengulurkan tangan kecilnya dan mulai lagi bermain dengan buah dada istriku dari sisi samping. Jari- jarinya bergerak meremas dan memilin putting susu istriku dengan gemas. Tapi karena posisi istriku yang merangkak dengan dua tangan menopang tubuhnya, tentu saja tidak ada ruang lagi untuk dia melanjutkan mengocok penis anak itu.

“ Sini Gus, kamu baring aja di bawah tante ya ..” tarik istriku sambil menegakkan tubuhnya, memberi ruang pada anak itu untuk berbaring diranjang. Aku melihatnya saja dari sela – sela pundak istriku, penisku yang panjang masih mengacung tegak menanti posisi yang pas untuk menyelip masuk.

“Iya .. Tante .. “ Agus menjawab pelan, sambil mulai berbaring di ranjang. Setengah bingung dia nampaknya, tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Istriku tersenyum lebar melihat keluguan murid kecilnya itu, dia lalu menempelkan dadanya sedemikian rupa hingga buah dadanya kini menjepit kemaluan anak itu, lalu pelan – pelan digesekkannya turun naik.

Agus menatapnya dengan wajah tegang, tentu saja pengalaman yang luar biasa ini membuat matanya tidak bisa lepas melihat ke bawah. Gurunya yang muda dan cantik, menggesekkan payudaranya naik turun di pahanya .. penis kecilnya terlihat naik turun menyusuri lereng bukit dada yang putih dan mulus itu dengan indahnya.

“Kamu tekan sendiri pakai tangan Gus .. penismu kecil, jadi susah nyelipnya di dada Tante .. “ protes istriku pelan sambil masih sedikit mengangkat tubuhnya.

“ I .. iya tante .. “ Agus menjawab tersendat, dia lalu meraih buah dada istriku dan meremasnya dari sisi samping, merapatkan belahan dadanya untuk menjepit penisnya lebih erat lagi.

“ Nah .. terus kamu goyangin sendiri ya .. kasihan tuh Om-mu susah mau masukin kalau Tante goyang – goyang terus .. “ Kata istriku sambil tersenyum dan melirikku mesra.

“Iya Tante .. “ Agus menyahut singkat, pinggulnya bergerak naik turun sekarang, membawa penisnya bergerak keluar masuk jepitan buah dada istriku. Remasan jarinya kini terlihat semakin mantap, membuat dada istriku terlihat makin penuh membusung, erat menjepit kemaluan kecil ditengahnya.

“ Nah .. gitu .. enak kan .. “ Istriku berbisik pelan setengah tersengal, nampaknya dia mulai terangsang juga dengan perlakuan anak itu dengan buah dadanya. Pinggulnya kini sudah menungging sempurna, liang vaginanya terlihat basah terbuka, siap untuk dimasuki.

Akupun tidak menunggu lama segera menyusupkan penisku dan mendorongnya perlahan masuk.

“ Ssh .. Pa ..” desahnya sambil menggigit bibir, terlihat sekali wajahnya memerah dipenuhi gejolak kenikmatan yang dirasakannya. Aku mulai mengayunkan pinggulku, makin lama makin cepat.

Ini pertama kalinya kami bersetubuh dengan cara ini, melibatkan satu orang lagi selain kami berdua. Jujur kalau yang terlibat adalah orang dewasa, aku belum tentu bisa menerimanya, tapi karena yang terlibat disini hanya anak 12 tahun .. yang menurutku belum sepenuhnya memahami .. aku justru bisa menerimanya sebagai bentuk variasi permainan yang menyenangkan ..

Aku mempercepat goyanganku , penisku yang panjang kini terlihat mulai basah oleh cairan vagina istriku, tapi itu justru makin melicinkannya bergerak keluar masuk dengan lancar. Sesekali kurasakan vagina istriku berkedut menambah kenikmatan jepitannya.

Agus sendiri, melihat aku menyetubuhi istriku dari belakang rupanya juga ikut terangsang, dia makin erat menjepit buah dada istriku dan mengayunkan penisnya. Gabungan sensasinya meremasi buah dada gurunya yang montok dan gesekan kulit halus di penisnya nampaknya begitu nikmat dia rasakan. Terlihat dari caranya melihat dan mulutnya yang setengah terbuka.

Istriku terlihat makin resah dengan desahannya, jari – jarinya yang lentik terlihat sibuk meremasi kain sprei, mencoba mengekspresikan kenikmatan ditubuhnya, disamping juga berusaha agar tidak terlalu terdorong kedepan oleh ayunanku yang semakin keras.

Aku masih menikmati sensasi ini kurang lebih selama 15 menit ke depan, ketika kulihat Agus makin kencang mengayunkan penisnya. Wajahnya terlihat bingung dan nikmat bercampur menjadi satu. Lalu sesaat kemudian dia melepaskan penisnya dari jepitan buah dada istriku dan menggenggamnya kuat – kuat dengan jarinya.

Terlihat cairan putih mengalir keluar dari sela2 jarinya. Tidak banyak, tapi terlihat sekali kepuasan memancar dari matanya. Hmm .. cukup bagus dia tidak menyemprotkan spermanya di dada istriku .. pikirku lega .. rupanya masih tahu diri juga dia untuk tidak sembarangan mengotori tubuh mulus gurunya ini.

“ Sudah ya Gus .. “ bisik istriku sambil tersenyum.

“ Iya Tante .. enak banget .. “ jawab anak itu malu – malu sambil menyisih ke samping, tangannya masih menggenggam penisnya yang sudah mulai berhenti memuntahkan cairannya.

“ Sana cuci dulu dikamar mandi .. “ suruhku sambil masih mengayunkan pinggulku maju mundur.

“ Iya Om .. “ jawabnya, sambil berjalan ke kamar mandi matanya tidak lepas memperhatikan penisku yang masih bergerak keluar masuk ke vagina istriku.

“ Pa .. aku keluar Pa .. “ erang istriku sambil menunggingkan pantatnya. Punggungnya sedikit melengkung ke atas dan pinggulnya bergerak gerak, berputar dan naik turun dengan cepat, menandakan dia sudah mencapai orgasmenya.

“ Aku juga Ma .. aah. . aduh .. “ Jawabku sambil menyodokkan penisku dalam2, terasa ujung kemaluanku berkedut kedut nikmat, menyemprotkan spermaku banyak banyak kedalam rahim istriku, mungkin lebih keras dan lebih banyak dari yang biasanya aku alami.

“ Enak banget Ma .. “ Aku menjatuhkan tubuhku ke punggung istriku yang kini berbaring telungkup di ranjang. Sesekali masih aku gerakkan pinggulku, mendorong penisku masuk lebih dalam untuk mengambil sisa – sisa kenikmatan yang masih ada.

“ mmm … iya Pa .. enak banget .. “ Bisik istriku pelan sambil tersenyum. Tangannya meraih kepalaku dan mendorongnya lebih merapat. Ku kecup lembut bibirnya dengan mesra. Sisa – sisa keringat yang masih mengucur ditubuhnya menambah aroma kemesraan yang kami rasakan.

Betul2 sensasi baru yang pertama kalinya kami alami .. tapi sepertinya tidak akan jadi yang terakhir. Sedikit gila mungkin .. tapi entah kenapa, terasa begitu sensasional dan menggairahkan. Kami bermesraan beberapa lama sebelum menyadari kalau si Agus sudah kembali dari kamar mandi. Anak itu sekarang duduk saja di kursi sambil mengamati kami yang masih berpelukan di atas ranjang.

“ Gus, ambilin tissue dong .. “ Pintaku sambil beranjak bangun. Anak itu segera meraih kotak tissue yang ada di atas meja dan membawanya mendekat.

Aku mendorong paha Istriku sedikit melipat ke atas, membuka celah di pangkal pahanya lebih melebar, kemudian perlahan aku tarik keluar penisku. Cairan putih nampak mengalir keluar dari liang vaginanya yang masih terlihat sedikit melebar.

“ Tolong bersihin vagina Tante tuh .. “ Suruhku sambil tersenyum, istriku tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat ke-usilanku.

Agus bergegas mendekat, menggantikan posisiku, tangannya buru2 merobek beberapa tissue dan mengelapkannya di vagina istriku yang masih terlihat basah oleh sisa – sisa sperma.

Aku meninggalkannya melangkah ke kamar mandi , bersih – bersih sedikit, sambil melirik apa saja yang dilakukan si Agus dengan kesempatan unik yang aku berikan itu.

Anak itu terlihat serius membersihkan pangkal paha istriku, cermat sekali di usapnya setiap inci dari liang vagina itu dengan tissue yang dipegangnya. Setelah lembar pertama yang dibawanya basah, cepat digantinya dengan lembar berikutnya, dan diulangnya mengusap bagian pangkal paha dan sisi paha dalam istriku sampai betul – betul bersih.

Istriku membiarkannya saja, dia menurut saja waktu Agus mendorong tubuhnya ke posisi telentang.

Sekarang anak itu terlihat memijit – mijit kaki istriku dengan penuh kasih sayang, di urutnya perlahan betis mulus istriku dengan lembut dan pelan, seperti orang yang sedang berpacaran saja.

Istriku menikmati pijitan itu dengan tersenyum senyum kecil, dia sekarang berbaring telentang, buah dadanya yang montok dibiarkan saja terbuka, membusung ke atas, membuat Agus semakin betah saja dengan kegiatan pijit memijitnya.

Anak itu sekarang bergerak naik, tangannya berpindah dari betis ke paha istriku yang mulus dan bersih.

Matanya tidak lepas memperhatikan gerakan buah dada istriku yang turun naik seiring nafasnya, sesekali diliriknya pangkal paha istriku yang dihiasi bulu – bulu tipis menggairahkan.

“ Dasar .. masih belum puas juga dia menikmati jepitan buah dada Fang Fang .. “ batinku sambil menyelesaikan kegiatanku bersih – bersih. Bergegas ku pakai celana kolorku kembali sebelum aku melangkah keluar kamar mandi.

“ Ma .. udah tuh, bersih – bersih dulu .. “ Suruhku sambil mendekat. Agus menoleh melihatku dengan pandangan kecewa. “ Pakai celanamu Gus .. tuh burungmu bangun lagi tuh .. “ Suruhku sambil menunjuk penisnya yang memang sudah kembali berdiri tegak.

“ Eh .. I .. iya Om .. “ jawabnya tergagap, tapi tangannya masih sibuk memijit – mijit paha istriku.

“ Masa bangun lagi Gus ? “ Istriku tiba – tiba bergerak bangun, dia terkikik geli melihat penis Agus yang memang sudah tegak sekali, menjulang seperti kayu.” Aduuhh .. belum puas juga ya ? .. “ Godanya sambil menggenggam penis anak itu gemas, seperti sengaja, dia menempelkan dadanya ke punggung Agus, membuat anak itu semakin gelagapan.

“ Adduh .. iya Tante .. mm .. saya mau masukkan ke situ boleh ? “ Agus menjawab lirih sambil memandang pangkal paha istriku yang masih terbuka.

“ Nggak boleh Gus .. sekarang pakai celanamu tuh .. “ Jawabku cepat sambil aku raih celananya dan kulemparkan menutup penisnya.

“ Lain kali saja .. kalau kamu baik baik dan bisa jaga rahasia .. mungkin Tante kasih kamu masukin ke sana .. “ Hibur istriku sambil melepaskan genggamannya dan beranjak ke kamar mandi.

“ I .. iya Tante .. “ Jawabnya lesu .. dia bangun juga, tapi tidak segera memakai celananya .. matanya masih mengikuti istriku yang berjalan telanjang ke kamar mandi .. tapi kali ini Fang Fang menutup pintu kamar mandi rapat – rapat. Nampaknya dia tidak tega juga untuk terus menggoda anak itu.

“ Sudah Gus .. pulang dulu sana .. “ Suruhku sambil memandangnya, iba juga sih melihat muka lesunya itu. Aku tahu rasanya menahan nafsu yang tidak kesampaian begitu. Tapi .. ya anak itu juga harus belajar menahan diri .. dengan istri orang lagi.

“ Iya Om .. “ Usai memakai celananya Agus mengemasi buku – bukunya dan memasukkannya kedalam tas. “ mm .. minggu depan lagi ya Om ? .. “ Tanyanya sambil melihatku penuh harap.

“ Minggu depan kamu ke sini buat belajar computer .. “ Jawabku tegas “ Jangan mikir macam2 … yang penting jaga rahasia ya .. nanti kita lihat lagi “

“ Iya Om ..” Jawabnya pelan. Dia menunggu istriku keluar dari Kamar Mandi sebentar. Tapi setelah beberapa lama ditunggu dan ternyata malah terdengar suara air shower dihidupkan akhirnya anak itu pamit pulang.

PRAMUGARI di kamar ganti

Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota “S”, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita “Rahasiaku” kepada situs ini. Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam “Rahasiaku.”

Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju.

Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.

Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu.

“Hmm.. ia sudah datang,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah.

Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.

Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah.

Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.

Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.

Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,

“Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.”

Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya, “Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.”

Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga, “Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.”

Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.

Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian, “Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.”

Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya, “Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.”

Dan Vera pun menjawab, “Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.”

Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.

Aku pura-pura kaget, “Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” kataku.

Vera menjawab, “Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.”

Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,

“Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.”

Dan Vera menjawab, “Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.”

Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.

Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya.

Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksabaju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.

Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu.

Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.

Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera.

Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.

Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria.

Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.

Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari.

Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.

Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri.

Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.

Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.

Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.

Bercinta dengan adik ipar yg manja

“Masak apa Yen?” kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur. “Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda. “Mbak Ratri mana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku. “Dia lembur, nanti aku jemput lepas magrib,” jawabku. “Kamu nggak ke kampus?” aku balik bertanya. “Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.” “Aauww,” teriak Yeyen tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya. “Sini aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan.

Yeyen nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Yeyen nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya. “Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku. Aku pura-pura tak mendengar, dam masih terus mengusapi jarinya dengan tanganku. Aku kemudian membimbing dia untuk duduk di kursi meja makan, sambil tanganku tak melepaskan tangannya.

Sedangkan aku berdiri persis di sampingnya. “Udah nggak apa-apa kok Mas, Makasih ya,” katanya sambil menarik tangannya dari genggamanku. Kali ini ia berhasil melepaskannya. “Makanya jangan ngelamun dong. Kamu lagi inget Ma si Novan ya?” godaku sambil menepuk-nepuk lembut pundaknya. “Yee, nggak ada hubungannya, tau,” jawabnya cepat sambil mencubit punggung lenganku yang masih berada dipundaknya.

Kami memang akrab, karena umurku dengan dia hanya terpaut 4 tahun saja. Aku saat ini 27 tahun, istriku yang juga kakak dia 25 tahun, sedangkan adik iparku ini 23 tahun. “Mas boleh tanya nggak. Kalo cowok udah deket Ma temen cewek barunya, lupa nggak sih Ma pacarnya sendiri?” tanyanya tiba-tiba sambil menengadahkan mukanya ke arahku yang masih berdiri sejak tadi. Sambil tanganku tetap meminjat-mijat pelan pundaknya, aku hanya menjawab, “Tergantung.” “Tergantung apa Mas?” desaknya seperti penasaran.

“Tergantung, kalo si cowok ngerasa temen barunya itu lebih cantik dari pacarnya, ya bisa aja dia lupa Ma pacarnya,” jawabku sekenanya sambil terkekeh. “Kalo Mas sendiri gimana? Umpamanya gini, Mas punya temen cewek baru, trus tu cewek ternyata lebih cantik dari pacar Mas. Mas bisa lupa nggak Ma cewek Mas?” tanya dia. “Hehe,” aku hanya ketawa kecil aja mendengar pertanyaan itu. “Yee, malah ketawa sih,” katanya sedikit cemberut. “Ya bisa aja dong. Buktinya sekarang aku deket Ma kamu, aku lupa deh kalo aku udah punya istri,” jawabku lagi sambil tertawa. “Hah, awas lho ya. Ntar Yeyen bilangan lho Ma Mbak Ratri,” katanya sambil menahan tawa. “Gih bilangin aja, emang kamu lebih cantik dari Mbak kamu kok,” kataku terbahak, sambil tanganku mengelus-ngelus kepalanya. “Huu, Mas nih ditanya serius malah becanda.” “Lho, aku emang serius kok Yen,” kataku sedikit berpura-pura serius.

Kini belaian tanganku di rambutnya, sudah berubah sedikit menjadi semacam remasan-remasan gemas. Dia tiba-tiba berdiri. “Yeyen mo lanjutin masak lagi nih Mas. Makasih ya dah diobatin,” katanya. Aku hanya membiarkan saja dia pergi ke arah dapur kembali. Lama aku pandangi dia dari belakang, sungguh cantik dan sintal banget body dia. Begitu pikirku saat itu. Aku mendekati dia, kali ini berpura-pura ingin membantu dia. “Sini biar aku bantu,” kataku sambil meraih beberapa lembar tempe dari tangannya. Yeyen seolah tak mau dibantu, ia berusaha tak melepaskan tempe dari tangannya. “Udah ah, nggak usah Mas,” katanya sambil menarik tempe yang sudah aku pegang sebagian. Saat itu, tanpa kami sadari ternyata cukup lama tangan kami saling menggenggam.

Yeyen nampak ragu untuk menarik tangannya dari genggamanku. Aku melihat mata dia, dan tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan. Lama kami saling berpandangan. Perlahan mukaku kudekatkan ke muka dia. Dia seperti kaget dengan tingkahku kali ini, tetapi tak berusaha sedikit pun menghindar. Kuraih kepala dia, dan kutarik sedikit agar lebih mendekat ke mukaku. Hanya hitungan detik saja, kini bibiku sudah menyentuh bibirnya. “Maafin aku Yen,” bisiku sambil terus berusaha mengulum bibir adik iparku ini. Yeyen tak menjawab, tak juga memberi respon atas ciumanku itu. Kucoba terus melumati bibir tipisnya, tetapi ia belum memberikan respon juga.

Tanganku masih tetap memegang bagian belakang kepala dia, sambil kutekankan agar mukanya semakin rapat saja dengan mukaku. Sementara tangaku yang satu, kini mulai kulingkarkan ke pinggulnya dan kupeluk dia. “Sshh,” Yeyen seperti mulai terbuai dengan jilatan demi jilatan lidahku yang terus menyentuh dan menciumi bibirnya. Seperti tanpa ia sadari, kini tangan Yeyen pun sudah melingkar di pinggulku. Dan lumatanku pun sudah mulai direspon olehnya, walau masih ragu-ragu. “Sshh,” dia mendesah lagi. Mendengar itu, bibirku semakin ganas saja menjilati bibir Yeyen. Perlahan tapi pasti, kini dia pun mulai mengimbangi ciumanku itu.

Sementara tangaku dengan liar meremas-remas rambutnya, dan yang satunya mulai meremas-remas pantat sintal adik iparku itu. “Aahh, mass,” kembali dia mendesah. Mendengar desahan Yeyen, aku seperti semakin gila saja melumati dan sesekali menarik dan sesekali mengisap-isap lidahnya. Yeyen semakin terlihat mulai terangsang oleh ciumanku. Ia sesekali terlihat menggelinjang sambil sesekali juga terdengar mendesah. “Mas, udah ya Mas,” katanya sambil berusaha menarik wajahnya sedikit menjauh dari wajahku.

Aku menghentikan ciumanku. Kuraih kedua tangannya dan kubimbing untuk melingkarkannya di leherku. Yeyen tak menolak, dengan sangat ragu-ragu sekali ia melingkarkannya di leherku. “Yeyen takut Mas,” bisiknya tak jauh dari ditelingaku. “Takut kenapa, Yen?” kataku setengah berbisik. “Yeyen nggak mau nyakitin hati Mbak Ratri Mas,” katanya lebih pelan. Aku pandangi mata dia, ada keseriusan ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu. Tapi, sepertinya aku tak lagi memperdulikan apa yang dia takutkan itu. Kuraih dagunya, dan kudekatkan lagi bibirku ke bibirnya. Yeyen dengan masih menatapku tajam, tak berusaha berontak ketika bibir kami mulai bersentuhan kembali. Kucium kembali dia, dan dia pun perlahan-lahan mulai membalas ciumanku itu. Tanganku mulai meremas-remas kembali rambutnya.

Bahkan, kini semakin turun dan terus turun hingga berhenti persis di bagian pantatnya. Pantanya hanya terbalut celana pendek tipis saja saat aku mulai meremas-remasnya dengan nakal. “Aahh, Mas,” desahnya. Mendengar desahannya, tanganku semakin liar saja memainkan pantat adik iparku itu. Sementara tangaku yang satunya, masih berusaha mencari-cari payudaranya dari balik kaos oblongnya. Ah, akhirnya kudapati juga buah dadanya yang mulai mengeras itu. Dengan posisi kami berdiri seperti itu, batang penisku yang sudah menegang dari tadi ini, dengan mudah kugesek-gesekan persis di mulut vaginanya.

Kendati masih sama-sama terhalangi oleh celana kami masing-masing, tetapi Yeyen sepertinya dapat merasakan sekali tegangnya batang kemaluanku itu. “Aaooww Mas,” ia hanya berujar seperti itu ketika semakin kuliarkan gerakan penisku persis di bagian vaginanya. Tanganku kini sudah memegang bagian belakang celana pendeknya, dan perlahan-lahan mulai kuberanikan diri untuk mencoba merosotkannya. Yeyen sepertinya tak protes ketika celana yang ia kenakan semakin kulorotkan.

Otakku semakin ngeres saja ketika seluruh celananya sudah merosot semuanya di lantai. Ia berusaha menaikan salah satu kakinya untuk melepaskan lingkar celananya yang masih menempel di pergelangan kakinya. Sementara itu, kami masih terus berpagutan seperti tak mau melepaskan bibir kami masing-masing. Dengan posisi Yeyen sudah tak bercelana lagi, gerakan-gerakan tanganku di bagian pantatnya semakin kuliarkan saja.

Ia sesekali menggelinjang saat tanganku meremas-remasnya. Untuk mempercepat rangsangannya, aku raih salah satu tanganya untuk memegang batang zakarku kendati masih terhalang oleh celana jeansku. Perlahan tangannya terus kubimbing untuk membukakan kancing dan kemudian menurunkan resleting celanaku. Aku sedikit membantu untuk mempermudah gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian, tangannya mulai merosotkan celanaku. Dan oleh tanganku sendiri, kupercepat melepaskan celana yang kupakai, sekaligus celana dalamnya. Kini, masih dalam posisi berdiri, kami sudah tak lagi memakai celana. Hanya kemejaku yang menutupi bagian atas badanku, dan bagian atas tubuh Yeyen pun masih tertutupi oleh kaosnya. Kami memang tak membuka itu.

Tanganku kembali membimbing tangan Yeyen agar memegangi batang zakarku yang sudah menegang itu. Kini, dengan leluasa Yeyen mulai memainkan batang zakarku dan mulai mengocok-ngocoknya perlahan. Ada semacam tegangan tingi yang kurasakan saat ia mengocok dan sesekali meremas-remas biji pelerku itu. “Oohh,” tanpa sadar aku mengerang karena nikmatnya diremas-remas seperti itu. “Mas, udah Mas. Yeyen takut Mas,” katanya sambil sedikit merenggangkan genggamannya di batang kemaluanku yang sudah sangat menegang itu. “Aahh,” tapi tiba-tiba dia mengerang sejadinya saat salah satu jariku menyentuh klitorisnya.

Lubang vagina Yeyen sudah sangat basah saat itu. Aku seperti sudah kerasukan setan, dengan liar kukeluar-masukan salah satu jariku di lubang vaginanya. “Aaooww, mass, een, naakk..” katanya mulai meracau. Mendengar itu, birahiku semakin tak terkendali saja. Perlahan kuraih batang kemaluanku dari genggamannya, dan kuarahkan sedikit demi sedikit ke lubang kemaluan Yeyen yang sudah sangat basah. “Aaoww, aaouuww,” erangnya panjang saat kepala penisku kusentuh-sentukan persis di klitorisnya. “Please, jangan dimasukin Mas,” pinta Yeyen, saat aku mencoba mendorong batang zakarku ke vaginanya. “Nggak Papa Yen, sebentaar aja,” pintaku sedikit berbisik ditelinganya.

“Yeyen takut Mas,” katanya berbisik sambil tak sedikit pun ia berusaha menjauhkan vaginanya dari kepala kontolku yang sudah berada persis di mulut guanya. Tangan kiri Yeyen mulai meremas-remas pantatku, Sementara tangan kanannya seperti tak mau lepas dari batang kemaluanku itu. Untuk sekedar membuatnya sedikit tenang, aku sengaja tak langsung memasukan batang kemaluanku. Aku hanya meminta ia memegangi saja. “Pegang aja Yen,” kataku pelan.

Yeyen yang saat itu sebenarnya sudah terlihat bernafsu sekali, hanya mengangguk pelan sambil menatapku tajam. Remasan demi remasan jemari yeyen di batang zakarku, dan sesekali di buah zakarnya, membuatku kelojotan. “Aku udah gak tahan banget Yen,” bisikku pelan. “Yeyen takut banget Mas,” katanya sambil mengocok-ngocok lembut kemaluanku itu. “Aahh,” aku hanya menjawabnya dengan erangan karena nikmatnya dikocok-kocok oleh tangan lembut adik iparku itu. Kembali kami saling berciuman, sementara tangan kami sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat bersamaan dengan ciuman kami yang semakin memanas, aku mencoba kembali untuk mengarahkan kepala kontolku ke lubang vaginanya. Saat ini, Yeyen tak berontak lagi. Kutekan pantat dia agar semakin maju, dan saat bersamaan juga, tangan Yeyen yang sedang meremas-remas pantatku perlahan-lahan mulai mendorongnya maju pantatku. “Kita sambil duduk, sayang,” ajaku sambil membimbing dia ke kursi meja makan tadi. Aku mengambil posisi duduk sambil merapatkan kedua pahaku.

Sementara Yeyen kududukan di atas kedua pahaku dengan posisi pahanya mengangkang. Sambil kutarik agar dia benar-benar duduk di pahaku, tanganku kembali mengarahkan batang kemaluanku yang posisinya tegak berdiri itu agar pas dengan lubang vagina Yeyen. Ia sepertinya mengerti dengan maksudku, dengan lembut ia memegang batang kemaluanku sambil berupaya mengepaskan posisi lubang vaginanya dengan batang kemaluanku. Dan bless, perlahan-lahan batang kemaluanku menusuk lubang vagina Yeyen. “Aahh, aaooww, mass,” Yeyen mengerang sambil kelojotan badannya. Kutekan pinggulnya agar dia benar-benar menekan pantatnya. Dengan demikian, batang kontolku pun akan melesak semuanya masuk ke lubang vaginanya. “Yeenn,” kataku. “Aooww, ter, russ mass.., aahh..” pantatnya terus memutar seperti inul sedang ngebor. “Ohh, nik, nikmat banget mass..” katanya lagi sambil bibirnya melumati mukaku. Hampir seluruh bagian mukanku saat itu ia jilati. Untuk mengimbangi dia, aku pun menjilati dan mengisap-isap puting susunya.

Darahku semakin mendidih rasanya saat pantatnya terus memutar-mutar mengimbangi gerakan naik-turun pantatku. “Mass, Yee, Yeeyeen mau,” katanya terputus. Aku semakin kencang menaik-turunkan gerakan pantatku. “Aaooww mass, please mass” erangnya semakin tak karuan. “Yee, Yeyeen mauu, kee, kkeeluaarr mass,” ia semakin meracau. Namun tiba-tiba, “Krriingg..” “Aaooww, Mas ada yang datang Mas..” bisik Yeyen sambil tanpa hentinya mengoyang-goyangkan pantatnya. “Yenn,” suara seseorang memanggil dari luar. “Cepetan buka Yenn, aku kebelet nih,” suara itu lagi, yang tak lain adalah suara Ratri kakaknya sekaligus istriku. “Hah, Mbak Ratri Mas,” katanya terperanjat. Yeyen seperti tersambar petir, ia langsung pucat dan berdiri melompat meraih celana dalam dan celana pendeknya yang tercecer di lantai dapur.

Sementara aku tak lagi bisa berkata apa-apa, selain secepatnya meraih celana dan memakainya. Sementara itu suara bel dan teriakan istriku terus memanggil. “Yeenn, tolong dong cepet buka pintunya. Mbak pengen ke air nih,” teriak istriku dari luar sana. Yeyen yang terlihat panik sekali, buru-buru memakai kembali celananya, sambil berteriak, “Sebentarr, sebentar Mbak..” “Mas buruan dipake celananya,” Yeyen masih sempet menolehku dan mengingatkanku untuk secepatnya memakai celana.

Ia terus berlari ke arah pintu depan, setelah dipastikan semuanya beres, ia membuka pintu. Aku buru-buru berlari ke arah ruang televisi dan langsung merebahkan badan di karpet agar terlihat seolah-olah sedang ketiduran. “Gila,” pikirku. “Huu, lama banget sih buka pintunya? Orang dah kebelet kayak gini,” gerutu istriku kepada Yeyen sambil terus menyelong ke kamar mandi. “Iya sori, aku ketiduran Mbak,” kata Yeyen begitu istriku sudah keluar dari kamar mandi. “Haa, leganyaa,” katanya sambil meraih gelas dan meminum air yang disodorkan oleh adiknya. “Mas Jeje mana Yen?” “Tuh ketiduran dari tadi pulang ngantor di situ,” kata Yeyen sambil menunjuk aku yang sedang berpura-pura tidur di karpet depan televisi. “Ya ampun, Mas kok belum ganti baju sih?” kata istriku sambil mengoyang-goyangkan tubuhku dengan maksud membangunkan. “Pindah ke kamar gih Mas,” katanya lagi.

Aku berpura-pura ngucek-ngucek mata, agar kelihatan baru bangun beneran. Aku tak langsung masuk kamar, tapi menyolong ke dapur mengambil air minum. “Lho katanya pulang ntar abis magrib, kok baru jam setengah lima udah pulang? Kamu pulang pake apa?” tanyaku berbasa-basi pada istriku. “Nggak jadi rapatnya Mas. Pake taksi barusan,” jawab dia. “Lho, kamu lagi masak toh Yen? Kok belum kelar gini dah ditinggal tidur sih?” kata istriku kepada Yeyen setelah melihat irisan-irisan tempe berserakan di meja dapur. “Mana berantakan, lagi,” katanya lagi. “Iya tadi emang lagi mo masak.

Tapi nggak tahan ngantuk. Jadi kutinggal tidur aja deh,” Yeyen berusaha menjawab sewajarnya sambil senyum-senyum. Sore itu, tanpa mengganti pakaiannya dulu, akhirnya istrikulah yang melanjutkan masak. Yeyen membantu seperlunya. Sementara itu, aku hanya cengar-cengir sendiri saja sambil duduk di kursi yang baru saja kupakai berdua dengan Yeyen bersetubuh, walau belum sempat mencapai puncaknya. “Waduh, kasihan Yeyen. Dia hampir aja sampai klimaksnya padahal barusan, eh keburu datang nih mbaknya,” kataku sambil nyengir melihat mereka berdua yang lagi masak.

kenalan lama temen sms

Suatu siang aku jalan-jalan kepusat perbelanjaan buat refresing….ya..liat-liat cewek cantik.Begitu aku lagi liat kiri kanan..eee..tak taunya seseorang menubrukku .Wanita ini sepertinya habis belanja banyak dan tergesa-gesa hingga tak tahunya menubruk orang. Begitu bertabrakan…aku langsung membantu memberesi barang-barangnya yang berserakan.Tak lupa kuucapkan permintaan maafku padanya karena tak sengaja menabraknya….walau sebenarnya dialah yang harus minta maaf padaku.

“Maaf ..mbak…nggak sengaja nih…”kataku padanya.

“ya…nggak apa-apa lagi….oya..kamu Andy kan….”katanya padaku.

“iya..saya Andy….dan mbak siapa ya…kok tahu nama saya”

“kamu nggak ingat sama aku ya…teman SMA kamu…yang suka jahilin kamu….”katanya padaku.

“siapa ya….eeeee….maaf …Rani ya….SiBunga SMA “

“Tepat sekali ….tapi tadi kok kamu manggilin aku mbak seh…”

“Maaf deh….abis aku nggak tau siapa kamu..”

“kenapa..lupa ya sama aku….atau emang udah dilupain ya…”

“ya..gimana ya..kamu cantik banget ..beda dengan yang dulu..”kataku sedikit memujinya.

“ak kamu ….biasa aja kok…”katanya sambil tersipu malu.

“oh ya….kita kekafe yuk..buat ngerayain pertemuan kita ini…”

“ok deh…tapi kamu yang traktir aku ya…abis aku lagi bokek nih”kataku padanya

“ya..nggak masalah lagi….”

Aku dan rani pergi kekafe langgananya Rani.Sampai disana ..kami memilih meja yang paling pojok.Suasana didalam kafe ini sangat sejuk dan nyaman…membuat orang yang berada didalamnya betah untuk duduk berlama-lama.

“Gimana kabar kamu sekarang andy…..udah berkeluarga ya…”tanya rani padaku.

“aku seh baik-baik aja….masih sendiri lagi….masih kepengen bebas”

“kalau kamu gimana….udah bekeluarga ya….”tanyaku padanya.

“aku udah married….udah 3 tahun”

“asyik dunk….trus suami kamu mana…kok pergi sendirian ….nggak takut digodain sama lelaki iseng”

“ah kamu..biasa aja lagi….laki aku lagi keLN…urusan bisnis katanya”

eh…ayo makan..kok didiamin aja nih”

kamipun akhirnya menyantap hidangan yang telah tersedia.Habis makan,kami jalan-jalan dan pulang kerumah masing-masing

Beberapa hari kemudian….Rani mengirim SMS keHP ku….isinya mengajak aku untuk main kerumahnya.SMSnya kubalas….dan aku tanyakan dimana alamat rumahnya..Beberapa menit kemudian…Rani membalas SMSku dan menyebutkan alamat rumahnya.

Aku berangkat kerumah Rani…sibunga SMA.Tak lama kemudian ..aku sampai didepan rumah mewah.Kubaca kembali alamat yang diberikan oleh Rani dan kucocokkan dengan nomor rumah yang tertera didepan pintu…pass..memang benar ini rumahnya.Kutekan bel yang ada didepanku.Beberapa saat kemudian …pintu pagar terbuka dengan sendirinya.Aku masuk, pintu pagarpun ikut tertutup dengan sendirinya.Aku berjakan menuju teras depan dan Rani telah menungguku disana.

“Hii..gimana kabar kamu sekarang….”sapanya padaku.

“Baik saja nih….kamu gimana…kok sepi amat seh…pada kemana nih”

“iya nih…nggak ada siapa-siapa nih dirumah…jadi kesepian..makanya aku undang kamu kesini ..buat nemenin aku…”

“nggak salah nih..ntar suami kamu marah lagi”

“ah..nggak apa-apa lagi…. dia lagi diLN sekarang nih…”

“yuk ..masuk….kita ngobrol didalam aja deh”

Kamipun masuk kedalam rumahnya Rani.Wah….benar-benar mewah nih rumah..semua perabotannya sangat mengagumkan.

“mari..silahkan duduk….jangan malu -malu..anggap saja seperti rumah sendiri”

“Thank’s….”dan akupun duduk

“oya..mau minum apa nih….panas..dingin atau yang hangat..”kata siNyonya rumah.

“jadi bingung nih ..milihnya …”kataku padanya.

“ya…kalau yang panas…teh sama kopi…trus kalau mau yang dingin..ada soft drink..”balas si Rani

“trus kalau aku milih yang hangat gimana”tanyaku lagi.

“ya…ada deh…”kata rani sedikit genit.

“ok deh…kalau gitu..aku minta yang hangat aja deh”kataku coba menggodanya.

“ah..kamu ini bisa aja….ntar kalau aku kasih kamu nggak susah nanti”

“ya..tergantung yang ngasih dunk…”

Rani bangkit dari duduknya ….”bentar ya …aku kebelakang dulu”

Ia pergi meninggalkanku diruang tamu yang mewah itu.Rani kembali lagi keruang tamu dengan membawa dua gelas jus orange .Dia meletakkannya datas meja.

“Lho..tadi katanya yang hangat..kok yang itu seh”kataku padanya.

“yang hangat ntar….so pasti aku kasih deh”

Akupun duduk kembali.

“Ran…rumah kamu bagus banget deh….semuanya kamu punya…so pasti kamu bahagia dong dengan suami kamu….”

“ah ..siapa bilang..dari luarnya saja aku keliatan bahagia”katanya mulai serius

“memang semuanya aku punya ..tapi khan itu nggak menjamin aku bahagia”

“bayangin aja deh ..dalam satu bulan ..palingan suamiku 3 hari ada dirumah”

“selebihnya ..ya kesana kemari ..ngurusin bisnis keluarganya yang segudang itu…jadi kamu bisa bayangin deh..betapa aku sangat kesepian..”

Rani mulai menceritakan semua keluhan yang ada dalam dirinya.Kucoba memahami setiap jalan ceritanya sambil sesekali mataku nakal melirik bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan sekali.Saat itu,Rani mengenakan kaos yang cukup ketat sekali sehingga mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sangat indah itu.Dibalik kaos ketat lengan pendek itu …sepertinya Rani tak mengenakan Bra…itu terlihat dari tonjolan kecil dipuncak dadanya yang padat dan berisi .Perlahan terasa sesuatu bergerak nakal dari balik celana yang kukenakan.

Rani bangkit dari duduknya dan pindah disampingku.Tercium bau harum parfumnya yang sangat mengundang gairah.

“Dy..aku kangen banget deh sama kamu….”katanya padaku

“oya…”kataku padanya.

“iya nih….apalagi sama…….”katanya terputus.

“sama apa seh Ran…..”

“sama…..sama ini nih….”katanya sambil meletakkan tangannya diatas gundukan batang kejantananku.

Kontan saja aku terkejut mendengar penuturannya yang begitu spontan.walau sebenarnya aku juga menginginkannya.

Karena tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku,Rani tak memindahkan tangannya dari atas selangkanganku..malah sebaliknya dia

mengelus pelan batang kejantananku yang masih tersembunyi dibalik celana panjang yang kukenakan.

Perlahan ..mukaku dan muka Rani makin mendekat.Rani memejamkan matanya sambil merekahkan bibirnya padaku.Kukecup bibirnya yang merah itu.Mulutku bermain dimulutnya yang mungil dan seksi .Sesekali lidahku berpilin dengan lidahnya .Rani sangat bergairah sekali menyambut ciuman bibirku dibibirnya.

Sementara itu tanganku tak tinggal diam.Kucoba meraba dua bukit kembar yang tumbuh didadanya. Begitu hangat ,padat dan berisi Terasa sangat halus sekali kulit dadanya Rani.Dua puncak dadanya yang mulai mengeras tak luput dari remasan tanganku.Dan tangan Rani semakin liar begerilya diatas gundukan batang kejantananku yang mulai mengeras.

Rani beranjak dari tempat duduknya .Perlahan ia mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya.Hingga akhirnya tak sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya.Kuperhatikan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.Begitu sangat sempurna sekali.Dua gundukan bulat menggantung didadanya .ditambah dengan bukit kecil yang ditumbuhi bulu hitam yang lebat menandakan kalau Rani type wanita haus seks.

Rani kembali duduk bersimpuh dihadapanku.Kali ini ia mulai membuka celana panjang yang masih kukenakan.Begitu celanaku terbuka ..nongollah batang kejantananku yang mulai mengeras dibalik celana dalamku.Namun tak berselang lama celana dalamkupun telah terbuka dan tinggallah penisku yang tegak bak torpedo yang siap meluncur.

Tangannya yang halus itu mulai membelai batang kejantananku.Lama kelamaan ukurannya makin membesar .Rani mulai menjilat ujung kepala penisku .Mulutnya yang mungil itu menjiltai permukaan kulit batang kejantananku hingga sampai kedua buah biji pelerku.Beberapa saat lamanya Rani menikmati batang kejantananku dengam ciuman-ciuman yang sangat menggetarkan persendianku.Sementara kedua tanganku meremasi kepalanya .Hingga sesuatu terasa berdenyut dibatang kejantananku Sesuatu yang ingin muncrat dari ujung kepala penisku.Aku semakin kuat menjambak rambutnya Rani dan menekannya kedalam hingga ujung kepala penisku menyentuh ujung tenggorokannya.

“Akhhh..Ran..aku mau keluar nih”erangku padanya

Beberapa detik kemudian spermaku tumpah didalam mulutnya Rani.Tanpa merasa jijik sedikitpun Rani menelan setiap tetes spermaku.Dan sambil tersenyum ..Rani menjilati sisa- sisa sperma yang masih tersisa dibatang kemaluanku.

Beberapa saat kamipun istirahat setelah aku mencapai orgasme yang pertama. .Kemudian aku berdiri dan mengangkat tubuh montok Rani dan merebahkannya diatas sofa yang empuk .Kini tiba saatnya bagiku untuk memulai babak permainan berikutnya.Aku membuka kedua kaki Rani lebar-lebar.Kudekatkan wajahku kepermukaan perutnya yang datar.Dengan penuh nafsu ..aku menjilati setiap permuakaan kulit perutnya yang halus itu.Rani menggelinjang hebat merasakan jilatan bibirku dipermukaan kulit perutnya yang ramping.

Rani merasakan dirinya seolah terbang kesorga kenikmatan saat ujung-ujung lidahku mengelitik organ-organ sensitifnya.Ia melupakan sejenak bayangan suaminya yang saat ini sedang berada diluar negri.Baginya ,kenikmatan yang kuberikan padanya tak ada bandingnya dengan limpahan materi yang diberikan oleh suaminya.Desahan…erangan dan jeritan Rani makin menbuatku bersemangat menusuk-nusuk permukaan Vaginanya dengan ujung lidahku.

“Sayang….cepet dunk masukin punyamu kememek aku….udah nggak kuat nih”rengeknya padaku.

Akupun memenuhi permintaan Rani yang sudah tidak tahan menunggu batang kejantananku yang tegang dan mengeras untuk masuk kedalam vaginanya Rani.

Aku memegang batang kejantananku dan mengocoknya sebentar kemudian mengarahkannya kelubang vagina Rani.

Aku mulai maju mendorong pantatnya Rani.Beberapa kali kucoba selalu meleset.Mungkin karena ukuran senjataku yang cukup besar hingga sulit untuk menembus lubang vaginanya yang rapet.Namun setelah beberapa kali mencoba,akhirnya batang kejantananku masuk menembus lubang memeknya Rani.Tanpa membuang waktu lagi,kugerakkan pantatku maju mundur menusuk memeknya Rani.Dengan penuh nafsu,Rani menikmati gerakan Penisku yang maju mundur menusuk vaginanya.Desiran dan desahan beriringan keluar dari mulutnya yang mungil itu.Rani mengimbangi gerakanku dengan memaju mundurkan pantatnya yang bahenol itu.

Sekitar tiga pulu menit berlalu,Rani merasakan akan mencapai klimaks.Rani mengangkat pantatnya dan menggelinjang hebat.Wajahnya berubah ganas,matanya mendelik saat puncak kenikmatan itu datang.Aku tahu kalau Rani akan mencapai klimaknya.Kupercepat gerakan pantatku menusuk vaginanya sampai akirnya puncak kenikmatanna datang.Rani mendekap erat tubuhku,Vaginanya berkedut-kedut menjepit batang kejantananku.Cairan hangat dan kental merembesi dinding vaginanya.Orgasme yang beruntun telah dialami Rani sibunga SMA.
Untuk beberapa saat ..kubiarkan Rani menikmati sisa -sisa orgasmenya ,sebelum kami melanjutkan permainan yang berikutnya.Perlahan Rani bangkit dari tidurnya dan duduk diatas sofa empuk itu.Akupun duduk disampingnya .Tanganku singgah digundukan vagina yang ditumbuhi rambut halus itu.Kubelai perlahan untuk membangkitkan kembali gairah wanita cantik yang ada disampingku ini.Perlahan terdengar desahan lembut dari mulut Rani.Sementara itu mulutku tak lepas dari dua puncak mungil didadanya.

Merasa sudah tepat saatnya bagiku untuk menuntaskan permainan ini…kuangkat Rani dan kududukkan ia diatas pahaku.Posisinya kini tepat berada diatas pangkuanku,sehingga dua buah dadanya yang padat membusung tepat berada didepan mulutku.Kugosok-gosok ujung penisku kemulut vaginanya.Kutekan ujung penisku hingga amblas masuk kedalam Vaginanya.Kudiamkan perlahan,kunikmati beberapa saat kontolku bersarang dalam memeknya Rani.

Perlahan kugerakkan pantatku naik turun menusuk lubang kemaluannya Rani.Gerakanku makin lama semakin cepat membuat tubuh Rani bergoyang-goyang diatas pangkuanku.Terdengar erangan kenikmatan dari mulut rani.Beberapa kali ia harus memekik kecil tak kala penisku yang makin membesar menyentuh ujung rahimnya.Sementara dua buah gundukan didadanya bergoyang -goyang tak karuan .Kedua tanganku meraih dua gundukan itu dan meremasnya perlahan.

Beberapa menit kemudian terasa sesuatu menyesak dalam batang kejantananku.Mungkin tiba saatmya bagiku untuk orgasme.Dengan diiringi desahan panjang secara bersamaan…aku dan Rani mencapai orgasme. Kusemprotkan spermaku yang hangat didalan vagina Rani.Beberapa saat kemudian Ranipun menyusul.Cairan hangat merembesi dinding Vaginanya yang hangat itu.Aku memcabut batang kejantananku dari dalam vaginanya Rani.

Dengan cepat Rani jongkok diselangkanagnku dan menjilat sisa-sisa sperma yang masih menempel dipenisku.

Sesaat kemudian Rani tersenyum padaku.Senyum penuh kepuasam …yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya tersayang.Aku bangkit dan mengenakan kembali pakaianku.Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan jam sepuluh malam.Akupun pamit pada Rani.

Namun sebelum aku pergi meninggalkam rumah Rani…ia memberikan sesuatu buatku sebagai hadiah.Sebuah Handphone terbaru dan motor besar .Semula aku menolak pemberiannya …namun ia berharap sekali aku menerima pemberiannya itu.Demi menghibur hatinya Rani..kuterima hadiah yang bagiku cukup besar sekali.Kupergi meninggalkan Rani dengan membawa Handphone dan sebuah motor besar.Hadiah yang mungkin lebih kecil jika dibandingkan dengan kenikmatan seks yang kudapatkan hari ini….dan bahkan akan kudapatkan hari-hari berikutnya bersama wanita cantik yang pernah menjadi Bunga SMA.