Latest

Yanti, Sang Wanita Karier

Perkenalkan namaku Yanti. Aku seorang wanita karier berumur 35 tahun, bersuamikan pria yang sebelas tahun lebih tua. Pekerjaanku adalah Marketing Manager di sebuah perusahaan swasta yang menangani para Sales Promotion Girls, sedangkan suamiku adalah seorang Distric Manager Farmasi.

Di usia perkawinan yang sudah menginjak 14 tahun ini, kami dikaruniai dua orang anak yang manis-manis. Dea putri kami sekarang sudah berumur 12 tahun dan adiknya Rio baru 8 tahun. Walaupun sudah beranak 2 namun aku selalu menjaga kebugaran tubuh dengan mengikuti fitnes seminggu dua kali agar badan ini selalu terlihat langsing. Tidak hanya itu, aku selalu rutin minum jamu dan merawat tubuh, sehingga badan jadi sehat dan payudara 36-B masih kencang menantang. Kehidupan perkawinan kami berjalan wajar sebagaimana pasangan suami istri yang lain. Dengan materi yang cukup, kebahagiaan keluarga kami selalu terjaga.

Selain kami sekeluarga, di rumah ini tinggal seorang pembantu rumah tangga Mbok Nah namanya dan seorang anak laki-lakinya yang seumur dengan anak pertamaku, Harso adalah nama anak Mbok Nah. Mbok Nah adalah seorang janda muda dari Solo umurnya sekitar 30 tahunan, dia diceraikan suaminya sejak mengandung si Harso karena sang suami tidak mau mengakui bahwa anak yang dikandung Mbok Nah adalah anaknya. Itu beralasan karena Mbok Nah termasuk gadis desa yang ‘nakal’ pada waktu itu.

Karena terlalu mementingkan pekerjaan, setelah suami aku diangkat menjadi Distric Manager kehidupan sex kami mulai menurun. Hal ini dikarenakan seminggu dua kali kadang-kadang seminggu penuh suami aku harus ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Oleh karena itulah frekuensi hubungan sex kami hanya dapat kami lakukan jika suami ada di rumah dan tidak dalam keadaan lelah. Hal ini sangat mengganggu aku, karena libido aku terbilang cukup besar. Hubungan sex yang hanya dua kali dalam satu bulan membuat batin aku tersiksa. Hanya dengan masturbasi tuntutan batinku dapat tercurahkan.

Sering kali libodoku tiba-tiba muncul, entah di rumah, kantor, malah kadang-kadang di atas mobil. Jika sudah begitu hanya masturbasilah jalan keluar yang terbaik buatku untuk melepaskan hasrat.

Aku adalah tipe wanita yang setia, demikian juga suamiku. Jadi untuk melakukan selingkuh atau berhubungan sex dengan laki-laki lain menjadi pemikiranku yang ke-100. Banyak sih sebenarnya kesempatan yang datang ketika libidoku naik hingga hasrat untuk berhubungan sex menjadi suatu tuntutan batin, tetapi untuk melakukannya dengan laki-laki selain suamiku membuat aku harus berpikir 1.000 kali. Kalau hanya untuk membayar gigolo-gigolo muda rasanya kemampuan financialku lebih dari cukup, hanya saja aku selalu berpikir bahwa penis mereka telah keluar masuk dalam vagina banyak wanita hingga rasa jijik selalu mengusik. Sedangkan rekan-rekan kerja banyak juga yang sering menggoda, baik dengan gurauan maupun serius, tetapi itu semua tidak aku tanggapi.

Hingga suatu saat, aku mengalami suatu peristiwa yang luar biasa dan baru sekali dalam hidup ini. Persitiwa itu adalah melihat secara langsung sepasang pria dan wanita melakukan hubungan sexual. Ini terjadi di kantorku sendiri.

Siang itu ketika aku ingin buang air di kamar mandi kantor, tidak kukira jika kamar mandi sebelah sedang berlangsung ‘permainan panas’ antara dua insan manusia.

Dari balik kamar mandi yang sedang aku pakai hanya terdengar desahan nafas dan sesekali lenguhan. Aku tahu persis bahwa desahan dan lenguhan itu adalah akibat dari hubungan sex yang sedang dilakukan di kamar mandi sebelah. Dengan penuh penasaran aku segera menyelesaikan acara buang hajat dan mencoba mengintip dari lubang kunci.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku melihat Wati sedang berhubungan badan dengan seorang cleaning service kami. Wati berdiri dengan posisi menungging dan tangan bersandar pada bak mandi, sedangkan Tono si cleaning service menusuk-tusukan penisnya dari arah belakang dan tangannya berpegang pada pantat si Wati. Mereka tidak bertelanjang bulat, Wati hanya menyingkapkan rok mininya dan menurunkan celana dalam sebatas lutut, sedang celana Tono terlihat melorot sampai paha. Tampaknya kedua insan ini benar-benar menikmati hubungan sex mereka. Dengan mata terpejam terlihat Wati betul-betul menikmatinya, demikian pula Tono.

Jantung berdegub dengan kencang, keringat dingin membasahi tubuh, nafaspun jadi tak beraturan, tak terasa aku jadi terangsang. Celana dalamku mulai basah oleh cairan vagina, payudara dan putingnya mulai mengeras. Karena takut ketahuan, aku segera mengakhiri acara mengintip ini. Bergegas kembali masuk ke ruang kerja. Pikiran ini masih saja membayangkan peristiwa di kamar mandi itu. Hal ini membuat aku tidak dapat berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaan.

Tidak berapa lama tampak Wati berjalan melewati ruang kerjaku. Dengan wajah berbinar dan senyum manis tampak menghiasi wajahnya. Jelas sekali kebahagiaan tampak dari raut wajahnya. Beberapa menit kemudian, gantian Tono melintas. Berbeda dengan Wati, kali ini Tono tampak bergegas dengan wajah tertunduk.

Setiba di rumah sekitar pukul 19.30, aku menyadari bahwa suamiku sedang bertugas ke luar kota, anak-anak sudah berada di kamar masing-masing.

Setelah mandi badan ini segar kembali. Dengan bermalas-malasan aku membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Ketika mata mulai terpejam, bayangan peristiwa di kantor kembali mengusik. Hebatnya persetubuhan antara Wati dan Tono kembali membuat aku terangsang. Perlahan jari-jemari mulai mengelus lebut permukaan kemaluan yang masih tertutup celana dalam. Rasa nikmat mulai merambat ke seluruh tubuh. Sekarang giliran tangan kiriku meremas payudara dan sesekali memilin putingnya. Terasa cairan vagina mulai membasahi celana dalam. Jari-jemari semakin aktif menggosok dan dengan perlahan aku mulai melepaskan celana dalam dan membuka paha lebar-lebar.

Kini dengan bebas jari-jariku menelusuri clitoris. Gosokan pada clitoris membuat sensasi yang luar biasa. Seperti terkena aliran listrik ribuan volt, badan ini serasa melayang. Desahan nafas tidak dapat aku kontrol lagi. Dengan mata terpejam aku nikmati sensasi luar biasa ini. Tak hanya itu, sekarang jari tengah mulai ke masukkan ke dalam liang vagina. Dengan sedikit kulengkungkan ke atas, jari tengah kuarahkan pada g-spot. Perlu sedikit aku jelaskan bahwa g-spot (titik rangsang) pada wanita terletak antara clitoris dan liang vagina bagian atas. Kali ini sensasi rangsangannya melebihi jika kita menggosok clitoris. Dasyat sekali……….

Dengan mengeksploitasi g-spot, seorang wanita tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai orgasmenya. Hanya butuh beberapa menit saja …… hal inilah yang sering tidak dilakukan oleh seorang pria terhadap pasangannya atau seorang wanita yang tidak mau / tidak tahu tentang g-spot-nya.

Demikian pula aku yang dengan semangatnya menggoso-gosokkan jari tengah pada g-spot. Aku mulai merasakan bahwa orgasme sudah berada di ambang pintu…

“Aaaghhh…..” badanku mengejang, melayang jauh ke atas dan tiba-tiba jatuh dari ketinggian…. nikmat sekali.

Badan aku lemas seperti tidak bertulang, nafas ngos-ngosan dan jantung berdebar kencang. Dengan mata terpejam aku nikmati sisa-sisa orgasme.

Setelah co***ng down, mata terasa mengantuk dan akupun tertidur dengan pulasnya.

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia, setelah semalam melampiaskan nafsu yang membelenggu.

Tampak Mbok Nah tengah sibuk di dapur dan setelah itu merawat anak bungsuku. Dea dan Harso sudah berangkat sekolah, kini tinggal aku, Rio dan Mbok Nah.

Setelah mandi dan berdandan rapi, aku siap pergi ke kantor. Dengan mengendarai mobil, aku tempuh perjalanan 30 menit dari rumah ke kantor. Kembali aku harus memasuki dunia kerja yang penuh rutinitas, kesibukkan membuat aku sering lupa waktu.

Sore ini ketika kantor selesai, aku melihat Wati sedang duduk sendirian di ruang kerjanya. Perasaan penasaran kembali menghayuti pikiran. Segera aku masuk ke ruang kerjanya.

“Hai…..” sapaku, “ Tumben tidak segera pulang…?”
“Hai Yan….” balasnya, “iya nih…lagi males aja…”
“Kok sama Wat… aku juga males”
“Duduk di sini aja Yan…. kita ngobrol-ngobrol sebentar” kata Wati sambil menarik kursi mempersilahkan aku untuk duduk.
Setelah aku menutup pintu, aku segera duduk berhadapan dengan Wati. Kami mulai ngobrol tentang banyak hal, terkadang obrolan kami dibumbui gosip-gosip.

Tak terasa obrolan kami mulai menyinggung tentang sex. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, mumpung temanya lagi hot.
“Wat…. sebelumya maafin aku ya….”
“Hei… ngapain sih… kelihatanya serius amat…”
“Nggak…. kemarin tanpa sengaja aku mendengar sepasang manusia sedang bercinta di kamar mandi…. aku penasaran…… dan ketika ku intip ternyata kamu dan si Tono lagi begituan….”
Wajah Wati berubah memerah dan tertunduk….
“Sekali lagi sorry Wat…..”

“Nggak apa-apa Yan…. tapi kamu jangan sebarin ke orang lain ya…?” pintanya memelas.
“Pasti…. aku janji…. kamu adalah sahabatku bahkan sudah seperti saudara sendiri… mana mungkin aku sebarkan peristiwa itu pada orang lain….” jawabanku menenangkan hati Wati, “Kalian sering ya ngesex di kamar mandi…?”

“Itulah Yan…. aku ini punya libido yang besar… nafsu ini dapat bangkit tiba-tiba….. untungnya di kantor ini ada si Tono…. jadi kalau tiba-tiba bernafsu ketika di kantor, aku ajakin Tono ke kamar mandi….. aku hanya sekedar melepaskan hasrat…. aku nggak bisa nahan kalau hasrat itu datang…..” jelas Wati panjang lebar.
“Itu berarti kamu sama dengan aku Wat…. aku juga berlibido besar, sering tiba-tiba pingin banget ngesex, tetapi untuk melakukan hubungan sex dengan lelaki lain aku nggak berani….” jelas ku.
“Terus…. kalau lagi ‘pingin’ ……”
“Aku melakukan masturbasi….. yang penting hasrat ini terlampiaskan….. bukannya munafik Wat… sebenarnya ada rasa ingin mencoba tapi nggak berani….”

“Bukannya berani atau nggak berani Yan… tetapi kesempatan dan siapa yang mau diajak…. itulah point utamanya…..” dengan bersemangat Wati menjelaskan, “Aku dulu juga seperti itu Yan…. tapi setelah ada kesempatan dan Tono kebetulan menjadi pilihan…. terjadilah peristiwa di kamar mandi seperti apa yang kau lihat…”
“Kok bisa sih….”

Wati mulai bercerita awal mula ngesex dengan Tono. Dan hanya dengan Tono si cleaning service, tidak ada yang lain.

Peristiwa itu bermula ketika tiba-tiba hasrat sexual Wati muncul. Seperti biasanya dia langsung menuju ke kamar mandi kantor untuk ‘swalayan’….. karena desakan nafsu yang sudah di ubun-ubun, Wati kelupaan mengunci pintu kamar mandi. Dan Tono si cleaning service baru bekerja beberapa hari itu tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Mereka berdua sama-sama terkejut, sama-sama malu…..

Diusia menjelang 20 tahun, Tono adalah pemuda yang gampang banget terangsang…. hanya dengan melihat foto wanita mengenakan bikini saja sudah dapat membangkitkan nafsunya. Demikian halnya dengan ketidaksengajaannya membuka pintu kamar mandi dan mendapati Wati sedang melakukan masturbasi. Walaupun hanya sekilas Tono melihat kemaluan Wati, penisnya langsung ereksi hebat……

Peristiwa itu berlalu begitu saja, hingga suatu saat secara tidak sengaja mereka berdua kembali bertemu di lorong kamar mandi kantor.
“Maaf bu…. kemarin Tono membuka pintu tanpa mengetuk…”
“Ngggaakkkk… mmasalah Ton…. aku yang salah….” kata Wati terbata.
Mereka berdua menunduk malu, dan pembicaraan terhenti…
“Maaf, Ibu Wati mau ke kamar mandi… silahkan bu….” Tono memiringkan badan memberi jalan kepada Wati. Watipun berjalan melewati Tono dan masuk ke kamar mandi, bau harum parfum Wati langsung tercium oleh Tono…. tak dapat dipungkiri Tono kembali teringat peristiwa kemarin, dan itu mengakibatkan nafsunya bangkit. Penis Tono ereksi….
Tono hanya berdiri dan diam, matanya terpejam membayangkan kemaluan Wati yang sekilas dilihatnya kemarin, penisnya semakin keras. Tanpa disadarinya, Wati sudah keluar dari kamar mandi. Pandangan Wati langsung tertuju pada tonjolan celana Tono. Demikian besarkah penis si Tono, pikir Wati ketika ia lebih memperhatikan tonjolan penis di balik celana Tono. Mau tak mau libido Wati-pun bangkit.
Mereka berdua terhanyut pada imajinasi masing-masing. Dan ketika tersadar, dengan reflek tangan Tono menutupi tonjolan penisnya, demikian juga Wati segera memalingkan wajahnya.
“Maaf bu…..” ujar Tono
“Aku yang minta maaf Ton…” ujar Wati pula.
“Sekali lagi maaf bu… Tono tidak bisa menahan nafsu…. Tono bayangin ibu Wati….” kata Tono lugu dan polos.
“Pantes… penis-mu …..” Wati memberanikan diri.
“Iya…. sering seperti ini bu….” kata Tono lagi
“Kalau sudah begitu terus ngapain…” pancing Wati
“Paling-paling di’puasin’ sendiri… seperti yang ibu Wati lakukan kemarin…..”
“Berarti kamu dan aku sama Ton…. hanya dengan melihat tonjolan penis di balik celanamu akupun jadi terangsang….” kata Wati sambil meraba sela pahanya yang masih tertutup rok mini, “Aku rasakan celana dalam-ku mulai basah Ton….”
“Ibu mau masturbasi…. silahkan lho bu…. biar Tono onani di kamar mandi sebelah….”
Dengan penuh keberanian, Wati mengajak Tono untuk bergabung bersamanya dalam satu kamar mandi. Mula-mula Tono menolak, dia takut karena Wati adalah staff kantor yang dihormatinya dan Tono-pun takut jika ketahuan orang lain…..
Karena nafsu sudah menguasai diri, dan merasa ia berstrata lebih tinggi di kantor ini dibanding Tono, Wati segera mendekati Tono. Dengan segera Wati merapatkan tubuhnya pada tubuh Tono. Payudaranya terhimpit dada bidang si cleaning service, sejurus kemudian tangan Wati meremas tonjolan penis dibalik celana Tono. Diraihnya tangan Tono dan dituntunnya ke arah payudara. Dengan wajah pucat dan rasa ketakutan Tono hanya bisa terdiam, tetapi rangsangan pada penis-nya mengakibatkan sensasi nikmat yang luar biasa. Akhirnya iapun terhayut irama permainan yang disodorkan Wati. Tangan Tono sekarang sudah mulai berani meremas payudara Wati. Tak hanya itu, tangan itu mulai berani menyusup dibalik pakaian kerja Wati dan menemukan bongkahan lembut yang masih tertutup BH. Dengan perlahan tapi pasti, kini tangan Tono dapat melewati BH dan menemukan payudara dengan puting yang mulai mengeras. Sekarang Tono tidak perlu berkhayal lagi, seperti ketika ia melihat foto-foto artis Indonesia yang berbikini. Remasan dan pilinan tangan Tono pada payudara, membuat Wati semakin terangsang. Dipejamkan matanya, Wati menikmati rangsangan pada payudaranya. Demikian juga Tono, rangsangan pada penis-nya membuat ia kelimpungan menahan gejolak.

Keadaan lorong kamar mandi yang sepi, membuat aktivitas mereka terus meningkat. Wati, ia yang pertama sadar bahwa mereka masing berada di lorong. Segera ditariknya tangan Tono dan diajaknya si cleaning service lugu ini masuk ke dalam kamar mandi. Dikuncinya pintu, disandarkannya Tono ke dinding kamar mandi dan segera tangan Wati melepas gesper dan membuka restluiting celana Tono. Dengan sedikit tenaga celana itu sudah turun sebatas paha. Sekarang terlihat oleh Wati, penis yang ereksi terbungkus celana dalam. Ujung penis tampak keluar dari batas celana dalam. Tanpa membuang waktu diturunkannya celana dalam itu, kini dengan jelas tampaklah penis Tono yang ereksi penuh. Inilah penis laki-laki lain yang pertama kali dilihat dan dipegang olehnya selain milik suaminya. Dengan posisi berdiri di samping Tono, Wati mulai melakukan aktivitasnya.

Dikocoknya penis Tono dengan lembut, dengan gerakan naik turun yang ritmis. Lewat genggaman tangannya Wati dapat membandingkan besarnya kemaluan Tono dibandingkan dengan milik suaminya. Wati merasakan perbedaan yang mencolok, baik dari segi ukuran maupun kekerasannya. Penis Tono benar-benar luar biasa, maklum anak muda yang masih perjaka, yang belum tersentuh oleh wanita. Beruntunglah aku, pikir Wati.

Irama kocokan tangan Wati semakin meningkat tatkala ia mulai merasakan deyutan-denyutan pada penis Tono. Karena Wati sudah berpengalaman dengan suaminya, ia dapat memastikan bahwa sebentar lagi orgasme Tono akan segera tiba. Benar saja… tak berapa lama ejakulasi hebat terjadilah. Sperma Tono menNahprot keluar dari ujung penisnya, beberapa kali semprotan memancar jauh hingga membasahi dinding. Terlihat sperma yang berwana putih dan kental, menandakan kualitas sperma yang bagus dan tentunya tidak sering ejakulasi, baik dengan berhubungan sex maupun ejakulasi dengan onani ataupun petting.
Kini lemaslah tubuh Tono si cleaning service, dengan senyuman sebagai tanda kepuasannya.
“Terima kasih bu Wati…. ejakulasi yang hebat….” kata Tono dengan lugunya.
“Sekarang gantian ya…… aku juga pingin, Ton…” bisik Wati

Tanpa menunggu waktu, Wati segera mengangkat rok mininya dan melepaskan celana dalam G-string-nya. Tampaklah gundukan kemaluan ditumbuhi rambut yang terawat rapi. Memang Wati sering mencukur rambut kemaluannya dengan rapi untuk memperindah bentuk kemaluannya. Dengan segera pula ditariknya tangan Tono. Diarahkannya pada kemaluan yang sudah basah itu. Karena keluguannya, tangan Tono hanya terdiam di permukaan, dengan sabar Wati mulai menuntun tangan Tono untuk menggosok-gosokkan jarinya pada clitoris. Tono-pun melakukannya, kini Wati mulai merasakan sensasi dari jari-jari Tono. Tuntunan tangan Wati terhadap tangan Tono masih terus berlangsung, bahkan irama semakin berkembang dengan cepat. Tak hanya itu sesaat Wati mengarahkan jari-jari Tono untuk masuk ke dalam lubang vaginanya. Tak hanya satu, bahkan dua jari langsung yang dimasukkan. Hal ini dilakukan Wati agar sensasinya menjadi lebih dasyat.
Wati menikmati kocokan tangan Tono dan dengan goyangan pinggulnya ia mulai mengikuti irama kocokan. Walaupun masih dituntun, namun jari-jari Tono dirasakan oleh Wati menari-nari di dalam vaginanya. Ini berarti Tono adalah orang yang cepat belajar dan kreatif. Sesekali jari-jari itu menyentuh G-spot, dan jika itu berlangsung terlihat Wati semakin menggeliatkan tubuhnya.
“Tttooon… llebihh ceepeet… laaagiii….” pinta Wati, karena ia sudah merasakan orgasmenya semakin dekat.
Seperti atlet yang mendapat support, Tono semakin memepercepat kocokannya.
“Aaahhggg….. hheeggghhh…ahhgg !”

Tangan Wati semakin kencang memegang tangan Tono, tubuhnya meliuk, ia mengejang beberapa kali….. Dia mendapatkan orgasmenya. Badan Wati melemas dan ambruk di dada bidang Tono. Kenikmatan yang tiada tara baru saja ia dapatkan dengan lelaki yang bukan suaminya. Walaupun hanya dengan petting ia mendapatkan orgasme yang lebih hebat daripada dengan masturbasi sendiri atau bahkan berhubungan sex dengan suaminya yang nota bene hanya sebagai pelengkap hubungan suami istri.

Dengan peristiwa di atas, sekarang Wati lebih berani meminta kepada Tono untuk memuaskan nafsunya. Bahkan tak lagi petting, mereka sudah melakukan intercouse dan saling memuaskan satu sama lain. Dan tidak terasa hubungan itu sudah terjalin hingga kini, di usia kerja Tono yang ke empat tahun.

“Itulah Yan…. seperti apa yang kau lihat kemarin…..”
“Beruntunglah kamu Wat….” kataku sambil penepuk pundaknya.
Tak terasa hari sudah mulai malam, sekarang sudah menunjukkan pukul 19.21, saatnya untuk pulang.
Kamipun saling berpamitan pulang, dan sekali lagi Wati mengingatkanku untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapapun.

********

Sabtu malam Minggu, suasana rumah sedang sepi. Suamiku sedang up town ke Yogyakarta, sedangkan anak-anak dibawa neneknya ke Solo. Praktis hanya tinggal aku, Mbok Nah dan Harso putranya. Malam ini aku lewati hanya dengan menonton siaran televisi, semakin lama rasa jenuh menyerang sedangkan kantuk tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.26 WIB, ketika tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan. Dengan langkah perlahan dan penuh rasa curiga aku mengikuti sampai hilangnya bayangan tersebut.
Setelah benar-benar aku perhatikan, ternyata Harso yang sedang menuju ke kamar mandi. Mungkin dia kebelet pipis, tetapi telinga ini tidak mendengar gemercik air atau suara apapun di dalam kamar mandi. Sudah menjadi sifat aku, rasa penasaran itu selalu muncul dalam benakku. Dengan rasa penasaran aku menempelkan telinga pada pintu kamar mandi, sayup-sayup terdengar desahan halus dari dalam, perasaan penasaran semakin menjadi. Dengan perlahan aku memutar handel pintu dan membukanya. Dari celah tersebut aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Harso di dalam kamar mandi. Perasaan jadi ridak menentu, karena dengan jelas aku melihat Harso sedang asyik ber-onani. Dia nikmati betul acara ‘swalayan’ ini, terbukti dengan mata terpejam dia sama sekali tidak mendengar handel pintu dibuka, dan juga kehadiranku menyaksikan acara live show ini.

Dengan tangan dipenuhi busa sabun, Harso semakin cepat melakukan kocokan pada penis-nya. Sesekali pinggulnya bergoyang mengikuti irama kocokkannya. Harso benar-benar menikmati, dia tidak sadar bahwa tingkah lakunya sedang diamati oleh seorang wanita yang nota bene bernafsu besar. Melihat pemandangan seperti itu mau tidak mau aku jadi terangsang. Bayangkan saja, bocah lelaki 14 tahun dengan penis yang ereksi penuh. Aku melihat penis Harso yang tidak terlalu besar dan rambut kemaluannya masih terlihat jarang. Tetapi itu adalah penis seorang lelaki yang bukan suamiku. Bayanganku kembali kepada cerita Wati kemarin sore. Alangkah nikmatnya apabila aku dapat berhubungan sex dengan bocah SMP ini, tetapi beranikah aku ?. Pertanyaan itu muncul dalam benak yang sudah dilanda nafsu birahi.

Setelah aku berpikir jika ini bukan saat yang tepat untuk itu, dengan perlahan aku kembali menutup pintu kamar mandi dan langsung menuju ke kamar. Malam ini aku tidur dengan perasaan gelisah karena dengan jelas sekali aku melihat penis Harso yang tegang. Akhirnya aku melakukan ‘self service’ hingga mencapai orgasme,dan tidur dengan perasaan puas.

Minggu pagi ini seperti biasa, sehabis fitness aku langsung pulang ke rumah. Suasana sepi tampak sekali menyelimuti rumah. Setelah mobil aku masukkan ke garasi, langsung ku langkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.
“Mbok…. Mbok Nah……”
Sepi….. tidak ada jawaban dari yang ku panggil. Aku ambil sebotol air minum dingin dari kulkas dan langsung balik badan meninggalkan dapur. Ketika melewati kamar Mbok Nah, aku melihat pintu kamar sudah dalam keadaan terbuka. Aku melongok ke dalam, hanya ada Harso yang masih tertidur pulas. Berarti Mbok Nah sedang keluar rumah, entah ke pasar atau kemana aku tidak tahu. Aku tinggalkan kamar Mbok Nah dengan Harso-nya.

Setelah mandi badan ini segar rasanya, capek sesudah mengikuti fitness hilang sudah. Tidak terasa secangkir susu hangat kini hanya tonggal gelasnya, dengan langkah gontai aku pergi ke dapur untuk menaruh gelas kotor pada tempat cuci. Ketika melewati kamar Mbok Nah mata ini lansung melihat Harso yang mulai menggeliat terbangun dari tidurnya. Pikiran kotor aku tiba-tiba muncul. Dengan segera aku langkahkan kaki masuk ke kamar mandi. Sengaja pintu kamar mandi aku buka sedikit dan tidak aku kunci. Segera aku lucuti semua pakaian yang kukenakan, dengan segayung air aku basahi badan ini dan segera aku balurkan sabun ke seluruh tubuh. Aku berharap Harso akan masuk ke kamar mandi ini dan melihat tubuh telanjangku. Dengan berdiam diri di balik pintu, , gemuruh detak jantung dan rasa takut menyelimuti. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Ternyata jebakan ini membuahkan hasil. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan masuklah Harso. Dengan mata yang masih diselimuti rasa kantuk, dia tidak memperhatikan jika di dalam kamar mandi ini ada seorang wanita dewasa yang telanjang bulat. Dengan posisi membelakangiku Harso melepas celana sekaligus celana dalamnya, setelah itu t-shirt-pun terlepas dari badan kecilnya. Kini Harso sudah dalam keadaan telanjang bulat sepertiku. Dan ketika ia membalikkan badan, secara reflek dia tutup penis-nya dengan kedua telapak tangannya.
“Mmaa’aaf bbuuu… ssaayaa… ttiidakk ttahuu… kkkaalllau iibuu addaa ddiii ddaalammm…” katanya ketakutan.
Akupun berpura-pura menutupi payudara dengan tangan kiri, sedangkan tangan kananku menutupi kemaluan.
“Aaa… seharusnya ibu yang minta maaf Har…. ibu lupa tidak mengunci pintunya….”
“Kalau begitu, Harso keluar saja bu….” katanya sambil menunduk
Tetapi sesekali aku melihat lirikan matanya tertuju langsung ke arah payudaraku. Aku ulur waktu….
“Jangan Har… kebetulan ibu perlu bantuanmu untuk menggosok punggung….” kataku sambil menyodorkan puff yang sudah penuh dengan busa sabun.
“Harso takut bu…”
“Ayolah… jangan takut…..” kataku menenangkannya.

Aku raih tangan yang menutupi penis kecilnya. Ku serahkan puff kepada Harso dan aku berkongkok memunggunginya.

Harso yang masih diselimuti rasa malu dan takut mulai menggosokkan puff pada punggungku. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kurasakan gosokkannya sudah mulai mantap dan tenang.

Dengan sabar aku memcoba untuk mengulur waktu agar Harso dapat semakin lama menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Kini gosokkan puff tidak hanya dilakukan bocah ini pada area punggung, aku merasakan ia sudah mulai berani menyentuhkannya pada bagian pinggang dan belakang ketiakku. Dengan sengaja aku membuka lenganku, ini membuat Harso dengan leluasa menyabuni permukaan samping badanku. Aku menjadi terangsang ketika puff melewati permukaan kulit payudara bagian belakang, desiran halus terasa mulai menyelimuti badanku.

Semakin lama tidak hanya samping badan saja, Harso mulai berani menggosokkan puff pada payudaraku. Tidak hanya itu, tangan kirinyapun mulai ikut aktif mengelus payudara kiriku. Aku nikmati elusan lembut itu, karena tidak tahan dengan perlakuan Harso itu aku memegang telapak tangannya dan langsung mengarahkan pada kedua payudara yang sudah mulai mengeras. Aku tuntun agar Harso tidak hanya mengelus tetapi meremas dengan putaran lembut pada putingnya.

Aku rasakan penis Harso yang ereksi menyentuh punggungku, anak ini sudah mulai terangsang. Kini tidak hanya sentuhan, dengan genggaman tangannya, Harso sengaja menggosok-gosokkan penisnya di punggungku. Aku yang sudah terangsang dari tadi mulai menggosokkan tangan pada kemaluanku. Aku rasakan kemaluanku semakin basah oleh cairan vagina, jari tengah aku arahkan pada vagina dan kusentuhkan pada G-spot-nya. Sekujur badan terasa merinding akibat sentuhan itu.

Kini aku balikkan badan dan tepat berhadapan dengan penis Harso yang sudah ereksi. Aku genggam penis itu, tetapi secara reflek Harso menghindarinya.
“Jangan bu… Harso takut….” katanya sambil menutupi penisnya.
“Nggak usah takut…. rasanya akan lebih enak dibanding kamu onani….. kamu sering onani kan ?”
“Kok ibu tahu….. ?” jawabnya penasaran
“Tahu dong…. sini… jangan takut…”
Aku sudah tidak sabar lagi, nafsu sudah membelengguku. Segera tanganku meraih penis Harso, sekarang dia tampak lebih tenang dan menikmati remasan tanganku. Sabun cair segera aku tuangkan pada permukaan penisnya, gerakan naik turun aku lakukan. Harso memejamkan matanya, menikmati kocokan lembut itu. Aku semakin memberanikan diri, di sela meng-onani-kan Harso ku telusuri permukaan perut bagian bawah dengan kecupan dan ciuman, sesekali tubuh Harso menggeliat ketika ciuman itu tepat pada titik rangsangnya. Sapuan lidah pada area antara pusar dan penis membuat Harso semakin kelimpungan, penis-nya berdenyut semakin kuat.
Pikiranku semakin ngeres…. aku bersihkan penis Harso dari busa sabun, ku dorong tubuhnya untuk bersandar pada dinding kamar mandi dan dengan lahap aku mengulum penis itu.

“Hhhggghh…..”

Harso tersentak menahan nafasnya ketika mulutku semakin kuat menyedot penisnya. Ia menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama sedotanku. Oral sex yang aku lakukan ini adalah yang pertama kalinya, karena suamiku tidak pernah mau melakukannya. Baik kepadaku maupun aku kepadanya sehingga kesempatan ini aku manfaatkan sebaik-baiknya.

Penis Harso yang sudah ereksi penuh ini maju mundur dalam mulutku, ketika gerakan mundur aku menyedotnya keras-keras. Tanganku memegangi pinggulnya, membantu mendorong penis dalam mulutku. Demikian juga Harso, tangannya memegangi kepalaku dan menarik dorong mengikuti irama permainan. Cairan kemaluan Harso mulai keluar, rasanya asin. Ini menandakan Harso sudah terangsang hebat. Aku lepaskan tangan kananku pada pantat Harso, segera aku gosok-gosok clitoris untuk mengimbangi rangsangan pada diriku. Kami berdua menikmati permainan ini.

Denyutan penis Harso semakin kuat dan sering, ini menandakan ejakulasi akan segera terjadi. Aku semakin mempercepat gerakan oral sex dan goyangan pinggul Harsopun ikut dipercepat.
“Bbbuuu…… Hhaarrrssoo… mmmaauuu …….”
Belum selesai ia berkata aku sedot penis-nya kuat-kuat dan ….
“Aahhhhggg…… hhheggghhh……..”
Tangan Harso mencengkeram kepalaku dengan kuat, sprema menyemprot di dalam mulutku beberapa kali…. mulutku tak henti-henti menyedoti penisnya hingga sperma itu tuntas keluar. Aku telan semua sperma yang tertumpah dari penis Harso, bahkan sisa-sisa lelehan pada kepala penis-pun aku jilati hingga bersih. Kata orang sperma jejaka baik untuk jamu bagi ibu-ibu yang sudah setengah umur, untuk obat awet muda. Asin dan gurih…
Tubuh Harso tampak lemas dan lunglai….. nafasnya tidak beraturan……
“Enak…. Har….. ?” kataku sambil tersenyum.
“Yyyaa…. bbuuu…. lebbihh eennakk ddari oonnani…..” Harso menjawab sambil memejamkan matanya.
Aku berdiri dan memeluknya, ku kecup keningnya dengan penuh perasaan.
“Ya sudah…. peristiwa ini menjadi rahasia kita berdua…. kapan-kapan ibu berikan yang lebih nikmat dari ini…oke….!” bisikku
“Ya… bu…. Harso akan simpan rahasia ini rapat-rapat” kata Harso sambil mempererat pelukkannya.
“Baiklah… kamu lanjutin mandinya…. ibu keluar dulu, jangan sampai mbokmu memergoki kita…. Oh ya Har… kalau kamu onani, spermanya jangan dibuang percuma ya… ditampung dan berikan pada ibu….. dengan catatan jangan sampai ketahuan bapak….” kataku sambil mengambil handuk dan membelitkan pada tubuhku, serta membawa pakaianku yang ada di kamar mandi ini dan segera keluar. Aku ingin mempraktekkan teori Ani rekan kerjaku yang sering menggunakan sperma untuk masker payudara, katanya payudara akan semakin kencang dan kenyal.
Sebenarnya aku ingin permainan ini berlanjut dengan intercouse, karena aku sendiri sudah amat sangat terangsang dan belum mencapai orgasme. Tetapi hal ini tidak aku lakukan, aku ingin hal ini berjalan sedikit demi sedikit dan aku tidak ingin Harso menjadi shock karenanya.
Segera setelah sampai di kamar, aku menumpahkan segala rangsangan yang sudah kudapat dengan ber’swalayan’. Kali ini guling yang menjadi sasaran amukan. Dengan tubuh telanjang aku naiki guling dan menggoyangkan pantatku sehingga kemaluan ini bergesek pada permukaan guling. Aku hanya berimajinasi bermain sex dengan Harso pada posisi di atasnya. Hingga desakan dalam tubuhku tak dapat ku tahan lagi…. dan ….
“Ooouugghhh……… hhhhegggghhh……” tubuhku mengejang, serasa terbang ke tempat tinggi dan tiba-tiba terjatuh
Aku dapatkan orgasme yang luar biasa hebatnya….. kenikmatan yang tiada tara…. belum pernah dalam masturbasi ataupun ketika berhubungan badan dengan suami aku mendapatkan orgasme sehebat ini. Tubuhku lemas… abruk…. ku gigit guling keras-keras… iiihhhhh aku gemesss….. Terlihat sebagian permukaan guling menjadi basah oleh cairan vaginaku.
Aku tersenyum sendiri memikirkan peristiwa hari ini. Benar-benar hari yang sangat membahagiakan hatiku, hari yang sudah memberikan kenikmatan luar biasa yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Akupun tertidur dengan perasaan bahagia.

*******

Tak terasa peristiwa itu sudah berlalu dalam seminggu. Hubungan sex dengan suamiku semakin bertambah mesra dan akupun sering mendapatkan orgasme hebat. Mungkin itu terjadi karena dalam berhubungan badan dengan suami, aku selalu membayangkan berhubungan sex dengan Harso anak Mbok Nah.

Malam ini setelah mandi, aku berpapasan dengan Harso di lorong dapur. Dari sakunya ia mengeluarkan botol plastik kecil dan menyerahkannya kepadaku.
“Bu…. ini untuk ibu…” katanya
“Apaah Har…” kuterima botol plastik itu, hangat rasanya.
“Pesanan ibu… katanya sperma Harso nggak boleh dibuang percuma…”katanya sambil berbisik
“Oohh itu… terima kasih Har….” kataku sambil mengusap rambutnya
Kecupan kecil mendarat di bibirnya sebagai hadiah.

Aku berlalu dan masuk kamar. Sendiri di kamar, karena hari ini suamiku sudah berada di Bandung memenuhi tugas kantor dan anak-anak sudah berada di kamarnya. Segera aku buka kimono, kemudian BH. Di depan cermin aku tuangkan cairan sperma Harso dari dalam botol plastik pada telapak tangan kananku. Putih, kental, lengket dan berbau khas mirip bau bunga Akasia, kemudian aku balurkan rata ke seluruh permukaan kedua payudaraku. Setelah semua terbalurkan dan merata, aku rebahkan badan ini di tempat tidur. Sambil menunggu kering, aku isi waktuku dengan membaca majalah. Benar kata Ani, dalam proses mengeringnya sperma pada payudara, aku merasakan payudaraku seperti dicengkeram dengan lembut. Dan ketika sudah kering benar, lapisan itu melapisi payudara dengan ketat dan terasa payudara semakin kencang. Setelah 15 menit, aku bersihkan payudara ini dengan washlap yang dibasahi air hangat. Sesekali washlap hangat ini dibiarkan menempel beberapa saat pada payudara, hasilnya sungguh luar biasa. Payudaraku terasa lebih kencang dan kenyal, putingnya juga terlihat lebih menonjol serta cerah warnanya (silahkan mencobanya sendiri, hasilnya tidak mengecewakan).

Setelah peristiwa yang lalu, anganku untuk berhubungan sex dengan ABG ini semakin menggebu. Tetapi kembali rasa takut masih saja membayangiku. Kadang kala aku berpikir bahwa umur Harso sama dengan usia anak perempuanku, dan ia sudah aku anggap sebagai anak-ku sendiri. Pagar makan tanaman…. itu yang selalu menghantuiku.

Sore ini tampak Harso, Dea dan Rio bermain bersama di halaman belakang. Aku dan Mbok Nah hanya memperhatikan mereka sambil duduk bersandar di kursi beranda. Keceriaan mereka membuah hati kami turut bahagia. Tetapi tiba-tiba pikiran kotor kembali mengusik, tatkala aku melihat Harso sedang menggoda Rio dengan menggoyang-goyangkan pantatnya. Seeerrr….. desiran halus menyelimuti tubuhku. Aku bayangkan goyangan tersebut seperti tengah berhubungan sex bersama ku. Terbayangkan tubuh bugil dengan penis ereksi yang keluar masuk dalam vaginaku. Tak kusadara bahwa pandangan kosongku diperhatikan oleh Mbok Nah.
“Bu… Ibu…..” kata Mbok Nah sambil menggoyangkan lenganku.
Aku tersentak sadar dari lamunan kotor….
“Oohh….. Aaappa Nah ?” kataku tergagap karena kaget
“Ibu ngelamunin apa… kok kelihatannya serius amat…”
“Ahh..nggak kok Nah….. hanya badan ini terasa lesu…. “kataku berbohong.
“Lelah kali bu…. Ibu mau dipijitin….” Inah menawarkan diri
Aku terawangkan pandangan seolah-oleh sedang berpikir.
“Oke Nah…. kelihatannya enak dipijitin….” kataku setuju.
Kami berdiri dan bersiap masuk kamar, “Harso…. Dea… jaga Rio sebentar ya….. hati-hati mainnya… !” seru Mbok Nah memperingatkan.
Dengan langkah gontai aku menuju ke kamar diiringi langkah Mbok Nah dari belakang.
Segera aku rebahkan badan di atas tempat tidurku, Mbok Nah menutup pintu dan menguncinya. Lalu melangkah menghampiriku, kini posisi tiduku berubah menelungkup.
Dari belakang Mbok Nah melepaskan kimono-ku, dilipat rapi dan diletakkannya di atas meja. Kemudian BH-ku dilepaskannya pula, setelah itu tangan terampil Mbok Nah memelorotkan celana dalamku. Kini diriku tertelungkup dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang yang menempel. Tiba-tiba punggung ini merasakan sesuatu cairan yang sejuk, aku sedikit terkejut dan merinding.
“Apaan ini mbok ?” tanyaku penasaran.
“Oh.. maaf bu… hanya body lottion….”
“Pantes….. kok sejuk….” aku kembali memejamkan mata.
Dengan terampil Mbok Nah mulai memijat punggungku. Aku menikmati pijatannya, lembut tapi bertenaga dan sesekali membuat tubuh ini menggeliat tatkala tangan Mbok Nah menyentuh titik rangsangku. Aku paling tidak tahan jika kuduk dan bagian belakang telingaku disentuh lembut. Hal itu cepat sekali membuat aku terangsang. Aku yakin Mbok Nah menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada unsur kesengajaan ingin merangsangku. Pijatannya merata pada punggungku, dari atas hingga bawah semua dipijatnya.
“Mbok… aku mau tanya… Mbok Nah jangan marah ya…?” tanyaku memecah keheningan
“Silahkan bu…. ibu tahu sendiri kan Inah orangnya nggak suka marah…” kata Mbok Nah sambil mencubit pinggangku.
“Sudah sekian tahun kamu menjada… apakah kamu nggak kangen sama laki-laki mbok…?”
“Wehhh… sebagai perempuan normal tentu kangen dong bu…..”
“Pernah tiba-tiba kamu terangsang, mbok ?”
“Tentu saja pernah, bu… Inah kan nafsunya gedhe ” jawabnya polos
“Terus…..”
“Ya….. bagaimana lagi… ditahan-tahan nggak tahan juga….”
“Kamu puasin sendiri, mbok ?”
“Maaf bu, Inah nggak biasa masturbasi….. pernah melakukan sekali hasilnya kurang memuaskan, malah bibir kemaluan Inah perih semua….”
“Terus….” pancingku
“Ya…. Inah kan punya laki-laki untuk diajak ngesex….”
“Siapa laki-laki itu, mbok..?”
“Adaaa ajaaa….” kata Mbok Nah manja
“Katanya pacar kamu dulu banyak ya mbok ?”
“Ahhh… itu kan masa lalu bu….”
“Emang di desa gampang cari pacar ya…?”
“Nggak juga sih… dasar Inah aja yang ‘gatel’…. haa…haaa…haaa” ia tertawa terbahak-bahak.
Tanpa menyadari bahwa Mbok Nah sedang aku pancing untuk menceritakan masa gadisnya di desa, ia mulai berkisah kepadaku.

Diawali ketika Inah berumur 12 tahun, masih duduk di Sekolah Dasar. Walau masih SD tapi tubuh Inah sudah seperti gadis dewasa, maklum tubuh wanita desa lebih cepat berkembang dari pada wanita kota. Mungkin karena makanan yang mereka konsumsi masih segar dan alamiah. Dengan tubuh bongsor, di usianya Inah sudah memakai BH ukuran 34-B, ukuran yang cukup besar untuk anak SD. Dapat dibayangkan betapa besar payudara anak itu. Tidak hanya itu, pikiran Inah juga sudah seperti wanita dewasa.

Seperti bulan-bulan yang lalu, di lapangan Desa sering ada pertunjukan layar tancep. Sedangkan jarak lapangan dengan rumah Inah kurang lebih 2 – 3 Km. Itupun harus melewati persawahan dan keluar masuk kebun orang, jika harus lewat jalan raya jaraknya akan lepih jauh lagi. Dapat dibayangkan, hanya dengan memakai senter kecil Inah dan teman-temannya menerobos kegelapan malam pergi ke lapangan desa untuk nonton film. Film-film yang diputar adalah film Indonesia yang tergolong ‘hot’ di era 80-an. Inilah yang membuat kedewasaan Inah datang lebih cepat. Adegan yang terpampang selalu merasuk dalam pikirannya, hingga dalam tidur Inah sering bermimpi melakukan adegan seperti dalam film yang ditontonnya.

Tidak hanya itu, sering kali Inah menyaksikan sendiri sapi di kandangnya sedang kawin. Atau ketika mandi di kali seberang desa, Inah selalu mencuri-curi pandang ke arah kemaluan laki-laki dewasa yang sedang mandi. Kalau sudah begitu jantungnya akan berdegub kencang dan payudara serta putingnya mengeras, kemaluannya berdenyut-denyut. Inah tidak tahu reaksi apa yang sedang ia alami, hal ini selalu muncul jika ia melihat kemaluan laki-laki atau ternaknya sedang kawin.

Rasa penasaran anak remaja ini mencari pemecahannya. Ia malu bertanya kepada yang lebih tua, karena ia sadar kalau Inah masih anak-anak. Ia mencari tahu dengan pengalamannya, sebagaimana suatu hari dengan rasa penasaran ia sengaja meraba-raba kemaluannya sendiri. Dirasakannya kenikmatan asing hingga ia semakin meningkatkan dari rabaan menjadi gosokkan pada kemaluannya. Dan akhirnya ia dapatkan sesuatu yang membuatnya serasa melambung dan rasa nikmat yang dasyat. Kegiatan itu menjadi rutinitas dikala Inah akan tidur malam, jika itu belum dilakukannya ia tidak dapat tidur dengan nyenyak.

Sore itu, Bapak dan Emaknya pergi kondangan ke desa tetangga. Tinggal Inah sendirian di rumah. Seperti biasa suasana sore terlihat sepi di desanya. Dengan langkah kecilnya, Inah menuju ke kamar mandi di halaman belakang rumahnya. Ketika melewati kandang sapi, tiba-tiba pikiran kotor merasuki otaknya. Ditengoknya kiri-kanan, sepi….. Segera ia masuk ke dalam kandang dan menghampiri sapi jantan milik Bapaknya. Perlahan diusapnya tubuh sang hewan piaraan itu, kini dengan rasa penasarannya tangan Inah mulai merambat dari paha menuju ke penis si sapi. Diraba-rabanya penis itu dengan penuh perasaan, pikiran kotornya semakin membuat Inah terangsang. Kini, tangan mungil itu mulai mengocok penis sapi yang semula kecil menjadi ereksi. Tidak ada reaksi yang berarti dari hewan kesayangan Bapaknya itu. Aktivitas tangan Inah mulai ditingkatkan. Terlihat batang penis itu mulai tampak menjulur keluar. Berwarna kemerah-merahan, licin dan itu membuat Inah semakin terangsang. Dirasakannya payudara mulai mengeras dan celana dalamnyapun mulai basah. Inah semakin tidak dapat menahan nafsunya, tangan kirinya segera masuk menerobos celana dalam tipisnya. Basah oleh cairan vagina, jari tengah Inah mulai menggosok-gosok clitoris. Irama kocokan pada penis sapi seiring dengan gosokan pada clitorisnya. Beberapa menit kemudian Inah merasakan denyutan-denyutan yang semakin kuat dari penis sapinya, demikian juga pada kemaluannya. Dan…… Aagghhh….. Inah mendapatkan orgasmenya, seiring dengan itu tangan Inah semakin cepat mengocok batang penis binatang ternaknya. Akhirnya dengan lenguhan panjang, keluarlah sperma sapi menyemprot kuat beberapa kali. Kocokan tangan Inah mulai melemah.
Setelah itu Inah bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi dengan perasaan puas. Hari ini ia mendapat pengalaman baru, dan rasa keingintahuan seorang remaja selalu saja akan meningkat. Itu baru sapi, pikirnya. Bagaimana ya rasanya memegang penis laki-laki ? pikiran itu selalu saja menghantuinya.

Malam semakin larut, tidak terasa sekarang sudah pukul 19.24.
Inah mendengar suara ketukan. Dengan segera ia membuka pintu rumahnya. Didapatinya bulik dan paklik Ali ada dihadapannya.
“Nah, Bapak dan Emakmu tidak bisa pulang malam ini, karena Pak Raji yang punya gawe minta agar orang tuamu membantunya di sana dan bulik disuruh nemeni kamu….” kata bulik Ali pada Inah
“Oh…. kalau begitu kebetulan lik, sudah lama Inah tidak ketemu bulik dan paklik” kata Inah senang
“Kalau begitu kamu tidur saja dulu Nah…. besok sekolah kan..?” kata paklik Ali.
“Iya lik…. kan sudah tidak ada yang Inah tunggu….” Inah beranjak pergi ke kamar tidurnya. Bulik dan paklik juga menuju ke kamar orang tuanya.

Inah mencoba memejamkan mata, rasa kantuk belum juga datang. Angannya kembali pada peristiwa sore tadi, sebagai gantinya Inah berimajinasi sedang mengocok penis seorang laki-laki dewasa. Dilepaskannya kaos dan BH, juga bawahan. Kini hanya celana dalam yang Inah kenakan. Dengan kain jarik, ditutupinya tubuh yang telanjang. Inah mulai merangsang dirinya dengan meraba-raba kemaluan yang masih tertutup celana dalam. Kembali ia terangsang, masturbasi kembali dilakukannya….. maklum anak bongsor ini termasuk gedhe nafsu libidonya. Setelah beberapa saat Inah mendapatkan orgasmenya, rasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Malam ini di dalam tidurnya Inah merasakan kenikmatan lain, ia merasakan remasan lembut pada payudara kirinya dan emutan diselingi gigitan kecil pada puting payudara kanannya. Hal ini dirasakan Inah sebagai pengalaman baru, tidak pernah terpikirkan olehnya jika payudara yang dikenyot dapat membuatnya terangsang. Selama ini yang Inah pikirkan bahwa payudara hanya untuk menyusui bayi, tetapi mimpinya berkata lain. Ia rasakan rangsangannya semakin kuat.
Betapa kagetnya Inah, setelah ia tersadar bahwa ini bukanlah mimpi. Kain selimutnya sudah pergi entah kemana. Didapatinya lik Ali tengah asyik meremas-remas dan mengeyoti payudaranya. Segera Inah tersentak, dijambaknya rambut lik Ali. Maksud hati ingin melepaskan mulut lik Ali dari payudaranya. Tetapi kenyataan berkata lain, lik Ali semakin kesetanan. Ia semakin kuat meremas-remas kedua payudara Inah, kini mulut Inah dibungkam oleh ciuman dasyat lik Ali. Untuk sementara waktu Inah gelagapan, ia sulit bernafas. Dalam pemberontakkannya Inah merasakan dirinya semakin terangsang. Beberapa saat kemudian Inah mulai tenang, bahkan ia mulai membalas kuluman bibir lik Ali. Lidah mereka beradu, ludah mereka bercampur. Remasan tangan lik Ali mulai lembut kembali bahkan sesekali puting payudara Inah dipencet-pencet. Inah semakin terangsang, kemaluannya mulai basah, nafasnya tak beraturan dan sesekali melenguh ketika ia merasakan titik rangsangnya disentuh.

Aktivitas mereka meningkat. Kini tangan lik Ali mulai turun dan menyentuh lembut permukaan kemaluan Inah yang masih tertutup celana dalam. Inah menggeliatkan badannya ketika tangan lik Ali menerobos masuk melewati celana dalam dan menyentuh clitorisnya. Benar-benar luar biasa….. rasanya berbeda dengan sentuhan jarinya sendiri. Jari lik Ali semakin aktif mengosoki clitoris Inah, sedangkan mulut lik Ali kembali beraksi pada payudaranya. Inah hanya bisa diam dengan mata terpejam menikmati apa yang sedang dilakukan pak lik-nya. Sesekali kedua tangan Inah menekan kepala lik Ali untuk lebih kuat menyedot payudaranya. Inah semakin lebar membuka pahanya, memberi kemudahan pada jari lik Ali yang sedang aktif menggosok clitorisnya.

Tiba-tiba, lik Ali menghentikan semua aktivitasnya. Rasa kecewa menyelimuti perasaan Inah. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena Inah melihat lik Ali turun dari tempat tidurnya, berdiri dan melepaskan sarungnya. Tampak oleh Inah penis lik Ali sudah mengacung tegang, mengkilat terkena cahaya remang lampu tempel.

Kembali lik Ali naik ke tempat tidur. Lik Ali mendekatkan penisnya pada Inah. Diraihnya tangan mungil Inah dan dituntun untuk memegang penisnya. Dengan ragu Inah memegang kemaluan suami adik emaknya itu. Inah menatap wajah lik Ali, dengan senyuman manis lik Ali mengangguk lembut, hal ini membuat keberanian Inah bertambah. Tidak hanya memegang, kini tangan mungil itu mulai menggenggam batang penis yang sudah tegang itu. Lik Ali menuntun genggaman tangan Inah dengan gerakan naik-turun pada kemaluannya. Setelah beberapa saat dilepaskan tangannya sehingga kini Inah sudah dapat melakukannya sendiri.

Lik Ali menikmati kocokan tangan Inah, kemudian tangan lik Ali kembali meremas-remas payudara gadis kecil itu. Inah semakin mempercepat kocokan pada penis lik Ali, demikian juga lik Ali semakin gemas meremas payudaranya dan sesekali memilin puting susu Inah, tidak ketinggalan tangan kanan lik Ali kembali masuk menerobos celana dalam Inah dan mempermainkan clitorisnya. Mereka berdua berpacu dengan nafsu, masing-masing meresapi rangsangan. Irama permainan semakin meningkat, hingga tiba-tiba tangan Inah merasakan penis lik Ali berdenyut kencang dan ….

Oouughhhh…… Hheegggghhh…..

Tubuh lik Ali mengejang, tangannya semakin kuat mencengkeram payudara Inah, sprema menyemprot tepat pada wajah Inah. Bebepara kali semprotan itu terasa kuat menerpa wajah Inah, dan kemudian tubuh lik Ali lemas dengan nafas ngos-ngosan. Tangan Inah mengurut penis lik Ali dengan kuat untuk terakhir kalinya. Terlihat sperma meleleh di wajah dan tangan Inah.
“Ohh…. terima kasih Nah,…. nikmat sekali rasanya….” bisik lik Ali di telinga Inah.
Inah seperti terjaga, ia segera sadar.
“Sudahhh… lik…. sana kembali ke kamar, nanti ketahuan…..” pinta Inah sedikit memaksa
“Kamu kan belum ‘dapet’ tho Nah…?”
“Besok-besok kan masih ada waktu, lik” kata Inah sambil mendorong lembut dada lik Ali
“Baiklah…. aku masih hutang padamu, Nah….” kata lik Ali sambil berdiri
Lik Ali segera mengenakan kembali sarungnya, terlihat tonjolan penis masih tercetak di balik sarung. Inah hanya tersenyum melihat bentuk sarung yang tidak rata itu.
Lik Ali menghapirinya dan mendaratkan kecupan lembut pada bibir mungil Inah. Inah-pun menerima kecupan itu dengan sedikit membuka bibirnya.
“Sekali lagi… terima kasih, Nah…” kata lik Ali sebelum menghilang di balik korden.
Inah tersenyum senang, tidak disangka hari ini dia mendapat dua pengalaman baru. Tangan Inah menyeka sperma yang membasahi wajahnya, telapak tangan yang basah oleh sperma itu kemudian diusapkan pada kedua payudaranya. Sensasi bau sperma yang mirip dengan bau bunga akasia kembali membuat Inah kecil terangsang, apalagi tadi ia belum mendapatkan orgasmenya. Kembali tangan mungil itu menyentuh kemaluan dan Inahpun melakukan “Self Service” hingga puncak orgasme didapatkannya.

Minggu pagi ini udara terasa dingin, rasa kantuk masih menggayuti Inah. Peristiwa semalam membuat ia kehabisan tenaga. Akhirnya iapun memutuskan untuk segera bangkit dari tempat tidurnya. Hanya dengan kain Inah menyelimuti tubuh telanjangnya dan pergi ke kamar mandi. Ia rasa mandi pagi ini akan membuat badannya segar kembali. Setelah selesai mandi, Inah menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat. Masih dengan berkemben kain ia melakukan aktivitasnya. Karena habis keramas, terlihat tubuh anak ini tercetak lekat pada kain yang basah. Setiap mata lelaki pasti akan melotot melihat kemolekan gadis desa yang satu ini. Payudara yang montok tampak jelas tercetak pada kain demikian pula putingnya.

Beberapa saat kemudian masuklah bulik Ali.
“Wah… rajin betul kamu Nah, pagi-pagi sudah ada di dapur”
“Ahh… bulik….” Inah tidak dapat menutupi keterkejutannya, ia menundukkan kepala dan merasa bersalah dengan apa yang dilakukan dengan suami buliknya semalam.
“Semoga saja bulik tidak tahu peristiwa semalam” pikir Inah.
“Lho kok terus diam, ada apa Nah”
“Nggak kok bulik…. paklik Ali kemana kok tidak kelihatan ?” tanya Inah mengalihkan perhatian.
“Oohh… pagi-pagi benar ia sudah pergi ke terminal mau ke Semarang katanya”
“Ohh….” hanya itu yang dapat keluar dari mulut mungil Inah.
“Umur kamu sekarang berapa Nah ?”
“12 tahun bulik, ada apa sih kok tanya umur segala ?” balas Inah penasaran
“Nggak… tubuh kamu bagus banget Nah, payudaramu juga montok…. bulik iri lho”
Memang bulik Ali orangnya tinggi, kurus, dan yang pasti payudaranya hanya seukuran cangkir teh, KUTILANG DARAT (kurus, tinggi, langsing, dada rata), kalau dibandingkan dengan Inah kalah jauh.
“Aahh… bulik ini, Inah hanya dapat bersyukur dengan pemberian Tuhan ini, lik…”
“Pasti banyak lelaki yang ingin meremas payudara mu ini, Nah…” kata bulik Ali sambil meremas payudara Inah.
Inah kaget dengan apa yang dilakukan buliknya. Dengan gerakan reflek ia mundur selangkah.
“Kenapa Nah….?”
“Geli bulik…. badan Inah jadi merinding….”
“Hhaaa…. hhhaa….. hhhaaa” bulik Ali tertawa.
“Kok ketawa, Lik ?”
“Berarti kamu mudah sekali terangsang…. libidomu besar, Nah”
“Memang kok Lik, Inah gampang sekali terangsang, jangankan payudara yang disentuh, tangan ini kalau diraba dengan lembut perasaan Inah jadi nggak karuan” Inah menjelaskan dengan lugunya.
“Oh Ya…. ?”
“Iya Lik, kalau sudah begitu payudara rasanya semakin membesar dan putingnya terasa gatal….”
“Kalau diterusin pasti kemaluanmu jadi basah, ya nggak Nah ?” bulik meneruskan
“He-Eh…” jawab Inah sambil menganggukkan kepalanya.
“Kalau sudah begitu terus kamu ngapain…?”
“Ah… bulik ini, Inah jadi malu…”
“Nggak usah malu, kita kan sama-sama wanita…. jadi bulik juga merasakannya seperti kamu…”
“Janji…. bulik jangan ngomong ke orang lain…?”
“Wahh… ada rahasia-rahasiaan nih… baik, bulik janji…”
“Inah suka masturbasi kalau lagi terangsang…” bisik Inah pelan
“Sudah bulik duga, tapi kamu nggak usah malu… bulik juga melakukannya. Habis paklik-mu ogah-ogahan kalau diajak ngesex….”
Tidak disangka, bulik membuka rahasia pribadinya… itu berarti kata hati yang terpendam lama. Pikiran Inah kembali mengulang peristiwa semalam. Kiranya menjadi kebalikkan dengan cerita bulik Ali, semalam paklik tampak agresif sekali dengannya.
“Kalau begitu bulik sering kesepian dong…”
“Iya Nah….. paling-paling masturbasi terus tidur”
“Gimana sih rasanya ngesex itu, Lik ?” tanya Inah dengan lugunya
“Gimana ya…. pokoknya lebih enak dari masturbasi….”
“Inah jadi pingin ngrasain…”
“Huss… kamu masih terlalu kecil, Nah…” bulik Ali mengingatkan.
Inah hanya tersenyum, padahal semalam jika ia tidak ingat akan bulik-nya pasti ia dan paklik Ali sudah berhubungan sex.
“Lho kok malah ngelamun…..” teguran bulik menyadarkan Inah, “Ya sudah… bulik mandi dulu…. karena sudah janjian sama teman…”
Bulik Ali berlalu menuju ke kamar mandi, Inah kembali tersenyum. Semalam hanya dengan petting sudah membuat Inah merasakan nikmat, apalagi kalau penis lik Ali yang besar itu masuk ke dalam vaginanya, pasti rasanya akan tambah nikmat. Semakin tak sabar Inah ingin merasakan nikmatnya berhubungan sex, tak cuma harus masturbasi setiap kali ia terangsang.

Sebulan telah berlalu ……… Hanya penis paklik Ali yang selalu menjadi obyek khayalannya ketika masturbasi. Dapat dimaklumi, karena penis itulah yang secara nyata dipegang dan dipuasinya. Kini semua itu tinggal kenangan, harapan untuk berhubungan sex dengan lik Ali pupuslah sudah. Dua minggu yang lalu paklik Ali tewas dalam kecelakaan, sedih hati Inah. Selain menyesali diri atas kesempatan yang pernah ada dengan keinginan untuk tidur bersama pamannya tidak kesampaian.

Pengalaman pertama yang tidak terlupakan akan selalu mencari kesempatan untuk melakukan yang kedua dan seterusnya. Demikian pula Inah, setiap ada kesempatan ia selalu saja mencari cara untuk memanfaatkannya. Libidonya yang besar membuat ia selalu ingin melakukan hubungan sex secara nyata. Hingga suatu hari ketika sore itu ia pergi mandi di kali seberang desa, sengaja ia datang pada jam 15.00 karena setelah beberapa hari Inah mengamati, jam-jam tersebut masih sepi dan hanya ada 1 – 2 orang lelaki saja yang mandi.
Ternyata dugaan Inah kali ini tidak meleset, di kali itu hanya ada seorang lelaki Karno namanya, usia 15 tahunan, berbadan sedang, kulit hitam khas penggembala kerbau.
“Lho tumben Nah, jam sekian sudah sampai di sini” tanya Karno keheranan
“Iya No, maklum hari ini panas banget… aku nggak kuat…. gerah…” balas Inah berbohong
“Ohh….” Karno menjawab singkat sambil meneruskan mandinya.
Inah yang hanya berkemben kain itu segera masuk ke dalam kali. Ia sudah mempersiapkan jebakan sehingga tanpa mengenakan celana dalam maupun BH tubuh telanjangnya hanya ditutupi kain untuk kebenan. Sebenarnya kali ini tidak terlalu dalam, di tepian permukaan air hanya sebatas paha saja. Sehingga kalau mandi dengan berjongkok permukaan air akan mencapai sebatas leher.
Setelah meletakkan bakul dan peralatan mandinya Inah segera membenamkan tubuhnya ke dalam air. Dan secara perlahan kembali tubuh yang berkemben itu naik ke permukaan air. Begitu berulang-ulang sehingga dapat dibayangkan, tubuh Inah yang montok tercetak sangat jelas oleh kain yang basah. Hal ini tidak luput dari pengamatan Karno, dari curi-curi pandang hingga akhirnya ia pun menatap dengan mata melototi tubuh Inah yang sital itu. Inah tahu kalau jebakannya mulai mendapatkan mangsa, ia tahu kalau Karno tanpa berkedip memandangi tubuhnya walaupun masih tertutup kain basah, dan iapun tahu kalau Karno secara tidak sadar tubuh bagian bawahnya keluar dari permukaan air dan Karno juga tidak sadar jika penisnya sudah ereksi. Inah hanya tersenyum melihat Karno yang melongo tanpa berbuat apa-apa…..
Setelah bagian pertama dilakukannya, kini Inah melakukan rencana keduanya. Dengan sengaja Inah menyabun tangan dan kakinya, dengan menopangkan kakinya di atas batu kali, Inah menggosok kaki terus naik ke paha. Kain ia tarik sedemikian rupa sehingga paha mulusnya tampak sempurna nyaris memperlihatkan kemaluannya. Mata Karno semakin melotot, dan yang lebih menggelikan Inah bahwa tangan kanan Karno mulai mengurut penisnya. Kena kau…. kata Inah lirih. Setelah tangan dan kaki Ia bersihkan, sekarang tangan Inah mulai masuk ke payudara dan menggosoknya dengan sabun. Sengaja Inah tidak melepaskan kainnya, dan ia menempatkan posisi tubuhnya sedikit miring sehingga aksi itu tidak sepenuhnya terlihat oleh Karno. Benar juga, kali ini Karno semakin kelimpungan, tampak dari lirikan Inah badan Karno di condongkan ke kiri agar ia dapat melihat moment tersebut.
Setelah membasuh badannya, Inah berbalik menghadap Karno. Ia tersenyum, dengan sedikit membuka bibirnya dan lidahpun sedikit terjulur, tampak seksi dan sangat merangsang. Karno masih saja terhipnotis dengan pemandangan di depan matanya. Inah mengambil bakul dan membereskan peralatan mandinya, iapun segera naik ke permukaan dan menghilang di balik rimbunnya semak tak jauh dari kali. Di balik semak Inah mengintip apa yang akan dilakukan Karno. Betul dugaan Inah, Karno masih saja mengocok penisnya dan setelah sadar Karnopun menengok kanan – kiri mencari Inah yang telah lenyap dari pandangan matanya. Karno segera naik dan mengenakan sarungnya. Tampak tonjolan penis tercetak jelas di balik sarung yang dikenakannya. Dengan tergesa ia mencari dimanakah Inah berada.
Sekarang Inah mulai menjalankan rencana ketiganya. Dengan sengaja ia menggerak-gerakkan semak yang menutupi tubuhnya, ia ingin agar Karno mengetahui di mana ia bersembunyi. Beberapa saat kemudian Inah melihat sosok tubuh Karno mulai terlihat, segera ia berbalik badan dan melepaskan kain penutup tubuhnya. Kini Inah dapat merasakan kehadiran Karno di belakangnya, ia pun tahun mata Karno akan semakin melotot melihat ketelanjangannya, iapun merasa yakin penis Karno akan semakin tegang. Inah hanya dapat tertawa dalam hati. Rencana terus berlanjut, dengan sengaja Inah membungkukkan badannya sehingga dengan jelas pantat dan kemaluannya terlihat oleh mata Karno.
Pemandangan di depan mata membuat Karno semakin tidak tahan. Penisnya ereksi hebat, dengan perlahan Karnopun menurunkan celananya hingga kemaluannya yang tegang bebas mengacung di udara. Perlahan tangan Karno mulai menguruti kemaluannya, pandangannya tak lepas sedikitpun menatap tubuh telanjang Inah yang sital. Karno tak kuat menahan nafsu birahinya, ia berjalan perlahan mendekati Inah yang telanjang. Dari arah belakang dipeluknya gadis itu, diremasnya payudara yang montok, dicium lembut tengkuk mulus Inah. Dengan berpura-pura kaget, Inah membalikkan badannya.
“Ohh…. apaan sih kang…!” kata Inah pura-pura kaget
“Nah….. aku nggak kuat….” Karno memelas
“Apanya yang yang kuat kang…”
“Ayolah Nah… jangan siksa aku…..”
“Ihhhh….” Inah berteriak kecil sambil menutup wajahnya dengan tangan ketika ia melihat kemaluan Karno yang sudah tegang. Dalam hati Inah tertawa, jebakkannya berhasil !
“Ayolah Nah…..” Karno mencoba membuka tangan yang menutupi wajah Inah.
“Kok kemaluannya gedhe banget kang….” kata Inah sambil menunjuk ke arah kemaluan Karno.
“Nah… Inah…” Karno yang telah diselimuti nafsu itu segera menuntun tangan kanan Inah ke arah kemaluannya.
Dengan berpura-pura malu Inah memalingkan wajahnya, tetapi tangan yang sudah menyentuh kemaluan Karno tidak menolak untuk menggenggam. Karno menuntun tangan Inah untuk melakukan gerakan mengurut maju-mundur. Desiran hebat membuat Karno menahan nafasnya. Kini tangan Inah mulai aktif tanpa bantuan dari Karno. Karno memejamkan matanya menikmati kocokan lembut pada kemaluannya. Sekarang giliran Inah yang mulai dirasuki nafsu, desiran halus pada kemaluannya serta rasa gatal pada puting payudara membuat tangan kiri Inah mulai meraba dan memilin puting payudaranya. Desahan nafas mereka mulai terdengar, masing-masing menikmati apa yang mereka rasakan. Aktivitas Inah mulai meningkat, tangannya secara perlahan turun hingga menyentuh kemaluan yang ditumbuhi rambut tipis itu. Perlahan tapi pasti jari-jari Inah mulai digosokkan pada clitorisnya. Inah merasakan cairan vagina mulai membasahi kemaluannya, demikian juga cairan bening yang keluar dari ujung kemaluan Karno-pun dirasakannya.
Tak hanya diam, Karno mengulurkan tangannya dan menangkap sepasang payudara montok miliki Inah. Secara perlahan diremas-remas serta sesekali dipilinnya puting merah jambu itu.
Keduanya semakin kesetanan, Karno segera memeluk dan mencium bibir mungil gadis desa itu. Lidah mereka beradu, ciuman maut mereka lakukan. Tangan kiri Karno memeluk leher mulus Inah, sedangkan tangan kanannya terus aktif meremas payudara gadis itu. Demikian juga dengan Inah, tangan kanannya masih saja mengocok lembut kemaluan Karno, sesekali kepala kemaluan itu digesek-gesekkan pada clitorisnya. Baik Karno maupun Inah sama-sama merasakan kenikmatan awal permainan birahi ini.
Merasa bosan dengan ciumannya, mulut Karno beralih pada payudara yang montok. Kuluman mulutnya serta gigitan kecil pada payudara Inah semakin membuat pemiliknya merasakan sensasi yang luar biasa. Inah merasakan kenikmatan lain, dengan memejamkan matanya Inah meresapi apa yang sedang terjadi bahkan ia sempat menghentikan kegiatan mengocok batang kemaluan Karno. Dilepaskan tangannya, dan kini kedua tangan Inah menekan kepala Karno yang sedang mengenyoti payudaranya.

Aktivitas terus meningkat, Karno merebahkan tubuh Inah. Dibukanya lebar-lebar kaki gadis itu, sekaran tampaklah belahan kemaluan Inah terpampang jelas di depan matanya. Karno segera mengarahkan mulutnya, lidahnya dengan aktif menjilati kemaluan Inah. Badan Inah seperti kena setrum ribuan watt, meliuk-liuk ke kanan-kiri, tangan Inah semakin menekan kepala Karno yang tengah asyik melakukan oral sex.
“Kanggg…. aakkku juga pinggin…. ngemutt miiilikk muuu…” kata Inah disela-sela kenikmatan.
Tanpa komando Karno segera memutar badanya, posisi kemaluan Karno kini tapat pada mulut mungil Inah. Dengan segera Inah melahap apa yang ada dihadapannya. Sedotan mulut pada kemaluan Karno membuat si empunya semakin menahan nafas. Kegiatan ‘69’ yang mereka lakukan terasa semakin gila, saling sedot dan saling kulum membuat keduanya semakin kesetanan.
“Kangg…. akkuu… sudaah nggaaak tahannn….. mmmassuukkiin yaa kanggg..!” kata Inah setelah melepaskan batang kemaluan Karno dari mulutnya.
Karno segera mengatur posisi, paha Inah dikangkangkan sedimikian rupa hingga terbukalah kemaluan gadis kecil itu. Tampak lubang kemaluan yang memerah dan basah. Karno bersiap untuk memasukkan kemaluannya pada vagina Inah, digesek-gesekkan kepala kemaluan itu pada bibir vagina Inah. Ketika sudah menemukan lubang, perlahan ditekannya kemaluan dengan perlahan.
“Peelllannn…. kangg…..” rintih Inah ketika ia merasakan benda tumpul itu memasuki vaginanya.
“Oaaghhh…..” Inah menjerit kecil, dipelunya dengan ketat tubuh Karno ketika batang kemaluan itu melesak jauh ke dalam vaginanya.
“Hhgggghh……” Inah mengigit pundak Karno ketika batang kemaluan yang ereksi itu perlahan ditarik keluar dari vaginanya, darah segar meleleh disela-sela kemaluan Inah dan juga membasahi batang kemaluan Karno. Hilang sudah mahkota gadis desa itu.
Sekarang dengan perlahan Karno mulai melakukan gerakan maju-mundur memasukkan batang kemaluannya. Inah masih merasakan perih pada vaginanya, ia hanya dapat menahan rasa perih disela-sela kenikmatan. Tetapi ketika Inah menggoyangkan pantatnya, rasa perih itu berangsur-angsur hilang berganti dengan rasa geli dan nikmat. Disela-sela keluar masuknya kemaluan, Karno kembali melakukan aktivitas mulut pada payudara Inah. Inahpun semakin merasakan kenikmatan, baik vagina maupun payudaranya semakin gatal saja. Berdua berpacu dalam nafsu, semakin cepat Karno menggerakkan kemaluannya demikian juga goyangan pantat Inah tak mau ketinggalan.
Di balik ribunnya semak di pinggir kali, menjadi saksi hubungan sexual antara dua anak manusia berlainan jenis. Mereka terus meningkatkan kecepatan dan aktivitasnya.
“Aahhhggg…. kkaangg….. akkku…..kkeelluuaarr….kaanngg….!” Tubuh Inah mengejang beberapa kali, dipeluknya Karno dengan kuat. Inah mendapatkan orgasmenya dengan hebat. Tetapi Karno masih kuat, ia belum merasakan adanya tanda-tanda akan ejakulasi. Goyangan semakin ditingkatkan, Inah yang sudah lemas hanya bisa diam, ia hanya mampu mendengar nafas Karno yang ngos-ngosan. Tetapi hal itu terjadi tak begitu lama, Inah kembali merasakan gesekan kemaluan Karno pada vaginanya membuat nafsu gadis desa ini mulai bangkit kembali.
“Ayyyoo…. kangg….. teruuuss…. Oohhh….. ennnakkk kanggg…..!” kata Inah sambil menekan tangannya pada pantat Karno.
Seperti mendapatkan semangat baru, Karno tanpa henti menggenjotkan batang kemaluannya. Inah kembali menggoyangkan pantatnya. tiba-tiba Karno menghentikan gerakkannya dan tubuh itu ambruk dalam pelukan Inah.
“Capek kang…..” bisik Inah.
“He-eh….” hanya itu suara yang keluar dari mulut Karno di sela nafas yang ngos-ngosan.
“Gantian kang…. biar Inah yang di atas…”
“He-eh….”
Karno melepaskan batang kemaluan dari vagina Inah. Sekarang mereka berganti posisi, Karno membaringkan badannya, tampak batang kemaluan itu mengacung tegang. Dengan perlahan Inah mula merangkak di atas tubuh Karno. Perlahan digenggamnya batang kemaluan itu, dituntunnya memasuki vagina. Setelah dirasakan tepat pada lubang, Inah dengan lembut perlahan menurunkan pantatnya.

“Aaggghh…….” Inah menjerit kecil dan menahan nafasnya seiring dengan melesaknya batang kemaluan Karno ke dalam vaginanya.
Giliran Inah yang aktif menggerakkan pantatnya naik turun, sesekali diputarnya pantat itu. Karno merasakan sensasi lain, kemaluannya serasa dipilin-pilin oleh vagina Inah. Dengan leluasa tangan Karno meremasi kedua bukit kembar montok berputing merah jambu itu.

Inah yang berada di atas tubuh Karno semakin menikmati apa yang dirasakannya. Ia dapat mengendalikan arah mana yang membuatnya merasa nikmat. Baik gesekan kemaluan pada vaginanya maupun remasan lembut pada payudaranya membuat Inah semakin kelimpungan. Tak lama kemudian Inah merasakan desakan hebat melanda tubuhnya. Dilentingkan tubuh gadis desa itu ke belakang, dibenamkannya pantat dalam-dalam hingga ujung kemaluan Karno menyentuh dasar vaginanya, dipegangnya tangan kekar Karno untuk meremas payudaranya dengan kuat. Desakan orgasme tak tertahankan.
“Oouuggghhh…… Aaghhhh…!” jeritan kenikmatan keluar dari mulut mungil Inah.
“Ayo…. Nah… turunnn….” perintah Karno sambil mendorong tubuh Inah untuk segera turun dari tubuhnya.
Dengan cekatan tangan Karno mengocok batang kemaluannya.
“Aku…. maauu keeeluuaar… Nah…..!”
Pengalaman Inah dengan lik Ali membuatnya tidak tinggal diam. Segera disingkirkan tangan Karno yang sedang berkativitas itu. Dengan segera mulut Inah kembali melakukan oral sex. Sedotan mulut mungilnya serta kocokan lembut tangan Inah pada batang kemaluan Karno semakin dipercepat, hal ini membuat Karno semakin tak dapat menahan desakan dari dalam tubuhnya.
“Oougghhh……… Hhhgggghhh…….” tubuh Karno mengejang seiring dengan keluarnya sperma dari ujung kemaluannya.
Inah tidak mengira jika orgasme Karno akan berlangsung cepat, Inah tidak sempat melepaskan mulutnya hingga sperma yang keluar itu masuk dan tertelan olehnya, rasa asin dan gurih sperma dirasakannya untuk pertama kali.
Setelah semuanya mereda, dengan lembut Karno memeluk dan mengecup pipi Inah.
“Terima kasih Nah….”
“Iya kang…. Inah juga seneng……”
“Kamu tidak nyesel, Nah…?”
“Ah… kang Karno…. Inah rela kang….” senyum manis tersungging, kini giliran Inah mengecup pipi Karno.
Dua anak manusia yang berlainan jenis itu diselimuti rasa bahagia, tetapi mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang tengah memperhatikan kegiatan mereka di dalam rimbunnya semak.

Malam ini kembali acara pemutara film di lapangan desa diadakan. Dengan antusias Inah beserta teman-temannya merencanakan untuk nonton.
Senja sudah bergulir berganti malam pekat menyelimuti desa, dengan membawa senter Inah berjalan beriringan dengan beberapa gadis. Seperti biasa mereka berjalan menyusuri kebun dan landang untuk segera sampai ke lapangan desa.
Film yang diputar kali ini tidak jauh berbeda dengan film-film sebelumnya, film ‘panas’ ala Indonesia yang terlalu menonjolkan paha dan dada itu dinikmati betul oleh Inah. Dia selalu membayangkan adegan film itu dengan dirinya sendiri, mau tak mau nafsu birahi mulai merasuki dirinya. Kemaluannya mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalam, payudara serasa membesar dan putingnyapun mengeras.
“Hai… nonton apa ngelamun…?” sapa Karjo
“Ohh… kamu Jo….” jawab inah malu, untung keadaan sekitar gelap tanpa lampu, coba kalau terang pasti wajah Inah yang memerah akan tampak terlihat oleh Karjo.
“Boleh aku duduk di sampingmu, Nah…?”
“Silahkan Jo….”
Kembali mereka tenggelam dalam keasyikan menonton film yang semakin seru. Adegan ciuman tampak di hadapan mereka, terus berlanjut hingga adegan ranjang. Walaupun telah disensor, adegan tersebut sangat mempengaruhi penontonnya tak terkecuali Inah dan Karjo yang duduk di sampingnya. Karena sudah sejak tadi nafsu birahi telah mengusai Inah, adegan kali inipun semakin membuatnya tak sadar untuk meraba-raba kemaluannya. Karjo yang duduk di samping Inah sudah memperhatikan tingkah laku gadis ini, mau tak mau iapun mulai terangsang. Penisnya menegang, nafsu birahipun semakin menguasainya.
Karjo memberanikan diri memeluk Inah yang tengah asyik menikmati rabaan tangannya. Tak hanya memeluk, tangan Karjo mulai turun dan memegang payudara montok Inah. Inah hanya terdiam dan memejamkan matanya. Karjo semakin berani, kini remasan lembut pada payudara Inah semakin membuat Inah terangsang. Dengan sengaja Inah melepaskan dua kancing bajunya, hal ini dilakukan agar tangan Karjo lebih leluasa masuk menerobos BH dan menemukan gumpalan payudaranya. Remasan serta rabaan lembut pada puting payudara, membuat Inah semakin bernafsu, gosokkan tangan yang tadinya berada pada permukaan kemaluannya kini berlalih pada tonjolan celana Karjo yang ada di sampingnya. Inah menemukan penis Karjo yang sudah ereksi di balik celana panjangnya. Tangan Inahpun tidak tinggal diam, dia meremas-remas dengan lembut batang kemaluan yang sudah tegang itu. Kegelapan malam membuat kegiatan mereka tidak diketahui orang lain, apa lagi jarak antara satu dengan yang lainnya agak berjauhan. Film tidak lagi mereka tonton, kegiatan meremas menjadikan mereka asyik menikmati desiran dan rangsangan pada tubuh mereka.
Semakin tak tahan, Karjo membuka resluiting celananya dan menuntun tangan Inah masuk ke dalam celana dalamnya. Inahpun menemukan batang kemaluan Karjo yang sudah tegang itu. Tetapi segera pikiran Inah melayang membandingkan antara kemaluan lik Ali dan Karno. Dibandingkan dengan mereka kemaluan Karjo tergolong kecil dan tidak begitu tegang. Namun karena nafsu sudah di ubun-ubun tangan Inahpun melakukan remasan dan urutan lembut pada kemaluan Karjo. Sekarang giliran Karjo yang melepaskan tangannya dari payudara montok Inah. Perlahan tangan itu menyusup menerobos dibalik rok yang dikenakan Inah. Dengan sedikit gerakan, tangan Karjo menyibak celana dalam Inah dan menemukan gundukan daging berambut tipis sang gadis. Jari-jari Karjo mulai beraksi pada tonjolan kecil disela-sela belahan kemaluan itu, digosoknya perlahan hingga membuat Inah semakin kuat menggenggam kemaluan Karjo. Kegiatan semakin meningkat, nafsu birahi telah membutakan mereka.
“Nah… aku pingin……” bisik Karjo
“Jjaangann… ddii ssinnii Jooo” balas Inah dengan berbisik pula.
“Ayyooolah Nahh….” Karjo sedikit memaksa.
“Nggak aahhh… diginiin saajjaa…..”
Tiba-tiba saja Karjo menghentikan kegiatan pada kemaluan Inah dan dengan sedikit kasar iapun melepaskan tangan Inah dari kemaluannya.
“Kok berhenti, Jo…?” tanya Inah penasaran
“Kalau kamu nggak mau ya sudah….” kata Karjo cuek.
“Dikocok saja kan sudah enak Jo…”
“Kalau sekedar itu aku sudah sering melakukannya…. aku ingin kemaluanku ini masuk ke dalam kemaluanmu…. aku ingin berhubungan sex dengan mu, Nah….!” bisik Karjo dengan ketus.
“Ah…. kamu jo….. aku takut….”
“Kalau kamu nggak mau….. aku akan bongkar rahasia yang sudah lama ku pendam….. aku tahu kalau kamu dan Karno pernah melakukannya di semak-semak pinggir kali…. ya tho…?”
“Ha….” Inah terkejut bukan kepalang, dia mengira waktu itu hanya ada dia dan kang Karno saja.
“Ayolah Nah…. beri aku seperti Karno….. kalau kamu nggak ingin rahasia ini beredar di mana-mana…” kata Karjo sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Inah sendiri.
Inah hanya terdiam, pikirannya bekerja dengan keras….. di satu pihak dia sudah terangsang dengan apa yang dilakukan Karjo, di lain pihak dia tidak ingin rahasianya dibongkar. Hanya ada satu jawaban, Inah harus melayani Karjo seperti ia melakukan hubungan sex dengan kang Karno. Inahpun berdiri dan berjalan menghapiri Karjo yang sudah duduk jauh darinya.
“Baiklah Jo…. akan aku layani kamu…. tapi janji ya… jangan bocorkan rahasia ini….” bisik Inah
“Nah… begitu dong…..” kata Karjo sambil tersenyum.
“Kalau begitu, kamu jalan duluan ya….. tunggu aku di gubug ladang Pak Marto….” perintah Inah pada Karjo
“Oke… aku tunggu di sana….. awas kalau nggak dateng….” Karjo mengancam sambil berlalu menginggalkan Inah.
Demikianlah, akhirnya Inah harus melayani nafsu birahi Karjo di gubug Pak Marto. Dari mulut ke mulut berita cepat menyebar di kalangan para pemuda desa. Sekarang Inah terkenal dengan sebutan “Piala Bergilir”
Itulah sekelumit kisah dari Inah sewaktu muda dulu, tak heran memang pembantuku ini terlihat masih sexy dan kemayu.

Acara memijat terus berlanjut, karena badan ini merasakan mantapnya pijatan Inah tidak terasa akupun tertidur dengan pulasnya. Entah kapan Inah mengakhiri pijatannya, karena sewaktu aku terbangun hari telah sore dan ia sudah tidak berada di tempat dan tubuh telanjangkupun hanya berselimut kain. Akupun bergegas mandi, dengan air hangat tubuh ini semakin segar saja rasanya.

*****

Sore itu, sepulang dari kantor, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Super Market. Belanja kebutuhan sehari-hari, buah, sayur dan lainnya serta beberapa jenis kosmetik yang aku butuhkan. Setelah usai membayar belanjaan, bersama dengan seorang porter aku segera menuju ke tempat parkir. Dengan sigap dan cekatan poter muda itu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil. Entah apa yang membuat aku selalu memperhatikan bagian depan celana si porter muda ini. Terlihat tonjolan yang menggembung di balik celana ketatnya. Pikiranku semakin ngeres, desiran halus merambati tubuhku. Sebegitu besarkah ‘barang’ parter muda ini ? kataku dalam hati. Entah dia sadar atau tidak perhatianku tetap tertuju pada tonjolan itu. Semakin lama aku tidak dapat menahan gejolak ini. Aku merasakan cairan vagina mulai membasahi celana dalam. Pikiranku sudah tertutupi oleh nafsu birahi yang semakin menguat, sehingga ketika poter muda itu meminta tips karena tugasnya sudah selesai. Aku kaget dan tersipu malu.
Dalam perjalanan pulang, nafsu sudah di ujung kepala. Aku semakin tidak dapat menahannya, dengan segera aku tepikan mobil ke tempat yang agak gelap. Segera rok mini kuangkat dan celana dalam yang sudah basah aku turunkan hingga tumit. Tangan dan jariku segera melakukan gesekan pada clitoris. Tak hanya itu, jari tengah mulai ku masukkan ke dalam lubang vagina dan menyentuh G-Spot. Seperti mendapat sengatan listrik, tubuhku mengelinjang. Dengan irama ritmis aku menggosok-gosokkan jari tengah pada G-Spot. Sesnsasi yang luar biasa, nafasku mulai tidak teratur menahan gejolak nafsu yang semakin meninggi. Semakin lama semakin cepat kocokan jari tengah pada vagina, hal ini dikarenakan orgasmeku juga sudah semakin dekat. Akhirnya tubuhku serasa membumbung dan terjatuh dengan cepat. Orgasme itu datang, kenikmatan tiada tara aku dapatkan. Badan terasa lemas seperti tanpa tulang. Aku sandarkan badan ini pada kursi mobil. Dengan mata terpejam aku nikmati sisa-sisa orgasme yag baru saja aku dapatkan.
Setelah semua normal kembali, aku melepas celana dalam dan aku gunakan untuk membersihkan cairan vagina yang meleleh. Aku lihat celana dalam itu basah oleh cairan vagina yang keluar bersamaan dengan orgasmeku, dengan begitu saja aku lempar celana dalam itu ke jog sebelah kiri. Setelah aku merapikan rok mini, ku starter mobil dan kembali berjalan untuk pulang ke rumah. Perasaan ini menjadi lega setelah aku mendapatkan kenikmatan bermasturbasi. Memang gairahku sangat besar, dan sering muncul dengan tiba-tiba sehingga untuk menuntaskannya aku harus melakukan masturbasi. Jeleknya, nafsu itu sering muncul di tempat umum, kalau sudah begitu hanya dalam mobil pribadi aku menuntaskannya. Untuk itulah kaca mobil ini aku bikin gelap, sehingga orang yang berada di luar tidak dapat melihat apa yang aku lakukan.

Sesampai di rumah, aku bergegas masuk dengan tujuan utama adalah kamar mandi. Karena tergesa-gesa, aku tidak melihat Harso yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Kami berdua bertabrakan, karena badanku lebih besar Harsolah yang terdorong ke belakang sehingga kepalanya sempat terbentur dinding.
“Oh, maaf…. Har…..”
Harso hanya meringis sambil memegangi kepalanya.
Aku segera masuk kamar mandi dan menutup pintunya. Setelah beberapa saat aku teringat dengan belanjaan dan tas kerjaku yang masih berada di dalam mobil.
“Harso… tolong belanjaan dan tas ibu dimasukin ya….” teriaku dari dalam kamar mandi.
“Ya Bu…”

Aku bersihkan kemaluan dari sisa-sisa cairan vagina yang lengket, baru aku sdari kalau aku dari tadi tidak memakai celana dalam. Berati celana dalam itu masih berada di dalam mobil. Setelah bersih aku keluar dan ku lihat Harso belum juga masuk. Belanjaan juga belum ada di dapur, di atas meja kerja juga tidak terlihat tas-ku. Dengan penuh penasaran aku mencoba mengintip ke ruang garasi dimana mobil ku parkirkan.
Aku kaget sekali ketika melihat Harso masih berada di dalam mobil. Karena pintu samping mobil terbuka, aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan anak pembantuku itu. Dengan mata terpejam Harso menciumi celana dalam ku yang tadi kupakai dan dalam keadaan basah oleh cairan vagina. Tidak hanya itu, tangan kanan Harso menyusup kedalam dengan gerakan naik turun. Terlihat tonjolan penisnya tercetak jelas, Harso melakukan onani di dalam mobil sambil menciumi celana dalamku. Melihat Harso melakukan onani nafsuku kembali bergolak, dengan sengaja aku membiarkan putra pembantuku itu melakukan onani dan akupun mulai meraba-raba kemaluanku sendiri. Akhirnya aku jadi tidak tahan. Aku berjalan mendekati Harso yang tengah menikmati onaninya.
“Kok lama sekali……” kataku mengejutkannya.
“Oh… maaf bu….” kata Harso malu.
“Tanggung ya….” kataku menggoda
“Ah.. ibu…”
“Kamu pingin seperti yang kemarin ?”
Harso hanya mengangguk.
Segera aku masuk ke dalam mobil. Pintu mobil ku tutup rapat. Wajah Harso sudah tidak seperti dulu lagi, rasa takut tidak tampak pada wajahnya yang lugu, bahkan sekarang dia sendiri yang melepaskan celana pendek beserta celana dalamnya. Terlihat kemaluan yang sudah ereksi penuh mengacung ke udara. Aku tak sabar, segera mulut ini mengarah ke kemaluannya. Sekali lahap habislah batang kemaluan Harso. Sedotan demi sedotan membuat tubuh Harso kecil menggeliat kesana kemari. Kedua tangan Harso memegangi kepalaku sambil mendorong dan menariknya seiring dengan keluar masuknya penis dalam mulutku.
Seperti mendapatkan semangat baru, irama semakin ku percepat ketika aku rasakan denyutan penis Harso semakin kuat. Tidak hanya dengan mulut, tanganku dengan cekatan mengocok penisnya kuat-kuat dan akhirnya keluarlah sperma dari ujung penis dengan semprotan kuat masuk ke dalam mulutku. Aku menelan semua sperma yang keluar dari penis dan dengan sedotan kuat aku habiskan sperma itu hingga tak bersisa.
Sekarang giliranku bersandar pada kursi mobil. Hanya dengan mengangkat rok miniku tamopaklah kemaluanku. Aku sudah tidak memakai celana dalam sedari tadi waktu bermasturbasi di jalan. Kini giliran mulut Harso menyerbu kemaluanku. Jilatan lidah pada clitoris membuat aku kelimpungan, terkadang lidah itu ditusukkan jauh ke dalam lubang vagina sehingga tubuhku seperti melambung tinggi menahan rangsangan hebat ini. Harso sudah semakin pandai, gigitan kecil pada clitorisku juga sangat mengejutkan ditambah dengan sodokan dua jari tangan Harso yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku. Tubuhku tersentak, nafasku menderu tak menentu, kepala bergeleng kesana sini menahan rangsangan yang diberikan Harso. Kocokan jari semakin cepat dan ditambah sedotan kuat pada clitoris membuat orgasmeku semakin dekat. Kucoba untuk menahannya tetapi desakan begitu kuat sehingga jebollah .
“Hgg…. aahhhhh……..” aku berteriak kecil sambil menekan kepala Harso dengan kuat pada kemaluanku.
Tubuhku meregang, mata tepejam rapat, aku gigit bibirku menahan kenikmatan yang luar biasa ini, dan akhirnya aku tersandar lemas di jog mobilku. Harso kembali duduk di sampingku, aku terdiam menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja aku dapatkan. Belum lama aku menikmatinya, tiba-tiba Harso dengan lembut meraih tanganku dan diarahkannya pada penisnya. Wow… anak muda ini benar-benar hebat, aku rasakan penis itu sudah membengkak lagi. Aku tersenyum memandangnya, dengan lembut aku meremas-remasnya.
“Kamu pingin lagi ya….? Tanyaku sambil tersenyum
“Iya bu… Harso pingin penis ini masuk ke kemaluan ibu…” katanya sambil menunduk
Oh… sebuah kejutan lagi…..
Aku tidak mengira kalau Harsolah yang mempunyai inisiatif ini, padahal sudah lama aku yang menginginkan tetapi masih diliputi rasa takut. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, dengan segera sandaran jog mobil aku turunkan sehingga posisi tubuhku terlentang dengan bebas. Aku tuntun anak SMP ini naik ke atas tubuhku. Dengan posisi kaki aku kangkangkan dan penis itu aku arahkan tepat ke dalam lubang vagina yang memang sudah menuntut untuk segera dimasuki penis tegang.
Kali ini aku melihat wajah Harso yang tegang, aku hanya tersenyum menatapnya. Sepertinya anak muda ini sudah tidak mampu menahan emosinya, dengan segera ia melesakkan batang penisnya. Kembali aku tersenyum, penis itu meleset dari sasarannya.
“Tenang…. perlahan …. jangan tergesa-gesa…..” kataku pada Harso.
“Iya…bu….”
kembali aku genggam kemaluan itu, aku arahkan ke dalam lubang vagina dan ku tuntunn memasukinya.
“OK… masukkan perlahan….” komandoku
Harsopun menuruti apa yang aku perintahkan, secara perlahan penisnya mulai masuk ke dalam vaginaku. Perlahan tapi pasti akhirnya masuklah semua hingga ke dasar lubang vagina. Akupun merasakan tubuhku bergetar jebat ketika penis itu masuk. Inilah penis kedua setelah penis suamiku yang telah menerobos lubang vaginaku.
Sepetinya hubungan sex adalah naluriahseorang manusia, kini tanpa dikomando lagi Harso mulai menarik separoh dari penisnya dan menghujamkan kembali ke lubang vagina. Terus… terus…. dan terus…..
Goyangan pinggulku mengimbangi gerakan naik turun pantat Harso. Irama yang ritmis ini membuat nafsuku semakin meningkat, gesekan penis pada dinding vagina serta rambut kemaluan Harso yang menyapu dan menggesek clitorisku membuat aku tidak dapat menahan lagi orgasme-ku.
“Hmmm… aayyoo….. Hhharr… lllebihh cceeppatt…lagii….. iibuuu ssuuddaah tidak… tttaaahaann…. aahhhhh”
Harso semakin mempercepat gerakkannya, goyangan pinggulku juga ku percepat.
“Aaahhhggg….. Oouugghhh……”
Orgasme datang dengan hebatnya, hingga tanpa ku sadari aku merapatkan kaki sehingga penis Harso terjepit olehnya. Aku mendekap erat tubuh anak pembantuku ketika orgasme itu datang.
Tetapi penis si Harso muda masih saja melakukan gerakan maju mundur menusuk lubang vaginaku yang sudah banjir, oh… ternyata ia belum mengalami ejakulasi… kuat juga anak ini .
“Ayyoo… teruss….. sshhhh” aku memberi semangat kepadanya disela-sela lemasnya tubuh setelah orgasme.
Mendengar itu Harso semakin tambah semangat dalam melakukan hubungan sex terlarang ini. Terbukti dengan semakin cepatnya dia menusukkan penisnya pada vaginaku. Akupun kembali mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku.
Tak terasa aku kembali mendapatkan rangsangan, semangat anak muda ini membuat gairahku terbakar.
Dengan sedikit kelelahan, gerakan Harso mulai melemah. Tetapi jangan salah, tusukan penisnya malah semakin keras dan sedikit kasar. Hal ini membuat aku semakin kelimpungan, tusukan yang keras itu membuat penis Harso masuk secara penuh ke dalam lubang vagina sehingga menyentuh dasarnya.
“Hhhggg…. hhhggghhh” hanya itu suara yang keluar dari mulutku ketika penis Harso menghujam keras
Tubuhku menegang ketika tusukkan itu mengenai dasar vagina, belum pernah aku mengalami peristiwa seperti ini. Tusukan yang keras membuat aku semakin dekat dengan orgasme demikian juga dengan Harso. Aku merasakan penisnya berdenyut semakin cepat dalam himpitan vagina.
Benar juga, tak berapa lama tubuhku menegang, aku kembali mengalami orgasme yang lebih hebat dari yang pertama dan kemudian Harso menyusulnya. Pancaran sprema terasa hangat dalam vaginaku. Tubuh Harso ambruk lemas dalam dekapanku, kami berdua sama-sama lemas, nafas kamipun ngos-ngosan seperti habis berlari jauh.
Aku ciumi kening anak muda ini sebagai ucapan terima kasih. Harsolah yang telah membuat aku mengalami multi orgasme, dialah yang pada hari ini telah memberiku pengalaman baru dalam berhubungan sex. Hari ini penuh kejutan…. itu intinya.
Setelah semuanya usai, dengan perlahan Harso mencabut penisnya, desiran halus ku rasakan ketika penis yang mulai lemas itu keluar dari lubang vagina.
Tampak cairan sprema membasahi penis Harso, dan dari dalam lubang kemaluan aku rasakan ada lelehan sperma yang keluar. Aku ambil celana dalamku yang tergeletak di atas dashboard, kuseka lubang kemaluanku hingga bersih dari sperma, setelah itu giliran penis Harso aku seka hingga bersih.
Kami keluar dari mobil, sekali lagi dengan senyuman manis aku mengucapkan terima kasih kepada anak muda yang telah membuat aku mengalami multi orgasme.
Bersama-sama kami masuk sambil membawa barang belanjaan dan tas kantor.
“Bu… boleh Harso menyimpan celana dalam ini” kata Harso sambil menunjukkan celana dalamku yang sudah basah oleh cairan vagina dan sperma. “Harso ingin ini menjadi kenangan…”
“Kenangan untuk apa….” jawabku penasaran
“Hari ini perjaka Harso telah Harso persembahkan untuk ibu….. Harso selalu membayangkan bersetubuh dengan ibu ketika onani…. dan hari ini semuanya telah menjadi kenyataan……”
“Oohhh….. ya sudah…. tapi simpan rapat-rapat rahasia ini … jangan sampai Mak-mu tahu…ya….” kataku sambil mengelus rambutnya dan kecupan lembut mendarat di keningnya.

Pengalaman pertama berhubungan sex dengan orang lain membuat aku jadi lebih berani untuk berpetualang. Sekarang secara rutin Harso melayaniku seminggu dua kali. Di luar itu masturbasi tetap saja aku lakukan ketika tiba-tiba nafsu membelenggu..

TAMAT

Budhe Lilis

Bulan Desember ini aku dapat jatah cuti tahunan. Kesempatan baik untuk pulang kampung jumpa keluarga di Solo. Karena hanya kesempatan cuti tahunan aku dapat pulang, karena Lebaran kena piket maklum pekerjaanku melayani masyarakat jadinya nggak libur.

Dengan kereta api Argo Lawu, aku berangkat menuju Solo. Hari mulai senja ketika kereta melaju meninggalkan stasiun.
Karena bukan liburan, penumpang kereta tidak padat. Hanya beberapa orang yang ada di gerbong ini. Tepat di sampingku duduk seorang wanita setengah baya. Dengan mengenakan terusan panjang berwarna merah, rambut tergelung rapi, berkaca mata tipis, menampakkan ciri seorang ibu yang lemah lembut. Senyum selalu tersungging manis menghiasi bibirnya.
Untuk mencairkan suasana aku mulai membuka pembicaraan dengan memperkenalkan diriku
“Maaf bu, kenalkan… saya Andi” sambil ku ulurkan tangan, ibu itu menyambut dan memperkenalkan dirinya
“Lilis…” jawabnya singkat
“Ibu juga mau ke Solo ya…?”
“He-eh…. barusan nengok keponakan di Bandung”
“Oh…”
“Adik sendiri mau ke Solo juga… ?”
“Iya bu….. cuti tahunan….”

Pembicaraan untuk mengisi kekosongan mulai mengalir mencairkan suasana. Menurutku ibu Lilis adalah orang yang enak untuk diajak bicara walaupun kami baru saja kenal. Tidak ceriwis, tertawapun seakan ditahan, bicara dengan lemah lembut ciri khas wanita Solo. Di usia 43 tahun guratan wajah tidak menampakkan ketuaannya, juga bentuk tubuh yang masih kencang meskipun tidak terlalu me**njol.

Malam kian larut, lampu penerangan di gerbong kami mulai dipadamkan. Aku mempersilakan ibu Lilis untuk istirahat setelah bantal dan selimut aku serahkan. Karena capai akupun mulai merasakan kantuk. Dan kulihat ibu Lilis sudah terlelap dengan nafas teratur lembut.
Waktu menunjukkan pukul 01.10, udara AC semakin dingin mengigit tulang. Ku lihat ibu Lilis merasa gelisah dan berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Dik Andi….. Dik……”
“Ya bu….”
“Maaf….. tolong AC-nya dikecilin…. ibu kedinginan”
aku berdiri dan berusaha mengecilkan AC, tetapi kisi-kisi anginnya macet jadi percuma.
“Kisinya macet bu… maaf tidak bisa dikecilin”
“Walah… kalau begini pasti pinginnya pipis terus…”
Ibupun kembali menarik selimut menutupi tubuhnya dan kembali bersandar pada bantal.
Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba ibu Lilis kembali terbangun.
“Dik Andi…. tolong anterin ibu ke kamar mandi… pingin pipis….. ibu takut pergi sendiri” katanya sambil memgangi perutnya.
“Kebetulan bu…. Andi juga pingin pipis….”
Akupun segera berdiri untuk memberi jalan kepadanya. Berdua kami menuju ke kamar mandi di belakang gerbong. Terasa sepi, karena para penumpang sudah tertidur dibuai mimpi.
“Silahkan ibu duluan…..”
“Maaf pintunya tak usah ditutup ya…..?” katanya pelan.
“Tidak usah takut bu…. kan ada Andi”
“Dik Andi jangan berdiri jauh-jauh…”
“Iya bu…” kata ku sambil membelakangi pintu kamar mandi sambil menahan pipis.
Beberapa saat terdengar desiran air. Wow lama juga ibu Lilis kencingnya, berarti sudah dari tadi beliau menahan pipisnya. Setelah itu terdengar suara air disiramkan.
“Silahkan dik Andi……”
“Sudah bu….. aku sudah nggak tahan…..” kataku tergesa masuk ke kamar mandi.
Dengan segera ku buka reslueting celana dan mengeluarkan kemaluanku untuk segera membuang air kemih yang sudah tak tertahankan. Setelah selesai aku mengguyur lantai kamar mandi dan membasuh ujung kemaluanku dari sisa-sisa air kencing. Tanpa kusadari bahwa di belakangku sepasang mata menatap dengan terkesima. Setelah selesai dan kemaluanku sudah berada pada tempatnya, akupun berbalik. Dan kulihat wajah bu Lilis merah padam menahan malu.
“Bu…..” sapaku mengejutkannya
“Oh… maaf….” katanya sambil menunduk
Kamipun berjalan kembali ke tempat duduk kami. Hening menyelimuti suasana, hanya suara roda kereta yang tak pernah diam.
“Maaf dik Andi…..” ibu Lilis membuka pembicaraan
“Ya bu…”
“Sekali lagi maaf…. apakah memang segitu ukuran kemaluan di Andi ?”
Aku kaget bukan kepalang mendapat pertanyaan ibu Lilis yang polos. Tidak kukira dibalik wajah keibuan ternyata tersimpan keliaran.
“Maksud ibu…. ?” aku balik bertanya
“Iya… ibu sempat lihat kemaluan di Andi waktu pipis tadi, apa ukurannya memang sudah segede itu….?”
“Oh…, maaf bu…. karena dari tadi menahan pipis jadinya Andi sempat ereksi sedikit….” jawabku malu, “Memangnya kenapa bu ?”
“Nggak, ibu kirain tidak sedang ereksi…. pikir ibu kalau tidak ereksi saja segitu gede apalagi kalau ereksi…..”
“Ah… ibu ada-ada saja…”
“Nggak usah malu dik Andi…. kita kan sudah sama-sama dewasa….. biasa sajalah”
“Iya bu….” jawabku singkat
Kembali kami terdiam dan ibu Lilis mempersiapkan diri untuk tidur. Ditariknya selimut menutupi seluruh badannya menahan dinginnya udara. Belum berapa lama ibu Lilis tertidur, kembali terbangun dan memohon kepadaku untuk menemaninya ke kamar mandi.
Seperti tadi, pintu kamar mandi sengaja tidak ditutup. Aku berdiri menunggu di depan pintu, tapi sekarang aku sengaja menghadap ke dalam kamar mandi dan menyaksikan semua kegiatan ibu Lilis. Dari mulai mengangkat rok panjangnya, menurunkan celana dalam, jongkok dan kemudian pipis. Terlihat mulusnya pantat ibu Lilis membuat kemaluanku ereksi.

“Sudah dik Andi… ibu sudah selesai… dik Andi mau pipis juga…. ?”
“Nggak bu…….”
“Wow… kemaluan dik Andi ereksi ya… ?” katanya sambil menatap ke arah kemaluanku.
“Iya bu… “ jawabku malu-malu “Habis lihat pantat mulus, peralatan yang satu ini langsung bereaksi…”
“Berarti dik Andi masih **rmal…. kalau tidak ereksi malah perlu dicurigai…..” katanya tersenyum.
Kembali ke tempat duduk, kami mulai memakai selimut kembali. Tiba-tiba tangan bu Lilis menyusup ke dalam selimutku dan meraba kemaluanku. Berani juga nih orang, sekali lagi di balik wajah keibuan dan kesopanannya terdapat sesuatu yang tidak terduga.
“Masih ereksi ya…..?” bisiknya
“Iya bu…. kalau belum dikeluarin pasti nggak mau turun…” jawabku.
“Mau ibu bantu…..?”
“Ah… nggak usah bu, nanti Andi keluarin sendiri saja…” jawabku sungkan walau sebenarnya ingin juga
“Wah… dik Andi sering onani juga ya…?”
“Sering sih tidak bu… tapi kalau pas ereksi begini apa boleh buat…. hanya itu jalan satu-satunya…”
“Betul dik Andi, ibu sering sekali tiba-tiba ‘kepingin’ sedang suami ibu sudah tidak mampu lagi ereksi, maklum beliau punya penyakit gula, ibupun melakukan masturbasi untuk menuntaskannya” wajahnya menerawang jauh.
“Ibu sering masturbasi juga ya…..”
“Hanya itu yang dapat ibu lakukan…..” jawab bu Lilis dengan nada sedih
“Maaf jika pertanyaan Andi membuat ibu sedih..”
“Nggak kok…. memang kenyataannya seperti itu….” jawab bu Lilis dengan sedikit senyum, ”Sana gih…. dikeluarin dulu… nanti perut dik Andi mules lho…”
“Ntar aja bu…. dari pada kelamaan onaninya… lagian Andi nggak bawa sabun….” jelasku
“Tuh kan…. mau pakai baby oil ?” kata bu Lilis. Dan diambilnya botol baby oil dari dalam tas tangannya, ”Pakai ini dik… biar kemaluannya nggak perih…”
“Terima kasih bu…..” jawabku sambil menerima baby oil dari tangan bu Lilis, ”Ibu berani duduk sendirian di sini…?”
“Iya ya…. kalau begitu ibu ikut ke belakang ya… ?” pintanya memelas.
“Maaf bu… daripada ibu harus berdiri nungguin Andi onani di kamar mandi, lebih baik Andi lakukan di sini saja……”
“Oh ya… begitu juga bagus… hasrat dik Andi tersalurkan….. dan ibu tidak ketakutan…”

Mendapat lampu hijau dari bu Lilis, akupun segera membuka ikat pinggang. Dengan sedikit menarik celana dalam aku keluarkan kemaluan yang sudah mengeras.
Baby oil aku tuangkan diatas telapak tangan kananku, dengan segera aku lumurkan ke seluruh permukaan kemaluanku. Di balik selimut tanganku mulai bekerja naik turun mengurut batang kemaluan.
Ku lihat ibu Lilis menyadandarkan kepalanya pada bantal di permukaan jendela kaca, seingga posisi wajahnya sedikit serong ke arahku. Sesekali mata ibu Lilis melirik ke arah tanganku yang sedang melakukan onani di balik selimut. Tampak tonjolan kemaluanku yang mengeras mencuat di balik selimut seiring dengan guncangan tangan. Nafasku mulai tidak teratur merasakan rangsangan itu.

Kuperhatikan juga bahwa bu Lilis mulai terangsang dengan apa yang dilihatnya. Terbukti dengan kegelisahan dan tarikan nafas panjang sesekali. Aku cuek saja dan tetap pada kegiatan onaniku.
Ditengah kesibukkanku beronani, tiba-tiba ibu Lilis bangkit berdiri dari duduknya, diangkat rok panjangnya dan dengan segera melepas celana dalam kemudian kebali duduk serta menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut. Ibu Lilis membuka paha lebar-lebar, tangan kanannya mulai aktif meraba kemaluan dan tangan kiri melalukan remasan pada payudara kecilnya.
Desahan nafas kami memburu, berdua kami berpacu dengan nafsu untuk mencapai puncak orgasme. Aku mulai merasakan denyutan-denyutan pada kemaluanku pertanda orgasmeku sudah semakin dekat. Bu Lilis pun semakin cepat menggosokkan tangannya pada kemaluannya.
“Ouughh… aagghhh…. !!!” sperma memancar dari kemaluanku sebagai puncak dari orgasme. Tak lama kemudian bu Lilis menggigit bantal menahan orgasme hebat yang melandanya,” Heeghhh… Eeehhhh…….”
Tubuhnya mengejang beberapa kali, dan diakhiri dengan lemasnya tubuh beliau. Dilepaskan bantal dari wajahnya, dengan mata terpejam dan nafas memburu ibu Lilis menikmati sisa-sisa orgasmenya.
Setelah semua selesai, kami membersihkan kemaluan masing-masing dengan tissue basah milik bu Lilis.

“Wuaduh…. lega rasanya dik….. ibu nggak tahan lihat dik Andi onani…. maklum baru kali ini lihat orang lain melakukan onani di depan ibu…..” bu Lilis tersenyum manis.
“Andi juga sudah plong… bu…”
Kamipun segera tertidur karena kelelahan setelah melakukan masturbasi.

Sesampai di stasiun Balapan Solo, kami berpisah. Tidak ada kata yang kami ucapkan, hanya salam perpisahan yang mengakhiri perjalanan kami ini. Dengan Taxi aku menuju ke rumah, dimana kedua orang tua dan adikku sudah menunggu.

Sudah dua hari aku berada di Kota Solo, aku sempatkan untuk rilex mengabaikan rutinitas yang membosankan di Bandung. Rasa kangen terhadap keluarga dan saudara sudah terhapuskan. Dan kini rasa kangenku untuk bertemu Pak Dhe Bekti sangat kuat, maklum kakak dari ayahku ini punya andil besar di dalam kehidupanku. Semenjak Budhe Bekti wafat aku belum bertemu lagi dengan beliau, hanya kabar dari ayah yang menyatakan jika pakdhe Bekti sakit-sakitan.

Sore ini aku minta ijin orang tuaku untuk berkunjung ke rumah pakdhe. Untuk mengobati rasa kangen aku berencana untuk bermalam di rumah beliau.
Dengan mengendarai sepeda motor milik adikku, kutempuh jalan Kota Solo yang mulai padat lalu-lintas.
Sesampai di rumah pakdhe waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, dan kudapati pintu rumah terkunci rapat. Karena sejak kecil aku sering bermain di rumah ini, jadi aku tahu betul dimana letak kamar pakdhe. Lewat samping rumah aku langsung menuju ke belakang rumah dimana kamar beliau berada. Dari jendela yang terbuka aku melihat kamar itu kosong. Aku teruskan langkah menuju ke belakang ke arah dapur. Terlihat pintu dapur juga tertutup rapat, tetapi samar-samar kudengar suara lirih desahan nafas. Kurapatkan telingaku pada pintu dapur. Semakin jelas terdengar desahan nafas wanita yang sedang dilanda nafsu birahi. Semakin lama terdengar semakin menggairahkan.
“Yemm…. terusss… yemmm…. oougghhh….” jelas sekali wanita ini mengalami sensasi yang luar biasa,”Liiidaahmu… tteerruss… jjaarriiimmuuu …..Ohhh
Ya… diii siituuu Yemmm… terruss… hhgghh… eennak …. Yeemmm” suara desahan semakin hebat, ”Cepattt… Yemm… ceeepaatt…. aakku… keellll…. oouugghh…. aahhhh”.
Wow jeritan kecil menandai orgasmenya, terdengar nafas yang ngos-ngosan tidak teratur.
“Ttteerima kasih Yem….. kamu semakin pinter” entah suara siapa, aku sendiri masih penasaran.
“Iya ndoro…” jawab wanita yang lain, yang ini jelas pembantu rumah tangga di rumah pakdhe.

Dengan segera aku meninggalkan bagian belakang rumah, kembali ke pintu depan.

“Nuwun…. kulo nuwun…..” dengan sedikit teriak dan ketukan pintu agak keras, dengan harapan ada yang mendengar.
Tak lama terdengar anak kunci diputar dan terbukalah pintu utama. Ku lihat pakdhe Bekti tepat di depanku dengan wajah tegang dan badan berkeringat.
“Selamat sore pakdhe…” ucapku
“Hee kamu nDi… kapan datang dari Bandung….?” jawab pakdhe Bekti penuh semangat.
“Kemarin pagi dhe….”
“Ayo masuk….. wahh pakdhe kangen banget…. sudah lama kamu tidak kemari…..” dipeluknya tubuhku dengan erat sebagai tanda kasih dan kangennya.

Kami berdua memasuki ruang tamu yang luas, maklum rumah pakdhe Bekti termasuk rumah ku** sehingga ukuran ruangan serba luas.
“Duduk nDi…. waahhh sekarang kamu tambah cakep….”
“Ahhh pakdhe bisa saja….”
“Betul lho …. pakdhe tidak ngapusi….” katanya sambil tertawa lepas. Kami duduk berhadap-hadapan dibatasi meja tamu.
“Yem…. buatin kopi Yem…. ada tamu dari jauh nih…” teriak pakdhe.
“Ndak usah repot-repot dhe….” aku berbasa-basi.
Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita muda dari arah dapur membawa baki berisi kopi hangat dan sepiring pisang goreng.
“Trima kasih Yem…. kamu masih ingat ndak sama orang ini ?” kata pakdhe kepada wanita muda ini.
“Nyuwun sewu ndoro…. saya lupa….” jawabnya sambil terus memandangi wajahku.
“Weeh kamu ini, ingat ndak kamu waktu kecil mainnya sama siapa ?” pakdhe Bekti mencoba mengingatkan.
“Ohhh… mas Andi ya….? Iya…sekarang Iyem ingat….” katanya tersenyum lebar, ”Habis sekarang sudah berubah… jadi Iyem pangling…”
“Ini Iyem anak mak Sani pembantu pakdhe yang dulu…. kamu masih ingat kan nDi…..?”
“Iya dhe… Andi ingat….. Apa kabar Yem..?” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Baik Mas….” jawabnya menyambut uluran tanganku, kami bersalaman, “Silahkan mas…. Iyem ke belakang dulu….”
“Terima kasih Yem…”
Tidak kusangka Iyem yang dulu jadi teman mainku, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Tubuh semampai langsing, kulilt putih bersih. Pinggul yang montok terlihat jelas tertutup balutan kain batik, payudara besar kencang khas orang desa.
“Hei… nDi…. pakdhe masih di sini…!” suara pakdhe membuyarkan lamunanku, “Kalau mau kangen-kangenan sama Iyem nanti ada waktunya sendiri, sekarang waktunya ngobrol sama pakdhe….” kamipun tertawa.

Dalam pikiranku masih diselimuti rasa penasaran atas peristiwa desahan nafas di dapur tadi. Kalau Iyem sudah terjawab, terus siapa wanita yang satunya ya ? dan mengapa Iyem mau membantu melepaskan birahinya ?

Obrolan kami semakin seru, tetapi pikiranku masih saja penasaran dengan peristiwa itu.
“Oh ya .. pakdhe hampir lupa……. Bu…. Ibu…. sini bu… ini lho ada tamu dari Bandung…..”
Lho kok pakdhe memanggil ibu, berarti pakdhe sudah kawin lagi. Kok aku tidak dikabari. Misteri suara wanita di dapur tadi sedikit terkuak, berarti sang wanita adalah istri pakdhe Bekti alias budhe Bekti yang baru.

Dari arah kamar munculah sesosok wanita, alangkah terkejutnya aku…. wanita itu adalah ibu Lilis teman seperjalanan denganku dari Bandung, jadi ibu Lilis adalah istri pakdhe Bekti. Aku tak mengira jika kami bertemu lagi dengan suasana yang jauh berbeda.
Tak kalah terkejutnya ibu Lilis ketika melihat bahwa tamunya adalah aku yang **ta bene keponakan sendiri. Merah padam wajah dan rasa terkejutnya tidak dapat ditutupi. Pakdhe Bekti jelas tidak dapat menyaksikan perubahan wajah istrinya, karena beliau duduk membelakangi. Terlihat ibu Lilis mengatur nafas dan mulai berjalan dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Nah… ini nDi…. kenalkan, ini istri pakdhe…. namanya Lilis…. umur boleh muda tetapi pengabdiannya kepada pakdhe jangan ditanya…. ya ndak bu….?”
Aku berdiri, dengan sikap tenang aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
“Andi…..” kataku
“Lilis…..” jawabnya sedikit bergetar, “Silahkan duduk dik…!” katanya setelah kami berjabatan tangan.

Budhe Lilis (sekarang aku harus memanggilnya begitu), duduk di samping pakdhe. Dengan mesra pakdhe merangkul pundak istrinya. Budhe menundukkan wajahnya seolah-olah takut bertatap pandangan dengan ku. Aku memakluminya, peristiwa di atas kereta api pasti membuatnya merasa malu.
Obrolan berlanjut, tetapi kuperhatikan budhe cenderung diam dan tampak kaku menghadapi suasana ini. Lalu ia bangkit dan pamit mau ke belakang.
“Silahkan diteruskan ngobrolnya, saya pamit dulu….”
Dengan berlalunya budhe, kembali pakdhe dengan semangatnya bercerita. Ternyata setelah kematian budhe Bekti dan sakit yang dideritanya, pakdhe berinisiatif untuk kawin lagi dengan wanita yang mau merawatnya. Jika dilihat dari selisih umur antara pakdhe Bekti dan budhe Lilis terpaut cukup jauh. Tetapi pakdhe bangga dengan istri barunya ini, dengan sabar dan telaten ia merawat serta melayani pakdhe.

Aku ingat pada waktu di kereta api ibu Lilis pernah bercerita kalau suaminya impoten karena penyakit gula yang dideritanya. Sekarang aku tahu kalau pakdhe memang menderita sakit gula dan impoten, klop !
Berarti, misteri suara dan lenguhan di dapur tadi sudah terkuak jelas. Adegan merangsang itu bersumber pada budhe Lilis dan Iyem. Sekarang aku jadi maklum jika pelampiasan sex budhe Lilis yang masih muda ini harus dituntaskan baik dengan masturbasi (seperti cerita dan fakta di atas kereta api) ataupun dibantu oleh Iyem pembantu rumah tangganya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.20 WIB, berarti malam sudah mulai larut.
“Kamu nginep sini tho nDi ?” tanya pakdhe kepadaku
“Jika pakdhe mengijinkan…”
“Oh ya harus…. pakdhe masih kangen….je” kata beliau,”Bu….bune…. tolong siapin kamar buat Andi… dia mau nginep di sini….”
“Terima kasih pakdhe”

“Silahkan kalau kamu mau istirahat….. pakdhe juga sudah ngantuk….”
Kami berdiri dan pakdhe langsung menuju ke kamarnya. Aku berjalan menuju kamar tamu, ruangan yang sudah tidak asing bagiku. Ketika kubuka pintu kamar terlihat budhe Lilis masih berada di dalam sedang membenahi seprai.
“Tutup pintunya dik…!” katanya lirih,”Pakdhemu sudah masuk kamar…?”
“Sudah bu… barusan….” jawabku
“Tunggu sebentar, seprainya belum beres……” katanya membenahi seprai sambil membukukkan badan.
Pandanganku tertuju pada belahan daster longgarnya. Belahan payudara terbungkus BH tampak jelas di mataku. Sadar dipandangi seperti itu, budhe langsung menegakkan badannya.
“Hayo…. mata dik Andi nakal ya….” katanya sambil tersenyum.
“Habis daster budhe yang longgar sich….” kataku, “Budhe kelihatan pucat dan lemes, sakit ya dhe…? atau karena orgasme yang nikmat….?” tanyaku menggoda.
“Hei… tahu dari mana…?” katanya penasaran
“Tadi di dapur…. Andi sempat nguping……”
“Ohh…..” wajahnya memerah, “Untung ada Iyem…. coba kalau tidak ……” katanya menjelaskan
“Berarti tadi di-oral sama Iyem tho….?”
“Iya…..” jawabnya singkat, “Kalau kamu nginep di sini berarti kamu bisa bantuin budhe….”
“Bantuan apa nich…”
“Ya….. nggantiin si Iyem…” budhe mengerlingkan matanya sambil tersenyum nakal.
“Kalau pakdhe tahu…..?”
“Iya pinter-pinternya kita…… yang jelas sekarang beliau pasti sudah tertidur, kalau sudah bau bantal pasti langsung lelap”
Aku jadi penasaran, ternyata budhe Lilis binal juga. Tetapi aku memakluminya karena kondisi pakdhe yang tidak bisa ereksi. Sambil bebenah budhe Lilis menceritakan kalau sejak menikah empat tahun yang lalu dengan pakdhe Bekti mereka tidak pernah berhubungan badan. Memang budhe Lilis adalah seorang janda, tetapi nafsu sex pastilah masih menggebu namun pakdhe tidak bisa apa-apa.
“Aku sering kangen sama kemaluan laki-laki…… kalau sudah begitu jadi terangsang….. paling-paling masturbasi kalau tidak ya di-oral sama Iyem, pakdhe-mu tahu kok apa yang budhe lakukan. Sering budhe masturbasi di depan pakdhe-mu dan sering juga dia ikut bantuin….. kalau dengan Iyem, pakdhe hanya ngitip saja karena Iyem malu jika tahu ” Jelasnya panjang lebar, “waktu di kereta api sebenarnya pingin banget, tidak sekedar bermasturbasi. Tetapi keadaanya tidak memungkinkan”
Pantesan tadi sore wajah dan badan pakdhe berkeringat, ternyata habis ngintip istri dan pembantunya ‘begituan’.
“Andi tahu apa yang budhe rasakan……. Andi mau membantu budhe…. tapi tolong rahasiakan ini ya ?” budhe Lilis hanya mengangguk.
“Nanti malam jika semua sudah terlelap budhe tunggu dik Andi di kamar mandi belakang. Tahu tho tempatnya…. jangan kamar mandi dekat dapur ya…. nanti ketahuan Iyem….”
Memang, rumah besar ini punya dua kamar mandi. Satu dekat dapur dan yang satu berada di halaman belakang.
“Baiklah kalau begitu budhe permisi dulu… jangan lupa nanti malem ya…?” budhe beralu sambil tersenyum genit.

Malam terasa panjang dalam penantianku. Gara-gara budhe genit aku semakin gelisah menunggu. Tidur gelisah dan kesunyian malam serta suara jangkrik mengiringi kegelisahanku.

Saat ini pukul 01.04 dini hari, aku mendengar suara pintu kamar pakdhe dibuka dan ditutup lagi dengan perlahan. Aku bangun dari tempat tidurku, kukonsentrasikan pendengaranku. Sekarang giliran pintu dapur mengeluarkan suara. Inilah saat yang kunantikan sejak tadi.
Dengan perlahan pula aku membuka pintu kamarku, ku tengok kiri-kanan hanya kegelapan yang ada. Setelah aku merasakan suasana aman, aku menutup pintu dan melangkahkan kaki dengan perlahan menuju ke arah dapur. Pintu belakang tidak terkunci, berarti budhe Lilis sudah menungguku di kamar mandi belakang rumah.

Aku keluar dengan hati berdebar. Tak kusangka pertemuan kedua ini menjadikanku sebagai malaikat sekaligus setan dalam hidupku. Malaikat karena me**long budhe yang ‘kehausan’ dan sebagai setan karena menghianati pakdhe Bekti. Rasa kasihan terhadap kedua orang ini membuat langkahku sedikit bimbang. Biarlah yang terjadi terjadilah.

Kuamati keadaan sekitar, kegelapan menyelimuti malam ini, sinar bulan redup hanya kunang-kunang dan jangkrik yang menjadi saksinya.

Dari dalam kamar mandi yang hanya diterangi lampu 5 watt tampak sesosok bayangan. Aku langkahkan kaki mendekat.
“Eehemm…” kuberikan isyarat.
Dan tebukalah sedikit pintu kamar mandi, sebagai jawaban isyaratku. Kembali aku meneliti sekitar, aman. Bergegas aku masuk ke kamar mandi, seperti dugaanku semula budhe Lilis sudah berada di sana menantiku.

Hanya dengan daster tipis tanpa BH dan celana dalam, tampak jelas kulihat terawangan payudara dan kemaluan budhe Lilis.
“Dik Andi…..” lirih sedikit berbisik.
Tiba-tiba budhe Lilis memeluk tubuh dan melumat habis bibirku. Ciuman ganas budhe Lilis membuatku kaget, aku belum siap menghadapi serangan ini. Mau tak mau akupun ikut terlarut dalam ciuman panasnya, lidah kami saling bertaut. Mendapat perlakuan seperti itu langsung ku arahkan tanganku pada payudaranya. Remasan tanganku membuat budhe Lilis semakin memejamkan matanya menikmati sentuhan yang sudah lama ia nantikan.
Dilepaskannya ciuman pada bibirku dan berbisik.
“Dikkk Annnddii….. Ooouugghh…. budhe tak tahan lagi… heegghh…” rintihnya.
Kini tangan budhe Lilis ganti meremas kemaluanku.
“Kok sudah keras, kamu sudah ereksi dari tadi ya…?”
“Aku sudah tak sabar dhe….”
“Langsung saja ya nDi…. budhe sudah tidak tahan…. budhe pingin banget….” katanya sambil mengangkat dasternya dan menunggingkan pantatnya. Akupun tanggap, dengan segera aku keluarkan kemaluanku yang sudah ereksi. Ku letakkan kemaluanku pada lubang vaginanya, tangan budhe Lilis menuntun kemaluanku agar dapat masuk dengan benar.
“Kok sudah basah banget budhe….”
“Sejak keluar dari kamarmu budhe sudah terangsang membayangkan peristiwa ini….”
Budhe Lilis melepaskan genggamannya setelah merasakan ujung kemaluanku pas pada lubang vaginanya. Akupun mendorong perlahan, sulit sekali rasanya ujung kemaluanku masuk ke lubang vaginanya. Merasa ada sedikit kesulitan, sekarang kedua tangan budhe Lilis menyibakkan bibir kemaluannya. Kurasakan lubang kemaluan budhe Lilis semakin melebar, kudorong lagi kemaluanku. Baru saja kepala kemaluanku yang masuk, tubuh budhe Lilis mengejang. Sambil menggigit bibir dan memejamkan matanya seakan menahan sesuatu yang dasyat.
“Ooooggghhh…….., pelan dik Andi… rasanya sedikit perih…. maklum sudah lama tidak kemasukan kemaluan laki-laki”
Aku memakluminya. Dan sekarang aku kembali mencoba memasukkan kemaluanku lebih dalam, budhe Lilis kembali mengejang. Ketika separuh terakhir batang kemaluanku kusodokkan masuk, teriakan budhe Lilis sedikit mengeras.
“Aahhh…. hhggghh….”
“Sakit budhe…..”
“Sedikiiitttt …..”
ku biarkan budhe Lilis mengatur nafasnya. Dilepaskan tangannya dari bibir kemaluan. Dan sekarang tangan itu diletakkan pada bibir bak mandi untuk menyangga badan, berarti sekarang budhe Lilis telah siap menghadapi action berikutnya. Perlahan kutarik kemaluanku setengahnya, kumasukkan lagi dengan perlahan. Tarik – masuk – tarik – masuk , demikian seterusnya hingga terasa lebih lancar dan budhe pun mulai menikmatinya. Dengan pinggul digoyang-goyang mengikuti irama keluar – masuknya kemaluanku dan desahan-desahan sexy-nya membuatku lebih bersemangat.
“Aahhhh…Oooohhh…. Eeennaakk…. tterrussin nnDiiii…”
“Iiiyyyaa bbuudhhee….. lubang kemaluan budhe sempit banget….. kemaluanku serasa dijepit….”
“Ppppuuunnnyyamu bbbeeesssaar sssiiiihhhh……”
Memang benar, selain lubang kemaluan budhe yang sempit karena sudah lama tidak digunakan, ukuran kemaluanku yang tergolong besar ini juga menjadi penyebab semakin nikmatnya persetubuhan ini.
Kini tanganku tidak tinggal diam, kuraih payudara budhe Lilis dari belakang. Meremas serta menggesek putingnya semakin membuat budhe Lilis terangsang. Goyangan pantatnyapun semakin cepat, membuat kemaluanku seperti dipilin-pilin.

Budhe Lilis melepaskan tangan dari bibir bak mandi, kini tubuh budhe ditegakkan dan tangannya melingkar di leherku. Kondisi seperti ini membuatku lebih bebas meremas kedua bukit payudaranya yang kencang. Sambil terus menusukkan kemaluanku, ciuman dan gigitan kecil mendarat pada lehernya. Sesekali ciuman itu beroperasi di kupingnya. Hal ini membuat budhe Lilis semakin merasa terangsang. Tak henti-hentinya kemaluanku menusuk vagina budhe Lilis, demikian juga goyangan pantat budhe mengimbanginya. Irama permainan kami semakin cepat, tusukan-tusukan kemaluanku juga semakin ganas.
“Ceeepaat nDiii….oouugghh bbuudhe….. aagghhh”, tubuh budhe Lilis mengejang, tangannya mencengkeram erat rambuku.
“Aaagghhh …….” teriakan kecil tertahan keluar dari mulut budhe Lilis.
Budhe telah sampai pada puncak persetubuhan ini, orgasme yang hebat setelah sekian lama tidak merasakan kemaluan laki-laki menerobos vaginanya. Tubuh budhe lemas lunglai, disandarkan kepalanya pada bak mandi. Nafas ngos-ngosan, dengan mata terpejam dan senyum kecil tersungging di bibirnya. Beliau menikmati orgasme hebat yang baru saja didapatkannya.
Aku menghentikan kegiatanku, memberi kesempatan pada budhe untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya. Ku belai-belai kulit mulus punggungnya, dan budhe Lilis menikmati elusan itu untuk co***ng down setelah orgasme.
“Oohhh… trima kasih dik Andi… budhe puas sekali, telah lama budhe menunggu saat-saat seperti ini. Beda sekali rasanya dengan masturbasi….. ini benar-benar nyata nikmatnya…..”
Aku lepaskan kemaluanku dari vaginanya, tampak masih dalam kondisi ereksi dan mengkilat karena cairan vagina budhe Lilis.
Budhe Lilis membalikkan badannya. Sekarang kami berhadap-hadapan.
“Oh… maaf… sampai lupa kalau kamu belum ‘keluar’…. habis budhe terlalu menikmati orgasme….”
Sekarang budhe Lilis jongkok di hadapanku, diraihnya kemaluanku, dikocok-kocok penuh kelembutan. Dengan perlahan ditariknya kemaluanku dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Sedotan-sedotan kecil serta kulumannya membuat jantungku berdesir menahan rasa nikmat. Kini budhe mulai mengeluar masukkan kemaluanku pada mulutnya. Akupun mengikuti irama oral sex yang dilakukan budhe Lilis. Secara otomastis akupun memaju mundurkan pantatku. Terlihat budhe Lilis semakin meningkatkan kegiatan oralnya. Sesekali seluruh kemaluanku masuk ke dalam mulutnya, hebatnya budhe Lilis tidak tersedak. Irama semakin cepat dan ditambah lagi kocokan tangannya juga dipercepat. Beliau paham sekali dengan denyutan pada kemaluanku sebagai pertanda akan mengalami ejakulasi. Kini mulut budhe hanya mengulum dan tangannya semakin cepat mengocok batang kemaluanku. Desakan dari dalam kemaluanku tidak dapat kutahan lagi, denyutan semakin cepat dan budhe Lilis-pun menyedot kemaluanku dengan kuat.
“Aaagghhh….”
Akhirnya air manikupun keluar dengan semprotan kuat masuk kedalam mulut budhe. Beberapa kali semprotan kuat mengiringi tubuhku yang mengejang.
Ditelannya semua air mani yang keluar dari kemaluanku, tanpa setetespun meleleh dari mulut budhe Lilis. Sensasi yang hebat aku rasakan mengiringi ejakulasiku.
“Aaahhh… gurih sekali di Andi…. sudah lama juga budhe tidak merasakan gurihnya air mani….” katanya setelah melepas kemaluanku dari mulutnya.
“Terima kasih nDi…. budhe telah mendapatkan air di tengah kekeringan” bisiknya pelan.
Karena keadaan yang serba darurat dan tidak mendukung, kami segera merapikan kembali pakaian kami. Dengan tenang budhe Lilis berjalan keluar dari kamar mandi kembali ke kamar tidurnya. Beberapa menit kemudian aku menyusul masuk ke rumah dan ku lihat semua dalam keadaan aman.

Pagi ini udara sedikit dingin karena mendung menghayut di langit. Aku bangun agak kesiangan, kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7.30. Dengan badan yang masih lemas dan mata ngantuk aku keluar dari kamar. Kudapati suasana sepi, langsung aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan gosok gigi.
Tatkala kulewati dapur, kulihat Iyem sedang sibuk menanak nasi untuk sarapan pagi ini.
“Eehhh… Mas Andi sudah bangun…..”
“Iya Yem….” jawabku malas
“Kelihatannya masih ngantuk… tak buatin kopi ya mas ?”
“Terima kasih Yem…. aku tak gosok gigi dulu” dan akupun berlalu masuk ke kamar mandi dapur.
“Kok sepi Yem…. pakdhe dan budhe pada kemana ?” teriakku dari dalam kamar mandi.
“Nggak tahu mas… pagi-pagi sekali mereka sudah pergi…. oh ya… ini kan hari Kamis…. biasanya ndoro kakung tindak berobat…..” jelas Iyem dengan teriak.
Aku keluar dari kamar mandi setelah pipis dan gosok gigi. Terlihat Iyem sedang mengaduk secangkir kopi hitam panas dalam cangkir.
“Mau minumnya di sini atau di meja makan mas ….?”
“Di sini saja Yem…. sekalian aku temenin kamu ….”
“Ini mas…. diminum dulu kopinya… selagi panas….” kata Iyem sambil meletakkan secangkir kopi.
“Makasih Yem…. ngomong-ngomong pakdhe berobat ke mana Yem ?”
“Kalau nggak salah ke pengobatan alternatif di Kartasura…. kasihan ndoro kakung lho mas….. karena penyakitnya ndoro putri jadi tersiksa batinnya….”
Aku tersenyum dalam hati sambil mengingat peristiwa tadi malam.
“Lho emangnya kenapa ndoro kakungmu…. ?” tanyaku memancing, padahal aku sudah tahu semuanya.
“Eehh… maaf ya mas… ndoro kakung ‘itu’-nya tidak bisa berdiri…. lemes…. jadinya ndoro kakung nggak bisa ‘main’ sama ndoro putri…..” jelas Iyem dengan malu-malu.
“Emangnya kamu tahu dari mana Yem…. kok sampai sedetail itu ?”
“Aaannu… ndoro putri yang cerita….. aku sudah dianggapnya sebagai anggota keluarga, jadi ndoro putri cerita semuanya…. lagian aku sudah dewasa tho….” Iyem tersenyum manis.
“Itu kan hanya cerita…. kalau tidak terbukti bagaimana ?” sekali lagi aku pancing si Iyem.
“Sekali lagi maaf mas…. dulunya Iyem juga penasaran…. tapi suatu ketika Iyem melihat sendiri……….”
“Wee lha…. kok bisa sih Yem….”
Iyem menarik nafas panjang, kemudian dengan lugunya ia bercerita panjang lebar.

Waktu itu, ndoro kakung barusan pulang dari luar kota. Kebetulan ndoro putri lagi pergi ke Bandung. Sore itu terlihat ndoro kakung kurang enak badan, kecapean kali ya…. Karena tidak ada ndoro putri, sore itu Iyem dipanggil untuk memijat badan ndoro kakung.
Iyem melihat ndoro kakung sudah tengkurap diatas tempat tidur hanya dengan berbalut sarung.
“Yem tolong pijitin ya…. badanku rasanya capek banget….”
“Iya ndoro….. sebelumnya minta maaf….. Iyem naik ke tempat tidur ndoro”
“Nggak apa Yem…. naiklah ke sini”
Kemudian Iyem mulai membaluri punggung ndoro kakung dengan minyak kelapa. Tangan terampilnya mulai membuat gerakan pemijatan di seluruh permukaan punggung ndoro kakung. Dari mulai bagian leher dan terus turun sampai ke pinggang. Dan ketika tangan Iyem harus memijat ke bawah lagi, dengan segera tangan ndoro kakung menurunkan sarung yang menutupi pantatnya hingga melorot sampai ke kaki. Terlihat dengan jelas oleh Iyem kalau ndoro kakungnya tidak memakai apa-apa dibalik sarungnya alias telanjang bulat.
“Maaf ndoro… saya tidak berani….” kata Iyem malu
“Tak apa-apa Yem…. kamu ndak usah kuwatir… karena sakit gula aku sekarang tidak bisa ereksi lagi……” kata ndoro kakung dengan sedih.
“Maaf ndoro… ereksi itu apa ?” tanya Iyem lugu
“Oooo walah… dasar cah ndeso….. ereksi itu bahasa kedokteran…. yang artinya kemaluan laki-laki yang tegang….. pasti kamu lebih sering denger kata ‘ngaceng’…”
“Ooohhh….. “ wajah Iyem merah padam menahan malu, “Kkkaalau iiitu…. saaayaa tahu ndoro…..”
“Lha itu… sekarang aku ndak bisa ‘ngaceng’ lagi… jadi kamu ndak usah kawatir kalau tak perkosa….. haaa…haaa” ndoro kakung tertawa lepas seolah lupa dengan penyakitnya.
“Kalau begitu Iyem boleh mijat sampai ke kemaluan ndoro kakung ya…?” sekali lagi kepolosan Iyem membuat ndoro kakung tertawa.
“Kalau pijatanmu bisa membuat kemaluanku ‘ngaceng’, kamu tak kasih uang banyak…..”
Mendengar kata ‘uang banyak’ Iyem bersemangat dalam memijat pantat ndoro kakungnya.
“Ndoro … kalau boleh sekarang saja kemaluan ndoro Iyem pijat….”
“Boleh… boleh….” ndoro kakung membalikkan badannya.
Sekarang tampaklah oleh Iyem bentuk kemaluan ndoro kakung yang kecil dan lemas. Bentuknya mirip milik si Nar** anak kecil tetangga sebelah yang masih suka tidak pakai celana. Iyem tersenyum ketika melihat kemaluan ndoro kakung.
“Kok senyam-senyum …. Yem ?”
“Aaanuuu… ndoro….. mirip punya si Nar**…..”
“Ahh… kamu itu….Emangnya kamu pernah melihat kemaluan orang dewasa nduk ?”
“Melihat sih belum ndoro…. tapi Iyem bisa merasakannya ketika disuruh ngocok-ngocokin kemaluannya si Jar**…..” jawab Iyem polos.
“Jar** si tukang ojek itu…….?”
“Iya ndoro…. Iyem kan ada rasa sama dia, suatu malam ketika disuruh belanja ke toko sama ndoro putri Iyem naik ojeknya Jar**. Dalam perjalanan tangan Iyem yang biasanya memeluk pinggangnya tiba-tiba disentuhkan pada kemaluannya yang sudah ‘ngaceng’, terus Iyem disuruh ngocokin sampai si Jar** pipis di celanamya”
“Kalau begitu sekarang Iyem coba kocokin kemaluan ndoro kakung, biar bentuknya seperti punya si Jar**…” sambil berkata demikian tangan ndoro kakung meraih tangan Iyem yang berlumuran minyak kelapa dan menyentuhkan pada batang kemaluannya yang lemas.
Karena pengalaman tak terlupakan dengan si Jar**, tangan Iyem langsung bergerak naik turun mengurut batang kemaluan ndoro kakungnya. Terlihat ndoro kakung memejamkan matanya menikmati urutan tangan Iyem. Tapi beberapa waktu berlalu kemaluan ndoro kakung tetap saja loyo dan lemas. Tidak dapat tegang seperti punya Jar** si tukang ojek.
“Ndoro…. tangan Iyem capek…. kok ndak bisa ‘ngaceng’ tho ndoro…..” kata Iyem memelas.
“Kan aku sudah bilang… kalau aku sudah tidak bisa ‘ngaceng’… kasihan ndoro putrimu…. sejak jadi istriku belum pernah aku menyetubuhinya…..” pandangan ndoro kakung menerawang dibalur kesedihan, ”Paling banter aku hanya membantunya masturbasi..”
“Tapi … paling tidak ndoro putri juga merasakan kenikmatan tho ndoro….” jelas Iyem sedikit menggurui, “Iyem juga pernah merasakan kemaluan Iyem diobok-obok sama si Jar**…. dan akhirnya Iyem juga pipis dicelana dan badan Iyem jadi lemes…. enak banget ndoro” keluguan Iyem ciri khas anak desa.
“Iya… aku tahu Yem…. memang ndoro putrimu merasakan orgasmenya… tapi tetap saja ada yang kurang tanpa kemaluan laki-laki masuk ke lubang kemaluannya” ndoro kakung menjelaskan,”Baiklah Yem… kalau tanganmu capek…. pijatannya ndak usah diterusin….. sana kalau mau tidur…. lagian aku juga ngantuk….”
“Baiklah ndoro…..” kata Iyem sambil turun dari tempat tidur.

Itulah sekelumit kisah Iyem yang mencoba meyakinkanku tentang kemaluan pakdhe Bekti yang tidak bisa ereksi alias impoten karena penyakit gula.
“Budhe tahu nggak Yem…. kalau Iyem pernah ngocokin kemaluan pakdhe…..?” pancingku lagi.
“Akhirnya ndoro kakung cerita tentang peristiwa ini ke ndoro putri… dan beliau tidak marah malah sekarang Iyem yang dijadikan pembantu luar dalam…..”
“Apa maksudnya… ?”
“Mas Andi jangan cerita masalah ini dengan ndoro kakung lho….. ?”
“Ndak… kalau kamu mau cerita terus terang, aku ndak akan cerita pada pakdhe….”
“Sekarang Iyem suka disuruh membantu ndoro putri kalau beliau sedang ‘pingin’….. Iyem disuruh njilatin kemaluannya sampai ndoro putri mencapai kepuasan….. terus timbal baliknya ndoro putri juga njilatin kemaluan Iyem sampai Iyem kelojotan kayak ayam disembelih…. rasanya nikmatttt banget…..” katanya lugu.
“Oh… itu namanya oral sex Yem…. jadi hubungan sex dengan memakai mulut dan lidah untuk merangsang pasangannya….”
“Iya mas…. daripada tangan si Jar** yang ngobok-obok kemaluan Iyem….. kadang-kadang terlalu kasar, bukannya nikmat tapi malah perih semua….” jelasnya, “Kalau ndoro putri orangnya lembut, sabar….. jadi Iyem bisa menikmatinya sampai akhir….. itu yang diajarkan ndoro putri pada Iyem ketika harus membantu memuaskan ndoro putri……”
mendengar cerita polos dan lugu dari Iyem aku jadi terangsang. Kemaluanku mulai ereksi…..
“Kalau dengan si Jar**…. kamu pernah melakukan oral sex nggak…?”
“Belum pernah mas…. paling-paling ngocokin saja…. lha wong ketemunya kalau lagi naik ojeknya…..”
“Berarti kamu belum pernah melihat secara langsung kemaluan laki-laki yang sedang ‘ngaceng’ ya….?”
“Belum tho mas…. lha wong ngocoknya dari belakang, kan Iyem sedang mbonceng sepeda motornya…”
“Waahh… berarti masih ada yang kurang Yem…. paling tidak kamu selain merasakan juga harus melihat bentuknya….”
“Yaa…. sulit mas….. Iyem hanya bisa membayangkan saja bentuk kemaluan si Jar**….”
“Ngomong-ngomong, kamu mau nggak lihat kemaluan laki-laki yang sedang ‘ngaceng’…?” pikiran kotorku mulai beraksi.
“Pingin sih pingin mas…. tapi ketemu sama si Jar** kan tidak bisa siang hari karena kalau siang dia kerja di Pasar Klewer sedangkan Iyem harus mengurus rumah ini …..”
“Kalau selain Jar**……?”
“Siapa lagi selain dia….. aku ndak pernah berpikiran kepada yang lain….”
“Kalau aku bagaimana…?”
“Haa… mas Andi…..!” Iyem terkejut dengan pernyataanku, wajahnya merah padam menahan malu.
“Iya Yem…. aku, laki-laki yang sekarang ada di hadapanmu….”
“Ahhh… Iyem malu mas….” wajahnya tertunduk
“Ndak usah malu…. demi menghilangkan rasa penasaranmu, aku bersedia menunjukkannya padamu…?”
“Yang bener mas….. emang mas Andi ndak malu….”
“Tentu tidak Yem… ingat ndak, waktu kecil dulu kita sering main dokter-dokteran….. kamu yang jadi dokternya dan aku yang disunati…. atau ketika kita mandi bersama di pancuran sebelah utara desa…. kamu juga yang nyabuni seluruh tubuhku termasuk ‘titit’-ku…..”
“Itu kan dulu mas… waktu kita masih kecil… sekarang….. kan beda….”
“Justru itu Yem…. lama kita tidak bertemu, banyak sekali perubahan pada dirimu dan diriku. Bagaimana kalau sekarang kita membandingkan tubuh kecil kita dulu dengan tubuh kita yang sekarang ….?”
“Ah malu mas….” jawab Iyem tersipu, wajahnya memerah.
“Ndak usah malu, Yem…. sekarang hanya ada aku dan kamu…..” rayuku
“Kalau… kalau begitu mas Andi mulai dulu…”
Mendapat lampu hijau dari Iyem, aku segera beraksi dengan membuka celana pendekku. Iyem terdiam dan memperhatikan apa yang aku perbuat. Setelah celana pendek terlepas sekarang t-shirt aku lepaskan, sekarang hanya celana dalam yang melekat di tubuhku.
“Ayo Yem sekarang gantian kamu….”
“Ahh… Iyem malu mas….” jawabnya. Tetapi antara omongan dengan perbuatan berbeda. Iyem mengatakan malu tetapi tangannya mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Setelah dilepaskannya baju merah mudanya Iyem terlihat sexy dengan BH cream yang selaras dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Kini kedua tangannya mengarah ke belakang rok dan mulai membuka kancingnya. Tak lama kemudian rok biru tua itu sudah melorot dari tubuhnya. Wow… tubuh Iyem terlihat sempurna, hanya dengan mengenakan BH dan celana dalam yang juga berwarna cream terlihat perbedaan yang sangat nyata dibanding Iyem kecil dulu.
Payudara yang montok dan perut yang langsing terlihat amat sexy sekali.
“Wow… kamu sexy sekali Yem… tubuh kamu sempurna sebagai wanita dewasa…” sanjungku
“Ahhh… Mas Andi juga …..” balasnya
Sekarang giliranku melepas celana dalam, dan kemaluanku kini tepampang jelas dihadapan Iyem. Dengan wajah terkejut dan muka merah padam Iyem menutup mulutnya dengan telapak tangan.
“Kenapa Yem….”
“Nnndak…. Iyem…. hanya kaget melihat ukuran kemaluan mas Andi…. besar ya mas….”
tanpa melepaskan pandangan dari kemaluanku, Iyem melepaskan kait BH-nya. Sepasang payudara montok menyembul keluar seolah tak kuat lagi berada dalam cup BH. Putih mulus dengan puting berwarna merah gelap. Tangan Iyem secara reflek langsung menutup payudaranya.
“Kenapa ditutupi Yem…. ndak usah malu…. biarkan mas Andi melihat dan mengagumi apa yang kamu miliki…”
Mendengar perkataanku secara perlahan Iyem melepaskan tangan yang menutupi payudaranya. Kini dengan leluasa aku dapat melihat dan mengagumi payudara montok milik Iyem. Tangan Iyem mulai meraih celana dalam dan menurunkannya. Dengan posisi menunduk, payudara montoknya menggantung dengan indahnya. Setelah Iyem itu Iyem kembali menegakkan badannya. Sekarang dengan jelas aku melihat kemaluan gadis desa yang lugu ini. Di antara paha yang mulus terlihat kemaluan yang rimbun ditumbuhi rambut. Kontras sekali dengan putihnya kulit paha dan ketelanjangan Iyem membuat kemaluanku semakin ereksi.
Kami saling memandangi apa yang terpampang jelas di depan kami. Aku kagumi tubuh perawan desa yang lugu ini dan Iyempun tak melepaskan pandangannya dari kemaluanku yang ereksi berat. Cukup lama kami saling mengagumi dan angan kami kembali ke masa kecil dimana kami pernah juga telanjang bersama, tetapi sekarang keadaan sudah berbeda jauh.
Tiba-tiba kami mendengar pintu depan diketuk, Pakdhe dan budhe sudah pulang.
“Iyem…..Iyem…. buka pintunya nduk…..!” terdengar jelas teriakan budhe hingga ke dapur.
Bergegas kami berdua kembali mengenakan pakaian yang sudah terlepas dari tubuh. Iyem tidak sempat mengenakan celana dalam dan BH-nya, demikian juga aku yang tidak sempat mengenakan celana dalam sehingga kemaluan yang ereksi tampak jelas di balik celana pendekku. Setelah semua terlihat rapi aku segera masuk ke dalam kamar, dan Iyem menuju ke pintu depan.
“Kok lama tho Yem….” budhe Lilis memprotes.
“Maaf ndoro putri… Iyem lagi masak di dapur.
“Yo wis…. mana mas Andi kok tidak kelihatan….”
“Ada di kamar, ndoro”
Setelah mereka masuk, Iyem langsung kembali ke dapur, pakdhe dan budhe terus ke kamarnya.
Degup jantungku masih saja berdetak kencang, betapa malunya jika hal ini ketahuan mereka. Kemaluanku masih saja ereksi, tanggung banget rasanya.
Beberapa menit kemudian pintu kamarku diketuk.
“Dik Andi…. Dik…..” terdengar suara budhe Lilis sambil mengetuk pintu.
“Ya…..” jawabku sambil membukakan pintu.
“Kirain masih tidur…… sudah sarapan belum”
“Belum budhe….” jawabku sambil melihat keadaan sekitar. Sepi …. hanya budhe yang ada di hadapanku.
“Lho pakdhe mana ?”
“Pakdhemu langsung tidur…. habis minum obat” jelas budhe kepadaku.
Tiba-tiba mata budhe Lilis menatap bagian bawah tubuhku, dan kemaluan yang ereksi masih menyembul dibalik celana pendekku. Terlihat ekspresi wajah budhe memperlihatkan keterkejutannya. Tak kalah terkejutnya aku tatkala tangan budhe tiba-tiba meraba dan meremas kemaluanku.
“Lho… kok…..” katanya pendek sambil tersenyum.
“Iya….” jawabku singkat.
“Pagi-pagi kok sudah begini…. semalem kurang puas ya…?” bisik budhe tanpa melepaskan tangannya bahkan semakin aktif meremas-remas kemaluanku.
“Nggak juga sih….” jawabku gugup, sambil melihat kembali situasi di luar kamar.
“Tidak ada siapa-siapa…. ndak usah takut” bisik budhe menenangkanku. Remasan tangannya semakin aktif dan tak hanya itu, sekarang budhe Lilis memasukkan tangannya ke dalam celana pendekku. Remasannya semakin terasa pada kemaluanku yang sudah tegang dari tadi. Tak hanya remasan, kini gerakan naik turun mulai dilakukan budhe pada kemaluanku. Kocokan lembutnya membuat aku semakin tidak dapat menahan nafsuku. Nafasku mulai tidak teratur, jantung berdegub lebih cepat.
“Jangan budhe, nanti ketahuan….. ” kataku mengingatkannya. Budhe hanya menggelengkan kepalanya.
“Ndak ada siapa-siapa…. Iyem juga masih di dapur….”
Tiba-tiba terdengar suara panci jatuh dari arah dapur, kami berdua kaget bukan main, tangan budhe Lilis dengan reflek ditarik keluar dari dalam celanaku, dan budhe satu langkah mundur dari tubuhku. Tak lama kemudian tampaklah Iyem muncul dari dalam dapur dan berjalan ke arah kami.
“Ndoro… sarapan sudah Iyem siapkan…”
“Teeerima kasih Yem…” kata budhe terbata-bata, ”Ayo dik Andi kita sarapan dulu, ndak usah nunggu pakdhemu…” kata budhe sambil berjalan ke arah ruang makan.
“Iya budhe… sebentar”
Budhe Lilis telah masuk ke dalam ruang makan. Kini aku hanya berdua dengan Iyem. Ku lihat Iyem terus memandangi celanaku yang menggembung. Dengan penuh keberanian aku raih tangan Iyem dan ke sentuhkan pada kemaluanku. Iyem terkejut dengan apa yang aku perbuat. Setelah hilang rasa terkejutnya Iyem menatapku sambil tersenyum.
“Masih ‘ngaceng’ ya mas….” katanya berbisik sambil terus memegangi kemaluanku.
“Iya… Yem”
Masih menatap wajahku sambil tersenyum, tangan Iyem mulai meremas dan mengocok kemaluanku, akupun tak mau ketinggalan. Dengan segera kuremas-remas payudara montok di balik bajunya.
“Kamu belum pakai BH ya Yem….” bisikku
“Iya mas….. Iyem juga ndak pakai celana dalam” Iyem menjelaskan. Kami berdua tersenyum simpul.
“Eeheem…. eehheem…” terdengar suara budhe Lilis dari ruang makan, kami segera melepaskan tangan dan menghentikan kegiatan kami.
“Ayo sarapan dulu….” teriak budhe Lilis dari ruang makan.
Aku bergegas menuju ke ruang makan dan Iyem kembali ke dapur. Terlihat budhe Lilis baru saja duduk dan mulai mengambil nasi. Aku curiga dengan senyumannya. Pasti tadi beliau sempat melihat apa yang aku dan Iyem lakukan. Aku duduk di sebelah budhe, karena kursi makan hanya dua dan berdampingan.
Budhe Lilis masih tersenyum-senyum sambil menuangkan teh hangat pada cangkirku. Kecurigaanku bertambah dengan apa yang kulihat dari gerak-geriknya.
“Ada apa, kok budhe senyam-senyum terus….”
“Ndak….” katanya masih dengan senyuman,”Kamu tadi ngapain dengan Iyem…..”
“Oh… itu tho…..” jawabku singkat.
Aku segera bercerita tentang pengalamanku pagi ini dengan Iyem. Budhe Lilis memperhatikan sambil menyantap sarapannya. Sesekali tersungging senyuman di bibirnya.
“Oh pantes… pagi-pagi kok sudah ereksi…. budhe pikir semalem belum tuntas” kata budhe, ”Sekarang masih ereksi kan ?”
Tangan budhe menyusup ke dalam celanaku dan menemukan kemaluanku yang tegang. Dikocoknya perlahan-lahan. Aku hentikan acara sarapanku, kunikmati kocokan tangan budhe pada kemaluanku. Merasa kesulitan karena terhalang celana pendek maka aku menurukan celana pendekku sebatas paha sehinga kemaluanku dapat bebas mengacung dan budhe Lilis –pun dengan leluasa melakukan kegiatannya. Aku tidak tinggal diam, giliran tanganku menyusup dibalik roknya dan menemukan kemaluan yang terbungkus celana dalam tipis.
“Sebentar….” kata budhe.
Dilepaskannya tangan dari kemaluanku, demikian juga aku melepaskan tanganku dari sela pahanya. Budhe berdiri, melepas celana dalamnya dan segera duduk kembali. Kami langsung melakukan kegiatan yang sempat tertunda. Sekarang dengan leluasa jari-jariku dapat memaikan clitorisnya tanpa terhalang celana dalam.
Kami berdua saling menikmati. Kocokan tangan budhe terasa semakin dipercepat dan tangankupun semakin cepat juga menggosok clitorisnya. Nafas kami berdua semakin memburu, desahan-desahan nafsu terpaksa kami tahan agar tidak menimbulkan suara.
“Dik…. aku tidak tahan…. Ahhh… pingin banget ‘main’….” bisiknya
“Jangan…. nanti ketahuan….” jawabku mengingatkan.
“Biar…. paling Iyem yang tahu…. aku sudah ndak kuat….”
Budhe Lilis berdiri, kemudian beliau berdiri tepat di hadapanku. Dilangkahkan kaki diantara pahaku, dan diarahkan lubang kemaluanya pada kemaluanku yang tegang. Diruntunnya kemaluanku, perlahan-lahan mulai diturunkan pantatnya. Secara perlahan juga kemaluanku masuk kedalam lubang kemaluannya hingga habis. Sekarang dengan aktif budhe Lilis menggoyangkan pantatnya dan dengan aktif pula aku meremas-remas payudaranya. Kami semakin menikmati persetubuhan ini. Desahan budhe semakin hebat, beliau sudah tidak menghiraukan lagi desahannya yang menggema di ruang makan ini. Nafsu birahi telah menyelimuti akal sehatnya. Yang jelas pasti Iyem mendengar desahan budhe karena jarak ruang makan dengan dapur hanya terpisahkan oleh korden kain tipis.
Betul dugaanku, terlihat bayangan seorang perempuan di balik korden tipis. Jelas bahwa Iyem tengah asyik melihat persetubuhan kami. Dengan perlahan Iyem menyibakkan gorden dan tersenyum kepadaku akupun membalas senyumannya. Budhe Lilis tidak mengetahui hal ini karena posisinya membelakangi Iyem.
Dengan ganasnya budhe Lilis terus menggoyangkan pantatnya, akupun mengimbangi permainan yang semakin hebat ini. Diseberang sana Iyem me**nton adegan ini dengan mata tak berkedip. Dapat kulihat semburat merah wajah dan nafas Iyem yang tidak teratur menandakan Iyem sedang terangsang. Kini kedua tangan Iyem tampak meremas-remas sendiri payudara montoknya. Matanya mulai melek merem menikmati remasan yang merangsang payudaranya.
Budhe Lilis semakin mempercepat irama permainan, desahan nafsunya semakin hebat.
“Oouuggghhh…. akkkuuuu…. aaagghhh…” lenguhan panjang dan diiringi dengan kejang pada tubuh budhe Lilis menandakan orgasme wanita ini telah tercapai. Tangan budhe erat mencengkeram bahuku, tanganku berpegang pada pinggangnya dan dengan sekuat tenaga aku tusukkan kemaluanku sedalam mungkin kedalam kemaluan budhe Lilis. Beliau disela-sela orgasmenya kembali berteriak kecil.
“Aaaaggghhh……. ooouuuggghhhh” tubuhnya lemas lunglai seperti tidak bertulang lagi dan ambruk memelukku.
Mengetahui hal tersebut Iyem segera masuk kembali ke dapur. Tanggung, pasti Iyem sedang tanggung. Ditengah-tengah antara terangsang dengan penyaluran nafsunya. Aku hanya bisa melihat raut wajah Iyem yang kecewa.
Budhe Lilis Bergegas turun dari pangkuanku. Air mani meleleh dari sela pahanya, kemaluanku masih tegang dan mengkilat oleh cairan air maniku. Diambilnya celana dalam tipisnya, disekanya belahan kemaluan dan kini giliran kemaluanku dibersihkan dari sisa-sisa air mani.
“Kamu belum keluar ya dik…..?” budhe Lilis bertanya disela-sela kegiatan membersihkan kemaluanku.
“Belum budhe……”
“Mau dikeluarin sekarang…… budhe kocokin ya…?” tangannya mulai digerakkan naik turun.
“Ndak usah budhe…. nanti keburu pakdhe bangun….” larangku.
“Pakdhemu bangunnya nanti siang…. selagi obatnya bereaksi pasti tidak akan terbangun….” budhe Lilis menjelaskan.
“Budhe tahu ndak, tadi Iyem melihat persetubuhan kita…” kataku tenang.
“Haa….” hanya itu yang keluar dari mulut budhe Lilis menandakan keterkejutannya, “Yang bener dik….. terus….”
“Ya ndak apa-apa, si Iyem juga terangsang…… dia sempat merangsang dirinya sendiri……” jelasku
“Kasihan dia…. biar nanti budhe yang memuaskannya….”
“Sebenarnya sejak pagi tadi kami sudah terangsang kok budhe…. habis budhe pulangnya cepet…. jadinya tertunda”
“Pantes… tadi kalian saling meraba-raba… ya kan ?” budhe tersenyum.
“Bagaimana kalau Iyem diajak sekalian ke sini budhe….” saranku. Pikiranku mengajak mereka untuk Three Some alias ngesex bertiga.
“Hhmmmm… boleh juga, sekalian ngajarin dia…. sudah lama dia pingin ‘begituan’ dan aku hanya memberikan teori saja kepadanya” jelas budhe Lilis bersemangat, “Kalau begitu kita pindah saja ke dapur, dik Andi tunggu di sini sebentar terus nanti menyusul ya !”
Budhe Lilis mengedipkan matanya dan berjalan ke arah dapur. Aku kembali mengenakan celana pendekku.
Tak lama kemudian aku menyusul masuk ke dapur. Disana kulihat budhe Lilis tengah berciuman dengan si Iyem. Tampak mereka tidak hanya berciuman, tetapi tangan mereka juga tengah aktif saling menggosok kemaluan. Kebetulan posisi budhe Lilis tepat ke arahku sedangkan Iyem membelakangi. Budhe Lilis mengedipkan matanya memberi tanda kepadaku untuk segera bergabung. Tanpa komando lagi aku segera menghampiri mereka. Dari posisi belakang tanganku segera ku arahkan pada kedua payudara montok Iyem. Kuremas dengan lembut, kurasakan kekeyalan payudara perawan desa ini. Iyem sempat terkejut dengan ulahku, tetapi budhe Lilis tidak memberi kesempatan Iyem melepaskan bibir dari ciumannya.
Setelah mengetahui bahwa aku yang meremas payudaranya, mata Iyem kembali terpejam menikmati remasan-remasan lembut itu. Sekarang ku masukan tanganku di balik bajunya. Kutemukan bongkahan payudara yang montok dengan puting yang sudah mengeras tanda Iyem sudah terangsang hebat. Tidak hanya remasan, kini jari-jariku dengan leluasa memainkan puting payudaranya.
Dilepaskannya ciuman dari bibir budhe Lilis, desahan Iyem keluar dari bibirnya.
“Aahhh…. Oouugghh… eennnaakkk…. mmaasss”
Budhe Lilis melepaskan tangannya dari kemaluan Iyem, lalu dengan leluasa dia melepaskan kancing baju Iyem satu persatu. Terbukalah baju Iyem, tanganku terus beroperasi pada payudaranya. Budhe Lilis jongkok, dan dibukalah rok Iyem, sekarang Iyem sudah telanjang. Dengan segera budhe Lilis malakukan oral sex kepada Iyem. Tak puas dengan itu, budhe menurunkan celana pendekku sehingga kemaluanku mencuat keluar. Dengan tangan kanannya, diselipkan kemaluanku disela-sela paha Iyem. Kini tampak dihadapan budhe Lilis kemaluan Iyem dan sekaligus ujung kemaluanku. Dengan senyuman manis budhe Lilis kembali melakukan aksi oralnya. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Lidah budhe Lilis aktif menjilati clitoris Iyem sekaligus menjilati ujung kemaluanku. Goyangan pantatku maju mundur menghasikan gesekan pada kemaluan Iyem. Three Some kami semakin bertambah semangat. Aku hentikan kegiatan kami, aku lepaskan t-shirt dan telanjang, Iyem melepaskan bajunya, dan budhe Lilis juga melakukan hal yang sama. Sekarang kami bertiga sudah tidak lagi mengenakan berpakaian selembar benangpun.
“Katanya kamu pingin ‘ngemut’ kemaluan laki-laki…. sekarang kamu ‘ngemut’ milik mas Andi….” budhe Lilis memerintahkan Iyem untuk mengoral kemaluanku. Dengan sedikit ragu Iyem menggenggamkan tangannya dan memasukkan kemaluanku pada mulutnya. Perlahan-lahan ujung kemaluanku mulai keluar masuk mulut Iyem. Semakin lama ditambah dengan sedotan-sedotan kecil yang semakin membuat kemaluanku bertambah tegang. Pintar juga si gadis desa ini, pasti budhe Lilis yang mengajari teorinya. Karena posisi Iyem yang menungging dan mengoral kemaluanku, budhe Lilispun jongkok di belakang pantat Iyem. Satu tangan budhe Lilis terus menggosok-gosok kemaluan Iyem, sedangkan tangan yang lainnya menggosok kemaluannya sendiri. Tangankupun tidak hanya diam, kuraih payudaya montok Iyem yang bergoyang-goyang menggantung. Kuremas dan kupililn-pilin putingnya. Kami bertiga tenggelam dalam kenikmatan yang tiada tara. Permainan ini semakin terasa mengasyikan. Iyemlah yang paling merasakan efek permainan ini, bagaimana tidak, dia diserang dari depan dan belakang sekaligus. Dengan sesekali tersedak karena kemaluanku terlalu masuk ke dalam mulutnya, Iyem tetap saja dengan semangat mengenyoti ujung kemaluanku. Budhe Lilis tampak menikmati gosokan tangan pada kemaluannya yang sudah basah.
Beberapa saat kemudian kami bertiga berganti posisi, sekarang Iyem duduk di meja dapur dengan kaki dibuka lebar-lebar sehingga tampak olehku belahan kemaluan berwarna coklat kemerahan dikelilingi rambut yang tumbuh lebat, giliran budhe Lilis yang menunggingkan pantatnya dengan wajah tepat pada kemaluan Iyem. Dengan kaki yang dibuka lebar dari belakang aku tusukkan kemaluanku pada lubang kemaluan budhe Lilis. Kembali gelora nafsu bergejolak pada kami bertiga. Permainan semakin panas, kami saling menikmati permainan bertiga ini. Tampak kulihat mata Iyem yang melek merem menahan nikmat dan geli ketika lidah budhe Lilis menyapu clitorisnya. Diremas-remas payudara montok miliknya, sambil memilin puting susu yang mengeras. Budhe Lilis semakin aktif menggoyangkan pantatnya seirama dengan tusukan kemaluanku.
Beberapa menit berlalu, Iyem memegang kepala budhe Lilis dan menekan kepala itu pada kemaluannya. Dengan wajah mendongak ke atas dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya, tubuh Iyem mengejang.
“Aaagggh… nnndoorooo…. Iiiiyemmm ….ooougghhh”
Orgasme hebat melanda gadis desa yang lugu itu. Kenikmatan tiada tara, terihat Iyem menggigit bibirnya menahan kenikmatan yang luar biasa.
Tak lama berselang budhe Lilis menyusul Iyem. Dirapatkannya kaki, sehinga paha budhe Lilis dengan erat menjepit kemaluanku yang sedang aktif bergerak. Tangan budhe dengan erat mencengkeram paha Iyem karena menahan dorongan kenikmatan puncak persetubuhan ini.
“Aaahhh…. nnniikkkmmmat…… uuuhhh” lenguhan panjang mengakhiri kontraksi otot vagina budhe Lilis.
Melihat mereka berdua sudah mencapai orgasme, maka kupercepat irama tusukan kemaluanku. Sekarang mulai terasa denyutan-denyutan pada kemaluanku.
“Aahh…. oouugghhh….”
Akhirnya akupun tak dapat menahan desakan air mani yang memancar hebat, menyemprot beberapa kali di dalam kemaluan budhe Lilis.
Kami bertiga berpelukan, dengan senyuman puas atas permainan sex kami. Kecupan kecil saling kami berikan satu sama lain. Dengan komitmen bersama bahwa kita akan selalu merahasiakan permainan ini pada siapapun.
Setelah kami bertiga membereskan pakaian yang terserak dan mengenakannya kembali, suasanapun kami bangun seolah-olah tidak pernah ada adegan three some di dapur ini.
“Aku keluar dulu ya…. badanku jadi lemes dan ngantuk…. aku nyusul pakdhe-mu…” kata budhe dengan wajah sayu. Budhe Lilis berjalan keluar dari dapur, aku langsung menuju ke kamar mandi, dan Iyem kembali melanjutkan aktivitasnya. Gila, liburan cuti tahunanku kali ini diisi dengan pengalaman yang sangat berkesan dan penuh dengan kejutan.

Setelah selesai mandi, aku segera keluar dari kamar mandi. Segar sekali badan rasanya setelah tenaga terkuras dalam permainan gila pagi ini.
Tak kuduga, di depan pintu kamar mandi pakdhe Bekti hanya mengenakan sarung sudah berdiri dengan keringat mengucur dan wajah merah padam.
“Lho, sudah bangun dhe..” sapaku menghilangkan rasa terkejut.
“Iya nDi….. Ayo gantian….” katanya sambil tersenyum.
Aku tersadar, dan kupersilakan pakdhe Bekti untuk masuk ke kamar mandi.
Aku berjalan menuju ke kamarku, di lorong dapur aku berpapasan dengan Iyem. Iyem melihatku dengan senyuman manisnya.
“Mas Andi….. sudah puas…… ?” katanya sambil tersenyum menggoda.
“Iya…Yem….. puas sekali….” jawabku sambil mencubit lengannya.
“Kapan-kapan Iyem pingin ‘begituan’ dengan mas Andi… tapinya jangan sama ndoro putri… Iyem pingin berdua saja…..” katanya lugu.
“Iya Yem… nanti kalau ada kesempatan pasti mas Andi puasin Iyem….” kataku sambil mengedipkan sebelah mata.

“Iyem… kesini nduk…..” tiba-tiba terdengar teriakan pakdhe Bekti dari dalam kamar mandi.
“Ya ndoro…..” teriak Iyem sambil berlari kecil menuju kamar mandi, “Ada apa ndoro…..”
“Sini nduk… masuk sini….”
Suara pakdhe terdengar jelas di telingaku. Aku menjadi penasaran, mengapa Iyem harus masuk ke kamar mandi?.
Pasti akan terjadi sesuatu. Dengan rasa penasaran aku mengendap-endap mendekati kamar mandi. Iyem sudah tidak terlihat lagi, berarti dia sudah bersama pakdhe di dalam kamar mandi ini. Dengan penuh ketenangan aku dapat mengintip melalui lubang kecil pada papan. Dengan jelas ku lihat keadaan di dalam kamar mandi. Terlihat pakdhe Bekti yang telanjang dan Iyem berada di hadapannya dengan wajah terkejut sambil menutupi mulutnya.
“Yem…. lihat Yem…. kemaluanku sedikit ‘ngaceng’…..” kata pakdhe sambil memamerkan kemaluannya.
“Iya…ndoro…. berarti ndoro sudah hampir sembuh….” kata Iyem gembira.
“Tulung nduk…. dikocokin…. ndoromu pingin banget…..” ujar pakdhe.
“Lho… kan ada ndoro putri…. ?”
“Ndoromu sudah tertidur…..” pakdhe segera meraih tangan Iyem dan menggenggamkan pada kemaluannya.
“Weeh… sudah lumayan keras ndoro… tidak seperti kemarin….” kata Iyem sambil melakukan gerakan mengocok kemaluan ndoronya.
“Ouughhh… eeennnaakkk…. Yeemmm” mata pakdhe melek merem merasakan nikmat.
Tangan Iyem terus melakukan gerakan naik turun, mengurut-urut kemaluan pakdhe Bekti. Terlihat kemaluan pakdhe semakin membesar, Iyem-pun dengan lebih semangat melakukan aksinya. Tiba-tiba pakdhe menekan pundak Iyem, sebagai isyarat agar pembantunya berjongkok. Dengan senyuman manis Iyem-pun mengetahui maksud dari ndoro kakungnya.
Sekarang posisi wajah Iyem tepat pada kemaluan pakdhe yang sudah tegang. Segera dilahapnya kemaluan itu masuk ke dalam mulutnya. Oral sex segera dilakukannya demi kepuasan sang ndoro kakung.
Sedotan demi sedotan, kemaluan pakdhe keluar masuk mulut Iyem.
“Oouggghh… enakkk … Yeemmm…. kkaammu..pinteerr … bangeeet ngeeemuutnyaa… aahhhh” tangan pakdhe aktif memegangi kepala Iyem yang maju mundur mengoral kemaluannya.
“Ssuuudddaahhh… Yyeemmm…. jjjaannggan sampaiii kkkelluuaarrr….” kata pakdhe sambil menahan kepala Iyem.
Iyem menghentikan gerakan, dan segera mengeluarkan kemaluan pakdhe dari mulutnya.
“Lho kok sudah ndoro….” katanya heran.
“Jangan Yem… aku pingin ‘main’dengan ndoro putrimu… sejak menikah aku belum pernah memasukkan kemaluanku ini ke dalam miliknya….” pakdhe berkata sambil mengenakan sarungnya.
Aku segera menyingkir dan bersembunyi di dapur. Dan kulihat pakdhe dengan tergesa-gesa keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya.
Setelah aman aku kembali menuju ke kamar mandi. Terlihat Iyem dengan wajah terkejut melihat kedatanganku.
“Lho… mas Andi…. kok masih di sini ?”
“Iya.. Yem… aku tahu semuanya…..”
“Mas Andi ngintip ya… ?”
Aku hanya menganggukkan kepala. Aku raih tangan Iyem dan menariknya keluar dari kamar mandi.
“Ayo Yem…. kita intip mereka…. aku pingin tahu bagaimana orang tua itu menjalani hubungan sex mereka”
“Ahh… mas Andi ini ada-ada saja….”
“Oyo cepetan….. nanti keburu selesai….”
Iyem tidak me**lak, dan kami berdua segera menuju ke kamar pakdhe. Setelah mendapatkan tempat yang strategis, aku dan Iyem bergantian mengintip karena lubangnya hanya satu.
Waktu kami mengintip, adegan sudah berlangsung. Pasti pakdhe langsung saja ‘main’ tanpa melakukan pemanasan kepada budhe, ini terbukti bahwa budhe masih mengenakan daster dan celana dalamnyapun masih menggantung pada kaki sebelak kiri. Posisi pakdhe berada di atas tubuh istrinya, dengan semangat ia memompa keluar masuk kemaluannya. Dengan nafas ngos-ngosan dan mata melek merem. Budhe Lilis seolah-olah tidak menikmati permainan ini, ia hanya memberikan semangat kepada suaminya.
“Aayyyooo… paakkk….. terrrusss……. baappaakkk… ssuudaahh mmullaaii hhheebbaatt….”
“Iyyyaa bbbuuu…. ggaaraa-gaaraaa kkkallliaan bertiga mmaainn diii daappuurr…..”
Lho… jadi pakdhe tadi mengintip kegiatan kami bertiga…. wuaduh… aku malu banget…. tapi mengapa tadi pakdhe tidak marah ? Jangan-jangan ini sudah direncanakan oleh budhe Lilis ?
“Mas … gantian…..” bisik Iyem menyadarkanku.
Sekarang giliran Iyem yang mengintip ke dalam kamar. Dengan posisi nungging terlihat bongkahan pantatnya yang seksi. Aku hanya bisa melihat ekspresi wajah Iyem yang sedang terangsang. Melihat ini aku segera mengeluarkan kemaluanku yang sudah tegang dan mengesek-gesekan pada bongkahan pantatnya. Iyem terkejut, ia memandangku dengan tersenyum.
“Mas Andi pingin ya….?”
“He eh…” aku hanya mengangguk
“Tapi jangan dimasukin ya mas…. Iyem masih perawan…”
“Ndak Yem…. digesek-gesek saja…..”
Iyem segera menyibakkan roknya, kulihat bongkahan pantat yang montok, putih mulus dilapisi celana dalam cream. Tanganku segera menurunkan celana dalamnya sebatas paha, dan menyelipkan kemaluanku di sela-sela pahanya hingga permukaan kemaluanku bersentuhan dengan bibir kemaluan Iyem. Iyem merapatkan pahanya, sekarang kemaluanku benar-benar rapat bersentuhan dengan kemaluannya. Pada posisi seperti ini Iyem melanjutkan kembali acara mengintipnya dan aku segera menggesek-gesekkan kemaluanku dari belakang.
Suara di dalam kamar semakin seru, demikian juga aku dan Iyem yang ada di luar kamar. Seolah-olah kami bermain sex bersama-sama tetapi dibatasi oleh pintu saja.
Setelah beberapa menit terdengar olehku lenguhan orgasme pakdhe Bekti, seketika itupun Iyem segera melepaskan pandangan dari lubang.
“Ndoro kakung sudah selesai…..” bisiknya lirih
Aku yang sedang menikmati gesekan pada kemaluanku segera sadar.
“Ayo…kita pindah Yem….” bisikku
“He..Eh…”
Kami segera meninggalkan pintu kamar, dan menuju ke dapur. Di sana kami melanjutkan kembali aktivitas yang tertunda.
Sekarang posisi Iyem berhadapan denganku, dan kemaluanku segera ku selipkan di sela pahanya. Dengan posisi ini tanganku bebas meremas dan memilin puting payudara gadis lugu ini. Iyem memejamkan matanya menikmati gesekan dan remasan yang aku lakukan.
“Oohhh…… eeennaakkk… mass” bisik Iyem di telingaku.
“Iiiyyyaa…. Yyeemm”
Dengan lincahnya Iyem menggoyangkan pantatnya seirama dengan gesekan kemaluanku pada sela pahanya. Irama ritmis semakin meningkat, tangan Iyem semakin erat mencengkeram lenganku. Digigit bibir mungilnya menahan desakan yang semakin hebat….
“Mmmaass….. Iiyeemmm…. mmmaauuu…..”
“Aayyyoo… Yyyeeemmm… aakkkuu jugaa…”
Belum selesai aku mengatakannya, sprema dengan kuat menyemprot diantara jepitan paha Iyem. Demikian juga pembantu pakdheku, jepitan pahanya semakin diketatkan dan tubuhnya melengkung ke belakang dengan ekspresi wajah menahan kenikmatan…..
Akhirnya kami berdua mendapatkan kenikmatan secara bersama-sama. Tubuh kami bersimbah keringat, nafas masih tak beraturan.
“Terima kasih Yem…..” kataku sambil mengecup keningnya.
“Sama-sama mas…. baru sekarang Iyem bisa menikmati puncak yang demikian hebat…..” jawab Iyem dengan senyum manisnya.

Hari ke dua di rumah pakdhe Bekti.
Sore ini aku berencana akan pamit pulang, karena masa cutiku sudah hampir habis. Aku sudah mengemasi pakaian dan siap untuk berpamitan. Di ruang tamu sudah duduk pakdhe dan budhe Bekti.
“Pakdhe … Budhe….. Andi mohon pamit…. terima kasih sudah diperkenankan nginep di sini…”
“Duduk dulu nDi…..” kata pakdhe, “Seharusnya pakdhe yang mengucapkan terima kasih……”
“Lho… kan harusnya saya yang jadi tamu…..” protesku
“Sebelumnya pakdhe minta maaf, tanpa sepengetahuan kamu…. aku dan budhemu merencanakan sesuatu….”
“Sesuatu apa dhe ?” tanyaku penasaran
“Aku ingin sekali membahagiakan budhe-mu tetapi karena sakit gulaku pakdhe ini ndak bisa apa-apa” pakdhe mulai bercerita.

Karena impoten maka pakdhe tidak bisa berhubungan badan dengan istrinya, jalan satu-satunya adalah menggunakan lelaki lain untuk melakukan hal tersebut. Kebetulan kamu datang, dan rencana yang pernah kami susun akhirnya dapat menjadi kenyataan. Budhe-mu sempat protes, tapi kan kamu bukan orang lain dan akhirnya dia setuju.

Pakdhe melihat semua adegan kalian bertiga waktu di dapur. Pakdhe bahagia sekali ketika melihat budhemu orgasme…. pakdhe memakluminya karena sudah lama sekali budhemu tidak merasakan kemaluan laki-laki. Kamu tahu sendiri tho, kalau punya pakdhemu ini tidak bisa ‘ngaceng’…..
Dan karena ngintip kalian bertiga, tiba-tiba punya pakdhe jadi terangsang…. dan untuk pertama kalinya kemaluan pakdhe dapat memasukki punya budhemu….. Untuk yang terakhir pakdhe berpesan kepadaku untuk dapat menyimpan rahasia ini rapat-rapat.

“Andi berjanji dhe…. dan aku ikut bahagia karena telah dapat membantu pakdhe dan budhe walaupun harus dengan berhubungan badan….” kataku bangga.
“Baiklah nDi…. pakdhe ingin kamu tetap dapat melayani budhemu…. biarlah dia pergi ke Bandung untuk dapat melakukannya denganmu…… pakdhe percaya kamu dapat memuaskan budhemu….” kata pakdhe dengan senyuman.

Akhirnya aku tinggalkan kota Solo dengan perasaan bahagia. Dan kembali bekerja dengan penuh semangat.

Maria

Maria. Itu namaku. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika aku berusia 11 tahun. Saat itu, aku benar-benar sendirian. Rasa takut dan kesepian menyerang hati dan pikiranku. Yang paling menyedihkan adalah, aku sama sekali tidak pernah dikenalkan ataupun berjumpa dengan kerabat ayah maupun ibu. Aku tidak pernah bertanya. Selama ini aku hanya mengenal ayah dan ibu saja. Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kami bertiga sangat bahagia.

Aku tidak ingat, bagaimana aku bisa sampai di panti asuhan itu. Yayasan Bunda Erika, aku membacanya di sebuah papan nama di depan pintu masuk bangunan itu. Di sana, banyak anak-anak yang sebaya denganku. Kehadiran mereka membuatku setidaknya “lupa” akan kemalangan yang baru saja menimpaku. Tidak lamapun, aku merasa kalau aku telah menemukan rumah baru bagiku. Enam bulan pun berlalu.

Pada suatu hari yang cerah, mendadak kami dibangunkan oleh Bunda Risa, salah satu pengurus di tempat kami.
“Ayo bangun, cepat mandi, pakai pakaian terbaik kalian, setelah itu kalian harus berkumpul di aula. Kita akan kedatangan seseorang yang sangat istimewa”, katanya sambil tersenyum hangat.
Dan aku pun bertanya, “Bunda, tamu istimewanya siapa sih? Artis ya?”
“Mungkin ya..”, kata Bunda Risa sambil tertawa kecil.
“Karena dia adalah putra tunggal dari pemilik yayasan ini..”

Tak kusangka, pertemuanku dengan Erik Torian bisa mengubah hidupku, seluruhnya. Saat dia melewati barisan anak-anak yang lain, dia tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Dengan posisi membungkuk, dia mengamati wajahku dengan teliti. Temannya yang ikut bersamanya pun ikut memperhatikan diriku.

“Ada apa Torian? Apa kau kenal dengan anak ini?”, tanyanya.
“Tidak”, Erik masih memandangiku sambil memegang mukaku, seolah-olah aku tidak bernyawa.
“Sempurna” katanya dingin.
“Seperti boneka..”
Aku yakin sekali dia bergumam ["..boneka yang aku idam-idamkan"]
Lalu dia melepaskan wajahku dan langsung meninggalkanku begitu saja.

Sehari setelah kunjungan itu, Erik bersama temannya itu kembali mengunjungi yayasan, untuk mengadopsi diriku.
“Halo.. Maria” Erik melemparkan senyum yang berbeda dari kemarin.
“Mulai saat ini, aku-lah yang akan merawat dan mengurus Maria. Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.

Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat itu. Diam-diam, aku kagum dengan penampilan Erik dan Tomi yang sangat menarik. Berada di tengah-tengah mereka saja sudah sangat membuatku special. Erik sangatlah baik padaku. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Dia sangat memanjakan aku. Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah selain ke sekolah tanpa dirinya.

Empat bulan berlalu, rasa sayangku terhadap Erik mulai bertambah. Hari itu, aku mulai merasa bosan di rumah dan Erik belum pulang dari kantor. Aku pun menunggunya untuk pulang sambil bermain Play Station di kamarku. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.
“Erik sudah pulang!!”, pikirku senang.

Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Tapi, di depan kamar Erik aku berhenti. Pintunya terbuka sedikit. Dan aku bisa tahu apa yang terjadi di dalam sana. Erik bersama seorang wanita yang sangat cantik, berambut panjang, kulitnya pun sempurna. Aku hanya bisa terdiam terpaku. Aku melihat Erik mulai menciumi bibir wanita itu dengan penuh nafsu. Tangannya meraba-raba dan meremas payudara wanita itu.

“Ohh..Erik”

Pelan-pelan, tangan Erik menyingkap rok wanita itu dan menari-nari di sekitar pinggul dan pahanya. Tak lama, Erik sudah habis melucuti pakaian wanita itu. Erik merebahkan wanita itu ke tempat tidur dan menindihnya, tangan Erik bermain-main dengan tubuh wanita itu, menciuminya dengan membabi buta, menciumi leher, menciumi payudara wanita itu sambil meremas-remasnya.

“Ohh..Eriik..” Aku mendengar desahan wanita itu.

Aku melihatnya. Aku tidak percaya bahwa aku menyaksikan itu semua. Tapi, aku tidak bergerak sedikit pun. Aku tidak bisa.

Erik pun membuka resleting celananya dan mengeluarkan ‘senjata’nya, kedua kaki wanita itu dipegang dengan tangan Erik dan Erik segera menancapkan ‘senjata’nya ke liang wanita yang sudah basah itu dengan sangat kasar. Wanita itu mengerang dengan keras. Tanpa sadar, pipiku sudah dibasahi oleh air mata. Hatiku terasa sakit dan ngilu. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku tetap melihat perbuatan Erik tanpa berkedip sambil berlinang air mata.

Erik masih melanjutkan permainannya bersama wanita cantik itu, dia menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan sangat cepat. Teriakan kepuasan dari wanita itu pun membahana di seluruh ruangan. Sepuluh menit setelah itu, Erik terlihat kejang sesaat sambil mengerang tertahan. Erik pun menghela napas dan beristirahat sejenak, masih dalam rangkulan wanita itu. Permainan berakhir.

Tapi aku masih mematung di depan kamarnya, memperhatikan Erik dari sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aku tidak mau bergerak juga, seolah-olah aku sengaja ingin ditemukan oleh Erik. Benar saja, aku melihat Erik berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu. Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.

Dia pun membungkukkan tubuhnya,
“Hey, tukang ngintip cilik. Aku nggak marah kok. Hanya saja, aku sudah mempersiapkan hukuman yang tepat untukmu. Tapi, tidak saat ini. Ayo, aku temani kamu sampai kamu tertidur. Kalau kamu capek, besok bolos saja.”
Erik pun menggendongku yang masih terisak kekamar tidurku. Dan semalaman dia tidur sambil memelukku dengan hangat.
“Aku..aku..sayang Erik”
“Erik adalah milikku..hanya milikku seorang”
Pikiranku berputar-putar memikirkan hal itu. Tak lama, aku pun tertidur lelap.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-14. Aku senang sekali, karena Erik telah mempersiapkan sebuah pesta ulang tahun untukku di sebuah hotel bintang 5. Ballroom hotel itu sangat indah, Erik mempersiapkannya secara spesial. Aku pun mengenakan gaun berwarna putih yang baru dibelikan Erik. Kata Erik, aku sangat cantik dengan baju itu, “Kamu cocok sekali dengan warna putih, sangat matching dengan warna kulitmu.. Dan lagi, sekarang.. kamu semakin cantik.”

Teman-teman perempuanku juga berdecak kagum melihat penampilanku saat itu.
“Kamu cantik ya Maria? Beruntung sekali kamu punya ayah angkat seperti Erik..”
Kata Sara, teman baikku sambil tertawa meledek. Sara melirik ke arah Erik yang sedang duduk di meja pojok bersama Tomi.
“Hey Maria, Erik itu ganteng banget ya? Temennya juga..” ujar Sara sambil tertawa kecil.
Aku pun hanya bisa tertawa, aku pun menetujuinya. Akhir-akhir ini, kami memang jadi sering membicarakan soal cowok. Mungkin karena puber. Tak lama, Aryo temanku yang sepertinya suka denganku datang, sambil menyerahkan hadiah, dia mencium kedua pipiku. Tanpa sadar pipiku bersemu merah.

Setelah pesta usai, Erik mengajakku istirahat di kamar hotel. Aku lumayan capek, tapi aku senang. Dan setiba di kamar, aku memeluk Erik sambil mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih Erik..aku sayang sekali sama Erik..”
Erik pun membalas pelukanku sejenak dan kemudian melepasnya, dan dia memegang kedua lenganku sambil memandangku dengan serius. Aku pun merasa heran dan sedikit takut.
“..Erik? Kenapa? Marah yaa? Aku..melakukan kesalahan apa?”

Tanpa banyak bicara, Erik menggeretku ke tempat tidur, mencopot dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tanganku dengan kencang. Aku memekik dan mulai menangis.
“Eriik!! Sakit!! Kenapa??!!”
Dia melihatku dengan pandangan marah. Kemudian berteriak,
“Kenapa??!! Kenapa katamu?! Kamu itu perempuan apa??!! Masih kecil sudah kenal laki-laki!! Sudah kuputuskan! Kamu harus di hukum atas perbuatanmu barusan dan perbuatanmu 2 tahun yang lalu!!”

Deg. Jantungku terasa berhenti mengingat kejadian itu.
“Erik marah..”, pikirku.
Aku pun merasa ketakutan. Aku takut dibenci. Aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayangi.
Tiba-tiba, Erik menarik gaunku dengan sangat kasar sehingga menjadi robek. Aku berteriak.
“Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!”
Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. Celana dalamku juga akan dilepasnya.
“Erriik!! Jangaan!!”, aku berteriak ketakutan.

Terlambat, aku sudah telanjang total. Hanya sisa-sisa gaunku-lah yang masih menyembunyikan bagian-bagian tubuhku sedikit. Erik melihatku dengan penuh nafsu. Nafasnya terdengar berat penuh dengan kemarahan dan birahi. Dia pun menahan tanganku yang terikat dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
“Aku harus menjadi orang pertama yang..”
Erik tidak menyelesaikan kata-katanya dan mulai melumat bibirku dengan sedikit kasar.
“Hmmphh..”
Untuk pertama kalinya aku merasakan ada getaran yang aneh pada tubuhku. Sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Erik terus berlanjut menciumku, aku bisa merasakan lidahnya memijat lidahku. Aku pun mengikuti permainannya, sedikit takut, sedikit ingin tahu. Erik mulai meremas-remas payudaraku yang belum tumbuh seutuhnya.
“Ahh..”
Aku mulai menikmati getaran aneh pada diriku.
“Panas..badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati.
Erik melanjutkan ciumannya ke leher dan menggigitnya sedikit, remasan tangannya di payudaraku makin kuat.
“Ahh..!!” nafasku makin memburu.

Tiba-tiba Erik berhenti dan melihatku sambil tersenyum misterius.
“Hmm..kamu menyukainya bukan? Ya kan, setan cilik?”
Mukaku bersemu merah, tapi terlalu takut untuk berbicara, tubuhku bergetar hebat. Erik melepaskan kemejanya dan celananya, masih memandangiku. Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya.
“Aku rasa, kamu sudah siap untuk permainan selanjutnya..”
Erik tertawa kecil, sedikit kemarahan masih tersisa pada dirinya. Erik kembali menciumiku, kali ini dia meremas payudaraku sambil menghisapnya.
“Hhh..!!”
“Tidak apa-apa..kalau Erik..tidak apa-apa.” pikirku.

Aku memejamkan mataku erat-erat ketika Erik mulai memasukkan ‘senjata’nya ke dalam diriku.
“Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit.
Erik mulai tidak sabar, dan dia memasukkannya dengan kasar.
“Aaahh..!!”
Aku menjerit dan mulai menangis lagi. ‘Senjata’nya sudah memasuki diriku seutuhnya dan sakit yang kurasakan itu sedikit aneh, ada kenikmatan di dalamnya. Aku mulai sedikit meronta sambil berteriak. Tapi Erik menahanku dengan kuat. Erik menciumi diriku yang bergetar hebat dengan sedikit paksa. Bosan dengan posisinya, Erik membalikkan posisi tubuhku menjadi telungkup.
“Erriik..!! tidaak!!” aku sangat malu melakukan posisi itu.

Tetapi Erik tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Setiap kali tubuh Erik menghentak, aku menjerit sekeras-kerasnya. Erik melakukan gerakan menghentak itu secara teratur, dan tiba-tiba aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam diriku, aku merasakan ‘liang’ku
menyempit karena otot-otot di tubuhku menjadi tegang. Aku pun berteriak lebih keras dari sebelumnya.

“Ohh..Maria.”
Aku merasakan tangan Erik meremas pinggulku dengan kuat. Tubuh Erik mengejang, dan cairan deras pun mengalir dari ‘liang’ku. Aku mendesah panjang. Tubuhku masih bergetar. Erik masih menindihku dan mulai menciumi punggungku.
“Hhhmm.. pilihanku memang selalu tepat”, gumamnya.
Aku memilih untuk diam. Erik bergeser ke sampingku. Dia memandangiku yang masih berlinang air mata. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya.
“Maria, kamu adalah milikku seorang.. tidak ada satupun yang boleh menyentuhmu tanpa seizin-ku.”

Erik memeluk tubuhku yang kecil dengan erat.
“Ya Erik..aku adalah milikmu. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.
“Anak bodoh.. Aku tidak akan pernah membencimu Maria..”
Pelukan Erik semakin erat. Mukaku terasa panas. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.

“Terima kasih..Erik.”

Tugas Kenikmatan

Halo, perkenalkan namaku Dina usia 25 tahun. Aku sudah berkeluarga dengan 1 anak yang masih berusia 3 tahun. Aku dan R suamiku hidup sangat romantis dan sebenarnya keharmonisan kami sudah terbentuk sejak kami masih berteman (R adalah rekan kerja satu kantor sampai sekarang) yang seiring berjalannya waktu kamipun berpacaran.

Ternyata keasikan pertemanan kami setelah memasuki masa pacaran tidak mengalami perubahan malah semakin kompak karena untuk pulang kerumah aku tidak perlu kuatir jam berapapun karena R dengan setia siap mengantarku pulang atau kalau aku yang lembur maka R akan pulang duluan lalu kembali ke kantor untuk menjemput. Maklumlah sekalipun posisiku dikantor masih tergolong pegawai biasa tetapi kesibukan seolah tidak pernah berhenti dan aku sangat menikmati pekerjaan itu.

Oh ya aku saat ini aku bekerja di bagian keuangan salah satu NGO asing yang menangani perpajakan sehingga banyak sekali tugasku menuntut aku harus banyak menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan orang-orang pajak yang sudah menjadi rahasia umum sangat banyak tuntutan. Akupun jadi terbiasa menghadapi mereka dan tak jarang untuk dapat “melunakkan” hati mereka aku harus bersikap seluwes bahkan cenderung berpura-pura genit termasuk tampil agak seronok dengan tujuan supaya tugasku dapat selesai dengan mudah. Untungnya suamiku cukup bijaksana dan dapat memahami keberadaanku dengan memberikan kepercayaan 100% kepadaku. Ternyata keleluasaan ini justru membawa aku kedalam situasi yang sulit hingga akhirnya aku memasuki satu dunia yang belum pernah kukenal tapi gilanya aku jadi sulit untuk keluar dari dunia tersebut yaitu threesome sex.

Awalnya ketika itu kantorku menjelang tutup buku dan seperti biasanya kesibukan kami di keuangan menjadi luar biasa tingginya sampai-sampai ada beberapa rekanku yang harus pulang kantor menjelang pagi. Aku sendiri tetap pada tugas utama yaitu merapihkan laporan-laporan pajak dengan dibantu oleh petugas-petugas pajak. Syukurlah kali ini yang ditugasi untuk konsolidasi ada 2 orang yang sudah tidak asing bagiku yaitu Heru (26) dan Dimas (25) sehingga aku tidak perlu buang-buang waktu untuk beradoptasi dan menjelaskan kondisi kantorku.

Kami janjian ketemu di Hertz Chicken untuk makan siang sekaligus berdiskusi awal menyepakati hal-hal apa yang harus dilakukan dan pembagian tugasnya. Karena sudah akrab kamipun menyelingi diskusi dengan senda gurau dan setelah itu kami lanjutkan pekerjaan inti di kantor mereka yang letaknya cukup jauh yaitu di Tanggerang. 3 hari pertama semua berlangsung normal, ketika memasuki hari ke 4 volume pekerjaan semakin serius sehingga tidak terasa sudah jam 8 malam. Sedangkan target selesai kerjaan kami hari ke 6 sudah harus dilaporkan. Akupun jadi gelisah sendiri dan rupanya Heru menangkap gelagat itu dan mencoba membantuku mencari solusinya.

“Bukan apa-apa Her, rumahku kan jauh sekali di Bogor sedangkan jam segini aku masih di Tangerang”

“Ya udah begini saja, bagaimana kalau Mbak Dina bermalam saja di cottage dekat kantor lalu besok pagi minta tolong suami Mbak Dina membawakan pakaian ke kantor. Tapi sekarang harus kasih tahu dulu sama suami supaya dia tidak gelisah nungguin,” usul Heru.

“Boleh juga, usul diterima” sambutku gembira dan mengangkat tangan untuk TOSH dengan Heru.

Segera kutelpon suamiku R yang sedang berada di luar kota untuk minta ijin dan R menyetujui bahkan menyuruhku supaya mentuntaskan. Setelah makan malam nasi goreng di kantor aku pun minta tolong Heru mengantarku ke cottage yang di maksud. Setiba di sana ternyata tempatnya cukup menyenangkan karena tersedia ruang tamu dan 2 kamar ditambah lagi hari itu ada rate khusus berkenaan dengan ulang tahun cottage tersebut. Melihat itu spontan aku langsung setuju bukan menyesali.

“Tahu begitu kita kerja disini saja lebih enak”.

Rupanya reaksiku ini disambut oleh Heru, “kalau begitu bagaimana kalau kita melanjutkan tugas kita disini supaya aku dan Dimas enggak perlu repot-repot karena disini kan bisa sekalian mandi lalu tidur, mumpung kamarnya dua.. gimana Mbak?”

“Boleh saja,” jawabku pendek tapi dalam hati menyesali spontanitasku tadi karena berarti malam ini aku akan berada bersama 2 laki-laki dalam satu atap rumah.

Namun keraguanku pupus karena aku berusaha berpikir positif, toh kita nggak akan macam-macam karena kamar kami terpisah, kalaupun terjadi apa-apa atas diriku aku bisa berteriak. Ah, jahatnya hati ini.. kalau dilihat dari sikap dan penampilan mereka yang intelek mana mungkinlah mereka mau berbuat macam-macam.

Tak lama kemudian Dimaspun datang dengan membawa beberapa tumpuk order dan meletakkan di meja makan yang rencananya akan kami jadikan meja kerja. Untuk menghilangkan rasa lelah aku memutuskan untuk berendam di kamarku yang juga dilengkapi dengan kamar mandi. Tapi baru kusadar aku tidak membawa pakaian, untunglah aku membawa kaos mirip singlet dan kebetulan dibalik celana panjang yang kupakai aku juga mengenakan celana sport stretch hitam sebatas diatas lutut. Masalah lain adalah aku hanya membawa CD yang menempel.. Duh bagaimana ya..

Akhirnya aku dapat ide untuk mencuci CD itu dan menjemur di kamar mandi dengan harapan besok pagi sudah kering. Sebagai pengganti CD aku melapisi kemaluanku dengan panty liner yang kutempelkan langsung di celana. Beress.. Kan?? Lalu mandilah aku dengan air panas yang sudah kuatur sesuai selera. Usai mandi akupun berbusana seperti yang sudah aku pikirkan dan ketika keluar kamar kulihat Heru dan Dimas sudah segar karena mereka juga sudah mandi dan seolah sudah janjian mereka sama-sama mengenakan celana pendek, tapi bagian atasnya hanya Heru yang mengenakan kaos singlet sedangkan Dimas bertelanjang dada saja membiarkan dadanya yang bidang berotot dan berbulu itu terpampang membuat darahku sedikit berdesir.

“Maaf Mbak Dina aku terpaksa tidak pakai apa-apa karena tadi waktu mau mandi bajuku jatuh dari kapstok sehingga basah”

Dimas berusaha menjelaskan dan menutupi rasa saltingnya karena mataku menatap tajam.

“O ya, tapi sudah dijemur kan?” tanyaku basa basi.

“Sudah sih,” jawab Dimas sambil pura-pura sibuk dengan kerjaannya lagi.

“Ah, bilang aja mau pamer bulu sama Mbak Dana.. ck, ck, ck.. Di kampungnya aja segitu banyak apalagi di kotanya.. ha, ha, ha” ganggu Heru sambil melirik ke aku dan kulihat Dimas semakin malu.

Rupanya introduksinya Heru tidak berhenti disitu karena akhirnya kami kembali bersenda gurau yang selanjutnya topikpun beralih serius menjadi diskusi tukar pikiran seputar hal-hal yang sangat pribadi dan kamipun tenggelam asik dalam pembicaraan tentang teknik-teknik ML. Dari situ baru kuketahui dari kisah-kisah mereka ternyata Heru sangat piawai dalam teknik sex. Heru terus bercerita tentang pengalamannya dengan beberapa teman gadisnya yang menurut pengakuannya cewek-cewek itu sangat tergila-tergila dengan permainannya.

Lain halnya dengan Dimas yang lebih banyak mendengarkan tapi tanpa sadar Dimas sudah menutupi bagian auratnya dengan bantal, mungkin malu kalau ketahuan “adik”nya sudah meronta-ronta. Semula aku bertahan untuk tidak menceritakan pengalamanku, tapi karena Heru pandai memanfaatkan suasana akhirnya kuceritakan juga apa saja yang aku dan suamiku pernah lakukan tapi masih dalam batas yang sopan karena itu hal yang tabu untuk disampaikan kepada orang lain apalagi lawan jenis dan bukan suami sendiri.

Lama kelamaan level cerita kamipun meningkat, aku sudah semakin berani menyampaikan hal yang sekecil-kecilnya tentang apa saja yang masing aku dan suamiku sukai. Begitu juga dengan Dimas yang berhasil dibuat mengaku kalau ternyata selama ini mengalami minder akibat bawaan lahir karena memiliki penis yang sangat besar. Dengan tetap berusaha keras mengendalikan hormon wanitaku aku berusaha untuk menghibur Dimas.

“Ah, kenapa harus minder.. Justru seharusnya bangga dong. Seperti aku, maaf kata nih, aku suka minder karena memiliki rambut yang berlebihan. kalau laki-laki seperti kamu sih nggak apa-apa, tapi aku suka kuatir suamiku tidak menyukainya. Buktinya setiap aku memintanya untuk mengoral selalu ditolak halus, tapi jangan salah.. Dia selalu puas dengan coitus kami”

Hari semakin malam dan topik diskusi kami semakin panas dan kamipun sudah berpindah ke sofa. Ketika kami membahas threesome sex dan entah sadar atau tidak sambil bercerita posisi duduk sudah tak karuan.. Aku bersandar di pegangan sofa dengan kaki diatas pangkuan Heru dan kaki sebelah berjuntai ke karpet dimana Dimas duduk dilantai sambil menikmati Heru yang memijat betis indahku dengan bulu-bulu halus yang tumbuh rapih disitu dan Dimas memijit telapak kakiku yang putih bersih dengan kuku dilapisi kutex transparan.

Begitu nikmat sensasi pijatan yang mereka berdua lakukan akhirnya aku merasa melayang apalagi pijitan Heru sudah naik ke arah pahaku dan aku ingat aku hanya mengangguk dengan mata terpejam ketika Heru dan Dimas melepaskan celana sportku dengan alasan untuk memudahkan pemijitan dan lupa kalau itulah pertahananku terakhir. Ketika kubuka mata untuk mencegah upaya mereka tapi ternyata terlambat karena celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku.

“Duh.. Kalian ini.. Aku jadi malu”

Tapi mereka tidak menggubris sebab mereka sudah asik masing-masing dengan kakiku.. Dan aku semakin bergumul dengan diri ini antara menolak dan sebaliknya.. Yang kesimpulannya aku dengan perlahan dan sambil menggoyang-goyangkan pinggul akibat sensasi yang begitu hebat membuka kakiku terbuka lebar-lebar dan melupakan rasa malu karena telah memamerkan bagian dari wanita yang mestinya aku tutupi dan hanya dapat dibuka didepan suamiku. Tapi peraturan itu seolah tidak berlaku karena dibawah selangkanganku sana dua lelaki muda sedang menggeluti pahaku dan.. Oow mereka tiba-tiba berubah seperti hewan lapar sedang rebutan makanan dan begitulah mereka sedang saling dorong untuk bisa melahap kemaluanku..

Dan akhirnya Dimas mengalah membiarkan Heru melahap kemaluanku dengan rakusnya, selanjutnya giliran Dimas yang berbeda dari Heru.. Lebih lembut tapi oougghh seluruh permukaan kemaluanku terasa dikunyah, penasaran mau tahu apa yang sedang Dimas lakukan, kubuka mata dan kulihat mulutnya yang ditumbuhi janggut dan kumis tebal itu telah menutupi kemaluanku membuat aku kegelian hebat serta tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang mendesak dari bagian bawahku yang ternyata cairan kewanitaanku mengalir deras memenuhi rongga kemaluanku..

Setelah puas menggeluti kemaluanku Heru mengambil handuk dan menyeka kemaluanku.. Dan mengambil sesuatu yang ternyata krim cukur jenggot dan shaver.. Aku tahu apa yang akan Heru lakukan tapi akibat kenikmatan oral sex itu aku seperti tidak berdaya dan tetap telentang dengan posisi mengangkang..

“Heru apa yang mau kamu lakukan??”

Tapi pertanyaanku tidak digubris malah Heru memberi kode kepada Dimas yang kemudian Dimas menghampiriku dan didepan mataku dia menurunkan celana pendeknya.. Dan wow.. Batang kemaluan Dimas ternyata sudah memuai sampai sebesar tangan bayi.. Dengan tetap lembut Dimas menyodorkan Super Dicknya ke mulutku sehingga mulutku sekarang penuh sesak dengan penis milik Dimas sementara dibawah sana Heru rupanya asik mencukuri kemaluanku.. Semua proses itu berlangsung kira-kira 15 menit dan ketika “pekerjaan” Heru selesai Dimaspun mencabut penisnya dari mulutku.

Ketika kutengok kemaluanku sudah licin memerah.. Setelah membersihkan sofa dari bulu-buluku Heru memulai tugas lainnya, penisnya yang tidak kalah besarnya dari milik Dimas segera melompat dari celana pendeknya.. Sehingga yang terlihat sekarang 3 insan berlawanan jenis sudah polos tidak mengenakan apa-apa terlebih aku sudah seperti bayi karena kemaluanku sudah tidak ditumbuhi bulu lagi dan sedang digosok-gosok oleh batang kemaluan Heru sampai cairanku keluar seolah menyatakan siap untuk menyambut penis Heru yang besar dan penuh urat..

“Sshh..”

Hanya desisan itu yang keluar dari mulutku ketika kepala cendawan itu menerobos perlahan kewanitaanku yang selama ini hanya digunakan oleh suamiku R. Secara naluri mulutku terbuka lebar ketika kurasakan batang kemaluan Heru sudah tertanam seluruhnya di dalam liang senggamaku.. Setelah beberapa saat didiamkan yang ada dibenakku adalah betapa sesaknya kemaluanku dan gatalnya minta ampun sehingga tanpa sadar pinggulku bergoyang yang disambut dengan genjotan Heru..

Selang beberapa lama Heru tiba-tiba membalikkan tubuh kami dengan penis masih tetap tertanam sehingga sekarang aku berada diatas Heru memberiku kesempatan untuk mencari sensasi sendiri.. Hal ini berlangsung cukup lama entah sudah berapa kali aku orgasme.. Tak lama kurasakan bokongku ada memukul-mukul pelan, ketika kutengok ternyata Dimas sedang dalam posisi tegak dibelakangku dan mengoleskan baby oil ke anusku.. Selanjutnya yang terjadi adalah kenyataan 2 penis besar mereka sudah tertanam dalam tubuhku.. Luar biasa nikmatnya sampai akhirnya merekapun ejakulasi dan menumpahkan di wajahku..

Setelah itu kami bertiga tertidur pulas dan pagi-pagi kami bangun melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Bedanya dengan kemarin-kemarin adalah sekarang kami bekerja tanpa sehelai benangpun dan bila sudah mulai bosan kami selingi dengan persetubuhan.. Kadang aku melayani sekaligus berdua, kadang satu-satu dan sementara salah satu dari mereka tetap bekerja.

Lucu memang.. Tapi itulah pengalaman dahsyat yang aku alami dan membuat aku jadi sekarang jadi ketagihan.. Malah aku pernah melayani Heru dan Dimas ditambah 3 orang temannya yang lain.. Luar biasa.. Benar-benar aku sudah punya dunia sendiri diluar ijin suamiku R.

Ibu Kos, pembantu kos dan 4 temen arisan ibu kos yang haus sex adalah guru sexku

Cerita ini merupakan pengalaman nyata yang hampir 30 thn aku simpan, sekarang aku berusia 49thn, berkeluarga dgn. 2 anak (masing2 sdh kuliah), pengalaman ini tidak pernah kuceritakan ke istri dan siapapun. Tetapi karena sering membaca Cerita Dewasa, maka aku ingin menceritakannya kepada para pembaca setia Cerita Dewasa.

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1980 s.d 1986 ketika aku mulai kuliah di PT swasta di Jogjakarta. Saat itu aku Hendi (nama samaran) usia 19 thn, tinggi 168cm, berat 60Kg, postur atletis, kulit sawo matang, wajah oval berkumis, potongan rambut bross, teman2 selalu memiripkan aku dengan bintang film Beverly Hills Cop – Freddy Murphy (film layar lebar yang termasuk box office saat itu), setelah lulus SMA di kota Bandung (kami sekeluarga asli jawa timur, tetapi kami 6 bersaudara lahir dan besar di kota Bandung), hijrah ke Jogjakarta tanpa ada family sama sekali untuk mendapatkan sekolah PT swasta, karena tidak diterima di PT. Negeri (saat itu jalur Perintis 1 – 4), aku diterima disalah satu PT. Swasta terkenal di Jogja, jadi aku mencari tempat kos2an yang akhirnya dapat tempat kos dimana sebelumya rumah itu belum pernah menerima kos2an, didaerah Baciro.

Karena rumah tsb. nampak asri banyak tanaman hias, nyaman dan sejuk, aku tertarik untuk kos disitu walaupun tukang becak dan pemilik warung disudut simpang 3 mengatakan: “ itu kan rumah Bu Wahyu, selama ini tidak terima kos2an mas, dia hanya bersama pembantunya, Pak Wahyunya sedang tugas ke Amrik, sedangkan mbak Shinta (anak semata wayang) kuliah di Jakarta, tapi coba aja mas, kayaknya punya 4 kamar kosong dibelakang”

Aku beranikan diri mengebel rumah bu Wahyu, dan yang keluar adalah wanita setengah baya mengenakan kain jarik jogja, usia sekitar 35-40thn, nampak wajahnya bersih berlesung pipit, bertubuh sintal dan mungil, sehingga nampak menarik, ternyata dia adalah pembantunya bu Wahyu: “ disini ga terima kos mas, tapi coba saya tanyakan ke ibu sebentar” (dalam hatiku, wah.. pembatunya bersih juga dan semok bodynya…… he..he).

Beberapa menit kemudian keluarlah bu Wahyu, wah… wah…! aku terbengong kagum, ibu satu anak ini sangat ayu cantik, kulit putih mulus, rambut panjang sepinggang diikat, tinggi sekitar 160cm dan berat sekitar 55kg, dgn tubuh sintal (semok/ bahenol) mengenakan celana jeans ¾ ketat dan kaos puntung (tanpa lengan) ketat sehingga nampak buah dada yang super besar (menurut saya) kenceng/ padat ukuran sekitar 36B dan ketiaknya nampak bersih tidak berambut. Saat itu aku terbayang penyanyi dangdut/ bintang film cantik Shinta Bella, karena bu Wahyu mirip benar dan aku pikir dia adalah bintang film tsb. Nampak bahwa usianya sekitar 30-35thn (lebih muda dari pembantunya), tapi dalam hatiku berpikir heran, kok anaknya sudah kuliah..!?

Ntah alasan apa, bu Wahyu yang katanya tidak terima kos, langsung berkata: “ kebetulan dek ada kamar kosong dibelakang, tapi jangan bulanan yaa, tante maunya per 6 bulan”. Akhirnya aku setuju kos disitu, lagian senang banget suasananya asri, sejuk dan….. ibu kosnya cantik, bahenol… pembantunya juga he..he!

Ternyata hasil ngobrol2 dengan mbok Tini (pembantu yg ternyata usianya 37th), Tante Wahyu itu usianya sudah 46thn (lebih tua dari ibu saya yang 44th), bener2 aku kagum dengan Tante yang bisa merawat tubuh & wajah sehingga terlihat seperti masih usia 30 tahunan, dan Pak Wahyu (50th) tugas ke Amrik 3 thn, ini baru 6 bulan dan pernah pulang sekali saja (2 minggu). Kalau mbak Shinta kuliah di Jakarta sdh 1 thn dan kadang2 pulang sebulan sekali (2hr saja), krn dia selain kuliah juga nyambi kerja di TVRI.

Aku menempati kamar belakang yang terdepan, persis berbatasan dengan pintu ruang keluarga, tetapi pintu masuk kamar tetap diluar ruangan tsb. dan tembok kamarku persis bersebelahan dengan kamar Tante Wahyu. Di ruang keluarga nampak foto2 keluarga Tante yang memang hanya ber 3 : Tante, Om Wahyu dan Shinta yg nampak cakep banget dengan potongan rambut pendek (tomboy) dengan tubuh mirip Tante semok dan buah dadanya super..he..he..! Om Wahyu nampak tinggi ganteng berkumis tipis dan kelihatan jauh lebih tua dari Tante.

Saya perhatikan dan dari cerita2 Mbok Tini, Kegiatan rutin Tante adalah fitness 3 x seminggu, rutin ke salon luluran dan mandi susu, arisan/ kumpul2 seminggu sekali, dan shoping ke supermarket hampir setiap 2 hari sekali. Tante kalau pergi2 sendirian menggunakan mobil Mitsubishi Lancer, serta selalu berpakaian modis layaknya gadis2 SMA/ Mahasiswa dan berkacamata hitam, tentu banyak laki2 yang tertarik memandang wanita secantik tante dengan penampilan seperti itu, padahal usianya sudah 46th.

Hari2 kulalui biasa2 saja dimulai dengan kegiatan Posma (Pekan orientasi mahasiswa) dan dilanjutkan aktif kuliah menggunakan sepeda motor bebek Honda 70cc thn 73 plat D Bandung, sementara 3 kamar kosong disebelah kamarku belum ada penghuninya, sempat aku tanya ke Tante: “ Tante apa perlu aku carikan teman yg mau kos disini, aku carikan cewek yaa … biar Tante ada temen dan aku tambah segar..he..he..”, tapi Tante bilang: “ ga usah dulu Hen, Tante belum biasa dirumah ini banyak orang, lagian tante sudah senang ada teman kamu yg bisa temenin tante sehari-hari…!!!”.

Setelah 1 bulanan berjalan, aku melihat gelagat perilaku Tante berubah sangat perhatian terhadapku dan smakin hari semakin tidak biasa, seperti: sering menanyakan jam kuliah dan pulangku, dan membelikan makanan kecil maupun menyediakan makan malam, padahal aku kan cari makan diluar, jadinya aku sering ga keluar uang makan, ..yah..lumayan..gratis..he..he..! Mulai juga sering diajak mengantar tante dengan mobilnya (kalau aku kosong kuliah) ke Supermarket, fitness, salon di jalan Solo dan nonton film di bioskop Mataram serta kalau hari libur menemani ke tempat wisata Kaliurang. Aku sih senang2 aja, semuanya gratis, dan yg lebih senang jalan dengan tante cantik bahenol dan nampak masih muda, jadi seperti sepasang kekasih yang sedang pacaran aja..ha..ha.., habis tante sering merapatkan tubuhnya ketubuhku kalau sedang berjalan sambil melingkarkan tangannya di lenganku.

Akhirnya karena terbiasa ngobrol2 baik dirumah maupun saat jalan, tante banyak curhat ke aku, mengenai kehidupan sehari-harinya, bahwa dia kesepian sejak suami jauh di Amrik dan jarang pulang, bahkan sampai menceritakan hubungan sexnya dengan suaminya, dimana Tante belum pernah merasakan apa itu orgasme saat berhubungan intim dengan suami selama menikah 22thn, padahal tante libidonya sangat tinggi, jadi selalu ingin berhubungan intim terus. Sejak suami tugas Tante melampiaskam birahinya dengan masturbasi menggunakan Dildo (Penis karet ukuran orang bule, karena pesan dari luar) hampir setiap hari di kamar, dan Tante baru bisa merasakan namanya orgasme dengan Dildo tersebut, sehingga Tante selalu membayangkan bagaimana rasanya orgasme oleh Penis beneran saat berhubungan intim dengan laki-laki kayak apa sih… dan terpikir ingin cari Gigolo untuk merasakan orgasme sesungguhnya, tapi Tante takut tertular penyakit kelamin dan rahasia terbongkar, karena Gigolo adalah orang lain yang tidak dikenal. Aku lebih banyak tertegun mendengar curhatan tante, lagian aku kan ga punya pengalaman apa-apa, pacaran dan ciuman aja belum pernah apalagi berhubungan intim atau ngentot, jadi aku agak kaget dan malu2 merespon curhatan Tante. Aku lebih sering mengatakan ke Tante untuk sering komunikasi dengan suami via telephone dan tambah aktivitas sehari-hari

Suatu saat kami perjalanan ke wisata Kaliurang, sepanjang perjalanan tante mendesak aku mau untuk berhubungan intim dengan Tante, aku sangat kaget dan takut, meskipun ingin juga sih merasakannya kayak apa sih.., apalagi tante sudah pengalaman dan cantik bahenol seperti artis, kebayang juga sih pengen ngentot artis he..he!

“Hen…, tante terus terang sudah ga tahan dengan masturbasi terus setiap hari, tante pengen merasakan Kontol asli Hen…, Tante sudah lama ga di entot kontol beneran..”, aku kaget karena tante secara blak blakan menyebut “Kontol & Ngentot” bikin aku terangsang..! “Kamu belum pernah ya entotan, …..” Aku menggeleng pelan sambil menyetir mobil dan memandang kedepan “jangan takut ntar tante yang ajarin semuanya…kamu pokoknya diam aja ntar tante yang entot kamu, tante yakin kontolmu pasti bisa memuaskan tante … dan kamu juga pasti nanti menikmati”. Aku diam saja sambil menyetir mobil dan tante mengarahkan aku agar masuk ke villa.

Akhirnya kami ginep di villa tsb, saat baru sampai di Villa, Tante ntah bagaimana sudah memeluk aku dan di sofa langsung mengelus2 bagian kontolku meskipun masih bercelana. Aku kaget tapi diam saja, dan tante menciumi leher dan bibirku, aku merasakan terangsang, yg baru pertama kualami dan kontolku langsung menegang krn dielus2 dibagian luar celana oleh tante.

Tante begitu ganasnya membuka seluruh pakaianku yg akhirnya telanjang bulat dalam posisi telentang disofa dengan kontol mengacung ke atas cenut-cenut, sementara tante juga sdh ga tahan, dia telanjang bulat juga yg ntah kapan membuka pakaiannya.

Aku bengong dan kagum dengan tubuh telanjang tante yg mulus putih, teteknya yang super besar sangat kenceng dan padat bagaikan buah melon, perutnya rata, pinggangnya begitu berbentuk lekuk serta bokongnya besar/ bongsor, nampak pahanya begitu padat berisi dan sangat putih mulus membuat aku semakin terangsang, aku melirik keselangkangannya nampak menonjol ke depan dengan ditumbuhi rambut2 hitam kasar yang sangat lebat merambat ke atas bagian perut mendekati pusar semakin tipis dan sebagian rambutnya melebar ke kiri dan kanan mendekati pangkal paha, bener2 sexy banget membuat aku sangat terangsang. Aku tidak sadar tante sudah mengocok-ngocok kontolku dan langsung dijilatinya..aku heran kok tante ga jijik.. trus di kulum2nya kontolku serta di isap2nya, tante menjilati pelirku dan seluruh batang dan kepala kuya kontolku sehingga aku merem melek kenikmatan, sementara kedua tangan Tante sambil mengelus-elus kedua pahaku, “kontolmu panjang dan besar Hen, jembutnya masih tipis2 …sexy banget… tante baru lihat seperti ini hampir ½ batang kontolmu ditumbuhi jembut ouh.., ini jauh lebih besar dari kontolnya om…, huh…Hen keras banget kayak dildo Tante…tante suka banget..dan pasti bisa ketagihan nie…, Ooh..kamu bener2 masih perjaka yaa…tante lihat lubang kontolmu masih bulat sebesar ujung pensil…wah..tante beruntung Hen…!” Sementara tante jongkok disamping sofa sambil menghisiap-hisap kontolku, aku meremas-remas ke dua tetek tante yg kenyal dan padat sehingga tante mendesah-desah sambil kulum2 kontolku, aku juga semakin mengerang-ngerang kenikmatan yg belum pernah alami selama ini. Aku akhirnya merasakan ada sesuatu yang akan mendesak keluar dari kontolku dan terasa sampai saraf kepalaku sehingga aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara, padahal baru beberapa menit, Tante dengan begitu binalnya terus2an menaik turunkan mulutnya di sepanjang batang kontolku serta meng hisap-hisap kepala kuyaku! “Tante….tante… aku ga tahan tan…pengen keluar…. Oughhhh……Crot..crot..crot….crot… muncrat begitu banyak dan keras didalam mulut Tante, ough…ough…argh..argh… tante…tante…enak banget..ouhk…ouuhhh….”, Tante nampak senang sekali sambil ketawa2 dan cepat2 menjilati dan menelan semua sperma yang keluar dari lubang kontolku serta yang tercecer disepanjang batang kontolku dan spermaku dijilatinya dan telannya sampai bersih seperti menjilati ice cream. Kenikmatan bertambah saat Tante menghisap-hisapi kepala kuyaku dan menjilati sperma yang sudah keluar…ooohhh…ouuhhh…! Itulah pertama kali keperjakaanku direnggut oleh tante kosku, yang usianya sudah 46thn, atau 27 tahun lebih tua dariku yg layaknya sebagai ibuku. Aku benar2 lupa ingatan yang jelas saat itu merasakan suatu kenikmatan dunia yang tiada duanya sambil melayang di awan yang selama ini belum pernah kurasakan.

Tante ga berhenti disitu, setelah kontolku bersih dari sperma Tante tetap mengulum-ngulum kontolku yang akhirnya ga sampai 5 menit kontolku sudah tegang kembali dan aku terangsang lagi pengen rasanya mengeluarkan sperma lagi. Gila memang..tante bener2 pengalaman dan haus sex.. mungkin karena beberapa bulan ga pernah merasakan kontol beneran lagi. Setelah kontolku tegang kembali, tante langsung cepat2 duduk diatas kontolku berhadapan dengan ku dan memegang serta memasukkan kontolku ke memeknya yg rambutnya kasar dan sangat lebat, aku merasakan gesekan saat pertama kontolku masuk ke memeknya tante…..terasa hangat dan ada cairan licin didalam memeknya “ough…ough…nikmat banget..tant” dan akupun mulai mengerti rasanya ngentot itu ternyata nikmat banget bagaikan melayang di awan, makanya tante bener2 menginginkannya, krn sdh lama ga dientot suaminya, “ Hen..kamu tenang aja..ntar kamu akan merasakan kenikmatan yang lebih nikmat dari yang tadi..” Tante semakin mempercepat naik turun diatas kontolku sambil meracau ga karuan apa yang dikatakan…dan bertriak-triak mengerang kenikmatan, dan aku semakin merasakan gesekan memek Tante yang begitu cepat sehingga seluruh saraf tubuhku benar2 menegang dan terasa sangat nikmat dibanding saat kontolku dioral-oral tante tadi.

Beberapa menit kenudian tubuh tante menegang beberapa kali sambil mempercepat naik turun diatas kontolku serta triak-triak:” Hen…hen….Tante ga tahan..Hen..mau keluar…ooohh…oughh..ough…Hen…Hen..argh..argh…Uuuoohhhh Tante sudah….sudah…Argh… hen..hen Ouh…ouhg…ouhg…arrghh….aahhhshh..nikmatnya !” Aku merasakan nikmat dan kontolku semakin merasakan hangatnya cairan mani memek Tante yang keluar berulang-ulang, jadi kenikmatan yang tiada duanya….Aku sedikit heran juga kok kontolku tahan lama juga, mungkin karena tadi sudah keluar sekali. Tante berhenti sejenak sambil merem menikmati klimaxnya “aouuhhh….Hen… tante puas banget… bisa orgasme 2 kali nie..hebat kontolmu enak banget…kontolnya Om ga ada apa-apanya”, kemudian tante minta aku ganti posisi di atas, akupun berputar sekarang posisiku diatas menyodok-nyodokkan kontolku begitu cepat di memek tante… sampai berbunyi clok…clok..clok..begitu, karena memek tante sudah mengeluarkan cairan mani orgasme ber kali2…..sementara tante masih bisa mendesah-desah dan triak triak kecil kenikmatan setiap aku menyodokkan kontolku ke memeknya. Tante nampak masih menginginkan dientot lagi untuk mendapatkan multiorgasme yang selama ini didambakan.

Aku smakin cepet naik turunkan kontolku dan tante triak2 tdk terkontrol sambil bertriak2: ”..trus..trus..trus..hen..yg cepet jgn berhenti.. ough..ough..ough hen..argh..argh…huh..huh.. hen trus2 trus..hen entot tante yg keras henn….hen.. Ough..ough…hen..hen..hen..tante sudah pengen keluar lagi….ga tahan ga tahan..hen..jgn….stop..jgn..stop..jgn.pelan…trus….yang cepet…” aku smakin mempercepat sodokanku scepat cepatnya sampai tante terhentak-hentak! “ Hen… iya….iya..bgitu jangan berhenti…ough…ough…ough…arrrggghhhh….hen…tante….mau…keluar…lagi…….orgasme…..argh……argh…arg…ough…ough..hen..hen ouuuggghhh….ouh..ouh…Hennnn…..ough..ough…ough..ough nikmatnya Hen..tante puas banget…..! ouh….ouh…makasih hen…makasih hen…tante belum pernah orgasme gini kalo sama kontol Om..tante hanya bisa orgasme kalo dgn dildo…ooh…. Kamu hebat hen..tante sayang kamu..! Baru kali ini tante bisa merasakan rasanya orgasme karena sodokan kontol….malahan bisa multiorgasme yang selama ini Tante dambakan, makasih ya sayang..tante pengen terus tambah kalo gini”. Aku berhenti sejenak memberikan kesempatan tante menikmati fase klimax yg didapatnya, setelah beberapa detik kulanjutkan kembali aku menaik turunkan kontolku di memek tante yg dari tadi masih menancap.

Semakin cepat kusodokan beberapa menit kemudian aku merasakan ada desakan dari dalam kontolku yang akan keluar sehingga bisa meraih kenikmatan yang kata Tante lebih nikmat dari yang tadi, aku sdh tidak mendengarkan apa yg diomongin Tante, dan aku semakin cepat menyodok-nyodok memek Tante yang sudah klimax penuh cairan mani karena multiorgasme “ Akh..akh..akh..tante..tante…aku pengen keluar di memek tante…!” Tante langsung mengimbangi dengan gerakan memutar-mutarkan pantatnya dari bawah..sehingga setiap sodokan kontolku bisa masuk penuh ke dalam memeknya. “Ouh….ouh…hen…kamu belum keluar ya hen…sini tante bantu keluarin..” ….sekitar 2 menit kemudian aku ga tahan dan keluar..dengan keras..crot..crot..crot “ough…ough..tante…tante…aku keluar…..ough…ough…haaahhh…nikmat banget tant….”…… “truskan hendi keluarkan yang banyak…. Tante merasakan hangat spermamu di dalam memek Tante..ouhg…enaknya Hen…. Kontolmu…hebat… makasih ya hen….memek tante bisa mendapatkan semprotan sperma perjaka kontolmu…..yg bikin tante awet muda”

Akhirnya kami di villa itu nginep 1 malam, dan kami entotan sepanjang hari ga henti2…Tante Wahyu bener2 ketagihan kontolku dan aku hitung2 kami entotan selama 1 hari 1 malam sebanyak 18 kali…wuih..! Aku ga kepikiran juga…karena setiap aku ngecrot pasti di dalam memek tante…kok tante ga takut hamil yaa…mungkin tante sudah ada penangkalnya..anti hamil.

Selanjutnya sudah bisa diduga..hari2 dirumah kosku hanya entotan..dan entotan lagi dengan tante Wahyu..ga bosan2 nya. Aku sdh tidak bisa menghitung lagi berapa kali aku ngentot tante Wahyu..karena sudah menjadi makanan se hari2.. kecuali kalau Tante lagi mens. Tante selalu minta di entot setiap pagi sebelum dan sesudah aku pulang kuliah, malempun tante minta lagi, itupun bisa 2 s.d 3 kali. Dan itupun dilakukan di kamarnya atau di kamarku, ngumpet2 dari mbok Tini, meskipun aku merasa Mbok Tini pasti sudah tahu, tapi kami berdua cuek aja. Toh mbok Tini juga biasa aja dan cuek kok..!

Aku ga bisa bayangkan, aku setiap hari ngentot tante Wahyu yang usianya pantas menjadi ibuku…. , bahkan 2 tahun lebih tua dari usia ibuku, sudah bersuami dan punya anak sudah seusiaku, serta kalau nanti tante hamil bagaimana…., kan suaminya lagi di Amrik…itu ga pernah terpikir..! Tapi yang jelas sampai saat itu Tante ga pernah hamil tuh..! dan aku benar2 menikmati dengan senang..!

Kadang aku pulang kuliah, tante sudah tidur telanjang di kamarku…aku sudah langsung mengentotnya..rutin seperti tante Wahyu adalah istriku. Kalau malem aku lebih banyak tidur ditempat tidur tante, jadi otomatis tinggal ngentot aja… aku semakin ter gila2 ngentot juga dan ketagihan..kalau ga ngentot rasanya kepala pusing..! Dan kadang aku yang minta tambah berulang-ulang..Tantepun dengan senang hati melayaniku. Saat Tante menspun kalau aku yang minta ngentot, Tante tetap melayaniku dengan meng oral2 dan hisap2 kontolku sampai muncrat dan spermanya Tante telan habis.

Dampaknya aku ga pernah bayar uang kosku lagi (dulu aku hanya bayar 6 bulan pertama), berikutnya ga pernah bayar sama sekali, saat aku mau bayar kos 6 bulan kedua:” Hen…kamu apa2an sih…, Tante ikhlas ngentot sama kamu..Tante bener2 puas dan nikmat ngentot denganmu… Tante bersyukur bisa kenal kamu, jadi Tante bisa mendapatkan orgasme yang selama ini Tante idam2kan…. Kamu anggap rumah ini dan Tante adalah milikmu sendiri… yang setiap saat bisa kamu tiduri…!

Tante sangat berpengalaman, setiap hari aku diberi vitamin2 dan supplement: “ Hen ini harus kamu minum tiap hari yaa.. pagi – siang dan sebelum tidur..nah kalau mau ngentot tante kamu minum yang ini 1 tablet yaa.. jangan lupa lho….supaya kontolmu kuat dan tahan lama… .. kalau loyo..apa kamu ga kasihan sama tante..ntar tante sakit lho..!” Tante cerita bahwa Om Wahyu kalau disuruh minum tablet2 dari Tante ga pernah mau, makanya Tante gemes sama suaminya.

Suatu hari Om Wahyu pulang ke Jogja dari Amrik sekitar 2 minggu. Jadi Tante ga ada kesempatan entotan dengan aku. Akupun lama2 bete ga tahan pengen ngentot tante juga..! Ntah bagaimana..tiba2 suatu malam (om msh ada) skitar jam 01:00 dini hari tante ngetok kamarku dan langsung masuk dalam keadaan telanjang….. nampak wajahnya sayu tapi penuh napsu birahi…dan langsung merogoh kontolku langsung dikulum-kulumnya, aku ya langsung melayani tante tanpa terpikir ada Om Wahyu dikamarnya.. akhirnya kami entotan sepuasnya sampai 2 kali. Dan tante tercapai orgasmenya berkali-kali juga (multiorgasme): “ hen.. makasih yaa.. tadi Om ngentot tante..tapi peltu (nempel metu)..baru nyodok2 beberapa kali sudah ngecrot..pdhl tante belum terangsang..makanya Om langsung bobo2 dan tante minta kontolmu lah yg sudah pasti bisa kasih tante orgasme ber kali2”. Makanya saat aku nyodok memek tante terasa memek tante agak licin ada spermanya Om masih tertinggal di dalam, tapi aku cuek aja, yg penting masih bisa dgn rutin ngentot tante.

Minggu ke dua saat Om Wahyu masih ada, suatu sore yg sepi, aku baru pulang kuliah, mbok Tini tumben menyediakan es juice dan pisang goreng, biasanya kan tante Wahyu yg sediakan. Mbok Tini sambil senyum2 lagi, gelagatnya tidak seperti biasa, tapi tampak Mbok Tini cantik dan tubuhnya sintal, bikin aku terangsang juga nie he..he. Mbok kok sepi…. “ibu dan Bapak sedang pergi ke rumah familynya, kan besok Bapak sdh pulang Amrik lagi”. Wah…aku mbayangin besok sudah bisa secara rutin ngentot tante lagi he..he..! Tiba-tiba “Mas Hendi seneng kan kalau Bapak pulang Amrik lagi….!” Aku heran apa maksud Mbok Tini..! ”Iya.., jadi bisa ngentotin ibu kan…Mbok tahu lah..!”. Aku terkejut dan tdk berkutik dengan perkataan Mbok Tini tadi..aku hanya terdiam dan malu karena Mbok Tini ternyata sudah tahu. “Iya.. lah mas… Mbok tahu ibu sama mas hampir setiap hari entotan..mbok sih seneng aja..ibu jadi bisa tersalurkan birahinya..karena sebelum ada mas Hendi..ibu sering melamun dan di kamar sering masturbasi..mbok sering dengar suara2 birahi ibu, lagian ibu itu birahinya tinggi banget, Bapak ga bisa ngimbangi..kayaknya mas Hendi lah yg bisa ngimbangi..makanya ibu suka di entot mas..” Trus aku dengan perlahan ngomong ke Mbok Tini:” Jadi Mbok mau melaporkan ke Bapak yaa,,?”. Mbok Tini sambil senyum2…bilang..:”yah gak lah Mas… rugi..!”.. Aku bingung dengan perkataan Mbok Tini: “Lho kok rugi..emang ada untungnya untuk Mbok kalau ga dilaporkan?”. Mbok Tini senyum2 gelagat genit:” Kan Mbok juga pengen seperti ibu…Mbok ini sudah menjanda hampir 12 thn Mas…dan punya mbok sudah dianggurin lama..ga ada yang pake..he..he..!, makanya mas… Mbok pengen juga ngerasain kontol Mas Hendi.. Boleh kan?!, Tolong lah Mas.. itu yang dibilang untung tadi mas..makanya Mbok ga akan lapor ke Bapak deh.. asalkan Mas mau ngentot Mbok, lagian mbok belum pernah melahirkan, jadi memek mbok masih orisinil dibanding ibu!” Gila ini mbok…. Omongannya bikin merangsang aku. Aku jadi pengen ngerasain memek yg belum melahirkan, kalau tante kan sudah punya anak 1, itupun rasanya nikmat banget, apalagi yg masih seret kayak memek mbok, aku ngebayangai gitu.

Akhirnya kami berdua masuk kamarku dan aku melayani napsunya Mbok Tini yang menggebu-gebu kehausan kontol, kontolku dikulum-kulum dan diisap-isap si mbok, dan digigit2 gemes oleh Mbok Tini: “ Huwaduh..Mas Hendi..mbok bener2 gemes sama kontol mas…guede dan panjang banget…punya suami mbok aja hanya setengahnya…mbok pengen di entot sekarang mas..” Aku baru sodok2 sekitar 1 menit..si mbok sudah triak2 minta dicepetin dan mencapai klimax…. Mas..mas..trus..trus..cepet..cepet.. mas… mbok dah mau keluar…ough…ough…argk…argk…maaassss……mbok keluar..aahhh….. nikmat banget mas..” Tapi aku memang merasakan kenikmatan yang lebih memek simbok dibandingkan memek tante, memek mbok Tini masih sempit banget, td waktu pertama kontolku masuk ke memek si mbok, si mbok triak2 kesakitan;’ Akh..akh..mas..pelan2..memek mbok masih belum merekah masih sempit..” Tp setelah merekah, aku yg kenikmatan gesekan bibir memeknya bener2..lebih nikmat dari punya tante yang menurutku sudah enak..ternyata memek si mbok lebih nikmat, makanya akhirnya aku juga cepet orgasme sangking nikmatnya memek di mbok, inipun spermaku kukeluarkan didalam memek si Mbok:” mas…mas…….kalau mas ntar klimax keluarin didalam memek Mbok aja… Memek Mbok dah lama ga ngerasain semprotan sperma..pasti nikmat..!”

Akhirnya hari2 kulalui dengan secara rutin ngentot tante dan Mbok Tini. Kalau Tante ga ada dirumah, biasanya tante arisan bulanan, ke fitness dan salon, aku pasti ngentot mbok Tini, yg selalu stand by saat Tante pergi: “ mas…tante pergi lho..sekitar 2 jam lagi biasanya baru pulang”, bgitulah he..he.., aku langsung ngentot si mbok di dapur, di meja makan, di kamarnya, kamarku atau di di garasi, semauku saat ketemu mbok dimanapun. Aku merasakan bahwa memek mbok Tini memang enak dan nikmat banget.

Suatu saat aku sedang gentot mbok Tini di meja makan, tiba2 Tante datang lebih cepat dan saat itu aku sudah mencapai klimax, jadi pas tante masuk pas mbok triak2 klimax dan aku juga orgasme, jadi sama2 triak kenikmatan mencapai klimax, jadi tante denger dan langsung mergoki kami yang sedang entotan di meja makan. Tante tidak marah tapi cemberut dan diam sampai malam, dan 1 malam tidak minta di entot, akhirnya besok pagi aku minta maaf, akhirnya tante mengerti dgn alasanku bahwa aku sdh ga tahan sementara tante pergi, jadi aku ngentot mbok Tini.

Gila juga Tante..akhirnya setiap minta di entot, ngajak mbok Tini untuk threesome, akhirnya setiap ada kesempatan kami entotan threesome di sofa, kamar tante atau kamarku, kadang2 di kamar mbok Tini. Setiap Threesome, aku paling suka saat kontolku dijilati tante dan mbok Tini berebut, dan saat aku telentang si mbok naik turun diatas kontolku dengan memeknya ngentot kontolku sementara Tante jongkok di atas kepalaku dengan memeknya aku jilati (mereka bergantian posisinya), akhirnya terdengar suara triak2 nakal, genit dan birahi dari 2 wanita paruh baya merasakan kenikmatan kontolku dan jilatan lidahku di memek mereka.

Begitu juga saat Mbak Shinta pulang ke Jogja (biasanya hanya 2 hari), Tante sering jalan dengan Mbak Shinta, maka Mbok Tini saja yang rutin entotan denganku. Terpikir juga olehku pengen ngentot Mbak Shinta yang tomboy, tapi ayu cantik tinggi dan bokongnya huh…. Bongsor banget. Ga dapet Mbak Shinta ga apa2..toh sudah rutin ngentot ibunya he..he..serta bonus mbok tini!

Waktu berjalan hampir 1 tahun, kegiatan praktikum di kampus semakin padat dan aku lebih banyak di kampus, jadi ngentot tante & mbok lebih sering dilakukan malam hari saja. Tapi tante sudah mengeluh: “ Hen…Tante ga tahan..kamu jarang ngentot tante lagi…, kamu setuju ga 3 kamar tolong dicarikan temen2 kuliahmu, biar tante ada temen kalau kamu sibuk”. Begitu juga Mbok Tini: “ Mas Hendi ga kasihan sama tante apa..mbok juga nie…gara2 Mas Hendi..Mbok sudah ketagihan kontol Mas nie…tp Mas Hendi jarang dirumah..jadinya Mbok dan Tante sering gantian pakai dildonya Tante..”

Aku lama juga berpikir, kalau ada temen2ku disini kos, berarti ntar yg ngentotin tante dan mbok Tini jadi mereka, lha aku ntar ga dipake tante lagi….!…Tapi tante sudah mendesak-desak terus :” temen2mu bagaimana Hen..ada ga yg mau kos..!, jangan sampai tante ntar cari Gigolo lho Hen..” kasihan juga tante, dan aku ga rela kalau Tante harus di entotin Gigolo, trus mbok Tini ntar ikut2an.. ga rela aku! Lebih baik di entotin temen sendiri aja..!

Akhirnya aku dapat 3 temen kampus beda Fakultas. Mereka mau karena aku ceritakan bahwa ibu kos sama pembantunya siap untuk di entot setiap saat (aku tunjukkan photo Tante & Mbok Tini), wah..mereka bersedia secepatnya pindah Ke kos Tante Wahyu.

Akhirnya 3 temenku sudah kos dirumah Tante Wahyu, dan sudah bisa diduga setiap hari Tante digilir oleh mereka termasuk Mbok Tini juga minta bagian di entotin kami ber 4. Jadi Tante dan Mbok Tini setiap hari ga pernah kosong di entot, selalu ada saja yang siap mengentot Tante dan Mbok.

Laki-laki mana sih yang ga mau ngentot cewek gratis seperti Tante dan Mbok Tini, yang sexy, bahenol, genit, cantik. Temen2ku jelas seneng banget bisa ngentot gratis Tante yang bahenol cantik meskipun sudah 46thn, mereka ga peduli, yang penting mendapatkan nimat dunia dengan Cuma2 dan suka sama suka.

Gilanya, tante pernah suatu saat minta di entot oleh kami ber 4 secara bersamaan..kami ber 4 sempat kaget juga, akhirnya kami entot Tante bersama-sama (Fivesome) bahkan jadinya Sixsome bersama Mbok Tini, dan Tante secara rutin pengen melakukan Entotan rame2 (salome) spt itu, bisa Threesome, Foursome, Fivesome, Sixsome, tergantung siapa yang ada dirumah. Gila memang tante yang sudah usia 46 tahun masih haus sex dan tidak terkendali, sedangkan si Mbok Tini yang janda juga ikut2an salome.

Dan itu berlangsung terus sampai 2 tahun, sampai saat Om Wahyu kembali ke Jogjakarta lagi. Akhirnya dengan adanya Om Wahyu, kami ber 4 sangat jarang ngentot tante lagi, karena Tante dilibatkan aktif mengelola usahanya Om Wahyu yang lebih banyak ditempat usahanya, kasihan Tante pasti bête terus setiap hari, karena birahinya ga kesampaian seperti dulu lagi, kadang2 kami masih sempat ngentot tante salome, saat Om pulang malam. Yg masih bisa rutin dientot ya Mbok Tini, dengan bangganya menjadi primadona, padahal aku perhatikan memeknya lama kelamaan sudah dower..he..he.. kemasukan banyak kontol.! Tapi Tante tetap konsisten meminta aku ngentot rutin setiap 2 hari sekali saat pagi subuh, Om ga pernah tahu, kami ngentot di gudang belakang yang kebetulan ada sofa nganggur. Temen2ku dan Mbok Tini juga ga tahu.

Memasuki tahun ke 4, kami ber 4 sudah sibuk masing2 dan ke 3 temenku sudah jarang gentot Tante, apalagi Mbok Tini. Aku yg masih sering ngentot Tante dan Mbok Tini. Ternyata Tante & Mbok Tini tetap mengatakan kontolku yang enak dan Nikmat serta tahan lama.. hebat kan..!

Ke 3 temenku sudah bergantian pindah ke tempat kos lain, dan digantikan anak kos lain yg lebih junior. Aku tetap kos disitu karena Tante dan Mbok Tini tetap minta aku rutin ngentot mereka dan masih bertahan setiap ngentot pasti threesome, dan itu dilakukan saat Om Wahyu pergi.

Salah satu anak kos yang baru orangnya ganteng tinggi besar indo, Ricky namanya, Tante juga minta di entot dia, aku bener2 cemburu deh. Habis Tante saat ada Ompun berani juga datang kekamar si Ricky untuk entotan, pdhl Om lagi diruang TV. Tapi akhirnya si Ricky hanya sebentar dan pindah ke tempat kos lain, mungkin ga tahan melayani Tante.

Waktu berjalan memasuki tahun ke 5, aku tetap sibuk kuliah, praktikum dan menyusun skripsi, sementara ngentot tante dan Mbok Tini juga masih rutin meskipun ga stiap hari lagi, karena Om Wahyu sering ada dirumah. Terlihat kecantikan dan kemolekan tante berkurang, nampak wajahnya ga bersih lagi, tp kelihatan kuyu serta tidak bersemangat, tapi masih hot juga setiap entotan denganku. Dan setiap entotan justru nampak kegairahan dan kecantikannya lebih bersinar, jadi mungkin Tante memang sangat mendambakan entotan secara rutin dari laki2 yang bisa memberikan multiorgasme, sehingga wajahnya jadi bisa lebih berseri, namun karena keterbatasan ada Om Wahyu jadi ga kesampaian. Kasihan Tante Wahyu. Sementara aku juga semakin bosen pengen cari wanita lain, karena aku jadi ketagihan ngentot nie… walaupun masih ada Mbok Tini, yang juga kadang2 sdh ga bergairah lagi. Karena sdh tidak rutin lagi. Aku kepikiran pengen ngentot cewek lain selain Tante Wahyu dan Mbok Tini.

Saat aku lulus kuliah dan selesai wisuda, kedua orangtuaku datang ke Jogja dan aku kenalkan dengan Tante & Om Wahyu. Nampak biasa2 saja sih.. padahal Tante Wahyu yang usianya lebih tua dari ibuku, hampir setiap hari aku entot dengan suka sama suka. Ibu dan Bapakku jangan sampai tahu itu.

Sebagai salam perpisahan, Tante bikin kejutan: Aku diundang ke kumpulan arisan temen2 Tante Wahyu, mereka ber 5 (lima), ke 4 temen Tante usianya sekitar 40 – 45 thn. saat itu Tante sudah usia 50thn masih cantik tubuhnya berisi padat (mungkin karena rajin di entot dan nelan sperma, jadi awet muda), jadi Tante yg paling tua, tapi nampak jadi yang paling muda. Saat itu Om Wahyu sedang dinas ke Jakarta dan Tante tidak ikut.

Kejutan itu adalah di rumah salah satu Tante tsb. aku hanya cowok sendiri berusia 24thn bersama 5 Tante2 usia diatas 40 thn. Pengamatanku, nampak ke 4 tante2 tsb adalah Tante2 yang kesepian dan tidak pernah puas sex dengan suaminya.

Tante Wahyu menceritakan kepada 4 temannya bahwa aku adalah cowok yang sering dia ceritakan bisa memberikan kepuasan Sex Tante Wahyu dan selalu memberikan multiorgasme yang gak pernah didapat dari suaminya, sehingga Tante diusianya yg 50th nampak lebih muda dibanding ke 4 temannya.

Aku bak piala bergilir yang dipindah-pindahkan ke berganti-ganti tangan. Ke 4 temen tante Wahyu langsung mengerubuti aku serta mengelus-ngelus kontolku, akhirnya aku sudah telanjang bulat didepan hadapan mereka yang ntah kapan merekapun sudah pada telanjang bulat. Aku hanya berpikiran akhirnya keinginanku tercapai bisa ngentot cewek lain selain Tante Wahyu dan Mbok Tini.. he..he..!

Akhirnya aku tidur terlentang dikarpet ruang tamu dan tante bersama-sama 4 tante lainnya berebut menjilati kontolku serta di kulum-kulum serta di hisap2..bergantian dan berebutan, sehingga terdengar suara2 triakan2 genit dan nakal ke 5 tante arisan tsb. Aku merasakan lama2 bergairah dan terangsang dengan melihat 5 Tante2 cantik telanjang bulat dengan tetek2 yang besar2 padat dan memeknya ditumbuhi rambut2 kasar yang sangat lebat dan sangat berpengalaman menerima sodokan kontol ntah siapa saja selain suaminya.

Sebelum aku ikut Tante Wahyu ke rumah arisan tsb, tante memberikan pil biru ntah apa aku tidak tahu: “ Hen..ini diminum sekarang..biar kamu fit..” aku langsung meminumnya saat masih dirumah. Rupanya ini sudah direncanakan Tante Wahyu.

Aku heran karena kontolku sudah dikulum-kulum ber jam-jam dan tante2 itu memasukan memeknya ke kontolku naik turun diatas tubuhku bergantian 5 tante, aku belum mencapai klimax juga, sementara tante yang lain juga minta dijilati memeknya dgn lidahku.

Jadi ke 5 tante tsb. masing2 sudah orgasme ber kali2 (multiorgasme), tapi aku belum juga, padahal sdh hampir 5 jam. Akhirnya aku ga tahan juga dan cepat2 menarik Tante Wahyu kutelentangkan dan aku posisi diatas menyodok2 Tante Wahyu berulang-ulang dengan cepatnya…Tante Wahyu juga triak2 kenikmatan; “ Iya..iya..iya..trus..trus.. hen yang cpet..jangan stop..jangan stop hen…. Ough..ough..hen..hen..hen…trus..trus…argh…argh ..argh…” Ayo…ayo bu Wahyu..ayo bu Wahyu…trus …trus yang cepet hen..hen..yang cepet…Bu Wahyu sudah hamper orgasme lagi, begitu Tante 2lain memberi dukungan entotan kami ber2.! “Ough..ough..Tante..hendi dah mw kaluar tante…” Ok Hen Tante juga..aaahhhkk….aaaakkhh….aaarrrgghh…ough…ough….ooouuhhh… hen…hen…Tante sudah..tante sudah….kamu…ouh….! Rupanya Aku baru mau tant..belum keluar juga. Cepet2 tante mencabut kontolku dan menarik tante lain disuruh telentang…Bu retno..sini gantian…si hendi hampir nie belum keluar..kasihan dia..” Ok Bu wahyu…langsung bu retno telentang ngangkang dan aku langsung memasukkan kontolku ke memek Tante retno.. ough..ough…hen..hen nikmatnya trus trus hen yg cepet..tante kenikmatan nie..malah sudah pengen keluar..habis kontolmu enak banget..! Aku juga mau keluar Tant…aakkhh…aakkgghh.. tante…tante..tante..aku keluar argh..argh…” Tante juga Hen..kita keluar sama2….\: ough…ough…ough..ough..argh/…argh…arg..arg..aakkkhh…akkhhgg…” Crot..crot..crot..! Ouhhh…..ough..ough…spermamu terasa hangat di memek tante nikmatnya Hen..makasih ya,,Tante puas banget hari ini bisa orgasme sampai 5 kali, paling nikmat yg barusan…kontolmu kapan2 tante boleh pake lagi kan..?

1 bulan terakhir sebelum aku kembali ke Bandung, ke 4 tante bergantian mencari aku untuk ngajak ngentot dirumah mereka masing2…aku digilir mereka bergantian, dan yang paling ketagihan adalah Tante Retno yang usianya 40thn punya anak 2, suaminya kerja di Jakarta dan seminggu sekali pulang Jogja, hampir setiap hari aku pulang kuliah Tante Retno sudah nunggu di depan rumah kosku: “ Hen…bu Wahyu sudah kasih ijin kamu ikut dengan Tante kerumah…Tante dah ga tahan Hen..!”. Kalau 3 Tante lain selama sebulan masing2 hanya 3 x ngentot denganku. Sementara ngentot Tante Wahyu dan Mbok Tini kadang2 aja, Mbok Tini akhir2 ini cemberut terus..cemburu kalee…!

Itulah perpisahan terakhir dengan Tante Wahyu, Mbok Tini dan 4 Tante temen arisan Tante Wahyu. Setelah itu aku langsung bekerja diluar Jawa s.d sekarang dan tidak pernah bertemu dengan mereka lagi. Pengalaman sex bersama mereka membuat aku jadi ketagihan ngentot meskipun aku sudah berkeluarga, yang akhirnya aku berpetualang dengan banyak wanita: mahasiswi, karyawati, SPG, ibu rumah tangga & janda yang kenalan di mall/ via sms chat/YM/facebook/Indonesiancupid; wanita karier partner kerja; teman kantor, istri teman/ tetangga, istri bosku, pembantu dan bahkan adik iparku sendiri. Kalau dihitung-hitung sudah ada sekitar 37 cewek yang pernah aku entot atas dasar suka sama suka, aku tidak pernah ngentot sama pelacur/PSK.

Pernah suatu saat secara tidak sengaja bertemu Mbak Shinta di Jakarta saat aku pindah kerja di Jakarta, yang akhirnya bisa janji temu beberapa kali dan diakhiri dengan ngentot yang dulu pernah aku idamkan, saat itu dia sudah bersuami dgn 3 anak, sementara aku juga dgn 2 anak (usiaku saat itu 38thn dan Shinta 39thn, itupun dilanjutkan dgn pertemuan2 ngentot berikutnya selama 2 tahun, itu akan aku ceritakan next time bersama petualangan sexku lainnya, bye bye..!

Syarat Jadi PNS Dengan ML Mbak Ayi

Perkenalkan Nama gw Andika ( nama samaran )! Gw baru lulus kuliah dan kepengen sekali menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil ) masa depan cerah gitu kata orang! menjadi PNS merupakan impian bagi sebagian besar orang! Bergagai cara dilakukan agar bisa lolos tes CPNS. ikut bimbingan tes CPNS, mengasi uang pelicin, menyewa joki, sampai ke dukun sekalipun akan dilakukan. Entah karena putus asa setelah beberapa kali gagal dalam tes, akhirnya gw juga memakai jasa dukun atau orang pintar dan bukan mak errot lho. Menurut info yang gw peroleh dari sahabatku , ada seorang dukun di pinggir kota yang dulu pernah meloloskannya menjadi PNS.

Begini cerita seks nya. Malam itu gw sendirian pergi mencari rumah dukun itu. Setelah sempat muter-muter nanya sana-sini, akhirnya gw tiba di sebuah rumah sederhana yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya. Halamannya yang luas dan tertutup rimbunnya pohon-pohon mangga membuat suasana menjadi sejuk dan tenang. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, seorang wanita setengah baya dengan senyum ramahnya membukakan pintu.

“Permisi, apa benar ini rumahnya Mbak Ayik ( nama samaran juga )?” tanya kemudian.

“Oh iya, saya sendiri. Silakan masuk, Pak!” Setelah dipersilakan duduk, tanpa basa-basi gw segera memperkenalkan diri dan langsung mengutarakan maksud kedatanganku.

“Ooo, jadi Pak Andika ini juga pengen jadi PNS tohhhh?”

“Iya Mbak! Saya juga sudah membawa sebotol madu murni sebagai syarat, seperti yang dikatakan teman saya.” Gw menyodorkan satu botol madu murni kepada Mbak Ayik .

“Kalau begitu, silakan Pak Andika ikut saya ke dalam!” Mbak Ayik beranjak dari duduknya sambil membawa botol madu yang gw berikan tadi. Beliau berjalan menuju ke sebuah kamar di ujung ruangan. Dari belakang gw membuntutinya sambil memperhatikan gerakan pantat montoknya yang membuatku menelan ludah.

Sesampainya di dalam ruangan yang redup itu, Mbak Ayik menutup pintu dan menyuruhku membuka pakaianku.

“Maaf ya Pak Pak ! Tolong pakaiannya di lepas dan silakan berbaring di ranjang itu! Kita akan segera memulai ritualnya!”
“Semuanya, Mbak?” tanyaku malu-malu.

Mbak Ayik tersenyum, “Pak Andika gak usah malu. Anggap saja saya tidak ada. Toh ini kan juga demi cita-cita Pak Andika !” Mbak Ayik benar, pikirku. Lagi pula gw sudah terlanjur datang ke sini, jadi gw tidak perlu malu lagi.
Sementara Mbak Ayik menyiapkan kelengkapan ritual, gw segera menanggalkan semua busanaku kemudian berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu empuk itu. Beberapa saat kemudian, dengan sebotol madu di tangannya, Mbak Ayik datang dan duduk di sampingku. Sesaat gw sempat melihat Mbak Ayik mengamati tubuh telanjangku. Pandangannya terkesan liar, seolah tengah melihat ayam panggang yang siap untuk di santap.

Dengan duduk bersimpuh di sampingku, Mbak Ayik mulai menuangkan madu murni itu ke sekujur tubuhku. Gw memejamkan mata saat tangan lembut Mbak Ayik mulai menyentuh dada gw, meratakan madu yang lengket itu ke setiap sudut tubuhku. Jemarinya yang lentik dengan lihai menari-nari, meremas-remas dada bidangku dan putingnya, dan mempermainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di atasnya. Gw menggigit bibirku sendiri, mencoba mengendalikan aliran darahku yang bergejolak menuju ke arah pangkal paha gw.

“Pak Andika sudah punya pacar?” tanya Mbak Ayik memecah keheningan.
“Eh, saya baru menikah enam bulan yang lalu, Mbak!”
“ehmmm… jadi masih pengantin baru to! Wah, lagi panas-panasnya dong, Pak !” kata Mbak Ayik meledek.
“Ah, Mbak Ayik ini bisa saja!” Tanpa sengaja tanganku menyentuh lutut Mbak Ayik ketika beliau memindahkan tanganku yang tadi menutupi kemaluanku. Gw juga sempat melirik pahanya yang sedikit tersingkap. Wah, mulus juga pahanya, pikirku. Tanganku jadi betah berlama-lama di atas paha mulus itu. Mbak Ayik membiarkannya ketika tanganku mengelusnya. Bahkan beliau malah melebarkan pahanya. Seolah memberikan tanganku peluang untuk bergerak menelusuri paha bagian dalamnya.

Darahku semakin mendidih manakala dengan lincahnya jemari Mbak Ayik turun ke perutku, membelai bulu-bulu halusnya dan memijat perutku, yang keras dan liat.

“Wah… badan Pak Andika kekar juga yah? Tinggi lagi. Pasti Pak Andika rajin olah raga.”
“Ya, setiap enam hari dalam seminggu, setiap pagi dan sore saya usahakan untuk olah raga meskipun hanya sejam. Biasanya sih saya rutin fitnes.”
“wahhhh.. pantesan adik Pak Andika gede!”
“Maksud Mbak Ayik , adik yang mana?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Maksud saya adik yang ini…..” kata Mbak Ayik sambil meremas kejantananku tanpa rasa canggung. Ada rasa kaget sekaligus senang dengan perlakuan Mbak Ayik . Beliau dengan lembut melumuri kejantananku dengan madu, kemudian mengocoknya pelan.

“opsttt … Mbak! Enak…!” gw melenguh nikmat. Gw juga semakin berani dengan menyingkap roknya dan memilin pahanya lebih jauh lagi. Dan ternyata Mbak Ayik menanggapi positif tindakanku itu. Terbukti dengan ia sedikit mengangkat pantatnya agar gw bisa mencapai pangkal pahanya. Wow! Sekali lagi gw terkejut sekaligus senang manakala tanganku menyentuh rambut-rambut halus di antara pangkal paha Mbak Ayik . Ternyata beliau sudah tidak memakai celana dalam.

Perlahan-lahan gw mulai menggosok bibir memek Mbak Ayik yang sudah basah itu dengan jariku. Mbak Ayik bertambah kelojotan dan semakin bersemangat mengocok batang kontolku. Perlahan-lahan batang kejantananku itu mulai membesar dan mengeras. Tanpa rasa jijik, Mbak Ayik mulai menjilati sisa-sisa madu yang menempel di sekitar pangkal paha gw, melumat buah zakarku, kemudian bergerak naik menyapu urat-urat kontolku yang sudah bertonjolan.

“Gimana Pak ? Enak kan?” tanya Mbak Ayik di sela-sela aksinya.
“Ahh… nikmat banget Mbak! Saya belum pernah merasakan senikmat ini!” Gw memang belum begitu berpengalaman dalam hal sex. Selama berhubungan dengan isteriku, kami hanya melakukan dengan cara konvensional saja. Namun kali ini Mbak Ayik memberikan pelajaran baru yang ekstrim. Ekstrim enak… Terbukti ketika Mbak Ayik dengan lembut memasukkan ujung kontolku ke mulut mungilnya, langsung saja berjuta kenikmatan menghampiriku.

“ohhhhh..yeahhh nak, Mbak!” nafasku semakin memburu. gw merintih-rintih nikmat, namun Mbak Ayik masih asyik mempermainkan kontolku di dalam rongga mulutnya. Gw juga semakin berani. Kutarik roknya sampai terlepas. Bahkan Mbak Ayik juga turut melepaskan kaosnya sendiri. Gila! Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ternya Mbak Ayik masih memiliki tubuh yang bagus. Kulitnya putih mulus, Tokednya yang kencang dan montok, serta pantatnya yang bulat menggemaskan membuatku seolah ingin mengunyahnya. Oh, sungguh seksi sekali dukun ini.

“wakzzz…. kontol Pak Andika memang luar biasa besarnya. Hhhmmmm…. saya memang sudah lama mendambakan kontol sebesar ini.Hhhmmm…!” dengan rakus Mbak Ayik kembali melumat kejantananku. Kali ini beliau mengangkangi tubuhku dan menyodorkan memeknya tepat ke wajahku. Dengan naluriku, gw mendekatkan mulutku ke memek Mbak Ayik yang merekah merah. Bau harum yang keluar sangat merangsang syaraf otakku untuk menjilatnya.

Perlahan-lahan kujulurkan lidahku, dan kusapu permukaan memeknya dengan lembut.

“ohhhhh..yahhhhh… begitu Pak ! Jilat terus punya saya….!Oooghhh…tuhan!”

Mbak Ayik bertambah semangat mempermainkan kontolku di dalam mulutnya. Sementara tangannya mengocok batang kontolku, kepalanya juga bergerak naik turun. Sesekali beliau menyedot-nyedot ujung kontolku kuat-kuat. Cukup lama kami dalam posisi ini, saling menjilat, mengulum dan mengocok kemaluan masing-masing.

Berapa saat kemudian Mbak Ayik melepaskan kulumannya.

“Gimana, Pak Andika Suka kan?” tanya Mbak Ayik sambil tersenyum pada gw.

Gw hanya mengangguk pelan sambil menikmati jemari Mbak Ayik yang masih memijit-mijit batang kontolku.

“Berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan orang yang mempunyai kontol besar mempunyai keinginan yang besar pula. Saya yakin, kali ini Pak Andika pasti akan bisa jadi Pegawai Negeri.” kata Mbak Ayik menjelaskan. “Tapi sekarang, biarkan saya bersenang-senang dulu dengan kontol Pak Andika yang besar ini!”

Mbak Ayik mengambil posisi duduk di atas paha gw. Perlahan-lahan beliau meraih kejantananku dan membimbingnya menuju ke liang sugawinya yang sudah basah. Dia terlihat meringis saat ujung kontolku mulai memasuki memiawnya yang hangat.

Entah karena memiaw Mbak Ayik yang sempit, ataukah karena kontolku yang besar, proses penetrasi itu berjalan dengan lambat namun nikmat. Mbak Ayik tampak susah payah berusaha agar batang kontolku bisa masuk utuh ke dalam memiawnya. Sampai akhirnya…

“Aaougghh…. aduh Pak Andika ! Gede banget kontolmu!” tubuh Mbak Ayik yang mulus tampak berkilat-kilat oleh cucuran keringatnya. Beberapa kali ia menghirup nafas dalam-dalam sambil membiarkan batang kontolku terbenam dalam rongga memeknya yang sempit. Beberapa saat kemudian Mbak Ayik mulai beraksi. Dengan kedua tangannya bertumpu pada dada bidangku, beliau mulai mengayunkan pantatnya naik-turun.

“uuhhhhh… ohhhhhhhh…!” Gw mendesah-desah keenakan. Kedua tanganku memegang pinggul Mbak Ayik untuk mengatur gerakan naik-turunnya. Sesekali tanganku juga merayap naik, menggapai dua buah benda kenyal yang melambai-lambai indah seiring dengan gerakan naik turun tubuhnya. Dengan liar Mbak Ayik menghentak-hentakkan pantatnya, meliuk-liuk di atas tubuhku, seperti seekor ular betina yang tengah membelit mangsanya. Terkadang beliau juga membuat goyangan memutar-mutar pantatnya sehingga jepitan memeknya terasa mantap. Batang kontolku terasa seperti di pelintir dan dipijit-pijit di dalam lubang kenikmatan itu. Terasa sangat hangat dan nikmat. Ooouuuhhh…

Semakin lama gerakan Mbak Ayik semakin liar tak terkendali. Menghujam-hujam kejantananku semakin dalam dan mentok sampai dinding terdalam rongga memeknya. Nafas kami juga semakin memburu, seperti bunyi lokomotif tua yang berjalan dengan sisa-sisa tenaganya.

“Oh, Pak Andika …, saya…sudah…nggak kuat…lagi…!

Mbak Ayik menjerit nikmat berbarengan dengan muncratnya magma panas dari dalam rahimnya. Beliau mencengkeram kuat-kuat dada gw. Seolah ingin menancapkan kuku-kukunya ke dalam bukit dada gw.
“Ooohhh… sebentar lagi Mbak! Saya juga sudah mau keluar… ooohhh… yeaahhh….!”

Gw juga mempercepat gerakanku. Meskipun Mbak Ayik terlihat lelah, namun gw masih bisa menopang tubuhnya dan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Beberapa menit kemudian, gw merasakan batang kontolku semakin mengencang dan mulai berdenyut-denyut. Gw segera mempercepat gerakanku. Kuhentak-hentakkan tubuh Mbak Ayik . Bunyi berkecipak semakin terdengar nyaring. Sampai akhirnya…..

“Saya… keluar Mbak! Oogghhh…!” gw meregang nikmat bersamaan dengan menyemburnya sperma di dalam rongga kenikmatan Mbak Ayik . Seketika tubuhku lemas. Gw sudah tak mampu lagi menopang beban Mbak Ayik yang berada di atas tubuhku. Beliau ambruk menindih tubuhku sementara batang kejantananku masih tetap menancap di memeknya yang hangat. Dalam hati gw kagum dengan wanita ini. Beliau telah memberikan pengalaman baru dalam bercinta. Belum pernah gw merasakan pengalaman senikmat ini dalam berhubungan sex.

“Pak Andika memang benar-benar hebat!” kata Mbak Ayik sambil membelai dan sesekali menciumi bulu-bulu halus di dadaku.

“Mbak juga hebat! Belum pernah saya sepuas ini, Mbak!” Gw mengecup kening beliau dan membelai-belai rambut dan Tokednya yang terurai panjang. Tak berapa lama kemudian kami pun terlelap saling berpelukan.

Entah sudah berapa lama gw terpejam, ketika gw merasakan sesuatu yang merayap di atas perutku. Sesuatu yang hangat dan lembut. Perlahan gw membuka mataku, ternyata Mbak Ayik tengah asyik menciumi, menjilati dan melumat permukaan kulit perut sixpackku.

“Aahhh…, Mbak Ayik masih pengen nambah lagi?” desahku pelan.

Mbak Ayik tersenyum manja, “Habis…, kontol Pak Andika guede sih! Siapa sih yang gak ketagihan ama kontol segede ini!”

“Ah, Mbak Ayik ini bisa aja!” gw hanya merem melek, menikmati tangan beliau yang bermain main nakal di selangkanganku. Dengan lembut Beliau membelai kejantananku dan mengurut-urutnya dengan jempol dan telunjuknya. Terasa nikmat memang. Mbak Ayik bertambah antusias ketika batang kontolku mulai membesar dan mengeras. Dan dengan rakus, Mbak Ayik mulai menjilatinya, melumat dan mengocok kejantananku dengan mulut mungilnya.

“Aaahhh…, aaahhh…, enak Mbak! Oohhh…!” gw hanya bisa mengerang keenakan.

“Hhhhmmm…., Pak Andika mau yang lebih enak lagi?” tanya Mbak Ayik menggoda.

“Emang ada yang lebih nikmat, Mbak?”

“Coba Pak Andika berdiri!” gw menuruti perintah Mbak Ayik . Dengan kondisi tubuhku masih telanjang bulat, gw berdiri di atas ranjang. Sementara itu, Mbak Ayik yang berlutut di hadapanku tampak memandangi batang kejantananku yang sudah berdiri mengangguk-angguk. Perlahan-lahan Mbak Ayik meraihnya dan mengocoknya dengan lembut. Kukira beliau akan memasukkan batang kontolku ke dalam mulutnya, tapi ternyata tidak. Beliau ternyata malah menggosok-gosokkan batang kontolku di permukaan Tokednya yang lembut.

“Oohhh…. yaaahhh! Enak banget Mbak!”

“Ini masih belum seberapa, Pak ! Coba Pak Andika rasakan yang ini…” Mbak Ayik menggeser batang kontolku dan menyelipkannya di antara belahan Tokednya. “Sekarang, coba ayunkan pantat Mas Andika !”

Gw menurut saja. Perlahan-lahan gw mengayunkan pantatku maju dan mundur, sementara Mbak Ayik menekan-nekan Tokednya kencang sehingga batang kontolku terasa terjepit-jepit diantara susunya yang kenyal.

“Oouuhhh…! Mbak Ayik memang benar-benar pandai memanjakan pria! Ini benar-benar luar biasa, Mbak!” gw mendesah-desah nikmat. Susu Mbak Ayik yang menekan-nekan kontolku membuat diriku serasa melayang. Lama juga kami melakukan foreplay ini. Sampai akhirnya Mbak Ayik meminta gw untuk segera menuntaskan permainan itu.

“Aahhh…, Pak Andika ! Mbak sudah kepengen banget nih!” rengek Mbak Ayik . Beliau melepaskan jepitan susunya dan kemudian mengambil posisi seperti orang sedang menungging. Meskipun gw masih belum begitu pengalaman, namun gw sudah pernah melihat posisi seperti itu dalam film porno. Perlahan-lahan gw membimbing kejantananku yang sudah berdiri keras ke arah lubang kewanitaan Mbak Ayik yang menganga dari belakan. Mbak Ayik tampak menggigit bibir sendiri ketika gw mulai menggesek-gesekkan ujung kontolku di bibir memeknya.

“Ooouhhh…, ooohhh…! Cepetan masukin dong Pak !” rengek Mbak Ayik .

Pelan-pelan kutusukkan ujung kejantananku ke arah memek Mbak Ayik yang memerah.

“Aahhhh…!” gw melenguh nikmat. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, tapi Mbak Ayik masih memiliki memiaw yang seret lagi keset. Jepitannya masih terasa kuat, seolah-olah ingin meremukkan batang kontolku. Terlebih ketika seluruh batang kontolku tertanam dan terhisap di dalam rongga memiawnya. Sesaat gw membiarkan kontolku tertancap. Kemudian, pelan tapi pasti gw mulai mengayunkan pantatku maju-mundur.

“Aaaahhhh…, yeaahhh….! Sodokanmu mantep banget Pak Andika , Ooohhh…!” Mbak Ayik mengoceh tak karuan. Ah-uh-ah-uh, oh-yeh-oh-yeh! Beliau juga hanya bisa meremas-remas seprei kusut itu saat gerakanku mulai cepat. Lama juga kami bermain dalam posisi doggy itu, sampai akhirnya Mbak Ayik terlihat sangat lelah.

“Aduh…, Oouhhh… kita istirahat dulu ya sayang! Ooohhh…!”

Gw mencabut kontolku, sedangkan Mbak Ayik terguling ke samping dan terkapar dengan tubuh bersimbah keringat. Payudaranya yang montok tampak naik turun seiring dengan deru nafasnya yang terengah-engah. Setelah mengatur nafas beberapa saat, gwpun mulai melanjutkan aksiku. Kubentangkan kaki Mbak Ayik ke samping lebar-lebar, kuangkat kaki kanannya dan kuletakkan di atas bahuku. Perlahan-lahan kutarik pinggang Mbak Ayik dan kuarahkan batang kontolku menuju liang surgawinya yang menganga, dan sleeeep…!

Kembali kejantananku tertanam dalam lobang hangat itu.

“Aduuhh…, pelan-pelan dong sayang!” rintih Mbak Ayik .

Kembali gw ayunkan pantatku perlahan-lahan namun pasti. Mbak Ayik yang berada di bawahku tampak kelojotan menikmati aksiku ini. Terlebih ketika gw membercepat ayunanku dan menekan kuat-kuat batang kontolku ke dalam rahimnya. Beliau hanya bisa mengerang nikmat sambil mencengkeram kuat-kuat otot-otot lengan dan dadaku. Sambil terus bergerak maju mundur, seskali gw meremas-remas, menjilat, dan menciumi Tokednya.

“Iyaah…aaghhh! Terus sayang…yahhh…yaahh…oouugghhh…. !” Mbak Ayik mengoceh tak karuan. Namun gw tidak menghiraukannya. Gw terus memompa tubuh seksinya dengan gerakan mengorek-ngorek lubang nikmat itu. Semakin lama gerakanku semakin liar.

“Ooohh…, Pak ! Saya sudah nggak sanggup lagi…., Ooohhh…., saya mau keluarrr….!”

Gw merasakan dinding-dinding memek Mbak Ayik mengerut dan berdenyut-denyut, mencengkeram dan meremas-remas batang kontolku dari dalam. Semakin lama kedutan memek Mbak Ayik semain cepat, hal yang sama juga terjadi padaku. Batang kontolku sudah terasa ngilu dan berdenyut-denyut. Sampai akhirnya…..

“Aaarrggghhh….! Gw keluar lagi Pak !” Mbak Ayik menjerit puas. Gw semakin mempercepat gerakanku, mengoyak-ngoyak isi memek Mbak Ayik . Namun sebelum sperma keluar, gw segera mencabut kontolku. Sambil mengocoknya dengan tanganku, gw menyodorkan batang kontolku ke bibir Mbak Ayik yang terbuka. Gw semakin mempercepat kocokan tanganku sampai akhirnya….

“Aaaaggghh….aaaghh….aaaghhh…!”

Crot…crot…croottt! Cairan putih kental muncrat beberapa kali ke mulut Mbak Ayik . Tanpa rasa jijik beliau menelan habis spermaku, kemudian menjilati sisanya yang masih menempel di batang kontolku.

Seketika tubuhku lemas, tulang-tulangku seolah rontok. Dan gw pun terkapar di sisi Mbak Ayik .

“Oh, Pak Andika benar-benar perkasa! Terima kasih ya Pak !” gw memeluk tubuh Mbak Ayik dan mencium keningnya. Beliau tampak tersenyum puas sambil meletakkan kepalanya di atas dadaku dan mengusap-usap bulu-bulu halus di atasnya.

“Kalau saya berhasil jadi Pegawai Negeri, Mbak Ayik mau minta apa?” tanyaku kemudian.

Mbak Ayik bangkit dan duduk bersimpuh di sampingku. “Saya tidak minta apa-apa kok, Pak !” beliau tersenyum, “Pak Andika tidak perlu membelikan saya apapun! Saya cuma minta ini…..” Mbak Ayik meraih kontolku yang terkulai tak berdaya. Kemudian mengurut-urutnya dengan jemarinya yang lentik.

“Maksud Mbak Ayik ?” tanyaku tidak mengerti.

“Kalau Pak Andika berhasil jadi PNS, saya cuma ingin Pak Andika mengunjungi saya setiap seminggu dua sampai tiga kali, memberi saya jatah untuk dient*t pakai punya Pak Andika yang besar dan panjang ini…..” lanjut beliau sambil menjilati sisa-sisa sperma yang masih lengket di batang kontolku.
“Ah, kalau itu sih gampang! Dengan senang hati saya akan selalu siap melayani mbak!”

Mendengar jawabanku Mbak Ayik kegirangan. Dan beliau kembali menggugah birahiku dengan memberikan kuluman dan kocokan di batang kontolku. Beberapa minggu kemudian akhirnya gw benar-benar lolos menjadi PNS. Dan setelah dilaksanakan pelantikan, gw memenuhi janjiku kepada Mbak Ayik . Setiap kali ada kesempatan, gw selalu berkunjung ke tempat Mbak Ayik . Tentu saja untuk memberinya kepuasan. Dan selama berhubungan dengannya, beliau masih saja mengakui kejantananku dalam bermain cinta! Cerita Ngentot Dukun Sexy kali ini demi cita citaku menjadi seorang PNS.

Novi adik Iparku

Aku masih ingat pada waktu itu tanggal 2 Maret 2005, aku mengantarkan adik iparku mengikuti test di sebuah perusahaan di Surabaya . Pada saat adik iparku sebut saja Novi memasuki ruangan test di perusahaan tersebut, aku dengan setia menunggu di ruang lobi perusahaan tersebut. Satu setengah jam sudah aku menunggu selesainya Novi mengerjakan test tersebut hingga jam menunjukkan pukul 11 siang, Novi mulai keluar dari ruangan dan menuju lobi. Aku tanya apakah Novi bisa menjawab semua pertanyaan, dia menjawab, “Bisa Mas…”

“Kalau begitu mari kita pulang” pintaku. “E… sebelum pulang kita makan dulu, kamu kan lapar Novi.” Kemudian Novi menggangguk. Setelah beberapa saat Novi merasa badannya agak lemas, dia bilang, “Mas mungkin aku masuk angin nich, habis aku kecapekan belajar sih tadi malam.” Aku bingung harus berbuat apa, lantas aku tanya biasanya diapakan atau minum obat apa, lantas dia bilang, “Biasanya dikerokin Mas…” “Wah… gimana yach…” kataku. “Oke kalau begitu sekarang kita cari losmen yach untuk ngerokin kamu…” Novi hanya mengangguk saja.

Lantas aku dan Novi mencari losmen sambil membeli minyak kayu putih untuk kerokan. Kebetulan ada losmen sederhana, itulah yang kupilih. Setelah pesan kamar, aku dan Novi masuk ke kamar 11 di ruang atas. “Terus gimana cara Mas untuk ngerokin kamu Nov”, tanyaku. Tanpa malu-malu dia lantas tiduran di kasur, sebab si Novi sudah menganggapku seperti kakak kandungnya. Aku pun segera menghampirinya. “Sini dong, Mas kerokin…” Dan astaga si Novi buka bajunya, yang kelihatan BH-nya saja, jelas kelihatan putih dan payudaranya padat berisi. Lantas si Novi tengkurap dan aku mulai untuk menggosokkan minyak kayu puih ke punggungnya dan mulai mengeroki punggungnya.

Hanya beberapa kerokan saja… Novi bilang, “Entar Mas… BH-ku aku lepas sekalian yach… entar mengganggu Mas ngerokin aku.” Dan aku terbelalak.. . betapa besar payudaranya dan putingnya masih memerah, sebab dia kan masih perawan. Tanpa malu-malu aku lanjutkan untuk mengeroki punggungnya. Setelah selesai semua aku bilang, “Sudah Nov… sudah selesai.” Tanpa kusadari Novi membalikkan badannya dengan telentang. “Sekarang bagian dadaku Mas tolong dikerik sekalian.” Aku senang bukan main. Jelas buah dadanya yang ranum padat itu tersentuh tanganku. Aku berkali-kali berkata, “Maaf dik yach… aku nggak sengaja kok…” “Nggak apa-apa Mas… teruskan saja.”

Hampir selesai kerokan dadanya, aku sudah kehilangan akal sehatku. Aku pegang payudaranya, aku elus-elus. Si Novi hanya diam dan memejamkan matanya… lantas aku ciumi buah dadanya dan kumainkan pentilnya. Novi mendesis, “Mas… Mas… ahh…, ah ah ahh…” Terus aku kulum putingnya, tanganku pun nggak mau ketinggalan bergerilnya di vaginanya. Pertama dia mengibaskan tanganku dia bilang, “Jangan Mas… jangan Mas…” Tapi aku nggak peduli… terus saja aku masukkan tanganku ke CD-nya, ternyata vaginanya sudah basah sekali. Lantas tanpa diperintah oleh Novi aku buka rok dan CD-nya, dia hanya memejamkan matanya dan berkata pelan, “Yach Mas…” Kini Novi sudah telanjang bulat tak pakai apa-apa lagi, wah… putih mulus, bulunya masih jarang maklum dia baru umur 20 tahun tamat SMA. Lantas aku mulai menciumi vaginanya yang basah dan menjilati vaginanya sampai aku mainkan kelentitnya, dia mengerang keenakan, “Mas… ahh… uaa… uaa… Mas…”

Dan mendesis-desis kegirangan, tangan Novi sudah gatal ingin pegang penisku saja. Lantas aku berdiri, kubuka baju dan celanaku kemudian langsung saja Novi memegang penisku dan mengocok penisku. Aku suruh dia untuk mengulum, dia nggak mau, “Nggak Mas jijik… tuh, nggak ah… Novi nggak mau.” Lantas kupegang dan kuarahkan penisku ke mulutnya. “Jilatin saja coba…” pintaku. Lantas Novi menjilati penisku, lama-kelamaan dia mau untuk mengulum penisku, tapi pas pertama dia kulum penisku, dia mau muntah “Huk.. huk… aku mau muntah Mas, habis penisnya besar dan panjang… nggak muat tuh mulutku.” katanya. “Isep lagi saja Nov…” Lantas dia mulai mengulum lagi dan aku menggerayangi vaginanya yang basah. Lantas aku rentangkan badan Novi.

Rasanya penisku sudah nggak tahan ingin merenggut keperawanan Novi. “Novi… Mas masukkan yah.. penis Mas ke vaginamu”, kataku. Novi bilang, “Jangan Mas… aku kan masih perawan.” katanya. Aku turuti saja kemauannya, aku tidurin dia dan kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Dia merasakan ada benda tumpul menempel di vaginanya, “Mas… Mas… jangan…” Aku nggak peduli, terus kugesekkan penisku ke vaginanya, lama-kelamaan aku mencoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Slep… Novi menjerit, “Ahk… Mas… jangan…”

Aku tetap saja meneruskan makin kusodok dan slep… bles… Novi menggeliat-geliat dan meringis menahan sakitnya, “Mas… Mas… sakit tuh… Mas… jangan…” Lalu Novi menangis, “Mas… jangan dong…” Aku sudah nggak mempedulikan lagi, sudah telanjur masuk penisku itu.

Lantas aku mulai menggerakkan penisku maju mundur. “Ah… Mas… ah.. Mas…” Rupanya Novi sudah merasakan nikmat dan meringis-ringis kesenangan. “Mas…” Aku terus dengan cepatnya menggenjot penisku maju mundur. “Mas.. Mas…” Dan aku merasakan vagina Novi mengeluarkan cairan. Rupanya dia sudah klimaks, tapi aku belum. Aku mempercepat genjotanku. “Terus Mas… terus Mas… lebih cepat lagi…” pinta Novi. Tak lama aku merasakan penisku hampir mengeluarkan mani, aku cabut penisku (takut hamil sih) dan aku suruh untuk Novi mengisapnya. Novi mengulum lagi dan terus mengulum ke atas ke bawah. “Hem… hem… nikmat… Mas…” Aku bilang, “Terus Nov… aku mau keluar nich…” Novi mempercepat kulumnya dan… cret… cret… maniku muncrat ke mulut Novi . Novi segera mencabut penisku dari mulutnya dan maniku menyemprot ke pipi dan rambutnya. “Ah… ah… Novi… maafkan Mas… yach… aku khilaf Nov… maaf… yach!” “Nggak apa-apa Mas… semuanya sudah telanjur kok Mas…” Lantas Novi bersandar di pangkuanku. Kuciumi lagi Novi dengan penuh kesayangan hingga akhirnya aku dan Novi pulang dan setelah itu aku pun masih menanam cinta diam-diam dengan Novi kalau istriku pas tidak ada di rumah.

Adik istri

Saya, Andry (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pria berumur 35 tahun dan telah berkeluarga, istri saya seumur dengan saya dan kami telah dikarunia 2 putra.

Istri saya adalah anak ke 2 dari empat saudara yang kebetulan semuanya wanita dan semuanya telah menikah serta dikarunia putra-putri yang relatif masih kecil, diantara saudara-saudara istri, saya cukup dekat dengan adik istri saya yang kurang lebih berumur 34 tahun namanya Siska (bukan nama sebenarnya).

Keakraban ini bermula dengan seringnya kami saling bertelepon dan makan siang bersama pada saat jam kantor (tentunya kami saling menjaga rahasia ini), dimana topik pembicaraan berkisar mengenai soal pekerjaan, rumah tangga dan juga kadangkala masalah seks masing-masing.

Perlu diketahui istri saya sangat kuno mengenai masalah seks, sedangkan Siska sangat menyukai variasi dalam hal berhubungan seks dan juga open minded kalau berbicara mengenai seks, juga kebetulan di keluarga istri saya dia yang paling cantik dan sensual, sebagai ilustrasi tingginya kurang lebih 165 cm, kulit putih mulus, hidung mancung, bibir agak sedikit kelihatan basah serta ukuran dada 34a.

Keakraban ini dimulai sejak tahun 1996 dan berlangsung cukup lama dan pada tahun 1997 sekitar Juni, pembicaraan kami lebih banyak mengarah kepada masalah rumah tangga, dimana dia cerita tentang suaminya yang jarang sekali memperlihatkan perhatian, tanggung jawab kepada dia dan anak-anak, bahkan dalam soal mencari nafkah pun Siska lebih banyak menghasilkan dari pada suaminya ditambah lagi sang suami terlalu banyak mulut alias cerewet dan bertingkah polah bak orang kaya saja.

Menurut saya kehidupan ekonomi keluarga Siska memang agak prihatin walaupun tidak dapat dikatakan kekurangan, tetapi boleh dikatakan Siskalah yang membanting tulang untuk menghidupi keluarganya.

Disamping itu sang suami dengan lenggang keluyuran dengan teman-temannya baik pada hari biasa maupun hari minggu dan Siska pernah mengatakan kepada saya bahwa lebih baik suaminya pergi keluar daripada di rumah, karena kalau dia di rumah pusing sekali mendengarkan kecerewetannya.

Saya menasihati dia agar sabar dan tabah menghadapi masalah ini, karena saya seringkali juga menghadapi masalah yang kurang lebih sama dengannya hanya saja penekanannnya berbeda dengan kakaknya.

Istri saya seringkali ngambek yang tidak jelas sebabnya dan bilamana itu terjadi seringkali saya tidak di ajak berbicara lama sekali.

Akhirnya Siska juga menceritakan keluhannya tentang masalah seks dengan suaminya, dimana sang suami selalu minta jatah naik ranjang 2-3 kali dalam semingggu, tetapi Siska dapat dikatakan hampir tidak pernah merasakan apa yang namanya orgasme/climax sejak menikah sampai sekarang, karena sang suami lebih mementingkan kuantitas hubungan seks ketimbang kualitas.

Siska juga menambahkan sang suami sangat kaku dan tidak pernah mau belajar mengenai apa yang namanya foreplay, walaupun sudah sering saya pinjami xxx film, jadi prinsip suaminya langsung colok dan selesai dan hal itupun berlangsung tidak sampai 10 menit.

Siska lalu bertanya kepada saya, bagaimana hubungan saya dengan kakaknya dalam hal hubungan seks, saya katakan kakak kamu kuno sekali dan selalu ingin hubungan seks itu diselesaikan secepat mungkin, terbalik ya kata Siska.

Suatu hari Siska telepon saya memberitahukan bahwa dia harus pergi ke Bali ada penugasan dari kantornya, dia menanyakan kepada saya apakah ada rencana ke Bali juga, karena dia tahu kantor tempat saya bekerja punya juga proyek industri di Bali, pada awalnya saya agak tidak berminat untuk pergi ke Bali, soalnya memang tidak ada jadwal saya pergi ke sana. Namun dengan pertimbangan kasihan juga kalau dia seorang wanita pergi sendirian ditambah lagi kan dia adik istri saya jadi tidak akan ada apa-apa, akhirnya saya mengiyakan untuk pergi dengan Siska.

Pada hari yang ditentukan kita pergi ke Bali berangkat dari Jakarta 09.50, pada saat tiba di Bali kami langsung menuju Hotel Four Season di kawasan Jimbaran, hotel ini sangat bernuansa alam dan sangat romantis sekali lingkungannya, pada saat menuju reception desk saya langsung menanyakan reservasi atas nama saya dan petugas langsung memberikan saya 2 kunci bungalow, pada saat itu Siska bertanya kepada saya, oh dua ya kuncinya, saya bilang iya, soalnya saya takut lupa kalau berdekatan dengan wanita apalagi ini di hotel, dia menambahkan ngapain bayar mahal-mahal satu bungalow saja kan kita juga saudara pasti engga akan terjadi apa-apa kok, lalu akhirnya saya membatalkan kunci yang satu lagi, jadi kita berdua share 1 bungalow.

Saat menuju bungalow kami diantar dengan buggie car (kendaraan yang sering dipakai di lapangan golf) mengingat jarak antara reception dengan bungalow agak jauh, di dalam kendaraan ini saya melihat wajah Siska, ya ampun cantik sekali dan hati saya mulai bergejolak, sesekali dia melemparkan senyumnya kepada saya, pikiran saya, dasar suaminya tidak tahu di untung sudah dapat istri cantik dan penuh perhatian masih di sia-siakan.

Di dalam bungalow kami merapikan barang dan pakaian kami saya menyiapkan bahan meeting untuk besok sementara dia juga mempersiapkan bahan presentasi, pada saat saya ingin menggantungkan jas saya tanpa sengaja tangan saya menyentuh buah dadanya karena sama-sama ingin menggantungkan baju masing-masing, saya langsung bilang sorry ya Sis betul saya tidak sengaja, dia bilang udah engga apa-apa anggap aja kamu dapat rejeki…. wow wajahnya memerah tambah cantik dia.

Lalu kita nonton tv bareng filmya up close and personal, pada saat ada adegan ranjang saya bilang sama Siska wah kalo begini terus saya bisa enggak tahan nih, lalu saya berniat beranjak dari ranjang mau keluar kamar (kita nonton sambil setengah tiduran di ranjang), dia langsung bilang mau kemana sini aja, engga usah takut deh sambil menarik tangan saya lembut sekali seakan memohon agar tetap disisinya… selanjutnya kita cerita dan berandai-andai kalau dulu kita sudah saling ketemu… dan kalau kita berdua menikah dan sebagainya.. …

Saya memberanikan diri bicara, Sis kamu koq cantik dan anggun sih, Siska menyahut nah kan mulai keluar rayuan gombalnya, sungguh koq sih saya engga bohong, saya pegang tangannya sambil mengelusnya, oww geli banget, Andry come on nanti saya bisa lupa nih kalo kamu adalah suami kakak saya…. biarin aja kata saya.

Perlahan tapi pasti tangan saya mulai merayap ke pundaknya terus membelai rambutnya tanpa disangka dia juga mulai sedikit memeluk saya sambil membelai kepala dan rambut saya….. akhirnya saya kecup keningnya dia bilang Andry kamu sungguh gentle sekali…uh indahnya kalau dulu kita bisa menikah saya bilang abis kamunya sih udah punya pacar…..berlanjut saya kecup juga bibirnya yang sensual dia juga membalas kecupan saya dengan agresif sekali dan saya memakluminya karena saya yakin dia tidak pernah diperlakukan sehalus ini….kami berciuman cukup lama dan saya dengar nada nafasnya mulai tidak beraturan, tangan saya mulai merambat ke daerah sekitar buah dadanya…dia sedikit kaget dan menarik diri walaupun mulut kami masih terus saling bertempur… ..

Kali ini saya masukkan tangan saya langsung ke balik bhnya dia menggelinjang saya mainkan putingya yang sudah mulai mengeras dan perlahan saya buka kancing bajunya dengan tangan saya yang kanan, setelah terbuka saya lepas bhnya wow betapa indah buah dadanya ukurannya kurang lebih mirip dengan istri saya namun putingnya masih berwarna merah muda mungkin karena dia tidak pernah menyusui putranya, Siska terhenyak sesaat sambil ngomong, Andry koq jadi begini….

Sis saya suka ama kamu, terus dia menarik diri…saya tidak mau berhenti dan melepaskan kesempatan ini langsung saya samber lagi buah dadanya kali ini dengan menggunakan lidah saya sapu bersih buah dada beserta putingnya… .Siska hanya mendesah-desah sambil tangannya mengusap-ngusap kepala saya dan saya rasakan tubuhnya semakin menggelinjang kegelian dan keringat mulai mengucur dari badannya yang harum dan putih halus….

Lidah saya masih bermain diputingnya sambil menyedot-nyedot halus dia semakin menggelinjang dan langsung membuka baju saya pada saat itu saya juga membuka kancing roknya dan terlihat paha yang putih mulus nan merangsang, kita sekarang masing-masing tinggal ber cd saja, tangan dia mulai membelai pundak dan badan saya, sementara itu lidah saya mulai turun ke arah pangkah paha dia semakin menggelinjang, ow andry enak dan geli sekali …..

perlahan saya turunkan cdnya, dia bilang andry jangan bilang sama siapa-siapa ya terutama kakak saya….saya bilang emang saya gila kali, pake bilang-bilang kalo kita ………. setelah cdnya saya turunkan saya berusaha untuk menjilat kelentitnya yang berwarna merah menantang pada awalnya dia tidak mau, katanya saya belum pernah ……, nah sekarang saatnya kamu mulai mencoba lidah saya langsung menari-nari di kelentitnya dia meraung keras….oohhhhhhhh andry ………enaaaaaaaa aaakkkkkkkkkkk sekali…..saya …saya enggak pernah merasakan ini sebelumnya kamu pintar sekali sih……… ..terus saya jilat kelentit dan lubang vaginanya… ..tidak berapa lama kemudian dia menjerit…. .auuuuuuuuwwww saya keluar andry oooooooooooohhhhhhh hhenak sekali…..

Dia bangkit lalu menarik dengan keras cd saya ….langsung dia samber kontol saya dan dilumatnya secara hot dan agresif sekali…..oh nikmatnya… .terus terang istri saya tidak perah mau melakukan oral sex dengan saya……dia terus memainkan lidahnya dengan lincah sementara tangan saya memainkan puting dan kelentitnya. …tiba-tiba dia mengisap kontol saya keras sekali ternyata dia orgasme lagi…….. …dia lepaskan kontol saya, andry ayo dong masukin ke sini sambil menunjuk lobangnya …..perlahan saya tuntun kontol saya masuk ke memeknya…. ..dia terpejam saat kontol saya masuk ke dalam memeknya sambil dia tiduran dan mendesah-desah. …….ohhhhhhhh andry biasanya suami saya sudah selesai dan saya belum merasakan apa-apa, tapi kini saya udah dua kali keluar, kamu baru saja mulai…..waktu itu kami bercinta udah kurang lebih 30 menit sejak dari awal kita bercumbu…. ……… ……… ..

Sekarang saya angkat ke dua kakinya ke atas lalu ditekuk, sehingga penetrasi dapat lebih dalam lagi sambil saya sodok keluar masuk memeknya…. dia terpejam dan terus menggelinjang dan bertambah liar dan saya tidak pernah menyangka orang seperti Siska yang lemah lembut ternyata bisa liar di ranjang, dia menggelinjang terus tak keruan…… .uhhhhhhh andry saya keluar lagi…..saya angkat perlahan kontol saya dan kita berganti posisi duduk , terus dia yang kini mengontrol jalannya permainan ,…dia mendesah sambil terus menyebut ohh andry….ohhh andry dia naik turun makin lama makin kencang sambil sekali-kali menggoyangkan pantatnya… ….tangannya memegang pundak saya keras sekali..iiiiiiiiiii hhhhhhhhhhhh uuuuuuuuuhhhhhhhhhh hhhh andry saya keluar lagi ……..kamu koq kuat sekali…… .come on andry keluarin dong saya udah engga tahan nih,,,,,,,, biar aja kata saya…..saya mau bikin kamu keluar terus , kan kamu bilang sama saya , kamu engga pernah orgasme sama suami kamu sekarang saya bikin kamu orgasme terus……. .iya sih tapi ini betul-betul luar biasa andry,…… ……..ohhhhhhh hhhh betapa bahagianya saya kalau bisa setiap hari begini sama kamu……ayo jangan ngaco ah mana mungkin lagi, kata saya…

Saya bilang sekarang saya mau cobain doggy style, apa tuh katanya, ya ampun kamu engga tau, engga tuh katanya, lalu saya pandu dia untuk menungging dan perlahan saya masukkan kontol saya ke memeknya yang sudah banjir karena keluar terus, pada saat kontol saya sudah masuk sempurna mulailah saya tusuk keluar masuk dan goyangin makin lama makin kencang….. dia berteriak dan menggelinjang dan mengguncangkan tubuhnya…. ….andry. …….aaaaaaaam mmmmmmmmmpuuuuuu uuuuuuunnnn dehhhhhhhhhhhhhhhhh hhhh saya keluar lagi nih dan waktu itu saya juga udah mau keluar…… saya bilang nanti kalau saya keluar maunya di mulut Siska, ah jangan Siska belum pernah dan kayaknya jijik deh……… cobain dulu ya…..akhirnya dia mengangguk.. ……… .

Tiba saatnya saya sudah mau orgasme saya cabut kontol saya dan sembari dia jongkok saya arahkan kepala kontol saya ke mulutnya sambil tangan dia mengocok-ngocok kontol saya dengan sangat bernafsu…. ..sis…. ……… …..udah mau keluar langsung kontol saya dimasukkan ke dalam mulutnya engga lama lagi…..creetttttt tt creeeeeeeettttttttt ttt crettttttttttttttt creeeeeeeeetttttttt ttttt, penuhlah mulut dia dengan sperma saya sampai berceceran ke luar mulut dan jatuh di pipi dan buah dadanya.. dia terus menjilati kontol saya sampai semua sperma saya kering saya tanya gimana sis enak enggak rasanya dia bilang not bad……… ……… ……… ……… kita berdua tertidur sampai akhirnya kita bangun jam 21.30……. ……… ……… ………

Siska mengecup halus bibir saya…….. ..Andry, thanks a lot ………..saya benar-benar puas sama apa yang kamu berikan kepada saya, walaupun ini hanya sekali saja pernah terjadi dalam hidup saya……..

Akibat Dari Internet

Ini adalah kisah nyataku, Pertama aku ingin memperkenalkan diri dahulu, aku adalah seorang wanita berusia 27 tahun, namaku… katakan lisa, tempat tinggalku di semarang, dan sudah setahun menikah, tetapi entah kenapa belum mempunyai anak, walaupun hubungan sex kami (dengan suami) lakukan dengan rutin dan lancar, kehidupan sex kami biasa biasa saja, bahkan cenderung membosankan, karena menurutku kurang bervariasi, tapi aku tidak pernah berselingkuh dengan orang lain selama ini, karena suamiku sangat menyayangi aku bahkan cenderung memanjakanku. Tapi kesetiaanku ini berakhir sampai tanggal 19 Juni 1999 (hari Sabtu).

Hal ini dimulai dengan perkenalanku dengan dunia internet sejak sebulan yang lalu. Secara rinci aku tidak menjelaskan bagaimana aku belajar internet, tetapi sampai suatu waktu aku berkenalan dengan seorang cowok dalam acara chatting di web idola. Ketika ini aku sedang belajar tentang bagaimana untuk ber chatting di internet, temanku mengajari aku untuk masuk ke web idola, lalu masuk ke forum chattingnya. Ketika aku sudah masuk ke forum, ada yang mengirimi aku private message, ternyata seorang cowok yang berusia 30 tahun, berkeluarga, juga belum mempunyai anak, namanya…katakan andy, berasal dari jakarta, bekerja di sebuah perusahaan asing yang sedang mengerjakan sebuah proyek maintenance jalan KA (jakarta-surabaya), tetapi perusahaan itu mempunyai kantor cabang di cirebon dan semarang, hingga andy sering melakukan tugas meninjau kantor cabangnya, termasuk di semarang.

Setelah kami berkenalan lewat chatting, lalu dia juga kadang-kadang menelepon (dari jakarta)… mungkin pakai telepon kantor, tetapi kami belum pernah bertemu muka, sampai pada tgl 16 juni 1999 andy menelepon aku, dan mengatakan bahwa dia sedang berada di semarang untuk urusan kerja dan menawari aku untuk berkenalan dan bertemu muka.

Pertama kali aku ditawari begitu, aku agak bingung, karena hal seperti ini adalah sangat baru bagiku, sudah mengenal seseorang, tapi belum pernah bertemu, dan sekarang akan bertemu orang tsb. Tapi akhirnya aku menyetujui dan akhirnya kita membuat janji untuk bertemu pada hari sabtu pagi (karena kantor andy libur, hingga andy mempunyai waktu untuk bertemu). Kita menetapkan tempat bertemunya di lobby hotel graha santika (tempat andy menginap) jam 9 pagi. Pada hari dan jam yang sudah kita tentukan, aku datang kesana sendirian, karena suamiku masih bekerja di perusahaannya (perusahaan tempat suamiku bekerja tidak libur pada hari sabtu), tetapi sampai disana aku tidak menjumpai andy, akhirnya aku bertanya ke bagian reception, dan menanyakan apakah ada tamu bernama andy dari jakarta, setelah di check, ternyata ada, dan aku di beri tahu no kamarnya.

Akhirnya aku telepon ke kamarnya, dan andy mengangkat telepon, aku menanyakan apakah dia lupa dengan janji bertemunya, andy menjawab bahwa dia tidak lupa, tetapi karena semalam dia harus bekerja menemani tamu sampai larut malam, akhirnya dia terlambat bangun, bahkan sekarang belum mandi. Aku dapat memakluminya, tetapi aku bingung apakah aku harus menunggu di lobby sampai dia selesai mandi, dsb, atau harus bagaimana, akhirnya andy menawarkan bila aku tidak keberatan, aku dapat naik ke kamarnya dan menunggu di ruang tamu di kamarnya (ternyata kamarnya mempunyai ruang tamu sendiri, semacam suite room atau apa aku tidak menanyakan), aku agak bingung juga, tapi akhirnya aku menyetujui untuk naik ke kamarnya. Sesampai di depan kamarnya, aku pencet bel, lalu tidak lama kemudian andy membuka pintu.

Ternyata andy mempunyai wajah yang ganteng sekali, dan tubuhnya juga sangat macho, setelah kita berbasa basi di ruang tamu kamarnya, andy bilang permisi untuk mandi sebentar dan mempersilahkan aku untuk main komputernya (dia membawa komputer kecil…notebook..?), dia bahkan membantu aku untuk meng connect kan ke internet, lalu andy meninggalkanku untuk mandi. Setelah aku sendirian, aku mencoba untuk masuk ke web untuk chatting, tetapi entah kenapa kok tidak bisa masuk web tsb, setengah teriak aku menanyakan ke andy, dan andy menjawab mungkin web tsb lagi down, dan andy menyarankan untuk mencoba saja web yang lain, caranya lihat di historynya (aku tidak mengerti artinya..), tetapi karena aku tidak punya kerjaan, aku mencoba bagaimana caranya untuk membuka history nya (itupun dengan cara saling teriak dengan andy), sampai akhirnya aku dengan tidak sengaja membuka web, ini yang pertama aku membuka cerita seru, ternyata isinya adalah cerita-cerita sex dengan bahasa indonesia, lalu aku mencatat alamat webnya, dengan pertimbangan mungkin aku akan buka lagi di rumah.

Lalu aku mulai membaca cerita-cerita yang ditampilkan, terus terang aku mulai terangsang karena membaca cerita sex tsb, aku merasa celana dalam ku mulai lembab karena vaginaku mulai basah. Sampai akhirnya andy selesai mandi, dan keluar menemuiku. Pertama dia kaget melihat aku sedang membaca web cerita seru, akupun sangat malu melihat dia memergoki aku sedang membaca cerita seru, dan segera aku men disconnect komputernya ke internet dan menutup layar web cerita seru tsb, tetapi karena andy sudah terlanjur melihat aku membaca cerita seru, setelah beberapa waktu dia diam, akhirnya dia tertawa dan menanyakanku apakah aku pernah masuk ke web tsb, aku dengan malu-malu menjawab belum.

Andy bertanya lagi, bagaimana ceritanya..?, aku bingung menjawabnya.. sampai andy tertawa lagi.. kali ini sampai terpingkal pingkal… akhirnya aku juga ikut tertawa. Setelah suasananya agak mencair, kami mulai ngobrol lagi, tentu dengan topik internet, ternyata andy sangat menguasai internet, hingga aku dijelaskan banyak mengenai dunia internet, baru aku tahu bahwa internet tidak hanya digunakan untuk chatting dan kirim email saja, ternyata sangat banyak manfaatnya.

Bahkan andy menjelaskan bahwa di internet kita dapat membuka web… dewasa, misalnya cerita seru, dan web yang menampilkan gambar-gambar…. sex, aku agak penasaran dengan penjelasannya yang terakhir, dan rupanya andy mengetahui keingintahuan ku, lalu dia menawarkan untuk mencoba penjelasannya dengan membuka web-web dewasa tsb, rupanya komputer andy mempunyai satu bagian.. (favourite..?), yang isinya adalah alamat web web dewasa, hingga kita tidak perlu tiap kali menuliskan melalui keyboard, setelah andy membuka web porno tsb, aku sangat kaget, karena isinya adalah gambar sepasang cowok-cewek sedang berhubungan sex, terus terang aku baru pertama kali melihat gambar gambar semacam itu, hingga aku sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana…

Tapi sejujurnya aku mulai terangsang dengan melihat gambar tsb, tetapi kemudian andy mengganti web tsb dengan web lain yang isinya juga tentang orang berhubungan sex, tetapi yang ditampilkan adalah film (movie), ini juga pertama kali aku melihat film orang bermain sex, ternyata film film semacam itu juga sama dengan blue film (kata andy).. sejujurnya aku belum pernah melihat blue film, melihat cewek mencium bahkan mengulum penis sampai mengeluarkan sperma.., dan cowok menciumi vagina cewek….

Aku mulai merasa panas dingin melihatnya, mungkin aku mulai terangsang berat, dan entah bagaimana dan kapan mulainya ternyata andy sudah memelukku dan mulai meraba payudaraku, pertama aku ingin berontak, karena aku merasa ini tidak boleh, tetapi entah bagaimana aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku diam saja bahkan menikmati perlakuannya, sampai tangan andy mulai menjelajah turun ke vagina ku, aku merasa celana dalamku sangat basah, andy lalu mulai membuka pakaianku, entah bagaimana aku diam saja, hingga aku sekarang hanya memakai celana dalam dan BH, lalu aku di tarik masuk ke kamarnya dan aku ditidurkan di tempat tidurnya yang besar.

Di sini andy mulai menciumi bibirku, terasa sangat hangat, tangan andy tidak berhenti memainkan payudara dan vaginaku, hingga aku merasa sangat terangsang sekali, lalu andy mulai membuka BH dan celana dalamku, dan mulai menciumi puting payudaraku, aku sudah pasrah dengan perlakuannya, dan sudah setengah sadar dengan apa yang dia lakukan, karena aku sudah sangat terangsang sekali, sampai ketika dia mulai menciumi vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali (suamiku belum pernah menciumi vaginaku), aku merasa ada sesuatu yang akan meledak dari dalam vaginaku, sampai ketika aku membuka mata, ternyata andy sedang membuka pakaian nya sampai dia telanjang bulat, ternyata andy mempunyai penis yang besar sekali, mungkin sekitar 18 – 20 cm, dengan bulu yang lebat, lalu andy mendekatkan penis di mulutku, sambil dia melanjutkan menciumi vaginaku.

Aku mengerti dengan keinginannya, karena aku baru melihat di web porno tadi, ada yang saling menciumi penis dan vagina dengan posisi cewek diatas mengulum penis, dan cowok dibawah menciumi vagina. Walaupun aku belum pernah melakukan hal tsb, tetapi karena aku sangat terangsang dan juga setengah sadar, aku masuk kan penis andy kedalam mulutku, terasa sangat susah karena penis andy besar sekali, tetapi aku berusaha meniru cara mengulum penis (seperti di web), dan ternyata andy mulai terangsang dengan kulumanku, aku merasakan penisnya mulai mengeras.

Sampai suatu saat andy melepaskan penisnya dan membalikkan posisinya hingga penisnya tepat berada didepan vaginaku dan andy mulai menekan penisnya kedalam vaginaku, aku merasakan hal yang sangat enak sekali, yang belum pernah aku rasakan dengan suamiku, ketika andy mulai mengocok penisnya (mungkin karena penisnya sangat besar), setelah beberapa waktu andy mengajak untuk berganti posisi (aku belum pernah berhubungan sex dengan berganti posisi, biasanya dengan suamiku aku hanya berhubungan secara biasa saja), andy menyuruh aku tengkurap setengah merangkak, dan dia lalu memasukkan penisnya dari belakang, ternyata posisi ini sangat merangsang aku, hingga dari vaginaku terasa ada yang meledak.. (inikah orgasme..?)..

Setelah sekian waktu andy belum juga mengeluarkan sperma, andy lalu mencabut penisnya lagi dan menyuruhku untuk duduk dan dia memasukkan penisnya dari bawah, posisi ini kurang enak buat aku, karena terasa sakit diperut, ada yang terasa menyodok perutku, untung posisi ini tidak berlangsung lama, karena andy akan mengeluarkan sperma, andy lalu mencabut penisnya dan mengocok penisnya sendiri didepan mukaku, sampai ketika dia memuncratkan spermanya, aku tidak sempat mengelak, hingga spermanya muncrat mengenai mukaku, bahkan ada yang masuk ke mulutku, terasa asin, aku bingung sekali ketika andy memintaku untuk menyedot penisnya, aku agak jijik, tetapi aku pikir sudah kepalang basah, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya menyedot penis yang sedang mengeluarkan sperma, lalu aku akhirnya menyedot penisnya, terasa ada sesuatu yang kental masuk kedalam mulutku, rasanya asin, dan ternyata aku menyedotnya terlalu keras, hingga andy mendesis-desis… entah keenakan atau kesakitan.., sampai akhirnya penisnya mengecil…

Setelah aku membuang spermanya dari mulutku ke tissue, aku terlentang sambil beristirahat, ternyata andy langsung mulai menciumi vaginaku lagi, sampai aku merasa orgasme lagi… ternyata rasanya enak sekali bila vagina diciumi, setelah selesai kami berdua masuk kamar mandi untuk membersihkan sperma dimukaku dan mencuci vaginaku, andy juga mencuci penisnya. Ini adalah pertama kali aku berselingkuh dalam perkawinanku, aku merasa berdosa terhadap suamiku, tetapi bagaimanapun telah terjadi, dan aku tidak ingin suamiku mengetahui rahasiaku.

Lia Sang Pramugari

Aku lahir dari keluarga yang kaya, di Singapura. Usaha ayahku di bidang eksport/import makanan beku mengharuskanku untuk sering keluar negeri bertemu dengan klien.

Suatu waktu, aku harus terbang ke LA. Dan perjalanan selama 15 jam dari Singapura direct ke LA sangatlah panjang dan membosankan. Aku sudah menonton tiga film, makan dua kali dan masih ada sisa 7 jam perjalanan.

Karena aku duduk di bussiness class di upper deck, aku bisa leluasa turun ke lower deck. Karena dua-duanya adalah zone Bussiness Class. Sekitar lima menit, aku melihat pemandangan awan dari jendela kecil.

” Excuse me, sir… ” sebuah suara halus menyapaku dengan ramah. Ternyata seorang pramugari muda berwajah manis sedang tersenyum padaku. ” Are you from upper deck? ” Aku mengangguk, ” Yeah… why? ” aku mengintip name tag di dadanya.

Yuliana Sastri… wah nama indonesia nih ! ” I am just checking to see whether you need anything, because you have been looking out for quiet a long time… ” jawabnya dengan sopan. ” Dari Indonesia ya kamu? ” todongku. ” Lho… iya ! Bapak dari Indo juga? ” tanya lagi. ” Uh kok Bapak sih… belum juga tua, kok dipanggil Bapak… panggil nama aja… aku Joe… ” ” Oh… saya Lia… Bapak eh… kamu mau ke LA ya? ” kemudian kami ngobrol ngalor ngidul selama tigapuluh menit.

Ia sudah tinggal di luar negeri selama lebih dari empat tahun. Aslinya dari Bandung. Umurnya baru 23. Belum punya pacar katanya. Kami ngobrol sambil berdiri, lalu tiba-tiba seorang pramugari lain menghampirinya dan sementara mereka mengobrol, aku mengambil segelas wine yang disiapkan di galley (dapur) mereka.

” Yah… aku ditinggal sendiri deh, hehe… ” katanya setelah temannya pergi. ” Lho, kenapa? ” ” Jam istirahat… tadi aku uda istirahat 3 jam… dan habis ini giliran shift kedua istirahat. mestinya berdua-berdua, tapi supervisorku katanya migraine jadi dia istirahat di first class. Mungkin 2 jam lagi baru balik. Untung aja gak penuh… ” ” Oh… gitu… ya… gapapa deh… aku temani… aku bosen banget dari tadi di atas… sebelahku oom gendut yg ngorok melulu lagi… “

Lia tertawa. Manis sekali wajahnya kalau tertawa. Dan aku mulai meneliti tubuhnya. Sekitar 165 cm, berat badannya mungkin 55 dan kulitnya putih sekali seperti orang Jepang. ” Kamu beneran nih belum punya cowok?” tanyaku iseng. ” Lagi ga ada… soalnya cowok terakhir membosankan banget. Dia ga fun dan old fashion… “

Lalu ia mulai bercerita tentang mantannya yang masih menganut adat kuno, yang ga suka clubbing, pesta, minum dan tentu saja seks. Wajahnya memerah ketika ia bercerita. ” Maaf ya, aku kok jadi cerita kayak gini… hihi… habis memang mantanku itu orangnya aneh. Atau mungkin dia ga tertarik sama aku ya… mungkin aku terlalu jelek ya… ” katanya menerawang.

” Gak, kok… kamu cantik banget… dan… ” aku menatap matanya, ” seksi… bodi kamu seksi banget. Daritadi aku membayangkan bodi kamu di balik seragam itu… ” tambahku dengan berani. Mungkin aku mulai mabuk karena dua gelas white wine. ” Masa? Kamu boong ya… Joe… aku kan ga seksi. Toketku aja cuma 34B, hmmm ga seksi sama sekali deh… ” Aku menatapnya dengan penuh napsu. 34B, boleh juga… ” Kalau kamu kasi aku liat, aku mungkin bisa menilai apa bodi kamu seksi beneran atau gak… ” tantangku.

Lia tampak terkejut. Tapi ia lalu melihat ke kiri ke kanan, sekeliling kami agak gelap karena semua penumpang kelas bisnis nampaknya tengah terlelap. Ia tersenyum padaku ,” Beneran nih? ” ” Sumpah… ” Lalu Lia memberi isyarat agar aku mengikutinya. Ia lalu mulai berjalan ke arah toilet untuk orang handicapped, yang lebih luas daripada toilet biasa. Ia menarikku masuk dan mengunci pintunya dari luar. Di dalam toilet ternyata lebih bising daripada di luar, mungkin karena suara mesin.

Aku langsung membuka seragam pramugarinya yang bagian atas. Dan tampaklah dadanya yang indah menantang. Ia memakai bra seksi tanpa busa berwarna hitam, putingnya tampak tegang dari balik bra itu. ” Lia… kamu seksi banget… ” desisku sambil lebih mendekatinya, dan langsung mencium bibirnya yang ranum berlipstick pink. Lia membalas ciumanku dengan penuh gairah, dan aku mendorong tubuhnya ke dinding toilet. Tanganku membekap dadanya dan memainkan putingnya dari luar bra nya. Lia mendesah pelan. Ia menciumku makin dalam. Aku lalu berusaha menarik roknya sampai lepas, dan kini tampaklah tubuh ramping seksinya. Tinggalah celana dalam dan bra berwarna hitam transparan serta sepatu hak tingginya. Ia tampak amat seksi. ” God, u re so sexy, baby… ” bisikku di telinganya.

Lalu tanganku langsung sibuk membuka kaitan bra nya, dan menciumi lehernya yang indah.Lia mulai meraba bagian depan celana jeansku, dan tampak senang menyentuh bagian itu sudah tegang. Setelah branya lepas, aku langsung menciumi seluruh payudaranya. Kujilati putingnya yang mengeras dan ia melenguh nikmat. Aku ingat, pacarku paling suka kalau aku berlama-lama di putingnya. Tapi kali ini tidak ada waktu, karena siapa saja bisa mengetuk pintu toilet, dan itu membuatku bergairah. Lia mulai berusaha membuka ikat pinggangku, dan kemudian melorotkan celanaku sampai ke lantai. Ia menyentuh kont*lku yang keras dari balik boxer kainku, dan mengusap biji pelirku. Kunaikan tubuh Lia ke westafel dan kubuka celana dalamnya. Kuciumi perutnya dan kubuka pahanya. Bulu kemaluannya rapi sekali. Mungkin ia suka bikini waxing seperti cewek-cewek di luar pada umumnya. Kujilati mem*knya dengan nikmat, sudah sangat basah sekali. ia mengelinjang dan kulihat dari cermin, ia meraba putingnya sendiri, dan memilin-milinnya dengan kuat. Mungkin memang benar dia terlalu hyper, makanya mantannya bosan.

Kumasukan dua jari tanganku ke dalam mem*knya, dan ia menjerit tertahan. Ia tersenyum padaku, tampak sangat menyukai apa yg kulakukan. Jari telunjuk dan tengahku menyolok-nyolok ke dalam liangnya, dan jempolku meraba-raba kasar klitorisnya. Ia makin membuka pahanya, membiarkan aku melakukan dengan leluasa. Semakin aku cepat menggosok klitorisnya, semakin keras desahannya. Sampai-sampai aku khawatir akan ada orang yg mendengar dari luar. Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku, dan seperti menyuruhku menjilati mem*knya. ” Ahhh… ahhh… I’m gonna come… Arghhhh… uhhh… yes… yes… baby… ” ia mendesah-desah girang ketika lidahku menekan klitorisnya kuat2. Dan jari-jariku makin mengocok mem*knya. Semenit kemudian, Lia benar-benar orgasme, dan membuat mulutku basah kuyub dengan cairannya. Ia tersenyum lalu mengambil jari2ku yang basah dan menjilatinya sendiri dengan nikmat.

Ia lalu mendorongku duduk di atas toilet yg tertutup, dan mencopot boxerku dengan cepat. Ia duduk bersimpuh dan mengulum kont*lku yang belum tegak benar. Jari-jarinya dengan lihay mengusap-ngusap bijiku dan sesekali menjilatnya. Baru sebentar saja, aku merasa akan keluar. Jilatan dan isapannya sangat kuat, memberikan sensasi aneh antara ngilu dan nikmat. Lia melepaskan pagutannya, dan langsung duduk di atas pangkuanku. Ia bergerak- gerak sendiri mengocok kont*lku dengan penuh gairah. Dadanya naik turun dengan cepat, dan sesekali kucubit putingnya dengan keras. Ia tampak sangat menyukai sedikit kekerasan. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berdiri dan mengangkat tubuhnya sehingga sekarang posisiku berdiri, dengan kakinya melingkar di pinggangku.

Kupegang pantatnya yang berisi dan mulai kukocok dengan kasar. Lia tampak sangat menyukainya. Ia mendesah-desah tertahan dan mendorong kepalaku ke dadanya. Karena gemas, kugigit dengan agak keras putingnya. Ia melenguh ,” Oh… gitu Joe… gigit seperti itu… I feel ******.. ” Kugigit dengan lebih keras puting kirinya, dan kurasakan asin sedikit di lidahku. Tapi tampaknya Lia makin terangsang. kont*lku terus memompa mem*knya dengan cepat, dan kurasakan mem*knya semakin menyempit… ” gila… mem*k lo kok menyempit gini, sih Lia… Oh… gila… ” Ia tersenyum senang. Mungkin ia suka latian body language, soalnya dulu mantanku yang guru BL, bisa mengatur mem*knya jadi sempit jadi gini, dengan latihan rutin. kont*lku keluar masuk mem*knya dengan lebih cepat, dan tiba-tiba mata Lia merem melek, dan ia semakin menggila, lenguhan dan desahannya semakin kencang hingga aku harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannku.

” Ah joe… You’re so… soo… Ohh… i am gonna come… i m gonna come… again… Arghhh… Ohhhhh uhhhhhh… ” Lia orgasme untuk kedua kalinya dan terkulai ke bahuku. Karena aku masih belum keluar, aku mencabut kont*lku dari mem*knya yang banjir cairannya, dan membalikan tubuhnya menghadap westafel. Biasa kalau habis minum staminaku memang suka lebih gila. Lia tampak mengerti maksudku, ia menunggingkan pantatnya, dan langsung kutusuk kont*lku ke mem*knya dari belakang. Ia mengeram senang, dan aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari cermin di depan kami. Ia tampak terangsang, seksi dan acak-acakan. Make upnya luntur karena keringat, tapi tubuh seksinya tampak sangat indah.

Aku mulai memompa mem*knya dengan pelan, lalu makin cepat, dan tangan kiriku meraih puting payudaranya, dan memilinnya dengan kasar, sementara tangan kananku sesekali menepuk keras pantatnya. ” yeah… I am your bitch… fu*k me real hard… please… “

Buset… ga nyangka penampilan manisnya ternyata hanya di luar. Aslinya dia kasar dan gila seks, kaya bule di bokep aja, pikirku makin terangsang. kont*lku makin cepat menusuk2 mem*knya yang semakin lama semakin terasa licin. Tanganku berpindah-pindah, kadang mengusap-ngusap klitorisnya dengan cepat. Badan Lia naik turun sesuai irama kocokanku, dan aku semakin horny melihatnya menggumamkan kata-kata kasar. kont*lku semakin tegang dan terus menghantam mem*knya dari belakang. Ia mau orgasme lagi, rupanya, karena wajahnya menegang dan ia mengarahkan tanganku mengusap klitorisnya dengan lebih cepat. ” Ah… baby… yeah… oh yeah… ” kont*lku terasa makin becek oleh cairan mem*knya.

“Lia… aku juga mau keluar nih… ” ” oh tahan dulu… kasih aku… kont*lmu… tahan!!!!” Lia langsung membalikan tubuhnya, dan mencaplok kont*lku dengan rakus. Ia mengulumnya naik turun dengan cepat seperti permen, dan dalam itungan detik, menyemprotlah cairan maniku ke dalam mulutnya. ” ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku tertahan. Lia menyedot kont*lku dengan nikmat, menyisakan sedikit rasa ngilu pada ujung kont*lku, tapi ia tidak peduli, tangan kirinya menekan pelirku dan kanannya mengocok kont*lku dengan gerakan makin pelan.

Kakiku lemas dan aku terduduk di kursi toilet yg tertutup. Lia berlutut dan menjilati seluruh kont*lku dengan rakus. ” Kamu takut gak, kalau aku bilang, aku suka banget sama sperma cowok ?” bisiknya dengan suara manis sekali. Di sela-sela engahanku, aku menggeleng penuh kenikmatan. Gila kali mantannya, ga mau sama cewek hot begini… !!

Setelah Lia menjilat bersih kont*lku, ia memakaikan celana jeansku, lalu memakai seragamnya sendiri. Ia membuka kompartemen di belakangnya, dan mengeluarkan sisir dan makeupnya dari sana. Dalam waktu 5 menit, ia sudah tampak seperti pramugari manis yang tadi pertama kulihat, bukan wanita gila seks seperti barusan. Ia memberi isyarat agar aku tidak bersuara, lalu perlahan-lahan membuka pintu toilet.

Setelah yakin aman, ia keluar dan aku mengikutinya dari belakang.

” Baiklah, Pak Joe… saya harus siap-siap untuk meal service berikutnya, mungkin Bapak mau istirahat sejenak? ” godanya dengan nada seksi. Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Sebelum aku ke upper deck, kucubit pantatnya dan ia memberiku ciuman yang sangat panas.

Habis flight itu, ia memberiku nomer telpon hotelnya di LA, dan kami ngeseks gila-gilaan tiap hari. Ternyata Lia sangat hyper sex dan bisa orgasme sampai sembilan kali seharinya. Sedangkan aku hanya mampu bucat 2 kali sehari. Dalam flight kembali ke LA, aku mengupgrade kursiku ke first class , karena ia bertugas di first class. Dan sekali lagi kami have sex di toilet, dan kali ini hampir ketauan teman kerjanya. Kami masih sering ketemu sampai hari ini. Kalau aku ke kota dimana dia tinggal.
Pacarku? Masih jalan juga lah… jadi punya dua cewek, deh…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.